Kembali
16
1
2024 Livre: Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 1 ISSN 3063-833X

Motivasi Pemustaka dalam Memanfaatkan Layanan Perpustakaan Umum (Studi Deskriptif pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik)

Universitas Terbuka

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum, dengan fokus pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui pengisian kuisioner dengan pemustaka aktif dari berbagai latar belakang yang menggunakan layanan perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum sangat beragam dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi kebutuhan informasi, minat pribadi, rekomendasi dari teman atau keluarga, serta persepsi terhadap kualitas layanan perpustakaan. Selain itu, faktor-faktor eksternal seperti ketersediaan koleksi yang relevan, kenyamanan fasilitas, dan promosi layanan juga berperan penting dalam memotivasi pemustaka untuk menggunakan perpustakaan. Tantangan dalam meningkatkan partisipasi pemustaka di kalangan generasi muda yang lebih terbiasa dengan sumber informasi digital dan online menjadi salah satu masalah dalam meningkatkan layanan perpustakaan.Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum, khususnya di Kabupaten Gresik. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah pentingnya meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, menyediakan koleksi yang relevan, serta melakukan promosi yang efektif untuk meningkatkan partisipasi pemustaka dalam memanfaatkan fasilitas perpustakaan.

Abstract

This study aims to explore and analyze the motivation of users in utilizing public library services, with a focus on the Library and Archives Service of Gresik Regency. The research method used is a descriptive study with a quantitative approach. Data was collected through filling out questionnaires with active users from various backgrounds who use library services. The results showed that the motivation of users in utilizing public library services is very diverse and influenced by various factors. These factors include information needs, personal interests, recommendations from friends or family, and perceptions of library service quality. In addition, external factors such as the availability of relevant collections, convenience of facilities, and service promotion also play an important role in motivating users to use the library. The challenge of increasing library participation among the younger generation who are more accustomed to digital and online information sources is one of the problems in improving library services. This research contributes to the understanding of the factors that influence library users' motivation in utilizing public library services, especially inGresik Regency. The practical implication of this study is the importance of improving the quality of library services, providing relevant collections, and conducting effective promotions to increase library users' participation in utilizing library facilities
Keywords: Library services · motivation · public library · user

Introduction

Layanan perpustakaan merupakan berbagai fasilitas dan program yang disediakan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi, pendidikan, dan rekreasi pemustaka. Layanan ini mencakup peminjaman buku, akses ke komputer dan internet, ruang baca, dan program-program seperti lokakarya, seminar, dan kegiatan kebudayaan. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat pengetahuan dan pembelajaran yang mendukung literasi dan pengembangan masyarakat (Setiawan, 2018). Sedangkan layanan perpustakaan berfungsi untuk meningkatkan literasi informasi, mendukung pembelajaran sepanjang hayat, serta menyediakan ruang bagi inovasi dan kreativitas pemustaka (Sukmana, 2017).Motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan bervariasi mulai dari kebutuhan akademik, pencarian informasi, pengembangan pribadi, hingga rekreasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi ini antara lain aksesibilitas layanan, kualitas koleksi, kenyamanan fasilitas, serta ketersediaan program-program yang relevan dan menarik (Dewi, 2019). Faktor ekstrinsik yang berpengaruh yaitu faktor perpustakaan yang meliputi keramahan petugas, kesigapan petugas dalam memberikan layanan, koleksi perpustakaan, penelusuran informasi, dan suasana (Junaeti, 2018).Meskipun perpustakaan berusaha menyediakan berbagai layanan yang bermanfaat, ada beberapa masalah yang sering dihadapi. Beberapa di antaranya termasuk keterbatasan anggaran yang mengakibatkan kurangnya koleksi yang up-to-date, fasilitas yang kurang memadai, serta kurangnya promosi yang efektif tentang layanan yang tersedia (Wibowo, 2020). Selain itu, ada tantangan dalam meningkatkan partisipasi pemustaka, khususnya di kalangan generasi muda yang lebih terbiasa dengan sumber informasi digital dan online.Di lokasi penelitian ini, perpustakaan menghadapi beberapa masalah spesifik seperti kurangnya koleksi buku yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat, fasilitas yang belum memadai, serta program-program yang kurang bervariasi dan tidak cukup menarik bagi pemustaka (Sari, 2021). Selain itu, terdapat kendala dalam mengakses layanan digital karena keterbatasan infrastruktur dan teknologi. Hal ini mengakibatkan rendahnya tingkat kunjungan dan partisipasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan yang tersedia. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci. Kualitas layanan dan koleksi perpustakaan merupakan faktor utama yang mempengaruhi motivasi pemustaka (Setiawan, 2018). Penelitian lainnya oleh (Dewi, 2019) menyatakan bahwa program-program edukatif dan kultural yang diselenggarakan perpustakaan dapat meningkatkan partisipasi dan motivasi pemustaka. Studi ini menekankan pentingnya perpustakaan untuk terus berinovasi dan menyesuaikan layanan mereka dengan kebutuhan dan preferensi pemustaka. Ketiga penelitian tersebut fokus pada aspek kualitas layanan, koleksi perpustakaan, dan program-program edukatif serta kultural sebagai faktor motivasi pemustaka. Sedangkan penelitian ini nantinya akan memberikan fokus tambahan pada dampak infrastruktur teknologi dan akses digital terhadap motivasi pemustaka. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana keterbatasan teknologi dan infrastruktur digital mempengaruhi kemampuan perpustakaan dalam menarik dan mempertahankan pemustaka, serta mencari solusi inovatif untuk mengatasi kendala tersebut. Dengan demikian, penelitian ini akan memberikan perspektif baru mengenai pentingnya pengembangan infrastruktur digital dalam meningkatkan layanan perpustakaan dan motivasi pemustaka di era digital.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum, dengan fokus pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik. Melalui pendekatan studi deskriptif, penelitian ini akan mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi motivasi pemustaka, seperti kebutuhan informasi, minat pribadi, persepsi terhadap kualitas layanan, dan faktor-faktor eksternal lainnya. Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu akanmenambah kajian dibidang ilmu informasi dan perpustakaan, khususnya motivasi pemustaka terkait dengan pemanfaatan layanan perpustakaan serta dapat memberikan kontribusi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini dapat menjadi salah satu rekomendasi bagi pihak instansi Pemerintah Daerah khususnya pada perpustakaanumum, yaitu DinasPerpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik untuk dapat mengetahui motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan dan juga memberikan tambahan pengetahuan bagi Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik yang kedepannya dapat digunakan meningkatkan kualitas serta mutu layanan perpustakaan.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode studi deskriptif untuk memahami motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum, khususnya di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik. Subjek penelitian adalah pemustaka aktif yang dipilih melalui teknik purposive sampling, yang memastikan variasi latar belakang dan pengalaman. Teknik sampling kebetulan (accidental sampling) digunakan, di mana pemustaka yang ditemui saat penelitian dianggap cocok sebagai sumber data (Usman & Akbar, 2019:47). Menurut Arikunto (2018:112), jika subjek penelitian kurang dari 100 orang, maka diambil semua, tetapi jika lebih dari 100 orang, maka diambil 10-25%. Dalam penelitian ini, dari 615 pemustaka yang mengunjungi perpustakaan antara 22 April hingga 24 Mei 2024, dipilih 60 sampel sebagai sumber data.Penelitian ini menggunakan indikator intensitas untuk mengukur seberapa sering dan sejauh mana pemustaka memanfaatkan layanan perpustakaan. Indikator-intensitas meliputi frekuensi kunjungan, yang mencatat jumlah kunjungan pemustaka ke perpustakaan dalam periode tertentu, serta durasi kunjungan yang menunjukkan lama waktu yang dihabiskan pemustaka di perpustakaan setiap kali berkunjung. Selain itu, indicator intensitas juga mencakup jumlah buku yang dipinjam, baik rata-rata maupun total dalam sebulan, partisipasi dalam program-program seperti lokakarya, seminar, atau kegiatan budaya, serta frekuensi penggunaan fasilitas perpustakaan seperti komputer, internet, atau ruang baca. Sementara itu, indikator motivasi digunakan untuk memahami alasan atau dorongan di balik pemanfaatan layanan perpustakaan oleh pemustaka.Indikator motivasi mencakup motivasi pendidikan, yang mencerminkan kebutuhan untuk mendapatkan referensi dan bahan belajar, serta motivasi rekreasi, yang menunjukkan minat dalam membaca untuk hiburan atau kesenangan pribadi. Selain itu, terdapat motivasi informasi yang mengeksplorasi kepentingan untuk memperoleh informasi terbaru atau spesifik mengenai topik tertentu, motivasi sosial yang mencakup keterlibatan dalam aktivitas perpustakaan untuk interaksi sosial atau pertemuan dengan komunitas, dan motivasi teknologi yang menandakan minat dalam menggunakan fasilitas teknologi perpustakaan seperti internet atau aplikasi digital. Dengan menggunakan kedua set indikator ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai pola penggunaan dan motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan di Kabupaten Gresik.

Result & Discussion

Pada Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik, motivasi pemustaka untuk memanfaatkan layanan diukur melalui tiga aspek utama: intensitas kunjungan, motivasi internal, dan motivasi eksternal.Intensitas Kunjungan Pada PerpustakaanIntensitas Menurut Poerwadarminta (2003: 384) ialah suatu kegiatan yang sungguh-sungguh mendalam dan hal tersebut dapat bertambah dan kadang-kadang berkurang atau melemah. Indikator dari intensitas adalah keseringan (kontinuitas), kesungguhan atau kebulatan tekad (semangat) dan tenaga yang dikerahkan untuk melakukan suatu usaha (perhatian). Berdasarkan tabel tersebut, dalam satu bulan terakhir, pemustaka Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik masih belum begitu aktif. Mayoritas pemustaka hanya mengunjungi perpustakaan 1-2 kali dalam sebulan (53,3%), diikuti oleh kunjungan 3-4 kali (35%). Kunjungan yang lebih sering, seperti 5-6 kali, hanya mencapai 8,3%, sementara kunjungan sangat sering (>6 kali) hanya sebesar 3,4%. Dengan demikian, jumlah pemustaka yang loyal dan sering berkunjung masih relatif sedikit. Ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi, seperti kesibukan pekerjaan atau kuliah, serta ketersediaan sumber informasi lain seperti internet.Sebanyak 26,7% responden baru pertama kali datang ke perpustakaan saat kuliah atau bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya perpustakaan dan informasi baru meningkat pada tahap pendidikan tinggi atau dunia kerja. Sebanyak 23,3% responden pertama kali mengunjungi perpustakaan saat TK/SD, yang menandakan pentingnya pengenalan perpustakaan sejak dini agar anak-anak terbiasa belajar dan menggunakan informasi dengan bijak. Pengunjung pertama kali saat SMP mencapai 30%, yang merupakan persentase tertinggi. Sedangkan, pengunjung yang pertama kali datang saat SMA sebesar 20%, yang menunjukkan bahwa pada usia remaja, kebutuhan akan informasi untuk minat dan bakat mulai berkembang. Pengenalan perpustakaan sejak dini sangat penting, terutama pada usia TK/SD. Namun, masih banyak pemustaka yang baru pertama kali datang ke perpustakaan saat kuliah atau bekerja. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan informasi yang semakin kompleks pada tahap tersebut, yang mengharuskan mereka untuk mengakses perpustakaan.Teman merupakan faktor terbesar yang mengenalkan perpustakaan kepada pemustaka, dengan persentase 46,7%. Ajakan teman sangat berpengaruh dalam mengunjungi dan memanfaatkan layanan perpustakaan, yang merupakan hal positif. Sebanyak 28,3% pemustaka mengetahui keberadaan perpustakaan sendiri, yang menunjukkan kesadaran akan kebutuhan informasi yang baik untuk perkembangan kompetensi diri dan meningkatkan kunjungan ke perpustakaan. Guru atau dosen berperan dalam mengenalkan perpustakaan kepada 16,7% pemustaka. Meskipun kesadaran yang muncul karena dorongan guru atau dosen seringkali dipandang sebagai paksaan, hal ini tetap memiliki dampak positif dalam meningkatkan budaya membaca dan kesadaran informasi. Oleh karena itu, pengenalan perpustakaan sebaiknya dilakukan oleh semua kalangan, termasuk keluarga, guru, dosen, dan masyarakat umum untuk membangun budaya membaca yang kuat dan menghasilkan individu berkualitas.Meskipun sebagian kecil pemustaka memberikan penilaian kurang nyaman dan kurang bagus, hal ini harus menjadi perhatian karena kenyamanan subjektif pemustaka sangat penting. Mayoritas pemustaka (45%) merasa cukup nyaman dan bagus, sementara sebagian lainnya merasa nyaman dan bagus (28,3%), dan sedikit yang merasa sangat nyaman dan bagus (18,3%). Evaluasi ini penting sebagai panduan untuk perbaikan dan peningkatan layanan, termasuk aspek-aspek seperti kondisi ruangan, fasilitas, dan tata letak perpustakaan. Meskipun mayoritas pemustaka merasa nyaman, upaya terus menerus untuk meningkatkan kualitas layanan perlu dilakukan untuk memastikan kepuasan pemustaka yang berkelanjutan.Mayoritas responden (60%) menganggap waktu operasional perpustakaan sesuai dengan waktu yang mereka miliki, sementara sebagian kecil merasa sangat sesuai atau tidak sesuai. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa jam buka perpustakaan cocok dengan jadwal pemustaka, sehingga dapat meningkatkan aksesibilitas perpustakaan.Interval nilai intensitas kunjungan ke Perpustakaan pada Perpustakaan Umum Kabupaten Gresikmayoritas pemustaka (75%) berada dalam kategori intensitas kunjungan sedang. Meskipun Demikian, terdapat ruang untuk peningkatan, terutama untuk meningkatkan kunjungan tinggi dan menurunkan kunjungan rendah. Perbaikan sarana dan prasarana perpustakaan seperti tata ruang dan fasilitas dapat membantu meningkatkan kunjungan pemustaka. Interval nilai intensitas kunjungan ke perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini: Intensitas kunjungan pemustaka ke Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik sebagian besar berada pada kategori sedang, dengan 75% responden mengindikasikan intensitas kunjungan yang sedang. Hanya 5% responden yang menunjukkan intensitas kunjungan tinggi, sementara 20% berada pada kategori rendah. Dengan diadakannya promosi perpustakaan ini, diharapkan masyarakat dapat mengenal dan memanfaatkan secara maksimal produk dan jasa yang ada di perpustakaan tersebut. Di era sekarang ini, promosi perpustakaan dapat berjalan lebih efektif dengan cara memanfaatkan media sosial, seperti facebook, instagram, twitter, dan lainnya (Nadia Amelia Qurrota A‟yunin, 2018:51).MotivasiSelain Intensitas kunjungan untuk mengukurmotivasi pemustaka untuk memanfaatkan layanan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik ada aspek motivasi internal dan eksternal. Motivasi Internal Kebutuhan internal merupakan dorongan dari dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Herzber, dalam Devi (2013). Mayoritas pemustaka (86,7%) datang ke Perpustakaan untuk mencari informasi. Hal ini sesuai dengan fungsi utama perpustakaan sebagai pusat informasi yang menyediakan berbagai jenis bahan bacaan. Sebagian kecil pemustaka (8,3%) juga mencari inspirasi, sementara sebagian lainnya datang sekadar iseng atau mampir. Meskipun demikian, tujuan utama pemustaka yang berkunjung adalah untuk mendapatkan informasi, yang merupakan fungsi inti dari sebuah perpustakaan.Mayoritas responden (75%) menyatakan bahwa sumber informasi yang disediakan di perpustakaan sesuai dengan kebutuhan mereka, sedangkan sebagian kecil lainnya (21,7%) merasa sangat sesuai. Hanya sedikit responden (3,3%) yang menyatakan ketidaksesuaian dengan kebutuhan. Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah berhasil menyediakan sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, yang merupakan tugas inti dari sebuah perpustakaan. Meskipun demikian, perpustakaan perlu terus memperbarui koleksi dan memastikan ketersediaan informasi terbaru untuk memenuhi kebutuhan yang terus berkembang dari pemustaka.Berdasarkan tabel Mayoritas pemustaka (41%) pernah melakukan peminjaman buku di Perpustakaan, dengan sebagian kecil dari mereka (21,7%) sering melakukan peminjaman. Ini menunjukkan minat baca yang bertumbuh di masyarakat. Meskipun begitu, sebagian pemustaka (11,6%) hanya melakukan peminjaman secara jarang, sementara yang tidak pernah melakukan peminjaman (25%) mungkin memiliki preferensi membaca di tempat atau belum menjadi anggota perpustakaan. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa sebagian besar pemustaka telah memanfaatkan layanan peminjaman buku di Perpustakaan, meskipun ada yang belum melakukannya sama sekali.Sebagian besar pemustaka (41,7%) merasa bahwa jumlah buku yang dapat dipinjam masih kurang, dengan sebagian kecil lainnya (11,6%) merasa sangat kurang. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan koleksi buku yang tersedia di perpustakaan agar memenuhi kebutuhan pemustaka. Meskipun begitu, masih ada sebagian pemustaka (15%) yang merasa jumlah buku yang dapat dipinjam sudah sangat cukup, sementara yang cukup merasa cukup (31,7%). Meskipun demikian, minat pemustaka dalam meminjam buku cukup besar, yang menunjukkan pertumbuhan minat baca masyarakat. Oleh karena itu, perpustakaan perlu terus mengembangkan koleksi buku dan berperan aktif dalam meningkatkan minat dan budaya baca di masyarakat. Mayoritas pemustaka (56,7%) merasa bahwa batas waktu peminjaman yang diberikan oleh perpustakaan cukup, dengan sebagian kecil lainnya (10%) merasa sangat cukup. Meskipun begitu, ada juga sebagian pemustaka (25%) yang menganggap waktu peminjaman kurang lama, dan sebagian kecil lainnya (8,3%) merasa sangat kurang lama. Alasan kurangnya waktu peminjaman mungkin disebabkan oleh kesibukan dalam pekerjaan atau studi, yang membuat pemustaka kesulitan menyelesaikan bacaan dalam batas waktu yang ditentukan. Namun, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pemustaka merasa waktu peminjaman yang diberikan sudah cukup, meskipun ada beberapa yang merasa kurang. Perpustakaan juga menyediakan layanan perpanjangan peminjaman buku bagi pemustaka yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan bacaan.Mayoritas responden (63,3%) setuju bahwa perpustakaan memiliki manfaat sebagai tempat rekreasi yang edukatif, dengan sebagian lainnya (31,7%) sangat setuju. Ini menunjukkan kesadaran pemustaka akan peran penting perpustakaan sebagai pusat pendidikan dan rekreasi yang edukatif bagi masyarakat. Meskipun demikian, ada sebagian kecil responden (3,3%) yang tidak setuju, mungkin karena kurangnya pemahaman tentang peran perpustakaan sebagai tempat rekreasi yang edukatif. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan memiliki manfaat yang signifikan sebagai tempat rekreasi yang edukatif bagi masyarakat, dan perpustakaan perlu terus meningkatkan fasilitas dan layanan agar tetap relevan dan menarik bagi pemustaka.Mayoritas responden sangat setuju bahwa layanan perpustakaan harus diberikan secara gratis, dengan rincian 66,6% responden sangat setuju dan 31,7% responden setuju. Total 98,3% responden mendukung layanan gratis, sementara hanya 1,7% yang sangat tidak setuju. Hal ini mencerminkan pemahaman bahwa perpustakaan adalah milik publik dan didanai oleh pajak rakyat, sehingga layanan yang diberikan harus bebas biaya. Hanya sebagian kecil yang tidak setuju, kemungkinan karena kurangnya pemahaman bahwa perpustakaan umum adalah fasilitas publik yang terbuka untuk semua orang tanpa membedakan status sosial. Sebagai institusi publik yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, perpustakaan harus memberikan pelayanan yang baik dan gratis untuk mendukung akses pengetahuan bagi semua kalangan.Kesadaran pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan masih rendah, dengan 51,7% responden setuju dan 13,3% sangat setuju. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden mengakui adanya masalah dalam kesadaran pemustaka. Sebaliknya, 21,7% responden tidak setuju dan 13,3% sangat tidak setuju, yang mungkin mencerminkan pemustaka yang sudah aktif memanfaatkan layanan perpustakaan. Kesadaran rendah ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya pengenalan terhadap perpustakaan, rasa malas, atau kesibukan sehari-hari. Oleh karena itu, perpustakaan perlu berperan aktif dalam mempromosikan layanan mereka melalui berbagai media seperti brosur, spanduk, dan media sosial. Promosi yang aktif dan masif diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang perpustakaan, sehingga kesadaran mereka untuk memanfaatkan layanan perpustakaan juga meningkat.Mayoritas responden setuju bahwa perpustakaan harus menggunakan sistem terbuka, di mana pemustaka diberikan kebebasan untuk mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara mandiri. Hal ini tercermin dari 70% responden yang setuju dan 25% yang sangat setuju. Sistem terbuka ini tidak hanya melatih kemampuan menelusur informasi pemustaka, tetapi juga meningkatkan efisiensi perpustakaan dengan mengurangi keterlibatan petugas. Hanya 5% responden yang tidak setuju, kemungkinan karena mereka merasa kesulitan mencari informasi secara mandiri. Dengan menggunakan sistem terbuka, perpustakaan dapat melatih kemandirian pemustaka dalam menemukan informasi sesuai kebutuhan mereka. Pada dasarnya, ada dua sistem layanan perpustakaan, yaitu sistem terbuka dan tertutup. Sistem terbuka memberikan kebebasan kepada pemustaka untuk mencari informasi sendiri, sedangkan sistem tertutup mengandalkan bantuan petugas perpustakaan. Di Indonesia, sebagian besar perpustakaan menggunakan sistem terbuka karena dinilailebih efektif dan efisien.Adapun interval nilai motivasi internal dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini: Motivasi internal pemustaka dalam memanfaatkan layanan Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik berada pada kategori tinggi (53,3%) dan sedang (46,7%). Tidak ada responden yang menunjukkan motivasi rendah. Secara keseluruhan, motivasi internal pemustaka cukup baik, didorong oleh keinginan untuk menambah pengetahuan, mencari informasi, dan berprestasi. Oleh karena itu, perpustakaan harus menyediakan berbagai kebutuhan informasi yang beragam, berkualitas baik, dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka.Motivasi EksternalPemustaka dalam memanfaatkan koleksi di perpustakaan dipengaruhi oleh faktor eksternal yang meliputi kebutuhan pengguna, motif pengguna dan minat pengguna, faktor eksternal yang meliputi kelengkapan koleksi, keterampilan pustakawan dalam melayani pemustaka, dan ketersediaan fasilitas temu kembali informasi. (Handayani: 2008). Dari Tabel 3, sebagian besar responden, sekitar 68,3%, tidak setuju jika peraturan dalam memanfaatkan layanan perpustakaan dianggap ribet, dan 6,7% sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Ini menunjukkan bahwa mayoritas responden merasa bahwa peraturan-peraturan yang berlaku dalam memanfaatkan layanan perpustakaan tidak memberikan hambatan yang signifikan. Hanya sekitar 25% yang setuju atau sangat setuju bahwa peraturan tersebut ribet, yang kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang prosedur pelayanan perpustakaan. Secara keseluruhan, responden cenderung merasa bahwa peraturan dalam menggunakan layanan perpustakaan tidak terlalu ribet atau tidak nyaman. Peraturan-peraturan tersebut sebenarnya dibuat untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pengguna 19perpustakaan. Upaya untuk meningkatkan pemahaman tentang prosedur perpustakaan dapat membantu mengurangi persepsi bahwa peraturan-peraturan tersebut bersifat ribet. Sebagian besar responden, sekitar 53,4%, merasakan pengaruh positif dari ajakan teman terhadap kunjungan ke Perpustakaan, dengan 36,7% mengatakan bahwa ajakan teman berpengaruh dan 16,7% sangat berpengaruh. Teman dapat memotivasi untuk berdiskusi atau bekerja kelompok di perpustakaan, meningkatkan interaksi osial, dan memperluas pengalaman belajar. Namun, sekitar 46,6% responden merasa bahwa ajakan teman tidak begitu berpengaruh atau sama sekali tidak berpengaruh terhadap kunjungan ke Perpustakaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh pemahaman individu tentang kebutuhan informasi mereka sendiri atau kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pengaruh teman memiliki dampak yang signifikan terhadap kunjungan dan pemanfaatan layanan perpustakaan bagi sebagian besar responden, tetapi ada juga yang merasa bahwa pengaruh teman tidak begitu berarti bagi mereka.Sebagian besar responden, sekitar 88,4%, memberikan penilaian positif terhadap sikap dan perilaku petugas perpustakaan, dengan 76,7% menganggap petugas perpustakaan bertindak secara profesional dan 11,7% bahkan menganggapnya sangat profesional. Ini mencerminkan upaya petugas perpustakaan dalam memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung. Meskipun begitu, sekitar 11,6% responden merasa bahwa sikap dan perilaku petugas perpustakaan kurang memuaskan, dengan 8,3% mengatakan bahwa perilaku tersebut tidak profesional dan 3,3% bahkan sangat tidak profesional. Kemungkinan, hal ini dapat disebabkan oleh pengalaman kurang baik dalam berinteraksi dengan petugas perpustakaan atau pemahaman yang berbeda tentang standar pelayanan yang diharapkan. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan penilaian positif terhadap sikap dan perilaku petugas perpustakaan, meskipun ada juga sebagian kecil yang menganggapnya kurang profesional. Hal ini menunjukkan pentingnya pelatihan dan pemantauan terus-menerus terhadap kualitas pelayanan petugas perpustakaan untuk memastikan kepuasan pemustaka terpenuhi.Mayoritas responden setuju bahwa petugas perpustakaan harus memberikan sanksi kepada pemustaka yang melanggar peraturan. Sebanyak 53,3% responden setuju dan 35% sangat setuju dengan pemberian sanksi. Responden memandang sanksi sebagai alat penting untuk menertibkan pemustaka dan menjaga kenyamanan pemustaka lain yang ingin belajar di perpustakaan. Namun, ada juga 10% responden yang tidak setuju dan 1,7% yang sangat tidak setuju, kemungkinan karena mereka sering melanggar peraturan atau memiliki alasan pribadi lainnya. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas pemustaka mendukung pemberian sanksi untuk memastikan ketertiban dan kenyamanan di perpustakaan, yang dianggap sebagai langkah wajar dan diperlukan untuk menjaga suasana belajar yang kondusif.Sekitar 93,4% merasa bahwa petugas perpustakaan membantu ketika mereka mengalami kesulitan, seperti dalam mencari buku. Hal ini menunjukkan pentingnya peran komunikasi antara pemustaka dan petugas perpustakaan dalam memfasilitasi akses informasi. Meskipun demikian, sebagian kecil responden, sekitar 6,6%, mengungkapkan ketidakpuasan terhadap bantuan yang diberikan oleh petugas perpustakaan. Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, seperti kurangnya komunikasi atau pemahaman yang tidak sesuai antara pemustaka dan petugas. Pentingnya komunikasi dua arah antara pemustaka dan petugas perpustakaan juga terlihat sebagai sarana untuk memberikan masukan dan saran yang dapat membantu meningkatkan kualitas layanan perpustakaan secara keseluruhan.Mayoritas responden menganggap keamanan barang bawaan di perpustakaan sangat penting, dengan 58,3% responden menyatakan "sangat penting" dan 31,7% menyatakan "penting". Ini menunjukkan bahwa hampir 90% responden menginginkan adanya loker tas yang dilengkapi kunci untuk menjamin keamanan barang-barang mereka. Sebaliknya, hanya 8,3% yang menganggap keamanan barang bawaan tidak penting dan 1,7% yang sangat tidak penting, kemungkinan karena mereka tidak membawa barang berharga ke perpustakaan. Hasil ini menekankan pentingnya perpustakaan menyediakan loker yang aman dan terkunci untuk menjaga keamanan barang bawaan pemustaka, sehingga dapat mencegah kehilangan dan memastikan kenyamanan selama berada di perpustakaan.Koleksi perpustakaan sudah cukup lengkap atau sangat lengkap, dengan 20% di antaranya mengatakan sangat lengkap dan 48,3% mengatakan lengkap. Koleksi yang lengkap menjadi daya tarik utama perpustakaan, memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dengan lebih baik. Namun, 31,7% responden menganggap koleksi perpustakaan tidak lengkap. Hal ini menunjukkan perlunya perpustakaan untuk memperluas dan meningkatkan koleksinya agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan informasi pemustaka. Kesimpulannya, walaupun sebagian besar responden puas dengan koleksi perpustakaan, terdapat sebagian yang merasa koleksinya masih kurang. Oleh karena itu, penambahan koleksi yang berkualitas dan beragam menjadi penting bagi perpustakaan untuk meningkatkan kepuasan dan pelayanannya kepada pemustaka.Sebagian besarresponden, sekitar 93,4%, memberikan penilaian baik atau sangat baik terhadap fasilitas dan layanan perpustakaan. Hal ini menandakan bahwa fasilitas dan layanan yang disediakan dianggap memadai oleh mayoritas pemustaka. Namun, sebagian kecil responden sekitar 6,6% menyatakan tidak baik atau sangat tidak baik, menunjukkan adanya ruang untuk perbaikan dan peningkatan dalam fasilitas dan layanan tersebut. Kesimpulannya, walaupun mayoritas responden memberikan penilaian positif terhadap fasilitas dan layanan perpustakaan, tetap ada beberapa area yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan untuk memastikan kenyamanan dan kepuasan pemustaka.Responden, sekitar 96,6%, memberikan penilaian baik atau sangat baik terhadap layanan perpustakaan. Ini menunjukkan adanya kepuasan yang signifikan terhadap kualitas layanan yang diberikan. Namun, perlu dicatat bahwa ada sebagian kecil responden sekitar 3,3% yang memberikan penilaian sangat tidak baik. Hal ini menandakan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dalam meningkatkan kualitas layanan agar dapat memenuhi harapan semua pemustaka. Semua ini menunjukkan bahwa perpustakaan umum harus terus meningkatkan standar layanan mereka untuk memastikan kepuasan pemustaka dan mendorong lebih banyak orang untuk memanfaatkan fasilitas yang mereka sediakan.Interval nilai motivasi eksternal dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini: Interval nilai motivasi eksternal dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum pada Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik pemustaka dalam menggunakan layanan perpustakaan dapat dikategorikan sebagai sedang, dengan persentase sekitar 56,7%, sementara kategori tinggi mencapai 41,7%, dan persentase yang rendah hanya sekitar 1,6%. Secara keseluruhan, motivasi eksternal ini dapat dianggap cukup baik, dimana hal ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kualitas layanan, koleksi perpustakaan, fasilitas, dan faktor-faktor lainnya Dari data yang terkumpul mengenai motivasi pemustaka secara keseluruhan, terlihat bahwa motivasi mereka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum relatif baik. Dapat dilihat bahwa motivasi pemustaka, dengan kategori sedang mendapatkan prosentase tertinggi sebesar 63 %, kemudian pada tinggi 35 %dan kategori rendah hanya sekitar 1,7%. Motivasi pemustaka di Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik berada pada tingkat sedang. Tugas perpustakaan adalah membuat pemustaka merasa senang datang dan menggunakan layanan dengan meningkatkan fasilitas, pelayanan, koleksi, dan pengembangan perpustakaan secara menyeluruh. Perpustakaan harus menjadi pusat literasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia, sehingga dapat bersaing baik secara nasional maupun internasional.

Conclusion

Dari hasil penelitian motivasi pemustaka di Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik, terlihat bahwa motivasi pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan umum berada pada kategori sedang. Meskipun demikian, perpustakaan harus terus meningkatkan motivasi pemustaka agar lebih baik lagi. Motivasi pemustaka KeteranganFrekuensiPersentaseTinggi21 35%Sedang38 63,3%Rendah1 1,7%Jumlah60 100% dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup kebutuhan akan informasi, kesesuaian sumber informasi dengan kebutuhan, dan kebebasan dalam mencari informasi. Sementara faktor eksternal termasuk sikap petugas, kemudahan dalam peraturan, keamanan barang bawaan, keterlibatan petugas membantu, dan pemberian sanksi bagi pelanggar. Faktor internal dominan mempengaruhi motivasi pemustaka, namun faktor eksternal juga penting karena dapat memengaruhi daya tarik perpustakaan bagi pemustaka.Untuk meningkatkan motivasi, perpustakaan perlu meningkatkan promosi menggunakan media yang efektif. Hal ini untuk membangkitkan kesadaran dan minat pemustaka dalam mencari informasi di Perpustakaan Umum Kabupaten Gresik. Selain itu, perpustakaan harus memperbaiki fasilitas dan layanan, seperti layanan digital, pendingin ruangan, komputer, koleksi, keamanan barang bawaan, kebersihan, dan kecepatan layanan. Dengan memaksimalkan semua aspek tersebut, diharapkan pemustaka akan lebih banyak datang dan memanfaatkan layanan perpustakaan.