Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Sarana Promosi Perpustakaan Jalanan Nganjuk
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Abstrak
Sejauh ini, perpustakaan dikenal dengan banyak orang sebagai tempat tumpukan buku. Padahal perpustakaan memiliki fungsi tersendiri, salah satunya akses untuk memenuhi sumber informasi dan sebagai sara pembelajaran bagi masyarakat. Seperti halnya adanya perpustakaan jalanan (Perjal), di mana menjadi wadah untuk melayani keperluan yang berkaitan dengan bahan pustaka bagi masyarakat. Perjal merupakan perpustakaan yang begitu dengan masyarakat karena konsepnya yang sederhana dan dapat langsung membaur kepada lingkungan sekitar. Di Nganjuk terdapat Perpustakaan Jalanan Kabupaten Nganjuk, di mana konsep adalah lapak buku yang dilakukan setiap minggu di tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Perjal ini mengenalkan perpustakaan lewat media sosial instagram. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pemanfaatan media sosial instagram sebagai sarana promosi perpustakaan jalanan Nganjuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan sumber data primer dan sekunder. sumber data primer di dapat dari observasi dan wawancara, sedangkan sumber data sekunder didapat dari dokumentasi dan kajian pustaka. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa perpustakaan jalanan Nganjuk menggunakan instagram sebagai sarana promosi untuk mengenalkan perpustakaan itu sendiri dan produk yang berkaitan dengan literasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar. Adanya konsep lapak buku sederhana dan terbuka untuk siapa pun yang memanfaatkannya, Perjal Nganjuk kini dikenal oleh banyak masyarakat sekitar. Oleh sebab itu, fungsi perpustakaan sebagai tempat pembelajaran dan rekreasi kultural telah tercapai. Di mana masyarakat dapat membaca dan mengakses sumber informasi yang ringan dan bersifat menghibur.
Abstract
So far, the library is known to many as a place of stacks of books. Even though the library has its own function, one of which is access to meet sources of information and as a means of learning for the community. Like the existence of a street library (Perjal), which is a place to serve needs related to library materials for the community. Perjal is a library that is like the community because of its simple concept and can immediately blend into the surrounding environment. In Nganjuk there is the Nganjuk District Street Library, where the concept is a book stall that is held every week in a place easily accessible by the community. Perjal introduces the library via Instagram social media. Therefore, the purpose of this research is to find out the use of social media Instagram as a means of promoting the Nganjuk street library. The method used in this research is descriptive qualitative. Data collection uses primary and secondary data sources. Primary data sources are obtained from observation and interviews, while secondary data sources are obtained from documentation and literature review. The results of this study showed that the Nganjuk street library uses Instagram as a promotional tool to introduce the library itself and products related to literacy that are easily accessible to the surrounding community. With the concept of a simple and open bookstore for anyone who uses it, Perjal Nganjuk is now well known by many local people. Therefore, the function of the library as a place for learning and cultural recreation has been achieved. Where people can read and access information sources that are light and entertaining.
Keywords:
Social Media
· Society
· Street Libraries
Introduction
Kemajuan teknologi masa kini mempermudah seseorang mencari informasi dari segala penjuru dunia. Kemajuan teknologi tersebut mempermudah generasi masa kini dalam kegiatan sehari-hari dan merubah gaya hidup serta tingkah laku. Munculnya teknologi informasi tidak dapat dihindari dan bahkan akan mengalami kemajuan pesat di masa mendatang. Jika dilihat, teknologi berbasis cetak saat ini telah ditinggalkan dan beralih ke digital. Individu maupun kelompok masa kini lebih memilih membaca informasi melalui digital, salah satunya lewat media sosial. Di era digital, media sosial menjadi kebutuhan primer. Media sosial merupakan media berbasis online, di mana pengguna dapat berkomunikasi, berbagi, dan menciptakan sebuah informasi. Dijelaskan bahwa media sosial merupakan laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna terlibat dalam jaringan sosial berbsasis online. Online And Social media promosi merupakan aktivitas komunikasi dengan menggunakan media elektronik berbasis online untuk menarik konsumen atau perusahaan dalam berbagai bentuk seperti, gambar, tulisan dan lain sebagainya, yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran, citra perusahaan, dan untuk meningkatkan sebuah produk(Deru dan Cindy, 2017).Media sosial memiliki fungsi untuk menciptakan berita melalui internet dan mengkomunikasikan serta mendiseminasikan informasi. Hingga saat ini media sosial memiliki berbagai macam jenis dengan fungsinya masingmasing, salah satunya media sosial instagram. Kehadiran media sosial merupakan wadah yang digunakan untuk mempublikasikan konten, seperti profil, aktivitas, atau bahkan sebagai media yang memberikan ruang bagi komunikasi dan interaksi dalam jejaring sosial dalam dunia siber. (Rulli Nasrullah, 2014). Dalam ruang komunikasi dan interaksi antar jaringan sosial, salah satunya dapat dilakukan dengan cara mempromosikan barang maupun jasa dengan cara posting dan share konten tersebut. Hingga saat ini, instagram tidak hanya dimiliki oleh personal atau individu, melainkan kelompok maupun komunitas lain memiliki akun yang sifatnya bersama. Adanya akun bersama tersebut, pengguna membagikan foto maupun video sebagai sarana promosi, seperti halnya perpustakaan jalanan (Perjal).Perjal merupakan wadah untuk melayani keperluan bahan pustaka bagi masyarakat yang menggelar koleksi bukunya di depan umum atau tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat itu sendiri. Perjal dikatakan sebagai perpustakaan yang dekat dengan masyarakat di lingkungannya. Hal ini dikarenakan sasaran utama dari Perpustakaan Jalanan adalah masyarakat sekitar dengan mengusung konsep sederhana dan terbuka bagi siapa pun yang ingin memanfaatkan wadah tersebut (Muhison Salafudin, 2019). Sejauh ini perpustakaan hanya dikenal dengan tumpukan buku tanpa mengetahui pasti ciri dan fungsinya. Padahal, salah satu fungsi perpustakaan menjadi salah satu sumber informasi dan sarana pembelajaran bagi siapa pun yang memanfaatkan termasuk juga masyarakat, dan masyarakat sendiri membutuhkan informasi yang disediakan oleh perpustakaan. Sumber informasi tersebut bisa dalam bidang ilmu, seni, teknologi, dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, minat baca di Indonesia menjadi topik permasalahan yang serius dan perlu penanganan khusus. Membaca sendiri merupakan suatu dasar dalam bidang pendidikan masa kini. Membaca dapat menjadi suatu keterampilan dan kebiasaan yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Di samping itu, terdapat masyarakat yang memiliki minat baca namun tidak memiliki akses maupun fasilitas. Dengan adanya konsep Perjal dapat menjadi wadah bagi para pemuda-pemudi atau masyarakat untuk saling bertukar informasi. Atau untuk masyarakat yang ingin menghibahkan buku maupun majalah untuk mempermudah akses masyarakat menemukan informasi. Dengan begitu, perpustakaan dan masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat erat dan saling membutuhkan. Namun, pada kenyataan yang sekarang masih berjalan sendiri-sendiri. Sehingga dalam penelitian ini, difokuskan pada bagaimana pemanfaatan media sosial instagram sebagai sarana promosi Perjal Nganjuk. Perjal Nganjuk sendiri berada tepat di Ds. Jatirejo, Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk. Perjal Nganjuk memiliki anggota sejumlah 8 orang. Perjal Nganjuk melapak buku di area yang sering dijangkau masyarakat, seperti lapangan, balai desa, alun-alun kota dan tempat-tempat lainnya. Berdasarkan uraian di atas, fokus penelitian ini untuk mengetahui pemanfaatan media sosial instagram sebagai sarana promosi Perjal Nganjuk. Objek dari penelitian ini adalah salah satu pengurus, anggota, dan pengguna perpustakaan jalanan Nganjuk. Penelitian ini dilakukan pada 3 Januari 2023. Peneliti mengacu pada beberapa penelitian terdahulu untuk memperkaya teori sekaligus sebagai pisau bedah dalam mengkaji suatu masalah yang sedang peneliti lakukan saat ini. Dari penelitian terdahulu, peneliti menemukan jurnal atau penelitian seseorang yang akan menjadi rujukan penelitian ini. Salah satunya terdapat penelitian terkait Strategi Promosi Perpustakaan Universitas Medan Area Melalui Media Sosial. Penelitian tersebut menghasilkan bahwa, promosi perpustakaan menggunakan media sosial dianggap cukup efektif. Selain mengunggah foto dan video acara, perpustakaan Universitas Medan Area juga mengunggah tutorial penggunaan OPAC dan layanan di perpustakaan tersebut. Teknik yang digunakan oleh Perpustakaan Medan Area adalah dengan terus mengunggah kegiatan mereka. Secara tidak langsung hal itu juga memperlihatkan bahwa perpustakaan tersebut hidup dan terus berkarya (Intan Dilla. V, 2019). Dalam promosi perpustakaan sendiri merupakan sebuah kegiatan maupun aktivitas komunikasi dengan pemustaka dengan tujuan memperkenalkan potensi yang ada di dalam perpustakaan. Promosi perpustakaan sendiri memiliki fungsi sebagai kegiatan memperkenalkan perpustakaan produk, hingga koleksi dan jenis pelayanan. Pemasaran atau promosi adalah segala usaha seseorang untuk menyediakan barang mulai dari proses perencanaan produk hingga produk tersebut dijangkau oleh pasar yang lebih luas (Anang Firmansyah, 2019). Sedangkan menurut (R Deffi Kurniawan, 2007) promosi dapat diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan atau upaya seseorang/perusahaan dalam mempengaruhi konsumen secara aktual maupun potensial. Hal ini ditujukan agar seseorang melakukan pembelian terhadap produk yang sedang ditawarkan baik saat ini maupun dimasa mendatang. 2. TINJAUAN PUSTAKA A. Perpustakaan Jalanan Perpustakaan Jalanan (Perjal) sebenarnya sama dengan pengertian perpustakaan umum, namun hanya berbeda tempat dan sasaran. Perpustakaan jalanan merupakan perpustakaan yang didirikan dari dana swadaya. Perpustakaan jalanan dinyatakan sebagai perpustakaan yang dekat dengan masyarakat lingkungannya. Hal ini dikarenakan sasaran utama dari Perjal adalah masyarakat sekitar dengan mengusung konsep sederhana dan terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan perpustakaan tersebut, (Muhison, 2019) Menurut Undang-undang No.43 Tahun 2007 Bab 7 Pasal 22 Ayat 1 menjelaskan, bahwa Perpustakaan Umum diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten atau kota, kecamatan dan desa, serta dapat diselenggarakan oleh masyarakat. Pada Ayat 4 juga dijelaskan bahwa masyarakat diperbolehkan membuat perpustakaan umum untuk memfasilitasi masyarakat terpelajar sepanjang hayat. perpustakaan dalam Keputusan Presiden RI Nomor 11 Tahun 1989 Tentang Perpustakaan adalah “Perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional”. Dapat diartikan bahwa Perpustakaan Jalanan adalah bentuk organisasi yang menghimpun, mengelola, melestarikan, dan mengabadikan bahan pustaka berbentuk fisik maupun non fisik. Hal itu ditujukan agar informasi yang ada didalamnya dapat digunakan untuk pembelajaran setiap saat. Fungsi perpustakaan sendiri menurut (Qalyubi, 2003) terdapat beberapa fungsi perpustakaan jalanan, di antaranya: (1) Penyimpanan, dalam penyimpanan melakukan pengadaan koleksi dalam bentuk fisik, lalu menjaga koleksi yang telah diterima. Perpustakaan mampu memiliki penyediaan dan memasarkan sebuah informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka pada saat itu. (2) Pendidikan, perpustakaan merupakan wadah belajar atau menuntut ilmu hingga tak terbatas oleh waktu (sepanjang hayat). Melalui koleksi yang ada, perpustakaan sebagai wadah seseorang yang tidak mengenyam bangku pendidikan formal. Perpustakaan juga harus mengajarkan bagaimana informasi tersebut dapat diperoleh. Memberikan jalan keluar terhadap kesulitan dalam proses belajar.(3) Penelitian, perpustakaan menyediakan produk yang berkaitan dengan penelitian seperti jurnal ilmiah, artikel, dan kumpulan hasil penelitian. Perlu mengadakan user study dalam pengembangan koleksi. (4) Informasi, perpustakaan dituntut untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka pada saat itu. Kegiatan perpustakaan dapat dikatakan berhasil jika informasi yang tersedia sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Hal ini mendorong terwujudnya literasi informasi atau kemampuan dalam mengidentifikasi, memperoleh, dan mengevaluasi, serta menggunakan informasi. (5) Rekreasi Kultural, di mana hal ini perpustakaan menyediakan produk dengan tujuan masyarakat dapat membaca dan memperoleh hingga mengakses sumber informasi ringan dan bersifat menghibur. Fungsi perpustakaan jalanan sebagai wadah bertukar informasi dengan menyediakan bahan bacaan. Serta sebagai tempat mengasah kreativitas dalam meningkatkan bakat dan kemampuan di lingkungan masyarakat. Secara umum perpustakaan bertujuan melakukan layanan informasi literer kepada masyarakat. Tujuan perpustakaan secara umum menurut (Desi Purnama Sari, 2017) sebagai berikut: (1) Memupuk dan menumbuhkan minat baca yang dapat muncul beriringan dengan daya apresiasi dan imajinasi masyarakat. (2) Mengembangkan serta mendayagunakan bahan pustaka yang telah tersedia. (3) Mengembangkan kemampuan masyarakat dalam memecahkan masalah, dan bertanggung jawab serta berpartisipasi untuk pembangunan nasional. (4) Mendidik masyarakat agar dapat memanfaatkan perpustakaan yang ada secara efektif dan efisien. (5) Mengembangkan kemampuan dalam hal pencarian, mengelola dan memanfaatkan informasi yang ada. B. Media Sosial Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa media adalah alat untuk berkomunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Selanjutnya “Media Sosial” dapat diartikan sebagai laman atau sebuah aplikasi yang memungkinkan seseorang atau pengguna memberi dan diberi informasi atau terlibat dalam jaringan sosial. Media sosial sendiri merupakan suatu wadah yang digunakan untuk menciptakan suatu informasi melalui internet dan mengkomunikasikan serta mendiseminasikan informasi. Sedangkan pemasaran media sosial yaitu suatu model pemasaran lewat internet yang memiliki tujuan mencapai target pemasaran dengan berpartisipasi dalam lingkup jaringan media sosial (Maoyan, 2014). Menurut (Nashrullah, 2015) dalam melihat media sosial 6 kategori besar yaitu: Social Net working, Blog, Micro blogging, Media Sharing, Social Book marking dan Wiki. Fungsi yang bisa dilakukan dengan menggunakan media sosial yaitu membangun personal branding melalui sosial media. Sosial media sendiri menjadi sebuah wadah seseorang atau kelompok yang saling komunikasi, diskusi, hingga memunculkan popularitas di media sosial. Media sosial juga memberikan kesempatan seseorang maupun kelompok untuk interaksi lebih dekat dan mengenal konsumen. Media sosial menyuguhkan konten sebagai alat komunikasi yang sifatnya individual. Melalui media sosial ini, para seseorang maupun kelompok dapat mengetahui kebiasaan dari target atau konsumen dan melakukan suatu interaksi untuk membangun ketertarikan. C. Strategi dan Promosi Pemasaran atau promosi merupakan segala usaha menyediakan produk, mulai dari proses perencanaan hingga produk tersebut dikenal oleh target pasar. Promosi juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau upaya perusahaan dalam mempengaruhi konsumen secara aktual maupun potensial. Hal ini dikarenakan agar target melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan, baik saat ini maupun dimasa mendatang. Promosi perpustakaan sendiri yaitu adanya kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan pemustaka untuk memperkenalkan perpustakaan itu sendiri. Hal ini pun diimbangi dengan adanya kegiatan memperkenalkan perpustakaan baik dari koleksi yang ada hingga jenis pelayanan. Promosi perpustakaan sendiri merupakan usaha untuk meyakinkan para pemustaka agar tertarik ke perpustakaan itu sendiri. Suatu perpustakaan dapat dikatakan berhasil apabila perpustakaan makin dikenal dan memberikan dampak yang positif oleh masyarakat. Masyarakat sekitar memiliki akses informasi semakin luas. Di sisi lain, perlu adanya menjalin hubungan dekat dengan perpustakaan lain. Dapat menciptakan minat dan budaya baca sebagai informasi (B. Asdam, 2015). Terdapat beberapa jenis promosi yang dapat biasanya digunakan organisasi, antara lain: (1) Publikasi, sebuah pendekatan non personal untuk mendapatkan permintaan terhadap produk atau jasa melalui konten yang disajikan menarik di radio, televisi, atau panggung. Hal ini berlainan dengan iklan atau sponsor yang harus dibayar oleh organisasi, publikasi memiliki banyak keunggulan sehingga merupakan investasi terbaik untuk saat itu dan kemudian hari. (2) Iklan, pemberitahuan kepada masyarakat bentuk penyajian ide, produk, atau jasa dengan cara membayar. Iklan dapat berupa dalam bentuk apa pun melalui media cetak atau elektronik. (3) Promosi secara kontak dilakukan lewat pertemuan antara wakil organisasi dengan target. Promosi ini merupakan sarana ampuh dan dapat meningkatkan hubungan antara konsumen dan organisasi (Mustafa. B, 2007).
Method
Metode yang dipakai pada penelitian ini jenis metode penelitian kualitatif melalui pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif menyampaikan secara deskriptif terkait keadaan, interaksi atau kenyataan yang sedang diteliti secara objektif tanpa menggunakan mekanisme statistik. Peneliti menggunakan sumber data yang digolongkan menjadi dua jenis, yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer yang merupakan sumber utama atau asli yang didapat peneliti dari lapangan seperti observasi dan wawancara. Dalam observasi, peneliti terus terang kepada narasumber mulai awal hingga akhir penelitian. Menjelaskan terkait tujuan bahwa peneliti sedang melakukan penelitian. Jadi narasumber akan mengetahui sejak awal hingga akhir aktivitas yang peneliti lakukan. Sedangkan wawancara dalam penelitian ini menggunakan teknik semi terstruktur dengan tujuan mengetahui permasalahan yang diteliti secara lebih terbuka, di mana pihak narasumber diminta berpendapat. Maka dari itu peneliti harus mendengarkan dengan seksama apa yang dipaparkan oleh narasumber dan mencatat. Sedangkan sumber data sekunder sendiri adalah sumber data pelengkap yang dapatkan melalui perantara atau didapatkan secara tidak langsung serta disebut ada pada penelitian kualitatif, seperti halnya riset dan dokumentasi. Riset adalah aktivitas yang dikerjakan untuk mencari sumber data yang akan dijadikan sebagai landasan teori. Hal ini sebagai penguat dalam proses analisis permasalahan penelitian baik berupa fisik maupun elektronik. Sedangkan dokumentasi merupakan sumber tertulis yang berisi informasi. Dengan kata lainnya peneliti mencari dokumen yang berkaitan dengan penelitiannya. Seperti, otobiografi, surat-surat pribadi, buku, dokumen pemerintah, data server, situs website, dan lain sebagainya (Limam Gunawan, 2013). Teknik analisis data yang digunakan peneliti saat ini adalah model Miles dan Huberman. Analisis dilakukan pada saat dan setelah pengumpulan data berlangsung. Peneliti melakukan analisis dengan melakukan wawancara sampai mendapat jawaban sesuai dengan rumusan masalah. Adapun teknik analisis data sebagai berikut: (1) Reduksi data, dalam teknik ini peneliti menghimpun semua data yang diperoleh, meringkas, memilih informasi sehingga akan terfokuskan pada suatu hal yang penting. (2) Penyajian data, setelah data diproses atau direduksi, selanjutnya data akan di display dan diuraikan. (3) Penarikan kesimpulan, proses yang terakhir untuk menemukan data yang baru. Sehingga penelitian menjadi jelas dengan didukung data-data yang valid. Teknik yang dipakai untuk menguji keabsahan yang diperoleh dari lapangan adalah Triangulasi data. Triangulasi merupakan suatu usaha pengecekan data dari beberapa sumber dengan berbagai cara dan pada waktu yang beda.(1) Triangulasi Sumber, teknik yang berguna untuk menguji kredibilitas data yang diperoleh dari berbagai sumber. Dengan kata lain peneliti mengecek dengan cara melakukan wawancara kepada narasumber yang berbeda untuk mengetahui kredibilitas sumber. (1) Triangulasi teknik, teknik untuk menguji yang diperoleh kepada narasumber sama tetapi menggunakan teknik berbeda. Pada triangulasi teknik ini peneliti mengecek ulang data atau informasi dari narasumber dengan cara verifikasi data lewat observasi, dokumentasi atau lainnya. Ketika mendapat data baru atau data yang berbeda maka harus dilakukan diskusi dengan narasumber yang sama. (3) Triangulasi waktu dilakukan menggunakan cara penggalian data dengan waktu yang berbeda-beda atau peneliti akan memilih waktu yang tepat sehingga mendapatkan data yang kredibel (Sugiyono, 2009). Penyajian data merupakan sebuah penyatuan, pengorganisasian informasi yang kemudian akan ditarik kesimpulan dari hasil penelitian. Penyajian data berguna dalam memahami apa yang telah diperoleh oleh penelitian (Irawan Prasetya, 1999). Data yang akan ditampilkan adalah data dari hasil wawancara, observasi, dan dokumen dari lapangan. Data yang diperoleh akan ditampilkan dalam teks deskriptif. Data yang telah didapat akan diolah agar mudah dipahami dari hasil penelitian
Result
A. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan metode wawancara dan observasi terkait Pemanfaatan Media Sosial Instagram Sebagai Sarana Promosi Perpustakaan Jalanan Nganjuk menghasilkan data bahwa, Perjal Nganjuk menggunakan instagram sebagai sarana promosi untuk mengenalkan sebuah produk adanya aktivitas literasi yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Instagram membantu Perjal Nganjuk untuk mengenalkan seluruh aktivitas yang terdapat di perpustakaan kepada masyarakat sekitar. Dengan adanya hal tersebut sesuai dengan pernyataan Deru dan Cindy bahwa Online And Social media promosi yaitu suatu aktivitas komunikasi dengan media elektronik secara online untuk menarik konsumen atau perusahaan dalam bentuk seperti (gambar, tulisan, dll) dan meningkatkan kesadaran, citra perusahaan, serta meningkatkan sebuah produk Faktor kendala yang dialami dalam promosi menggunakan instagram di Perjal Nganjuk ialah kurangnya sumber dana. Minimnya dana menyebabkan pengelola susah membeli kuota untuk menjalankan instagram karena berbasis online. Selain itu ada kendala yang lain yaitu kurangnya sumber daya manusia atau pengelola, hal itu menyebabkan anggota menjadi kurang terfokus dan harus mampu menjalankan seluruh tugas agar semua kegiatan berjalan dengan lancar.
Discussion
a. Perpustakaan Jalanan Kabupaten Nganjuk Berdirinya Perpustakaan Jalanan (Perjal) Nganjuk bermula dari keresahan yang dirasakan oleh beberapa remaja sepulang dari kampus ke rumah karena pandemi covid-19. Beberapa remaja tersebut adalah Zidan selaku mahasiswa UIN SATU, Najib mahasiswa UNY, Ranu mahasiswa UNS dan juga Tri mahasiswa IPB. Mereka melihat fenomena di mana masyarakat di lingkungan sekitar lebih sering membuka smartphone untuk membaca informasi dari internet. Sedangkan untuk kondisi saat ini, adanya kemajuan teknologi dan banjir informasi mempengaruhi perilaku masayakat akibat informasi yang diterima belum terverifikasi kebenarannya. Perpustakaan jalanan Nganjuk ini didirikan pada awal 2020 sekitar bulan Februari di warung Bu Mat (selatan SMAN 2 Nganjuk). Dalam mengawali langkah membuat perpustakaan jalanan, mereka mengajak beberapa rekan agar mempermudah pendirian perpustakaan yang salah satunya bernama Sofyan mahasiswa dari UIN SATU. Mereka berdiskusi dan berkeluh kesah seputar keresahan yang dialami terkait literasi masyarakat sekitar. Dengan adanya pendiskusian tersebut memunculkan gagasan baru yaitu mendirikan ruang baca di tengah-tengah masyarakat yakni perpustakaan jalanan. Dengan tujuan agar merasa lebih dekat dan mudah diakses oleh masyarakat. Setelah terdapat kesepakatan, mereka mulai mengumpulkan buku-buku yang dimiliki sehingga dapat dan pantas untuk dibuat melapak. Tidak hanya itu, seiring berjalannya waktu terdapat beberapa pemustaka yang menyumbangkan buku-buku yang mereka miliki. Sehingga terdapat banyak jenis koleksi atau bisa dikatakan mulai lengkap. Jenis koleksi yang ada mulai dari kesusastraan, ilmu terapan, berbagai novel, buku-buku filsafat, dan juga buku-buku keagamaan. Saat ini, koleksi yang dimiliki Perpustakaan Jalanan Nganjuk berada di rumah Sofyan tepatnya di Desa Jatirejo, Kecamatan Nganjuk, Kab. Nganjuk. Perpustakaan Jalanan Nganjuk didirikan dengan tujuan mengajak masyarakat untuk lebih tertarik dengan dunia literasi sekaligus untuk mengasah, merawat, dan menerapkan ilmu yang mereka dapat dari kampus dan disalurkan kepada masyarakat sekitar. Mengingat kala itu mereka harus melakukan perkuliahan secara daring dikarenakan pandemi Covid-19. Secara tidak langsung, adanya perpustakaan jalanan Nganjuk ini mengenalkan budaya konsep baru kepada masyarakat sekitar bahwasanya perpustakaan bukan tempat yang identik kaku, dan sepi, serta tenang. Akan tetapi, adanya perpustakaan menyajikan tempat belajar yang santai, asyik, dan nyaman bahkan bisa dilanjut dengan diskusi kecil. Dengan adanya perpustakaan jalanan Nganjuk, relevan dengan ungkapan bahwa perpustakaan harus memperbaiki pola sistem baru untuk menciptakan suasana yang nyaman untuk pengunjung dan diimbangi oleh pengembangan sumber informasi yang terus menerus (Dhini dan Slamet, 2017). Perpustakaan Jalanan Nganjuk juga memiliki kegiatan atau aktivitas lain yang dilaksanakan secara rutin dan berkala. Kegiatan-kegiatan seperti itu ditujukan agar kemajuan pola pikir di masyarakat atau pengunjung terus bertambah. Kegiatan di perpustakaan jalanan Nganjuk yaitu melapak buku dalam jangka satu minggu sekali pada Sabtu malam. Adanya lapak buku yang dilakukan di bagian utara Alun-alun Nganjuk ini, dilanjutkan dengan diskusi buku secara santai. Pengelola menyiapkan satu tema yang akan menjadi bahan perdiskusian. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk pengunjung yang ingin mengisi diskusi tersebut. Kegiatan lain yang dilakukan oleh Perjal Nganjuk pada kurun waktu sebulan sekali (biasanya hari kamis minggu keempat), mereka mengadakan kegiatan bersama berupa bakti sosial. Kegiatan tersebut berupa pembagian pakaian dan makanan secara gratis. Pembagian makanan yang dilakukan dinamai dapur umum, di mana disalurkan untuk orang-orang yang membutuhkan. B. Strategi Promosi Perpustakaan Jalanan Nganjuk Melalui Media Sosial Instagram Pada dasarnya promosi perpustakaan adalah forum untuk bertukar informasi antara organisasi dan konsumen yang memiliki tujuan mengenalkan dan memberikan informasi baru. Seperti halnya Perpustakaan Jalanan Nganjuk yang memilih menggunakan media instagram sebagai sarana promosi dalam segala kegiatan yang akan maupun sudah dilaksanakan. Selain gratis, instagram juga mudah diakses oleh banyak masyarakat. Sehingga informasi tersebut dapat terbaca oleh pengguna instagram lainnya. Perpustakaan Jalanan Nganjuk menggunakan media instagram untuk mengenalkan bahwa sebuah perpustakaan tidak hanya berisi bukubuku. Akan tetapi, terdapat kegiatan menarik seperti bakti sosial, bagi pakaian gratis, dan masih banyak lainnya. Dengan adanya strategi promosi yang dilakukan oleh Perpustakaan Jalanan Nganjuk tersebut, membantu untuk mengenalkan lebih luas bahwa terdapat budaya membaca yang lebih dekat dengan masyarakat. Menurut (Mustafa, 2017) terdapat beberapa aspek terkait promosi yang harus diperhatikan secara seksama, yakni: (1) Pemberitahuan, di mana tugas dari promosi sendiri untuk memberitahu masyarakat adanya suatu produk, yang sebelumnya tidak mengetahui menjadi tahu. Suatu produk yang dimaksud dalam bidang tersebut seperti adanya pustaka baru atau kegiatan yang diselenggarakan. (2) Berusaha meyakinkan, usaha untuk meyakinkan calon pemustaka agar meluangkan waktu untuk berkunjung ke perpustakaan dan memanfaatkan ruang untuk kegiatan, diskusi terbuka, atau hal-hal yang bersifat bersama. (3) Mempengaruhi, hal ini merupakan salah satu upaya agar calon pengunjung/pemustaka untuk datang ke lokasi dan memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia. Dengan adanya hal tersebut, perpustakaan menciptakan suasana yang akan mengakibatkan pengunjung kembali ke perpustakaan. Kegiatan promosi perpustakaan merupakan suatu upaya kegiatan untuk mengenalkan adanya aktivitas di perpustakaan kepada masyarakat sekitar. Instagram merupakan aplikasi jaringan berbagi informasi secara gambar dan visual dalam bentuk foto dan video. Cara memanfaatkan media instagram, Perpustakaan Jalanan Nganjuk mengunggah foto maupun video untuk menunjukkan adanya ruang, fasilitas, serta koleksi buku dengan cara membuka lapak baca di tempat yang mudah dijangkau oleh masayraakat. Dengan adanya media sosial instagram, Perpustakaan Jalanan Nganjuk terbantu dalam hal pengenalan wadah literasi dengan strategi promosi. Dengan adannya sifat mobile notice membuat instagram sendiri mudah dikelola dan diakses. Pada bagian profil, media sosial Instagram ini memberikan fitur sejumlah 150 karakter yang bermanfaat untuk mendeskripsikan pengguna baik personal maupun kelompok. Perpustakaan Jalanan Nganjuk membuat konten dengan memanfaatkan fitur yang telah tersedia di instagram ini. Konten merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan dengan seksama. Konten berisikan informasi yang ingin disampaikan lewat media sosial dengan tujuan promosi, bisa berupa gambar maupun video. Sejak Februari 2020, Perpustakaan Jalanan Nganjuk memiliki akun instagram bernama @perpustakaanjalanan_nganjuk. Melalui instagram tersebut, Perpustakaan Jalanan Nganjuk mengisi kontennya berupa pamflet lapak buku, aksi solidaritas, re-post berita yang berkaitan dengan literasi dan aksi yang dilakukan kawan-kawan Perpustakaan Jalanan Nganjuk yang terlibat di ruang kolektif yang berada di luar kota. Dalam membuat konten, Perpustakaan Jalanan Nganjuk juga menambahkan beberapa fitur yang disediakan oleh instagram, seperti hastag (#) dan arroba (@). Penggunaan fitur tersebut bertujuan untuk memaksimalkan media instagram dan memperluas jaringan. Fitur hastag berfungsi untuk mempermudah pengguna dalam melakukan pencarian dengan memasukkan kata kunci. Agar hastag dapat terpanggil dalam penelusuran pengguna lainnya, admin harus memasukkan kata kunci yang bersifat umum. Sedangkan arroba (@) berfungsi untuk menyinggung atau mention pengguna lain dengan cara memasukkan nama pengguna lain yang diinginkan. Selain hastag dan arroba, Perpustakaan Jalanan Nganjuk juga memanfaatkan fitur like dan comment. Dengan memanfaatkan kedua fitur tersebut, interaksi antar pengguna instagram dapat terjadi. Interaksi dapat dilakukan Perpustakaan Jalanan Nganjuk dengan cara memberi respons terhadap pengguna lain. Dengan adanya fitur tersebut, pengguna lain dapat menyampaikan pertanyaan yang dapat dijawab oleh admin. Fitur comment juga mendukung pengguna lain untuk menyampaikan saran maupun kritik yang bersifat publik. Fitur yang terdapat di instagram dimanfaatkan secara penuh untuk memaksimalkan proses promosi. Salah satu fitur dari instagram yang mudah dibaca oleh pengguna lain adalah caption. Caption terletak pada bawah foto maupun video yang di upload. Menentukan caption yang efektif dan menarik dalam setiap unggahan dengan tujuan menarik perhatian pengguna instagram lain diperlukan dalam menjadikan instagram sebagai media promosi. Menentukan caption efektif dan menarik pengguna instagram dapat menambah wawasan bagi masyarakat. C. Kendala Perpustakaan Jalanan Nganjuk Dalam Promosi Melalui Media Sosial Instagram Setiap kelompok masyarakat yang didirikan atas dasar inisiatif kolektif pasti menemukan kendala. Kendala tersebut akan menghambat berjalannya sebuah kegiatan. Perpustakaan jalanan sendiri merupakan penyedia informasi dan sekaligus sebuah wadah untuk belajar dan diskusi, yang tentu akan terus berusaha untuk melengkapi berbagai kebutuhan pengunjung yang berkaitan dengan literasi agar tertarik pada Perpustakaan Jalanan Nganjuk. Kendala yang dijumpai dalam Perpustakaan Jalanan Nganjuk salah satunya adalah sumber daya manusia yang masih minim. Adanya sumber daya manusia yang belum maksimal mengakibatkan setiap anggota harus mampu mengemban seluruh tugas dan kegiatan. Hal itu menyebabkan anggota kurang terfokus dalam melaksanakan tugas. Seperti halnya kendala yang ditemukan dalam melaksanakan tugas sebagai admin instagram. Hingga saat ini, seluruh anggota Perpustakaan Jalanan Nganjuk memiliki akses penuh terhadap akun instagram yang mengakibatkan tampilan feed instagram kurang menarik. Tak hanya jumlah keanggotaan yang minim, akan tetapi kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Jalanan Nganjuk saat ini adalah kurang aktifnya para anggota, sehingga dapat mempengaruhi proses promosi di media sosial instagram. Dalam pengelolaan media sosial instagram seperti pengembangan dan pengisian konten tidak terjadwal. Sehingga membuat proses promosi masih kurang efektif.
Conclusion
Berdasarkan hasil pembahasan dari penelitian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa adanya perkembangan teknologi informasi dapat dikelola menjadi media promosi masa kini. Perpustakaan Jalanan Nganjuk mampu memanfaatkan media sosial instagram sebagai sarana promosi. Dalam pemanfaatan media sosial instagram ini lebih tertuju untuk mengajak masyarakat sekitar untuk melek literasi dengan cara yang sederhana, yakni konsep yang dibangun Perpustakaan Jalanan Nganjuk melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan. Melalui promosi lewat media sosial instagram, Perpustakaan Jalanan Nganjuk dipermudah dengan adanya fitur instagram yang mendukung. Seperti fitur upload foto dan video, comment, hingga hastag dapat mempermudah jangkauan Perpustakaan Jalanan Nganjuk itu sendiri. Maka dari itu, pemanfaatan media sosial instagram sebagai sarana promosi perpustakaan jalanan Nganjuk begitu efektif. Dengan adanya upaya yang dilakukan oleh perpustakaan jalanan Nganjuk membantu pustakawan dan masyarakat untuk mengembangkan minat, kemampuan, dan budaya literasi dalam diri mereka. Perlu adanya pengelolaan perpustakaan yang lebih baik agar pemustaka merasa nyaman dan betah serta kerasan berkunjung. Salah satunya dengan kegiatan sederhana seperti yang telah peneliti uraikan di atas. Pengelolaan meliputi aspek mulai dari pemustaka, koleksi, kegiatan, hingga proses promosi yang disajikan dengan sederhana sehingga mendorong adanya dukungan dari instansi pemerintah maupun daerah.