ANALISIS BIBLIOMETRIK : LAYANAN PERPUSTAKAAN TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS KOGNITIF
Universitas Lancang Kuning; Universitas Lancang Kuning
Abstrak
Penelitian ini menganalisis tren publikasi ilmiah terkait layanan perpustakaan untuk penyandang disabilitas kognitif melalui pendekatan bibliometrik. Data diambil dari Google Scholar menggunakan kombinasi kata kunci yang relevan, mencakup periode 2020-2024. Hasil analisis menunjukkan peningkatan publikasi pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19, yang mendorong kebutuhan terhadap teknologi adaptif untuk mendukung aksesibilitas. Namun, tren ini mengalami penurunan tajam pada tahun-tahun berikutnya. Wiley Online Library muncul sebagai platform penerbitan utama dengan kontribusi signifikan terhadap literatur di bidang ini. Selain itu, analisis terhadap produktivitas penulis dan kekuatan hubungan menunjukkan bahwa kolaborasi strategis memiliki dampak yang signifikan terhadap pengaruh penelitian. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan layanan perpustakaan yang lebih inklusif, terutama bagi penyandang disabilitas kognitif. Pemanfaatan teknologi yang dirancang secara partisipatif dan diversifikasi platform penerbitan menjadi rekomendasi utama. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk fokus pada analisis longitudinal, pengembangan teknologi adaptif, dan eksplorasi kebutuhan spesifik kelompok disabilitas ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar yang kuat untuk meningkatkan aksesibilitas dan inklusivitas layanan perpustakaan secara global
Abstract
This study analyses trends in scientific publications related to library services for people with cognitive disabilities through a bibliometric approach. Data was retrieved from Google Scholar using a combination of relevant keywords, covering the period 2020-2024. The results of the analysis show an increase in publications in 2020 due to the COVID19 pandemic, which drives the need for adaptive technology to support accessibility. However, this trend experienced a sharp decline in the following years. Wiley Online Library emerged as a major publishing platform with significant contributions to the literature in this field. In addition, analysis of author productivity and relationship strength showed that strategic collaboration has a significant impact on research influence. This research provides important implications for the development of more inclusive library services, especially for people with cognitive disabilities. Utilization of participatory designed technology and diversification of publishing platforms are key recommendations. For future research, it is recommended to focus on longitudinal analysis, adaptive technology development, and exploration of the specific needs of this disability group. It is hoped that this research will provide a solid foundation for improving the accessibility and inclusiveness of library services globally.
Keywords:
Library services
· Cognitive disabilities
· Bibliometric analysis
· Information accessibility
· Adaptive technology
Introduction
Perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pusat informasi dan pendidikan yang inklusif bagi seluruh masyarakat, termasuk individu dengan disabilitas kognitif. Disabilitas kognitif, seperti kecacatan intelektual (ID), mengacu pada gangguan pada fungsi adaptif dan kognitif individu. Kondisi ini sering kali ditemukan bersamaan dengan gangguan lain, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan gangguan spektrum autism (ANJUM et al., 2023). Disabilitas kognitif mencakup kondisi yang memengaruhi kemampuan berpikir, memahami, dan berkomunikasi, sehingga individu dalam kelompok ini sering menghadapi hambatan dalam mengakses layanan perpustakaan secara optimal. Layanan perpustakaan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan mereka menjadi suatu keharusan, mengingat pentingnya aksesibilitas informasi sebagai hak universal. Meski demikian, implementasi layanan inklusif di perpustakaan masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan sumber daya manusia yang terlatih, minimnya infrastruktur yang ramah disabilitas, serta kurangnya pedoman berbasis bukti untuk mendukung pengembangan layanan tersebut. Dalam beberapa dekade terakhir, kajian mengenai layanan perpustakaan untuk kelompok berkebutuhan khusus menunjukkan peningkatan. Namun, fokus terhadap individu dengan disabilitas kognitif masih relatif terbatas dibandingkan kelompok disabilitas lainnya (Conner & Plocharczyk, 2020). Untuk memahami peta penelitian di bidang ini, analisis bibliometrik menjadi pendekatan yang relevan, meskipun penggunaannya dalam konteks ini masih jarang dilakukan. (Donthu et al., 2021), analisis bibliometrik memungkinkan identifikasi tren publikasi, eksplorasi topik penelitian yang sedang berkembang, dan evaluasi kontribusi ilmuwan serta institusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Metode ini mengintegrasikan analisis sitasi, co-word, dan jaringan kolaborasi untuk menggambarkan keterkaitan antara artikel, penulis, serta tema penelitian. Berbagai studi terdahulu menunjukkan peningkatan minat dan upaya yang lebih besar untuk meningkatkan aksesibilitas dan inklusivitas dalam layanan perpustakaan, khususnya untuk individu dengan disabilitas. Peningkatan signifikan dalam publikasi terkait layanan perpustakaan untuk penyandang disabilitas terlihat antara tahun 2015 hingga 2023, yang mencerminkan minat yang semakin berkembang dalam bidang ini (Artanti et al., 2024). Dalam hal ini, Jurnal Internasional Penelitian dalam Pendidikan Khusus telah menerbitkan sejumlah besar artikel yang menyoroti peran komunikasi akademik dalam mendukung pendidikan khusus melalui layanan perpustakaan (Pagare, 2024). Terkait dengan aksesibilitas, beberapa studi sebelumnya menekankan bahwa teknologi yang dapat diakses merupakan faktor penting dalam meningkatkan layanan perpustakaan bagi penyandang disabilitas, yang memungkinkan mereka untuk mengakses informasi secara setara (Meena, 2022). Penelitian juga mengidentifikasi adanya pola kolaborasi internasional dalam penulisan makalah mengenai layanan perpustakaan untuk penyandang disabilitas, meskipun kolaborasi tersebut masih terbatas (Mengual-Andrés et al., 2020). Namun, kajian tersebut umumnya bersifat deskriptif dan tidak secara spesifik menggunakan pendekatan analisis bibliometrik untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai pola penelitian yang berkembang. Dengan demikian, terdapat kesenjangan yang memerlukan perhatian lebih mendalam, khususnya dalam memahami kontribusi penelitian di bidang layanan perpustakaan untuk individu dengan disabilitas kognitif. Melalui penelitian ini, dilakukan analisis bibliometrik untuk memetakan perkembangan publikasi ilmiah di bidang layanan perpustakaan untuk disabilitas kognitif. Analisis ini mencakup identifikasi jumlah publikasi per tahun, publisher terbanyak, Cluster, Visualisasi network dan overlay, serta produktivitas penulis. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi pengembangan literatur ilmiah dan praktik di bidang layanan perpustakaan inklusif. Sebagaimana diungkapkan oleh Dehghanbanadaki et al. (2020), bahwa penggunaan analisis bibliometrik telah berkembang dari pendekatan kuantitatif menuju pendekatan kualitatif, dengan memanfaatkan data teks untuk mengungkap tema utama penelitian serta memahami bagaimana pengetahuan dihasilkan dan disebarluaskan dalam komunitas akademik.. Diharapkan penelitian ini menunjukkan bahwa publikasi di bidang layanan perpustakaan untuk disabilitas kognitif telah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, penelitian ini diharapkan mampu mengidentifikasi tema-tema utama yang mendominasi serta menunjukkan pola kolaborasi antar penulis atau institusi yang signifikan. Penelitian ini, oleh karenanya, menjadi langkah awal yang penting untuk memahami lebih jauh kebutuhan penelitian lanjutan sekaligus menjadi dasar untuk mendukung pengembangan layanan perpustakaan yang lebih inklusif bagi individu dengan disabilitas kognitif.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menganalisis literatur terkait layanan perpustakaan terhadap penyandang disabilitas kognitif. Menurut Wahyudi (2022), metode deskriptif kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, menganalisis, dan menjelaskan fenomena tertentu dengan menggunakan data numerik yang relevan. Sementara itu, analisis bibliometrik ecara kuantitatif memetakan informasi ilmiah untuk mengevaluasi tren dalam literatur, topik, penulis, dan sumber publikasi (De Sousa et al., 2024). Teknik ini diterapkan untuk mengkaji dan mengevaluasi berbagai aspek literatur ilmiah yang diterbitkan dalam rentang waktu 2020 hingga 2024. Analisis bibliometrik membantu peneliti dalam mengukur dan memetakan perkembangan pengetahuan di bidang studi tertentu, serta mengidentifikasi area penelitian yang masih membutuhkan eksplorasi lebih lanjut. Data penelitian diperoleh dari basis data Google Scholar, yang dikenal sebagai salah satu sumber referensi ilmiah terbesar dengan cakupan berbagai disiplin ilmu. Google Scholar berperan sebagai basis data yang komprehensif untuk mengumpulkan publikasi akademik, memungkinkan peneliti untuk memperoleh data bibliometrik secara luas. Platform ini mendukung penggunaan alat seperti Publish or Perish, yang dapat mengekstrak data kutipan dan menyusunnya untuk keperluan analisis (Komarudin et al., 2023). Pemanfaatan Google Scholar menjadi sangat penting dalam memantau perkembangan tren publikasi dari waktu ke waktu, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian mengenai Qiraat Sab'ah dan keuangan qardh (Hafidh et al., 2023). Google Scholar dipilih karena menyediakan akses luas terhadap publikasi ilmiah, termasuk artikel jurnal, prosiding konferensi, dan buku akademik, serta memungkinkan peneliti untuk memperoleh data yang komprehensif dan terkini. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kombinasi kata kunci Library Services AND Disability Cognitive, yang dirancang untuk mendapatkan literatur yang relevan dengan topik penelitian. Pencarian dilakukan melalui kolom pencarian Google Scholar, dan hasil yang relevan diekstraksi untuk dianalisis lebih lanjut. Sebanyak 100 judul artikel berhasil diidentifikasi, dengan total jumlah sitasi mencapai 7430 dan rata-rata sitasi per tahun sebesar 1857,50. Untuk memastikan konsistensi dan validitas data, proses pencarian juga memanfaatkan perangkat lunak Publish or Perish dengan rentang waktu 2020 hingga 2024. Data yang diperoleh diekspor ke perangkat lunak Mendeley untuk pembaruan metadata, dan setelah diverifikasi, jumlah artikel tetap konsisten pada angka 100. Analisis data dilakukan menggunakan metode bibliometrik dengan bantuan perangkat lunak seperti VOSviewer untuk memvisualisasikan tren, pola, dan hubungan dalam literatur yang dikaji. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memetakan pengetahuan dalam bidang layanan perpustakaan bagi penyandang disabilitas kognitif, serta mengidentifikasi tema-tema yang berkembang dan area yang masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut.
Result & Discussion
Tren Publikasi Pertahun Gambar 1. Jumlah Publikasi Artikel Penelitian Pertahun Sumber: Olah Data Peneliti 2024 Analisis bibliometrik memperlihatkan dinamika jumlah publikasi ilmiah yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020, jumlah publikasi mencapai puncaknya dengan 46 artikel. Lonjakan ini didorong oleh situasi pandemi COVID-19, di mana penelitian terkait berbagai topik mengalami peningkatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat global. Tahun 2020 menjadi masa ketika berbagai peneliti mulai memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarluaskan informasi dan mencari solusi atas tantangan yang dihadapi. Dengan fokus pada kesehatan, pendidikan, dan teknologi, pandemi mendorong peningkatan aktivitas akademis yang berdampak pada jumlah publikasi. Namun, setelah puncak tersebut, jumlah publikasi mulai menurun secara signifikan. Pada tahun 2021, jumlah artikel yang diterbitkan menurun menjadi 33 artikel, kemudian berkurang lagi menjadi 19 artikel pada tahun 2022, dan hanya 2 artikel pada tahun 2023. Hingga tahun 2024, belum ada publikasi yang tercatat. Penurunan ini menunjukkan bagaimana prioritas akademik dapat berubah dengan cepat, sering kali dipengaruhi oleh perubahan situasi global dan dinamika sosial. Misalnya, setelah tahun 2020, fokus akademik beralih ke masalah lain yang dianggap lebih mendesak, seperti kesehatan masyarakat secara luas, teknologi digital, dan pendidikan daring (Siregar, 2023). Fluktuasi ini mencerminkan bagaimana tren penelitian tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan ilmiah, tetapi juga oleh perubahan situasi global dan dinamika sosial yang memengaruhi prioritas akademik. Produktivitas Penerbit (Publisher) Gambar 2. Artikel Yang Diterbitkan Oleh Penerbit Sumber: Olah Data Peneliti 2024 Data bibliometrik menunjukkan dominasi Wiley Online Library sebagai sumber utama publikasi terkait layanan perpustakaan bagi penyandang disabilitas kognitif pada periode 2020-2024, dengan total 75 artikel. Jumlah ini secara signifikan lebih tinggi dibandingkan platform lainnya, seperti Taylor & Francis, Springer, ResearchGate, dan Academic OUP yang masing-masing hanya menerbitkan 1 artikel, serta platform seperti Elsevier dan Emerald yang masingmasing menghasilkan 2 artikel. Keunggulan Wiley Online Library ini mencerminkan peran pentingnya dalam penyebaran kajian akademik, khususnya dalam topik inklusi dan aksesibilitas layanan perpustakaan bagi kelompok dengan kebutuhan khusus. Perbedaan jumlah publikasi ini dapat mencerminkan faktor-faktor seperti reputasi, pengindeksan, aksesibilitas, dan fokus terhadap penelitian inklusif. Beberapa faktor yang mendukung dominasi ini adalah reputasi Wiley yang kuat, pengindeksan yang baik, serta aksesibilitas yang luas, sehingga artikel lebih mudah ditemukan dan banyak dikutip. Inisiatif akses terbuka juga turut membantu meningkatkan jangkauan informasi, yang penting dalam mendukung inklusivitas (Thippanna, 2024). Meski demikian, konsentrasi publikasi pada satu platform dapat mengurangi keberagaman perspektif. Platform lain, meskipun jumlah publikasinya lebih kecil, tetap memiliki peran penting dalam menyediakan pendekatan berbeda dan mendukung inovasi. Oleh karena itu, keberagaman dalam platform penerbitan perlu didorong untuk menciptakan layanan perpustakaan yang lebih inklusif dan beragam bagi penyandang disabilitas kognitif. Produktivitas Penulis dan Kekuatan Hubungan (Link Strength) Tabel 1. Produktivitas Penulis dan Link Strength Terkait Topik Layanan Perpustakaan dan Disabilias Kognitif No Author Documents Total Link Strength 1 Johnson, david r. 2 9 2 Thurlow, martha l. 2 9 3 Wu, yi chen 2 9 4 Embregts, petri j.c.m. 2 5 5 Frielink, noud 2 5 6 Taggart, l 2 5 7 Baio, jon 1 12 8 Cho, juhee 1 12 9 Christensen, deborah 1 12 10 Dowling, nicole f. 1 12 11 Durkin, maureen 1 12 12 Esler, amy 1 12 13 Hall-lande, jennifer 1 12 14 Han, kyungdo 1 12 15 Jung, jin hyung 1 12 Sumber: VOSviewer dan Olah Data Peneliti Analisis terhadap produktivitas penulis dan kekuatan hubungan (link strength) dalam jaringan penelitian mengungkapkan interaksi kompleks antara keluaran dokumen dan pengaruh kolaboratif. Hasil analisis menunjukkan adanya keseimbangan antara produktivitas dan pengaruh yang diciptakan melalui kolaborasi penelitian. Penulis seperti Johnson, David R., Thurlow, Martha L., dan Wu, Yi Chen menonjol dengan kontribusi berupa dua dokumen serta total link strength sebesar 9. Hal ini mencerminkan bagaimana produktivitas dapat berkorelasi dengan pengaruh dalam jaringan penelitian. Kekuatan hubungan yang mereka miliki menunjukkan bahwa produktivitas tinggi dapat selaras dengan peran penting dalam memperkuat konektivitas di dalam jaringan penelitian. Sebaliknya, beberapa penulis seperti Baio, Jon, Cho, Juhee, dan Christensen, Deborah menunjukkan bahwa meskipun hanya menghasilkan satu dokumen, mereka memiliki total link strength sebesar 12. Temuan ini mengindikasikan bahwa kolaborasi yang strategis dapat menghasilkan dampak yang signifikan, bahkan dengan output yang terbatas. Hal ini mempertegas pentingnya kualitas kolaborasi dalam jaringan penelitian. Penulis seperti Embrechts, Petri J.C.M., dan Frielink, Noud menunjukkan keseimbangan antara jumlah dokumen yang dihasilkan (dua dokumen) dan total link strength sebesar 5. Posisi mereka yang stabil dalam jaringan, meskipun tidak menonjol dalam hal kekuatan hubungan, tetap mencerminkan kontribusi yang konsisten terhadap kolaborasi penelitian. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa produktivitas tinggi tidak selalu sejalan dengan pengaruh yang signifikan dalam jaringan penelitian. Seperti yang disoroti oleh literatur, kualitas kolaborasi sering kali lebih penting daripada kuantitas dokumen dalam meningkatkan visibilitas penelitian dan konektivitas di dalam jaringan (Fu et al., 2021). Temuan ini menyoroti bahwa penulis dengan link strength tinggi memainkan peran sentral dalam memperkuat jaringan, meskipun jumlah dokumen yang dihasilkan mungkin terbatas. Dengan demikian, kolaborasi yang efektif dan hubungan antarpenulis menjadi elemen kunci dalam mencapai dampak penelitian yang lebih luas. Analisis Klaster Tabel 2. Klaster Pada VOSviewer Terkait topik Layanan Perpustakaan dan Disabilitas Kognitif Klaster Kata Kunci Cluster 1 (10 items) Adults, anxiety, autism spectrum disorder, cognitive behavioural therapy, emotion recognition, functioning, mediation, neurocognition, psychosocial intervention, theory of mind. Cluster 2 (10 items) developmental disabilities, intellectual disabilities, psychological treatment, ptsd, reoffending rates, sex offender treatment, sexual offending, systematic review, trauma, trauma-spesific treatment. Cluster 3 (9 items) Autism, contexts, disability groups, high school, multiple disabilities, perents' expectations, postsecondary education, transition era, transition assessment or planning. Cluster 4 (8 items) assistive technology, home service, intellectual developmental disability, motivation, participation, physical activity, self-determination, technology Cluster 5 (7 items) behavioural phenotype, developmental disability, inclusive research, mental health, participatory research, prader-willi syndrome, psychiatric disorders. Cluster 6 (7 items) Dyadic interview, ehealth, employment, qualitative, social enterpreneurship, social networks, support. Cluster 7 (7 items) diagnosis, disparities, health needs, health services utilization, healthcare, healthcare professionals, surveillance. Cluster 8 (5 items) Adult, behavioural change, exercise, mental retardation, quality of life. Cluster 9 (4 items) ageing, australia, health, multimorbidity. Cluster 10 (4 items) Digital inequality, digital technology, exclusion, online service delivery. Cluster 11 (4 items) coming out, identity, interpretative phenomenological analysis, nonheterosexual sexuality, Cluster 12 (3 items) Corona, covid-19, experiences of direktur support staff. Cluster 13 (3 items) co-occuring psychiatric disorders, dual diagnosis, meta-analysis. Cluster 14 (3 items) Health services accessibility, Health services needs and demand, palliative care. Cluster 15 (3 items) barriers, intellectual disability, sexual assault. Sumber: VOSviewer dan Olah Data Peneliti Analisis klaster menggunakan perangkat lunak VOSviewer menghasilkan 15 klaster berbeda yang mencerminkan diversitas subbidang penelitian. Metode ini dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi subbidang yang sedang berkembang serta mengevaluasi dampak penelitian dalam literatur global (Zupic & Čater, 2015). Setiap klaster mengelompokkan tema-tema penelitian berdasarkan keterkaitan topik dan kata kunci. Misalnya, Klaster 1 berfokus pada topik seperti kecemasan, gangguan spektrum autisme, dan terapi perilaku kognitif, sementara Klaster 10 membahas ketidaksetaraan digital dan layanan daring. Klaster lain, seperti Klaster 12, menyoroti dampak pandemi COVID-19 terhadap pengalaman staf pendukung direktur. Klasterisasi ini membantu peneliti dalam mengidentifikasi subbidang penelitian yang berkembang, serta pola interaksi di antara tema-tema terkait. Setiap klaster tidak hanya menggambarkan tema utama, tetapi juga hubungan yang mendalam antara topik penelitian. Klaster-klaster ini memungkinkan akademisi untuk mengeksplorasi peluang kolaborasi, memperluas wawasan penelitian, dan mendalami isu spesifik yang relevan. Misalnya, Klaster 8 membahas perubahan perilaku dan kualitas hidup individu dengan gangguan mental, sedangkan Klaster 7 menyoroti isu kebutuhan layanan kesehatan dan disparitas akses terhadap layanan tersebut. Dengan adanya klasterisasi, peneliti dapat dengan mudah menentukan fokus penelitian mereka dan mengembangkan kontribusi yang lebih spesifik dan bermakna dalam bidang ilmu pengetahuan. Network Visualization: Gambar 3. Tampilan Network Visualization Peta visual yang dihasilkan oleh VOSviewer mengungkapkan jaringan kompleks tema penelitian seputar disabilitas intelektual, dengan "disabilitas intelektual" sebagai kata kunci utama. Peta ini menggambarkan peran penting kata kunci tersebut sebagai fokus utama dalam studi ini. Tema-tema yang terhubung dikelompokkan berdasarkan warna, mencerminkan bidang penelitian yang saling berhubungan dan menggambarkan pendekatan interdisipliner untuk memahami kondisi ini. Kelompok merah menyoroti keterkaitan antara disabilitas intelektual dan gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder), mencerminkan fokus yang signifikan pada tantangan spesifik yang dihadapi individu dengan kondisi ini (Schuengel et al., 2019). Kelompok biru menggambarkan tema yang terkait dengan kebutuhan kesehatan dan dampak pandemi COVID-19, menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan individu penyandang disabilitas intelektual selama krisis (health needs, corona) serta isu-isu sosial seperti coming out. Kelompok hijau menyoroti peran teknologi dalam meningkatkan dukungan dan partisipasi masyarakat bagi individu penyandang disabilitas intelektual, menampilkan pendekatan inovatif untuk meningkatkan aksesibilitas dan support dalam kehidupan bermasyarakat (Sitbon et al., 2018). Kelompok ungu menggarisbawahi pentingnya penelitian inklusif (inclusive research), kesehatan mental (mental health), dan pengurangan kesenjangan digital (digital inequality), yang mengilustrasikan kepedulian terhadap aksesibilitas dan inklusivitas dalam masyarakat (Ganaie, 2015). Kelompok kuning dan oranye fokus pada penuaan (ageing) dan aksesibilitas layanan kesehatan (health ervices accessibility), mencerminkan tantangan unik yang dihadapi orang dewasa lebih tua dengan disabilitas intelektual, serta kebutuhan khusus yang mereka hadapi dalam mengakses layanan kesehatan. Secara keseluruhan, peta ini menggambarkan berbagai tema utama yang menjadi perhatian dalam studi disabilitas intelektual, dengan penekanan pada kesehatan, teknologi, dukungan sosial, dan inklusivitas. Hal ini menunjukkan pendekatan multifaset yang saling melengkapi dalam penelitian tentang disabilitas intelektual, sambil juga menyoroti kebutuhan untuk studi yang lebih komprehensif yang mengatasi interseksionalitas berbagai cacat dan kompleksitas yang ada. Overlay Visualization Gambar 4.Tampilan Overlay Visualization Visualisasi Overlay menggambarkan keterkaitan antara istilah intellectual disability sebagai pusat (node utama) dengan berbagai tema terkait. Tema-tema ini dikelompokkan ke dalam beberapa cluster, seperti autism, technology, inclusive research, dan mental health. Hubungan antar istilah ditunjukkan melalui garis penghubung dengan intensitas warna yang berbeda, yang kemungkinan besar mencerminkan perkembangan temporal atau tingkat kedekatan antar konsep. Skala warna dari biru hingga kuning menandakan rentang waktu (2020–2021), di mana warna kuning merepresentasikan topik yang lebih baru atau lebih dominan dalam kurun waktu tersebut. Salah satu tema penting yang muncul adalah corona dan digital inequality, yang menunjukkan pengaruh pandemi COVID-19 terhadap aksesibilitas layanan bagi individu dengan kebutuhan khusus. Kondisi ini mendorong evaluasi ulang terhadap teknologi yang ada, menyoroti perlunya pengembangan teknologi bantuan yang dapat diakses oleh lebih banyak pihak. Penelitian oleh Woodward et al. (2021) menunjukkan bahwa merancang bersama antarmuka pengguna dengan partisipasi langsung dari individu penyandang disabilitas intelektual dapat meningkatkan kesejahteraan mental. Ini menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif dalam pengembangan teknologi. Namun, penting untuk mempertimbangkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada solusi digital dapat secara tidak sengaja mengecualikan individu yang tidak memiliki akses ke teknologi atau literasi digital. Oleh karena itu, masa depan penelitian harus menyeimbangkan antara pengembangan teknologi canggih dan inklusivitas untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh semua individu. Dengan demikian, Overlay Visualization memberikan wawasan tentang dinamika hubungan antar tema serta perubahan fokus penelitian dari waktu ke waktu.
Conclusion
Penelitian ini mengungkap dinamika penelitian terkait layanan perpustakaan untuk penyandang disabilitas kognitif, yang mencapai puncaknya pada tahun 2020 akibat dampak pandemi COVID-19, namun mengalami penurunan dalam publikasi pada tahun-tahun berikutnya. Hasil analisis menunjukkan peran dominan Wiley Online Library dalam mempublikasikan artikel terkait, meskipun keberagaman perspektif dari berbagai platform tetap menjadi aspek penting untuk pengayaan literatur. Selain itu, temuan menunjukkan bahwa keberhasilan penelitian tidak hanya diukur melalui produktivitas publikasi, tetapi juga melalui kolaborasi berkualitas tinggi di antara penulis. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan layanan perpustakaan yang inklusif, terutama melalui pemanfaatan teknologi adaptif dan desain layanan berbasis partisipasi. Rekomendasi untuk penelitian di masa depan meliputi analisis longitudinal terhadap tren penelitian, eksplorasi kebutuhan spesifik penyandang disabilitas kognitif, serta pengembangan inovasi teknologi yang inklusif. Dengan demikian, hasil penelitian ini menjadi langkah awal dalam membangun layanan perpustakaan yang lebih adaptif dan inklusif bagi masyarakat penyandang disabilitas kognitif.