Personal Information Management by Students: Finding, Keeping, Organizing, and the Meta Level
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Fenomena information overload terjadi ketika jumlah informasi yang diterima seseorang melebihi kapasitas kognitifnya untuk memprosesnya secara efektif. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran aktivitas personal information management mahasiswa prodi perpustakaan dan sains informasi FIP UPI yang meliputi aktivitas finding information, keeping and organizing information and meta level. Teori yang digunakan yaitu Personal Information Management dipandang sebagai upaya untuk membangun, menggunakan, dan memelihara pemetaan antarakebutuhan dan informasi. Aktivitas penyimpanan dan pencarian digerakkan oleh interupsi (seperti yang dipicu oleh informasi atau kebutuhan yang masuk). Aktivitas tingkat M (meta-level) memiliki fokus yang lebih luas dan lebih strategis sifatnya. Metode penelitian yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif. Analisis data dengan bantuan aplikasi SPSS. Partisipan pada penelitian ini yaitu mahasiswa aktif pada tahun 2025 dengan jumlah 354 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel 100. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasi penelitian menunjukan aktivitas PIM mahasiswa prodi perpustakaan dan sains informasi FIP UPI mengakses website sumber informasi dan menjelajah(browsing) ke semua source untuk meperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan, pengorganisasian folder di komputer merupakan strategi efektif dalam mengumpulkan, mengklasifikasikan,menyusun, menyimpan, serta merawat informasi, sehinggamemudahkan dalam menemukannya Kembali, dan pada tingkatmeta mencakup upaya menjaga dan mengatur informasi, termasuk pengelolaan privasi dan keamanan, pengendalian arus informasi masuk dan keluar, serta evaluasi terhadap informasi tersebut.
Abstract
The phenomenon of information overload occurs when the amount of information a person receives exceeds their cognitive capacity to process it effectively. The main objective of this study is (o describe the personal information management (PIM) activities of students in the Library and Information Science program at the Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia (FIP UPI), whichinclude activities of finding information, keeping and organizing information, and meta-level activities. The theoretical framework used is Personal Information Management, which is viewed as an effort to build, use, and maintain a mapping between needs and information. Storage and retrieval activities are often driven by interruptions (such as incoming information or emerging needs).Meta-level activities have a broader and more strategic focus. This research employs a quantitative approach, with data analysisconducted using SPSS. Participants in this study were active students in 2025, totaling 354 individuals. The sampling technique used was simple random sampling, with a sample size of 100. Data collection was carried out through questionnaires. The results of the study show that students’ PIM activities involve accessing information source websites and browsing various sources to obtain information that matches their needs. Organizing folders on computers is considered an effective strategy for collecting, classifying, arranging, storing, and maintaining information, making it easier to retrieve. At the meta level, activities include efforts to manage and regulate information, including privacy and security management, controlling the flow of incoming and outgoing information, as well as evaluating theinformation.
Keywords:
personal information management
· penemuan informasi
· penyimpanan informasi
· pengelolaan informasi
· meta level
Introduction
Integrasi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of things (IoT), dan big data ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia dapat meningkatkan kualitas hidup dan menyelesaikan masalah sosial. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 221.563.479 jiwa dari total populasi 278.696.200 jiwa, dengan tingkat penetrasi internet sebesar 79,596. Data ini menunjukkan peningkatan yang konsisten dalam lima tahun terakhir, di mana pada tahun 2018 penetrasi internet berada di angka 64,8%, kemudian meningkat menjadi 73,7% pada tahun 2020, 77,0196 di tahun 2022, 78,19% di tahun 2023, dan mencapai 79,5% pada tahun 2024. Peningkatan ini menandakan tren positif dalam adopsi internet di Indonesia (APJII, 2024).Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), penggunaan internet diIndonesia memiliki berbagai tujuan utama. Menurut publikasi "Statistik Telekomunikasi Indonesia 2022", sekitar 79,13% pengguna internet di Indonesia memanfaatkan internet untuk mengakses media sosial, sementara 65,97% menggunakannya untuk mendapatkan informasi atau berita. Selain itu, 45,07% menggunakan internet untuk hiburan, seperti menonton video atau mendengarkan musik, dan 25,87% untuk mengerjakan tugas sekolah. Penggunaan internet untuk mengirim atau menerima email mencapai 21,10%, sedangkan 10,82% memanfaatkannya untuk pembelian atau penjualan barang dan jasa secara online. Penggunaan untuk fasilitas finansial, seperti layanan perbankan online, tercatat sebesar 5,08%. Data ini menunjukkan bahwa media sosial dan pencarian informasi menjadi tujuan utama masyarakat Indonesia dalam mengakses internet (BPS, 2023).Fenomena information overload terjadi ketika jumlah informasi yang diterima seseorang melebihi kapasitas kognitifnya untuk memprosesnya secara efektif. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas pengambilan keputusan dan peningkatan stres.Sebuah survei oleh Pew Research Center pada tahun 2016 menemukan bahwa 20% responden merasa kewalahan dengan informasi yang mereka lerima, menurun dari 2796 pada satu dekade sebelumnya, sementara 77% lainnya menyukai memiliki banyak informasi yang tersedia (Pew Research, 2016).Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika jumlah informasi melebihi kapasitas memori kerja individu, yang diperkirakan sekitar tujuh £ dua unit informasi, terjadi information overload yang dapat mengurangi kualitas pengambilan keputusan (Yun, et al, 2010).Selain itu, paparan berlebihan terhadap informasi melalui internet dan smartphone telah menyebabkan ketidakmampuan dalam mengevaluasi informasi dan membuatkeputusan, yang diperkirakan menimbulkan kerugian global sekitar $1 triliun (Rensselaer Polytechnic Institute, 2024).Setiap individu mengelola sejumlah besar informasi pribadi melalui perangkat yang ada di mana-mana dalam masyarakat informasi. Every individual manages a massive quantity of personal information through ubiquitous devices in information society.Personal information is the information that a per- son creates, find, sends, receives, keeps or organize in any format and under his or her own control (W. P. . Jones, 2008) defined PIM as“Personal information management (PIM) refers to both the practiceand the study of the activities a person performs in order to acquire or create, store, organize, maintain, retrieve, use and distribute the information needed to meet life’s many goals (everyday and long-term, work-related and not) and to fulfill life’s many roles and responsibilities (as parent, spouse, friend, employee, member of community, etc.) (p. 5)”“People use ubiquitous devices to find, keep and organ- ize informationfor their use and to complete their task and duties. Portable devices such as smart phones enabled individuals to manage their personal informationubiqui- tously (Barnes et al., 2019).”Perangkat menciptakan cara tambahan untuk membantu pengguna menanganipekerjaan sehari-harinya dengan informasi (Heider, 2011). PIM menekankan pada organisasi dan pemeliharaan koleksi informasi pribadi di mana item informasi disimpan untuk penggunaan selanjutnya dan penggunaan ulang yang berulang (W. P. . Jones, 2008). Informasi digital telah mengubah skenario manajemen informasi pribadi karena orang mengumpulkan dan menyimpan informasi digital pribadi yang berlebihan dalam perangkat portabel (Reyes, 2016). (P. Zhang & Liu, 2015) menganjurkan bahwa portabilitas dan konektivitas nirkabel ponsel adalah fitur menarik yang terutama memotivasi generasi muda untuk menggunakannya untuk PIM mereka. Penggunaan ponsel untuk PIM telah mendapatkan popularitas karena "prinsip kapan pun dan di mana pun" (Zhang, 2016). Efikasi diri terhadap ponsel dapat meningkatkan kemampuan individu untuk mengelola PIM berbasis seluler mereka. Efikasi diri seluler didefinisikan sebagai kepercayaan diri dan kemampuan yang dirasakan individu terhadapkemampuannya untuk menggunakan ponsel (Compeau & Higgins, 1995). Literatur menetapkan bahwa individu yang memiliki efikasi diri yang kuat membantu diri mereka sendiri untuk menggunakan perangkat tertentu secara efektif (Shea & Bidjerano, 2010).Ponsel pintar juga memiliki banyak fitur seperli kapasilas penyimpanan yang besar, sensor, berbagai aplikasi, ekonomis, miniaturisasi perangkat komputasi dan sifatnya yang ada di mana-mana; hal tersebut menjadikan ponsel pintar sebagai perangkat PIM yang umum (Khan et al., 2021). Manajemen informasi pribadi yang efektif membantu orang memanfaatkan sumber daya mereka dengan lebih baik termasuk waktu, uang, dan energi (Warraich et al., 2018). Mengelola informasi pribadi melalui perangkat portabel memiliki banyak manfaat. Namun, masih terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan perangkat keras seluler yang belum sepenuhnya andal, basis data yang belum optimal untuk dikembangkan, serta tingginya volume data yang dihasilkan dari berbagai bentuk representasi informasi pribadi (Heider, 2011). Namun, penelitian telah menemukan bahwa orang masih menghabiskan banyak waktu dan upaya untuk mengelola informasi mereka (Bergman & Whittaker. 2016; Fourie, 2011). Penelitian telah dilakukan mengenai dampak tablet dan ponsel terhadap pencarian informasi (Ebiye, 2015); praktik penyimpanan dan pengorganisasian informasi pribadi (Z. Zhang, 2016); efikasi diri internet dan pencarian informasi (Yang, 2015) dan aktivitas pemrosesan berita mahasiswa di ponsel dalam hal menemukan, menerima, membaca, menyimpan, dan berbagi (Tang & Oh, 2022).Meskipun penelitian mengeksplorasi praktik PIM berbasis ponsel dan dampakefikasi diri seluler, efikasi diri internet pada berbagai aspek praktik PIM. Namun, belum ada penelitian komprehensif yang diselidiki mengenai hubungan antara efikasi diri seluler dan praktik PIM (menemukan, menemukan kembali, menyimpan, dan mengatur informasi) secara holistik, terutama dalam konteks negara berkembang. Selain itu, Bergman & Whittaker (2016) menyarankan agar praktik PIM dalam teknologi seluler diselidiki. ~ Studi ~ saat ini bertujuan untuk menyelidiki praktik PIM(menemukan/menemukan kembali informasi, menyimpan, dan mengatur) melaluiperangkat yang ada di mana-mana dan tingkat efikasi diri seluler yang berasal dari Teori Kognitif Sosial (STC).Pokok permasalahan mahasiswa dalam personal information management yaitu 1) mahasiswa terpapar informasi dalam jumlah besar setiap hari, baik dari media sosial, platform akademik, e-learning, maupun aplikasi komunikasi. Volume informasi yang besar ini menyebabkan information overload, yang dapat mengganggu kemampuan mereka untuk memproses informasi secara efektif, 2) Mahasiswa sering kali tidak menyadari pentingnya mengelola informasi pribadi secara efektif. Akibatnya, mereka tidak memiliki strategi yang jelas dalam menyimpan dan mengatur informasi penting, yang berdampak pada produktivitas dan keberhasilan studi mereka.Urgensi pada penelitian ini yaitu 1) dengan meningkatnya digitalisasi pendidikan, penting untuk memahami bagaimana mahasiswa mengelola informasi mereka agar dapat merancang pendekatan pembelajaran dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, 2) Praktik PIM yang buruk dapat berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas, mencari referensi, serta merespons tuntutan akademik secara efisien. Maka dari itu, pengelolaan informasi pribadi yang efektif berkontribusi langsung pada pencapaian akademik, 3) Hasil dari penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang intervensi pendidikan digital, pelatihan PIM, dan pengembangan aplikasi edukatif yang mendukung literasi informasi mahasiswa di era digital.Personal Information Management (PIM)Personal Information Management sebagai pendekatan terpadu dari tiga konsep manajemen pengetahuan pribadi, manajemen informasi pribadi, dan literasi informasi — merupakan pendekatan yang tepat dan komprehensif terhadap isu-isu ini dengan area minat yang saling tumpang tindih dan saling melengkapi (Swigor’n, 2013). Informasi pribadi, dalam konteks ini, mengacu pada dokumen milik individu yang berada di bawah kendali langsung mereka. Dokumen-dokumen ini tidak selalu berisi informasi tentang individu itu sendiri. Informasi dalam koleksi pribadi dapat mencakup dokumen, halaman web, pesan email, dan tautan ke koneksi, yang mungkin berguna dalam tugas terkait pekerjaan dan tugas lainnya. Pengambilan informasi secara tradisional difokuskan pada pencarian informasi atau dokumen di ruang yang sebagian besar tidak dikenal, seperti Web, basis data, atau koleksi perpustakaan. Perlu ada penekanan lebih pada pengorganisasian dan manipulasi koleksi informasi pribadi. Manajemen informasi pribadi (PIM) mengacu pada aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan ini (Chaudhry & Alajmi, 2024).PIM menekankan pada pemeliharaan koleksi informasi pribadi, seperti informasi dalam bentuk dokumen kertas maupun bentuk digital yang nantinya akan digunakan kembali. Pergeseran dari pengelolaan informasi pribadi di atas kertas atau di komputer desktop ke pengelolaan informasi di berbagai perangkat seluler dan platform daring telah mengubah praktik PIM (Alon & Nachmias, 2023a). Mereka mengkategorikan aktivitas pengelolaan informasi digital pribadi (PIM) ke dalam tiga kelompok aktivitas yang berbeda, yaitu aktivitas menemukan/menemukan kembali, aktivitas menyimpan, dan aktivitas meta-level. Dalam lingkungan yang semakin kompleks di mana orang secara rutin menangani sejumlah besar informasi, individu terus-menerus ditantang untuk mengelola dan secara efektif menggunakan informasi yang menjadi tanggung jawab mereka. Aktivitas PIM membangun, menggunakan, dan memelihara pemetaan antara informasi dan kebutuhan (Arshad et al, 2023). Studi dalam literatur manajemen informasi pribadi (PIM) memperdalam pemahaman kita tentang berbagai aspekorganisasi informasi pribadi. Penting untuk dicatat bahwa organisasi informasi pribadi tidak masuk akal tanpa memperhitungkan pemilik informasi, yang berbeda dari organisasi informasi nonpribadi. (Oh, 2019) Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa Personal Information Management (PIM) merupakan praktek dalam pengelolaan dan pemeliharaan koleksi informasi pribadi, yang mana informasi pribadi tersebut meliputi dokumen kertas maupun elektronik, pesan email, foto digital, referensi halaman web, catatan tulisan tangan, dll. informasi-informasi tersebut disimpan dan dikelola untuk digunakan kembali secara berulang. Secara keseluruhan, PIM tidak hanya membantu mengatur informasi, tetapi juga membekali individu dengan alat yang diperlukan untuk menavigasi transisi kehidupan secara lebih efektif (Alon, 2023). Praktik PIM terutama mencakup kegiatan menemukan dan menemukan kembali. PIM adalah cara mengatur atau mengkategorikan ruang informasi pribadi sedemikian rupa sehingga seseorang dapat dengan mudah menemukan informasi yang dibutuhkan kapan pun ia membutuhkannya (Haider et al., 2022).Model PKIM terdiri dari dua bagian: (a) komponen rantai nilai pengetahuan dan informasi dan (b) spektrum kompelensi (erkait. Inti dari model ini adalahmetakompetensi, misalnya kreativitas, berpikir kritis, analisis, refleksi, dan pemahaman.Metakompetensi tidak cukup disorot dalam model tiga konsep bawahan. Sementara itu, metakompetensi diperlukan untuk menggunakan semua keterampilan dan kompetensi lainnya. Dengan kata lain, untuk pembelajaran, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah yang efektif, kompetensi kognitif, sosial, dan fungsional harus dilengkapi dengan metakompetensi. Kompetensi PKIM dapat disebut kompetensi abad ke-21. Kompetensi ini mencakup apa yang disebut keterampilan transversal, keterampilan belajar seumur hidup, dan berbagai literasi, yang semuanya diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat berbasis pengetahuan, baik dalam lingkup kehidupan pribadi maupun profesional. Untuk menyederhanakan model, hanya tiga komponen utama siklus hidup pengetahuan dan informasi yang disajikan: memperoleh, menciptakan, dan berbagi.Namun, semua aktivitas dan proses dapat dijelaskan di bawah label ini. Sifat umum dan elastis dari model PKIM menyiratkan kegunaannya dalam berbagai penelitian di masa mendatang, misalnya dalam kelompok pengguna informasi yang berbeda dan lingkungan serta konteks yang berbeda. Skala PKIM, yang dijelaskan di bagian berikutnya, dapat membantu dalam studi empiris di lingkungan akademis. Berikut ini gambar Model manajemen pengetahuan dan informasi pribadi (PKIM).KnowledgeandinformationAcQUIRECogntvecompetencekrowiedge)FunctionalMetacompetence(facitatingfecrming/KnowlsdzeandinformationCREATEKnowledgeSocil ompetence(behariaurs and atttudes)Gambar 1. Model manajemen pengetahuan dan informasi pribadi (PKIM)(Swigon, 2013) Aktivitas PIM merupakan upaya untuk menetapkan, menggunakan, dan memelihara pemetaan antara informasi dan kebutuhan, baik yang aktual, yang dipersepsikan, atau yang diantisipasi. Gambar 1 menggambarkan pemetaan antara informasi dan kebutuhan serta aktivitas PIM yang bekerja dengan pemetaan ini.Informasi dapat datang sebagai komentar yang didengar dari seorang teman, papan reklame yang terlihat dalam perjalanan ke kantor, surat melalui pos, atau sejumlah item digital termasuk dokumen elektronik, pesan email, halaman web, pesan teks, dan tweet.Kebutuhan dapat muncul dari sumber internal atau eksternal. Seseorang mungkin ingat, misalnya, bahwa ia perlu membuat reservasi pesawat untuk perjalanan yang akan datang.Kebutuhan tersebut dapat muncul dari pertanyaan yang diajukan oleh seorang kolega di lorong atau permintaan manajer selama rapat. Kebutuhan eksternal juga dapat ditimbulkan oleh item informasi, seperti pesan email atau formulir berbasis web.Information Mapping NeedsSmoothjazz in QMP3 fileRemindab Bob ofmeetingMeetingtimeO Listen torelaxingmusicBows % M-level activitiesphonenumber——lyKeeping activities Finding activitiesGambar 2. Aktivitas PIMAktivitas PIM dipandang sebagai upaya untuk membangun, menggunakan, danmemelihara pemetaan antara kebutuhan dan informasi. Aktivitas penyimpanan dan pencarian digerakkan oleh interupsi (seperti yang dipicu oleh informasi atau kebutuhan yang masuk). Aktivitas tingkat M (meta-level) memiliki fokus yang lebih luas dan lebih strategis sifatnya. Menghubungkan antara kebutuhan dan informasi adalah pemetaan.Hanya sebagian kecil dari pemetaan yang memiliki representasi eksternal yang dapat diamati. Sebagian besar pemetaan hanya memiliki keberadaan yang dihipotesiskan dalam ingatan seseorang. Sebagian besar pemetaan bersifat potensial dan tidak terwujud dalam bentuk apa pun, eksternal atau internal. Fungsi sortir atau fasilitas pencarian, misalnya, memiliki potensi untuk memandu dari kebutuhan ke informasi yang diinginkan. Namun, bagian dari pemetaan dapat diamati dan dimanipulasi. Folder sistem pengarsipan (baik untuk informasi kertas atau digital), tata letak desktop (fisik atau virtual), dan pilihan nama, kata kunci, dan properti lainnya untuk item informasi semuanya membentuk bagian dari jalinan yang dapat diamati yang membantu merajut kebutuhan dengan informasi. Kegiatan PIM (W. Jones et al., 2017) dapat dikelompokkan dan saling terkait dengan mengacu pada Gambar 1 sebagai berikut:1. Menjaga aktivitas (Keeping Activities) memetakan dari informasi yang ditemukan ke kebutuhan (langsung atau yang diantisipasi). Pengelompokan ini mencakup keputusan mengenai apakah akan memperhatikan informasi sejak awal dan,kemudian, apakah akan melakukan upaya apa pun untuk menyimpan informasitersebut. Beberapa informasi — waktu pada jam atau skor olahraga, misalnya -"dikonsumsi" segera tanpa perlu menyimpan informasi tersebut untuk aksesselanjutnya. Sebagian besar informasi yang ditemukan orang diabaikan begitu saja Agar sebagian informasi yang ditemukan disimpan untuk penggunaan selanjutnya, muncul pertanyaan mengenai bagaimana informasi tersebut harus disimpan.Haruskah item informasi ditumpuk (di mana?), diarsipkan (folder mana?), diberi tag (dengan tag yang mana?), atau disimpan dalam memori?2. Aktivitas menemukan/menemukan kembali (Finding/re-finding activities)memetakan dari kebutuhan ke informasi. Pengelompokan ini mencakup kueripencarian eksplisit sebagaimana yang diposting ke layanan pencarian berbasis Web alau ke fasilitas pencarian berbasis desklop komputer. Pengelompokan ini juga mencakup berbagai aktivitas penyortiran, navigasi, dan “mencari-cari’ yang digunakan orang untuk mendapatkan kembali informasi untuk digunakan kembali.3. Aktivitas tingkat meta (Meta-level activities) berfokus pada pemetaan itu sendiri sebagai cara menghubungkan informasi dan kebutuhan. Aktivitas tingkat meta mencakup upaya untuk memelihara (melalui pencadangan, pembersihan berkala, pembaruan, dan koreksi) dan mengatur (melalui skema penumpukan, pengarsipan, atau penandaan) informasi; mengelola privasi, keamanan, dan aliran informasi (misalnya, melalui langganan, pertemanan, kebijakan pengungkapan, firewall, perlindungan virus); mengukur dan mengevaluasi (bagaimana alat dan strategi pendukung bekerja?); dan memahami dan menggunakan informasi pribadi (“Apayang informasi tersebut sampaikan kepada saya? Apa yang harus saya lakukan?”).
Method
Desain penelitian yang digunakan yaitu desain penelitian survey mengenai personal information management mahasiswa aktif program studi perpustakaan dan sains informasi FIP UPI tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif. Analisis data dengan bantuan aplikasi SPSS. Partisipan pada penelitian ini yaitu mahasiswa aktif pada tahun 2025 dengan jumlah 354 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel 100. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner.
Result & Discussion
Re-Finding InformationGambaran dari sub variabel finding information ditinjau dari beberapa indikator yangada di dalamnya yaitu penemuan informasi yang pernah ditemukan (re-finding) dan penemuan informasi yang baru (new-finding). Pada sub variabel ini terdapat 9 butir pernyataan yang dijabarkan sebagai berikut : Tabel 1. Gambaran sub variabel finding information No Piliilhi:h an Jawabb: an Skor Total “Skor Idcal PersentaseSS S RR TS STS1 40 47 3 0 0 397 450 88.222 31 54 5 0 0 386 450 85.783 18 61 9 0 0 361 450 80.224 6 64 19 1 0 345 450 76.675 11 58 15 4 0 340 450 75.566 9 56 15 7 2 330 450 73.337 14 66 9 0 0 361 450 80.228 9 60 19 1 0 344 450 76.449 17 52 11 8 0 342 450 76.00Total 3206 4050Rata-rata 79,16%Hasil perhitungan di atas mengenai sub variabel finding information terdiri dari 9 butir pertanyaan. Adapun perhitungan rata-rata dari keseluruhan sub variabel finding information dalam persentas sebagai berikut:Persentase Skor = (Total Skor: Total Indeks Maksimum) x 100%=(3206:4050) x 10096=79,16%Hasil dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa total skor jawaban terkait sub variabel finding information sebesar 3206 dan diketahui nilai indeks maksimum sebesar 4050, sehingga dapat diketahui persentase jawaban responden sebesar 79,16 % yang menunjukkan persepsi responden dalam kategori baik. Skor tertinggi untuk pada sub variabel ini terdapat pada pernyataan nomor 1 dengan jumlah skor 397 dan persentase 88,22 % mengakses kembali website yang sama untuk menemukan informasi yang telah dicari sebelumnya. Sedangkan skor terendah terdapat pada penyataan nomor 6 dengan jumlah skor 330 dan persentase 73,33 % mengenai merasa kesulitan menemukan informasi pada penyimpanan pribadi saya karena informasi yang menumpuk.Keeping and Organizing InformationGambaran dari sub variabel keeping and organizing information ditinjau dari beberapa indikator yang ada di dalamnya yaitu penyimpanan informasi (keeping information) dan pengorganisasian informasi (organizing information). Pada sub variabel ini terdapat 12 butir pernyataan yang dijabarkan sebagai berikut : Tabel 2. Gambaran sub variabel keeping and organizing informationPilihan JawabanNo 3 s RR TS STS Skor Total Skor Ideal — Persentase10 15 61 11 1 0 354 450 78.6711 15 64 10 0 0 361 450 80.2212 10 53 15 11 0 329 450 73.11 13 26 55 6 2 0 372 450 82.6714 12 60 12 4 0 344 450 76.4415 4 59 16 8 2 322 450 71.5616 21 54 12 2 0 361 450 80.2217 14 7 19 9 0 333 450 74.0018 9 64 15 0 2 348 450 77.3319 18 52 16 1 3 351 450 78.0020 5 63 14 4 2 329 450 73.1121l 6 53 26 2 2 326 450 72.44Total 4130 5400Rata-rata 76,48%Hasil perhitungan di atas mengenai sub variabel keeping and organizinginformation terdiri dari 12 butir pertanyaan. Adapun perhitungan rata-rata dari keseluruhan sub variabel keeping and organizing information dalam persentas sebagai berikut:Persentase Skor = (Total Skor: Total Indeks Maksimum) x 100%= (4130:5400) x 10096=76,48%Hasil dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa total skor jawaban terkait sub variabel keeping and organizing information sebesar 4130 dan diketahui nilai indeks maksimum sebesar 5400, sehingga dapat diketahui persentase jawaban responden sebesar 76,48 % yang menunjukkan persepsi responden dalam kategori baik. Skor tertinggi untuk pada sub variabel ini terdapat pada pernyataan nomor 13 dengan jumlah skor 372 dan persentase 82,67 % memiliki klasifikisasi khusus untuk menyimpan informasi (misalnya untuk informasi tertentu disimpan pada local disk (C), local disk (D), local disk (E) dst.).Sedangkan skor terendah terdapat pada penyataan nomor 15 dengan jumlah skor 322 dan persentase 71,56 % menggunakan media penyimpanan online (seperti google drive, cloud, dll)Meta LevelGambaran dari sub variabel meta level ditinjau dari beberapa indikator yang ada di dalamnya yaitu maintaining information dan managing the flow of information. Pada sub variabel ini terdapat 12 butir pernyataan yang dijabarkan sebagai berikut : Tabel 3. Gambaran sub variabel meta levelPilih: b:No ilihan Jawaban Skor Total Skor Ideal — PersentaseSS S RR TS STS22 14 63 12 0 0 358 450 79.5623 10 68 8 3 0 352 450 78.2224 12 3 14 0 0 354 450 78.6725 14 61 12 2 0 354 450 78.6726 10 58 13 5 3 334 450 74.2227 8 72 4 2 3 347 450 77.11 28 3 58 28 0 0 331 450 73.5629 4 51 18 15 1 309 450 68.6730 2 59 17 11 1 320 450 71.1131 6 66 14 3 0 342 450 76.0032 12 63 13 1 0 353 450 78.4433 9 66 13 0 1 349 450 77.56Total 4103 5400Rata-rata 75,98%Hasil perhitungan di atas mengenai sub variabel meta level terdiri dari 12 butir pertanyaan. Adapun perhitungan rata-rata dari keseluruhan sub variabel meta level dalam persentas sebagai berikut:Persentase Skor = (Total Skor: Total Indeks Maksimum) x 100%= (4103:5400) x 10096=75,98%Hasil dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa total skor jawaban terkait sub variabel meta level sebesar 4103 dan diketahui nilai indeks maksimum sebesar 5400, sehingga dapat diketahui persentase jawaban responden sebesar 75,98 % yang menunjukkan persepsi responden dalam kategori baik. Skor tertinggi untuk pada sub variabel ini terdapat pada pernyataan nomor 22 dengan jumlah skor 358 dan persentase 79,56 % melakukan back-up (pencadangan) untuk mengantisipasi kehilangan data.Sedangkan skor terendah terdapat pada penyataan nomor 29 dengan jumlah skor 309 dan persentase 68,67 % memikirkan media digital yang tepat untuk membagikan informasi (media digital whatsapp, Instagram, facebook, dsb.).Pembahasan PenelitianAktivitas Personal Information Management (PIM) Mahasiswa PerpusinfoAktivitas PIM mengacu pada tiga kegiatan, yaitu kegiatan penemuan informasi (finding information), kegiaan penyimpanan dan pengelolaan informasi (keeping and organizing information) dan kegiatan meta level. Pembahasan terkait ketiga aktivitas PIM akan diuraikan berikut iniPenemuan Informasi (Finding Information)Pencarian informasi dilakukan dengan cara browsing, membaca daftar isi, katalog maupun membaca cepat suatu referensi kemudian memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara, dan teknik penemuan informasi, serta sumber informasi yang dikunjungi mahasiswa yang menjadi responden untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.Understanding mobile information-seeking behavior of college students at different locations will offer valuable insights as many academic libraries are creating new initiatives and service profiles for mobile library users (Lee & Song, 2015). Aktivitas penemuan informasi mahasiswa yang menjadi responden diantaranya dengan cara mengakses website sumber informasi dan menjelajah (browsing) ke semua source untuk meperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan.Improving our information or knowledge societies depends on the quickprovision of all types of information with spending as low as possible in terms of financial as human resources. During the last decades, the amount ofproduction in the information field is rapidly growing. Information produces and gets outdated in a flash time in our so-called information society(Khanum & Bashir, 2021). This type of information-seeking behaviorfrequently leads the individual to active searching, ‘the principal modei’n the process of seeking more information. Therefore, this type also engages the individual as an active information seeker (Costa & Camargo-Plazas, 2023).Pengungkapan penelusuran informasi dapat ditinjau dari metode dan perangkat yang digunakan. Dalam konteks digital, penelusuran informasi dilakukan melalui media atau perangkat elektronik, seperti mesin pencari, OPAC, dan sumber informasi lain yang tersedia di internet. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang menjadi responden cenderung lebih sering memanfaatkan media digital untuk mencari informasi.Mahasiswa yang menjadi respoden mengakses kembali website yang sama untuk menemukan informasi yang telah dicari sebelumnya. Para pengguna awal (early adopters) merupakan kelompok yang paling terampil dalam mencari informasi dan menggunakan pencarian secara daring, temuan lainnya juga mengungkap bahwa para partisipan memiliki beragam cara dalam memastikan keaslian informasi, seperti memeriksa sumber, melakukan verifikasi terhadap sumber informasi, dan meninjau riwayat informasi tersebut. Namun demikian, hanya sedikit yang menggunakan alat bantu untuk mengecek kredibilitas informasi, kemungkinan karena kurangnya pengetahuan atau kesadaran terhadap keberadaan alat tersebut.The study finds that early adopters are the most adept at seeking information about, and using, online tools. Consequently, they experience the least stress around information seeking about online tools (Hepworth et al., 2018). The study’s findings showed that the participants follow different practices to confirm the authenticity of the information. Many participants were found to check the source of information, verifying the sources, and checking the history of the information. Simultaneously, tools to check the credibility of the information were found not to be used by many individuals, which may result from unawareness of the tools used for such purpose (Shehata, 2021).Penyimpanan dan Pengelolaan Informasi (Keeping and Organizing Information) Pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana metode penyimpanan informasi dan tempat penyimpanan informasi. Responden mengelola informasi dengan cara mengatur file dalam folder-folder atau mengelompokkannya berdasarkan kategori tertentu di penyimpanan pribadi mereka. Tujuannya adalah untuk mempermudah proses pencarian kembali informasi yang telah disimpan. Pengorganisasian folder di komputer merupakan strategi efektif dalam mengumpulkan, mengklasifikasikan, menyusun, menyimpan, serta merawat informasi, sehingga memudahkan dalam menemukannya kembali. Selain itu, responden juga memberi nama pada file informasi berdasarkan judul, subjek, atau dengan label khusus yang mereka buat sendiri, guna memudahkan identifikasi dan penyimpanan. Dengan demikian, pengelolaan informasi yang sistematis ini bertujuan agar data tersusun rapi dan tidak tersebar di berbagai lokasi penyimpanan pribadi, serta mempermudah akses saat informasi tersebut dibutuhkan kembali.Findings partially supported the hypotheses and showed self-efficacy was the strongest predictor of deleting and organizing. This suggests the process of PIM is more efficient and productive when people enjoy interacting with personal information and do not perceive it as a burden. We discuss the results and suggest several implications for research, PIM literacy development, and platform design (Alon & Nachmias, 2023b). The results of the study show that the activity in focus is seamlessly intertwined with other work activities and enacted in a variety of ways that are adapted after other work tasks (than the information seeking in itself) and dependent on individual preferences and routines. Since there is a certain conception of this activity as something that should be carried out in a certain systematic way and since it is something that one as a librarian ought to be good at, it is furthermore often associated with a normative dimension that provokes a sense of guilt among the study participants (Pilerot, 2022).Aktivitas menyimpan informasi sangat penting untuk penemuan informasi di masa yang akan datang. Key findings reveal that inheriting and sharing information play an important part in information acquisition for teachers and that information technology supporting education creates unintentional demands on information management (Diekema & Olsen, 2014). The key findings revealed that most frequently used tools for relocating information once found are downloads on personal computers, self-created digital document (e.g. MSWord, Excel, Google Docs, etc.), URLs and hyperlinks. URLs are the most commonly used elements to save online information for future use. The revelation of their practices establishes that they need appropriate training regarding their personal information management(Ameen, 2016).Penggunaan media penyimpanan online seperti google drive, cloud, dropbox, dsb, dapat mempermudah penyimpanan dan memberikan kemudahan akses dimanapuntidak harus membawa alat penyimpanan data yang memiliki resiko. They keep information on their computer desktops, shared drives, external services, in personal folders, e-mails to themselves, clouds, bookmark lists, websites or favorites lists. The most common device used to retain information is the desktop computer. Other areas include e-mail messages, mobile phones, laptops, flash memory, external hard drives, and tablets.Knowledge workers organize information using differently categorized folders labelled according to subject/topic, time, project, document type, file format, status/version, and geographical region. Most of these workers reported feelings of happiness after performing clean-up exercises to make files easier to find (Alrukaibani & Chaudhry, 2019).Meta LevelAktivitas pada tingkat meta mencakup upaya menjaga dan mengatur informasi, termasuk pengelolaan privasi dan keamanan, pengendalian arus informasi masuk dan keluar, serta evaluasi terhadap informasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami cara menjaga informasi agar tetap utuh dan relevan dengan kebutuhan, serta bagaimana mengelola arus informasi untuk melindungi data pribadi. Salah satu praktik pemeliharaan informasi yang dilakukan oleh responden adalah melakukan pencadangan (backup) dan duplikasi data ke media lain guna mencegah kehilangan informasi.Pencadangan data sangat penting untuk melindungi data dari kerusakan atau kehilangan yang disebabkan oleh bencana alam, kesalahan manusia, atau kerusakan perangkat keras maupun perangkat lunak.Untuk pemeliharaan informasi jangka panjang (lebih dari 10-30 tahun), penting untuk mempertimbangkan nilai informasi tersebut dan memastikan mediapenyimpanan, termasuk perangkat lunak, selalu diperbarui agar informasi tetap dapat diakses di masa mendatang. Pengelolaan arus informasi juga melibatkan pemilihan media yang digunakan untuk menerima dan membagikan informasi. Penggunaan media yang tepat sangat penting mengingat penyebaran hoaks yang dapat membentuk opini publik dan menurunkan kepercayaan (erhadap informasi yang dibagikan. Selain itu, penting untuk memperhatikan privasi dan keamanan informasi pribadi dengan menyeleksi pihak-pihak yang dapat mengakses informasi tersebut. Membagikan informasi pribadi tanpa pertimbangan dapat mempengaruhi privasi individu, sehingga perlu selektif dalam memberikan izin akses. (Lina, 2013)Di era informasi yang cepat dan mudah diakses, penting untuk mengontrolinformasi yang masuk. Menerima informasi tanpa seleksi dapat menyebabkan masuknya informasi yang tidak akurat. Oleh karena itu, perlu memverifikasi kebenaran dan manfaat informasi sebelum menyebarkannya. Informasi yang berkualitas harus akurat, tepat waktu, relevan, dan bermanfaat bagi penggunanya. (Alika, 2022)
Conclusion
Aktivitas personal information management mahasiswa prodi perpustakaan dan sains informasi FIP UPI meliputi penemuan informasi, penyimpanan dan pengelolaan informasi dan meta level. Pencarian informasi dilakukan dengan cara browsing, membaca daftar isi, katalog maupun membaca cepat suatu referensi kemudian memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara, dan teknik penemuan informasi, serta sumber informasi yang dikunjungi mahasiswa yang menjadi responden untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Penggunaan media penyimpanan online seperti google drive, cloud, dropbox, dsb, dapat mempermudah penyimpanan dan memberikan kemudahan akses. Salah satu praktik pemeliharaan informasi yang dilakukan oleh responden adalah melakukan pencadangan (backup) dan duplikasi data ke media lain guna mencegah kehilangan informasi. Pencadangan data sangat penting untuk melindungi data dari kerusakan atau kehilangan yang disebabkan oleh bencana alam, kesalahan manusia, atau kerusakan perangkat keras maupun perangkat lunak.