Kembali
16
1
2022 Jurnal Al- Ma'arif : Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 2 · 1 ISSN 2797-9393

STRATEGI DAN TAHAPAN KEMAS ULANG INFORMASI DALAM ERA NEW NORMAL DI UNIVERSITAS PGRI SILAMPARI LUBUK LINGGAU SUMATERA SELATAN

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Kemas ulang infromasi memberikan suatu perubahan dalam pencarian data dan koleksi di suatu perpustakaan bahkan dalam era new normal seperti sekarang ini maka ada tantangan dan strategi baru dalam melakukan kemas ulang informasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan mengobservasi strategi serta tahapan kemas ulang informasi dengan tantangan pada era new normal di Perpustakaan Universitas PGRI Silampari Lubuk Linggau yang harus mengikuti tuntutan perpustakaan yang menampilkan serta memainkan peran pelayanan penyebaran informasi, pelestarian budaya, dan melakukan kegiatan yang bermanfaat pada kehidupan social dan intelektual para pemustaka. Kemas ulang informasi merupakan jawaban dari tanggapan terhadap kemajuan teknologi dan ledakan informasi. Penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive untuk menentukan informan dalam penelitian ini. Teknik sampling purposive yaitu cara menentukan informan dengan memilih informan sesuai dengan kriteria dan kebutuhan penulis dalam penelitian ini adalah Pustawakan Universitas Pgri Silampari yang terpilih adalah seorang pustakawan yang telah menyelesaikan magister perpustakaan di Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga Yogyakarta. kegiatan kemas ulang informasi dilakukan sebaik mungkin, maka akan dapat memberikan dampak ekonomis dan nilai jual bagi perpustakaan . Pada saat mengemas informasi, pustakawan harus memperhatikan bahasa yang digunakan yaitu harus sederhana, tidak terlalu ilmiah, mudah dipahami, ditulis secara ringkas, jelas maksudnya, serta penyajian kemasan yang menarik.

Abstract

Information repackaging provides a change in the search for data and collections in a library even in the new normal era as it is today, so there are new challenges and strategies in repackaging information. new normal at the PGRI Silampari University Library, Lubuk Linggau, which must follow the demands of libraries that display and play the role of information dissemination services, cultural preservation, and carrying out activities that are beneficial to the social and intellectual life of the users. Information repackaging is a response to technological advances and the information explosion. This study uses a purposive sampling technique to determine the informants in this study. Purposive sampling technique is how to determine informants by selecting informants according to the criteria and needs of the authors in this study. The chosen librarian at Pgri Silampari University is a librarian who has completed a master's degree in library at Sunan Kali Jaga State Islamic University, Yogyakarta. Information repackaging activities are carried out as well as possible, it will be able to provide an economic impact and selling value for the library. When packing information, the librarian must pay attention to the language used, which must be simple, not too scientific, easy to understand, written concisely, clearly means, and presents an attractive packaging.
Keywords: Information repackaging · challenges and strategies · new normal · PGRI Silampari University Library · Lubuk Linggau

Introduction

Kehidupan masyarakat Indonesia telah mengalami perubahan besar sejak pandemi Infeksi Covid (Coronavirus) melanda sejak awal tahun 2020. Selain itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan status kehidupan new normal sejak Mei 2020 hingga baru-baru ini. Masa new normal mempengaruhi pendekatan penerimaan administrasi data di perpustakaan, yang awalnya dari dekat dan personal, berubah menjadi on web. Kondisi ini membuat perpustakaan melakukan dorongan utama, khususnya penyimpangan yang terjadi secara normal. Dorongan utama, bila dimanfaatkan secara tepat, akan berubah menjadi kekuatan dominan dan kekuatan individu untuk berubah (Khoir, 2018). Oleh karena itu, dorongan utama sebagai cara untuk mengubah administrasi perpustakaan menjadi kecenderungan baru adalah sebagai langkah tegas terhadap klien untuk menyetujui konvensi kesejahteraan yang ditetapkan oleh perpustakaan. Tidak ada orang yang tidak membutuhkan data. Di perpustakaan terdapat banyak sumber data, namun data yang begitu banyak membuat pemustaka sulit untuk memilih dan mendapatkan data yang mereka butuhkan. Masalahnya adalah bahwa sumber data di perpustakaan belum dibundel seperti yang diharapkan dan memikat seperti yang diharapkan. Kebutuhan data individu dimulai dengan lubang informasi pada subjek tertentu, sehingga mereka tidak dapat mengkarakterisasi hal yang dibutuhkan (Belkin et.al., 1982). Data individu tidak perlu dibatasi oleh beberapa unsur, antara lain: usia, jenis pekerjaan, landasan edukatif, dan jabatan/panggilan yang disandangnya. Sejalan dengan itu, pengurus diharapkan imajinatif dan kreatif dalam memberikan berbagai jenis administrasi kepada klien. Salah satu upaya untuk menggunakan data untuk mendukung klien adalah melalui latihan pengemasan ulang data. tolok ukur keberhasilan kegiatan kemas ulang informasi adalah jika kemasan yang dibuat sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan kepuasan pengguna. Kemas Ulang Informasi bermakna serangkaian simbol yang dimaknai sebagai pesan, direkam sebagai tanda, atau dikirm layaknya sinyal. Secara konseptual, informasi merupakan pesan (ucapan atau ekspresi) yang disampaikan. Menurut kamus MeriamWebster memberikan batasan bahwa informasi itu pengetahuan yang didapatkan tentang seseorang atau sesuatu; fakta atau rinci sebuah subjek. Apakah yang disebut kemas ulang informasi ( Information Repackaging)? Kemas ulang informasi adalah mengemas informasi kembali, atau mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk lainnya. Kemas ulang informasi bisa berupa perubahan bahasa satu ke bahasa lain, misalnya terjemahan, intepretasi, dan bisa pula berupa perubahan fungsi seperti revisi, ringkasan, analisis, risalah, bahkan anotasi. Jadi tugas pustakawan dalam hal ini adalah bagaimana mengemas kembali informasi atau mentranster dari satu bentuk ke bentuk lain dengan kemasan yang lebih menarik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan mengobservasi strategi serta tahapan kemas ulang informasi dengan tantangan pada era new normal di Perpustakaan Universitas Pgri Silampari Lubuk Linggau yang harus mengikuti tuntutan perpustakaan yang menampilkan serta memainkan peran pelayanan penyebaran informasi, pelestarian budaya, dan melakukan kegiatan yang bermanfaat pada kehidupan social dan intelektual para pemustaka. Kemas ulang informasi merupakan jawaban dari tanggapan terhadap kemajuan teknologi dan ledakan informasi. 2. Kajian Pustaka 2.1 Kemas Ulang Informasi Sebelum mengkarakterisasi data kemas ulang infomasi, penting untuk mengetahui pengertian data kemas ulang informasi. Reitz (2014) mencirikan data sebagai informasi yang diperkenalkan dalam struktur yang tersedia secara efektif, untuk situasi ini terkait dengan pengaturan pemanfaatannya. Dalam arti yang lebih kuat, data adalah pesan yang disampaikan dengan menggunakan media korespondensi atau artikulasi, terlepas dari apakah pesan yang didapat bersifat instruktif, itu bergantung pada penerimanya. Untuk sementara, pengemasan ulang adalah pendistribusian ulang buku yang sebelumnya didistribusikan dalam konfigurasi alternatif untuk membangun daya pikat bagi pembaca. Chisita (2011: 9) mengatakan bahwa istilah pengemasan ulang data dimulai dari pernyataan Saracevic dan Woods (1981) dan Bundle (1984) yang digunakan untuk menggambarkan suatu administrasi data yang terjadi karena penentuan bahan data yang tepat, dikembalikan lebih sebagai bundling data, dan memberikan pandangan kebutuhan klien. Pengemasan ulang data harus dimungkinkan dalam berbagai jenis, misalnya teater terkenal, dramatisasi, narasi, dan penggunaan nada. Latihan pengemasan ulang data dimulai melalui penyelidikan terhadap substansi data logis dan data yang dibuat secara lokal.Kemas ulang informasi menurut Dongardive (2013:204) adalah proses untuk menyeleksi, menganalisis, dan mengkosolidasikan informasi dalam bentuk yang lebih tepat sehingga dapat digunakan oleh pengguna perpustakaan. Kemas ulang informasi dapat dibuat dalam bentuk digital atau di media elektronik, seperti CD dan DVD. Fatmawati (2009:29) mengatakan bahwa proses kemas ulang informasi mencakup kegiatan sebelum proses (reprocessing) dan pada saat pengemasan (packaging). Kegiatan tersebut mencakup penataan ulang yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesis, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. 2.2 Urgensi Kemas Ulang Informasi Kemas ulang informasi berperan penting dalam peningkatan mutu layanan informasi perpustakaan atau lembaga dokinfo. Hal tersebut dapat dilihat dari fungsi, tujuan, dan manfaat kemas ulang informasi pada lembaga tersebut. Surachman (2009) mengatakan bahwa bundling data memberikan keuntungan dan nilai finansial bagi elemen bisnis yang memberikan data dan perpustakaan, misalnya, 1) perpustakaan dapat memberikan bundel data siap pakai yang dapat ditawarkan kepada masyarakat umum/klien dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. divisi. ; 2) perpustakaan dapat mengurangi biaya menjaga dan mengawasi data dan memajukan pemanfaatan data sesuai kebutuhan klien; 3) mempermudah klien untuk mempersiapkan bundel data yang dapat digunakan, cepat, tepat, efisien, dan cerdas secara finansial; 4) membuka pintu produk dan meningkatkan pembayaran uang untuk perpustakaan karena pengemasan ulang data memiliki potensi sebagai bidang bisnis data di perpustakaan yang benar-benar ingin membuat pembayaran. 2.3 Proses Kemas Ulang Informasi Dongardive (2013:205) menjelaskan beberapa metode dalam pengemasanan ulang informasi yang dirancang untuk memperoleh informasi spesifik dan sesuai target pengguna. Secara umum, metode pembuatan kemasan informasi mencakup pengumpulan, pengolahan, dan penerapan informasi, serta perancangan dan pengemasan ulang informasi yang disesuaikan permintaan pengguna. Beberapa metode kemas ulang informasi dijelaskan sebagai berikut. 1. Persiapan informasi singkat (preparation of the first brief), yakni menyiapkan informasi ringkas dari berbagai informasi terseleksi yang disiapkan oleh ahli informasi. 2. Analisis singkat (analysis of the brief), yakni menganalisis sumber-sumber referensi secara singkat terhadap target pengguna, isi informasi, anggaran kemasan, serta siklus hidup dari kemasan informasi. Produk hasil kemas ulang informasi harus memberikan deskripsi topik informasi secara jelas agar dapat dikomunikasikan kepada pengguna. 3. Kriteria desain pembawa pesan (design criteria for the message carrier), yakni kemasan informasi harus didesain semenarik mungkin agar diminati pembaca. 4. Pemilihan pembawa pesan (selection of the message carrier), yakni kemasan informasi harus dirancang dalam berbagai bentuk (format) dan ukuran yang variatif. 5. Produksi pembawa pesan (production of the message carrier), yakni kemasan informasi harus dirancang dengan baik sebelum diproduksi lebih banyak. 6. Perencanaan sistem umpan balik (feedback system planning), yakni perlu perencanaan yang matang dalam menanggapi umpan balik atau penilaian dari pengguna terhadap keberhasilan hasil kemas ulang informasi. Terkait dengan proses kemas ulang informasi ini, Maryati dan Yoganingrum (2015) menjelaskan perbandingan proses pengemasan informasi dari Bunch (1984) dengan Agada (1995), yang ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Comparrison of Information Repackaging (Bunch (1984) dan Agada (1995))

Method

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi pemeriksaan subjektif. Menurut Leedy dan Ormrod et al (Sarosa, 2017) eksplorasi subjektif adalah penelitian yang mencoba memahami keanehan dalam setting dan settingnya, atau setidaknya, spesialis melakukan apa pun untuk tidak mengontrol perubahan yang terlihat. Bermacam-macam informasi harus dimungkinkan dalam pengaturan, sumber, dan cara yang berbeda. Penulis menggunakan teknik sampling purposive untuk menentukan informan dalam penelitian ini. Teknik sampling purposive yaitu cara menentukan informan dengan memilih informan sesuai dengan kriteria dan kebutuhan penulis dalam penelitian ini. Pustawakan Universitas Pgri Silampari yang terpilih adalah seorang pustakawan yang telah menyelesaikan magister perpustakaan di Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga Yogyakarta.

Result & Discussion

Berdasarkan wawancara dan observasi yang telah dilakukan secara vitual , penulis dapat menguraikan tentang proses dan tahapan kemas ulang informasi di perpustakaan Universitas Pgri Silampari, dalam penelitian ini penulis memperoleh hasil wawancara beserta hasil observasi sebagai berikut: Bentuk kemas ulang informasi di perpustakaan Universitas PGRI Silampari Ada beberapa bentuk dalam pengemasan infromasi di perpustakaan universitas PGRI Silampari. Pengemasan informasi dalam bentuk publikasi cetak seperti : brosur, Koran, prosiding, indeks majalah, indek artikel, kumpulan artikel terpilih, bibliografi dan bentuk publikasi terseleksi Karena kemasan dalam bentuk publikasi tercetak sangan membantu pengguna dalam menemukan infromasi tercetak yang terpilih sesuai dengan bidang kajian dan kebutuhan pemustaka. Pengemasan informasi audo visual : informasi juga dapat dikemas dalam bentuk audio visual seperti dalam bentuk audio video, kaset, CD- inetraktif, VCD, dan DVD. Kemasan infromasi audiovisual ini kemasan yang menarik karena akan mengajak pengguna menggunakan infromasi dalam bentuk gambar dan suara. Pengemasan informasi dalam bentuk pangkalan data digital : e-book, e-journal, dan e-klip Proses kemas ulang informasi di perpustakaan Universitas PGRI Silampari . Produk kemas ulang infromasi elektronik dan tercetak missal jurnal di download atau dilanggan leketrinik yang kemudian dimasukan kedalam CD selanjutnya di burning setelah itu di beri cover kemudian dilayangkan, lalu pada Koran, Koran yang dilanggan dan terdapat berita tentang Universitas PGRI Silampari kemudian akan kita kliping disatukan pertahun kemudianpada skripsi kita akan menerima CD-rom sehingga data skripsi yang ada di dalam CD akan kita copy dan kita buatkan elektriniknya dengan di edit terlebih dahulu sesuai aturan bakunya kemudian akan kita entry atau di auplod ke dalam repository. Gambar 2. Proses kemas ulang infromasi di Universitas PGRI Silampari (sumber : perpustakaan Univseritas PGRI Silampari) Tahapan-tahapan dalam kegiatan kemas ulang informasi a. menetapkan target pengguna, b. identifikasi kebutuhan informasi pengguna dengan penilaian (survei), c. seleksi format informasi, d. seleksi channel media (publikasi dan promosi), e. menyediakan umpan balik (feedback) dari pengguna, f. evaluasi produk kemas ulang informasi (konten, format, danpemanfaatannya). Metode dalam kemas ulang informasi a. penyiapan ringkasan, berisi informasi terseleksi yang disiapkan pustakawan b. analisis ringkasan, mengacu pada target pengguna, konten informasi, anggaran, dan siklus hidup informasi, di mana deskripsi ringkas produk kemasan informasi berdasarkan topik yang diminati pengguna c. desain kemasan sesuai kriteria pengguna d. desain produk kemasan yang menarik sesuai permintaan pengguna (rancangan dan ukuran e. produksi kemasan informasi selalu Aspek dalam kegiatan kemas ulang informasi Strategi pengemasan ulang informasi kami memperhatikan beberapa aspek. a. kemudahan, artinya kemasan informasi lebih mudah dibaca dan dimengerti isi berdasarkan karakteristik pengguna. b. format informasi yakni informasi produk kemasan berupa hasil format ulang dan sintesis informasi dari berbagai sumber informasi. c. kemutakhiran informasi, di mana informasi yang isajikan bersifat mutakhir dari berbagi subjek keilmuan. d. transfer pengetahuan yakni memberikan pengetahuan baru bagi penggunanya. Gambar 3, contoh hasil kemas ulang infromasi di Perpustakaan Universitas PGRI Silampari ( sumber Perpustakaan PGRI silampari) Penting kemas informasi di saat pandemic covid 19 Sangat penting karena Tujuan utama kemas ulang informasi adalah untuk menyajikan informasi ke dalam bentuk kemasan agar informasi tersebut lebih dapat diterima, lebih mudah dimengerti, dan dimanfaatkan pengguna, apalgi di masa pandemic yang rata2 universitas menutup layanan tetapi dengan adanya produk dari kemas informasi yang kita layangkan melalui repository, ebook dan jurnal banyak di manfatkan pemustaka unbtuk menyeklesaikan tugas-tugas mereka strategi kemas ulang informasi untuk peningkatan pelayanan perpustakaan dalam pandemi covid 19 Kami sendiri perlu melakukan inovasi dalam pengemasan informasi dengan memanfaatkan sumber daya informasi secara maksimal dengan biaya yang tidak besar. Kami juga harus mengidentifikasi kebutuhan pemustaka berdasarkan hasil evaluasi pemanfaatan sumber informasi yang sering diakses dan mengidentifikasi latar belakang pemustaka karena kami juga harus dapat menjangkau pemustaka yang lebih luas berdasarkan kebutuhan informasi yang relevan sesuai kondisi terkini. Gambar.4 hasil kemas ulang infromasi yang sudah di digitalisasi (sumber perpustakaan Universitas PGRI Silampari) Tantangan kemas ulang informasi bagi pustakawan Tantangan terberatnya karena selama ini produk kemas ulang infromasi hanya digiunakan sebagai dokumen arsip perpustakaan yang keberadaanya tidak akan memberikan manfaat bagi pengguna. Sehingga permasalahan tersebut perlu segera diselesaikan dengan penetapan strategi pengelolaan kemas ulang infromasi di perpustakaan, jadi intinya perpustakaan kita baru memulai melakukan kemas ulang infromasi ini, karena Pustakawan harus dapat menjangkau pemustaka yang lebih luas berdasarkan kebutuhan informasi yang relevan sesuai kondisi terkini. Pustakawan di masa pandemic diharpakan dapat menyediakan pelayanan informasi digital dalam berbagai format dan jenis secara online kepada pemustaka, melalui database koleksi khusus, notifikasi teks atau Short Message Service (SMS), QR kode, layanan referensi online, media sosial, website lembaga, milis, dan katalog online. Produk kemas ulang informasi tersebut bermanfaat bagi pelayanan perpustakaan Sangat bermanfaat sekali ya apalagi dimasa pendemi yang notabene nya semua pelayanan universitas membatasi pengunjung bahkan sempat menutup layanan dengan adanya produk kemas ulang infromasi yang kita layangkan secara online sehingga pemustaka masih dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan melalui media online.

Conclusion

Berbagai sumber informasi yang ada di perpustakaan dapat dikemas sebaik dan semenarik mungkin. Harapannya adalah strategi dan tahapan yang baik dalam proses kemas ulang infromasi di perpustakaan Universitas PGRI Silampari supaya Informasi yang dikemas tidak saja mempercantik kemasan informasi yang akan disajikan, tetapi juga memudahkan pengguna dalam memperoleh informasi dalam era new normal seperti sekarang ini. Selain itu juga menjadi nilai tambah (added value) bagi sebuah perpustakaan. Pengguna biasanya pertama akan melihat tampilan luarnya apakah menarik atau tidak. Setelah tertarik pada kemasan luarnya, biasanya pengguna akan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut informasi yang terkandung di dalamnya. Pustakawan hendaknya tidak hanya terbelenggu dengan rutinitas kerja yang monoton dan hanya sesuai yang tertulis pada aturan jabatan fungsional saja. Pustakawan harus dapat menyikapi perkembangan teknologi informasi saat ini sebagai lahan baru dalam kegiatan kemas ulang informasi di perpustakaan. Jika kegiatan kemas ulang informasi dilakukan sebaik mungkin, maka akan dapat memberikan dampak ekonomis dan nilai jual bagi perpustakaan kita. Pada saat mengemas informasi, pustakawan harus memperhatikan bahasa yang digunakan yaitu harus sederhana, tidak terlalu ilmiah, mudah dipahami, ditulis secara ringkas, jelas maksudnya, serta penyajian kemasan yang menarik.