Kembali
16
1
2022 Media Informasi Vol 31 · 1 ISSN 2829-2707

Laboratorium Perpustakaan Pertanian: Layanan Makerspace Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Perpustakaan-perpustakaan di negara maju sudah banyak yang menyediakan makerspace untuk pemustakanya. Makerspace sudah tidak asing lagi di negara Amerika dan Inggris yang menyediakan ruang yang didesain khusus bagi pemustaka untuk menuangkan ide-ide dan berkreasi serta tempat untuk mengasah dan mengembangkan keterampilan diri. Fasilitas yang disediakan di makerspace perpustakaan negara maju berupa teknologi-teknologi yang sangat canggih seperti printer 3D dan scanning 3D. Namun berbeda dengan negara berkembang, penerapan makerspace belum memadai untuk penggunaan teknologi canggih. Makerspace dimanfaatkan untuk pengembangan softskill masyarakat. Salah satu penggunaan makerspace di Indonesia adalah sebagai tempat pelatihan yang sudah disediakan peralatannya secara gratis. Hal ini dilakukan juga oleh Laboratorium Perpustakaan Pertanian yang menyediakan makerspace untuk pengembangan softskill bidang pertanian. Pemanfaatan makerspace di Laboratorium Perpustakaan Pertanian berupa pelatihan budidaya tanaman sayuran. Animo masyarakat sekitar Laboratorium Perpustakaan Pertanian dalam memanfaatkan layanan makerscape cukup tinggi. Hal ini terlihat dari peserta kegiatan pelatihan dengan rata-rata 20 orang kepesertaan. Kehadiran makerspace di Laboratorium Perpustakaan Pertanian mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakat berupa menumbuhkan jiwa kewirausahaan, menciptakan lingkungan yang kreatif dan menciptakan prototyping.

Abstract

Many libraries in developed countries have provided makerspace for their users. Makerspace is no stranger to America and England, which provides a specially designed space for users to express their ideas and be creative and a place to hone and develop their skills. The facilities provided in the makerspace of developed countries are in the form of very sophisticated technologies such as 3D printers and 3D scanning. However, unlike in developing countries, the application of makerspace is not sufficient to use advanced technology. Makerspace is used for the development of soft community skills. One of the uses of makerspace in Indonesia is a training place where the equipment has been provided for free. This is also done by the Agricultural Library Laboratory, which provides a makerspace for developing soft skills in agriculture. The use of makerspace in the Agricultural Library Laboratory is in the form of training on vegetable cultivation. The community's interest in the Agricultural Library Laboratory in utilizing makerspace services is relatively high. This can be seen from the participants in the training activities with an average of 20 participants. The presence of makerspace in the Agricultural Library Laboratory can contribute to society by fostering an entrepreneurial spirit, creating a creative environment, and creating prototyping.
Keywords: Makerspace · Library · Training

Introduction

Seiring dengan berkembangnya teknologi penyedia infomasi mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Penyedia informasi dituntut untuk melakukan transformasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi dituntut untuk bertranformasi agar tidak ditinggalkan oleh pemustaka. Perkembangan dunia perpustakaan juga mengalami perubahan paradigma dari waktu ke waktu. Perubahan paradigma perpustakaan berubah dari tempat menyimpan koleksi berkembangan menjadi pusat pengetahuan dan kini berubah menjadi sarana transfer pengetahuan. Perpustakaan awalnya hanya dipandang sebagai gudang buku, tempat sepi dan sunyi sekarang mengalami perubahan menjadi tempat berdiskusi dan berbagi pengetahuan. Selain itu perpustakaan berkembang menjadi tempat berinteraksi sehingga menumbuhkan kreativitas. Perubahan paradigma memunculkan inovasi layanan perpustakaan yang menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkreasi sehingga menghasilkan karya melalui fasilitas yang disediakan perpustakaan. Perpustakaan sebagai penyedia informasi kini banyak yang berorientasi kepada peran perpustakaan dalam pemberdayaan masyarakat. Hal ini sejalan dengan paradigma baru perpustakaan sebagai tempat transfer pengetahuan. Perpustakaaan diharapkan mampu untuk memberdayakan masyarakat sehingga terciptanya kesejahteraan masyarakat. Akhir-akhir ini perpustakaan di Indonesia sedang gencargencarnya bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Tujuan perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah pemberdayaan masyarakat menuju kesejahteraan (Sutarsyah, Rufaidah, & Suryantini, 2021). Perpustakaan berinovasi mengembangkan layanan yang bertujuan memberdayaan masyarakat dengan menyediakan ruang dengan berbagai fasilitas untuk berkreasi, berbagi pengetahuan, berkolaborasi sehingga menciptakan suatu produk. Inovasi layanan perpustakaan tersebut merupakan layanan makerspace. Makerspace adalah ruang/tempat berkumpulnya pemustaka untuk berbagi pengetahuan untuk bersama-sama mengerjakan suatu proyek atau menciptakan suatu produk (Cao, Wu, & Stvilia, 2020). Layanan makerspace menjadikan perpustakaan tidak hanya sebagai tempat pengelola pengetahuan namun menjadi laboratorium ide atau gagasan dalam berkreativitas dan membangun inovasi sehingga masyarakat lebih berdaya. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi (PUSTAKA) merupakan perpustakaan khusus bidang pertanian. PUSTAKA kini bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Transformasi menjadi inklusi sosial sesuai dengan tugas pokok PUSTAKA yaitu melaksanakan pengelolaan perpustakaan dan penyebarluasan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. Agar tugas pokok PUSTAKA sampai kepada petani maka PUSTAKA mendirikan taman baca di desa Dramaga. Kegiatan berbasis inklusi sosial yang telah dilaksanakan di taman baca adalah literasi informasi. Untuk lebih memberikan fungsi perpustakaan sebagai tempat transfer pengetahuan, PUSTAKA mendirikan Laboratorium Perpustakan Pertanian di taman baca sebagai media/sarana belajar dan praktek teknologi pertanian perkotaan. Tujuan tulisan ini menggambarkan kegiatan yang telah dilakukan di makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian dalam pemberdayaan masyarakat.

Discussion

Makerspace Perpustakaan Makerspace muncul pertama kali di negara barat yang berarti sebuah ruang untuk membuat suatu produk menggunakan teknologi. Definisi makerspace lebih detail sebagai tempat dimana orang-orang dengan pemikiran yang berbeda-beda dengan satu tujuan yang sama berkumpul untuk mengerjakan sebuah produk dari hasil pemikiran mereka masing-masing, dengan dukungan berbagai macam peralatan dan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing orang (Bilah & Andini, 2021). Dari definisi tersebut maka makerspace cocok untuk disediakan di perpustakaan, karena perpustakaan tempat bertemu dan berinterasi antara pemustaka dan saling berbagi pengetahuan. Makerspace di perpustakaan sendiri merupakan tempat mengembangkan kreativitas dan membangun inovasi sehingga perpustakaan tidak lagi menjadi tempat menyimpan buku tetapi menjadi laboratorium gagasan yang melibatkan masyarakat (Albaar, 2019). Di beberapa negara maju fasilitas di dalam makerspace yang disediakan berupa printer 3D, scanner 3D, atau peralatan lain baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) yang dapat digunakan secara gratis. Hal ini didasarkan bahwa makerspace di negara-negara maju identik dengan teknologi yang canggih. Berbeda dengan negara berkembang, makerspace sebagai tempat untuk pelatihan yang membekali pemustaka dengan suatu keterampilan. Sesuai pengertian makerspace menurut Okuonghae & Nkiko (2021) yang menyatakan bahwa dengan adanya makerspace, institusi seperti perpustakaan dapat memberikan pelatihan abad ke-21, yang akan membekali pengguna perpustakaan, dengan bentuk literasi baru yang diperlukan untuk mengeksplorasi berbagai jenis teknologi secara efektif. Makerspace perpustakaan di negara-negara berkembang memiliki makna sebagai tempat untuk menuangkan ide-ide yang dimiliki pemustaka dan tempat untuk mengasah dan mengembangkan keterampilan diri (Fatmawati, Nelisa, & Habiburrahman, 2019). Di Indonesia, makerspace perpustakaan dimanfaatkan sebagai media literasi informasi bagi pemustakanya. Hal ini sesuai penelitian yang dilakukan Nihayati & Wijayanti (2019) yang menyebutkan bahwa makerspace di Indonesia sebagian besar masih berbentuk fisik atau konvensional, seperti pembuatan kerajinan dan keterampilan. Penerapan makerspace di perpustakaan telah dilakukan di beberapa perpustakaan umum daerah yaitu berupa kegiatan misalnya membuat prakarya, pelatihan menulis, membuat puisi dan keterampilan fisik lainnya. Adanya makerspace perpustakaan ini diharapkan pemustaka dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan diri. Dalam pengembangan makerspace di perpustakaan yang dilakukan tidak hanya memberikan fasilitas yang memadai namun juga pustakawan dituntut lebih bisa mengembangkan diri dan memiliki keterampilan yang dapat dibagi kepada pemustaka. Penggunaan makerspace untuk tujuan meningkatkan kemampuan dan keterampilan diri pemustaka sejalan dengan konsep transformasi perpustakaan yang banyak terjadi saat ini. Akhir-akhir ini banyak perpustakaan bertransformasi layanannya berbasis inklusi sosial. Layanan inklusi sosial di perpustaakaan berupa tersedianya ruang belajar dan berkegiatan masyarakat, serta adanya pendampingan yang dapat diberikan oleh pustakawan (Kurniasih & Saefullah, 2021). Konsep ini memberikan makna bahwa makerspace perpustakaan tidak terpisahkan dari inklusi sosial. Makerspace perpustakaan mendukung penciptaan pengetahuan dengan menyediakan akses ke berbagai sumber daya, teknologi, program, pakar, dan rekan-rekan (Koh, Abbas, & Willett, 2019). Menurut Irhamni (2018) tranformasi perpustakaan tidak hanya sebagai penyedia informasi, namun menjadi penyedia tempat (makerspace) mini lab yang bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan produktivitas masyarakat. Dari definisi makerspace di perpustakaan dapat diartikan bahwa makerspace di perpustakaan sebagai laboratorium yang menyediakan akses pemustaka ke sumber daya, teknologi dan terdapat pendampingan oleh pakar. Hal ini sesuai dengan konsep makerspace yang ada di Laboratorium Perpustakaan Pertanian. Makerspace di perpustakaan tidak hanya sebagai sarana pembelajaran namun juga memiliki manfaat lain. Menurut Sheshadri, Shetty, & Babu, (2018) terdapat beberapa manfaat yaitu: 1) membantu mengumpulkan kreator dalam satu ruang dan berbagai sumber daya. Dengan berkumpulnya kreator yang berada dalam satu ruangan yang sama, maka akan mengarah kepada satu tujuan yang sama sehingga akan mempercepat inovasi. 2) Anggota kreator baru yang tergabung dalam makerspace mendapatkan keterampilan dari kreator yang sudah berpengalaman. Fungsi makerspace dalam berbagi pengetahuan membantu kreator baru dalam meningkatkan keterampilan melalui pengalaman kreator yang lama. 4) Makerspace menyedikan platform bagi kreator untuk berbagai ide dan desain yang tidak terbatas hanya di dalam makerspace namun lingkungan luar ke dunia yang lebih besar. 5) Memungkinkan orang berkolaborasi dengan kreator lainnya dan berbagi keterampilan secara bersama-sama. 6) Membantu komunitas untuk bereksperimen dengan produk mereka sendiri dan menemukan hal-hal baru dengan bantuan teknologi. Profil Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) merupakan perpustakaan khusus bidang pertanian dan biologi. PUSTAKA menjadi perpustakaan pertanian dan biologi tertua di Indonesia yang didirikan pada bulan Mei 1842. Awal berdirinya, PUSTAKA merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor yang menyediakan literatur bidang botani untuk peneliti yang melakukan penelitian botani daerah tropis. Pada tahun 1850 PUSTAKA resmi menjadi perpustakaan dengan nama Bibliotheek's Land Plantentuin te Buitenzorg. Sejak tahun 1850 sampai 2000 PUSTAKA mengalami perubahan tugas, fungsi, dan nama hingga pada bulan Maret 2000 ditetapkan menjadi Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. PUSTAKA memiliki visi menjadi pusat pengetahuan dan informasi iptek pertanian yang terpercaya dan modern dalam mendukung terwujudnya pelayanan manajemen dan administrasi kementerian yang kredibel, akuntabel, dan profesional. Dari visi tersebut PUSTAKA terbagi dalam beberapa misi antara lain: 1) melaksanakan pengelolaan dan pelayanan sumberdaya informasi IPTEK pertanian melalui perpustakaan modern secara professional; 2) melaksanakan pengelolaan dan pelayanan Museum Tanah dan Pertanian; 3) menyebarkan informasi IPTEK pertanian; dan 4) mengembangkan kerjasama antar lembaga nasional dan internasional dalam pengelolaan sumberdaya informasi IPTEK pertanian. PUSTAKA memiliki 4 lokasi layanan perpustakaan antara lain: layanan penyediaan informasi pertanian di PUSTAKA sendiri yang beralamatkan jalan Juanda No. 20 Bogor, layanan perpustakaan digital di Gedung Perpustakaan dan Pengetahuan Pertanian digital di jalan Ahmad Yani No. 70, layanan sejarah pertanian dari masa lalu hingga teknologi pertanian masa kini di Museum Tanah dan Pertanian di jalan Juanda No. 98, dan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Taman Baca Dramaga di Keluarahan Balumbangjaya, Kecamatan Bogor Barat. Taman Baca Dramaga difokuskan untuk pemberdayanan masyarakat terutama petani. Laboratorium Perpustakaan Pertanian dilaunching pada tanggal 2 Januari 2019 sebagai wujud PUSTAKA dalam Corporate Social Responsibility yang mendukung program pertanian nasional. Hadirnya Laboratorium Perpustakaan Pertanian diharapkan mendorong masyarakat khususnya petani untuk dapat mengaplikasikan teknologi pertanian yang dihasilkan oleh Kementerian Pertanian, perguruan tinggi dan institusi lainnya (Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, 2020). Laboratorium Perpustakaan Pertanian sebagai Makerspace Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Perubahan paradigma perpustakaan dari tempat pengelola pengetahuan menjadi tempat transfer pengetahuan membuat perpustakaan bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang bertujuan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Kini perpustakaan tidak hanya memberikan layanan penyediaan informasi namun juga menyediakan tempat berkumpul bagi pemustaka unutuk mengembangkan ide kreatif. Konsep ini disebut juga dengan makerspace perpustakaan. Menurut Bennett-Kapusniak (2018), makerspace perpustakaan merupakan ruang dalam perpustakaan yang menyediakan berbagai macam fasilitas untuk mengembangkan ide kreatif seperti proyek Do It Yourself atau berbagi ide untuk menciptakan inovasi baru. Dari definisi makerspace perpustakaan tersebut dapat dipahami bahwa makerspace berupa penyediaan tempat dengan berbagai sumber daya yang dapat digunakan pemustaka untuk mengembangkan ide kreatif. Adanya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, PUSTAKA berupaya menyediakan tempat untuk megembangkan potensi masyatakat terkait pertanian dengan mendirikan Laboratorium Perpustakaan Pertanian. Tujuan berdirinya Laboratorium Perpustakaan Pertanian adalah memberdayakan petani atau masyarakat melalui penerapan teknologi pertanian (Pusat Perpustakaan dan Penyebaran-Teknologi Pertanian, 2020). Laboratorium ini berada di unit kerja PUSTAKA yang memang disediakan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat yaitu berada di Taman Baca Dramaga yang berlokasi di tengah masyatakat pedesaan Dramaga. Laboratorium sebagai tempat pembelajaran dan praktek teknologi pertanian perkotaan ini diperuntukkan bagi masyarakat yang tertarik untuk meningkatkan kemampuan dan berkreasi dalam budidaya tanaman terutama budidaya tanaman sayuran yang dapat diaplikasikan di halaman rumah. Laboratorium Perpustakaan Pertanian sebagai makerspace bidang pertanian menyediakan tempat, media tanam, dan peralatan pertanian. Kegiatan makerspace yang dilakukan di Laboratorium Perpustakaan adalah pelatihan budidaya tanaman sayuran yang diikuti masyarakat sekitar. Pelatihan yang dilaksanakan berupa pelatihan pembuatan media tanam, pelatihan semai benih sayuran, pelatihan pengemasan sayuran dan pelatihan pemanfaatan pekarangan rumah untuk budidaya tanaman sayuran (Tabel 1.) Tabel 1. Kegiatan yang dilakukan di makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian No. Kegiatan Partisipan Jumlah Partisipan (orang) 1. Pelatihan pembuatan media tanam dasar Ibu-ibu PKK RW 05 Babakan Lebak Kelurahan Balumbang Jaya Kecamatan Bogor Barat 26 2. Pelatihan Semai Benih Kelompok Wanita Tani 20 3. Pelatihan pengemasan sayuran Ibu PKK RW 05 Babakan Lebak Kelurahan Balumbang Jaya Kecamatan Bogor Barat 9 4. Pelatihan pemanfaatan pekarangan untuk budidaya tanaman sayuran (Bermitra dengan Dinas Sosial) Ibu-ibu Program Keluarga Harapan Dinas Sosial) 27 Sumber: Data Taman Baca Dramaga Masyarakat yang mengikuti kegiatan budidaya tanaman di Laboratorium Perpustakaan Pertanian adalah masyarakat yang berada di sekitar Laboratorium Perpustakaan Pertanian. Berbagai macam kelompok masyarakat tertarik untuk mengikuti pelatihan budidaya di Laboratorium Perpustakaan Pertanian namun kelompok yang lebih tertarik adalah kelompok ibu rumah tangga. Hal ini didasarkan karena ibu rumah tangga memiliki waktu luang yang lebih dan didorong keinginan untuk membantu suami untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Antusiasme ibu rumah tangga mengikuti sangat tinggi dalam mengaplikasikan budidaya taman sayuran dengan model hidroponik di rumah masing-masing. Prakek teknologi pertanian perkotaan yang dilakukan di makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian lebih diutamakan tanaman sayuran yang dapat dibudidayakan di pekarangan rumah. Ketertarikan ibu rumah tangga dalam budidaya taman model hidroponik sangat besar sehingga berinisiasi membuka lahan kosong dekat Taman Baca Dramaga untuk budidaya tanaman sayuran. Peran PUSTAKA melalui Laboratorium Perpustakaan taman baca tidak terhenti sampai ibu-ibu rumah tangga berhasil melakukan budidaya tanaman sayuran namun tetap berlanjut dengan memfasilitasi berbagai pelatihan terkait budidaya tanaman sayuran dan mendukung dari segi sarana dan prasarana seperti penyediaan pupuk. Adanya pendampingan secara kontinyu sehingga ibu-ibu rumah tangga mampu menghasilkan tanaman sayuran untuk ketahanan pangan keluarga dan sebagian hasil dijual untuk peningkatan kesejahteraan keluarga. Keberhasilan budidaya tanaman ini akhirnya membentuk kelompok Wanita Tani Bale Mandiri Pangan. Kontribusi Makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian Bagi Masyarakat Sekitar Keberadaan makerspace di perpustakaan diharapkan mampu memberikan manfaat atau kontribusi bagi masyarakat penggunanya. Kehadirnya makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian diharapkan mampu berkontribusi pula bagi masyarakat sekitar. Menurut Holm (2015) kontribusi perpustakaan dalam mengimplementasikan makerspace antara lain: 1) menumbuhkan jiwa kewirausahaan Makerspace mampu memberikan peluang yang lebih baik untuk berinovasi dalam membangun ide-ide kreatif kewirausahaan. Layanan makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian mampu berkontribusi dalam menumbuhkan jiwa kewirausahan. Hal ini dapat terlihat dari kegiatan makerspace berupa pelatihan budidaya tanaman sayuran yang mampu menarik minat ibu rumah tangga di sekitar Laboratorium Perpustakaan Pertanian. Keberhasilan budidaya tanaman sayuran yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga dengan hasil panen dijual ke pasar, membuktikan bahwa jiwa kewirausahaan terbentuk melalui pelatihan ini, 2) menciptakan lingkungan yang kreatif. Kontribusi makerspace mampu membangun lingkungan yang kreatif karena makerspace mampu menciptakan sebuah lingkungan di mana orang-orang kreatif yang berada dalam makerspace membetuk jaringan komunitas dan saling bekerja sama. Makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian melalui pelatihan budidaya tanaman sayuran mampu dalam menciptakan lingkungan yang kreatif, terlihat ibu-ibu rumah tangga bekerjasama memanfaatkan pekarangan kosong sebagai tempat untuk melakukan budidaya tanaman sayuran. Keberhasilan membuka pekarangan kosong untuk dimanfaatkan hingga akhirnya membentuk kelompok wanita tani membuktikan makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian mampu menciptakan lingkungan kreatif berkat kerjasama antara ibu-ibu rumah tangga dengan tempat pelatihan terjalin dengan sangat baik sehingga mewujudkan lingkungan yang kreatif, 3) menciptakan Prototyping. Makerspace mampu berkontribusi membawa anggota menemukan desain atau pola terbaru untuk mengembangkan produk mereka. Adanya kerjasama yang baik dari ibu-ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan sehingga berhasil membudidaya tanaman sayuran di pekarangan kosong menjadikan sebuah desain atau pola dalam pemanfaatan lahan kosong. Hal ini membuktikan bahwa markespace Laboratorium Perpustakaan Pertanian mampu menciptakan prototipe dalam budidaya tanaman sayuran di lahan kosong.

Conclusion

Perkembangan makerspace di perpustakaan berbeda antara negara maju dan berkembang. Pengembangan makerspace di negara maju dengan menyediakan berbagai fasilitas yang sangat canggih. Negara berkembang menerapkan makerspace sebagai tempat untuk melakukan pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan pemustaka. Hal ini dilakukan oleh Taman Baca Dramaga dalam menerapkan makerspace di perpustakaan dengan meluncurkan layanan Laboratorium Perpustakaan Pertanian. Pemanfaatan makerspace di Laboratorium Perpustakan Pertanian sebagai laboratorium budidaya taman sayuran. Makerspace Laboratorium Perpustakaan Pertanian mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar berupa: 1) memberikan peluang untuk berinovasi dalam membangun ide-ide kreatif kewirausahaan bidang pertanian dengan menarik minat ibu rumah tangga untuk melakukan budidaya tanaman sayuran, 2) menciptakan lingkungan yang kreatif berupa kreatifitas ibu-ibu rumah tangga memanfaatkan pekarangan kosong untuk budidaya tanaman hingga membentuk kelompok wanita tani, dan 3) menciptakan prototyping berupa prototipe dalam budidaya tanaman sayuran di lahan kosong.