Kembali
16
1
2022 Jurnal Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 2 · 1 ISSN 2828-1772

LAYANAN REFERENSI BERBASIS DIGITAL DI PERPUSTAKAAN NASIONAL

Universitas Airlangga; Universitas Airlangga; Universitas Airlangga; Universitas Airlangga; Universitas Airlangga

Abstrak

Pada era yang serba virtual dan digital ini, seorang pustakawan harus mampu memberikan ide serta inovasinya kepada para pemustakanya. Namun, dengan adanya virus covid-19 yang berdampak serius bagi manusia menyebabkan banyak informasi yang tersebar di kalangan masyarakat yang belum tentu terbukti kebenaranya (hoax). Hal ini berakibat dengan banyaknya masyarakat yang dirugikan baik secara langsung maupun tidak langsung, serta menimbulkan kecemasan tersendiri. Peran pustakawan sebagai penyedia informasi bagi pemustaka dan masyarakat umum bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan dan pemenuhan kebutuhan informasi yang terpercaya untuk masyarakat. Pemberlakuan peraturan PSBB, WFH, social distancing, serta lockdown yang sudah menjadi kebijakan pemerintah Indonesia di masa pandemi ini membuat segala aktivitas beralih ke media sosial atau online, tak terkecuali dengan perpustakaan sebagai tempat rujukan utama. Penanganan dalam pelayanan informasi digital secara virtual ini juga membuat para pustakawan harus mengambil langkah yang besar dalam pengembangan perpustakaan berbasis digital bagi pengguna informasi. Pustakawan harus menjadi mata tombak literasi Indonesia dengan memberikan ide dan inovasinya dalam memberikan informasi baik secara virtual maupun secara langsung dengan berbasis digital kepada masyarakat. Dengan banyaknya pemustaka di era ini yang sudah kecanduan gadget atau apapun serba digital, maka hal ini dapat mendorong pustakawan untuk lebih meningkatkan pelayanan kebutuhan informasi yang tercanggih, dengan salah satunya yaitu memberikan layanan referensi berbasis digital yang diharapkan mampu memberikan informasi yang cepat dan akurat namun tetap dapat menekan peredaran banyaknya berita hoax. Kata Kunci: Layanan Referensi Perpustakaan, Pustakawan, Digital. Covid-19.

Abstract

Information is a process that obtains relevant information from many sources, then evaluates, synthesizes, and presents information according to users’ needs in different forms so that relevant, accurate, and efficient information is available. The activities of the information repackaging process of library materials that have indigenous knowledge values at the State Museum of Bengkulu aimed to discover and describe those processes and investigate the obstacles to the implementation of those activities. This research used a descriptive-qualitative method in which the data were obtained by using interviews and documentation techniques. The researchers used the information repackaging process theory that was proposed by Maryati and Yonaningrum in Lubis (2018) which consisted of five stages to analyze the information repackaging processes of indigenous knowledge library materials. The results of the research showed that the answers from the processes and the obstacles that had been carried out had run well. Those processes included 1) analyzing content which was an activity to re-examine information from the collections that would later be presented to the public as intellectual knowledge of information needs. 2) Collecting information materials by carrying out study collection, the references from the previous research results, and books from the results of the previous information repackaging. 3) Collecting information took five months on average from the beginning to produce information. Analyzing content was as a review to complete information on which content collections should take precedence or be more relevant to update information, convert silent information into different forms as additional media, put and evaluate the effectiveness of the information to generate electability, and review every activity that was carried out from the information repackaging stages with the obstacles experienced until the implementation of the activities of indigenous knowledge and preservation of collections, which included the planning for conservation maintenance and handling
Keywords: Library Reference Services · Librarian · Digital · Covid-19

Introduction

Terkait dengan adanya wabah atau pandemi tersebut. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menerbitkan protokol normal baru (new normal) bagi perkantoran dan industri. Hal tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. (Hartono, 2021), Efek pandemi covid-19 di bidang pendidikan mulai dari tingkat sekolah sampai dengan perguruan tinggi sesuai dengan peraturan pemerintah maka ada kebijakan menganti pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran secara online/daring. Hal merupakan kegiatan pembelajaran yang baru bagi sebagian besar pelajar dan mahasiswa dan efektivitas pelaksanaannya belum dapat diketahui secara pasti. Hal ini membutuhkan kajian lebih mendalam karena pembelajaran secara online/daring belum banyak dilaksanakan oleh berbagai lembaga pendidikan sebelum adanya pandemi covid-19. Untuk mendukung pembelajaran ini dibutuhkan SDM dan sarana pendidikan yang memadai. Kenyamanan ruang dan kelengkapan koleksi serta pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan adalah syarat mutlak untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mahasiswa yang akan mempengaruhi minat belajar dan berdampak terhadap prestasi belajarnya (Wahyuntini & Endarti, 2021). Meskipun pandemi ini datang secara tiba-tiba tanpa adanya persiapan khusus, akan tetapi pustakawan perpustakaan dan pustakawan dituntut untuk dapat menghadapi kondisi ini sebagai sebuah tantangan baru untuk mampu berinovasi dalam memberikan pelayanannya. Salah satu strategi dan inovasi yang bisa diambil adalah penyediaan layanan referensi online bagi pemustaka. Layanan ini bertujuan agar perpustakaan tetap menjadi rujukan pencarian dan temu kembali informasi yang terpercaya dan tidak menjadi klaster penularan baru. Kesehatan pustakawan dan pemustaka merupakan prioritas utama dalam mengambil setiap kebijakan dalam memberikan layanan perpustakaan. Di masa genting seperti saat ini, para muda-mudi hingga tua akan memfokuskan dirinya pada media berita melalui televisi, media sosial maupun media online lainnya. Masyarakat juga akan menggunakan waktunya untuk berselancar informasi di internet dan media komunikasi seperti Line, WhatsApp, Telegram, Facebook, Twitter, dan Instagram untuk memperoleh informasi terbaru/ up-to-date terkait dengan Covid-19. Masyarakat membutuhkan informasi terbaru seputar perkembangan terbaru Covid-19 seperti misalnya jumlah pasien yang terjangkit virus Corona, kebijakan-kebijakan baru pemerintah dalam menanggulangi pandemi, informasi tentang vaksin, dan lain lain. Banyak mahasiswa dan siswa yang melakukan kegiatan belajar dan mengajar melalui online atau dilakukan di rumah masing masing untuk menghindari penularan virus. Oleh sebab itu perpustakaan seharusnya dapat mengambil peluang untuk mempromosikan perpustakaannya agar eksistensinya terlihat di mata masyarakat luas. Perpustakaan dapat memaksimalkan layanan digitalnya melalui perpustakaan digital yang dimilikinya. Perpustakaan dapat mengoptimalkan layanan yang ada dengan membuat perkembangan-perkembangan baru yang dapat mempermudah pemakai dalam mengakses informasi. Dalam pengembangan perpustakaan digital saat ini dan masa depan, diperlukan kesiapan dari pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan yang dapat mengikuti perkembangan zaman dan responsif terhadap perubahan (Mwaniki, 2018). Perpustakaan harus sudah merubah perpustakaan fisiknya ke dalam bentuk non-fisik atau digital yang dapat diakses dimana dan kapanpun oleh masyarakat (Hartono, 2017). Dengan berkembangnya teknologi informasi, maka perpustakaan dapat memanfaatkannya dengan membuat perpustakaan digital dengan bentuk web responsive. Akan tetapi, implementasi perpustakaan digital pada masa kini masih jauh dari yang diharapkan. Terdapat beberapa masalah terkait dengan perpustakaan digital, yaitu belum adanya konsep perancangan pembangunan perpustakaan digital yang jelas, terdapat masalah terkait dengan manajemen, teknologi dan kebijakan akses, dan strategi, pengembangannya karena Keberadaan perpustakaan dirasakan sangat penting untuk masyarakat dalam mendapatkan informasi yang mereka inginkan, karena perpustakaan mempunyai tugas untuk mengelola informasi agar masyarakat dapat memanfaatkan informasi sesuai dengan kebutuhannya dan juga perpustakaan harus bisa memberikan pelayanan yang baik untuk masyarakat dimasa Pandemi Covid - 19 ini. Layanan dalam perpustakaan adalah salah satu aktivitas perpustakaan dalam memberikan jasa layanan terhadap pemustaka. Layanan di perpustakaan tentu disesuaikan dengan jenis dan kebutuhan perpustakaan tersebut. Layanan Referensi adalah salah satu layanan utama yang ada pada perpustakaan yang bertujuan untuk memberikan layanan kepada pengguna agar mendapatkan informasi yang diinginkan dengan cepat dan tepat dengan menggunakan koleksi referensi atau rujukan yang dapat digunakan oleh pengguna/pengunjung perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Sedangkan koleksi referensi merupakan koleksi yang terdiri dari bahan pustaka yang memberitahu/memberikan petunjuk yang disusun secara sistematis mengenai informasi tertentu.

Method

Penelitian ini membahas terkait layanan referensi yang berbasis digital yang ada pada Perpustakaan Nasional. Pada penelitian ini ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode kualitatif dilandaskan pada asumsi dasar filosofis fenomenologi, fenomena yang digunakan sebagai dasar melakukan penelitian karena setiap fenomena dianggap memiliki keunikan masing-masing. Setiap fenomena yang terjadi tidak ada yang sama yang menyebabkan hasil penelitian tidak untuk digeneralisasikan (Sulistyo-Basuki, 2010). Maka dari itu penelitian kualitatif sangat cocok untuk penelitian ini karena terkait fenomena infodemi, serta peneliti lebih menekankan makna daripada generalisasi. Penelitian studi kasus bukan suatu metode penelitian, namun bagaimana memilih kasus sebagai target penelitian (Fitrah & Luthfiyah, 2017), maka dari itu dalam penelitian ini menggunakan studi kasus karena ingin menjelaskan bagaimana keberadaan dan mengapa kasus tersebut dapat terjadi serta menjelaskan bagaimana upaya untuk mengatasi kasus tersebut. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus yaitu fenomena atau peristiwa sebagai objek penelitian. Dengan demikian pada penelitian ini fenomena yang digunakan adalah infodemi pada masa pandemi Covid-19 yang perlu diatasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan penyediaan sumber daya informasi elektronik. Dengan demikian, hasil penelitian ini nantinya lebih diuraikan secara deskriptif. Metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan studi dokumen. Observasi yang dilakukan adalah dengan melakukan observasi pada sumber informasi elektronik yang disediakan oleh perpustakaan nasional, sedangkan untuk studi dokumen dalam penelitian ini menggunakan metode pengambilan dokumen dalam bentuk hasil screenshot berupa data sumber daya informasi elektronik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan koleksi ebook terkait Covid-19 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Result & Discussion

Layanan referensi dalam Perpustakaan Nasional Indonesia sangatlah beragam dan banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Layanan referensi juga memiliki fungsi dan tujuan tersendiri yang dibuat Perpustakaan Nasional untuk masyarakat. Semua layanan itu bertujuan untuk dapat memudahkan pustakawan atau pengunjung dalam melakukan pencarian informasi yang dibutuhkan pengguna. Dalam website Perpustakaan Nasional Indonesia terdapat beberapa layanan referensi yang sudah kami analisis, antara lain : 1. Ask a Librarian (Tanya Pustakawan) Layanan untuk mengajukan pertanyaan kepada pustakawan Perpusnas RI berupa bantuan penelusuran data, penelusuran informasi, dan penelusuran literatur. Tanya Pustakawan dikenal juga dengan nama Layanan Referensi. Layanan ini bisa diakses tidak hanya secara langsung datang ke perpustakaan, tetapi juga bisa melalui email perpusnas dan bisa melalui livechat di website perpusnas. Layanan ini tidak bisa menyelesaikan pertanyaan seputar ISBN dan eDeposit, Nomingin kok Perpustakaan (NPP), kendala diklat kepustakawanan, akreditasi perpustakaan Saran yang diberikan untuk layanan ini, lebih ditingkatkan lagi masalah menjawab pertanyaan tidak hanya pertanyaan seputar e-book dan ejournal saja tetapi juga seputar dunia perpustakaan dan ISBN. Pada layanan ini dibutuhkan kompetensi pustakawan yang paham tentang seluruh serangkaian kegiatan yang ada di perpustakaan, pada layanan ini juga sangat diperlukan pustakawan yang ramah, serta memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik. Keunggulan dalam layanan ini yaitu, layanan ini bisa diakses tidak hanya secara langsung datang ke perpustakaan, tetapi juga bisa melalui email perpusnas dan bisa melalui livechat di website perpusnas. Kelemahan dari layanan ini yaitu, layanan ini tidak bisa menyelesaikan pertanyaan seputar ISBN dan e-Deposit, Nomingin kok Perpustakaan (NPP), kendala diklat kepustakawanan, akreditasi perpustakaan. Saran dari kami yaitu, lebih ditingkatkan lagi masalah menjawab pertanyaan tidak hanya pertanyaan seputar e-book dan e-journal saja tetapi juga seputar dunia perpustakaan dan ISBN 2. Pertanyaan Penelitian (research question) layanan referensi juga menerima pertanyaanpertanyaan yang kompleks untuk keperluan penelitian, dan untuk Layanan ini dapat dilakukan dengan tatap muka kepada pustakawan dan penjelasan akan lebih mudah dan lebih waktu yang kurang fleksibel Saran yang diberikan untuk layanan ini dapat dilakukan dengan secara efektif melalui online memperoleh jawabannya, pustakawan harus melakukan penelusuran informasi terlebih dahulu dimengerti, serta dapat didampingi oleh pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi seperti zoom atau video call. Pada layanan ini dibutuhkan pustakawan yang memiliki kompetensi, harus memiliki komunikasi yang baik, memiliki wawasan yang luas tentang beberapa ilmu disiplin agar mudah membantu pengguna dalam mencari koleksinya, selain itu pustakawan yang diperlukan adalah pustakawan yang memiliki pengetahuan tentang penataan dan isi buku, diperlukan sifat personal pustakawan yaitu ramah dan sabar dalam menghadapi pemustaka. memiliki kemampuan dalam menjalankan alat hardware dalam menunjang pekerjaan yaitu pencarian artikel, buku koleksi, dan sebagainya. Keunggulan dari layanan ini yaitu, layanan ini dapat dilakukan dengan tatap muka kepada pustakawan dan penjelasan akan lebih mudah dan lebih dimengerti, serta dapat didampingi oleh pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi. Kelemahan dari layanan ini yaitu, waktu yang kurang fleksibel. Saran dari kami yaitu, dapat dilakukan dengan secara efektif melalui online seperti zoom atau video call 3. Meja Referensi Penyediaan layanan referensi perpustakaan nasional secara offline berupa penyediaan bahan pustaka dan sumber referensi dari meja layanan publik di mana pustakawan profesional menyediakan pengguna perpustakaan dengan memberikan arahan ke bahan perpustakaan, saran tentang koleksi dan layanan perpustakaan, dan keahlian tentang berbagai jenis informasi dari berbagai sumber. Layanan ini membantu pemustaka dalam mencari dan memberikan saran sumber referensi informasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka di tengah banyaknya informasi yang tersedia Ketersediaan sumber daya manusia dan keterbatasan waktu pelayanan Layanan referensi secara offline benar benar harus ditangani oleh pustakawan yang profesional dan telah terakreditasi atau memiliki kompetensi agar tidak menyesatkan pengguna, serta penggunaan dan perkembangannya harus dibarengi dengan kemajuan layanan referensi virtual yang telah tersedia. Pada layanan ini diperlukan pustakawan yang memiliki kompetensi cakap atau memiliki ilmu komunikasi yang memadai, memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keahlian yang mumpuni dalam bidangnya terutama dalam layanan referensi untuk menjawab seluruh pertanyaan pengguna dan mampu merekomendasikan informasi yang sesuai, senantiasa berorientasi pada jasa dan menjunjung tinggi kode etik pustakawan, memiliki karakter yang tanggap, aktif, dan responsif, memiliki pemikiran yang kritis, memiliki perilaku yang sabar, dan telaten dalam memberikan pelayanan, ahli menilai sumber informasi yang dibutuhkan serta dapat mengidentifikasi kebutuhan pengguna. Layanan ini memiliki kelebihan yaitu, layanan ini membantu pemustaka dalam mencari dan memberikan saran sumber referensi informasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka di tengah banyaknya informasi yang tersedia. Kelemahan layanan ini yaitu, ketersediaan sumber daya manusia dan keterbatasan waktu pelayanan. Saran dari kami yaitu, layanan referensi secara offline benar benar harus ditangani oleh pustakawan yang profesional dan telah terakreditasi atau memiliki kompetensi agar tidak menyesatkan pengguna, serta penggunaan dan perkembangannya harus dibarengi dengan kemajuan layanan referensi virtual yang telah tersedia 4. Ready Reference Questions Layanan referensi ini juga melayani pertanyaan yang dapat dijawab secara cepat dengan melakukan konsultasi atau menggunakan 1 atau 2 alat bantu. Pertanyaan nya bisa mengenai alamat, terjemahan, arti singkat atau biografi singkat seorang tokoh. Menggunakan Layanan ini dapat menjaring berbagai pertanyaan pertanyaan yang ingin pemustaka tanyakan, bisa mengenai arti kata atau definisi suatu istilah. Layanan ini juga dapat dilakukan melalui media komunikasi antara pemustaka dengan pustakawan bisa melalui telepon, Kelemahan dari layanan ini adalah terkadang jika menggunakan via chatting atau telepon kurang memungkinkan dikarenakan terkadang ada yang kurang memahami terhadap pelayanannya. Saran yang diberikan yaitu dapat menyediakan aplikasi tersendiri yang telah disediakan khusus untuk layanan ini agar memudahkan pemustaka yang ingin melakukan konsultasi tetapi tidak bisa secara langsung. layanan ini bersifat ready reference tetapi tidak hanya dapat dijawab dengan alat bantu manual tapi juga bisa diperoleh secara cepat di internet. email bahan dengan cara chatting. Dalam layanan ini diperlukan pustakawan yang memiliki kompetensi kemampuan dalam menjalankan berbagai aplikasi yang disediakan guna untuk menampung setiap pertanyaan atau sebuah konsultasi yang diberikan oleh pemustaka, dapat memahami atau memiliki pengetahuan berbagai isi dari perpustakaan agar disaat pemustaka berkonsultasi atau bertanya para pustakawan bisa menjawab dengan jawaban yang memuaskan pemustaka. Kelebihan dari layanan ini yaitu, layanan ini dapat menjaring berbagai pertanyaan pertanyaan yang ingin pemustaka tanyakan, bisa mengenai arti kata atau definisi suatu istilah. layanan ini juga dapat dilakukan melalui media komunikasi antara pemustaka dengan pustakawan bisa melalui telepon, email bahan dengan cara chatting. Kelemahan dari layanan ini yaitu, layanan ini adalah terkadang jika menggunakan via chatting atau telepon kurang memungkinkan dikarenakan terkadang ada yang kurang memahami terhadap pelayanannya. Saran dari kami yaitu, dapat menyediakan aplikasi tersendiri yang telah disediakan khusus untuk layanan ini agar memudahkan pemustaka yang ingin melakukan konsultasi tetapi tidak bisa secara langsung. 5. Diseminasi Informasi Layanan untuk menyebarkan informasi terpilih yang menyesuaikan dengan minat dan kebutuhan para pengguna . Dalam layanan ini para pustakawan bisa melihat dimana minat dan kebutuhan apa yang sedang dicari oleh para pengguna yang ada di perpustakaan dan memudahkan para pustakawan untuk mencarikan yang dicari para pengguna Dalam layanan ini hanya menyediakan survey kebutuhan hanya lewat link Gform Saran yang diberikan untuk layanan ini, dalam layanan diseminasi informasi sebaiknya tidak hanya menyediakan survey pengguna lewat online, tetapi juga menyediakan lewat offline, seperti menyebarkan segelintir kertas ketika pengunjung masuk perpustakaan, soalnya kalau lewat g-form itu biasanya tidak mengisi survey. Dalam layanan ini diperlukannya pustakawan yang memiliki kompetensi yang memiliki keterampilan teknis menggunakan media sosial yang cukup baik, dikarenakan pada layanan ini memerlukan pustakawan yang selalu tanggap akan kehebohan di media sosial, responsif, tanggap, kritis akan tren masa kini. Kelebihan dalam layanan ini yaitu, dalam layanan ini para pustakawan bisa melihat dimana minat dan kebutuhan apa yang sedang dicari oleh para pengguna yang ada di perpustakaan dan memudahkan para pustakawan untuk mencarikan yang dicari para pengguna. Kelemahan dalam layanan ini yaitu, dalam layanan ini hanya menyediakan survey kebutuhan hanya lewat link G-form. Saran dari kami yaitu, layanan diseminasi informasi sebaiknya tidak hanya menyediakan survey pengguna lewat online, tetapi juga menyediakan lewat offline, seperti menyebarkan segelintir kertas ketika pengunjung masuk perpustakaan, soalnya kalau lewat g-form itu biasanya tidak mengisi survey. 6. Radio Widya Bahana Swara Berupa Radio streaming milik Perpusnas yang diluncurkan agar masyarakat dapat memperoleh berbagai informasi yang bermanfaat setiap hari sambil menemani aktivitas keseharian. Nama Widya Bahana Swara sendiri memiliki makna suara ilmu pengetahuan yang Radio Widya Bahana Swara di mulai sejak layanan Perpustakaan Nasional RI ditutup karena pandemi Covid-19. Yang digunakan untuk menyediakan informasi yang berguna bagi masyarakat dengan memanfaatkan media virtual berupa youtube. Sehingga pemustaka dan pustakawan tetap dengan sifatnya yang virtual atau online menjadi cara memperluas akses kepada masyarakat digital yang terbiasa berkomunikasi dan meminta bantuan melalui media virtual, sehingga keterbatasan waktu Media ini sebaiknya terus digunakan dan dimanfaatkan selain sebagai salah satu media penyebaran informasi media ini juga berfungsi sebagai salah satu media promosi. Dalam layanan ini dibutuhkan pustakawan yang memiliki kompetensi kemampuan public speaking atau komunikasi dengan baik, dengan begitu pustakawan akan menyampaikan. Kelebihan dalam layanan ini yaitu, Radio Widya Bahana Swara di mulai sejak layanan Perpustakaan Nasional RI ditutup karena pandemi Covid-19. Yang digunakan untuk menyediakan informasi yang berguna bagi masyarakat dengan memanfaatkan media virtual berupa youtube. Sehingga pemustaka dan pustakawan tetap aman di rumah saat menjalani PPKM. Kelemahan dalam layanan ini yaitu, dengan sifatnya yang virtual atau online menjadi cara memperluas akses kepada masyarakat digital yang terbiasa berkomunikasi dan meminta bantuan melalui media virtual, sehingga keterbatasan waktu menjadikan salah satu kelemahan. Saran dari kami yaitu, Media ini sebaiknya terus digunakan dan dimanfaatkan selain sebagai salah satu media penyebaran informasi media ini juga berfungsi sebagai salah satu media promosi Perpustakaan Nasional.

Conclusion

Kondisi covid-19 tak membuat hambatan terhadap kemajuan pada layanan informasi perpustakaan, dan tak membuat halangan juga dalam melayani pemustaka. Ide kreatif, inovatif dapat memberikan solutif dalam melayani sumber inovasi terhadap pelayanan informasi terhadap pustakawan, tak hanya itu perkembangan teknologi juga mempermudah dalam melakukan pelayanan. dan dalam pengembangan layanan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pemustaka dan perpustakaan tersebut berada. Dalam perpustakaan nasional juga membuat layanan yang inovatif dan kreatif dimana bertujuan untuk memberikan pelayanan yang mudah ditengah pandemi covid-19, selain itu juga inovasi yang dibuat adalah sesuai dengan kemajuan teknologi yang akan mempermudah pustakawan dan pemustaka untuk melakukan interaksi dalam pelayanan termasuk dalam pelayanan referensi yang memerlukan komunikasi intensif kepada pemustaka membuat perpustakaan nasional membuat layanan seperti ask librarian, radio bahana swara, dan masih banyak lagi Dengan layanan yang beragam dan inovatif yang dimiliki perpustakaan nasional untuk mempermudah dalam melakukan pelayanan, kami memiliki saran yaitu layanan antar koleksi, dimana antar koleksi iini memanfaatkan expedisi pengiriman untuk mengantar paket koleksi yang dibutuhkan pengguna, layanan ini juga bisa menghemat waktu pengguna untuk tidak datang ke perpustakaan, jadi hanya melalui chat WA atau message lainnya untuk meminta koleksi referensi yang dibutuhkan, lalu diantar kepada pemustaka. Layanan ini juga dapat dengan cepat membantu pengguna dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Dapat disimpulkan bahwasanya pandemi ini tidak menjadi halangan untuk perpustakaan tetap melayani kebutuhan informasi para penggunanya, dan dengan adanya pandemi membuat layanan yang ada menjadi sangat variatif dan inovatif yang dapat mempermudah pustakawan dan pemustaka, dan perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dengan adanya berbagai layanan yang ada pada perpustakaan.