Manajemen Koleksi Unggulan Sebagai Strategi Pelestarian Budaya Lokal: Studi Pengelolaan di Perpustakaan Universitas Jember
Universitas Jember; Universitas Jember; Universitas Jember
Abstrak
Kebudayaan memiliki kearifan lokal yang penting bagi kehidupan di era ini, menyadari hal tersebut Perpustakaan UNEJ sebagai salah satu unit akademik di Perpustakaan Universitas Jember menyediakan layanan koleksi unggulan (KUN) di bawah bidang koleksi rujukan dan koleksi khusus. Penelitian ini ingin memberikan gambaran bagaimana pengelolaan layanan koleksi unggulan sebagai upaya yang dilakukan Perpustakaan UNEJ dalam perwujudan pelestarian budaya berbasis kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai positif bagi kehidupan masyarakat manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan penelusuran dokumen. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan mengkombinasikan pembicaraan informal dan pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara. Peneliti menggunakan kerangka dan garis-garis besar dalam wawancara namun dalam kondisi dan situasi tertentu memungkinkan proses wawancara dilakukan dalam situasi yang wajar dan spontan. Sebagai hasilnya, pengelolaaan KUN sudah memiliki standar sebagaimana pengelolaan koleksi lainnya. Sedikit kekhususan ada pada proses pengadaan koleksi. Sedangkan kendala dalam pengelolaan layanan koleksi unggulan adalah: kesulitan dalam mendapatkan bahan perpustakaan yang berkaitan dengan budaya Using, Tengger, dan Madura; dalam pengelolaan dibutuhkan pengklasifikasi subjek spesialis budaya untuk akurasi klasifikasi dan kemudahan pencarian koleksi; dalam pelestarian koleksi diperlukan kemampuan sumber daya manusia yang mampu melakukan preservasi koleksi unggulan yang sesuai standar. Hasil penelitian lainnya menunjukan bahwa layanan koleksi unggulan ini sangat bermanfaat bagi penyediaan sumber belajar dan informasi mengenai budaya dengan segala kompleksitasnya khususnya budaya Using, Tengger, dan Madura.
Abstract
Culture has local wisdom that is important for life in this era. Realizing this, as an academic unit at the Jember University, the Library provides a cultural collection about the Using, Tengger, and Madura cultures. This research wants to provide an overview of how to manage culture collection services as a UNEJ Library effort to embody local wisdom-based cultural preservation that has positive values for the human life community. This study uses qualitative methods with a descriptive approach. Data collection was carried out using observation, interview, and document search methods. This study conducted interviews by combining informal talks and approaches using general interview guidelines. Researchers use outlines in interviews but, under certain conditions and situations, allow the interview process to be carried out in spontaneous situations. As a result, there are standards for managing culture-specific collections as well as standards for other collections, although there are slight differences in the procurement process. While the obstacles in managing cultural collection services are difficulties in obtaining library materials related to the Using, Tengger, and Madurese cultures; in the management of cultural collections, subject classifier experts are needed for classification accuracy and easy collection search; Human resource capabilities are required to be able to carry out the preservation of cultural collections according to standards. The results of other studies show that cultural collection services are beneficial in providing learning resources and information about culture with all its complexities, especially the Using, Tengger, and Madurese cultures.
Keywords:
Academic Library
· Cultural Heritage
· Local Wisdom
· Special Collection
· Using Culture
· Budaya Using
· Kearifan Lokal
· Koleksi Unggulan
· Perpustakaan Akademik
· Warisan Budaya
Introduction
Perpustakaan Universitas Jember (UNEJ) merupakan salah satu unit penunjang akademik yang turut berperan penting dalam Tri Darma Perguruan Tinggi di lingkungan Universitas Jember khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Eksistensi Perpustakaan UNEJ melalui koleksi yang dimiliki dapat pula memberikan edukasi serta pengaruh kepada pemustaka tentang pengetahuan, kebiasaan, budaya, serta kearifan lokal masyarakat sekitarnya. Koleksi unggulan yang disediakan tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi akademik, tetapi juga sebagai sarana pelestarian nilai-nilai lokal yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian, perpustakaan menjadi jembatan antara dunia akademik dan pelestarian budaya lokal. Kearifan lokal, mencakup pengetahuan dan tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi, menjadi krusial dalam memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Meskipun sering dianggap kuno, kearifan lokal dinamis dan terus beradaptasi dengan kondisi dan kebutuhan saat ini (Yuniar, et al. 2023). Secara Geografis Universitas Jember berada di Timur Pulau Jawa dengan keragaman budaya, suku dan adat istiadat. Bila dilihat dalam peta, kota Jember sendiri berada di wilayah yang terkenal dengan tapal kuda. Dalam penelitian terdahulu (Widiastuti, 2016) menjelaskan bahwa istilah Tapal Kuda diberikan untuk kawasaan Timur Pulau Jawa, yang bila dihubungkan dengan garis di peta menyerupai tapal kuda. Kawasan tersebut Meliputi Pasuruan (bagian Timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Di daerah-daerah tersebut diantara suku bangsa yang berkembang besar adalah suku Madura dan Jawa. Maka secara geografis, Universitas Jember berada di wilayah tiga budaya besar yakni Madura, Using, dan Tengger. Potensi sumber pengetahuan dan informasi kearifan lokal yang tersedia harus dikelola dengan baik, maka peran perpustakaan menjadi penting. Menyadari hal tersebut, Perpustakaan Universitas Jember menyediakan sebuah layanan Koleksi Unggulan (KUN) yang memuat seluruh jenis koleksi yang berkaitan dengan daerah Using, Tengger dan Madura. Hal ini sebagai upaya perpustakaan menjaga informasi yang berkaitan dengan kearifan lokal. Liauw (2007) mengatakan bahwa koleksi perpustakaan yang memuat tentang informasi kearifan lokal mengandung informasi mengenai entitas lokal (perorangan, institusi, kegiatan, geografi, dan budaya). Informasi yang dapat digali dari KUN diantaranya sumber daya alam yang dimiliki daerah Using, Tengger dan Madura, sumber daya manusia, geografis, budaya, historis, kegiatan dan potensi daerah masing-masing yang bermanfaat dalam proses pelestarian budaya. Keberadaan layanan KUN di Perpustakaan UNEJ diharapkan memberikan dukungan dalam penyediaan sumber informasi kebudayaan yang memiliki nilai-nilai positif bagi masyarakat. Layanan ini juga diharapkan dapat memberikan wacana kearifan lokal yang bermanfaat bagi pemustaka UNEJ khususnya dan masyarakat umumnya, sehingga dapat menjadi filter dan pengendali terhadap budaya luar yang negatif. Selain itu, layanan KUN yang dimiliki Perpustakaan UNEJ diharapkan dapat menunjang kesadaran masyarakat untuk mencari informasi tentang budaya yang pernah berkembang. Layanan ini juga bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal serta mendorong pelestariannya. Melalui penyebarluasan informasi budaya kepada generasi penerus, diharapkan identitas diri dan bangsa tetap terjaga di tengah gempuran sisi negatif budaya asing dan meredupnya perkembangan budaya lokal.
Method
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian skala kecil, dimana sampel berjumlah sedikit. Dalam hal ini sebagaimana disampaikan Daymon & Holloway (2008) bahwa sampel kecil menjadi keharusan bagi peneliti yang tertarik untuk menghasilkan penjelasan yang lebih kaya dan mendalam. Sedangkan pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif. Karena dalam penelitian ini, sebagaimana diungkapkan Moleong (2016),data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka, dimana semua data yang dikumpulkan berkemungkinaan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, serta penggunaan dokumen. Wawancara dilakukan dengan mengkombinasikan wawancara pembicaraan informal dan pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara. Peneliti menggunakan kerangka dan garis-garis besar dalam wawancara namun dalam kondisi dan situasi tertentu memungkinkan proses wawancara dilakukan dalam situasi yang wajar dan spontan. Observasi dilaksanakan oleh peneliti melalui proses pengamatan, baik secara umum dan secara mendetil untuk menemukan fakta-fakta yang mendukung penelitian. Sementara penggunaan dokumen yang dimaksud adalah record/rekaman dan dokumen, baik dokumen pribadi maupun resmi sebagai sumber data yang dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, objek penelitian ini.
Result & Discussion
Pengelolaan KUN UPA Perpustakaan UNEJ Layanan KUN di Perpustakaan UNEJ merupakan bagian dari layanan rujukan dan koleksi khusus. Sebagaimana koleksi referensi lainnya, koleksi KUN tidak dipinjamkan, hanya dibaca di tempat atau difotokopi. Koleksi unggulan mulai digagas sejak tahun 1918 di era kepemimpinan Bapak Mahfud Aslam. Pada awalnya layanan koleksi ini berada di satu rak khusus di lantai 3 gedung perpustakaan bersatu dengan koleksi referensi lainnya. Pada tahun 2018, meskipun masih menjadi bagian dari koleksi rujukan dan khusus, koleksi unggulan kemudian dipisahkan menjadi satu ruangan khusus yang berada di lantai 1 Perpustakaan UNEJ. Pemisahan ini didasarkan pada semakin besarnya jumlah koleksi unggulan dan variasinya. Sebagaimana terihat pada Gambar 1 berikut ini. Komitmen untuk mengembangkan koleksi unggulan juga diteruskan dari satu kepemimpinan ke berikutnya. Bila pada awalnya hanya mengoleksi karya cetak hasil penelitian sivitas akademika, pada tahun 2006-2010 koleksi yang dikumpulkan juga berasal dari penulis luar dengan berbagai jenis karya baik berupa buku, artikel ilmiah, juga rekaman terkait budaya seperti mengenai upacara adat, pengobatan tradisional, tarian & lagu rakyat, kerajinan rakyat, makanan khas daerah, naskah kuno, dan sebagainya. Perkembangan berikutnya, pada tahun 2016 kemudian mulai dikoleksi bentuk video tarian, dokumentasi, dan koleksi digital sebagainya. Sampai dengan Desember 2022 jumlah KUN yang dimiliki Perpustakaan UNEJ adalah 1.472. Koleksi tersebut terdiri dari buku teks, penelitian, skripsi, tesis, disertasi, CD/DVD dan makalah, seperti yang terperinci pada tabel berikut: Dari 1472 koleksi KUN, terdapat lebih kurang 232 adalah koleksi lama berusia 20- 30 tahun. Sebagian besar koleksi tersebut yakni 179 koleksi, diterbitkan oleh lembaga penelitan maupun Fakultas di UNEJ. Sedangkan sisanya diperoleh dari berbagai penerbit seperti koleksi Yayasan Kebudayaan Banyuwangi, UDAYANA, UNIBRAW, ANDALAS, UNAIR, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, Banyuwanginese Grammar Analysis, Bintang, Biro Pusat Statistik, Depdikbud RI, Dewan Kesenian Blambangan, ITS, IKIP Surabaya, dan lain-lain. Yang tertua adalah koleksi tahun 1199 karya Markus Apriono berjudul Pesta Pora di Madura. Upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan koleksi unggulan juga terus dilakukan. Pada tahun 2006 promosi keberadaan koleksi unggulan mulai dilakukan melalui media cetak brosur seperti pada gambar di bawah ini: Pada saat ini promosi dilakukan dengan lebih beragam, terutama menggunakan website, instagram, dan media sosial lainnya, sebagaimana disampaikan informan: “Promosinya itu lewat beberapa platform ya pak ya, yang pertama lewat website, itu pernah ada artikel tentang layanan KUN. Kemudian yang kedua pernah lewat sosial media, tapi waktu itu karena sosial medianya itu kita ganti jadi datanya hilang pak yang lewat sosmed. Trus yang ketiga itu baru saja kita kapan hari buat vlog YouTube terkait dengan perpustakaan. Jadi kita tour ke perpustakaan layanan-layanan yang ada di perpustakaan itu apa aja dan itu salah satunya ada layanan KUN di dalamnya. Trus dulu itu kita juga pernah ada UNEJ EXPO ya pak ya, itu bertepatan dengan dies natalis UNEJ itu ngadakan UNEJ EXPO dan perpustakaan me… menampilkan layanan KUN di UNEJ EXPO itu” (Ighfirli, staf publikasi). Pengadaan Koleksi Unggulan Johnson (2009) mengatakan bahwa pengelolaan koleksi merupakan proses informasi yang terdiri dari tahapan perencanaan, perumusan kebijakan, pengumpulan, komunikasi, koordinasi dan evaluasi. Hal ini berpengaruh terhadap pemusnahan, pengadaan serta akses terhadap sumber informasi yang tersedia dalam mendukung kebutuhan informasi pemustaka. Salah satu jenis koleksi yang dimiliki Perpustakaan UNEJ adalah KUN, yang pengelolaannya mempunyai tahapan yang sama yaitu merencanakan, merumuskan kebijakan, mengumpulkan, komunikasi, koordinasi dan evaluasi terhadap KUN yang akan diadakan maupun KUN yang sudah tersedia di Perpustakaan UNEJ. Dalam tahapan kebijakan pengadaan, koleksi KUN memiliki prosedur dan pedoman yang sama dengan pengadaan koleksi lainnya, namun ada kekhususan dalam proses pengadaan koleksi unggulan, sebagaimana disampaikan oleh informan: “Kesulitan itu sebenernya nggak terlalu sih karena kita kan kalau koleksi unggulan ini kan bukan berdasarkan permintaan, jadi kita mencari sendiri judul judul yang ada itu. Kadang-kadang e… tidak melalui e-commerce tapi kalau seandainya saya mungkin ke toko buku pas ada itu juga saya beli dulu. Sebenarnya tidak sulit kalau yang buku cetak ini karena relatif ada buku-buku baru. Sulitnya kalau yang dulu… kalau yang dulu, saat kita masih pengadaan buku cetak ketika tidak ada di pasaran. Seperti kalo sekarang ebook juga sama, meskipun gitu kita sudah milih judul tapi ternyata tidak ada bukunya. Itu saja sih kesulitannya…” (Maya Pradhipta, Pustakawan Muda) Proses pengadaan bahan perpustakaan unggulan terkait budaya Using, Tengger, dan Madura memiliki sedikit kekhususan dalam proses pengadaan, karena kelangkaan bahan pustaka yang terkait budaya tersebut, proses pengadaan tidak selalu berdasarkan permintaan pengguna dan ketersediaan di katalog yang ditawarkan. Sebagaimana disampaikan dalam penelitian sebelumnya (Widiastuti, 2016), bahwa koleksi budaya Using, Tengger, dan Madura merupakan rare collection/special collection yang sebagian besar hanya dimiliki oleh Perpustakaan UNEJ dan berpotensi menjadi rujukan sebagai studi khusus budaya Using, Tengger, dan Madura di Indonesia pada umumnya, dan di Jawa Timur pada khususnya. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pelestarian KUN untuk menjaga warisan budaya berbasis kearifan lokal. Pengembangan KUN diharapkan dapat meningkatkan minat pemustaka dalam mengkaji dan melestarikan budaya Using, Tengger dan Madura. Widiastuti (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kebijakan pengembangan koleksi KUN tidak berbeda dengan pengadaan koleksi perpustakaan pada umumnya, yaitu mencakup kegiatan memilih dan mengadakan bahan perpustakaan dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama, kerelevanan, di mana KUN yang diadakan harus relevan dengan program pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kedua, berorientasi pada kebutuhan pemustaka, sehingga pengembangan KUN harus ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Ketiga, kelengkapan, yaitu KUN hendaknya tidak hanya mendukung pengajaran, namun juga meliputi bidang ilmu yang berkaitan dengan program perguruan tinggi. Keempat, kemutakhiran, yang berarti bahwa KUN hendaknya mencerminkan kemutakhiran. Kelima, kerja sama, di mana koleksi hendaknya merupakan hasil kerja sama semua pihak yang berkepentingan dalam pengembangan koleksi. Salah satu bentuk kerja sama yang telah dilakukan adalah kolaborasi dengan Perpustakaan Trunojoyo Madura dalam berbagi sumber daya, khususnya koleksi budaya Madura. Widiastuti (2016) menyatakan secara garis besar proses pengembangan KUN berdasar standar kebijakan pengembangan koleksi, digambarkan pada bagan di bawah ini: Gambar 3 menjelaskan satu siklus pengembangan koleksi unggulan, dimana Standar Kebijakan Pengembangan Koleksi Unggulan menjadi dasar dalam melakukan seleksi dan evaluasi dalam proses pengadaan koleksi, untuk mendapatkan output usulan koleksi unggulan yang sebelumnya telah diverifikasi. Kebijakan pengadaaan KUN ini sesuai dengan tujuan dari sebuah kebijakan pengembangan koleksi yaitu menyediakan sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan menjadi acuan bagi perpustakaan dalam menyediakan sumber daya. Sebagaimana disampaikan (Gregory, 2019) : “Collection development policies typically serve several purposes: they inform and direct library processes in acquiring and making resources available to users, and they serve as a protection for the library against challenges to its procedures and resources.” Bahwa kebijakan pengembangan koleksi biasanya memiliki beberapa tujuan antara lain menginformasikan dan mengarahkan perpustakaan dalam proses memperoleh dan membuat sumber daya bagi pemustaka, dan berfungsi sebagai perlindungan perpustakaan dalam menghadapi tantangan dalam hal prosedur dan sumber dayanya. Dalam pelaksanaannya, pengadaan koleksi unggulan digambarkan oleh informan sebagai berikut: “Pengadaan koleksi ini yang melalui hadiah, SKKD, juga karya-karyanya dosen yang menulis penelitian tentang tiga macam kebudayaan tersebut itu apa namanya nanti juga ditempatkan di koleksi unggulan terus yang tugas akhir mahasiswa skripsi, tesis, disertasi itu juga ada beberapa yang mengangkat tema kebudayaan tiga macam itu nanti akan ditempatkan di koleksi unggulan. Jadi pengadaannya melalui pembelian, hadiah, SKKD dan Tugas Akhir” (Maya Pradhipta, Pustakawan Muda). Apa yang diungkapkan informan sesuai dengan kebijakan pengadaan koleksi unggulan dalam penelitian terdahulu (Widiastuti, 2016), dalam garis besar pengembangan koleksi unggulan Budaya Using, Tengger, dan Madura dimana tertera bahwa memilih dan mengadakan bahan perpustakaan koleksi unggulan lewat pembelian, tukar-menukar, hadiah, dan penerbitan sendiri baik berupa cetak maupun elektronik hasil wawancara dengan narasumber yang kompeten, rekaman event budaya, dsb. Pengolahan KUN Pengolahan bahan perpustakaan unggulan sama dengan pengolahan bahan perpustakaan lainnya. Berdasarkan dokumen prosedur kerja bidang pembinaan koleksi, tahapan yang dilakukan antara lain: 1. Proses Awal Pengolahan a. Pemberian stempel b. Penempelan barcode dan lembar tanggal kembali (due date) c. Penempelan RFID 2. Penentuan tajuk subjek dan klasifikasi Pedoman proses klasifikasi KUN menggunakan Dewey Decimal Classification (DDC) edisi 23 yang terdiri dari 3 buku paket pengolahan koleksi yaitu Index, Schedule dan Tabel. 3. Katalogisasi a. Menginput data bibliografis ke dalam SirsiDynix Symphony Workflows b. Menginput data call number/item ID ke dalam SirsiDynix Symphony Workflows c. Menginput RFID tagging 4. Proses Akhir Pengolahan a. Pemberian label b. Pembuatan surat pengantar c. Penempelan tanda bahwa buku telah ditagging d. Penyampulan e. Pengiriman bahan perpustakaan ke ruangan layanan pengguna/sirkulasi Dalam dokumen prosedur kerja di bidang pembinaan koleksi juga disampaikan standar acuan dalam proses pengolahan adalah Anglo-American Cataloging Rules (AACR) 2, Library of Congress Subject Headings dan/atau Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional, Dewey Decimal Classification dan/atau Klasifikasi Persepuluhan Dewey, IndoMARC, SLiMS Manual. Secara sederhana, informan menggambarkan proses pengolahan koleksi unggulan sebagai berikut: “Proses pengolahan koleksi unggulan dilakukan berdasarkan ya sama seperti koleksi yang lain dengan berdasarkan standar peraturan Perpustakaan Nasional mulai dari proses awal stempel, barcode kemudian diverifikasi apakah kita sudah punya sebelumnya atau belum seandainya belum langsung ke proses penentuan tajuk subjek klasifikasi kemudian diinput di katalog, di label, di sampul dibuatkan surat pengantar dibuatkan kemudian didistribusikan ke ruang KUN” (Maya Pradhipta, Pustakawan Muda). Dalam proses pengolahannya, informan menyampaikan kurangnya personil pengklasifikasi yang paham betul tentang koleksi budaya dengan kekhasannya. “Pengelolaannya, analisis subjek yang nantinya mengarah ke klasifikasi karena kita juga tenaga klasifikasinya kurang banyak jadi untuk menentukan subjek terutama kalau dari kebudayaan itu memang relatif lebih sulit daripada yang tidak tercakup kebudayaan karena spesifik nomornya bisa panjang tergantung dari lokasinya karena tajuk subjek juga tidak spesifik sehingga kita harus menentukan nanti masuknya dimana sih apakah mau ditentukan kebudayaan secara umum saja ataukah dijabarkan untuk mempengaruhi tapi itulah apa namanya prinsipnya pengatalogan itu memang harus spesifik” (Maya Pradhipta, Pustakawan Muda). Proses pengolahan karya-karya dan tema-tema kebudayaan yang harus spesifik untuk akurasi klasifikasinya menjadi tantangan sendiri bagi pustakawan kataloger kebudayaan, karena kebudayaan dengan segala aspeknya memang memiliki kompleksitas tersendiri seperti yang disampaikan (Sazjiyah, 2020) bahwa kebudayaan tersebut menjadi salah satu hal yang paling kompleks mengenai kepercayaan, kesenian, serta berbagai kebiasaan yang didapatkan manusia. Pada suatu masyarakat memiliki adat dan struktur sosial, yang tergolong berbeda dengan masyarakat umum lainnya, yang mana masih adanya suku, adat dan tradisi yang dijalankan turun temurun sehingga menjadi suatu ciri khas dari masing-masing kebudayaan. Pelestarian KUN Sudarsono (2009), menyatakan bahwa fungsi perpustakaan salah satunya adalah sebagai wahana untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa. Balloffet dan Hille (2005) menyatakan bahwa “The main significance of Preservation defined as the act of preserving or maintaining the safety or security of danger, injury, damage, or destruction”. Jika dikaji, menurut kutipan tersebut maka dapat dikatakan bahwa pelestarian didefinisikan sebagai kegiatan melestarikan, menjaga keselamatan atau keamanan dari bahaya cedera, kerusakan, atau perusakan. Pelestarian koleksi, khususnya KUN, juga sangat perlu diperhatikan, karena koleksi yang terpelihara dengan baik/dilestarikan berhubungan dangan pemanfaatan koleksi yang dimiliki perpustakaan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Trisnawati (2016) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan pada kategori kuat dan berkriteria positif serta signifikan antara pemeliharaan bahan perpustakaan tercetak dengan pemanfaatan koleksi. Kegiatan pelestarian/preservasi yang telah dilakukan Perpustakaan UNEJ termasuk di dalamnya adalah pelestarian KUN, meliputi fumigasi, pembersihan rak dan pemberian kapur secara rutin, penjilidan/binding, menyambung dan menjahit kertas dengan lem untuk halaman yang rusak, pembuatan cover ulang pada cover yang rusak. Seperti yang disampaikan informan pada bagian preservasi sebagai berikut: “Untuk proses perbaikan bahan pustaka yang saya lakukan adalah menyeleksi bahan-bahan pustaka dan memilah-memilah bahan pustaka yang masuk kategori rusak berat dan rusak ringan. Kalau rusak ringan kapasitasnya hanya lepas, lemnya itu lepas itu yang kami lakukan. Terus yang kategori rusak berat itu, e cover-nya itu sudah tidak layak untuk dipakai dan itu pun e sudah sangat jelak atau pun sobek. Itu wajib kita ganti untuk pemrosesan pergantian cover bahan pustaka. Itu yang kami lakukan selama ini.” Sedangkan fumigasi yaitu membasmi hama-hama yang merusak koleksi perpustakaan terutama bahan yang berbentuk kertas pernah dilakukan Perpustakaan UNEJ pada tahun 2021. Seperti tampak pada gambar berikut: Dalam masalah pelestarian bahan pustaka, informan menyampaikan beberapa kendala: “Pengembagan SDM-nya misalkan pelatihan, diklat tentang desain cover, standarnya gimana kita kan harus tahu. Makanya kalau ada pelatihan desain cover itu lebih enak karena saya sendiri tidak punya ilmu komputernya juga harus lebih standar, lebih bagus. Karena, kan kecepatannya juga penting untuk proses. Sekarang komputernya lambat karena sudah penuh” (Jumarto, petugas alih media). Pemanfaatan KUN Koleksi unggulan Perpustakaan Universitas Jember diharapkan bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh tidak hanya sivitas akademika UNEJ, tetapi juga oleh masyarakat umum lainnya. Sebagaimana tujuan diadakannya layanan koleksi unggulan yakni memberikan sumber informasi dan pembelajaran mengenai kearifan lokal kebudayaan, dalam hal ini kebudayaan Using, Tengger, dan Madura, sehingga hal-hal positif yang dimiliki kebudayaan tersebut bisa dijaga dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya ditengah gempuran kebudayaan luar yang semakin diminati generasi saat ini, dan menjadi kerisauan para budayawan. Sebagaimana disampaikan (Bagus Prayogi, 2021): “Budaya sebagai identitas masyarakat selalu melekat dalam kehidupan mereka dikehidupan sehari-hari. Internalisasi budaya lokal hari ini semakin marak digaungkan sebagai suatu kearifan dan potensi endemik yang wajib dijaga. Bagi sebagian aktivis pelestari budaya, hal ini dilakukan untuk melestarikan kekayaan organik yang menjadi warisan nenek moyang. Namun yang jarang disadari, internalisasi budaya tersebut ternyata juga ditujukan sebagai antitesa dari arus globalisasi gaya hidup modern yang cenderung kebarat-baratan.” Mengenai manfaat adanya layanan ini, beberapa pemustaka menyampaikan: “Kalau saya sih perlu pak karena kan soalnya ini juga penting kan untuk apa, me… apa memberi informasi kepada mahasiswa. Mahasiswa jaman sekarang kan banyak maksudnya mahasiswa itu bukan mahasiswa doang sih, anak muda itu kan kekurangan informasi terkait kebudayaan kaya Osing Madura sama Tengger ini, jadi kaya lebih bermanfaat lagi gitu pak jika dimasukan ke perpustakaan” (Ida, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). “Menurut saya sangat perlu karena itu kan untuk mengasih tahu kepada para mahasiswa untuk tentang budaya, apalagi inikan menekankan pada koleksi Osing, Madura dan koleksi Tengger gitu” (Dewi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Bila dilihat dari statistik, pemanfaatan koleksi unggulan memang belum maksimal dimanfaatkan sampai dengan Desember 2022 jumlah pengunjung di Ruang KUN adalah: Petugas layanan koleksi unggulan menyampaikan bahwa rata-rata mahasiswa ke ruangan layanan KUN adalah untuk mencari referensi skripsinya, atau ada yang hanya numpang diskusi. Sejalan dengan yang disampaikan pemustaka: “Ehmm apa ya pak, kalau pemanfaatan secara khusus sendiri ya kalau saya kan jurusannya sastra ya mungkin bisa untuk membuat skripsi penelitian” (Ida, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Dalam hal fasilitas layanan unggulan yang tersedia, pemustaka menyampaikan saran: “Untuk ruangan sendiri sih semuanya baik sih pak, mungkin lebih misal menurut saya, saya memberikan saran, kan inikan terkait koleksi Madura, Osing, Tengger mungkin nanti desainnya itu ada yang budayanya Madura, Osing, Tengger sehingga lebih menarik, dikreatifkan gitu pak. Contohnya kalau masuk itu seperti melihat pameran gitu yakan lebih bagus, kalau kaya gini itu kan rapi, bagus cuman kaya perpustakaan formal banget gitu loh pak, kalau misal biar menarik perhatian menurut saya lebih kaya hiasan terkait Osing, Madura, sama Tengger gitu. Lukisan juga bisa, patung-patung kaya gitu.” “Sepertinya patung-patung, atau misalkan baju, kan kita tahu misalkan budaya Osing bajunya kaya gini gitu sekilas bisa tahu pak.” Dari perspektif pemustaka, desain tempat juga menjadi salah satu faktor penting untuk ketertarikan dalam penggunaan layanan KUN. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ruang perpustakaan, furnitur, aksesori pencahayaan dan sirkulasi udara di ruang pertemuan, mempunyai peran penting dalam menumbuhkan minat ke perpustakaan. Warna-warna yang digunakan di perpustakaan cukup berperan dalam meningkatkan minat ke perpustakaan (Noviani et al., 2014) Strategi Promosi Pemanfaatan KUN Badollahi (2007) menyatakan bahwa promosi perpustakaan adalah upaya mengenalkan perpustakaan, koleksi, jenis layanan dan manfaat yang dapat diperoleh oleh dari pemustaka. Promosi perpustakaan diharapkan dapat membuat masyarakat mengetahui layanan yang diberikan perpustakaan dan menumbuhkan ketertarikan untuk mengunjungi serta memanfaatkan perpustakaan. Strategi dan upaya Perpustakaan UNEJ dalam meningkatkan kunjungan pemustaka khususnya di Ruang KUN adalah dengan mengadakan promosi seperti pameran buku baru pada web Perpustakaan UNEJ, pengenalan melalui kegiatan Pengenalan Pada Mahasiswa Baru (PPMB) Selain itu melakukan layanan peminjaman lihat di tempat. Pemutaran CD/video pada ruang KUN, brosur dan leaflet, publikasi di berbagai media misalnya media sosial Facebook, Instagram, YouTube dan kegiatan rutin kepustakawanan yaitu Kongkow Kepustakawanan. Flyer kegiatan Kongkow dapat dilihat pada gambar berikut: Hasil kegiatan Kongkow 10 menunjukkan bahwa kegiatan ini juga dihadiri peserta dari luar UNEJ yaitu Perpustakaan SMP N 1 Mondoka, SMK Negeri 2 Lumajang, Universitas Teknologi Yogyakarta, UPBJJ Universitas Terbuka, serta Universitas dr. Soebandi. Hal ini menunjukkan kegiatan promosi telah dilakukan di luar Perpustakaan UNEJ. Beberapa saran yang masuk dari kegiatan Kongkow 10 adalah jadi lebih tahu tradisi Madura, menambah pengetahuan tentang budaya Madura, menambah pengetahuan tentang koleksi UPA Perpustakaan UNEJ. Bahkan ada peserta yang menginginkan kegiatan Kongkow Koleksi Unggulan Lanjutan. (Hasan, pengelola Perpustakaan UNEJ). Langkah strategi promosi ke depan selanjutnya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi dengan lebih kreatif dan dikemas dengan cara yang lebih menarik. Secara internal dapat berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Budaya UNEJ dalam pemanfaatan sumber informasi KUN, sehingga dapat mendukung dalam pembelajaran di masyarakat khususnya sivitas akademika. Kegiatan dapat berupa pameran budaya, workshop dan integrasi KUN dalam kegiatan akademik serta dapat dipertimbangkan adanya integrasi KUN dengan kurikulum pendidikan UNEJ. Secara eksternal, Perpustakaan UNEJ dapat bekerja sama dengan institusi lain seperti museum atau pusat kebudayaan, untuk memperkaya koleksi dan meningkatkan pemanfaatan KUN. Kendala Pengelolaan KUN di UPA Perpustakaan UNEJ Berdasar pada pengamatan peneliti dan wawancara dengan informan. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain: 1. Dalam hal pengadaan, jumlah sumber daya bahan perpustakaan mengenai Using, Tengger, dan Madura sangat minim, sehingga penambahan koleksi unggulan pun masih rendah 2. Dalam pengolahan, dibutuhkan tambahan pengklasifikasi yang juga memahami secara khusus segala aspek budaya. Mengingat saat ini pengklasifikasi buku di lakukan oleh satu orang. 3. Dalam hal pelestarian koleksi unggulan, Kendala pelaksanaan preservasi adalah kurangnya skill SDM Perpustakaan UNEJ bidang preservasi, alokasi dana yang terbatas serta kurang dukungan sarana prasarana yang dimiliki Perpustakaan UNEJ. Sebagaimana disampaikan oleh informan: “Kendalanya itu ada di sarana prasarana yaitu hasil output pembuatan cover itu tidak sesuai dengan yang aslinya. Artinya, warnanya, yang tidak sesuai aslinya tetapi bentuk dan ukuran yaitu 100% sama maupun gambarnya. Karena apa? karena sarana prasarana kurang memadai. Salah satu kendala yang selama ini masalah printer memang beberapa kali saya minta untuk printer itu dikasih yang lebih bagus kualitasnya sesuai standar pembuatan cover. Karena apa? Hasil yang kita hasilkan selama ini agak buram. Jadi kalau yang asli itu kan jelas. Kalau sekarang itu agak buram hasilnya. Paling tidak kecerahan cover bisa mencapai 95% kalau sekarang kisaran sekitar 80% atau 75%” (Jumarto, petugas alih media).
Conclusion
Keberadaan layanan koleksi unggulan di Universitas Jember sangat bermanfaat bagi tersedianya sumber informasi budaya Using, Tengger, dan Madura untuk mendukung lestarinya kearifan lokal yang positif. Pihak manajemen perpustakaan dalam setiap masa kepemimpinan sangat mendukung keberadaan layanan ini, terbukti dengan perubahan-perubahan fasilitas layanan unggulan yang berorientasi pada kepuasan pemustaka khususnya yang memanfaatkan layanan koleksi unggulan. Meskipun dokumen pernyataan kebijakan pengembangan koleksi unggulan sudah ada, khususnya dalam pengadaan bahan perpustakaan koleksi budaya Using, Tengger, dan Madura, namun proses pengadaan masih belum bisa ideal karena ketersediaan sumber daya, sehingga manajemen perpustakaan harus memberikan perhatian khusus dalam proses pengadaan bahan perpustakaan koleksi unggulan. Dari kesimpulan yang disampaikan di atas perlu maka saran yang dapat disampaikan adalah untuk penambahan koleksi unggulan Using, Tengger, dan Madura, manajemen perpustakaan bisa melakukan alternatif pengadaan diantaranya menambah koleksi digital baik dari pembelian ataupun diterbitkan sendiri seperti hasil liputan Tim Perpustakaan dalam acara yang berkaitan dengan kebudayaan koleksi unggulan, hasil wawancara dengan tokoh budaya koleksi unggulan, lomba budaya, dsb. Dalam hal pengolahan, penambahan SDM yang mengklasifikasi bisa dilakukan, atau kajian khusus pengolahan untuk koleksi unggulan khususnya tahap klasifikasi bisa dilakukan sehingga koleksi unggulan tidak hanya mampu telusur, tapi bisa sangat spesifik penataannya sebagai representasi budaya yang memang memiliki kompleksitas dalam berbagai aspek. Preservasi koleksi sangat penting dilakukan, terlebih bila koleksi tersebut langka dan perlu dilestarikan, sehingga kemampuan SDM dalam bidang preservasi sangat penting. Manajemen bisa melakukan pelatihan atau diklat tentang preservasi koleksi sesuai standar.