Kembali
16
1
2022 Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 1 · 2 ISSN 2962-9780

Strategi Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota Menuju Perpustakaan Ideal

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lingkungan internal dan eksternal perpustakaan dan menghasilkan strategi yang tepat untuk Dinas perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dalam mengembangkan perpustakaanya menjadi perpustakaan ideal menggunakan metode analisis SWOT. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuaitatif dengan metode deskripstif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa identifikas IFAS atau lingkungan internal perpustakaan yang terdiri dari beberapa aspek yang menjadi kekuatan dan kelemahan, serta identifikasi EFAS atau lingkungan eksternal perpustakaan yang juga terdiri dari beberapa aspek yang menjadi peluang dan ancaman bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dalam pengelolaan perpustakaannya. Strategi yang dihasilkan yaitu: (1) meningkatkan layanan perpustakaan keliling; (2) mengoptimalkan pemanfaatan gedung perpustakaan ; (3) mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi; (4) memperluas kerjasama dengan instansi lain; (5) meningkatkan sarana dan prasarana perpustakaan; (6) meningkatkan kegiatan perawatan koleksi perpustakaan; (7) meningkatkan kegiatan promosi perpustakaan; (8) melakukan manajemen pengelolaan dana.

Abstract

This study aims to determine the internal and external environment of the library and to produce the right strategy for the Dinas perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota in developing its library into an ideal library using the SWOT analysis method. The type of research used is qualitative research with descriptive method. Data collection techniques used are observation, interviews and documentation. The results of the research can be concluded that the identification of IFAS or the library's internal environment which consists of several aspects that are strengths and weaknesses, as well as the identification of EFAS or the library's external environment which also consists of several aspects that become opportunities and threats for the Dinas perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota. in the management of the library. The resulting strategies are: (1) improving mobile library services; (2) optimizing the use of the library building; (3) optimizing the use of information technology; (4) expand cooperation with other agencies; (5) improve library facilities and infrastructure; (6) improve library collection maintenance activities; (7) increase library promotion activities; (8) perform fund management.
Keywords: perpustakaan ideal · perpustakaan umum · strategi pengembangan perpustakaan

Introduction

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat. Perpustakaan bertujuan untuk memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, dan memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, salah satunya adalah perpustakaan umum. Perpustakaan umum merupakan suatu tempat yang terbuka untuk umum. Masyarakat bisa menikmati semua fasilitas yang tersedia di perpustakaan tersebut tanpa dipungut biaya apapun demi mewujudkan masyarakat yang gemar membaca. Begitupun dengan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota berada dibawah instansi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota yang berfungsi untuk menyediakan layanan informasi, rekreasi, pendidikan, dan penelitian kepada masyarakat sekitar. Sebagai perpustakaan umum, perpustakaan tersebut harus memperhatikan layanan dan fasilitas yang disediakan bagi pengguna, semuanya harus sesuai dengan kebutuhan pemustaka, agar pemustaka tersebut betah dan nyaman berada di perpustakaan, serta dapat menarik pemustaka lain untuk datang berkunjung ke perpustakaan. Perpustakaan tersebut juga harus dilakukan pengembangan agar menjadi perpustakaan yang ideal sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan. Perpustakaan bertujuan untuk membantu semua lapisan masyarakat dengan memberikan kesempatan dengan memberikan dorongan melalui jasa pelayanan perpustakaan agar mereka dapat mendidik dirinya sendiri secara berkesimbungan, dapat tanggap dalam kemajuan pada berbagai lapangan ilmu pengetahuan, kehidupan sosial dan politik, dapat memelihara kemerdekaan berfikir yang konstruktif untuk menjadi anggota keluarga dan masyarakat yang lebih baik, dapat mengembangkan kemampuan berfikir kreatif, membina rohani dan dapat menggunakan kemampuannya untuk dapat menghargai hasil seni dan budaya manusia, dapat meningkatkan taraf kehidupan sehari-hari dan lapangan pekerjaannya, dapat menjadi warga negara yang baik dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan nasional dan dalam membina saling pengertian antar bangsa, serta dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan sosial (Mangnga, 2015:39). Adapun unsur-unsur dalam perpustakaan umum yang perlu dikembangkan agar menjadi perpustakaan ideal adalah koleksi, sumber daya manusia, desain gedung/ruang, sarana dan prasarana, layanan pemustaka dan promosi perpustakaan. Perpustakaan yang ideal pada dasarnya adalah sebuah perpustakaan yang mampu memberdayakan masyarakat, mampu melakukan revolusi minat baca pada masyarakat, ampu mengubah karakter masyarakat dari tidak suka membaca menjadi suka membaca, serta mampu mengubah masyarakat tuna informasi menjadi masyarakat yang berliterasi atau melek informasi (Mawaddah 2014:155). Perpustakaan bisa disebut ideal bila memenuhi persyaratan sebagai berikut; (1) professional, (2) menguasai IT, (3) performa yang bagus, (4) inovatif, (5) mampu melaksanakan manajemen informasi perpustakaan, (6) user oriented, (7) santun dan tegas terhadap pelanggaran, (8) special day to user, (9) pandai dalam menggalang dana, (10) dirindukan pengguna dan masyarakat sekitarnya (Suyatno 2017:126-127). Perpustakaan yang ideal dapat diwujudkan melalui pengembangan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan globalisasi pada kualitas dan produktivitas sumber daya manusia sehingga mampu berkompetisi dalam berbagai bidang. Strategi pengembangan perpustakaan yang paling mudah adalah upaya meningkatkan segala sesuatu yang sudah dicapai. Hal ini diharapkan agar perpustakaan secara terencana dapat lebih berkembang dan maju sesuai dengan perkembangan jaman Pengembangan perpustakaan adalah suatu rangkaian kegiatan dengan pembinaan. Pembinaan perpustakaan disini diartikan sebagai usaha atau tindakan yang dilakukan agar memperoleh hasil berdaya guna yang lebih baik, maka dibutuhkan strategi pengembangan perpustakaan, yaitu upaya meningkatkan segala sesuatu yang sudah dicapai agar perpustakaan secara terencana dapat lebih berkembang dan maju sesuai dengan perkembangan zaman (Islamy 2018:173) Strategi pengembangan perpustakaan dapat dihasilkan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT yaitu mencakup upaya-upaya untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang menentukan kinerja perusahaan (Nisak 2013:2). Fungsi analisis SWOT adalah melakukan general check-up organisasi untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman organisasi dengan tujuan menentukan strategi dan tindakan yang tepat untuk mencapai target yang telah ditentukan (Maryani (2015:2). Hasil dari analisis tersebut nantinya dijadikan landasan dan pertimbangan untuk mempersiapkan dan melakukan tindakan yang lebih tepat, sehingga penyelenggaraan perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pemustaka. Adapun pada penelitian ini penulis menggunakan bentuk matriks SWOT menurut Rangkuti (2013:26) yaitu sebagai berikut. Tabel 1. Matriks SWOT IFAS EFAS Strengths (S) Menentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal Weaknesse (W) Menentukan 5-10 faktor-faktor kelemahan internal Opportunities (O) Menentukan 5-10 faktor-faktor peluang eksternal Strategi SO Menciptakan strategi menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Strategi WO Menciptakan strategi dengan meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Threats (T) Menentukan 5-10 faktor-faktor ancaman eksternal Strategi ST Menciptakan strategi dengan memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi ancaman Strategi WT Menciptakan strategi dengan meminimalkan kelemahan untuk menghindari ancaman Analisis SWOT dimulai dengan memaparkan faktor strategi internal atau Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS) dan faktor strategi eksternal atau External Strategic Factors Analysis Summmary (EFAS). Matriks ini menghasilkan empat set matriks menurut Nisak (2013:4) yaitu sebagai berikut: (1) strategi SO (Strength-Opportunities), strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang yang sebesarbesarnya, (2) strategi ST (Strenghts-Threats), yaitu strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman, (3) strategi WO (Weknesses- Opportunities), strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang dengan meminimalkan kelemahan yang ada, (4) strategi WT (Weknesses- Threats), strategi ini berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Berkaitan dengan hal di atas keberadaan perpustakaan menjadi suatu keharusan dan harus dibangun ditengah-tengah masyarakat mengingat fungsinya sebagai pusat informasi, pendidikan, penelitian, pelestarian, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan seluruh lapisan masyarakat. Berkunjung ke perpustakaan menjadi cara yang paling mudah bagi masyarakat untuk mendapat informasi dan mencari berbagai koleksi perpustakaan. Tetapi keberadaan perpustakaan tersebut tidak begitu mendapat perhatian oleh pemerintah sehingga kondisinya jauh dari kata ideal. Hal ini dapat dilihat dari minimnya fasilitas yang tersedia di perpustakaan, sehingga mengakibatkan kurang optimalnya layanan yang diberikan perpustakaan kepada masyarakat. Inilah yang mengakibatkan masyarakat enggan untuk datang ke perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi dan pusat kegiatan. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan salah satu pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota mengatakan bahwa perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota untuk saat ini belum bisa dikatakan ideal sesuai standar perpustakaan umum daerah karena perpustakaan tersebut masih berakreditasi C. Adapun langkah dan upaya yang telah dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota untuk mewujudkan perpustakaan ideal yaitu melalui dana DAK Perpustakaan Nasional RI dengan membangun gedung layanan perpustakaan yang representatif, menambah jumlah koleksi perpustakaan, dan meningkatkan sarana untuk layanan perpustakaan. Tetapi langkah dan upaya yang telah dilakukan tersebut belum mencapai hasil yang maksimal. Berdasarkan dari penjelasan latar belakang di atas, penulis berupaya untuk menganalisis unsur-unsur yang ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dan mencari langkah strategis untuk mewujudkan perpustakaan yang ideal dengan mengggunakan metode analisis SWOT. Dengan demikian penelitian ini sangat penting dilakukan untuk mencapai perpustakaan yang ideal dan dapat menarik pengunjung untuk datang ke perpustakaan, sehingga peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian “Strategi Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota Menuju Perpustakaan Ideal”.

Method

2.1. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitan kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena bertujuan untuk mengetahui strategi yang digunakan oleh perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota yang dilakukan secara langsung dan berinteraksi dengan apa yang diteliti untuk mendapatkan pemahaman mengenai permasalahan dari data yang didapat dan kemudian dideskripsikan. 2.2. Latar, Entri dan Kehadiran Peneliti Latar dalam penelitian ini yaitu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota berlokasi di Jl. Raya Negara KM 9 Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Entri dalam penelitian dilakaukan dengan cara peneliti masuk ke lapangan dengan berusaha menjalin hubungan informal dan non formal dengan pihak terkait. Lalu meminta izin kepada instansi yang berwenang untuk melakukan observasi. Selanjutnya peneliti berusaha menjaga komunikasi dan kepercayaan dengan semua orang di lapangan. Lalu mengindentifikasi informan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Adapun kehadiran peneliti dalam penelitian ini peneliti harus terjun sendiri untuk berpartisipasi dengan mendatangi subjek secara langsung dan meluangkan waktunya untuk melakukan aktivitas yang diperlukan dimana subjek itu berada, maka peneliti hadir ke lokasi penelitian yaitu di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota. 2.3. Informan Informan dalam penelitian ini terdiri dari 10 orang. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling, menurut Sugiyono dalam Maharani & Bernard (2018:821-822) teknik purposive sampling adalah suatu teknik penentuan dan pengambilan sampel yang ditentukan oleh peneliti melalui pertimbangan tertentu. Pertimbangan ini yaitu orang yang dianggap paling mengetahui terhadap masalah yang diteliti atau pihak yang memiliki keahlian tertentu dibidangnya dan bersedia menjadi narasumber untuk memberikan informasi yang diketahuinya kepada peneliti. 2.4. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data atau mengukur objek dari suatu variabel penelitian agar aktivitas penelitian menjadi lebih mudah (Yusup 2018:17). Pada penelitian ini, peneliti merupakan instrumen kunci atau instrumen utama dalam melakukam penelitian, karena peneliti adalah orang yang berhubungan langsung dengan informan atau objek lainnya, serta berperan dalam melakukan pengamatan. Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview guide (pedoman wawancara), lembaran observasi, notebook (buku catatan) dan handphone. 2.5. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teknik, yaitu observasi, peneliti melakukan penelitian untuk mengamati dan melakukan pencatatan mengenai fenomena atau aktifitas yang terjadi yang berkaitan dengan penelitian ini dengan langsung datang ke lokasi yaitu di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota. Wawancara, peneliti melakukan wawancara dengan sekretaris, kepala bidang perpustakaan, pustakawan, dan pemustaka yang ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota untuk menggali informasi secara mendalam dan luas dari narasumber mengenai topik yang dibahas. Dokumentasi, dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk melengkapi penelitian, baik berupa sumber tertulis seperti visi, misi dan struktur organisasi perpustakaan, serta gambar/foto lingkungan perpustakaan dan saat melakukan wawancara. 2.6. Teknik Pengabsahan Data Teknik pengabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Triangulasi merupakan pendekatan yang dilakukan oleh peneliti untuk mengolah data kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap fakta dan data yang didapatnya. 2.7. Teknik Penganalisisan Data Tekni penganalisisan data yang dijadikan pedoman dalam penelitian ini adalah menurut Emzir dalam Kamri (2017:51) yang dimulai dari alur reduksi data, saat observasi awal peneliti mengamati gedung/ruang perpustakaan, koleksi perpustakaan, staff/pustakawan dan layanan yang ada di perpustakaan tersebut. Dari pengamatan tersebut muncul serangkaian pertanyaan di benak peneliti. Pertanyaan tersebut lalu dirangkum dan dilakukan transkrip wawancara mengenai strategi pengembangan perpustakaan menuju perpustakaan ideal di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota. Data display, pada penelitian ini disajikan dalam bentuk teks naratif yang mendeskripsikan hasil temuan dari wawancara yang dilakukan dengan informan mengenai strategi pengembangan perpustakaan menuju perpustakaan ideal di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupate Lima Puluh Kota. Serta disajikan dalam bentuk matriks SWOT. Penarikan kesimpulan atau verifikasi, setelah penyusun strategi alternatife menggunakan matriks SWOT, maka selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi dengan melakukan perhitungan nilai EFAS dan IFAS untuk memilih dan menentukan strategi yang tepat untuk diterapkan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota untuk menjadi perpustakaan yang ideal.

Result & Discussion

3.1. Analisis SWOT Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota Berikut adalah aspek-aspek lingkungan internal dan eksternal di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota yang menjadi kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang di perpustakaan tersebut. Tabel 2. Analisis SWOT Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota IFAS (Internal) EFAS (Eksternal) Strengths (S) 1. Sumber daya manusia yang berkompeten. 2. Jumlah sumber daya manusia yang memadai. 3. Koleksi yang memadai secara jumlah dan kualitas. 4. Kebaruan koleksi yang cukup baik dan variatif. 5. Gedung perpustakaan yang representatif. 6. Menerapkan layanan terbuka (open access). 7. Layanan pemustaka yang variatif dan terotomasi. Weaknesses (W) 1. Perawatan koleksi yang belum maksimal. 2. Sarana dan prasarana yang belum lengkap. 3. Belum terse-dia koleksi digital. 4. Ruang-ruang yang belum dimanfaatkan secara maksi-mal. 5. Layanan WiFi dan OPAC untuk pengunjung belum tersedia. 6. Dana yang terbatas. Opportuni-ties (o) 1. Adanya peningkatan jumlah pemustaka 2. Pemanfaatan tekno-logi informasi dalam pengelolaan perpustakaan dan layanan pemustaka 3. Adanya kerjasama dengan organisasi lain. Strategi SO 1. Meningkatkan kompetensi pustakawan di bidang teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pemustaka. 2. Meningkatkan kebaharuan koleksi sesuai dengan kebutuhan pemustaka. 3. Meningkatkan layanan perpustakaan keliling dengan pengunjungi setiap sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota dan tempat-tempat keramaian. 4. Mengoptimalkan pemanfaatan gedung perpustakaan sebagai pusat kegiatan dan tempat rekreasi bagi masyarakat. 5. Mengoptilmalkan pemanfaatan teknologi informasi untuk kemudahan layanan akses pemustaka. 6. Memperluas kerjasama dengan instansi-instansi lain untuk pengembangan perpustakaan. Strategi WO 1. Meningkatkan kegiatan perawatan koleksi perpustakaan agar kualitas fisik koleksi tetap terjaga. 2. Memanfaatkan secara maksimal prasarana yang ada dan dirawat dengan sebaik mungkin. 3. Menyediakan koleksi perpustakaan dari berbagai bentuk atau format sesuai dengan kebutuhan pemustaka. 4. Mengoptimalkan pemanfaatan setiap ruang di perpustakaan sesuai dengan fungsinya. 5. Melakukan manajemen pengelolaan dana atau anggaran untuk kelancaran pengelolaan perpustakaan. Threats (T) 1. Beralihnya kebutuhan pemustaka ke koleksi digital. 2. Peningkatan jumlah pemustaka yang tidak diiringi dengan prasarana yang lengkap. Strategi ST 1. Meningkatkan kebaharuan koleksi perpustakaan secara berkala yang disesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan pemustaka. 2. Meningkatkan kualitas koleksi dan layanan untuk mempertahankan minat kunjung pemustaka ke perpustakaan. 3. Mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana perpustakaan untuk penunjang kenyamanan pemustaka. Strategi WT 1. Meningkatkan layanan kepada pemustaka dengan membantu pemustaka menemukan koleksi yang mereka butuhkan. 2. Memperluas kerjasama dengan instansi atau organisasi lain untuk kemajuan dan perkembangan perpustakaan Tabel di atas merupakan identifikas IFAS atau lingkungan internal perpustakaan yang terdiri dari beberapa aspek yang menjadi kekuatan dan kelemahan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dalam pengelolaan perpustakaannya, serta identifikasi EFAS atau lingkungan eksternal perpustakaan yang juga terdiri dari beberapa aspek yang menjadi peluang dan ancaman bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dalam pengelolaan perpustakaannya. Identifikasi IFAS dan EFAS pada tabel tersebut kemudian menghasilkan strategi SO yaitu strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang; strategi WO yaitu strategi dengan meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang; strategi ST yaitu strategi dengan memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi ancaman; dan strategi WT yaitu strategi dengan meminimalkan kelemahan untuk menghindari ancaman. 3.2. Strategi Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota Menuju Perpustakaan Ideal 3.2.1 Meningkatkan Layanan Perpustakaan Keliling Peningkatan layanan perpustakaan keliling dengan mengoptimalkan waktu operasi melayani sekolah dan masyarakat sekitar. Perpustakaan keliling diharapkan beroperasi secara rutin minimal 1 (satu) kali dalam seminggu untuk mengunjungi sekolah-sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota, serta mengunjungi tempat-tempat keramaian seperti di taman kota ataupun di tempat kegiatan masyarakat dan tempat event lainnya. Layanan perpustakaan keliling ini harus merata ke setiap daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota, terutama ke daerah yang jauh dari perpustakaan umum agar semua masyarakat bisa mendapatkan layananan yang sama dari perpustakaan dan meningkatkan minat baca masyarakat secara merata. Sebagaimana yang disampaikan oleh Dewi & Suharso (2015:2) bahwa perpustakaan keliling bertujuan untuk melayani masyarakat yang tidak dapat datang ke perpustakaan menetap karena daerah yang tidak terjangkau, meningkatkan minat baca masyarakat, dan supaya masyarakat memperoleh informasi sebanyak mungkin sehingga akan meningkatkan pengetahuan. 3.2.2. Mengoptimalkan Pemanfaatan Gedung Perpustakaan sebagai Pusat Kegiatan dan Rekreasi Bagi Masyarakat Gedung Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota yang terletak tinggi dari jalan membuat perpustakaan ini memiliki view yang indah. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat. Masyarakat bisa memenuhi kebutuhan informasinya sekaligus dapat melihat pemandangan yang indah. Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota bisa memanfaatkan teras ataupun balkon pada lantai 2 dan menyediakan kursi dan meja di balkon tersebut, sehingga pemustaka dapat menikmati langsung pemandangan sambil membaca buku. Layanan ini tentu tidak akan didapat di semua tempat, ini menjadi keistimewaan di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota dan akan menjadi pengalaman tersendiri bagi pemustaka yang berkunjung. 3.2.3. Mengoptimalkan Pemanfaatan Teknologi Informasi dengan Menyediakan Layanan OPAC dan Koleksi Digital Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota harus mengikuti perkembangan teknologi tersebut dan memperhatikan kemutakhiran informasinya agar dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat secara maksimal. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menyediakan layanan OPAC untuk pemustaka, layanan ini akan mempermudah dan mempercepat pemustaka dalam melakukan temu kembali informasi dan menemukan koleksi yang mereka butuhkan. Layanan OPAC ini memiliki banyak kelebihan, selain praktis dan efisien juga dapat melayani kebutuhan masyarakat dalam jangkauan yang lebih luas. 3.2.4. Memperluas Kerjasama dengan Instansi Lain Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dapat melakukan kerjasama dengan berbagai instansi dengan melaksanakan workshop atau pelatihan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Lalu kerjasama dengan perpustakaan sekolah, perpustakaan nagari, perpustakaan di tempat ibadah, maupun taman baca dengan memberikan bantuan berupa koleksi tercetak. Kerjasama juga dapat dilakukan dengan lembaga induk untuk melakukan promosi bersama dalam sebuah event. Sebagaimana yang dikatakan Husna (2017:127) untuk mendukung kemajuan perpustakaan, perpustakaan dapat menyelenggarakan jaringan kerjasama dalam kepustakawanan, perluasan dalam penggunaan teknologi informasi, akses data melalui internet, mengadakan pelatihan untuk pustakawan, dan lainnnya. 3.2.5. Meningkatkan Sarana dan Prasarana Perpustakaan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota harus melengkapi sarana dan prasarana seperti komputer untuk pemustaka, barcode scanner, WiFi, CCTV, penambahan komputer di bagian sirkulasi, penambahan rak buku dan loker, meja dan kursi untuk aula dan ruang komunitas, proyektor, ruang khusus referensi, serta meyediakan cafeteria. Hal ini juga disampaikan oleh Mustika & Rahmah (2015:306) bahwa kelengkapan sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan akan berpengaruh terhadap minat kunjungan pemustaka karena dengan suasana perpustakaan yang nyaman akan membuat suasana pencarian informasi di perpustakaan menjadi kondusif. 3.2.6. Meningkatkan Kegiatan Perawatan Koleksi Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dalam kegiatan perawatan koleksi seharusnya tidak hanya sekedar menyampul buku baru saja, tetapi dimulai dari membersihkan koleksi dari debu dengan kemoceng, lap kering, atau dengan vacuum cleaner. Lalu, untuk menghindari koleksi dari rayap dapat dilakukan dengan memperhatikan suhu dan kelembapan di ruangan tersebut, melakukan penyemprotan anti rayap pada rak yang terbuat dari kayu secara berkala dan tidak lupa diberi kapur barus. 3.2.7. Meningkatkan Kegiatan Promosi Perpustakaan Perpustakaan dapat melakukan promosi dengan membangun kerjasama dengan pihak lain baik perorangan maupun organisasi. Lalu, dapat dipromosikan melalui media elektronik seperti, radio maupun televisi, dan media cetak seperti surat kabar, majalah, kalender, souvenir, brosur, poster, dan sebagainya. Promosi melalui berbagai media sosial seperti Instagram, YouTube, Facebook, Tiktok, dan media sosial lainnya juga hal yang harus dilakukan untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi. Wahyuni (2015:5) mengatakan promosi bertujuan untuk memfasilitasi komunikasi antara perpustakaan dan calon pemustaka, karena salah satu keberhasilan sebuah perpustakaan adalah dapat dilihat dari tingkat kunjungan pemustaka dan pemanfaatan informasi (koleksi) oleh pemustaka. 3.2.8. Melakukan Manajemen Pengelolaan Dana untuk Kelancaran Pengelolaan Perpustakaan Dana yang tersedia di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik yaitu dengan cara melakukan perencanaan kebutuhan yang jelas secara terstruktur dan mudah dipahami agar nantinya dapat diselesaikan dengan lancar. Lalu, prosedurnya harus jelas, pengelolaan harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti.Pengelolaan tersebut juga harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman di bidang tersebut, serta harus jujur dan amanah. Pengelolaan anggaranan harus diawasi dan dipantau oleh atasan untuk mencegah terjadinya kesalahan dan kerugian. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Pebrianti (2016:81) bahwa pengelolaan anggaran harus melalui perencanaan yang jelas, terstruktur, serta mudah dipahami dan dilaksanakan, penggunaan anggaran pun perlu dilakukan dengan kehati-hatian dan teliti untuk menghindari pemborosan/penyimpangan dan pembelanjaan yang tidak semestinya, dengan pengadministrasian melalui prosedur yang telah ditentukan.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi pengembangan perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kerasipan Kabupaten Lima Puluh Kota menuju perpustakaan ideal, maka dapat disimpulkan lingkungan internal Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki kekuatan yaitu: sumber daya manusia yang memadai, koleksi yang variatif, gedung perpustakaan yang representatif, dan layanan pemustaka yang variatif, serta memiliki kelemahan yaitu: belum tersedia koleksi digital, sarana dan prasarana yang belum lengkap, layanan WiFi dan OPAC yang belum tersedia, dan dana/anggaran yang terbatas. Adapun di lingkungan eksternal memiliki peluang yaitu: peningkatan jumlah pemustaka, perkembangan teknologi informasi, dan kerjasama dengan organisasi lain, serta memiliki ancaman yaitu: peningkatan jumlah pemustaka yang tidak diiringi dengan sarana dan prasarana yang memadai dan perubahan sosial masyarakat. Strategi yang dihasilkan untuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota dalam mengembangkan perpustakaannya menjadi perpustakaan ideal, yaitu meningkatkan layanan perpustakaan keliling, mengoptimalkan pemanfaatan gedung perpustakaan, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi, memperluas kerjasama dengan instansi lain,meningkatkan sarana dan prasarana perpustakaan, meningkatkan kegiatan perawatan koleksi perpustakaan, meningkatkan kegiatan promosi perpustakaan dan melakukan manajemen pengelolaan dana.