Kembali
16
1
2023 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 19 · 1 ISSN 2477-0361

Representasi pustakawan dalam The Librarian Season 1

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Pendahuluan. Kesuksesan dan penerimaan masyarakat terhadap The Librarian Season 1 secara tidak langsung menunjukkan adanya ketertarikan terhadap dunia profesi pustakawan. Meskipun perpustakaan dan pustakawan yang digambarkan dalam The Librarian Season 1 bersifat setting fiksi, akan tetapi nilai-nilai dalam dunia kepustakawanan tetap menjadi hal yang tidak luput untuk direpresentasikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui representasi pustakawan dalam The Librarian Season 1. Metode penelitian. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen dan analisis semiotika Roland Barthes sebagai metode analisis data. Data analisis. Analisis semiotika Roland Barthes pada tingkatan denotatif, konotatif, dan mitos. Hasil dan Pembahasan. Dalam The Librarian Season 1 terdapat 13 episode dari keseluruhan 15 episode yang memiliki adegan representasi pustakawan berdasarkan karakter ideal pada Kerangka Dasar Kepustakawanan Indonesia (KDKI). Kesimpulan dan Saran. Miche merupakan representasi karakter ideal seorang pustakawan berdasarkan KDKI. Oleh karena itu, disarankan untuk komikus supaya dapat dipertimbangkan memperbanyak ide cerita tentang pustakawan dalam komik, konten, ataupun produk pop culture lainnya. Adapun saran berikutnya untuk pustakawan adalah supaya representasi dalam The Librarian Season 1 dapat menjadi alternatif media edukasi bagi calon pustakawan maupun masyarakat umum.

Abstract

Introduction. The success and acceptance of the community towards The Librarian Season 1, comic indirectly show an interest in the librarian profession. Although the library and librarian described in the Librarian Season 1 are fictional settings, the values in the world of librarianship cannot be ignored. This study aims to examine the representation of librarians in The Librarian Season 1 comic. Research Methods. The method used was qualitative. Collecting data was conducted by document study by exploring the website? Data Analysis. This paper used Roland Barthes' semiotic analysis focusing on the denotative, connotative, and myth levels. Results and Discussion. In the comic The Librarian Season 1, there are 13 episodes out of a total of 15 episodes that have librarian representation scenes based on ideal characters in the Basic Framework for Indonesian Librarianship (KDKI). Conclusion and Suggestions. Miche is a representation of the ideal character of a librarian based on KDKI. Therefore, the paper suggests that comic artists are considered to reproduce story ideas about librarians in comics, content, or other pop culture products. Librarian representation in the comic The Librarian Season 1 can be an alternative educational media for both prospective librarians and public.
Keywords: librarian representation · comic · The Librarian Season 1 · Roland Barthes' Semiotic · Basic Framework for Indonesian Librarianship

Introduction

A. PENDAHULUAN Komik merupakan salah satu karya sastra yang populer di mata masyarakat. Dalam perkembangannya berbagai jenis yang beredar di masyarakat. Mulai dari komik strip yang terdiri dari beberapa potongan gambar, komik kartun yang hanya terdiri dari satu tampilan saja, hingga komik yang dibukukan atau yang dapat diakses secara daring melalui internet. Berdasarkan ide cerita yang diusung, komik selalu memiliki ide cerita yang variatif hingga saat ini. Salah satunya yang menceritakan tokoh utamanya berdasarkan latar belakang profesinya. Komik terkenal dan fenomenal di dunia yang mengangkat suatu profesi sebagai tokoh utamanya adalah Detective Conan. Komik ini bercerita tentang seorang detektif remaja bernama Shinichi Kudo yang terpaksa menenggak racun. Racun tersebut mengakibatkan tubuhnya menyusut layaknya anak berusia 5 tahun. Dampak lain kejadian tersebut, Kudo pun harus mengubah namanya menjadi Conan Edogawa (CNN Indonesia, 2021). Saat ini telah terbit berbagai judul komik yang mengangkat suatu profesi sebagai tokoh utamanya di Indonesia, termasuk profesi pustakawan. Komik terbaru karya anak bangsa dan sekaligus merupakan yang pertama mengangkat profesi pustakawan adalah The Librarian. The Librarian merupakan komik bergenre horror-thriller yang diterbitkan oleh Ciayo Comics sejak 30 November 2017. Ciayo Comics adalah sebuah platform komik digital yang berisi berbagai macam genre, seperti aksi, horor, thriller, drama, romansa, hingga komedi dari komikus-komikus Indonesia. Salah satu komik terbitan Ciayo Comics yang sukses di masyarakat adalah The Librarian. Komik ini telah memiliki 48,6 ribu subscriber, 4.922.039 kali dilihat, dan 342.535 disukai oleh pembaca, serta mampu menyabet gelar Comic of the Year 2019 pada platform Ciayo Comics (Ciayo Comics, 2020). The Librarian merupakan hasil karya anak bangsa dengan nama pena KayR801. Komik ini bercerita tentang seorang pustakawan yang memiliki beragam koleksi yang tidak biasa di perpustakaan. Pustakawan yang mengelola perpustakaan tersebut bernama Miche. Miche adalah pustakawan yang mengelola perpustakaan gaib dengan koleksi tidak biasa. Miche tidak hanya mengelola koleksi perpustakaan yang terdiri dari buku-buku seperti buku penyihir, buku mantra pemanggil arwah, buku dari neraka dan buku terlarang, namun juga beberapa referensi yang sifatnya korporil seperti botol dengan tengkorak manusia, botol berisi cacing parasit dan topeng arwah berbentuk kepala babi. Hal tidak biasa lainnya yang terjadi di perpustakaan gaib adalah para pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan digambarkan dalam representasi para monster atau arwah maupun manusia yang memiliki korelasi kuat dengan dunia gaib. Pemustaka tersebut diantaranya meliputi seorang laki-laki dengan keluhan sleep paralysis, penyihir wanita, pemustaka monster berkepala badut dan pemustaka-pemustaka lain yang membutuhkan informasi terkait dunia gaib. Karakter Miche adalah daya tarik utama dalam The Librarian. Visualisasi tokoh Miche digambarkan oleh KayR801 berambut lurus, berponi warna putih. Miche digambarkan sebagai sosok berkulit putih, berhidung mancung, berkelopak mata tebal melengking, dan bibir yang tipis. Tak lupa kacamata berbentuk lingkaran tersemat di wajahnya. Kadang kala kacamata tersebut digambarkan terdapat rantai yang menjuntai yang disematkan pada leher, akan tetapi kadang kala rantai tersebut juga tidak terpasang pada kacamata. Miche digambarkan terbiasa menggunakan kemeja berompi atau sweater sebagai pemanis, menggunakan celana berwarna gelap sehingga kesan rapi dan elegan. Senyum manis, sikap ramah, dan baik menambah kesan humanis dalam diri karakternya. Selain wujud manusia, juga memiliki wujud seorang monster. Ketika menjadi monster, digambarkan oleh KayR801 memiliki kedua mata yang berwujud mulut bergigi-gigi tajam dan memiliki sebuah mulut berwujud bola mata berwarna biru muda. Tampilannya pun menjadi kurang begitu rapi daripada saat dilukiskan dalam wujud manusia. Wujud monster muncul saat ia mempertahankan eksistensi perpustakaannya dan mengahadapi berbagai permasalahan yang menjadi ancaman perusakan maupun penutupan perpustakaan yang dikelolanya. Sebagai sebuah karya sastra, The Librarian juga memiliki nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi pustakawan umumnya baik secara profesional maupun personal. Nilai moral tersebut disampaikan secara tidak langsung melalui beberapa adegannya. Seperti adanya sikap tanggung jawab sebagai seorang pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemustaka dan tanggung jawab sebagai seorang individu yang mau menerima konsekuensi atas setiap perbuatan yang dilakukannya. Nilai moral tersebut terbilang sukses diterima oleh masyarakat, ditandai capaian 48,6 ribu lebih penggemar yang berlangganan melalui platform Ciayo Comics. Bahkan komik ini telah memasuki musim keempatnya rilis di Ciayo Comics. Kesuksesan dan penerimaan masyarakat terhadap The Librarian secara tidak langsung menunjukkan adanya ketertarikan terhadap dunia profesi pustakawan. Meskipun perpustakaan dan pustakawan yang digambarkan bersifat setting fiksi, akan tetapi nilai-nilai dalam dunia kepustakawanan tetap menjadi hal yang tidak luput untuk direpresentasikan. Sekalipun berlatar belakang cerita genre fiksi horror-thriller, representasi nilai-nilai kepustakawanan dalam profesi pustakawan tetap dapat dilakukan. Penelitian tentang buku bacaan baik berupa novel maupun komik yang merepresentasikan pustakawan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Sebab hal tersebut dapat dijadikan sebagai media kepada masyarakat untuk menyampaikan edukasi terkait arti penting profesi pustakawan (Sundari, 2012). Akan tetapi di lain sisi, penelitian tentang representasi pustakawan dalam karya novel maupun komik masih sangat terbatas. Berbagai platform database penelitian di Indonesia seperti Neliti, Science and Technology Index (Sinta), Indonesia One Search (IOS), Garba Rujukan Digital (Garuda), dan Google Cendekia mencatat bahwa saat ini penelitian tentang representasi pustakawan dalam sebuah komik masih terbatas (Neliti, 2021; Sinta Indonesia, 2021; Indonesia One Search, 2021; Garba Rujukan Digital, 2021; Google Cendekia, 2021). Hal inilah yang menjadi landasan dilakukannya penelitian ini, dengan mengangkat objek The Librarian Season 1 sebagai komik daring pertama di Indonesia yang mengangkat profesi pustakawan dan mendapat respon positif dari masyarakat sebagai Comic of the Year Tahun 2019 pada platform Ciayo Comics. Sejak diterbitkan tahun 2017, The Librarian telah memiliki 4 season. Tetapi dalam penelitian ini hanya The Librarian Season 1 yang dibahas, karena penelitian ini mencoba mengulas bagaimana karakter dasar seorang pustakawan dalam menjalankan profesinya. The Librarian Season 1 membahas asal mula Miche sebelum hingga awal kehidupan menjadi seorang pustakawan. Adapun The Librarian Season 2, 3, 4 hanya merupakan sekuel dari The Librarian Season 1 yang membahas berbagai peristiwa-peristiwa sekuel kehidupan sebagai seorang pustakawan. Oleh karena itu, pembahasan dibatasi pada The Librarian Season 1. Penelitian ini berupaya untuk mengetahui representasi pustakawan dalam The Librarian Season 1, menggunakan pendekatan semiotika. Hal ini dilakukan untuk mengungkap makna karakteristik dasar yang direpresentasikan dalam karakter tokoh utama The Librarian Season 1 yang bernama Miche. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis berupa bahan pertimbangan tentang nilai-nilai moral dan personal yang terdapat pada diri seorang pustakawan yang direpresentasikan pada The Librarian Season 1, sehingga dapat memperluas cakrawala pengetahuan mengenai dunia profesi pustakawan. Hasil penelitian juga dapat dijadikan rujukan bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan topik tentang representasi pustakawan dalam sebuah komik. Terutama yang berlandas pada Kerangka Dasar Kepustakawanan Indonesia (KDKI) sebagai kerangka acuan kepustakawanan Indonesia serta panduan ideal bagi pustakawan Indonesia dalam berkarya. Konsepsi yang dicetuskan Pustakawan Utama Blasius Sudarsono tersebut, perlu lebih dikenalkan pada pustakawan Indonesia, salah satunya melalui proses pengkajian produk budaya populer seperti komik. Terutama yang sarat akan representasi KDKI, seperti The Librarian karya komikus Indonesia yaitu KayR801, yang menjadi objek kajian penelitian ini. B. TINJAUAN PUSTAKA International Encyclopedia of Information and Library Science (Feather, 2013) menyebutkan bahwa secara modern pustakawan dapat dikatakan sebagai pengelola dan mediator akses kepada informasi untuk berbagai jenis pengguna, yang berawal dari koleksi perpustakaan yang selanjutnya meluas ke berbagai macam sumber informasi lainnya di dunia. Di sisi lain, secara konvensional International Encyclopedia of Information and Library Science juga menyebutkan bahwa pustakawan berarti kurator koleksi perpustakaan dan jenis informasi lainnya, juga memiliki tanggung jawab untuk menata akses pengguna terhadap koleksi tersebut dengan berbagai aturan. Menurut Librarianship Studies & Information Technology (2021), pustakawan adalah orang yang bekerja secara profesional dan bertanggung jawab atas pengelolaan perpustakaan mulai dari pengembangan koleksi, akuisisi koleksi, katalogisasi, manajemen koleksi, sirkulasi, dan menyediakan berbagai layanan seperti layanan referensi, instruksi perpustakaan, layanan pelatihan, dan lain sebagainya. Seorang pustakawan juga dapat didefinisikan sebagai tenaga profesional dan fungsional di bidang perpustakaan, informasi maupun dokumentasi (Lasa & Suciati, 2017). Atas dasar beberapa pengertian tersebut, dapat ditarik sebuah konsep bahwasanya pustakawan merupakan seseorang yang memiliki tanggung jawab secara profesional di bidang perpustakaan, informasi, dan dokumentasi di perpustakaan. Berbicara tentang sebuah tanggung jawab yang diemban oleh pustakawan tentu tidak dapat lepas dari karakter pribadi. Mengadopsi konsep filsafat manusia yang dikemukakan Driyarkara (2016) tentang konsep pribadi dan kepribadian yang merupakan esensi representasi manusia, Sudarsono (2018) menarik benang merah pada konteks pustakawan sebagai konsep pribadi dan kepustakawanan sebagai konsep kepribadian pustakawan. Berkenaan hal tersebut, kepustakawanan dimaknai sebagai karakter ideal seorang pustakawan. Lebih lanjut, Blasius Sudarsono juga berpendapat bahwa pustakawan adalah pribadi yang memiliki kepustakawanan (karakter ideal kepribadian seorang pustakawan). Maka dari itu karakteristik ideal kepribadian pustakawan merupakan sesuatu hal yang penting dan mendasar dalam representasi pribadi. Karakter-karakter ideal pustakawan tersebut kemudian dijabarkan dalam sebuah pedoman bernama Kerangka Dasar Kepustakawanan Indonesia (Sudarsono, 2018). Sudarsono (2018) menyebutkan bahwa KDKI merupakan panduan berkarya ideal bagi pustakawan-pustakawan di seluruh Republik Indonesia dalam menjalankan tanggung jawab profesinya. KDKI merupakan sebuah panduan berkarya bagi pustakawan yang menekankan pengembangan diri pribadi sebagai esensi utama representasi profesi pustakawan. Panduan ini disusun berdasarkan empat pilar penyangga, lima daya utama, tiga sasaran antara dan satu tujuan akhir. Empat pilar penyangga yang diuraikan dalam KDKI adalah panggilan hidup, semangat hidup, karya pelayanan, dan karya profesional. Lima daya utama dalam KDKI adalah kemampuan berpikir, kemampuan menulis, kemampuan membaca, kemampuan wirausaha, dan menjunjung tinggi etika. Tiga sasaran dalam KDKI adalah menjadi pustakawan cerdas, kaya, dan benar. Adapun tujuan akhir KDKI untuk menjadi manusia paripurna, bahagia, dan berguna bagi sesama. Driyarkara (2016) menyebut pribadi manusia agar benar-benar menjadi pribadi harus menjadi kepribadian; Pribadi yang tidak dapat menjadi kepribadian adalah pribadi yang jatuh terperosok, pribadi yang tidak setia Tuhan, dan masyarakat, bahkan dirinya sendiri juga, pribadi yang kehilangan kemuliaan dan kehormatannya; Perkembangan dari suatu pribadi merupakan kepribadian, perkembangan yang benar-benar menjalankan kedaulatannya atas dirinya sendiri, bukan karena nafsu maupun hal-hal yang sifatnya materil; Apabila semua itu berhasil dicapai maka pribadi benar-benar bersemayam dalam dirinya sendiri (Sudiarja, 2016). Konsep eksistensi pribadi dan kepribadian ini kemudian diterapkan ke dalam konsep pustakawan dan kepustakawanan sehingga dapat diartikan lebih luas lagi sebagai sesuatu yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan sekaligus menjadi muara (tujuan) kesempurnaan bagi seorang pustakawan (Sudarsono, 2018). Eksistensi pribadi pustakawan dapat terlihat dalam berbagai wujud konsepsi yang berkembang di masyarakat melalui berbagai bentuk representasi, mulai dari bentuk yang paling abstrak berupa konsensus persepsi masyarakat terhadap profesi pustakawan, hingga dalam bentuk-bentuk konsensus representasi yang lebih konkrit dalam penggambaran pada berbagai media seperti film, video, lagu, dan juga komik. Representasi merupakan penggunaan tanda (gambar, bunyi, dan lain-lain) untuk menghubungkan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, dibayangkan, atau dirasakan dalam wujud tertentu (Danesi, 2012). Menurut Stuart Hall terdapat dua proses dalam representasi yaitu meliputi representasi mental dan representasi bahasa (Wibowo, 2013). Representasi mental merupakan suatu konsep yang ada di kepala manusia yang sifatnya masih abstrak. Adapun representasi bahasa adalah suatu proses dalam konstruksi makna. Konsep yang sifatnya masih abstrak harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang lazim agar dapat menghubungkan antara konsep dengan tanda dan simbol-simbol tertentu supaya mudah dipahami. Secara fundamental, representasi bekerja terhadap hubungan antara makna dan tanda. Representasi dapat berubah sewaktu-waktu sebab selalu terjadi proses negosiasi dalam melakukan pemaknaan. Oleh karena itu, representasi juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk usaha konstruksi yang bersifat dinamis mengikuti perkembangan intelektual dan kebutuhan pengguna tanda (Wibowo, 2013). Berdasarkan uraian pengertian tersebut, maka dibutuhkan suatu media sebagai alat atau sarana representasi. Salah satu media yang dapat digunakan sebagai wadah merepresentasikan suatu konsep dan ide ke dalam suatu proses produksi adalah komik. Komik dapat diartikan sebagai sebuah narasi yang diceritakan melalui sejumlah gambar yang menggambarkan petualangan satu karakter atau lebih dalam rangkaian waktu terbatas dengan aturan garis-garis horizontal, strip, atau kotak dan dibaca layaknya teks verbal yakni dari kiri ke kanan (Danesi, 2012). Berlandas pada pengertian tersebut, secara garis besar dapat diartikan bahwa komik merupakan sebuah media gambar yang bertujuan menyampaikan suatu cerita yang terkandung di dalamnya kepada pembaca. Komik merupakan sebuah media bergambar dan narasi cerita, menjadi media yang potensial menggambarkan hal-hal yang sifatnya abstrak, sebab apa yang tidak bisa dikatakan dengan bahasa tulis dapat didukung visual gambar. Komik merupakan media yang juga bisa mewadahi konsep-konsep yang masih abstrak, salah satunya adalah karakter yang di dalamnya terdapat konsepsi diri (Mu'in, 2016). Beberapa komik di dunia yang berhasil memotret karakter pustakawan sebagai sebuah profesi antara lain: Kokoro Library (Kokoro Toshokan) yang terbit tahun 2000 karya Noboyuki Takagi (Myanimelist, 2020), Library Wars (Toshokan Sensō) yang terbit pertama kali tahun 2007 karya Kiiro Yumi (Mitho.Chan, 2020), dan The Librarians karya Will Pfeifer yang diterbitkan oleh Dynamite tahun 2017 (Dynamite, 2017). Terbitnya beberapa komik tersebut menegaskan bahwa komik merupakan media yang mumpuni dalam merepresentasikan karakter pustakawan sebagai karakter utamanya karena memuat dua unsur yaitu gambar dan teks yang dapat merepresentasikan karakter pribadi secara lebih detail baik dari segi narasi maupun visualisasi. Melalui media komik, karakter pribadi pustakawan dapat direpresentasikan dengan baik. Gambar dan teks menjadi media representasi pribadi dan kepribadian pustakawan yang memanfaatkan penggunaan tanda (simbol) dalam format still image pada frame adegan cerita memotret bentuk-bentuk perwujudan karakter pribadi berikut kepribadian yang ditampilkan.

Method

Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika. Wibowo (2013) berpendapat bahwa penelitian semiotika adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif karena menginginkan sebuah proses yang utuh mendapatkan jawaban tentang makna-makna yang terdapat dalam objek penelitian; analisis semiotika cenderung bersifat induktif karena menjelaskan temuan-temuan yang diperoleh dari objek penelitian dan mengaitkannya dengan konsep-konsep lain yang berhubungan dengan konteks-konteks tertentu; penulis sebagai instrumen penelitian yang melakukan analisis pengumpulan data dan analisis data secara mandiri; data yang diperoleh merupakan data deskriptif yang berupa penjelasan tentang makna tanda-tanda objek penelitian; keabsahan data bersifat subjektif dan kontekstual sesuai objek penelitian; desain penelitian berubah seiring keperluan penafsiran teks; analisis semiotika berbasis kerangka subjektif penulis karena adanya perbedaan pengalaman intelektual tiap-tiap individu yang sering kali membuat desain penelitian menjadi berbedabeda pada satu masalah. Metode pengambilan data dilakukan dengan studi dokumen, yaitu mengkaji adegan yang memunculkan sosok pustakawan dalam scene The Librarian Season 1. Studi dokumen atau kajian literatur adalah penelusuran dan perolehan data yang diperlukan melalui data yang ada sehingga mudah digunakan serta hemat biaya maupun tenaga (Hikmat, 2014). Moleong (2018) menambahkan bahwa dokumen bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menguji, menafsirkan, hingga meramalkan. Berdasarkan Hikmat (2014) & Moleong (2018) maka sebuah dokumen dapat diposisikan sebagai objek penelitian. Salah satu dokumen yang dapat diteliti adalah karya sastra kontemporer, salah satunya adalah komik. The Librarian Season 1 berkedudukan sebagai objek penelitian. Objek penelitian menjelaskan tentang apa dan atau siapa yang menjadi objek kajian (Umar, 2013). Dokumen secara spesifik dapat berfungsi sebagai lapangan atau latar penelitian, sebagai tempat melakukan kajian mendalam terhadap fenomena yang digambarkan dalam sebuah dokumen, sebagaimana dalam penelitian ini adalah representasi pustakawan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan capture seluruh episode pada The Librarian Season 1 selama periode akses September 2018 - Agustus 2020. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca keseluruhan isi awal hingga akhir, kemudian berdasarkan proses membaca tersebut, penulis menandai adegan-adegan dalam komik yang mengandung makna denotatif, konotatif, dan mitos yang berkaitan profesi pustakawan, lalu mencari dan mengumpulkan literatur-literatur yang relevan dengan temuan-temuan dalam penelitian ini, yang akan digunakan lebih lanjut dalam proses analisis data. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes (Barthes, 2006) yang terdiri dari beberapa tingkatan untuk dianalisis yaitu: denotasi, konotasi, dan mitos terlihat pada Gambar 1. Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda dalam kehidupan manusia. Hal ini berarti apapun yang terlihat dalam kehidupan dilihat sebagai tanda. Tanda diartikan sebagai sesuatu yang perlu diberi makna (Hoed, 2014). Salah satu tokoh yang terkenal dengan teori semiotikanya adalah Roland Barthes (2006). Ia merupakan filsuf asal Perancis yang mempunyai peranan penting pada strategi penelitian era strukturalis dan poststrukturalis (Rusmana, 2014). Semiotika strukturalisme Roland Barthes adalah analisis atas kombinasi tanda dan makna. Sedangkan semiotika post-strukturalisme adalah analisis atas kombinasi tanda dalam teks (Halim, 2017). Penelitian ini menggunakan semiotika poststrukturalisme Roland Barthes untuk mengetahui representasi pustakawan pada The Librarian Season 1 melalui kombinasi tanda dalam komik tersebut. Proses kesahihan pada penelitian kualitatif dengan analisis semiotika diperlukan kiat-kiat sebagaimana telah disampaikan oleh Kriyantono (2006) yang meliputi: Kompetensi Subjek Riset; Trustworthines; Persetujuan Intersubjektivitas; dan Conscientization. Autentifikasi penelitian ini dilakukan dengan cara meng-capture secara langsung adegan. Sementara proses triangulasi dilakukan dengan cara mengkonfirmasi hasil denotasi, konotasi, dan mitos yang tertuang dalam The Librarian Season 1 dalam peta tanda Roland Barthes dengan KDKI dan juga konsep filsafat manusia Driyarkara.

Result & Discussion

The Librarian terbit pertama kali pada 30 November 2017 melalui platform Ciayo Comics. Komik ini bergenre horror-thriller. Saat penelitian ini The Librarian telah menyelesaikan musim keempat penerbitan komik tersebut. Sebagai sebuah komik digital terhitung laris manis di pasaran. Hal tersebut dilihat dari jumlah penggemar setianya yang sekarang telah mencapai 48,6 ribu subscriber, 4.922.039 kali dilihat, dan 342.535 disukai oleh pembaca serta mampu menyabet gelar Comic of the Year 2019 pada platform Ciayo Comics. Komik ini dikreasi oleh seorang komikus bernama pena KayR801. Pembaca komik dapat melihat tampilan judul, sinopsisnya, dan daftar isi The Librarian pada beranda (gambar 4). Beranda tersebut menampilkan ilustrasi karakter-karakter The Librarian yang telah berhasil memperoleh penghargaan Comic of the Year 2019 pada platform Ciayo Comics. Keterangan penghargaan tersebut ditampilkan pada beranda untuk menarik minat para pembaca baru. Setelah pembaca berada pada beranda, para pembaca akan diarahkan pada link episodeepisode The Librarian dari season 1 hingga season 4, yang dapat dipilih dengan mengklik link episode yang ingin dibaca. Secara umum dari segi cerita, The Librarian bercerita tentang seorang pustakawan yang memiliki koleksi yang tak wajar di perpustakaan. Pustakawan atau penjaga perpustakaan tersebut bernama Miche. Cerita komik ini dimulai dari bagian prolog. Karakter dikenalkan secara eksplisit bahwa ia adalah seorang penjaga perpustakaan dengan koleksikoleksi unik pada prolog The Librarian. Koleksi-koleksi unik yang dimaksud seperti kumpulan mantra sihir, buku cara memanggil arwah, simbol-simbol kuno, dan buku yang dilarang terbit oleh pemerintah. Episode prolog juga telah diperkenalkan pada situasi mistis melalui terjadinya peristiwa yang aneh dan mengejutkan. Peristiwa itu terjadi ketika pemustaka perempuan yang datang ke perpustakaan yang dikelola secara sengaja memegang salah satu buku koleksinya saat sedang mengambil sebuah kue untuk pemustaka perempuan tersebut. Dengan sigap, kepala pemustaka perempuan itu ditenggak oleh buku berwana hitam dengan mata satu dan bertangan tiga. Kepala pemustaka perempuan itu pun lenyap seketika. Anehnya, beberepa scene berselang perempuan itu berganti kepala dengan kepala baru yang tidak lain adalah hantu dalam buku yang merenggut kepalanya. Episode prolog menyiratkan nilai tentang karakter yang melakukan layanan perpustakaan dengan penuh keramahan. Hal ini menunjukkan adanya karakter karya pelayanan yang terwujud dalam pengenalan koleksi perpustakaan dan pengenalan karakter pemustaka. The Librarian Season 1 menerbitkan sebanyak 12 episode reguler dengan sebuah prolog, serta Valentoon's Week: Memento, dan Trivia: Extra sebagai dua episode tambahan. Dalam setiap episode, peristiwa-peristiwa aneh dan mengerikan yang terjadi di perpustakaan yang dikelola Miche menjadi latar cerita. Seperti pada episode perdana, ketika terdapat seorang pemustaka laki-laki yang memiliki gangguan sleep paralysis datang ke perpustakaan untuk berteduh dari hujan lebat. Pemustaka tersebut diberi teh yang berisi obat tidur. Pemustaka laki-laki itu pada akhirnya sudah bukan lagi manusia biasa, karena dimulutnya ada hal aneh yaitu lubang-lubang pada lidah yang dapat bergerak sendiri. Episode ini diberi judul “Perfection”. Episode satu menyiratkan nilai tentang personalisasi layanan pustakawan kepada pemustaka bersedia menjadi pendengar yang baik dari setiap kebutuhan bahkan keluhan. Episode 2 bertajuk “Magic Circle”. Episode ini ada seorang perempuan yang datang ke perpustakaan melalui lingkaran sihir. Perempuan tersebut bermaksud meminjam buku pemanggil yang tersimpan di perpustakaan. Lewat buku pemanggil, perempuan berambut pirang tersebut dapat bertemu sang nenek yang telah mendekam di neraka. Perempuan itu membawa mayat neneknya ke dunia dengan harapan agar dapat hidup bersama kembali. Namun sayang, harapannya tak menjadi kenyataan. Sebab, mayat nenek tersebut malah berubah menjadi hantu dan menggerogoti tubuh sang gadis berambut pirang. Muncul seorang karakter baru yang bernama Sara pada episode ini. Sara merupakan rekan Miche yang berwujud seorang perempuan berambut lurus pendek yang memiliki sebuah mata di tengah wajahnya dan empat bibir bergigi bertaring. Episode kedua menyiratkan nilai tentang perlunya pustakawan memahami kebijakan restriksi informasi dalam sebuah buku sehingga saat memberikan informasi perlu disesuaikan dengan karakter pemustaka misal seperti usia atau latar belakang pendidikan. Hal aneh dan mengerikanpun berlanjut pada awal episode 3 dimulai. Tiba-tiba terdapat sebuah mobil mainan yang datang menghampiri Miche yang sedang membawa buku. Ketika memberi ucapan selamat datang kepada mobil mainan itu, tiba-tiba diserang oleh zombie berkepala badut menggunakan kapak yang mengakibatkan kepala hampir terbelah menjadi dua. Meski kepalanya hampir terbelah menjadi dua, tetap baik-baik saja. Malahan membantu menyembuhkan para zombie berkepala badut yang tiba-tiba menyerangnya tersebut. Episode ini berjudul “The Clowns” dan akan berlanjut pada episode ke-4. Episode ke-4 The Librarian Season 1 dibuka dengan adegan Miche yang sedang menjelaskan fungsi perpustakaan kepada tiga zombie berkepala badut yang bersamanya. Miche mengajak ketiga zombie berkepala badut tersebut masuk ke dalam neraka agar dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya pada episode ini. Ketiga zombie berkepala badut itu pun masuk tenggelam di dalam bara api neraka bersama sesosok iblis yang besar. Adegan sesosok laki-laki yang muntah dan mimisan berkepala yang sudah dipenggal, yang tak lain adalah sosok zombie berkepala badut tersebut ditampilkan pada akhir episode. Episode 3 dan 4 menyiratkan nilai tentang fungsi seorang pustakawan referensi yang memahami filosofi pekerjaannya sebagai agent of change yang senantiasa berupaya memecahkan masalah pemustaka menggunakan referensi terpercaya dengan validitas tinggi sebagai solusi bagi pemustaka. Episode ke-5 The Librarian Season 1 berjudul “Pig”. Episode ini menceritakan seorang perempuan yang pada malam hari datang ke perpustakaan untuk mengembalikan sebuah koleksi milik perpustakaan yaitu sebuah topeng kepala babi. Perempuan tersebut kemudian berubah menjadi sesosok monster ketika ia kembali ke rumahnya. Makanan yang ada di kulkas dihabiskannya. Ayah dan ibunyapun ia makan. Hal ini terjadi karena pemustaka perempuan tersebut sempat menggunakan koleksi topeng kepala babi milik perpustakaan yang ia temukan tergeletak di samping sebuah vending machine. Episode 5 menyiratkan nilai bahwa pustakawan perlu memberikan apresiasi kepada pemustaka yang telah ikut menjaga keutuhan koleksi perpustakaan. Ada seorang pemustaka laki-laki yang memiliki dua orang anak perempuan dan seorang istri yang datang ke perpustakaan untuk menemui seseorang karena ada agenda rapat pada episode ke-6. Sayang, rapat tersebut ternyata dijadwalkan ulang, jadi pemustaka laki-laki tersebut langsung pulang. Sebelum pulang, pemustaka laki-laki tersebut mendapatkan cinderamata sebuah pembatas buku (bookmark). Episode ke-7 merupakan lanjutan episode ke-6 yang berjudul “Bookmark”. Sosok pemustaka laki-laki tersebut mengalami sebuah mimpi buruk yang membuatnya harus datang kembali ke perpustakaan. Episode ke-6 menyiratkan nilai bahwa pustakawan perlu menghargai pemustaka, sekalipun merupakan passive user atau potencial user, tetap menunjukkan layanan yang profesional, sehingga mendorong citra perpustakaan sebagai ikon pengelola informasi yang terverifikasi dan nyaman digunakan oleh pemustaka. Episode 8 dan 9 The Librarian Season 1 memiliki judul yang sama yaitu“Ritual”. Sama seperti judul dari kedua episode tersebut, cerita pada dua episode ini adalah tentang sebuah ritual pemanggilan arwah yang berujung pada malapetaka. Ritual pemanggilan arwah tersebut dilakukan oleh tiga remaja bernama Claudia, Evan, dan Julian. Tata cara ritual tersebut diambil dari buku upacara pemanggilan arwah yang dicuri dari perpustakaan. Ada seseorang yang tiba-tiba membunuh Evan serta merampas buku ritual pemanggil arwah yang ia curi dari perpustakaan pada bagian akhir episode ke-9. Episode 8 dan 9 menyiratkan nilai bahwa sikap profesionalisme pustakawan perlu diwujud nyatakan dalam bentuk apresiasi kepada pemustaka, tidak membedakan kualitas layanan, termasuk pada pemustaka yang memiliki kecenderungan melakukan vandalisme sekalipun. Profesionalisme juga dilihat kebijaksanaanya dalam melindungi pemustaka dari informasi yang tidak kompatibel sesuai kondisi pemustaka. Misalkan restriksi informasi yang dilakukan pustakawan dalam sebuah perpustakaan perlu dilandasi dasar untuk melindungi pemustaka sebagai konsumen. Episode selanjutnya berjudul “Divine” yang dibuka dengan adegan perkenalan seseorang laki-laki yang pada episode 8 membunuh Evan. Karakter ini bernama Zvar. Setelah membunuh Evan, Zvar ingin membunuh Miche untuk menghentikan seluruh peristiwa tak wajar semenjak adanya perpustakaan. Episode ini juga menceritakan adegan kilas balik masa lalu sewaktu masih kecil bersama ibunya. Episode 10 menyiratkan nilai bahwa pustakawan ideal adalah mampu memberikan solusi yang solutif bagi permasalahan-permasalahan akses informasi yang dialami pemustaka sehingga melalui tindakan pustakawan tersebut perpustakaan dapat menjadi gambaran lembaga yang mampu memberdayakan masyarakat melalui pengetahuan. Episode 11 dan 12 memiliki judul yang sama yaitu The Librarian. Kedua episode ini mengungkap masa lalu Miche sewaktu kecil hingga proses dapat menjadi penjaga perpustakaan mistis tersebut. Ada dua karakter baru yang dikenalkan oleh KayR801 pada episode 11 dan 12. Dua karakter itu adalah Ailbhe dan sesosok yang disebut sebagai malaikat pendosa yang ternyata adalah Zvar. Episode 11 dan 12 menyiratkan nilai bahwa tanggung jawab pustakawan sebagai inspirator di tengah masyarakat lebih lanjut dapat memberikan dampak signifikan berupa pemberdayaan masyarakat marjinal yang mengalami kesulitan akses informasi, dan pengetahuan, sehingga melalui implementasi tanggung jawab tersebut, pustakawan dapat menginspirasi masyarakat. Dedikasi profesi pustakawan mencapai titik idealnya jika berdedikasi penuh dan berkomitmen kuat memberikan seluruh pengetahuan yang dimilikinya untuk tujuan pemberdayaan masyarakat. Dua episode tambahan dalam The Librarian Season 1 yaitu berjudul Valentoon's Week: Memento dan Trivia: Extra. Episode Valentoon's Week: Memento menceritakan seorang pemustaka perempuan yang menjadi pembunuh berantai ketika hari Valentine tiba. Pembunuhan dilakukan di tempat tinggal perempuan tersebut. Saat ia mengajak kencan, ternyata Miche sudah mengetahui modus yang dilakukan pemustaka perempuan ini yang berencana menjadikan sebagai korban selanjutnya. Pemustaka perempuan ini pun marah dan ingin membunuh.Tetapi akhirnya pemustaka perempuan tersebut yang harus mati karena dihabisi oleh monster yang bersemayam di perpustakaan. Episode Valentoon's Week: Memento menyiratkan nilai bahwa pustakawan perlu senantiasa mengembangkan tanggung jawab profesi baik bagi diri sendiri, sesama rekan sejawat, masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Hal ini dapat diimplementasikan dengan melakukan dokumentasi pekerjaan yang dilakukannya, misal melalui menulis pengalaman pribadi saat menjalankan profesi. Hasil dokumentasi berupa tulisan tersebut dapat menjadi referensi bagi pustakawan lain, sekaligus sebagai evaluasi diri untuk meningkatkan layanan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Episode tambahan yaitu Trivia: Extra menceritakan fakta-fakta menarik behind the scenes The Librarian. Fakta-fakta behind the scenes tersebut yaitu: Miche adalah pustakawan pengganti Ailbhe, pustakawan sebelumnya; Miche yang sekarang sudah tidak lagi memakan makanan manusia tetapi dia suka membuat teh dan kue untuk pemustaka yang berkunjung ke perpustakaannya; karakternya berawal coretancoretan iseng sang kreator The Librarian yaitu KayR801; awalnya karakter adalah ceroboh dan lugu untuk menemani Sara. Salah satu karakter yang muncul, tepatnya pada episode ke-2 season 1; serta monster-monster yang muncul pada The Librarian dilatarbelakangi oleh penyakit phobia dan mental disorder. Salah satu contohnya seperti monster berkepala badut terinspirasi dari penyakit Coulrophobia atau phobia terhadap badut. The Librarian Season 1 menjadikan pustakawan sebagai pusat cerita dengan memunculkan representasi sosok bernama Miche. Sekalipun kisah seluk beluk keseharian dikemas dalam cerita-cerita fiksi bergenre horor, representasi sebagai pustakawan tetap digambarkan sebagai seorang profesional dalam menjalankan pekerjaannya. Representasi The Librarian Season 1 dalam tokoh sarat maknamakna konotatif wujud pribadi dan kepribadian yang tersirat dalam setiap denotasi adegan tiap episodenya, yang mana makna konotatif tersebut membawa pesan yang melukiskan kesan kuat tentang sosok pustakawan pada masyarakat pembacanya. Di balik adegan-adegan pada The Librarian season 1 yang sekilas terkesan horor, tersirat kesan yang kuat tentang prinsip dasar karakter pustakawan yang direpresentasikan oleh komikus KayR801 ke dalam karakter Miche. Representasi tersebut terlihat dari sikap kepada para pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan dan pemahaman terhadap perpustakaan, serta cara mengelola konten atau pengetahuan yang ada di perpustakaan hingga upaya mengatasi berbagai masalah yang mengancam keutuhan koleksi dan eksistensi perpustakaan yang dikelolanya. Hal tersebut sekaligus menunjukkan kesan pentingnya profesi pustakawan yang perlu memiliki karakter dan kepribadian serta dedikasi dalam menjalankan profesinya. Komikus The Librarian yaitu KayR801 pun menyatakan tentang kompleksitas tugas seorang pustakawan seperti yang dinyatakan dalam kutipan wawancara KayR801 sebagai berikut: “Perpustakaan menyimpan banyak buku yang unik dan bahkan misterius. Merupakan setting yang sempurna untuk komik horror-misteri seperti The Librarian. Tugas pustakawan sebenarnya cukup kompleks namun banyak yang belum tahu. Saya rasa memiliki tokoh utama seorang pustakawan akan memberi novelty/nilai kebaruan dalam karya yang saya buat.” Lebih lanjut KayR801 menengarai bahwa masih banyak orang yang belum tahu kompleksitas tugas pustakawan tersebut. Oleh karena itu, KayR801 berharap dapat memberikan nilai kebaruan pada karyanya dengan mengangkat profesi pustakawan yang dianggapnya dapat menjadi potensi novelty pada karya yaitu The Librarian. Langkah yang dilakukan KayR801 tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sebagai kreator, memang sengaja ingin mengangkat karakteristik pustakawan yang direpresentasikan lewat tokoh Miche sebagai karakter tokoh utama dalam The Librarian. Merujuk pada pernyataan KayR801 tersebut juga nampak keinginan sang komikus untuk memperkenalkan esensi kompleksitas profesi pustakawan kepada pembacanya dalam representasi Miche sebagai tokoh utama karya komiknya yang diberi judul The Librarian (Sang Pustakawan). The Librarian Season 1 memiliki 13 episode dari keseluruhan 15 episode yang merepresentasikan pustakawan. Alur cerita The Librarian Season 1 adalah maju mundur, sehingga awal cerita dalam komik ini bermula pada episode 10 dan 11 bukan dari episode Prolog ataupun episode 1. Episode 10 yang berjudul “Divine” dan episode 11 yang berjudul “The Librarian (1)” sebagai awal cerita merepresentasikan pilar pertama dalam KDKI yaitu kepustakawanan sebagai panggilan hidup (Sudarsono, 2018). Representasi panggilan hidup pada pribadi karakter Miche tidak hanya ditunjukkan dalam satu adegan tetapi direpresentasikan dalam lima adegan sekaligus dalam dua episode tersebut. Representasi panggilan hidup ini dapat disebut sebagai kemauan menjadi pustakawan (Sukmono, 2013). Representasi panggilan hidup tersebut salah satunya direpresentasikan pada episode 10 ketika masih belia secara sengaja dijatuhkan oleh ibunya sendiri ke dalam jurang. Ailbhe sebagai pustakawan muncul sebagai sosok penolong dan hadir sebagai sosok agent of change yang mengubah nasib dari sangat buruk menjadi lebih baik sehingga menginspirasi untuk menjadi pustakawan pada masa depan (ketika dewasa). Panggilan hidup yang direpresentasikan Miche dalam episode 10 dan 11 juga mampu memunculkan semangat hidup sehingga kepustakawanan sebagai semangat hidup (Sudarsono, 2018) direpresentasikan juga pada kedua episode ini. Salah satu adegan yang merepresentasikan semangat hidup adalah konotasi adegan kesan yang kuat tentang Ailbhe sebagai pustakawan dan perpustakaan yang dikelolanya telah menjadi tempat perlindungan bagi hidupnya yang baru setelah diselamatkan oleh Ailbhe. Sosoknya yang telah menyelamatkan hidupnya mampu memotivasi untuk menjadi seorang pustakawan. Miche pun mengagumi cara mengelola perpustakaan dan memberikan layanan kepada pemustaka. Semangat hidup yang sudah ada pada dalam diri Miche sejak berusia belia membuat karakternya sebagai pustakawan dalam The Librarian Season 1 merepresentasikan karya pelayanan (Sudarsono, 2018) dalam diri Miche sebagai seorang pustakawan. Karya pelayanan yang dilakukan tidak hanya memberikan pelayanan kepada pemustaka, tetapi juga dapat melembagakannya sebagai suatu social practice dengan memberikan nilai pelayanan yang dilayaninya hingga mencapai titik satisfactorily resolved dan selalu berempati kepada para pemustaka yang dilayaninya. Bersamaan dengan karya pelayanan direpresentasikan melalui karakter Miche pada The Librarian Season 1, representasi karya profesional pustakawan juga nampak pada konotasi adegan yang memunculkan sosok dalam komik ini. Representasi karya pelayanan dan karya profesional tersebut secara konsisten direpresentasikan dalam sosok karakter tokoh sejak episode Prolog hingga episode 9 (kecuali pada episode 3) dan episode 12 serta episode khusus Valentoon's Week: (Memento), yang secara konsisten menunjukkan sebagai pustakawan yang selalu memberikan layanan penuh keramahan, kesopanan, dan kesantunan serta mengenal setiap koleksi yang ada di perpustakaannya sehingga dapat memberikan koleksi sesuai kebutuhan pemustaka yang datang. Salah satu episode yang merepresentasikan kepustakawanan sebagai karya pelayanan dan kepustakawanan sebagai karya profesional (Sudarsono, 2018) direpresentasikan sejak episode awal The Librarian Season 1 terbit ke publik yaitu episode Prolog. Orientasi perpustakaan yang dilakukan Miche pada episode Prolog merepresentasikan karya pelayanan dan karya profesional (Sudarsono, 2018). Adegan orientasi perpustakaan tersebut, menunjukkan kepiawaian sosok sebagai pustakawan digambarkan benar-benar memahami isi koleksi-koleksi perpustakaannya. Miche dengan mudah memberikan saran pilihan-pilihan koleksi yang sesuai minat ataupun kebutuhan pemustaka. Secara keseluruhan, keempat pilar KDKI yang direpresentasikan dalam diri karakter Miche juga memunculkan representasi empat dari lima daya utama yang bertujuan menyangga dan mengokohkan keempat pilar KDKI (Sudarsono, 2018). Adapun empat daya utama yang direpresentasikan melalui karakter Miche tersebut adalah kemampuan berpikir, menulis, membaca dan menjunjung tinggi etika. Sedangkan salah satu daya utama pada KDKI yaitu kewirausahaan, tidak ditemukan representasi pustakawan dalam The Librarian Season 1. Kemampuan berpikir Miche sebagai pustakawan direpresentasikan pada episode 2 yang berjudul “Magic Circle”. Pemahaman mengenai Buku Pemanggil dan kepeduliannya kepada pemustaka pada episode ini merepresentasikan kemampuan berpikir (Sudarsono, 2018) sebagai seorang pustakawan dapat memberikan saran koleksi yang sesuai untuk pemustaka. Saran ini juga dapat menjadi nilai pelayanan yang advanced bagi pemustaka. Kemampuan menulis Miche sebagai pustakawan direpresentasikan pada episode Valentoon's Week: Memento. Melalui kegiatan dokumentasi yang dilakukan sebagai pustakawan pada episode ini, Miche menulis pemikiran maupun hal-hal yang dirasakannya ketika menghadapi momen-momen tertentu merepresentasikan kemampuan menulis (Sudarsono, 2018). Kegiatan pendokumentasian diri (Christiani, 2021) yang dilakukan tersebut juga dapat digunakan untuk mengoptimalkan layanan yang ada di perpustakaan. Hasil dokumentasi tertulis pengalaman sebagai pustakawan tersebut dapat dijadikan sebagai koleksi perpustakaan, yang tentunya bisa juga dinikmati oleh pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan. Kemampuan membaca Miche sebagai pustakawan direpresentasikan pada episode 1 yang berjudul “Perfection”. Kegemaran membaca buku pada episode ini merepresentasikan kemampuan membaca seorang pustakawan secara harafiah. Kegemaran tersebut merupakan upaya pengembangan profesionalisme sebagai pustakawan yang tidak dapat lepas dari peran literatur yang dibacanya. Hal ini menegaskan lima daya utama penyangga yang mengokohkan empat pilar dalam KDKI (Sudarsono, 2018). Miche sebagai pustakawan yang menjunjung tinggi etika direpresentasikan pada episode 5 yang berjudul “Pig”. Keaktifan interaksi dengan masyarakat untuk memperoleh kembali koleksi perpustakaan yang hilang merepresentasikan Miche sebagai pustakawan yang menjunjung etika. Upaya tersebut sekaligus menjalankan peran profesionalnya sebagai the guardian of knowledge, khususnya dalam hal ini adalah menjaga keutuhan koleksi perpustakaan. Hal ini kembali menegaskan lima daya utama penyangga yang mengokohkan empat pilar dalam KDKI (Sudarsono, 2018). Kemampuan berwirausaha yang merupakan salah satu bagian daya utama pustakawan berdasarkan KDKI (Sudarsono, 2018) tidak direpresentasikan dalam diri Miche pada The Librarian Season 1. Kemampuan berwirausaha yang sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat profitable seperti membuka usaha baru ataupun membuka lapangan kerja baru tidak muncul dalam karakter sebagai pustakawan. Apabila dimaknai lebih lanjut, menurut Christiani (2021), esensi dari kemampuan berwirausaha tidak hanya terkait hal-hal yang sifatnya profitable, tetapi kemampuan berwirausaha dapat dimaknai secara lebih luas dan lebih humanis sebagai kemampuan memberdayakan masyarakat (enabling people). Sudut pandang tersebut serupa dengan Driyarkara yang semakin menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat atau kemampuan diri seseorang merupakan corak inti dari kewirausahaan (Sukmono, 2013). Lebih lanjut, dijelaskan bahwa corak ekonomi untuk menghidupi manusia di dunia. Corak tersebut merupakan corak kehidupan manusia yang selalu berusaha mengubah apapun yang dilihat manusia menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi yang lainnya, termasuk memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar pustakawan. Berdasarkan empat pilar dan lima daya utama tersebut, menurut KDKI dapat membentuk pustakawan sebagai profesi yang sangat manusiawi yaitu berupa tiga sasaran menjadi cerdas (Bright), kaya (Rich), dan benar (Right) (Sudarsono, 2018). Adapun karakter Miche sebagai pustakawan dalam The Librarian Season 1 merepresentasikan pustakawan yang cerdas dan menjadi benar dalam tiga sasaran antara ini. Karakternya tidak merepresentasikan sasaran antara menjadi kaya, karena sepanjang episode maupun adegan tidak ditemukan adegan ataupun episode yang dapat merepresentasikan hal-hal yang sifatnya profitable maupun profit oriented pada diri Miche sebagai pustakawan. Hal ini pun sejalan dengan tidak direpresentasikannya kemampuan berwirausaha. Kemampuan berwirausaha pada lima daya utama dalam KDKI, yang notabene kemampuan tersebut berkaitan erat dengan sasaran antara menjadi pustakawan kaya (Rich), yang menurut Sudarsono (2018) identik dengan hal-hal yang sifatnya profitable maupun profit oriented. Representasi pustakawan berdasarkan karakter pada KDKI yang terdapat pada karakter Miche telah merepresentasikan tujuan akhir KDKI yaitu menjadi manusia paripurna, hidup bahagia, dan berguna bagi sesama manusia (Sudarsono, 2018). Sekalipun tidak semua aspek KDKI direpresentasikan karakter Miche dalam The Librarian Season 1. Terdapat dua aspek dalam KDKI yang tidak dapat direpresentasikan karakter sebagai pustakawan yaitu kemampuan berwirausaha dan sasaran antara menjadi pustakawan kaya (Rich). Hakikatnya, KDKI merupakan sebuah kesatuan yang memiliki peran saling mengisi satu sama lain, sehingga apabila terdapat aspek yang tidak dipenuhi maka akan terjadi kekosongan pada kesatuan tersebut. Adapun dalam konteks ini adalah Miche telah merepresentasikan pustakawan yang cerdas (Bright) dan benar (Right). Akan tetapi Miche tidak secara eksplisit merepresentasikan pustakawan yang kaya (Rich), dalam artian secara materill. Akan tetapi jika pemaknaan ditarik pada konsep esensi kewirausahaan dalam sudut pandang enabling people (Sukmono, 2013; Christiani, 2021), maka secara implisit karakter Miche juga dapat dikatakan adalah bentuk representasi pustakawan yang kaya (Rich). Hal ini juga merujuk konsep eksistensi pribadi dan kepribadian dalam diri pustakawan (Sudarsono, 2018) yang mendasari konsep KDKI, karena pribadi yang benar-benar bersemayam dalam dirinya sendiri adalah pribadi yang berhasil mencapai titik manusia paripurna, bahagia, dan berguna bagi sesama, yang tentunya dalam konteks KDKI, apabila seorang pustakawan merepresentasikan empat pilar, lima daya utama dan tiga sasaran antara dalam menjalankan profesinya, maka niscaya dapat mencapai titik sebagai pustakawan paripurna, bahagia, dan berguna bagi sesama, seperti representasi tokoh Miche, dalam The Librarian Season 1. Meskipun KDKI merupakan panduan berkarya ideal bagi pustakawan, sebagaimana digambarkan oleh tokoh Miche dalam The Librarian Season 1. KDKI masih merupakan konsep dasar, sehingga masih perlu dirinci lebih lanjut terkait implementasi praktisnya. Misal dalam episode-episode yang ditampilkan, dedikasi karya yang ditunjukkan dengan sikap ramah tamah saat melayani, rasa kepemilikan yang tinggi terhadap koleksi perpustakaannya, apresiasi pada setiap pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan, memberikan layanan tanpa diskriminasi serta upaya untuk mengatasi akses informasi dan pengetahuan pemustaka. Jika diamati secara lebih mendalam, detail sikap tersebut merupakan halhal yang muncul ke permukaan sebagai hasil pengembangan karakter berdasarkan KDKI, akan tetapi korelasi kuat tersebut belum dirinci lebih lanjut, sehingga KDKI memerlukan pembahasan rincian implementasi aplikatif, agar lebih mudah dipraktekkan, terutama bagi pengembangan dan pemaknaan karakter diri sebagai seorang pustakawan.

Conclusion

Berdasarkan hasil kajian semiotika Roland Barthes pada The Librarian Season 1 dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai dasar konsep KDKI yang terdiri dari empat pilar penyangga (panggilan hidup, semangat hidup, karya pelayanan, dan karya professional), lima daya utama (kemampuan berpikir, kemampuan menulis, kemampuan membaca, kemampuan wirausaha, dan menjunjung tinggi etika), tiga sasaran antara (pustakawan cerdas, kaya, dan benar) dan satu tujuan akhir menjadi manusia paripurna, bahagia, dan berguna bagi sesama direpresentasikan dalam tokoh Miche, sebagai sosok pustakawan. Nilai-nilai KDKI dapat ditransferkan kepada pembaca melalui representasi tokoh pustakawan dalam The Librarian. Penelitian ini memiliki limitasi pembahasan sebatas season 1 The Librarian, sehingga masih memiliki potensi dikaji lebih lanjut dengan meneliti seluruh season.