Kembali
16
1
2025 House of Wisdom: Journal on Library and Information Sciences Vol 1 · 3 ISSN 3089-6002

Utilizing WhatsApp Groups for Family Communication and Interaction

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Abstract

Family communication is an important element in building harmonious relationships between family members. In the digital era, technology makes daily communication and interaction easier. This study aims to understand family communication in the digital era in Sidoarjo Regency, through interviews with five respondents from various backgrounds. The results of the study show that digital technology makes it easier for families to stay connected despite being apart. Respondents revealed great benefits in maintaining family relationships through text messages, video calls, and social media, as well as sharing life moments in real-time. Nonetheless, challenges such as technical issues and privacy concerns remain. It is important for families to maintain a balance between digital and face-to-face interactions to ensure that the quality of the relationship is maintained. Technology provides convenience, but direct interaction is still important in building strong emotional bonds.
Keywords: Communication · Family · Whatsapp

Introduction

WhatsApp adalah aplikasi pesan instan yang telah mengubah cara kita berkomunikasi secara signifikan sejak peluncurannya pada tahun 2009. Dikembangkan oleh Jan Koum dan Brian Acton, WhatsApp dirancang dengan tujuan sederhana namun ambisius: memberikan platform komunikasi yang mudah digunakan dan bebas dari biaya pengiriman pesan yang sering dikenakan oleh operator seluler tradisional. Pada tahun 2014, WhatsApp telah berkembang pesat, menjadi salah satu aplikasi pesan paling populer di dunia dengan lebih dari 2 miliar pengguna aktif bulanan pada tahun 2023.[1] WhatsApp menawarkan berbagai fitur komunikasi yang mempermudah interaksi antara pengguna. Berikut adalah beberapa fitur utama komunikasi di WhatsApp yang umum digunakan masyarakat [1] 1. Pesan Teks, pengguna dapat mengirim dan menerima pesan teks secara real-time. Pesan dapat disertai dengan emoji, stiker dan GIF untuk penambahan ekspresi pada pesan teks. 2. Panggilan suara dan video, Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melakukan panggilan suara dan vieo berkualitas tiggi secara gratis. Panggilan ini dapat dilakukan secara individual atau dalam grup. 3.Pesan suara, pengguna dapat merekam dan mengirim pesan suara yang dapat didengarkan oleh penerima. Ini sangat berguna untuk komunikasi yang membutuhkan ekspresi verbal tanpa harus mengetik. 4. Grup Chat, fitur ini memungkinkan pengguna untuk membuat dan berpartisipasi dalam grup chat hingga dengan 1.024 anggota. Ini memfasilitasi koordinasi dan komunikasi kelompok. 5. Status, Pengguna dapat memperbarui status mereka dengan foto, video atau teks yang akan hilang setelah 24 jam. Ini memungkinkan berbagi momen sehari-hari dengan sesama kontak yang ada di Whatsapp. 6. Berbagi Multimedia, Pengguna dapat mengirim foto, video, dokumen, audio dan share location. Ini memungkinkan berbagai bentuk komunikasi multimedia. WhatsApp memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk dalam konteks keluarga. Dengan kemampuannya untuk menghubungkan anggota keluarga yang tersebar di lokasi yang berbeda, aplikasi ini memungkinkan komunikasi yang lebih dekat dan real-time. Selain itu, fitur seperti grup chat mempermudah koordinasi dan berbagi informasi di antara anggota keluarga [2] adalah usaha untuk berbagi dengan tujuan mencapai kesepahaman. Ketika dua individu berkomunikasi, tujuan mereka adalah untuk mencapai pemahaman yang sama terhadap pesan yang mereka tukar, menurut Lexicographer dalam [3]. Menurut Hovland, Jains, dan Kelley, dalam komunikasi merupakan suatu proses di mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk katakata) dengan maksud membentuk perilaku individu lain (audien). Proses komunikasi ini adalah cara untuk menyampaikan informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan elemen lainnya dengan menggunakan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka, dan sebagainya[3] Menurut[4] dalam komunikasi adalah proses dimana seorang individu yang disebut komunikator menyampaikan ide, gagasan, atau opini kepada sejumlah sasaran, dalam hal ini adalah komunikan, baik dengan atau tanpa menggunakan media, dengan maksud untuk mengubah perilaku orang lain. Menurut Rudolph F. Venderber dalam [5], komunikasi memiliki dua peran, yakni fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan. Fungsi sosial komunikasi bertujuan untuk menciptakan kepuasan, menunjukkan koneksi dengan orang lain, serta membangun dan menguatkan hubungan interpersonal[6]. Di sisi lain, fungsi pengambilan keputusan komunikasi adalah untuk memutuskan tindakan yang akan dilakukan atau tidak dilakukan pada waktu tertentu, baik itu berdasarkan pertimbangan rasional maupun emosional. Komunikasi dan informasi saling terkait dan tidak dapat dipisahkan; keduanya merupakan elemen yang menyatu secara utuh. Contohnya, dalam proses pembuatan kebijakan, komunikasi sangat dibutuhkan, serta informasi dan komunikasi memiliki peran krusial dalam pembentukan kebijakan [7]. Keterampilan berkomunikasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu, dipengaruhi oleh faktor psikologis, lingkungan, literatur yang diakses, serta pengalaman hidup yang beragam. Kadang-kadang, cara seseorang berkomunikasi mencerminkan kepribadian mereka. Meskipun pendidikan tinggi tidak menjamin kemampuan berkomunikasi yang sempurna, karena terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi interaksi manusia dalam berkomunikasi. Komunikasi yang terjadi dalam masyarakat tidak sekadar berlalu begitu saja, melainkan memiliki makna dan tujuan yang ingin dicapai [8] Secara umum, tujuan komunikasi adalah untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilaku. Tujuan komunikasi ini berkaitan dengan konteks dan waktu tertentu. Komunikasi pada dasarnya bertujuan untuk menyentuh hati dan emosi manusia, baik sebagai penyampai pesan maupun penerima[9]. Keluarga merupakan unit sosial pertama yang ditemui oleh individu saat mereka belajar dan mengakui diri mereka sebagai bagian dari masyarakat, dalam interaksi di dalam lingkup keluarga mereka[10]. Dalam keluarga yang sebenarnya, penting untuk membangun komunikasi yang kuat agar anggota keluarga merasakan hubungan yang erat dan saling membutuhkan satu sama lain Kurniadi dalam [11] Baik secara sadar maupun tidak, proses pembentukan karakter selalu berlangsung di dalam sebuah keluarga, yang nantinya akan menjadi pondasi penting bagi anak dalam berinteraksi sosial di masa depan Handayani, dalam [11] Dengan ata lain, komunikasi merupakan salah satu metode yang paling efektif dalam membentuk karakter anak di dalam lingkungan keluarga. Berikut adalah penjelasan mengenai karakteristik dalam komunikasi keluarga menurut Kumar (Wijaya: 1987) yang lebih terstruktur: 1. Keterbukaan (Openness) Keterbukaan merujuk pada sejauh mana seseorang bersedia untuk terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks komunikasi keluarga, keterbukaan memungkinkan anggota keluarga untuk memberikan tanggapan yang jelas terhadap pikiran dan perasaan yang disampaikan oleh anggota keluarga lainnya. Ini menciptakan suasana saling percaya dan transparansi dalam komunikasi. 2. Empati (Empathy) Empati adalah kemampuan seseorang untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain tanpa harus terlibat secara fisik dalam perasaan atau tanggapan mereka. Dalam komunikasi keluarga, empati penting agar setiap anggota merasa didengarkan dan dipahami, yang memperkuat hubungan emosional antar anggota keluarga. 3. Dukungan (Support) Dukungan adalah pemberian bantuan dan dorongan yang membantu seseorang lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas dan mencapai tujuan mereka. Dukungan ini umumnya diharapkan dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga. Dalam komunikasi keluarga, dukungan memberi rasa aman dan kepercayaan diri bagi anggota keluarga untuk menghadapi tantangan hidup. 4. Perasaan Positif (Positiveness) Perasaan positif mencakup sikap positif terhadap apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita. Ini menunjukkan bahwa dalam komunikasi keluarga, memiliki sikap yang optimis dan terbuka terhadap feedback atau masukan dari anggota keluarga lain dapat memperkuat ikatan serta meningkatkan kualitas interaksi antar anggota keluarga. Karakteristik-karakteristik ini sangat penting dalam membangun komunikasi yang sehat dan harmonis dalam keluarga. Kajian yang digunakan terdiri dari beberapa artikel yang pernah diteliti sebelumnya, yang mana mempunyai korelasi dengan topik pembahasan dalam artikel ini. Menurut Davis dalam [12], fungsi keluarga dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Reproduksi (reproduction), yang mengacu pada peran keluarga dalam menggantikan atau mempertahankan sistem sosial melalui reproduksi keturunan. 2. Pemeliharaan (Maintenance), yang mencakup perawatan dan pengasuhan anak hingga mereka mampu mandiri. 3. Ekonomi (Economics), yang melibatkan distribusi dan pemenuhan kebutuhan ekonomi dalam keluarga. 4. Perawatan Anggota yang Lanjut Usia,( Care Of The Ages) yaitu memberikan perawatan bagi anggota keluarga yang telah lanjut usia. 5. Pusat Politik, (Political Center) yang memberikan posisi strategis kepada anak-anak sehingga orang tua tidak mendominasi perkembangan anak secara otoriter. 6. Perlindungan Fisik,(Phsycal Protection) yang melibatkan penyediaan kebutuhan fisik seperti pakaian, makanan, dan tempat tinggal bagi anggota keluarga. 7. Kesamaan (Equal) merujuk pada kesetaraan dalam berbicara dan mendengarkan antara individu dengan orang lain dalam komunikasi keluarga. Perkembangan zaman informasi digital dan ruang siber saat ini telah mengubah gambaran keluarga, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan pada era digital. Konsep keluarga yang harmonis, yang dulunya menjadi sumber utama informasi dan sosialisasi, kini berubah menjadi keluarga digital. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi global telah mengubah banyak aspek dari keluarga yang harmonis. Menurut Yasraf (2004:476) dalam [13] dengan kemunculan berbagai teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses segera, cepat, dan virtual, interaksi tatap muka di dalam keluarga sekarang digantikan oleh interaksi yang terjadi melalui media sosial. Di era teknologi digital, banyak manfaat dan kemudahan untuk melakukan komunikasi, terutama komunikasi antar individu, melalui berbagai platform seperti email, pesan teks, panggilan video, dan media sosial, kita dapat terhubung dengan teman, keluarga, dan rekan kerja di seluruh dunia dengan cepat dan efisien [14]. Hal memperkuat hubungan sosial kita dan memungkinkan kita untuk tetap terhubung meskipun jarak fisik terpisahkan. Demikian juga dengan komunikasi keluarga, yang dapat dilakukan melalui media sosial, panggilan video, dan aplikasi pesan instan, kita dapat tetap terhubung dengan anggota keluarga yang berada di tempat yang jauh secara langsung dan interaktif [14]. Hal ini memungkinkan kita untuk berbagi momen-momen penting, mendukung satu sama lain, dan memperkuat ikatan keluarga meskipun jarak terpisahkan. Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya membawa kemudahan dalam aspek kerja dan belajar, tetapi juga memperkaya hubungan sosial kita dalam kehidupan sehari-hari. Kecamatan Sidoarjo merupakan salah satu dari 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Kecamatan ini memiliki posisi yang strategis sebagai bagian dari penyangga Kota Surabaya, yang juga dikenal sebagai Gerbangkertosusilo. Dengan keberadaannya yang berdekatan dengan Kota Surabaya dan sejumlah kawasan industri, Kecamatan Sidoarjo menjadi pusat perkembangan ekonomi yang pesat di wilayah tersebut. Kecamatan Sidoarjo terletak di antara Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di sebelah utara, serta Kabupaten Mojokerto di sebelah barat. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Selat Madura. Luas wilayah Kecamatan Sidoarjo mencapai 714,27 km2, menjadikannya sebagai kabupaten terkecil dan terpadat penduduknya di Jawa Timur. Berdasarkan data sensus, jumlah penduduk di Kecamatan Sidoarjo terus meningkat dari tahun 2021 hingga 2023. Pada tahun 2021, jumlah penduduk laki-laki sebesar 1.052.978 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan sebesar 1.038.952 jiwa (BPS Jawa Timur, 2023). Sedangkan pada tahun 2023, jumlah penduduk laki-laki meningkat menjadi 1.063.973 jiwa dan penduduk perempuan menjadi 1.050.615 jiwa . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi keluarga dalam era digital di Kecamatan Sidoarjo. Dengan menggunakan teori [15] sebagai landasan konseptual, pada penelitian ini akan dianalisis bagaimana komunikasi pada keluarga di Kecamatan Sidoarjo. Penelitian ini memiliki signifikansi yang penting dalam konteks Kecamatan Sidoarjo. Pertama, pemahaman yang lebih baik tentang komunikasi keluarga dalam era digital dapat membantu dalam mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi oleh keluarga di wilayah ini. Hal ini dapat membantu pengembangan program atau kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hubungan keluarga dan kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Selain itu, dengan memahami dampak teknologi digital terhadap komunikasi keluarga, penelitian ini juga dapat memberikan wawasan tentang cara mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk memperkuat ikatan keluarga dan mempromosikan interaksi yang sehat di dalam keluarga. Implikasi sosial dan budaya dari penelitian ini juga dapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik tentang dinamika keluarga modern di era digital.

Method

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif ini berlandaskan pada filsafat postpositivisme, yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan peneliti sebagai instrumen kunci, dan teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, yaitu dengan menggabungkan beberapa metode pengumpulan data. Analisis data bersifat induktif/kualitatif, dengan lebih menekankan pada makna daripada generalisasi. Ruang lingkup penelitian ini akan meliputi pengumpulan data melalui survei, wawancara, dan observasi terhadap sejumlah keluarga di Kecamatan Sidoarjo. Metode kualitatif akan digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh. Populasi yang diteliti adalah keluarga yang tinggal di Kecamatan Sidoarjo, dengan fokus pada berbagai aspek komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan teknologi digital, dan interaksi antar anggota keluarga. Metode pengumpulan data seperti wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi [15]. Populasi yang diteliti adalah keluarga di Kecamatan Sidoarjo yang menggunakan teknologi digital dalam komunikasi sehari-hari. Data primer akan diperoleh melalui wawancara langsung dengan anggota keluarga, sementara data sekunder akan berupa dokumen-dokumen terkait penggunaan teknologi digital dalam keluarga. Metode pemilihan informan yang digunakan adalah probably sample acak berdasarkan pekerjaan dan usia. Dalam proses ini, kelompok penduduk dari berbagai latar belakang pekerjaan dan rentang usia diidentifikasi sebagai sampel potensial. Dengan menggunakan teknik acak, 5 orang diambil dari kelompok tersebut untuk dijadikan responden dalam survei atau penelitian. Pentingnya memilih sampel secara acak adalah untuk memastikan representativitas sampel terhadap populasi secara keseluruhan. Dengan mempertimbangkan variasi pekerjaan dan usia, data yang diperoleh dari 5 responden tersebut diharapkan mencerminkan keragaman dan kompleksitas masyarakat di kecamatan Sidoarjo. Selain itu, dengan merumuskan 5 pertanyaan yang relevan dengan tujuan penelitian, informasi yang didapatkan dari responden dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik sosial dan ekonomi dari kelompok yang diwakili. Signifikansi penelitian ini terletak pada pemahaman yang lebih dalam tentang tingkat penggunaan teknologi digital terhadap komunikasi keluarga di Kecamatan Sidoarjo. Implikasi sosial dan budaya dari perubahan ini akan dieksplorasi, dengan tujuan untuk memberikan wawasan yang dapat digunakan untuk mengetahui komunikasi keluarga dalam era digital di kecamatan sidoarjo. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model Miles dan Huberman. Model ini menekankan pada aktivitas interaktif dan berkesinambungan dalam menganalisis data kualitatif hingga selesai. Tahapan utama dalam model ini mencakup reduksi data, penyajian data, analisis data dan penarikan kesimpulan/verifikasi [16] Reduksi data merupakan langkah awal dalam analisis, di mana peneliti memilih data yang akan digunakan, data yang akan dihilangkan, serta pola rangkuman yang dianggap penting. Proses reduksi ini mencakup pemilihan, pemusatan, penyederhanaan, dan penataan ulang data yang terkumpul, sehingga memungkinkan peneliti untuk merumuskan kesimpulan yang lebih jelas [16] . Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah penyajian data. Penyajian data merupakan penyajian informasi yang telah tersusun, memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Metode yang sering digunakan dalam penyajian data kualitatif adalah teks naratif, yang memfasilitasi pemahaman dan perencanaan tindakan selanjutnya berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh dari data [16]. Selanjutnya tahap penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan kegiatan utama terakhir dalam analisis data. Peneliti harus mengambil inisiatif sejak awal untuk menghindari data yang tidak bermakna. Kesimpulan yang diambil harus didukung oleh bukti yang valid dan konsisten. Kesimpulan awal bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penambahan bukti yang kuat dari tahap pengumpulan data berikutnya. Jika kesimpulan awal didukung oleh bukti yang valid dan konsisten, maka kesimpulan tersebut dapat dianggap kredibel[16].

Result

Berdasarkan wawancara yang dilakukan berikut adalah hasil dari wawancara dengan lima responden dari berbagai lapisan masyarakat di Kecamatan Sidoarjo. Mereka adalah Budi, seorang wiraswasta berusia 35 tahun; Siti, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun; Ani, seorang pegawai kantor berusia 40 tahun; Andi, seorang pelajar berusia 17 tahun; dan Rini, seorang guru berusia 50 tahun. Melalui pertanyaan yang diajukan kepada mereka, kami mencoba untuk menggali pengalaman mereka dalam menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga. Selain itu, kami juga menanyakan tentang tantangan yang mereka hadapi dalam menggunakan teknologi digital dalam konteks keluarga, serta upaya yang mereka lakukan untuk menjaga keseimbangan antara dunia digital dan interaksi langsung dalam kehidupan sehari-hari mereka. Berikut adalah hasil wawancara dengan para informan, yang telah dirangkum untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana komunikasi keluarga berkembang dalam era digital di Kecamatan Sidoarjo. 1. Budi (35 tahun, Wiraswasta) "Teknologi digital, seperti pesan teks dan media sosial, telah membuat komunikasi dengan keluarga saya lebih mudah. Kami dapat saling bertukar kabar dan berbagi momen sehari-hari meskipun tidak berada dalam satu tempat secara fisik. Sekarang kami lebih sering menggunakan grup WhatsApp keluarga untuk berkomunikasi tentang jadwal, perencanaan acara, dan berbagi foto. Ini membuat koordinasi menjadi lebih efisien dan memudahkan kami untuk tetap terhubung. Saya pikir, menggunakan teknologi digital telah mengurangi sedikit interaksi langsung antar anggota keluarga kami. Kadang-kadang, kita lebih cenderung berkomunikasi melalui pesan teks atau panggilan video daripada bertemu secara langsung. Menurut saya, teknologi digital membawa kami lebih dekat. Kami memiliki grup keluarga di platform media sosial, di mana kami dapat berbagi cerita dan mendukung satu sama lain. Meskipun kami mungkin tidak selalu bertemu secara langsung, tetapi rasa keterhubungan tetap terjaga melalui teknologi ini. Kami berusaha untuk tetap memprioritaskan waktu berkualitas bersama-sama tanpa gangguan teknologi. Misalnya, kami menetapkan waktu untuk makan malam bersama di mana semua perangkat elektronik dimatikan. Ini membantu kami untuk fokus berinteraksi secara langsung dan memperkuat ikatan keluarga." Berdasarkan hasil wawancara tersebut , Budi seorang wiraswasta berusia 35 tahun, merasakan dampak positif teknologi digital dalam memperkuat komunikasi dengan keluarganya. Dengan menggunakan pesan teks dan media sosial, seperti WhatsApp, mereka dapat dengan mudah bertukar kabar dan berbagi momen sehari-hari tanpa terhalang oleh jarak fisik. Ini memungkinkan mereka untuk lebih efisien dalam berkoordinasi, baik untuk jadwal maupun perencanaan acara. Namun, Budi juga mencatat bahwa menggunakan teknologi ini sedikit mengurangi interaksi langsung antara anggota keluarganya. Meskipun mereka lebih cenderung berkomunikasi melalui pesan teks atau panggilan video, ia merasa bahwa teknologi digital telah membawa mereka lebih dekat dengan memfasilitasi kelompok keluarga di platform media sosial. Mereka dapat berbagi cerita dan mendukung satu sama lain, menjaga rasa keterhubungan meskipun tidak selalu bertemu langsung. Namun, Budi dan keluarganya sadar akan pentingnya waktu berkualitas bersama tanpa gangguan teknologi. Mereka secara aktif memprioritaskan momen seperti makan malam bersama di mana semua perangkat elektronik dimatikan, memungkinkan mereka untuk fokus berinteraksi secara langsung dan memperkuat ikatan keluarga. Dengan demikian, Budi mengakui manfaat teknologi digital dalam mempererat hubungan keluarga, sambil tetap menjaga keseimbangan dengan interaksi langsung yang bernilai. 2. Siti (28 tahun, Ibu Rumah Tangga) "Kami menggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial untuk berkomunikasi. Sekarang, dengan teknologi digital, kami dapat berinteraksi secara intens dan berbagi momen sehari-hari dengan cepat. Saya merasa teknologi digital telah memperkuat hubungan kami. Meskipun kadang-kadang kami tidak bisa bertemu langsung, tetapi dengan berkomunikasi secara rutin melalui media sosial atau panggilan video, kami tetap merasa dekat satu sama lain. Kadang-kadang, masalah teknis seperti koneksi internet yang lambat atau masalah dengan aplikasi komunikasi bisa menjadi tantangan. Kami mencoba untuk tetap mengatur waktu untuk berkumpul secara langsung tanpa gangguan teknologi. Misalnya, kami memiliki waktu khusus di malam hari untuk berbicara atau bermain bersama tanpa membawa perangkat elektronik. Itu adalah cara kami menjaga kualitas interaksi kami." Berdasarkan hasil wawancara tersebut, Siti seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun, merasakan bahwa teknologi digital telah memperkuat hubungannya dengan keluarganya. Dengan menggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial, mereka dapat berinteraksi secara intens dan berbagi momen seharihari dengan cepat. Meskipun terkadang mereka tidak dapat bertemu langsung, tetapi berkomunikasi secara rutin melalui media sosial atau panggilan video membuat mereka tetap merasa dekat satu sama lain. Namun, Siti juga mengakui bahwa ada tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat atau masalah dengan aplikasi komunikasi yang bisa terjadi. Untuk mengatasi hal ini, mereka berusaha untuk tetap mengatur waktu untuk berkumpul secara langsung tanpa gangguan teknologi. Sebagai contoh, mereka memiliki waktu khusus di malam hari untuk berbicara atau bermain bersama tanpa membawa perangkat elektronik. Dengan cara ini, mereka menjaga kualitas interaksi mereka dan memastikan bahwa teknologi digital tidak menghalangi hubungan emosional yang kuat di antara mereka. 3. Ani (40 tahun, Pegawai Kantor) "Kami menggunakan pesan teks dan panggilan video untuk berkomunikasi sehari-hari. Secara umum, saya pikir iya. Teknologi memungkinkan kami untuk berkomunikasi dengan lebih mudah, terutama dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara. Ya, terkadang kita mengalami kesulitan dengan koneksi internet yang lambat atau gangguan teknis lainnya. Tantangan utama yang kami hadapi adalah masalah teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Kami berusaha untuk menetapkan waktu khusus di mana kami tidak menggunakan gadget dan benar-benar fokus pada interaksi langsung. Misalnya, kami memiliki waktu bersama setiap malam di mana kami bermain game atau berbicara tanpa gangguan teknologi." Berdasarkan hasil wawancara tersebut, Ani seorang pegawai kantor berusia 40 tahun, mengakui bahwa teknologi, terutama pesan teks dan panggilan video, telah mempermudah komunikasi sehari-hari bagi keluarganya. Dia menilai bahwa teknologi memungkinkan mereka untuk tetap terhubung dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara. Meskipun demikian, Ani juga menyadari bahwa terdapat tantangan teknis yang terkadang mengganggu, seperti koneksi internet yang lambat atau gangguan teknis lainnya. Tantangan utama yang mereka hadapi adalah masalah teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Namun, mereka berusaha mengatasi hal ini dengan menetapkan waktu khusus di mana mereka tidak menggunakan gadget dan benarbenar fokus pada interaksi langsung. Sebagai contoh, mereka memiliki waktu bersama setiap malam di mana mereka bermain game atau berbicara tanpa gangguan teknologi. Dengan demikian, Ani mencoba untuk menjaga keseimbangan antara menggunakan teknologi untuk memperkuat komunikasi keluarga dan menetapkan waktu khusus untuk interaksi langsung tanpa gangguan teknologi. 4. Andi (17 tahun, Pelajar) "Kami menggunakan pesan teks, panggilan video, dan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp untuk berkomunikasi. Ya, menurut saya teknologi digital telah mengubah cara kami berinteraksi. Tentu saja. Dengan teknologi digital, kami bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara dengan mudah. Ya, kadang-kadang kita mengalami kesulitan dengan koneksi internet yang lambat atau gangguan teknis lainnya. Kami berusaha menetapkan waktu khusus di mana kami tidak menggunakan gadget dan benar-benar fokus pada interaksi langsung. Misalnya, kami memiliki waktu keluarga di mana kami bermain game atau melakukan kegiatan bersama tanpa gangguan teknologi. Berdasarkan hasil wawancara tersebut Andi, seorang pelajar berusia 17 tahun, mengamati perubahan dalam cara berinteraksi keluarganya sejak menggunakan teknologi digital. Mereka menggunakan berbagai platform seperti pesan teks, panggilan video, dan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp untuk berkomunikasi. Andi melihat bahwa teknologi digital memungkinkan mereka untuk berhubungan dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara dengan lebih mudah. Meskipun demikian, dia juga mengakui adanya tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat atau gangguan teknis lainnya yang terkadang mereka hadapi. Untuk mengatasi potensi gangguan teknologi dan memastikan interaksi yang berkualitas, Andi dan keluarganya berusaha menetapkan waktu khusus di mana mereka tidak menggunakan gadget dan benar-benar fokus pada interaksi langsung. Sebagai contoh, mereka memiliki waktu keluarga di mana mereka bermain game atau melakukan kegiatan bersama tanpa gangguan teknologi. Dengan demikian, Andi dan keluarganya mencoba menjaga keseimbangan antara manfaat teknologi dalam mempermudah komunikasi jarak jauh dan pentingnya interaksi langsung untuk memperkuat ikatan keluarga. 5. Rini (50 tahun, Guru) "Kami menggunakan berbagai aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram untuk berkomunikasi sehari-hari. Ya, tentu saja. Sebelumnya, kami mungkin tidak begitu sering berbicara satu sama lain karena kesibukan masing-masing. Ya, saya pikir begitu. Teknologi digital memungkinkan kami untuk berbicara secara langsung dengan anggota keluarga yang tinggal jauh dan berbagi momen sehari-hari melalui foto dan video. Tantangan utama yang kami hadapi adalah masalah teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Kami berusaha untuk memiliki waktu berkualitas bersama-sama tanpa gangguan teknologi, seperti makan malam bersama atau berkumpul untuk berbicara. Selain itu, kami juga menetapkan batasan waktu untuk penggunaan gadget agar tidak mengganggu interaksi langsung kami." Dalam hasil wawancara, Rini, seorang guru berusia 50 tahun, menyampaikan bahwa keluarganya menggunakan berbagai aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram untuk berkomunikasi sehari-hari. Dia mengakui bahwa sebelum menggunakan teknologi digital, mereka mungkin tidak begitu sering berbicara satu sama lain karena kesibukan masing-masing. Namun, dengan adanya teknologi digital, mereka sekarang dapat berbicara secara langsung dengan anggota keluarga yang tinggal jauh dan berbagi momen sehari-hari melalui foto dan video. Meskipun demikian, Rini juga mengidentifikasi tantangan utama yang mereka hadapi, yaitu masalah teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Untuk mengatasi hal ini, mereka berusaha untuk memiliki waktu berkualitas bersama-sama tanpa gangguan teknologi, seperti makan malam bersama atau berkumpul untuk berbicara. Selain itu, mereka juga menetapkan batasan waktu untuk penggunaan gadget agar tidak mengganggu interaksi langsung mereka. Dari jawaban Rini, terlihat bahwa meskipun teknologi digital memudahkan komunikasi dan mempererat hubungan keluarga, dia juga menyadari pentingnya menjaga kualitas interaksi langsung dan mengatasi tantangan teknis yang mungkin muncul. Ini menunjukkan kesadaran Rini akan pentingnya keseimbangan antara penggunaan teknologi dan interaksi langsung dalam membangun hubungan keluarga yang kuat dan berkualitas

Discussion

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan lima responden dari berbagai lapisan masyarakat di Kecamatan Sidoarjo, kita dapat melihat bagaimana komunikasi keluarga telah mengalami transformasi signifikan dengan menggunakan teknologi digital. Seperti yang disampaikan oleh Budi, seorang wiraswasta berusia 35 tahun, bahwa teknologi digital telah memudahkan komunikasi dengan keluarganya meskipun jarak memisahkan. "Kami dapat saling bertukar kabar dan berbagi momen sehari-hari meskipun tidak berada dalam satu tempat secara fisik," katanya. Fenomena ini sesuai dengan teori [15]), di mana perilaku komunikasi keluarga telah berubah seiring dengan menggunakan teknologi baru. Siti, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun, juga mengamini hal ini dengan menyatakan bahwa "Sekarang, dengan teknologi digital, kami dapat berinteraksi secara intens dan berbagi momen sehari-hari dengan cepat." Siti, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun, menegaskan bahwa teknologi digital telah mengubah dinamika interaksi dalam keluarganya. Dengan menggunakan teknologi tersebut, mereka dapat berinteraksi secara intens dan dengan cepat berbagi momen sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa Siti mengakui peran penting teknologi dalam mempercepat dan mempermudah proses komunikasi keluarga. Dengan bantuan pesan teks, panggilan video, dan aplikasi pesan instan, seperti yang disebutkan sebelumnya, mereka dapat dengan mudah saling bertukar kabar, berbagi foto, dan memperbarui satu sama lain tentang peristiwa sehari-hari. Dalam konteks kehidupan sehari-hari yang sibuk, teknologi digital memungkinkan Siti dan keluarganya untuk tetap terhubung tanpa harus terbatas oleh jarak fisik atau keterbatasan waktu. Hal ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam cara keluarga berinteraksi, di mana teknologi menjadi alat yang sangat berguna dalam memfasilitasi keterhubungan emosional dan informasional di antara anggota keluarga, bahkan ketika mereka terpisah secara geografis. Persepsi positif terhadap dampak teknologi digital juga tercermin dalam pengalaman Ani, seorang pegawai kantor berusia 40 tahun, yang menganggap bahwa teknologi ini memperkuat hubungan keluarga meskipun ada sedikit penurunan dalam interaksi langsung. "Teknologi memungkinkan kami untuk berkomunikasi dengan lebih mudah, terutama dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara," ujarnya. Pengalaman Ani, seorang pegawai kantor berusia 40 tahun, mencerminkan pandangan positif terhadap dampak teknologi digital terhadap hubungan keluarga. Meskipun dia mencatat bahwa ada sedikit penurunan dalam interaksi langsung, dia mengakui bahwa teknologi telah memperkuat keterhubungan keluarga mereka. Dengan menggunakan berbagai aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram, Ani dan keluarganya dapat berkomunikasi dengan lebih mudah, terutama dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara. Peran teknologi dalam memfasilitasi komunikasi yang mudah dan cepat memungkinkan keluarga Ani untuk tetap terhubung tanpa terhalang oleh jarak geografis. Mereka dapat dengan mudah bertukar kabar, berbagi momen sehari-hari, dan merencanakan kegiatan bersama tanpa harus bertatap muka secara langsung. Hal ini memberikan fleksibilitas dan kenyamanan bagi keluarga Ani, karena mereka dapat memperbarui satu sama lain tentang perkembangan dalam kehidupan seharihari meskipun berada di tempat yang berbeda. Ani juga menyadari bahwa ada penurunan dalam interaksi langsung di antara anggota keluarga. Ketergantungan pada teknologi digital untuk berkomunikasi dapat mengurangi frekuensi atau intensitas pertemuan fisik, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kedalaman hubungan interpersonal. Meskipun begitu, Ani tetap mengakui bahwa teknologi memiliki peran penting dalam mempertahankan keterhubungan keluarga, terutama dalam konteks kehidupan modern yang serba sibuk dan dinamis. Tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat atau gangguan dalam aplikasi komunikasi juga menjadi bagian dari pengalaman Ani. Namun, kesadaran akan tantangan ini mendorong mereka untuk mencari solusi dan menjaga kualitas komunikasi keluarga. Misalnya, mereka mungkin memilih waktu atau platform komunikasi yang lebih stabil untuk memastikan bahwa pesan mereka dapat diterima dengan baik oleh semua anggota keluarga. Untuk mengatasi sedikit penurunan interaksi langsung, Ani dan keluarganya menetapkan waktu khusus di mana mereka berkumpul tanpa gangguan teknologi. Ini bisa berupa waktu makan malam bersama atau kegiatan lain di mana mereka benar-benar fokus pada interaksi tatap muka dan memperkuat ikatan keluarga. Dengan demikian, mereka mencoba mencapai keseimbangan yang sehat antara keuntungan teknologi dalam memfasilitasi komunikasi jarak jauh dan pentingnya interaksi langsung dalam membangun hubungan keluarga yang kuat dan berarti. Motivasi utama dalam menggunakan teknologi digital juga tercermin dalam pengalaman Andi, seorang pelajar berusia 17 tahun, yang merasa terdorong untuk menggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial karena ingin menjaga ikatan keluarga. "Dengan teknologi digital, kami bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara dengan mudah," ungkapnya. Pengalaman Andi, seorang pelajar berusia 17 tahun, menggambarkan motivasi utama dalam penggunaan teknologi digital yang tercermin dalam keinginannya untuk menjaga ikatan keluarga. Andi menyadari bahwa teknologi digital bukan hanya sekadar alat untuk berkomunikasi, tetapi juga merupakan sarana yang memungkinkan keluarganya tetap terhubung meskipun jarak geografis yang memisahkan. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan dinamis, kebutuhan untuk menjaga keterhubungan dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara menjadi semakin penting, dan teknologi digital menjadi solusi yang efektif dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan menggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial, Andi dan keluarganya dapat berkomunikasi dengan mudah dan cepat. Mereka dapat dengan bebas bertukar kabar, berbagi momen sehari-hari, dan memperbarui satu sama lain tentang perkembangan dalam kehidupan mereka tanpa terkendala oleh jarak geografis yang memisahkan mereka. Hal ini memberikan rasa kenyamanan dan keterhubungan emosional yang penting dalam membangun dan mempertahankan ikatan keluarga. Motivasi utama Andi dalam menggunakan teknologi digital adalah untuk menjaga ikatan keluarga yang kuat. Dia menyadari bahwa interaksi langsung tidak selalu dimungkinkan, terutama ketika anggota keluarga terpisah oleh jarak yang jauh. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan teknologi digital, Andi dan keluarganya dapat memastikan bahwa mereka tetap terhubung secara teratur dan tidak kehilangan kontak satu sama lain. Hal ini mencerminkan kesadaran Andi akan pentingnya menjaga keterhubungan emosional dalam keluarga, bahkan jika tidak ada interaksi langsung yang terjadi. Namun demikian, Andi juga menyadari bahwa penggunaan teknologi digital tidak selalu tanpa tantangan. Tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat atau gangguan dalam aplikasi komunikasi kadang-kadang dapat menghalangi proses komunikasi. Namun, kesadaran akan tantangan ini mendorong mereka untuk mencari solusi alternatif dan memastikan bahwa komunikasi keluarga tetap lancar. Selain itu, Andi juga mengakui pentingnya menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi digital dan interaksi langsung. Meskipun teknologi digital memungkinkan mereka untuk tetap terhubung secara virtual, Andi dan keluarganya juga sadar akan pentingnya interaksi langsung dalam membangun hubungan yang kuat dan bermakna. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk memiliki waktu berkualitas bersama-sama di mana mereka dapat berkumpul tanpa gangguan teknologi, seperti makan malam bersama atau kegiatan keluarga lainnya. Tergambar bahwa motivasi utama dalam penggunaan teknologi digital adalah untuk menjaga ikatan keluarga yang kuat. Dengan memanfaatkan teknologi digital secara bijaksana, Andi dan keluarganya dapat terus memperkuat keterhubungan emosional mereka, memastikan bahwa mereka tetap dekat meskipun terpisah oleh jarak geografis. Ini menunjukkan bahwa teknologi digital bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan sarana yang memungkinkan keluarga untuk tetap bersatu dan saling mendukung satu sama lain dalam setiap aspek kehidupan mereka. Dengan demikian, hasil wawancara ini tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku, persepsi, dan motivasi dalam komunikasi keluarga, tetapi juga menggambarkan bagaimana teori [15] membantu dalam memahami fenomena ini dengan memberikan kerangka kerja yang relevan.

Conclusion

Berdasarkan hasil wawancara dengan lima responden dari berbagai lapisan masyarakat di Kecamatan Sidoarjo, dapat disimpulkan bahwa komunikasi keluarga dalam era digital telah mengalami perubahan yang signifikan. menggunakan teknologi digital, seperti pesan teks, panggilan video, dan media sosial, telah memudahkan anggota keluarga untuk tetap terhubung dan berbagi momen sehari-hari meskipun terpisah oleh jarak. Meskipun terjadi penurunan dalam interaksi langsung, teknologi digital mampu memperkuat hubungan keluarga dengan memungkinkan komunikasi yang lebih intens dan kontinu. Terlihat juga bahwa motivasi utama dalam menggunakan teknologi digital adalah untuk menjaga ikatan keluarga dan memperkuat rasa keterhubungan. Hal ini sesuai dengan teori (Moleong, 2009), yang menunjukkan bahwa perubahan dalam perilaku, persepsi, dan motivasi dalam komunikasi keluarga dapat diamati seiring dengan perkembangan teknologi.