Kembali
16
1
2025 IKOMIK: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 2798-9607

Knowledge Transfer through the Librarian Sharing Sessions at the Ministry of Marine Affairs and Fisheries, Republic of Indonesia

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses alih pengetahuan (knowledge transfer) yang berlangsung diPerpustakaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui kegiatan "Sesi Berbagi Pustakawan", serta mengidentifikasi tantangan dan strategi yang diterapkan dalam pelaksanaannya. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, dan pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, yaitu pustakawan internal yang telah mengikuti kegiatan tersebut lebih dari lima kali dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara dan observasi sebagai data primer, serta kajian kepustakaan sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses alih pengetahuan berlangsung melalui empat tahapan konversi pengetahuan, yakni sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. Namun, pelaksanaan kegiatan ini dihadapkan pada berbagai hambatan, seperti perbedaan kondisi infrastruktur antarperpustakaan, keterbatasan fasilitas teknologi, serta rendahnya kepercayaan diri pustakawan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Perpustakaan KKP melakukan pembinaan ke berbagai daerah guna menjaring ide dan umpan balik, serta mengadakan pelatihan public speaking bagi pustakawan sebagai bagian dari peningkatan kapasitas dalam berbagi pengetahuan.

Abstract

This study aims to explore the knowledge transfer process that takes place in the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries (KKP) Library through the “Librarian Sharing Session” activity, and identify the challenges and strategies applied in its implementation. This study used a qualitative approach with a case study design, and the selection of informants was done by purposive sampling, namely internal librarians who have participated in the activity more than five times in the past two years. Data collection techniques included interviews and observations as primary data, and literature review as secondary data. The results showed that the knowledge transfer process took place through four stages of knowledge conversion, namelysocialization, externalization, combination, and internalization.However, the implementation of this activity is faced with various obstacles, such as differences in infrastructure conditions between libraries, limited technological facilities, and low librarian confidence. To overcome these challenges, the KKP Library conducts coaching to various regions to capture ideas and feedback, and conducts public speaking training for librarians as part of capacity building in knowledge sharing.
Keywords: Knowledge Transfer · Librarian · KKP Library

Introduction

Archivelago Indonesia Marine Library merupakan perpustakaan khusus yangberada di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.Perpustakaan ini berfungsi sebagai pusat informasi dan dokumentasi yang mendukung pengelolaan serta pengembangan sektor kelautan dan perikanan nasional. Berlokasi di Gedung Mina Bahari IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang terletak di Jl. Medan Merdeka Timur No. 16, Kecamatan Gambir, Kota Administrasi Jakarta Pusat,perpustakaan ini menyediakan berbagai koleksi literatur, data, dan sumber informasi tematik yang berkaitan dengan kelautan, perikanan, serta kebijakan maritim Indonesia.Keberadaan Archivelago Indonesia Marine Library menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung riset, edukasi, dan inovasi kebijakan berbasis pengetahuan di lingkungan KKP.Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan,pustakawan didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.Knowledge transfer merupakan suatu proses sistematis yang melibatkan pengumpulan, pemindahan, dan penyebarluasan pengetahuan yang dimiliki oleh berbagai elemen organisasi—seperti tim kerja, kelompok fungsional, unit bisnis, hingga divisi—dengan tujuan utama untuk menciptakan nilai tambah dan mendukung pencapaian tujuan strategis organisasi.Proses ini berperan penting dalam pengelolaan pengetahuan organisasi karena memungkinkan terjadinya integrasi pengalaman, keahlian, serta informasi kritis yang dapat meningkatkan efisiensi operasional, inovasi, dan keunggulan bersaing perusahaan.Proses alih pengetahuan (knowledge transfer) cenderung kompleks dan menantang untuk dilakukan, karena keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh karakteristik atau jenis pengetahuan yang akan dipindahkan (Siti & Arif, 2019).Proses knowledge transfer terjadi ketika satu kelompok berbagi pengetahuan yang dimilikinya kepada kelompok lain melalui berbagai mekanisme formal maupun informal.Interaksi tersebut dapat berupa kolaborasi proyek, forum diskusi, pelatihan lintas unit, atau kemitraan strategis antar organisasi. Knowledge transfer yang berlangsung secara efektif berkontribusi pada peningkatan kapabilitas organisasi, penciptaan inovasi, dan penguatan daya saing secara berkelanjutan (Mazidah & Laily, 2020). Berdasarkan kajian yang telah dipaparkan, knowledge transfer dapat diartikan sebagai proses sistematis pemindahan pengetahuan dari satu pihak kepada pihak lain dalam suatu lingkungan organisasi yang memiliki kebutuhan dan relevansi terhadap pengetahuan tersebut. Proses ini tidak hanya melibatkan aktivitas berbagi informasi, tetapi juga mencakup adaptasi, pemahaman, dan penerapan pengetahuan dalam konteks kerja yang spesifik. Dengan demikian, knowledge transfer menjadi komponen krusial dalam mendukung efektivitas organisasi, mempercepat proses pembelajaran, serta mendorong peningkatan kapasitas dan inovasi di lingkungan kerja.Perpustakaan di lingkungan KKP, merupakan salah satu perpustakaan yang telah melaksanakan knowledge transfer secara berkala untuk pustakawan pada level kementerian. Belum banyak perpustakaan di level kementerian yang melakukan proses knowledge transfer secara berkala seperti yang dilakukan oleh perpustakaan di lingkungan KKP. Knowledge transfer secara berkala memberikan dampak positif pada pustakawan di perpustakaan lingkungan KKP. Dampak posilil tersebut dapatmemberikan pembelajaran yang berkelanjutan bagi pustakawan di perpustakaan lingkungan KKP.Pustakawan menjadi peranan penting dalam proses knowledge transfer.Pustakawan berpotensi menjadi agen penyebar pengetahuan kepada rekan kerja di lingkungan KKP. Peranan penting tersebut dapat memberikan dampak kepada pihak internal maupun pihak eksternal di lingkungan KKP. Dengan pustakawan yang terus belajar dan berbagi pengetahuan secara terstruktur, maka kualitas layanan pemustaka akan menjadi semakin membaik.Fenomena yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah praktik knowledgetransfer yang berlangsung di lingkungan Perpustakaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dalam konteks ini, pustakawan KKP secara aktif melakukan alih pengetahuan kepada rekan sejawat melalui kegiatan yang dikenal sebagai Sesi Berbagi Pustakawan. Kegiatan ini dilaksanakan secara triwulanan, yaitu setiap tiga bulan sekali, dengan mempertimbangkan ketersediaan waktu, agenda kelembagaan lainnya, serta kesiapan sumber daya manusia (SDM) yangada di lingkungan KKP. Ketertarikan peneliti terhadap penelitian ini didasarkan pada munculnya kesadaran kolektif dan semangat kolaboratif di kalangan pustakawan, yang menunjukkan antusiasme dalam berbagi informasi, memperkuat kapasitas institusi, serta memajukan perpustakaan melalui mekanisme berbagi pengetahuan secara terstruktur dan berkelanjutan.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami secara holistik fenomena apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, yang dijelaskan dalam bentuk katakata dan bahasa, melalui suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Lexy, 2016).Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik purposive sampling, yaitu suatu metode pengambilan sampel secara sengaja berdasarkan kriteriakriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti. Teknik ini digunakan untuk memastikan bahwa informan yang terpilih memiliki relevansi dengan fokus penelitian serta mampu memberikan informasi yang mendalam dan sesuai guna menjawab permasalahan yang dikaji (Raco, 2010).Adapun kriteria informan yang telah peneliti tetapkan yaitu, pustakawan yang terlibat dalam kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan lingkup KKP dan pustakawan internal yang pernah mengikuti kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan lebih dari 5 kali dalam 2 tahun terakhir. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan observasi, wawancara sebagai data primer dan kajian kepustakaan sebagai data sekunder.

Result & Discussion

Penerapan manajemen pengetahuan di lingkungan perpustakaan, khususnyamelalui proses knowledge transfer antar pustakawan di lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dapat dianalisis melalui empat model konversi pengetahuan, yaitu sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. Masing-masing proses ini dapat dilaksanakan melalui berbagai pendekatan, seperti diskusi langsung, berbagi pengalaman kerja, penerapan pengetahuan yang diperoleh ke dalam praktik nyata, serta proses reflektif yang mendorong terbentuknya pengetahuan baru. Pengetahuan tersebut, pada akhirnya, diinternalisasi oleh pustakawan sebagai bagian dari pengalaman individual yang memperkaya kompetensi profesional mereka.Nonaka dan Takeuchi (1995) dalam (Tobing, 2016) mengatakan bahwapengetahuan dapat dikonversi melalui empat jenis proses konversi, yaitu: Sosialisasi, Eksternalisasi, Kombinasi dan Internalisasi. Keempat jenis proses konversi 92 ini disebut SECI Process (S: Socialization, E: Externalization, C: Combination, dan I: Internalization).KeTacit Knowledge Explicit KnowledgeTacit TR oKnowledge Sosiallail sasi | EksternalisasidariExplicit - aeKnowledge Internalisasi KombinasiGambar 1. Empat model konversi knowledge(Sumber: (Tobing, 2016:15))1. SosialisasiTahapan awal dalam proses alih pengetahuan dimulai dengan sosialisasi, yaitu suatu mekanisme di mana pengetahuan tacit yang bersifat implisit dan sulit didokumentasikan, disampaikan oleh individu kepada orang lain melalui interaksi dan komunikasi langsung. Pada tahap ini, transfer pengetahuan terjadi melalui pengalaman bersama, diskusi informal, observasi, atau keterlibatan dalam aktivitas yang sama.Perpustakaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dituntut untukmelakukan diseminasi terhadap berbagai kegiatan inovatif yang telah dikembangkan, sehingga dapat berfungsi sebagai sarana dalam memperoleh dan menyebarkan pengetahuan baru. Pengetahuan tersebut selanjutnya ditransfer kepada seluruh pustakawan di lingkungan KKP melalui forum diskusi. Dari hasil diskusi tersebut, masing-masing pustakawan diharapkan mampu melakukan sosialisasi lanjutan serta mensimulasikan pengetahuan baru yang telah diperoleh dalam konteks kerja mereka masing-masing. Pustakawan merupakan aset penting dan bernilai strategis bagi organisasi perpustakaan, karena perannya yang vital sebagai penggerak utama dalam menjalankan fungsi kelembagaan. Mengingat posisinya tersebut, pustakawan sebaiknya difasilitasi dengan ruang aktualisasi diri yang memadai. Hal ini dapat berupa forum untuk berbagi informasi, sarana untuk mengekspresikan ide dan gagasan, serta dukungan dalam bentuk program khusus (Isnaini, 2019).Pada tahap ini peneliti akan memfokuskan kajian pada salah satu program diskusi khusus yang telah disosialisasikan, yaitu kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan. Kegiatan ini diselenggarakan secara triwulanan oleh Perpustakaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam bentuk forum diskusi yang melibatkan pustakawan dari seluruh unit kerja di lingkungan KKP, serta turut dihadiri oleh jajaran pimpinan terkait.B ~coeGambar 2. Kegiatan Sesi Berbagi(Sumber: Dokumentasi Peneliti)Kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan berfungsi sebagai wadah diskusi yang membahas berbagai permasalahan, hambatan, serta informasi yang diperoleh dari luar lingkungan perpustakaan, sesuai dengan tema yang diangkat dalam setiap sesi. Melalui proses interaksi ini, isu-isu dan wawasan yang dibagikan dapat dijadikan sebagai dasar evaluasi untuk perbaikan dan pengembangan layanan perpustakaan, serta mendukungpencapaian tujuan organisasi secara lebih efektif.Perpustakaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengembangkan suatu sistem yang mendorong terciptanya budaya berbagi pengetahuan, baik dalam bentuk pengalaman maupun ide. Proses berbagi ini berlangsung secara horizontal antar sesama pustakawan maupun secara vertikal antara pustakawan dan pimpinan, melalui mekanisme komunikasi yang bersifat formal maupun informal.Perpustakaan KKP telah mengembangkan sistem untuk menciptakan budaya berbagi pengetahuan, baik dalam konteks horizontal (antar pustakawan) maupun vertikal (antara pustakawan dan pimpinan), melalui saluran komunikasi formal maupun informal.Sistem tersebut mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:a. Melaksanakan kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan yang diselenggarakan setiap tiga bulan sekali (triwulanan), yang diikuti oleh pustakawan di seluruh lingkup KKP.b. Mengadakan forum diskusi setiap minggu antara pimpinan tertinggi (Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Luar Negeri) dan pustakawan yang berada di bawahnya.Forum ini bertujuan untuk membahas lebih lanjut mengenai pelaksanaan kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan serta surat edaran atau keputusan terkait.c. Menyertakan pustakawan yang memiliki keahlian khusus untuk berpartisipasi dalam kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.d. Melakukan diskusi informal melalui interaksi di grup WhatsApp, yangmemungkinkan pustakawan untuk dengan santai membahas berbagai topik terkait kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan.2. EksternalisasiDalam tahap ini pustakawan di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) didorong untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan sebagai sarana alih pengetahuan atas informasi atau wawasan baru yang telah mereka peroleh. Melalui partisipasi ini, diharapkan tercipta keselarasan dalam penerapan pengetahuan baru tersebut, dengan pendekatan yang disampaikan melalui whatsapp grup secara lebih sistematis dan mudah dipahami oleh para peserta kegiatan.Bisa tangeung diproses , dbantuSie pada st s —3. Peorpustakaan tPol tKP eDkuma i O er *Gambar 3. Proses Knowledge Transfer Whatsapp Grup(Sumber: Pustakawan KKP)Kemampuan WhatsApp dalam mengirimkan pesan secara cepat tanpa penundaan, tetap berfungsi meskipun dalam kondisi sinyal yang lemah, serta mendukung pengiriman data dalam berbagai format seperti teks, gambar, audio, dan video dengan kapasitas besar, menjadikannya sebagai salah satu media alternatif yang efektif untuk menyampaikan informasi. Selain itu, tidak adanya gangguan iklan dalam proses penyebaran informasi semakin memperkuat peran WhatsApp dalam mendukung peningkatan kinerjakomunikasi organisasi (Andi, 2017).Berdasarkan ilustrasi pada gambar 3, dapat terlihat bahwa pustakawan di lingkungan KKP aktif dalam melakukan diskusi informal selama kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan. Diskusi ini dilakukan melalui grup WhatsApp dengan tema kegiatan “Penerapan Standar Nasional Perpustakaan di Lingkungan KKP”. Kegiatan ini terbukti efektif karena memungkinkan pustakawan KKP yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, untuk tetap terhubung dan berpartisipasi dalam pembahasan yang relevan meskipun mereka berada di lokasi yang berbeda-beda. Dengan menggunakan platform komunikasi yang mudah diakses seperti WhatsApp, diskusi dapat dilakukan secara fleksibel dan menyeluruh, memperkuat kolaborasi antar pustakawan di berbagai daerah.Berdasarkan temuan lapangan yang diperoleh peneliti di Perpustakaan KKP, salah satu bentuk dukungan dalam tahapan eksternalisasi adalah melalui kegiatan pendokumentasian.Dalam konteks kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan, dokumentasi dilakukan melalui penulisan notulensi serta perekaman informasi yang disampaikan dan diterima oleh pustakawan selama sesi berlangsung. Notulen merupakan dokumen resmi yang mencatat secara sistematis seluruh rangkaian jalannya suatu acara, mulai dari pembukaan, diskusi permasalahan, penyampaian usulan, proses pengambilan keputusan, hingga penutupan kegiatan (Behori & Alamin, 2018).3. KombinasiTahap kombinasi merupakan proses pengolahan berbagai bentuk pengetahuaneksplisit agar menjadi lebih terstruktur, kompleks, dan sistematis, sehingga dapat disusun ke dalam suatu sistem pengetahuan tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dari fase eksternalisasi kemudian diintegrasikan dan dikembangkan bersama kelompok-kelompok tertentu di dalam organisasi.Dalam penelitian ini, peneliti menemukan salah satu contoh nyata dariimplementasi kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan yang telah menghasilkan inisiatif konkret. Salah satunya terjadi pada tahun 2022, yaitu sesi berbagi yang membahas topik bimbingan literasi informasi. Pada kegiatan tersebut, narasumber yang diundang berasal dari Universitas Pelita Harapan (UPH), yang turut memberikan kontribusi dalam penguatan kompetensi literasi informasi bagi pustakawan.Proses kombinasi yang diterapkan di Perpustakaan KKP dilakukan melalui tahapan pengumpulan, penyebaran, dan pengolahan informasi yang sebelumnya telah dihasilkan pada fase eksternalisasi. Pada tahap eksternalisasi, pengetahuan atau informasi yang telah dirumuskan dalam bentuk laporan kemudian didistribusikan kembali oleh pustakawan, baik kepada rekan sesama pustakawan maupun kepada pimpinan. Gambar 4. Laporan Tahunan 2023 Terlampir Kegiatan Sesi Berbagi (Sumber: Pustakawan KKP)4. InternalisasiProses internalisasi merujuk pada tahapan di mana pengetahuan eksplisit diubah atau diinternalisasikan menjadi pengetahuan tacit, yang lebih bersifat pribadi dan sulit untuk dijelaskan secara verbal. Dalam pembahasan ini, peneliti mengambil contoh dari kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan, di mana interaksi antar pustakawan menjadi lebih dinamis akibat peningkatan frekuensi komunikasi dan pertemuan yang lebih sering.Pustakawan diharapkan memiliki karakter proaktif dan kemampuan komunikasi yang baik, serta mampu menjalin jejaring kerja sama strategis guna mendukung pengembangan perpustakaan, baik di lingkungan internal maupun eksternal institusi yang dikelolanya (Mubarokah & Masruri, 2023). Melalui upaya tersebut, terbentuklah suatu standar kualitas layanan di kalangan pustakawan KKP yang merupakan hasil dari pelaksanaan kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan. Dalam model ini, pustakawan mampu mengadaptasi dan menerapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari kegiatan tersebut ke dalam praktik perpustakaan sehari-hari, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mencapai kepuasan pemustaka Bahari.Berdasarkan hasil lapangan yang dijelaskan di atas Perpustakaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengintegrasikan teori konversi pengetahuan dari Nonaka dan Takeuchi dalam proses knowledge transfer yang diterapkan di lingkungan organisasinya. Pengetahuan dan informasi yang diperoleh dari proses tersebut diolah menjadi laporan formal untuk kemudian disampaikan kepada pihak pimpinan. Seluruh laporan, termasuk dokumen data dan informasi yang telah didokumentasikan, tersedia dan dapat diakses baik secara internal maupun publik. Melalui tahapan internalisasi, proses ini turut berkontribusi pada peningkatan kapasitas pengetahuan sumber daya manusia. Pengetahuan eksplisit dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti basis data organisasi melalui internet, papan pengumuman, surat edaran atau keputusan resmi, serta media massa sebagai sumber eksternal.Hambatan dalam Proses Knowledge Transfer di Perpustakaan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan Upaya untuk Mengatasi Hambatan1. Hambatan-Hambatan dalam Proses Knowledge Transfer pada Kegiatan SesiBerbagi Pustakawan Salah satu hambatan yang diidentifikasi peneliti terletak pada perbedaan kondisi masing-masing perpustakaan di lingkungan KKP, khususnya terkait dengan keterbatasan infrastruktur, seperti permasalahan pada server dan fasilitas pendukung yang belum memadai di sejumlah perpustakaan yang tersebar di berbagai wilayah.Ketersediaan fasilitas yang memadai merupakan salah satu faktor pendukung utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan produktif. Lingkungan kerja yang kondusif tidak hanya meningkatkan kenyamanan pustakawan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap efektivitas dan efisiensi penyelesaian tugas. Dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, pustakawan dapat lebih fokus, termotivasi, dan mampu memberikan layanan informasi secara optimal kepada pemustaka (Lawe, Harindah, & Senduk, 2016). Sebaliknya, keterbatasan fasilitas berpotensi menurunkan kualitas kerja dan menghambat pencapaian tujuan organisasi perpustakaan.Selain kendala teknis, hambatan lain yang dihadapi oleh pustakawan di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam pelaksanaan kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan adalah rendahnya tingkat kepercayaan diri saat menyampaikan materi.Kondisi ini umumnya disebabkan oleh keterampilan public speaking yang masih terbatas, sehingga beberapa pustakawan merasa kurang siap atau canggung ketika harus berbicara di hadapan rekan sejawat maupun pimpinan.Kurangnya kemampuan komunikasi verbal yang efektif dapat memengaruhipenyampaian informasi secara optimal serta menghambat proses transfer pengetahuan yang menjadi tujuan utama kegiatan tersebut. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dalam bidang komunikasi, khususnya keterampilan berbicara di depan umum, menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kompetensi pustakawan.Kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) bukanlah keterampilan yang secara alami dimiliki oleh setiap individu, dan tidak semua orang dapat melakukannya dengan efektif. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakteristik, kepribadian, serta latar belakang pengalaman masing-masing individu (Sulistiorini, Marina, Nafisa, & Silvi, 2019). Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan, gaya komunikasi, dan cara penyampaian informasi yang berbeda, sehingga kemampuan dalam public speaking sangat dipengaruhi oleh faktor internal seperti kepercayaan diri, kecemasan, serta pengalaman sebelumnya dalam berbicara di hadapan publik.Meskipun sebagian pustakawan KKP masih merasa kurang percaya diri saat harus tampil di hadapan publik, hal tersebut tidak menghalangi partisipasi aktif mereka dalam berbagai forum diskusi, khususnya dalam kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan. Para pustakawan tetap menunjukkan keterlibatan yang positif dengan memberikan kontribusi pemikiran dan masukan, baik sebelum kegiatan dimulai maupun setelah kegiatan selesai.Partisipasi ini mencerminkan adanya komitmen untuk saling berbagi pengetahuan dan mendukung proses pengembangan kapasitas profesional di lingkungan perpustakaan KKP, meskipun tantangan personal dalam hal komunikasi publik masih menjadi kendala yang dihadapi oleh sebagian individu.2. Upaya-upaya untuk Mengatasi Hambatan dalam Proses Knowledge Transfer pada Kegiatan Sesi Berbagi PustakawanSalah satu strategi yang diterapkan untuk mengatasi ketimpangan kondisi fasilitas di perpustakaan-perpustakaan lingkup KKP, khususnya yang berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur seperti server dan sarana pendukung lainnya di berbagai daerah, adalah melalui kegiatan pembinaan lapangan. Pembinaan ini dilaksanakan secara langsung di unit-unit perpustakaan daerah secara berkala setiap tahun.Tujuan dari kegiatan ini tidak hanya untuk memberikan pendampingan teknis dan manajerial, tetapi juga sebagai sarana menjaring aspirasi, ide, serta umpan balik dari pustakawan di daerah. Hasil dari pembinaan ini kemudian menjadi masukan berharga dalam merancang dan menyempurnakan pelaksanaan Sesi Berbagi Pustakawan pada periode selanjutnya, agar lebih relevan dan adaptif terhadap kebutuhan serta tantangan yang dihadapi di berbagai wilayah.Untuk mengatasi tantangan terkait kurangnya kepercayaan diri yang dialami oleh pustakawan, Perpustakaan KKP berinisiatif menyelenggarakan kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan yang difokuskan pada pengembangan keterampilan public speaking.Kegiatan ini diranu.—…g untuk membantu puslakawan mengalasi rasa kurang percaya diri, yang sering kali menjadi hambatan meskipun mereka memiliki kemampuan yang memadai.Banyak pustakawan yang sebenarnya kompeten dalam bidangnya, namun merasa canggung atau ragu ketika harus berbicara di depan umum. Dengan adanya pelatihan dan kegiatan yang mendukung pengembangan kemampuan berbicara di depan publik, diharapkan pustakawan dapat lebih percaya diri dan efektif dalam menyampaikan informasi serta berpartisipasi dalam kegiatan berbagi pengetahuan.

Conclusion

1. KesimpulanBerdasarkan temuan dan pembahasan yang telah disampaikan sebelumnyamengenai proses transfer pengetahuan melalui kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan di lingkungan perpustakaan KKP, yang bertujuan untuk menciptakan proses pembelajaran yang berkelanjutan baik secara horizontal, vertikal, maupun dari bawah ke atas, khususnya dalam bidang keperpustakaan, dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan KKP menerapkan metode transfer pengetahuan melalui empat model utama. Keempat model tersebut meliputi proses sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi.Berdasarkan proses-proses tersebut, kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:a. Di Perpustakaan KKP, proses sosialisasi pengetahuan baru dilakukan dengan melibatkan seluruh pustakawan di lingkungan KKP melalui penyelenggaraan kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan, yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali (setiap triwulan).b. Proses eksternalisasi di Perpustakaan KKP dilakukan dengan mendokumentasikan pemikiran yang dihasilkan dari kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan dalam bentuk notulensi, serta merekam informasi yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Informasi ini kemudian disusun dalam bentuk laporan dan disebarkan melalui diskusi sebagai bentuk penyebaran pengetahuan.c. Proses kombinasi di Perpustakaan KKP dilakukan dengan mentransfer,mengumpulkan, dan mengolah informasi atau pengetahuan yang diperoleh dari tahap eksternalisasi ke dalam laporan tahunan. Selanjutnya, pustakawan KKP dapat mengkombinasikan materi yang telah mereka peroleh dari kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan kembali di perpustakaan KKP.d. Proses internalisasi di Perpustakaan KKP, yang diperoleh melalui kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan maupun laporan dari hasil kegiatan tersebut, menghasilkan standar kualitas layanan yang diterapkan oleh pustakawan KKP. Melalui kegiatan ini, pustakawan memperoleh pengetahuan baru yang tidak hanya meningkatkanpemahaman individu, tetapi juga memperkaya pengetahuan organisasi, dengan tujuan untuk mencapai kepuasan dalam memberikan layanan kepada pemustaka Bahari.Hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan di Perpustakaan KKPterutama terletak pada perbedaan kondisi fasilitas yang ada di setiap lokasi perpustakaan, dengan masalah utama yang berkaitan dengan server dan kurangnya fasilitas yang memadai di perpustakaan yang berada di daerah-daerah. Selain itu, kurangnya rasa percaya diri pada beberapa pustakawan juga menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika mereka diminta untuk menyampaikan informasi atau berbagi pengetahuan dalam kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan. Kedua hambatan ini, yaitu masalah fasilitas dan kekurangan kepercayaan diri public speaking, dapat menghambat pustakawan dalam mengeksplorasi ide-ide baru yang dapat mendorong pengembangan perpustakaan, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kualitas layanan serta inovasi yang seharusnya terjadi dalam lingkungan perpustakaan KKP.2. SaranUntuk mengatasi perbedaan kondisi yang ada di masing-masing perpustakaan,terutama terkait dengan masalah server dan fasilitas yang kurang memadai, Perpustakaan KKP mengambil langkah-langkah pembinaan langsung ke daerah-daerah. Tujuan dari pembinaan ini adalah untuk menggali ide-ide baru serta mendapatkan masukan yang berguna dalam upaya peningkatan fasilitas dan layanan. Selain itu, untuk mengatasi masalah kurangnya rasa percaya diri di kalangan pustakawan, Perpustakaan KKP juga berinisiatif mengadakan kegiatan Sesi Berbagi Pustakawan yang berfokus pada keterampilan public speaking. Dengan kegiatan ini, diharapkan pustakawan dapat meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, sehingga mereka lebih percaya diri dalam menyampaikan pengetahuan dan informasi. Melalui kedua upaya ini, diharapkan berbagai hambatan yang ada dapat diatasi, sehingga pengembangan perpustakaan dan peningkatan kualitas layanan dapat berjalan lebih efektif dan optimal.Peningkatan infrastruktur sebagai landasan untuk melakukan knowledge transfer.Memberikan pelatihan public speaking kepada pustakawan di lingkungan KKP, supaya menambah rasa percaya diri kepada para pustakawan. Setelah itu memantau program knowledge transfer, sehingga dapat menjadikan lingkungan pembelajaran yang efektif dan efisien di lingkungan KKP.