Kembali
16
1
2024 Librarianship in Muslim Societies Vol 3 · 2 ISSN 2961-8339

Peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus dalam Membangun Modal Sosial Disabilitas Melalui Kelas Komputer

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan akses penyandang disabilitas dalam penggunaan komputer. Ketimpangan ini disebabkan oleh faktor yaitu, keterbatasan yang dimiliki, faktor ekonomi, kapasitas penguasaan teknologi, ketersediaan teknologi yang sesuai, dan dukungan sosial terhadap penyandang disabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran perpustakaan sebagai modal sosial dalam program kelas komputer bagi penyandang disabilitas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur dan studi dokumen. Informan berjumlah sepuluh orang yang merupakan pustakawan dan pemustaka penyandang disabilitas dalam program kelas komputer yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah thematic analysis, meliputi analisis transkrip wawancara, pengkodean makna utama, dan identifikasi tema dari kesamaan kode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program kelas komputer di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus memberikan banyak manfaat kepada penyandang disabilitas. Perpustakaan menjadi tempat terbentuknya kerja sama bagi penyandang disabilitas dengan berbagai pihak, sehingga lahir sebuah jaringan sosial yang merupakan unsur utama dari modal sosial. Modal sosial yang terbentuk berperan penting dalam membantu penyandang disabilitas mengatasi berbagai permasalahan sosial. Dengan adanya dukungan dari jaringan sosial, rasa saling percaya, dan kerja sama, penyandang disabilitas dapat lebih mudah mengakses sumber daya, kesempatan, dan layanan yang dibutuhkan. Kedua, modal sosial dapat membantu penyandang disabilitas dalam mendapatkan keterampilan dasar komputer, yang membuka peluang untuk lebih mandiri dan berpartisipasi aktif dalam dunia digital. Selain itu, modal sosial membantu penyandang disabilitas menyiapkan pekerjaan serta membantu mengubah nasib mereka.

Abstract

This research was motivated by the inequality in access for people with disabilities in using computers. This disparity was caused by several factors, including the limitations faced by individuals, economic factors, capacity in mastering technology, availability of suitable technology, and low social support for people with disabilities. The purpose of this study was to determine the role of the library as social capital in the computer class program for people with disabilities at the Archives and Library Department of Kudus Regency. The research method used in this study was a qualitative method with a case study approach. Data collection was carried out through semi-structured interviews and document studies. The informants in this study consisted of ten people selected through purposive sampling. These ten informants included librarians and disabled individuals participating in the computer class program. The data analysis technique used was thematic analysis, which involved analyzing interview transcripts, coding the main meanings, and identifying themes based on the similarities of the codes. The results of this study showed that the computer class program at the Archive and Library Department Kudus Regency provided many benefits to people with disabilities. The library became a place where cooperation was formed between people with disabilities and various parties, leading to the birth of a social network, which is a key element of social capital. The social capital that developed played a crucial role in helping people with disabilities overcome various social problems. With the support of social networks, mutual trust, and cooperation, people with disabilities could more easily access the resources, opportunities, and services they needed. Secondly, social capital helped people with disabilities acquire basic computer skills, which opened up opportunities for them to become more independent and actively participate in the digital world. Additionally, social capital helped people with disabilities prepare for jobs and contributed to changing their fate.
Keywords: People with Disabilities · Social Capital · Computer Class Program · Public Library · Archive and Library Department Kudus Regency

Introduction

Di era digital ini, keterampilan komputer menjadi sangat penting untuk partisipasi penuh masyarakat dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan ekonomi. Namun, penyandang disabilitas di dalam masyarakat masih cenderung mengalami keterbatasan akses terhadap teknologi dan informasi. Ketidakmampuan untuk mengakses informasi digital dapat memperburuk ketimpangan sosial yang mereka alami. Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia mengungkapkan bahwa akses informasi para penyandang disabilitas dalam penggunaan ponsel dan laptop hanya 34,89%, sedangkan non-disabilitas 81, 61% dan akses internet penyandang disabilitas terdiri dari 8,50% sedangkan non-disabilitas terdiri dari 45,46% (Susenas, 2018). Hal ini membuktikan masih terjadi ketimpangan yang besar terhadap penyandang disabilitas dalam penggunaan gawai dan laptop atau komputer serta akses akan internet. Undang-undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kelangsungan hidup setiap warga negara, termasuk para penyandang disabilitas yang mempunyai kedudukan sebagai warga negara Indonesia (UU no. 8 tahun 2016). Bourdieu dan Wacquant (1992) dalam (Ceci & Masciarelli, 2019) mendefinisikan modal sosial sebagai sebuah jumlah sumber daya aktual atau virtual yang diperoleh individu atau kelompok karena memiliki jaringan yang tahan lama berupa hubungan saling kenal dan saling mengenal yang terlembagakan. Hal ini membantu menghilangkan kesenjangan ekonomi dan mencegah kemiskinan dan pengucilan sosial kelompok dan individu, menstimulasi sikap sipil dan aktivitas sosial serta membangun masyarakat sipil serta identitas lokal dan regional (Wojciechowska, 2020). Modal sosial dalam penerapannya memiliki peranan yang cukup signifikan dalam hal pembangunan sumber daya manusia. Fadli (2020) menyatakan peranan modal sosial sangat penting apabila diimplementasikan dalam kehidupan yang didasarkan atas beberapa alasan. Modal sosial berfungsi sebagai sarana transmisi budaya dan berperan dalam membentuk individu yang memiliki jiwa sosial tinggi. Secara keseluruhan, modal sosial berkontribusi pada transformasi kebudayaan yang memperkaya dinamika masyarakat dan memperkuat solidaritas sosial. Sejalan dengan pendapat tersebut program inklusi sosial perpustakaan memiliki keterkaitan erat dengan modal sosial. Modal sosial dapat membantu individu dengan disabilitas mengatasi diskriminasi dan mendapat dukungan sosial yang diperlukan. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi merupakan perubahan paradigma perpustakaan. Konsep inklusi sosial yang terjadi di perpustakaan, yaitu memastikan agar seluruh lapisan masyarakat mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses sumber informasi di perpustakaan tanpa melihat latar belakang mereka. Upaya pemberdayaan masyarakat tersebut disebut dengan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (selanjutnya akan ditulis dengan TPBIS). Penyelenggaraan perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan salah satu upaya untuk membangun masyarakat yang intelektual di era perkembangan teknologi. Saat ini perpustakaan berbeda dari masa lalu di mana perpustakaan mengembangkan modal sosial bagi pengguna untuk memecahkan masalah, meningkatkan soft skill, menciptakan karya kreatif dan inovatif sehingga masyarakat menjadi berdaya yang berguna untuk memecahkan masalah (Mannan & Anugrah, 2020). Penelitian sejenis sebelumnya yang pertama dilakukan oleh Prasetyawan & Arfa (2017) yang meneliti tentang peran perpustakaan melawan bentuk eksklusi sosial. Penelitian ini menjelaskan tentang Perpustakaan Umum Daerah Jawa Tengah sebagai Lembaga inklusif pemerintahan melakukan pemerataan perolehan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perpustakaan Umum Daerah Jawa Tengah melakukan pemerataan perolehan informasi melalui layanan perpustakaan keliling dengan memberikan akses informasi kepada masyarakat yang tereksklusi sehingga mereka dapat dengan leluasa memenuhi kebutuhan informasi dan mengembangkan kompetensi hidup. Penelitian Prasetyawan & Arfa (2017) membahas tentang layanan perpustakaan sebagai pengeliminir bentuk pengucilan sosial bagi masyarakat tereksklusi yang memiliki keterbatasan modal sosial. Penelitian kedua dilakukan oleh Sidani dan Harb (2020) yang meneliti tentang peran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam inklusi sosial penyandang disabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi pintar dapat meningkatkan inklusi sosial melalui tiga faktor utama, yaitu sifat disabilitas dan karakteristik penyandang disabilitas, sumber daya yang tersedia bagi mereka, dan aspek lingkungan yang disediakan oleh kebijakan pemerintah. Kelebihan penelitian Sidani dan Harb (2020) terletak pada informan yang dipilih, yaitu penyandang disabilitas. Penelitian ketiga dilakukan oleh Mahdi dan Asari (2020) yang meneliti pemberdayaan perpustakaan terhadap masyarakat oleh Perpustakaan Umum Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pelatihan olahan resin bagi masyarakat disabilitas. Pelatihan ini bertujuan untuk mendorong perekonomian masyarakat disabilitas. Terkait dengan inklusi sosial itu sendiri, Perpustakaan Umum Kabupaten Magelang telah memperhatikan kaum disabilitas, ekonomi lemah, perempuan serta seluruh lapisan masyarakat. Melalui program TBPIS pemerintah menaruh harapan kepada perpustakaan sebagai salah satu instansi yang dapat memberikan binaan secara langsung kepada masyarakat, yang mana penyandang disabilitas tergolong di dalamnya. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus menjadi salah satu instansi yang terlibat sejak tahun 2019. Dinas Kearsipan dan Perpustakan Kabupaten Kudus mendapatkan penghargaan sebagai dinas perpustakaan terbaik dalam implementasi program TPBIS pada tahun 2020 hingga 2022. Sebagai lembaga yang inklusi, Dinas Kearsipan dan perpustakaan Kabupaten Kudus menyediakan berbagai kegiatan untuk seluruh lapisan masyarakat tidak terkecuali penyandang disabilitas. Program inklusi perpustakaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus bagi penyandang disabilitas masuk ke dalam topik yang menarik karena program inklusi yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas. Kegiatan yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus juga dapat membantu penyandang disabilitas untuk mengatasi ketimpangan literasi akan akses komputer dan internet. Salah satu program yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan perpustakaan Kabupaten Kudus adalah program kelas komputer bagi penyandang disabilitas. Pelatihan program kelas komputer yang dilaksanakan merupakan proses pendidikan dan pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan penyandang disabilitas dalam menggunakan komputer dan teknologi informasi. Melihat dari permasalahan yang dialami oleh penyandang disabilitas akan kesenjangan akses telepon dan laptop, program kelas komputer penting pada era digital ini karena penggunaan komputer dan teknologi informasi telah meluas di berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, bisnis, industri, dan pemerintahan. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi peneliti untuk mengkaji bagaimana peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus dalam membangun modal sosial bagi penyandang disabilitas melalui program kelas komputer.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini mengkaji secara perinci bagaimana peran perpustakaan sebagai modal sosial dalam program kelas komputer bagi masyarakat disabilitas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus. Dalam penelitian ini peneliti mengambil data dari pelaksanaan program pelatihan kelas komputer bagi masyarakat disabilitas yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan perpustakaan Kabupaten Kudus. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu wawancara dan studi dokumen. Kegiatan wawancara dilakukan dengan berpedoman pada naskah wawancara semi-terstruktur dengan menyusun garis besar pertanyaan terkait topik penelitian, dalam hal ini adalah terkait peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus sebagai modal sosial bagi penyandang disabilitas dalam program kelas komputer. Informan pada penelitian ini berjumlah sepuluh orang yang merupakan pustakawan dan pemustaka penyandang disabilitas dalam program kelas komputer yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Penggunaan pedoman wawancara akan memudahkan peneliti untuk melakukan eksplorasi secara mendalam terkait topik penelitian. Teknik pengambilan data yang kedua adalah studi dokumen yang berasal dari website instansi, media sosial, dan dokumentasi narasumber. Penelitian yang telah dilaksanakan ini menggunakan model analisis data berupa tematik analisis yang didefinisikan Braun dan Clarke (2006) sebagai salah satu cara untuk menganalisis data dengan tujuan untuk mengidentifikasi pola atau untuk menemukan tema melalui data yang telah dikumpulkan oleh peneliti (Heriyanto, 2018). Berikut tahapan-tahapan melakukan analisis data menggunakan metode thematic analysis. 1. Memahami data Pada tahap ini peneliti melakukan eksplorasi data secara mendalam melalui membaca kembali transkrip wawancara, mendengar ulang rekaman wawancara dan membuat catatan pribadi selama membaca transkip atau mendengar ulang rekaman wawancara. Tujuan dari tahap ini adalah supaya peneliti merasa paham dan dekat dengan data. Dengan memahami data peneliti bisa mengupas secara mendalam apa yang terjadi dari sebuah peristiwa melalui perspektif partisipan. Dalam konteks perpustakaan sebagai modal sosial, informasi yang disampaikan oleh informan, yaitu masyarakat disabilitas merupakan suatu hal yang penting untuk ditelusuri lebih mendalam berkaitan dengan pengalaman yang dirasakan selama mendapatkan pelatihan. 2. Menyusun kode Tahapan kedua dalam thematic analysis adalah menyusun kode yang dihasilkan melalui transkip wawancara. Penulisan kode diusahakan sejelas mungkin sehingga melalui kode ini peneliti akan paham makna dari setiap pernyataan informan. Selain itu, kode yang diciptakan dapat digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Contoh kode dalam penelitian ini dapat berupa modal sosial membantu memberikan keterampilan dasar. 3. Mencari Tema Langkah utama dalam menentukan tema adalah menentukan tema tentatif terlebih dahulu. Penentuan tema tentatif didasarkan pada hasil observasi peneliti terhadap kode dan kelompok yang memiliki kesamaan atau perbedaan makna. Selanjutnya, masing-masing tema ini dibandingkan dengan tema yang lain untuk mengidentifikasi apakah memiliki kesamaan, perbedaan dan keterkaitan. Setelah tema selesai disusun, masing-masing tema akan dikalkulasi berdasarkan signifikansinya, keterkaitan dengan pernyataan penelitian dan kekhasan dalam proses dijadikan dalam satu tema.

Result & Discussion

Berdasarkan analisis tematik pada data wawancara, terdapat tiga tema utama, yaitu: 1) Identifikasi Peran Perpustakaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus; 2) Ragam Kegiatan Pemberdayaan oleh Perpustakaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus; 3) Identifikasi Modal Sosial pada Pelaksanaan Program Kelas Komputer bagi Penyandang Disabilitas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kudus; Identifikasi Peran Perpustakaan Tujuan dari program transformasi perpustakaan inklusi adalah untuk meningkatkan literasi informasi berlandaskan teknologi informasi dan komputer, meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat, serta memperkuat peran dan fungsi perpustakaan. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi buku, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan pemberdayaan bagi masyarakat. Perpustakaan berupaya memfasilitasi dan terbuka kepada seluruh lapisan masyarakat dengan menyediakan informasi bahan pustaka yang mudah diakses serta sumber yang bermutu. Selain itu, perpustakaan juga menjadi tempat di mana kerja sama antar berbagai pihak dapat terjadi secara efisien untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus melatih keterampilan masyarakat agar mereka dapat memperoleh keahlian dan pekerjaan yang meningkatkan kesejahteraan sehingga manfaat dan peran perpustakaan dalam masyarakat menjadi lebih maksimal. Ragam Kegiatan Pemberdayaan Perpustakaan Untuk memberdayakan masyarakat melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TBPIS), Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus melakukan peninjauan untuk mengidentifikasi kebutuhan para penyandang disabilitas. Transformasi layanan perpustakaan dapat dicapai dengan pemanfaatan perpustakaan bagi masyarakat dan memberikan tempat bagi masyarakat untuk mengeksplorasi kemampuan dan potensi mereka. Sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus dilakukan melalui kunjungan langsung kepada masyarakat. Tidak hanya melalui kunjungan pada kunjungan langsung, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus juga melakukan sosialisasi melalui media sosial. Adapun kegiatan pemberdayaan penyandang disabilitas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus, yaitu, kelas membuat nastar, kelas membuat bubuk jahe, kelas membuat sabun, dan program kelas komputer. Semua kelas yang diadakan ini berasal dari hasil diskusi penyandang disabilitas dengan pihak perpustakaan, sesuai dengan penuturan salah satu pustakawan berikut: “Kami tidak rumit kok dek, kami cukup saling berdiskusi apa yang dibutuhkan karena kita tidak mungkin membuat kelas tanpa dibutuhkan mereka jadi kami akan menyediakan apa yang mereka butuhkan, kami carikan mereka narasumber, kami bukakan kelasnya, kami koordinat pesertanya dan kelas pun terlaksana. Dan untuk proses narasumber itu internal kita, maksudnya kita pakai surat permohonan ada balasan dan lain sebagainya ya seperti. Tetapi untuk menciptakan kelasnya kita berdiskusi tentang apasih kebutuhan mereka, saya rasa yang Namanya peserta itu tidak perlu kita terlalu banyak, misalnya yang rumit gitu lo, membuat kelas tidak perlu ada perjanjian Kerja sama dan lain sebagainya. Karena kita juga butuh diakses, perpustakaan itu butuh pengunjung. Kita butuh Masyarakat untuk mengakses layanan kita juga, jadi kalau ada hal yang mudah untuk dilakukan makan kita lakukan saja sesimple mungkin.” (Pustakawan 1, 1 Maret 2024) Berdasarkan penuturan informan tersebut, pengadaan program kelas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten kudus disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki penyandang disabilitas. Tujuan pengadaan kegiatan ini tidak hanya sebagai peningkatan kapasitas di bidang pendidikan, tetapi juga merambah ke bidang ekonomi. Dari berbagai program yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. Kabupaten Kudus, salah satu yang paling signifikan adalah program kelas komputer. Program ini tidak hanya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga membuka pintu bagi peluang pekerjaan di era digital. Kelas komputer ini dirancang secara komprehensif, mulai dari pengenalan dasar penggunaan komputer hingga keterampilan lanjutan seperti pengelolaan data dan penggunaan perangkat lunak produktivitas. Program ini juga didukung oleh tenaga pengajar yang berpengalaman dan fasilitas komputer yang memadai sehingga memberikan pengalaman belajar yang optimal. Dengan adanya program kelas komputer, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat literasi tradisional, tetapi juga berperan dalam memberdayakan masyarakat untuk menghadapi tantangan dunia digital. Identifikasi Modal Sosial pada Pelaksanaan Program Kelas Komputer bagi Penyandang Disabilitas Sebelum mengikuti kegiatan program kelas komputer di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus, penyandang disabilitas mengalami permasalahan dan kendala untuk berpartisipasi secara penuh serta efektif dengan masyarakat lainnya berdasarkan kesetaraan hak akan akses penggunaan komputer. Permasalahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu, keterbatasan fisik yang dimiliki, faktor ekonomi, kapasitas dalam penguasaan teknologi, ketersediaan teknologi yang sesuai, dan rendahnya dukungan sosial terhadap penyandang disabilitas. Hal tersebut menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari -hari penyandang disabilitas menghadapi berbagai macam permasalahan baik yang berasal dari internal maupun eksternal dalam akses penggunanaan komputer. Permasalahan tersebut berupa informan masih mengalami kendala dalam pengaplikasian komputer. Permasalahan utama informan yang berprofesi sebagai pengurus komunitas adalah rendahnya kemampuan anggota komunitas dalam penggunaan komputer. Bahkan tidak sedikit dari mereka belum pernah menggunakan komputer. Pendapat tersebut merujuk pada penyampaian informan sebagai berikut: “….. SDM-nya pengurus itu untuk hal-hal termasuk komputer, office itu belum, malah mereka pertama kali memegang itukan.” (Pustakawan, 4 Maret 2024) Untuk menjawab permasalahan yang dialami oleh penyandang disabilitas, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus melaksanakan program TPBIS. Program TPBIS ini dimaknai sebagai modal budaya yang dimiliki perpustakan dan pustakawan digunakan sebagai alat penggerak dalam melakukan pendekatan kepada penyandang disabilitas. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Claridge (2022) tentang salah satu arti dari istilah modal budaya yaitu sikap budaya dan nilai-nilai bersama yang bersifat konstruktif atau membangun dan karenanya bermanfaat. Pelaksanaan kegiatan dimulai dari menyosialisasikan ke penyandang disabilitas secara persuasif dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh mereka. Persuasi tentunya dilakukan dengan cara yang terbaik agar masyarakat dapat tertarik untuk mengunjungi perpustakaan berbasis inklusi sosial (Enlevi & Masruri, 2023). Dengan adanya pendekatan ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan menguatkan pemahaman penyandang disabilitas bahwa keberadaan perpustakaan adalah tempat bagi semua orang dan tidak ada pengecualian. Santoso (2020) menyebutkan bahwa kepercayaan atau trust merupakan salah satu elemen penting modal sosial yang berpengaruh dalam kinerja suatu lembaga. Transformasi layanan perpustakaan dapat dicapai dengan pemanfaatan perpustakaan bagi masyarakat dan memberikan tempat bagi masyarakat untuk mengeksplorasi kemampuan dan potensi mereka. Dari rasa percaya yang timbul, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus berhasil membangun jaringan sosial yang baik sehingga membuat penyandang disabilitas merasa memiliki hubungan yang lebih erat dengan perpustakaan sehingga program TBPIS dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bagaimana perpustakaan berperan dan berusaha menumbuhkan modal sosialnya. Program kelas komputer merupakan salah satu program kelas yang dibentuk oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus bagi penyandang disabilitas. Adapun dalam peran perpustakaan sebagai modal sosial dalam program kelas komputer, perpustakaan melakukan tahapan atau pendekatan dalam melaksanakan program tersebut sehingga penyandang disabilitas dapat merasakan manfaat dan peranan perpustakaan. Dengan jaringan sosial yang terbentuk dapat membangun kepercayaan (trust) penyandang disabilitas antar individu lainnya. Kemudian kepercayaan tersebut menjadi kepercayaan terhadap orang asing (pustakawan dan pembimbing) dan kepercayaan instansi sosial yang luas (perpustakaan) sehingga kepercayaan ini dapat dijadikan nilai yang dipegang bersama. Modal sosial yang terbentuk melalui jaringan sosial memberikan manfaat kepada penyandang disabilitas yang terbagi menjadi tiga sub tema. Sub tema pertama menguraikan bagaimana program kelas komputer memberikan solusi kepada penyandang disabilitas terhadap permahasalan sosial yang mereka alami. Kedua memberikan gambaran bagaimana program kelas komputer dapat memberikan keterampilan dasar komputer kepada penyandang disabilitas. Sub tema ketiga menguraikan mengenai modal sosial yang diperoleh penyandang disabilitas dapat membantu mereka dalam menyiapkan suatu pekerjaan dan mengubah nasib. 1. Modal Sosial Membantu dalam Menyelesaikan Permasalahan Sosial Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus berhasil membangun jaringan sosial yang baik dengan penyandang disabilitas melalui program kelas komputer yang diadakan. Respon penyandang disabilitas terhadap pengadaan kelas komputer juga sangat antusias dan bersemangat. Para penyandang disabilitas juga mengoordinasi teman-teman lainnya untuk mengikuti pelatihan karena mereka sangat kekurangan ilmu akan komputer. Hal ini disampaikan oleh salah satu informan dalam pernyataan berikut: “Iya, dua-duanya buk jadi selain peserta saya juga mengoordinasi tementeman untuk supaya berangkat karena kan maaf Tingkat sumber daya manusia kami bagi disabilitas itukan kurang dalam bidang teknologi itu, makanya kita kemarin itu belajarlah program-program dasar untuk pelatihan komputer dan juga kita juga mengandeng adik-adik dari SDLB, dari SDLB itukan jarang untuk melengkapilah kegiatan-kegiatan komputer di sekolah. Jadi kalau di sekolah itu sudah full kita bisa ini terus nanti di perdalam di perpustakaan biarpun ada jangka waktu tertentu. Tapikan kalau di perpustakaan kan satu minggu itu satu kali buk jadi untuk mengingat memori apa yang dipelajari di sekolah untuk adik-adik yang ikut dan untuk kita-kita yang sudah dewasa ini gimana sih caranya. Dahulukan kita jarang ya buk di sekolah itu ada komputer gitu, di perpustakaan welcome untuk mengadakan pelatihan komputer.” (Pemustaka, 4 Maret 2024) Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa Dinas kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus menjadi pendengar yang baik bagi penyandang disabilitas dengan memperhatikan permasalahan yang mereka alami sehingga program kelas komputer bisa terlaksana sebagai jawaban permasalahan mereka. Hal ini berarti bahwa perpustakaan membangun kepercayaan (trust) yang memungkinkan penyandang disabilitas bekerja sama seacara efektif. Di dalam modal sosial, trust menjadi dasar untuk interaksi sosial yang lebih positif. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepercayaan yang dibangun penyandang disabilitas memberikan solusi atas permasalahan akses komputer yang dialami mereka. Dalam melaksanakan program kelas komputer, Dinas kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus bekerja sama dengan beberapa mitra dan menyediakan pembimbing dalam melakukan pelatihan, dalam artian perpustakaan mengajak penyandang disabilitas untuk memperluas jaringan sosial mereka. Program kelas komputer tidak hanya sekadar meningkatkan keterampilan teknologi penyandang disabilitas, tetapi juga berperan penting dalam membantu menyelesaikan berbagai permasalahan sosial. Di era digital ini, akses terhadap teknologi dan literasi digital menjadi faktor krusial untuk mengatasi ketimpangan sosial. Dengan adanya program ini, masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang sebelumnya tidak memiliki akses atau pemahaman mengenai komputer, dapat belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. 2. Modal Sosial Membantu dalam Memberikan Keterampilan Dasar Program kelas komputer bagi penyandang disabilitas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus terdiri dari dua sesi. Program kelas komputer sesi pertama disebut dengan tahap dasar dan sesi kedua tahap lanjutan. Pada setiap sesi terdiri dari enam kali pertemuan. Pada sesi pertama dimulai dengan cara menyalakan dan mematikan komputer, pengenalan perangkat komputer, serta pengenalan software komputer. Hal tersebut dilakukan sampai peserta mengerti dan paham cara pengoperasian komputer. Pengajaran tahap awal ini dilakukan karena komputer merupakan sesuatu yang belum familier bagi penyandang disabilitas. Setelah paham akan pengoperasian komputer, peserta akan diarahkan untuk mempelajari fungsi-fungsi pada keyboard komputer seperti pengenalan fungsi capslock, FI, F2, dan F3. Pada pertemuan selanjutnya para peserta akan dikenalkan dengan Microsoft Word, Microsoft Excel dan Power Point. Pada tahap lanjutan program kelas komputer bagi penyandang disabilitas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus menyesuaikan dengan kebutuhan para peserta. Pada tahap ini para peserta meminta pengajaran sesuai dengan kebutuhan mereka seperti pembuatan Google Form, tata cara penyimpanan di Google Drive, tata cara mengirim surat secara online serta juga marketing pada media online seperti Facebook. Dalam pelaksanaan tahapan ini perpustakaan sebagai modal sosial berperan dalam memberikan keterampilan dasar, yaitu berupa keterampilan dalam menggunakan komputer. Keterampilan dasar ini sangat penting karena tidak hanya meningkatkan kemampuan individu untuk mengakses informasi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk berbagai kesempatan profesional. Bagi mereka yang baru pertama kali bersentuhan dengan komputer, program ini memberi kesempatan untuk mengembangkan diri, membuka peluang belajar lebih lanjut, dan menjembatani kesenjangan keterampilan teknologi yang ada. Dengan adanya program ini, perpustakaan berperan aktif dalam memastikan masyarakat memiliki kemampuan dasar yang relevan dengan kebutuhan zaman sehingga mereka lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. 3. Modal Sosial Membantu dalam Mempersiapkan Pekerjaan dan Memberikan Kesempatan Mengubah Nasib Melalui tahapan yang telah dilaksanakan, program kelas komputer memberikan manfaat kepada penyandang disabilitas. Jaringan modal sosial yang terbentuk bisa menarik modal-modal lainnya. Peran dari pelaksanaan program kelas komputer bagi para penyandang disabilitas berupa bertambahnya ilmu pengetahuan mereka dalam bidang komputer dan teknologi sehingga dapat membantu penyandang disabilitas dalam mempersiapkan pekerjaan dan memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengubah nasib. Pendapat tersebut sesuai dengan penuturan salah satu informan berikut. “Jadi yo mereka seneng dan akhirnya bisa membantu tugas saya mba, karena dulu itu ya memang semuanya saya yang megang mulai dari yang bikin undangan, bkin flyer, dan lain-lain sampai administrasi itu saya semua. Tetapi setelah ada pelatihan yang itu jadi teman-teman pengurus itu jadi pada tahu dan bisa mengoperasikannya.” (Pemustaka, 4 Maret 2024) Berdasarkan pernyataan informan tersebut program kelas komputer yang dilaksanakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus membantu penyandang disabilitas yang tergabung dalam komunitas dalam pembuatan surat undangan, pembuatan flyer terkait kebutuhan komunitas, dan admistrasi komunitas sehingga tujuan dan kegiatan komunitas dapat dilaksanakan dengan lebih efisien. Peran yang kedua merambah ke perekonomian para penyandang disabilitas. Setelah mengikuti program kelas komputer di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus para penyandang disabilitas dimudahkan dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-harinya. Penyandang disabilitas juga berhasil menjadi Petugas Pemutakhiran Data Pemilih, yang dikenal dengan sebutan pantarlih. Keterampilan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi mereka dalam dunia digital, tetapi juga membuka kesempatan baru bagi penyandang disabilitas untuk berperan aktif dalam kegiatan sosial. Peran mereka sebagai pantarlih menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mampu menjalankan tugas-tugas penting yang membutuhkan ketelitian, tanggung jawab, dan keterampilan teknologi. Hal ini juga menjadi bukti bahwa program-program pelatihan semacam itu berkontribusi besar dalam meningkatkan kemandirian dan partisipasi penyandang disabilitas di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam proses demokrasi. Dengan keterampilan baru ini, mereka tidak hanya menjadi lebih mandiri, tetapi juga turut berperan dalam memastikan validitas data pemilih, yang merupakan elemen krusial dalam pelaksanaan pemilu yang transparan dan akurat. Setelah mengikuti program kelas komputer, penyandang disabilitas juga merasakan kemudahan dalam melakukan penginputan data sebagai kader PKK. Tidak hanya itu, penyandang disabilitas dimudahkan dalam membuka usaha mandiri melalui Facebook setelah mengikuti program kelas komputer. Dengan dukungan keterampilan ini, penyandang disabilitas tidak hanya menjadi lebih mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu bersaing dalam dunia bisnis digital yang makin berkembang. Program kelas komputer ini memberikan mereka akses ke dunia usaha yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau, memungkinkan mereka untuk berkembang secara finansial dan sosial dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Selain itu, beberapa dari mereka juga dimudahkan dalam penginputan data sebagai Sales Counter Officer (SCO) TIKI. Program kelas komputer ini tidak hanya memberikan akses kepada penyandang disabilitas untuk belajar tentang teknologi, tetapi juga berperan penting dalam memudahkan mereka dalam mengurus berkas-berkas penting yang diperlukan saat berhubungan dengan instansi pemerintah. Dengan keterampilan yang diperoleh dari kelas ini, mereka dapat dengan lebih mudah menyiapkan dan mengelola dokumen-dokumen administratif, yang sebelumnya mungkin menjadi tantangan tersendiri. Hal ini tidak hanya membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan administratif, tetapi juga memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat dan pemerintah dengan cara yang lebih aktif dan bermakna sehingga mereka merasa lebih berdaya dan memiliki tempat dalam komunitas yang lebih luas. Melalui program kelas komputer ini, penyandang disabilitas memperoleh keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam berbagai profesi, seperti penggunaan perangkat lunak perkantoran, manajemen data, dan keterampilan internet. Kemampuan ini adalah syarat utama dalam banyak jenis pekerjaan di era digital. Lebih dari sekadar mempersiapkan mereka untuk pekerjaan, kelas komputer ini juga membuka peluang baru yang dapat mengubah karier serta meningkatkan taraf hidup. Dengan keterampilan yang diperoleh, peserta dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik pada sektor formal maupun informal, dan bahkan memulai usaha sendiri di dunia digital. Program ini memberdayakan mereka untuk meraih peluang yang sebelumnya mungkin tidak terjangkau, dan berkontribusi pada perubahan positif dalam kehidupan mereka dan masyarakat secara keseluruhan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan menunjukkan bahwa trust (kepercayaan) dan awareness (kesadaran sosial) memainkan peran kunci dalam membangun kerja sama yang efektif dan berkelanjutan. Pertama, kepercayaan adalah fondasi penting dalam modal sosial. Melalui program kelas komputer ini, penyandang disabilitas mulai memiliki kepercayaan terhadap perpustakaan sebagai institusi sosial yang peduli dengan kesejahteraan mereka. Mereka percaya bahwa perpustakaan akan memberikan akses, pelatihan, dan dukungan yang mereka butuhkan, seperti yang disampaikan oleh beberapa informan yang merasa bahwa perpustakaan mendengarkan kebutuhan mereka dan menyediakan solusi yang tepat. Trust ini membantu meningkatkan partisipasi mereka dalam program, memperkuat hubungan sosial di antara peserta, dan memperkuat jaringan sosial yang mereka bentuk. Kedua, kesadaran sosial terhadap pentingnya inklusi sosial juga menjadi hasil penting dari penelitian ini. Perpustakaan berhasil membangun kesadaran di kalangan penyandang disabilitas tentang pentingnya literasi digital dan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memberdayakan diri mereka. Selain itu, perpustakaan juga meningkatkan kesadaran di antara peserta tentang pentingnya kerja sama dan solidaritas, di mana mereka saling membantu dalam proses belajar komputer. Awareness ini memperkuat modal sosial dengan mendorong kolaborasi dan dukungan di antara anggota komunitas. Program kelas komputer tidak hanya membantu penyandang disabilitas mengatasi kesenjangan teknologi, tetapi juga memperkuat trust dan awareness sebagai elemen kunci dalam modal sosial. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus berupaya memfasilitasi penyandang disabilitas dengan menyediakan sumber yang berguna dan pembimbing dalam pelaksanaan kelas komputer. Pernyataan ini mendukung pendapat Wiranda et al. (2022) yang menyebutkan bahwa dengan transformasi yang dilakukan perpustakaan menjadi wadah ataupun sarana bagi masyarakat untuk memperoleh informasi serta mengembangkan pengetahuan dengan berbagai kegiatan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus dapat berhubungan lebih dekat dan memahami kebutuhan serta potensi masyarakat sehingga bisa mengadakan kegiatan program kelas komputer yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas melalui pendekatan persuasif. Dari modal sosial yang didapat melalui program berperan membantu penyandang disabilitas dalam menyelesaikan permasalahan sosial yang mereka alami, memberikan keterampilan dasar, mempersiapkan seseorang dalam suatu pekerjaan dan membantu dalam mengubah nasib seseorang. Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan penelitian Santoso (2022) yang menyatakan bahwa masyarakat dengan banyak persediaan modal sosial lebih mungkin untuk memperoleh manfaat di antaranya lebih rendahnya tingkat kejahatan, aspek kesehatan yang lebih baik, pencapaian pendidikan yang lebih tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Temuan ini juga mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Maswakang et al., (2023) terkait dengan kriteria Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Menurut Maswakang et al., (2023) perpustakaan mendorong masyarakat agar mandiri secara ekonomi serta perpustakaan menumbuhkan keyakinan tentang pentingnya literasi dan ilmu pengetahuan dalam meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana peran perpustakaan dalam memberdayakan penyandang disabilitas melalui modal sosial. Fokus pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus dengan program kelas komputer memperlihatkan bagaimana transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat membantu penyandang disabilitas mengakses teknologi, meningkatkan keterampilan, serta memberdayakan mereka dalam dunia digital. Pendekatan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih menekankan pada penyediaan informasi umum. Penelitian ini mengintegrasikan modal sosial sebagai alat untuk pemberdayaan teknologi. Program kelas komputer tidak hanya memberikan akses literasi digital bagi penyandang disabilitas, tetapi juga meningkatkan keterampilan mereka, membuka peluang pekerjaan, dan memudahkan integrasi sosial. Modal sosial yang dibentuk melalui program ini memperkuat jaringan sosial penyandang disabilitas, yang membantu mereka mengatasi kendala sosial dan ekonomi. Namun, ketika memberikan pelatihan melalui program kelas komputer, tidak dapat dihindari bahwa perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus akan mengalami tantangan dan hambatan.Tantangan yang pertama kurangnya semangat tunanetra atau munculnya rasa bosan akan pembelajaran komputer. Upaya yang dilakukan oleh pihak perpustakaan terhadap tuna netra dengan memfasilitasi transportasi hingga penentuan titik kumpul yang mudah diakses serta mengatasi rasa jenuh atau bosan individu terhadap kelas yang dilaksanakan, pihak Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten kudus melakukan diskusi dengan pihak yang terkait bagaimana sebaiknya kegiatan dilakukan, serta mendiskusikan apa faktor dari kejenuhan dan mencari solusi secara bersama. Hambatan yang kedua berasal dari faktor cuaca karena program kelas komputer diadakan saat musim hujan. Untuk mengatasi hambatan tersebut, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus melakukan evaluasi dengan mengganti jadwal pelaksanaan program kelas bagi penyandang disabilitas dengan memperhatikan cuaca untuk mempermudah akses penyandang disabilitas menuju perpustakaan. Hambatan yang ketiga adalah kurangnya fasilitas komputer yang dimiliki oleh pihak perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus. Hal ini disebabkan pemakaian komputer oleh banyak individu sehingga beberapa komputer mengalami error dan tidak bisa digunakan. Evaluasi dalam segi fasilitas, perpustakaan selalu melakukan pembaharuan fasilitas sebagaimana penjelasan pihak perpustakaan bahwa saat ini program kelas komputer di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus sudah terdiri dari lima kelas untuk semua lapisan masyarakat dan kuota tiap kelas pada kelas komputer yang dulunya hanya 10 orang menjadi 12 orang. Hambatan ini membuat para peserta penyandang disabilitas kurang efisien dalam mengikuti program kelas komputer. Namun untuk fasilitas seperti kursi roda tongkat, dan lingkungan ramah disabilitas sudah tercukupi. Dari berbagai tantangan dan hambatan yang dialami, pihak Dinas Kearsipan dan Perpustakaan kabupaten Kudus melakukan evaluasi dan menemukan solusi untuk setiap permasalahan yang timbul. Penelitian ini menunjukkan bahwa program kelas komputer di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus masih memerlukan peningkatan. Hal ini dikarenakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus masih terbatas akan jumlah komputer yang dimiliki. Hal tersebut akan berdampak pada kesetaraan hak yang diperoleh penyandang disabilitas dalam mengikuti kegiatan. Penelitian lebih lanjut perlu mengkaji dampak jangka panjang dari program ini terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi penyandang disabilitas, termasuk partisipasi mereka dalam dunia kerja.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis program kegiatan kelas komputer yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Kabupaten Kudus, program ini memberikan manfaat terhadap penyandang disabilitas. Perpustakaan memiliki peran penting sebagai modal sosial bagi penyandang disabilitas sehingga memberdayakan mereka untuk mendapatkan kesetaraan dalam akses informasi penggunaan komputer. Dari modal sosial yang didapat bisa melahirkan ilmu pengetahuan dan wawasan penyandang disabilitas dalam penggunaan komputer sehingga dapat dimanfaatkan dalam memajukan perekonomiannya. Dengan adanya program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TBPIS), perpustakaan tidak hanya menjadi lembaga untuk akses informasi, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial yang membantu penyandang disabilitas mengatasi kendala dan hambatan yang dialaminya dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun demikian, berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan juga hal-hal yang masih perlu dimaksimalkan dan ditingkatkan dalam kegiatan program kelas yang diadakan. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus sebagai pelaksana kegiatan program kelas komputer bagi disabilitas, diharapkan untuk menambah fasilitas komputer agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan lebih efektif. Dengan penambahan jumlah fasilitas komputer diharapkan dapat menambah jumlah kuota anggota dalam mengikuti kegiatan. Hal ini akan memungkinkan adanya peningkatan kualitas pelayanan kepada penyandang disabilitas dengan jangkauan yang lebih luas.