KEGIATAN PENGATALOGAN DI PERPUSTAKAAN KELUARGA EFENDI
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Di era informasi yang berkembang pesat dan semakin maju seperti sekarang ini, kebutuhan masyarakat akan informasi semakin pesat. Perpustakaan keluarga berperan penting dalam memenuhi kebutuhan informasi, khususnya kebutuhan informasi anggota perpustakaan. Meskipun ruang lingkup perpustakaan keluarga sempit karena anggota perpustakaan hanya terdiri dari anggota keluarga dan/atau kerabat keluarga, akan tetapi dengan adanya perpustakaan keluarga, anggota perpustakaan keluarga dapat memenuhi kebutuhan informasinya sendiri. Menelaah cara mengolah bahan pustaka di perpustakaan keluarga yaitu Perpustakaan Keluarga Efendi untuk memudahkan pengguna Perpustakaan Keluarga Efendi. Penelitian ini menggunakan metode penilitian deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah sistem katalogisasi di Perpustakaan Keluarga Efendi. Penelitian Ini dilakukan dari tanggal 15 November sampai dengan 6 Desember 2021 di Perpustakaan Keluarga Efendi. Daftas Pustaka mengenai kebutuhan informasi pengguna yang semakin meningkat jumlah dan berbagai karakteristik pengguna, daftar pustaka digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas temu kembali informasi secara cepat dan akurat. Senayan Library Management system(SLiMS) adalah Open Source Software (OSS) berbasis web untuk memenuhi kebutuhan otomatisasi perpustakaan dari skala kecil hingga besar. Pemanfaatan aplikasi Senayan Library Management system (SLiMS) pada Perpustakaan Keluarga Efendi belum dikatakan optimal karena belum memanfaatkan fitur-fitur yang terdapat pada aplikasi Senayan Library Management system(SLiMS).
Abstract
In the information era that is growing rapidly and increasingly advanced as it is today, the public'sneed for information is growing rapidly. Family libraries play an important role in meeting informationneeds, especially the information needs of library members. Although the scope of the family libraryisnarrow because library members only consist of family members and/or family relatives, but withtheexistence of a family library, family library members can find their own information needs. Examinehow to process library materials in the family library, namely the Efendi Family Library to facilitateusers of the Efendi Family Library. This study uses a qualitative descriptive research method. Theobject of this research is the cataloging system in the Efendi Family Library. This researchwasconducted from November 15 to December 6, 2021 at the Efendi Family Library. Bibliographyregarding the increasing number of user information needs and various user characteristics, thebibliography is used as an effort to improve the quality of information retrieval quickly and accurately. Senayan Library Management system (SLiMS) is a web-based Open Source Software (OSS) tomeet the needs of library automation from small to large scale. The utilization of the Senayan LibraryManagement system (SLiMS) application at the Efendi Family Library has not been said to be optimal because it has not utilized the features contained in the Senayan Library Management system(SLiMS) application
Keywords:
Katalogisasi
· Perpustakaan keluarga
· SLiMS
Introduction
Pada era informasi yang berkembang pesat dan semakin maju seperti saat ini membuat kebutuhan masyarakat akan informasi menjadi semakin meningkat pesat. Hal ini ditandai dengan adanya masyarakat informasi, menurut William J. Martin pada tahun 1995 yang dikutip oleh Nuning Kurniasih (2021), masyarakat informasi adalah masyarakat yang ditandai dengan pertumbuhan dan penggunaan informasi yang cepat, eksploitasi berbagai sumber informasi yang demikian luas; di mana mereka tahu dan bagaimana masyarakat menghargai informasi yang mereka butuhkan, di mana mereka mendapatkan informasi tersebut, bagaimana mendapatkan informasi tersebut, dan pada akhirnya bagaimana mempergunakan informasi tersebut. Lembaga-lembaga informasi sebagai pusat informasi perlu meningkatkan eksistensinya agar kebutuhan informasi masyarakat tetap terpenuhi. Salah satu lembaga informasi yang berperan penting sebagai pusat informasi adalah perpustakaan yang diharapkan mampu membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan informasi. Demi terpenuhinya kebutuhan informasi, maka sudah seharusnya perpustakaan keluarga terdapat di setiap rumah atau keluarga, setidaknya setiap keluarga memiliki perpustakaan mini. Perpustakaan keluarga berperan penting dalam memenuhi kebutuhan informasi terutama kebutuhan informasi anggota perpustakaannya. Walaupun ruang lingkup perpustakaan keluarga sempit karena anggota perpustakaannya hanya terdiri dari anggota keluarga dan/atau kerabat keluarga, namun dengan adanya perpustakaan keluarga anggota perpustakaan keluarga dapat memenuhi kebutuhan informasi dirinya sendiri. Perpustakaan keluarga yang dikelola dengan baik serta digunakan secara maksimal oleh anggota perpustakaan keluarga akan membuat para anggota keluarganya merasa bahwa perpustakaan yang ada di rumahnya sangat membantunya dalam memenuhi kebutuhan informasi dirinya sendiri. Dengan adanya perpustakaan keluarga di setiap keluarga yang ada, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan informasi anggota perpustakaan nya sendiri dan informasi yang didapatkan merupakan informasi yang faktual. Fenomena meledaknya informasi dapat membuat masyarakat kesulitan dalam mencari informasi faktual yang sesuai dengankebutuhan atau keinginannya. Terbuktinya Banyaknya masyarakat yang masuk ke jurang informasi yang salah dan keliru. Perpustakaan Keluarga dapat menangkap informasi-informasi yang salah atau keliru tersebut, karena anggota perpustakaan keluarga secara tidak langsung telah menerapkan kegiatan literasi informasi, sehingga anggota perpustakaan keluarga dapat memilah informasi yang beredar luas. Seperti kata pepatah bahwa buku adalah jendela dunia dan kunci untuk membuka jendela dunia itu adalah dengan membaca. Salah satu upaya untuk memperluas wawasan dan memperkaya ilmu pengetahuan yakni dengan membaca, baik membaca buku, koran, majalah, jurnal, skripsi, tesis, dan sebagainya. Biasanya kehidupan masa kecil orang yang terpelajar telah dikenalkan dengan buku, sehingga orang terpelajar sudah terbiasa membaca setiap harinya. Kebiasaan ini yakni membaca buku perlu diterapkan oleh keluarga lain agar anggota keluarganya ikut terpelajar. Untuk menumbuhkan kebiasaan ini perlu adanya perpustakaan keluarga di setiap keluarga yang ada. Perpustakaan keluarga ini berperan sebagai tokoh utama agar para anggota keluarga ingin membaca. Namun, nyatanya perpustakaan keluarga ini belum diterapkan oleh seluruh keluarga yang ada di Indonesia. Ada beberapa faktor sebuah keluarga tidak memiliki perpustakaan di dalam keluarganya yakni belum timbulnya sebuah kesadaran bahwa membaca itu penting, minat baca anggota keluarga yang rendah, ataupun biaya beli koleksi bahan pustaka yang terbatas. Perpustakaan keluarga merupakan perpustakaan pribadi di mana seluruh koleksi yang berada di dalamnya ditanggung oleh pribadi/keluarga/pemilik perpustakaan keluarga tersebut, sehingga tidak ada lembaga yang membantu dalam membiayai pengelolaan perpustakaan tersebut. Halangan-halangan tersebut bukan berarti perpustakaan keluarga merupakan sebuah fasilitas yang membuang waktu ataupun biaya, namun perpustakaan keluarga memberikan sebuah nilai yang tidak dapat disamakan dengan uang. Dengan adanya perpustakaan keluarga anggota perpustakaan keluarga akan merasakan manfaat yang luar biasa yang akan membantu kehidupannya melalui pengetahuan yang didapatkannya melalui perpustakaan keluarga. Seluruh pengetahuan itu berarti jika diterapkan, misalnya anggota perpustakaan keluarga yang tertarik dengan bercocok tanam dan perpustakaan keluarga yang dimilikinya memiliki koleksi berbagai buku mengenai cocok tanam, awalannya bercocok tanam sebagai hobi dapat menjadi sebuah peluang bisnis. Akan tetapi jika ada perpustakaan keluarga yang tidak dikelola dengan baik, nilai manfaat dari perpustakaan keluarga tersebut akan berkurang. Salah satu pengelolaan perpustakaan keluarga adalah bahan pustaka. Katalogisasi bahan pustaka akan memudahkan anggota keluarganya dalam mencari informasi atau temu balik informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Katalogisasi bahan pustaka ini termasuk penambahan koleksi bahan pustaka, pencatatan koleksi bahan pustaka, serta pengelompokan bahan pustaka yang sesuai dengan kemiripannya atau kesamaannya antara bahan pustaka yang satu dengan pustaka lainnya. Hal ini dilakukan agar anggota perpustakaan keluarga mudah dalam mencari informasi, koleksi perpustakaan keluarga tercatat dengan baik, serta mengurangi presentasi hilangnya koleksi bahan pustaka perpustakaan keluarga tersebut. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa ruang lingkup perpustakaan terbilang sempit karena hanya beranggotakan anggota keluarga, namun jika koleksi sebuah perpustakaan keluarga banyak, maka perlu membuat sebuah katalog yang kemudian dikelompokkan sesuai dengan kemiripannya atau diklasifikasi dengan bahan pustaka lainnya. Misalnya, koleksi perpustakaan keluarga yang lebih dari 100 judul/eksemplar hanya tersusun secara acak dan tanpa katalog, anggota perpustakaan keluarga akan kesulitan atau kebingungan dalam mencari dan temu kembali informasi. Bahkan, walaupun perpustakaan keluarga memiliki sedikit koleksi juga perlu pengatalogan bahan pustaka agar tercatat dengan baik. Katalogisasi bahan pustaka ini biasa disebut sebagai pengatalogan. Pengatalogan ini memuat informasi fisik dan isi dari sebuah bahan pustaka, seperti judul, penulis, edisi/cetakan, penerbit, tahun terbit, subjek, call number atau nomor panggilan, nomor klasifikasi, jumlah halaman atau tebal buku, lebar dan panjang buku, dan informasi penting lainnya yang termuat di dalam bahan pustaka tersebut. Oleh karena itu, katalog disebut sebagai sebuah representasi bahan pustaka. Dengan adanya sebuah katalog, anggota perpustakaan akan mudah dalam mencari informasi atau temu kembali sebuah bahan pustaka tanpa membaca keseluruhan buku karena dalam katalog telah terdapat inti buku secara keseluruhan. Katalog sendiri telah ada sejak dahulu dimana setiap zaman katalog ini berubah bentuknya untuk menyesuaikan zamansertauntuk efisiensi pemakaiannya. Katalog Sendiri terdiri dari berbagai bentuk antara lain, katalog berbentuk buku (book catalog), katalog berbentuk mikro (micro), katalog berbentuk kartu (card catalog), dan terbarunya yakni katalog yang terpasang di elektronik seperti komputer/laptop dan elektronik lainnya(online computer catalog). Dalam penerapannya saat ini banyak perpustakaan menggunakan katalog yang terpasang di elektronik seperti komputer/laptop dan elektronik lainnya(online computer catalog). Salah satu katalog online yakni SLIMS yang merupakan open access yang dapat digunakan dengan mudah bagi pustakawan serta mudah diakses oleh pemustaka. Katalog online seperti SLIMS sangat memudahkan pengguna dan pustakawan. Pustakawan dapat dengan mudah membuat katalog, tidak hanya itu katalog online ini sangat mudah untuk mengubah data, melakukan upgrade atau menambah data, serta menghapus data. Katalog cetak seperti buku, kartu, atau lembaran sulit untuk mengubah data, misalnya jika salah memasukkan data maka harus mencetak ulang pada lembar yang salah, sedangkan katalog online hanya perlu mengubahnya secara langsung. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana katalogisasi bahan pustaka di sebuah perpustakaan keluarga yakni perpustakaan Keluarga Efendi sebagai sebuah upaya memudahkan pengguna perpustakaan Keluarga Efendi. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Sulistyo Basuki pada tahun 1991, katalog merupakan direktori perpustakaan yang teroganisir secara sistematis yang bisa digunakan untuk menemukan dan mencari bahan pustaka. Deskriptif bibliografi umumnya disebut sebagai katalogisasi deskriptif yang merupakan tahap dari kegiatan pencatatan data dari suatu bahan kepustakaan. Menurut Siti Nurhayati dan Arfah Elly pada tahun 2016 bibliografi merupakan publikasi yang memuat dokumen baik yang “diterbitkan” dalam bentuk buku, majalah, artikel, atau bentuk bahan kepustakaan lain yang berhubungan dengan hasil penelitian/karya seseorang atau bidang ilmu pengetahuan lainnya. Melalui bibliografi orang akan mendapatkan informasi yang terdapat pada bahan pustaka untuk dijadikan suatu dasar penelitian atau bahan referensi. Daftar pustaka sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan informasi pengguna dan perbedaan karakteristik pengguna, bibliografi digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas layanan temu kembali informasi secara cepat dan tepat. Fungsi utama penyusunan daftar pustaka adalah untuk membantu pengguna dalam menemukan atau meneliti informasi tertentu atau informasi tertentu. Tidak hanya itu, fungsi lain dari direktori adalah menjadi bagian dari layanan perpustakaan kepada pengguna. Direktori tersebut diterbitkan oleh seorang pustakawan, sehingga pustakawan dapat menyediakan koleksinya kepada pengguna tanpa harus menghapus semua koleksi yang dimilikinya dan juga dapat menjangkau pengguna yang jauh dari perpustakaan Pencantuman data pada bibliografis dalam sebuah katalog harus sesuai dengan peraturan yang terdapat pada pedoman yang sudah distandarkan seperti International Standard Bibliographic Description (ISBD) serta entri katalog disusun sesuai dengan peraturan pada Anglo American Cataloguing Rules, Revised Edition (AACR-2). International Standard Bibliographic Description (ISBD) sendiri merupakan sebuah pedoman yang memuat peraturan dalam penyusunan bibliografi deskriptif yang diproduksi oleh International Federation of Library Associations and Institutions yang sering disebut dengan IFLA, IFLA dalam bahasa Indonesia yakni Federasi Asosiasi dan Lembaga Perpustakaan Internasional. Menurut K. G. Saur pada tahun 2007 menjelaskan bahwa International Standard Bibliographic Description (ISBD) dimaksudkan untuk melayani sebagai standar utama untuk mempromosikan kontrol bibliografi universal, untuk ketersediaan yang cepat dan universal, dalam bentuk yang dapat diterima secara internasional, data bibliografi yang mendasari untuk semua sumber daya yang diterbitkan di semua negara. Sejak awal dan tujuan utama dari ISBD adalah menawarkan konsistensi saat berbagi informasi bibliografi. ISBD juga memudahkan pemustaka dalam membaca deskriptif bibliografi yang terdapat pada katalog perpustakaan. Di dalam International Standard Bibliographic Description (ISBD) terdapat delapan daerah bibliografis diantaranya : 1. Daerah Judul dan keterangan tanggungjawab Bagian judul dan ruang lingkup keterangan tanggung jawab memuat judul sebenarnya dari bahan pustaka tersebut, judul lain(termasuk judul setara atau paralel, serta sub judul atau anak judul) dan pernyataan tanggung jawab. Judul asli disajikan berdasarkan dengan susunan kata, tata letak, dan ejaan yang digunakan dalam sumber informasi utama, dan penggunaan huruf kapital dan tanda baca sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Deklarasi tipe dokumen generik adalah tambahan opsional yang bertujuan untuk mengumumkan tipe dokumen di perpustakaan sesegera mungkin. Deskripsi ini sering diperlukan untuk bahan perpustakaan yang belum dicetak atau bukan buku. Judul paralel adalah judul resmi yang diterjemahkan kedalam bahasa lain yang tercantum dalam urutan kemunculannya di sumber utama. Judul lain yang termasuk dalam bahan pustaka yang relevan tetapi tidak tercantum pada halaman judul ditunjukkan dalam catatan. Akhirnya, pernyataan tanggungjawab, pernyataan tanggung jawab yang tidak terbatas pada penulis, tetapi termasuk editor, penerjemah, editor, penerjemah, dan lain-lain yang tercantum di halaman ini judul. 2. Daerah edisi Bagian suntingan berisi suntingan dan pernyataan penulis khusus untuk publikasi ini. Edisi ini dapat dilihat di bagian halaman utama. 3. Daerah keterangan data khusus Bagian ini tidak dipakai jika bentuknya berupa monograf/buku tercetak, melainkan dipakai pada penomoran yang terdapat pada terbitan berseri dan bahan nonbook seperti penomoran majalah, koran dan sebagainya. 4. Daerah penerbitan Daerah penerbitan ini meliputi tempat terbit, nama penerbit, dan tahun terbit dalam bahan pustaka tersebut. 5. Daerah deskripsi fisik Daerah deskripsi fisik terdiri dari jumlah satuan fisik atau jumlah jilid/halaman, pernyataan atau keterangan ilustrasi, ukuran bahan pustaka, bahan sertaan, dan lampiran. 6. Daerah seri Kolom sei memuat unsur judul seri, keterangan seri lainnya, International Standard Serial Number (ISSN), dan nomor seri. 7. Daerah catatan Daerah catatan meliputi hal-hal yang penting tetapi dinyatakan dalam daerah deskripsi sebelumnya. Pencatatannya dimulai pada paragraf baru dalam deskripsi bibliografi. Pengatalog bebas dalam menentukan mengenai apa yang dimasukkan dalam daerah catatan dan biasanya berupa data yang dianggap penting. 8. Daerah nomor standard dan keterangan pengadaan Daerah nomor standar dan syarat ketersediaan memuat nomor standar seperti International Standard Book Number atau biasa disebut sebagai ISBN. Berdasarkan uraian diatas suatu peraturan yang terdapat pedoman yang ditetapkan oleh International Standard Bibliographic Description (ISBD). Katalogisasi bahan pustaka pada suatu perpustakaan memuat 8 daerah bibliografis, hasil katalogisasi ini akan terdapat data, informasi dan juga pengetahuan di dalamnya karena pada hasil katalogisasi memuat informasi dan data yang terdapat pada bahan pustaka yang kemudian informasi dan data ini dapat dijadikan sebuah pengetahuan. Menurut Pawit M. Yusup pada tahun 2019 data berasal dari fakta atau kejadian. Data Dapat berupa fakta atau kejadian yang belum tersusun, terstruktur, dan memiliki arti secara umum. Pawit M. Yusup mengutip dari KamusEncarta (2009) yang menafsirkan data dengan informasi faktual (factual information), serta data yang diperoleh melalui kegiatan survei atau kegiatan eksperimen yang sering digunakan sebagai bahan analisis untuk menginformasikan penarikan. Data dipandang sebagai sebuah representasi angka dan fakta yang cenderung mudah ditangkap atau diambil kembali, terstruktur, terukur, serta mudah ditransmisikan secara tertulis, lisan, maupun elektronik. Data juga dapat berarti informasi sejumlah angka, gambar, suara, teks, grafik, dan lainnya yang diolah dengan menggunakan komputer. Sementara itu, menurut Pawit M. Yusup(2019), informasi berarti data yang bisa memberikan makna dengan mengurangi ketidakpastian, ambiguitas, dan kesulitan interpretasi. Dalam konteks perundang- undangan, seperti yang dinyatakan dalam Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, informasi diartikan sebagai “keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik”. Selanjutnya, pengetahuan adalah sesuatu yang berasal dari aksi yang menimbulkan potensi bagi orang lain untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk berupa produk-produk kompleks belajar, seperti interpretasi informasi, kepercayaan mengenai hubungan kausalitas, pengetahuan teknis, keahlian, pengalaman, ide kreatif spontan, kedalaman wawasan, keunikan pengalaman, keahlian interpersonal, dan lain-lain. Pengetahuan berkaitan dengan potensi manusia untuk menyerap, menyimpan, dan mengeluarkan kembali apapun yang pernah di indranya di saat terjaga. Pengetahuan dapat bersifat sangat personal, namun juga bisa diformalkan, misalnya pengetahuan yang sudah didokumentasikan dan kemudian dipelajari. Perpustakaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan koleksi buku tersebut; koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan. Sedangkan menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Pengertian lain dari perpustakaan adalah suatu organisasi atau unit kerja dalam suatu organisasi yang kegiatannya mengumpulkan, mengolah dan memelihara informasi, serta melayani mereka yang membutuhkannya. Di mana setiap pengetahuan direpresentasikan dengan konsep data dan informasi.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Creswell pada tahun 2008 metode penelitian kualitatif merupakan suatu penelusuran atau pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral. Gejala sentral ini dapat dimengerti dengan cara peneliti mewawancarai peserta penelitian atau partisipan dengan mengajukan pertanyaan yang ruang lingkupnya luas dan umum. Informasi yang telah didapatkan melalui wawancara tersebut dikumpulkan dan biasanya dijadikan berupa kata atau teks. Teks ini dijadikan sebagai data, kemudian data-data ini dianalisis. Hasil analisis itu dapat berupa deskripsi atau penggambaran atau dapat pula dalam bentuk tema-tema. Menurut Kirk dan Miller yang dikutip oleh Moleong pada tahun 1993, Penelitian kualitatif adalah tradisi khas dalam ilmu-ilmu sosial, yang pada dasarnya bergantung pada pengamatan manusia di bidangnya sendiri dan melibatkan orang-orang ini dalam diskusi dan terminologi mereka. Penggunaan metode penelitian kualitatif deskriptif dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena yang diteliti, khususnya fenomena yang terjadi di Perpustakaan Keluarga Efendi. Dalam penelitian ini terdapat subjek dan subjek penelitian, di mana menurut Husein Umar (2013) objek penelitian menjelaskan apa dan siapa yang menjadi objek penelitian. Lokasi dan waktu pencarian, serta faktor lain yang dianggap perlu. Sedangkan menurut Suprianti (2015), objek penelitian adalah variabel yang diteliti oleh peneliti di lokasi penelitian. Oleh karena itu, objek penelitian yang ditentukan dalam penelitian ini yakni sistem yang digunakan dalam mengolah bahan pustaka di Perpustakaan Keluarga Efendi. Waktu penelitian ini dilakukan di mulai dari tanggal 15 November hingga 6 Desember 2021 di Perpustakaan Keluarga Efendi. Menurut Anwika pada tahun 2013 subjek penelitian merupakan kelompok atau individu yang dimintai keterangan oleh peneliti mengenai sebuah fakta maupun opini. Dalam Subjek penelitian ini responden memberikan pernyataan yang berkaitan dengan topik penelitian. Subjek penelitian ini adalah anggota keluarga Efendi yang berkedudukan dan merangkap sebagai anggota perpustakaan dan juga pengelola Perpustakaan Keluarga Efendi. Hal yang dibahas adalah sistem yang digunakan oleh Perpustakaan Keluarga Efendi dalam mengolah bahan pustaka di Perpustakaan Keluarga Efendi dalam upaya untuk memudahkan akses kepada pengguna. Teknik pengumpulan data merupakan langkah penting dalam sebuah penelitian untuk memperoleh data-data. Teknik Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini salah satunya adalah studi literatur. Menurut Danial dan Warsiah Yang Dikutip oleh Muhammad (2013) studi literatur merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian yang dilakukan dengan cara menghimpun beberapa sumber informasi yang berkaitan dengan topik penelitian, studi literatur ini dilakukan dengan cara mendapatkan sumber literatur seperti jurnal yang terkait dengan masalah yang diambil dari topik penelitian. Selain itu, datanya dikumpulkan melalui observasi menurut Muhammad (2013), observasi merupakan peninjauan yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok dalamrangka untuk mendapatkan informasi atau data yang nantinya akan diolah untuk suatu kebutuhan penelitian. Teknik pengumpulan data melalui observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah pandangan melalui peninjauan secara langsung terhadap objek penelitian. Langkah terakhir adalah menganalisis data. Teknik menganalisis data berfungsi untuk menyimpulkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Teknik analisis data yang dilakukan oleh peneliti yakni peneliti menganalisis dan mengolah data yang telah dikumpulkan dengan metode yang telah digunakan, setelah itu penulis melakukan penyusunan laporan dari hasil-hasil penelitian.
Result & Discussion
Hal terpenting bagi keluarga dalam meluaskan wawasan para anggotanya adalah dengan memberikan sarana yang dapat mendukung meluasnya pengetahuan anggota keluarganya. Perpustakaan keluarga dapat didesain sesuai dengan kondisi kebutuhan keluarga. Bermacam bentuk atau desain dari perpustakaan keluarga ini karena menyesuaikan kebutuhan dan keinginan pendirinya (keluarga), terdapat perpustakaan keluarga dengan fasilitas lengkap contoh terdapat sebuah rumah yang memiliki ruangan khusus perpustakaan yang di dalamnya memuat rak-rak buku, meja belajar, kursi belajar, koleksi yang beragam, dan adapun perpustakaan keluarga yang menyediakan rakrak buku sederhana dengan koleksi yang kurang dari 50 judul. Apapun bentuk perpustakaan keluarga yang terpenting adalah perpustakaan keluarga memuat koleksi yang sesuai dengan kebutuhan dan minat anggota keluarga serta pencahayaan yang cukup agar anggota keluarga nyaman saat membaca buku. Ada banyak manfaat dari kehadiran perpustakaan keluarga di setiap rumah-rumah, yakni keluarga dapat menjadi sebuah tempat keluarga untuk saling mendekatkan diri, menjadi alternatif untuk menghabiskan waktu bersama-sama dan waktu digunakan secara bermanfaat, mengenalkan pada anggota keluarga mengenai bahan bacaan yang mengandung ilmu pengetahuan maupun rekreasi, mengajarkan anggota keluarga untuk menghargai bahan bacaan, dapat menggugah minat baca anggota keluarga dan menciptakan kehangatan keluarga. Jumlah koleksi bukanlah hal yang paling penting dalam perpustakaan keluarga, hal penting dalam perpustakaan keluarga adalah keragaman koleksi. Daripada fokus terhadap banyaknya buku, lebih baik fokus pada minat baca dan minat individu setiap anggota keluarga. Intinya, koleksi pada perpustakaan keluarga harus sesuai dengan kebutuhan dan minat anggota keluarga. Salah satu contoh dari perpustakaan keluarga adalah Perpustakaan Keluarga Efendi. Perpustakaan Keluarga Efendi berada di Jalan Gunung Belah Gang Beringin 2RT35Nomor 84, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Perpustakaan Keluarga Efendi dikelola oleh seluruh anggota keluarga, sehingga seluruh anggota keluarga merangkap menjadi pengelola perpustakaan yang memiliki bertanggung jawab terhadap keseluruhan fasilitas perpustakaan keluarga. Perpustakaan Keluarga Effendi terdiri dari 6 anggota keluarga dan anggota perpustakaan Keluarga Efendi yang terdiri dari ayah, ibu, dan 4 anak yang tinggal tetap di rumah Keluarga Efendi. Perpustakaan keluarga memiliki jumlah koleksi kurang lebih 109 judul. Koleksi perpustakaan Keluarga Efendi terdiri dari buku baik buku fiksi dan buku nonfiksi, komik, majalah, buku pelajaran, skripsi dan tesis. Seluruh koleksi yang terdapat padaPerpustakaan Keluarga Efendi belum tercatat, namun tersusun dengan rapi dan sesuai dengan kelompoknya dalam artian koleksi Perpustakaan Keluarga Effendy telah dikelompokkan kemiripan atau kesamaan objek yang dibahas oleh buku. Menurut Sulistyo Basuki pada tahun 1991, pengatalogan adalah daftar pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk mencari dan menemukan lokasi bahan pustaka. Menurut Siti Nurhayati dan RafhEly pada tahun 2016 bibliografi merupakan publikasi yang memuat dokumen baik yang“diterbitkan” dalam bentuk buku, majalah, artikel, atau bentuk bahan kepustakaan lain yang berhubungan dengan hasil penelitian/karya seseorang atau bidang ilmu pengetahuan lainnya. Masih pada rujukan yang sama yakni menurut Siti Nurhayati dan Arfah Elly pada tahun 2016 sarana bibliografi merupakan sebuah sarana atau alat yang digunakan untuk menemukan bibliografi. Bibliografi merupakan semua daftar terbitan, baik yang tercetak atau yang terekam. Secara konseptual seluruh karya tulis dibuat untuk dibaca oleh orang lain, untuk mempermudah karya tersebut dibaca oleh orang lain, maka perlu dibuat bibliografinya agar orang lain dapat membaca informasi yang dimuat di dalamnya. Tidak hanya itu, dengan adanya bibliografi pemustaka dengan mudah menemukan bahan pustaka yang memuat informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka tersebut. Sehingga, setiap perpustakaan harus mengelola koleksinya agar tercatat dan mudah ditemukan oleh pemustaka tak terkecuali perpustakaan keluarga sekalipun. Kegiatan pengatalogan ini dapat dilakukan oleh pengelola perpustakaan atau pustakawan, katalog ini sangat penting dalam menemukan kembali informasi suatu informasi yang terdapat pada bahan pustaka seperti judul bahan pustaka, nama penerbit bahan pustaka, tahun dan tempat pustaka diterbitkan, jumlah halaman, ilustrasi buku, penanggung jawab bahan pustaka, subjek bahan pustaka, call number atau nomor panggilan, catatan yang dianggap penting, dan informasi lainnya yang terdapat pada bahan pustaka. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dengan pesat. Dengan hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan dalam memperoleh dan menemukan informasi. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi telah menyebar luas bahkan hampir di seluruh bidang tak terkecuali perpustakaan harus menerapkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengikuti perkembangan jaman dan juga tuntutan dari zaman itu sendiri. Seiring dengan fungsi yang dimiliki perpustakaan yang diantaranya sebagai sarana pendidikan dan sebagai pusat informasi, perpustakaan harus didukung oleh seuatu sistem yang bisa mempermudah dalam pencarian informasi yang diperlukan. Untuk memenuhi kebutuhan pemustaka, perpustakaan harus mampu memberikan pelayanan secara akurat dan efisien dengan menggunakan seuatu sistem. Sistem Ini merupakan sistem yang berbentuk digital yang dapat mempermudah pustakawan dalam kegiatan katalogisasi bahan pustaka atau pengatalogan yang memudahkan para pengguna dalam mencari koleksi bahan pustaka yang pengguna butuhkan (Enal, 2018). Dikarenakan seluruh koleksi Perpustakaan Keluarga Efendi belum tercatat, peneliti mengolah bahan pustaka dalam kegiatan pengatalogan menggunakan sistem berbentuk digital yakni melalui aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS). Menurut Rasyid Ridho yang dikutip oleh Yuli Astuti dan Nur Asmi pada tahun 2013, Senayan Library Management System(SLiMS) merupakan sebuah software pada sistem manajemen perpustakaan dengan sumber terbuka yang berbasis web yang multi platform dan gratis digunakan oleh siapapun. SliMS dilisensikan dibawah GPLv3. Aplikasi SLiMS pertama kali dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional, Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Nasional. Aplikasi SliMS dibangun dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL dengan kontrol versi Git. Dalam buku panduan Senayan Developer Community (SDC) pada tahun 2017 yang dikutip oleh Fitriyana dkk (2021) yang dimaksud dengan Senayan Library Management System (SLiMS) adalah Open Source Software (OSS) berbasis web untuk memenuhi kebutuhan otomasi perpustakaan(library automation) skala kecil hingga skalabesar. Tahun 2009, SLiMS mendapat penghargaan tingkat pertama dalam ajang INAICTA (Indonesia Information Communication and Technology Award) pada tahun 2009 untuk kategori open source. Dengan adanya aplikasi Senayan Library Management System(SliMS) pustakawan dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada pemustaka dan mempermudah pustakawan dalam mengolah bahan pustaka karena SliMS memiliki fitur yang beragamdiantaranya sebagai berikut: 1. Online Public Access Catalog (OPAC) Online Acces Catalog yang biasa disebut OPAC merupakan halaman utama atau fasilitas bagi para pemustaka yang ada di dalam aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS) yang dimana saat para pemustaka mengakses ke dalam aplikasi SLiMS halaman yang pertama kali muncul adalah OPAC. Fitur OPAC menjadi alternatif bagi pemustaka dalam menemukan bahan pustaka yang terdapat pada perpustakaan. Fitur OPAC adalah sebuah tempat yang menyediakan temu kembalinya bahan pustaka. 2. Bibliografi Bibliografi merupakan fitur yang terdapat pada aplikasi SliMS yang digunakan untuk melakukan penginputan koleksi yang ada di perpustakaan, fitur atau menu ini juga dapat mencetak barcode, nomor panggil serta kartu katalog. Fitur bibliografi memuat sub- sub fitur yang dapat diisi ataupun tidak diisi menyesuaikan kebutuhan perpustakaan yang dinaungi. Bibliografi yang tersimpan dan memuat berbagai koleksi di perpustakaan tersebut dapat ditemukan oleh pemustaka melalui OPAC. Dalam fitur bibliografi memuat judul bahan pustaka, pengarang bahan pustaka, nama penerbit, tempat dan tahun bahan pustaka diterbitkan, call number atau nomor panggilan, penanggung jawab bahan pustaka, catatan yang dianggap penting, dan informasi lainnya yang terdapat pada bahan pustaka. 3. Sirkulasi Fitur sirkulasi pada aplikasi SliMS merupakan salah satu fitur yang dianggap memiliki pengaruh yang besar pada perpustakaan terkhusus memudahkan pustakawan dan pemustaka, hal ini dikarenakan fitur sirkulasi dapat mempercepat pemustaka dalam melakukan peminjaman, pengembalian buku, dan juga perpanjangan buku. 4. Keanggotaan Fitur keanggotaan dimanfaatkan untuk mengatur jenis keanggotaan, seperti siswa/mahasiswa, dosen/guru dan karyawan/staf. Setiap jenis keanggotaan ini memiliki hak-hak yang berbeda dalam meminjam bahan pustaka yang terdapat pada perpustakaan. Contohnya, siswa atau mahasiswa hanya dapat meminjam bahan pustaka dalam jangka waktu 7 hari sementara guru/dosen dapat meminjam bahan pustaka dalam jangka waktu satu bulan. Berbeda dengan Perpustakaan Keluarga di mana kerabat keluarga dapat meminjam buku selama dua bulan, sedangkan teman anggota keluarga hanya dapat meminjam buku selama empat belas hari atau dua minggu. 5. Inventarisasi Inventarisasi yakni kegiatan mendata bahan pustaka yang terdapat pada perpustakaan. Pada fitur inventarisasi dapat melakukan stock opname. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membandingkan jumlah koleksi berdasarkan yang sudah terdata dengan koleksi yang ada pada rak. 6. Kendali terbitan berseri Fitur kendali terbitan berseri ini dimanfaatkan untuk mengatur jenis koleksi terbitan berkala atau daru perpustakaan yang berlangganan majalah, koran, dan terbitan berseri lainnya. Fitur terbitan berseri ini tidak dimanfaatkan pada Perpustakaan Keluarga Efendi dikarenakan Perpustakaan Keluarga Efendi tidak ada berlangganan jenis terbitan berkala. 7. Pelaporan Fitur pelaporan sangat membantu merekap berbagai laporan yang dibutuhkan dalam perpustakaan. Jika pada perpustakaan konvensional dimana semua hal dikerjakan secara manual, namun dengan adanya fitur pelaporan ini akan sangat memberi kemudahan dalam membuat laporan berbagai jenis laporan yang diinginkan khususnya bagi perpustakaan yangsetiapminggu atau bulan ataupun tujuannya perlu melaporkan kegiatan yang terjadi di perpustakaan tersebut. Namun, fitur ini tidak digunakan oleh Perpustakaan KeluargaEfendi dikarenakan pelaporan tidak diperlukan. Dari fitur-fitur yang terdapat pada aplikasi Senayan Library Management System(SliMS) memberikan kemudahan dan juga manfaat baik itu bagi pustakawan maupun pemustaka. Dengan fitur-fitur tersebut pustakawan dapat mudah mengelola perpustakaan yang dinaunginya dan fitur tersebut mudah untuk digunakan, praktis, dan sangat mempersingkat waktu dalam kegiatan pengelolaan koleksi yang terdapat pada perpustakaan. Pemustaka Juga dapat dengan mudah mengakses fitur fitur tersebut dan menghemat waktu pemustaka dalam mencari informasi, meminjam, mengembalikan, serta memperpanjang bahan pustaka yang dipinjam. Tidak hanya itu, karena Senayan Library Management System (SliMS) merupakan aplikasi open acces yang artinya aplikasi Senayan Library Management System (SliMS) dapat dimiliki oleh siapapun, instansi manapun secara gratis. Dalam menilai kemudahan fitur yang terdapat pada aplikasi Senayan Library Management System (SliMS), peneliti mencoba mempraktikkan ketika membuat daftar bibliografis pada bahan koleksi Perpustakaan Keluarga Efendi dengan menggunakan Senayan Library Management System (SliMS). Peneliti memilih 18 bahan koleksi secara acak pada Perpustakaan Keluarga Efendi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam fitur bibliografis memuat judul bahan pustaka, pengarang bahan pustaka, nama penerbit, tempat dan tahun bahan pustaka diterbitkan, call number atau nomor panggilan, penanggung jawab bahan pustaka, catatan yang dianggap penting, dan informasi lainnya yang terdapat pada bahan pustaka. Kedepalan belas bahan tersebut dicatat sesuai dengan fitur bibliografis yang kemudian peneliti mencoba meng-export data bibliografis yang telah dibuat sebelumnya. Cara untuk meng-export data bibliografis yang telah dibuat juga sangat mudah, hanya perlu klik di bagian fitur bibliography lalu klik bagian biblio data export, selanjutnya simbol yang awalnya tanda titik koma pada kolom pemisah ruas diubah menjadi tanda koma, setelah itu untuk klik export now setelah itu akan menghasilkan file data berbentuk Microsoft Excel yang telah di export di SLiMS. Hasil dari export data pada Senayan Library Management System (SLiMS) dapat berfungsi sebagai pencatatan dan juga berfungsi untuk mempermudah pustakawan dalam mencari data-data koleksi yang ada di perpustakaan. Penggunaan aplikasi Senayan Library Management System (SliMS) pada Perpustakaan Keluarga Efendi sangat memudahkan pengguna menemukan kembali informasi yang dibutuhkan. Akan tetapi, tidak semua bahan koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Keluarga Efendi sudah tercatat dengan baik atau dikatalogisasi secara lengkap melalui aplikasi Senayan Library Management System (SliMS). Sehingga, pengguna Perpustakaan Keluarga Efendi untuk mencari bahan koleksi langsung menuju rak buku tanpa menggunakan katalogisasi. Pencarian langsung ke rak buku sangat tidak dianjurkan. Hal ini dikarenakan informasi yang dicari terdapat berbagai bahan koleksi. Jika, pengguna langsung ke rak buku kemungkinan hanya mendapatkan 1-2 bahan koleksi. Sedangkan, informasi yang dicari bisa saja terdapat di bahan koleksi lainnya. Inilah Peran penting dari katalog. Pengguna Dapat menggunakan kata kunci dalam mencari informasi sehingga ditemukannya informasi yang dibutuhkan dengan berbagai pilihan bahan koleksi.
Conclusion
Katalogisasi bahan pustaka Perpustakaan Keluarga Efendi telah dilakukan namun penggunaan aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS) belum optimal dimanfaatkan. Perpustakaan Keluarga Efendi dikelola anggota keluarga dengan jumlah koleksi kurang lebih 109 judul. Data bibliografis yang sudah diisi antara lain judul, bahan pustaka, pengarang bahan pustaka, nama penerbit, tempat dan tahun bahan pustaka diterbitkan, call number atau nomor panggilan, penanggung jawab bahan pustaka, catatan yang dianggap penting, dan informasi lainnya yang terdapat pada bahan pustaka. Data Bibliografis yang telah dibuat sebelumnya kemudian dilakukan export. Hasil dari export data digunakan sebagai pencatatan dan mempermudah pustakawan dalam mencari data koleksi di perpustakaan. Koleksi di Perpustakaan Keluarga Efendi memiliki tema yang beragam. Untuk itu, data bibliografi dalam SLiMS dapat dimunculkan di layar promosi SLiMS supaya dikenal masyarakat luas. Penelitian selanjutnya akandikembangkan mengenai kegiatan katalogisasi koleksi berbasis SLiMS di perpustakaan pribadi lainnya.