Kembali
16
1
2024 Inkunabula: Journal Of Library Science And Islamic Information Vol 3 · 1 ISSN 2829-9531

Studi Kasus Peran Pustakawan dalam Pengembangan Koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. Gowa

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Pengembangan koleksi perpustakaan pentinguntuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pustakawan dalam pengembangan koleksi di Perpustakaan Umum Kabupaten Gowa. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu, bagaimana proses pengembangan koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. Gowa dan Bagaimana peran pustakawan dalam pengembangan koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. Gowa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan enam orang pustakawan, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dan pengolahan data menggunakan reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan telah melaksanakan perannya dalam proses pengembangan koleksi di perpustakaan tersebut, mulai dari analisis kebutuhan pemustaka, seleksi dan pengadaan koleksi, hingga evaluasi koleksi. Kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan anggaran pengembangan koleksi dan minimnya pengetahuan SDM dalam mengelola koleksi. Rekomendasi yang diberikan yaitu peningkatan alokasi anggaran pengembangan koleksi dan pelatihan bagi pustakawan.

Abstract

Developing library collections is crucial to meeting users' information needs. This research aims to analyze the role of librarians in collection development at the Gowa Regency Public Library. The issues raised in this research are, how is the collection development process at the Gowa Regency Public Library Service Building and what is the role of librarians in collection development at the Gowa Regency Public Library Service Building. The research method used is descriptive research with a qualitative approach. Data was collected through in-depth interviews with six librarians, observation and documentation. Data analysis and processing techniques used data reduction, data presentation and verification. The results showed that the librarians have carried out their roles in the collection development process at the library, starting from analyzing user needs, selection and procurement of collections, to collection evaluation. The obstacles faced include limited collection development budgets and lack of human resource knowledge in managing collections. The recommendations givenare increasing the allocation of collection development budgets and training for librarians.
Keywords: Peran Pustakawan · Pengembangan Koleksi · Koleksi Perpustakaan · Kebutuhan Informasi · Perpustakaan Umum

Introduction

Pustakawan telah menjadi tolak ukur hidupnya sebuah perpustakaan, sebab pustakawan memiliki peran sebagai pemberi serta penyedia layanan kepada masyarakat, termasuk mengumpulkan, mengolah, mengembangkan, mengawetkan, melestarikan dan menyajikan serta menyebarkan informasi atau bahan pustaka kepada seluruh pemustaka. Berbicara tentang informasi tentunya tidak terlepas dengan eksistensi suatu perpustakaan, karena melalui perpustakaan setiap orang dapat memperoleh informasi dengan mudah dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhannya. Informasi-informasi yang ada di perpustakaan terletak pada koleksi-koleksi yang tersedia di perpustakaan, dan yang berperan penting sebagai penyedia informasi bagi pemustaka ialah pustakawan, maka dari itu pustakawan harus memiliki kompetensi professional dan kompetensi personal dalam menjalankan tugasnya sebagai pengelola perpustakaanagar dapat melayani dengan cepat, tepat dan sesuai dengan yang diinginkan pengunjung perpustakaan.(Ngatini, 2020, p. 163)Peran pustakawan dalam pengembangan koleksi, yang mana merupakan kegiatan wajib perpustakaan yang dikelolah oleh pustakawan, maka dari itu pengembangan koleksi sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dan memperbarui koleksi-koleksi yang rusak serta usang, karena dengan adanya kegiatan pengembangan koleksi di perpustakaan yang dilakukan oleh pustakawan serta pengelolah perpustakaan, koleksi-koleksi tersebut terperbarui serta menyesuaikan kebutuhan informasi pemustaka. MenurutWinoto(2020)pengembangan koleksi adalah untuk membangun sebuah koleksi perpustakaan baik secara kuantitas maupun kualitas dengan tetap memperhatikan tuntutan minat serta selera dari masyarakat pengguna perpustakan. Adanya pengembangan koleksi di perpustakaan merupakan kegiatan yang bertugas menyediakan sumber informasi serta memberikan layanan informasi kepada pengguna perpustakaan. Sumber informasi yang ada di perpustakaan berbentuk tercetak serta non cetak. Koleksi perpustakaan adalah semua pustaka baik dalam bentuk buku, film, majalah, dan sejenisnya yang dikumpulkan dan diproses berdasarkan aturan tertentu untuk disajikan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, mencakup koleksi umum, koleksi referensi, dan koleksi inti.(Afrizal, 2019)Menurut Wahyuni (2015)pustakawan adalah sebuah profesi selain itu pustakawan berperan sebagai sumber daya manusia yang mengelolah perpustakaan, maka dari itu pustakawan merupakan pekerjaan yang memerlukan pendidikan atau pelatihan agar terampil dalam mengolah sebuah perpustakaan. Maka dari itu dengan adanya seorang pustakawan disebuah perpustakaan sangat membantu berjalannya semua proses yang ada di perpustakaan.Berdasarkan pada undang-undang No. 43 Tahun 2007 mengenai perpustakaan pada pasal 1 ayat 2 bahwa koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang menghimpun, diolah, dan dilayankan. Maka pada Undang-undang No. 43 Tahum 2007 mengenai perpustakaan pada pasal 12 ayat 1 diperjelas bahwasanya koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatinkan perkembangan teknologi dan komunikasi. (Undang-Undang (UU) Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, 2007)Berdasarkan observasi awal, kondisi gedung layanan perpustakaan umum kab. Gowa dilihat dari segi gedungnya sudah bisa dikatakan cukup bagus, karena dari segi warna dari gedung perpustakaan memiliki warna yang estetik, serta memiliki tempat yang nyaman bagi pemustaka untuk berkunjung. Gedung layanan perpustakaan umum kab. Gowa ini dikenal dengan sebutan gedung merah bata ini tergolong baru karena mulai dibuka pada tahun 2016, perpustakaan ini terdiri dari empat lantai dengan ruangan yang bermanfaat serta menyesuaikan fungsi dari setiap ruangan. Dimana lantai satu untuk lahan parkir dan pertemuan, lantai dua layanan keanggotaan, koleksi bahan pustaka, internet publik, dan lantai tiga ruang edukasi anak, teras baca dan teras terbuka, serta di lantai empat rooftop untuk bersantai. Perpustakaan ini menjalani fungsinya sebagaimana perpustakaan pada umumnya yaitu menyediakan sarana serta prasarana yaitu, ruangan, perlengakapan, peralatan seperti koleksi serta alat telusur baik manual maupun elektronik sebagai kenyamanan bagi pemustaka. Dan jika dilihat dari koleksinya, koleksi buku yang tersedia saat ini adaah 11.271 eksemplar dan jumlah judul sebanyak 4.601, dengan jumlah koleksi tersebut masih ada rak kosong yang belum memiliki koleksi. Jika dilihat dari segi pengunjung koleksi yang ada di gedung layanan perpustakaan umum kab. Gowa ini terbilang masih kurang karena pemustaka yang datang di perpustakaan tersebut cukup ramai maka dari itu, perpustakaan ini butuh kegiatan pengembangan koleksi lebih lanjut yang dilakukan oleh pustakawan agar pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan.Pengembangan koleksi merupakan kegiatan vital yang harus dilakukan perpustakaan secara berkelanjutan.Menurut Rohmadi(2015) dalam Nurjannah (2022, p. 2) proses pengembangan koleksi meliputi 6 kegiatan yaitu analisis masyarakat, kebijakan seleksi, pengadaan, penyiangan dan evaluasi. Hal inidilakukanuntuk memastikan koleksi yang disediakan senantiasa relevan dengan kebutuhan dan minat pemustaka yang selalu berkembang.Tujuan pemilihan buku adalah mengembangkan koleksi perpustakaan yang baik dan seimbang, sehingga mampu melayani kebutuhan pemakai.(Basuki, 2010)Kondisi ini menjadikan studi tentang pengembangan koleksi dan tantangan yang dihadapi menjadi penting untuk dilakukan. Khususnya terkait peran pustakawan sebagai ujung tombak pelaksanapengembangan koleksi di perpustakaan. Studi yang memfokuskan pada perpustakaan umum daerah seperti di Kabupaten Gowa juga masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, riset ini diharapkan dapat mengisi celah penelitian dengan mengeksplorasi dan menganalisis lebih dalam peran para pustakawan dalam pengembangan koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. Gowa. Sehingga bisa diperoleh rekomendasi konkret untuk peningkatan kinerja perpustakaan ke depannya.

Method

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian kualitatif ini merupakan penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obejek yang alamiah, yakni sesuatu yang apa adanya, tidak dimanipulasi kondisi serta keadaannya. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti padakondisi obyek alamiah, dimana penelitian adalah instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Abdussamad, 2021). Penelitian kualitatif metode penelitian yang lebih menekankan analisa atau deskriptif, penelitian kualitatif akan lebih fokus tertuju pada elemen manusia, objek, institusi serta interaksi yang ada, agar memahami peristiwa, perilaku serta fenomena. Karena dalam penelitian kualitatif hal-hal yang besifat subjek lebih diperlihatkan dan landasan teori dimanfaatkan oleh peneliti sebagai pemandu agar penelitian sesuai dengan fakta ditemui peneliti saat melakukan penelitian di lapangan. Menurut Afrizal (2016, p. 13)metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian ilmu-ilmu social yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata berbentuk lisan maupun tulisan serta perbuatan-perbuatan manusia dan tidak menghitung atau mengkuantifikasikan data kuaalitatif. Maka bisa disimpulkan, penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yakni penelitian yang menggunakan wawancara untuk mendiskripsikan data-data yang penulis peroleh dari informan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan terperinci.Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.Data primer merupakan data yang diperoleh dari informan yaitu pustakawan dan pengelola di perpustakaan dengan memberikan sejumlah pertanyaan sebagai instrumen penelitian. Peneliti memilih sumber data sejumlah pertanyaan sebagai instrument penelitian. Data sekunder yaitu data yang diperoleh untuk melengkapi data primer berupa dokumen-dokumen atau laporan yang dapat mendukung pembahasan dalam kaitannya dengan penelitian. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Obeservasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau jika perlu dengan pengecapan. Instrument yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan, tes, kuesioner, rekaman gambar, serta rekaman suara. Wawancara ialah proses komunikasi atau interkasi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Pengumpulan data juga bisa diperoleh melalui fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, atau kegiatan lainnya yang temasuk dalam kegiatan dokumentasi.

Result & Discussion

3.1.Pengembangan Koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. GowaKoleksi perpustakaan sangatlah penting bagi pemustaka, akan tetapi koleksi perpustakaan juga harus dikembangkan, maka dari itu setiap perpustakaan memiliki kegiatan wajib dalam hal pengembangan koleksi. Menurut Muliyadi (2013, p. 16) pengembangan koleksi adalah hal mendasari pembinaan koleksi perpustakaan yang bertujuan agar informasi yang dibutuhakan pemustaka selalu terpenuhi dan koleksi yang ada di perpustakaan juga tercukupi karena kualitas perpustakaan diperoleh dari kegiatan pengembangan koleksi. Pengembangan koleksi merupakan sebuah proses yang memenuhi kebutuhan informasi pemustaka baik secara tepat waktu dan tepat dalam hal kegunaannya, dengan memanfaatkan koleksi yang tersedia di perpustakaan, adapun enam tahapan umum yang dilakukan dalam pengembangan koleksi yakni analisis masyarakat, kebijakan pengembangan koleksi, seleksi, pengadaan, penyiangan serta evaluasi koleksi.(Khoirunnisa et al., 2020, p. 3)Pengembangan koleksi merupakan proses kegiatan yang melengkapi bahan pustaka sesuai syarat dan ketentuan yang telah diterapakan yang ada pada suatu perpustakaan agar koleksi yang ada pada perpsutakaan terpenuhi serta memenuhi informasi yang dibutuhkan pemustaka.3.1.1.Analisis MasyarakatAnalisis masyarakat merupakan tahap awal proses pengembangan koleksi untuk melihat siapa yang sebagai pemakai perpustakaan. Analisis masyarakat merupakan penyesuaian antara koleksi perpustakaan dengan pengguna perpustakaan yaitu pemustaka yang menjadi pengguna koleksi yang ada di perpustakaan. Maka dari itu analisis masyarakat merupakan langkah awal yang penting dalam tahapan pengembangan koleksi bagi semua perpustakaan. Melalui tahapan analisis masyarakat ini, pustakawan semakin mengetahui pemakai perpustakaan, maka dari itu tahap ini disebut awal proses dalam pengembangan koleksi agar pustakawan bisa melihat siapa saja pengguna perpustakaan, sebab rata-rata pengguna perpustakaan sesuai dengan jenis perpustakaan. Proses analisis masyarakat dalam tahapan pengembangan koleksi pustakawan tentu dilihat dari pengguna perpustakaan serta menganalis juga masyarakat yang ada disekitar perpustakaan tersebut agar bisa meyesuaikan koleksi perpustakaan agar koleksi digunakan dan nilai informasi koleksi bermanfaat bagi pengguna. Pustakawan melakukan observasi awal untuk bisa melihat sekitar perpustakaan yang nantinya menjadi pengguna perpustakaan maka akan terus berlanjut menganalis selera pemustaka, minat pemustaka, serta kebiasaan pemustaka agar koleksi yang dibangun oleh suatu perpustakaan yang akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, maka dari hasil observasi yang ditemukan oleh pustakawan menjadi dasar dari pengembangan koleksi.Maka dari itu analisis masyarakat merupakan salah satu proses yang sangat penting bagi sebuah perpustakaan agar menyediakan koleksi sesuai dengan pemustaka yang ada pada sebuah perpustakaan.Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan enam orang informan(30 Mei 2023)yang bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan tersebut, diketahui bahwa analisis masyarakat merupakan salah satu tahapan vital dalam proses pengembangan koleksi perpustakaan. Keenam pustakawan telah menerapkan tahapan tersebut guna menyesuaikan koleksi yang disediakan dengan kebutuhan informasi dari masyarakat dan pemustaka di sekitar perpustakaan.Cara yang dilakukan adalah dengan menganalisis lokasi perpustakaan apakah berdekatan dengan sekolah, perguruan tinggi, pemukiman warga, dan lain-lain. Data pengunjung. perpustakaan pun diperhatikan untuk mengetahui profil pemustaka yang datang. Berbekal informasi tersebut, para pustakawan lalu menentukan koleksi perpustakaan agar relevan dan bermanfaat, seperti buku pelajaran jika dekat sekolah, koleksi akademik jika banyak mahasiswa, dan seterusnya. Walaupun secara umum koleksi bersifat universal karena perpustakaan dapat diakses siapa saja, analisis masyarakat di sekitar sangat penting dilakukan. Beberapa pustakawan menilai koleksi saat ini masih perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan kuantitas serta kualitasnya sesuai kebutuhan masyarakat pemakai.Salah satu tahapan pengembangan koleksi yang sangat penting yaitu analisis masyarakat. Tahapan ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik, kebutuhan informasi, serta minat dan perilaku masyarakat di sekitar perpustakaan sehingga koleksi yang disediakan relevan dan bermanfaat bagi mereka.Para pustakawan yang diwawancarai telah menerapkan analisis masyarakat dengan mempertimbangkan lokasi perpustakaan, data pengunjung, serta kecenderungan minat baca masyarakat setempat.Pengunjung lebih dominan pelajar baik itu dari anak TK, SD, SMP, SMAN, serta mahasiswa ini di buktikan dengan adanya sekolah yang berdekatan dengan lokasi perpustakaan serta pustakawan juga melihat daftar pengunjung. Hasilnya digunakan sebagai acuan untuk menyediakan koleksi sesuai kebutuhan pemustaka, seperti koleksi akademik, referensi, buku pelajaran, dan koleksi umum lainnya. Walaupun secara garis besar koleksi perpustakaan bersifat universal, analisis masyarakat penting agar relevansi dan manfaat koleksi dapat terjaga dengan baik.3.1.2.Kebijakan Pengembangan Koleksi Kebijakan pengembangan koleksi ini biasanya menyangkut hal-hal yang bersifat umum seperti, perencanaan pengembangan koleksi, jenis koleksi yang akan dikembangkan, mengutamakan jenis koleksi yang akan dikembangkan, dana yang diusulakan, pengelolah yang terlibat dalam pengembangan koleksi serta memperhatikan pengguna perpustakaan secara keseluruhan. Kebijakan pengembangan koleksi yang telah dilakukan merupakan awal proses pengembangan koleksi, kebijakan ini menyangkut soal koleksi yang akan dikembangkan, dana yang dibutuhkan, serta menentukan prioritas dalam mengadakan koleksi. Jenis koleksi yang dikembangkan merupakan koleksi yang sering dicari oleh pemustaka serta dana dalam kebijakan pengembangan koleksi merupakan anggaran pemerintah. Maka dari kebijakan pengembangan koleksi juga telah terlakasana.Berdasarkan wawancara mendalamdengan enam informan(30 Mei 2023) yang ditugaskan dalam pengembangan koleksi, diketahui bahwa kebijakan pengembangan koleksi telah diterapkan di perpustakaan masing-masing sebagai bagian integral dari tahapan pengembangan koleksi secara menyeluruh. Kebijakan ini mencakup perencanaan koleksi, penganggaran, penentuan jenis koleksi prioritas, hingga pertimbangan kebutuhan pemustaka. Dalam implementasinya, para pustakawan umumnya menunggu anggaran yang dialokasikan pemerintah melalui APBD atau anggaran pusat setiap tahunnya guna mengadakan koleksi baru sesuai perencanaan awal. Sayangnya, ketersediaan anggaran kerap kali terbatas sehingga rencana pengembangan koleksi tidak sepenuhnya terpenuhi. Meski demikian, pemerintah pada umumnya tetap menganggarkan sejumlah dana pengembangan koleksi bagi perpustakaan meskipun jumlahnya terbatas. Dengan kata lain, kendala anggaran menjadi faktor kunci yang mempengaruhi kebijakan serta implementasi pengembangan koleksi di perpustakaan.Kebijakan pengembangan koleksi merupakan bagian vital dalam tahapan pengembangan koleksi perpustakaan. Kebijakan ini mencakup perencanaan koleksi, penganggaran, prioritas koleksi, dan pertimbangan kebutuhan pemustaka. Dalam penerapannya, ketersediaan anggaran yang bersumber dari APBD atau pusat sangat menentukan terlaksana tidaknya rencana pengembangan koleksi. Kendati terkendala anggaran terbatas, pemerintah umumnya tetap mengalokasikan sejumlah dana pengembangan koleksi perpustakaan setiap tahunnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ketersediaan anggaran merupakan faktor kunci dalam keberhasilan implementasi kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan. 3.1.3.SeleksiSeleksi koleksi bahan pustaka, pada tahap ini merupakan kegiatan dalam memilih dan menyediakan koleksi yang sesuai dan tepat untuk dibaca oleh penggunanya. Seleksi koleksi merupakan tahapan menyeleksi koleksi yang sesuai serta tepat bagi pemustaka, ada tahapan ini merupakan proses menuju ke tahapan pengadaan maka dari itu koleksi yang diseleksi mencakup dengan mutu perpustakaan yang bersangkutan karena umumnya seleksi koleksi menyesuaikan dengan kebutuhan pemustaka. Kegiatan seleksi koleksi menjadi tahapan memilah serta memilih bahan-bahan pustaka yang akan diadakan disuatu perpustakaan, secara umum diartikan sebagai proses mengidentifikasi koleksi yang akan ditambahkan pada suatu perpustakaan. Seleksi koleksi memeliki banyak proses akan tetapi pustakawan di gedung layanan lebih fokus dengan kebutuhan pemustaka maka dari itu koleksi yang direkomendasikan oleh pemustaka akan diseleksi terlebih dahulu untuk diadakan sebagai koleksi di perpustakaan. Seleksi koleksi dilakukan untuk menyeleksi koleksi yang menyesuaikan dengan kebutuhan pemustaka, karena seleksi koleksi berhubungan dengan mutu koleksi suatu perpustakaanDari hasil wawancara tahapan seleksi merupakan tahapan yang penting dilakukan di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. Gowa.Para pustakawan di setiap perpustakaan yang diwawancarai pada tanggal 30 Mei 2023 menyatakan telah melaksanakan tahapan seleksi sebagai bagian dari proses pengembangan koleksi. Tahapan ini dilakukan setelah penetapan kebijakan pengembangan koleksi dan biasanya mempertimbangkan masukan serta rekomendasi koleksi dari pemustaka.Cara yang dilakukan pustakawan dalam menyeleksi koleksi adalah dengan memilah dan memilih koleksi yang sesuai dengan kebutuhan informasi pemustaka berdasarkan kebijakan yang ditetapkan. Pustakawan juga akan mengevaluasi apakah isi dan substansi koleksi tidak bertentangan dengan aturan, seperti tidak mengandung unsur SARA ataupun hal-hal yang menyimpang. Koleksi yang lulus seleksi kemudian direkomendasikan untuk diadakan di perpustakaan.Dengan demikian, tahapan seleksi penting dilakukan pustakawan guna memastikan bahwa koleksi yang nantinya diadakan relevan dengan kebutuhan pemustaka dan sesuai dengan kebijakan serta peraturan yang berlaku di perpustakaan masing-masing.3.1.4.Pengadaan KoleksiSetelah melakukan tahapan seleksi maka koleksi telah siap untuk diadakan. Pengadaan koleksi adalah rangkaian tindakan dalam mengumpulkan bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi perpustakaan, koleksi yang yang akan diadakan pada suatu perpustakaan harus sesuai kebutuhan pemustaka, lengkap dan terbitan terbaru agar sesuai dengan pengguna perpustakaan yang dilayani. Pengadaan koleksi ini telah di lakukan, tahapan ini penting untuk melengkapi serta mengupdate koleksi yang ada di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. Gowa.Para pustakawan yang diwawancarai pada tanggal 7Juni 2023 dan 14Juni 2023 menyatakan bahwa tahapan pengadaan koleksi sudah dilaksanakan sebagai upaya memperbarui dan menambah koleksi di perpustakaan masing-masing. Pengadaan dilakukan menggunakan anggaran APBD yang dialokasikan untuk pembelian buku-buku baru sesuai kebutuhan. Selain itu, koleksi juga berasal dari sumbangan dan hibah dari masyarakat maupun institusi lain seperti Perpustakaan Nasional RI. Beberapa jenis koleksi yang masih kurang dan menjadi prioritas pengadaan antara lain koleksi anak, karya sastra, dan buku kesehatan.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengadaan koleksi perpustakaan bersumber dari pembelian menggunakan anggaran pemerintah serta sumbangan dari masyarakat. Tahapan ini penting bagi pustakawan dalam mengupdate koleksi sesuai kebutuhan pemustaka. Pengadaan yang memadai dari segi kuantitas dan kualitas akan menunjang pengembangan koleksi perpustakaan agar lebih lengkap, mutakhir, dan beragam. 3.1.5.PenyianganPenyiangan merupakan kegiatan penarikan koleksi dari tempatnya dengan alasan keterbatasan ruangan, koleksi yang rusak, adanya edisibaru dan lain-lain. Penyiangan koleksi dilakukan pada masa tertentu salah satunya koleksi di perpustakaan sudah tidak relevan lagi dengan pengguna perpustakaan yaitu pemustaka, tahapan penyiangan dilakukan agar menjaga kualitas koleksi yang ada pada setiap perpustakaan. Proses penyiangan perlu dilakukan secara berkala agar koleksi yang tidak sesuai lagi dengan pengguna atau perpustakaan diganti dengan koleksi yang baru. Hal ini dilakukan melalui pertimbangan koleksi sudah tidak digunakan, kondisi rak sudah penuh, serta kondisi fisik koleksi yang sudah rusak.Dari hasilwawancarapada tanggal 7 Juni 2023 dan 14 Juni 2023mengenai tahapan penyiangan, para pustakawan menyatakan bahwa tahapan penyiangan koleksi belum dilaksanakan sepenuhnya di perpustakaan masing-masing. Hal ini disebabkan karena jumlah koleksi yang ada saat ini masih tergolong kurang, sehingga pustakawan lebih berfokus pada kegiatan pengembangan dan pengadaan koleksi baru guna memperkaya koleksi perpustakaan.Beberapa pustakawan menyebutkan bahwa penyiangan baru sebatas perbaikan koleksi yang rusak menggunakan perekat, dan belum sampai pada tahap pengeluaran koleksi dari perpustakaan. Rencana ke depan, tahapan penyiangan akan mulai dilakukan ketika koleksi perpustakaan sudah memadai dan perlu dilakukan evaluasi koleksi mana saja yang perlu dikeluarkan karena tidak sesuai lagi dengan kebutuhan.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tahapan penyiangan koleksi di perpustakaan yang diwawancarai saat ini memang belum optimal dilakukan. Hal tersebut lebih disebabkan prioritas pustakawan untuk fokus pada pengadaan koleksi dalam rangka pengembangan koleksi perpustakaan.3.1.6.Evaluasi Koleksi Pada tahap terakhir yaitu evaluasi koleksi ini untuk mengetahui kekuatan serta kelemahan koleksi untuk mengetahui efektifitas suatu koleksi bagi pengguna. Maka akan dilakukan secara rutin evaluasi koleksi agar bisa melakukan tahap pengembangan koleksi selanjutnya.Evaluasi koleksi adalah menilai daya guna serta hasil guna koleksi dalam memenuhi kebutuhan pengguna serta program yang dilakukan perpustakaan, evaluasi koleksi ini harus rutin dilaksanakan disetiap perpustakaan agar sesuai dengan perkembangan dan perubahan perpustakaan. Evaluasi koleksi mencakup mutukoleksi, lingkup dan kedalaman koleksi, menyesuaikan koleksi dangan tujuanperpustakaan, meningkatkan nilai infomarsi, mengetahui kekuatan dan kelemahan koleksi, mengikuti perubahan, perkembangan, sosial budaya, ilmu dan teknologi.Tahapan evaluasi koleksi dijadikan sebagai alat untuk menganalisa pada tahapan pengembangan koleksi selanjutnya agar bisa mengetahui kekuatan serta kelemahan suatu koleksi, baik dari kualitas maupun kuantitasnya.Berdasarkan hasil wawancara dengan 6 informanpada tanggal 7 Juni 2023 dan 14 Juni 2023 para pustakawan menyatakan telah melaksanakan tahapan evaluasi koleksi perpustakaan sebagai bagian dari pengembangan koleksi. Tujuan evaluasi adalah untuk menganalisis daya guna, nilai informasi, serta relevansi koleksi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pemustaka.Cara yang dilakukan pustakawan dalam mengevaluasi antara lain dengan melihat data peminjaman koleksi untuk mengetahui koleksi mana yang sering dan jarang digunakan pemustaka. Selain itu pustakawan juga mempertimbangkan masukan dan rekomendasi dari pemustaka mengenai koleksi apa saja yang masih kurang dan perlu ditambah.Hasil evaluasi koleksi ini kemudian dijadikan dasar oleh pustakawan untuk merencanakan pengembangan dan pengadaan koleksi pada tahap selanjutnya, sehingga koleksi perpustakaan dapat lebih memenuhi kebutuhan informasi para pemustakanya. Dengan demikian, evaluasi koleksi merupakan bagian vital dalam pengembangan koleksi perpustakaan agar senantiasa relevan dan mutakhir. 3.2.Peran Pustakawan dalam Pengembangan Koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. GowaPeran pustakawan ialah menyelenggarakan kegiatan serta mengumpulkan, mengembangkan, mengolah, mengawetkan, melestarikan dan menyajikan serta menyebarkan informasi diperpustakaan. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab bagi pustakawan dalam melakukan pengembangan perpustakaan, sama halnya yang diusahakan oleh pustakawan di Gedung layanan perpustakaan umum kab. Gowa.Peran pustakawan menentukan apa yang harus dilakukan pustakawan bagi pemustaka serta bermanfaat bagi perpustakaan yang kelolahnya, Peran pustakawan adalah menyediakan, menghimpun dan mengembangkan koleksi, mengelola dan mengolah koleksi, menyebarluaskan informasi serta melestarikan koleksi yang ada di perpustakaan.3.2.1.Peran pustakawan dalam penyampaian informasi perpustakaan di Gedung layanan perpustakaan umum kab. Gowa Dari hasil wawancara dengan 6 informan pada tanggal 7 Juni 2023 dan 14 Juni 2023 para pustakawan menyatakan telah melakukan peransebagaipenyampai informasi di perpustakaan dalam membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain menyediakan nomor klasifikasi pada setiap rak sesuai subjek/tema buku, menyediakan katalog online (OPAC), buku statistik pengunjung, papan pengumuman jadwal buka, serta membantu secara langsung pemustaka yang kesulitan menemukan koleksi perpustakaan.Melalui berbagai upaya tersebut, pustakawan berperan memfasilitasi dan mempermudah akses informasi bagi pemustaka di perpustakaan. Nomor klasifikasi dan OPAC memudahkan pemustaka menelusur informasi secara mandiri. Sementara bantuan pustakawan secara interpersonal tetap diperlukan apabila pemustaka mengalami kendala dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya.Klasifikasi merupakan penggolongan atau pengelompokkan. Dalam dunia ilmu perpustakaan klasifikasi merupakan pengelompokkan koleksi berdasarkan ciri-ciri yang sama, misal subjek, tema, fisik, isi dan sebagainya.(Pattah, 2012)Pengelompokan yang sistematis dari beberapa objek, gagasan, buku, atau benda lain ke dalam golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. Sistem klasifikasi pada suatu perpustakaan digunakan untuk mempermudah dalam pencarian koleksi serta penempatan koleksi yang tersusun dengan rapi, tujuannya agarkoleksi yang ada pada setiap rak teratur dan mudah ditemukan.3.2.2.Peran pustakawan dalam penyedia koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. GowaPeran pustakawan adalah menyediakan, menghimpun dan mengembangkan koleksi, mengelola dan mengolah koleksi, menyebarluaskan informasi serta melestarikan koleksi yang ada di perpustakaan, harus dilaksanakan secara cepat, tepat dan sesuai dengan yang diinginkan pemustaka, maka dari itu untuk memenuhi kebutuhan pemustaka yang beraneka ragam, tentu memiliki cara agar menarik perhatian pemustaka. Kegiatan pustakawan yang dilakukan adalah mengumpulkan, mengolah mengawetkan, melestarikan dan menyajikan serta menyebarkan informasiatau bahan pustaka kepada seluruh pemustaka tanpa terkecuali, maka karena itu pustakawan berperan sebagai tokoh utama disetiap perpustakaan, Oleh karena itu pustakawan dituntut selalu berusaha untuk mengembangkan diridalam mengembangkan perpustakaan.Dari hasil wawancara dengan 6 informanpada tanggal 7 Juni 2023 dan 14 Juni 2023.Para pustakawanmenyatakan telahmenjalankan peran sebagai penyedia koleksi di perpustakaan mulai dari menghimpun, mengelola, hingga menyebarluaskan koleksi agar dapat dimanfaatkan pemustaka. Kegiatan diawali dengan penghimpunan koleksi sesuai kebutuhan informasi pemustaka. Koleksi kemudian diolah melalui berbagai tahapan pengembangan koleksi hingga siap dilayankan kepada pemustaka perpustakaan.Melalui peran tersebut, pustakawan berupaya memenuhi kebutuhan informasi pengguna dengan menyediakan koleksi perpustakaan yang lengkap, mutakhir, dan berkualitas baik tercetak maupun digital. Koleksi juga senantiasa dievaluasi dan dikembangkan mengikuti perkembangan kebutuhan informasi serta ilmu pengetahuan agar tetap relevan dan bermanfaat bagi pemustaka.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pustakawan sebagai penyedia koleksi merupakan ujung tombak pelayanan informasi perpustakaan kepada pemustaka. Peran ini diemban pustakawan secara profesional melalui pengelolaan koleksi perpustakaan sesuai standar yang berlakuagar pustakawan bisa mengetahui kebutuhan informasi pemustaka yang dilayaninya.(Iskandar et al., 2022, p. 101)3.2.3.Kendala yang dialami pustakawan dalam melakukan pengembangan koleksi di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kab. GowaBerdasarkan hasil wawancara dengan 6 informan pada tanggal 7 Juni 2023 dan 14 Juni 2023, para pustakawan menghadapi berbagai kendala dalam melaksanakan pengembangan koleksi di perpustakaan masing-masing. Kendala utama yang disebutkan adalah terkait keterlambatan dan kurangnya anggaran yang dialokasikan pemerintah melalui APBD maupun anggaran pusat. Dana yang terbatas menghambat perpustakaan untuk membeli koleksi baru sesuai kebutuhan pemustaka.Selain masalah anggaran, kendala lainnya antara lain kurangnya tenaga pustakawan dan staf yang menguasai klasifikasi koleksi, kelengkapan sarana pengembangan koleksi yang tidak memadai, serta keterbatasan waktu dan sumber daya manusia dalam mengelola koleksi.Dengan berbagai kendala di atas, peran pustakawan dalam pengembangan koleksi menjadi tidak maksimal. Pelayanan informasi kepada pemustaka juga terhambat karena koleksi yang terbatas dan kurang mutakhir. Oleh karena itu, dukungan pemerintah dalam penganggaran serta penyediaan sarana prasarana pengembangan koleksi mutlak dibutuhkan agar layanan perpustakaan lebih optimal.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 4.1. Pengembangan koleksi di Perpustakaan Umum Kabupaten Gowa telah berjalan dengan baik melalui tahapan mulai dari analisis kebutuhan pemustaka, seleksi, pengadaan, hingga evaluasi koleksi. Namun, belum pernah dilakukan penyiangan koleksi. 4.2. Pustakawan telah menjalankan perannya dalam proses pengembangan koleksi perpustakaan tersebut. Peran utama pustakawan adalah memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dengan menyediakan, menghimpun, mengolah, dan melayankan koleksi sesuai minat dan tuntutan pemustaka. 4.3. Kendala yang dihadapi antara lain minimnya alokasi anggaran untuk pengembangan koleksi dan keterbatasan pengetahuan SDM dalam mengelola koleksi. Kendala ini berdampak terhadap kelengkapan koleksi dan mutu layanan. Rekomendasi yang diajukan adalah meningkatkan anggaran khusus untuk pengembangan koleksi dan rutin mengadakan pelatihan bagi pustakawan agar pengetahuan dan keterampilannya dalam pengelolaan koleksi semakin meningkat.