PSIKOLOGI KOMUNIKASI SEBAGAI PENDEKATAN FASE ADAPTASI DI ERA PASCA COVID-19
Institut Agama Islam Negeri (Institut Agama Islam Negeri) Metro; Institut Agama Islam Negeri (Institut Agama Islam Negeri) Metro
Abstrak
Era pasca Covid-19 ditandai dengan seluruh kegiatan dan aktivitas sosial sudah berjalan kembali. Namun era baru menimbulkan permasalahan bagi santri pondok pesantren yang harus melakukan adaptasi kembali setelah lama belajar di rumah (online). Penelitian ini mengelaborasi fase adaptasi kembali dan pendekatan komunikasi yang diimplementasikan santri pondok pesantren. Penelitian menggunakan metode kualitatif eksplanatif dengan pendekatan fenomenologi. Sumber data diperoleh dari enam santri Pondok Pesantren Thoriqul Huda. Hasil penelitian menunjukkan fase adaptasi kembali meliputi; honeymoon, crisis, recovery dan adjustment. Fase adaptasi kembali berjalan secara efektif dengan menggunakan pendekatan psikologi komunikasi pada fase pemulihan (recovery).
Abstract
The post-Covid-19 era is marked by all social activities having resumed. However, the new era poses problems for the students of Islamic boarding schools who have to re-adapt after a long period of studying at home (online). This research elaborates the re-adaptation phase and the communication approach implemented by the students at the Islamic boarding school. The research uses an explanatory qualitative method with a phenomenological approach. Sources of data were obtained from six students of the Thoriqul Huda Islamic Boarding School. The results showed that the re-adaptation phase included honeymoon, crisis, recovery and adjustment. The adaptation phase is running again effectively by using a communication psychology approach in the recovery phase.
Keywords:
Psikologi Komunikasi
· Adaptasi
· Pasca Covid-19
Introduction
Lembaga pendidikan pondok pesantrenmenjadi salah satu aspek pendidikan yang terdampak Covid-19 (Hanafi et al., 2021). Tepatnya pada bulan Maret 2020, pihak pesantren mulai memulangkan seluruh santrinya ke daerah asal mereka. Kebijakan ini diambil menyusul pembelajaran dilaksanakan secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sesuai dengan arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) (Wibisono & Hartono, 2021). Hal ini bertujuan sebagai langkah preventif untuk menekan cluster baru penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren.Pada 26 Juli 2021, Presiden Jokowi mulaimembuka seluruh kegiatan sosial di Indonesia secara bertahap, khususnya aspek pendidikan pesantren (Kadewandana, 2021). Selanjutnya pada 15 Mei 2022, Presiden Jokowi mulai membebaskan masyarakat untuk tidak memakai masker kecuali yang merasa dirinya sakit. Momen ini menjadi permulaandimulainya era pasca Covid-19. Seluruh kegiatan dan aktivitas sosial sudah berjalan kembali seperti era sebelum Covid-19 (Taib & Supriana, 2020). Namun era baru ini menimbulkan berbagai permasalahan di berbagai aspek kehidupan masyarakat.Di era pasca Covid-19, santri pondok pesantren sudah diperbolehkan kembali ke pesantren untuk melanjutkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).Setelah kurang lebih menghabiskan waktu 6 sampai 1 tahun berada di kampung halaman, tentunyasantri mengalami perubahan budaya meliputi sikap, tindakan dan kebiasaan yang berbeda dibandingkan ketika santri masih berada di pesantren. Perbedaan budaya dapat membawa dampak yang signifikanbagi individu santri secara sosio-kultural dan sosiopsikologi yang disebabkan lingkungan sosial danbudaya (Anna, 2013). Oleh sebab itu, para santri membutuhkan tindakan penyesuaian diri atauadaptasi setelah kembali dari kampung halaman dan menempuh era transisi dari era pandemi Covid-19 menuju pasca Covid-19.Karakter pesantren terkenal dengan budayakomunal dan kolektif (Hasyim, 2015) tercermin dari beberapa aktivitas santri seperti kegiatan tidur, ngaji, mandi, penggunaan fasilitas dan berbagai aktivitas lain dilakukan secara bersama-sama (Kamal, 2018).Metode pembelajaran pesantren masih menerapkan sistem bandongan dan sorogan serta menjunjung nilai-nilai tradisi seperti tegur sapa, gotong royong, dan musyawarah (Kholili, 2021). Oleh karena itu, budaya pesantren ini tidak lepas dari kegiatan yang bersifat kebersamaan, berkumpul, berkerumunmembentuk solidaritas di setiap aktivitas santri.Sedangkan segala aktivitas santri harus tetap social distancing dan menggunakan masker bagi yang sakit di masa Covid-19 (Alamsyah, 2021) dan di era pasca Covid-19. Sehingga sifat budaya pesantren bertolak belakang, bertentangan atau kontradiktif dengan budaya New Normal pasca Covid-19.Merespon tersebut, santri sangat perlumelakukan tindakan adaptasi budaya baru. Studi tentang adaptasi atau penyesuaian diri kembali yang dilakukan oleh santri yang sedang mengalami gegar budaya (shock culture) merupakan kajian tentang adaptasi budaya (cultural adaptation) (Ali, 2022, Presbitero, 2016). Adaptasi budaya merupakan sebuah strategi adaptif atau penyesuaian diri dengan budaya baru yang berorientasi pada perubahan secara sosio-psikologi (Fanari et al., 2022). Pelaku adaptasi mempunyai kesadaran tinggi dan harapan maupun tuntutan dari lingkungannya yang baru untuk segera merubah perilaku dan menyesuaikan budaya baru.Proses adaptasi budaya yang dilakukan olehsantri tidak lepas dengan perantara komunikasi (Jackson, 2014). Komunikasi sangat dibutuhkan bagi santri yang sedang mengalami transisi dari budaya kampung halaman menuju budaya pesantren di era pasca Covid-19. Komunikasi antar budaya diperlukan oleh setiap individu untuk melakukan penyesuaian diri secara verbal dan non verbal (Bi’an et al., 2022). Maka tindakan komunikasi bukan hanya sekedar tindakan linier tetapi harus dapat menjadi tindakan transaksional yang bertujuan membentuk transformasi individu maupun sosial (Suherman, 2020). Selain itu, urgensitas kebutuhan komunikasi untuk penyesuaian diri kembali dari setiap santri bertujuan untuk meminimalisir munculnya beberapa masalah seperti stress, gegar budaya (shock culture), kesenjangan budaya (culture lag) (Reut, 2019), sifat stereotype dan sikap etnosentris (Kim, 2017). Adaptasi budaya santri untuk mengurangi permasalahan di atas merupakan salah satu bentuk dari implementasi diskursus komunikasi sosial-budaya. Dengandemikian strategi komunikasi yang efektif akan berdampak pada adaptasi budaya atau penyesuaian diri yang efektif bagi para santri.Penelitian ini mengkaji lebih dalam bagaimana tahapan atau fase adaptasi para santri dalam upayanya menyesuaikan diri kembali dengan budaya pesantren di era pasca Covid-19. Penelitian ini mengacu pada penelitian dengan topik penyesuaian diri mahasiswa yang telah dilakukan oleh Deddy Mulyana dengan menggunakan teori model U-Curve dari Lysgaard (Mulyana & Eko, 2017, Arici, n.d.). Penelitian mendeskripsikan bahwa model U-curve digunakan untuk menganalisis mahasiswa yangsedang mengalami proses adaptasi lintas budaya.Teori dengan model U-Curve menunjukkan bahwa setiap pelajar dalam melakukan penyesuaian diri mengalami 4 fase diantaranya masa ketertarikan, masa krisis, masa pemulihan dan masa penyesuaian (Gutman & Yemini, 2022, Bender, 2022). Selanjutnya, penelitian ini menggunakan teori U-curve Theory of Adaptation. Teori ini menjelaskan bahwa individu ketika melakukan upaya penyesuaian diri dengan budaya baru akan mengalami fase-fase yang dapat diprediksi (Hottola, 2004). Fase-fase adaptasi santri akan selalu mengalami grafik fluktuatif menyesuaikan situasi dan kondisi. Latar belakang munculnya teori diawali dari terjadinya culture shock yang dialami individu. Pada umumnya keadaan yang timbul dari diri pribadi individu adalah stress ketika memasuki lingkungan sosial dengan budaya yang berbeda.Menurut Kalervo Oberg culture shock merupakan tekanan dan kecemasan individu ketika memasuki dan menerima budaya baru (Oberg, 1954). Keadaan psikologis ini menimbulkan sikap kebingungan dan ketidakberdayaan individu karena difusi nilai-nilai sosial dan norma budaya yang berbeda (Ridwan, 2016).
Method
Studi tentang upaya santri dalam beradaptasi (penyesuaian diri) kembali merupakan disiplin komunikasi sosial-budaya. Untuk mengkaji lebih dalam penelitian adaptasi kembali santri menggunakan metode kualitatif yang bersifat eksplanatif dengan pendekatan fenomenologi (Creswell, 2014, WLawrence, 2014). Studi ini dilaksanakan pada era pasca Covid-19 setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membuka semua akses kegiatan masyarakat, khususnya pondok pesantren.Penelitian strategi pendekatan fenomenologidipilih dengan tujuan untuk menggambarkan secara komprehensif tentang pengalaman setiap individu santri dalam upayanya melakukan penyesuaian diri kembali di lingkungan yang telah lama ditinggalkan (Setiawan et al., 2022). Pendekatan ini berupaya untuk mendeskripsikan sebuah makna pengalaman hidup individu santri sesuai pandangan hidup mereka sendiri karena dalam melakukan tindakan adaptasi kembali individu bersifat aktif dalam menafsirkan dan menampilkan perilaku sosial secara subjektif (Del Pino et al., 2022).Sumber data primer diperoleh dari santriPondok Pesantren Thoriqul Huda yang berlokasi di Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur. Pondok Pesantren Thoriqul Hudamerupakan salah satu pondok di Kota Ponorogo yang terkenal masih menjunjung tinggi nilai-nilai salafi dan budaya lokal setempat.Teknik pengambilan data penelitian dilakukan melalui proses wawancara secara mendalam (in depth interview). Teknik wawancara dioptimalisasikan secara primer untuk dapat memperoleh data dari setiap individu santri, bagaimana pengalaman tindakan dalam melakukan penyesuaian diri kembali secara subjektif. Penentuan informan dilakukan dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). Informan utama penelitian yaitu santri, dipilih berdasarkan asal kampung halaman yang letaknya jauh dari lokasi penelitian serta berbeda budaya. Informan utama akan dipilih sejumlah 6 santri yang berasal dari luar Pulau Jawa. Pemilihan sampel ini bertujuan agar informasi yang digali dapat merinci kearah kekhususan data.Data berikutnya diperoleh dari observasi berbagai aktivitas santri secara mendalam dimana peneliti terjun langsung di lapangan (field research). Selain itu data didukung dari kajian-kajian pustaka terdahulu dan yang dianggap relevan dengan penelitian ini.
Result & Discussion
Fase HoneymoonPenyesuaian kembali atau adaptasi kembalimerupakan suatu kondisi yang tidak bisa dihindarkan oleh para santri. Para santri yang telah sekian lama belajar dari rumah (online) merasakan berbagai kondisi yang berbeda ketika mereka mulai untuk kembali ke pondok pesantren. Salah satu yang mereka rasakan adalah perasaan senang (euphoria). Para santri merasa senang karena mereka bisa kembali ke pondok pesantren untuk melakukan berbagai aktivitas belajar dan bertemu dengan teman, ustadz dan kyai. Febriansyah merupakan salah satu santri dari Provinsi Jambi mengatakan bahwa merasa bahagia karena dapat menjalankan aktivitas belajar seperti sebelum pandemi Covid-19;“saya sangat senang, karena bisa belajar lagi di pondok. Kalau di rumah saya membantuorang tua bekerja. Aktivitas tersebutmembuat saya kurang nyaman dan selalumerindukan suasana di pondok yang selaluramai”. Gambar 1. Pemeriksaan Kedatangan Santri Selain itu, mereka juga memiliki rasa yangsangat optimis dalam menjalankan aktivitas belajar mengajar di pondok pasca Covid-19. Rasa optimis ini dikarenakan sikap rasa percaya diri untuk bisa beradaptasi dengan suasana dan budaya baru di masa pasca Covid-19. Kebijakan dan pola hidup yang baru menuntut para santri untuk lebih memperketat kebiasaan hidup sehat. Orientasinya agar tetap selalu menjaga kesehatan lingkungan dan kondisi badan untuk mencegah kembali menyebarnya Covid-19 di lingkungan pesantren. Selain itu, rasa optimis muncul karena bentuk dari sikap tertekan dengan pembelajaran daring selama Covid-19. Pembelajaran daring dirasa kurang efektif dan efisien untuk memahami berbagai mata pelajaran di pesantren. Hal ini ditegaskan oleh Anggiyu Rahman salah satu santri dari Provinsi Batam. Ia mengatakan;“Mau tidak mau harus datang ke pondokbelajar secara offline. Karena kami merasasangat kurang efektif apabila belajar darirumah. Ya ini yang membuat saya percayadiri, bahwa insyaallah Covid-19 akanhilang”.Hasil di atas menunjukkan bahwa pada fasepertama adaptasi kembali yang dirasakan dan dialami oleh para santri di era pasca Covid-19 adalah perasaan senang dan optimis atau honeymoon. Fase pertama, honeymoon ditunjukkan dengan perasaan contact, optimistic dan euphoria. Pada fase ini terjadi ketika individu mengalami ketertarikan kepada situasi, kesenangan, aktivitas budaya baru yang berbeda dengan budaya sebelumnya. Di fase ini, para santri merasakan pengalaman kesenangan dan ketertarikan (excitement) untuk menghadapi era baru pasca Covid-19 di pondok pesantren. Sikap positif ditunjukkan dengan berbagai aktivitas komunikasi verbal maupun non verbal. Pengalaman honeymoon pada komunikasi verbal seperti tegur sapa, bertukar kabar atau ucapan positif kepada teman, orang tua, pengurus pondok, ustadz dan masyarakat di lingkungan pondok pesantren. Selain itu, pengalaman honeymoon pada komunikasi non-verbal ditunjukkan dengan rasa semangat, sikap optimis, antusias dan rasa penasaran.Fase CrisisFase kedua setelah fase honeymoon adalahfase para santri mengalami kondisi krisis dalam diri mereka masing-masing. Fase ini menggambarkan kondisi para santri mulai merasakan resah dan gelisah dengan budaya yang baru di era pasca Covid-19.Salah satu yang membuat mereka mengalami krisis adalah pemberlakukan aturan kebersihan individu dan lingkungan yang sangat ketat. Bukhori salah satu santri dari Provinsi Jambi menuturkan bahwa kebijakan vaksinasi terkadang membuat para santri gelisah dan kebingungan. Ada sebagian santri yang sangat takut divaksin karena phobia dengan jarum suntik dan obat-obatan.Kegelisahan ini ditimbulkan karena adanyafakta tentang efek samping setelah divaksin.Pemberitaan di media sosial yang tidak terbatas dan sangat masif menyebabkan para santri gelisah dan khawatir terkait vaksinasi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi psikologi santri. Wahyu santri dari Kota Palembang mengatakan;“Saya takut divaksin karena testimoni dariorang-orang di media sosial banyak yangnegatif. Sebenarnya saya sudah divaksindua dua kali, namun masih tetap saja takut.Sedangkan kalau sakit lagi di sini jauh dari orang tua”.Gambar 2. Sosialisasi Dinas Kesehatan Selain itu, fase krisis santri juga disebabkan karena kebijakan Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) yang diberlakukan di pondok pesantren.kebijakan ini merupakan hasil dari sosialisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo di pondok pesantren.Pada rapat terakhir pada bulan November 2020, Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo menginstruksikan kepada pengurus pondok pesantren agar menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untukmenghadapi era pasca Covid-19. Instruksi tersebut kemudian diterapkan kepada seluruh santri yang diimplementasikan melalui berbagai aturan dan diberlakukan hukuman bagi yang melanggar.Kebijakan tersebut meliputi; karantina bagi santri sakit, memakai masker untuk yang bergejala, selalu menjaga kebersihan kamar, lingkungan dan peralatan individu serta pemeriksaan kesehatan rutin bagi para santri.Gambar 3. Sosialisasi Ke-2 Dinas KesehatanTerkait kebijakan tersebut, para santrimengalami perasaan kurang nyaman. Para santri menganggap kebijakan ini terlalu mengekangsehingga membuat santri kurang nyaman selama belajar di pondok pesantren. Tambahan pula, perasaan kurang nyaman juga ditimbulkan karena melanggar kebijakan Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) diberlakukan hukuman (punishment). Aminuddin santri dari Provinsi Riau menjelaskan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan sebelum pandemi Covid-19.Ciri khas budaya pesantren yang kolektif dan komunal mulai diredusir. Aktivitas santri seperti kegiatan tidur, ngaji, mandi, penggunaan fasilitas harus selalu dalam pantauan pengurus. Jadi, para santri mengalami kondisi terkungkung dan kurang bebas dengan kebijakan baru tersebut.Fase RecoverySeiring berjalanya waktu, proses adaptasikembali yang dilakukan oleh para santri terus berjalan.Pada fase selanjutnya, santri mengalami pengalaman recovery (reintegration). Pada fase ini para santri mulai untuk beradaptasi dengan keadaan dan kondisi lingkungan sekitar. Para santri mulai memahami alasan sisi keuntungan dan kerugian implementasi budaya baru yang mereka hadapi. Secara umum, fase atau tahapan adaptasi kembali ini cenderung menyadarkan diri individu bahwa setiap keputusan memiliki dampak positif dan negatif. Setiap individu mulai menginternalisasi segala budaya yang ada di lingkungan barunya dan diterapkan pada perilaku atau kebiasaan setiap aktivitas kegiatan individu.Pada fase recovery, setiap individu santrimulai muncul stimulus perasaan senang, bahagia dan menikmati budaya dan kebijakan di pondok pesantren di era pasca Covid-19. Argumentasi ini dijelaskan oleh Muslihin santri dari Jambi; “Secara tidak langsung kami mulaimenikmati kebijakan dan kebiasaan baruini. Tidak mau berlarut-larut dalamperasaan bertentangan dengan aturankarena hanya akan berdampak buruk bagikita. Saya dan teman-teman sudah mulaimenikmati dan menjalani aktivitas sebagaisantri di era pasca Covid ini”.Pembahasan di atas menegaskan bahwa faserecovery (reintegration) menggambarkan bahwa kondisi santri akan selalu bertransformasi menuju keadaan yang adaptif. Untuk bertahan hidup dari budaya dan tekanan lingkungan, setiap individu terus mencoba untuk menemukan solusi yang efektif.Pada proses ini ditandai dengan munculnya stimulus perubahan cara pandang, kebiasaan, perasaan dan hubungan sosial yang lebih baik. Pada intinya, fase ini mengilustrasikan munculnya stimulus atau proses mulai bertransformasinya individu menuju adaptasi sepenuhnya.Fase AdjustmentPada fase yang terakhir, para santri telahberadaptasi sepenuhnya dengan budaya baru di lingkungan pondok pesantren era pasca Covid-19.Fase sepenuhnya menggambarkan bahwa para santri telah menginternalisasi semua nilai, bahasa, norma, kebiasan, aturan dan aspek lainnya. Keseluruhan aspek budaya baru telah diterapkan dalam perilaku dan kebiasaan setiap santri sehingga santri sudah tidak mengalami kondisi seperti cemas, khawatir, gegar budaya (culture shock) dan ketidakpastian (uncertainty).Kondisi para santri tersebut dijelaskan oleh Winarni salah satu santri putri dari Provinsi Jambi.Ia mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu, para santri sudah terbiasa dengan budaya sekarang pasca Covid-19. Para santri harus menaati segala peraturan, khususnya Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS).Bahkan di antaranya, para santri sangat antusias dalam menerapkan Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS).“Kalau untuk saat sekarang, sudah 3 atau 4bulan kita di sini, alhamdulillah para santri sudah terbiasa dengan kebiasaan ini. Di awal banyak yang protes dengan budaya dan peraturan ini bahkan ada yang sakit-sakitan, depresi dan stres. Psikologi mereka terganggu bahkan ada yang pulang ke rumah”.Gambar 4. Kegiatan Belajar MengajarFase adjustment juga ditandai melalui terjalinnya sistem hubungan antara sub-struktur dengan substrukur lainnya. Artinya, di dalam organisasi pondok pesantren setiap divisi atau bagian dari organisasi berjalan secara sistematis dan kooperatif. Hal ini dapat diilustrasikan dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Pondok pesantren Thoriqul Huda mulai berjalan seperti sebelum Covid-19. Substruktur meliputi; santri sebagai peserta didik, ustadz, pengurus dan kyai menjalankan tugasnya masingmasing secara optimal. Hal ini dijelaskan salah satu pengurus pondok, yaitu Ustadz Fikri.“Untuk saat ini kegiatan belajar mengajardan kegiatan kepengurusan sudah berjalandengan baik. Berbeda ketika pertama kali para santri mulai berdatangan, para pengurus dan anggota merasa kebingungan karena munculbanyak masalah seperti; santri yang ketakutan dan tidak nyaman dengan aturan atau budayabaru yang diterapkan”.Pada fase ini individu dapat menyesuaikandiri dengan budaya baru serta dapat menerima cara hidup, bahasa, nilai-nilai, adat dan tradisi orang lain yang berbeda. Pada fase ini estimasi waktu kurang lebih enam bulan sejak kedatangan pertama. Para santri sudah mulai untuk beradaptasi sepenuhnya dengan lingkungan. Kondisi ini ditandai dengan persoalan psikologi, seperti; stres, depresi, gelisah dan khawatir sudah mulai hilang dan kembali ke kondisi yang prima.Proses Komunikasi AdaptasiHasil dari temuan data di atas menunjukkanbahwa perbedaan budaya menuntut individu untuk melakukan penyesuaian diri atau adaptasi melalui konstruksi-kontruksi komunikasi. Sejalan dengan itu, adaptasi kembali santri sangat urgen untuk diaplikasikan dengan tujuan individu santri dapat meminimalisir gegar budaya (shock culture) melalui komunikasi.Terdapat empat fase yang dialami oleh parasantri ketika mereka berproses untuk beradaptasi kembali. Fase pertama, honeymoon meliputi (contact, optimistic, euphoria). Contact ditunjukkan oleh para santri ketika awal kedatangan dengan berkomunikasi kepada teman, ustadz, kyai dan masyarakat pesantren lainnya. Contact artinya upaya berkomunikasi individu dengan individu lain yang bertujuan saling bertukar pesan, bertegur sapa, saling bertukar kabar dan lain sebagainya. Selanjutnya adalah optimistic.Sikap optimis atau percaya diri ditunjukan para santri dengan penuh semangat dan euphoria atau penuh kebahagian menyambut kegiatan belajar mengajar (KBM).Pada fase kedua crisis meliputi perasaan cultural problems, disillusionment, disintegration, frustration.Tahapan ini individu akan mulai merasakanperbedaan dari budaya asal dengan budaya baru.Perbedaan budaya ini menimbulkan pengalaman negatif seperti homesickness, boredom, changing mood, sensitivity, and feeling isolated. Pada kasus santri di pondok pesantren, fenomena ini muncul ditandai rasa kegelisahan dan kekhawatiran berlebihan. Sikap dan perasaan ini menjadi masalah yang menghambat awal fase adaptasi.Pada fase ketiga adalah recovery (reintegration).Tahapan dimana individu mulai mempelajari perilaku dan pola kebiasaan budaya baru. Pada tahap ini individu sudah mulai muncul stimulus perasaan positif, humor dan bahagia. Pada konteks psikologi, santri mulai merasakan kenyamanan, humor dan kondisi positif lainnya.Pada tahap keempat adalah adjustment meliputi perasaan integration, autonomy and independence.Pada tahapan ini individu dapat menyesuaikan diri dengan budaya baru serta dapat menerima cara hidup, bahasa, nilai-nilai, adat dan tradisi orang lain yang berbeda. Pada fase ini estimasi waktu kurang lebih enam bulan sejak kedatangan pertama. Keseluruhan fase adaptasi kembali diilustrasikan pada gambar di bawahGambar 5. Pola Adaptasi KembaliSelanjutnya, berdasarkan pola adaptasikembali di atas memperlihatkan kesiapan individu dalam menghadapi budaya baru sangatlah penting.Proses adaptasi yang sangat lama membutuhkan pengetahuan dan kesiapan mental yang maksimal.Kesiapan adaptasi kembali para santri ditentukan melalui proses komunikasi pada institusi tersebut.Komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok menjadi urgensitas untuk membangun dan menciptakan proses adaptasi kembali yang efektif.Sementara itu, fenomena di Pondok Pesantren Thoriqul Huda menggambarkan proses komunikasi pada fase recovery menjadi kunci keberhasilan proses adaptasi kembali santri. Pada fase recovery para pengurus dan ustadz bertugas untuk memberikan penyuluhan dan edukasi para santri. Hal ini karena fase recovery adalah fase penyembuhan dari fase krisis yang sebelumnya dialami. Fase krisis menggambarkan berbagai persoalan, seperti; khawatir, gelisah, depresi, stress, homesick dan perilaku negatif lainnya.Pola komunikasi yang diterapkan oleh parapengurus Pondok Pesantren sangatlah efektif. Para pengurus menggunakan pola komunikasi dialogis dengan pendekatan psikologi. Komunikasi dialogis adalah komunikasi dua arah antara pengirimpesan dan penerima. Santri sebagai penerima memiliki keleluasaan untuk berkonsultasi dengan para pengurus tentang keadaannya di fase krisis.Kemudian, pengurus merespon apa yang dikeluhkan oleh para santri. Proses komunikasi yang terjadi pada masa recovery ini menggunakan pendekatan psikologi-komunikasi. Pendekatan difungsikan untuk mengidentifikasi kondisi setiap individu melalui proses komunikasi dialogis.
Conclusion
Di era pasca Covid-19, santri pondokpesantren menghadapi proses adaptasi ataupenyesuaian diri kembali setelah sekian lama belajar di rumah (online). Adapun fase adaptasi kembali yang diimplementasikan fase pertama, honeymoon, terjadi ketika individu mengalami ketertarikan kepada situasi, kesenangan, aktivitas budaya baru yang berbeda dengan budaya sebelumnya. Pada fase kedua adalah crisis, individu mulai merasakan perbedaan dengan budaya yang dihadapi. Perbedaan budaya ini menimbulkan pengalaman negatif seperti homesickness, boredom, changing mood, sensitivity, and feeling isolated. Pada fase ketiga adalah recovery, individu mulai mempelajari perilaku dan pola kebiasaan budaya baru. Pada tahap ini individu sudah mulai muncul stimulus perasaan positif, humor dan bahagia. pada tahap keempat adalah adjustment, individu dapat menyesuaikan diri dengan budaya baru serta dapat menerima cara hidup, bahasa, nilainilai, adat dan tradisi orang lain yang berbeda.Pendekatan komunikasi yangdiimplementasikan pada fase-fase adaptasikembali santri adalah menggunakan pendekatan psikologi komunikasi. Tujuan pendekatan adalah mengidentifikasi kondisi setiap individu melalui proses komunikasi dialogis. Proses komunikasi ditandai dengan adanya aktivitas konsultasi oleh para santri kepada pengurus secara dialogis atau dua arah (two-way communication). Kebaruan (novelty) penelitian bahwa fase adaptasi kembali dapat menggunakan pendekatan psikologi komunikasi pada fase penyembuhan (recovery).