UPAYA PERPUSTAKAAN DESA “ PANDRE DI LAO” DALAM MENINGKATKAN PENGGUNAAN LAYANAN ANAK PESISIR DI DESA WAWATU KECAMATAN MORAMO UTARA
Universitas Halu Oleo; Universitas Halu Oleo; Universitas Halu Oleo
Abstrak
Perpustakaan desa dibentuk atas keinginan bersama masyarakat Desa Wawatu, yang menyadari bahwa perpustakaan bukan saja penting, tetapi sangat diperlukan oleh masyarakat Desa Wawatu untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya bagi peningkatkan taraf hidupnya.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Layanan Pada Perpustaka Pandre Dilao dalam meningkatkan penggunaan layanan anak pesisir di Desa Wawatu Kecamatan Moramo Utara. Pendekatan yang di gunakan pada penelitian ini adalah menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Yang di susun terdiri dari 4 orang . Teknik pengumpulan data yang di gunakan yaitu, observasi, wawancara, dan dokumentasi.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Layanan Pada Perpustaka Pandre Dilao masih sangat kurang dalam memberikan pelayanan dan belum diterapkan oleh pustakawan dengan baik sesuai dengan standar kode etik pustakawan dalam hal memberikan pelayanan di perpustakaan. Hal ini di buktikan melalui observasi dan wawancara langsung di Perpustakaan Pandre Dilao
Abstract
The village library was formed based on the mutual desire of the Wawatu Village community, who realize that the library is not only important, but very much needed by the Wawatu Village community to develop their knowledge to improve their standard of living. The purpose of this study was to find out the services at the Pandre Dilao Library in increasing the use of coastal children's services in Wawatu Village, North Moramo District. The approach used in this study is to use a qualitative descriptive approach. The arrangement consists of 4 people. The data collection techniques used are observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the services at the Pandre Dilao Library are still lacking in providing services and have not been properly implemented by librarians in accordance with the librarian code of ethics standards in terms of providing services in the library. This is proven through direct observation and interviews at the Pandre Dilao Library
Keywords:
Service
· Librarian
· Library
Introduction
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007, perpustakaan, di sebutkan bahwa pemustaka adalah pengguna perpustakaan yang terdiri dari perseorangan, kelompok orang, masyarakat atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. dengan demikian, untuk merekalah perpustakaan di bangun dan di kembangkan sesuai dengan tuntutannya. Dengan demikian, kepuasan pemustaka perlu secara berkelanjutan di upayakan dengan tujuan agar mereka terus memanfaatkan perpustakaan. Perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila diterapkan strategi-strategi yang dapat membuat pemustaka lebih tertarik untuk datang ke perpustakaan. Karena pada dasarnya minat kunjung siswa (pemustaka) bisa terangsang dan bangkit bila ada rasa ketertarikan. Ketertarikan yang dimaksud dapat diartikan sebagai ketertarikan terhadap tempat, lingkungan, koleksi, pelayanan dan lain-lain. Rasa ketertarikan akan meningkat menjadi senang apabila kebutuhan dapat terpenuhi, sehingga dengan terpenuhnya kebutuhan dan menimbulkan rasa senang serta kepuasan, maka pemustaka akan berkunjung kembali ke perpustakaan. Dengan demikian strategi sangat penting diterapkan dalam perpustakaan, baik strategi dalam hal layanan, sarana dan prasarana, serta strategi dalam meningkatkan minat kunjung masyarakat. Kebutuhan informasi seseorang erat kaitanya dengan layanan informasi, salah satunya yaitu perpustakaan, seseorang tentunya membutuhkan suatu layanan informasi untuk memenuhi kebutuhan informasinya tersebut. Untuk itu perpustakaan sebagai salah satu layanan informasi harus mampu memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang dilayaninya. Meskipun di sadari, tidak semua perpustakaan sepenuhnya mampu untuk memenuhi kebutuhan informasi seluruh pemustakanya. Akan tetapi, setidaknya perpustakaan berusaha untuk mampu mendekati pemenuhan informasi pemustakanya. Pelayanan perpustakaan mengutamakan kepentingan pengguna dengan menyediakan bahan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan, sehingga fungsi perpustakaan dapat terlaksana dengan baik. Perkembangan suatu perpustakaan dapat dilihat dari pelayananya, karena keberhasilan pelayanan merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai oleh perpustakaan. Pelayanan perpustakaan merupakan kunci keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan karena kegiatan tersebut berhubungan langsung dengan pengguna. Kegiatan yang dilaksanakan perpustakaan ditujukan untuk pemanfaatan layanan yang dimiliki perpustakaan. Aspek pelayanan perpustakaan menjadi penting untuk diperhatikan karena tuntutan kebutuhan penyajiaan informasi yang cepat dan tepat. Perpustakaan merupakan penyedia jasa layanan yakni jasa layanan informasi. Namun kenyataannya perpustakaan belum secara khusus memberikan perhatian pada kepuasan pelanggan atau pengguna. Jika perpustakaan mampu melakukan berbagai perubahan yang banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga atau penyedia jasa layanan pada umumnya maka penulis yakin perpustakaan akan menjadi unit lembaga yang benar-benar sesuai harapan pengguna Berdasarkan penjelasan sebelumya, maka perpustakaan desa menyediakan berbagai koleksi dan berbagai layanan utamanya program inklusi perpustakaan. Selain itu, juga sebagai upaya membentuk karakter anak-anak desa dalam motivasi tentang pendidikan, meningkatkan budaya baca, dan penuntasan buta aksara serta mampu sinergi dengan program-programpemerintah Desa maupun Pemerintah Daerah. Salah satu layanan perpustakaan yang akan dipaparkan dalam penelitian ini adalah Perpustaan “pandre Di Lao” Desa Wawatu di Kecamatan Moramo Utara Kecamatan Konawe Selatan. Mayoritas anak-anak pesisir di Desa Wawatu sebagian besar adalah masyarakat nelayan yang mempunyai karakteristik sosial tersendiri dan berbeda dengan masyarakat yang tinggal di wilayah daratan. Secara akademik dan sosial, kehidupan anak-anak pesisir umumnya masih jauh dari kualitas layanan pendidikan yang diharapkan selama ini. Jika ditinjau dari aspek fisik, karakteristik yang menjadi ciri-ciri sosial budaya anak pesisir yakni memiliki struktur relasi sangat kuat, etos kerja tinggi, memanfaatkan kemampuan diri dan adaptasi optimal, kompetitif dan erorientasi prestasi, apresiatif terhadap keahlian, kekayaan dan kesuksesan hidup, terbuka dan ekpresif, solidaritas sosial tinggi dan berperilaku konsumtif. Perpustakaan Desa “Rumah Panre Dilao” di Desa Wawatu berdiri pada Tahun 2019 dengan bantuan anggaran dana Customer Relationship PT. DSSP Power serta swadaya dari masyarakat untuk meningkatkan minat baca masyarakat desa. Pendirian Perpustakaan Desa Rumah Panre Dilao diinisiasi oleh organisasi masyarakat yakni Sultra Island Care dalamprogram rumah harapan pesisir, sehingga organisasi ini menjadi pengelola dan pembinaa dalamperpustakaan desa tersebut. Sebagian besar koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Desa Rumah Panre Dilao merupakan hasil sumbangan dari para donator dan pegiat literasi serta pemerintah melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. Perpustakaan terapung “ Pandre Dilao” desa Wawatu, Kecamatan Moramo utara, Kecamatan konawe selatan berhasil meraih juara pertama Lomba Perpustakaan Desa Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara (sultra) tahun 2021. Nama dari “ Rumah Pandre Dilao” sendiri di ambil dari bahasa Bajo yaitu, “ panre” berarti “ pintar” dan “ Dilao” berarti “ di laut, sehingga perpustaan Desa “ Rumah pandre dilao” dapat di artikan sebagai rumah pintar di laut dan diharapkan mampu menjadi sumber informasi, pengetahuan, dan pengalaman bagi masyarakat yang mempunyai keterbatasan dalam memperoleh informasi yang penuh dengan kegiatan positif. Perpustakaan Desa “ Rumah Pandre Dilao” juga diharapkan mampu menumbuhkan minat dan budaya membaca masyarakat yang pada waktu ini mulai memudar dan dapat menuntaskan buta aksara di kalangan masyarakat Bajo. Perpustakaan Desa Wawatu Rumah Panre Dilao merupakan perpustakaan milik masyarakat Desa Wawatu yang dibentuk, dibangun dan dikelola serta dimanfaatkan oleh penduduk atau masyarakat desa setempat. Perpustakaan desa dibentuk atas keinginan bersama masyarakat Desa Wawatu, yang menyadari bahwa perpustakaan bukan saja penting, tetapi sangat diperlukan oleh masyarakat Desa Wawatu untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya bagi peningkatkan taraf hidupnya. Dalam perjalanannya, Perpustakaan Desa Rumah Panre Dilao diharapkan menjadi rujukan masyarakat untuk memperoleh informasi, pengetahuan dan juga dijadikan sebagai tempat untuk berkegiatan bagi masyarakat Desa Wawatu. Selain itu juga sebagai media transformasi bagi perubahan di masyarakat, karena ada berbagai macampelatihan-pelatihan yang diadakan di Perpustakaan Desa Pandre Dilao berbasis Inklusi Sosial Perpustakaan. Jasa layanan di Perpustakaan Desa Pandre Dilao adalah layanan sirkulasi, referensi, layanan anak, dan layanan terbitan berseri. Penyedia layanan harus memiliki kompetensi, tidak hanya kompetensi dasar yang diperoleh dari pendidikan formal, akan tetap hal-hal yang berkaitan dengan teknis perpustakaan dan pemahaman terhadap tugas dan fungsi perpustakaan sebagai penyedia dan pengelola informasi, selain itu kemampuan eksternal yaitu berkomunikasi yang baik untuk para pustakawan merupakan salah satu indikator bagaimana memenuhi kepuasan terhadap pengguna ketika mereka berkunjung ke perpustakaan, seperti kompetensi pustakawan di bagian layanan sirkulasi dan referensi. Pemerintah selama ini memandang bahwa pengembangan perpustakaan masih bersifat sporadis dan belum banyak yang memenuhi standar perpustakaan. Oleh sebab itu perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan yang baik perlu di rumuskan Standar Nasional Perpustakaan. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi berupa karya tulis, karya cetak dan karya rekam.
Method
Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Wawatu Kecamatan Moramo Utara Kecamatan Konawe Selatan. Subjek dalam penelitian ini adalah pengelola perpustakaan Desa “ Rumah Pandre Dilao yang menjadi sasaran dalam pengumpulan data.Adapun jumlah informan yang diambil oleh penulis dalam penelitian ini adalah 5 orang yang terdiri dari kepal aperpusatakaan dan staff perpustakaan. Informan atau sampel sumber data dalam penelitian ini ditentukan dengan Teknik purposive. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancaradan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi data
Result & Discussion
Peran Dalam Memberikan Pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao Pelayanan perpustakaan merupakan bentuk kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan jasa atau penggunaan koleksi perpustakaan (informasi) untuk kepentingan pemakai. Kegiatan pelayanan merupakan bagian hakiki pada perpustakaan, tidak dapat di katakan sebagai perpustakaan jika tidak ada unsur pelayanan. Aspek layanan menjadi penting untuk di perhatikan dikarenakan tuntutan kebutuhan penyajian informasi yang cepat, tepat dan terbaru. Seluruh kegiatan pelayanan diarahkan untuk menciptakan suasana yang kondusif, lancar dan baik. Salah satunya Seperti pelayanan di perpusakaan pandre dilao dalam hal ini pelayanan tersebut sangat penting bagi pustakawan di desa wawatu, Perpustakaan desa dibentuk atas keinginan bersama masyarakat Desa Wawatu, yang menyadari bahwa perpustakaan bukan saja penting, tetapi sangat diperlukan oleh masyarakat Desa Wawatu untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya bagi peningkatkan taraf hidupnya. Dan dalamperjalanannya, Perpustakaan Desa “Rumah Panre Dilao” nantinya ke depan diharapkan menjadi rujukan masyarakat untuk memperoleh informasi, pengetahuan dan juga dijadikan sebagai tempat untuk berkegiatan bagi masyarakat Desa Wawatu. akan tetapi pelayanan yang di gunakan dalam pelayaan tersebut menggunakan layanan membaca di tempat. Seperti yang di katakana oleh ketua Perpustakaan Pandre Dilao Sarmawan Muin berusia 28 tahun sebagai berikut: “untuk prosesnya sendiri pelayanan di sini kami menggunakan proses pelayanan membaca di tempat. Dari awal bulan februari kami memberhentikan proses pelayanan pinjam meminjam buku. Dikarenakan belajar dari kesalahan kemarin banyak koleksi buku yang hilang dan tidak di kembalikan, oleh sebab itu pelayaan di perpustakaan Pandre Dilao memakai pelayanan membaca di tempat “ (Sarmawan Muin Wawancara 10 September 2022) Hasil wawancara tersebut menjelakan bahwa pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao menggunakan layanan membaca di tempat. Oleh sebab itu pelayanan sirkulasi atau referensi tidak berjalan, di perpustakaan tersebut tidak hanya anak-anak pesisir akan tetapi orangtua tersebut belajar dan membaca buku di perpustakaan tersebut. Mengenai keadaan koleksi pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao sudah sangat baik dan keadaan koleksi pelayanan pandre Dilao merupakan syarat mutlak dalam pelayanan perpustakaan yang harus senantiasa menjadi perhatian baik dalam jumlah maupun kemutahiran kandungan informasi yang ada didalamnya. Tanpa adanya koleksi yg baik dan memadai perpustakaan tidak akan memberikan layanan yang baik kepada anak-anak dan masyarakat secara meluas dan memadai kepada pemustakanya. Sehingga setiap tahunnya untuk mengejar koleksi yang setiap saat pengalami perkembangan dan perubahan di berbagai bidang. Hal ini seperti yang di katakan Indriyani Syahrida Muwatir selaku koordinator SIC sebagai berikut: “jadi prosesnya sendiri untuk pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao sebenarnya kalau di persenkan 80% artinya keadaanya sudah sangat baik. Namun ada beberapa hal yang harus di benahi lagi agar mencapai angka 100% itu.” (Indriyani Syahrida Muwatir ) Maka koleksi perlu diatur dan ditata secara baik berdasarkan tempatnya sehingga anak- anak pesisir perpustakaan pandre Dilao dapat dengan mudah mencari yang dibutuhkan. Klasifikasi yang diterapkan pada pusat informasi dan perpustakaan diberi definisi sebagai penyusunan sistematik terhadap buku dan bahan pustaka lain atau katalog atau entri indeks berdasarkan subjek, dalam cara paling berguna bagi pemustaka yang membaca dan mencari informasi yang bertujuan membantu pemustaka mengidentikan dan melokalisasikan sebuah dokumen berdasarkan nomor panggil serta mengelompokkan semua dokumen sejenis menjadi satu, sulistyo basuki (1993:395). Kualitas layanan pemustaka Koleksi Perpustakaan Pandre Dilao Koleksi perpustakaan merupakan unsur penting pada perpustakaan, karena koleksi perpustakaan yang berupa buku non fiksi maupun buku fiksi digunakan oleh masyarakat desa Wawatu sebagai sumber informasi mereka. Keberadaan suatu informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media sangat perlu untuk diperadakan. Berikut hasil wawancara dengan salah satu pustakawan terkait koleksi perpustakaan Pandre Dilao: “Jenis koleksi di perpustakaan Pandre Dilao sejauh ini masih berupa buku yang terdiri dari buku fiksi maupun non fiksi dan ada juga beberapa surat kabar yang tidak up to date, kedepanya kami sangat berharap kelengkapan koleksi buku perpustakaan bisa terpenuhi sehingga menambah sumber informasi Anak-anak pesisir ” (Wawancara pada tanggal 10 September 2022). Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas perpustakaan, dapat disimpulkan bahwa koleksi perpustakaan Pandre Dilao hanya terdiri dari buku fiksi maupun non fiksi, sehingga kedepanya petugas perpustakaan sangat berharap adanya tambahan buku dan koleksi perpustakaan lainya. Selain melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan, wawancara juga dilakukan terhadap pengguna perpustakaan terkait dengan masalah koleksi yang dimiliki perpustakaan. Koleksi perpustakaan merupakan sumber informasi yang dihimpun juga disediakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. berdasarkan pengamatan dengan penilaian keadaan fisik buku, ada banyak buku yang masih baik kondisi fisiknya, dan sedikit sekali buku yang dalam kondisi usang. Selain itu jika dilihat dari buku catatan peminjaman, tidak ada buku di pinjam . Perlu diketahui juga petugas tidak menuliskan catatan peminjaman pada kartu buku yang akan dipinjam, Frekuensi peminjaman oleh pengguna dilihat dari kesesuaian koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan dengan yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan Pandre Dilao. Umumnya masyarakat Desa Wawatu bermata pencaharian nelayan maka hendaknya buku-buku yang dimiliki perpustakaan desa berfokus pada subyek-subyek tersebut, walaupun tidak dipungkiri ada beberapa golongan masyarakat yang membutuhkan subyek lainnya. Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat Desa Wawatu terkait koleksi buku di perpustakaan Pandre Dilao: “Sejak adanya perpustakaan Pandre Dilao ini , kami sedikit terbantu dengan tersedianya buku-buku, dan anak-anak kami juga bisa setiap punya tugas sekolah bisa datang disini untuk belajar, apalagi ada buku cerita yang bisa menambah wawasan mereka. Cuma stock buku yang ada masih terbatas sehingga kedepanya kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membenahi segala kekurangan yang ada” (Wawancara pada 10 September 2022). Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa masyarakat Desa Wawatu merasa terbantu dengan adanya perpustakaan desa, akan tetapi kedepanya pengguna perpustakaan sangat berharap adanya penambahan koleksi buku sehingga setiap kebutuhan informasi Anak pesisir dan masyarakat DesaWawatu bisa terpenuhi, dan tentunya sangat diharapkan perhatian serius dari pemerintah desa untuk bagaimana menanggapi respon dan harapan dari masyarakat. Pengadaan koleksi merupakan kegiatan penting dalam menjaga ketersediaan koleksi buku-buku, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif agar perpustakan dapat mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Namun pengadaan koleksi perpustakaan Pandre Dilao belum sepenuhnya berjalan. Saat ini pengadaan buku koleksi hanya melalui penerimaan hadiah dan sumbangan. Tidak tersedianya anggaran menyebabkan perpustakaan hanya dapat menerima buku dari hadiah maupun sumbangan, karena perpustakaan belum mampu membeli koleksi perpustakaan. Selain itu, perpustakaan Pandre Dilap belum memiliki kebijakan pengadaan koleksi sendiri ataupun yang dijadikan acuan. Pengadaan buku masih seadanya, belum ada tahap seleksi, sehingga koleksi yang merupakan hadiah diterima keseluruhannya. Penyediaan Fasilitas di Perpustakaan Pandre Dilao Di dalam suatu ruangan harus tersedia perlengkapan perpustakaan untuk menunjang kegiatan perpustakaan. Perlengkapan perpustakan tidak terlepas dari sarana dan prasarana perpustakaan yang akan menunjang kenyamanan di dalam perpustakaan seharusnya memiliki ruangan yang memadai untuk melaksanakan kegiatan layanan perpustakaan yang sesuai dengan rencana perpustakaan atau standar nasional terkait perpustakaan. Sarana dan prasarana perpustakaan merupakan komponen yang juga sangat penting dalam pelayanan perpustakaan. Perpustakaan hendaknya memiliki ruangan perpustakaan tersendiri, peralatan, serta perlengkapan untuk melengkapi kegiatan pelayanan perpustakaan agar lebih baik. Saat melakukkan wawancara dengan petugas perpustakaan, ruangan perpustakaan yang lokasinya berada di tengah laut dengan memanfaatkan Fasilitas yang tidak terpakai dirasa belummenunjang karena kondisi ruangan yang sempit dan rak buku yang tidak memadai mengakibatkan penataan buku belum tersusun dengan baik. Sikap Pustakawan Dalam Memberikan Pelayanan Di Perpustakaan Pandre Dilao Sikap pustakawan merupakan sikap tepat dalam menyikapi setiap kaadaan dan peristiwa sehingga memancarkan keadilan, kebeningan hati dan tanpa membeda bedakan pemustaka yang datang ke perpustakaan. Pustakawan yang melakukan pelayanan publik sudah seharusnya memiliki sifat tersebut karena setiap hari harus bertemu dengan banyak pemustaka, baik itu yang di kenali maupun yang tidak di kenali. Dalam hal ini dapat dilihat sikap pustakawan Pandre Dilao seperti di katakana oleh ketua perpustakaan tersebut : “Sebagai sikap pustakawan sangat penting dalam perpustakaan karna kita menghadapi berbagai karakter setiap harinya, apabila pustakawan tidak bersikap baik kepada pemustaka maka perpustakaan tersebut akan mengalami citra yang kurang baik pada perpustakaan Pandre Dilao. Jika pustakawan tersebut memberikan pealayanan, misalnya seorang yang ia kenali pasti akan berbeda dengan orang tidak di kenali sebelumnya.” ( Sarmawan Muin) Perpustakaan Pandre Dilao merupakan tempat setiap hari minggunya di datangi oleh pemustaka. Baik itu dari kalangan mahasiswa, anak-anak pesisir dan masyarakat umum. Dan pustakawan pasti akan menghadapi berbagai macam karakter tiap harinya baik itu yang bersifat keras maupun lembut. Sebagai pustakawan yang baik, sudah seharusnya bersikap baik kepada pengunjungnya dalam menanggapi apapun dalam perpustakaan tersebut. Sebagai seorang pustakawan yang profesional aturan haruslah tetap di tegakan walaupun dalam pelayanan di lakukan dengan pelayanan membaca di tempat. Berdasarkan hasil wawancara bahwa sikap merupakan sifat yang baik dalamkepustakawanan dan pustakawan maka harus tetap tenang menghadapi setiap anak-anak di Desa Wawatu yang ingin berkunjung di perpustakaan Pandre Dilao. Menutut Sarmawan Muin yang merupakan kepala perpustakaan Pandre Dilao mengatakan : “Sikap pustakawan di perpustakaan Pandre Dilao adalah harus kreatif lagi dalam melayanai anak-anak pesisir atau masyarakat di Desa Wawatu untuk berkembangnya dan kemajuan perpustakaan Pandre Dilao. (Sarmawan muin wawancara 10 september 2022). Pustakwan merupakan tenaga profesional yang bertugas mengelolah perpustakaan. Seorang pustakawan untuk perpustakaan tersebut haruslah pustakawan yang terampil,cerdas kreatif dan berwawasan luas. Karena semuanya harus melayani dengan baik dan tanpa adanya perbedaan. Karena tugas seorang pustakawan adalah bagaiman membuat pelayanan itu sendiri berkesan di mata pemustaka sehungga pemustaka akan lebih sering berkunjung keperpustakaan, hal tersebut juga di buktikan langsung oleh peneliti ketika sedang dalam proses penelitian, seorang pemustaka yang hendak mencari suatu buku koleksi yang kemudian bertanya langsung kepada pustakawan yang bertugas padaa saat itu. Sebagai seorang pustakawan yang sopan dan rahma sudah memang menjadi tanggung jawab untuk memberikan pelayanan yang terbaik apabila ada pemustaka membutuhkan pertolongan seperti yang terjadi diatas meskipun buku buku referensinya tidak tersedia di dalam ruangan koleksi karena sedang di baca oleh pemustaka lain, pustakawan harus mampu mengarahkan pemustaka keperpustakaan lain untuk mendapatkan buku buku referensi lainya yang mereka butuhkan. Itu merupakan suatu contoh tindakan yang baik yang dilakukan pustakawan terhadapa pemustakanya. Berdasarkan hasil wawancara diatas sebagai sikap pustakawan yang profesional dalammenjalankan tugasnya sebagaimana mestinya bahwa dia seorang pustakawan pada umumnya dalam harus memberikan pelayanan sebaik mungkin terhadap pemustakanya. “Sikap pustakawan disini masih perlu di tingkatkan lagi seperti contoh kecilnya dalam menegur anak- anak di desa wawatu yang sempat membawa pulang buku, harusnya di tegur sesuai standar kode etik pustakawan dalam perpustakaan. Jangan sampai terjadi pada pemustaka berikutnya. (Dian Septiani wawancara 10 September 2022). Adapun bentuk pesan yang disampaikan pustakawan terhadap petugas atau pemustaka di perpustakaan Pandre Dilao harus meberikan pelayanan semak simal mungkin kepada pemustakanya misalnya senyum, rahma sopan, dan memberikan salam. Akan tetapi apabila pemustaka keperpustakaan lantas mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan maka dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap kunjungan berikutnya meninggalkan kesan yang kurang baik sehingga membentuk citra yang tidak baik di mata pemustaka. Hal tersebut kadang dianggap sepele akan tetapi juga sangat berpengaruh karena bisa saja pemustaka yang mendapatkan perlakuan yang kurang baik menceritakan hal tersebut ke orang lain sehingga membentuk lagi citra buruk perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan merupakan ruangan bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang di gunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainya yang biasanya di simpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Pemustaka mengakses perpustakaan untuk memperoleh layanan informasi yang terdapat pada tumpukan buku buku koleksi perpustakaan. Perpustakaan memiliki peran besar bagi pemustaka dalam rangka memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan mereka. Pustakawan dalam meningkatkan peminjaman koleksi yang dilakukan yaitu sebagian pemustaka merasa senang, semangat dan antusias untuk menggunakan perpustakaan, namun sebagian pemustaka yang lain ada juga yang tidak suka dan malas-malasan untuk menggunakan perpustakaan baik dalam hal membaca ataupun meminjam koleksi di dalamnya. Salah satu komponen yang sangat penting dari perpustakaan adalah pustakawan. Pustakawan adalah serang yang mengolah sebuah perpustakaan beserta isinya, memilih buku, dokumen dan materi yang merupakan koleksi perpustakaan dan menyediakan palayanan kepada pemustakanya. Pustakawaan dalam bekerja, selalu dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka adalah sebagai pelayan bagi pemustaka yang datang. Sehingga berhubungan dengan pemustaka, pustakawan perlu memperhatikan cara bersikap yang baik kepada pemustakanya. Pustakawan dituntut untuk terus menerapakan pelayanan terhadap pemustaka agar tercipta iteraksi yang harmonis dan suasana yang kondusif. Tidak hanya itu, perpustakaan merupakan rambu rambu pustakawan dalam menjalankan profesinya. Keramahan Pelayanan Pustakawan Sebagai lembaga yang bergerak di bidang jasa layanan informasi, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan perpustakaan dalam menjaga pemustakanya untuk tetap setia (loyal) menggunakan perpustakaan, diantaranya melalui pembenahan fasilitas, peningkatan kompetensi pustakawan serta dalam melakukan proses penyediaan sumber informasi (koleksi) harus selalu berorientasi pada kebutuhan pengguna (user’s oriented), sehingga apa yang diharapkan dan dibutuhkan pemustaka dapat tersedia di perpustakaan atau dengan kata lain pemustaka akan puas terhadap layanan perpustakaan. Hal ini sejalan dengan konsep kepuasan seperti yang dikemukakan Kotler (2003 : 213) yang menyatakan bahwa kepuasan adalah perasaan senang atau kesecewa yang dirasakan seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya, dengan kata lain kepuasan sebagai evaluasi setelah pemanfaatan dimana suatu alternatif yang dipilih setidaknya memenuhi atau melebihi harapan. Masih berbicara tentang pemustaka dalam konteks pelanggan, jika pengguna atau pelangan ini dilihat dalam persepektif nilai pelanggan (customer value), menurut Mulyadi (2001 : 230) memahami karakteristik masyarakat pengguna merupakan hal yang sangat penting. Konsumen membayar manfaat yang diperoleh dari produk barang atau jasa yang dinikmatinya. Bila pasar berjalan dengan sempurna konsumen mempunyai banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhannya, dan disisi lain seharusnya produsen mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen. Produsen yang mampu memahami dan memenuhi kebutuhan konsumen, sehingga konsumen merasa puas terhadap kinerja dan layanan yang diberikan. Jadi disini konsumen merupakan faktor kunci sukses. Sedangkan mengenai nilai pelanggan (customer value) adalah selisih antara manfaat yang diperoleh konsumen dari produk barang atau jasa yang dikonsumsi dengan pengorbanan yang dilakukan konsumen untuk memperoleh manfaat itu. Adapun manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dilakukan oleh konsumen ditentukan oleh tingkat kualitas hubungan yang dibangun antara produsen dan konsumen. Penegakkan Tata Tertib Di perpustakaan Pandre Dilao Tata tertib perpustakaan sangatlah penting bagi keberlangsungan kegiatanpelayanan di sebuah perpustakaan. Hal tersebut didukung oleh Undang-UndangNo. 43 tahun 2007 pasal 14 ayat 1 dan 4 yang berbunyi, “layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka’. Pemustaka juga harus mengetahui bagaimana pentingnya sebuah tata tertib perpustakaan untuk menciptakan kerjasama yang baik antara pustakawan dan pemustaka dalam kegiatan sirkulasi tersebut. Sebagai salah satu pusat belajar dan pengembangan ilmu maka perpustakaan harus menjadi garda terdepan dalam meningkatkan kualitas pendidikan mulai dari usia dini sampai usia lanjut. Selain harus mengetahui tata tertib perpustakaan, pemustaka harus mengetahui pentingnya tata tertibdi perpustakaan. Hal ini bertujuan agar tata tertib itu bukan hanya sebagai pajangan semata atau sebagai alat untuk mempercantik desain perpustakaan karena tatatertib perpustakaan itu sangatlah penting bagi pelayanan perpustakaan. Sebagai salah satu pusat belajar dan pengembangan ilmumakaperpustakaan harus menjadi garda terdepan dalammeningkatkan kualitaspendidikan mulai dari usia dini sampai usia lanjut. Selain harus mengetahui tata tertib perpustakaan, pemustaka harus mengetahui pentingnya tata tertib di perpustakaan. Hal ini bertujuan agar tata tertib itu bukan hanya sebagai pajangansemata atau sebagai alat untuk mempercantik desain perpustakaan karenatatatertib perpustakaan itu sangatlah penting bagi pelayanan perpustakaan. Berdasarkan dalam penelitian ini ada tiga (5) poin utama yang diangkat untuk di lihat di perpustakaan Pandre Dilao, yakni pelayanan membaca di tempat, pentingnya memberikan pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao, sikap pustakawan, koleksi perpustakaan dan penyediaan fasilitas . Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap ketua perpustakaan Pandre Dilao, 2 orang bagian pelayanan, dan 1 orang pemustaka. Kemudian di jadikan sebagai dasar untuk menjawab masalah penelitian yang menyangkut layanan pustakawan pada perpustakaan Pandre Dilao . Berdasarkan hasil penelitian di temukan bahwa: Pelayanan membaca di tempat Dalam layanan ini, pemakai sudah menjadi anggota perpustakaan dapat meminjam, mengembalikan, atau memperpanjang peminjaman bahan pustaka yang masih di butuhkan. Akan tetapi pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao tidak lagi memakai atau membutuhkan pinjam meminjam bahan pustaka , karena pelayanan yang di gunakan di perpustakaan Pandre Dilao memakai pelayanan membaca di tempat sejak februari 2021 pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao sudah di tetapkan memakai pelayanan membaca di tempat. Dalam hal ini pustakawan perpustakaan Pandre Dilao sudah mengarahkan pemustakanya dalam tindakan meminjaman buku pada pemakai, karena setiap pustakawan perpustakaan Pandre Dilao mengerti bahwa setiap pekerjaan yang di laksanakannya tidak lepas dari interaksi dari orang lain, untuk menjaga martabat dan profesinya sebagai pustakawan dalam hal pelayaan sirkulasi harus bersikap sopan dalam melayani pemustaka. Upaya dalam memberikan pelayanan di perpustakaan Pandre Dilao Aspek layanan menjadi penting untuk di perhatikan dikarenakan tuntutan kebutuhan penyajian informasi yang cepat, tepat dan terbaru. Seluruh kegiatan pelayanan diarahkan untuk menciptakan suasana yang kondusif, lancar dan baik. Salah satunya Seperti pelayanan di perpusakaan pandre dilao dalam hal ini pelayanan tersebut sangat penting bagi pustakawan di desa wawatu, Perpustakaan desa dibentuk atas keinginan bersama masyarakat Desa Wawatu, yang menyadari bahwa perpustakaan bukan saja penting, tetapi sangat diperlukan oleh masyarakat Desa Wawatu untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya bagi peningkatkan taraf hidupnya. Dan dalam perjalanannya, Perpustakaan Desa “Rumah Panre Dilao” nantinya ke depan diharapkan menjadi rujukan masyarakat untuk memperoleh informasi, pengetahuan dan juga dijadikan sebagai tempat untuk berkegiatan bagi masyarakat Desa Wawatu. Sikap Pustakawan Perpustakaan sebagai pusat informasi, ini tidak lepas dari campur tangan pustakawan sebagai pengelolanya, yang kemudian peranan diatur dalam kode etik pustakawan. Dari kewajiban ini pustakawan mempunyai pengalaman serupa, pada saat pemustaka saat mencari koleksi, tetapi koleksi tersebut tidak ada di tempat, lalu pustakawan mengarakan pengunjung untuk mencari buku tersebut. Pustakawan itu berpendapat bahwa itu menjadi tugas wajib seseorang pustakawan. Selain memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas sebagai seorang profesional, pustakawan juga memiliki kewajiban seorang individu, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Sekalipun terdapat konflik diri sebagai individu, namun tetap di tuntut untuk tetap bersikap profesional. Pustakawan melakukan pekerjaan sesuai dengan standar kode etik pustakawan. Pustakawan sudah melakukan tugas dengan profesional dan sesuai denagan kemampuan yang dimiliki masing masing pustakawan yang ada di Perpustakaan Pandre Dilao
Conclusion
Pandre Dilao dituntut untuk memberikan pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat dan anak-anak pesisir. Karena kepuasan anak pesisir merupakan kesuksesan atau keberhasilan atas pelayanan yang di berikan. Akan tetapi dalam kenyataannya, perpustakaan Pandre Dilao masih kurang dalam pelayanan di perpustakaan tersebut. Dari hasil penelitian tersebut dapat di simpulan bahwa perpustakaan Pandre Dilao telah dimanfaatkan dengan baik oleh pengelola perpustakaann terutama anak pesisir dan masyarakat Wawatu yang telah terlibat dalamaktivitas yang berlangsung di dalam perpustakaan Pandre Dilao. Meskipun dalamperkembangnya, pelayanan saat ini masih kurang