Kembali
16
1
2025 Media Informasi Vol 34 · 1 ISSN 2829-2707

Preservasi Digital Film “Yang Terlupakan” sebagai Media Dokumentasi Perjuangan Bangsa

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi potensi preservasi digital melalui film lokal, dengan fokus pada memperkuat identitas budaya dan mempertahankan sejarah lokal. Kajian ini penting karena film merupakan salah satu sarana yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai budaya kepada generasi saat ini dan masa mendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan film "Yang Terlupakan" sebagai objek penelitian. Data dikumpulkan melalui metode wawancara semi terstruktur, serta pengayaan data melalui dokumen terkait dan sumber-sumber literatur yang mendukung. Data analisis pada penelitian ini menggunakan analisis tematik. Tahapan dalam penelitian meliputi pemahaman data dan identifikasi tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film "Yang Terlupakan" berpotensi memperkuat identitas budaya dan mempertahankan sejarah lokal. Pembahasan mengupas implikasi hasil ini dalam konteks preservasi budaya dan pembelajaran sejarah melalui film lokal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pentingnya penggunaan film lokal sebagai alat preservasi budaya dan pembelajaran sejarah. Preservasi digital melalui film dapat diimplementasikan di perpustakaan dan lembaga informasi sebagai media edukasi kreatif untuk menumbuhkan literasi sejarah dan semangat nasionalisme pemuda. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan strategi preservasi yang lebih terintegrasi dan melibatkan kolaborasi antara pemuda, pemerintah, dan masyarakat dalam melestarikan warisan budaya melalui media modern.

Abstract

This research explores the potential of digital preservation through local films, focusing on strengthening cultural identity and maintaining local history. This study is important because film is one of the most effective means to convey cultural values to current and future generations. This research uses a qualitative approach, using the movie “Yang Terlupakan” as the object of research. Data were collected through semi-structured interview method, as well as data enrichment through related documents and supporting literature sources. The data analysis in this study utilizes thematic analysis. The stages in this study involve understanding the data followed by careful identification processes. The results show that the movie “Yang Terlupakan” has the potential to strengthen cultural identity and maintain local history. The discussion explores the implications of these results in the context of cultural preservation and history learning through local films. This research concludes the importance of using local films for cultural preservation and historical learning. Digital preservation through films can be implemented in libraries and information institutions as a creative educational medium to foster historical literacy and youth nationalism. Future research is suggested to develop a more integrated preservation strategy and involve collaboration between youth, government, and society in preserving cultural heritage through modern media.
Keywords: Digital preservation · Film · Rejodani monument · Nationalism · Youth

Introduction

Pemuda memiliki perang penting sebagai ujung tombak dalam kemajuan bangsa Indonesia, karena mereka berfungsi sebagai agen perubahan dalam mewujudkan pembangunan bangsa. Dalam menghadapi tantangan era digital, kemampuan literasi khususnya literasi budaya menjadi utama bagi pemuda. Literasi budaya memungkinkan pemuda memahami, menghargai, dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa, termasuk sejarah perjuangan yang melekat dalam warisan budaya. Pemuda yang menguasai literasi informasi akan lebih siap untuk menghadapi tantangan global dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Pentingnya literasi dalam menciptakan generasi pemuda yang siap belajar sepanjang hayat serta memastikan bahwa pemuda dapat terus berinovasi dan berkontribusi terhadap kemajuan bangsa (Seifi, Habibi, & Ayati, 2020). Literasi informasi terutama literasi budaya dibutuhkan untuk memperoleh suatu informasi yang terkandung di dalam berbagai unsur budaya. Hal ini sebagai dasar untuk pengenalan budaya dan proses pembelajaran budaya terhadap masyarakat. Terbangunnya generasi penerus yang memiliki jiwa dan karakter sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa merupakan implementasi dari pengembangan literasi budaya (Saepudin, Damayani, & Rusmana, 2018). Semangat dan jiwa pemuda bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajah patut diapresiasi karena tertanam jiwa nasionalisme dalam setiap langkah perjuangan. Bentuk perjuangan pahlawan menjadi momentum yang perlu diabadikan. Salah satu perjuangan pemuda diabadikan dalam sebuah monumen yang mencantumkan beberapa tokoh pemuda yang berjuang. Monumen ini bernama Monumen Rejodani. Pada monumen ini, terukir namanama pemuda yang berjuang antara tahun 1947-1949. Para pemuda dusun Rejodani dengan semangat juang yang tinggi dan rasa nasionalisme bergerilya dalam menghadapi penjajah. Mereka gigih dalam menghadapi penjajah dan tak gentar untuk mempertaruhkan nyawanya untuk bangsa Indonesia. Pembuatan Monumen Rejodani memiliki tujuan supaya jasa perjuangan pemuda Rejodani akan selalu dikenang dan abadi. Generasi muda memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai luhur warisan budaya bangsa melalui upaya menjaga dan melestarikan informasi. Langkah yang dapat dilakukan generasi muda ini dengan menjaga informasi yang ada agar tersimpan secara baik. Salah satunya dengan preservasi digital. Preservasi digital bertujuan supaya informasi digital tetap hidup dan mudah diakses. Salah satu bentuk dari preservasi digital adalah film. Sampai saat ini, kajian atau evaluasi terhadap film dari perspektif preservasi digital masih terbatas. Penelitian mengkaji film pendek yang berjudul “Yang Terlupakan”. Film perjuangan yang mengisahkan perjuangan pemuda Rejodani dalam menghadapi Belanda saat serangan Agresi Militer II. Kisah perjuangan pemuda yang diabadikan dalam film dapat ditonton setiap saat. Jika kisah perjuangan pemuda Rejodani tidak diabadikan dalam film, maka kisah ini akan hilang begitu saja. Pentingnya preservasi digital dalam melestarikan warisan budaya agar keberadaanya akan terus terasa untuk generasi yang akan datang. Antusias pemuda Rejodani dalam pembuatan film ini menciptakan solidaritas sehingga menghasilkan suatu karya yang akan terjaga kelestariannya. Film merupakan preservasi digital dengan media audio visual. Keberadaan film memudahkan masyarakat dalam memahami makna sejarah yang terkandung di dalamnya. Informasi yang ada di film akan selalu terjaga. Selain itu, film menjadi wadah dalam generasi muda saat ini untuk terus berkreasi dan berinovatif. Generasi muda dan kreatif mampu menghasilkan suatu karya yang bermanfaat untuk bangsanya. Pemuda berperan penting sebagai agen perubahan dalam pembangunan bangsa, dengan literasi informasi dan budaya sebagai bekal menghadapi era digital. Monumen Rejodani menjadi simbol warisan sejarah perjuangan pemuda yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Film sebagai media audio-visual efektif digunakan untuk mendokumentasikan dan menyampaikan sejarah secara menarik, serta mendorong kreativitas pemuda. Agar film tersebut dapat diakses secara berkelanjutan, diperlukan preservasi digital sebagai upaya pelestarian sejarah di era modern. Kajian tentang preservasi digital terutama untuk eksplorasi film sangat dibutuhkan. Akan tetapi, kajian ini masih terbatas dalam penelitian sehingga perlu lebih banyak lagi untuk dikaji. Pada saat ini masih sedikit studi relevan yang dipublikasi secara khusus mengenai film dan preservasi digital (Antoniazzi, 2021). Penelitian ini mengkaji film tersebut dengan tujuan memperkuat preservasi digital dalam melestarikan warisan budaya, serta menyoroti peran vital generasi muda dalam menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa. Oleh karena itu, permasalahan penelitian adalah bagaimana film "Yang Terlupakan" berkontribusi dalam preservasi digital dan upaya pemuda Rejodani sebagai generasi bangsa. Studi mengenai preservasi digital telah banyak ditemukan dalam beberapa penelitian, khususnya dalam tiga tahun terakhir. Penelitan di tahun 2022, membahas mengenai eksplorasi penyimpanan dan pelestarian arsip audio-visual di Ghana. Penelitian ini menekankan pentingnya mengadopsi teknologi secara hati-hati dengan mempertimbangkan isu-isu kepemilikan, hak cipta, serta pentingnya material fisik untuk memastikan akses yang berkelanjutan terhadap materi audio-visual yang diarsipkan di Ghana (Ohene-Asah, 2022). Selanjutnya tahun 2023, sebuah penelitian mengevaluasi praktik preservasi digital untuk sumber informasi di perpustakaan universitas di Pakistan dan mengidentifikasi berbagai strategi dan tantangan dalam mempertahankan informasi digital di institusi pendidikan tinggi (Ahmad & Rafiq, 2023). Kemudian di tahun 2024, penelitian mengenai preservasi digital fokus pada penggunaan teknologi untuk melestarikan hasil fotografi dalam jangka panjang, menunjukkan bagaimana inovasi teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan dokumentasi visual (Diprose, 2024). Meskipun studi-studi sebelumnya telah membahas preservasi digital di berbagai konteks seperti arsip audio-visual, perpustakaan, dan fotografi, penelitian yang secara khusus mengkaji preservasi digital warisan budaya melalui media film dalam kaitannya dengan peran aktif pemuda sebagai agen pelestari budaya masih sangat terbatas. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa peran pemuda dalam mengembangkan literasi budaya melalui film sebagai media preservasi digital belum banyak mendapat perhatian akademik. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan menghadirkan perspektif pemuda sebagai aktor utama preservasi digital budaya melalui film. Dalam konteks era digital, pemuda tidak hanya berperan sebagai penerima warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai kreator yang mampu mendokumentasikan, menginterpretasi ulang, serta memperkenalkan budaya secara kreatif kepada generasi sejawat. Dengan menempatkan film sebagai medium pelestarian yang dekat dengan keseharian pemuda, penelitian ini diharapkan memberikan wawasan baru tentang bagaimana literasi budaya, teknologi digital, dan kreativitas generasi muda dapat saling terintegrasi untuk mendukung pelestarian budaya yang berkelanjutan. Preservasi digital dapat didefinisikan sebagai konversi sumber daya informasi analog melalui proses digitalisasi dan juga inklusi sumber daya digital yang tersedia dalam berbagai format file digital yang berisi berbagai jenis informasi (Ahmad & Sharma, 2020). Definisi preservasi digital mengacu pada serangkaian aktivitas yang dikelola yang diperlukan untuk memastikan akses terus-menerus ke materi digital selama yang diperlukan (Digital Preservation Coalition, 2024). Preservasi digital mencakup berbagai kebijakan, teknologi, dan strategi yang dirancang dengan cermat untuk memastikan bahwa objek dan koleksi digital tidak hanya dapat diakses saat ini, tetapi juga dapat bertahan dalam jangka panjang, sehingga tetap dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh generasi mendatang. Upaya ini penting untuk menjaga keberlanjutan informasi dan budaya dalam era digital yang terus berkembang (Ahmad et al., 2023). Film sebagai bentuk komunikasi interaktif memungkinkan penonton untuk terlibat secara langsung dengan narasi, karakter, dan pesan yang disampaikan melalui penggunaan gambar, suara, dan narasi visual. Hal ini karena sarana komunikasi menjadi bagian supaya dapat terhubung oleh banyak orang (Andersen, 2017). Film diakui sebagai warisan budaya nasional dan internasional yang berharga (Elsaesser, 2016). Kedudukan film sebagai peran sentral dalam memfasilitasi pemahaman masyarakat tentang sejarah dan nilai-nilai budaya yang tercermin di dalamnya. Tak hanya sebagai sarana edukasi, film juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda, mendorong kreativitas dan inovasi dalam berbagai bidang. Namun, dalam konteks preservasi, perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru, seperti perubahan format media dan risiko kerusakan fisik maupun digital. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan strategi preservasi yang efektif untuk film “Yang Terlupakan”. Studi kasus terhadap film tersebut akan memberikan wawasan yang berharga dalam pengembangan pendekatan preservasi yang sesuai. Preservasi digital dan film memiliki tujuan yang sama dalam menjaga dan memelihara warisan budaya dalam bentuk visual yang dapat diakses secara digital. Preservasi digital dalam konteks film melibatkan upaya untuk memastikan bahwa karya-karya film, baik yang berformat analog maupun digital, tetap dapat diakses dan dinikmati di masa depan. Preservasi digital merupakan elemen yang penting dalam pelestarian warisan budaya karena beberapa alasan seperti aksesibilitas dan ketersediaan, perlindungan dan konservasi, serta dokumentasi dan penelitian. Dengan demikian, preservasi digital dan film bekerja bersama-sama untuk memastikan bahwa warisan budaya dalam bentuk film tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang (Putra, Bahtiar, Rifqi, & Mardiyanto, 2023). Pada penelitian ini, penelusuran informasi tentang penelitian sejenis dan relevan dilakukan untuk memberikan gambaran dalam melakukan penelitian. Topik dalam penelitian ini sudah ditemukan di beberapa jurnal. Berikut ini adalah penelitian sejenis dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Ahmad & Sharma (2020) mengkaji sebuah topik menarik tentang penerapan standar untuk digitalisasi, akses, dan pelestarian dalam proses digital oleh institusi India. Selanjutnya, diperlukan penetapan standar nasional untuk pelestarian digital berkelanjutan dan pengambilan sumber daya warisan di seluruh negeri. Hasil penelitian ini menunjukkan setiap organisasi warisan memiliki tujuan sendiri untuk proses digitalisasi dengan menggunakan metode yang berbeda dalam upaya preservasi digital. Lebih jauh lagi, Antoniazzi (2021) menjelaskan mengenai lembaga warisan film Eropa (FHIs) sangat penting dalam upaya pelestarian warisan media. Kemajuan teknologi mempengaruhi pemeliharaan infrastruktur pelestarian digital. Hasil dalam penelitian ini adalah secara aktif melibatkan teknologi dalam melindungi bahan digital yang mereka miliki. Pramudyo & Salim (2021) menghadirkan sebuah analisis komprehensif mengenai upaya preservasi warisan musik, melibatkan berbagai pihak mulai dari komposer hingga pemerintah. Penelitian ini memaparkan kajian dengan pendekatan kualitatif yang digunakan untuk mengevaluasi tindakan preservasi warisan musik. Olayemi & Abolarinwa (2023) mengkaji mengenai penggunaan internet dan literasi e-health di antara pasien tuberkulosis yang menghadiri Directly Observed Therapy Center di Negara Bagian Lagos, Nigeria. Hasil penelitian menunjukkan perlunya menanamkan literasi e-health ke dalam program pendidikan pasien tuberkulosis di negara tersebut dan mengevaluasi informasi online sebagai sumber informasi medis yang terpercaya. Meskipun studi-studi terdahulu telah dilakukan, penelitian mengenai preservasi digital untuk film lokal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi kesenjangan pengetahuan ini dengan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang preservasi digital melalui film lokal. Selain itu, penelitian ini menunjukkan kontribusi baru dalam literatur tentang pelestarian warisan budaya melalui media audio visual.

Method

Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan menggunakan film "Yang Terlupakan" sebagai fokusnya. Metode penelitian kualitatif menekankan pada pemahaman mendalam terhadap konteks alamiah objek penelitian (Sugiyono, 2016). Peneliti menggunakan pendekatan wawancara semi-terstruktur yang dilakukan secara tatap muka langsung untuk mengumpulkan data dari berbagai narasumber yang berperan signifikan dalam konteks yang diselidiki. Wawancara dilaksanakan dengan durasi rata-rata 45 hingga 60 menit per sesi. Selama proses wawancara, peneliti menggunakan perekam audio sebagai alat bantu dokumentasi, disertai pencatatan manual untuk menangkap poin-poin penting yang disampaikan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mendapatkan wawasan yang komprehensif mengenai pengaruh film tersebut terhadap masyarakat setempat. Peneliti juga melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dengan pengayaan dari dokumen terkait, seperti informasi tentang Monumen Rejodani dan literatur-literatur yang relevan dengan topik penelitian. Pendekatan ini membantu peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap tentang konteks budaya dan sejarah yang mendasari fenomena yang diteliti. Dalam hal ini, penggunaan sumber daya tambahan seperti dokumentasi dan literatur mendukung validitas dan ketepatan hasil penelitian. Data analisis pada penelitian ini menggunakan analisis tematik. Analisis tematik adalah metode untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola-pola tematik dalam data, dengan tujuan mengorganisir serta mendeskripsikan data dengan detail (Braun & Clarke, 2006). Tahapan dalam analisis tematik dengan cara memahami data kemudian data tersebut dilakukan proses identifikasi dengan pembacaan ulang data secara hati-hati (Fereday & Muir-Cochrane, 2006). Dalam penelitian ini, analisis tematik diterapkan menggunakan pendekatan induktif, di mana tema-tema dikembangkan langsung dari data wawancara tanpa mengacu pada kerangka teori tertentu di awal. Proses analisis diawali dengan pembacaan ulang data secara cermat, dilanjutkan dengan proses kodefikasi, yaitu pemberian kode pada potongan-potongan data yang relevan. Kode-kode yang memiliki kesamaan makna kemudian dikelompokkan menjadi kategori, yang selanjutnya dikembangkan menjadi tema-tema utama yang merepresentasikan temuan inti penelitian. Subjek penelitian ini adalah informan kunci yang dipilih menggunakan metode snowball sampling, dimana proses pemilihan informan diawali dengan mewawancarai sutradara sekaligus penulis film “Yang Terlupakan”. Beberapa informan lain juga terlibat sebagai narasumber untuk memperkaya perspektif sejarah antara lain kepala dukuh dusun Rejodani dan warga dari dusun Rejodani yang merasakan zaman penjajahan saat itu. Identitas narasumber disamarkan demi menjaga privasi mereka. Keterlibatan informan-informan kunci ini penting karena mereka dapat memberikan perspektif yang beragam dan mendalam tentang dampak film terhadap budaya lokal. Melalui kerja sama dengan mereka, diharapkan penelitian ini mampu menggali pemahaman yang mendalam tentang bagaimana film dapat menjadi alat yang memengaruhi persepsi dan kehidupan masyarakat dalam konteks budaya yang spesifik.

Discussion

Sejarah Monumen Rejodani dan Film “Yang Terlupakan” Sejarah merupakan peristiwa masa lalu yang diceritakan secara kronologis dan memiliki hubungan sebab akibat suatu peristiwa. Peristiwa dalam sejarah merupakan peristiwa yang saling bertautan (Laksono, 2018). Salah satu contoh sejarah dalam penelitian ini yaitu monumen Rejodani yang berlokasi di Rejodani, Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Monumen mempunyai makna sejarah yang sangat penting karena sebagai media dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme (Fikri, 2019). Monumen Rejodani merupakan makna sejarah pemuda-pemuda Rejodani yang gugur sebagai pejuang kemerdekaan antara tahun 1947-1949. Peristiwa ini juga memiliki keterkaitan dengan peristiwa Agresi Militer II. Agresi Militer II terjadi pada tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 5 Januari 1949. Sesudah penandatanganan persetujuan Perjanjian Renville, Belanda gencar melakukan penyerangan dari berbagai aspek politik, militer, dan ekonomi. Blokade ekonomi membuat bangsa Indonesia menderita karena kurangnya pakaian, obat-obatan, peralatan untuk produksi (Nasution, 1992). Terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949 telah membuka dunia mengenai kebohongan Belanda dan akibat serangan tersebut. Pada hari Minggu, 29 Mei 1949 pasukan khusus Belanda mengadakan patroli ke desa Rejodani dari arah Yogyakarta dengan ditunjang infanterinya dari arah Beran (Rasyadi, 2020). Sumber: Buku Menuju Medan Laga Rejodani Gambar 1. Kedatangan Pasukan Belanda Pemuda yang gugur dan hilang namanya diabadikan di dalam monumen tersebut. Pemuda yang gugur antara lain Fan Udrus, M. Baidowi, Iskandar, Gunandi, Samsuri, Muh. Suhadi, dan Suharno. Pemuda yang hilang antara lain Suwadi, Sukontho, Tanazul, Markam, Muh. Dawam, Ngatijo, dan Suparjan. Pemuda yang gugur tersebut menjadi sebuah sejarah di desa Rejodani yang telah berjuang dalam melawan penjajah. Keberadaan monumen tersebut penting karena menjadi kisah perjuangan pemuda Rejodani dalam berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terdapat dalam monumen Rejodani terdapat nilai patriotisme, persatuan dan kesatuan, dan nilai pendidikan bagi masyarakat setempat. Nilai patriotisme yang ditunjukkan oleh para pejuang dalam menghadapi penjajah, baik sebelum maupun selama perjuangan kemerdekaan, dijadikan pembelajaran bagi generasi muda untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Meskipun cara pelaksanaannya mungkin tidak sama dengan para pejuang karena kondisi zaman yang berbeda, namun hal yang penting adalah mengambil semangat perjuangan dari mereka. Hal ini dapat diwujudkan dengan menjaga warisan sejarah, melestarikan tradisi budaya, dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan sebagai ekspresi cinta terhadap tanah air. Nilai persatuan dan kesatuan merupakan hal yang sangat penting. Hal ini harus digunakan sebagai upaya untuk membentuk rasa nasionalisme di kalangan masyarakat, terutama generasi muda, dengan tujuan memperkuat kesatuan bangsa dan mencegah potensi perpecahan yang semakin sering terjadi saat ini. Peristiwa pertempuran yang telah terjadi menjadi pelajaran dan sumber motivasi bagi generasi muda untuk tetap semangat berjuang. Sama seperti para pejuang masa lalu yang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan, sekarang generasi muda harus memiliki semangat berjuang untuk memperkuat kemerdekaan dengan meningkatkan pendidikan dan melawan bentuk baru kolonialisme dalam era globalisasi ini (Fikri, 2019). Pembuatan film lokal ini dipicu oleh kekhawatiran seorang pemuda dari dusun Rejodani yang menyadari bahwa beberapa orang kurang memperhatikan eksistensi monumen di wilayah mereka. Langkah yang dilakukan penulis film lokal ini dengan cara membuat naskah. Pada pembuatan naskah, penulis melakukan wawancara terhadap beberapa tokoh masyarakat setempat yang pernah merasakan penjajahan. Pada proses pembuatan naskah film lokal ini ini memperhatikan berbagai aspek dalam penulisannya sehingga diperlukan metodologi sejarah. Metode yang dipakai dalam metodologi sejarah untuk menghasilkan suatu historiografi yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan setidaknya ada 4 tahap. Tahap pertama adalah heuristik, yaitu proses mencari dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah yang relevan. Tahap kedua adalah verifikasi, yang bertujuan menilai keaslian dan kepercayaan sumber melalui sikap kritis peneliti. Tahap ketiga adalah interpretasi, yakni menafsirkan dan menyusun fakta sejarah secara selektif agar mendukung tema yang dibahas. Tahap keempat adalah penulisan (historiografi), yaitu mencatat dan menyusun hasil penelitian sejarah menjadi kisah yang bermakna sebagai bahan pembelajaran (Laksono, 2018). “Ada satu momen di depan masjid saya duduk disitu saya melihat tapi ketika orang melihat itu cuek saja. Saya berfikir ini pahlawan mati berjuang. Saya menulis naskah, cari narasumber, saya mengajak pemuda”. (Dika) Berdasarkan kutipan di atas dijelaskan bahwa awal penulisan naskah film ini berawal dari ketidaksengajaan karena melihat beberapa orang yang kurang peduli terhadap keberadaan monumen tersebut. Kemudian, pembuatan naskah melewati beberapa tahap antara lain heuristik, verifikasi, interpretasi, dan penulisan. Proses heuristik atau pengumpulan sumber dilakukan dengan melakukan wawancara narasumber yang menjadi saksi kunci sejarah Rejodani. Kemudian, pada tahap verifikasi, hasil yang akan ditulis berpedoman dari hasil wawancara tersebut. Setelah itu, dikonversi ke dalam bentuk naskah yang menjadi pedoman dalam pembuatan film. Cerita sejarah jika tidak didokumentasikan dengan baik maka akan hilang seiring perjalannya waktu. Hal ini menjadi alasan sutradara film ini mengemas sejarah dalam bentuk audivisual supaya menjadi suatu memori yang abadi. Pembuatan naskah untuk film ini dilakukan secara teliti dan hati-hati sehingga alur dalam film ini sesuai dengan kejadian saat peristiwa. Memahami Interaksi Komunikasi Film dan Generasi Muda Generasi muda merupakan komponen yang dilibatkan oleh bangsa ini. Salah satu wujud perjuangan generasi muda saat perjuangan tergambar dalam sebuah monumen yang terletak di depan Masjid Sulthony. Monumen ini salah satu wujud dari preservasi supaya perjuangan pemuda dalam melawan penjajah akan dikenang dan namanya diabadikan. Monumen ini sebagai bentuk wujud rasa nasionalisme yang diberikan kepada bangsa Indonesia dengan melawan segala bentuk penjajahan meskipun nyawa taruhannya. “Sing do gugur pemuda ne mriki pirang-pirang dijak Jepang didadekke Heiho. Seprene ra mulih, nggih mati.” (Sinta) Berdasarkan kutipan wawancara di atas, perjuangan pemuda dusun Rejodani tidak hanya dalam menghadapi Belanda. Ketika Jepang datang ke dusun Rejodani para pemuda juga ikut berjuang dengan bergabung dengan tentara Jepang yang bernama Heiho. Namun, ini salah satu strategi tipu daya Jepang karena hingga saat ini para pemuda Rejodani tidak kembali. Sumber: Dokumen Pribadi Gambar 2. Monumen Rejodani Keberadaan Monumen Rejodani merupakan salah satu budaya yang perlu dilestarikan. Langkah pelestarian ini disebut dengan preservasi digital. Preservasi digital merupakan salah satu bentuk kegiatan pelestarian demi menjaga keutuhan informasi yang terdapat dalam format digital dengan mengikuti perkembangan teknologi informasi saat ini. Preservasi digital juga merupakan proses manajemen aktif konten digital dari waktu ke waktu untuk memastikan akses yang berkelanjutan (Putri & Susetyo-Salim, 2017). Salah satu bentuk dari preservasi digital adalah film. Film merupakan bagian dari media massa yang terdiri dari audio dan visual dengan kemampuan dalam mempengaruhi emosional penonton dari visual gambar yang dihadirkan. Film juga memiliki makna lain sebagai dokumen sosial dan budaya sebagai perantara dalam mengkomunikasikan pesan yang terkandung di dalamnya (Alfathoni & Manesah, 2020). “Tapi saya melihat satu minat baca nggak ada, kedua beberapa kali melihat anak muda tidak bisa merawat sesuatu ketika saat membuat film mungkin orang tidak perlu membaca tapi kejadian demi kejadian digambarkan secara visual. Saya membuat film tidak akan pernah hilang karena sudah saya upload”. (Dika) Berdasarkan kutipan di atas, minat baca pada generasi muda saat ini rendah. Hal ini sesuai dengan data UNESCO tingkat literasi dan minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang memiliki minat baca (Permatasari, 2015). Selain itu, pembuatan film bertujuan untuk memudahkan orang dalam memahami sebuah sejarah. Film yang berdurasi kurang lebih 35 menit ini sudah diupload di YouTube Wathon Film. Keberadaan film ini menjadi salah satu wujud preservasi digital dalam menjaga warisan budaya. Film “Yang Terlupakan” merupakan sebuah film pendek yang menceritakan kisah para pemuda pejuang dari desa Rejodani, Yogyakarta dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi militer Belanda II. Jejak sejarah para pemuda pejuang Rejodani terabadikan dalam Monumen Rejodani yang berdiri kokoh di area depan Masjid Sulthony, Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembuatan film memiliki tujuan untuk mengenalkan sinematografi dan mengingat cerita dengan audio visual. Dampak positif yang dirasakan dalam film ini yaitu masyarakat mengetahui mengenai sejarah monumen Rejodani. Proses pemutaran film ini pertama kali diadakan di Dusun Rejodani selama acara malam puncak peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2019. Acara ini disambut antusias oleh warga setempat yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan karya film lokal yang mengangkat tema-tema nasionalisme. Kesuksesan pemutaran film pertama ini mendorong diadakannya pemutaran film kedua pada tanggal 13 September 2019 di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Antusiasme yang sama juga ditunjukkan oleh para mahasiswa yang tertarik dengan teknik sinematografi yang digunakan dalam film tersebut. Pembuatan film yang dikemas dengan kualitas sinematografi yang bagus ini tidak hanya menarik dari segi visual, tetapi juga dari sisi naratif yang mampu menggugah emosi penonton. Sumber: instagram.com/perpustakaanuinyogyakarta Gambar 3. Pemutaran Film “Yang Terlupakan” Keterlibatan perpustakaan dalam penyelenggaraan screening ini menunjukkan peran pentingnya sebagai wadah yang mendukung generasi muda dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga sebagai ruang berkumpul, berbagi ide, dan menginspirasi mahasiswa untuk mengeksplorasi bidang seni dan media. Dengan menyediakan ruang untuk screening film, perpustakaan telah memperluas perannya menjadi pusat kegiatan budaya dan intelektual, yang merangsang mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pencipta konten kreatif. Melalui dukungan terhadap kegiatan seperti ini, perpustakaan turut mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam produksi media yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya dokumentasi visual sebagai bagian dari warisan budaya. Pada akhir film ini, terdapat cuplikan yang sangat menarik dan memberikan dampak emosional yang mendalam bagi penonton. Tokoh KRT. Prodjo Ridwanto menyampaikan sebuah pernyataan yang penuh makna kepada para pemuda Rejodani sebelum mereka berangkat ke medan perang. Ia berkata, "Pilihan Ming Ono Loro, Penjajah Minggat Opo Awak Dewe Sing Mati." Pernyataan ini mengandung arti bahwa hanya ada dua pilihan bagi mereka, penjajah harus pergi dari tanah air, atau mereka yang siap mengorbankan nyawa. Kalimat ini tidak hanya mencerminkan pilihan yang dihadapi oleh para pejuang pada masa penjajahan, tetapi juga menggambarkan betapa kuatnya semangat nasionalisme yang tertanam dalam diri mereka. Makna yang terkandung dalam kalimat tersebut menggambarkan keberanian luar biasa dan kesiapan para pemuda untuk mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa. Sumber : Film “Yang Terlupakan” Gambar 4. Tokoh KRT. Prodjo Ridwanto dalam Film “Yang Terlupakan” Sumber: instagram.com/ardani_duri Gambar 5. Proses pembuatan Film “Yang Terlupakan” Pada era digital saat ini, digital preservasi dengan anak muda perlu difasilitasi. Pembelajaran mengenai sinematografi menjadi bekal dalam upaya melestarikan warisan budaya. Keberadaan film ini menjadi bukti bahwa generasi muda sekarang harus kreatif dan inovatif dalam mengemas suatu hasil warisan budaya sehingga kelestariannya tetap terjaga. Selain itu, perlunya komunitas yang menjadi wadah bagi anak muda dalam mengembangkan karyanya. Organisasi pengetahuan merupakan bagian dari aktivitas komunikatif sehari-hari masyarakat (Andersen, 2017). “Biar merasa memiliki ternyata dulu perjuangan buat Indonesia. Meneladani pahlawan untuk perjuangannya. Pemuda pada buat sendiri untuk senjata dalam film. Efek dari pembuatan film tambah kompak dan solid dan pemutaran film perdana di halaman masjid.”(Ari) Berdasarkan kutipan di atas, keberadaan film tersebut menjadi media dalam menumbuhkan rasa nasionalisme ke dalam jiwa pemuda Rejodani saat ini. Rasa solidaritas dan antusias pemuda dalam pembuatan film tersebut menjadi salah satu bukti dalam jiwa kreatif yang dimiliki. Film menjadi salah satu media dalam preservasi digital. Kisah perjuangan pemuda diabadikan dalam film sehingga bisa ditonton setiap saat. Jika kisah perjuangan pemuda Rejodani tidak diabadikan dalam film, maka kisah ini akan hilang begitu saja. Hal ini sejalan dengan pendapat (Fakhriati, Kalsum, Sugiarti, & Ilyas, 2022) manuskrip yang sudah hancur juga sulit dibaca artinya ilmu, informasi, atau hikmah yang terkandung di dalam manuskrip tidak dapat diperoleh atau dibagikan. Sementara itu, sejarah mengungkapkan masa lalu dan memungkinkan manusia untuk belajar darinya. Hilangnya manuskrip kuno berarti hilangnya pengetahuan yang terkait dari masa lalu hingga masa kini. Interaksi komunikasi yang tercipta di antara generasi muda dalam film “Yang Terlupakan” menggambarkan semangat juang dan rasa nasionalisme yang kuat. Karakterkarakter muda dalam film ini menunjukkan bagaimana mereka tidak hanya berbicara tentang sejarah perjuangan, tetapi juga mewujudkannya melalui tindakan nyata dalam kehidupan mereka. Komunikasi yang terjalin di antara mereka penuh dengan pesan-pesan keberanian, solidaritas, dan komitmen untuk mempertahankan kemerdekaan, yang merupakan cerminan dari nilai-nilai patriotik yang mendalam. Interaksi komunikasi yang tercipta mampu mewujudkan aktivitas sosial dalam kehidupan sehari-hari (Andersen, 2017). Sumber: Film “Yang Terlupakan” Gambar 6. Pemuda Rejodani berdiskusi terkait strategi kedatangan Belanda Antusiasme generasi muda dari Dusun Rejodani dalam proses pembuatan film lokal ini patut diapresiasi karena mereka telah memilih untuk menggunakan media film sebagai sarana mengekspresikan rasa nasionalisme mereka di era modern. Mereka tidak hanya menjadi penonton pasif sejarah, tetapi juga ikut serta dalam penciptaan narasi yang menggugah dan bermakna, yang dapat menginspirasi orang lain. Interaksi komunikasi yang terbangun selama proses produksi film ini juga mampu mewujudkan aktivitas sosial yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Para pemuda belajar untuk bekerja sama, berkolaborasi, dan berkomunikasi secara efektif, yang tidak hanya bermanfaat bagi proyek film itu sendiri, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di antara mereka. Dengan demikian, film tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga media pendidikan, media pengajaran perjuangan, dan kontribusi aktif dalam komunitas. Tantangan Pembuatan Film “Yang Terlupakan” Pada pembuatan film lokal ini terdapat beberapa tantangan dalam prosesnya antara lain keterbatasan anggaran, kurangnya dukungan pemerintah, dan promosi. Keterbatasan anggaran dalam pembuatan film ini tidak menyurutkan penulis naskah sekaligus sutradara dalam Film “Yang Terlupakan” untuk menciptakan sebuah film lokal yang memiliki makna dalam mengenai sejarah perjuangan pemuda dusun Rejodani. Dalam konteks Film Heritage Institutions (FHIs), tantangan keterbatasan anggaran juga menjadi salah satu aspek yang memengaruhi upaya mereka dalam menjaga dan mempromosikan warisan film (Antoniazzi, 2021). Tantangan yang kedua adalah dukungan aktif dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah ikut serta dalam memastikan kesuksesan upaya preservasi digital, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga warisan budaya untuk masa depan. Peran pemerintah daerah sebagai lembaga yang melestarikan budaya sangat terhubung dengan peran sebagai penyedia informasi. Melalui perannya dalam melestarikan budaya, lembaga tersebut menghasilkan informasi yang diperlukan untuk menjalankan fungsi sebagai penyedia informasi (Ganggi & Dewi, 2021). Pemerintah dan warga lokal juga perlu bekerja sama dan berkolaborasi untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai warisan musik serta langkah-langkah untuk melestarikannya (Pramudyo & Salim, 2021). Tantangan terakhir yang dihadapi adalah keterbatasan dalam hal promosi. Film lokal ini sejauh ini telah dipromosikan pada acara Bulan Kunjung di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan acara peringatan 17 Agustus di Dusun Rejodani. Selain itu, film ini juga dapat diakses oleh publik melalui platform YouTube Wathon Films, yang memungkinkan penonton untuk menonton dan berbagi film secara online. Meskipun upaya promosi ini sudah berjalan, jangkauan dan dampaknya masih relatif terbatas. Upaya yang dilakukan untuk memaksimalkan potensi film ini sebagai sumber inspirasi bagi generasi muda di seluruh Indonesia dengan dukungan yang lebih besar terutama dari pihak pemerintah. Pemerintah dapat berperan dalam memperluas jangkauan promosi melalui berbagai saluran media, seperti televisi nasional, media sosial, dan program-program edukatif. Selain itu, kolaborasi dengan sekolah, universitas, dan komunitas-komunitas budaya dapat membantu meningkatkan visibilitas film ini sehingga pesan dan nilai-nilai yang diusung dapat lebih luas tersebar dan berdampak positif bagi lebih banyak orang. Dengan demikian, film ini dapat menjadi media edukatif dan inspiratif yang memiliki daya jangkau nasional.

Conclusion

Film memiliki peranan yang sangat penting dalam preservasi digital dengan menggunakan media audio visual. Keberadaan film tidak hanya memfasilitasi pemahaman masyarakat tentang sejarah yang terkandung di dalamnya, tetapi juga memberikan wadah bagi generasi muda untuk berkarya dan berinovasi. Sejarah dalam cerita yang dikemas dalam bentuk audio visual ini merupakan salah satu upaya dokumentasi sehingga tidak akan hilang seiring berkembangnya zaman. Film tidak hanya menjadi sarana untuk mengabadikan sejarah, tetapi juga menjadi alat untuk membangkitkan kreativitas dan inovasi di kalangan generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa film tidak hanya memiliki nilai sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi yang dapat memacu kemajuan suatu bangsa. Implementasi penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya peran film dalam preservasi digital di kalangan masyarakat dan pemerintah. Penelitian ini juga dapat memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan kebijakan terkait preservasi digital, termasuk alokasi anggaran yang memadai untuk mendukung upaya-upaya konservasi film. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi pedoman bagi institusi pendidikan dan lembaga budaya untuk mengintegrasikan pembelajaran tentang pentingnya pelestarian warisan budaya melalui media film. Dengan demikian, generasi muda akan lebih sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan sejarah serta budaya melalui film, sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk inovasi di masa depan.