Kembali
16
1
2025 Media Informasi Vol 34 · 1 ISSN 2829-2707

Peran Perpustakaan Kota Sungai Penuh dalam Meningkatkan Literasi Masyarakat Desa

Institut Agama Islam Negeri Kerinci; Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Abstrak

Perpustakaan sebagai ruang literasi yang menawarkan berbagai koleksi buku dan sumber daya informasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran Perpustakaan Kota Sungai Penuh dalam meningkatkan literasi masyarakat desa Kota Sungai penuh. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun analisis data yang digunakan dengan tiga cara yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Perpustakaan Kota Sungai Penuh dalam meningkatkan literasi masyarakat desa yaitu: 1) Literasi dasar: Perpustakaan Kota Sungai Penuh tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga sebagai pusat pengembangan literasi dasar bagi anak-anak serta destinasi wisata edukasi bagi anak usia dini (PAUD/TK); 2) Klub baca: Perpustakaan Kota Sungai Penuh melaksanakan kegiatan pelatihan kepada para pengelola perpustakaan Desa untuk menggerakkan kegiatan pojok baca Desa; 3) Pelatihan literasi: Adanya kegiatan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dari Perpustakaan Kota Sungai Penuh diharapkan dapat memberi masyarakat desa peluang untuk meningkatkan literasi dan minat baca Masyarakat; dan 4) Kerjasama dengan komunitas: Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh sebelumnya bekerja sama dengan komunitas Volunteer Anak Kincai untuk meningkatkan literasi anak-anak yang ada di desa Kota Sungai Penuh.

Abstract

The library is a place of literacy that offers various collections of books and information resources. This study aims to see the role of the Sungai Penuh City Library in improving the literacy of the village community of Sungai Penuh City. The method used is a case study with the selection of informants using purposive sampling techniques. The data analysis is used in three ways, namely: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the role of the Sungai Penuh City Library in improving the literacy of the village community is: 1) Basic literacy: The Sungai Penuh City Library not only functions as a place to read and borrow books, but also as a center for developing basic literacy for children and an educational tourism destination for early childhood (PAUD / TK); 2) Reading Club: The Sungai Penuh City Library carries out training activities for village library managers to drive village reading corner activities; 3) Literacy training: The existence of the Social Inclusion-Based Library Transformation Program from the Sungai Penuh City Library is expected to provide village communities with opportunities to improve literacy and reading interest in the community; and 4) Collaboration with the community: The Sungai Penuh City Library Service previously collaborated with the Kincai Children's Volunteer Community to improve children's literacy in the Sungai Penuh City village.
Keywords: Community literacy · Role of libraries · Information literacy

Introduction

Menurut (Mujahidin et al, 2018) perpustakaan adalah tempat literasi yang menawarkan berbagai koleksi buku dan sumber daya informasi untuk membantu siswa belajar. Perpustakaan sekolah berfungsi sebagai pusat gerakan literasi dalam pendidikan karena memberikan akses siswa ke buku-buku yang relevan. Siswa dapat meningkatkan minat baca mereka dan memperluas wawasan mereka dengan membiasakan diri membaca selama sepuluh hingga lima belas menit di perpustakaan setiap hari. Selain itu, perpustakaan memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mencari, menilai, dan menggunakan informasi. Perpustakaan dapat membantu masyarakat dengan literasi informasi. Perpustakaan memiliki kemampuan untuk menyediakan program literasi digital sebagai bagian dari upaya mereka untuk meningkatkan masyarakat dan memungkinkan pembelajaran sepanjang hayat. Untuk memastikan program berjalan dengan baik, pustakawan dan pimpinan lembaga harus bekerja sama. Contoh kerjasama kolaboratif adalah pelaksanaan program pendidikan jarak jauh (online) dan akses ke informasi digital dengan memberdayakan berbagai fasilitas teknologi informasi (TIK) perpustakaan, termasuk komputer, internet, dan sumber daya digital untuk kepentingan masyarakat umum. Literasi digital berarti bahwa orang dapat menggunakan alat digital untuk kebaikan bersama, berkontribusi penuh pada pemerataan dan pengembangan, dan menjadi alat investasi untuk kesejahteraan Masyarakat (IFLA, 2017). Kemampuan lanjutan untuk meningkatkan literasi perpustakaan Anda saat ini adalah literasi perpustakaan. Dengan kata lain, memahami bahwa perpustakaan adalah salah satu sumber informasi. Literasi perpustakaan pada dasarnya mencakup penggunaan referensi dan periodical serta memahami perbedaan antara bacaan fiksi dan nonfiksi. Istilah literasi memiliki arti yang luas dan telah berkembang selama bertahun-tahun. Literasi pada dasarnya berarti kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah sehari-hari (ESA, 2025). Secara etimologis, istilah literasi sendiri berasal dari bahasa Latin "literatus," yang berarti orang yang belajar. Dalam konteks ini, literasi sangat berhubungan dengan proses membaca dan menulis. Literasi, menurut Kamus Online Merriam–Webster, adalah suatu kualitas melek aksara yang mencakup kemampuan membaca, menulis, dan memahami konsep secara visual. Literasi dasar mencakup kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung terkait dengan kemampuan analisis untuk mempertimbangkan, mempersepsikan, berkomunikasi, dan menggambarkan informasi sehingga seseorang dapat memahaminya dan membuat kesimpulan sendiri (ESA, 2025). Tidak ada data lengkap tentang tingkat literasi masyarakat desa dari tahun 2023 hingga 2024. Namun, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) dari tahun 2024 menunjukkan tingkat literasi masyarakat desa di Kota Sungai Penuh. Namun, persentase orang di Kota Sungai Penuh yang menggunakan HP atau komputer mencapai 89,32%, menurut data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sungai Penuh pada tahun 2021 (BPS, 2021). Literasi masih menjadi masalah besar di Indonesia. Tingkat literasi di Indonesia menunjukkan kemajuan, tetapi masih ada perbedaan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Tingkat literasi di daerah perkotaan mencapai 99%, sedangkan di pedesaan hanya 85%. Berbagai program dan fasilitas, termasuk peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat, terus digunakan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca teks, tetapi juga mencakup keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah yang diperlukan untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dalam kehidupan, seperti di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial (Gogahu & Prasetyo, 2020). Ini juga berlaku untuk penduduk Kota Sungai Penuh, yang terdiri dari 65 desa, 8 kecamatan, dan 4 kelurahan (BPS, 2023). Salah satu pustakawan di Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh mengatakan bahwa masyarakat masih kurang literasi dan kunjungan ke Perpustakaan. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, jumlah pengunjung ke Perpustakaan Kota Sungai Penuh pada tahun 2024 adalah sekitar 3065, dan pada bulan Januari tahun 2025 adalah sekitar 75. Untuk mendukung pengembangan literasi masyarakat, Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh memiliki tanggung jawab strategis. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat informasi dan menyediakan akses ke buku, media digital, dan program edukasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan minat dan keterampilan membaca dan literasi. Namun, bagaimana memaksimalkan peran perpustakaan dalam menjangkau masyarakat desa yang biasanya memiliki akses terbatas terhadap Informasi? Penyediaan sumber informasi di perpustakaan yang berkualitas untuk meningkatkan pengetahuan di bidang seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, masyarakat desa dapat mengakses buku, jurnal, dan media digital dari perpustakaan. Koleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa mampu meningkatkan minat baca dan keterlibatan mereka dalam kegiatan literasi (UNESCO, 2017). Masyarakat memperoleh manfaat langsung dengan diselenggarakannya program yang mengajarkan keterampilan membaca, menulis, dan berbicara publik. Program ini mencakup diskusi buku, bercerita untuk anak-anak, dan pelatihan keterampilan digital untuk meningkatkan akses literasi (Abidin, Z., & Rahmat, S. 2018). Literasi adalah alat untuk pembebasan dan pemberdayaan masyarakat (Freire, P., & Macedo, D. 2005). Berpendidikan memungkinkan orang untuk berpikir kritis, membuat pilihan yang bijaksana, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat. Paradigma perubahan, yang menekankan inklusi sosial, dibangun oleh perpustakaan daerah. Mereka telah menerapkan program penguatan literasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Kualitas hidup dan kesejahteraan umum pengunjung perpustakaan dapat ditingkatkan dengan menerapkan model peran perpustakaan dalam meningkatkan literasi masyarakat desa (Rachman, 2019). Karena kemajuan teknologi, sekarang lebih mudah mendapatkan informasi daripada sebelumnya. Frasa " library in hand " (Komariah et al., 2021) mengacu pada seberapa mudah bagi individu untuk melakukan penelitian dengan alat yang mereka miliki. Akibatnya, layanan perpustakaan harus menyesuaikan dengan kemajuan teknologi. Perpustakaan telah mengalami transformasi yang berfokus pada peningkatan literasi dalam beberapa tahun terakhir (Rachman 2019). Perpustakaan dapat membantu meningkatkan literasi masyarakat desa dengan memungkinkan masyarakat untuk memanfaatkan setiap fasilitas perpustakaan dan dengan memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan mereka melalui berbagai kegiatan (Kurniasih et al., 2021). Tingkat literasi masyarakat Indonesia, bagaimanapun, masih menghadapi banyak masalah. Kemampuan literasi orang Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain, menurut data dari UNESCO dan laporan Program untuk Penilaian Internasional siswa (PISA). Faktor utama yang memperburuk keadaan ini adalah kurangnya minat baca, keterbatasan akses terhadap bahan bacaan berkualitas, dan kurangnya dukungan dari fasilitas literasi seperti perpustakaan (UNESCO, 2017). Di era digital saat ini, literasi digital menjadi semakin penting. Masyarakat perlu memiliki keterampilan untuk memahami informasi yang tersedia secara online dan menggunakan teknologi dengan bijak. Namun Saat ini, informasi berasal dari setiap aktivitas manusia berkembang dan tersebar begitu cepat dan deras. Perkembangan teknologi informasi juga ikut andil terjadinya banjir informasi. Informasi tercipta dalam hitungan detik dengan skala mega byte atau bahkan giga byte melalui media buku, koran, majalah, jurnal, sumber elektronik dan lain- lain (ANTARA News 2021). Pustakawan memiliki kemampuan akses berjejaring dalam teknologi digital yang mereka gunakan, menurut Palfrey dalam Nurochman (2016). Pustakawan harus melihat fenomena ini sebagai peluang untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa profesi mereka memiliki peran besar dalam meningkatkan kehidupan bangsa dengan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat informasi (Nurochman 2016). Perpustakaan memainkan peran penting dalam masyarakat karena mereka tidak hanya menyimpan buku tetapi juga berfungsi sebagai pusat informasi, pembelajaran, dan pengembangan literasi. Perpustakaan membantu pendidikan dan sektor sosial dengan meningkatkan sumber daya manusia dan meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi. Berikut ini adalah beberapa bagian penting dari fungsi perpustakaan dalam masyarakat. Perpustakaan menyediakan berbagai sumber daya, seperti buku, jurnal, dan media digital, untuk memfasilitasi akses ke pengetahuan. Dalam era informasi saat ini, akses terhadap pengetahuan sangat penting. Perpustakaan murah hati untuk membantu orang mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Perpustakaan desa memainkan peran penting dalam memberikan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil akses ke literatur, menurut penelitian yang dilakukan oleh Puskomedia (Infopublik, 2023). Menurut Perpustakaan Nasional (2011), perpustakaan adalah organisasi yang secara profesional mengelola koleksi karya tulis, cetak, dan rekam dan berfungsi untuk menyediakan informasi, pendidikan, penelitian, dan konservasi, serta hiburan. Namun, menurut International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA), Perpustakaan adalah kumpulan materi tercetak dan non cetak serta sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemustaka (Achmad et al. 2012). Perpustakaan umum tersedia untuk semua orang. Menurut (Sutarno 2006), perpustakaan umum adalah perpustakaan yang didanai oleh masyarakat, seperti pajak dan retribusi, dan kemudian memberikan layanan kepada masyarakat. Ini menunjukkan bahwa perpustakaan umum memberikan dan melayani kebutuhan masyarakat secara gratis dan didukung oleh dana umum. Sulistyo Basuki (2010) juga mengatakan bahwa perpustakaan umum diselenggarakan dengan dana publik. Perpustakaan umum memiliki tiga ciri, menurut Sulistyo Basuki (2010) terbuka untuk semua orang yang ingin menjadi anggotanya, dibiayai oleh dana umum, dan memberikan jasa kepada masyarakat. Perpustakaan berperan penting dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia dengan menyediakan sumber daya belajar yang memadai Sutarno (2017). Selain itu, Widowati (2018) menemukan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai pusat informasi dan pembelajaran di era digital, dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Supriyanto (2019) menunjukkan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai agen perubahan dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Kota Sungai Penuh, yang menjadi pusat administrasi dan pendidikan di wilayah Kerinci, memiliki perpustakaan kota yang berpotensi besar dalam mendukung peningkatan literasi. Meskipun demikian, masyarakat desa di sekitar kota ini, yang sebagian besar memiliki tingkat pendidikan dan akses informasi yang terbatas, belum sepenuhnya memanfaatkan keberadaan perpustakaan kota tersebut. Faktor-faktor seperti jarak, minimnya informasi tentang layanan perpustakaan, dan rendahnya budaya baca menjadi kendala utama. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini menarik untuk dikaji lebih dalam dengan tujuan mengetahui peran Perpustakaan Kota Sungai Penuh dalam meningkatkan literasi masyarakat desa. Literasi secara teoritis mencakup aspek kognitif, sosial, dan budaya selain keterampilan membaca dan menulis. Literasi adalah alat untuk pembebasan dan pemberdayaan Masyarakat (Freire, P., & Macedo, D. 2005). Berpendidikan memungkinkan orang untuk berpikir kritis, membuat pilihan yang bijaksana, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat. Ada beberapa kajian terdahulu yang menunjukkan bahwa perpustakaan desa memainkan peran yang signifikan dalam meningkatkan literasi masyarakat. Seperti kajian Nurhayati (2018) menemukan bahwa perpustakaan desa di Sukamaju memiliki kemampuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat dengan mengadakan program baca bersama dan menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Selain itu, Andriani dan Suryadi (2020) menekankan bahwa perpustakaan desa dapat berfungsi sebagai pusat literasi informasi karena pustakawan berperan aktif dalam membantu masyarakat mendapatkan informasi tentang topik seperti pertanian dan bisnis lokal. Sebaliknya, Wahyuni (2021) menunjukkan bahwa perpustakaan desa juga dapat berubah menjadi tempat untuk literasi digital dan inklusi sosial, terutama dengan mengajarkan ibu rumah tangga dan generasi muda melalui pelatihan berbasis teknologi. Adapun kebaharuan penelitian ini dari penelitian sebelumnya adalah mengkaji lebih dalam mengenai peran perpustakaan Kota Sungai Penuh dalam peningkatan literasi masyarakat desa melalui beberapa program atau kegiatan yang mencakup: literasi masyarakat, klub baca, dan kerjasama dengan komunitas.

Method

Studi ini dilakukan di Perpustakaan Kota Sungai Penuh dengan metode studi kasus. Seperti yang dinyatakan oleh Kusumastuti dan Ahmad Mustamil Khoiron (2019), tujuan dari studi kasus adalah untuk memberikan penjelasan menyeluruh tentang individu, kelompok, organisasi, program, atau situasi sosial tertentu mengenai peran Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh dalam meningkatkan literasi masyarakat Desa. Metode pengambilan sampel purposive adalah teknik pemilihan informan yang didasarkan pada tujuan penelitian. Menurut Sugiyono (2012:54), metode pengambilan sampel purposive adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan mempertimbangkan bahwa informan yang dipilih dianggap memiliki pengetahuan paling mendalam tentang subjek yang diteliti, sehingga mereka dapat memberikan informasi yang relevan dan mendalam. Ada 3 buah informan yaitu kepala perpustakaan dan pustakawan. Perpustakaan Kota Sungai Penuh adalah sumber penelitian. Setelah informasi dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan catatan tertulis. Analisa data kualitatif dapat dilakukan dalam tiga cara: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, menurut Miles dan Huberman (Silalahi 2010: 339).

Discussion

Berdasarkan dari hasil penelitian pustakawan Perpustakaan Kota Sungai Penuh mendukung meningkatkan tingkat literasi masyarakat di era teknologi modern. Memanfaatkan keahlian beberapa pustakawan adalah salah satu cara untuk meningkatkan literasi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perpustakaan dalam meningkatkan literasi masyarakat adalah sebagai berikut: Literasi Dasar Literasi didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, dan mengolah informasi untuk menyelesaikan masalah sehari-hari (Oktarini & Evri, 2020:1). Literasi juga mencakup kemampuan berpikir kritis dengan menggunakan informasi cetak, visual, dan digital (Dhina, 2020: 2), dan sejalan dengan kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, dan mengolah informasi tersebut (Dhina, 2020: 2). Dengan kata lain, literasi mengacu pada kemampuan untuk membaca dan memahami kata-kata yang ditemukan di seluruh dunia (Ruang Guru, 2022). “Perpustakaan Kota Sungai Penuh tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga sebagai pusat pengembangan literasi dasar bagi anak-anak serta destinasi wisata edukasi bagi anak usia dini (PAUD/TK). Dengan berbagai program yang interaktif dan menyenangkan, perpustakaan ini menjadi ruang belajar yang inspiratif dan ramah anak. Perpustakaan Kota Sungai Penuh menjalankan program literasi dasar dengan tujuan menumbuhkan kebiasaan membaca dan meningkatkan kemampuan dasar menulis, membaca, dan berhitung bagi anak-anak sejak dini. Program ini dirancang dengan metode yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan anak, termasuk aktivitas bermain peran, mendongeng, dan menulis cerita sederhana (Dwi, 2025)”. Metode yang menyenangkan membantu anak-anak tidak hanya belajar membaca secara mekanis, tetapi mereka juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis sejak dini. Program literasi dasar ini juga bertujuan untuk menanamkan minat baca dan meningkatkan kemampuan dasar membaca, menulis, serta berhitung bagi anak-anak sejak dini. Program ini dirancang dengan pendekatan yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan anak. Untuk meningkatkan minat anak-anak untuk datang keperpustakaan perpustakaan kota Sungai penuh dengan menggabungkan kegiatan belajar dengan bermain, sehingga anak-anak dapat memperoleh pengalaman yang menyenangkan sambil menambah wawasan mereka. Selain itu, perpustakaan kota Sungai penuh membuat wisata edukasi yang menggabungkan permainan dan pembelajaran. Dalam program ini, anak-anak memiliki kesempatan yang menarik untuk mempelajari dunia literasi melalui ruang baca tematik, permainan edukatif, dan pertemuan interaktif dengan pendongeng atau penulis buku anak. Wisata edukasi ini tidak hanya memberi anak-anak pengetahuan tetapi juga memberikan mereka pengalaman yang berkesan selama proses belajar. Perpustakaan Kota Sungai Penuh bukan sekadar tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pengembangan literasi dasar dan wisata edukasi bagi anak-anak. Melalui programprogram interaktif, anak-anak dapat belajar dengan cara yang menyenangkan, sehingga literasi bukan lagi sesuatu yang membosankan, melainkan pengalaman berharga yang membangun masa depan mereka. Klub Baca Menurut (Wijil Setyanan Putra, 2015), dalam konteks klub baca, model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah salah satu penerapan teori ini. CIRC mengintegrasikan kegiatan membaca dan menulis dalam kelompok kecil, memungkinkan anggota untuk saling membantu memahami teks dan mengembangkan keterampilan literasi. “Ya untuk sejauh ini di Perpustakaan Kota Sungai Penuh belum ada program pojok baca, pojok baca desa merupakan inisiatif yang digalakkan oleh masing-masing desa sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat setempat. Dengan adanya pojok baca, warga desa mendapatkan akses lebih mudah terhadap bahan bacaan tanpa harus pergi jauh ke perpustakaan umum. Namun, ketika Perpustakaan Kota Sungai Penuh tidak memiliki program yang mendukung pojok baca desa, desa-desa harus berjuang sendiri dalam pengelolaan dan pengembangan fasilitas literasi ini . Ada 3 desa pada tahun 2023, 10 desa pada tahun 2024 dan 20 desa, 2 rumah ibadah pada tahun 2025. Salah satu program yang dijalankan pada tahun 2022 adalah Program TPBIS (Tata Pengelolaan dan Bimbingan Perpustakaan untuk Informasi Sejahtera) yang bertujuan untuk memberikan bantuan buku kepada desa-desa di sekitar Kota Sungai Penuh. Program ini, yang merupakan kerjasama dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), telah menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperluas akses informasi dan meningkatkan kualitas pendidikan di desa-desa yang masih kurang mendapatkan fasilitas literasi (Dwi, 2025)”. Meskipun program TPBIS telah memberikan manfaat yang besar, masih terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengelolaannya. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur yang mendukung. Namun, tantangan tersebut juga membuka peluang bagi inovasi dan kerjasama lebih lanjut, baik dengan pemerintah pusat, lembaga pendidikan, maupun organisasi masyarakat. Program TPBIS yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sungai Penuh pada tahun 2022 merupakan salah satu langkah penting dalam meningkatkan literasi dan pengelolaan perpustakaan di desa-desa. Meskipun tantangan masih ada, terutama terkait dengan infrastruktur dan sumber daya manusia, namun peluang untuk pengembangan lebih lanjut tetap terbuka lebar. Diharapkan, melalui kerjasama yang lebih erat dengan pihak-pihak terkait, pengelolaan perpustakaan di Kota Sungai Penuh dapat terus berkembang, membawa manfaat lebih besar bagi masyarakat, serta mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan pengetahuan di seluruh wilayah. Perpustakaan memainkan peran penting dalam pendidikan, bukan hanya sebagai tempat untuk meminjam buku tetapi juga sebagai tempat untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan. Perpustakaan di Kota Sungai Penuh semakin diakui dalam membantu pemerintah mencapai tujuan pembangunan pendidikan, terutama di desa-desa di mana akses ke sumber daya pendidikan masih terbatas. Program TPBIS dan bantuan buku dari Perpusnas diharapkan dapat memberi masyarakat desa peluang untuk meningkatkan minat baca dan pengetahuan mereka, yang pada gilirannya dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut. Program ini juga dimaksudkan untuk mengurangi perbedaan dalam akses informasi antara desa dan kota, yang sering kali menjadi hambatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut. Untuk membangun dan mengembangkan layanan perpustakaan lokal, termasuk perpustakaan desa, Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh bertanggung jawab. Salah satu upaya saat ini adalah Melakukan Sosialisasi untuk pengelola perpustakaan desa. Tujuan dari Sosialisasi ini adalah untuk memberikan pengelola pemahaman dasar tentang manajemen perpustakaan, bagaimana mengelola koleksi buku, dan peran perpustakaan desa dalam menyediakan akses masyarakat ke informasi. Hingga saat ini, belum ada program khusus yang dirancang untuk membantu masyarakat desa belajar literasi, meskipun sosialisasi rutin dilakukan. Hingga saat ini, belum ada pelatihan khusus di Kota Sungai Penuh yang berfokus pada peningkatan literasi secara menyeluruh. Meskipun literasi biasanya dianggap sebagai kemampuan dasar membaca dan menulis, tidak ada program yang secara khusus berfokus pada meningkatkan literasi masyarakat secara keseluruhan. Namun, literasi, yang mencakup berbagai komponen penting, seperti literasi digital, literasi media, dan literasi informasi, sangat penting untuk mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi tantangan yang dihadapi oleh dunia saat ini. Meskipun demikian, Kota Sungai Penuh melakukan upaya untuk meningkatkan literasi, tetapi pengelola perpustakaan lebih terbatas pada sosialisasi. Tujuan umum dari komunitas ini adalah untuk memberikan pemahaman dasar dan keterampilan dasar tentang cara mengelola perpustakaan dengan lebih baik, baik dari perspektif administrasi maupun layanan masyarakat. Meskipun sosialisasi untuk pengelola perpustakaan dapat dianggap sebagai 79asyara awal yang positif, lebih banyak lagi yang perlu dilakukan untuk memperluas cakupan literasi di perpustakaan kota Sungai penuh ini. Pelatihan yang melibatkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk meningkatkan keterampilan literasi mereka, baik dalam hal membaca, menulis, maupun pemanfaatan teknologi, perlu menjadi prioritas. Dengan meningkatnya literasi, masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi yang bermanfaat dan menghadapi berbagai tantangan yang ada dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam era digital yang semakin maju. Pelatihan Literasi Menurut (Barton & Hamilton, 2015), menekankan bahwa literasi bukan hanya kemampuan teknik membaca dan menulis, tetapi juga praktik sosial yang berkembang dalam budaya, lingkungan, dan interaksi antar individu. Dalam pelatihan literasi, teori ini menyatakan bahwa seseorang tidak hanya belajar membaca dan menulis secara mekanis, tetapi juga memahami bagaimana literasi digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas, dan dalam berbagai situasi sosial dan pribadi. “Di dinas perpustakaan dan kearsipan kota Sungai penuh belum ada menyediakan pelatihan literasi untuk masyarakat umum tetapi untuk pelatihan literasi bagi pustakawan di perpustakaan kota Sungai penuh sudah menerima pelatihan khusus dari perpustakaan daerah tersebut. Meskipun di dinas perpustakaan dan kearsipan kota Sungai penuh memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi masyarakat. Ketiadaan pelatihan literasi tersebut membuat kesenjangan terhadap akses informasi, pengatahuan dan keterampilan literasi dasar maupun digital bagi masyarakat pedesaan (Dwi, 2025)”. Belum ada program atau pelatihan literasi yang ditujukan untuk masyarakat umum di Perpustakaan Kota Sungai Penuh. Hanya para pengelola perpustakaan yang menerima pelatihan khusus dari Dinas Perpustakaan Daerah ini. Penting bagi pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan mereka dalam mengelola dan memberikan layanan perpustakaan yang lebih baik kepada masyarakat melalui pelatihan ini. Meskipun pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan kinerja pengelola perpustakaan, program tersebut tidak mencakup pelatihan literasi bagi masyarakat secara keseluruhan. Fokus utama dari pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan adalah untuk meningkatkan kemampuan pengelola perpustakaan dalam administrasi, mengelola koleksi buku, dan meningkatkan kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Karena pengelola perpustakaan memainkan peran penting dalam menyediakan akses informasi, program ini sangat penting. Masyarakat Kota Sungai Penuh tidak sekedar membutuhkan pelatihan literasi yang menyeluruh, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, sangat penting bagi Dinas Perpustakaan atau instansi terkait untuk merancang program pelatihan literasi yang mencakup lebih banyak orang daripada hanya pengelola perpustakaan. Dengan tujuan meningkatkan kemampuan orang dalam membaca, menulis, dan mengakses informasi dengan bijak dan efektif, program ini dapat melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Diharapkan bahwa program pelatihan literasi yang lebih inklusif akan membantu Kota Sungai Penuh membuat masyarakat yang lebih melek informasi dan siap menghadapi tantangan global di era teknologi baru. Jika perpustakaan kota Sungai penuh melihat ke depan, akan sangat membantu jika pemerintah kota dapat membuat program pelatihan literasi yang melibatkan lebih banyak orang dan bukan hanya pengelola perpustakaan. Literasi digital, keterampilan membaca dan menulis yang lebih baik, dan cara yang bijak untuk mengakses dan memanfaatkan informasi dapat dibahas dalam pelatihan ini. Dengan tindakan ini, diharapkan Kota Sungai Penuh dapat membangun masyarakat yang lebih cerdas dan siap bersaing di era modern. Kerjasama dengan Komunitas Menurut (Woolcock & Narayan, 2000), Ketika komunitas memiliki modal sosial yang kuat, anggotanya lebih cenderung saling mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan bersama. Kepercayaan yang tinggi di antara anggota komunitas memungkinkan mereka bekerja sama dalam proyek-proyek sosial seperti pembangunan infrastruktur, pengembangan pendidikan, atau inisiatif kesejahteraan Masyarakat. “Ya untuk membantu meningkatkan literasi anak-anak, Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh sebelumnya bekerja sama dengan komunitas Volunteer Anak Kincai. Namun, saat ini kemitraan tersebut sudah tidak berjalan lagi. Akibatnya, Dinas Perpustakaan menghadapi tantangan untuk mempertahankan dan meningkatkan budaya literasi. Terbukti bahwa kerja sama dengan komunitas lokal efektif dalam meningkatkan akses anak-anak terhadap aktivitas literasi, terutama bagi mereka yang sulit mendapatkan akses ke perpustakaan secara langsung. Sayangnya, kurangnya koordinasi, anggaran terbatas, dan kurangnya kesadaran masyarakat sering menghalangi keberlanjutan program tersebut. Akibatnya, Dinas Perpustakaan memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan strategis, seperti memulai kembali kemitraan dengan komunitas, memperluas program perpustakaan keliling, dan mengadakan kegiatan menarik seperti cerita dan kompetisi menulis (Dwi, 2025)”. Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh sebelumnya pernah bekerja sama dengan Masjid Baiturrahman dan mahasiswa Muhammadiyah untuk menyediakan Pojok Baca Digital (POCADI) di sekitar masjid. Tujuan program adalah untuk memberikan akses literasi yang lebih luas kepada masyarakat umum, terutama jamaah masjid dan penduduk sekitar. POCADI diharapkan membuat masyarakat lebih mudah membaca buku fisik dan mendapatkan bacaan digital melalui fasilitas yang disediakan. Masjid adalah tempat berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat, jadi keberadaan POCADI membantu mendekatkan literasi dengan lingkungan keagamaan. Namun, POCADI yang ditempatkan di dekat Masjid Baiturrahman akhirnya ditarik kembali pada tahun sebelumnya. Salah satu faktor utama yang menyebabkan program ini dihentikan adalah tidak adanya pengelola khusus yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengelolaan fasilitas perpustakaan. Tanpa pengelola yang aktif, POCADI menjadi kurang terurus dan sulit bagi masyarakat untuk memanfaatkannya dengan baik. Adanya tenaga pengelola seharusnya dapat membantu menjaga ketersediaan buku, membantu orang mengakses buku digital, dan mengadakan kegiatan literasi yang menarik bagi masyarakat sekitar. Selain itu, minat baca masyarakat di lokasi tersebut masih rendah. Akibatnya, penggunaan POCADI tidak meningkat seperti yang diantisipasi. Salah satu masalah dalam menjalankan program ini adalah kebiasaan membaca yang belum terbentuk dan kurangnya dorongan untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Ketika minat masyarakat dalam membaca tidak didukung oleh kegiatan literasi yang menarik dan berkelanjutan, fasilitas seperti POCADI cenderung kurang dimanfaatkan dan pada akhirnya menjadi tidak efektif. Keterbatasan akses internet di sekitar lokasi merupakan kendala tambahan yang menghalangi POCADI untuk memaksimalkan potensinya. Untuk fasilitas yang bergantung pada akses digital, koneksi internet sangat penting agar masyarakat dapat membaca buku elektronik atau mengakses informasi melalui perangkat yang disediakan. Tanpa koneksi internet yang memadai, fitur digital POCADI menjadi tidak efektif dan penggunaannya pun semakin berkurang.

Conclusion

Perpustakaan memiliki kemampuan untuk menyediakan program literasi digital sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan literasi masyarakat dan memungkinkan pembelajaran sepanjang hayat. Adapun peran perpustakaan Kota Sungai Penuh dalam meningkatkan literasi masyarakat desa yaitu: 1) Literasi dasar; 2) Klub baca; 3) Pelatihan literasi; dan 4) Kerjasama dengan komunitas. Untuk memastikan program berjalan dengan baik, pustakawan dan pimpinan lembaga harus bekerja sama. Contoh kerjasama kolaboratif adalah pelaksanaan program pendidikan jarak jauh (online) dan akses ke informasi digital dengan memberdayakan berbagai fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan sumber daya digital untuk kepentingan masyarakat umum. Literasi digital berarti bahwa orang dapat menggunakan alat digital untuk kebaikan bersama, berkontribusi penuh pada pemerataan dan pengembangan, dan menjadi alat investasi untuk kesejahteraan Masyarakat. Perpustakaan Kota Sungai Penuh tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga sebagai pusat pengembangan literasi dasar bagi anak-anak serta destinasi wisata edukasi bagi anak usia dini (PAUD/TK). Klub Baca Di Perpustakaan kota Sungai Penuh belum ada program pojok baca, Pojok baca desa merupakan inisiatif yang digalakkan oleh masing-masing desa sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat setempat. Pelatihan Literasi Ada 3 desa pada tahun 2023, 10 desa pada tahun 2024 dan 20 desa, 2 rumah ibadah pada tahun 2025. Salah satu program yang dijalankan pada tahun 2022 adalah Program TPBIS (Tata Pengelolaan dan Bimbingan Perpustakaan untuk Informasi Sejahtera) yang bertujuan untuk memberikan bantuan buku kepada desa-desa di sekitar Kota Sungai Penuh. Kerjasama Dengan Komunitas Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh sebelumnya bekerja sama dengan komunitas Volunteer Anak Kincai. Namun, saat ini kemitraan tersebut sudah tidak berjalan lagi. Dinas Perpustakaan menghadapi tantangan untuk mempertahankan dan meningkatkan budaya literasi. Kerja sama dengan komunitas lokal efektif dalam meningkatkan akses anak-anak terhadap aktivitas literasi, terutama bagi mereka yang sulit mendapatkan akses ke perpustakaan secara langsung.