Perilaku Pencarian Informasi Akademis Siswa SMAN 2 Cimahi melalui Media Sosial
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Fokus penelitian ini yakni tentang maraknya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi di kalangan para penggunanya. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dari penggunaan media sosial terhadap perilaku pencarian informasi yang dilakukan oleh siswa SMAN 2 Cimahi. Penelitian ini membahas mengenai apa itu media sosial, kebutuhan informasi, perilaku pencarian informasi, faktor yang mendorong tindakan pencarian informasi melalui media sosial, hal-hal yang mempengaruhi perilaku pencarian informasi, serta perilaku pencarian informasi Siswa SMAN 2 Cimahi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan instrumen pengumpulan data berupa kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat beberapa faktor mencakup faktor psikologis, demografis, kondisi peranan di dalam masyarakat, kondisi lingkungan tempat tinggal serta karakteristik sumber informasi yang mendorong penggunaan media sosial sebagai sumber informasi. Faktor psikologis dan karakteristik sumber informasi menjadi 2 faktor yang dianggap paling mempengaruhi perilaku pencarian informasi yang dilakukan oleh siswa. Hasil analisis mengenai perilaku pencarian informasi yang dilakukan oleh Siswa SMAN 2 Cimahi diketahui mencakup tipe perhatian pasif, pencarian pasif, pencarian aktif, dan pencarian berlanjut.
Abstract
This research focuses on the widespread use of social media as a source of information by its users. The writing of this article aims to provide an understanding of the influence of the use of social media itself on informationseeking behavior carried out by students of SMAN 2 Cimahi. Furthermore, this paper will be discussed what social media is, information needs, information search behavior, factors that encourage information search actions through social media, things that affect information-seeking behavior, and information-seeking behavior of SMAN 2 Cimahi students. The method used in this study is a quantitative descriptive method using a questionnaire survey. Based on the results of the study, it is known that several factors encourage the use of social media as a source of information. In addition, psychological factors and characteristics of information sources are the two factors that are considered to most influence the information search behavior carried out by students. Also presented were the results of the analysis of information search behavior carried out by SMAN 2 Cimahi students, including passive attention types, passive search, active search, and ongoing search.
Keywords:
academic information
· information
· information needs
· information search behavior
· social media
Introduction
Dewasa ini, media sosial menjadi salah satu gambaran hasil dari berkembangnya teknologi informasi dan kehadiran internet. Dikutip dari laman datareportal.com yang menampilkan hasil analisis dari We Are Social, diketahui bahwa jumlah pengguna media sosial di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021 jumlah pengguna media sosial di Indonesia berada di total angka 170 juta pengguna, kemudian meningkat menjadi 191,4 juta pengguna pada tahun 2022. Data terbaru pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2023, tercatat ada di total angka 167 juta pengguna. Jumlah tersebut setara dengan 60.4% dari total populasi masyarakat Indonesia. Namun, angka tersebut baru permulaan dari jumlah total pengguna di sepanjang tahun 2023, sehingga terdapat kemungkinan yang cukup besar bahwa total pengguna media sosial di tahun 2023 akan lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Perkembangan penggunaan media sosial terjadi di berbagai kalangan usia. Dengan penyebaran informasi yang begitu pesat dan kemudahan dalam mengakses perangkat pendukung untuk mengakses media sosial, menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah pengguna media sosial di Indonesia dari berbagai rentang usia. Hal tersebut menyebabkan dampak media sosial tidak hanya terasa bagi Sebagian orang tertentu saja, namun hampir oleh semua kalangan, termasuk oleh siswa sekolah. Media sosial di kalangan siswa, menjadi salah satu dari bagian pergaulan mereka di sekolah. Media sosial merupakan sebuah media dalam jaringan (daring) yang memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam berpartisipasi, berbagi, menciptakan isi serta berjejaring untuk kemudian melakukan kegiatan interaksi sosial seperti berbagi informasi dan berkomunikasi dengan sesama pengguna (Cahyono, 2016). Siswa memanfaatkan media sosial untuk berjejaring dengan teman sebayanya dengan berbagi informasi dan berkomunikasi. Media sosial juga mudah diakses selama pengguna memiliki akses jaringan internet. Kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial ini sedikit banyak akan mempengaruhi tujuan penggunaannya. Hal tersebut juga didukung oleh karakteristik siswa sekolah usia remaja sebagai generasi digital dan pengguna media sosial berupa keinginan untuk mendapatkan informasi dalam waktu yang cepat dan bersumber online (Tunggadewi, 2022). Tujuan penggunaan media sosial oleh penggunanya menjadi lebih beragam, termasuk penggunaannya sebagai sumber informasi, salah satunya untuk digunakan dalam bertukar dan berbagi pengetahuan dalam pembelajaran. Media sosial menghadirkan berbagai macam konten yang sering digunakan oleh penggunanya sebagai referensi untuk mencari atau memberikan informasi (Marchamah & Jayadilaga, 2022). Tentunya, hal ini akan mempengaruhi kegiatan perilaku pencarian informasi, terlebih oleh para pengguna remaja yang memiliki kebutuhan informasi yang beragam. Termasuk untuk aktivitas akademis di sekolah maupun di rumah. Kemudahan penyebaran informasi ini kemudian dimanfaatkan oleh lembaga, organisasi, atau komunitas tertentu untuk menyebarkan informasi yang mereka miliki, termasuk informasi-informasi yang bersifat akademis. Para siswa yang menggunakan media sosial pada akhirnya banyak memperoleh informasi akademis melalui media sosial. Contoh, informasi yang berkaitan dengan pendaftaran sekolah, siswa bisa memantau akun resmi Kemdikbudristek dan dinas-dinas pendidikan yang ada di setiap daerah. Atau siswa juga dapat memantau informasi yang mereka butuhkan terkait pelaksanaan Ujian Masuk Universitas di universitas tujuan masing-masing. Dilihat dari pola tersebut, maka media sosial memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran informasi akademis sehingga menyebabkan siswa menjadi terus memantau informasi akademis terbaru yang mereka perlukan melalui media sosial. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang secara garis besar membahas mengenai pengaruh dari perkembangan teknologi informasi baik itu berupa penggunaan internet atau media sosial terhadap perilaku pencarian informasi. Urrohman (2018) dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Internet Terhadap Perilaku Siswa Dalam Mencari Informasi di SMP N 2 Lohbener” mengemukakan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan internet tidak memiliki pengaruh yang terlalu signifikan terhadap perilaku pencarian informasi siswa SMP N 2 Lohbener karena alasan seperti masih adanya kesenjangan digital yang kuat antara anak dan remaja yang tinggal di wilayah perkotaan dan pedesaan. Masih ada 87 persen anak dan remaja yang tidak memakai internet di lokasi pedesaan, tepatnya di Desa Kiajaran Wetan, Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Marchamah & Jayadilaga (2022) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Social Media Terhadap Perilaku Pencarian Informasi Kesehatan Pada Remaja” mengemukakan hasil penelitian bahwa penggunaan social media pada perilaku pencarian informasi kesehatan pada remaja memiliki hubungan yang signifikan dan pengaruh yang kuat, yang berarti bahwa sosial media memiliki berpengaruh terhadap perilaku pencarian informasi kesehatan pada remaja. SMAN 2 Cimahi merupakan salah satu sekolah yang aktif dalam menggunakan media sosial mereka untuk membagikan informasi akademis kepada para followers terutama siswanya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa SMAN 2 Cimahi memanfaatkan media sosial untuk melakukan penyebaran informasi. Akun Instagram @smanduacimahi dan @osissman2cimahi menjadi dua akun yang secara rutin menyampaikan informasi mengenai kegiatan yang sudah dan akan dilaksanakan di lingkungan SMAN 2 Cimahi. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung mendorong siswa untuk memiliki akun media sosial sebagai upaya untuk mengakses informasi yang disampaikan oleh akun-akun tersebut. Selain itu, Perpustakaan SMAN 2 Cimahi juga menyediakan fasilitas layanan internet yang dapat dimanfaatkan oleh siswa, sehingga siswa dapat melakukan penelusuran informasi secara daring, termasuk melalui media sosial. Informasi akademis menjadi salah satu jenis informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Fenomena perkembangan media sosial menjadi salah satu hal yang perlu dipikirkan peluang serta dampak yang ditimbulkannya khususnya untuk penyebaran informasi akademi di kalangan siswa. Perbedaan pada penelitian ini terletak pada penggunaan teknologi informasi berupa media sosial untuk pencarian informasi akademis. Siswa yang menjadi target responden berada di kelompok usia remaja yang sekaligus merupakan bagian dari generasi digital. Lebih detailnya, remaja yang merupakan siswa di SMA sebagai responden untuk mengetahui perilaku penggunaan media sosial untuk melakukan perilaku pencarian informasi akademis yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pencarian informasi akademis siswa di SMAN 2 Cimahi. Pada penelitian ini, peneliti juga mencoba memberikan gambaran faktor-faktor yang mendorong pencarian informasi dan juga memengaruhi kebutuhan informasi siswa, khususnya mengenai informasi akademis bagi siswa di SMAN 2 Cimahi. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan fenomena yang sudah dijelaskan pada latar belakang, siswa digambarkan memiliki perilaku dalam mencari informasi akademis yang dibutuhkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari gambaran perilaku informasi siswa di SMAN 2 Cimahi dengan merujuk pada model pencarian informasi yang dikemukakan oleh Wilson. Dengan dilakukannya penelitian ini dapat diidentifikasi secara lebih lanjut untuk mengetahui gambaran pengaruh media sosial terhadap perilaku pencarian informasi akademis siswa. C. KAJIAN PUSTAKA 1. Media Sosial Media sosial adalah bagian dari internet sebagai sebuah sarana komunikasi yang berkembang dengan sangat cepat dan pesat dalam berbagai klasifikasi dan tipe yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dunia (Rubiyati et al., 2018). Lebih lanjutnya, Rubiyanti et al., (2018) juga memaparkan bahwa kini manusia, terlebih remaja yang menjadikan media sosial sebagai salah satu faktor penting dalam kehidupannya dan menjadi kebutuhan masyarakat modern dewasa ini. Saat ini, selain untuk berkomunikasi dan berinteraksi, media sosial juga memberikan kemudahan penggunaan untuk tujuan yang lebih beragam. Salah satunya adalah media sosial yang memberikan kemudahan bagi para penggunanya untuk mengakses informasi dan hiburan melalui koneksi internet (Doni, 2017). Terdapat berbagai situs media sosial yang kini digandrungi oleh para penggunanya, terlebih oleh para remaja, di antaranya adalah Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai situs media sosial lainnya. Kehadiran media sosial memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan manusia (Ainiyah, 2018). Tak dapat dipungkiri bahwa pengaruh negatif dapat muncul dari kegiatan penelusuran informasi melalui media sosial. Namun, di saat yang bersamaan, pengguna dalam melakukan pencarian informasi juga memiliki kemungkinan untuk mendapatkan pengaruh positif dalam penggunaan media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Salah satu dampak positif yang dapat dirasakan adalah penyebaran informasi yang sangat cepat juga sangat efektif untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada khalayak (Rachman, 2019). 2. Kebutuhan Informasi Dapat diketahui bahwa menurut beberapa ahli, kebutuhan informasi merupakan sebuah keadaan di mana individu memiliki kebutuhan untuk pemenuhan rasa ingin tahu yang dimilikinya sebagai bentuk dari perasaan kekurangan akan pengetahuan yang dimiliki oleh individu tersebut, dan kegiatan pemenuhan rasa ingin tahu tersebut bertujuan untuk memberikan perasaan puas dan merasakan dampak berupa manfaat dari perolehan informasi (Erza, 2020). Kebutuhan akan informasi muncul pada diri seorang individu karena ia merasakan adanya ketimpangan antara pengetahuan atau informasi-informasi yang ia miliki dengan yang ia butuhkan (Fatmawati, 2015). Sehingga dapat dipahami bahwa kebutuhan informasi yang dimiliki oleh masing-masing individu akan berbeda satu dengan yang lainnya, termasuk juga kebutuhan informasi yang dimiliki oleh siswa di usia remaja. Siswa dan siswi memerlukan kebutuhan informasi sebagai penunjang dalam kegiatan belajar mengajar (Aprapti et al., 2017). Menurut Pawit M. Yusup, kemunculan kebutuhan dalam individu siswa dapat dipengaruhi oleh kondisi fisiologis, situasi dan kognisinya (Cahyani & Christiani, 2015). Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa kebutuhan informasi yang dimiliki oleh siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain itu, kebutuhan informasi juga diperlukan untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa sebagai upaya pemenuhan kebutuhan informasinya. Sehingga, dapat dipahami bahwa kebutuhan utama siswa akan informasi dapat mencakup hal-hal yang bersifat akademis. 3. Perilaku Pencarian Informasi Perilaku pencarian informasi dapat dipahami sebagai sebuah usaha yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu sesuai tujuan dan kebutuhan yang melatarbelakangi kegiatan pencarian tersebut (Rohmiyati, 2018b). Dapat dikatakan bahwa perilaku pencarian informasi juga merupakan tindakan seseorang atau kelompok sebagai upaya yang dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan informasinya (Erlianti, 2020). Wilson mengatakan bahwa seseorang dalam melakukan pencarian informasi dapat berinteraksi dengan sistem informasi manual atau dengan sistem yang berbasis komputer (Rohmiyati, 2018b). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat dipahami bahwa perilaku pencarian informasi adalah sebuah tindakan yang dilakukan karena adanya tujuan yang dimiliki oleh seorang individu, yaitu untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dimilikinya. Siswa usia remaja tentunya memiliki perilaku pencarian informasi tertentu untuk memenuhi berbagai kebutuhan informasi yang dimilikinya. Wilson mengemukakan sebuah bahwa perilaku informasi berkaitan dengan proses pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam kehidupan seseorang (Bidayasari, 2018). Kemudian Wilson juga memaparkan bahwa setelah kebutuhan berubah menjadi aktivitas pencarian informasi, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas tersebut, yaitu kondisi psikologis, demografis, peran seseorang di masyarakatnya, lingkungan, dan karakteristik sumber informasi (Widiyastuti, 2016). Lebih lanjutnya, Wilson juga memaparkan sebuah teori tipe pencarian informasi yang kemudian akan menjadi pembahasan utama dalam penelitian ini, di mana tipe tersebut terbagi menjadi empat yaitu perhatian pasif (passive attention) disaat individu tidak ada niat untuk mencari informasi secara disengaja, pencarian pasif (passive search) saat individu melakukan pencarian informasi yang dihasilkan dari perolehan informasi yang relevan terhadap dirinya, pencarian aktif (active search) pencarian informasi yang secara aktif dilakukan oleh individu, dan pencarian berlanjut (ongoing search) saat individu secara mendalam melakukan pencarian informasi lebih lanjut setelah pencarian aktif (Nurrahmi & Syam, 2020).
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan survei berupa kuesioner sebagai upaya untuk memperoleh data. Pendekatan kuantitatif merupakan proses penelitian mulai dari hipotesis sampai dengan hasil akhir yang berkaitan dengan data berupa angka numerik atau perhitungan. Tujuan utama dari pendekatan kuantitatif adalah untuk menjelaskan masalah dengan menghasilkan generalisasi (Rukminingsih et al., 2020). Metode ini menggunakan desain survei sendiri merupakan salah satu metode dalam desain non-eksperimental yang dalam penggunaannya adalah dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen untuk mengumpulkan data (Fauzi et al., 2022). Data-data berdasarkan hasil dari kuesioner yang berhasil dihimpun kemudian akan ditelaah dan diolah dengan analisis deskriptif dan persentase untuk diuraikan lebih jelas. Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan siswa dan siswi SMA Negeri 2 Kota Cimahi. Penelitian dilakukan dengan metode simple random sampling, terhadap siswa/siswi aktif SMA Negeri 2 Cimahi. Penelitian dilakukan dengan metode survey, dengan media berupa google form di mana responden kemudian akan dapat mengakses google form tersebut untuk kemudian mengisi jawaban terhadap beberapa pertanyaan yang diajukan.
Result & Discussion
Berikut merupakan pemaparan mengenai pengaruh media sosial terhadap perilaku pencarian informasi siswa SMAN 2 Cimahi mengenai faktor yang melatarbelakanginya, cara yang dilakukan oleh siswa dalam mengakses informasi akademis melalui media sosial beserta platform yang paling sering digunakan, serta frekuensi penggunaan media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasi akademis siswa. 1. Faktor Pendorong Pencarian Informasi Siswa di Media Sosial Tabel 1. Faktor Pendorong Pencarian Informasi Siswa SMAN 2 Cimahi di Media Sosial Pertanyaan Indikator Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Total Ratarata F % F % F % F % F % Konten Akademis yang Menarik 0 0 2 4,55 20 45,45 22 50 44 100 3,45 Mudah untuk diakses dan digunakan 0 0 3 6,82 14 31,82 27 61,36 44 100 3,55 Penyebaran informasi yang cepat dan efektif 0 0 3 7,5 16 36,36 25 56,82 44 100 3,50 Sumber: Hasil Olah Data Responden Berdasarkan data yang diperoleh melalui kegiatan survei kuesioner kepada para siswa dan siswi SMAN 2 Cimahi, diketahui bahwa mayoritas dari para responden setuju dan sangat setuju bahwa faktor-faktor tersebut mempengaruhinya dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana pencarian informasi akademis. Lebih lanjutnya, faktor-faktor yang menjadi pertanyaan indikator tersebut berkaitan dengan penggunaan media sosial sebagai sarana pencarian informasi karena ketersediaan konten akademis yang menarik, media sosial yang mudah untuk diakses dan digunakan sebagai sarana pencarian informasi, serta penyebaran informasi yang cepat dan efektif untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa para responden memanfaatkan media sosial sebagai sarana pencarian informasi akademis karena konten yang menarik, kemudahan akses, serta penyebaran informasi yang cepat dan efektif. Hal tersebut sejalan dengan pemaparan tentang internet yang memberikan kemudahan serta ketersediaan konten-konten yang menarik yang di dalamnya yang menjadi nilai plus dan daya tarik tersendiri dalam penggunaannya untuk pemenuhan kebutuhan informasi (Juhaidi & Syawqi 2016). Selain itu, faktor yang mendorong para siswa untuk menggunakan media sosial sebagai sarana pencarian informasi karena penyebaran informasi yang cepat dan efektif sejalan dengan salah satu dampak positif dari kehadiran media sosial, di mana media sosial memungkinkan penyebaran informasi yang sangat cepat juga sangat efektif untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada khalayak (Rachman, 2019). Sehingga dapat dipahami bahwa pendapat para responden mengenai faktor pendorong pencarian informasi siswa melalui media sosial dipengaruhi oleh konten-konten yang terkandung di dalamnya. Media sosial memberikan penggunanya kemudahan dalam mengakses berbagai macam konten yang berisikan informasi, hal ini menjadikan para siswa yang sudah familiar dengan media sosial, memanfaatkannya untuk melakukan pemenuhan kebutuhan informasi yang dimilikinya. Selain itu, penyajian konten yang menarik dengan berbagai informasi terkini menjadikan media sosial memiliki daya tariknya tersendiri untuk membantu para pengguna dalam memenuhi kebutuhan informasi para pengguna, tak terkecuali para siswa dan kebutuhan informasinya terlebih kebutuhan informasi yang bersifat akademis. Hal tersebut dikarenakan media sosial tidak jarang menampilkan informasi-informasi tertentu yang bersifat pengetahuan yang diposting oleh sesama pengguna dan mungkin diperlukan oleh para siswa. Di mana hal tersebut sejalan seperti yang disampaikan oleh Widada (2018) bahwa media sosial berkontribusi menciptakan era baru dalam peradaban ilmu pengetahuan di mana ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi monopoli para pemikir atau ilmuan di suatu institusi keilmuan tertentu, tapi juga dapat berasal dari seluruh pengguna media sosial yang terkoneksi dalam jejaring secara global yang saling memberikan dan menikmati informasi yang disampaikan satu sama lain. 2. Faktor yang mempengaruhi Kebutuhan Informasi menjadi Aktivitas Pencarian Informasi Menurut Wilson Wilson memaparkan bahwa perilaku pencarian informasi individu dipengaruhi oleh kebutuhan individu tersebut akan informasi. Beberapa aspek yang mempengaruhi terbentuknya kebutuhan informasi menjadi aktivitas pencarian informasi adalah kondisi psikologis individu, keadaan demografis, peran seseorang di dalam masyarakat, lingkingan dan karaktersitik sumber informasi (Nihayati & Laksmi, 2020). Dalam kuesioner, disisipkan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut faktor-faktor mana sajakah yang paling condong dan berpengaruh terhadap aktivitas pencarian informasi menurut Wilson yang dilakukan oleh siswa/siswi SMAN 2 Cimahi. Berikut, merupakan pemaparan lebih lanjut mengenai pandangan siswa/siswi terhadap faktor-faktor tersebut. Tabel 2. Aspek yang mempengaruhi Kebutuhan Informasi menjadi Aktivitas Pencarian Informasi Siswa SMAN 2 Cimahi Pertamyaan Indikator Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Total Ratarata F % F % F % F % F % Kondisi psikologis 0 0 6 13,64 21 47,73 17 38,64 44 100 3,25 Kondisi demografis 0 0 13 29,55 20 45,45 11 25 44 100 2,95 Kondisi peranan di dalam masyarakat 1 2,27 11 25 17 38,64 15 34,09 44 100 3,05 Kondisi lingkungan tempat tinggal 4 9,09 7 15,91 21 47,73 12 27,27 44 100 2,932 Karakteristik sumber informasi 2 4,55 4 9,09 20 45,45 18 40,91 44 100 3,227 Sumber: Hasil Olah Data Responden Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dilihat bahwa mayoritas responden menyetujui anggapan adanya faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi proses perubahan kebutuhan informasi menjadi aktivitas pencarian informasi. Faktor dengan jumlah responden yang beranggapan setuju dan sangat setuju tertinggi dengan jumlah total tiga puluh delapan responden adalah faktor kondisi psikologis dan faktor karakteristik sumber informasi. Kemudian disusul dengan faktor kondisi lingkungan tempat tinggal, kondisi peranan dalam masyarakat dan terakhir adalah faktor kondisi demografis. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Wilson bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku pencarian informasi, dan kebutuhan informasi tidak dapat berubah menjadi perilaku pencarian informasi apabila tidak dipicu oleh faktor-faktor tersebut (Akbar & Wasisto, 2022). Selain itu, faktor-faktor tersebut juga menjadi penyebab dari adanya perbedaan perilaku pencarian informasi dalam masing-masing diri individu, termasuk adanya perbedaan perilaku pencarian informasi dalam diri siswa untuk memenuhi kebutuhan informasi akademis yang dimilikinya. Kondisi psikologis berkaitan dengan kondisi pikiran dan emosi dalam diri individu, hal ini mencakup perasaan yang juga sedang dirasakan. Sedangkan karakteristik sumber informasi berkaitan dengan karakteristik media sebagai sumber informasi yang akan digunakan oleh individu dalam mencari juga menemukan informasi (Ahwan, 2022). Seorang individu dengan kondisi pikiran yang negatif seperti gelisah atau cemas akan memperlihatkan perilaku informasi yang berbeda dengan seorang individu dengan perasaan dan pemikiran senang atau gembira. Selain itu, kondisi psikologsi juga menjadi dasar dari terbentuknya kepribadian seseorang (Riyadiningsih, 2015). Faktor kondisi ini yang dinilai oleh para siswa paling mempengaruhi perilaku pencarian informasi akademisnya, sebagian besar responden menyadari adanya perbedaan perilaku pencarian informasi yang dipengaruhi oleh kondisi pikiran dan emosi yang sedang dirasakannya. Di mana hal tersebut sejalan, bahwa faktor kepribadian memiliki pengaruh dalam perilaku penggunaan media sosial oleh penggunanya, tak terkecuali dalam perilaku penciptaan informasi dan penyebaran informasi di media sosial (Yang et al., 2023) . Para responden juga menyadari bahwa karakteristik media sebagai sumber informasi memberikan pengaruh dalam menghadirkan perbedaan perilaku pencarian informasinya. Media sumber informasi yang paling sering digunakan oleh para siswa SMAN 2 Cimahi yang menjadi responden adalah media sosial YouTube, diikuti dengan Twitter lalu Instagram. Hal ini dapat terjadi karena karakteristik media sosial yang sesuai dengan kebutuhan informasi para siswa dalam melakukan pencarian informasi. Sejalan dengan hal tersebut, Guha berpendapat bahwa jenis kebutuhan terhadap informasi mencakup pendekatan kebutuhan yang mutakhir, sesuai dengan kebutuhan dalam kegiatan sehari-hari, pendekatan kebutuhan informasi mendalam serta kebutuhan yang ringkas dan lengkap (Fatmawati, 2015). Pendapat Guha dan respon yang berhasil dihimpun dari siswa sebagai responden memiliki kesesuaian dalam penggunaan media sosial sebagai sumber informasi, di mana beberapa responden menyampaikan bahwa media sosial memberikan kemudahan akses terhadap kebutuhan informasi terbaru yang relevan dengan aktivitas hariannya yang membutuhkan informasi-informasi tertentu yang secara lebih cepat, ringkas, dan melengkapi informasi-informasi yang belum didapatkan sebelumnya. 3. Perilaku Pencarian Informasi Siswa SMAN 2 Cimahi didasarkan pada Teori Wilson Perilaku pencarian informasi yang diusulkan oleh Wilson terdiri dari 4 perilaku, yang masingmasing dari perilaku-perilaku tersebut memiliki prosedur atau tujuannya tersendiri. Keempat perilaku pencarian informasi tersebut terdiri atas perhatian pasif, pencarian pasif, pencarian aktif, dan pencarian berlanjut. Masing-masing dari perilaku pencarian tersebut memiliki peristiwa atau tahapan perolehan informasi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Berikut ini merupakan paparan data yang berhasil diperoleh mengenai masing-masing frekuensi dari tahapan perilaku pencarian informasi yang dilakukan oleh siswa-siswi SMAN 2 Cimahi. a. Perhatian Pasif Perhatian pasif atau passive attention merupakan sebuah tahapan perilaku pencarian informasi secara tidak disengaja serta dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Kegiatan perilaku pencarian informasi berupa perhatian pasif terjadi saat masing-masing individu tidak bermaksud untuk melakukan kegiatan pencarian informasi namun tetap terjadi perolehan informasi dalam diri individu itu sendiri (Meilinda et al., 2017). Siswa-siswi SMAN 2 Cimahi tentunya memiliki kebutuhan informasinya tersendiri dan tidak jarang sebagian besar dari mereka mendapatkan informasi-informasi secara tidak disengaja. Hal ini diketahui berdasarkan hasil dari survei kuisioner dengan hasil data sebagai berikut. Tabel 3. Tabel Tipe Perilaku Perhatian Pasif Siswa SMAN 2 Cimahi Pertanyaan Indikator STS Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Total Ratarata F % F % F % F % F % media sosial seringkali menampilkan informasi yang bersifat akademis 0 0 7 15,91 23 52,27 14 31,82 44 100 3,16 anda sering menemukan berbagai informasi yang bersifat akademis di media sosial secara tidak disengaja 0 0 8 18,18 14 31,82 22 50 44 100 3,32 Sumber: Hasil Olah Data Responden Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa siswa-siswi SMAN 2 Cimahi seringkali menemui informasi yang bersifat akademis di dalam laman media sosialnya. Berbagai informasi yang bersifat akademis tersebut sering ditemui oleh para siswa dan siswi secara tidak disengaja. Hal ini menggambarkan bahwa media sosial tidak hanya menampilkan halhal yang bersifat hiburan saja, tetapi juga terdapat berbagai informasi terlebih informasi yang bersifat yang dapat ditemui oleh penggunanya pada saat mengakses media sosial. Karena, pada dasarnya media sosial sudah menjadi salah satu media daring yang fungsinya dalam memfasilitasi interaksi penggunanya menjadi semakin besar karena kemudahan penggunaannya dalam menyebarkan informasi (Rohmiyati, 2018a). Kemunculan informasi akademis dalam laman media sosial secara tidak disengaja oleh para siswa-siswi SMAN 2 Cimahi termasuk salah satu kegiatan perilaku pencarian informasi berupa perhatian pasif seperti yang dikemukakan oleh Wilson. Di mana kemunculan informasi akademis secara tidak disengaja yang ditemui oleh para siswa dan siswi saat berselancar di media sosial tetap dapat menjadi kegiatan perolehan informasi. b. Pencarian Pasif Tipe pencarian informasi berikutnya yang dikemukakan oleh Wilson adalah pencarian pasif atau passive search merupakan perolehan informasi secara kebetulan yang sesuai dengan kebutuhannya tanpa individu tersebut mencari secara langsung informasi yang berkaitan dengan kebutuhan informasi yang dimilikinya (Akbar & Wasisto, 2022). Berikut ini merupakan data yang menampilkan respon dari para siswa-siswi SMAN 2 Cimahi berkaitan dengan pencarian pasif terhadap informasi-informasi yang bersifat akademis melalui media sosial. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, diketahui bahwa media sosial seringkali menjadi media informasi yang mampu mempertemukan informasi yang bersifat akademis yang sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki oleh siswa-siswi SMAN 2 Cimahi. Para siswa dan siswi sering menemukan informasi akademis yang sesuai dengan kebutuhannya secara tidak disengaja pada saat melakukan pencarian informasi lain. Dalam kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Bidayasari (2018) juga dipaparkan bahwa informasi juga dapat ditemukan secara tidak sengaja pada saat proses pencarian, yang di mana informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang dimilikinya yang termasuk ke dalam kegiatan pencarian pasif. Hal ini menunjukkan bahwa siswa siswi SMAN 2 Cimahi juga mengalami tipe pencarian informasi berupa perhatian pasif terhadap informasi, khususnya informasi akademis yang sesuai dengan kebutuhan secara kebetulan saat menggunakan media sosial. Tabel 4. Tabel Tipe Perilaku Pencarian Pasif Siswa SMAN 2 Cimahi Pertanyaan Indikator STS Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Total Rata -rata F % F % F % F % F % anda seringkali menemukan informasi akademis yang sesuai dengan kebutuhan anda di dalam media sosial 1 2,27 5 11,36 24 54,55 14 31,82 44 100 3,16 anda seringkali menemukan informasi akademis yang sesuai dengan kebutuhan akademis anda pada saat melakukan pencarian informasi lain di dalam media sosial secara tidak sengaja 0 0 12 27,27 18 40,91 14 31,82 44 100 3,05 Sumber: Hasil Olah Data Responden c. Pencarian Aktif Pencarian aktif merupakan tipe pencarian informasi di mana seorang individu secara aktif melakukan kegiatan pencarian informasi (Nihayati & Laksmi, 2020). Berikut ini merupakan data yang berhasil disimpun berdasarkan respon para siswa-siswi SMAN 2 Cimahi yang berkaitan dengan perilaku pencarian aktif sebagai salah satu tipe pencarian informasi menurut Wilson. Berdasarkan data di bawah ini, dapat diketahui bahwa mayoritas siswasiswi SMAN 2 Cimahi sudah melakukan kegiatan pencarian aktif terhadap informasi akademis. Kegiatan pembelajaran di sekolah juga menjadi salah satu alasan yang menjadikan para siswa dan siswi melakukan tipe pencarian informasi secara aktif melalui media sosial. Siswa-siswi SMAN 2 Cimahi seringkali secara sengaja melakukan pencarian informasi yang bersifat akademis melalui media sosial. Sebagian besar responden yang merupakan siswa dan siswi di SMAN 2 Cimahi juga sering menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam melakukan pencarian informasi akademis. Hal ini memiliki kesamaan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marsal & Hidayati (2018) bahwa media sosial mendukung pekerjaan pegawai dalam memberikan informasi terkait bidang akademis maupun umum. Sehingga dapat dipahami bahwa media sosial dapat menjadi media penyebaran informasi yang bersifat akademis bagi para penggunanya, termasuk pemanfaatannya oleh siswa dan siswi di SMAN 2 Cimahi untuk melakukan pencarian informasi secara aktif sebagai upaya pemenuhan kebutuhan informasi yang dimilikinya. Tabel 5. Tabel Tipe Perilaku Pencarian Aktif Siswa SMAN 2 Cimahi Pertanyaan Indikator STS Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Total Ratarata F % F % F % F % F % kegiatan pembelajaran di sekolah seringkali membuat anda melakukan pencarian informasi melalui media sosial 0 0 0 0 14 31,82 30 68,18 44 100 3,27 Anda sering secara sengaja mencari informasi yang bersifat akademis melalui media sosial 0 0 3 6,82 12 27,27 29 65,91 44 100 3,59 Anda seringkali dengan aktif menggunakan media sosial sebagai salah satu sumber utama dalam melakukan pencarian informasi akademis 2 4,55 6 13,64 14 31,82 22 50 44 100 3,68 Sumber: Hasil Olah Data Responden d. Pencarian Berlanjut Pencarian berlanjut menjadi salah satu tipe pencarian informasi menurut Wilson yang dilakukan oleh individu saat merasa bahwa kebutuhan informasinya belum terpenuhi. Lebih lanjutnya, pencarian berlanjut merupakan pencarian informasi secara lebih lanjut dan terus menerus pada saat seorang individu merasa kebutuhannya belum terpenuhi, pencarian aktif menjadi kerangka dasar, gagasan, keyakinan, nilai dan lain sebagainya dalam mendapatkan informasi, memperbarui atau memperluas kerangka kerja seorang individu (Bidayasari, 2018). Berikut ini merupakan data yang berhasil dihimpun mengenai pencarian berlanjut yang merupakan bagian dari tipe pencarian informasi menurut Wilson. Siswa-siswi SMAN 2 Cimahi yang menjadi bagian dari responden mayoritas sudah melakukan pencarian berlanjut terhadap informasi akademis melalui media sosial. Mereka sering mencari informasi yang bersifat akademis pada satu akun yang spesifik dan bahkan mereka melakukan pencarian secara lebih lanjut pada akun-akun lain dalam sebuah platform. Namun, sebagian dari para siswa yang menjadi responden sering merasa bahwa kebutuhan informasi akademis tidak selalu terpenuhi hanya dengan melakukan kegiatan penelusuran informasi secara singkat melalui media sosial. Kekurangan tersebut diatasi dengan pencarian berlanjut yang dilakukan oleh para siswa dengan melakukan pencarian informasi secara lebih lanjut melalui berbagai platform media sosial sebagai media untuk mencari sumber informasi akademis lain untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dimilikinya. Kegiatan pencarian berlanjut juga tergambar dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Monica & Rosari (2020) bahwa sebagian besar seseorang juga memanfaatkan lebih dari satu jenis media sosial untuk memenuhi kebutuhannya dalam pencarian informasi, hiburan dan menambah ilmu yang dimilikinya. Tabel 6. Tabel Tipe Perilaku Pencarian Berlanjut Siswa SMAN 2 Cimahi Pertanyaan Indikator STS Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Total Ratarata F % F % F % F % F % anda seringkali mencari informasi akademis pada lebih dari satu akun di media sosial 2 4,55 8 18,18 11 25 23 52,27 44 100 3,25 anda seringkali secara sengaja menelusuri satu akun yang kerap membagikan informasi akademis 1 2,27 5 11,36 17 38,64 21 47,73 44 100 3,32 anda seringkali merasa kebutuhan informasi akademis anda terpenuhi hanya dengan melakukan kegiatan penelusuran informasi secara singkat melalui media sosia 3 6,82 19 43,18 9 20,45 13 29,55 44 100 2,73 anda seringkali melakukan pencarian informasi lebih lanjut pada lebih dari satu platform media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasi akademis anda 1 2,27 2 4,55 13 29,55 28 63,64 44 100 3,545 Sumber: Hasil Olah Data Responden
Conclusion
Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa siswa dan siswi di SMAN 2 Cimahi sering melakukan pencarian informasi yang berkaitan dengan konteks akademis untuk memenuhi kebutuhannya melalui media sosial sebagai sumber informasi. Dalam praktiknya, terdapat beberapa faktor yang mendorong perilaku pencarian informasi oleh para siswa dan siswi di SMAN 2 Cimahi melalui media sosial, di antaranya adalah konten yang menarik, akses informasi yang mudah dan media yang efektif serta efisien. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya kebutuhan informasi menjadi aktivitas pencarian informasi. Faktor yang paling mempengaruhi menurut para siswa dan siswi SMAN 2 Cimahi dalam terbentuknya kebutuhan informasi menjadi pencarian informasinya adalah faktor psikologis dan faktor karakteristik sumber informasi. Lebih lanjutnya, siswa-siswi SMAN 2 Cimahi secara keseluruhan sudah melakukan keempat perilaku pencarian informasi yang mencakup perhatian pasif, pencarian pasif, pencarian aktif, dan pencarian berlanjut dalam upaya memenuhi kebutuhan informasi akademis yang dimilikinya melalui penggunaan media sosial sebagai sumber informasi. penulis memberikan rekomendasi kepada para siswa dan siswi untuk dapat melakukan kegiatan pencarian secara aktif dan berlanjut. Melalui pencarian aktif, siswa dan siswi dapat secara langsung mencari dan mendapatkan konten informasi edukatif yang sesuai dengan kebutuhannya, terlebih informasi yang menunjang kegiatan pembelajaran. Selain itu, melalui pencarian berlanjut, siswa dan siswi juga dapat mempertimbangkan informasi akademis mana yang sekiranya lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan pencarian terhadap beberapa akun edukatif atau bahkan beberapa platform media sosial.