Bentuk Solidaritas Sosial dalam Kepemimpinan Transaksional
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Bentuk solidaritas sosial di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dapat tergambarkan pada bentuk kepemimpinan transaksional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk solidaritas sosial yang dimiliki oleh perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melalui kepemimpinan transaksional. Metode dalam penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, Adapun uji keabsahan data melalui teknik triangulasi sedangkan untuk menganalisis data melalui reduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Bentuk- bentuk dari solidaritas sosial yang tercerminkan di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dapat dilihat dari beberapa faktor yang memperlihatkan bentuk solidaritas sosial dalam kepemimpinan transaksional tersebut antara lain: a). Kerjasama yang terbentuk dari kerukunan, Kooptasi, Bargaining, Koalisi dan Join venture. b) Gotong Royong dengan rincian adanya kesetiakawanan dan kebersamaan.
Abstract
The form of social solidarity in Yogyakarta Muhammadiyah University Library can be illustrated in the form of transactional leadership. Purpose of this study was to determine how the forms of social solidarity possessed by the Muhammadiyah University Yogyakarta library through transactional leadership. This research method used descriptive qualitative approach, the data validity is tested through triangulation techniques while the data analysis used in research is through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that the forms of social solidarity reflected in the Yogyakarta Muhammadiyah University library can be seen from several factors that show the form of social solidarity in transactional leadership, among others: a). Collaboration is formed from harmony, Co-optation, Bargaining, Coalition and Join venture. b) Mutual cooperation with details of solidarity and togetherness
Keywords:
solidaritas sosial
· kepemimpinan transaksional
· perpustakaan
Introduction
Pemimpin merupakan seseorang yangmemimpin individu atau kelompok dengan cara memberikan petunjuk, pengarahan, motivasi dan perintah. Keberhasilan suatu organisasi salah satunya ditentukan oleh SDM dalam organisasi berdasarkan etika kepemimpinan yang terlihat.(Peter G. Northhouse, 2013, hlm. 403) Namun di samping itu faktor yang sangat berperan penting dalam keberhasilan sebuah organisasi ialah faktor kepemimpinan yang lebih dominan. Peran utama seorang pemimpin adalah mempengaruhi orang lain bagaimana caranya untuk mencapai visi dan misi yang telah direncanakan.(Ambar Teguh Sulistiyani, 2008, hlm. 10)Perpustakaan atau organisasi apapun itutidak akan pernah berubah dan berjalan kearah yang dicita-citakan, apabila pemimpinnyasendiri dalam konteks apapun tidak berubah dan tidak tumbuh untuk memperbaiki kondisi yang ada sesuai dengan konteks keberhasilan sebagaimana yang telah direncanakan. Fenomena kepemimpinan telah memberikan kontribusidalam kepemimpinan yang mempengaruhiiklim organisasi. (Muhammad Irsyad Alfatih & Luki Wijayanti, 2017, hlm. 50–62) bentuk kepemimpinan sangat berpengaruh besar alurnya organisasi dan kouniaka baik dari organisasi tersebut untuk mencapai keberhasilannya.Membangun sebuah komitmen untukmencapai tujuan tercapainya visi dan misi sebuah organisasi untuk menjembatani sebuah perubahan tantangan menjadi sebuah peluang dengan hal ini memerlukan kebijakan pimpinan yang aktif dan dinamis serta adaftif terhadap sebuah perubahan, maka seorang pemimpindituntut harus mampu beradabtasi sesuaidengan perkembangan revolusi industri dalam menghadapi dinamika perubahan yang terjadi.(Nurul Rahmi, 2017, hlm. 133–146)Perpustakaan yang berada lingkungancivitas akademika dengan tujuan melayaniseluruh kolega akademika khususnya untukpelaksanaan pembelajaran, penelitian danpengembangan literature informasi, dengan hal ini diartkan sebagai civitas akademika adalah perpustakaan perguruan tinggi. Dengan hal ini pemimpin memeberikan kontribusibaru dan inovasi baru hingga mengahasilkan peluang tanpa ancaman dalam proses kegiatan keorganisasian. Dalam struktur keorganisasian diperlukan seorang pemimpin agar lebih baik dan bisa mengarahkan pengikutnya untuk ikut serta dalam berpartisipasi agar bersama-sama untuk mencapai tujuan, seorang pemimpin yang bijak akan terlihat meumbuhkan rasa semangat untuk bekerja yang ditimbulkan oleh kinerja positif yang timbul dari seorang pemimpin.Tinjauan lain dimensi kepemiminandapat kita lihat dalam diskursus melaluikecerdasasan intelektual dan kecerdasanemosional dalam pernanan seorang pemimpin untuk mengefektifkan organisasi yang perlu dipersoalkan, hal ini perlu dilihat sejauh mana seorang pemimpin mampu mempertentangkandua kecerdasan tersebut dan mengintegrasikannya agar kecerdasasan emosional yang dominanberpengaruh dapat mendukung kecerdasanintelektual dan perilaku kepemimpinannya.(Hadari Nawawi, 2016, hlm. 230)Perilaku kepemimpinan akan tercerminkanpada hasil yang akan pengaruhi pengikut atau kelompoknya sehingga semakin besar tingkat pengaruh positif pemimpin berdampak padaloyalitas komitmen dan kerjasama yang kuat dirasakan pengikut.(Wibowo, 2016, hlm. 36) Dengan kerjasama yang ditimbulkan olehpemimpin akan berkemungkinan dipandangsebagai orang yang bisa dipercaya secarapribadi dibandingkan dengan pemimpin yang membandingkan dengan pemimpin yangmenganjurkan persaingan antara sesama anggota organisasi.(James M. Kouzes & Barry Z. Posner, 1995, hlm. 216)Hubungan kerjasama antara pemimpin danpengikut mencerminkan pada bentuk solidaritas sosial yang dominan antara kedua belah pihak yang akan menimbulkan beberapa pandanganmengenai bentuk solidaritas itu sendiri mulai dari solidaritas mekanik sampai pada solidaritas organis yang akan menciptakan pembagian kerja.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 106) Hal ini akan memunculkan hubungan kerjasama yang kuatantara pemimpin dengan yang dipimpin melalui karakteristik seperti contributor, kolabolator, komunikator dan penantang.(Kaswan, 2013, hlm. 63) Problematisasi ini merupakan sebuahtindakan jangka panjang yang akan dilakukan oleh seorang pemimpin melalui upaya menciptakan solidaritas kerja yang kuat, dimana value tingkat solidaritas yang masih lemah tercerminkan pada setiap orang,(Friska Ayu Tri Anggini dkk., t.t., hlm. 2) dengan hal ini mendapatkan gambaran bahwa gaya kepemimpinan lebih dipengaruhi oleh variabel kepemimpinan transaksional dimana seorang pemimpin diangap hal yang palingmempengaruhi dan efektif untuk memotivasi pengikutnya, yang tercerminkan pada watak dan tipe pemimpin yang lebih dominan berorientasi pada tugas, berorientasi pada hubungan dan berorientasi pada hasil.(Kartini Kartono, 2010, hlm. 34), dimana problematika solidaritas kepemimpinan yang terlihat di perpustakaan universitas muhammadiyah yogyakarta dalam menciptakan dunia kerja yang kundusif dan produktif masih belum terlihat realisasinya yang sesuai dengan konteks kajian solidaritas dalam kepemimpinan transaksional.Berangkat dari pemahaman mengenaikepemimpinan hendaknya kepemimpinanmempunyai solidaritas terhadap pengikutnya, yang mana secara umum solidaritas sosialmempunyai suatu kesatuan mepertimbangkankepentingan bersama, teori solidaritas sosial dikemukan oleh Emile Durkheim yang membagi tataran solidaritas dalam bentuk solidaritas mekani dan solidaritas organik, denganmeningkanya solidaritas tertentu berkaitan dengan pembagian kerja dan mengontrolpekerjaan serta menimbulkan kesadaranindividual secara kolektif.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 107)Solidaritas sosial tercerminkan padafenomena roda kepemimpinan transaksionalmelalui perubahan yang terjadi dalamperkembangan zaman serta penyesuaiantindakan yang dilakukan seorang pemimpindi perpustakaan. Seperti hal nya perpustakaan Uiversitas Muhammadiyah Yogyakartayang menjadikan rasa ketertarikan penulis untuk memilih perpustakaan UniversitasMuhammadiyah Yogyakarta untuk diteliti dan menjadikan perpustakaan ini memiliki ciri khas yang mendasarkan berasaskan pada kekentalan dan homogenitas kemuhammadiyaan yang kuat sehingga menciptakan solidaritas mekanik ke organik serta nilai apa yang terkandung dalam hal ini yang dikaitkan dengan kepemimpinan transaksional dan bentuk-bentuk solidaritas yang menjadi problematisasi dalam pembahasan ini, oleh karena itu melalui analisis mendalam mengenai fenomena sosial kepemimpinantransaksional di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, hal ini membuatpeneliti tertarik untuk melakukan penelitian.Solidaritas SosialPemaknaan solidaritas secara bahasadiartikan sebagai sebuah kebersamaan,kekompakan, kesetiakawanan, simpati, empati, serta tenggang rasa. Solidaritas sosial tema utama yang menjadi pokok pembahasan oleh EmileDurkheim (1858-1917) bahwa manusia bukanlah sekedar jumlah totalitas individu-individu kerena manusia merupakan suatu realitas spesifik yang memiliki karakteristiknya sendiri dengan cara bertindak, berfikir dan merasakan serta mengungkapkan dirinya dengan cara eksis diluar kesadaran individu (Peter Beilharz, 2005, hlm.105) yang terdiri dari dua konsep yaitu konsep kesadaran kolektif (conscience collective) dan gambaran kolektif (representations collective).(Hasbullah, 2012, hlm. 234)Fenomena perkembangan masyarakatmempunyai fase-fase yang mendukung dari awal yang biasa dikenal dengan istilah masyarakat primitif dan juga mempunyai fase pada jenis masyarakat modern atau sudah maju. dengan adanya kaijian solidaritas sosial aka nada pengisitilaan yaitu solidaritas sosial mekani dan solidarism sosial organik. Sementara kriteria untuk masyarakat yang maju dengan namaSolidaritas Organik.(P.J. Bouman, 1982, hlm. 41) Pembagian kerja memiliki implikasi yangsangat besar terhadap tatanan masyarakat.Durkheim sangat tertarik dengan perubahan solidaritas sosial terbentuk, dengan kata lain perubahan cara- cara masyarakat bertahan dan bagaimana anggotanya melihat diri merekasebagai bagian yang utuh. Untuk menyimpulkan perbedaan ini, Durkheim membagi solidaritas menjadi solidaritas mekanik, dan organik.Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanik menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Masyarakat ini terjadi karena mereka terlibat aktifitas dan juga tipe pekerjaan yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organik bertahan bersama justru karena adanya perbedaan yang ada didalamnya, dengan fakta bahwa semuaorang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda – beda. (Ritzer, 2014).Solidaritas MekanikSolidaritas mekanik lebih dominan pada suatu kesadaran bersama yang menunjukan pada totalitas kepercayaannya dan sentimen bersama yang secara bersama-sama semua kalangan organisasi memiliki ciri dari solidaritas mekanik ini merupakan suatu solidaritas yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama juga, oleh karena itu individualis tidak berkembang, individualis selalu dilumpuhkan oleh tekanan yang besar untuk bertindak.(Soerjono Soekanto, 1982, hlm. 235).Durkheim memanfaatkan solidaritas mekanis untuk menganalisa masyarakat secara keseluruhan, solidaritas ini lebih menekan pada unsur kesadaran kolektif, yang akan menyadarkan pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama di atas ratarata yang dimiliki oleh semua individu yang sama.Solidaritas mekanik ini lebih mengarah pada ketergantungan pada individu yang memiliki sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola norma yang sama juga, maka dengan ini sifat individualitas tidak akan berkembang maka individu akan dilumpuhkan pada tekanan yang kuat. Kesadaran persoalan hal yang tidak akan berkembang ini lah yang akan menjadi akar memudarnya diintegrasi nilai pada solidaritas mekanis karena kesadaran kolektif sebenarnya tidak stagnan atau tetap melainkan bergerak tidak beratur dalam setiap tindakan.(Brian Syah Putra, t.t.) Solidaritas mekanik juga merupakan suatu tipe yang penuh dengan persamaan, pada tipe solidaritas ini inividu diikat dalam suatu bentuk solidaritas yang kolektif yang sama dan kuat, dengan hal ini individu tidak berkembang kerena dilumpuhkan oleh tekanan besar untuk menerima konformitas. Ciri khas dari pada masyarakat solidaritas mekanik adalah adanya solidaritas yang diasarkan pada homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen, dan lainnya.Durkheim menyatakan bahwa solidaritasmekanik didasarkan pada kesadaran kolektif bersama (collective conciousness/conscience), yang menunjuk pada “totalitas kepercayaan – kepercayaan dan sentimen – sentimen bersama yang rata – rata ada pada warga masyarakat yang sama. Itu merupakan suatu solidaritas yang tergantung pada individu – individu yang memiliki sifat – sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama juga. Karena itulah individualitas tidak berkembang, individualitas terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konformitas.(George Ritzer, 2014, hlm. 183).Solidaritas OrganikSolidaritas organik lebih cenderung padakesedaran bersama akan pembagian kerja, kesadaran ini muncul didasarkan pada hukum dan akal dalam kontek solidaritas organis yang lebih dominan adalah kesadaran akan ketergantungan serta pembagian kerja yang tinggi karena mempunyai skill dan heterogenitas menyerata antar individual sehingga kepentingan akan tujuan yang direncanakan akan lebih di utamakan.(Nurul Kurnia dkk., 2014) Spesifikasi menurut Emile Durkheimbahwa solidaritas organis lebih menuju tatanan yang berdasarkan ketergantungan mutual antar individu yang relatif otonom dengan spesifikasi pembagian kerja dan justru tergantung pada perbedaan individual yang merupakan perubahan perkembangan pembagian kerja yang spesifik.Spesfikasi ini merupakan syarat bagi berkembangnya perbedaan personal serta menciptakan wilayah aksi yang tidak tunduk pada kontrol kolektif, akan tetapi pada saat yang sama akan meningkat ketergantungan antar individu karena adanya spesialisasi bidang kerja.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 107).Meski memiliki nilai dasar sama ialahsolidaritas sosial, tetapi solidaritas organik berbeda dengan solidaritas mekanik. Secara sekilas solidaritas organik lebih pada kompleksifitas anggota masyarakat, sedangkan menurut prosesnya apa yang terjadi dalam solidaritas organik merupakan lompatan dari solidaritas mekanik. karena untuk menggabungkan antara solidaritas mekanik dan organik maka solidaritas organik memiliki kompoenen masyarakat yang maju, modern, dan majemuk. Untuk melihat seperti apakah potret masyarakat dengan solidaritas organik, definisi Johnson bisa menjadi sebuah tawaran:Solidaritas organik muncul dikarenakan pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dan pembagian pekerjaan yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan dikalangan individu.(Paul Johnson Doyle, 1994).Munculnya masyarakat dengan karaktersolidaritas organik bukan serta merta ada keruntuhan dalam diri masyarakat sendiri, atau ada indikasi masyarakat itu mengalami kemunduran. Meski memiliki indikator – indikator contohnya; ada ketergantungan antar individu, ragamnya kepercayaan dan keyakinan, ragam pekerjaan yang hidup di dalam masyarakat, munculnya berbagai ragam perbedaan, adanya gaya hidup yang bermacam – macam, tidak menandai bahwa masyarakat tersebut mengalami kemunduran.Durkheim memberikan catatan bahwa kuatnya solidaritas yang mereka bangun juga dilandasi dengan pola hukum restitutif adalah bentuk kesepakatan masyarakat yang majemuk dengan tujuan untuk memulihkan keadaan, dalam penerapan hukum restitutif tidak mengandung ungkapan secara masif seperi halnya yang terjadi di kelompok masyarakat mekanik (Ritzer, 2014). Struktur masyarakat demikian sudah terbangun dari kelompok terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga. Dimana pada masyarakat solidaritas mekanik kelompok kecil dari mereka memiliki homogenitas dengan keluarga lainnya. Satu kelompok dengan mata pencaharian yang sama semisal petani, nelayan, berkebun, dan mata pencaharian yang relatif sama. Sementara dalam komponen masyarakat yang memiliki solidaritas organik, kelompok kecil masyarakat berupa keluarga mereka lebih didominasi profesi yang ragam sesuai dengan perkembangan sosial yang mengiringinya.(Soyomukti, 2016).Durkheim memaparkan bahwa setiap profesipada masyarakat dengan soldaritas sosial organik tidak bisa dipenuhi dengan dasar kolektif. Adanya saling membutuhkan yang berasas pada aspek fungsional ini mengantarkan masyarakat pada keberadan otonom masing individu.(Doyle, 1994). Proses demikian membentuk masyarakat yang memiliki heterogensi tinggi, dengan kondisi masyarakat yang plural dan majemuk. Masyarakat lebih menjunjung tinggi apa itu bakat pribadi, masyarakat juga memahami apa itu hak dan kewajiban masing – masing individu, profesi masing – masing individu juga berbeda – beda menyesuaikan kebutuhan masyarakat luas.Bentuk-bentuk Solidaritas SosialKerjasamaBentuk lain dari solidaritas sosial adalah kerjasama. Kerajasama merupakan tahap terkahir dalam penggabungan. Kerjasama ialah penggabungan antara individu dengan individu yang lainnya, atau kelompok dengan kelompok lainnya guna mewujudkan hasil secara bersama-sama. Dan dari kerjasama tersebut maka akan memberikan manfaat kepada anggota kelompok dan tujuan yang ingin dicapai bisa dirasakan bersama. Adanya kerjasama adalah adanya tujuan yang sama antara individu terhadap kelompoknya.Kerjasama antara pemimpin denganpengikutnya sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan bersama yang ingin dicapai di perpustakaan.Adapun bentuk-bentuk kerjasama pemimpin dan pengikutnya yang ada di perpustakaan meliputi a. Kerukunan merupakan kegiatan yang timbul antar dua orang individu atau antar kelompok.b. Bargaining merupakan sebuah perjanjian pertukaran sebuah barang dan/atau jasa antara dua organisasi yang bisa dilihat dari interaksi pemimpin dan pengikutnya.c. Kooptasi merupakan alur pertukuran dan penerimaan hal-hal baru dalam sebuahorganisasid. Koalisi merupakan sebuah bentuk kelompok informal yang bersinergi bersama untukmenghadapi berbagai permasalahan dansaling membantu memberikan masukan secara bersama- sama.e. Join venture kerjasama yang dibentuk oleh proyek yang telah terencana.Gotong RoyongSolidaritas sosial dalam bentuk gotong royong ini timbul dari dalam diri manusia secara alamiah tanpa adanya paksaan dari pihak kedua. Hal ini sesuai fitrah manusia ialah sebagai makhluk siosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Gotong royong sendiri dapat memberikan manfaat diantaranya pekerjaan menjadi mudah dan ringan,memperkuat dan mempererat hubungan antarindividu dalam komunitas, serta menyatukan individu yang dalam komunitas.(Sudrajat, 2014) Gotong royong adalah bentuk solidaritas sosial yang terbentuk karena adanya bantuan dari pihak lain, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok sehingga di dalamnya ada sikap loyal dari anggota sebagai sebuah kesatuan.Solidarita OrganikSolidaritas organik lebih cenderung padakesedaran bersama akan pembagian kerja, kesadaran ini muncul didasarkan pada hukum dalam kontek solidaritas organis yang lebih dominan adalah kesadaran akan ketergantungan serta pembagian kerja yang tinggi karena mempunyai skill dan heterogenitas menyerata antar individual sehingga kepentingan akan tujuan yang direncanakan akan lebih di utamakan.(Nurul Kurnia dkk., 2014, hlm. 11) Spesifikasi menurut Durkheim bahwasolidaritas organis lebih menuju tatanan yang berdasarkan ketergantungan antar individu yang relatif otonom dengan spesifikasi pembagian kerja yang justru tergantung pada perbedaan individual yang merupakan perubahan perkembangan pembagian kerja yang spesifik. Spesfikasi ini merupakan syarat bagi berkembangnya perbedaan individu serta menciptakan wilayah aksi yang tidak mengikuti pada kontrol kolektif, akan tetapi pada saat yang sama akan meningkat ketergantungan antar individu karena adanya spesialisasi bidang kerja.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 107)Durkheim menyatakan bahwa kuatnyasolidaritas yang mereka bangun juga dilandasi pada pola hukum restitutif (pemulihan) adalah bentuk kesepakatan masyarakat yang majemuk dengan tujuan untuk memulihkan suasana, dalam penerapan hukum restitutif tidak mengandung umpatan atau ungkapan secara masif seperi halnya yang terjadi di kelompok masyarakat mekanik.(Ritzer, 2014)Struktur masyarakat seperti ini sudah terbangun dari kelompok terkecil yaitu keluarga. Dimana pada masyarakat solidaritas mekanik kelompok kecil dari mereka memiliki homogenitas dengan keluarga lainnya. Satu kelompok dengan mata pencaharian yang sama contohnya bertani, nelayan, berkebun, dan mata pencaharian yang relatif sama. Sementara dalam komponen masyarakat yang memiliki solidaritas organik, kelompok kecil masyarakat berupa keluarga mereka lebih didominasi profesi yang ragam sesuai dengan perkembangan sosial yang mengiringinya.(Nutani Soyomukti, 2016).Bentuk Solidaritas SosialKerjasamaBentuk lain dari solidaritas sosial ialah kerjasama. Kerajasama merupakan prosesterkahir dalam penggabungan. Kerjasama adalah penggabungan antara individu dengan individu yang lainnya, atau kelompok dengan kelompok lainnya guna mewujudkan hasil secara bersama-sama. Dan dari kerjasama tersebut maka akan memberikan manfaat kepada anggota kelompok dan tujuan yang ingin dicapai bisa dirasakan bersama. Adanya kerjasama adalah adanya tujuan yang sama antara individu terhadap kelompoknya.Kerjasama antara pemimpin denganpengikutnya sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan bersama yang ingin dicapai di perpustakaan.Adapun bentuk-bentuk kerjasama pemimpin dan pengikutnya yang ada di perpustakaan meliputi a. Kerukunan merupakan kegiatan yang timbul antar dua orang individu atau antar kelompok.b. Bargaining merupakan sebuah perjanjian mengenai pertukaran sebuah barang dan jasa antara dua organisasi yang bisa dilihat dari interaksi pemimpin dan pengikutnya.c. Kooptasi merupakan alur pertukuran dan penerimaan hal-hal baru dalam sebuahorganisasid. Koalisi merupakan sebuah bentuk kelompok informal yang bersinergi bersama untukmenghadapi berbagai permasalahan dansaling membantu memberikan masukan secara bersama- sama.e. Join venture kerjasama yang dibentuk oleh proyek yang telah terencana.Gotong RoyongSolidaritas sosial dalam bentuk gotong royong ini timbul dari dalam diri manusia secara alamiah tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Hal ini sesuai fitrah manusia sebagai makhluk siosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan bantuan orang lain. Gotong royong sendiri dapat memberikan manfaat diantaranya pekerjaan menjadi mudah dan ringan,memperkuat dan mempererat hubungan antarindividu dalam komunitas, serta menyatukan individu yang dalam komunitas.(Sudrajat, 2014).Gotong royong ialah bentuk solidaritas sosial yang terbentuk karena adanya bantuan dari pihak luar, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok sendiri sehingga di dalamnya ada sikap loyal dari para anggotanya sebagai sebuah kesatuan.Kepemimpinan TransaksionalKepemimpinan transaksional berpengaruh pada kepuasan kerja atasan bahkan bawahannya.Dalam kepemimpinan transaksional atasanmengidentifikasi harapan dan pilihan pekerjaan yang akan diberikan kepada bawahannya untuk mengidentifikasi pekerjaan secara memadai sehingga pegawai akan merasakan adanya arahan atau petunjuk yang akan diberikan oleh pimpinan sebagai arah untuk merencanakan dan menentukan prosedur kerja yang akan dilaksanakan.(Rosnani, 2012). Pemimpin memberikan panduan dan motivasi para bawahannya menuju pada sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya dengan memperjelas peran dan tugas yang akan dilaksankan dengan hal ini akan meningkatkan kreativitas dan penggunaan kemampuan potensial yang dimiliki oleh pegawai untuk mencapai potensi yang terbaik sehingga pengikut secara psikologis akan merasa puas dengan pekerjaan yang mereka lakukan.(Gibson J.L Ivancevich J.M & Donnelly, J.H, 1996) Kepemimpinan dalam Solidaritas SosialPembentukan dari solidaritas sosial itu terdiri dari dua dimensi yaitu solidaritas mekanik dengan solidarias organik yang mempunyai perbedaan dari berbagai sudut pandang dengan perbedaan yang bersifat evolusinistis dimana solidaritas organik merupakan sebuah proses perkembangan yang maju dari solidaritas mekanik.(Kamiruddin, 2016, hlm. 73) Dengan adanya penakaran seperti ini akan menimbulkan interaksi-interaksi sosial dan mekanisame sosial dalm suatu tatanan masyarakat secara umum bahkan organisasi secara khusus yang akan membuat perbuhan secara signifikan hal ini ditimbulkan oleh adanya pengaruh dari seorang pemimpin dalam menciptakan sebuah inovasi perubahan akan hadir pemikiran baru yang berefek pada pekerjaan yang efektif dan efisiensi sesuai dengan visi dan misi yang telah direncanakan.Pemahaman mengenai bentuk solidaritas sosial ini mulai dari bentuk solidaritas mekanik sampai ke solidaritas organik yang bersifat positif dan vertikal akan memperlihatkan hasil sebuah mana kekompakan antara pimpinan dengan pengikut, dalam konteks ini pemimpin untuk menciptakan bentuk solidaritas yang kuat maka pemimpin menciptakan sebuah inovasi untuk belajar bersama melalui pelatihan kepemimpinan yang memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal kepada dua belah pihak baik itu pemimpin maupun pimpinan dengan melibatkan hubungan pertukaran pekerjaan dengan kesepakatan mengenai klarifikasi sasaran standar kerja yang akan menghasilkan reward kepada setiap pengikut yang berprestasi dalam bidang kerja.
Method
Pemimpin merupakan seseorang yangmemimpin individu atau kelompok dengan cara memberikan petunjuk, pengarahan, motivasi dan perintah. Keberhasilan suatu organisasi salah satunya ditentukan oleh SDM dalam organisasi berdasarkan etika kepemimpinan yang terlihat.(Peter G. Northhouse, 2013, hlm. 403) Namun di samping itu faktor yang sangat berperan penting dalam keberhasilan sebuah organisasi ialah faktor kepemimpinan yang lebih dominan. Peran utama seorang pemimpin adalah mempengaruhi orang lain bagaimana caranya untuk mencapai visi dan misi yang telah direncanakan.(Ambar Teguh Sulistiyani, 2008, hlm. 10)Perpustakaan atau organisasi apapun itutidak akan pernah berubah dan berjalan kearah yang dicita-citakan, apabila pemimpinnyasendiri dalam konteks apapun tidak berubah dan tidak tumbuh untuk memperbaiki kondisi yang ada sesuai dengan konteks keberhasilan sebagaimana yang telah direncanakan. Fenomena kepemimpinan telah memberikan kontribusidalam kepemimpinan yang mempengaruhiiklim organisasi. (Muhammad Irsyad Alfatih & Luki Wijayanti, 2017, hlm. 50–62) bentuk kepemimpinan sangat berpengaruh besar alurnya organisasi dan kouniaka baik dari organisasi tersebut untuk mencapai keberhasilannya.Membangun sebuah komitmen untukmencapai tujuan tercapainya visi dan misi sebuah organisasi untuk menjembatani sebuah perubahan tantangan menjadi sebuah peluang dengan hal ini memerlukan kebijakan pimpinan yang aktif dan dinamis serta adaftif terhadap sebuah perubahan, maka seorang pemimpindituntut harus mampu beradabtasi sesuaidengan perkembangan revolusi industri dalam menghadapi dinamika perubahan yang terjadi.(Nurul Rahmi, 2017, hlm. 133–146)Perpustakaan yang berada lingkungancivitas akademika dengan tujuan melayaniseluruh kolega akademika khususnya untukpelaksanaan pembelajaran, penelitian danpengembangan literature informasi, dengan hal ini diartkan sebagai civitas akademika adalah perpustakaan perguruan tinggi. Dengan hal ini pemimpin memeberikan kontribusibaru dan inovasi baru hingga mengahasilkan peluang tanpa ancaman dalam proses kegiatan keorganisasian. Dalam struktur keorganisasian diperlukan seorang pemimpin agar lebih baik dan bisa mengarahkan pengikutnya untuk ikut serta dalam berpartisipasi agar bersama-sama untuk mencapai tujuan, seorang pemimpin yang bijak akan terlihat meumbuhkan rasa semangat untuk bekerja yang ditimbulkan oleh kinerja positif yang timbul dari seorang pemimpin.Tinjauan lain dimensi kepemiminandapat kita lihat dalam diskursus melaluikecerdasasan intelektual dan kecerdasanemosional dalam pernanan seorang pemimpin untuk mengefektifkan organisasi yang perlu dipersoalkan, hal ini perlu dilihat sejauh mana seorang pemimpin mampu mempertentangkandua kecerdasan tersebut dan mengintegrasikannya agar kecerdasasan emosional yang dominanberpengaruh dapat mendukung kecerdasanintelektual dan perilaku kepemimpinannya.(Hadari Nawawi, 2016, hlm. 230)Perilaku kepemimpinan akan tercerminkanpada hasil yang akan pengaruhi pengikut atau kelompoknya sehingga semakin besar tingkat pengaruh positif pemimpin berdampak padaloyalitas komitmen dan kerjasama yang kuat dirasakan pengikut.(Wibowo, 2016, hlm. 36) Dengan kerjasama yang ditimbulkan olehpemimpin akan berkemungkinan dipandangsebagai orang yang bisa dipercaya secarapribadi dibandingkan dengan pemimpin yang membandingkan dengan pemimpin yangmenganjurkan persaingan antara sesama anggota organisasi.(James M. Kouzes & Barry Z. Posner, 1995, hlm. 216)Hubungan kerjasama antara pemimpin danpengikut mencerminkan pada bentuk solidaritas sosial yang dominan antara kedua belah pihak yang akan menimbulkan beberapa pandanganmengenai bentuk solidaritas itu sendiri mulai dari solidaritas mekanik sampai pada solidaritas organis yang akan menciptakan pembagian kerja.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 106) Hal ini akan memunculkan hubungan kerjasama yang kuatantara pemimpin dengan yang dipimpin melalui karakteristik seperti contributor, kolabolator, komunikator dan penantang.(Kaswan, 2013, hlm. 63) Problematisasi ini merupakan sebuahtindakan jangka panjang yang akan dilakukan oleh seorang pemimpin melalui upaya menciptakan solidaritas kerja yang kuat, dimana value tingkat solidaritas yang masih lemah tercerminkan pada setiap orang,(Friska Ayu Tri Anggini dkk., t.t., hlm. 2) dengan hal ini mendapatkan gambaran bahwa gaya kepemimpinan lebih dipengaruhi oleh variabel kepemimpinan transaksional dimana seorang pemimpin diangap hal yang palingmempengaruhi dan efektif untuk memotivasi pengikutnya, yang tercerminkan pada watak dan tipe pemimpin yang lebih dominan berorientasi pada tugas, berorientasi pada hubungan dan berorientasi pada hasil.(Kartini Kartono, 2010, hlm. 34), dimana problematika solidaritas kepemimpinan yang terlihat di perpustakaan universitas muhammadiyah yogyakarta dalam menciptakan dunia kerja yang kundusif dan produktif masih belum terlihat realisasinya yang sesuai dengan konteks kajian solidaritas dalam kepemimpinan transaksional.Berangkat dari pemahaman mengenaikepemimpinan hendaknya kepemimpinanmempunyai solidaritas terhadap pengikutnya, yang mana secara umum solidaritas sosialmempunyai suatu kesatuan mepertimbangkankepentingan bersama, teori solidaritas sosial dikemukan oleh Emile Durkheim yang membagi tataran solidaritas dalam bentuk solidaritas mekani dan solidaritas organik, denganmeningkanya solidaritas tertentu berkaitan dengan pembagian kerja dan mengontrolpekerjaan serta menimbulkan kesadaranindividual secara kolektif.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 107)Solidaritas sosial tercerminkan padafenomena roda kepemimpinan transaksionalmelalui perubahan yang terjadi dalamperkembangan zaman serta penyesuaiantindakan yang dilakukan seorang pemimpindi perpustakaan. Seperti hal nya perpustakaan Uiversitas Muhammadiyah Yogyakartayang menjadikan rasa ketertarikan penulis untuk memilih perpustakaan UniversitasMuhammadiyah Yogyakarta untuk diteliti dan menjadikan perpustakaan ini memiliki ciri khas yang mendasarkan berasaskan pada kekentalan dan homogenitas kemuhammadiyaan yang kuat sehingga menciptakan solidaritas mekanik ke organik serta nilai apa yang terkandung dalam hal ini yang dikaitkan dengan kepemimpinan transaksional dan bentuk-bentuk solidaritas yang menjadi problematisasi dalam pembahasan ini, oleh karena itu melalui analisis mendalam mengenai fenomena sosial kepemimpinantransaksional di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, hal ini membuatpeneliti tertarik untuk melakukan penelitian.Solidaritas SosialPemaknaan solidaritas secara bahasadiartikan sebagai sebuah kebersamaan,kekompakan, kesetiakawanan, simpati, empati, serta tenggang rasa. Solidaritas sosial tema utama yang menjadi pokok pembahasan oleh EmileDurkheim (1858-1917) bahwa manusia bukanlah sekedar jumlah totalitas individu-individu kerena manusia merupakan suatu realitas spesifik yang memiliki karakteristiknya sendiri dengan cara bertindak, berfikir dan merasakan serta mengungkapkan dirinya dengan cara eksis diluar kesadaran individu (Peter Beilharz, 2005, hlm.105) yang terdiri dari dua konsep yaitu konsep kesadaran kolektif (conscience collective) dan gambaran kolektif (representations collective).(Hasbullah, 2012, hlm. 234)Fenomena perkembangan masyarakatmempunyai fase-fase yang mendukung dari awal yang biasa dikenal dengan istilah masyarakat primitif dan juga mempunyai fase pada jenis masyarakat modern atau sudah maju. dengan adanya kaijian solidaritas sosial aka nada pengisitilaan yaitu solidaritas sosial mekani dan solidarism sosial organik. Sementara kriteria untuk masyarakat yang maju dengan namaSolidaritas Organik.(P.J. Bouman, 1982, hlm. 41) Pembagian kerja memiliki implikasi yangsangat besar terhadap tatanan masyarakat.Durkheim sangat tertarik dengan perubahan solidaritas sosial terbentuk, dengan kata lain perubahan cara- cara masyarakat bertahan dan bagaimana anggotanya melihat diri merekasebagai bagian yang utuh. Untuk menyimpulkan perbedaan ini, Durkheim membagi solidaritas menjadi solidaritas mekanik, dan organik.Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanik menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Masyarakat ini terjadi karena mereka terlibat aktifitas dan juga tipe pekerjaan yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organik bertahan bersama justru karena adanya perbedaan yang ada didalamnya, dengan fakta bahwa semuaorang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda – beda. (Ritzer, 2014).Solidaritas MekanikSolidaritas mekanik lebih dominan pada suatu kesadaran bersama yang menunjukan pada totalitas kepercayaannya dan sentimen bersama yang secara bersama-sama semua kalangan organisasi memiliki ciri dari solidaritas mekanik ini merupakan suatu solidaritas yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama juga, oleh karena itu individualis tidak berkembang, individualis selalu dilumpuhkan oleh tekanan yang besar untuk bertindak.(Soerjono Soekanto, 1982, hlm. 235).Durkheim memanfaatkan solidaritas mekanis untuk menganalisa masyarakat secara keseluruhan, solidaritas ini lebih menekan pada unsur kesadaran kolektif, yang akan menyadarkan pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama di atas ratarata yang dimiliki oleh semua individu yang sama.Solidaritas mekanik ini lebih mengarah pada ketergantungan pada individu yang memiliki sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola norma yang sama juga, maka dengan ini sifat individualitas tidak akan berkembang maka individu akan dilumpuhkan pada tekanan yang kuat. Kesadaran persoalan hal yang tidak akan berkembang ini lah yang akan menjadi akar memudarnya diintegrasi nilai pada solidaritas mekanis karena kesadaran kolektif sebenarnya tidak stagnan atau tetap melainkan bergerak tidak beratur dalam setiap tindakan.(Brian Syah Putra, t.t.) Solidaritas mekanik juga merupakan suatu tipe yang penuh dengan persamaan, pada tipe solidaritas ini inividu diikat dalam suatu bentuk solidaritas yang kolektif yang sama dan kuat, dengan hal ini individu tidak berkembang kerena dilumpuhkan oleh tekanan besar untuk menerima konformitas. Ciri khas dari pada masyarakat solidaritas mekanik adalah adanya solidaritas yang diasarkan pada homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen, dan lainnya.Durkheim menyatakan bahwa solidaritasmekanik didasarkan pada kesadaran kolektif bersama (collective conciousness/conscience), yang menunjuk pada “totalitas kepercayaan – kepercayaan dan sentimen – sentimen bersama yang rata – rata ada pada warga masyarakat yang sama. Itu merupakan suatu solidaritas yang tergantung pada individu – individu yang memiliki sifat – sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama juga. Karena itulah individualitas tidak berkembang, individualitas terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konformitas.(George Ritzer, 2014, hlm. 183).Solidaritas OrganikSolidaritas organik lebih cenderung padakesedaran bersama akan pembagian kerja, kesadaran ini muncul didasarkan pada hukum dan akal dalam kontek solidaritas organis yang lebih dominan adalah kesadaran akan ketergantungan serta pembagian kerja yang tinggi karena mempunyai skill dan heterogenitas menyerata antar individual sehingga kepentingan akan tujuan yang direncanakan akan lebih di utamakan.(Nurul Kurnia dkk., 2014) Spesifikasi menurut Emile Durkheimbahwa solidaritas organis lebih menuju tatanan yang berdasarkan ketergantungan mutual antar individu yang relatif otonom dengan spesifikasi pembagian kerja dan justru tergantung pada perbedaan individual yang merupakan perubahan perkembangan pembagian kerja yang spesifik.Spesfikasi ini merupakan syarat bagi berkembangnya perbedaan personal serta menciptakan wilayah aksi yang tidak tunduk pada kontrol kolektif, akan tetapi pada saat yang sama akan meningkat ketergantungan antar individu karena adanya spesialisasi bidang kerja.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 107).Meski memiliki nilai dasar sama ialahsolidaritas sosial, tetapi solidaritas organik berbeda dengan solidaritas mekanik. Secara sekilas solidaritas organik lebih pada kompleksifitas anggota masyarakat, sedangkan menurut prosesnya apa yang terjadi dalam solidaritas organik merupakan lompatan dari solidaritas mekanik. karena untuk menggabungkan antara solidaritas mekanik dan organik maka solidaritas organik memiliki kompoenen masyarakat yang maju, modern, dan majemuk. Untuk melihat seperti apakah potret masyarakat dengan solidaritas organik, definisi Johnson bisa menjadi sebuah tawaran:Solidaritas organik muncul dikarenakan pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dan pembagian pekerjaan yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan dikalangan individu.(Paul Johnson Doyle, 1994).Munculnya masyarakat dengan karaktersolidaritas organik bukan serta merta ada keruntuhan dalam diri masyarakat sendiri, atau ada indikasi masyarakat itu mengalami kemunduran. Meski memiliki indikator – indikator contohnya; ada ketergantungan antar individu, ragamnya kepercayaan dan keyakinan, ragam pekerjaan yang hidup di dalam masyarakat, munculnya berbagai ragam perbedaan, adanya gaya hidup yang bermacam – macam, tidak menandai bahwa masyarakat tersebut mengalami kemunduran.Durkheim memberikan catatan bahwa kuatnya solidaritas yang mereka bangun juga dilandasi dengan pola hukum restitutif adalah bentuk kesepakatan masyarakat yang majemuk dengan tujuan untuk memulihkan keadaan, dalam penerapan hukum restitutif tidak mengandung ungkapan secara masif seperi halnya yang terjadi di kelompok masyarakat mekanik (Ritzer, 2014). Struktur masyarakat demikian sudah terbangun dari kelompok terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga. Dimana pada masyarakat solidaritas mekanik kelompok kecil dari mereka memiliki homogenitas dengan keluarga lainnya. Satu kelompok dengan mata pencaharian yang sama semisal petani, nelayan, berkebun, dan mata pencaharian yang relatif sama. Sementara dalam komponen masyarakat yang memiliki solidaritas organik, kelompok kecil masyarakat berupa keluarga mereka lebih didominasi profesi yang ragam sesuai dengan perkembangan sosial yang mengiringinya.(Soyomukti, 2016).Durkheim memaparkan bahwa setiap profesipada masyarakat dengan soldaritas sosial organik tidak bisa dipenuhi dengan dasar kolektif. Adanya saling membutuhkan yang berasas pada aspek fungsional ini mengantarkan masyarakat pada keberadan otonom masing individu.(Doyle, 1994). Proses demikian membentuk masyarakat yang memiliki heterogensi tinggi, dengan kondisi masyarakat yang plural dan majemuk. Masyarakat lebih menjunjung tinggi apa itu bakat pribadi, masyarakat juga memahami apa itu hak dan kewajiban masing – masing individu, profesi masing – masing individu juga berbeda – beda menyesuaikan kebutuhan masyarakat luas.Bentuk-bentuk Solidaritas SosialKerjasamaBentuk lain dari solidaritas sosial adalah kerjasama. Kerajasama merupakan tahap terkahir dalam penggabungan. Kerjasama ialah penggabungan antara individu dengan individu yang lainnya, atau kelompok dengan kelompok lainnya guna mewujudkan hasil secara bersama-sama. Dan dari kerjasama tersebut maka akan memberikan manfaat kepada anggota kelompok dan tujuan yang ingin dicapai bisa dirasakan bersama. Adanya kerjasama adalah adanya tujuan yang sama antara individu terhadap kelompoknya.Kerjasama antara pemimpin denganpengikutnya sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan bersama yang ingin dicapai di perpustakaan.Adapun bentuk-bentuk kerjasama pemimpin dan pengikutnya yang ada di perpustakaan meliputi a. Kerukunan merupakan kegiatan yang timbul antar dua orang individu atau antar kelompok.b. Bargaining merupakan sebuah perjanjian pertukaran sebuah barang dan/atau jasa antara dua organisasi yang bisa dilihat dari interaksi pemimpin dan pengikutnya.c. Kooptasi merupakan alur pertukuran dan penerimaan hal-hal baru dalam sebuahorganisasid. Koalisi merupakan sebuah bentuk kelompok informal yang bersinergi bersama untukmenghadapi berbagai permasalahan dansaling membantu memberikan masukan secara bersama- sama.e. Join venture kerjasama yang dibentuk oleh proyek yang telah terencana.Gotong RoyongSolidaritas sosial dalam bentuk gotong royong ini timbul dari dalam diri manusia secara alamiah tanpa adanya paksaan dari pihak kedua. Hal ini sesuai fitrah manusia ialah sebagai makhluk siosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Gotong royong sendiri dapat memberikan manfaat diantaranya pekerjaan menjadi mudah dan ringan,memperkuat dan mempererat hubungan antarindividu dalam komunitas, serta menyatukan individu yang dalam komunitas.(Sudrajat, 2014) Gotong royong adalah bentuk solidaritas sosial yang terbentuk karena adanya bantuan dari pihak lain, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok sehingga di dalamnya ada sikap loyal dari anggota sebagai sebuah kesatuan.Solidarita OrganikSolidaritas organik lebih cenderung padakesedaran bersama akan pembagian kerja, kesadaran ini muncul didasarkan pada hukum dalam kontek solidaritas organis yang lebih dominan adalah kesadaran akan ketergantungan serta pembagian kerja yang tinggi karena mempunyai skill dan heterogenitas menyerata antar individual sehingga kepentingan akan tujuan yang direncanakan akan lebih di utamakan.(Nurul Kurnia dkk., 2014, hlm. 11) Spesifikasi menurut Durkheim bahwasolidaritas organis lebih menuju tatanan yang berdasarkan ketergantungan antar individu yang relatif otonom dengan spesifikasi pembagian kerja yang justru tergantung pada perbedaan individual yang merupakan perubahan perkembangan pembagian kerja yang spesifik. Spesfikasi ini merupakan syarat bagi berkembangnya perbedaan individu serta menciptakan wilayah aksi yang tidak mengikuti pada kontrol kolektif, akan tetapi pada saat yang sama akan meningkat ketergantungan antar individu karena adanya spesialisasi bidang kerja.(Peter Beilharz, 2005, hlm. 107)Durkheim menyatakan bahwa kuatnyasolidaritas yang mereka bangun juga dilandasi pada pola hukum restitutif (pemulihan) adalah bentuk kesepakatan masyarakat yang majemuk dengan tujuan untuk memulihkan suasana, dalam penerapan hukum restitutif tidak mengandung umpatan atau ungkapan secara masif seperi halnya yang terjadi di kelompok masyarakat mekanik.(Ritzer, 2014)Struktur masyarakat seperti ini sudah terbangun dari kelompok terkecil yaitu keluarga. Dimana pada masyarakat solidaritas mekanik kelompok kecil dari mereka memiliki homogenitas dengan keluarga lainnya. Satu kelompok dengan mata pencaharian yang sama contohnya bertani, nelayan, berkebun, dan mata pencaharian yang relatif sama. Sementara dalam komponen masyarakat yang memiliki solidaritas organik, kelompok kecil masyarakat berupa keluarga mereka lebih didominasi profesi yang ragam sesuai dengan perkembangan sosial yang mengiringinya.(Nutani Soyomukti, 2016).Bentuk Solidaritas SosialKerjasamaBentuk lain dari solidaritas sosial ialah kerjasama. Kerajasama merupakan prosesterkahir dalam penggabungan. Kerjasama adalah penggabungan antara individu dengan individu yang lainnya, atau kelompok dengan kelompok lainnya guna mewujudkan hasil secara bersama-sama. Dan dari kerjasama tersebut maka akan memberikan manfaat kepada anggota kelompok dan tujuan yang ingin dicapai bisa dirasakan bersama. Adanya kerjasama adalah adanya tujuan yang sama antara individu terhadap kelompoknya.Kerjasama antara pemimpin denganpengikutnya sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan bersama yang ingin dicapai di perpustakaan.Adapun bentuk-bentuk kerjasama pemimpin dan pengikutnya yang ada di perpustakaan meliputi a. Kerukunan merupakan kegiatan yang timbul antar dua orang individu atau antar kelompok.b. Bargaining merupakan sebuah perjanjian mengenai pertukaran sebuah barang dan jasa antara dua organisasi yang bisa dilihat dari interaksi pemimpin dan pengikutnya.c. Kooptasi merupakan alur pertukuran dan penerimaan hal-hal baru dalam sebuahorganisasid. Koalisi merupakan sebuah bentuk kelompok informal yang bersinergi bersama untukmenghadapi berbagai permasalahan dansaling membantu memberikan masukan secara bersama- sama.e. Join venture kerjasama yang dibentuk oleh proyek yang telah terencana.Gotong RoyongSolidaritas sosial dalam bentuk gotong royong ini timbul dari dalam diri manusia secara alamiah tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Hal ini sesuai fitrah manusia sebagai makhluk siosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan bantuan orang lain. Gotong royong sendiri dapat memberikan manfaat diantaranya pekerjaan menjadi mudah dan ringan,memperkuat dan mempererat hubungan antarindividu dalam komunitas, serta menyatukan individu yang dalam komunitas.(Sudrajat, 2014).Gotong royong ialah bentuk solidaritas sosial yang terbentuk karena adanya bantuan dari pihak luar, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok sendiri sehingga di dalamnya ada sikap loyal dari para anggotanya sebagai sebuah kesatuan.Kepemimpinan TransaksionalKepemimpinan transaksional berpengaruh pada kepuasan kerja atasan bahkan bawahannya.Dalam kepemimpinan transaksional atasanmengidentifikasi harapan dan pilihan pekerjaan yang akan diberikan kepada bawahannya untuk mengidentifikasi pekerjaan secara memadai sehingga pegawai akan merasakan adanya arahan atau petunjuk yang akan diberikan oleh pimpinan sebagai arah untuk merencanakan dan menentukan prosedur kerja yang akan dilaksanakan.(Rosnani, 2012). Pemimpin memberikan panduan dan motivasi para bawahannya menuju pada sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya dengan memperjelas peran dan tugas yang akan dilaksankan dengan hal ini akan meningkatkan kreativitas dan penggunaan kemampuan potensial yang dimiliki oleh pegawai untuk mencapai potensi yang terbaik sehingga pengikut secara psikologis akan merasa puas dengan pekerjaan yang mereka lakukan.(Gibson J.L Ivancevich J.M & Donnelly, J.H, 1996) Kepemimpinan dalam Solidaritas SosialPembentukan dari solidaritas sosial itu terdiri dari dua dimensi yaitu solidaritas mekanik dengan solidarias organik yang mempunyai perbedaan dari berbagai sudut pandang dengan perbedaan yang bersifat evolusinistis dimana solidaritas organik merupakan sebuah proses perkembangan yang maju dari solidaritas mekanik.(Kamiruddin, 2016, hlm. 73) Dengan adanya penakaran seperti ini akan menimbulkan interaksi-interaksi sosial dan mekanisame sosial dalm suatu tatanan masyarakat secara umum bahkan organisasi secara khusus yang akan membuat perbuhan secara signifikan hal ini ditimbulkan oleh adanya pengaruh dari seorang pemimpin dalam menciptakan sebuah inovasi perubahan akan hadir pemikiran baru yang berefek pada pekerjaan yang efektif dan efisiensi sesuai dengan visi dan misi yang telah direncanakan.Pemahaman mengenai bentuk solidaritas sosial ini mulai dari bentuk solidaritas mekanik sampai ke solidaritas organik yang bersifat positif dan vertikal akan memperlihatkan hasil sebuah mana kekompakan antara pimpinan dengan pengikut, dalam konteks ini pemimpin untuk menciptakan bentuk solidaritas yang kuat maka pemimpin menciptakan sebuah inovasi untuk belajar bersama melalui pelatihan kepemimpinan yang memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal kepada dua belah pihak baik itu pemimpin maupun pimpinan dengan melibatkan hubungan pertukaran pekerjaan dengan kesepakatan mengenai klarifikasi sasaran standar kerja yang akan menghasilkan reward kepada setiap pengikut yang berprestasi dalam bidang kerja.
Result & Discussion
Bentuk Solidaritas Sosial dalam Kepemimpinan TransaksionalKerjasamaBentuk lain dari solidaritas sosial adalah kerjasama. Kerajasama merupakan proses terakhir dalam penggabungan kerukunan kinerja. Kerjasama adalah penggabungan antara individu dengan individu yang lainnya, atau kelompok dengan kelompok lainnya guna mewujudkan hasil secara bersama-sama.Dan dari kerjasama tersebut maka akan memberikan manfaat kepada anggota kelompok dengan tujuan yang ingin dicapai bisa dirasakan bersama. Adanya kerjasama adalah adanya tujuan yang sama antara individu terhadap kelompoknya.Proses kerjasama dalam pekerjaan dapat dilihat dalam beberapa beberapa aspek yang pertama ialah adanya saling ketergantungan yang positif, dengan rincian semua anggota mempunyai peran besar dan mau bekerjasama dalam mencpai satu tujuan yang sama dengan artian bahwa setiap anggota kelompok memberikan kontribusi positif, yang kedua mempunyai tanggung jawab perorangan dengan anjuran harus mempunyai rasa tanggungjawab pribadi yang menimbulkan rasa saling memiliki peran positif bersama-sama. Ketiga adanya komunikasi antar anggota dengan tujuan mengerti dan faham pekerjaan masing-masing, keempat saling menghargai.Kerjasama antara pemimpin denganpengikutnya sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan bersama yang ingin dicapai di perpustakaan.Adapun bentuk-bentuk kerjasama pemimpin dan pengikutnya yang ada di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta meliputi:KerukunanRukun dalam kamus besar bahasa Indonesiamenjelaskan bahwa kerukunan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya sebua pekerjaan, namun rukun juga bisa diartikan damai dan bersatu serta dengan kata lain sepakat.(Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995). Kerukunan disini juga diartikan sebagai gaya hidup, tindakan dan sikap beserta perbatan.Kerjasama yang tergambarkan dalambentuk solidaritas kepemimpinan transaksional di perpustakaan universitas muhammadiyah yogyakarta terlihat dari gaya kebersamaan yang tercipta dalam bentuk kerukunan, dimana contoh bentuk kerukunan ini dapat dipantau dan terlihat adanya kekompakan antara kepala perpustakaan sebagai seorang pemimpin dengan pustakawan sebagai orang yang dipimpin tergambarkan adanya interaksi yang aktif sehingga bisa menciptakan sebuah kerukunan dalam bekerja.Dalam proses ini yang melibatka kepala perpustakaan dengan pustakawan sebagai aktor yang di pimpin.Kerukunan juga memberikan gambaran sebuahproses terwujudnya serta memperlihatkan interaksi yang berjenis dari setiap anggota, seperti keseragaman berintekrasi antar kelompok yang berbeda, dengan adanya kerukunan akan memperlihatkan hubungan timbal balik yang terkhusus saling menerima dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.Kerukanan dalam konteks perpustakaansecara garis besar akan terlihat dalam konteks kerja dan keselarasan antar sesama anggota baik hubungan dengan pimpinan yang secara langsung akan tergambarkan dalam proses interagsi sosial setiap hari. Kerukunan yang dimaksud disini dalam konteks artian perpustakaan seringkali diartikan sebagai suasana interaksi sosial yang dipertontonkan dengan awalnya ada perseteruan antar sesama, pereselisihan, permusuhan serta kecurigaan maka akan menimbulkan konflik dalam kebersamaan dan akan mengganggu kerukunan yang kuat yang sudah dibangun dari dini.Kerukunan merupakan kegiatan tolongmenolong dan gotong royong antar individu atau antar kelompok. Perwujudan sikap kerukunan dalam perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta adanya sinergi antara pemimpinperpustakaan dan pengikutnya dalam mewujudkan visi misi perpustakaan. Hal ini tercermin pada keadaan kondisi di perpustakaan UMY yang terlihat kondusif dalam aktifitas keseharian mencerminkan tingkat kesolidaritasan sosial yang tinggi, seperti sebuah fenomena yang tercerminkan pada kasus rutinitas kebiasaan karyawan pada setiap memulai pekerjaan, yaitu sebelum bekerja karyawan melakukan tadarus bersama dan memutarkan lagu kebangsaan kemuhammadiyaan, tidak hanya itu saja bentuk dari kerukuan dan kesolidaritan yang tercermin akan tetapi pada setiap waktu sholat masuk semua karyawan berhenti bekerja sejenak untuk menyegerakan sholat berjemaah di masjid selingkungan kampus dan perpustakaan untuk sementara pada jam sholat tutup layanan.KooptasiKooptasi merupakan proses penerimaan halhal baru dalam sebuah kepemimpinan organisasi.Implementasi kooptasi di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat terlihat, dimana pemimpin perpustakaan banyak mencetuskaninovasi-inovasi baru di perpustakaan. Semua pengikutnya yang ada di perpustakaan harus ikut serta menenerima kebijakan-kebijakan baru yang dicetuskan oleh pemimpin perpustakaan.Penerimaan kebiakan-kebijakan baru ini oleh pustakawan dikarenakan demi peningkatan kapasitas pustakawan dan kemajuan perpustakaan. Hal ini tercerminkan pada hasil kerja yang diperlihatkan sesuai dengan konteks perencanaan tertuang pada visi dan misi perpustakaan lebih dominan pada homogenitas kinerja yang mencerminkan tingkat kemuhammadiyaan yang kuat.BergainingBergaining berkaitan dengan perjanjianmengenai pertukaran barang dan jasa antara organisasi. Bergaining dalam artian disini dimaksud yaitu bentuk kerjasama yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan perpustakaan lain yang masih memiliki kaitan kemuhamadiyaan, serta apabila dilakukan di perpustakaan mungkin bisa dilihat dari interaksi pemimpin dan pengikutnya. Dimana pemimpinmenawarkan penghargaan kepada pengikutnya yang bisa berprestasi dan mengembangkan kapasitas diri.Disini transaksi pertukaran yang dilakukan berupa target capaian dengan penghargaan. Hal ini terlihat pada proses kegiatan kerja yang dilakukan oleh dua belah pihak antara pemimpin dan pengikutnya untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.KoalisiKoalisi merupakan sebuah kelompok informal yang bergabung bersama-sama, menghadapi segala masalah dan saling memberi kekuatan secara bersamasama, bentuk dari pembentukan koalisi adalah adanya kekuatan dalam jumlah orang yang bersatu untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.Koalisi disini terdiri dari dua bentuk koalisi yaitu koalisi temporer atau sementara dan koalisi tetap, namun di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam kasus ini pemimpin dan pengikut menciptakan koalisi yang tetap yaitu terdiri dari dua atau lebih yang kedua nya tidak memiliki kekuasaan, dengan cara bergabung bersama, mereka dapat mengkombinasikan kemampuan masing-masingindividu dengan tujuan untuk meningkatkan hasil yang baik untuk perpustakaan, pemimpin dan pengikut menciptakan koalisi dengan tujuan agar memiliki kekuatan untuk menghadapi tantangan revolusi industri kedepannya, juga dengan tujuan agar antara pemimpin dan pemimpin lebih dekat secara personal maupun emosional.Join venturePerpustakaan Universitas MuhammadiyahYogyakarta merupakan salah satu bentuk organisasi yang mempunyai bentuk solidaritas sosial yang mengarah pada jenis Join venture hal merupakan kerjasama yang dibentuk dalam proyek tertentu.Implementasi join venture yang ada di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bisa dilihat dalam proses kerjasama pemimpin perpustakaan dan pengikutnya dalam pendirian Muhammadiyah Corner. Kedua belah pihak secara bersama-sama merancang, mendirikan, dam mengelola proyek tersebut. Mulai dari kerjasama anatara pemimpin dan pengikutnya untuk membuat nomor urut klasifikasi koleksi kemuhammadiyahan, sampai denganpenyebaran koleksi yang dimiliki.Selain dari media implementasi bentukMuhammadiyah corner ini namun jugamempunyai dampak positif yang akan dihasilkan oleh perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang terarah kepada hal yang positif dimanfaatkan oleh seluruh pemustaka dan juga seluruh civitas akademika perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.Kepemimpinan Transaksional dalam Solidaritas SosialDalam kepemimpinan transaksioal seorangpemimpin dan pengikutnya besinergi sebagai agen untuk mencapai keberhasilan. Kepemimpinantransasksional yaitu hubungan antara pemimpin dengan pengikut dengan sebuah landasan dengan adanya pertukaran atau tawar menawar antara pemimpin dan pengikut. Kepemimpinan transaksional sebagai kepempinan yang melibat suatu proses pertukaran (exchange process) dimana pengikut akan mendapatkan imbalan secara nyata dalam melakukan perintah-perintah pemimpin.(Jostanlie De Son Bogar dkk., 2018, hlm. 234)Perpustakaan Universitas MuhammadiyahYogyakarta mempunyai bentuk kepemimpinantransaksional yang tercerminkan pada tingkat rasa gotong dan royong yang kuat hal ini tercerminkan pada bentuk solidaritas sosial yang tergambarkan secara langsung dalam metamerfosa kerja antara kepala perpustakaan (pimpinan) kepada pengikutnya.KesetiakawananKesetiakawanan atau kesolidaritasan sosial merupakan sebuah potensi spiritual yang mempunyai komitmen yang kuat bersama sekaligus mempunyai jati diri yang konsisten karena kesetiakawanan muncul dari hati nurani yang teraplikasi melalui perbuatan dari sikap dan perilaku seseorang yang tercerminkan pada perbuatan yang sadar, betanggung jawab dan berpartisipasi sosial sesuai dengan sejauh mana anggota dan pimpinan perpustakaan dalam mendedekasi konsep kesetiakawanan yang akan dimunculkan melalui sikap dalam bekerja dengan sesama anggota.Kesetiakawanan merupakan sebuah tolak ukur dasar nilai yang ditimbulkan oleh pimpinan dan anggota yang terus menerus digali dan diklarifikasi serta didayagunakan dalam mencapai visi dan misi perpustakaan yang sudah terbentuk sejak awal dan mencapai tujuan kerja yang sudah terencana, kesetikawanan juga merupakan nilai positif yang harus dimiliki oleh semua anggota terutama pimpinan karena peran seorang pimpinan dalam mengarahkan anggota akan sangat mempengaruhi pada hasil yang akan dicapai maka dengan hal ini pimpinan sebuah perpustakaan harus mengupayakan bagaimanacaranya supaya perpustakaan menciptakan rasa kesetiakawanan yang kuat antar sesama.Kesetikawanan dalam artian disini berbentuk komunikasi antara pimpinan dan pengikutnya, mempunyai komitmen yang tinggi untuk mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi perpustakaan yang mengedepankan kemuhammadiyaan, dengan adanya kesetikawanan ini maka akan memunculkan etos kerja yang tinggi juga menghasilkan kekompakan dalam proses peran kegiatan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) perpustakaan.Kesetiakawanan antar sesama anggota bahkan pimpinan merupakan sebuah modal utama dalam menciptakan komunikasi yang komunikatif antara pengikut dan pimpinan dalam pekerjaan masingmasing baik yang berkaitan dengan anggota yangmemberikan pelayanan yang prima kepada pemustaka dengan cara melayani pemustaka dengan setulus hati dan juga bekerja lainya setulus hati. Kesetiakawanan yang dicerminkan oleh pimpinan akan tergambarkan pada bentuk tindakan solidaratis tinggi yang diciptakan oleh pimpinan, terkhusus di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kesetiakawanan antara pustakawan dengan pemustaka bahkan hubungan pustakawan dengan pimpinan merupakan sebuah dua sisi mata uang yang saling ketergantungan dalam menciptakan komunikasi persahabatan yang dimunculkan dari solidaritas sosial, dengan hal ini perlu dibangun sebuah bingkai kesetiakawanan yang harmonis yang akan menghasilkan sebuah perpustakaan yang diminati secara maksimal oleh para pemustaka.Perpustakaan Universitas MuhammadiyahYogyakarta dalam menciptakan kesetiakawanan yang harmonis baik dengan pimpinan dan pengikut melakukan beberapa upaya, yaitu sebagai berikut, pertama bersifat jujur dan dipercaya, kedua tidak menceritakan keburukan antar sesama baik itu keburukan pimpinan maupun sesama, ketigamempunyai komitemn yang tinggi dalam berjanji baik janji antar pustakawan dengan pemustaka dan begitu juga janji dengan pimpinan, keempat menjadi seorang pendengar yang baik antara pustakawan dengan pimpinan, kelima mengupakan memberikan tanggapan dan ide yang positif.KebersamaanKebersamaan akan terbentuk jika adanyapembagian kerja yang jelas oleh pimpinan dalam pembentukan cara kerja dalam mencapai rencana stragis yang sudah di rancang oleh pimpinan.Kontek pemahaman solidaritas sosial mekanik di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tergambarkan dalam bentuk kebersamaan antar sesama karyawan dan pimpinannya dalam bekerja secara manual, dengan melakukan kegiatan kepustakawanan yang berupa teknisi seperti pengatalogan, klasifikasi, inventarisasi, penyampulan sampai dengan kegiatan preservasi koleksi yang masih tergambarkan manual, hal ini tergambarkan pada jenis solidaritas mekanik dengan melihat cara kerja ini menyatukan anggota satu dengan yang lainnya di perpustakaan yang bekerja secara kolektif dan dalam bekerja akan menimbulkan individualitas yang rendah dan jenis pembagian kerja yang akan berakibat rendah.Solidaritas organik atau kesadaran bersama yang kuat dengan pembagian kerja yang rendah hal ini akan menimbulkan bentuk kebersamaan yang tinggi hal ini tercerminkan dalam hati nurani setiap individu yang bekerja, dalam konteks solidaritas sosial hal yang paling ditekankan ialah kesadaran akan ketergantungan serta pembagian kerja yang tinggi karena mempunyai skill serta heterogenitas kuat maka kepentingan dan tujuan lebih diutamakan.Kebersamaan di Perpustakaan UniversitasMuhammadiyah Yogyakarta muncul karenapengarahan dari pimpinan yang kuat dan luas serta kehomogenitaskan kemuhammadiyaan yang kuat, hal tergambarkan dalam proses interaksi antara anggota dan pimpinan oleh karena jangkauan yang cukup luas itulah maka komposisi pengikut kian plural. Sebagai pemungkas dari karakter solidaritas organik, bahwa apa yang terjadi pada kompleksitas serta ketergantungan yang tidak diindikasikan oleh homogenitas bukanlah suatu ketidakpastian dalam bekerja, justru dengan adanya saling membutuhkan dengan ragam pekerjaan akan semakin membentuk anggota dan pimpinan yang mempunyai rasakebersamaan dan memiliki rasa solidaritas untuk kesatuan. Namun adanya fungsi hukum yangrestitutif ialah untuk mengembalikan suatu keadaan kepada kondisi semula. Dalam konsekuensi kepada yang merusak tatanan masyarakat yang memiliki solidaritas organik juga memuat kemarahan yang bersifat kolektif.Proses dalam mencapai hasil dari solidaritas sosial yang bisa tergambarkan pada kebersamaan yang terlihat pada proses usaha yang dilakukan oleh dua belah pihak yaitu antara pimpinan dan pengikutnya dengan cara memperkuat dan mempererat rasa simpatik dan empatik, menjalin relasi, kekompakan dan rasa kepedulian oleh pimpinan dan pengikutnya agar sebuah tujuan bisa tercapai sesuai visi dan misi.
Conclusion
Pembentukan dari solidaritas sosial itu terdiri dari dua dimensi yaitu solidaritas mekanik dengan solidarias organik yang mempunyai perbedaan dari berbagai sudut pandang dengan perbedaan yang bersifat evolusinistis dimana solidaritas organik merupakan sebuah proses perkembangan yangmaju dari solidaritas mekanik. Bentuk-bentuk solidaritas sosial yang tercerminkan di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dapat dilihat dari beberapa faktor yang memperlihatkan bentuk solidaritas sosial dalam kepemimpinan transaksional tersebut antara lain: Kerjasama yang terdiri dari kerukunan, kooptasi, bargaining, koalisi dan Join venture serta adanya kepemimpinan transaksional dalam solidaritas sosial yang terdiri dari gotong royong yang berbagi opsi dengan kesetiakawanan den kebersamaan yang tergambarkan relevanbaik di perpustakaan Universitas Muhammadiyah YogyakartaBentuk kepemimpinan yang dimilikioleh Perpustakaan Universitas MuhammadiyahYogyakarta mampu dikaitkan dengan bentuk dari solidaritas kepemimpinan transaksional yang dimiliki oleh Perpustakaan Universitas MuhammadiyahYogyakarta dalam bentuk-bentuk yang tergambarkan dalam solidaritas sosial mekanik ke organik.