Kembali
16
1
2022 Jurnal El-Pustaka Vol 3 · 2 ISSN 2775-6939

PEMANFAATAN SISTEM KLASIFIKASI DAN SHELVING BAHAN PUSTAKA YANG EFEKTIF DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN TEMU KEMBALI INFORMASI DI UPT PERUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstract

This article discusses the Utilization of an Effective Classification and Shelving System for Library Materials in Meeting Information Retrieval Needs at UPT. Sriwijaya State Polytechnic Library. The purpose of this study was to determine the use of a classification system and an effective shelving of library materials in meeting the needs of information retrieval at UPT. Sriwijaya State Polytechnic Library and how effective the use of alphabetical shelving is to facilitate the information retrieval system. The research method in this article is a type of qualitative descriptive research. Qualitative descriptive research is research that aims to describe a situation or event in the way it is. The result of the analysis in this article is the determination of the classification number based on the subject and the predetermined chart. If you can analyze the subject correctly and can follow the instructions on the classification chart, you are expected to get the right subject and get the right notation. So that the placement of library materials on the shelves in the correct position and the information retrieval system along with the process of searching or searching for information is easy to do quickly and precisely. Shelving process carried out at UPT. The Sriwijaya State Polytechnic Library for general works refers to the classification number on a regular basis and is matched with the classification number provided on each bookshelf.
Keywords: Shelving · Information Retrieval System · DDC Classification System

Introduction

Perpustakaan perguruanntinggi adalah perpustakaan yangnberada di lingkungan Perguruan Tinggi yangnpada hakikatnya merupakan unsur vital dalamnsebuah Perguruan Tinggi1 . Perpustakaan berperan serta dalam melaksanakan visi dan misi perguruan tinggi yakni untuknmendukung keperluan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Tri Dharma Perguruan Tinggi). Sejalanndengan itu maka segalanbentuk informasinyang ada di perpustakaan perlu dikelolandengan baik agar setiap koleksi yang tersimpan dapat dimanfaatkan oleh penggunanya. Salah satu cara dalam mengelola perpustakaan adalahndengan memperhatikan penataan koleksinya. Penataan koleksi di jajaran rak dikenalnjuga dengan istilah shelving. Shelving merupakan salah satu kegiatan pengolahan perpustakaan yang berkaitan langsung dengan bahan pustaka dan pengguna perpustakaan. Penataannkoleksi menjadi salah satu penentu dalam penemuan kembali informasi. Berhasil atau tidaknya suatu proses temu balik informasi dapat dilihatndari pemustaka yang dapat menemukan informasi yang dicari pada tempatnya. Ketika petugasnperpustakaan melakukan penataan koleksi dengan baik dan benar maka pemustaka dapat menemukan koleksi yang dicari baik melalui katalognmaupun ditelusur secara langsung ke jajaran koleksi. Koleksi tersebut akan berada di rak sesuaindengan nomor panggil atau call number 2 Penyediaan sistem temu kembali informasindi perpustakaan merupakan salah satu fasilitas yang diberikan perpustakaannyang berguna sebagai fasilitator bagi pengguna dengan informasi. Sistem temu kembali yang disediakannperpustakaan untuk user atau pemusataka ini merupakannbentuk layanan pasif tetapi hal tersebut sangat berguna untuknpemustaka karena dengannsistem ini akan sangat membantu pemustaka dalam menelusursumbernkoleksi yang ada di perpustakaan Layanan perpustakaan yangnbersifat pasif ini salah satunya berwujud pada sumber bacaan, dokumen dan itu diletakkan dalam bentuk deretan di rak tempat dokumen asli disimpan sertandisusun menurutnsistem klasifikasi di dalam rak tersebut atau yang biasa dikenal dengannistilah shelving. Shelving atau penataan koleksi di rak tersebut diperlukan untuk mempermudahnpemustaka dalam menemukan suatu sumberninformasi yang diinginkannya. Tetapi yang menjadi kendala di perpustakaan pada umumnyansekarang pemustaka masih kesulitan dalam menemukan sumber bahannpustaka sehingga itu yang membuat pemustaka tidak merasa terpuaskan jika mencari sumberninformasi diperpustakaan, hal tersebut dikarenakan adanya berbagai faktor diantaranya yaitunpenataan atau shelving yang tidak benar, tidak tersedianya OPACnsecara langsung, keterbatasan tempat dalam penyimpanan buku di rak sehingga menjadikan penempatannya tidak efektif membuat koleksi mudahnberantakan.4 Untuk menerapkan temu balik informasi dinperpustakaan pada umumnya biasanya dengan cara memberikan label nomor terlebih dahulu sebelum dilakukannya shelving ke dalam rak atau biasa dikenal dengan nomor klasifikasi yang ditempel pada punggung buku serta pada rak buku dan nomor klasifikasi tersebut sesuai yang diatur pada sistem Deway Decimal Classification (DDC). DDCnbefungsi sebagai alamat buku di dalam suatu sistem temu balikndan yang berguna untuk mempermudah pemustakandalamnmenemukanninformasinya. UPT, Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya merupakan gerbangnya perguruan tinggi, artinya kemajuannperguruan tinggi tidak terlepas dari peran perpustakaan. UPT, Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya telah melakukan sistem ter-automasi, terutamandalam bidang klasifikasi, shelving, sistem temu kembali informasi dan penelusuran informasi. Berdasarkan hasil pengamatan awal peneliti terhadap penyusunan koleksi dan sistem klasifikasi yang dilakukan di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya disusun pada jajaran koleksi berdasarkan nomor klas dan urutan alfabetis. Namun masih ditemukan banyak bahan pustaka yang tidak berada pada tempat atau rak yang seharusnya. Dari hasil observasi yang dilakukan, penyebabnbahan pustaka tidak berada pada tempat yang seharusnyankarena tidak terdapat petugas khusus untuk mengatur buku-buku di jajaran koleksi. Kendala lainnya juga kurangnya kesadaran pustakawan dalam melakukan penataan koleksi, pegawai perpustakaan terkadang belum melakukan shelving terhadap koleksi yang sudah selesai diakses oleh pemakai, sehingga hal inindapat menyebabkannterhambatnya kinerja temu kembali informasi di UPT.5 Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya. Pemustaka sering merasa kesulitan dalam menemukan bahan pustaka yang ingin dicari, dikarenakan kurang maksimalnyanpustakawanndalamnmelakukan shelving terhadap koleksi di rak buku. Berdasarkan fenomena di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan “Pemanfaatan Sistem Klasifikasi dan Shelving Bahan Pustaka yang Efektif dalam Memenuhi Kebutuhan Temu Kembali Informasi di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya”.

Method

Peneliti melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya yang dimana peneliti sendiri terlibat dalam kegiatan PKL tersebut dan meneliti di Perpustakaan tersebut. Penelitian ini menggunakan jenis penelitianndeskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang bertujuannmenggambarkan suatu keadaan atau kejadian dengan cara apa adanya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, dan sebagainya yang merupakannobjek penelitian. Menurut Arief Subyantoro 6 jenis penelitian deskriptif kualitatif merupakannsebuah metode penelitian yang memanfaatkan datankualitatif dan dijabarkan secara deskriptif. Jenis penelitian deskriptif dan kualitatif kerap digunakan untuknmenganalisis kejadian, fenomena, atau keadaan secara sosial. Menurut Sumadi Suryabrata 7 teknik atau metodenpengumpulan data adalah suatu cara atau proses sistematis dalam pengumpulan, pencatatan, dan penyajian fakta untuk tujuan tertentu. Di suatunpenelitian teknik pengumpulan data sangat penting agar datanyangndikumpulkan tersebut dapat digunakan sebagai bahan analisis data. Datandalam penelitian ini didapatkan dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer adalah data yangndiambil langsung, tanpa perantara (dari sumbernya). Sumbernini dapat berupa benda-benda, situs, atau manusia. Sedangkan sumber data sekundernadalah data yang diambil secara tidak langsung dari sumbernya. Data sekunder biasanyandiambil dari dokumen-dokumen (laporan, karya tulis orang lain, koran, majalah), atau jikanseseorang mendapat informasi dari orang lain. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah riset kepustakaan. Risetnkepustakaan adalah data yang didapat dari penelitian kepustakaan atau studi literatur, yang dilakukan untuk mencarinsumber-sumber data tertulis, yang dapat dijadikannsebagai landasan teoringuna memperkuat analisis data. Penelitian ini menggunakan bahan-bahan pustaka yang dapat menunjang permasalahan. Seperti menggunakan buku, majalah, dan sumbernelektronik lainnya

Result & Discussion

Klasifikasi berasal dari kata “classification” akar kata “to classify” (bahasa inggris), berarti menggolongkanndan menempatkan benda-benda yang sama di suatu tempat. Sedangkan menurut istilah perpustakaan, klasifikasinadalah pengumpulan bahan pustaka baik berupa buku maupun bahan lainnya secara sistematikanke dalam satu klas atau golonganntertentu berdasarkan cirri-ciri yang sama memudahkan pemakai menemukannya 9 Menurut Sukri 10Tujuan klasifikasinyaitu memudahkan penempatan dan sarana temu kembali bahan pustaka, pada dasarnya dalamnpraktek klasifikasi bahan pustaka yang dikerjakan adalah menyatakannsubjek buku dengan suatunnomor klasifikasi (notasi) dengannmenggunakan suatu sistem klasifikasi, nomor klasifikasi dapat dipakai sebagai nomor buku yang fungsinyanadalahnmenunjukkan tempat buku tersebut dalamnsusunan buku, nomornklasifikasi dapat jugandipakai sebagai urutan kartu-kartu dalam katalog dan klasifikasi. Mengklasifikasinmerupakannsalah satu kegiatan dalam pengkatalogan subjek, dalam menentukannnomor kelas suatu bahan pustakanmaka terlebih dahulu di analisa apa isi yang dikandung dalam sebuahnbahan pustaka, yang kemudian dikonsep dan selanjutnya diterjemahkan kedalam pedomannklasifikasinyang menjadikannya dalam bentuk nnotasi sehingganmenghasilkan nomor kelas bahan pustaka. Shelving merupakan proses pengorganisasiannkoleksi yang sangat bersentuhan langsungnantarankoleksindengan pemustaka. Dalam kelancaran temu balik informasi. kegiatan Shelving menjadinsalah satu penentu keberhasilan. Berhasil atau tidaknya suatu proses temunbalik informasi dapat dilihat darinpemustaka yang menemukan koleksi atau informasinyang pemustaka cari pada tempatnya. Shelving merupakan suatu nkegiatann penataannbuku di rak dengan menggunakannaturan tertentu. Shelving dilakukan agarnkoleksi yang ada di perpustakaan dapatndidaya gunakan secara maksimal oleh pemustaka. Ketikanstaf perpustakaan tidak melakukan proses shelving dengan benar, maka pemustaka akan sangatnsulit menemukan koleksi yang diinginkannya11 Shelving yang baikndapat dilihat melalui faktor-faktor yang terkait dengan perpustakaan. Beberapa diantaranyanadalah tipe pemustaka, jenisnperpustakaan dan sistem layanan yang digunakan oleh perpustakaan. Sistem layanan akan mempengaruhinmetode shelving yang akan diterapkan pada perpustakaan. Baik sistemnlayanan terbuka maupun layanan tertutupndapat ditentukan dari jenis perpustakaaan serta pemustaka yang datang ke perustakaan tersebut. Apapun jenis sistem layanan yang digunakan, padandasarnya tujuan dari kegiatan shelving adalah memudahkan para pemustakandalam menemukan koleksi yangnmereka cari. Menurut 12proses shelving yang dilakukan terhadap koleksi perpustakaan akan berdampak pada keberhasilan darintemu balik informasi di perpustakaan. Ketika staf shelving melakuan shelving dengan benar makanpemustaka akannmenemukan koleksi yang merekancari melalui katalog pada rak koleksi. Koleksi tersebut akan ditemukan di rak sesuai dengan nomornpanggil (call number) yang tercantum pada katalog. Namun jika proses shelving tidak sesuai dengan sistem yang telah ditentukan maka hal tersebut akan menghambat pemustaka dalam mendapatkan koleksi yang mereka cari. Sistem temu kembali informasi merupakan sistem yang berfungsi menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka. Temu kembali informasi atau information retrieval adalah ilmu pencarian informasi pada dokumen, pencarian untuk dokumen itu sendiri, pencarian untuk meta data yang menjelaskan dokumen, atau mencari di dalam database 13Salah satu contoh untuk sistem temu kembali informasi di perpustakaan adalah OPAC (Online Public Access Catalog). Online Public Access Catalog (OPAC) adalah sistem katalog terpasang yang dapat diakses secara umum dan dapat dipakai pengguna untuk menelusuri data katalog untuk memastikan apakah perpustakaan menyimpan karya tertentu untuk mendapatkan informasi tentang lokasinya dan jika sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi, maka pengguna dapat mengetahui apakah bahan pustaka yang sedang dicari tersedia di perpustakaan atau sedang dipinjam. OPAC merupakan perkembangan teknologi di dalam ilmu perpustakaan, selain memberikan kemudahan bagi pengguna juga kemudahan bagi petugas perpustakaan dalam melakukan kegiatan pengatalogan. Menurut Sulistyo-Basuki 14katalog perpustakaan adalah daftar bukudalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi. Bagaimanapun besarnya koleksi yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan tidak akan ada artinya jika dokumen atau informasi yang relevan tidak diketahui letaknya bila diperlukan. Dalam katalog perpustakaan terdaftar semua bahan pustaka termasuk buku, majalah, kaset, CD dan lain-lain yang ada di rak koleksi. 1. Proses Klasifikasi Bahan Pustaka di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya Menurut Purwono dan S15Suharmini sebelum suatu sistem klasifikasi perpustakaan ditemukan, sistemnpenyimpanan informasi dilakukan dengan berdasarkan susunan judul, subjek utama, kronologi, pengarang, urutan pengadaan atau bahkannberdasarkan ukuran suatu dokumen. Namunnbelakangan muncul sistem klasifikasi yangnbanyak digunakan di perpustakaan-perpustakaan seperti DDC (Dewey Decimal Classification), UDC (Universal Decimal Classsfication), dan LCC (Library of Congress Classification). Pada UPT, Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya, sistem klasifikasi yang digunakan adalah DDC (Dewey Decimal Classification) edisi ke-20 dan e-DDC edisi ke-23. Selainnitu juga terdapat contoh sistem klasifikasi khusus yang biasanya digunakan oleh perpustakaannkhusus seperti Daftar Tajuk Subyek Islam dan Sistem Klasifikasi Islam, yang dikhususkannuntuk bahan pustaka khusus Islam. Berdasarkanncakupan subjek suatu sistem klasifikasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sistem klasifikasinumum dan sistem klasifikasi khusus. Sistem klasifikasi umum adalah suatu sistemnklasifikasi yang hanya menyediakan atau menggunakannkelas-kelas utamanya saja dan juga divisi, ditambah lagi dengan sub-divisi. Sedangkan sistemnklasifikasi khusus adalah sistem klasifikasi yang menyediakan seluruh aspek sub-divisi hinggansubjek yang paling khusus atau spefisik. Baik sistemnklasifikasinumumnmaupun khusus, yang paling penting dengan terciptanya suatu sistem klasifikasi adalah untuk peng-klasifikasian bahan pustaka (koleksi) agar disusunndannditempatkannpadanraknsecaransistematis.16 Nomornkelas atau notasinbahannpustaka akan menjadi simpul atau titik temu antaranpustakawan, pemustakandan bahan pustaka. Sistem klasifikasi menyediakan sarana bagaimana keragamannilmu pengetahuan diorganisasikan ke dalam bentuk yang mudah dipahami. Suatu sistemnklasifikasi menge-lompokkan bermacammacam ilmunpengetahuan berdasarkan kategori atau rumpun keilmuan (disiplin). Pustakawannmenggunakan sistem klasifikasi untuk mengorganisasikan bahan pustaka dengan caranmembuat nomor panggil atau notasi berdasarkan isinsuatu dokumen, sedangkan bagi pemustaka, nomor panggil merupakan alat untuknmenemukan sumberninformasi yang diinginkan. Oleh karena itu, dalamnpembuatan suatunsistem klasifikasinharuslahndidasarkan atasnpertimbanganpertimbangan tersebut.17 Dan untuk penerapannsistem klasifikasi pada umumnya adalah dengan menentukannsubjek terlebih dahulu, hal tersebut juga dilakukan oleh pihak UPT, Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya. Sistem klasifikasi bahan pustaka di perpustakaan bisanberdasarkan ciri-ciri buku, sehingga bukunyang dicirikan sama bisa dikelompokkannmenjadi satu. Pada UPT, Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya buku-buku perpustakaan dikelompokkan berdasarkan kegunaannya. Buku-buku referensi dikelompokkan menjadi satu, buku-buku cerita dikelompokkan menjadi satu, buku-buku ilmu pengetahuan dikelompokkan menjadi menjadi satu, dan sebagainya. Ditinjau dari bentuk fisiknya, bahan pustaka ada yang berupa buku dan ada pula yang bukan buku seperti majalah, surat kabar, brosur dan sebagainya. Maka bahan pustakanyang berbentuk buku dikelompokkan menjadi satu, semua suratnkabar dikelompokkannmenjadi satu, begitupula dengan yang lainnya. Buku-buku perpustakaannbisa juga dikelompokkan lebih spesifik lagi berdasarkan ukurannya, misalnya luasnya, ketebalannya, tipisnya, ringan-beratnya. Proses klasifikasinbahan pustaka di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya menggunakan sistemnpedoman klasifikasi DDC edisi ke-20 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasanIndonesia menggunakan 10 kelas utama dari bagan klasifikasi DDC dan menggunakan tabel pembantu dalam melakukan kegiatan klasifikasi. Adapunnpenentuan subjek buku dengan melihat judul buku, daftar isi, membaca sebagian isi buku, dan daftar pustaka, dalam kegiatan menentukan subjek bahan pustaka, pengelola perpustakaan meng-gunakan daftar tajuk subjek perpustakaan. Kemudian penentuan nomor klasifikasi berdasarkan subjekndan bagan yang telah ditentukan. Jika dapat melakukan analisis subyek dengan tepat dan dapat mengikutinpetunjuk yang ada pada bagan klasifikasi diharapkanndapat memperoleh subyek yang tepat dan dapat mendapatkan notasi yang tepat. Sehingga penempatan bahan pustaka di rak jajaran pada posisi yang benar dan sistem temu kembali informasi berserta proses penelusuran atau pencarian informasi mudah dilakukan dengan cepat dan tepat. Gambar: Kondisi Proses Klasifikasi Bahan Pustaka di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya. 2. Proses Shelving Bahan Pustaka di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya Pada kegiatan shelving ini, buku-buku perpustakaan dikelompokkan berdasarkan abjad nama pengarangnya. Buku-buku yang huruf pertama dari pengarangnya sama dikelompokkannmenjadi satu dan buku-buku perpustakaan dikelompokkannberdasarkan abjad judul buku. Buku-buku yang huruf pertama dari judul sama dikelompokkan menjadi satu. Shelving dilakukan dengannmenggunakan metode yangntelah ditetapkan, metode shelvingnyang digunakan di UPT, Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya antara lain yaitu: a. Kerapihan susunan koleksi perpustakaan. Penyusunan koleksi harus sesuai dengan subjek dan nomor klasifikasi, shelvingnbuku harusndilakukan secara berdiri sehingga punggungnbuku terlihat dengan jelas maka label buku dengan mudah bisa dibaca. Hal ini terdapatnkerapian dalam penyusunan koleksi sehingga pemustaka tidakkesulitan dalam mencari informasi. b. Keteraturan susunan koleksi. Agar koleksi teraturnusahakan shelving dilakukan setiap hari, ketikanmenjumpai koleksi pada rak lain secepatnya dipidahkan pada tempatnya, susunan koleksindapat di shelving menurut standar dan kebijakan perpustakaan tersebut. c. Ketepatan susunan koleksi. Dalam melakukan pekerjaan shelvingntentunya harus secara tepat supayankoleksi bisa didapatkan oleh pemustaka dengan mudah, ketepatanndalam penyusunan koleksi sangat mempengaruhi terhadap temu balik informasi. d. Kejelasan petunjuk pada rak. Panduanndipasang setiap rak berupa notasi klasifikasi yang menunjukan subjek buku dengannmenggunakan bahasa seharihari, agar dapat memudahkan pemakai dalam mencari informasi yang berada disetiap rak. Pelaksanaan shelving koleksi di UPT. Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya dilakukan berdasarkan mekanisme dan ketentuan berikut ini: 1) Prioritas shelving pada: a) Prioritas pertama, koleksi yang telah dibaca/digandakan oleh pemustaka saat itu; b) Prioritas kedua, koleksi hasil kegiatan manajemen koleksi, seperti koleksi pasca-fumigasi, koleksi hasil perbaikan (karena rusak ringan), dan koleksi yang dijilid ulang; c) Prioritas ketiga, koleksi baru perpustakaan (yang dikirim dari bagian pengolahan literatur); d) Prioritas keempat, koleksi yang telah dipinjam/digunakan pemustaka. 2) Acuan shelving pada: a) Acuan pertama, koleksi disusun berdasarkan jenis koleksi, misalnya koleksi umum, referensi, Jurnal/Majalah, Laporan Penelitian, Tesis/Disertasi, koleksi khusus, serta majalah popular. b) Acuan kedua, koleksi disusun berdasarkan nomor klasifikasi, dari urutan terkecil hingga terbesar (klasifikasi dengan sistem DDC 000-900). c) Acuan ketiga, koleksi disusun menurut huruf, nomor, atau kode lain (selain sistem DDC) yang tercantum pada label koleksi (kode panggil), misalnya kode panggil pada koleksi laporan penelitian dan skripsi/ tesis/disertasi. d) Acuan keempat, koleksi didusun menurut abjad/alfabet 3 huruf pertama dari nama penulis/pengarang (perlu dicek secara cermat dan teliiti mulai huruf pertama sampai ketiga). e) Acuan kelima, koleksi disusun menurut abjad/alfabet 1 huruf pertama dari judul koleksi. f) Acuan keenam, koleksi disusun/diurutkan berdasarkan jilid, cetakan, atau volume terbitan; g) Acuan ketujuh, koleksi disusun di rak/tempat lain dari sebelah kiri ke kanandalam satu rak dari atas ke bawah (lihat sekat rak). 3) Pelaksanaan shelving harus dilakukan secara cermat dan teliti, baik yang dilaksanakan harian, mingguan (piket sabtu), maupun bulanan berdasarkan pada prioritas dan acuan kegiatan di atas. 4) Pelaksanaan shelving ditarget secara jelas berdasarkan arahan dan instruksi pimpinan shelving. 5) Pelaksanaan hasil kegiatan shelving koleksi tercatat secara jelas sebagai bahan laporan dan evaluasi kegiatan. Contoh Susunan Shelving Koleksi di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya. Gambar: Kondisi Kegiatan Shelving Bahan Pustaka di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya. 3. Sistem Temu Kembali Informasi di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya Temu balik informasi merupakan istilah yang mengacu pada temu balik dokumen atau sumber data darinfakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakaan, sedangkan penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukannuntuk memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yangndibutuhkan, dengan bantuan dari berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasinyang dimiliki perpustakaan/ unit informasi. Proses dan alatnpenelusuran yang tepat akan menghasilkan informasi yangntepatnpulandan berguna bagi pemustaka 18 Menurut Sutarno N.S 19tujuan utama sistem temu kembali informasi adalah untuk menemukan dokumen yang sesuai dengannkebutuhan informasi pengguna secara efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan kepuasan baginya, dan sasaran akhir dari sistem temu kembali informasi adalah kepuasan pemakai. Sistem temunkembali informasi merupakan ilmu pengetahuan yang berfungsi dalam penempatannsejumlah dokumen dalamnmemenuhi kebutuhan informasi pengguna. Dasar dari system temunbalik informasi adalah proses untuk mengidentifikasi kecocokan diantara permintaanndengan representasi atau indeks dokumen, kemudian mengambilndokumen dari suatu simpanan sebagai jawaban atas pemintaan tersebut. Sistem temu kembali informasi pada prinsipnya bekerja berdasarkan ukuran antara istilahnquery dengan istilah yang menjadi representasi dokumen. Pengertian lain yang menyatakan bahwa Sistem temu kembali informasi adalah proses yang berhubungan dengan representasi, penyimpanan, pencarian, dan pemanggilan informasi yang relavan dengan kebutuhan informasi yang diinginkan pengguna. Pendapat ininmenunjukkan bahwa dalam Sistem Temu KembalinInformasi terkandung sejumlah kegiatan yang meliputi proses identifikasi kecocokan, representasi, penyimpanan, pengambilan, sertanpencarian atau penelusuran dokumen yang relevan atau sesuai, dalamnrangka memenuhinkebutuhan informasi pengguna. Maka dapat disimpulkan bahwansistem temu kembalininformasi merupakan sebuah sistem yang bergunandalam memanggil dan menempatkan dokumen dari/dalam basis data sesuai dengan permintaannpengguna. Sistem temu kembali informasi memilikintujuan akhir, yaitu memberikan kepuasan informasi bagi pengguna sistem. Sarana penelusuranninformasi yang digunakan di UPT, Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya adalahnkatalog elektronik (OPAC) dan melalui akses online digital library. Untuk menemukannkoleksi di rak, pemustaka sebaiknya menggunakan OPAC agar dapat menemukan informasindengan cepat, tepat dan efesien. Pada penelusuran lewat OPACnpemustaka dapat memasukkan judul buku, nama pengarang, katankunci atau subyek darindokumen yang sedang dicari lewat kotak pencarian yang telah tersedia. Setelah pemustaka mendapatkan nomor klasifikasindari bahan pustaka yang dituju, maka pemustakanbisa langsung mencari bahan pustaka tersebut di rak buku. Gambar: OPAC (Online Public Access Catalog) UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya untuk sarana Sistem Temu Kembali Informasi. 4. Pemanfaatan Sistem Klasifikasi dan Shelving Bahan Pustaka dalam Memenuhi Kebutuhan Temu Kembali Informasi di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya Pemanfaatan sistem klasifikasi dan shelving bahan pustaka dalam memenuhi kebutuhan temu kembalininformasi di UPT, Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya umumnya sudah dilakukan denganncukup baik, walaupun masih banyak kekurangan dalam proses penerapannya. Prosesnklasifikasi bahan pustaka di UPT., PerpustakaannPolitenik Negeri Sriwijaya menggunakan sistem pedoman klasifikasi DDC edisi ke-20 dan e-DDC edisi 23 versi 3.3. yang telah diterjemahkan ke dalamnbahasa Indonesia menggunakann10 kelas utama dari bagannklasifikasi DDC dan menggunakanntabel pembantu dalam melakukan kegiatan klasifikasi. Ada punnpenentuan subjek buku dengan melihat judul buku, daftar isi,membaca sebagian isi buku, dan daftar pustaka, dalam kegiatan menentukan subjek bahan pustaka, pengelolanperpustakaan menggunakan daftar tajuk subjek perpustakaan. Kemudiannpenentuan nomor klasifikasi berdasarkan subjek dan bagan yang telah ditentukan. Jikandapat melakukan analisis subyek dengan tepat dan dapatnmengikuti petunjuk yang ada pada bagan klasifikasi diharapkan dapat memperoleh subyeknyang tepat dan dapat mendapatkan notasi yang tepat. Sehingga penempatannbahan pustaka (shelving) di rak jajaran pada posisi yang benar dan sistem temu kembali informasi berserta proses penelusuran atau pencarian informasi mudah dilakukan dengan cepat dan tepat. Pada proses shelving, kegiatannterlebih dahulu sebelum dilakukannya tahapan shelving ialah pencetakan dan penempelannnomor panggil dan barkod pada buku. Lalu, proses shelving yang dilakukan di UPT, Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya pada buku berjenis karya umum mengacunberdasarkan pada nomor klasifikasi secara teratur danndicocokkan dengan nomor klasifikasi yang disediakan di setiap rak–rak buku. Sedangkan untuknbuku-buku referensi ditata berdasarkan nomor kode pada bukunyangditempatkan di rak sesuai nomor notasi. Proses kegiatan shelving yang diterapkan oleh UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya sesuai dengannkesepatakan dan kebijakan yang sudah dibuat menurut lembaga perpustakaan tersebut. Pada proses shelving ini terdapat kendala yang cukupnmembuat pihak UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya kesulitan untuk mencari solusinya. Dengannbanyaknya jumlah buku yang diolah hingga siap disajikanndengan melakukan shelving, kendala yang terdapat pada perpustakaan tersebut ialahnterbatasnya luas tata ruangan yang tersedia, hal tersebut dikarenakanngedung perpustakaan yang tidak terlalu besar dan pemasukan jumlah buku yang terus menerus mengalami pem-baharuan. Biar pun terdapat kendalanjuga pada jumlah rakyang tersedia, namun kendala tersebut cukupndapat diatasi. Sarana penelusuran informasinyang digunakan di UPT. Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya adalah katalog elektronik (OPAC) dannmelalui akses online digital library. Untuk menemukan koleksi di rak, pemustaka sebaiknya menggunakan OPAC agar dapat menemukan informasi dengan cepat, tepat dan efesien. Pada penelusuran lewat OPACnpemustaka dapat memasukkan judul buku, nama pengarang, kata kunci atau subyek dari dokumennyang sedang dicari lewat kotak pencarian yang telah tersedia. Setelah pemustaka mendapatkan nomor klasifikasindari bahan pustaka yang dituju, maka pemustakanbisa langsung mencari bahan pustaka tersebut di rak buku. Namun dibalik semua acuan dan sistem yang digunakan dalam proses klasifikasi dan shelving bahan pustaka di UPT. Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya, masih ada satu kekurangan dalam penerapannpemanfaatan sistem klasifikasi dan shelving bahan pustaka dalamnmemenuhi kebutuhan temu kembali informasi di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya yang peneliti rasa kurang efektif. Misalnya, terkadang ada buku-buku yang sebelumnya sudahndimiliki oleh UPT. Perpustakaan Politenik NegerinSriwijaya dan buku tersebut sudah dikelola dan diklasifikasi, akan tetapi jika datang buku-buku baru dengan judulnyang sama (buku susulan) nomor klasifikasinyankadang berbeda dengan nomor klasifikasi dari bukubuku dengan judul yang sama tapi sudah lebih dulu dimiliki oleh UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya. Sehingganhal ini cukup menghambat proses shelving dan mempersulit pihak pemustaka dalamnmelakukan temu kembali informasi di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya. Gambar: Contoh nomor punggung buku dan nomor klasifikasi yang tidak sesuai di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya, padahal untuk judul dan pengarangnya sama. Untuk mengatasi dan memperbaiki kekurangan tersebut, maka solusinya pustakawan seharusnyanmengganti nomor klasifikasi dan melakukan pengolahan ulang bahan pustaka serta melakukannperbaikan ulang data bibliografi di OPAC untuk buku-buku yang lama, agar sesuai dannserasi dengan buku-buku baru dengan judul yangnsama (buku susulan). Hal ini harus dilakukan agar proses shelving tidak terhambat dan temu kembalininformasi menjadi lebih efektif dan efisien, sehingganmempermudah pemustaka dalam menemukan bahan pustaka di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya.

Conclusion

Pemanfaatan sistem klasifikasi dan shelving bahan pustaka yang efektif dalam memenuhi kebutuhan temu kembali informasi di UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijaya sudah dilakukan dengannperan yang cukup baik. Jika dapat melakukan analisis subyek dengan tepat dan dapat mengikutinpetunjuk yang ada pada bagan klasifikasi diharapkan dapatnmemperoleh subyek yang tepat dan dapat mendapatkan notasi yang tepat. Sehingganpenempatan bahan pustaka di rak jajaran pada posisi yang benar dan sistem temu kembali informasinberserta proses penelusuran atau pencarian informasinmudah dilakukan dengan cepat dan tepat. Kegiatan shelving terlebih dahulu yang dilakukannsebelum tahapan shelving ialah pencetakan dan penempelan nomornpanggil dan barkod pada buku. Proses kegiatan shelving yang diterapkan oleh UPT. PerpustakaannPolitenik Negeri Sriwijaya sesuai dengan kesepatakan dan kebijakan yang sudah dibuatnmenurut lembaga perpustakaan tersebut. Pada proses shelving ininterdapat kendala yang cukup membuat pihak UPT. Perpustakaan Politenik Negeri Sriwijayankesulitan untuk mencari solusinya. Dengan banyaknya jumlah buku yang diolah hingga siapndisajikan dengan melakukan shelving, kendala yang terdapat pada perpustakaanntersebut ialah terbatasnya luas tata ruangan yang tersedia, hal tersebut dikarenakanngedung perpustakaan yang tidak terlalu besar dan pemasukannjumlah buku yang terus menerus mengalami pembaharuan. Biar pun terdapat kendala juga pada jumlahnrak yang tersedia, namun kendala tersebut cukup dapat diatasi.