Kembali
16
1
2024 Librarium: Library and Information Science Journal Vol 1 · 1 ISSN 3047-4779

TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN DI ERA DIGITAL NATIVE

Universitas Sriwijaya

Abstract

Introduction. Digital libraries, as a form of library transformation, are tied to their role as educational centers for all communities. Libraries must maximize their role for millennial readers in this digital native era. This research aims to find out how library transformation contributes to the needs of librarians in the digital native era and also the librarian competencies that librarians must have. This is done because digital natives prefer the internet as the primary information reference source. Digital native is a description of the current generation who are used to fast responses, don't like to wait, and new technology makes them addictive.Research methods.This research is library research with a qualitative approach to obtain detailed information by exploring the substance of information or empirical data obtained from books, results of scientific or formal research reports, or other literature.Data Analysis.Data analysis is done by collecting articles and readings about library transformation and digital natives, which are then classified, analyzed, and interpreted to reach conclusions. Results and Discussion. This research concludes that libraries are obliged to realize data technology as an opportunity to develop rather than view it as an obstacle that will threaten the library's existence. Librarians must be ready and proactive about data technology, information and science advances. Librarians must be active, creative, innovative, and always follow advances in data technology.Conclusions and recommendations. Libraries must change service patterns and improve all matters related to library facilities
Keywords: Transformation · Library · Digital Native

Introduction

Transformasi perpustakaan merupakan suatu perubahan dalam unsur perpustakaan, antara lain unsur koleksi, pengolahan, penyimpanan dan pemakaian, berprosesnya suatu perpustakaan ke arah yang lebih baik. Perpustakaan yang sebelumnya cuma mengelola bahan pustaka supaya dapat dimanfaatkan pemustaka dengan metode yang tradisional, yang sebutan kerennya books management, saat ini berubah menjadi knowledge management, yakni mengelola pengetahuan dengan pengelolaan data sebagai satu kesatuan supaya dapat diketemukan kembali dengan lebih mudah (retrieval information). Menurut Endang Fatmawati, transformasi perpustakaan mempunyai arti sebagai sebuah proses dimana unsur perpustakaan berubah ke arah yang lebih baik seperti berikut (Tania et al., 2023): 1. Transformasi dari budaya baca semula menjadi budaya baca dan tulis;2. Transformasi dari perpustakaan sumber daya fisik menjadi perpustakaan berbasis pengetahuan;3. Transformasi dari orientasi penyediaan koleksi fisik ke elektronik; 4. Transformasi perpustakaan yang mandiri menjadi kolaborasi membangun;5. Transformasi pada bahan koleksi yang ada yang pada awalnya menggunakan kertas menjadi tidak menggunakan kertas;6. Transformasi terhadap pandangan ahli kepustakawanan menjadi sebuah studi ilmu disipliner berbagai ilmu.Konsekuensi dari perpustakaan transformatif adalah keluar dari zona aman. Dunia berubah dan berganti secepat kilat. Program transformasi perpustakaan meningkatkan literasi berbasis teknologi data dan informasi dalam rangka memperbaiki kualitas mutu hidup serta kesejahteraan warganya. Tidak hanya itu, transformasi perpustakaan diperlukan untuk mewujudkan tradisi berbasis keilmuan serta keunggulan secara inklusif, yang membolehkan segenap kemampuan terbaik pemustaka mendapatkan akses serta peluang pembelajaran resmi ataupun informal.Penambahan kapasitas sumber daya manusia bisa meningkatkan produktifitas dan kualitas sehingga pada akhirnya bisa menciptakan peluang daya saing bangsa baik secara regional maupun internasional (Pertiwi, 2019). Era digital seperti saat ini, menuntut pengelola perpustakaan terlebih lagi pustakawannya menjadi lebih kreatif dan dinamis menghadapi semua perubahan serta dunia baru yang serba digital. Era digital menjadi masa dimana manusia mengandalkan media digital untuk memperoleh informasi atau menjalin komunikasi daripada menggunakan media lain, akibatnya yang dekat terkadang menjadi jauh dan yang jauh menjadi lebih dekat (Andriani, 2019). Pustakawan tidak lagi menjadi book keeper, namun harus menjadi seorang broker data, dengan kepiawaiannya mengemas data supaya dapat diakses secara elektronik tanpa terbatas waktu dan tempat pemustakanya. Seorang pustakawan juga dituntut memiliki digital skill, ialah keahlian dalam mengenali, menguasai serta memakai fitur keras, fitur lunak dan sistem operasi digital dalam kehidupan serta aktivitas rutinitasnya.Lahirnya perpustakaan digital sebagai salah satu wujud transformasi perpustakaan, terutama di level universitas baik swasta ataupun negeri diharapkan bisa meningkatkan konsep e-learning, e-research, serta information literacy untuk memecahkan masalah yang muncul serta kesempatan mendekati pelaksanaan rencana e-learning, e-research serta information literacy tersebut di universitas. Cepatnya perkembangan teknologi dan komunikasi juga sangat berdampak pada perilaku dalam mencari dan memperoleh informasi, terutama pemustaka di lingkungan universitas. Melalui dukungan aplikasi fitur teknologi data yang ada saat ini, pemustaka mampu mendapatkan beragam data dan informasi dalam waktu yang relatif cepat. Perpustakaan-pun sudah waktunya berbenah diri, bertransformasi dari pusat data dan informasi menjadi pusat kegiatan yang dapat memenuhi semua kebutuhan para pemustakanya. Transformasi merupakan sesuatu yang penting bagi perpustakaan karena perpustakaan sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari aktivitas temu kembali data serta terikat dengan perannya selaku jantungnya pendidikan seumur hidup (long life education) bagi segenap masyarakat. Sehingga apapun zamannya, perpustakaan wajib tetap memegang peran utama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Perpustakaan wajib selalu beradaptasi dengan perubahan dan proses regenerasi, perpustakaan harus segera tanggap untuk memaksimalkan fungsinya bagi pemustaka. Seperti pada masa sekarang ini, yang makin diingat sebagai era data, era digital native, perpustakaan juga harus sanggup menyesuaikan dengan keperluan pemustakanya. Kebiasaan dan gaya hidup masyarakat yang berubah memaksa perpustakaan untuk segera bebenah. Hanya ada dua pilihan, mengikuti arus atau tergerus.Berdasar latar belakang tersebut, tulisan ini hendak mengulas mengenai transformasi perpustakaan di era digital native, bagaimana transformasi perpustakaan tersebut berkontribusi dengan kebutuhan pemustaka di era digital native seperti sekarang begitu pula dengan kompetensi kepustakawanan yang harus dimiliki oleh pustakawannya. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan dan mengetahui bagaimana transformasi perpustakaan berkontribusi terhadap kebutuhan pemustaka pada era digital native beserta kompetensi yang wajib dimiliki oleh pustakawannya. Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan tulisan ini antara lain adalah sebagai berikut: 1. Harapan Digital Native Terhadap Perpustakaan Masa Depan Pada Perguruan Tinggi, oleh Anton Hermawan. Jurnal Ilmiah Widya Sosiopolitika, yang menyimpulkan bahwa digital native sebagai pengguna perpustakaan perguruan tinggi berharap didalam ruang baca dilengkapi dengan scanner potable serta adanya akses online terhadap data audio atau video (Hermawan, 2020). 2. Gaya Belajar Dan Perilaku Digital Native Terhadap Teknologi Digital Dan Perpustakaan, oleh Purwani Istiana. Prosiding Seminar Nasional “Kreatifitas Pustakawan pada Era Digital dalam Menyediakan Sumber Informasi bagi generasi Digital Native. Bandung, 17-18 Desember 2016, yang menyimpulkan bahwa perpustakaan perlu melakukan modifikasi produk dan layanan yang mengandung unsur digital (Istiana, 2016). 3. Peran Perpustakaan Dan Pustakawan Dalam Menghadapi Generasi Digital Native, oleh Silvi Oktavia. Bibliotika: Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi, Vol. 3 No. 1, 2019, dengan kesimpulan bahwa perpustakaan di era digital native seharusnya mengajak dan menjadikan generasi digital native sebagai partner dalam pencarian kebutuhan informasi karena kebutuhan mereka yang begitu kompleks (Oktavia, 2019)

Method

Riset ini merupakan jenis riset kepustakaan (library research), yang berkaitan dengan teknik mengumpulkan informasi, membaca, mencatat serta mengolah bahan riset. Penulis menggunakan teknik riset kepustakaan dikarenakan beberapa alasan. Pertama bahwa sumber informasi tidak selalu diperoleh dari lapangan. Kadang-kadang sumber informasi cuma dapat diperoleh dari perpustakaan ataupun salinan-salinan lain dalam wujud tulisan, baik dari jurnal, buku ataupun literatur yang lain. Kedua, studi kepustakaan dibutuhkan sebagai salah satu teknik buat menguasai indikasi baru yang terjadi yang belum bisa dimengerti, akhirnya melalui studi kepustakaan ini bisa dicerna indikasi tersebut. Sehingga dalam menangani suatu masalah, penulis bisa merumuskan persepsi guna menjawab persoalan tersebut. Alasan ketigaadalah informasi pustaka lebih meyakinkan peneliti dalam menjawab permasalahan penelitiannya (Zed, 2008). Bagaimanapun, data atau informasi yang telah dihimpun, baik berbentuk buku, laporan ilmiah maupun laporan hasil riset senantiasa dapat dimanfaatkan oleh peneliti yang lainnya. Apalagi pada permasalahan spesifik, informasi lapangan masih kurang substansial guna menjawab pertanyaan riset yang hendak dilakukan. Riset ini memakai pendekatan kualitatif. Karena sumber informasi ataupun hasil riset pada penelitian kepustakaan (library research) berbentuk uraian kata-kata. Penulis menonjolkan pentingnya prosedur dalam riset dibandingkan outputnya. Secara universal pendekatan riset kualitatif pada studi kepustakaan sama dengan riset kualitatif yang lain. Perbedaannya cuma pada sumber informasi ataupun data yang dibuat menjadi bahan riset. Metode kualitatif dipakai untuk memperoleh informasi detail, suatu informasi yang memiliki arti (Sugiyono, 2012). Melalui riset ini penulis ingin lebih memahami arti dari data ataupun informasi empirik yang diperoleh melalui bacaan, hasil risalah riset ilmiah ataupun formal maupun berasal dari literatur yang lain

Result & Discussion

3.1. Transformasi Perpustakaan Dalam Mendukung Kebutuhan Pemustaka di Era Digital Native Pertumbuhan teknologi internet pada akhir abad 21 yang makin cepat, diakui atau tidak sudah mengakibatkan dampak yang lumayan besar dalam mempengaruhi pola pikir dan pola hidup (life style) manusia di seluruh dunia, hal tersebut ditunjukkan dengan makin ditingkatkan dan disatukannya teknologi data internet pada piranti komunikasi mobile seperti handphone, tabdll.Posisi perpustakaan sebagai lembaga yang bertugas menyediakan data untuk pemustaka harus lebih dimaksimalkan guna menyusul ketertinggalan dari semua fasilitas yang direkomendasikan oleh komoditas elektronik dalam menyusuri ilmu pengetahuan. Perpustakaan wajib merealisasikan teknologi data sebagai kesempatan untuk berkembang dan tidak berprasangka sebagai hambatan yang akan menjerumuskan perpustakaan tersebut. Perpustakaan harus berbenah supaya tetap seirama dengan kepentingan pemustaka, generasi net ataupun digital native yang dilayaninya, sebab dengan hadirnya generasi tersebut juga membawa harapan untuk perubahan perpustakaan agar segera merevitalisasi tugas dan tanggungjawabnya sebagai lembaga penyedia data yang terdepan.Sejumlah pembaruan yang bisa dilakukan perpustakaan di era digital native diantaranya adalah (Narendra, n.d.): •Perpustakaan yang tadinya bertugas sebagai housing resources diganti jadi connecting resources, ialah perpustakaan mempersiapkan sarana untuk pemustaka supaya dapat saling berhubungan di perpustakaan;•Print centric jadi user centric, yakni koleksi tercetak selalu jadi salah satu divisi koleksi perpustakaan yang selalu disiagakan untuk pemustaka;•Solitary and silence jadi solitary and collaborative, ialah perpustakaan sudah waktunya jadi area yang menyenangkan bagi pemustaka untuk berkolaborasi bersama pemustaka lainnya;•Monotask jadi multitask, tadinya cuma seperti area penyimpan koleksi sekarang menjadi lebih lengkap dengan pengolahan data yang makin beragam serta disuguhkan bermacam-macam sarana dan juga membina hubungan positif dengan pemustaka;•Introvert jadi extrovert, yakni perpustakaan diharapkan bisa menempatkan posisinya menjadi lembaga yang transparan, kredibel dan selalu membangun hubungan yang harmonis dengan pemustaka;•Fixed jadiadaptable,perpustakaan harus luwes beradaptasi dan menyesuaikan dengan kemajuan teknologi dan pustakawan diharapkan untuk terus mengelaborasi keahliannya dalam beragam ketrampilan multidisiplin;•Self service jadi concierge, yaitu perpustakaan menjadi pusat informasi dan tempat beragam sarana dan prasarana layanan data; dan•No food and drink jadi cafes, perpustakaan seyogyanya mempersiapkan satu tempat yang bisa dimanfaatkan menjadi area untuk rehat termasuk untuk makan dan minum.Digital native merupakan generasi yang lahir pada masa maupun setelah diketahuinya secara universal teknologi digital ataupun individu yang hidup sesudah masa tahun 1980 seperti masa dimulainya era digital, namun intinya yaitu kepada individu yang tumbuh besar di penghujung abad 20 dengan kemunculan beragam piranti teknologi yang menjelma jadi satu peristiwa universal selanjutnya selalu bertumbuh sampai sekarang. Pendapat Oblinger & Oblinger tentang digital natives adalah seseorang yang dalam kehidupan kesehariannya selalu memakai teknologi, dan telah memakainya dari kecil(Kristina, 2018b). Sehingga mereka begitu familiar menggunakan jasa teknologi data dalam kehidupannya sehari-hari tidak terkecuali dalam akses data serta didukungnya era ledakan informasi seperti sekarang ini yang aksesnya begitu gampang. Sementara itu Murniaty mendefinisikan digital native sebagai generasi digital yang begitu mahir dengan internet, multitasking, serta melek tekhnologi (Murniaty, 2012). Mereka kepingin segera menyelusur data yang terkoneksi internet. Mereka lebih menyukai data dalam bentuk elektronik, tetapi mereka sering gegabah ketika mengakses data (random access to information) serta lebih menyukai pelajaran yang mengasyikkan.Pemakaian data digital native itu sendiri sebenarnya telah dimanfaatkan untuk pertamakalinya oleh Marc Prensky pada tahun 2001 untuk menggambarkan satu generasi “native speakers” yang terbiasa dengan lingkungan digital atau teknologi digital dan internet. Generasi yang banyak menghabiskan waktunya untuk menggunakan komputer, videogames, digital music players, kamera video, telepon seluler serta berbagai jenis mainan dan peralatan di Era digital ini (Oktavia, 2019). Ketika menemui generasi digital native ini perpustakaan harus berpikir ulang dan wajib beradaptasi dan melakukan berbagai inovasi demi mendukung transformasi perpustakaan bergerak lebih cepat. Bagian penting perpustakaan yang bisa diperluas untuk berkontribusi dengan keperluan pemustaka pada era digital native yakni(Kristina, 2018a): 1. Layanan Perpustakaan, mahasiswa sekarang ini banyak yang berpindah memakai internet untuk memenuhi kebutuhan data dan informasinya dibandingkan apabila harus datang langsung ke perpustakaan untuk memilih dan membaca buku ataupun jurnal. Mahasiswa sekarang lebih menyukai sesuatu yang cepat saji dan efisien seperti internet;2. Layanan konsultasi dan literasi informasi, dengan memfokuskan pada bidang akademik yang menyangkut perkuliahan. Melalui pendekatan riset tersebut pemustaka akan lebih sering memanfaatkan layanan ini sebab berkaitan dengan beban akademik mereka;3. Layanan pencarian data dan pathfinder, yaitu layanan yang mendukung pelacakan data yang makin cepat, tepat dan efisien. Kesigapan generasi ini dalam menggunakan internet barangkali akan menghabiskan waktu mereka dan lebih menyukai hal-hal tersebut dibanding harus mengejar tulisan ilmiah di internet. Sehingga mereka memprioritaskan kontribusi perpustakaan dalam mempersiapkan informasi dan data bagi pemustaka;4. Layanan delivery (document delivery). Perpustakaan negara lain pun telah menggunakan layanan delivery order untuk peminjaman literatur serta dokumen. Layanan ini dapat diaplikasikan pada perpustakaan universitas sebagai wujud proaktif.3.2. Kompetensi Kepustakawanan Yang Mesti Dipunyai oleh Pustakawan pada Era Digital Native Pustakawan seperti yang dinyatakan dalam UU Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 yakni seorang yang mempunyai keahlian yang didapat melalui pembelajaran dan/atau penataran kepustakawanan dan memiliki peran serta tanggung jawab untuk melakukan pengolahan pelayanan perpustakaan (Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, n.d.). Pustakawan sebagai salah satu komponen penting perpustakaan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan (pemustaka) sampai mampu memberikan tingkat kepuasan terhadap masyarakat yang dilayaninya.Pertama kali yang wajib dicoba oleh seorang pustakawan di masa digital native ini yaitu harus terbuka atas perubahan serta perkembangan zaman sekarang ini, karena dengan bersikap permisif terhadap segala hal ataupun pengetahuan yang baru, maka kita sendiri sebagai pustakawan pun dapat memperoleh serta menggali banyak hal mengenai sesuatu yang baru tersebut, memperbanyak keahlian dan pengetahuan serta tidak dituduh sebagai pribadi yang ragu-ragu dan cuek.Kemudian, pustakawan dituntut untuk memiliki keahlian khususseperti bidang Teknologi Informasi, keahlian untuk menjadi pengembang atau developer aplikasi–aplikasi perpustakaan ataupun portal perpustakaan, ataupun mengekspresikan softskill mereka sebagai seorang penulis baik yang masih tingkat dasar yang sedang mencoba hal baru ataupun yang telah professional. Pustakawan pun diharapkan mampu memerankan sebagai filter untuk pemustaka dalam melacak data yang sesuai dengan keperluan pemustaka, tentunya data tersebut harus mencakup unsur orisinalitas, kesahihan & realibilitas sesuai dengan kapasitas pustakawan sekarang ini yang sangat bermanfaat dalam mendukung kegiatan literasi serta temu balik informasi dalam perpustakaan. Pustakawan pada masa digital native harus menyampaikan informasi yang berbobot dan memenuhi unsur-unsur tersebut di masa penyebaran disinformasi (hoax) yang merebak saat ini. Perpustakaan sebagai sumber informasi terpercaya, sehingga kualitas yang baik bisa menjadikan salah satu daya tarik pemustaka millenial untuk sering bertandang ke perpustakaan. Akses data yang mudah, cepat dan benar yang dibagikan menggambarkan kompetensi suatu perpustakaan dalam meladeni pemustaka millineal supaya mereka berhenti mencari rujukan informasi yang tidak begitu valid. Menjadi panutan untuk diri sendiri merupakan contoh yang paling baik bagi pustakawan milenial pada masa digital native. Segala sesuatu yang tak disenangi para pemustaka harus segera diganti menjadi halyang disenangi serta dibutuhkan pemustaka. Begitu juga pustakawan mestinya dapat menilai posisinya sekarang di mana dan seperti apa keahliannya dibandingkan dengan pustakawan lainnya. Selanjutnya setelah memahami posisinya, pustakawan milenial sudah sepatutnya memiliki keunikan khusus dibanding dengan pustakawan yang lain. Dengan demikian, pustakawan yang mempunyai kekhasan tersebut bisa menggunakannya untuk menyampaikan layanan prima buat pemustaka. Pada banyak peluang keunikan itu mestinya dibrandingdan dipersembahkan untuk khalayak luas.Pustakawan pada masa teknologi digital, pendapat Noorika yakni(Nugrohoadhi, 2020): 1. Pustakawan selaku perantara antara rakyat dengan informasi, diutamakan informasi melalui internet;2. Pustakawan selaku pendamping masyarakat, bekerjasama dalam menyambut kemajuan teknologi dengan membanjirnya data dan informasi saat ini;3. Pustakawan selaku spesialis data yang mempunyai pendidikandan ilmu yang berkaitan dengan pemasokan data serta kompetendalam mengefektifkan sumber-sumber data;4. Pustakawan selaku services manager ataupun manajer layanan data, yang berperan dalam merencanakan serta melakukan siasat dalam menilai asal data yang bersumber dari internet;5. Pustakawan selaku pintu pertama untuk mengarah ke masa depan ataupun masa kemudian;6. Pustakawan selaku knowledge management ataupun menajemen pendidikan, pustakawan diharuskan merubah pola pikir dari sistem yang meladeni menjelma jadi patron rekanan, pustakawan berpartisipasi untuk lembaga tidak terpusat pada bidang pendidikan, pustakawan dapat mengalihkan lewat penataran, pembinaan maupun berinovasi.Diluar 6 (enam) item diatas, terdapat dua keahlian yang wajib dipunyai pustakawan masa kini (R, 2018), yakni keahlian profesional adalah kemampuan profesi yang harus dimiliki setiap pustakawan dan professional informasi lainnya dalam menjalankan perannya di era digital yang terdiri dari kemampuan umum yang mencakup kemampuan dibidang manajemen dan organisasi informasi serta penggunaan teknologi informasi, yang apabila dijabarkan secara khusus antara lain : 1. Kemampuan menjadikan ruang digital sebagai ruang pembelajaran virtual yang efektif;2. Kemampuan konseptual dan teknis dalam teknologi informasi dan manajemen informasi (manajemen pengetahuan) sesuai dengan tingkatan tanggung jawab pekerjaan;3. Kemampuan berkomunikasi, terutama komunikasi interpersonal dan komunikasi antarbudaya serta komunikasi bermedia komputer/internet mengingat dunia digital menjangkau dunia tanpa batas dengan beragam latar belakang budaya para pengakses layanan informasi;4. Memahami etika dunia maya dan UU ITE termasuk pendistribusian informasi karena akan selalu berhubungan dengan hak cipta atau akan kekayaan intelektual dari sebuah informasi yang ditawarkan;5. Kemampuan menulis karena pustakawan digital akan selalu berhadapan dengan updatedata setiap saat termasuk reportase real-time; 6. Kemampuan bekerja sama. Dunia digital membuka peluang kolaborasi yang lebih luas baik antar perpustakaan maupun antar pustakawan;7. Kemampuan bahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa internasional;8. Kemampuan dalam organisasi dan distribusi informasi.Selain kemampuan umum yang telah dijelaskan diatas, diperlukan juga kemampuan khusus yang akan sangat beragam dikarenakan berkaitan dengan tempat pustakawan bekerja. Sebagai contoh adalah kemampuan bahasa asing selain bahasa Inggris ataupun kemampuan analisa sesuai dengan bidang kajian yang ditanganinya. Sementara itu keahlian yang kedua yaitu keahlian personal yang mencakup kemampuan yang seharusnya melekat pada diri seorang pustakawan atau sering disebut sebagai soft skills seseorang seperti kemampuan dalam menganalisa, kemampuan bernegoisasi, kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, bekerjasama, kreativitas dan motivasi diri untuk terus belajar.Pustakawan berperan penting dengan adanya keragaman informasi dan memiliki tanggungjawab dalam seleksi informasi informasi yang lebih rumit. Keprofesionalan seorang pustakawan akan kelihatan ketika berinteraksi dan melayani pemustaka dan dapat meningkatkan citra positif dari seorang pustakawan apabila mampu menunaikan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Beberapa peran pustakawandalam menghadapi era digital native adalah sebagai berikut (Arwan, 2020): a. Pustakawan sebagai penggerak literasi informasi, sebagai bagian terpenting perpustakaan, pustakawan harus mampu aktif bersama-sama dengan pustakawan lain untuk menjadikan perpustakaan sebagai learning center, ruang dalam melakukan pelatihan dan inovasi, dan mungkin sebagai sebuah komunitas. Pustakawan juga dapat memberikan bimbingan melalui kegiatan literasi informasi dan penerapan konsep manajemen pengetahuan di perpustakaan. Keabsahan dan nilai informasi yang dimiliki oleh perpustakaan menjadi jawaban dalam mengakomodasi kebutuhan millenial.b. Pustakawan mengembangkan kemampuan dan keahliannya dalam literasi digital. Setidaktidaknya pustakawan mampu memiliki pengetahuan dan keahlian yang berhubungan dengan pengetahuan dasar tentang ilmu informasi, sumbersumber informasi, akses informasi, manajemen dan penelitian serta kemampuan untuk menyediakan layanan informasi dan pengetahuan di perpustakaan.

Conclusion

Perpustakaan digital sebagai salah satu wujud perubahan perpustakaan harus mampu memaksimalkan fungsinya bagi pemustaka milenial, generasi net atau digital native di masa informasi seperti saat ini sehingga perpustakaan juga harus dapat menyesuaikan dengan keperluan pemustakanya. Perpustakaan mesti dapat memperbaiki kembali tugas dan peranannya sebagai lembaga pengelola data sehingga bertambah luas, modern serta beraneka ragam. Dengan munculnya gejala perubahan pengguna perpustakaan tersebut pastinya membawa dampak perpustakaan harus mengubah pola layanannya. Dari layanan yang sederhana ke layanan digital yang ekspres, akurat, gampang serta berdayaguna. Selain itu, perpustakaan wajib membenahi kembali semua hal yang berhubungan dengan kontruksi gedung perpustakaan, koleksi, perkakas serta fasilitas perpustakaan.Menurut pustakawan, dalam melayani generasi digital native itu semestinya merealisasikan pemakai seperti kawannya. Pustakawan pun wajib membangun komunikasi yang bagus dengan pemakai. Selain itu, pustakawan mesti siap serta proaktif menghadapi perkembangan teknologi data dan komunikasi serta pendidikan. Pustakawan wajib mampu menggunakan serta mengolah beragam wujud piranti dari perkembangan teknologi data. Perpustakaan pada masa digital native membutuhkan pustakawan yang antusias, produktif, inovatif, serta selalu menyimak perkembangan teknologi data dan komunikasi. Pustakawan mesti yakin dengan karir dan pekerjaannya, supaya melalui keyakinan itu pustakawan mempunyai kemampuan yang bagus dalam menyampaikan layanan data untuk pemustaka. Pustakawan diharuskan mempunyai keahlian yang berkarakter kompeten dan personal serta kemampuan untuk bersikukuh (survival skill) ketika menemui kendala pada masa global. Demi eksistensi di era digital native, pustakawan mesti mempunyai keunikan seperti menjalankan dogma pendidikan seumur hidup (long life learning) dalam jiwanya, mempunyai pendirian yang jelas, berpikir produktif dan inovatif.