Kembali
16
1
2024 Journal Net. Library and Information Vol 1 · 1 ISSN 3089-5464

PERANAN LITERASI INFORMASI DALAM PEMANFAATAN LAYANAN REFERENSI DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN (Studi Kasus: Mahasiswa Semester VIII)

Universitas Sari Mutiara Indonesia; Universitas Sari Mutiara Indonesia; Universitas Sari Mutiara Indonesia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan literasi informasi dalam pemanfaatan layanan referensi di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan: Observasi, wawancara dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis secara kualitatif. 1) Literasi informasi sangat membantu mahasiswa dalam memperoleh akses ke informasi yang dibutuhkan serta mengevaluasi informasi secara efektif, 2) Model literasi informasi empowering eight dapat membantu mahasiswa dalam mengidentifikasi, mengeksplorasi, menyeleksi, organisasi, menciptakan, presentase, mengakses serta menerapkan informasi dengan tepat, 3) Mahasiswa menganggap layanan referensi adalah ruangan arsip, fungsi layanan referensi belum dilaksanakan secara maksimal dapat dilihat dari tidak diterapkannya fungsi bimbingan, fungsi instruksi, fungsi supervisi, fungsi bibliografi dan fungsi evaluasi dan jenis koleksi referensi yang minim membuat mahasiswa hanya mengetahui beberapa jenis koleksi saja seperti skripsi, kamus dan ensiklopedia. Skripsi adalah jenis koleksi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa.

Abstract

This study aims to determine the role of information literacy in the utilization of reference services at the Library Of University HKBP Nommensen Medan. This research method uses descriptive qualitative. Data collected by using: Observation, interview anddocumentation. The data were analyzed qualitatively. 1) Information literacy is very helpful for students in gaining access to the information needed and evaluating information effectively, 2) The Empowering eight information literacy model can help students in identifying, exploring, selecting, organizing, creating, presenting, accessing and applying information appropriately, 3) Students think that reference services are archive rooms, reference service functions have not been implemented optimally, it can be seen from the non-implementation of guidance functions, instruction functions, supervision functions, bibliographic functions and evaluation functions and minimal types of reference collections that make students only know a few types of collections such as theses, dictionaries and encyclopedias. Thesis is the type of collection most often used by students.
Keywords: Information Literacy · Reference Services · Library of University HKBP Nommensen Medan

Introduction

Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam cara orang mencari, mengakses, dan memanfaatkan informasi. Data statistik dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (2008:1-31) menyatakan minat baca masyarakat Indonesia sangatlah memprihatinkan yaitu hanya 0,001%. Itu berarti, dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang rajin membaca di Indonesia. Untuk itu, sebagai generasi penerus bangsa, generasi muda harus bisa memilah informasi yang tepat dengan cara literasi. Literasi merupakan kemampuan untuk membaca, menulis, dan memahami teks tertulis. Namun, konsep literasi telah berkembang dari sekadar kemampuan membaca dan menulis, menjadi kemampuan yang lebih luas dan kompleks, termasuk kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai bentuk informasi dan media, baik itu dalam bentuk cetak maupun digital. Literasi juga mencakup kemampuan untuk memperoleh, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif dan efisien. Selain literasi, generasi bangsa juga harus memiliki kemampuan untuk mencari, menemukan, menggunakan dan mengevaluasi informasi melalui literasi informasi. Mulyono (2020:5) menyatakan literasi informasi menjadi salah satu kekuatan pendukung dalam mengembangkan kesempatan belajar yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sistem yang berlangsung secara konvensional. Perkembangan kehidupan yang semakin pesat, didukung oleh kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat, memungkinkan untuk saling memperkuat setiap sistem pendidikan. Literasi informasi juga mencakup kemampuan untuk mengevaluasi keandalan dan kebenaran informasi yang ditemukan di internet dan media sosial. Selain itu, keberadaan perpustakaan juga menjadi salah satu akses dalam mendapatkan informasi yang akurat. Perpustakaan adalah sebuah institusi yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan, penyimpanan, pengorganisasian, dan penyebaran informasi melalui berbagai jenis bahan pustaka seperti buku, majalah, terbitan berkala, surat kabar, dan media digital. Perpustakaan juga menyediakan berbagai layanan dan fasilitas untuk memfasilitasi akses dan penggunaan koleksi pustaka tersebut. Perpustakaan memegang peranan penting dalam mendukung pendidikan dan pengembangan masyarakat. Layanan referensi dapat disediakan dalam berbagai format, seperti melalui pertemuan langsung, telepon, email, atau melalui platform media sosial. Beberapa perpustakaan atau institusi juga menyediakan layanan referensi 24 jam, di mana pengguna dapat memperoleh bantuan dan informasi kapan saja, tanpa harus mengunjungi perpustakaan atau institusi secara langsung. Layanan referensi merupakan salah satu jenis layanan yang disediakan oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen memiliki beberapa jenis koleksi salah satu diantaranya adalah koleksi referensi. Adapun jenis koleksi referensi yang dimiliki oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen adalah kamus sebanyak 250 judul dan 450 eksemplar, ensiklopedia 95 judul dan 190 eksemplar, handbook 275 judul dan 500 eksemplar, peraturan pemerintah 295 juduldan 360 eksemplar dan skripsi 5000 judul. Jumlah pengunjung pada tahun 2022 adalah sebanyak 5.103 orang. Jika dikaitkan dengan hasil penelitian Hotlan Sihaan pada tahun 2018 yang berjudul Persepsi Mahasiswa Terhadap Layanan dan Koleksi Referensi Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan yang menyatakan bahwa sikap pustakawan terhadap pemustaka sudah memberikan pelayanan yang optimal dan baik sedangkan untuk ketersediaan koleksi referensi masih belum memadai. Untuk itu, perpustakaan perlu penambahan koleksi referensi terbaru sesuai kebutuhan informasi pemustaka melalui pembelian atau kerjasama dengan perpustakaan lain secara online. Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan mahasiswa. Namun, untuk memanfaatkan layanan referensi yang tersedia di perpustakaan, diperlukan literasi informasi yang memadai. Literasi informasi dapat membantu mahasiswa dalam menggunakan sumber informasi perpustakaan, termasuk e-reources informasi. Pustakawan sebagai pengeloladan penyedia informasi juga mempunyai peran yang sangat penting sebagai administrator dalam menunjang kegiatan akademik. Data terkait dan hasil wawancara di atas dapat diteliti dan dikembangkan melalui pendekatakan Model Empowering Eight (E8), yaitu: Identifikasi, Eksplorasi, Seleksi, Organisasi, Menciptakan, Presentasi, Akses dan Penerapan. Fenomena di atas memberikan peluang kepada peneliti untuk mengkaji “Peranan Literasi Informasi Dalam Pemanfaatan Layanan Referensi di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan (Studi Kasus: Mahasiswa Semester VIII)”. TINJAUAN PUSTAKA Layanan Referensi Informasi dalam bidang pendidikan adalah landasan terpenting bagi kegiatan masyarakat ilmiah, khususnya di bidang penelitian. Kesulitan mencari berita yang valid, relevan dan terkini menjadi kendala bagi para penelusur informasi khsusunya di lingkungan akademis. Banyaknya permasalahan di internet membuat orang kesulitan dalam mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, pengembangan perpustakaan harus dilakukan untuk beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Banyak perpustakaan yang telah memanfaatkan teknologi dan jaringan online untuk memaksimalkan layanan perpustakaan. Rahmi (2020:63) menyatakan bahwa layanan referensi adalah layanan perpustakaan yang pelayanannya berkaitan langsung dengan pemanfaatan pembaca dan sumber perpustakaan untuk tujuan pendidikan dan penelitian. Selanjutnya Susilowati (2021:62) menyatakan bahwa layanan referensi adalah layanan yang disediakan oleh pustakawan yang membantu pengguna mengidentifikasi sumber informasi dan menjawab pertanyaan pengguna tentang topik tertentu dengan menggunakan koleksi referensi yang ada. Pendapat di atas dipertegas oleh Yunita (2022:83) yang menyatakan bahwa layanan referensi adalah jenis layanan perpustakaan yang membantu pengguna untuk menjawab pertanyaan mengenai kebutuhan informasi yang pengguna inginkan. Fungsi Layanan Referensi a. Rahmah (2018:76) menyatakan bahwa fungsi layanan referensi adalah sebagai berikut: Fungsi Informasi yang memberikan bantuan terhadap kebutuhan informasi pengguna. Layanan referensi harus mengetahui latar belakang dan tujuan pengguna untuk mendapat jawaban yang tepat. b. Fungsi bimbingan memberikan bimbingan kepada pengguna maupaun dalam pemakaian aplikasi, sehingga pengguna boleh menggunakan aplikasi dengan aman dan efektif. c. Fungsi instruksi atau memberikan arahan kepada pengguna perpustakaan secara umum atau dalam penggunaan sumber bibliografi dan koleksi sumber lainnya. d. Fungsi supervisi atau fungsi pengawasan, melakukan pengawasan terhadap kebijakan kepegawaian, koleksi ruangan, jam layanan, tata tertib, dan sebagainya. e. Fungsi bibliografi adalah untuk membantu menemukan infomasi seperti indeks artikel jurnal, bibliografi, abstrak, panduan literatur, dan katalog. f. Fungsi evaluasi menghasilkan sumber dengan memerlukan otoritas perpustakaan, ruang lingkup, urutan bahan rujukan, format, tujuan dan sasaran. Jenis Koleksi Referensi Rahmah (2018:86-130) menyatakan bahwa jenis koleksi referensi adalah sebagai berikut: 1. Bibliografi. Bibliografi adalah daftar buku tentang subjek atau industri tertentu yang memerlukan serangkaian kaulifikasi tertentu selama proses penulisan. 2. Kamus adalahh judul buku yang perlu mencantumkan kata “kata”, karena ada buku yang mengandung “kosa kata” atau “rangkaian kata frase” menurut abjad. 3. Ensiklopedia. Buku yang berisi daftar lengkap dokumen terkait pengetahuan yang didistribusikan melalui telepon dan sering kali disajikan dalam urutan abjad. 4. Biografi. Biografi merupakan riwayat hidup seseorang, dari lahir sampai sekarang baik yang masih hidup maupun sudah meninggal. 5. Indeks. Petunjuk buku, yang sering dibaca dari depan kebelakang, kecuali buku tebal atau kamus, untuk mencegah kerusakan yang cepat. 6. Abstrak. Abstrak berfungsi sebagai penjabaran ringkasan isi tulisan, sehingga menjadi bagian tersendiri pada tulisan. 7. Terbitan Berseri. Terbitan berseri adalah suatu terbitan yang diterbitkan secara berurutan, biasanya dengan jarak penerbitan yang tetap dan diwajibkan untuk terbit terus menerus tanpa batas waktu tertentu. 8. Buku Pegangan (Handsbook), Manual dan Guidebook. Handbook adalah buku yang berisi intruksi, petunjuk, keterangan tetang perjalanan, keterampilan atau rujukan. Manual adalah buku kecil yang hanya memberikan satu keterangan atau intruksi. Guidebook adalah buku yang bersisi petunjuk dan keterangan tentang perjalanan pariwisata. 9. Direktori. Direktori adalah segala jenis publikasi yang disusun menurut abjad yang memuat nama, alamat dan fungsi seseorang atau organisasi. 10. Sumber-sumber Geografi. Sumbersumber geografi berupa peta, atlas, globe, dan gazetter. 11. Almanak. Almanak adalah perhitumhan dalam ilmu perbintangan menenai urutan bendabenda dilangit dan biasanya disertai dengan catatan astronologi. Rahmah (2018:86-130) menyatakan bahwa jenis koleksi referensi adalah sebagai berikut: 1. Bibliografi. Bibliografi adalah daftar buku tentang subjek atau industri tertentu yang memerlukan serangkaian kaulifikasi tertentu selama proses penulisan. 2. Kamus adalahh judul buku yang perlu mencantumkan kata “kata”, karena ada buku yang mengandung “kosa kata” atau “rangkaian kata frase” menurut abjad. 3. Ensiklopedia. Buku yang berisi daftar lengkap dokumen terkait pengetahuan yang didistribusikan melalui telepon dan sering kali disajikan dalam urutan abjad. 4. Biografi. Biografi merupakan riwayat hidup seseorang, dari lahir sampai sekarang baik yang masih hidup maupun sudah meninggal. 5. Indeks. Petunjuk buku, yang sering dibaca dari depan kebelakang, kecuali buku tebal atau kamus, untuk mencegah kerusakan yang cepat. 6. Abstrak. Abstrak berfungsi sebagai penjabaran ringkasan isi tulisan, sehingga menjadi bagian tersendiri pada tulisan. 7. Terbitan Berseri. Terbitan berseri adalah suatu terbitan yang diterbitkan secara berurutan, biasanya dengan jarak penerbitan yang tetap dan diwajibkan untuk terbit terus menerus tanpa batas waktu tertentu. 8. Buku Pegangan (Handsbook), Manual dan Guidebook. Handbook adalah buku yang berisi intruksi, petunjuk, keterangan tetang perjalanan, keterampilan atau rujukan. Manual adalah buku kecil yang hanya memberikan satu keterangan atau intruksi. Guidebook adalah buku yang bersisi petunjuk dan keterangan tentang perjalanan pariwisata. 9. Direktori. Direktori adalah segala jenis publikasi yang disusun menurut abjad yang memuat nama, alamat dan fungsi seseorang atau organisasi. 10. Sumber-sumber Geografi. Sumbersumber geografi berupa peta, atlas, globe, dan gazetter. 11.Almanak. Almanak adalah perhitumhan dalam ilmu perbintangan menenai urutan benda-benda dilangit dan biasanya disertai dengan catatan astronologi. Literasi Informasi Bahri (2022:59-66) menyatakan bahwa literasi informasi merupakan kebutuhan dasar dalam pembelajaran seumur hidup dan bermanfaat untuk semua disiplin ilmu, semua lingkungan pembelajaran, dan semua tingkat pendidikan. Selanjutnya Riady (2022:16) menyatakan bahwa literasi informasi adalah sebuah kemampuan mengakses, mengevaluasi, mengorganisasi, dan menggunakan informasi dalam proses belajar, pemecahan masalah, membuat keputusan formal dan informal dalam konteks belajar, pekerjaan, rumah, ataupun dalam pendidikan. Pendapat di atas dipertegas oleh Sulistyo Basuki (2018:430-431) menyatakan bahwa literasi informasi adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan cara yang aman mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, mendapatkan akses dari informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi secara efektif menggunakan informasi untuk berinterasksi dan mendistribusikannya sesuai dengan standar etika dan hukum. Tujuan Literasi Informasi United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (2008:1) menyatakan bahwa literasi informasi memberikan orang kemampuan untuk menggunakan informasi sebagai konsumen dan menghasilkan informasi untuk diri mereka sendiri. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization juga menyatakan bahwa tujuan literasi informasi sebagai berikut: 1. Memberikan keterampilan seseorang agar mampu mengakses dan memperoleh informasi mengenai kesehatan, lingkungan, pendidikan, pekerjaan mereka, dan lain-lain. 2. Memandu mereka dalam membuat keputusan yang tepat mengenai kehidupan mereka. 3. Lebih bertanggung jawab terhadap kesehatan dan pendidikan mereka. Manfaat Literasi Informasi Literasi informasi dapat memudahkan mahasiswa dalam melakukan hal yang berhubungan dengan kegiatan informasi. Adam (2009: 1) menyatakan beberapa manfaat literasi informasi sebagai berikut: 1. Membantu mengambil keputusan. Literasi informasi sangat berperan dalam m embantu menyelesaikan suatu persoalan. Untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah, seseorang harus memiliki informasi tentang keputusan yang akan diambil 2. Menjadi manusia pembelajar di era informasi. Kemampuan literasi informasi memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan seseorang menjadi manusia pembelajar. Semakin terampil seseorang mencari, menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi, semakin terbukalah kesempatan untuk selalu melakukan pembelajaran secara mandiri. 3. Menciptakan pengetahuan baru. Seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila mampu menciptakan pengetahuan baru. Seseorang dengan kemampuan literasi informasi akan memiliki keterampilan memilih informasi mana yang benar dan mana yang salah sehingga tidak mudah saja percaya dengan informasi yang diperoleh. Model Literasi Informasi Berdasarkan beberapa jenis literasi informasi peneliti memilih untuk menggunakan Teori Model Pencarian Informasi Empowering Eight (E8) dengan alasan bahwa model pencarian informasi dilakukan dengan tahapan yang dimulai dari identifikasi, eksplorasi, seleksi, organisasi, menciptakan, presentasi, akses dan penerapan cocok dilakukan dalam penelitian ini.

Method

Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan yang terletak di Jl. Sutomo No.4A, Perintis, Kec. Medan Tim., Kota Medan, Sumatera Utara 20235. Informan dan Teknik Penentuan Informan Penelitian Informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester VIII Universitas HKBP Nommensen Medan dengan jumlah informan sebanyak Lima (5) orang. Teknik penentuan informan dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan teknik purposive sampling yaitu teknik pemilihan informan dengan tujuan tertentu. Muhajir (2022:181) menyatakan bahwa “purposive sampling yaitu teknik sampling dengan pertimbangan tertentu”. Sampel yang dimaksud adalah individu yang diyakini dapat memberikan informasi dan mengetahui tentang penelitian yang sedang diteliti, yang memudahkan pengumpulan data oleh peneliti. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Hardani (2020:16) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data kualitatif yaitu: 1. Observasi Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data yang sistematis terhadap obyek penelitian baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam menggunakan teknik observasi ini yang terpenting adalah mengandalkan pengamatan dan ingatan peneliti. Observasi yang dilakukan oleh peneliti di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan adalah mengamati informan secara langsung dalam pemanfaatan layanan referensi. 2. Wawancara Wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk suatu penelitian. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan teknik wawancara terstruktur dengan menyiapkan panduan wawancara kepada mahasiswa semester VIII Universitas HKBP Nommensen Medan. Alat wawancara yang digunakan peneliti adalah alat perekam seperti ponsel dengan fitur rekam suara dan kamera. Seanjutnya peneliti membuat transkrip dari hasil wawancara. 3. Dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Metode dokumentasi mengacu pada proses pengumpulan data dengan mengidentifikasi data yang sudah ada. Dibandingkan dengan metode lainnya, metode pengumpulan data lebih mudah. Cara memperoleh data dari dokumentasi adalah melalui dokumen dan ilustrasi. Data untuk dokumen diperoleh dengan data primer yaitu hasil wawancara dengan informan yang dibuat dalam bentuk transkrip dan data sekunder melalui artikel dan buku. Selanjutnya peneliti akan melakukan sesi foto dengan informan untuk salah satu bukti penelitian. Setelah data terkumpul baik melaui observasi, wawancara dan dokumentasi maka peneliti melakukan analisis data. Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan analisis yang mendasarkan adanya hubungan semantik antar variabel yang sedang diteliti. Rijali (2019:81-95) menyatakan analisis kualitatif meliputi pengumpulan data, redaksi, pengolahan dan pelaporan temuan. Pengecekan Keabsahan Data Peneliti dalam pengecekan keabsahan data uji kredibilitas menggunakan teknik triangulasi yang meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi.

Result

Peranan Literasi Informasi Literasi informasi membantu mahasiswa untuk mengetahui kapan dan mengapa mereka membutuhkan informasi, mereka juga dapat memperoleh informasi yang tepat dengan cepat, memperoleh informasi yang berkualitas dan menghindari informasi yang tidak relevan dan mampu mengembangkan kemampuan berfikir kritis dalam mengevaluasi informasi yang mereka terima. Literasi informasi membantu mahasiswa dalam merumuskan masalah, mereka lebih teliti dalam menentukan topik yang mereka butuhkan dan mengeksplor lebih lanjut mengenai kebutuhan informasi, menjelajah informasi dari berbagai sumber. Literasi informasi dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan dan informan mampu menentukan seberapa akurat informasi yang mereka butuhkan. Model Empowering Eight (E8) a. Identifikasi Untuk mengidentifikasi informasi, mahasiswa terlebih dahulu mencari sumber informasi yang relevan kemudian menilai informasi lalu membagikan temuan informasi dengan efektif dan bertangggungjawab. Mahasiswa juga mencari informasi melalui situs atau website terpercaya agar informasi yang ditemukan akurat. b. Eksplorasi Eksplorasi penting dilakukan bukan hanya untuk menemukan informasi yang mahasiswa butuhkan tetapi secara tidak langsung mahasiswa juga sudah menemukan hal barru dari beberapa artikel jurnal atau situs lain. Mahasiswa juga melakukan eksplorasi informasi agar mendapatkan informasi yang akurat dan tidak simpang siur serta membantu mahasiswa untuk menemukan informasi yang cermat dan cerdas. c. Seleksi Mahasiswa melakukan seleksi informasi agar terhindar dari informasi yang tidak valid. Mahasiswa juga memilah serta pintar dalam menyeleksi informasi karena tidak sedikit orang termakan berita hoax. Selain itu Mahasiswa juga sekalian melatih diri dalam mengembangkan kemampuan berfikir kritis dalam menemukan informasi yang akurat dan berkualitas dengan menyeleksi informasiinformasi yang mahasiswa butuhkan. d. Organisasi Organisasi membantu mahasiswa dalam menemukan informasi melalui sumber daya seperti buku, artikel atau database. Mahasiswa bisa mengembangkan kemampuan literasi informasi dengan sharing informasi antara satu dengan yang lainnya. e. Menciptakan Mahasiswa menciptakan kemampuan literasi pada diri mereka melalui pelatihan secara berkala dengan baik agar bisa memahami kapan informasi dibutuhkan. Mahasiswa juga menggunakan teknologi dengan bijak dan efektif serta mencari dan mengevaluasi informasi f. Presentase Presentase yang menarik adalah presentase yang tidak bertele-tele. Materi yang disampaikan jelas dengan bahasa yang mudah dipahami dan bisa menguasai audiens. g. Akses Untuk mengakses informasi, mahasiswa mengunjungi perpustakaan dan membaca buku serta artikel yang tersedia. Mahasiswa juga memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan akses informasi yang lebih leluasa. h. Penerapan Menerapkan kemampuan informasi dapat membantu mahasiswa dalam menemukan sumber informasi yang relevan, menggunakan informasi dengan efektif dalam pemecahann masalah dan dapat membuat keputusan yang lebih tepat serta menghindari kesalahan informasi. Layanan Referensi Mahasiswa tidak mengetahui bahwa ruangan yang sering mereka gunakan adalah ruangan layanan referensi, informan lebih mengenal ruang layanan referensi sebagai ruang arsip.Mahasiswa merasa layanan referensi membantu dalam menjawab pertanyaan tangg mereka butuhkan. Layanan referensi kurang membantu mahasiswa dalam menemukan informasi dengan cepat dan tepat dikarenakan ketersediaan koleksi yang sangat minim dan harus mencari informasi secara manual dan untuk informasi yang ada di layanan referensi membantu, namun dalam menelusur ebook atau sejenisnya mahasiswa merasa kurang terbantu dan memilih untuk mencari indormasi sendiri melalui internet. Fungsi Layanan Referensi a. Fungsi Informasi I1 kurang tau apakah fungsi ini diterapkan atau tidak, karena I1 ke ruangan layanan perpustakaan hanya mengerjakan tugas dan baca koleksi yang ada di dalam saja. Sedangkan I2, I3, I4 dan I5 mengatakan fungsi informasi sudah diterapkan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen dapat dilihat dari pustakawan yang membantu mahasiswa dalam mencari informasi yang dibutuhkan. b. Fungsi Bimbingan I1, I2, I3 mengatakan fungsi bimbingan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan tidak ada dikarenakan koleksi yang sedikit sehingga cukup mudah untuk menemukan koleksi yang sedang dibutuhkan. Sedangkan I2, I4 dan I5 mengatakan fungsi bimbingan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan ada namun tidak diterapkan dikarenakan mahasiswa sudah terbiasa mengambil dan mencari informasi ke rak. c. Fungsi Instruksi Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan tidak menerapkan fungsi instruksi karena mahasiswa sudah terbiasa menemukan koleksi yang dibutuhkan dengan mencari langsung ke rak d. Fungsi Supervisi Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan tidak menerapkan fungsi supervisi dan tidak pernah melakukan kegiatan kunjungan kelas sekalipun e. Fungsi Bibliografi Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan tidak menerapkan fungsi bibliografi. Pustakawan tidak pernah memberikan rekomendasi kepada mahasiswa untuk membaca hasil penelitian atau sebagainya. f. Fungsi Evaluasi Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan tidak pernah menyuruh mahasiswa untuk mengisi survey tentang evaluasi mengenai perpustakaan, mahasiswa hanya mengisi survey evaluasi tenaga pendidik dan dosen. Jenis Koleksi Referensi Mahasiswa hanya mengetahui 3 jenis koleksi referensi yaitu kamus, ensiklopedia dan skripsi. Skripsi adalah jenis koleksi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa.

Conclusion

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah peneliti lakukan dapat disimpulkan bahwa: 1) Literasi informasi sangat membantu mahasiswa dalam memperoleh akses ke informasi yang dibutuhkan serta mengevaluasi informasi secara efektif, 2) Model literasi informasi empowering eight dapat membantu mahasiswa dalam mengidentifikasi, mengeksplorasi, menyeleksi, organisasi, menciptakan, presentase, mengakses serta menerapkan informasi dengan tepat, 3) Mahasiswa menganggap layanan referensi adalah ruangan arsip, fungsi layanan referensi belum dilaksanakan secara maksimal dapat dilihat dari tidak diterapkannya fungsi bimbingan, fungsi instruksi, fungsi supervisi, fungsi bibliografi dan fungsi evaluasi dan jenis koleksi referensi yang minim membuat mahasiswa hanya mengetahui beberapa jenis koleksi saja seperti skripsi, kamus dan ensiklopedia. Skripsi adalah jenis koleksi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa. SARAN Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan mengadakan pendidikan pemakai kepada seluruh civitas academica tentang pentingnya literasi informasi dan bagaimana cara memanfaatkan layanan referensi yang tersedia di perpustakaan serta menyediakan akses yang mudah dan cepat dengan melakukan kebijakan pengembangan koleksi referensi seperti sumber biografi, atlas, peta, kitab suci, direktori dan abstrak.