Kembali
16
1
2024 Media Informasi Vol 33 · 2 ISSN 2829-2707

Vibes Chill di Perpus: Spotify sebagai Healing Digital untuk Gen Z

Universitas Kalbis; Universitas Kalbis; Universitas Kalbis; Universitas Kalbis

Abstrak

Generasi Z, yang tumbuh di era digital, menghadapi tekanan dan tantangan kesehatan mental. Musik diakui sebagai penenang stres dan pengatasi tekanan psikologis. Spotify, dengan lebih dari 500 juta pengguna aktif, memungkinkan pemilihan playlist sesuai suasana hati. Playlist menenangkan membantu meningkatkan konsentrasi dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Musik juga meningkatkan motivasi dan semangat belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Wawancara semi-struktur dan analisis konten dari narasi pengguna Spotify perpustakaan. Teknik purposive sampling digunakan untuk pemilihan lima (5) informan. Data wawancara dikategorikan dengan menggunakan open coding. Hasil menunjukkan bahwa pemanfaatan playlist Spotify di perpustakaan dapat memengaruhi suasana hati dan motivasi belajar pengguna. Ini dapat diimplementasikan sebagai fungsi rekreasi digital perpustakaan, melibatkan interaksi antara pengguna dan perpustakaan. Spotify yang mudah diakses dan menarik dapat menjadi alternatif rekreasi digital yang menarik bagi pengguna perpustakaan.

Abstract

Generation Z, growing up in the digital era, faces stress and mental health challenges. Music is recognized as a stress reliever and reliever of psychological pressure. Spotify, with more than 500 million active users, allows selecting playlists according to mood. Calming playlists help improve concentration and create a conducive learning environment. Music also increases motivation and enthusiasm for learning. This research uses a qualitative approach. Semi-structured interviews and content analysis of library Spotify user narratives. Purposive sampling technique was used to select five informants. The interview data were categorized by using open coding. The results show that using Spotify playlists in libraries can influence users' mood and learning motivation. This can be implemented as a digital recreation function of the library, involving interaction between the user and the library. Spotify, which is easy to access and interesting, can be an attractive digital recreation alternative for library users. This can strengthen the library's digital recreation function and increase user engagement. Suggestions, further exploration of the implementation of Spotify as a means of recreation in libraries.
Keywords: College libraries · Digital recreation music · Mental health · Spotify

Introduction

Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam cara masyarakat menikmati hiburan, seperti mendengarkan musik. Dahulu, akses terhadap musik terbatas pada media fisik seperti Walkman, kaset, atau pemutar CD, yang mengharuskan pengguna memiliki perangkat khusus untuk menikmatinya. Namun, dengan hadirnya inovasi digital dalam bentuk platform streaming musik online seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music, akses ke jutaan lagu kini menjadi lebih cepat, mudah, dan fleksibel. Platform-platform ini tidak hanya mengubah cara masyarakat mendengarkan musik, tetapi juga membuka peluang bagi institusi seperti perpustakaan untuk memperluas layanan mereka. Dalam konteks ini, perpustakaan mulai memanfaatkan Spotify sebagai salah satu sarana rekreasi digital untuk mendukung kesehatan mental pengguna melalui pengalaman yang lebih inklusif dan bermanfaat. Sebagai salah satu pusat informasi, perpustakaan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi administratif, fungsi penelitian, rekreasi dan kebudayaan (Darmanto, 2020). Era transformasi digital yang penuh dengan teknologi canggih, perpustakaan masih memainkan peran penting dalam mendukung fungsi rekreasi. Meskipun masyarakat sekarang memiliki akses mudah ke berbagai informasi dan hiburan melalui internet, perpustakaan tetap menjadi tempat yang penting untuk bersantai dan mengejar rekreasi intelektual. Perpustakaan harus beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat, salah satunya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan yang maksimal dan efisien kepada penggunanya (Kelas Menulis Pustakawan, 2019). Perkembangan informasi dan teknologi dapat menjadi sebuah peluang bagi perpustakaan untuk promosi,salah satunyamelalui media sosial (Julyanti & Delliana, 2022). Melalui perpustakaan, masyarakat juga dapat menikmati audiobook, video edukatif bahkan streaming musik melalui sumber daya digital yang tersedia. Fungsi perpustakaan sebagai rekreasi dapat dilakukan secara digital mengikuti perkembangan zaman, rekreasi digital mengacu pada aktivitas yang dilakukan untuk tujuan hiburan. Aktivitas tersebut dapat berupa bermain video game, streaming acara TV atau film, streaming musik, browsing media sosial, dan aktivitas online lainnya (Perry et al., 2022). Secara keseluruhan, rekreasi digital adalah istilah luas yang mencakup berbagai aktivitas rekreasi yang dilakukan masyarakat dengan menggunakan teknologi digital, rekreasi digital juga dapat menjadi cara untuk menghabiskan waktu seperti bermain game online, streaming video, film dan musik, membaca ebook dan aktivtas rekreasi online lainnya. Stres belajar dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental seseorang, sehingga penting untuk mengenali faktor-faktor yang menyebabkan stres belajar dan mencari cara untuk mengelolanya, salah satu faktor yang dapat menyebabkan stress belajar adalah lingkungan belajar yang tidak kondusif yang mengganggu konsentrasi (R. Putri, Sumardi, & Nugraha, 2022). Mendengarkan musik dapat membantu mengurangi stress saat belajar dan efektif untuk menurukan tingkat stress pada mahasiswa selama proses penyusunan tugas akhir (Mutakamilah, Wijoyo, Yoyoh, & ..., 2021). Musik tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia sehari-hari, karena musik dapat mendatangkan energi positif sehingga meningkatkan kemampuan konsentrasi dan menenangkan pikiran (A. D. Putri & Rahmah, 2019). Kata musik berasal dari Bahasa Yunani yaitu mousike, mousike diambil dari nama dewa mitologi Yunani yaitu Mousa (Wisnawa, 2020). Musik memiliki pengaruh yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi, musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas keseharian. Kehadiran musik dapat membantu meningkatkan konsentrasi manusia, terutama untuk mempelajari ilmu-ilmu yang rumit yang memakan banyak waktu. Oleh karena itu, dibutuhkan suasana yang nyaman namun pengguna tetap dapat berkonsentrasi (A. D. Putri & Rahmah, 2019). Perkembangan teknologi dan inovasi telah mengubah lanskap industri musik dengan cara yang sangat signifikan, terutama melalui platform musik digital yang saat ini paling populer yaitu Spotify. Spotify merupakan merupakan platform streaming musik yang didirikan di Stockholm, Swedia pada tahun 2006 dan diluncurkan pada tahun 2008 (Spotify, n.d.). Sumber: https://dataindonesia.id/ Gambar 1. Statistik aplikasi streaming musik di dunia dengan pengguna terbanyak per April 2022 Berdasarkan data dari Data Indonesia, Spotify merupakan platform streaming music dengan pengguna terbanyak per April 2022 dengan pengguna mencapai 365 juta, disusul diurutan kedua dengan SoundCloud dengan 76 juta pengguna, Apple Music 72 juta pengguna, Pandora Music 58 juta dan Clubhouse dengan 10 juta pengguna. Sumber: https://prioridata.com/data/spotify-stats/ Gambar 2. Statistik pengguna Spotify di dunia berdasarkan umur per April 2023 Berdasarkan data dari Priori Data menunjukan bahwa pengguna aplikasi Spotify didominasi oleh usia 25-34 tahun dengan total sebanyak 28.7%, disusul di urutan kedua pengguna di kalangan umur 18-24 dengan total sebanyak 25.7%. Hal tersebut menunjukan bahwa pengguna Spotify didominasi oleh kalangan muda dari Generasi Milenial dan Generasi Z. Generasi Milenial merupakan mereka yang lahir diantara tahun 1982 sampai dengan awal tahun 90an, sedangkan Generasi Z merupakan mereka yang lahir diantara tahun 1995-2010 (Mosca, Curtis, & Savoth, 2019). "Vibes chill" adalah istilah yang populer di kalangan Gen Z untuk menggambarkan suasana yang santai dan menenangkan. Ketika seseorang menyebut "vibes chill," mereka sedang merujuk pada momen atau pengalaman yang tidak penuh tekanan dan memberikan rasa nyaman, seperti mendengarkan musik yang lembut, bersantai di tempat favorit, atau menikmati waktu luang tanpa gangguan. Dalam konteks ini, musik sering kali menjadi elemen penting untuk menciptakan "vibes chill," di mana playlist dengan alunan yang tenang dan harmonis dapat membantu seseorang melepaskan stres dan merasakan kedamaian. Perpustakaan modern, termasuk Perpustakaan Universitas Kalbis, melihat kesempatan ini untuk menghadirkan suasana "vibes chill" melalui playlist di Spotify, yang tidak hanya membantu pengguna bersantai, tetapi juga mendukung kesejahteraan mental mereka di tengah kesibukan akademik. Spotify populer di kalangan Milenial dan Gen Z yang terbiasa menggunakan perangkat seluler untuk aktivitas sehari-hari. Spotify juga cocok untuk pecinta musik yang aktif dan produktif serta sering mendengarkan musik (Amanda, 2022). Menurut data dari Spotify Indonesia Consumer Insights tahun 2017, sebanyak 84% pengguna Spotify di Indonesia adalah generasi milenial dan gen z dengan rentang usia 15-34 tahun dan sebanyak 35% dari mereka menyukai menggunakan Spotify saat belajar (Spotify & The Nielsen Company, 2017). Spotify Perpustakaan Universitas Kalbis juga memungkinkan pengguna untuk menyusun playlist yang dipersonalisasi, berbagi lagu dengan teman, dan bahkan menikmati musik berkualitas tinggi melalui headphone nirkabel yang canggih. Hal ini menunjukkan betapa pesatnya perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara mesyarakat berinteraksi dengan musik, menjadikannya lebih mudah diakses dan dinikmati dari sebelumnya. Oleh karena itu, aplikasi streaming musik Spotify dipilih oleh Perpustakaan Universitas Kalbis sebagai bentuk transformasi rekreasi digital sebagai salah satu cara untuk meredakan stres, dan meningkatkan mood pengguna saat belajar atau aktivitas lainnya di perpustakaan. Teori Rekreasi Digital menurut Spracklen (2015) mengakui bahwa teknologi digital, khususnya internet, telah mengubah cara individu mengakses dan mendistribusikan konten hiburan, termasuk musik. Dalam musik, ini mencakup platform streaming musik, toko musik digital, dan berbagai cara lainnya di mana orang dapat dengan mudah mengakses berbagai jenis musik (Arditi, 2018). Spotify menjadi contoh konkret dari bagaimana teknologi digital memungkinkan akses mudah dan distribusi musik secara instan (Vonderau, 2017). Pengguna dapat mengakses jutaan lagu melalui platform ini tanpa perlu memiliki fisik atau mendownload file musik (Morris & Powers, 2015). Salah satu fitur utama Spotify adalah kemampuannya untuk memberikan pengalaman mendengar yang dipersonalisasi (A. Anderson, Maystre, Anderson, Mehrotra, & Lalmas, 2020). Melalui algoritma rekomendasi, Spotify memberikan daftar putar Discover Weekly dan Daily Mix yang disesuaikan dengan preferensi musik pengguna. Spotify memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi dan berinteraksi dengan musik secara digital (Freeman, Gibbs, & Nansen, 2022). Pengguna dapat membuat daftar putar pribadi, berbagi musik dengan temanteman, dan bahkan berinteraksi dengan artis melalui platform ini. Konsep konvergensi media terlihat dalam Spotify dengan integrasi audio dan visual. Selain mendengarkan lagu, pengguna dapat menikmati video musik dan konten multimedia lainnya yang terkait dengan artis atau lagu yang mereka dengarkan (Aegidius, 2022; PiñeiroOtero & Pedrero-Esteban, 2022). Spotify mencerminkan pergeseran dari kepemilikan fisik ke kepemilikan digital (Teague, 2012). Pengguna tidak perlu membeli atau memiliki fisik CD atau file musik, tetapi dapat mengaksesnya dengan berlangganan layanan streaming. Algoritma dan rekomendasi di Spotify berperan besar dalam membimbing preferensi musik pengguna. Melalui analisis pola mendengar dan preferensi, Spotify memberikan rekomendasi lagu, artis, dan daftar putar yang sesuai dengan selera musik pengguna (I. Anderson et al., 2020). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, metode kualitatif merupakan metode yang menggunakan data deskriptif, metode kualitatif juga sering disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitian diperoleh langsung di lapangan seperti menganalisis sebuah fenomena atau peristiwa, mengamati dinamika sosial dan lainnya (Sugiyono, 2020). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara yang dilakukan dengan cara wawancara semi-terstruktur dimana peneliti mengajukan pertanyaan yang mencakup pertanyaan terbuka. Metode wawancara semi-struktur memungkinkan munculnya pertanyaan baru sebagai hasil jawaban yang diberikan narasumber sehingga informasi yang diperoleh dapat digali lebih dalam (Sugiyono, 2020). Wawancara dilakukan terhadap pengguna Perpustakaan Universitas Kalbis yang menggunakan aplikasi Spotify. Objek dalam penelitian ini adalah aplikasi Spotify. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah individu yang menjadi narasumber dalam pengumpulan data untuk penelitian. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Teknik purposive sampling teknik ini digunakan untuk mengambil sampel dengan mempertimbangkan kriteria tertentu (Sugiyono, 2016). Penggunaan Teknik purposive sampling dilakukan karena peneliti tidak memberikan peluang yang sama terhadap pengguna Perpustakaan Universitas Kalbis untuk dijadikan sebagai informan, Peneliti menyesuaikan kriteria pengambilan sampel dengan fenomena dan faktor yang diteliti dalam penelitian.

Discussion

Transformasi digital dalam perpustakaan perguruan tinggi telah membawa perubahan yang revolusioner dalam cara pengetahuan dan informasi diakses dan dikelola. Perpustakaan perguruan tinggi tidak lagi hanya menjadi tempat untuk membaca dan belajar, tetapi juga berfungsi sebagai rekreasi yang menawarkan akses beragam bentuk hiburan digital (Endarti, 2022). Salah satu perubahan utama adalah pengenalan perangkat lunak dan peralatan canggih yang mendukung pengalaman multimedia. Pengguna sekarang dapat menikmati film, video game dan musik di lingkungan yang nyaman dan kondusif. Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengguna, perpustakaan dapat memanfaatkan musik untuk membantu meredakan stress dan fokus pengguna perpustakaan. Musik dapat memberikan hiburan, relaksasi, meningkatkan kenyamanan atau bahkan membantu meningkatkan konsentrasi ketika seseorang belajar atau bekerja di perpustakaan (Goltz & Sadakata, 2021). Hal ini mencerminkan cara perpustakaan beradaptasi dengan perubahan budaya dan teknologi untuk memastikan pengguna merasa diberdayakan dan memiliki akses ke berbagai bentuk hiburan di era digital iniI. Salah satu aspek yang dapat dilakukan dari transformasi digital perpustakaan adalah dengan memaksimalkan fungsi perpustakaan sebagai rekreasi, rekreasi digital dapat dilakukan melalui platform streaming musik. Spotify, merupakan platform streaming musik terpopuler yang dapat menjadi sarana rekreasi digital yang sangat berguna bagi pengguna dan perpustakaan. Spotify juga memberikan kemudahan akses jutaan layanan musik digital, podcast, dan video yang bisa diakses diperangkat mana saja seperti handphone, komputer, smart tv, speaker, dan perangkat lainnya untuk penggunanya di seluruh dunia. Spotify menjadi pilihan utama dalam layanan rekreasi digital, termasuk di Perpustakaan Universitas Kalbis, karena beberapa alasan penting. Pertama, platform ini menyediakan akses ke jutaan lagu dari berbagai genre dan bahasa, sehingga dapat memenuhi kebutuhan beragam pengguna perpustakaan. Dengan koleksi musik yang sangat luas, Spotify memungkinkan Perpustakaan Universitas Kalbis untuk menciptakan playlist khusus yang disesuaikan dengan suasana hati pengguna, seperti untuk mendukung konsentrasi belajar atau memberikan relaksasi di saat jeda. Kedua, kemudahan akses menjadi nilai tambah bagi Spotify. Pengguna di Perpustakaan Universitas Kalbis dapat mendengarkan musik atau podcast melalui berbagai perangkat, baik itu smartphone, laptop, atau komputer perpustakaan, tanpa perlu mengunduh atau memiliki perangkat keras khusus. Selain itu, Spotify memiliki konten yang relevan untuk mendukung kesehatan mental, seperti playlist meditasi dan podcast yang membahas kesejahteraan emosional. Hal ini sejalan dengan upaya Perpustakaan Universitas Kalbis untuk tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga menjadi pusat yang mendukung kesejahteraan holistik mahasiswa dan komunitas kampus. Spotify juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan-kegiatan perpustakaan, seperti sesi relaksasi atau diskusi edukatif melalui podcast. Dengan fleksibilitas ini, Perpustakaan Universitas Kalbis dapat memperluas perannya sebagai sumber daya digital yang bermanfaat bagi penggunanya. Musik juga mampu mengubah suasana hati dan emosi seseorang, Selain itu, musik memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas dan konsentrasi.banyak orang yang mendengarkan musik saat bekerja atau belajar karena musik dapat membantu mereka fokus dan merasa lebih nyaman (Shaleha, 2019). Spotify memberikan manfaat yang signifikan bagi pengguna Perpustakaan Universitas Kalbis, dengan memberikan pengalaman audio yang kaya dan bervariasi, pengguna dapat menikmati playlist musik yang telah disediakan perpustakaan untuk membantu mereka fokus membaca dan belajar atau bersantai saat istirahat. “layanan Spotify ini menarik ya, soalnya selama ini aku baru nemuin sih di perpustakaan ada layanan seperti ini, pengunaannya juga cukup mudah sih tinggal scan aja langsung masuk ke playlistnya, apalagi playlistnya cozy banget sukses buat balikin mood aku biar ga bosen belajar, malahan jadi fokus gitu” (Burhan, wawancara, 12 September 2023) Berdasarkan pernyataan Informan 4, playlist yang dibuat oleh Perpustakaan Universitas Kalbis membuat pengguna untuk fokus belajar, dan mencerahkan suasana hati saat belajar.Sumber: Spotify, 2024 Gambar 3. Akun Spotify Perpustakaan Universitas Kalbis Gambar 3 merupakan akun Spotify Perpustakaan Universitas Kalbis, melalui akun Spotify ini pengguna dapat mengakses lagu dan playlist dari berbagai genre, dan penyayi yang telah disediakan oleh Perpustakaan Universitas Kalbis. Selain itu, pengguna juga dapat membuat daftar playlist pribadi, menambahkan playlist Perpustakaan Universitas Kalbis ke akun pribadu atau mengikuti artis favorit, dan menjelajahi musik dari seluruh dunia. Pembuatan Playlist Spotify Perpustakaan Universitas Kalbis dilakukan dengan cara melakukan voting di Instagram, tujuannya agar playlist musik sesuai dengan preferesi pengguna dan pengguna bisa memilih playlist sesuai dengan suasana yang diinginkan. Sumber: Akun Instagram @LRCKalbis Gambar 4. Voting singkat di Instagram Perpustakaan Universitas Kalbis @LRCKalbis dalam proses pembuatan Playlist sesuai dengan selera musik pengguna. Berdasarkan hasil voting singkat di Instagram @LRCKalbis, jenis musik yang tenang lebih banyak disukai pengguna saat belajar dibandingkan tipe musik yang keras. Maka dari itu playlist dibuat beragam disesuaikan dengan selera pengguna Perpustakaan Universitas Kalbis. Sumber: Spotify Gambar 5. Playlist Spotify Perpustakaan Universitas Kalbis Hasil dari voting singkat di Instagram dibuat playlist Spotify yang dapat dinikmati pengguna dimulai dari tipe musik yang tenang seperti genre folk, akustik atau lagu instrumental sampai dengan tipe musik yang cenderung keras seperti rock, metal, Electronic Dance Music (EDM). Dengan beragamnya genre musik yang tersedia, perpustakaan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih nyaman dan produktif. Playlist yang disusun berdasarkan preferensi pengguna dapat menciptakan suasana hati yang positif dan membantu meningkatkan konsentrasi. Misalnya, pengguna yang menyukai tipe musik yang menenangkan seperti musik klasik, instrumental, akustik mungkin akan menemukan ketenangan dalam melodi yang indah, sedangkan pengguna yang menyukai musik upbeat dapat memotivasi diri mereka sendiri untuk terus belajar,seperti yang disampaikan oleh Informan 2 dan 3 mengenai playlist Spotify dengan tipe musik upbeat seperti musik rock untuk menemani belajar dan bekerja. ”karena aku tipe yang salah satunya ngerjain sesuatu sambil dengerin musik, termasuk ok si” (Shafira, wawancara, 12 September 2023). ”untuk playlist nya cocok banget sih buat belajar, apalagi ada satu playlist yang aku suka banget, genre nya kurang lebih rock ya. Jadi sangat relate banget nih sama kegemaran aku yang sering mendengarkan musik rock sambil belajar jadi bikin semangat” (Aura, wawancara, 12 September 2023). Dan Informan 5 yang lebih menyukai tipe musik yang menenangkan untuk belajar. ”menurut aku cocok banget buat belajar, apalagi playlist yang calm music itu ga mengganggu konsentrasi aku sama sekali malahan buat aku fokus. Selain buat belajar biasanya malah aku dengerin playlist nya sambil gambar, masak dan lainnya karena kan playlist nya bisa di download jadi kalau lagi gak ada internet masih bisa tetep dengerin”. (Levina, wawancara, 12 September 2023). Berdasarkan pernyataan dari informan 2, 3 dan informan 5 menunjukan bahwa playlist musik Spotify Perpustakaan Universitas Kalbis, selain dapat membantu pengguna dalam menurunkan stress saat belajar dan membuat fokus, pengguna juga memanfaatkan playlist untuk beraktifitas diluar belajar. Sumber: Akun Instagram @LRCKalbis Gambar 6. Penggunaan fitur scan barcode aplikasi Spotify Akses yang disediakan oleh perpustakaan ke playlist spotify dapat dilakukan dengan ke bagian search, atau scan barcode playlist spotify yang sudah disediakan oleh Perpustakaan Universitas Kalbis di meja pengguna perpustakaan, sehingga pengguna dapat mengakses dimanapun, dengan perangkat apapun dan kapanpun, sebagaimana yang disampaikan oleh informan 1 dalam wawancara: ”Untuk penggunaan Spotify di Perpustakaan Universitas Kalbis ini memang benar-benar sangat mudah banget sih untuk diakses, karena cuman tinggal di scan doang lalu playlist nya muncul semua” (Fandya, wawancara, 12 September 2023). Akses Spotify melalui barcode yang disediakan di meja perpustakaan dilakukan agar tiap pengguna dapat memutar playlist yang disediakan sesuai dengan suasana hati dan preferensi tanpa mengganggu pengguna perpustakaan lainnya. Dari hasil wawancara ke beberapa informan, dapat disimpulkan bahwa playlist Spotify yang disediakan oleh Perpustakaan dapat membantu pengguna perpustakaan untuk fokus dan termotivasi belajar, selain itu dengan akses yang mudah dan playlist yang dapat di personalisasi menciptakan kolaborasi yang baik antara perpustakaan dan penggunanya. Dalam menentukan jenis lagu yang akan dimasukkan ke dalam playlist, Perpustakaan Universitas Kalbis melakukan pendekatan yang berbasis pada kebutuhan dan preferensi pengguna. Upaya ini diawali dengan memahami profil pengguna perpustakaan, baik itu mahasiswa, staf akademik, maupun pengunjung lainnya. Berdasarkan masukan dari survei atau umpan balik langsung, perpustakaan dapat mengetahui genre musik yang paling disukai, serta suasana yang diinginkan—apakah untuk meningkatkan konsentrasi, relaksasi, atau sekadar hiburan. Selain itu, perpustakaan juga mempertimbangkan konteks akademik dan lingkungan belajar saat memilih lagu. Musik instrumental, lagu-lagu dengan lirik minim, atau komposisi yang bertempo lambat seringkali dipilih untuk membantu pengguna tetap fokus selama belajar. Di sisi lain, playlist yang lebih energik dan ceria mungkin disusun untuk acara perpustakaan tertentu atau untuk momen-momen rekreatif. Perpustakaan juga bekerjasama dengan mahasiswa dan komunitas kampus untuk membuat playlist tematik yang relevan dengan kegiatan akademik maupun non-akademik. Dengan pendekatan ini, Perpustakaan Universitas Kalbis memastikan bahwa koleksi musik yang disediakan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga fungsional dan mendukung kesejahteraan mental pengguna.

Conclusion

Hasil penelitian menunjukan bahwa, pemanfaatan playlist Spotify yang disediakan oleh Perpustakaan Universitas Kalbis membantu pengguna perpustakaan untuk fokus belajar dan meredakan stress. Selain akses yang mudah, pembuatan playlist beragam disesuaikan dengan preferensi pengguna membuat pengguna dapat memilih playlist sesuai dengan preferensi masing-masing, dimulai dari tipe musik yang menenangkan seperti music akustik dan instrumental hingga musik yang upbeat seperti music rock dan EDM dapat disesuaikan dan dipersonalisasi oleh pengguna, hal ini juga dapat menjadi bentuk kolabarosi yang baik antara pengguna dan perpustakaan. Meskipun demikian, efek musik terhadap stres belajar dapat berbeda-beda pada setiap individu. Beberapa orang mungkin merasa lebih tenang dan fokus saat mendengarkan musik, sementara yang lain mungkin merasa terganggu dan tidak dapat berkonsentrasi. Oleh karena itu, penting untuk mencari jenis musik yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan masingmasing individu.