Whatsapp Group Use for Maintaining Family Communication in Gebang Raya
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Abstract
General Background: Family communication is a fundamental component in maintaining harmonious relationships among family members. Specific Background: In the digital era, instant messaging platforms such as WhatsApp have become integral tools for facilitating daily interactions despite geographical separation. Knowledge Gap: While prior studies have explored digital communication, there is limited qualitative insight into how families in specific local contexts utilize WhatsApp to sustain relationships and balance virtual with direct interactions. Aims: This study investigates the patterns, benefits, and challenges of using WhatsApp group features for family communication in the Gebang Raya area, Sidoarjo District. Results: Data fromin-depth interviews with five respondents of varied backgrounds reveal that WhatsApp enables efficient coordination, real-time sharing of life moments, and emotional support despite distance. However, recurring technical issues and privacy concerns pose limitations. Novelty: The findings highlight the conscious strategies adopted by families to maintain offline quality time, ensuring that digital convenience does not erode interpersonal bonds. Implications: These insights can inform the design of community-based digital literacy programs that promote balanced and secure technology use in family contexts.
Keywords:
Family Communication
· WhatsApp
· Digital Era
· Social Media
· Sidoarjo
Introduction
WhatsApp adalah aplikasi pesan instan yang telah mengubah cara kita berkomunikasi secara signifikan sejak peluncurannya pada tahun 2009. Dikembangkan oleh Jan Koum dan Brian Acton, WhatsApp dirancang dengan tujuan sederhana namun ambisius: memberikan platform komunikasi yang mudah digunakan dan bebas dari biaya pengiriman pesan yang sering dikenakan oleh operator seluler tradisional. Pada tahun 2014, WhatsApp telah berkembang pesat, menjadi salah satu aplikasi pesanpaling populer di dunia dengan lebih dari 2 miliar pengguna aktif bulanan pada tahun2023.[1]WhatsApp menawarkan berbagai fitur komunikasi yang mempermudah interaksi antara pengguna. Berikut adalah beberapa fitur utama komunikasi di WhatsAppyangumum digunakan masyarakat [1] 1. Pesan Teks, pengguna dapat mengirim dan menerima pesan teks secara real-time. Pesan dapat disertai dengan emoji, stiker dan GIF untuk penambahan ekspresi padapesan teks. 2. Panggilan suara dan video, Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melakukanpanggilan suara dan vieo berkualitas tiggi secara gratis. Panggilan ini dapat dilakukansecara individual atau dalam grup. 3. Pesan suara, pengguna dapat merekam dan mengirim pesan suara yangdapat didengarkan oleh penerima. Ini sangat berguna untuk komunikasi yangmembutuhkan ekspresi verbal tanpa harus mengetik. 4. Grup Chat, fitur ini memungkinkan pengguna untuk membuat dan berpartisipasi dalam grup chat hingga dengan 1.024 anggota. Ini memfasilitasi koordinasi dankomunikasi kelompok. 5. Status, Pengguna dapat memperbarui status mereka dengan foto, video atauteksyang akan hilang setelah 24 jam. Ini memungkinkan berbagi momen sehari-hari dengan sesama kontak yang ada di Whatsapp. 6. Berbagi Multimedia, Pengguna dapat mengirim foto, video, dokumen, audiodanshare location. Ini memungkinkan berbagai bentuk komunikasi multimedia. WhatsApp memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupansosial, termasuk dalam konteks keluarga. Dengan kemampuannya untuk menghubungkananggota keluarga yang tersebar di lokasi yang berbeda, aplikasi ini memungkinkankomunikasi yang lebih dekat dan real-time. Selain itu, fitur seperti grupchat mempermudah koordinasi dan berbagi informasi di antara anggota keluarga [2] adalahusaha untuk berbagi dengan tujuan mencapai kesepahaman. Ketika dua individuberkomunikasi, tujuan mereka adalah untuk mencapai pemahaman yang sama terhadappesan yang mereka tukar, menurut Lexicographer dalam [3]. Menurut Hovland, Jains, dan Kelley, dalam komunikasi merupakan suatu prosesdi mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalambentuk kata- kata) dengan maksud membentuk perilaku individu lain (audien). Proses komunikasi ini adalah cara untuk menyampaikan informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan elemenlainnya dengan menggunakan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka, dansebagainya[3] Menurut [4] dalam komunikasi adalah proses dimana seorangindividu yang disebut komunikator menyampaikan ide, gagasan, atau opini kepadasejumlah sasaran, dalam hal ini adalah komunikan, baik dengan atau tanpa menggunakanmedia, dengan maksud untuk mengubah perilaku orang lain. Menurut RudolphF. Venderber dalam [5] , komunikasi memiliki dua peran, yakni fungsi sosial danfungsi pengambilan keputusan. Fungsi sosial komunikasi bertujuan untuk menciptakan kepuasan, menunjukkan koneksi dengan orang lain, serta membangun dan menguatkan hubunganinterpersonal [6] . Di sisi lain, fungsi pengambilan keputusan komunikasi adalahuntukmemutuskan tindakan yang akan dilakukan atau tidak dilakukan pada waktu tertentu, baik itu berdasarkan pertimbangan rasional maupun emosional. Komunikasi dan informasi saling terkait dan tidak dapat dipisahkan; keduanya merupakan elemen yang menyatu secara utuh. Contohnya, dalam proses pembuatan kebijakan, komunikasi sangat dibutuhkan, serta informasi dan komunikasi memiliki peran krusial dalampembentukankebijakan [7] . Keterampilan berkomunikasi merupakan kemampuan yang dimiliki olehsetiap individu, dipengaruhi oleh faktor psikologis, lingkungan, literatur yang diakses, serta pengalaman hidup yang beragam. Kadang-kadang, cara seseorang berkomunikasi mencerminkan kepribadian mereka. Meskipun pendidikan tinggi tidak menjaminkemampuan berkomunikasi yang sempurna, karena terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi interaksi manusia dalam berkomunikasi. Komunikasi yangterjadi dalam masyarakat tidak sekadar berlalu begitu saja, melainkan memiliki maknadantujuan yang ingin dicapai [8] Secara umum, tujuan komunikasi adalah untuk mengubah sikap, pendapat, danperilaku. Tujuan komunikasi ini berkaitan dengan konteks dan waktu tertentu. Komunikasi pada dasarnya bertujuan untuk menyentuh hati dan emosi manusia, baik sebagai penyampai pesan maupun penerima [9] . Keluarga merupakan unit sosial pertamayangditemui oleh individu saat mereka belajar dan mengakui diri mereka sebagai bagiandari masyarakat, dalam interaksi di dalam lingkup keluarga mereka[10]. Dalamkeluargayangsebenarnya, penting untuk membangun komunikasi yang kuat agar anggota keluargamerasakan hubungan yang erat dan saling membutuhkan satu sama lain Kurniadi dalam[11] Baik secara sadar maupun tidak, proses pembentukan karakter selalu berlangsungdi dalam sebuah keluarga, yang nantinya akan menjadi pondasi penting bagi anak dalamberinteraksi sosial di masa depan Handayani, dalam [11] Dengan ata lain, komunikasi merupakan salah satu metode yang paling efektif dalam membentuk karakter anakdi dalam lingkungan keluarga. Berikut adalah penjelasan mengenai karakteristik dalam komunikasi keluargamenurut Kumar (Wijaya: 1987) yang lebih terstruktur: 1) Keterbukaan (Openness) Keterbukaan merujuk pada sejauh mana seseorang bersedia untuk terbuka dalamberinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks komunikasi keluarga, keterbukaanmemungkinkan anggota keluarga untuk memberikan tanggapan yang jelas terhadappikiran dan perasaan yang disampaikan oleh anggota keluarga lainnya. Ini menciptakan suasana saling percaya dan transparansi dalam komunikasi.Empati 2) (Empathy) Empati adalah kemampuan seseorang untuk merasakan dan memahami perasaanorang lain tanpa harus terlibat secara fisik dalam perasaan atau tanggapan mereka. Dalam komunikasi keluarga, empati penting agar setiap anggota merasa didengarkandan dipahami, yang memperkuat hubungan emosional antar anggota keluarga. 3) Dukungan (Support) Dukungan adalah pemberian bantuan dan dorongan yang membantu seseoranglebihbersemangat dalam melakukan aktivitas dan mencapai tujuan mereka. Dukunganini umumnya diharapkan dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga. Dalamkomunikasi keluarga, dukungan memberi rasa aman dan kepercayaan diri bagi anggota keluarga untuk menghadapi tantangan hidup. 4) Perasaan Positif (Positiveness) Perasaan positif mencakup sikap positif terhadap apa yang dikatakan oranglaintentang diri kita. Ini menunjukkan bahwa dalam komunikasi keluarga, memiliki sikap yang optimis dan terbuka terhadap feedback atau masukan dari anggota keluargalain dapat memperkuat ikatan serta meningkatkan kualitas interaksi antar anggota keluarga. Karakteristik-karakteristik ini sangat penting dalam membangun komunikasi yangsehat dan harmonis dalam keluargaKajian yang digunakan terdiri dari beberapa artikel yang pernah diteliti sebelumnya, yang mana mempunyai korelasi dengantopikpembahasan dalam artikel ini. Menurut Davis dalam [12], fungsi keluarga dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Reproduksi (reproduction), yang mengacu pada peran keluarga dalammenggantikanatau mempertahankan sistem sosial melalui reproduksi keturunan. 2. Pemeliharaan (Maintenance), yang mencakup perawatan dan pengasuhan anak hinggamereka mampu mandiri. 3. Ekonomi (Economics), yang melibatkan distribusi dan pemenuhan kebutuhanekonomi dalam keluarga. 4. Perawatan Anggota yang Lanjut Usia,( Care Of The Ages) yaitu memberikan perawatanbagi anggota keluarga yang telah lanjut usia. 5. Pusat Politik, (Political Center) yang memberikan posisi strategis kepada anak-anaksehingga orang tua tidak mendominasi perkembangan anak secara otoriter. 6. Perlindungan Fisik,(Phsycal Protection) yang melibatkan penyediaan kebutuhanfisikseperti pakaian, makanan, dan tempat tinggal bagi anggota keluarga. 7. Kesamaan (Equal) merujuk pada kesetaraan dalam berbicara dan mendengarkanantara individu dengan orang lain dalam komunikasi keluarga. Perkembangan zaman informasi digital dan ruang siber saat ini telah mengubahgambaran keluarga, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan pada eradigital. Konsep keluarga yang harmonis, yang dulunya menjadi sumber utama informasi dansosialisasi, kini berubah menjadi keluarga digital. Perkembangan teknologi informasi dankomunikasi global telah mengubah banyak aspek dari keluarga yang harmonis. Menurut Yasraf (2004:476) dalam [13] dengan kemunculan berbagai teknologi informasi dankomunikasi yang memberikan akses segera, cepat, dan virtual, interaksi tatap mukadi dalam keluarga sekarang digantikan oleh interaksi yang terjadi melalui media sosial. Di era teknologi digital, banyak manfaat dan kemudahan untuk melakukan komunikasi, terutamakomunikasi antar individu, melalui berbagai platform seperti email, pesan teks, panggilanvideo, dan media sosial, kita dapat terhubung dengan teman, keluarga, dan rekankerjadi seluruh dunia dengan cepat dan efisien [14]. Hal memperkuat hubungan sosial kitadanmemungkinkan kita untuk tetap terhubung meskipun jarak fisik terpisahkan. Demikian juga dengan komunikasi keluarga, yang dapat dilakukan melalui mediasosial, panggilan video, dan aplikasi pesan instan, kita dapat tetap terhubungdengananggota keluarga yang berada di tempat yang jauh secara langsung dan interaktif [14]. Hal ini memungkinkan kita untuk berbagi momen-momen penting, mendukung satusamalain, dan memperkuat ikatan keluarga meskipun jarak terpisahkan. Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya membawa kemudahan dalam aspek kerja dan belajar, tetapi juga memperkaya hubungan sosial kita dalam kehidupan sehari-hari. Kecamatan Sidoarjo merupakan salah satu dari 18 kecamatan yangadadi Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Kecamatan ini memiliki posisi yang strategis sebagai bagian dari penyangga Kota Surabaya, yang juga dikenal sebagai Gerbangkertosusilo. Dengan keberadaannya yang berdekatan dengan Kota Surabaya dan sejumlah kawasanindustri, Kecamatan Sidoarjo menjadi pusat perkembangan ekonomi yang pesat di wilayah tersebut. Kecamatan Sidoarjo terletak di antara Kota Surabaya dan KabupatenGresik di sebelah utara, serta Kabupaten Mojokerto di sebelah barat. Di sebelahselatanberbatasan dengan Kabupaten Pasuruan, sedangkan di sebelah timur berbatasandenganSelat Madura. Luas wilayah Kecamatan Sidoarjo mencapai 714,27 km2, menjadikannyasebagai kabupaten terkecil dan terpadat penduduknya di Jawa Timur. Berdasarkan data sensus, jumlah penduduk di Kecamatan Sidoarjo terus meningkat dari tahun 2021 hingga 2023. Pada tahun 2021, jumlah penduduk laki-laki sebesar1.052.978 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan sebesar 1.038.952 jiwa(BPSJawa Timur, 2023). Sedangkan pada tahun 2023, jumlah penduduk laki-laki meningkat menjadi 1.063.973 jiwa dan penduduk perempuan menjadi 1.050.615 jiwa . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi keluarga dalameradigital di Kecamatan Sidoarjo. Dengan menggunakan teori [15] sebagai landasankonseptual, pada penelitian ini akan dianalisis bagaimana komunikasi pada keluargadi Kecamatan Sidoarjo. Penelitian ini memiliki signifikansi yang penting dalam konteks Kecamatan Sidoarjo. Pertama, pemahamanyang lebih baik tentang komunikasi keluarga dalam era digital dapat membantudalammengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi oleh keluarga di wilayah ini. Hal ini dapat membantu pengembangan program atau kebijakan yang bertujuanuntukmeningkatkan kualitas hubungan keluarga dan kesejahteraan keluarga secarakeseluruhan. Selain itu, dengan memahami dampak teknologi digital terhadap komunikasi keluarga, penelitian ini juga dapat memberikan wawasan tentang cara mengoptimalkanpenggunaan teknologi untuk memperkuat ikatan keluarga dan mempromosikaninteraksi yang sehat di dalam keluarga. Implikasi sosial dan budaya dari penelitian ini jugadapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik tentang dinamika keluarga moderndi era digital.
Method
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif ini berlandaskan pada filsafat postpositivisme, yangdigunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah. Penelitian ini dilakukandengan melibatkan peneliti sebagai instrumen kunci, dan teknik pengumpulandatadilakukan secara triangulasi, yaitu dengan menggabungkan beberapa metodepengumpulan data. Analisis data bersifat induktif/kualitatif, dengan lebih menekankanpada makna daripada generalisasi. Ruang lingkup penelitian ini akan meliputi pengumpulan data melalui survei, wawancara, dan observasi terhadap sejumlah keluargadi Kecamatan Sidoarjo. Metode kualitatif akan digunakan untuk menganalisis datayangdiperoleh. Populasi yang diteliti adalah keluarga yang tinggal di Kecamatan Sidoarjo, dengan fokus pada berbagai aspek komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, penggunaanteknologi digital, dan interaksi antar anggota keluarga. Metode pengumpulan data seperti wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi [15] . Populasi yang diteliti adalah keluarga di Kecamatan Sidoarjo yang menggunakanteknologi digital dalam komunikasi sehari-hari. Data primer akan diperoleh melalui wawancara langsung dengan anggota keluarga, sementara data sekunder akan berupadokumen-dokumen terkait penggunaan teknologi digital dalam keluarga. Metode pemilihan informan yang digunakan adalah probably sample acak berdasarkan pekerjaan dan usia. Dalam proses ini, kelompok penduduk dari berbagai latar belakang pekerjaandan rentang usia diidentifikasi sebagai sampel potensial. Dengan menggunakanteknikacak, 5 orang diambil dari kelompok tersebut untuk dijadikan responden dalamsurvei atau penelitian. Pentingnya memilih sampel secara acak adalah untuk memastikanrepresentativitas sampel terhadap populasi secara keseluruhan. Dengan mempertimbangkan variasi pekerjaan dan usia, data yang diperolehdari 5 responden tersebut diharapkan mencerminkan keragaman dan kompleksitasmasyarakat di kecamatan Sidoarjo. Selain itu, dengan merumuskan 5 pertanyaanyangrelevan dengan tujuan penelitian, informasi yang didapatkan dari respondendapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik sosial dan ekonomi dari kelompok yang diwakili. Signifikansi penelitian ini terletak pada pemahamanyanglebih dalam tentang tingkat penggunaan teknologi digital terhadap komunikasi keluargadi Kecamatan Sidoarjo. Implikasi sosial dan budaya dari perubahan ini akan dieksplorasi, dengan tujuan untuk memberikan wawasan yang dapat digunakan untuk mengetahui komunikasi keluarga dalam era digital di kecamatan sidoarjo. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model Miles dan Huberman. Model ini menekankan pada aktivitas interaktif danberkesinambungan dalam menganalisis data kualitatif hingga selesai. Tahapanutamadalam model ini mencakup reduksi data, penyajian data, analisis data dan penarikankesimpulan/verifikasi [16] Reduksi data merupakan langkah awal dalam analisis, di mana peneliti memilihdata yang akan digunakan, data yang akan dihilangkan, serta pola rangkumanyangdianggap penting. Proses reduksi ini mencakup pemilihan, pemusatan, penyederhanaan, dan penataan ulang data yang terkumpul, sehingga memungkinkan peneliti untukmerumuskan kesimpulan yang lebih jelas [16] . Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah penyajian data. Penyajiandatamerupakan penyajian informasi yang telah tersusun, memungkinkan penarikankesimpulan dan pengambilan tindakan. Metode yang sering digunakan dalampenyajiandata kualitatif adalah teks naratif, yang memfasilitasi pemahaman dan perencanaantindakan selanjutnya berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh dari data [16]. Selanjutnya tahap penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan kegiatanutamaterakhir dalam analisis data. Peneliti harus mengambil inisiatif sejak awal untukmenghindari data yang tidak bermakna. Kesimpulan yang diambil harus didukungolehbukti yang valid dan konsisten. Kesimpulan awal bersifat sementara dan dapat berubahseiring dengan penambahan bukti yang kuat dari tahap pengumpulan data berikutnya. Jika kesimpulan awal didukung oleh bukti yang valid dan konsisten, maka kesimpulantersebut dapat dianggap kredibel[16].
Result
Berdasarkan wawancara yang dilakukan berikut adalah hasil dari wawancaradengan lima responden dari berbagai lapisan masyarakat di Kecamatan Sidoarjo. Merekaadalah Budi, seorang wiraswasta berusia 35 tahun; Siti, seorang ibu rumah tanggaberusia 28 tahun; Ani, seorang pegawai kantor berusia 40 tahun; Andi, seorangpelajar berusia 17 tahun; dan Rini, seorang guru berusia 50 tahun. Melalui pertanyaan yang diajukan kepada mereka, kami mencoba untuk menggali pengalaman mereka dalam menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi dengananggota keluarga. Selain itu, kami juga menanyakan tentang tantangan yang mereka hadapi dalam menggunakan teknologi digital dalam konteks keluarga, serta upayayangmereka lakukan untuk menjaga keseimbangan antara dunia digital dan interaksi langsungdalam kehidupan sehari-hari mereka. Berikut adalah hasil wawancara dengan para informan, yang telah dirangkumuntuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana komunikasi keluargaberkembang dalam era digital di Kecamatan Sidoarjo. 1. Budi (35 tahun, Wiraswasta) "Teknologi digital, seperti pesan teks dan media sosial, telah membuat komunikasi dengan keluarga saya lebih mudah. Kami dapat saling bertukar kabar dan berbagi momensehari-hari meskipun tidak berada dalam satu tempat secara fisik. Sekarang kami lebihsering menggunakan grup WhatsApp keluarga untuk berkomunikasi tentang jadwal, perencanaan acara, dan berbagi foto. Ini membuat koordinasi menjadi lebih efisiendanmemudahkan kami untuk tetap terhubung. Saya pikir, menggunakan teknologi digital telah mengurangi sedikit interaksi langsung antar anggota keluarga kami. Kadang-kadang, kita lebih cenderung berkomunikasi melalui pesan teks atau panggilan video daripadabertemu secara langsung. Menurut saya, teknologi digital membawa kami lebihdekat. Kami memiliki grup keluarga di platform media sosial, di mana kami dapat berbagi ceritadan mendukung satu sama lain. Meskipun kami mungkin tidak selalu bertemusecaralangsung, tetapi rasa keterhubungan tetap terjaga melalui teknologi ini. Kami berusahauntuk tetap memprioritaskan waktu berkualitas bersama-sama tanpa gangguan teknologi. Misalnya, kami menetapkan waktu untuk makan malam bersama di mana semuaperangkat elektronik dimatikan. Ini membantu kami untuk fokus berinteraksi secaralangsung dan memperkuat ikatan keluarga." Berdasarkan hasil wawancara tersebut , Budi seorang wiraswasta berusia 35tahun, merasakan dampak positif teknologi digital dalam memperkuat komunikasi dengankeluarganya. Dengan menggunakan pesan teks dan media sosial, seperti WhatsApp, mereka dapat dengan mudah bertukar kabar dan berbagi momen sehari-hari tanpaterhalang oleh jarak fisik. Ini memungkinkan mereka untuk lebih efisiendalamberkoordinasi, baik untuk jadwal maupun perencanaan acara. Namun, Budi juga mencatat bahwa menggunakan teknologi ini sedikit mengurangi interaksi langsung antara anggotakeluarganya. Meskipun mereka lebih cenderung berkomunikasi melalui pesan teks ataupanggilan video, ia merasa bahwa teknologi digital telah membawa mereka lebihdekat dengan memfasilitasi kelompok keluarga di platform media sosial. Mereka dapat berbagi cerita dan mendukung satu sama lain, menjaga rasa keterhubungan meskipun tidak selalubertemu langsung. Namun, Budi dan keluarganya sadar akan pentingnya waktuberkualitas bersama tanpa gangguan teknologi. Mereka secara aktif memprioritaskanmomen seperti makan malam bersama di mana semua perangkat elektronik dimatikan, memungkinkan mereka untuk fokus berinteraksi secara langsung dan memperkuat ikatankeluarga. Dengan demikian, Budi mengakui manfaat teknologi digital dalammempererat hubungan keluarga, sambil tetap menjaga keseimbangan dengan interaksi langsungyangbernilai. 2. Siti (28 tahun, Ibu Rumah Tangga) "Kami menggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial untukberkomunikasi. Sekarang, dengan teknologi digital, kami dapat berinteraksi secara intensdan berbagi momen sehari-hari dengan cepat. Saya merasa teknologi digital telahmemperkuat hubungan kami. Meskipun kadang-kadang kami tidak bisa bertemu langsung, tetapi dengan berkomunikasi secara rutin melalui media sosial atau panggilan video, kami tetap merasa dekat satu sama lain. Kadang-kadang, masalah teknis seperti koneks internet yang lambat atau masalah dengan aplikasi komunikasi bisa menjadi tantangan. Kami mencoba untuk tetap mengatur waktu untuk berkumpul secara langsungtanpagangguan teknologi. Misalnya, kami memiliki waktu khusus di malam hari untuk berbicaraatau bermain bersama tanpa membawa perangkat elektronik. Itu adalah carakami menjaga kualitas interaksi kami." Berdasarkan hasil wawancara tersebut, Siti seorang ibu rumah tangga berusia28tahun, merasakan bahwa teknologi digital telah memperkuat hubungannya dengankeluarganya. Dengan menggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial, mereka dapat berinteraksi secara intens dan berbagi momen sehari-hari dengancepat. Meskipun terkadang mereka tidak dapat bertemu langsung, tetapi berkomunikasi secararutin melalui media sosial atau panggilan video membuat mereka tetap merasa dekat satusama lain. Namun, Siti juga mengakui bahwa ada tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat atau masalah dengan aplikasi komunikasi yang bisa terjadi. Untukmengatasi hal ini, mereka berusaha untuk tetap mengatur waktu untuk berkumpul secaralangsung tanpa gangguan teknologi. Sebagai contoh, mereka memiliki waktu khususdi malam hari untuk berbicara atau bermain bersama tanpa membawa perangkat elektronik. Dengan cara ini, mereka menjaga kualitas interaksi mereka dan memastikanbahwateknologi digital tidak menghalangi hubungan emosional yang kuat di antara mereka. 3. Ani (40 tahun, Pegawai Kantor) "Kami menggunakan pesan teks dan panggilan video untuk berkomunikasi sehari hari. Secara umum, saya pikir iya. Teknologi memungkinkan kami untuk berkomunikasi dengan lebih mudah, terutama dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kotaataunegara. Ya, terkadang kita mengalami kesulitan dengan koneksi internet yang lambat atau gangguan teknis lainnya. Tantangan utama yang kami hadapi adalah masalahteknisseperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Kami berusahauntuk menetapkan waktu khusus di mana kami tidak menggunakan gadget danbenar- benar fokus pada interaksi langsung. Misalnya, kami memiliki waktu bersama setiapmalam di mana kami bermain game atau berbicara tanpa gangguan teknologi."Berdasarkan hasil wawancara tersebut, Ani seorang pegawai kantor berusia 40tahun, mengakui bahwa teknologi, terutama pesan teks dan panggilan video, telahmempermudah komunikasi sehari-hari bagi keluarganya. Dia menilai bahwa teknologi memungkinkan mereka untuk tetap terhubung dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara. Meskipun demikian, Ani juga menyadari bahwa terdapat tantanganteknis yang terkadang mengganggu, seperti koneksi internet yang lambat atau gangguanteknis lainnya. Tantangan utama yang mereka hadapi adalah masalah teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Namun, mereka berusahamengatasi hal ini dengan menetapkan waktu khusus di mana mereka tidak menggunakangadget dan benar-benar fokus pada interaksi langsung. Sebagai contoh, mereka memiliki waktu bersama setiap malam di mana mereka bermain game atau berbicara tanpagangguan teknologi. Dengan demikian, Ani mencoba untuk menjaga keseimbanganantara menggunakan teknologi untuk memperkuat komunikasi keluarga dan menetapkanwaktu khusus untuk interaksi langsung tanpa gangguan teknologi. 4. Andi (17 tahun, Pelajar) "Kami menggunakan pesan teks, panggilan video, dan aplikasi pesaninstanseperti WhatsApp untuk berkomunikasi. Ya, menurut saya teknologi digital telahmengubah cara kami berinteraksi. Tentu saja. Dengan teknologi digital, kami bisaberkomunikasi dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara denganmudah. Ya, kadang-kadang kita mengalami kesulitan dengan koneksi internet yanglambat atau gangguan teknis lainnya. Kami berusaha menetapkan waktu khusus di mana kami tidak menggunakan gadget dan benar-benar fokus pada interaksi langsung. Misalnya, kami memiliki waktu keluarga di mana kami bermain game atau melakukankegiatan bersama tanpa gangguan teknologi." Berdasarkan hasil wawancara tersebut Andi, seorang pelajar berusia 17 tahun, mengamati perubahan dalamcara berinteraksi keluarganya sejak menggunakan teknologi digital. Mereka menggunakan berbagai platform seperti pesan teks, panggilan video, dan aplikasi pesan instan seperti WhatsAppuntuk berkomunikasi. Andi melihat bahwa teknologi digital memungkinkan merekauntukberhubungan dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara denganlebih mudah. Meskipun demikian, dia juga mengakui adanya tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat atau gangguan teknis lainnya yang terkadang merekahadapi.Untuk mengatasi potensi gangguan teknologi dan memastikan interaksi yangberkualitas, Andi dan keluarganya berusaha menetapkan waktu khusus di mana merekatidak menggunakan gadget dan benar-benar fokus pada interaksi langsung. Sebagai contoh, mereka memiliki waktu keluarga di mana mereka bermain game atau melakukankegiatan bersama tanpa gangguan teknologi. Dengan demikian, Andi dan keluarganyamencoba menjaga keseimbangan antara manfaat teknologi dalammempermudahkomunikasi jarak jauh dan pentingnya interaksi langsung untuk memperkuat ikatankeluarga. 5. Rini (50 tahun, Guru) "Kami menggunakan berbagai aplikasi pesan instan seperti WhatsAppdanTelegram untuk berkomunikasi sehari-hari. Ya, tentu saja. Sebelumnya, kami mungkintidak begitu sering berbicara satu sama lain karena kesibukan masing-masing. Ya, sayapikir begitu. Teknologi digital memungkinkan kami untuk berbicara secara langsungdengan anggota keluarga yang tinggal jauh dan berbagi momen sehari-hari melalui fotodan video. Tantangan utama yang kami hadapi adalah masalah teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Kami berusaha untuk memiliki waktu berkualitas bersama-sama tanpa gangguan teknologi, seperti makan malambersama atau berkumpul untuk berbicara. Selain itu, kami juga menetapkan batasanwaktu untuk penggunaan gadget agar tidak mengganggu interaksi langsung kami." Dalam hasil wawancara, Rini, seorang guru berusia 50 tahun, menyampaikanbahwa keluarganya menggunakan berbagai aplikasi pesan instan seperti WhatsAppdanTelegram untuk berkomunikasi sehari-hari. Dia mengakui bahwa sebelummenggunakanteknologi digital, mereka mungkin tidak begitu sering berbicara satu sama lainkarenakesibukan masing-masing. Namun, dengan adanya teknologi digital, mereka sekarangdapat berbicara secara langsung dengan anggota keluarga yang tinggal jauh dan berbagi momen sehari-hari melalui foto dan video. Meskipun demikian, Rini juga mengidentifikasi tantangan utama yang merekahadapi, yaitu masalah teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang rusak. Untuk mengatasi hal ini, mereka berusaha untuk memiliki waktu berkualitasbersama-sama tanpa gangguan teknologi, seperti makan malam bersama atau berkumpul untuk berbicara. Selain itu, mereka juga menetapkan batasan waktu untuk penggunaangadget agar tidak mengganggu interaksi langsung mereka. Dari jawaban Rini, terlihat bahwa meskipun teknologi digital memudahkankomunikasi dan mempererat hubungan keluarga, dia juga menyadari pentingnya menjagakualitas interaksi langsung dan mengatasi tantangan teknis yang mungkin muncul. Ini menunjukkan kesadaran Rini akan pentingnya keseimbangan antara penggunaanteknologi dan interaksi langsung dalam membangun hubungan keluarga yang kuat danberkualitas
Discussion
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan lima responden dari berbagai lapisan masyarakat di Kecamatan Sidoarjo, kita dapat melihat bagaimana komunikasi keluarga telah mengalami transformasi signifikan dengan menggunakan teknologi digital. Seperti yang disampaikan oleh Budi, seorang wiraswasta berusia 35 tahun, bahwateknologi digital telah memudahkan komunikasi dengan keluarganya meskipunjarakmemisahkan. "Kami dapat saling bertukar kabar dan berbagi momen sehari-hari meskipuntidak berada dalam satu tempat secara fisik," katanya. Fenomena ini sesuai denganteori [15]), di mana perilaku komunikasi keluarga telah berubah seiring dengan menggunakanteknologi baru. Siti, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun, juga mengamini hal ini denganmenyatakan bahwa "Sekarang, dengan teknologi digital, kami dapat berinteraksi secaraintens dan berbagi momen sehari-hari dengan cepat." Siti, seorang ibu rumahtanggaberusia 28 tahun, menegaskan bahwa teknologi digital telah mengubah dinamika interaksi dalam keluarganya. Dengan menggunakan teknologi tersebut, mereka dapat berinteraksi secara intens dan dengan cepat berbagi momen sehari-hari. Ini menunjukkan bahwaSiti mengakui peran penting teknologi dalam mempercepat dan mempermudah proseskomunikasi keluarga. Dengan bantuan pesan teks, panggilan video, dan aplikasi pesaninstan, seperti yang disebutkan sebelumnya, mereka dapat dengan mudah saling bertukar kabar, berbagi foto, dan memperbarui satu sama lain tentang peristiwa sehari-hari. Dalamkonteks kehidupan sehari-hari yang sibuk, teknologi digital memungkinkan Siti dankeluarganya untuk tetap terhubung tanpa harus terbatas oleh jarak fisik atauketerbatasan waktu. Hal ini mencerminkan pergeseran paradigma dalamcara keluargaberinteraksi, di mana teknologi menjadi alat yang sangat berguna dalammemfasilitasi keterhubungan emosional dan informasional di antara anggota keluarga, bahkanketikamereka terpisah secara geografis. Persepsi positif terhadap dampak teknologi digital juga tercermin dalampengalaman Ani, seorang pegawai kantor berusia 40 tahun, yang menganggapbahwateknologi ini memperkuat hubungan keluarga meskipun ada sedikit penurunandalaminteraksi langsung. "Teknologi memungkinkan kami untuk berkomunikasi denganlebihmudah, terutama dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara,"ujarnya.Pengalaman Ani, seorang pegawai kantor berusia 40 tahun, mencerminkanpandangan positif terhadap dampak teknologi digital terhadap hubungan keluarga. Meskipun dia mencatat bahwa ada sedikit penurunan dalam interaksi langsung, diamengakui bahwa teknologi telah memperkuat keterhubungan keluarga mereka. Denganmenggunakan berbagai aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram, Ani dankeluarganya dapat berkomunikasi dengan lebih mudah, terutama dengan anggotakeluarga yang tinggal di luar kota atau negara. Peran teknologi dalam memfasilitasi komunikasi yang mudah dancepat memungkinkan keluarga Ani untuk tetap terhubung tanpa terhalang oleh jarak geografis. Mereka dapat dengan mudah bertukar kabar, berbagi momen sehari-hari, danmerencanakan kegiatan bersama tanpa harus bertatap muka secara langsung. Hal ini memberikan fleksibilitas dan kenyamanan bagi keluarga Ani, karena mereka dapat memperbarui satu sama lain tentang perkembangan dalam kehidupan sehari-hari meskipun berada di tempat yang berbeda. Ani juga menyadari bahwa ada penurunan dalam interaksi langsung di antaraanggota keluarga. Ketergantungan pada teknologi digital untuk berkomunikasi dapat mengurangi frekuensi atau intensitas pertemuan fisik, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kedalaman hubungan interpersonal. Meskipun begitu, Ani tetap mengakui bahwa teknologi memiliki peran penting dalam mempertahankan keterhubungan keluarga, terutama dalam konteks kehidupan modern yang serba sibuk dan dinamis. Tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat atau gangguandalamaplikasi komunikasi juga menjadi bagian dari pengalaman Ani. Namun, kesadaranakantantangan ini mendorong mereka untuk mencari solusi dan menjaga kualitas komunikasi keluarga. Misalnya, mereka mungkin memilih waktu atau platform komunikasi yanglebihstabil untuk memastikan bahwa pesan mereka dapat diterima dengan baik olehsemuaanggota keluarga. Untuk mengatasi sedikit penurunan interaksi langsung, Ani dankeluarganya menetapkan waktu khusus di mana mereka berkumpul tanpa gangguanteknologi. Ini bisa berupa waktu makan malam bersama atau kegiatan lain di manamereka benar-benar fokus pada interaksi tatap muka dan memperkuat ikatan keluarga. Dengan demikian, mereka mencoba mencapai keseimbangan yang sehat antarakeuntungan teknologi dalam memfasilitasi komunikasi jarak jauh dan pentingnya interaksi langsung dalam membangun hubungan keluarga yang kuat dan berarti. Motivasi utama dalam menggunakan teknologi digital juga tercermindalampengalaman Andi, seorang pelajar berusia 17 tahun, yang merasa terdoronguntukmenggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial karena ingin menjaga ikatankeluarga. "Dengan teknologi digital, kami bisa berkomunikasi dengan anggota keluargayang tinggal di luar kota atau negara dengan mudah," ungkapnya. Pengalaman Andi, seorang pelajar berusia 17 tahun, menggambarkan motivasi utama dalam penggunaan teknologi digital yang tercermin dalam keinginannya untukmenjaga ikatan keluarga. Andi menyadari bahwa teknologi digital bukan hanya sekadar alat untuk berkomunikasi, tetapi juga merupakan sarana yang memungkinkankeluarganya tetap terhubung meskipun jarak geografis yang memisahkan. Dalamkontekskehidupan modern yang serba cepat dan dinamis, kebutuhan untuk menjagaketerhubungan dengan anggota keluarga yang tinggal di luar kota atau negara menjadi semakin penting, dan teknologi digital menjadi solusi yang efektif dalammemenuhi kebutuhan tersebut. Dengan menggunakan pesan teks, panggilan video, dan media sosial, Andi dankeluarganya dapat berkomunikasi dengan mudah dan cepat. Mereka dapat denganbebasbertukar kabar, berbagi momen sehari-hari, dan memperbarui satu sama lain tentangperkembangan dalam kehidupan mereka tanpa terkendala oleh jarak geografis yangmemisahkan mereka. Hal ini memberikan rasa kenyamanan dan keterhubunganemosional yang penting dalam membangun dan mempertahankan ikatan keluarga. Motivasi utama Andi dalam menggunakan teknologi digital adalah untuk menjagaikatan keluarga yang kuat. Dia menyadari bahwa interaksi langsung tidak selaludimungkinkan, terutama ketika anggota keluarga terpisah oleh jarak yang jauh. Olehkarena itu, dengan memanfaatkan teknologi digital, Andi dan keluarganya dapat memastikan bahwa mereka tetap terhubung secara teratur dan tidak kehilangankontaksatu sama lain. Hal ini mencerminkan kesadaran Andi akan pentingnya menjagaketerhubungan emosional dalam keluarga, bahkan jika tidak ada interaksi langsungyangterjadi.Namun demikian, Andi juga menyadari bahwa penggunaan teknologi digital tidakselalu tanpa tantangan. Tantangan teknis seperti koneksi internet yang lambat ataugangguan dalam aplikasi komunikasi kadang-kadang dapat menghalangi proseskomunikasi. Namun, kesadaran akan tantangan ini mendorong mereka untuk mencari solusi alternatif dan memastikan bahwa komunikasi keluarga tetap lancar. Selain itu, Andi juga mengakui pentingnya menjaga keseimbangan antarapenggunaan teknologi digital dan interaksi langsung. Meskipun teknologi digital memungkinkan mereka untuk tetap terhubung secara virtual, Andi dan keluarganyajugasadar akan pentingnya interaksi langsung dalam membangun hubungan yang kuat danbermakna. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk memiliki waktu berkualitas bersama- sama di mana mereka dapat berkumpul tanpa gangguan teknologi, seperti makanmalambersama atau kegiatan keluarga lainnya. Tergambar bahwa motivasi utama dalam penggunaan teknologi digital adalahuntuk menjaga ikatan keluarga yang kuat. Dengan memanfaatkan teknologi digital secarabijaksana, Andi dan keluarganya dapat terus memperkuat keterhubungan emosional mereka, memastikan bahwa mereka tetap dekat meskipun terpisah oleh jarak geografis. Ini menunjukkan bahwa teknologi digital bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan sarana yang memungkinkan keluarga untuk tetap bersatu dansalingmendukung satu sama lain dalam setiap aspek kehidupan mereka. Dengan demikian, hasil wawancara ini tidak hanya mencerminkan perubahanperilaku, persepsi, dan motivasi dalam komunikasi keluarga, tetapi juga menggambarkanbagaimana teori [15] membantu dalam memahami fenomena ini dengan memberikankerangka kerja yang relevan.
Conclusion
Berdasarkan hasil wawancara dengan lima responden dari berbagai lapisanmasyarakat di Kecamatan Sidoarjo, dapat disimpulkan bahwa komunikasi keluarga dalamera digital telah mengalami perubahan yang signifikan. menggunakan teknologi digital, seperti pesan teks, panggilan video, dan media sosial, telah memudahkan anggotakeluarga untuk tetap terhubung dan berbagi momen sehari-hari meskipun terpisaholehjarak. Meskipun terjadi penurunan dalam interaksi langsung, teknologi digital mampumemperkuat hubungan keluarga dengan memungkinkan komunikasi yang lebihintensdan kontinu. Terlihat juga bahwa motivasi utama dalam menggunakan teknologi digital adalah untuk menjaga ikatan keluarga dan memperkuat rasa keterhubungan. Hal ini sesuai dengan teori (Moleong, 2009), yang menunjukkan bahwa perubahandalamperilaku, persepsi, dan motivasi dalam komunikasi keluarga dapat diamati seiring denganperkembangan teknologi.