Kembali
16
1
2023 Inkunabula: Journal Of Library Science And Islamic Information Vol 2 · 2 ISSN 2829-9531

Representasi Perpustakaan dalam Film Nasional (Analisis Semiotika Roland Barthes)

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; SMP Negeri 1 Majene; SMP IT Anugrah Hidayah Makassar

Abstrak

Penelitian ini berfokus pada representasi perpustakaan dalam film nasional. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis bagaimana perpustakaan direpresentasikan dalam film menggunakan pendekatan analisis semiotika, terutama teori Roland Barthes. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika teori Roland Barthes. Hasil penelitian ini mengungkapkan berbagai representasi perpustakaan dalam beberapa film nasional yang menampilkan adegan perpustakaan dan pustakawan. Beberapa film nasional yang dijadikan sampel dalam penelitian ini meliputi "Ada Apa Dengan Cinta," "Adriana," "Refrain," "Pupus," "The Tarix Jabrix 2," "Marmut Merah Jambu," dan "Kukira Kau Rumah." Melalui analisis, filmfilm nasional ini menggambarkan berbagai kondisi perpustakaan, baik di sekolah maupun kampus, serta berbagai representasi pustakawan, baik yang masih muda maupun yang sudah berusia separuh baya. Dalam konteks film ini, perpustakaan diilustrasikan sebagai tempat favorit siswa dan mahasiswa untuk berkumpul selama waktu istirahat. Selain itu, pustakawan dalam film ini dijelaskan sebagai pemberi layanan yang ideal, meskipun sebagian besar sistem yang digunakan masih bersifat konvensional. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana perpustakaan dan pustakawan direpresentasikan dalam film nasional, serta bagaimana persepsi terhadap institusi perpustakaan dan individu pustakawan tercermin dalam karya-karya sinematik ini.

Abstract

This research focuses on the representation of libraries in national films. The primary objective of this study is to analyze how libraries are portrayed in films using a semiotic analysis approach, primarily drawing from Roland Barthes' theory. The research methodology employed is qualitative descriptive with a semiotic analysis approach based on Roland Barthes' theory. The findings of this research reveal various representations of libraries in several national films featuring library scenes and librarians. Some of the national films examined include "Ada Apa Dengan Cinta," "Adriana," "Refrain," "Pupus," "The Tarix Jabrix 2," "Marmut Merah Jambu," and "Kukira Kau Rumah." Through the analysis, these national films depict different conditions of libraries, both in school and university settings, and diverse representations of librarians, ranging from young to middle-aged professionals. In the context of these films, libraries are illustrated as favored gathering spots for students and university attendees during their breaks. Furthermore, the librarians inthese films are portrayed as ideal service providers, even though some of the systems they utilize remain conventional. Consequently, this research offers valuable insights into how libraries and librarians are represented in national cinema and how perceptions of library institutions and individual librarians are reflected in these cinematic works.
Keywords: Representasi Perpustakaan · Film Nasional · Pelayanan Pustakawan · Analisis Semiotika · Teori Roland Barthes

Introduction

Melalui sebaran informasi yang ada di perpustakaan, manusia dapat mengasah dan meningkatkan minat bacanya. Dengan minat baca yang tinggi seorang dapat dipastikan memiliki pengalaman dan pengetahuan, dengan sendirinya dapat mengangkat mutu dan martabat kehidupannya (Saleh, 2014). Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya eksistensi perpustakaan di tengah-tengah masyarakat. Perpustakaan memiliki peranan yang signifikan untuk mendukung gemar membaca dan meningkatkan literasi informasi. Perpustakaan merupakan upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar-mengajar. Perpustakaan yang terorganisir secara baik dan sistematis, secara langsung ataupun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di lingkungan tempat perpustakaan tersebut berada. Untuk mendukung tercapainya suatu tujuan, maka perpustakaan melaksanakan fungsinya sebagai pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat rekreasi. Dalam melaksanakan fungsifungsi tersebut, perpustakaan perlu menghimpun, mengelola dan menyajikan bahan pustaka sebagai sumber informasi (Fatmawati, 2020). Meski realitasnya perpustakaan hingga hari ini masih belum ideal untuk mendukung layanan yang maksimal dan budaya membaca, khususnya di Indonesia sendiri. Namun fungsi utama dari perpustakaan senantiasa disosialisasikan melalui berbagai media massa, diantaranya seperti koran atau surat kabar, radio, televisi hingga internet. Mekanisme sosialisasi atau yang biasa disebut dengan upaya menyampaikan informasi ini juga dapat diartikan sebagai bentuk komunikasi secara terbuka khususnya melalui media dan perkembangan teknologi. Hadirnya media massa yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk berbagai alat untuk berbagai macam tujuan, seperti kampanye, hiburan, tujuan dakwah hingga memberikan informasi kepada khalayak. Salah satu media massa yang semakin diminati adalah film. Film bisa disebut dengan media komunikasi yang ampuh, bukan hanya untuk hiburan, tetapi berfungsi untuk mendidik. Hakikatnya, semua film dapat dipastikan memiliki pesan dan maksud tertentu, maka pesan tersebut dapat dilihat dari alur cerita, karakter tokoh, dialog, ataupun film secara keseluruhan (Wicaksono, 2020). Film Indonesia sebenarnya sudah diproduksi sejak Indonesia masih di jajah Belanda. Film pertama yang diproduksi kala itu berjudul Loetoeng Kasarung pada tahun 1926. Kala itu digarap oleh orang asing dan belum merepresentasikan Indonesia. Baru di tahun 1950, tepatnya 30 Maret, sutradara Indonesia bernama Usmar Ismail memproduksi film berjudul Darah dan Doa dengan pengambilan gambar di tanggal tersebut. Hal itu menjadi alasan Dewan Film Nasional menetapkan sebagai Hari Film Nasional (Sukarno, 2022). Ada yang menganggap film merupakan sebuah tayangan hiburan semata, ada pula yang menganggap film adalah sebuah media yang dapat memberikan pembelajaran bagi penontonnya. Bagi pembuat film, tak jarang mereka membuat film atas dasar pengalaman pribadi ataupun kejadian nyata yang diangkat ke dalam layar lebar. Karena pada dasarnya film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang di dalam sutau masyarakat dan kemudian memproyeksikannya ke dalam layar (Asri, 2020). Sementara itu, citra perpustakaan merupakan salah satu hal yang berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas perpustakaan itu sendiri. Citra tersebut dapat terbentuk dari pandangan atau persepsi masyarakat yang dibangun melalui stimulus, dan tidak menutup kemungkinan stimulus tersebut merupakan hal-hal yang ada di sekitar masyarakat, mulai dari karakteristik individu, pendidikan, hingga gaya hidup (Ariotejo dan Ganggi, 2019). Salah satu stimulus tersebut dalam bentuk media massa, yaitu film yang menggambarkan perpustakaan. Adanya perpustakaan dalam media-media film merupakan bukti bahwa perpustakaan telah diakui keberadaannya dan menjadi tempat yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan dan perkembangan masyarakat (Fadhli, 2019). Saat ini telah banyak penelitian yang menjadikan perpustakaan dan pustakawan sebagai objek representasi dalam sebuah film. Salah satunya Arsil T yang dalam skripsi dan tesisnya meneliti representasi perpustakaan, pustakawan, hak kebebasan informasi dan tindakan bibliocrime dengan judul skripsi Konsep Perpustakaan dan Hak Kebebasan Informasi dalam Film Library Wars, kemudian dalam tesisnya yang berjudul Representasi Perpustakaan, Pustakawan dan Bibliocrime dalam film Library Wars The Last Mission. Serta terdapat berbagai penelitian lain yang berbentuk artikel jurnal. Dalam penelitiannya, Arsil T merepresentasikan film Library Wars menggunakan teknik analisis semiotika teori Roland Barthes. Film tersebut mereprsentasikan konsep perpustakaan yang sangat ideal. Dari unsur ruang menggambarkan desain megah memudahkan arus pergerakan manusia, memiliki nilai estetika dan mengutamakan kenyamanan. Memiliki jumlah koleksi yang sangat memadai serta dikelola dengan baik. Kemudian pustakawan yang profesional dan kemampuan berinteraksi yang baik. Serta pemustaka yang tidak dibatasi oleh umur dan memiliki minat baca yang tinggi (T, Arsil, 2021). Adapun penelitian lainnya, seperti Fasah dan Laksmi dalam penelitiannya yang berjudul Representasi Profesionalisme Pustakawan dalam Mengelola Perpustakaan pada Film Pendek Project: Library. Dimana Fasah dan Laksmi menemukan representasi pada film ini yang menunjukkan bahwa profesionalisme pustakawan direpresentasikan sebagai pustakawan yang lemah dalam memahami fungsi denda, yang bukan dipandang sebagai sarana pendisiplinan pengguna dalam mengembalikan koleks, tetapi dianggap sebagai sumber pemasukan untuk mencegah kebangkrutan. Namun profesionalisme pustakawan juga direpresentasikan bahwa dengan menerapkan etika profesi, pustakawan mampu mencegah mereka bersikap negatif, sehingga pada akhirnya mereka dapat mengungkap kebenaran (Fasah dan Laksmi, 2018). Adapun film-film nasional dengan berbagai genre dan cerita menarik yang menjadikan perpustakaan sebagai latar tempat dan juga pendukung cerita. Representasi perpustakaan dalam film tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan perpustakaan dalam berbagai rana, baik di lingkup akademisi maupun non-akademisi. Diantara judul film-film nasional tersebut adalah Ada Apa dengan Cinta, Adriana, Refrain, Pupus, The Tarix Jabrix 2, Marmut Merah Jambu, dan film Kukira Kau Rumah. Berdasarkan hal tersebut pula penulis tertarik untuk mengkaji representasi perpustakaan dalam film-film nasional dengan pendekatan analisis semiotika menggunakan teori Roland Barthes, dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana eksistensi perpustakaan di berbagai media massa khususnya film. Hal ini juga akan menarik perhatian berbagai kalangan terutama akademisi di bidang perpustakaan. 2. Tinjauan Pustaka 2.1. Perpustakaan Istilah mengenai perpustakaan memiliki makna yang sangat banyak dan terbukti banyak ahli yang mendefinisikan tentang perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan merupakan unit kerja yang mengelola koleksi dan informasi untuk dipergunakan masyarakat pemustaka (Sutarno, 2008). Pada dasarnya perpustakaan merupakan instansi yang bertujuan untuk memberikan layanan informasi kepada pemustaka yang membutuhkan. Secara etimologis, perpustakaan berasal dari kata pustaka, kata pustaka berarti kitab, atau buku- buku (Alwi, Hasan, 2007). Dalam Bahasa Inggris dikenal dengan library, dalam Bahasa Belanda bibliotheca, di Jerman bibliothek, di Prancis dikenal dengan bibliotheque, dan dalam Bahasa Spantol diseubut dengan bibliotheca. Sedangkan pendapat lain mengatakan perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematisuntuk digunakan oleh pemustaka sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2001). Perpustakaan merupakan suatu sarana yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan dunia pendidikan. Pendidikan tidak akan mungkin terselenggara dengan baik bila tidak didukung oleh sumber sarana belajar yang diperlukan dalam kegiatan belajar-mengajar.Perpustakaan sebagai pusat sumber daya informasi menjadi tulang punggung gerak majunya suatu institusi terutama institusi pendidikan, di mana tuntutan untuk adaptasi terhadap perkembangan informasi sangat tinggi (Suwarno, Wiji, 2010). Keberadaan perpustakaan telah memberikan pengaruh besar bagi kepentingan dunia pendidikan dan kemajuan kualitas bangsa dalam dunia pendidikan. Perpustakaan diselenggarakan untuk memberikan layanan informasi kepada siswa tanpa memandang latar belakang agama, umur dan lain sebagainya. Sebagai sarana penyedia informasi perpustakaan dituntut untuk menyediakan berbagai macam informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, perpustakaan membutuhkan seorang pustakawan yang siap membantu para pemustaka dalam hal pencarian informasi. Pustakawan seharusnya secara aktif menstimulus atau mendorong kesadaran minat kunjung tertanam dari diri siswa tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dengan adanya seorang pustakawan diharapkan bisa lebih mamajukan dan mengembangkan perpustakaan bukan sekedar sebagai gudang ilmu melainkan mengalihkan persepsi perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan dan layak untuk dikunjungi bagi para penggunanya yaitu sebagai tempat rekreasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang baru. 2.2. Film Film merupakan salah satu media yang berpotensi untuk mempengaruhi khalayaknya, karena kekuatan dan kemampuannya menjangkau banyak segmen sosial. Dalam hubungannya, film dan masyarakat dipahami secara linier. Artinya, film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan di baliknya, tanpa pernah berlaku sebaliknya. Kritik yang muncul terhadap perspektif ini didasarkan atas argumen bahwa film adalah potret dari masyarakat dimana film itu dibuat (Sobur, Alex, 2004). Dalam satu penggunaannya, film adalah medium komunikasi massa, yaitu alat penyampaian berbagai jenis pesan dalam peradaban modern ini. Dalam penggunaan lain, film menjadi medium apresiasi artistik, yaitu menjadi alat bagi seniman-seniman film untuk mengutarakan gagasan, ide, melalui suatu wawasan keindahan. Kedua pemanfaatan tersebut secara unik terjalin dalam perangkat teknologi film yang dari waktu ke waktu semakin canggih. Film merupakan penjelmaan keterpaduan antara berbagai unsur, sastra, teater, seni rupa, teknologi, dan sarana publikasi (Baksin, Askurifai, 2003). Film memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan media massa lain. Adapun faktor-faktor yang dapat menunjukkan karakteristik film adalah sebagai berikut: (1) Layar yang luas/lebar, (2) Pengambilan gambar, (3) Konsentrasi penuh dan (4) Identifikasi psikologi (Ardianto, Komala dan Karlinah, 2009). 2.3. Representasi Representasi adalah sesuatu yang merujuk pada proses yang dengannya realitas disampaikan dalam komunikasi, via kata-kata, bunyi, citra, atau kombinasinya. Dalam hal ini, proses pertama memungkinkan kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan sistem peta konstektual kita. Dalam proses kedua, kita mengkonstruksi seperangkat korespondensi antara peta konseptual dengan bahasa atau simbol yang berfungsi mempresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. Relasi antara „sesuatu‟ , „peta konseptual‟, dan „bahasa atau simbol‟ adalah jantung dari produksi makna lewat bahasa. Proses ini yang terjadi bersamasama itulah yang kita sebut representasi (Fiske, John, 2004). Representasi dapat didefinisikan sebagai penggunaan tanda (gambar, bunyi, dan lainlain) untuk menghubungkan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu (Danesi, Marsel, 2010). Stam (2000) mengulas bagaimana representasi berfungsi dalam konteks film serta pemanfaatan elemen-elemen visuai, naratif, dan simbolis dalam menciptakan makna dalam film:2.3.1. Representasi dalam Konteks Film Representasi adalah proses penyajian dan penggambaran objek, gagasan, atau entitas tertentu dalam sebuah medium komunikasi seperti film. Representasi dalam film melibatkan pemilihan dan interpretasi, di mana pembuat film memutuskan bagaimana suatu objek atau gagasan akan dihadirkan kepada penonton. 2.3.2. Elemen-Elemen Visuai dalam Representasi 2.3.2.1. Komposisi Visual: Pengaturan elemen-elemen visual seperti framing, pencahayaan, dan warna dapat mempengaruhi cara penonton memandang objek atau karakter dalam film. Misalnya, pencahayaan dramatis dapat membuat karakter terlihat heroik atau misterius. 2.3.2.2. Tata Rias dan Kostum: Penggunaan tata rias dan kostum dapat menciptakan identitas karakter. Sebuah kostum yang khas dapat mengidentifikasikan karakter sebagai pahlawan atau antagonis. 2.3.3. Elemen-Elemen Naratif dalam Representasi 2.3.3.1. Plot dan Pengembangan Karakter: Cara karakter-karakter dalam film berperilaku dan berinteraksi dengan alur cerita dapat memengaruhi persepsi penonton terhadap mereka. Sebagai contoh, perkembangan karakter dari awal hingga akhir film dapat membuat penonton merasa terhubung secara emosional dengan mereka. 2.3.3.2. Dialog dan Narasi: Dialog antar karakter dan narasi yang digunakan dalam film dapat mengungkapkan gagasan atau pesan tertentu. Dialog yang cerdas atau narasi yang kuat dapat membantu penonton memahami tema atau konflik yang mendasari cerita. 2.3.4. Elemen-Elemen Simbolis dalam Representasi 2.3.4.1. Simbolisme Visual: Simbol-simbol visual seperti lambang, motif, atau gambaran dapat digunakan untuk menyampaikan makna tambahan dalam film. Misalnya, penggunaan warna merah dalam sebuah adegan dapat melambangkan bahaya atau perasaan intens. 2.3.4.2. Metafora dan Alegori: Penyajian objek atau peristiwa dalam film dapat digunakan sebagai metafora atau alegori untuk konsep-konsep yang lebih luas. Ini memungkinkan pembuat film untuk menyampaikan pesan yang lebih mendalam kepada penonton. 2.3.5. Konsep Representasi sebagai Pilihan dan Interpretasi Penting untuk diingat bahwa representasi dalam film adalah hasil dari pilihan kreatif dan interpretasi oleh pembuat film. Mereka memilih bagaimana objek atau gagasan akan dipresentasikan, dan ini dapat dipengaruhi oleh pandangan mereka tentang dunia, nilai-nilai mereka, dan pesan yang ingin mereka sampaikan. 2.3.6. Pengaruh Terhadap Persepsi Penonton Penggunaan elemen-elemen visual, naratif, dan simbolis dalam representasi dapat mempengaruhi persepsi penonton terhadap objek yang direpresentasikan. Misalnya, representasi yang positif dari seorang karakter dapat membuat penonton simpati terhadapnya, sementara representasi yang negatif dapat membuat penonton merasa jijik atau benci terhadapnya. Dalam rangka menggali lebih dalam konsep representasi dalam film, penting untuk mempertimbangkan bagaimana pilihan-pilihan kreatif dalam produksi film dapat memengaruhi cara penonton memahami dan merespons cerita, karakter, dan pesan yang disampaikan. Ini adalah salah satu aspek penting dalam analisis film dan studi budaya. 2.4. Semiotika Roland Barthnes Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem yang terstruktur (Sobur, Alex, 2004). Analisis semiotika Roland Barthes adalah pendekatan kritis yang digunakan untuk memahami makna dalam bahasa, budaya, dan media. Roland Barthes, seorang ahli semiotika dan sastra Prancis, mengembangkan teori ini pada abad ke-20. Beberapa poin kunci dalam semiotika Roland Barthes meliputi: 2.4.1. Tanda dan Signifikasi: Barthes berfokus pada konsep tanda (sign) dan signifikasi (signified). Tanda adalah suatu objek atau kata yang mengacu pada konsep atau makna tertentu. Misalnya, kata "apple" adalah tanda yang merujuk pada buah apel. Signifikasi adalah makna yang kita kaitkan dengan tanda tersebut. 2.4.2. Menguraikan Mitos: Barthes terkenal dengan analisisnya terhadap mitos dalam budaya. Dia memeriksa bagaimana tanda-tanda sederhana dalam budaya (seperti gambar iklan atau simbol) dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam atau ideologi tertentu. Misalnya, dalam analisisnya tentang iklan, Barthes menunjukkan bagaimana gambar-gambar sederhana dapat digunakan untuk menyampaikan pesanpesan kompleks tentang kecantikan atau status sosial. 2.4.3. Dekonstruksi Makna: Barthes juga mendekonstruksi makna menjadi berbagai tingkatan dan mengungkapkan bagaimana makna bisa dipertanyakan atau diputarbalikkan. Dia mengajukan bahwa makna tidak tetap, dan kita harus selalu mempertanyakan apa yang kita yakini. 2.4.4. Intertekstualitas: Konsep intertekstualitas adalah ide bahwa teks-teks (seperti buku, film, atau iklan) selalu terhubung satu sama lain dalam jaringan makna. Teks baru sering kali merujuk atau berhubungan dengan teks-teks sebelumnya, dan pemahaman terhadap suatu teks dapat dipengaruhi oleh pengetahuan tentang teks-teks lainnya. (Culler, 2001) Semiotika Roland Barthes telah memiliki dampak yang signifikan dalam analisis sastra, budaya pop, dan media. Pendekatannya yang kritis dan pemahamannya terhadap bagaimana makna diciptakan dan digunakan telah menginspirasi banyak studi budaya dan analisis teks dalam berbagai disiplin ilmu.

Method

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antar fenomena yang diselidiki dalam format kata-kata dan bahasa. Kemudian pendekatan penelitian yang digunakan adalah analisis semiotika menggunakan teori Roland Barthes. Analisis semiotika merupakan metode dalam menganalisis dan memberikan makna dari tanda yang terdapat paket lambang-lambang teks atau pesan dalam film. Adapun sumber data pada penelitian ini bersumber dari data primer yaitu film-film nasional yang merepresentasikan perpustakaan. Sementara data sekundernya sendiri berupa buku, artikel jurnal, tesis dan skripsi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, mengumpulkan literatur, melakukan pengamatan, mengidentifikasi dan menemukan pemaknaan denotatif, konotatif, mitos seperti yang ada dalam teori analisis semiotika yang dikemukakan Roland Barthes.

Result & Discussion

Film Indonesia sebenarnya sudah diproduksi sejak Indonesia masih di jajah Belanda. Film pertama yang diproduksi kala itu berjudul Loetoeng Kasarung pada tahun 1926. Kala itu digarap oleh orang asing dan belum merepresentasikan Indonesia. Baru di tahun 1950, tepatnya 30 Maret, sutradara Indonesia bernama Usmar Ismail memproduksi film berjudul Darah dan Doa dengan pengambilan gambar di tanggal tersebut. Hal itu menjadi alasan Dewan Film Nasional menetapkan sebagai Hari Film Nasional (Sukarno, 2022). Ada yang menganggap film merupakan sebuah tayangan hiburan semata, ada pula yang menganggap Andi Ibrahim, et.al Representasi Perpustakaan dalam Film Nasional… 77 film adalah sebuah media yang dapat memberikan pembelajaran bagi penontonnya. Bagi pembuat film, tak jarang mereka membuat film atas dasar pengalaman pribadi ataupun kejadian nyata yang diangkat ke dalam layar lebar. Karena pada dasarnya film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang di dalam sutau masyarakat dan kemudian memproyeksikannya ke dalam layar (Asri, 2020). Representasi perpustakaan dalam film nasional yang memperlihatkan berbagai komponen atau unsur yang ada di perpustakaan, seperti pelayanan pustakawan, luas dan daerah perpustakaan, bahan pustaka yang dikoleksi perpustakaan hingga sistem pelayanan dan fasilitas perpustakaan itu sendiri. Berikut beberapa film yang merepresentasikan perpustakaan dalam film-silm nasional: 4.1. Film Ada Apa Dengan Cinta Film ini menjadi momentum kebangkitan film nasional yang sempat mati suri setelah beberapa tahun sebelumnya vakum. Scene pertama kali Rangga dan Cinta bertemu di perpustakaan menjadi salah satu scene yang paling ikonik dalam film ini. Bahkan buku yang di pegang Rangga berjudul Aku, sempat banyak diburu remaja kala itu, padahal itu adalah salah satu buku yang lumayan lama, sekitar tahun 1987. Tabel 1 Scene Film Ada Apa Dengan Cinta Visual Verbal - Denotasi Terlihat ruang perpustakaan dengan sejumlah meja baca dan rak buku. Hampir setiap sudut ruangan diisi dengan siswa yang sedang membaca dan diawasi oleh seorang pustakawan seorang ibu paruh baya. Konotasi Menggambarkan ruang perpustakaan sekolah yang terbilang memadai untuk menjadi tempat membaca bagi pemustaka/siswa, meski pustakawan yang mengelola perpustakaan tersebut masih terbilang sangat konvensional. Mitos Perpustakaan yang memadai akan membuat perpustakaan itu sendiri menjadi tempat yang disenangi siswa, setidaknya menjadi pelarian bagi siswa seperti Rangga yang diceritakan dalam film sebagai seorang yang introvert. Dalam film ini perpustakaan identik sebagai tempat pelarian atau tempat paling nyaman bagi siswa yang introvert seperti Rangga. Suasana hening menjadi pilihan. Karena itu, ketika Cinta ingin menyapanya justru dianggapnya mengganggu ketenangannya dalam membaca buku yang ditekuninya. Pustakawan dalam film ini masih sangat konvensional, dimana seorang ibu paruh baya mengenakan seragam cokelat dengan tatanan rambut yang tergulung. Tipikal pustakawan sekolah yang jadul, seperti menegur jika ada siswa yang dianggapnya berisik, termasuk Rangga ditegur karena dianggap mengganggu ketenangan suasana perpustakaan. 4.2. Film Adriana Film "Adriana" (2013) menggambarkan salah satu adegan penting di dalam Perpustakaan Nasional. Dalam adegan ini, karakter utama, Adriana (diperankan oleh Eva Celia), tengah mengunjungi perpustakaan tersebut dalam pencariannya untuk mengejar impiannya sebagai seorang seniman. Ketika Adriana berada di dalam Perpustakaan Nasional, dia terdiam sejenak oleh atmosfer yang tenang dan berpikir. Perpustakaan tersebut digambarkan sebagai tempat yang penuh pengetahuan, inspirasi, dan ketenangan. Di tengah perpustakaan yang megah itu, Adriana mulai merenung tentang cita-citanya untuk menjadi seorang pelukis terkenal. Saat berkeliling di perpustakaan, Adriana bertemu dengan Mamen (diperankan oleh Adipati Dolken), karakter utama pria dalam film tersebut. Pertemuan mereka terjadi secara kebetulan di dalam lift perpustakaan. Percakapan mereka singkat, namun adegan ini menjadi titik awal dari perjalanan cinta mereka yang rumit dan penuh tantangan. Selama adegan di dalam Perpustakaan Nasional, atmosfer perpustakaan menciptakan latar belakang yang khusus bagi pertemuan mereka dan menjadi simbol penting dalam perkembangan hubungan cinta mereka. Itulah mengapa adegan ini memiliki dampak emosional yang kuat dalam narasi film "Adriana." Tabel 2 Scene Film Adriana Visual Verbal - Denotasi Terlihat perpustakaan yang terbilang luas dengan beberapa lain dan lift untuk menuju ke lantai-lantai berikutnya. Perpustakaan diramaikan dengan banyak pemustaka dan beberapa pustakawan. Konotasi Menunjukkan perpustakaan kampus yang terbilang ideal dari segi ruang dan fasilitas, hal tersebut juga ditunjukkan dengan ramainya pemustaka/mahasiswa mengunjungi perpustakaan. Mitos Perpustakaan dan pustakawan yang ideal menjadi visi setiap perpustakaan, terlebih lagi apabila perpustakaan tersebut merupakan perpustakaan setingkat universitasnya. Di awal film, diperlihatkan banyak adegan di perpustakaan. Tokoh pustakawannya juga tidak hanya ditampilkan sekali, tapi beberapa scene, seperti di sela-sela rak perpustakaan, di lift menuju perpustakaan, juga di bagian layanan di perpustakaan. Pustakawan di sini direpresentasikan mesti tahu segalanya, tapi tampak mengganggu bagi Mamen karena terlalu mendekatinya alias baik karena ada maunya. Pustakawan dalam film ini dihadirkan dengan tampilan fisik, yaitu rambut panjang yang sepertinya disasak karena tampang mengembang, dan memiliki sifat yang centil dengan pemustakanya.4.3. Film Refrain Film Refrain bercerita tentang dua sahabat karib sejak kecil yaitu Acha (diperankan oleh Maudy Ayunda) dan Iqbal (diperankan oleh Afgan Syahreza). Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan ini, berbicara tentang buku dan hidup. Acha adalah gadis cerdas yang selalu mencari jawaban dalam buku, sementara Iqbal adalah pemuda yang memiliki bakat musik luar biasa dan memiliki penyakit jantung. Film ini mengeksplorasi tema-tema cinta, persahabatan, ketabahan dalam menghadapi keterbatasan, dan bagaimana buku dan pengetahuan dapat menjadi bagian penting dari perjalanan seseorang. Cerita di dalam perpustakaan ini menjadi latar belakang yang indah untuk perjuangan dan kisah cinta yang mengharukan antara Acha dan Iqbal dalam "Refrain." Tabel 3 Scene Film Refrain Visual Verbal - Denotasi Memperlihatkan ruang perpustakaan sekolah yang berlatar hijau, hampir semua meja baca diisi dengan sejumlah siswa yang sedang membaca. Adapun perpustakaan diawasi oleh seorang pustakawan yang memiliki watak tegas. Konotasi Menunjukkan perpustakaan sekolah yang baik, dikelola oleh seorang pustakawan yang tegas seperti menegur siswa yang berisik atau menggangu pemustaka yang lain. Mitos Pustakawan yang tegas akan menertibkan kondisi perpustakaan, meski dalam hal yang lain beberapa pemustaka merasa tidak nyaman diawasi oleh pustakawan yang terlalu tegas apalagi galak. Diantara beberapa film nasional yang ada scene perpustakaannya, masih jarang pustakawan yang bekerja di meja kerjanya ditampilkan komputer dan printer seperti dalam film Refrain ini. Meski watak pustakawan dalam film ditampilkan galak, dalam scene film memperlihatkan menegur rombongan Cheerleaders yang tampak berisik untuk mengikuti eskul mereka karena dianggap mengganggu pemustaka lainnya yang berada di perpustakaan. 4.4. Film Pupus Cerita di dalam perpustakaan dalam film "Pupus" menggambarkan bagaimana tempat yang tenang dan penuh pengetahuan bisa menjadi latar belakang yang kuat untuk menggambarkan perjuangan cinta dan persahabatan di antara Yudhis dan Alya. Di dalam perpustakaan yang tenang dan penuh dengan buku-buku yang berjajar rapi, Yudhis adalah seorang pemuda yang sering datang untuk belajar dan membaca. Dia adalah seorang pelajar yang cerdas tetapi cenderung tertutup dan tidak berkomunikasi dengan orang lain. Alya, seorang gadis yang ceria dan ramah, juga sering mengunjungi perpustakaan untuk membaca dan menghabiskan waktu.Tabel 4 Scene Film Pupus Visual Verbal - Denotasi Terlihat seorang pustakawan melayani pemustaka. Pustakawan tersebut adalah seorang bapak tua polos yang mengenakan seragam cokelat ala abdi negara, meski termasuk perpustakaan di kampus swasta. Konotasi Menunjukkan pustakawan loyal terhadap pekerjaannya dalam melayani pemustaka. Meski sudah berusia senja, pustakawan tersebut masih semangat memberi pelayanan kepada pemustaka. Mitos Idealnya pustakawan dikelola oleh pemustaka yang masih muda dan semangat, meski bukan berarti orangtua tidak boleh bekerja di perpustakaan selama semangat dan penguasaannya masih prima. Menceritakan kisah cinta mahasiswa antara Panji dan Cindy. Dikisahkan Cindy menyukai seniornya di kampus, meski awalnya Panji tidak pernah menggubrisnya. Termasuk saat Cindy yang diperankan Donita membawakan bekal untuk Panji malah ditolak terang-terangan, bekal untuknya langsung diberikannya kepada pustakawan di perpustakaan kampus, kebetulan saat itu secenenya berada di perpustakaan. Meski dalam film diceritakan jika Cindy kuliah di kampus swasta, tapi pustakawan yang ditampilkan ala-ala abdi negara seperti bapak tua polos dengan seragam ciri khas abdi negara. 4.5. Film The Tarix Jabrix 2 Cerita film The Tarix Jabrix 2 di dalam perpustakaan dimulai ketika mereka mencari informasi tentang sebuah makam bersejarah, mereka menemukan sebuah buku kuno yang berisi petunjuk tentang harta karun yang konon tersembunyi di daerah tersebut. Tidak hanya itu, buku tersebut juga berisi cerita tentang makam berhantu dan makhluk halus yang menjaga harta tersebut. Di dalam perpustakaan, mereka sering kembali untuk mencari petunjuk dan pengetahuan yang akan membantu mereka dalam pencarian harta karun yang penuh misteri dan perpustakaan menjadi tempat di mana mereka mencari pengetahuan dan petunjuk yang mereka butuhkan untuk menghadapi semua itu.Tabel 5 Scene Film The Tarix Jabrix 2 Visual Verbal - Denotasi Memperlihatkan ruang perpustakaan dan pustakawan muda yang memberikan pelayanan kepada pemustaka, mencatat daftar sirkulasi dengan cara manual. Konotasi Menunjukkan seorang pustakawan muda yang mengelola perpustakaan dengan sistem yang masih manual. Mitos Sistem yang masih konvensional akan memperlambat proses administrasi perpustakaan, sekalipun dikelola oleh pustakawan yang masih muda. Maka sebaiknya pustakawan menggunakan sistem komputerisasi. Diceritakan Ciko, Coki dan Lala yang ingin meminjam sebuah buku di perpustakaan kampus yang ternyata buku tersebut sudah dipinjam temannya. Pustakawan dalam film ini dihadirkan tampak lebih muda dibandingkan film-film lainnya yang selalu merepresentasikan pustakawan selalu sosok paruh baya. Tapi dalam film ini, pada saat pelayanan peminjaman buku masih jadul seperti dicatat manual di buku besar belum menggunakan komputer. 4.6. Film Marmut Merah Jambu Cerita dalam film "Marmut Merah Jambu" di dalam perpustakaan mengisahkan tentang pertemuan Raditya Dika dan Kugy, dua mahasiswa yang memiliki minat yang sama dalam menulis di lingkungan kampus. Mereka bertemu di perpustakaan dan mulai berbicara tentang buku, menulis, dan hobi mereka. Dari pertemuan ini, persahabatan mereka tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam, meskipun tidak tanpa hambatan dan tantangan. Perpustakaan menjadi simbol penting dalam cerita, menggambarkan tempat di mana mereka mencari wawasan, pengetahuan, dan kenyamanan dalam perjalanan cinta mereka. Selama perjalanan ini, cerita mengeksplorasi tema-tema seperti persahabatan, impian, dan pencarian jati diri. Tabel 6 Scene Film Marmut Merah Jambu Visual Verbal - Denotasi Memperlihatkan kondisi ruang perpustakaan sekolah yang padat diisi oleh para siswa. Ruang perpustakaan dipadati sejumlah rak dan meja baca yang terbilang baik untuk setara perpustakaan sekolah. Konotasi Menunjukkan perpustakaan sekolah yang dilengkapi dengan fasilitas yang baik, hal tersebut ditunjukkan dengan ramainya pemustaka yang mengisi ruang perpustakaan. Mitos Ruang perpustakaan yang dipadati fasilitas yang baik, serta kondisi bahan pustaka yang memadai juga mendukung ketertarikan pemustaka berkunjung ke perpustakaan. Cerita anak sekolah selalu identik dengan scene di perpustakaan. Tidak hanya itu, perpustakaan sekolah juga selalu diramaikan dengan siswa-siswa cupu. Dika dan Bertus seperti anak sekolah pada umumnya yang ingin mengikuti salah satu ekstrakurikuler di sekolah mereka. Salah satu eskul yang awalnya akan mereka ikuti adalah eskul bahasa yang dipimpin oleh Ge Pamungkas yang ternyata adalah bukan sembarang eskul bahasa biasa, tapi eskul bahasa satwa/hewan. 4.7. Film Kukira Kau Rumah (2021) Cerita dalam film Kukira Kau Rumah menyoroti pentingnya perpustakaan kampus memiliki koleksi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, terutama bagi mereka yang memiliki minat baca yang tinggi seperti Niskala. Perpustakaan yang kaya akan bahan pustaka dapat menjadi sumber pengetahuan yang berharga bagi mahasiswa seperti Niskala dalam mengejar tujuan akademik dan pengembangan diri mereka. Tabel 7 Scene Film Kukira Kau Rumah Visual Verbal - Denotasi Memperlihatkan kondisi ruang perpustakaan kampus yang megah akan koleksinya. Terlihat Niskala, seorang pemustaka yang hendak meminjam lebih dari 3 buku. Konotasi Menunjukkan perpustakaan yang menampung banyak bahan pustaka, sementara itu pemustaka seperti Niskala yang memiliki minat baca yang tinggi, memiliki sikap ambisius dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah dan selalu berusaha menjadi yang pertama dan yang terbaik. Mitos Sudah semestinya perpustakaan kampus memiliki koleksi yang dihimpun dengan memadai kebutuhan informasi pemustaka. Terlebih lagi apabila perpustakaan tersebut memiliki sejumlah pemustaka yang minat bacanya tinggi. Niskala menyebut perpustakaan ibarat kuburan sebagai tempat favoritnya dari tempat melarikan diri dari hiruk pikuknya kehidupan. Niskala mengambil banyak buku yang dipinjam, sementara peraturan perpustakaan hanya memperbolehkan pemustaka untuk meminjam maksimal tiga buku. Sindiran halus terlontar dari bibir Niskala bahwa buku yang masih bersih slip peminjamannya lebih baik dipinjamnya karena kasihan buku itu menganggur tidak ada yang meminjam. Niskala meminjam banyak buku juga memiliki makna semiotika. Ambisiusnya dalam mengerjakan tugas-tugas sejak sekolah sampai kuliah, berusaha selalu ingin menjadi yang pertama dan terbaik, tidak mau kalah dengan orang lain, dan selalu membaca banyak buku demi ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa dia mampu menjadi manusia normal pada umumnya. Dia sangat butuh validasi dari papannya bahwa dia bisa.

Conclusion

Representasi perpustakaan dalam film nasional dari beberapa film yang memperlihatkan scene perpustakaan dan pustakawan, diantara film-film nasional yang merepresentasikan perpustakaan dan pustakawan diantaranya; film Ada Apa Dengan Cinta, Adriana, Refrain, Pupus, The Tarix Jabrix 2, Marmut Merah Jambu dan film Kukira Kau Rumah. Dari film-film nasional tersebut merepresentasikan berbagai kondisi perpustakaan sekolah maupun kampus dan juga representasi pustakawan baik yang masih muda maupun yang sudah separuh baya. Perpustakaan diperlihatkan sebagai tempat favorit siswa dan mahasiswa untuk berkumpul dikala waktu istirahat. Kemudian pustakawan yang terbilang ideal dalam memberikan pelayanan, meski sebagian sistem yang digunakan masih konvensional.