Kembali
16
1
2024 Media Informasi Vol 33 · 2 ISSN 2829-2707

Representasi Pustakawan di Media Massa dan Poster Peringatan Hari Pustakawan Nasional

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Di era teknologi ini, pustakawan mencoba untuk mendobrak stereotipe tentang pustakawan dengan sifat kaku, berkacamata tebal, dan kuno. Representasi pustakawan tidak hanya digambarkan dalam poster, namun juga dalam berbagai media massa, seperti film dengan durasi panjang, film pendek, serial televisi, bahkan video musik. Di Indonesia telah banyak yang mengulas tentang representasi perpustakaan dan pustakawan yang muncul dalam media massa, yakni perfilman. Selain itu, poster Hari Pustakawan Nasional merupakan cara pustakawan berkomunikasi dengan masyarakat. Poster tersebut meliputi gambar pustakawan dan buku yang menjadi ikon perpustakaan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan representasi pustakawan yang termuat di media massa seperti film pendek, film berdurasi panjang, dan pada poster Hari Pustakawan Nasional. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif deskriptif. Analisis semiotik Roland Barthes digunakan dalam tulisan ini untuk menganalisis representasi pustakawan dalam serial film pendek Mr. Bean berjudul The Library, film berdurasi panjang berjudul The Plan Man, dan poster peringatan Hari Pustakawan Nasional. Pustakawan digambarkan sebagai orang kolot, berpakaian rapi, namun tetap ramah pada tahun 90-an, dan seiring berjalannya waktu peraturan perpustakaan dan penampilan pustakawan diubah sesuai dengan perkembangan zaman dan gaya berpakaian masa kini. Representasi pustakawan yang positif telah diusahakan dan dikomunikasikan oleh pustakawan kepada masyarakat melalui penampilan dan sikap. Hal ini tercermin dari media massa terutama poster sebagai medium yang merepresentasikan citra positif pustakawan saat ini. Masa kini, pustakawan direpresentasikan sebagai orang-orang trendy, mengikuti perkembangan zaman baik di ranah busana, teknologi, informasi, dan pengetahuan.

Abstract

The representation of librarians is not only depicted in posters, but also in various mass media, such as featurelength films, short films, television series, and even music videos. In Indonesia, many have reviewed the representation of libraries and librarians that appear in mass media, namely films. In addition, the National Librarian Day poster is a way for librarians to communicate with the public. The poster includes images of librarians and books that are icons of the library. This paper aims to explain the representation of librarians contained in mass media such as short films, feature-length films, and National Librarian Day posters. The method used in this paper is descriptive qualitative. Roland Barthes' semiotic analysis is used in this paper to analyze the representation of librarians in the Mr. Bean short film series entitled The Library, the feature-length film entitled The Plan Man, and the National Librarian Day commemoration poster. Librarians were depicted as oldfashioned, neatly dressed, but still friendly in the 90s, and over time library regulations and librarian appearances were changed according to current developments and clothing styles. A positive representation of librarians has been attempted and communicated by librarians to the public through appearance and attitude. This is reflected in the mass media, especially posters as a medium that represents a positive image of librarians today. Today, librarians are represented as trendy people, following current developments in the realm of fashion, technology, information, and knowledge.
Keywords: Librarian's day poster · Librarian representation · Mass media

Method

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis semiotika. Pendekatan kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial (Creswell, 2016). Analisis yang digunakan dalam tulisan ini adalah konsep semiotika yang dibawa oleh Roland Barthes yang memiliki tiga unsur, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Denotasi adalah tingakatan pertama dalam membaca tanda, konotasi merupakan tingakatan kedua dalam membaca tanda, dan mitos muncul berdasarkan makna denotasi dan konotasi yang menjadi interpretasi terbuka.

Discussion

Representasi Representasi adalah sesuatu yang mewakili atau diwakili. Representasi melibatkan penggunaan bahasa yang berasal dari produksi makna konsep dalam pikiran manusia; tanda; dan gambaran yang bersifat mewakili sesuatu, dengan hadirnya representasi, manusia dapat menafsirkan dunia secara bermakna (Hall, 2020). Pitkin (2023) mengartikan representasi sebagai perwakilan manusia terhadap manusia lain. Representasi ini dapat berupa gambar, suara, hingga tulisan yang mana dalam bentuk tersebut merupakan tanda yang dapat dimaknai. Selain itu, tanda dapat dimaknai dengan adanya sistem representasi yang saling terkait. Hal tersebut yang memungkinkan kita memberi makna di antara berbagai hal seperti orang, objek, peristiwa, ide abstrak, dan sebagainya (Hall, 2020). Semiotika digunakan untuk memaknai tanda baik berupa objek, orang, gambar, suara, peristiwa, dan sebagainya. Tanda yang dimaksud dalam tulisan ini adalah gambar bergerak atau film yang kemudian di screenshot untuk dianalisis, gambar, tulisan yang tertuang dalam poster peringatan hari pustakawan nasional. Konsep semiotika yang dibawa oleh Roland Barthes terdapat tiga unsur, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Denotasi merupakan tingkatan pertama dalam tanda, yakni menggambarkan makna literal yang mengacu pada apa yang dilihat orang tanpa dikaitkan dengan ideologi atau budaya masyarakat (Bouzida, 2014). Konotasi adalah interaksi yang digambarkan ketika tanda bertemu dengan perasaan dan nilai budaya (Bouzida, 2015). Unsur mitos dikembangkan oleh Barthes untuk mengkritisi budaya media (Rahayu, 2020). Mitos merupakan ujaran yang tidak bersalah dan mitos bagi Barthes adalah ide berpikir dan mengonseptualisasikannya dalam suatu budaya (Bouzida, 2015). Pustakawan dan Media Massa Pustakawan merupakan seseorang yang memiliki tugas dalam pengelolaan pengembangan koleksi perpustakaan dan layanan di perpustakaan serta bertanggung jawab atas manajemen pengelolaan perpustakaan (Librarianship Studies & Information Technology, 2021). Menurut Michael Gorman, yang memiliki tugas dalam mengembangkan dan menjaga ilmu pengetahuan adalah profesi pustakawan (Suwarno, 2019). Profesi pustakawan digambarkan memiliki stereotipe dalam media massa. Penelitian yang dilakukan oleh Mayesti (2023) menunjukkan profesi pustakawan dalam media massa, yakni film berjudul Kamboja bahwa pustakawan merupakan profesi perempuan yang mengacu pada bias gender; pustakawan memiliki kekuasaan yang mendominasi pengguna perpustakaan; dan pustakawan merupakan orang yang pendiam dan susah untuk didekati atau dapat dikatakan tidak ramah. Namun demikian, usaha untuk mendobrak stereotipe tentang pustakawan juga dilakukan dalam media massa, misalnya Saraswati & Prasetyawan (2024) yang meneliti profesi pustakawan dalam film drama korea berjudul One Night Spring yang menujukkan profesi pustakawan adalah orang yang ramah dan komunikatif. Artinya pustakawan mudah didekati dan mulai mendekatkan diri kepada pemustaka atau berorientasi pada pengguna. Pustakawan masa kini juga menyesuaikan penampilan mereka yang sesuai dengan perpustakaan mana tempat mereka bekerja, misalnya jika di perpustakaan sekolah maka pustakawan menggunakan pakain warna-warni, apabila di perpustakaan nasional maka menggunakan pakaian semi-formal atau formal, dan apabila di bidang internasional seperti IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions) maka diperlukan untuk berpenampilan yang memiliki wibawa (Salib, 2018). Representasi Pustakawan dalam Media Massa Media kini telah menjadi budaya masyarakat. Media memiliki kekuatan untuk membentuk realitas manusia (Miconi & Serra, 2019). Lisa Gitelman mendefinisikan media sebagai struktur komunikasi yang terwujud secara sosial, struktur tersebut mencakup teknologi dan komunikasi yang merupakan praktik budaya (Miconi & Serra, 2019). McLuhan menyatakan media adalah pesan. Media dapat berupa majalah, koran, buku, tabloid, televisi, internet dan radio (Saragih, 2020) dan itu semua disebut dengan media massa. Di Indonesia telah banyak yang mengulas tentang representasi perpustakaan dan pustakawan yang muncul dalam media massa, yakni perfilman. Penelitian tentang representasi pustakawan dan perpustakaan pernah dilakukan oleh Cahyani (n.d.) dalam film “Adriana” yang menunjukkan bahwa perpustakaan adalah ruang yang membosankan dan hanya berisi bukubuku tua dan tebal. Penggambaran perpustakaan dari hasil penelitian tersebut semakin mendukung persepsi masyarakat tentang pustakawan yang berkacamata, kutu buku, dan pustakawan di perpustakaan adalah seorang perempuan. Namun demikian, perpustakaan juga dianggap sebagai tempat mencari informasi. Penelitian lain tentang representasi pustakawan dilakukan oleh Juvitasari (2020) yang menyajikan sebuah analisa tentang bagaimana seorang pustakawan digambarkan dalam film animasi Upin dan Ipin. Pustakawan yang dimunculkan memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dari hasil penelitian Cahyani, yakni pustakawan dalam serial film Upin dan Ipin tersebut adalah pustakawan laki-laki yang rapi, rambut klimis, berkacamata, dan selalu jengkel jika ada pengguna perpustakaan yang tidak mengembalikan buku pada tempatnya. Perbedaan pustakawan yang dimunculkan dari film Adriana dan serial animasi Upin dan Ipin terletak pada gender yang berperan sebagai pustakawan. Namun demikian, pustakawan tersebut tetap ramah ketika melayani perngguna perpustakaan. Tidak sedikit film yang merepresentasikan perpustakaan adalah ruang yang kurang pencahayaan, membosankan, dan sunyi senyap. Begitu pula dengan pustakawan yang selalu nampak kaku dan berpenampilan klimis. Seperti dalam serial Mr. Bean yang tidak pernah tayang di televisi dengan judul The Library yang merepresentasikan perpustakaan adalah ruang sunyi, senyap, tenang dan aman untuk peneliti, mahasiswa, dosen, atau siapa pun yang membutuhkan informasi untuk pengetahuannya. Segala koleksi yang tersedia tersimpan dengan baik dan sangat dihargai oleh pustakawan maupun pengguna perpustakaan. Penggambaran pustakawan dalam film televisi serial tersebut menunjukkan laki-laki tua dengan kacamata dan setelan jas yang rapi, nampak tegas, disiplin, teliti, namun tetap ramah. Pada gambar 1 ditunjukkan bagaimana pustakawan menggunakan isyarat kepada Mr. Bean untuk tidak membuat suara dengan cara jari telunjuk ditempelkan pada bibir. Mr. Bean yang diberi isyarat tersebut memutuskan untuk berjalan sangat pelan sehingga tidak menimbulkan suara decitan lantai pada setiap langkah. Hal ini menujukkan bahwa pustakawan memiliki peran untuk mengendalikan suara di perpustakaan dan sikap pustakawan yang tegas membuat seluruh pemustaka mematuhi aturan tersebut, misalnya pada adegan selanjutnya, Mr. Bean sangat hati-hati saat membuka lembaran buku agar tidak mengeluarkan suara dan menjaga ketenangan di perpustakaan. Penggambaran pustakawan pada serial The Library ini menunjukkan tipe pustakawan kuno. Sumber: (Library | Special Episode | Classic Mr.Bean (youtube.com) Gambar 1. Serial Mr. Bean “The Library” Berbeda lagi dengan penggambaran pustakawan dalam film The Plan Man, film asal Korea Selatan yang tayang pada tahun 2014. Dalam film tersebut merepresentasikan pustakawan adalah pekerjaan yang aman bagi orang dengan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) bahkan aman bagi orang-orang yang ingin “bersembunyi” dari skandal. Di sisi lain, pustakawan dalam film tersebut merepresentasikan orang-orang dengan gaya berpakaian bebas sesuai dengan tren fashion di Korea Selatan. Peringatan kata “Tenang” atau “Tidak boleh ramai” dalam area perpustakaan tidak diperlihatkan dalam film tersebut, selain itu peraturan “Tidak boleh makan di perpustakaan” juga tidak muncul, sebab pengguna perpustakaan diperbolehkan untuk mengonsumsi biskuit di dalam perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa peraturan ketat di perpustakaan menjadi lunak dan mengalami perubahan. Berdasarkan peraturan yang mengalami perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pustakawan tidak lagi kuno dan kolot. Apabila pada serial The Library seluruh pemustaka menggunakan pakaian rapi, seperti Mr. Bean yang menggunakan setelan jas rapi, begitu pula dengan pemustaka lain yang menggunakan pakaian rapi saat mengakses perpustakaan. Berbeda halnya di film The Plan Man, pustakawan maupun pemustaka tidak terikat dengan aturan pakaian. Hal ini ditunjukkan pada gambar 2 yaitu seorang perempuan yang berperan sebagai pustakawan dengan menggunakan atasan tanpa lengan dengan motif bunga. Film The Plan Man tersebut pada salah satu adengannya menunjukkan seluruh pustakawan yang bekerja di perpustakaan dan pustakawan tersebut tidak semuanya kuno, beberapa diantaranya adalah pustakawan muda tanpa kacamata dengan pakaian atau fashion kekinian. Meskipun demikian, pustakawan senior tetap dibutuhkan sebagai penasihat sebab dianggap ahli dan profesional di bidang perpustakaan. Hal ini menujukkan bahwa peraturan perpustakaan terkait pakaian telah berubah. Terdapat kelonggaran pada aturan tersebut dan hal ini membuat pustakawan dan pemustaka memiliki rasa nyaman saat mengakses perpustakaan. Penggambaran pustakawan pada serial The Library dan pada film The Plan Man nampak jauh berbeda. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak perbedaan dan perubahan pada peraturan perpustakaan seiring berjalannya waktu dan perkembangan beradaban manusia. Sumber: The Plan Man Gambar 2. Pustakawan diperbolehkan makan di perpustakaan Penggambaran lain tentang perpustakaan dan pustakawan selain dalam dunia perfilman, tetapi masih dalam ranah media, ada dalam video musik Taylor Swift berjudul The Story of Us yang menggambarkan gedung tua perpustakaan beserta koleksi bukunya yang tebal dan nampak kuno. Namun ada perbedaan yang ditunjukkan dalam video musik tersebut, yakni pustakawan memperhatikan pencahayaan sehingga tempat baca untuk pengguna perpustakaan berada pada area yang cukup luas dengan jendela besar pada bagian kanan dan kiri ruangan. Selain itu, perpustakaan bukan lagi tempat yang mengedepankan kata “Tenang.” Perpustakaan telah diubah oleh Taylor Swift sebagai tempat yang baik untuk mengekspresikan diri melalui musik, dan bermusik di perpustakaan sangat diperbolehkan. Hal ini menujukkan bahwa pustakawan mulai terbuka dengan ide baru dalam memanfaatkan perpustakaan dan inovasi fungsi perpustakaan. Ini adalah pemikiran yang dapat mengubah citra pustakawan menjadi lebih baik, tidak melulu berkacamata, kuno, namun asyik dan mendukung bakat pengguna perpustakaan dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Representasi perpustakaan dengan perspektif berbeda juga telah diteliti oleh Karunia (2022). Representasi Pustakawan dalam Poster Hari Pustakawan Nasional Lingkungan manusia dipenuhi dengan sejumlah besar media komunikasi yang masingmasing memiliki tugas tertentu, misalnya untuk menarik minat atau memotivasi dan poster adalah salah satu media komunikasi tersebut (Hristoforova et al., 2017). Poster Hari Pustakawan Nasional merupakan cara pustakawan berkomunikasi dengan masyarakat. Poster tersebut meliputi gambar pustakawan dan buku yang menjadi ikon perpustakaan. Seiring dengan perkembangan teknologi, poster tidak lagi ditempel pada dinding melainkan diposting di media baru, misalnya Instagram, Website, bahkan E-magazine. Gambar yang diunggah dalam sebuah platform adalah presentasi diri yang ingin ditunjukkan kepada orang lain (Rettberg, 2017). Gambar pustakawan dalam poster peringatan Hari Pustakawan Nasional telah mengalami perubahan. Poster peringatan Hari Pustakawan Nasional dalam empat tahun terakhir menunjukkan pustakawan masa kini adalah orang-orang yang melek teknologi. Pada tulisan ini yang dikaji adalah representasi pustakawan yang tergambar pada poster Hari Pustakawan Nasional perpustakaan nasional RI, universitas, dan organisasi pustakawan Indonesia berdasarkan pencarian teratas yang muncul pada Google di tahun 2022. Sumber: X (twitter) Perpustakaan Nasional RI Gambar 3. Poster Peringatan Hari Pustakawan Makna denotasi pada gambar 3 antara lain: terdapat tulisan “Selamat Hari Pustakawan 7 Juli 2020” dan “47 tahun Ikatan Pustakawan Indonesia 1973-2020”; dua rak buku beserta bukubuku; lampu yang menerangi; dan tiga orang dengan pakaian semi formal dan satu orang di tengah membawa gawai; terdappat logo IPI, logo perpustakaan nasional, dan media sosial yang tercantum pada bagian bawah poster. Berdasarkan makna denotasi, muncul makna konotasi: tiga orang dengan pakaian semi-formal diasumsikan sebagai pustakawan masa kini; dua rak buku beserta isinya memunculkan makna banyak informasi yang tersedia di sana, dan informasi dalam bentuk digital berada dalam gawai yang ada ditangan pustakawan; logo Perpustakaan Nasional dan logo IPI menyiratkan bahwa mereka adalah pembuat poster; tulisan “Selamat Hari Pustakawan” sebagai bentuk ucapan kepada seluruh pustakawan di Indonesia; dan tulisan “47 tahun” adalah lama berdirinya asosiasi IPI. Berdasarkan makna denotasi dan konotasi pada gambar 3, makna yang muncul adalah gaya berpakaian ketiga pustakawan tersebut nampak fashionable, meskipun nampak seperti pekerja kantoran dan rapi. Gaya berpakaian yang rapi dan semi-formal merepresentasikan pustakawan masa kini yang bekerja di perpustakaan nasional, perpustakaan daerah (Salib, 2018). Hal tersebut menunjukkan bahwa pustakawan masa kini tidak selalu menggunakan jas atau kemeja dan celana kain (laki-laki) dan kemeja beserta celana kain atau rok kain (perempuan), namun kini pustakawan dapat mengenakan blazer, blouse, gamis. Artinya dapat dikatakan bahwa pustakawan dapat mengenakan pakaian semi-formal yang nyaman dipakai dan nampak kekinian. Hal ini menujukkan perubahan yang terjadi pada penampilan pustakawan untuk membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar. Apabila pada stereotipe kondisi pustakawan identik dengan kacamata, saat ini pustakawan tidak melulu menggunakan kacamata, sebab saat ini teknologi di bidang kesehatan telah maju, yakni muncul softlens dan hardlens. Lalu, apa yang digenggam oleh pustakawan bukanlah sebuah buku, melainkan latop dan Tablet. Hal ini menunjukkan bahwa pustakawan pada tahun 2020 tidak selalu mengelola bukubuku dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk digital, dan layanan yang diberikan kepada pengguna perpustakaan berubah menjadi dalam bentuk online. Apakah ini hanya berlaku pada tahun 2020 dan 2021 saja mengingat tahun 2020 segala akses layanan perpustakaan menjadi online sebab pandemi Covid-19? Sepuluh tahun terakhir, perpustakaan baik tingkat nasional, daerah, universitas berusaha memberikan layanan Open Access (OA) (Priyanto, 2022). Namun baru terlihat sangat gencar layanan OA dipersembahkan kepada masyarakat adalah ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Apakah ini yang menjadi alasan bahwa pustakawan saat ini tidak lagi membawa buku, melainkan membawa gawai? Sehingga dalam poster peringatan hari pustakawan, para pustakawan tidak lagi membawa buku-buku tebalnya? Ada pesan menarik dari poster peringatan Hari Pustakawan Nasional yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional dan IPI tersebut, yakni sebuah lampu yang menerangi ruangan sehingga rak buku beserta buku-buku yang tertata menjadi terlihat jelas. Hal ini seolah menunjukkan bahwa pustakawan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat di saat mereka mengalami kebuntuan dalam hal informasi dan pengetahuan. Sumber: perpustakaan.upi.edu Gambar 4. Poster Peringatan Hari Pustakawan Nasional Tulisan “Selamat Hari Pustakawan Nasional 7 Juli 2020” tidak hanya mengandung ucapan belaka, tetapi sebagai bentuk kebanggaan untuk para pustakawan Indonesia yang memiliki jasa dalam ilmu pengetahuan agar tetap terjaga, rapi, yang mana tugas para pustakawan tidaklah mudah sebab beban tanggung jawab pustakawan agar ilmu pengetahuan tetap lestari dan dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Tulisan “47 tahun Ikatan Pustakawan Indonesia 1973-2020” mengandung unsur sejarah, yaitu berdirinya asosiasi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) pada tahun 1973. Lama berdirinya asosiai IPI ini menujukkan bahwa profesi pustakawan di Indonesia sangat penting kedudukannya. Sosial media yang tercantum pada bagian bawah poster menujukkan bahwa perkembangan media memang benar adanya dan itu disebut sebagai media baru. Perpustakaan sebagai jantung ilmu pengetahuan yang dikelola oleh pustakawan tentu diwajibkan untuk mengikuti perkembangan media massa yang kini menjadi media baru sehingga perpustakaan juga memiliki sosial media yang mana masyarakatnya pada masa kini memiliki akun media sosial. Berbeda lagi dengan poster peringatan Hari Pustakawan Nasional yang didesain oleh perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada tahun 2020. Makna denotasi dalam poster tersebut (gambar 4) antara lain: terdapat tulisan “Selamat Hari Pustakawan Nasional 7 Juli 2020” dan “47 tahun Ikatan Pustakawan Indonesia 1973-2020” dengan font besar; satu perempuan yang duduk di depan layar komputer dan tersenyum ramah; satu laki-laki yang membawa tiga buku; rak buku beserta isinya; logo UPI Central Library; dan akun media sosial di bagian bawah poster. Makna konotasi pada gambar 4 antara lain: tulisan “Selamat Hari Pustakawan Nasional” adalah bentuk ucapan kepada seluruh pustakawan di Indonesia; tulisan “47 Rahun Ikatan Pustakawan Indonesia 1973-2020” adalah informasi yang disampaikan kepada masyarakat bahwa asosiasi IPI telah berdiri selama 47 tahun; satu perempuan di balik komputer diasumsikan sebagai pustakawan; dan satu laki-laki yang membawa buku adalah pengguna perpustakaan. Berdasarkan denotasi dan konotasi pada gambar 4 memunculkan makna sebagai berikut: pada gambar 3 dan 4 memiliki kesamaan yakni tulisan berucapan “Selamat Hari Pustakawan Nasional” yang artinya pada poster peringatan hari pustakawan baik perpustakaan nasional maupun perpustakan perguruan tinggi memiliki pandangan yang sama terkait profesi pustawan yang memiliki kedudukan penting sehingga profesi tersebut dirayakan secara nasional. Hal ini menunjukkan bahwa profesi pustakawan bukanlah profesi remeh yang selama ini dianggap oleh masyarakat awam bahwa pustakawan hanyalah seorang penjaga buku atau seseorang yang bekerja di perpustakaan yang gelap dan kuno. Walaupun demikian, latar belakang yang berwarna hijau tua memberikan kesan perpustakaan yang sepi dan kuno, rak buku yang berada di belakang sang pustakawan adalah rak buku yang terbuat dari bahan kayu dan nampak kokoh dengan desain rak buku yang antik dan nampak kuno. Namun demikian, desain rak buku dapat menunjukkan bahwa melestarikan dan menjaga benda-benda kuno juga perlu dilakukan, meskipun zaman telah berubah, namun barang kuno tetap memiliki nilai keindahan dan hal tersebut menjadi unik. Gambar 4 apabila ditilik lebih jauh seolah menggambarkan kondisi perpustakaan yang gelap dan kuno, tetapi pustakawan dan pengguna perpustakaannya adalah orang modern. Layanan yang tersedia juga telah mengikuti kemajuan teknologi yang mana dalam layanan sirkulasi menggunakan aplikasi yang terintegrasi pada sistem komputer. Hal ini menunjukkan adanya dua persepsi, yakni persepsi perpustakaan stereotipe yang kuno, gelap, sepi; dan persepsi pustakawan dan layanan yang telah mengikuti arus zaman kemajuan nampak dari penampilan pustakawan maupun pengguna. Dalam praktiknya, seperti yang kita ketahui, beberapa perpustakaan universitas menggunakan sistem otomasi perpustakaan untuk peminjaman dan pengembalian koleksi dan hal itu digambarkan oleh perpustakaan UPI dalam poster peringatan hari pustakawan nasional. Ada satu hal yang menarik dalam poster tersebut, yakni pustakawan masa kini mengubah cara berpakaiannya dengan mengikuti tren gaya busana dan mengenakan heels alih-alih pantofel. Organisasi Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) ikut merayakan Hari Pustakawan Nasional melalui poster. Denotasi dalam poster tersebut antara lain: tulisan “7 Juli Selamat Hari Pustakawan” dengan font besar; sebuah layar komputer besar dengan buku di dalamnya; satu orang di sebelah kiri memgang gawai; satu perempuan duduk di atas tumpukan buku dengan gawai di pangkuannya; ikon lampu di atas kiri laki-laki; sosial media ISIPII pada bagian bawah poster. Berdasarkan makna denotasi muncul makna konotasi sebagai berikut: tulisan “7 Juli Selamat Hari Pustakawan” sebagai bentuk memberikan ucapan kepada profesi pustakawan di seluruh intansi perpustakaan; buku saat ini tidak hanya berbentuk fisik tetapi juga digital; dua orang dengan gawai masing-masing dapat dibaca sebagai setiap orang memiliki gawai baik berupa Tablet maupun Laptop, ini artinya perkembangan teknologi telah sampai pada setiap individu. Berdasarkan makna denotasi dan konotasi, makna yang muncul sebagai berikut: Profesi pustakawan adalah profesi yang penting kedudukannya tidak hanya di Indonesia, pun secara internasional. Profesi tersebut dianggap penting sebab memiliki tugas dan tanggung dalam melestarikan ilmu pengetahuan dan menyebarkannya kepada masyarakat dengan cara tertentu sehingga masyarakat dapat mengetahui dan menemukan informasi dan pengetahuan tersebut dengan mudah. Oleh karena peran pustakawan yang begitu penting dalam kehidupan berpengetahuan ini, maka profesi tersebut diperingati secara nasional. Gambaran dua orang yang fokus pada gawai masing-masing memiliki dua makna, mereka dapat dikatakan sebagai pustakawan, dapat pula dikatakan sebagai pengguna perpustakaan. Apabila diasumsikan sebagai pustakawan, maka pustakawan masa kini dapat dikatakan melek teknologi tetapi juga sebagai penguasa atas koleksi dan buku-buku yang tersedia di perpustakaan. Koleksi perpustakaan masa kini juga telah terdigitisasi dan dapat diakses melalui internet oleh siapa pun. Layanan perpustakaan yang terintegrasi dengan sistem online ini sangat membantu masyarakat masa kini yang memiliki waktu luang sedikit untuk datang ke perpustakaan secara fisik. Hal ini menunjukkan bahwa pustakawan sebagai pengelola perpustakaan mulai menerapkan “berorientasi pada pengguna perpustakaan.” Sumber: isipii.org Gambar 5. Poster Peringatan Hari Pustakawan Bola lampu dapat dibaca sebagai alat penerangan dalam denotasi, dapat pula dibaca sebagai penerangan dalam ruang perpustakaan. Namun secara lebih kritis dapat pula dibaca sebagai bentuk penerangan untuk masyarakat. Perpustakaan merupakan tempat informasi dan ilmu pengetahuan, pustakawan sebagai penjaga yang tentu memiliki keahlian dalam mengelola ilmu pengetahuan dan merupakan orang tepelajar. Perpustakaan dan pustakawan sebagai penerang dalam ilmu pengetahuan untuk masyarakat dan diharapkan penerangan ini sampai pada seluruh pelosok daerah di Indonesia. Berdasarkan dari ketiga poster hari pustakawan nasional yang didesain oleh perpustakaan nasional, perpustakaan UPI, dan ISIPII adalah pustakawan yang digambarkan dalam poster-poster tersebut tidak lagi berkacamata, melainkan memiliki penampilan yang lebih segar dan mengikuti trend berpakaian masa kini. Implikasi representasi pustakawan dari media massa dan poster Dampak dari perpustakaan dan pustakawan yang dimunculkan media; serial televisi, animasi, film, video musik, maupun poster memberikan berbagai sudut pandang yang cukup rumit. Pada satu sisi, pustakawan dianggap sebagai manusia yang hanya duduk, menjaga dan mengawasi buku dari pencuri, pustakawan selalu berdandan klimis, dan memiliki sifat kaku. Pada sisi lain, pustakawan dianggap sebagai manusia yang mengikuti informasi dan pengetahuan terbaru, duduk di depan layar komputer, atau selalu membawa gawai ke manamana. Akibat dari membawa gawai tersebut, muncul pemikiran bahwa pustakawan masa kini tidak lebih dari seorang “penjaga” akses perpustakaan secara online dan tidak mendukung adanya OA. Namun demikian, usaha penggambaran pustakawan yang positif dalam media massa seperti film berdurasi panjang, film pendek, musik video, poster, dan sebagainya merupakan hal penting untuk mempromosikan profesi pustakawan. Penelitian tentang stereotipe pustakawan pernah dilakukan, misalnya (Jaćimović & Petrović, 2014; Jennings, 2016). Teknologi yang diluncurkan perpustakaan untuk pengguna perpustakaan adalah usaha pustakawan untuk memberikan layanan secara lebih luas, dan mudah dijangkau. Tetapi, benarkah mudah dijangkau? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki teknologi dalam genggaman? Tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul. Keberadaan teknologi saat ini, pustakawan juga sering dianggap bahwa pekerjaannya “hanya” duduk saja di depan layar komputer. Padahal jika ditilik lebih jauh, pustakawan yang “terlihat” hanya duduk saja juga bekerja untuk input data koleksi dan mencari informasi terbaru guna mengembangkan layanan perpustakaan maupun pengetahuan baru untuk direkomendasikan kepada pengguna perpustakaan, namun tetap sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna. Representasi pustakawan yang dimunculkan media massa dan poster Hari Pustakawan Nasional seringkali memunculkan kontradiksi. Dalam media massa, pustakawan sering diidentikkan dengan pakaian rapi, berkacamata, mudah curiga kepada pengguna, disiplin, galak, dan membosankan. Jennings (2016) juga berpendapat demikian: The popular perception that librarians are older women who dress conservatively, read all day, make sure everything is orderly in their library, and live alone is one that has been portrayed in the media for a long time. Jennings (2016) membahas tentang stereotipe pustakawan di Amerika yang selalu direpresentasikan dengan perempuan tua dengan pakaian kuno dan selalu memastikan bahwa segala sesuatu yang ada di perpustakaan berada pada tempatnya. Pustakawan semacam itulah yang selalu dimunculkan dalam media di Amerika. Stereotipe pustakawan di Amerika dengan gender laki-laki juga dibahas, misalnya Blackburn (2015) menuliskan bahwa peran pustakawan laki-laki memiliki stereotipe negatif, seperti antisosial, sok tahu, tidak pandai berkomunikasi. Representasi pustakawan yang demikian secara tidak sadar juga dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Lain halnya dengan pustakawan yang digambarkan dalam poster Hari Pustakawan Nasional akhir-akhir ini. Pustakawan diidentikkan dengan gawai, busana kasual atau busana kekinian, namun tetap tidak lepas dari buku. Penampilan yang berubah tersebut (dengan pandangan positif) merupakan elemen pemasaran utama dalam komunikasi, dan komunikasi dimulai dari penampilan (Salib, 2018). Dampak yang diberikan dari bagaimana media massa dan poster tentang pustakawan cukup signifikan. Hal ini memberikan pespektif kepada masyarakat dan pengguna perpustakaan tentang bagaimana pustakawan dan perpustakaan itu sendiri. Jika yang dimunculkan adalah hal-hal buruk tentang perpustakaan dan pustakawan, tentu hal ini seolah merepresentasikan perpustakaan dan pustakawan bukanlah hal penting dalam kehidupan masyarakat, dan jika perlu dihindari. Namun, jika yang direpresentasikan media adalah pustakawan ramah, mengikuti kekinian, paham teknologi, bukan tidak mungkin jika masyarakat menganggap profesi pustakawan dan perpustakaan adalah hal penting dalam kehidupan mereka

Conclusion

Tulisan ini telah menjelaskan bagaimana media merepresentasikan pustakawan dan memunculkan perspektif yang berbeda. Perspektif baik dan buruk tentang citra pustakawan. Pustakawan dan perpustakaan mengalami perubahan perspektif dari zaman ke zaman di mata masyarakat. Sebelumnya, pustakawan selalu direpresentasikan sebagai seseorang yang berkacamata, rapi, kuno, kaku, dan selalu berkata “hush” atau memberi isyarat untuk diam dengan jari telunjuk ditempelkan pada bibir. Hal ini ditunjukkan pada representasi pustakawan dalam serial The Library. Masa kini, pustakawan direpresentasikan sebagai orang-orang trendy, mengikuti perkembangan zaman baik di ranah busana, teknologi, informasi, dan pengetahuan. Profesi pustakawan dianggap penting oleh kalangan pendidik, pendidikan, ilmuwan, dan golongan tertentu yang mengetahui dunia perpustakaan, informasi, dan pengetahuan. Hal tersebut ditunjukkan pada film The Plan Man dan poster Hari Pustakawan Nasional. Representasi pustakawan yang positif telah diusahakan dan dikomunikasikan oleh pustakawan kepada masyarakat melalui penampilan dan sikap. Hal ini tercermin dari media massa terutama poster sebagai medium yang merepresentasikan citra positif pustakawan saat ini. Diharapkan citra positif tersebut tidak hanya ada di media, namun dalam kehidupan nyata juga dilaksanakan. Berdasarkan poster peringatan Hari Pustakawan Nasional, juga diharapkan dapat merubah pandangan masyarakat terhadap pustakawan kuno menjadi pustakawan adalah profesi yang penting begitu pula keberadaan perpustakaan yang penting di tengah kehidupan masyarakat. Namun demikian beberapa media menyajikan hal berbeda, dan beberapa media lain menyajikan hal yang sama, yaitu pustakawan adalah profesi penting. Ke depan, kajian representasi pustakawan dalam media berpotensi dikembangkan lebih jauh berdasarkan pengalaman dan pendekatan keilmuan lain.