Kembali
16
1
2023 Jurnal Gema Pustakawan Vol 11 · 1 ISSN 2829-4920

Gambaran Fungsi Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Bagi Anak Disabilitas di Kecamatan Tuah Madani Kota Pekanbaru

Universitas Riau; Universitas Riau

Abstrak

Disabilitas mengacu pada keterbatasan yang dimiliki seseorang. Disabilitas dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang belum ramah disabilitas. Perpustakaan merupakan gudangnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan menjadi taman bacaan dan memiliki fungsi bagi anak disabilitas. Akan tetapi, banyak anak yang kurang memanfaatkan fungsi perpustakaan sebagai tempat informasi. Anak-anak penyandang disabilitas lebih banyak beristirahat serta tidak fokus pada kegiatan pemanfaatan perpustakaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran fungsi perpustakaan bagi anak disabilitas di SLB Al-Faqih, Tuah Madani Pekanbaru. Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) siswa belum memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar mengajar untuk pendidikan seperti yang tercantum dalam kurikulum sekolah, 2) siswa belum dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasinya, serta 3) siswa belum dapat memposisikan perpustakaan sebagai tempat rekreatif mengisi waktu luang. Simpulan penelitian ini adalah fungsi perpustakaan sekolah rata-rata tidak dapat di terapkan oleh siswa disabilitas.

Abstract

Disability refers to the limitations that a person has. Disabilities are influenced by the surrounding environment that is not yet disability-friendly. The library is a storehouse of knowledge. The library is a reading garden and has a function for children with disabilities. However, many children do not take advantage of the function of the library as a place of information. Children with disabilities rest more and do not focus on library use activities. The purpose of this study was to find out how the function of the library for children with disabilities at SLB Al-Faqih, Tuah Madani Pekanbaru is described. This research design uses qualitative methods. Data collection using interviews. The results showed that: 1) students have not utilized the library as a center for teaching and learning activities for education as stated in the school curriculum, 2) students have not been able to develop their creativity and imagination, and 3) students have not been able to position the library as a recreational place to fill their free time. The conclusion of this study is that the average school library function cannot be applied by students with disabilities.
Keywords: disabilitas · fungsi Perpustakaan · sekolah luar biasa

Introduction

Anak-anak dengan disabilitas adalah kelompok yang rentan dan seringkali menghadapi tantangan dalam mendapatkan akses pendidikan yang inklusif dan layanan literasi yang memadai. Meskipun perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membuka peluang baru dalam mendukung pendidikan mereka, peran perpustakaan tetap penting dalam memberikan aksesibilitas terhadap sumber daya literasi yang bervariasi dan mendukung perkembangan keterampilan membaca dan menulis mereka. Sekolah Luar Biasa Al-Faqih merupakan salah satu institusi pendidikan yang berfokus pada anak-anak dengan disabilitas, dengan visi untuk memberikan pendidikan yang inklusif dan mendukung perkembangan holistik mereka. Namun, meskipun perpustakaan di sekolah ini mungkin memiliki peran yang signifikan, masih belum banyak penelitian yang mengeksplorasi secara mendalam tentang gambaran fungsi perpustakaan tersebut dalam memberikan manfaat literasi bagi anak-anak dengan disabilitas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut dan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang kontribusi perpustakaan Sekolah Luar Biasa Al-Faqih dalam mendukung perkembangan literasi anak-anak dengan disabilitas. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang peran dan fungsi perpustakaan sekolah ini, diharapkan dapat ditemukan strategi dan rekomendasi yang berharga untuk meningkatkan inklusi literasi bagi anak-anak dengan disabilitas di lingkungan pendidikan yang serupa. Perpustakaan memiliki peran penting dalam menyediakan aksesibilitas terhadap informasi dan literasi bagi semua individu, termasuk anak-anak dengan disabilitas. Anak-anak dengan disabilitas sering kali menghadapi tantangan dalam mengakses sumber daya literasi yang memadai, yang dapat membatasi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang fungsi perpustakaan di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih dalam membantu anak-anak dengan disabilitas mengembangkan keterampilan literasi dan memperluas wawasan mereka. Novelty atau kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik pada perpustakaan di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih dan peran serta fungsi perpustakaan tersebut dalam memberikan manfaat literasi bagi anak-anak dengan disabilitas. Meskipun terdapat banyak penelitian tentang inklusi pendidikan dan literasi anak-anak dengan disabilitas, penelitian yang secara khusus membahas peran perpustakaan dalam konteks sekolah khusus ini masih terbatas. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan memperluas pemahaman kita tentang bagaimana perpustakaan di sekolah khusus dapat menjadi sumber daya penting dalam membantu anak-anak dengan disabilitas mengembangkan keterampilan literasi mereka. Selain itu, penelitian ini juga memberikan gambaran tentang metode pembelajaran, layanan khusus, dan dukungan yang diberikan oleh perpustakaan Sekolah Luar Biasa Al-Faqih kepada anak-anak dengan disabilitas. Informasi terperinci mengenai aspek-aspek ini dapat memberikan wawasan praktis kepada sekolah dan perpustakaan lainnya dalam merancang dan meningkatkan program literasi inklusif bagi anak-anak dengan disabilitas. Dengan demikian, penelitian ini memiliki nilai praktis yang penting dalam konteks pendidikan inklusif. Secara keseluruhan, kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan yang spesifik terhadap perpustakaan di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih dan kontribusinya dalam mengembangkan inklusi literasi bagi anak-anak dengan disabilitas. Penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pentingnya perpustakaan di sekolah khusus dan memberikan landasan untuk penelitian dan praktik lebih lanjut dalam bidang ini. Perbedaan utama penelitian ini dengan penelitian lainnya adalah pada fokus spesifik pada perpustakaan di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih dan kontribusinya dalam konteks inklusi literasi bagi anak-anak dengan disabilitas. Penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan wawasan praktis yang relevan untuk pengembangan pendidikan inklusif dan program literasi bagi anak-anak dengan disabilitas di sekolah khusus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran fungsi perpustakaan untuk anak disabilitas di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih, Tuah Madani Pekanbaru. Manfaat penelitian yang dilakukan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran terkait dengan fungsi dari perpustakaan yang ada pada lingkup Sekolah Luar Biasa. Selanjutnya, diharapkan dapat memberikan sumbangan terkait dengan aspek ilmiah yang ada pada isu pelayanan dan pemberian fasilitas pendidikan terhadap anak disabilitas dan berkebutuhan khusus. Selain itu, dapat dijadikan salah satu referensi ataupun pijakan untuk penelitian selanjutnya apabila membutuhkan referensi terdahulu dan dapat memberikan kontribusi terhadap penelitian selanjutnya. Tinjauan Pustaka Penelitian terdahulu telah memberikan wawasan penting tentang inklusi pendidikan dan literasi anak-anak dengan disabilitas, namun masih terbatasnya penelitian yang secara khusus membahas peran dan fungsi perpustakaan di sekolah khusus dalam konteks ini. Berikut adalah beberapa tinjauan pustaka yang relevan dengan penelitian ini: Studi yang dilakukan oleh Stripling (2014), menyoroti pentingnya perpustakaan sekolah sebagai pusat literasi inklusif bagi anak-anak dengan disabilitas. Penelitian ini menekankan bahwa perpustakaan sekolah dapat memberikan akses yang setara terhadap sumber daya literasi, melalui pengembangan koleksi buku yang inklusif, penggunaan teknologi assistive, dan dukungan pustakawan yang terlatih. Murtiningsih, S. (2016), mengeksplorasi peran perpustakaan di sekolah khusus dalam meningkatkan keterampilan membaca dan menulis anak-anak dengan disabilitas. Studi ini menunjukkan bahwa perpustakaan dapat menjadi lingkungan yang mendukung untuk pengembangan literasi, dengan menyediakan buku-buku yang sesuai dengan minat dan tingkat baca anak-anak, serta program pembelajaran yang disesuaikan. Penelitian oleh Draper & Boudreau (2018). menggambarkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam perpustakaan sekolah untuk mendukung literasi inklusif anak-anak dengan disabilitas. Studi ini menunjukkan bahwa teknologi seperti perangkat lunak bantu, audiobook, dan e-book dapat membantu anak-anak dengan disabilitas dalam membaca dan memahami teks, serta meningkatkan kemandirian mereka dalam mencari informasi. Uzel (2017), menyoroti pentingnya kolaborasi antara pustakawan, guru, dan orang tua dalam mengembangkan literasi inklusif bagi anak-anak dengan disabilitas di perpustakaan sekolah. Studi ini menekankan perlunya koordinasi dan komunikasi yang baik untuk memastikan bahwa sumber daya literasi yang disediakan di perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan individu setiap anak. Penelitian oleh Ratna & Prayitno (2018), menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah berperan penting dalam mendukung pembelajaran inklusif bagi anak-anak dengan disabilitas. Studi ini menyoroti pentingnya akses terhadap koleksi buku yang inklusif, dukungan khusus dalam penggunaan teknologi dan adaptasi literasi, serta kolaborasi antara guru dan pustakawan dalam mendukung pembelajaran anak-anak dengan disabilitas. Selain itu, penelitian oleh Polat, & Karadeniz (2019), mengeksplorasi peran perpustakaan dalam meningkatkan keterampilan literasi anak-anak dengan disabilitas intelektual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perpustakaan dapat memberikan lingkungan yang mendukung bagi anak-anak dengan disabilitas intelektual untuk mengembangkan keterampilan membaca, menulis, dan literasi lainnya melalui koleksi buku yang relevan, interaksi dengan pustakawan yang berpengalaman, dan kegiatan literasi yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dalam konteks penelitian ini, tinjauan pustaka ini menunjukkan bahwa perpustakaan di sekolah khusus memainkan peran yang signifikan dalam memfasilitasi inklusi literasi bagi anak-anak dengan disabilitas. Melalui pengembangan koleksi buku yang inklusif, penggunaan teknologi assistive, program pembelajaran yang disesuaikan, dan kolaborasi antara pustakawan, guru, dan orang tua, perpustakaan dapat menjadi lingkungan yang mendukung perkembangan keterampilan literasi anak-anak dengan disabilitas. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang secara khusus memfokuskan pada perpustakaan di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih dan kontribusinya terhadap inklusi literasi bagi anak-anak dengan disabilitas. Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Perpustakaan Sekolah Menurut Undang-undang dasar nomor 42 tahun 2007, perpustakaan adalah instuisi pengelola karya tulis, karya cetak, karya rekam secara professional yang dimana untuk memenuhikebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian informasi dan rekreasi para pemustaka. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar siswa memegang peranan yang sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No.20 Tahun 2003), sarana penunjang proses kegiatan belajar mengajar dinamakan “sumber daya pendidikan”. Pada pasal 35 disebutkan bahwa “Setiap satuan pendidikan jalur pendidikan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar”. Pada penjelasan selanjutnya dinyatakan antara lain: “Pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bila para tenaga kependidikan maupun siswa tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Menurut Lasa, (2013) Perpustakaan sekolah merupakan sebua kesatuan pendidikan formal yang berada pada ruang lingkup pendidikan dasar serta menengah yang menjadi bagian dari berbagai aktivitas sekolah maupun menjadi pusat dari sumber belajar yang membantu sekolah mencapai tujuan pendidikannya. Pemahaman bacaan ini dimanfaatkan dan dikembangkan melalui perpustakaan sekolah. Tujuan didirikannya perpustakaan sekolah adalah untuk membantu sekolah mencapai tujuannya sesuai dengan kebijakan sekolah dimana perpustakaan sekolah itu bernaung. Setiap perpustakaan sekolah pasti memiliki tujuan yang mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar. Menurut Yusuf (2013) menyatakan bahawa tujuan didirikannya perpustakaan sekolah tidak terlepas dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah yaitu untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa, dan mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah. Sejalan dengan hal tersebut, maka tujuan perpustakaan sekolah yaitu: 1) Mendorong proses penguasaan teknik membaca, 2) Membantu menulis kreatif, 3) Menumbuhkembangkan minat dan kebiasaan membaca, 4) Menyediakan berbagai macam sumber informasi, 5) Mendorong minat baca, 6) Memperkaya pengalaman dengan membaca buku yang disediakan oleh perpustakaan, 7) Mengisi waktu senggang melalui kegiatan membaca (Yusuf, 2013). Perpustakaan sekolah sebagai salah sumber belajar yang dibutuhkan oleh siswa dan guru di sekolahdalam kegiatan belajar mengajar. Setiap perpustakaan sekolah memiliki berbagai manfaat bagi siswa maupun guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Secara terinci, manfaat perpustakaan sekolah baik yang di selenggarakan di sekolah dasar maupun di sekolah menengah, seperti yang dinyatakan Bafadal (2015), bahwa Perpustakaan sekolah dapat: 1) Menimbulkan kecintaan siswa terhadap membaca, 2) Memperkaya pengalaman belajar siswa, 3) Melatih siswake arah tanggung jawab, 4) Mempercepat proses penguasaan teknik membaca, 5) Membantu perkembangan kecakapan berbahasa, 6) Memperlancar siswa dalam menyelesaikan tugas sekolah, 7) Menanamkan kebiasan belajar mandiri, 8) Membantu guru menemukan sumber pengajaran. Fungsi Perpustakaan Sekolah Bafadal (2015) mengemukakan bahwa perpustakaan sekolah itu merupakan sumber belajar, karena kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan siswa adalah belajar, baik belajar masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku-buku lain yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas. Apabila ditinjau dari sudut tujuan siswa mengunjungi perpustakaan sekolah, maka ada yang tujuannya untuk belajar, untuk berlatih menelusuri buku-buku perpustakaan sekolah, untuk memperoleh informasi, bahkan ada yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu senggang atau sifatnya rekreatif. Perpustakaan sekolah sebagai tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis oleh pustakawan serta digunakan untuk sumber informasi. Darmono (2014) Mengemukakan bahwa perpustakaan mengemban beberapa fungsi umum yaitu: a) fungsi informasi, b) fungsi pendidikan, c) fungsi penelitian, dan d) fungsi rekreasi. Sebagai fungsi penelitian perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian. Informasi yang disajikan meliputi berbagai jenis dan bentuk informasi (Darmono, 2014). Sedangkan fungsi rekreasi yaitu Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan cetak, terekam maupun koleksi lainnya untuk: a) Menciptakan kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani, b) Mengembangkan minat rekreasi pengguna melalui berbagai bacaan dan pemanfaatan waktu senggang, dan c) Menunjang berbagai kegiatan kreatif serta hiburan yang positifbagi siswa (Darmono, 2014). Menurut Riyanto (2013), perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:pertama, sebagai pusat kegiatan belajar mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah. Kedua, sebagai pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangan krativitas dan imajinasinya. Ketiga, sebagai pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan). Sekolah Luar Biasa (SLB) Sistem pendidikan di Sekolah Luar biasa merupakan sistem unit yaitu dari tingkat pendidikan persiapan, tingkat pendidikan dasar dan tingkat pendidikan lanjutan atau kejuruan. Sistem ini diterapkan mengingat masih langkanya pendidikan lanjutan yang dapat menampung anak-anak tersebut. Selain itu kekhasan kelainannya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Sekolah Luar biasa (SLB) tidak luput dari anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) anak yang Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata Anak Luar Biasa (ALB) yang menandakan adanya kelainan khusus yang memiliki karakteristik berbeda antara satu dengan yang lainnya (Delphie, 2016). Anak berkebutuhan khusus (ABK) terdiri atas beberapa kategori. Kategori cacat A (tunanetra) ialah anak dengan gangguan penglihatan, kategori cacat B (tunawicara dan tunarungu) ialah anak dengan gangguan bicara dan gangguan pendengaran. Kategori ini dijadikan satu karena biasanya antara gangguan bicara dan gangguan pendengaran terjadi dalam satu keadaan, kategori cacat C (tunagrahita) ialah anak dengan gangguan intelegensi rendah atau perkembangan kecerdasan yang terganggu, kategori cacat D (tunadaksa) ialah anak dengan gangguan pada tulang dan otot yang mengakibatkan terganggunya fungsi motorik, kategori cacat tunalaras ialah anak dengan gangguan tingkah laku sosial yang menyimpang, kategori anak berbakat ialah anak dengan keunggulan dan kemampuan berlebih (IQ tinggi), dan kategori anak berkesulitan belajar ialah anak dengan ketidakberfungsian otak minimal (Somantri, 2016).

Method

Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tempat penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Al-Faqih, Jalan Cipta Karya Gang Mandiri Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru, Provinsi Riau. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juli – Oktober 2022. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa berkebutuhan khusus yang menggunakan perpustakaan di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru. Berdasarkan data yang didapatkan dari Kepala Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru terdapat 32 siswa disabilitas Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel menggunakan kriteria. Pada penelitian kali ini lebih banyak dilakukan dengan dukungan informasi pada sumber primer dan disandingkan juga dengan data yang didapatkan dari sumber sekunder, di mana sumber primer didapatkan melalui teknik wawancara mendalam (in depth interview) terhadap partisipan terpilih sesuai dengan kualifikasi yang telah ditentukan oleh peneliti agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian. Data yang diolah melalui teknik menganalisis dan menjabarkan dari hasil wawancara. Metode analisis terkait data-data yang didapatkan melalui hasil penelitian, kemudian akan dilakukan analisis mendalam dengan menggunakan metode atau teknik analisis deskriptif kualitatif, atau diartikan juga sebagai pemberian interpretasi terhadap suatu data yang di dapatkan melalui cara yang rasional dan objektif, di mana selanjutnya akan dilakukan penghubungan antara variabel terkait agar bisa mendapatkan hasil yang lebih terperinci dan konkret.

Result & Discussion

Perpustakaan Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Faqih Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru telah menerapkan fungsi informasi. Wujud penerapan fungsi informasi ini dapat dilihat dari koleksi yang dimilikinya. Berdasarkan data dokumentasi perpustakaan tahun 2020/2021, perpustakaan Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Faqih, Tuah Madani Pekanbaru memiliki 465 judul koleksi. Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Faqih Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru merupakan Sekolah Luar Biasa yang ada di Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru, yang memiliki koleksi bahan pustaka untuk anak atau siswa yang memiliki kebutuhan khusus atau disebut juga disabilitas. Adapun proses dari pembelajaran terhadap siswa disabilitas yang ada di perpustakaan SLB Al-Faqih Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru bila dilihat dari pemberian fasilitas dan pelayanan sudah cukup memadai, hal tersebut dapat dilihat dari pemanfaatan dari koleksi buku Braille yang ada di Perpustakaan sebagai metode pengajaran khusus terhadap anak tunanetra. Berdasarkan data yang didapatkan dari Kepala Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru terdapat 32 siswa disabilitas dengan jenis disabilitas, yakni: Tabel 1. Jumlah Siswa di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru Tahun 2021 Jenis Disabilitas Jumlah Tuna grahita 12 Siswa Tuna netra 1 Siswa Tuna daksa 3 Siswa Tuna runggu 8 Siswa Tuna Autis 3 Siswa Downsyndrome 5 Siswa Total Jumlah 32 Siswa Sumber: SLB Al-Faqih, Tuah Madani Kota Pekanbaru, (2021) Berdasarkan tabel 1, diketahui jumlah siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Faqih, Tuah Madani Pekanbaru sejumlah 32 orang dengan berbagai kebutuhan khusus. Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Faqih Tuah Madani Pekanbaru sudah memiliki perpustakaan dan berbagai buku dan guru sudah mengupayakan kepada siswa untuk mencari informasi di buku yang ada di perpustakaan. Upaya yang dilakukan yaitu dengan adanya program membaca di perpustakaan dalam seminggu 3 kali dan dilakukan selama 1 jam. Akan tetapi banyak anak yang kurang menggunakan fungsi perpustakaan sebagai tempat informasi yang akan dicari tetapi anak lebih banyak istirahat dan tidak fokus. 1. Pusat kegiatan belajar mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah Perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana peningkatan wawasan dan pengetahuan, meningkatkan minat dan kebiasaan membaca siswa, sarana pencarian pengetahuan atau informasi dan perpustakaan pun dapat digunakan sebagai tempat diskusi, ajang bertukar pikiran antara kelompok belajar. Sebagai sumber kegiatan belajar mengajar, maksudnya adalah perpustakaan dapat menjadi tempat bagi anak untuk mengembangkan kemampuan menggunakan informasi, dan bagi guru dapat membantu dalam mengajar dan menambah pengetahuan. Berdasarkan beberapa wawancara di atas dapat dijelaskan bahwa perpustakaan memiliki fungsi untuk tempat kegiatan belajar. Akan tetapi masih kurang digunakan oleh siswa di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru. Sejalan dengan hasil penelitian Puspita (2021) yang menjelaskan bahwa pengelolaan pelayanan perpustakaan di suatu sekolah akan terlaksana dengan maksimal jika fungsi perpustakaan salah satunya adalah sebagai pusat kegiatan belajar mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah terlaksana dengan maksimal. 2. Pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangan krativitas dan imajinasinya Perpustakaan merupakan mitra siswa dalam belajar, memberikan bimbingan/pendidikan kepada siswa dalam menggunakan perpustakaan dan sumber informasi, menyediakan informasi yang up to date (terbaru), menyiapkan ruang belajar, diskusi, dan penelitian. Keberadaan perpustakaan sebagai sarana pendukung di suatu lembaga atau pun sekolah selama ini banyak mendapat sorotan, karena dinilai oleh banyak pihak masih perlu mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya perkembangan perpustakaan itu sendiri dan rendahnya minat pemustaka untuk berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat dijelaskan bahwa perpustakaan memiliki fungsi untuk tempat penelitian sederhana belum digunakan oleh siswa dengan baik. Karena beberapa siswa tidak memiliki keinginan untuk membaca buku dan mengembangkan ilmu dari bahan bacaan yang ada. Kendala bagi siswa dan guru untuk menghidupkan fungsi perpustakaan karena siswa yang tidak mampu membaca masih banyak. Selain itu masih ada juga siswa yang bleum bisa menulis dengan baik dan benar. Sejalan dengan hasil penelitian Puspita (2021) yang menjelaskan bahwa perpustakaan bisa sebagai pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Hal ini dapat dijadikan metode pembelajaran agar siswa tidak bosan didalam kelas. 3. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan) Salah satu fungsi pokok perpustakaan sekolah adalah sebagai sarana bagi para siswa untuk belajar menjadi manusia yang memiliki literasi informasi, yaitu siswa yang mampu mengidentifikasi kebutuhan informasinya, belajar mencari dan menemukan sumber-sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, sampai menemukan informasi yang dibutuhkannya, lalu memanfaatkan informasi tersebut, dan akhirnya mampu mengevaluasi sejauh mana kebutuhan informasinya sudah dapat terpenuhi. Manfaat perpustakaan sekolah dan keefektifan teknik biblioterapi dalam layanan konseling sudah tidak dapat diragukan lagi. Keduanya dapat dipadukan dalam upaya pengoptimalan pengembangan diri siswa. Dalam prosesnya, perpustakaan sekolah dapat dijadikan sebagai penyedia bahan pustaka pada proses biblioterapi. Bahan pustaka dapat berupa buku fiksi maupun non fiksi, autobiografi, biografi maupun catatan sejarah. Berdasarkan beberapa wawancara di atas dapat dijelaskan bahwa perpustakaan memiliki fungsi untuk sebagai pusat membaca saat waktu luang. Tetapi siswa di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru rata-rata waktu luang diisi dengan bermain dan bercanda dibandingkan dengan membaca buku di perpustakaan. Sejalan dengan hasil penelitian Puspita (2021) yang menjelaskan bahwa fungsi perpustakaan adalah sebagai pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan). Siswa dapat membaca buku ketika guru tidak ada atau saat mengerjakan tugas sehingga waktu tidak sia-sia. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa anak disabilitas di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru kurang memanfaatkan fungsi perpustakaan sebagai pusat informasi pembelajaran baik membaca buku, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Akan tetapi masih ada juga beberapa siswa yang datang ke perpustakaan untuk membaca, menambah ilmu pengetahuan dengan mempelajari beberapa buku yaitu anak disabilitas tunarungu. Hal ini karena anak tersebut dapat melihat sehingga tidak ada kendala ketika akan mencari buku yang akan dibaca atau dipelajari. Selanjutnya dari beberapa fungsi perpustakaan, Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Pekanbaru menggunakan fungsi perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah. Hal ini karena rata-rata buku yang ada di sekolah adalah buku pelajaran yang bisa digunakan oleh siswa untuk mengerjakan tugas baik individu ataupun kelompok.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang Fungsi Perpustakaan pada Sekolah Luar Biasa Al-Faqih Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru, dapat disimpulkan bahwa dari ketiga fungsi perpustakaan sekolah rata-rata tidak dapat di terapkan oleh siswa disabilitas di Sekolah Luar Biasa Al-Faqih, Tuah Madani Pekanbaru. Hal ini disebabkan, pertama siswa belum dapat secara optimal memanfaatkan pusat kegiatan belajar mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah. Kedua, siswa belum dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Ketiga siswa belum dapat memanfaatkan buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang. Pada bagian akhir ini dapat disarankan pertama kepada guru, bahwa guru harus lebih memperhatikan siswa dan dapat memberikan motivasi kepada siswa melalui kegiatan berkunjung misalnya ke perpustakaan daerah. Kedua kepada siswa, bahwa siswa agar dapat untuk lebih sering membaca buku yang ada di perpustakaan sebagai sarana mencari ilmu pengetahuan dan informasi berkaitan dengan pembelajaran