Kembali
16
1
2020 Media Informasi Vol 29 · 1 ISSN 2829-2707

TANTANGAN PUSTAKAWAN DALAM INOVASI LAYANAN DI PERPUSTAKAAN

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Revolusi perpustakaan merupakan perkembangan perpustakaan dari waktu ke waktu yang mempunyai ciri tersendiri pada setiap periodenya. Hal ini membuat tantangan yang berbeda-beda pula karena setiap pustakawan bisa mengalami beberapa dari periode perkembangan tersebut, sehingga merupakan kewajiban pustakawan dalam menyesuaikan diri dengan tantangan yang ada. Artikel ini membahas tentang faktor-faktor yang menjadi tantangan inovasi pustakawan dalam meningkatkan kualitas layanan di perpustakaan dengan menggunakan referensi dari berbagai sumber baik primer maupun sekunder. Ada dua faktor yang mempengaruhi pustakawan dalam menciptakan inovasi layanan perpustakaan, yaitu faktor dari dalam pustakawan itu sendiri dan dari lingkungan luar pustakawan. Faktor-faktor tersebut untuk menjawab bagaimana kita bersikap, karena tuntutan sekarang ini, seorang pustakawan harus mampu menciptakan inovasi layanan di perpustakaan yang mendukung terciptanya inovasi bagi pemustakanya .
Keywords: inovasi layanan · perpustakaan · tantangan pustakawan

Introduction

Di era global , kebutuhan pemustaka semakin berkembang, ilmu pengetahuan dan teknologi juga sudah jauh berkembang dari sebelumnya. Pustakawan sekarang sudah memasuki revolusi pustakawan keempat, sebuah revolusi dimana pustakawan dituntut untuk bisa mengemas informasi ilmiah yang menjadi kebutuhan pengguna, tidak hanya fokus pada koleksi, pengguna, maupun promosi produk dan pelatihan perpustakaan, serta penggunaan sistem informasi yang ada menurut Prijanto (2017). Informasi yang berkembang sekarang ini yakni produk-produk digital, sehingga mau tidak mau pustakawan harus mengikuti perkembangan produk informasi saat i n i , k emu d i a n me n g o l a h d a n menyajikannya kepada pemustaka. Berbeda dengan revolusi perpustakaan pada periode sebelumnya. Tantangan yang dihadapi pustakawan pada setiap periodenya akan berbeda-beda, karena fokus kegiatan juga berbeda. Pada awal revolusi pustakawan, perpustakaan mengutamakan pada kekuatan koleksi, sehingga dalam hal ini pustakawan dituntut untuk bisa mengolah koleksi sedemikian rupa sehingga koleksi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan pemust aka . Selanjutnya, menyajikan koleksi agar mudah ditemukan oleh pengguna karena pada periode ini koleksi yang dimiliki yakni koleksi cetak. Jenis layanan yang ada pada revolusi ini yakni layanan sirkulasi dan referensi. Keduanya fokus pada koleksi cetak untuk dapat dipinjam dibawa pulang (layanan sirkulasi) maupun koleksi yang hanya bisa dibaca di tempat (layanan referensi) seperti jurnal, majalah, prosiding, laporan-laporan tahunan, dan lain-lain. Selain itu, pustakawan juga mempunyai tugas untuk menjaga dan merawat koleksi yang ada dengan melakukan tindakan preservasi. Pada revolusi kedua, layanan perpustakaan mulai mengalami perkembangan. Pustakawan tidak hanya fokus kepada koleksi yang d i m i l i k i , t e t a p i j u g a m u l a i mengembangkan sistem layanan kepada pemustaka melalui otomasi perpustakaan, dimana pengolahan pengelolaan perpustakaan dikerjakan dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi. Pustakawan juga melakukan pelatihan-pelatihan dan p r omo si p e r p u st a k a a n , s e rt a menambah corner sebagai fasilitas baru di perpustakaan. Jadi dalam revolusi kedua ini, pustakawan memp u n y a i k e w a j i b a n u n t u k menc ipt akan kepua s an kepada pemustaka dengan menambah fasilitas l a y a n a n k e p a d a p e m u st a k a . Pe n amb a h a n l a y a n a n t e rs e b u t bertujuan untuk menarik pemustaka untuk berkunjung ke perpustakaan. Salah satu cara untuk menarik pengunjung perpustakaan melalui kegiatan promosi perpustakaan. Jadi disini pustakawan mulai dituntut untuk kreatif melakukan promosi untuk menarik pemustaka untuk datang ke perpustakaan. Dalam hal layanan fasilitas penambahan corner, biasanya perpustakaan bekerja sama dengan pihak luar sebagai sponsorship. Jadi pada setiap perpustakaan mempunyai jenis corner yang berbeda-beda tergantung dengan siapa mereka bekerja sama, sehingga jenis layanan pun akan berbeda karena setiap sponsor akan memberikan fasilitas yang berbeda-beda. Pada revolusi pustakawan yang ketiga, perpustakaan sudah mulai fokus dengan perkembangan teknologi informasi. Pengaruh perkembangan teknologi informasi yang masuk ke perpustakaan ditandai dengan mulai dibangunnya OPAC (Online Public Ac c e ss Ca t a l o g ) d a n we b sit e perpustakaan, beralihnya koleksi perpustakaan dari bentuk cetak ke digital (hybrid), penambahan koleksi d a l am b e r b a g a i f o rma t, s e rt a pembangunan sistem informasi dalam bentuk repositori. Dalam revolusi ini pustakawan dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi sehingga bisa menggunakan dan menerapkan perkembangan teknologi di perpustakaan. Selain itu, tantangan pustakawan pada era ini, dituntut untuk bisa inovatif dalam mengembangkan sistem layanan dalam berbagai format. Se l anjutnya pada r evolusi keempat, pustakawan mempunyai t a n t a n g a n d a l am p e n g ema s a n informasi ilmiah karena perpustakaan sudah mulai meninggalkan jurnaljurnal tercetak dan mulai melanggan jurnal-jurnal online. Pustakawan dituntut untuk bisa mengemas informasi ilmiah tersebut agar p emu st a k a b is a me n d a p a t k a n informasi dengan cepat dan tepat. Pada masa ini jenis pemustaka juga berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya. Mereka dikenal dengan istilah digital native, yaitu generasi yang lahir dan dibesarkan di era teknologi digital di mana tingkat ketergantungan terhadap teknologi informasi mereka sangat besar, terutama pada keberadaan internet. Hal tersebut menjadi tantangan pustakawan untuk bisa mengemas informasi sesuai yang dengan kebutuhan pemustaka dengan m e n g g u n a k a n p e r k e m b a n g a n teknologi informasi yang ada karena kedua hal tersebut tidak dapat dipis ahkan. J adi, s e l a in ha rus mempunyai kemampuan menyajikan informasi, pustakawan juga harus mempunyai kemampuan menjadikan teknologi menjadi bagian dari penyajian informasi tersebut. Jika tidak, maka teknologi yang masuk tidak akan bisa kita terapkan jika pustakawan sendiri tidak mampu menggunakan teknologi tersebut. Selain itu, pustakawan juga harus mampu menciptakan inovasi yang sesuai dengan perkembangan teknologi yang kini hadir di sekitar kita. Hal-hal tersebut di atas, yang membuat pergeseran fungsi perpustakaan, dimana yang sebelumnya hanya sebagai pusat informasi menjadi tempat terciptanya inovasi masyarakat di dalamnya. Itulah yang menjadi t a n t a n g a n p u st a k a w a n d a l am menciptakan inovasi layanan di perpustakaan pada masa sekarang ini. Mengenai faktor-faktor yang ada dalam penciptaan inovasi bagi seorang pustakawan di perpustakaan akan kami bahas dalam artikel ini.

Discussion

1. Tantangan Pustakawan Pustakawan menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia No 9 tahun 2014 t e n t a n g J a b a t a n F u n g si o n a l Pustakawan dan Angka Kreditnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab, w e w e n a n g d a n h a k u n t u k m e l a k s a n a k a n k e g i a t a n kepustakawanan. Undang-undang Republik Indonesia No 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Dari dua definisi tersebut menyebutkan bahwa untuk menjadi seorang pustakawan haruslah memiliki pendidikan atau latar belakang pustakawan. Tentunya pernyataan ini dapat kita terima bahwasanya pendidikan dan latar belakang bidang pustakawan sangat diperlukan dalam menjawab tantangan pustakawan dari masa ke masa, dari satu revolusi ke revolusi berikutnya. Hal ini seperti yang telah dikemukakan oleh Ahmad (2001), bahwa seorang pustakawan harus memiliki beberapa keterampilan seperti berikut sesuai dengan tantangan di masa yang akan datang: 1. pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang, 2. p u st a k a w a n a d a l a h mi tr a intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan pemakai, 3. seorang pustakawan harus selalu berpikir positif, 4. pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, tetapi harus mempunyai nilai tambah k a r e n a i n f o r m a s i t e r u s berkembang, 5. pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tapi layak pakai, 6. ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekerja sama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi. Tantangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hal atau objek y a n g me n g g u g a h t e k a d u n t u k meningkatkan kemampuan mengatasi masalah, rangsangan (untuk lebih giat bekerja, dan sebagainya). Tantangan setiap individu akan berbeda-beda, tergantung pada diantaranya: 1. Jenis profesi Sebagai contoh, profesi seorang dokter tentu berbeda dengan tantangan seorang pustakawan. Jika seorang d o k t e r t e r t a n t a n g u n t u k m e n y e m b u h k a n o r a n g s a k i t , pustakawan tertantang untuk bisa selalu memenuhi kebutuhan pemustaka y a n g s e l a l u b e r k emb a n g d a n menciptakan inovasi yang sebelumnya tidak ada. 2. Lokasi Pustakawan yang hidup di pe rkot a an t entu akan be rbeda tantangannya dengan pustakawan yang h i d u p d i wil a y a h p e d a l ama n . Pustakawan di perkotaan sibuk m e n g e m b a n g k a n d i r i u n t u k menciptakan inovasi, sedang di pedalaman fasilitas untuk menciptakan inovasi masih sulit terjangkau. Akses untuk mengembangkan dirinya pun tentunya tak semudah bila hidup di lingkungan perkotaan. Keterbatasan sarana prasarana itulah yang bisa menghambat inovasi. 3. Status Sebagai contoh, di lingkungan kerja kami yang berbeda status kepegawaian, tantangan yang berbedabeda dalam bekerja, karena terkadang status menjadi beban tersendiri. 4. Gender Dalam hal ini, tantangan sebagai seorang laki-laki dan perempuan tentunya juga berbeda, karena pada dasarnya jenisnya memang berbeda. 2 Tantangan Faktor Internal dan Eksternal Dalam menjalankan tugas di perpustakaan, pustakawan banyak mendapa tkan t ant angan da l am mengembangkan kemampuan dirinya. Tantangan itu dapat berasal dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) pustakawan. Berikut akan penulis uraikan tantangan dari internal dan eksternal: a. Faktor internal Dalam faktor internal sebenarnya pust akawan s endiri yang bis a mengendalikan. Kita sendiri yang bisa mengukur kemampuan diri kita sampai sejauh mana kita melangkah. Kemauan diri sendiri untuk belajar melakukan berbagai tantangan perubahan dalam perpustakaan dan perubahan terhadap sendiri untuk bisa melakukan yang terbaik. Berikut diantaranya sikap dan perilaku yang bisa membawa kita me l akukan inova si-inova si di perpustakaan: a) Belajar dari pengalaman Ketika melakukan hal-hal baru t e n t u n y a s e b a g a i s e o r a n g pustakawan masih perlu banyak b e l a j a r d a r i p e n g a l a m a n sebelumnya, baik pengalaman baik maupun pengalaman buruk, baik kesalahan atau kebenaran. Kesalahan yang telah dilakukan dari masa lalu akan membuat seorang pustakawan belajar. Dari kesalahan-kesalahan tersebut jadi tahu keputusan yang tepat yang dapat diambil. Seperti pepatah mengatakan bahwa pengalaman merupakan guru terbaik. Karena jika seorang pustakawan tidak melakukan apapun, maka ia tidak akan mendapatkan pelajaran apapun. Jika ia dapat belajar dari kesalahan dan mengambil hikmah disetiap kesalahan, tentunya ia b is a s e m a k i n b a i k d a l a m m e m b e r i k a n l a y a n a n perpustakaan. b) Menghilangkan kinerja yang buruk Pustakawan harus menjaga agar bisa selalu bekerja dengan baik. Pustakawan sendiri yang harus bisa membangkitkan motivasi dari dalam diri mereka bahwa mereka mampu bekerja dengan baik dan memberikan yang terbaik bagi perpustakaan. Adalah sesuatu yang membanggakan tentunya bila pustakawan bisa memberikan yang terbaik bagi perpustakaan dan lembaga bisa mengapresiasi hal tersebut. c) Me n g a d o p si i d e -i d e y a n g menjanjikan Kita juga bisa belajar dari lingkungan dimanapun untuk mengadopsi ide-ide kreatif inovatif untuk bisa menjadikan layanan di perpustakaan semakin baik. Kita dapat belajar dari orang lain juga yang telah berhasil m e l a k u k a n i n o v a s i d i p e r p u s t a k a a n . D e n g a n mengadopsi ide-ide tersebut bisa menularkan inovasi kita dalam layanan di perpustakaan tempat kita bekerja. d) Menghargai kesuksesan dan peristiwa-peristiwa penting Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dan tidak melupakan sejarah. Kita hendaknya bisa menghargai ke suks e s an or ang l a in dan peristiwa-peristiwa penting yang telah dicapai. Karena dari mereka kit a juga bis a be l a j a r dan me n g amb i l k e b a i k a n d a ri peristiwa yang telah lalu. e) Kebutuhan untuk menciptakan sebuah lingkungan yang inovatif Era global seperti sekarang ini sudah tidak dapat kita pungkiri, bahwa melakukan inovasi adalah w a j i b h u k u m n y a k a l a u perpustakaan kita tidak ingin ditinggalkan pengunjungnya. Kebutuhan informasi semakin beragam dan teknologi yang semakin canggih menjadikan kita h a r u s m a m p u m e n g i k u t i perkembangan teknologi. Melalui hal-hal tersebutlah kita dapat menciptakan inovasi. b. Faktor eksternal 1. Dukungan Instansi 2. Inovasi yang akan dilakukan oleh seorang pustakawan, t e n t u n y a m e m b u t u h k a n dukungan dari instansi yang menaunginya. Karena tanpa dukungan mereka, inovasi yang kita lakukan bisa stagnan. Dukungan ini bisa terwujud melalui kebijakan-kebijakan yang mereka putuskan. Jadi, lembaga yang baik seharusnya memfasilitasi bagi karyawannya y a n g i n g i n m a j u d a n memberikan penghargaan apabila mereka berprestasi. Hal ini mempengaruhi secara psikologis karyawan, terutama pustakawan. Pustakawan akan merasa dihargai sehingga p e n g h a r g a a n t e r s e b u t memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan institusi. 3. Ketersediaan Dana Te r k a d a n g k i t a s u d a h mempunyai banyak ide inovatif tetapi hanya di angan-angan saja tanpa bisa kita wujudkan karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh lembaga terkait. Dalam mewujudkan inovasi juga diperlukan dana yang tidak sedikit. Kemampuan suatu lembaga akan berpengaruh terhadap penciptaan inovasi. 4. Dukungan teknologi Inovasi layanan yang sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna saat ini tak lepas dari perkembangan teknologi. Jadi tanpa dukungan teknologi dan kemampuan pustakawan untuk dapat memanfaatkan teknologi tersebut inovasi juga tidak akan berjalan. 5. Kerjasama Inovasi layanan tidak bisa berjalan sendiri, banyak pihak yang terlibat dalam satu tim kerjasama dengan pihak lain. Karena memang tidak ada kesuksesan pribadi, sukses lembaga merupakan berkat inovasi dan dukungan dari berbagai pihak. Sebagai contoh, d a l a m h a l i n i k i t a b is a m e l a k u k a n k e r j a s a m a melakukan inovasi layanan d e n g a n p e n e r b i t d a l a m menyajikan inovasi layanan ebook. 3. Inovasi Layanan Perpustakaan Menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 9 tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, d a n / a t a u k a r y a r e k am s e c a r a profesional dengan sistem baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan r e k r e a s i p a r a p u s t a k a w a n . Perpustakaan merupakan suatu tempat u n t u k b e l a j a r, m e n c a r i d a n mengembangkan informasi ataupun lembaga pendidikan, dan juga sebagai sarana edukatif dalam pendidikan yang dikelola sedemikian rupa. Pada perpustakaan berisi kumpulan buku baik yang dalam bentuk cetak ataupun buku digital yang dapat diakses dengan j a r i n g a n k o m p u t e r (https://www.seputarpengetahuan.co.i d/). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kebutuhan pemustaka, pengertian perpustakaan juga berkembang. Seperti yang telah kami sebutkan di atas bahwa sekarang sudah memasuki revolusi keempat dimana perpustakaan tidak saja berkutat dengan kegiatan intinya menyediakan sumber informasi namun perpustakaan telah masuk menjadi bagian dari scholarly and scientific lifecycle, perpustakaan sebagai pengelola komunikasi ilmiah e-journal, komunikasi analog ke digital, demikian yang dikemukakan oleh Prijanto (2017). a. Inovasi Inovasi menurut Bitar (2020), adalah sebuah penemuan baru yang berbeda dari yang sebelumnya dari yang sudah ada. Inovasi merupakan ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh manusia atau unit adopsi lainnya. Teori ini meyakini bahwa sebuah inovasi terdifusi ke seluruh masyarakat dalam pola yang bisa diprediksi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; pembaharuan atau bisa dikatakan juga penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya ( g a g a s a n , me t o d e , a t a u a l a t) (https://kbbi.web.id). Berdasarkan pada dua pengertian dari inovasi tersebut di atas, dapat disimpulkan, bahwa inovasi adalah membuat/ menciptakan produk/jasa baru yang berbeda melalui kegiatan penelitian, pengembangan dan/atau perekayasaan yang baru dengan cara baru. Menurut Bitar (2019), inovasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Memiliki ciri khas yang artinya sebuah inovasi memiliki ciri yang khas dalam setiap aspeknya, entah itu dalam program, ide atau gagasan, tatanan, sistem dan dalam kemungkinan hasil yang baik sesuai yg diharapkan. 2) Memiliki ciri atau unsur kebaruan, yang artinya yaitu sebuah inovasi harus memiliki suatu karakteristik yang sebagai suatu karya dan buah pemikiran yang memiliki ke originalan & kebaruan. 3) Dalam Program inovasi ini dilakukan lewat program yang terencana, yang artinya bahwa suatu inovasi dilakukan lewat suatu bentuk proses yang tidak tergesa-gesa, tapi dipersiapkan dengan secara matang, jelas dan direncanakan terlebih dahulu. 4) Suatu Inovasi yang diluncurkan memiliki suatu tujuan, suatu program inovasi yang dilakukan harus memiliki arah kemana tujuannya dan target yang ingin dicapai. Ada pepatah mengatakan, orangorang yang mendapatkan segala sesuatu yang berharga di dunia ini berarti mereka telah bekerja ketika orang lain sedang bermalas-malasan, telah berusaha bertahan ketika orang lain menyerah dalam keputusasaan, telah mempraktikkan lebih dulu dalam hidupnya kebi a s a an-kebi a s a an berharga yang memacu diri, tekun dan memiliki tujuan tunggal. Sebagai hasilnya, mereka di kemudian hari menikmati kesuksesan yang seringkali disalah artikan orang lain sebagai keberuntungan (Anonim). Dari pepatah tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa seseorang yang telah melakukan inovasi telah melakukan sesuatu yang lebih dari yang orang lain tahu dan telah memikirkan dan bertindak beberapa langkah lebih maju dari orang lain. B e g i t u l a h m o t i v a si s e o r a n g pustakawan hendaknya. Berorientasi untuk lebih maju demi memberikan yang terbaik bagi perpustakaan dan memberikan layanan yang terbaik demi k e b u t u h a n l a y a n a n b a g i pengunjungnya. Dalam hal ini, pustakawan juga dituntut untuk mampu berinovasi menyajikan layanan inovatif demi memberikan layanan yang bisa memunculkan ide-ide inovatif bagi pengunjungnya. Inovasi-inovasi di perpustakaan ini bisa berupa: 1. Inovasi Layanan Perpustakaan menambah jam layanan, menambah hari kerja pelayanan, menambah jenis layanan, dan lain-lain. Jenis layanan ini juga disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka. Kebutuhan pengunjung masingmasing perpustakaan berbeda antara satu jenis perpustakaan dengan jenis perpustakaan yang lainnya. 2. Inovasi Sistem Jenis inovasi ini banyak dilakukan oleh para pustakawan. Mereka mencoba melakukan inovasi dalam mengemas informasi dan menyajikannya dengan sistematis agar mudah dan cepat dalam pencarian informasi. 3. Inovasi Fasilitas Dalam inovasi ini pustakawan berusaha untuk menciptakan tempat dan suasana yang nyaman b a g i p e n g u n j u n g . S e l a i n menyediakan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, inovasi fasilitas ini bisa dilakukan dengan ruangan yang ber-AC, perabot (meja, kursi, komputer) yang nyaman dipakai, bahkan memb a n g u n p e r p u st a k a a n layaknya di cafe s ehingga pengunjung betah berlama-lama di perpustakaan. Upaya meningkatkan inovasiinovasi tersebut di atas, hendaknya pustakawan juga harus memperhatikan faktor kebutuhan pengguna, tidak hanya sekedar membuat inovasi tetapi inovasi tersebut juga harus tepat sasaran. Di samping itu juga inovasi harus mampu meningkatkan nilai tambah institusinya tidak hanya pada pustakawan itu sendiri.

Conclusion

Perpustakaan dalam upaya memenuhi kebutuhan informasi pemustaka saat ini, selain dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi dan informasi, pustakawan diharapkan juga mampu melakukan inovasi-inovasi pelayanan demi kepuasan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka perpustakaan. Inovasi yang dilakukan bisa berupa inovasi layanan, inovasi sistem, dan inovasi fasilitas. Dalam melakukan inovasi-inovasi perpustakaan tersebut, diperlukan dukungan dari berbagai faktor di lingkungan tempat bekerja. Selain faktor internal dari dalam diri sendiri, tentunya faktor dari luar dari diri kita juga sangat berpengaruh bagi seorang pustakawan untuk melakukan inovasi. Melalui tulisan ini, penulis berharap agar tiap-tiap pustakawan mampu mengenali diri sendiri maupun lingkungannya agar bisa menggali potensi diri dan memanfaatkan dukungan dari luar untuk melakukan inovasi.