Kembali
16
1
2025 Media Informasi Vol 34 · 1 ISSN 2829-2707

Strategi Efektif Program Literasi Informasi Perpustakaan Akademik

Universitas Gadjah Mada; Universitas Sanata Dharma; Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Universitas Ahmad Dahlan

Abstrak

Program literasi informasi dirancang secara sistematis untuk membantu individu mengembangkan keterampilan dalam mencari, menilai, dan menggunakan informasi dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi efektif dalam program literasi informasi perpustakaan di lingkungan akademik. Menggunakan mixedmethod sequential explanatory, penelitian ini diawali dengan pengumpulan data kuantitatif dari 72 pustakawan di berbagai universitas di Indonesia, yang kemudian diperdalam melalui wawancara kualitatif dengan pimpinan perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program literasi informasi perpustakaan dipengaruhi oleh kompetensi pustakawan, ketersediaan program yang relevan, serta partisipasi aktif mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan perlunya pelatihan berkelanjutan bagi pustakawan, perancangan program yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, serta penguatan kerja sama antara perpustakaan dan fakultas guna meningkatkan efektivitas dan partisipasi dalam program literasi informasi di lingkungan akademik. Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan program literasi informasi yang strategis dan adaptif dapat meningkatkan keterampilan literasi informasi mahasiswa, mendukung pencapaian akademik, dan memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran di perguruan tinggi.

Abstract

Information literacy programs systematically help individuals develop skills to find, evaluate, and use information. This study analyses effective strategies in library information literacy programs in the academic environment. This research uses a mixed-method sequential explanatory; this study began with collecting quantitative data from 72 librarians at various universities in Indonesia, followed by qualitative interviews with library leaders. The results of the study show that the competence of librarians influences the success of the library information literacy program, the availability of relevant programs, and the active participation of students. This study concludes the need for continuous training for librarians, designing programs that are responsive to the needs of students, and strengthening cooperation between libraries and faculties to increase the effectiveness and participation in information literacy programs in the academic environment. This research emphasizes that developing strategic and adaptive information literacy programs can improve students' information literacy skills, support academic achievement, and strengthen the role of libraries as learning centres in universities.
Keywords: Information literacy · Librarian · The academy library · Learning strategies · Mixed method

Introduction

Perpustakaan akademik memiliki peran strategis dalam membangun keterampilan literasi informasi. Program literasi informasi perpustakaan atau Information Literacy Program (ILP) memainkan peran penting dalam menumbuhkan pemikiran kritis dan pengambilan keputusan yang terinformasi, terutama di lingkungan akademik. Cheradi & Habaşescu (2022) mendefinisikan literasi informasi sebagai kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang memungkinkan individu memenuhi kebutuhan informasi mereka dengan efisien. Literasi informasi tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga melibatkan keterampilan kritis yang harus dikembangkan secara terarah agar mahasiswa mampu merespons dinamika akademik yang kompleks (Dong, 2023). Literasi ini juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia profesional yang semakin menuntut pengelolaan informasi yang efektif (Zhang, 2023). Dengan demikian, ILP menjadi komponen kunci dalam mendukung kompetensi informasi dan memberdayakan pengguna untuk sukses di berbagai konteks informasi. Dalam upaya meningkatkan program literasi informasi, perpustakaan akademik telah mengadopsi pendekatan Pendidikan Berbasis Hasil atau Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan penilaian keterampilan praktis dan pengembangan kursus berjenjang untuk mendukung perjalanan akademik mahasiswa (Xing, 2024). Melalui akses terhadap berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan materi digital, perpustakaan menawarkan pelatihan literasi informasi untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya (Mia, Md. S., 2019). Dukungan teknologi seperti akses internet gratis, perpustakaan digital, dan layanan pembelajaran inovatif turut memperkuat peran perpustakaan dalam memfasilitasi pembelajaran jarak jauh dan memenuhi kebutuhan siswa yang terus berkembang (Ateka et al., 2022). Selain itu, perpustakaan dapat mendukung pengembangan profesional berkelanjutan atau Continuous Professional Development (CPD) untuk staf perpustakaan, yang dapat meningkatkan layanan yang ditawarkan kepada pengguna (Nakaziba & Ngulube, 2023). Tingkat keberhasilan program literasi informasi dipengaruhi oleh banyak hal, seperti kompetensi pustakawan (Domingo-Peñas & Dequito, 2022), ketersediaan program yang relevan (Meena, 2024), dan partisipasi aktif mahasiswa (Han & Lu, 2019). Pustakawan sebagai pendamping akademik dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi literasi digital. Pelatihan berkelanjutan sangat diperlukan agar pustakawan mampu mengakses, mengelola, dan memanfaatkan informasi secara efektif di berbagai platform digital (Ogba, 2024). Selain itu, kompetensi manajerial pustakawan, seperti yang diungkapkan oleh (Domingo-Peñas & Dequito, 2022), dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, sehingga program pelatihan yang terfokus sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan ini. Pustakawan juga dituntut untuk menguasai teknologi informasi, memahami sistem katalog, akuisisi, serta pelestarian, yang menjadi fondasi kompetensi mereka dalam menghadapi tantangan digital (Duguil et al., 2023). Ketersediaan program literasi informasi juga menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam pelaksanaan kegiatan literasi informasi. Ketersediaan ILP terbukti efektif untuk mendukung lingkungan akademik (Meena, 2024). Namun, implementasi program ini bervariasi secara global. Misalnya, perpustakaan di Hong Kong lebih maju dalam menyediakan kursus online bersertifikat dibandingkan Ukraina (Ma et al., 2021). Namun tantangan seperti kurangnya struktur formal dan keterbatasan sumber daya menjadi hambatan utama pelaksanaan ILP (Matteson & Gersch, 2020). Meski demikian, ILP tetap berperan penting dalam mempromosikan literasi informasi di berbagai konteks. Sementara itu, di Indonesia, studi melalui laman resmi beberapa perpustakaan akademik menunjukkan adanya keberagaman pendekatan pelatihan literasi informasi untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mengakses dan mengelola informasi. Partisipasi mahasiswa juga merupakan indikator penting dari keberhasilan program literasi informasi. Penggunaan teknologi inovatif dalam literasi informasi seperti Rain Classroom meningkatkan keterlibatan dan pembelajaran aktif mahasiswa (Han & Lu, 2019). Peran pustakawan juga signifikan dalam merancang kurikulum dalam mendukung keterlibatan yang terlihat dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa (Thorn, 2022). Strategi ini menciptakan dasar penting untuk mengembangkan keterampilan literasi informasi dan mendukung pembelajaran. Penelitian-penelitian terdahulu mengenai literasi informasi telah menyoroti pentingnya instruksi perpustakaan untuk kesuksesan akademis (Nuryaman & Rifai, 2024), peran pustakawan dalam evaluasi informasi dan pengembangan keterampilan berpikir kritis (Saunders, 2024), serta kebutuhan adaptasi pustakawan terhadap tren literasi informasi (Caffrey et al., 2024). Tantangan seperti kesenjangan digital dan tingkat keterampilan mahasiswa yang beragam juga menjadi perhatian (Ogba, 2024). Namun, belum banyak penelitian yang mengeksplorasi bagaimana kompetensi pustakawan dan ketersediaan program literasi informasi memengaruhi partisipasi mahasiswa sebagai variabel yang berdampak pada keberhasilan program literasi informasi. Penelitian ini mengisi kesenjangan penelitian terdahulu dengan mengadopsi model konseptual yang menghubungkan variabel eksogen, intervening, dan endogen secara holistik serta diperdalam dengan metode kualitatif sehingga menyajikan kebaruan penelitian (novelty) dalam bidang literasi informasi perpustakaan. Model konseptual dalam konteks penelitian ini adalah model yang diusulkan oleh peneliti sebagai representasi terstruktur dari hubungan antar variabel, yang dirancang untuk menyederhanakan dan memperjelas domain kompleks. Model konseptual dipandang sebagai proses konstruktif yang meningkatkan organisasi dan representasi pengetahuan, mendorong komunikasi yang lebih baik antara peneliti dan subjek (Shaw, 2023). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi efektif dalam program literasi informasi perpustakaan akademik di berbagai universitas di Indonesia dengan metode campuran berurutan (mixed-method sequential explanatory).

Method

Model konseptual ini dirancang oleh peneliti untuk menggambarkan bagaimana variabel eksogen yaitu kompetensi pustakawan (Domingo-Peñas & Dequito, 2022) dan ketersediaan program literasi informasi (Meena, 2024) memengaruhi partisipasi mahasiswa (Han & Lu, 2019), yang selanjutnya berdampak pada keberhasilan program literasi informasi. Model konseptual sebagaimana disajikan pada Gambar 1. Dari model konseptual tersebut dirumuskan beberapa hipotesis, yaitu H1: Kompetensi pustakawan (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi mahasiswa (X3); H2: Ketersediaan program literasi informasi (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi mahasiswa (X3); H3: Partisipasi mahasiswa (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan program literasi informasi (Y); H4: Kompetensi pustakawan (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan program literasi informasi (Y) melalui partisipasi mahasiswa (X3); H5: Ketersediaan program literasi informasi (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan program literasi informasi (Y) melalui partisipasi mahasiswa (X3). Sumber: rancangan peneliti, 2025 Gambar 1. Model Konseptual Penelitian ini menggunakan metode campuran kuantitatif dan kualitatif (mixed-method) dengan desain explanatory research untuk menguji hubungan kausal antara variabel dalam fase kuantitatif, kemudian diperdalam dengan metode kualitatif berupa wawancara (Azmat & Ahmad, 2022; Bascones et al., 2024). Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei menggunakan kuesioner yang dirancang dengan skala Likert. Responden dalam penelitian ini adalah pustakawan di perpustakaan akademik yang terlibat dalam pelaksanaan program literasi informasi. Selain itu, data kualitatif diperoleh dari wawancara dengan kepala perpustakaan sebagai informan kunci untuk memperkaya analisis. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan teknik Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Teknik ini ini menggunakan tiga tahap utama yaitu penyaringan data, penilaian model pengukuran, dan penilaian model struktural untuk memastikan analisis dan interpretasi data yang kuat (Haji-Othman et al., 2024). Pendekatan ini dipilih karena fleksibilitasnya dalam menganalisis model struktural yang kompleks dengan jumlah sampel yang relatif kecil. Sedangkan analisis data kualitatif dilakukan dengan analisis tematik untuk memperluas dan memperdalam temuan kuantitatif.

Discussion

Pembahasan dalam penelitian ini dimulai dengan penyajian data kuantitatif yang mencakup data demografi partisipan. Jumlah sampel penelitian ini adalah 72 orang. Sebagian besar partisipan berasal dari institusi besar seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menunjukkan bahwa kedua institusi ini memiliki lebih banyak staf perpustakaan yang terlibat dalam penelitian ini. Staf dari institusi lain, seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN), dan Universitas Sanata Dharma (USD), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, juga berperan penting dalam memberikan perspektif yang beragam mengenai pengelolaan perpustakaan di berbagai lingkungan akademik. Mayoritas partisipan adalah perempuan, yang mencerminkan kecenderungan demografis di sektor perpustakaan yang lebih banyak melibatkan perempuan dibandingkan laki-laki. Perbedaan jenis kelamin ini perlu diperhatikan dalam analisis, karena dapat mempengaruhi pandangan atau pengalaman yang dibagikan oleh partisipan, terutama terkait dengan peran dan tantangan yang dihadapi oleh masing-masing gender dalam pengelolaan perpustakaan. Sedangkan masa kerja partisipan bervariasi, dengan mayoritas staf memiliki pengalaman kerja lebih dari 15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa data ini sebagian besar diperoleh dari staf yang memiliki pengalaman mendalam dan pengetahuan yang luas tentang pengelolaan perpustakaan. Kualifikasi pendidikan partisipan sangat bervariasi, dengan sebagian besar staf memiliki gelar Sarjana (S1), namun terdapat juga proporsi yang signifikan dengan gelar Magister (S2) dan bahkan Doktor (S3). Kualifikasi pendidikan yang tinggi, terutama di institusi besar seperti UGM, UAD, dan UMY, menunjukkan bahwa staf perpustakaan di universitas-universitas ini memiliki pendidikan yang cukup memadai untuk menghadapi tantangan dalam pengelolaan informasi dan kebijakan perpustakaan. Data demografi ini memainkan peran penting dalam memberikan konteks awal untuk memahami dinamika staf perpustakaan di berbagai institusi. Analisis terhadap faktor-faktor demografis ini memungkinkan peneliti untuk melihat bagaimana pengalaman kerja, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan memengaruhi kinerja dan pengelolaan perpustakaan di tingkat universitas. Fase Penelitian Kuantitatif Selanjutnya, fase kuantitatif dalam penelitian ini menganalisis validitas dan reliabilitas dari variabel-variabel yang diukur. Keempat variabel yang dianalisis meliputi Keberhasilan Program Literasi Informasi, Ketersediaan Program Literasi Informasi, Kompetensi Pustakawan, dan Partisipasi Mahasiswa sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Pengukuran validitas dan reliabilitas data kuantitatif Cronbach's Alpha rho_A Composite Reliability Average Variance Extracted (AVE) Keberhasilan Program Literasi Informasi 0.931 0.934 0.946 0.745 Ketersediaan Program Literasi Informasi 0.942 0.942 0.954 0.775 Kompetensi Pustakawan 0.927 0.930 0.943 0.733 Partisipasi Mahasiswa 0.933 0.936 0.948 0.751 Sumber: data primer diolah, tahun 2025 Hasil analisis model pengukuran menunjukkan bahwa nilai Cronbach's Alpha untuk semua variabel berada di atas ambang batas yang umumnya diterima, yaitu 0.7, yang menandakan bahwa instrumen pengukuran ini memiliki reliabilitas internal yang sangat baik. Semua nilai ini menunjukkan bahwa instrumen pengukuran dapat dipercaya untuk digunakan dalam penelitian lebih lanjut. Selain itu, nilai rho_A juga menunjukkan angka yang tinggi yang mendukung hasil reliabilitas yang baik dan konsisten antara variabel-variabel yang diukur. Rho_A, yang digunakan untuk mengukur konsistensi internal instrumen, memperkuat temuan bahwa data yang diperoleh dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Selanjutnya, untuk mengevaluasi validitas konstruk, nilai Composite Reliability (CR) dan Average Variance Extracted (AVE) dihitung. Nilai CR untuk semua variabel menunjukkan hasil yang sangat baik, dengan angka yang lebih besar dari 0.7. Ini menunjukkan bahwa setiap konstruk memiliki tingkat konsistensi yang tinggi dalam mengukur atribut yang dimaksud. Dalam hal validitas konvergen, nilai AVE untuk semua variabel juga melebihi nilai ambang batas 0.5 yang biasanya diterima dalam analisis PLS-SEM. Nilai AVE yang lebih tinggi dari 0.5 menunjukkan bahwa lebih dari setengah varians dalam variabel-variabel pengukuran dapat dijelaskan oleh konstruk yang bersangkutan, yang mendukung validitas konvergen yang baik. Dengan demikian hasil analisis reliabilitas dan validitas menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kualitas yang sangat baik. Instrumen ini tidak hanya reliabel, tetapi juga valid dalam mengukur konstruk yang dimaksud, sehingga dapat digunakan dengan yakin dalam penelitian lebih lanjut untuk menganalisis hubungan antar variable. Selanjutnya, dilakukan pengukuran signifikansi (model struktural) pengaruh antar variabel. Tabel 2 menunjukkan hasil analisis bootsrap dengan aplikasi SmartPLS. Tabel 2. Pembuktian Hipotesis Original Sample (O) T Statistics (|O/STDEV|) P Values Pembuktian Hipotesis Ketersediaan Program Literasi Informasi  Keberhasilan Program Literasi Informasi 0.403 2.582 0.010 diterima Ketersediaan Program Literasi Informasi  Partisipasi Mahasiswa 0.842 9.496 0.000 diterima Kompetensi Pustakawan  Keberhasilan Program Literasi Informasi 0.148 1.267 0.206 diterima namun tidak signifikan Kompetensi Pustakawan  Partisipasi Mahasiswa 0.058 0.614 0.540 diterima namun tidak signifikan Partisipasi Mahasiswa  Keberhasilan Program Literasi Informasi 0.381 3.027 0.003 diterima Sumber: data primer diolah, tahun 2025 Hasil analisis menujukkan hubungan antara semua variabel bersifat positif (semua hipotesis diterima), namun beberapa di antaranya signifikan ada pula yang tidak signifikan. Hubungan yang signifikan menunjukkan bahwa ada pengaruh yang kuat antara variabelvariabel tersebut, sedangkan hubungan yang tidak signifikan menunjukkan bahwa pengaruh antar variabel belum cukup kuat atau belum dapat diterapkan secara luas di populasi. Sebagai contoh, hubungan antara Ketersediaan Program Literasi Informasi dan Keberhasilan Program Literasi Informasi menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai T Statistics sebesar 2.582 dan P Value 0.010. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi ketersediaan program literasi informasi, semakin besar pula keberhasilan program tersebut. Pengaruh ini cukup kuat, dengan P Value yang lebih rendah dari 0.05, yang berarti pengaruh ini dapat diterima secara statistik sebagai signifikan. Demikian pula, hubungan antara Ketersediaan Program Literasi Informasi dan Partisipasi Mahasiswa menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan T Statistics 9.496 dan P Value 0.000. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan program literasi informasi berpengaruh besar terhadap partisipasi mahasiswa, dengan P Value yang sangat kecil, menunjukkan bahwa pengaruh tersebut dapat diterapkan secara umum pada populasi yang lebih luas. Namun, hubungan antara Kompetensi Pustakawan dan Keberhasilan Program Literasi Informasi tidak menunjukkan hasil yang signifikan, dengan nilai T Statistics 1.267 dan P Value 0.206. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada hubungan antara kompetensi pustakawan dan keberhasilan program literasi informasi, pengaruh tersebut tidak cukup kuat untuk dianggap signifikan pada tingkat populasi yang lebih luas. Hal yang sama juga terjadi pada hubungan antara Kompetensi Pustakawan dan Partisipasi Mahasiswa, dengan nilai T Statistics 0.614 dan P Value 0.540 yang mengindikasikan bahwa pengaruh ini tidak cukup signifikan untuk diterapkan secara umum. Selanjutnya, hubungan antara Partisipasi Mahasiswa dan Keberhasilan Program Literasi Informasi menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai T Statistics 3.027 dan P Value 0.003. Ini mengindikasikan bahwa partisipasi mahasiswa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan program literasi informasi, dan hubungan ini dapat diterima sebagai pengaruh yang nyata dalam penelitian ini. Meskipun beberapa pengaruh antar variabel tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh tersebut belum dapat diterapkan kepada seluruh populasi dan mungkin hanya berlaku pada sampel yang terbatas. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa meskipun tidak ada pengaruh yang signifikan pada beberapa hubungan, perlu dilakukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan faktor-faktor tersebut agar dapat diterapkan secara lebih luas. Hal ini menunjukkan pentingnya untuk meninjau kembali program dan kebijakan yang ada untuk memastikan bahwa variabel-variabel tersebut dapat memberikan dampak yang lebih signifikan dalam konteks yang lebih luas di masa depan. Fase Penelitian Kualitatif Sementara itu, pada tahap kualitatif, studi ini membahas kompetensi pustakawan di lima universitas, yaitu ISI Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Sanata Dharma (USD), berdasarkan wawancara dengan kepala perpustakaan masing-masing institusi. Kompetensi pustakawan di setiap universitas dinilai dengan cara yang beragam sesuai dengan kebijakan dan kondisi institusi masing-masing. Penilaian pustakawan di ISI Yogyakarta dilakukan melalui mekanisme berbasis kinerja, seperti laporan bulanan, uji kompetensi, serta umpan balik dari pemustaka. Sementara itu, UAD menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan oleh pustakawan untuk mengikuti kebutuhan akademik yang terus berkembang. Berbeda dengan dua institusi sebelumnya, UGM mengamati adanya disparitas kompetensi di antara pustakawan. Beberapa pustakawan tampil unggul dalam program literasi informasi, sementara lainnya masih terfokus pada tugas administratif. Sedangkan UMY, kompetensi pustakawan dipetakan ke dalam lima kemampuan utama, yaitu pengetahuan literasi informasi, keterampilan mengajar, komunikasi, penguasaan bahasa Inggris, dan kerja tim. USD mencatat bahwa meskipun sebagian pustakawan sudah memiliki kemampuan literasi informasi, tidak semua merasa percaya diri untuk memberikan layanan tersebut. Pelatihan menjadi elemen kunci dalam meningkatkan kompetensi pustakawan di semua universitas ini. ISI Yogyakarta berupaya mengikutsertakan pustakawan dalam berbagai diklat, seminar, dan pelatihan, termasuk pelatihan internal terkait aplikasi baru yang mendukung literasi informasi. Serupa dengan itu, UAD memiliki program pelatihan internal maupun eksternal yang dirancang untuk menyesuaikan dengan perkembangan literasi informasi dan tren akademik. Di sisi lain, UGM belum memiliki program pelatihan khusus, tetapi secara rutin mengadakan workshop dan sesi berbagi antar pustakawan untuk mendukung pengembangan kompetensi. UMY lebih terorganisasi dengan menyelenggarakan pelatihan seperti Training of Trainers (TOT) literasi informasi, pelatihan public speaking, dan mentoring antar pustakawan. USD mengadopsi pendekatan kolaboratif melalui pembelajaran bersama, di mana pustakawan yang telah mengikuti pelatihan berbagi pengetahuan mereka dengan rekan kerja lainnya, terutama terkait aplikasi ilmiah seperti Publish or Perish dan VOSviewer. Dalam meningkatkan kompetensi pustakawan, masing-masing universitas menyoroti aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan. ISI Yogyakarta menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara hardskill dan softskill pustakawan. UAD, di sisi lain, menekankan pada kemauan individu untuk berkembang, keberadaan program kerja yang mendukung, serta tersedianya dana sebagai faktor pendukung utama. Sementara itu, UGM menilai motivasi pustakawan untuk terus belajar dan memberikan layanan terbaik kepada pemustaka sebagai pendorong utama untuk menciptakan inovasi dan kreativitas. UMY mencatat bahwa pemahaman tentang perkembangan informasi digital merupakan kunci penting dalam mendukung peran pustakawan dalam literasi informasi. USD menambahkan bahwa selain kemauan pustakawan, komitmen pimpinan dalam mendukung pengembangan program literasi informasi juga menjadi faktor yang sangat krusial. Dengan berbagai pendekatan yang dilakukan, terlihat bahwa pengembangan kompetensi pustakawan di kelima universitas ini berada pada tingkat yang berbeda-beda, tergantung pada kebijakan institusi dan sumber daya yang tersedia. Meski demikian, terdapat kesamaan pandangan mengenai pentingnya pelatihan, kemauan individu, dan dukungan institusional sebagai kunci keberhasilan pustakawan dalam mendukung program literasi informasi. Sinergi antara aspek-aspek ini dapat dijadikan model pengembangan kompetensi pustakawan di institusi pendidikan lainnya. Sementara itu, program literasi informasi di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi dirancang dan diimplementasikan dengan pendekatan yang beragam untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi. Di Perpustakaan ISI Yogyakarta, program ini dimulai sejak mahasiswa baru melalui orientasi dan pengenalan perpustakaan. Selain itu, ada juga sosialisasi layanan perpustakaan, pelatihan teknis, layanan konsultasi kepustakawanan, serta promosi perpustakaan melalui pameran, lomba, dan penghargaan kepada pemustaka aktif. Sementara itu, di Universitas Ahmad Dahlan, program literasi informasi mencakup pelatihan reguler setiap bulan, pelatihan berbasis permintaan program studi, dan pelatihan repositori institusi. Pendidikan pemakai juga menjadi bagian dari kegiatan literasi bagi mahasiswa baru. Perpustakaan Universitas Gadjah Mada mengembangkan literasi informasi secara rutin melalui kegiatan tatap muka dan media digital. Konten literasi diperkuat melalui website dan media sosial agar dapat diakses secara luas oleh mahasiswa. Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), program literasi telah mengalami perkembangan sejak 2014. Dalam prosesnya, perpustakaan UMY melibatkan tim literasi informasi, menetapkan kebijakan rektor terkait pemanfaatan layanan literasi, serta menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan penulisan artikel ilmiah. Literasi informasi juga terintegrasi ke dalam mata kuliah metode penelitian dan Learning Management System (LMS) di UMY. Sementara itu, di Universitas Sanata Dharma, literasi informasi telah dimulai sejak Program Pendidikan Pengguna Tingkat Lanjut (PPTL) untuk mahasiswa yang menulis skripsi. Saat ini, literasi informasi lebih banyak dilakukan berdasarkan permintaan program studi dengan materi seperti Reference Manager Mendeley, Vos Viewer, dan Publish or Perish. Tantangan dalam menyediakan program literasi informasi bervariasi di setiap institusi. Beberapa tantangan umum termasuk keterbatasan anggaran, kurangnya sumber daya manusia yang kompeten dalam literasi informasi, kurangnya sosialisasi program kepada mahasiswa, serta rendahnya minat mahasiswa untuk mengikuti program secara sukarela. Misalnya, di ISI Yogyakarta, keterbatasan anggaran menyebabkan sebagian besar program dilaksanakan secara daring. Di UMY, tantangan meliputi komunikasi dengan dosen dan fakultas, serta kurangnya mahasiswa yang secara proaktif mengikuti pelatihan literasi informasi tanpa adanya penugasan dari dosen. Untuk memastikan relevansi program literasi informasi, berbagai perpustakaan telah mengembangkan mekanisme evaluasi. Di ISI Yogyakarta, relevansi program diukur melalui wawancara dengan mahasiswa, sementara di Universitas Ahmad Dahlan, survei dan permintaan materi dari kelompok mahasiswa digunakan untuk menilai kebutuhan mereka. Di Universitas Gadjah Mada, evaluasi dilakukan melalui pengayaan program seperti mini class, library clinic, dan library speak untuk memastikan integrasi dan relevansi dengan kebutuhan mahasiswa. Di UMY, evaluasi dilakukan melalui daftar hadir, evaluasi internal perpustakaan, serta analisis bibliografi skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa. Adapun di Universitas Sanata Dharma, evaluasi dilakukan secara langsung setelah pelaksanaan program untuk memahami manfaat dan relevansinya bagi mahasiswa. Tingkat partisipasi mahasiswa dalam program literasi informasi di berbagai universitas di Yogyakarta menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Di Perpustakaan ISI Yogyakarta, partisipasi mahasiswa masih tergolong rendah, dengan keterlibatan mereka dalam program literasi belum optimal. Kondisi serupa juga terjadi di Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), meskipun rata-rata peserta pelatihan mencapai 85 orang. Beberapa program studi di UAD mulai mewajibkan pelatihan literasi informasi secara reguler, namun secara keseluruhan, jumlah mahasiswa yang terlibat masih kurang memadai. Sementara itu, di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM), antusiasme mahasiswa terlihat cukup tinggi, tetapi tingkat kehadiran mereka dalam program masih kurang menggembirakan. Hal ini sering disebabkan oleh jadwal pelaksanaan yang kerap berbenturan dengan waktu kuliah. Sebaliknya, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), tingkat partisipasi mahasiswa dianggap baik, terutama karena program literasi informasi telah dimasukkan dalam mata kuliah wajib seperti metode penelitian, Bahasa Indonesia, seminar, atau matrikulasi. Di Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (USD), partisipasi mahasiswa secara individu tergolong minim, tetapi meningkat signifikan ketika program diwajibkan oleh dosen. Setelah mengikuti program, mahasiswa di USD menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif, seperti bertanya dan berdiskusi. Berbagai upaya dilakukan oleh perpustakaan untuk meningkatkan minat dan keterlibatan mahasiswa dalam program literasi informasi. Perpustakaan ISI Yogyakarta, misalnya, berupaya melibatkan dosen untuk mendorong mahasiswa mengakses perpustakaan melalui pemberian berbagai tugas akademik. Perpustakaan UAD mengandalkan strategi promosi, termasuk melalui media sosial, penyebaran informasi lewat email institusi, serta komunikasi melalui WhatsApp Group yang melibatkan kepala program studi. Upaya ini juga diperkuat dengan kolaborasi bersama Biro Mahasiswa dan Alumni. Di UGM, strategi peningkatan partisipasi dilakukan dengan variasi model pelatihan, mulai dari pelatihan reguler yang dijadwalkan hingga pelatihan berbasis permintaan mahasiswa. Sementara itu, Perpustakaan UMY menjadikan program literasi informasi sebagai bagian dari program universitas dan fakultas, serta bekerja sama dengan program studi dan lembaga di lingkup universitas. Pendekatan berbeda terlihat di USD, di mana pustakawan secara proaktif menyampaikan informasi tentang program literasi melalui dosen pengampu dan WhatsApp Group mahasiswa. Interaksi pustakawan dengan mahasiswa selama program juga bervariasi di setiap universitas. Di ISI Yogyakarta, interaksi hanya berlangsung selama program berlangsung, dengan sedikit komunikasi setelahnya, biasanya terbatas pada pertanyaan tentang koleksi perpustakaan. Berbeda dengan itu, di UAD, interaksi dilakukan melalui platform daring seperti Zoom, sesi klasikal, atau kunjungan langsung mahasiswa ke perpustakaan. Di UGM, pustakawan menyediakan waktu khusus untuk menjawab kebutuhan mahasiswa, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga mendukung komunikasi yang lebih efektif. Di UMY, pendekatan interaksi disesuaikan dengan jenjang pendidikan mahasiswa. Mahasiswa S1 biasanya mendapat pendekatan yang lebih santai, sedangkan mahasiswa S2 dan S3 dilayani dengan gaya komunikasi yang lebih formal. Selain itu, hanya pustakawan dengan gelar S2 yang diizinkan mengajar mahasiswa pascasarjana untuk memastikan relevansi dan kualitas materi yang disampaikan. Di USD, pustakawan aktif memberikan informasi program literasi, baik melalui dosen pengampu maupun grup diskusi online. Hasil wawancara dengan para kepala perpustakaan di lima universitas di Yogyakarta juga memberikan gambaran tentang bagaimana keberhasilan program literasi informasi diukur, dampaknya terhadap mahasiswa, dan umpan balik yang diterima. Di Perpustakaan ISI Yogyakarta, keberhasilan program ini dinilai melalui tingkat kunjungan mahasiswa ke perpustakaan dan wawancara singkat yang dilakukan untuk mendapatkan tanggapan langsung dari mereka. Berbeda dengan itu, Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggunakan angket dan evaluasi formal sebagai alat pengukuran. Sementara di Universitas Gadjah Mada (UGM), meskipun tidak ada ukuran spesifik yang diterapkan, keberhasilan program literasi informasi secara umum diukur dari tingkat pemanfaatan sumber daya informasi oleh mahasiswa dalam mendukung kegiatan tri dharma perguruan tinggi. Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), keberhasilan program diukur berdasarkan evaluasi dari para pemangku kepentingan yang menunjukkan bahwa perpustakaan telah memberikan dukungan signifikan terhadap kebutuhan akademik mahasiswa dan dosen. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (USD) juga memiliki pendekatan serupa dalam menilai keberhasilan program ini. Dampak dari program literasi informasi terhadap keterampilan mahasiswa terlihat jelas dalam berbagai aspek. Di ISI Yogyakarta, mahasiswa menunjukkan pemahaman yang lebih baik dalam menelusuri koleksi dan layanan perpustakaan, sehingga mereka tidak terlalu sering meminta bantuan petugas. Di UAD, program ini membantu mahasiswa baru agar tidak bingung dalam menggunakan fasilitas perpustakaan, mengakses sistem, dan menemukan informasi. Bagi mahasiswa tingkat akhir, keterampilan yang diperoleh mempermudah mereka dalam menyelesaikan tugas akhir secara teknis. Di UGM, mahasiswa menjadi lebih mahir dalam mencari, menelusuri, dan menentukan sumber informasi yang relevan dan terpercaya, serta menggunakannya secara bertanggung jawab. Hal serupa juga terjadi di UMY, di mana kualitas tugas kuliah, skripsi, tesis, disertasi, dan artikel jurnal meningkat setelah mengikuti program literasi informasi. Bahkan, peningkatan angka publikasi terindeks Scopus di UMY turut didukung oleh pelatihan yang disediakan perpustakaan, pendampingan penggunaan sumber daya informasi, dan penyediaan fasilitas yang relevan. Di USD, dampak program ini juga dapat dilihat dari jumlah peserta yang terlibat dan keterlibatan aktif mereka selama pelaksanaan program. Umpan balik dari mahasiswa menjadi elemen penting dalam evaluasi keberhasilan program literasi informasi. ISI Yogyakarta menerapkan survei kepuasan layanan perpustakaan. Sementara itu di UAD, pengisian evaluasi pada setiap pelatihan literasi informasi. UGM mengumpulkan umpan balik terkait kegiatan literasi informasi, terutama untuk model sosialisasi dan workshop. UMY juga mengumpulkan evaluasi melalui kuesioner, yang menunjukkan tingkat partisipasi aktif mahasiswa dalam bertanya dan berdiskusi selama program berlangsung. Hal ini sejalan dengan praktik di USD, di mana evaluasi program melibatkan pengamatan terhadap partisipasi mahasiswa selama pelatihan.

Conclusion

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pustakawan dan ketersediaan program literasi informasi berpengaruh positif terhadap partisipasi mahasiswa, yang pada akhirnya menentukan keberhasilan program literasi informasi. Semakin tinggi kompetensi pustakawan dan semakin baik penyelenggaraan program literasi, semakin aktif partisipasi mahasiswa dalam kegiatan literasi informasi. Oleh karena itu, sinergi antara pelatihan pustakawan, interaksi yang efektif antara pustakawan dan mahasiswa, serta keterlibatan aktif mahasiswa menjadi faktor utama dalam merancang strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi informasi di lingkungan akademik. Universitas perlu memperbarui materi literasi informasi sesuai kebutuhan mahasiswa melalui peningkatan kualitas pustakawan. Peningkatan kompetensi pustakawan dalam mengajar, komunikasi, dan kerja tim sangat diperlukan. Program literasi informasi sebaiknya tersedia sepanjang waktu sesuai kebutuhan, diakui secara formal, dan idealnya menjadi bagian dari kurikulum perkuliahan. Perancangan program harus berbasis kebutuhan sivitas akademika agar lebih relevan dan bermanfaat.