Peran Masjid Muhammad Cheng Hoo Dalam Pengembangan Islam di Samata Gowa Bagi Masyarakat Urban
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Pokok masalah dalam penelitian ini ialah mengenai aktivitas-aktivitas Muhammad Cheng Hoo Gowa. Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga menjadi pusat peradaban Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan umat. Metode penelitian ini adalah kualitatif jenis deskriptif dengan menggunakan pendekatan historis, agama dan sosiologis. Dalam konteks kekinian, peran masjid semakin berkembang, sehingga masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa menjadi episentrum kegiatan sosial, pendidikan, ekonomi, dan dakwah yang berkelanjutan serta olahraga. Masjid tidak lagi hanya menjadi simbol spiritualitas, melainkan juga menjadi sarana pemberdayaan umat secara holistik.
Abstract
The main issue in this research is related to the activities of Muhammad Cheng Hoo Gowa. The Muhammad Cheng Hoo Mosque in Gowa serves not only as a place of worship but also as a center of Islamic civilization that touches all aspects of the community's life. The research method employed is descriptive qualitative using historical, religious, and sociological approaches. In the current context, the role of the mosque has increasingly evolved, making the Muhammad Cheng Hoo Mosque in Gowa the epicenter for social, educational, economic, and continuous da'wah activities as well as sports. The mosque is no longer just a symbol of spirituality but also a means of holistic empowerment for the community.
Keywords:
Activity
· Mosque
· Holistic
Introduction
Bagi tiap muslim dan muslimah, masjid merupakan tempat yang sudah tidak asing lagi. Umumnya, masjid dipahami sebagai tempat umat Islam melaksanakan ibadah. Secara etimologis, kata "masjid" berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat sujud atau tempat untuk menyembah Allah SWT. Oleh karena itu, masjid dianggap sebagai tempat yang sangat penting bagi umat Islam. Setiap individu muslim dapat melaksanakan salat di mana saja, selama tempat tersebut sesuai dengan syariat Islam, seperti tidak berada di tempat yang najis, di atas kuburan, atau di tempat-tempat yang dilarang dalam agama. Pemanfaatan masjid perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, kita sebagai umat Islam, khususnya, harus semakin mengoptimalkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan keumatan. Saat ini, eksistensi masjid sangat potensial, terutama dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi umat Islam dalam berbagai aspek kehidupannya. Gazalba mengemukakan bahwa selain sebagai pusat ibadah, masjid juga dapat dijadikan tempat untuk kegiatan ekonomi dalam masyarakat dan berperan sebagai pusat kebudayaan serta peradaban. Masjid sebagai pusat peradaban memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan kegiatan sosial kemasyarakatan dan membangun lingkungan positif di sekitarnya. Pemberdayaan masyarakat merupakan kegiatan yang memiliki tujuan jelas dan terstruktur agar memudahkan pencapaian yang ingin dicapai bersama. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi yang tepat sebagai acuan dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Penerapan strategi yang baik dan benar akan mendorong terjadinya perkembangan yang signifikan dalam kemajuan umat dan masyarakat. Berdasarkan pengamatan peneliti, terjadi lonjakan jumlah jamaah yang sangat masif di Masjid Cheng Hoo, serta terlihat adanya proses urbanisasi jamaah. Urbanisasi dalam konteks ini merujuk pada pergeseran dan pertambahan populasi jamaah di Masjid Cheng Hoo yang semakin meningkat setiap harinya. Tentunya, urbanisasi jamaah ini merupakan fenomena yang kompleks dan sering kali memerlukan perencanaan yang matang untuk mengelola pertumbuhannya agar berkelanjutan. Fenomena ini seharusnya dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan urbanisasi masyarakat/jamaah melalui pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Berbicara soal pemberdayaan, salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah pendekatan dalam melaksanakan pemberdayaan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, masjid Muhammad Cheng Hoo hadir di tengah-tengah masyarakat bukan hanya sebagai tempat ibadah spiritual semata, melainkan hadir untuk membangun peradaban umar Islam dalam tatanan aktivitas-aktivitas seperti dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial dan olahraga.
Method
Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan (Field Research), yakni melakukan penelitian dengan terjun langsung kelapangan untuk melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagaimana adanya, dan mengumpulkan data-data dengan menggunakan teknik wawancara, dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang ada kaitannya dengan judul penelitian. Lokasi penelitian ini berlokasi di Jl. Tun Abdur Razak, Romangpolong, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang merupakan suatu daerah yang menyajikan tempat wisata religi yaitu sebuah masjid bernuansa Tionghoa yang menjadi tempat ibadah umat muslim yang dikenal dengan masjid Muhammad Cheng Hoo. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung (dari tangan pertama) baik individu maupun keleompok. Jadi data yang didapatkan secara langsung. Data primer secara khusus dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian. penulis mengumpulkan data primer dengan metode survey dan juga metode observasi. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung (dari tangan pertama) baik individu maupun keleompok. Jadi data yang didapatkan secara langsung. Data primer secara khusus dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian. penulis mengumpulkan data primer dengan metode survey dan juga metode observasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: pertama, Reduksi Data, data yang diperoleh di lapangan yang cukup banyak maka perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting. Keuda, Penyajian Data, setelah langkah reduksi, maka langkah selanjutnya yaitu menyajikan data dengan menguraikan secara singkat data yang telah direduksi agar lebih mempermudah peneliti untuk ke langkah selanjutnya. Ketiga, Kesimpulan (Verifikasi), langkah ketiga yaitu menarik kesimpulan secara detail dari pengumpulan data yang telah dilakukan berdasarkan fakta dilapangan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan di awal.
Result & Discussion
Sejarah Berdirinya Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa Masjid Muhammad Cheng Hoo merupakan salah satu masjid di Sulawesi Selatan yang bernuansa Cina. Salah satunya terletak di Jl. Tun Abdul Razak Samata Kabupaten Gowa. Masjid Muhmmad Cheng Hoo adalah masjid yang dinisbahkan kepada penyebar agama Islam di Nusantara yaitu laksamana Muhammad Cheng Hoo (admiral Zhang Hee). Pada abad XV masa dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Pada tahun 1410 dan tahun 1416 laksamana Muhammad Cheng Hoo atau yang dikenal Sam Poo Kong atau Pompu Awang dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan. Sebagai informasi, pemberian nama masjid Muhammad Cheng Hoo merupakan upaya untuk mengenang jasa seorang tokoh pelaut asal Tiongkok. Menurut catatan sejarah Cheng Hoo sendiri tidak pernah menginjakkan kaki secara langsung di Sulawesi selatan. Muhammad Cheng Hoo hanya berlayar ke pulau-pulau besar seperti Sumatera dan pulau Jawa. Pembangunan masjid Cheng Hoo berawal dari keinginan dari pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia khusunya Sulawesi Selatan yang pada waktu itu diketuai oleh Drs. H. Sulaiman Gosalam, M.Si. dengan membentuk Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Sulsel untuk menaungi pembangunan masjid Muhammad Cheng Hoo. Ketua pembangunan masjid Cheng Hoo H. Dr. Suhardi, S.E. Masjid Muhammad Cheng Hoo dibangun pada tanggal 11 November 2011 dengan peletakan batu pertama pada pukul 11 yang diinisiasi oleh PITI atau Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Sulawesi Selatan. Tokoh masyarakat juga turut andil dalam pembangunan masjid. Peletakan batu pertama masjid bersama-sama dilakukan dengan bapak Wakil Bupati Gowa Abdul Razak Bajidu yang menjabat pada tahun itu. Dalam pembangunan masjid Muhammad Cheng Hoo dihadiri beberapa tokoh-tokoh besar seperti bapak wakil bupati Gowa Abdul Razak Bajidu dan Guru Besar Unhas Prof. Dr. H. Halide yang ditugaskan untuk memmpin do'a. Dalam pembangunannya masjid Cheng Hoo terinspirasi dengan rancangan masjid Cheng Hoo di Surabaya yang sebelumnya dilakukan studi ke masjid Cheng Hoo Surabaya dan Sidoarjo dimana pembangunan ini mendapatkan hibah dari tanah yang dimiliki oleh H. Haris yang juga merupakan muslim Tionghoa sehingga dapat membangun masjid. Saat ini masjid Cheng Hoo memiliki luas lahan sekitar 2.658 m². Pembangunan masjid ini juga tak lepas dari peran muslim Tionghoa di kota-kota lain karena tentunya pembangunan ini memerlukan biaya yang tidak sedikit kurang lebih biaya yang dibutuhkan saat itu adalah sebesar 4-5 milyar rupiah. Masjid kemudian diberikan bantuan swadaya dari muslim maupun non muslim untuk menyumbangkan dana terhadap pembangunan masjid. Sumbangan juga berasal dari keluarga H. Syahrir Samsul seorang pengusaha sekitar 1 Milyar. Sebagai bentuk apresiasi tertinggi bagi para donatur yang telah memberikan jasanya terhadap pembangunan masjid, di bagian depan masjid dibuatkan prasasti yang berisi nama-nama para donatur tersebut. Tanah yang diwakafkan untuk pembangunan masjid ini, seluas sekitar 300 meter persegi. Pengurus juga membeli lahan untuk akses jalan masuk masjid Muhammad Cheng Hoo kurang lebih 3.000 meter. Pengurus Masjid Cheng Hoo Gowa merencanakan pembangunan beberapa fasilitas tambahan yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, termasuk lembaga pendidikan, kantin, lapangan olahraga, dan berbagai fasilitas lainnya di kompleks masjid ini. Drs. Sulaiman ketua Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Sulawesi Selatan mengatakan selain kegiatan rutin shalat berjamaah, di masjid juga memfasilitasi kegiatan Itikaf saat bulan Ramadhan. Masjid bahkan juga sering dijadikan sebagai objek studi pelajar sekolah maupun objek wisata religi bagi para pendatang dari luar kota. Selain bangunan utama masjid di depan masjid terdapat kantin syariah yang merupakan milik pribadi panitia pembangunan yaitu bapak Dr. H. Suhardi, S.E. Kantin tersebut terdiri dari 2 lantai yang mana lantai kedua diperuntukkan untuk orang-orang atau sebuah perusahaan untuk disewa. Di sebelahnya terdapat juga penjualan perlengkapan sholat. Di area belakang masjid yayasan PITI juga membangun sekolah Islam terpadu yang mulai tahun 2023 ini akan menerima siswa dari tingkat SMP. Berbagai kegiatan yang dilakukan di masjid tentunya merupakan wujud untuk menjalin silaturahmi dan berbagi dengan para muslim Tionghoa yang ada di Sulawesi Selatan. Arsitektur Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa Seperti masjid pada umumnya, struktur masjid Muhammad Cheng Hoo Makassar terdiri dari atap, kubah, teras, tangga, pintu, ventilasi, Mihrab, dan Tabir. Namun yang berbeda adalah dari desain arsitektur yang merupakan perpaduan Timur Tengah, China dan Bugis Makassar sendiri. Dari tampak depan, terdapat beberapa tangga menuju ruangan masjid, di setiap gagang tangga terdapat ornamen bergaya Islam yaitu bintang segi delapan (Al-Quds). Dalam ruangan masjid terdapat Tabir, dan Mihrab. Ruangan masjid dikelilingi ornamen-ornamen 12 bintang, di setiap ukirannya dibuatkan celah sebagai ventilasi udara agar udara yang masuk lebih banyak. Masjid ini menggunakan ragam hias atau ornamen yang memiliki makna dan simbol-simbol yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam. Fungsi pada ornamen digunakan agar memperindah bangunan masjid ini. Ornamen yang digunakan berbentuk segi delapan yang menggambarkan jaring laba-laba sebagai simbol keselamatan. Keselamatan tersebut adalah keselamatan Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya di dalam Goa Tsur saat dikejar kaum kafir Quraisy. Bila dikaitkan dengan lambang Islam, motif bintang segi delapan ini disebut Al-Quds. Bintang Al-Quds merupakan modifikasi lambang Islam, yaitu Rub Al-Hizb yang secara resminya dikaitkan dengan Al-Quds (Yerusalem). Ornamen yang berbentuk dua belas bintang yang biasa disebut pola Sixfold desain geometris dalam seni Islam. Dengan tidak adanya peraturan membuat bangunan masjid, yang tertulis dalam al-Quran maupun sunah, kecuali arahnya kiblat masjid. Maka kalangan arsitek dan masyarakat muslim mempunyai kebebasan untuk berkreasi membuat bangunan masjid. Masyarakat Indonesia mayoritas memeluk dan mempelajari agama Islam, dan membangun masjid sebagai tempat beribadah dan lembaga peradaban dan budaya masyarakat Islam, di masjid ini umat Muslim beribadah bersama. Mendirikan bangunan berdasarkan ajaran-ajaran yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Assunnah, akan tetapi tidak terdapat aturan-aturan yang mengungkapkan secara detail dan jelas bentuk bangunan. Masjid Cheng Hoo adalah masjid yang didirikan untuk mengenang Cheng Hoo atau yang lebih dikenal dengan Sam Poo Kong dengan misi berdagang dan menyebarkan agama Islam di Indonesia. Masjid Cheng Hoo yang bernuansa Tiongkok, mempunyai keunikan tersendiri di lingkungan masyarakat Indonesia. Memang pada realitasnya, unsur Arab dan Cina yang telah mempengaruhi konsep bangunan masjid di Indonesia sudah sejak beberapa abad lalu. Di abad modern ini, masyarakat Indonesia tetap mengadopsi dan memadukan unsur-unsur asing tersebut sebagai konsep arsitektur masjid. Proses akulturasi dalam kebudayaan Indonesia itu timbul karena masyarakat dihadapkan pada suatu kebudayaan asing (Arab-Cina), sehingga lambat laun unsur kebudayaan asing ini diterima dan diolah dalam kebudayaan sendiri. Hal tersebut nampak pada seni bangunan masjid-masjid Indonesia, terutama Masjid Cheng Hoo. Meskipun perpaduan yang saling bertolak belakang tersebut tidak merubah fungsi utama masjid sebagai tempat beribadah bagi umat Islam. Masyarakat muslim global disatukan oleh masjid masjid, namun tempat- tempat ibadah berjemaah ini juga menampilkan keanekaragaman budaya dan sejarah umat muslim. Masjid Cheng Hoo Surabaya merupakan masjid pertama berarsitektur Tiongkok. yang didirikan oleh PITI (Pimpinan Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa) pertama kali dibangun di Indonesia untuk mengenang kedatangan Laksamana Cheng Hoo. Secara umum arsitektur Tionghoa dicirikan dengan 6 ornamen utama yaitu: a) Podium (Tái jī) Lantai yang berpodium atau dalam bahasa Mandarin disebut Tái jī adalah salah satu elemen arsitektur tradisional yang banyak ditemukan dalam bangunan Tionghoa kuno. Lantai berpodium merujuk pada suatu platform terangkat yang terletak diatas tanah atau lantai dasar. Platform ini biasanya memiliki ukuran dan tinggi yang bervariasi tergantung pada kebutuhan dan status bangunan. Fungsinya mencakup beberapa aspek, seperti memberikan perlindungan dari tanah yang lembab, meningkatkan sirkulasi udara, dan menciptakan ruang tambahan untuk berbagai aktivitas. Perlindungan dari tanah yang lembab adalah salah satu alasan utama penggunaan lantai berpodium adalah untuk melindungi bangunan dari kelembaban tanah. Dalam wilayah-wilayah dengan kondisi tanah yang lembab atau rawan banjir, lantai berpodium membantu mencegah masuknya air ke dalam bangunan. Dengan menaikkan lantai utama, risiko kerusakan dari dampak buruk kelembaban dapat dikurangi. Untuk fungsi sebagai sirkulasi udara dengan mengangkat lantai dasar, lantai berpodium membantu meningkatkan aliran udara di bawah bangunan. Yang dalam hal ini membantu menghindari kelembaban berlebihan, mengurangi pertumbuhan jamur, dan menjaga suhu yang lebih sejuk di dalam bangunan. Selain itu lantai berpodium juga memberikan ruang tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas. Ruang ini dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan barang dan tempat beristirahat. Filosofi lantai berpodium ini dianggap mewakili status sosial yang tinggi dan menjadi perwujudan dari keinginan untuk mendapatkan kedamaian, kemakmuran dan keberuntungan. Lantai yang berpodium juga melambangkan sebagai tempat yang sakral. b) Pilar Balok Pilar balok dalam bahasa Mandarin disebut Zhù liáng adalah elemen struktural yang sangat penting dalam arsitektur rumah Tionghoa. Pilar dan balok berperan sebagai kerangka struktural utama dalam bangunan Tionghoa. Pilar (zhù) adalah elemen vertikal yang menopang beban bangunan di sepanjang sumbu dan memberikan stabilitas. Balok (liáng) adalah elemen horizontal yang menghubungkan pilar-pilar tersebut. Bersama-sama, pilar dan balok membentuk kerangka yang kuat untuk mendukung lantai, atap, dan beban struktural lainnya. Pilar dan balik dalam arsitektur Tionghoa tradisional umumnya terbuat dari kayu. Kayu dipilih karena kemampuannya untuk menyerap guncangan dan memberikan ketahanan yang diperlukan dalam bangunan yang terkena gempa atau perubahan cuaca ekstrem. Kayu juga melambangkan kehangatan, kealamian, dan hubungan harmonis dengan alam. Pilar dan balok dipasang dengan menggunakan teknik pengikatan dan penyusunan yang rumit, seperti sistem penjepit dan mortir tanpa paku atau sekrup yang disebut dengan sistem dougong. Pilar dan balok dalam rumah Tionghoa seringkali memiliki bentuk yang khas dan dihiasi dengan ukiran yang indah. Pilar dan balok sering diukir dengan motif tradisional Tionghoa yang menampilkan warna-warna yang melambangkan keberuntungan, kekayaan, kesuksesan dll. Pilar dan balok juga memiliki makna filosofis, pilar dianggap sebagai representasi dari manusia yang berdiri tegak dan kuat, sementara balok mencerminkan Taoisme tentang keseimbangan dan harmoni dalam arsitektur dan kehidupan sehari-hari. Menurut kepercayaan Tionghoa Pilar yang berdiri secara vertikal memiliki makna yaitu menunjukkan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan serta balok diletakkan secara horizontal bermakna hubungan horizontal manusia dengan sesamanya. c) Atap (Wūding) Atap atau dalam bahasa Mandarin disebut Wūding memiliki ciri khas yang unik dan menjadi salah satu elemen yang paling menonjol atap dalam arsitektur Tionghoa. Atap tradisional Tionghoa umumnya memiliki bentuk dengan tepi yang meruncing atau melengkung ke atas. Tepi yang melengkung ke atas memberikan kesan yang anggun dan estetis, serta melambangkan keberuntungan dan kekuatan. Atap bangunan Tionghoa umumnya terbuat dari bahan alami seperti genteng tanah liat, batu, atau kayu. Genteng tanah liat merah adalah hal yang paling umum digunakan. Konstruksi atap dilengkapi dengan penggunaan rangka kayu yang kompleks. Rangka kayu ini memberikan kekuatan struktural dan fleksibilitas pada atap untuk menahan beban angin dan guncangan. Bentuk atap datar jarang ditemukan di bangunan tradisional Tionghoa, bentuk atap pada bangunan tradisional Tionghoa baik rumah peribadatan ataupun rumah hunian masyarakat memiliki ciri dengan atap yang memiliki tingkat kemiringan yang tinggi dengan bentuk atap tunggal atau atap bersusun. Bentuk atap khas bangunan rumah tradisional Tionghoa terbagi menjadi 4: a. Atap pelana, atap ini terbagi menjadi 2 yaitu Hsuan Shan dan Ngang Shan. Hsuan Shan adalah atap pelana yang ditopang oleh dinding kayu sedangkan Ngang Shan adalah atap pelana yang ditopang oleh dinding tembok. b. Kombinasi atap jurai dengan atap pelana (Hsuan Shan) c. Atap seperti piramida (Tsuan Tsien) d. Bentuk atap dengan jurai (Wu Tien) Terdapat makna filosofis yang dalam pada bentuk atap tradisional Tionghoa ini yaitu melambangkan hubungan manusia dengan surga dan alam semesta. Bubungan pada atap melengkung ke atas mempunyai makna untuk menghindarkan dari hal-hal buruk, atap juga menjadi perlambangan simbol surgawi karena fungsinya yang menjadi pelindung yang berada di bawahnya. Penerapan atap yang bertingkat memiliki makna hirarki fungsi dari bangunan tersebut, semakin tinggi atap maka bangunan tersebut mempunyai fungsi yang utama. Selain itu atap juga menjadi simbol prestise dan status sosial karena dihiasi oleh ornamen-ornamen dan ukiran dengan warna warna yang indah. Ornamen tersebut terletak di ujung-ujung tepi atap. Ornamen ini pula umumnya memiliki motif dan simbol-simbol yang melambangkan keberuntungan dan kelimpahan. Satu hal yang merupakan ciri khas yang paling utama dari Masjid Muhammad Cheng Hoo adalah atapnya yang berbentuk pagoda. Kubah pagoda inilah yang menonjolkan budaya China dari Masjid ini. Kubah utamanya berundak tiga seperti bentuk pagoda, rumah ibadah umat tionghoa. Lalu ada empat kubah kecil berbentuk segi empat mengelilingi empat sudut bangunan yang mengambil konsep budaya keilmuan dan kepemimpinan yang disebut "Sulapa Appa" atau segi empat. Salah satu maknanya dalam kepercayaan bugis makassar klasik, “Sulapa Appa” ini menyimbolkan susunan semesta yakni api, air, angin dan tanah. Kubah pagoda menyimbolkan tingkat pencerahan manusia yang dibangun setingkat demi setingkat untuk mencapai tingkat tertinggi. Hal ini juga mengandung arti dalam Islam yaitu tingkat keimanan manusia. Kubah ini terletak di bagian tengah atap dan memiliki Pat Kwa (angka delapan). Pat Kwa ini merupakan jumlah sisi dari bagian atas bangunan utama yang dipercaya sebagai lambang keberuntungan dan kejayaan dalam budaya Tionghoa. Simbol Pat Kwa ini dalam kepercayaan Cina juga mewakili delapan unsur. Yakni langit, angin, air, gunung, bumi, guntur, api dan tanah rendah. Pat Kwa pada Masjid Muhammad Cheng Ho Makassar memiliki tiga tingkatan. Setiap tingkatan atas pada Pat Kwa, lebih kecil dari tingkatan dibawahnya. d) Gerbang (Mén) Gerbang atau Mén umumnya berada pada bagian depan bangunan peribadatan Tionghoa maupun bangunan rumah tinggal. Gerbang disini juga dapat dikategorikan sebagai pagar dari sebuah bangunan. Kehadiran gerbang ini sebagai pemberian batas yang jelas antara luar dan dalam atau sebagai transisi antara luar bangunan dan bagian dalam bangunan. Gerbang sering kali dianggap sebagai simbol penghalang yang melindungi rumah atau komplek bangunan dari energi negatif dan masalah eksternal. Gerbang biasanya memiliki bentuk melengkung pada bagian atasnya, yang memiliki makna yang sama dengan bentuk atap yaitu melambangkan keberuntungan dan kekuatan. Terbuat dari susunan balok kayu atau batu yang berdiri kokoh serta memiliki atap. Kehadiran gerbang ini sebagai pemberian batas yang jelas antara luar dan dalam atau sebagai transisi antara luar bangunan dan bagian dalam bangunan. Pada pintu gerbang juga biasanya terdapat tanda pengenal penghuni bangunan serta gambar-gambar dewa atau tokoh dalam Mitos Tionghoa atau tulisan-tulisan yang berfungsi menolak bala. Pada gerbang masjid Muhammad Cheng Hoo Samata Gowa berbentuk persegi dan terbuat dari bahan bangunan seperti semen dan lain sebagainya, di atas gerbang terukir nama “Masjid Muhammad Cheng Hoo". e) Courtyard (Sìhéyuàn) Halaman dalam arsitektur Tionghoa juga dikenal sebagai Courtyard atau Sìhéyuàn merupakan ruang terbuka yang digabung dengan kebun atau taman. Ruang terbuka ini biasanya terletak di tengah-tengah bangunan atau antara bangunan-bangunan yang saling terhubung. Pada bangunan tradisional Tionghoa biasanya memiliki courtyard lebih dari satu. Halaman dalam arsitektur Tionghoa dirancang untuk memberikan privasi bagi penghuninya. Halaman juga sering dihiasi dengan kolam air, tumbuhan hijau, bonsai, batu-batuan dan jalan setapak yang mengarah ke berbagai bangunan. taman ini menciptakan suasana yang damai, memberikan keteduhan serta koneksi dengan alam. Courtyard sejalan dengan kepercayaan budaya Tionghoa terkait Feng Shui yang apabila manusia dekat dengan tanah atau bumi maka kesehatannya akan terjamin. Dengan adanya halaman di tengah-tengah bangunan, cahaya matahari dan udara segar dapat masuk ke dalam ruangan sekitarnya yang menciptakan suasana yang sejuk dan menyegarkan dalam bangunan. Aktivitas-Aktivitas Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa. Masjid, sejak masa Rasulullah SAW, bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga menjadi pusat peradaban Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan umat. Dalam konteks kekinian, peran masjid semakin berkembang menjadi episentrum kegiatan sosial, pendidikan, ekonomi, dan dakwah yang berkelanjutan. Masjid tidak lagi hanya menjadi simbol spiritualitas, melainkan juga menjadi sarana pemberdayaan umat secara holistik. Banyak masjid di Indonesia saat ini yang telah menjelma menjadi motor penggerak perubahan sosial, tak terkecuali dalam bidang dakwah, pendidikan, dan ekonomi berbasis UMKM. 1. Dakwah: Menebar cahaya Islam yang damai dan mencerahkan Masjid pertama kali dibangun oleh Rasulullah untuk tujuan menyembah, mengingat, dan memuliakan Allah, seperti yang dijelaskan oleh Suyuti dalam bukunya. Umat Islam berkumpul, baik untuk sholat berjamaah atau untuk menyelesaikan masalah mereka melalui musyawarah. Masjid juga mengalami perkembangan seiring berkembangnya umat, baik dari segi bangunan maupun fungsi dan peran. Orang-orang yang beragama Islam tidak terlepas dari bangunan masjid. Masjid di setiap lingkungan pasti ada. Masjid sekarang bukan hanya tempat ibadah sholat, tetapi juga tempat orang berkumpul, belajar, dan melakukan hal lain. Masjid secara prinsip berfungsi sebagai tempat membina umat, di mana mereka dapat menyambung ukhuwah, menjadi tempat untuk membicarakan masalah umat, dan membangun dan mengembangkan masyarakat. Pada masa Rasulullah, masjid berfungsi sebagai tempat beribadah, tempat musyawarah, pengadilan, pernikahan, pengobatan, dan latihan perang. Dakwah merupakan salah satu aktivitas utama masjid yang terus dijalankan secara konsisten. Melalui berbagai kegiatan keagamaan, masjid berperan sebagai penyebar nilai-nilai Islam yang damai, toleran, dan rahmatan lil 'alamin. Kegiatan dakwah di masjid tidak lagi terbatas pada ceramah selepas shalat Jumat atau pengajian malam, tetapi berkembang menjadi forum diskusi, pelatihan, bahkan kajian tematik lintas disiplin ilmu yang relevan dengan tantangan umat saat ini. Masjid kini aktif menyelenggarakan kajian tematik, seperti fiqih muamalah, fiqih keluarga, dakwah digital, dan problematika remaja. Selain itu, masjid juga menjadi tempat pembinaan mualaf, dengan program intensif yang tidak hanya mengajarkan aspek ritual, tetapi juga aspek sosial dan psikologis dalam menjalani kehidupan sebagai Muslim. Tak sedikit pula masjid yang membentuk tim dakwah keliling, yang mengunjungi daerah terpencil, rumah sakit, panti asuhan, dan lapas, dalam rangka menyampaikan pesan-pesan Islam secara langsung dan menyentuh hati. Media sosial juga dimanfaatkan secara optimal untuk memperluas jangkauan dakwah. Live streaming kajian, video pendek berisi motivasi Islami, hingga infografis tentang akhlak dan ibadah menjadi bagian dari strategi dakwah modern yang dijalankan oleh masjid-masjid besar dan progresif. Di masjid Muhammad Cheng Hoo sendiri memiliki peran dalam bidang dakwah diantaranya: Melaksanakan pengajian rutin tiap bulan, pengajian hari-hari besar Islam, pembinaan muallaf, konsultasi bagi muallaf dan pengajian majelis taklim PITI. Sebagaimana yang disampaikan oleh ustadz Sulaiman bahwa: Kita adakan pengajian rutin tiap bulan, kemudian ada TPA anak-anak mengaji, menghafal al- Qur'an, pembinaan muallaf, kemudian ada konsultasi bagi muallaf yang ingin mengetahui Islam lebih jauh, terutama kalangan Tionghoa sendiri karena mereka biasa agak segang bertanya langsung kalau bukan sesama sukunya, bahkan kita juga ada kegiatan sosial, ke panti asuhan dan khitanan massal. Ditegaskan juga oleh ustadz Yunus selaku imam dan ketua bidang dakwah masjid Muhammad Cheng Hoo: Kalau pembinaan muallaf itu masalah aqidah dulu, kemudian tauhid, kemudian akhlak dan masalah fiqhi. Jadi satu materi dibawakan oleh ustadz yang berbeda. Dalam pembinaan muallaf ini masih belum rutin karena kesibukan masing-masing muallaf 2. Pendidikan: Menyiapkan Generasi Qurani dan Cerdas Sosial Sejak awal, masjid merupakan pusat komunitas Islam, sebuah tempat untuk berdoa, meditasi, pengajaran agama, diskusi politik, dan sekolah. Dimana pun Islam berperan, masjid didirikan sebagai basis dimulainya aktifitas keagamaan. Setelah dibangun, masjid dapat berkembang menjadi tempat pembelajaran yang seringkali memiliki ratusan, terkadang ribuan siswa, dan memiliki perpustakaan penting. Masjid juga memainkan peran penting dalam dunia pendidikan. Program Taman Pendidikan Al- Qur'an (TPA) yang tersebar di banyak masjid menjadi bukti nyata bagaimana masjid mendidik generasi muda sejak usia dini. Di TPA, anak-anak tidak hanya diajarkan membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga akhlak, sejarah Nabi, dan tata cara ibadah yang benar. Hal ini menjadi fondasi awal pembentukan karakter Islami yang kuat. Adapun Struktur organisasi TK/TPA Muhammad Ceng Hoo sebagai berikut: Pembina : Drs. ulaiman Gosalam Penasehat : Abd. Halim, S.Kep., M.Kes Kepala Unit: Muh. Yunus, S.Q., M.Pd Sekretaris : Ismail Marsuki, S.H Bendahara : Suci Fahmi Syah Pengajar : Syahrul Muhaimin Nur Afni Mufliha Ulfa Qur'athul Untuk kalangan remaja dan dewasa, masjid menyelenggarakan kelas tahsin dan tahfiz, pelatihan khatib muda, bimbingan pernikahan islami, dan pelatihan kepemimpinan Islami. Bahkan beberapa masjid sudah menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi atau lembaga pendidikan Islam untuk menghadirkan pendidikan nonformal yang berkualitas, seperti pelatihan bahasa Arab, kursus kitab kuning, atau seminar ilmiah keislaman. Program pendidikan masjid tak hanya bersifat keagamaan, namun juga dikembangkan ke arah keterampilan hidup (life skill). Misalnya, pelatihan komputer, desain grafis Islami, keterampilan menjahit, hingga digital marketing berbasis syariah. Ini menjadi bentuk inovasi masjid dalam menciptakan masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga produktif dan mandiri. Di masjid Muhammad Cheng Hoo sendiri sudah membangun Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Cheng Hoo By Al-Biruni Mandiri dengan Visi dan Misi sebagai berikut: Visi Terwujudnya generasi Islam yang cerdas, cakap dan bijaksana berlandaskan nilai-nilai al-Qur'an Misi a. Mengembangkan kecerdasan holistik peserta didik yang mencakup aspek akademik, spiritual, sosial dan emosional b. Mengembangkan keterampilan belajar berfikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif c. Menumbuhkan karakter bijaksana berlandaskan pemahaman dan penghargaan terhadap nilai-nilai, moral, etika dan keadilan Diterangkan lebih lanjut oleh ustadz Azis bahwa: Masjid Cheng itu sekarang sedang membangun SMPIT masjid Cheng Hoo, In Syaa Allah tahun ini kalau tidak salah atau tahun depan sudah ada penamatan untuk kelas tiga. kemudian selanjutnya ada juga pendidikan bahasa mandarin nonformal bagi bapak-bapak ibu-ibu yang mau belajar bahasa mandarin biasanya jadwalnya itu jumʼat sore. 3. Pemberdayaan Ekonomi Umat: Masjid sebagai Penggerak UMKM Pemberdayaan menurut bahasa berasal dari kata daya yang berarti tenaga atau kekuatan. Pemberdayaan adalah upaya membangun sumber daya dengan mendorong, memotivasi dan meningkatkan kesadaran akan potensi yang dimilki serta berupaya untuk mengembangkannya. Menurut para ahli, perkataan ekonomi berasal dari bahasa yunani, oicos dan nomos. Oicos berarti rumah dan nomos berarti aturan. Jadi ekonomi adalah aturan-aturan untuk menyelenggarakan kebutuhan hidup manusia dalam rumah tangga rakyat (volkhuisudin) maupun dalam rumaah tangga negara (staatshuishouding). Jadi ekonomi merupakan suatu tata cara aturan yang ada dalam masyarakat untuk memenuhi keebutuhan hidup mereka terhadap alat pemuas kebutuhannya yang bersifat langka. Cara yang dimaksud disini berkaitan dengan aktivitas orang dan masyarakat yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi jasa-jasa dan barang-barang langka. Dalam sektor ekonomi, masjid mulai bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan umat yang konkret melalui dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Melalui pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif, masjid menjadi lokomotif gerakan ekonomi umat yang berbasis nilai-nilai Islam. Potensi masjid merupakan salah satu yang sangat penting dalam mengembangkan fungsi ekonomi masjid melalui pemberdayaan ekonomi, Mereka berkeyakinan lembaga masjid punya potensi untuk ikut ambil bagian dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat terutama masyarakat disekitar masjid. Begitu pula halnya generasi pengurus masjid diberbagai tempat di Indonesia telah lama mengajak pengurus masjid untuk memamkmurkan masjid dengan kegiatan-kegiatan pelatihan dan kewirausahaan. Banyak masjid kini memiliki koperasi syariah atau unit usaha yang mendukung ekonomi jamaah, mulai dari toko sembako, warung makan, hingga layanan jasa. Tak hanya itu, masjid juga menginisiasi pelatihan kewirausahaan, seperti pelatihan pengemasan produk halal, manajemen keuangan rumah tangga, dan pengelolaan digital untuk pemasaran online. Masjid menjadi inkubator bisnis kecil, tempat para pelaku UMKM mendapatkan pendampingan dan akses ke pasar. Event seperti bazar halal, festival produk lokal, atau gerakan belanja di warung Muslim rutin digelar untuk meningkatkan eksistensi dan daya saing produk jamaah. Dalam banyak kasus, masjid bahkan menjadi fasilitator akses modal dengan membentuk Lembaga Keuangan Mikro Syariah atau bermitra dengan BAZNAS dan LAZ untuk penyaluran dana produktif. Lebih dari itu, masjid juga mendorong konsep ekonomi berbasis komunitas, di mana hasil usaha jamaah didistribusikan untuk kepentingan sosial, seperti beasiswa, santunan yatim, dan pembangunan infrastruktur pendidikan. Dengan cara ini, masjid bukan hanya tempat spiritual, melainkan juga benteng ekonomi umat yang berkeadilan dan berkelanjutan. Masjid Cheng Hoo sendiri sudah menjalin kerja sama dengan pihak Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai fasilitator untuk membangun dan menyediakan fasilitas tempat jualan bagi masyarakat. Masjid Muhammad Cheng Hoo juga menyediakan kantin dua lantai. Lantai satu difungsikan sebagai tempat makan, singgah atau bersantai sembari menunggu ibadah sholat dan lantai dua diperuntukan untuk perusahaan yang ingin menyewa setiap ruangannya seperti perusahaan property dan lain sebagainya. Dengan kantin atau tempat UMKM ini juga sangat membantu dan bermanfaat bagi masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh pak Askar selaku penyewa tempat untuk berjualan, pak Askar menegaskan bahwa: Alhamdulillah selama ini saya menjual sampai delapan tahun di masjid Cheng Hoo sudah menghampiri penghasilan yang lumayanlah, tiap harinya menutupi apapun yang kita hidupi belanja dan segala macam kebutuhan rumah tangga. Dan juga sering menyumbang ke masjid. Pak Edi juga menuturkan bahwa: Diharapkan dengan adanya UMKM bisa membuat masyarakat nyaman terutama bagi musafir dan masjid juga bukan hanya sekedar sarana ibadah. 1. Olahraga Transformasi masjid dari pusat ibadah menjadi pusat pemberdayaan masyarakat merupakan cermin kebangkitan peradaban Islam yang sesungguhnya. Dakwah yang mencerahkan, pendidikan yang mencerdaskan, serta ekonomi yang memberdayakan adalah tiga pilar utama yang saling mendukung dan memperkuat. Masjid yang hidup dengan aktivitas ini akan menjadi cahaya di tengah masyarakat, bukan hanya menuntun jalan ke surga, tetapi juga menuntun umat menuju kehidupan dunia yang lebih bermartabat, mandiri, dan sejahtera. Masjid modern kini semakin membuka diri untuk aktivitas fisik. Tidak hanya tempat ibadah, namun juga pusat olahraga, rekreasi, bahkan edukasi dan UMKM. Beberapa masjid telah menyediakan lapangan olahraga lengkap, gym, dan fasilitas berkualitas. Kolaborasi lokal-swasta-pemerintah memungkinkan masjid bertransformasi menjadi community hub yang lebih inklusif dan sehat. Masjid uhammad Cheng Hoo juga memberikan fasilitas olahraga seperti memanah, tenis meja, takraw dan bulutangkis. Olahraga panahan menjadi salah satu olahraga sunnah yang disediakan oleh pengurus masjid Muhammad Cheng Hoo. Nama komunitas panahan masjid Muhammad Cheng Hoo yakni "laskar pemanah Chneg Hoo”. Kegiatan panahan dilakukan hari jum'at dan ahad dan diperuntukkan untuk semua kalangan dan sering mengikuti perlombaan panahan dari tingkat Regional, Nasional bahkan sampai tingkat Internasional. Sebagaimana yang dituturkan oleh ustadz Muhammad Zain: Kita adakan olahraga sunnah setiap hari jumʼat dan ahad. Adapun anak-anak sekolah ikut juga sebagai kegiatan ekskulnya, panahan di masjid Cheng Hoo bebas siapapun mau memanah.
Conclusion
Masjid Muhammad Chng Hoo menjadi objek ibadah spiritual seperti masjid dan menjadi wadah aktivitas masyarakat muslim dalam pengembangan bidang dakwah dengan dibuatkan kajian bulanan, masjid Muhammad Cheng Hoo juga melakukan aktivitas pengembangan dalam bidang pendidikan, ditanda dengan berdirinya SMPIT sebagai wadah untuk mengasah intelektual dan menanamkan nilai-nilai Islam. Di samping itu, Masjid Muhammad Cheng Hoo juga memberikan fasilitas dalam bidang olahraga, khususnya olahraga panahan yang menjadi olahraga sunnah. Masjid menjadi tempat “recharge” di tengah rutinitas kerja, serta sebagai pengingat akan nilai-nilai etis dalam bekerja, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan integritas. Sementara itu, musafir memanfaatkan fungsi masjid sebagai tempat singgah yang sah secara syariat. Kehadiran mereka menunjukkan peran masjid sebagai titik lintas mobilitas umat, yang melampaui batas wilayah dan status sosial. Di sisi lain, pengemudi ojek online (ojol) merupakan potret jamaah dari kelas pekerja informal yang menunjukkan bagaimana fleksibilitas waktu mereka memungkinkan singgahnya spiritualitas di tengah kesibukan ekonomi. Bagi mereka, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat beristirahat sejenak dari kerasnya jalanan dan tekanan penghidupan.