Kembali
16
1
2025 Pabukon: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 2 · 1 ISSN PBK

MODERNISASI INFORMASI DAN PERILAKU INFORMASI MAHASISWA: STUDI KASUS BERBASIS KONSEP GESTELL MARTIN HEIDEGGER

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung; Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Abstrak

Penelitian ini meneliti transformasi digital perilaku pencarian informasi akademik di kalangan mahasiswa, menganalisis implikasi ontologis melalui kerangka kerja Gestell Heidegger. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif yang dilakukan dengan menggunakan pengkodean terbuka kategorisasi dari 25 tanggapan kuesioner dari mahasiswa. Temuan empiris dianalisis melalui kerangka filosofis Heidegger tentang Gestell (enframing) untuk memeriksa implikasi eksistensial yang lebih dalam dari praktik pencarian informasi digital. Temuan ini mengungkapkan kejenuhan strategi pencarian digital (100% responden), dengan Google, jurnal online, dan platform AI yang mendominasi akses informasi. Sementara 88% mahasiswa menunjukkan evaluasi kritis terhadap kredibilitas sumber “otonomi ilusi” dalam kerangka kerja teknologi. Para mahasiswa menunjukkan kesadaran yang canggih akan pengaruh algoritmik (76%) namun tetap terjebak dalam apa yang disebut Heidegger sebagai Gestell, sebuah kerangka kerja teknologi yang secara fundamental mengondisikan kemungkinan mereka untuk mengakses pengetahuan. Penekanan pada efisiensi dan kecepatan (84% responden) mencerminkan pengurangan temporal dari durasi kontemplatif menjadi optimasi instrumental, mengubah pembelajaran dari eksistensial menjadi konsumsi informasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pencarian informasi akademis tidak hanya mewakili perubahan metodologis, tetapi juga transformasi ontologis pada siswa yang berada di dunia. Penelitian ini menunjukkan perlunya transformasi pedagogis dari “literasi digital” menuju “kebijaksanaan digital”, kapasitas untuk eksistensi otentik dalam lingkungan yang dimediasi oleh teknologi sambil mempertahankan dimensi eksistensial mendasar dari pembelajaran dan konstruksi pengetahuan.

Abstract

This study examines the digital transformation of academic informationseeking behavior among university students, analyzing the ontological implication through Heidegger’s Gestell frameworkThe methods use in this research use a qualitative analysis was conducted using open coding categorization of 25 25 questionnaire responses from university students. The empirical findings were analyzed through Heidegger’s philosophical framework of Gestell (enframing) to examine the deeper existential implications of digital information-seeking practices. The findings reveal complete saturation of digital search strategies (100% of respondents), with Google, online journals, and AI platforms dominating information acces. While 88% of students demonstrate critical evaluation of source credibility “illusory autonomy” within technological frameworks. Students exhibit sophisticated awareness of algorithmic influence (76%) yet remain trapped within what Heidegger terms the Gestell, a technological framework that fundamentally conditions their possibilities for knowledge access. The emphasis on efficiency and speed (84% of respondents) reflects a temporal reduction from contemplative duration to instrumental optimization, transforming learning from existential dwelling into information consumption. The study demonstrates that digital transformation in academic informationseeking represents not merely methodological change but ontological transformation in students being-in-the-world. The research indicates the need for pedagogical transformation from “digital literacy” toward “digital wisdom”, the capacity for authentic existence within technologically mediated environments while preserving fundamental existential dimensions of learning and knowledge construction.
Keywords: Information-seeking behavior · Gestell · Heidegger · Algorithm · Digital Tranformation · Students

Introduction

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia, terutama dalam hal mencari, mengakses, dan memaknai informasi. Manusia saat initerbiasa dengan budaya informasi yang instan dan cepat yang dapat diperoleh mellaui perangkat digital dalam hitungan detik. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi gaya hidup tetapi juga dunia akademik, terutama bagi mahasiswa yang diharuskan untuk menyaring, memahami, dan memanfaatkan informasi secara efektif di tengah arus digitalisasi yang pesat seperti sekarang. Perilaku informasi (information behavior) berfokus pada cara seseorang mengidentifikasi kebutuhan informasi serta proses pencarian, penggunaan, danpenilaian informasi tersebut. Menurut Wilson (1999, p. 249) dalam (Alhusna et.al, 2021) perilaku informasi adalah “Information seeking behavior is the purposive seeking for information as consequence of a need to satisfy some goal. In the course ofseeking, the individual may interact with manual information systems (such a newspaper or a library), or with computer based systems (such as the World Wide Web)”. Dalam konteks mahasiswa sebagai pengguna informasi mengalami perubahan pola pencarian seiring perkembangan teknologi digital. Mereka saat ini lebih banyak menggunakan teknologi seperti mesin pencarian (search engine), media sosial, hingga AI (Artifical Intelligence) sebagai sarana utama untuk mendapatkan informasi. Ketergantungan ini menunjukkan pergeseran dari metode konvensional ke metode yang lebih cepat, praktis, dan berbasis teknologi. Hal ini juga menuntut kemampuan literasi informasi yang lebih baik agar mahasiswa dapat memilah informasi yang relevan dan valid dari berbagai sumber yang tersedia. Kemudahan akses informasi di era digital tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga membawa tantangan baru seperti informasi yang berlebihan (information overload), bias algoritma yang membentuk filter bubble, serta pemahaman yang kurang mendalam (superficial understanding) akibat kebiasaan mengonsumsi informasi secara instan. Fenomena ini dapat dianalis melalui sudut pandang filsafat teknologi yang mempertanyakan bagaiaman teknologi memengaruhi kehidupan dan pola pikir manusia. Salah satu tokoh penting dalam kajian ini adalah Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman yang memberikan pandangan kritis mengenai hubungan antara manusia dengan teknologi modern. Dalam salah satu karya Heidegger yang berjudul “The Question Concerning Technology” (1954), Heidegger mengingatkan bahwa teknologi bukan sekadar alat netral, melainkan sebuah cara manusia mengungkap dan memahami dunia, yang dalam bentuk modern justru bisa mereduksi makna menjadi sekadar komoditas yang siap digunakan tanpa refleksi mendalam (Fakhrurozi, 2024) Konsep Gestell atau enfarming yang diperkenalkan Martin Heidegger menggambarkan pola pikir teknologi modern yang memandang dunia beserta isisnya sebagai “sumber daya” yang dapat dimanfaatkan. Dalam pandangan ini, teknologi bukan sekadar perangkat netral, melainkan sebuah kerangka yang secara tidak disadari membentuk cara manusia mempersepsikan dan berinteraksi dengan realitas (Setyo, 2021). Segala sesuatu yang ada, termasuk informasi, dipandang dalam kerangka utilitas da efisiensi. Dalam konteks mahasiswa di era digital, konsep ini relevan untuk memahami kecenderungan pencarian informasi yang sering kali terjebak dalam pola pikir instan, pragmatis, dan terarah pada hasil yang cepat, sehingga mengubah aktivitas pencarian informasi dari aktivitas reflektif menjadi konsumsi data yang bersifat mekanistik dan dangkal. Penelitian yang menghubungkan teori filsafat terutama filsafat teknologi dengan perilaku informasi masih relatif terbatas. Sementara, pemahaman mendalam tentang bagaimana struktur teknologi modern memengaruhi pola pencarian dan pemahaman informasi oleh individu, terutama mahasiswa yang relevan di era dominasi digital. Hingga saat ini, belum banyak penelitian yang secara kritis mengkaji dampak kerangka berpikir teknologi terhadap perilaku informasi mahasiswa dari aspek kognitif, emosional, amupun filosofis. Sehingga hal tersebut dapat membuka ruang penting untuk eksplorasi interdisipliner yang dapat memperkaya kajian mengenai pemahaman perilaku informasi dengan pendekatan reflektif dan kritis terhadap peran teknologi dalam membentuk pola pencarian dan pemaknaan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku pencarian informasi mahasiswa di era digital dengan fokus pada bagaimana teknologi berperan sebagai alat, melainkan sebagai struktur yang membentuk pola pikir dan tindakan dalam aktivitas pencarian informasi. Dalam konteks ini, teknologi tidak lagi bersifat netral, tetapi secara aktif membentuk preferensi, pola, serta kedalaman pemahaman informasi yang diakses mahasiswa. Dengan menerapkan kerangka teori Gestell dari Martin Heidegger, perilaku pencarian informasi dipahami sebagai bagian dari cara manusia yang telah “terbingkai” oleh logika efisiensi dan kecepatan, sehingga informasi cenderung diperlakukan speerti objek siap pakai yang kehilangan dimensi maknanya. Kajian ini menyajika pendekatan filosofis untuk memahami bagaimana teknologi secara mendasar memengaruhi relasi mahasiswa dengan informasi di era digital.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami secara mendalam pengalaman mahasiswa dalam proses pencarian informasi akademik di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Metode ini dipilih karena dapat memberikan makna subjektif, persepsi, dan refleksi mahasiswa terhadap realitas yang dibentuk oleh teknologi digital. Dalam metode kualitatif, data dikumpulkan secara alami dari lingkungan pasrtisipan dan dianalisis secara induktif untuk mengungkap pola dan tema makna berdasarkan perspektif subjek penelitian (Abdullah, 2024). Jenis pendekatan kualitatif yang digunakan adalah studi kasus, (Creswell & J. David Creswell, 2018) menjelaskan bahwa studi kasus merupakan strategi dalam pendekatan kualitatif yang memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi suatu fenomena secara intensif dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika hubungan antara fenomena yang diteliti dan lingkungannya bersifat kompleks dan tidak mudah dipisahka. Teori Gestell dari Martin Heidegger digunakan sebagai kerangka konseptual untuk memahami bagaimana teknologi tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai kekuatan yang membingkai cara manusia mengakses dan memaknai informasi. Para partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif dari berbagai kampus, baik negeri maupun swasta yang secara rutin menggunakan teknologi digital dalam kegiatan pencarian informasi akademik, seperti Google Scholar, perpustakaan digital, media sosial edukatif, maupun AI (Artificial Intelligence) dengan pemilihan responden menggunaka purposive sampling sebanyak 25 orang. Menurut Dana P. Turner (2020) dalam (Sampoerna, 2022), purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang digunakan setelah peneliti memiliki target individu yang memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terbuka yang bersifat deskriptif yang disebarkan secara online melalui Google Form denga tujuan menggali pemahaman mahasiswa terkait kebiasaan mereka dalam mencari informasi, tingkat ketergantungan terhadap adanya pembingkaian infromasi oleh teknologi, seperti dijelaskan dalam konsep Gestell Martin Heidegger. Pengisian kuesioner berlangsung selama dua minggu, mulai tanggal 21 Mei hingga 4 Juni 2025. Rentang waktu ini memberikan fleksibelitas untuk melakukan eksplorasi respon responden secara lebih mendalam. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui analisis tematik, menurut (Braun & Clarke, 2006) analisis tematik merupakan suatu metode yang memungkinkan peneliti mengeksplorasi dan memahami pola-pola makna yang muncul dari pengalaman informan. Proses ini dimulai dengan pembacaan mendalam terhadap seluruh data, kemudian dilanjutkan dengan tahap open coding untuk mengidentfikasi poin-poin kunci dan axial coding untuk menyusun tema-tema yang lebih komprehensif. Untuk menjaga akurasi interpretasi, dilakukan konfirmasi silang (member check) dengan para partisipan untuk memastikan bahwa pemaknaan data sesuai dengan apa yang mereka maksud. Temuan penelitian kemudian dikaji melalui lensa konsep Gestell untuk memahami pembingkaian teknologi dalam membentuk cara mahasiswa mengakses dan memahami.

Result & Discussion

Hasil analisis data dilakukan dengan dua tahap utama, yaitu open coding dan axial coding. Pada tahap open coding, dilakukan identifikasi dan penafsiran makna dari jawaban responden secara terbuka dan menghasilkan sejumlah kata kunci penting yang mencerminkan karakteristik perilaku pencarian informasi mahasiswa di era digital, yang kemudian dikelompkka berdasarkan tema dan makna yang berulang. Analisis dilanjutkan pada tahap axial coding untuk menghubungkan kategori-kategori tersebut ke dalam struktur yang lebih konseptual, di mana ditemukan enam tema utama yang menggambarkan bagaimana mahasiswa mengalami, merespons, dan memaknai teknologi dalam aktivitas pencarian informasi. Tabel 1. Axial Coding Nomor Kode Kategori Kata kunci 1. Strategi Pencarian Informasi 2. Kriteria Peniliain Informasi 3. Efisiensi danDampak Teknologi 4. Peran Algoritma dan Rekomendasi 5. Otonomi dan Kesadaran Pengguna Google AI Jurnal Online Google Sholar Repository kampus Perpustakaan digital Kredibelitas ReputasiSumber Referensi Peer-review Relevansi Keakuratan Isi Artikel Cepat Instan Hemat Waktu Lebih Praktis Efisien Tidak Perlu ke Perpustakaan Diarahkan Eksplorasi Terbatas Filter Bubble Kontrol Terbatas Rekomendasi Membantu Memiliki Kontrol Menyaring Informasi Eksploratif Selektif Tidak Merasa ditur 6. Harapan Terhadap Teknologi Sistem Pencarian Cerdas NLP (Natural Language Processing) Akses Gratis Legalitas Informasi Teknologi Adaptif Setelah menentukan kategori berdasarkan kegiatan perilaku pencarian informasi yang dilakukan mahasiswa di era digital, selanjutnya dilakukan analisis distribusi frekuensi. Hasil menunjukkan kategori strategi pencarian informasi memiliki persentase sebesar 100%. Lalu kategori kriteria penilian informasi memiliki persentase sebesar 88%. Selanjutnya, kategori efisiensi dan dampak teknologi memiliki persentase sebesar 84%. Sementara, kategori otonomi dan kesadaran pengguna memiliki persentase sebesar 80% dan kategori peran algoritma dan rekomendasi memiliki persentase sebesr 76%. Terakhir, kategori harapan terhadap teknologi memiliki persentase sebesar 72%. Gambar 1. Persentase Distribusi Frekuensi Perilaku Pencarian Informasi Strategi Pencarian Informasi Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh responden sebesar 100% telah mengadopsi strategi pencarian informasi berbasis digital, dengan dominasi penggunaan Google, jurnal online, dan platform AI seperti ChatGPT. Fenomena ini sejalan dengan temuan penelitian sistematis yang dilakukan oleh (Tinmaz et al., 2022) menunjukkan prevalensi yang terus meningkat dalam artikel-artikel digital. Tranformasi ini mengindikasikan terjadinya pergeseran paradigm fundamental dalam perilaku pencarian informasi akademik mahasiswa, di mana akses fisik ke perpustakaan semakin terpinggirkan oleh kemudahan akses digital. Perubahan ini tidak hanya bersifat teknik, tetapi juga mencerminkan evolusi budaya literasi akademik yang lebih luas. Studi yang dilakukan oleh (Bak et al., 2022) pada mahasiswa di Denmark selama pandemic COVID-19 menunjukkan bahwa 59,9% mahasiswa memiliki literasi kesehatan digital yang memadai, yang mengkonfirmasi kemampuan adaptasi mahasiswa terhadap lingkungan digital. Mahasiswa sekarang menggunakan strategi multi-platform yang menggabungkan mesin pencari (search engine) dengan teknologi AI generatif, sehingga menciptakan ekosistem pencarian informasi semakin kompleks dan personal. Kriteria Penilaian Informasi Persentase 88% responden memperhatikan kredibelitas sumber, reputasi penulis, dan relevansi isi menunjukkan perkembangan literasi informasi yang signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Ikapraja et al., 2025) pada mahasiswa Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan yang menilai keterampilan informasi dan perilaku pencarian informasi mahasiswa. Kesadaran kritis ini menjadi semakin penting dalam konteks proliferasi digital yang tidak terkurasi. Kemampuan mahasiswa untuk menerapkan kriteria evaluative terhadap sumber informasi digital mencerminkan evolusi keterampilan metakognitif dalam lingkungan informasi yang semakin kompleks. Mereka tidak lagi menjadi konsumen pasif informasi, tetapi telah mengembangkan kapasitas untuk melakukan triangulasi sumber, memverifikasi kredibelitas, dan menilai relevansi konten terhadap kebutuhan akademik spesifik mereka. Efsiensi dan Dampak Teknologi Mayoritas responden sebanyak 84% menyatakan bahwa teknologi memberikan efisiensi, kecepatan, dan fleksibelitas dalam pencarian informasi. Penelitian yang dilakukan oleh (Miraj et al., 2021) menunjukkan bahwa perilaku pencarian informasi, teknologi esensial, dan resiliensi dapat meningkatkan performa akademik mahasiswa. Namin, efisiensi ini juga menciptakan ketergantungan yang mendalam terhadap infrastruktur digital. Transformasi pola belajar dari model kolektif fisik menuju individual-digital telah mengubah dinamika fundamental dalam proses perolehan pengetahuan. Mahasiswa saat ini mengalami personalisasi pembelajaran yang belum pernah ada sebelumnya, di mana setiap individu dapat mengakses informasi sesuai dengan gaya belajar, preferensi temporal, dan kebutuhan spesifik mereka. Namun, kemudahan ini juga menimbulkan risiko isolasi intelektual dan penurunan kemampuan kolaboratif dalam kontruksi pengetahuan. Otonomi danKesadaran Pengguna Hasil bahwa sebanyak 80% responden merasa memiliki control penuh atas pilihan informasi meskipun menyadari pengaruh halus teknologi, menunjukkan tingkat kesadaran metakognitif yang tinggi. Kesadaran ini mencerminkan kemampuan reflektif mahasiswa dalam mengenali dan mengelola interaksi mereka dengan sistem digital. Mereka tidak sepenuhnya pasif terhadap mekanisme algoritmik, tetapi mengembangkan strategi resistensi dan diversifikasi untuk mempertahankan otonomi intelektual. Fenomena ini menunjukkan munculnya literasi algoritmik di kalangan mahasiswa, di mana mereka mulai memahami bagamimana sistem rekomendasi dan pencarian bekerja, serta mengembangkan taktik untuk mengatasi potensial bias dan limitasi yang mungkin muncul. Kesadaran ini menjadi kunci dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis dalam era digital yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan. PeranAlgoritma danRekomendasi Pengakuan 76% responden tehadap peran algoritma dalam membantu pencarian, serta menyadari potensi pembatasan yang ditimbulkannya, mengindikasikan kompleksitas hubungan manusiamesin dalam konteks akademik. Penelitia mengenai bias algoritmik dalam pendidikan yang dilakukan oleh (Baker & Hawn, 2022) menunjukkan perlunya pemahaman mendalam tentang dampak konkret bias algoritmik terhadap berbagai kelompok sistem pendidikan. Mahasiswa mengalami ketegangan antara kenyamanan yang ditawarkan oleh sistem rekomendasi dan kebutuhan untuk mempertahankan kebebasan eksplorasi intelektual. Beberapa responden bahkan mengembangkan strategi aktif untuk menantang algoritma dengan menggunakan kata kunci alternatif dan diverifikasi platform. Hal ini menunjukkan kemunculan resistensi kreatif filter bubble dan echo chamber yang dapat membatasi spektrum informasi yang diakses. Harapan Terhadap Teknologi Harapan 72% responden terhadap pengembangan fitur seperti penyaringan otomatis, NLP, dan akses jurnal yang legal dan gratis mencerminkan kesadaran akan pentingnya keadilan informasi dalam dunia akademik. Mahasiswa tidak hanya menginginkan kemajuan teknologi yang meningkatakan efisiensi, tetapi juga mengadvokasi prinsip-prinsip etis dalam desain dan implementasi sistem informasi. Ekspetasi terhadap aksesibilitas jurnal ilmiah yang legal dan gratis menunjukkan kesadaran mahasiswa tentang isu ketimpangan akses informasi dalam sistem akademik global. Mereka menginginkan demokratisasi pengetahuan yang memungkinkan akses equitable terhadap sumber-sumber ilmiah berkualitas tinggi, terlepas dari status ekonomi atau afiliasi institusional. Harapan ini juga mencakup pengembangan teknologi NLP yang dapat membantu dalam sintesis dan analisis informasi kompleks, serta tetap mempertahakan integritas akademik dan menghindari plagiarisme. Temuan mengenai dominasi total strategi pencarian digital seluruh responden mengungkap fenomena yang secara filosofis dapat dipahami melalui konsep Gestell Martin Heidegger. Gestell yang diterjemahkan sebagai “enfarming” atau kerangka kerja, bukan sekadar teknologi sebagai alat, melainkan cara fundamental bagaimana realitas diungkapkan dan dipahami dalam era modern (Setyo, 2021). Dalam konteks pencarian informasi akademik, mahasiswa tidak lagi menggunakan teknologi digital sebagai instrument eksternal, tetapi telah mengalami transformasi ontologism di mana cara berada (dasein) mereka dalam dunia informasi sepenuhnya dibentuk oleh struktur digital. Penelitian yang dilakukan (Brito et al., 2021) menunjukkan bahwa filosofi teknologi Heidegger memiliki relevansi dan potensi emansipatoris dalam bidang pendidikan. Fenomena Gestell dalam konteks pencarian informasi mahasiswa tidak hanya mengubah bagaiaman mereka mencari, tetapi secara fundamental mengubah apa yang mereka pahami sebegai informasi “informasi” dan “pengetahuan”itu sendiri. Google, jurnal online, dan AI seperti ChatGPT bukanlagi alat yang digunakan, melainkan telah menjadi horizon ontologism yang menentukan kemungkinankemungkinan akses terhadap kebenaran akademik. Sebagian besar responden memperhatikan kredibelitas sumber menunjukkan paradox fundamental dalam Gestell digital. Di satu sisi, mahasiswa mengembangkan kesadaran kritis, namun di sisi lain, kriteria penilaian mereka tetap terbatas pada parameter yang telah ditentukan oleh kerangka kerja teknologi itu sendiri. Kredibelitas, relevansi, da reputasi penulis menjadi kategori-kategori yang tidak lagi muncul dari refleksi fenomenologis autentik, melainkan dari algoritma dan sistem rating yang telah terpre-struktur. Dalam terminologi Heidegger, mahasiswa mengalami kondisi throwness (geworfenheit) dalam dunia digital yag tiak mereka pilih, namun sekaligus mengembangkan resoluteness (entschlossenheit) melalui kesadaran kritis mereka. Namun, resolusi ini tetap berada dalam batas-batas yang ditentukan oleh Gestell teknologi, sehingga kebebasan mereka paradoksnya menjadi “kebebasan yang terkurung” dalam kerangka kerja yang ditentunkan sebelumnya (Villadsen, 2024) Dominasi efisiensi dan kecepatan yang diungkapkan oleh sebagian besar responden mencerminkan transformasi temporal dalam cara berada mahasiswa. Dalam analisis Heidegger tentang teknologi modern, Gestell tidak hanya mengubah relasi dengan objek, tetapi juga dengan waktu itu sendiri. Pencarian informasi yang sebelumnya memerlukan waktu kontemplasi, menelusuri koleksi fisik di perpustakaan, dan proses penemuan yang organik, saat ini digantikan oleh logika instan gratifikasi (instant gratification logic) dan optimisasi efisiensi (efficiency optimization). Studi yang dilakukan oleh (Menon, 2024) menunjukkan bahwa teknologi digital telah menciptakan ruang-ruang baru, realitas baru, dan cara hidup baru yang mengubah cara manusia mempersepsi dan mengenali dunia, khususnya dalam produksi, diseminasi, dan resepsi literatur. Transformasi temporal ini bukan hanya mengalami durasi, antisipasi, dan refleksi. Waktu menjadi ruang untuk berada (dwelling) dan refleksi mendalam (authentic thinking) yang harus dioptimalkan, bukan sekadar sarana, tetapi medium untk memahami keberadaan manusia secara nyata. Sebanyak 80% responden merasa memiliki kontrol penuh sembari menyadari pengaruh teknologi mengungkap apa yang disebut sebagai “otonomi ilusi” dalam Gestell digital. Heidegger memperingatkan bahwa teknologi modern menciptakan ilusi penguasaan, di mana manusia merasa mengontrol teknologi padahal sebenarnya telah dikuasai oleh logika teknologi itu sendiri (Irwin, 2020). Dalam konteks pencarian informasi, mahasiswa mengalami agen semu (pseudo agency), mereka merasa memilih informasi secara bebas, padahal piliha mereka telah di pra-struktur oleh algoritma, filter bubble, dan sistem rekomendasi (Wulandari et al., 2021). Kesadaran 76% responden tentang pengaruh algoritma menunjukkan tingkat kecanggihan Gestell kontemporer, di mana sistem tidak lagi menyamarkan operasinya, melainka menjadi transparasi sebagai bagian dari mekanisme control yang lebih luas. Harapan sebagian besar mahasiswa terhadap pengembangan teknologi yang lebih canggih mengindikasikan apa yang Heidegger sebut sebagai hilangnya thaumazein dalam pengalaman epsitemik. Mahasiswa tidak lagi mengalami pencarian informasi sebagai petualangan eksistensial dan pertemuan dengan hal-hal tak terduga. Sebaliknya, mereka mengharapkan sistem yang semakin efisien dalam menyediakan informasi yang relevan, yang pada dasarnya adalah reduksi proses pembelajaran menjadi cara menyelesaikan masalah secara praktis, bukan lagi sebagai pengalaman memahami dunia. Penelitian yang dilakukan (Huttunen & Kakkori, 2022) mengenai kritik Heidegger terhadap teknologi dan imperatif ekologis pendidikan menunjukkan perlunya pemahaman mendalam tentang bagaimana teknologi mempengaruhi cara kita memahami dunia. Dalam konteks ini, harapan mahasiswa terhadap NLP dan akses jurnal gratis, meskipun tampak progresif, tetap beroperasi dalam logika standing reserve (bestand), di mana pengetahuan dipaahmi sebagai referensi yang harus diakses dan dikonsumsi secara optimal. Meskipun analisis Heideggerian terhadap Gestell tampak pesimistis, beberapa indikasi dalam temuan penelitian menunjukkan kemungkinan untuk apa yang Heidegger sebut sebagai cara berpikir yang autentik. Kesadaran kritis semacam ini membuka kemungkinan untuk mencapai apa yang dalam filsafat Heidegger sebagai “Galessenheit” yaitu suatu sikap batin dimana kita bisa berdamai dari dominasi teknologi. Namun, resistensi ini harus dipahami bukan sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai pengembangan relasi yang lebih mediatif dan reflektif dengan teknologi. Dalam konteks pendidikan, ini berarti mengembangkan pedagogi yang tidak hanya mengajarkan literasi digtal sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai praktik filosofis yang melibatkan refleksi mendalam tentang relasi antara manusia, teknologi, dan kebenaran (Aroles & Küpers, 2022). Penelitian ini mengindikasi perlunya transformasi fundamental dalam pendekatan pendidikan tinggi terhadap teknologi. Saai ini, institusi pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknis cara menggunakan perangkat digital. Yang lebih penting adalah mengembangkan kebijaksanaan digital (digital wisdom) yaitu kemampuan untuk hidup secara autentik dalam dunia yang sudah sepenuhnya dipengaruhi teknologi. Studi yang dilakukan oleh (Luhmann & Burghardt, 2022) tentang digital humanities menunjukkan pentingnya menemukan keseimbangan yang tetap antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian humaniora. Hal ini memerlukan pengembangan kurikulum yang tidak hanya fokus pada kemampuan teknis dan efisiensi, tetapi juga membangun keterampilan kontemplasi, refleksi kritis, dan pengalaman langsung dengan perbedaan dalam proses pembelajaran. Mahasiswa harus dilatih untuk tidak hanya menggunakan teknologi yang canggih, tetapi juga menjadi pemikir yang mampu mempertanyakan asumsi-asumsi fundamental yang tertanam dalam Gestell digital kontemporer.

Conclusion

Penelitian ini mengungkap bahwa transformasi digital dalam pencarian informasi akademik telah mencapai saturasi total yaitu 100% responden dengan dominasi Google, jurnal online, dan Ai generatif. Melalui analisis filosofis Gestell Heidegger, fenomena ini bukan sekadar perubahan metodologis, melainkan transformasi ontologism fundamental dalam cara mahasiswa berada dalam dunia akademik. Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai alat, tetapi telah menjadi kerangka kerja yang mengkondisikan kemungkinan-kemungkinan akses terhadap pengetahuan. Paradoks utama yang terungkap adalah meskipun mayoritas mahasiswa (88%) menunjukkan kesadaran kritis dalam mengevaluasi kredibelitas sumber dan mengklaim otonomi dalam pemilihan informasi (80%), mereka sebenarnya telah terjerat dalam apa yang Heidegger sebut dengan Gestell, kerangka kerja teknologi yang secara halus namun total mengkondisikan kemungkinan-kemungkinan akses mereka terhadap pengetahuan. Efisiensi dan kecepatan yang dijadikan parameter utama, sebanyak 84% mencerminkan reduksi temporal dari durasi kontemplatif menjadi optimasi instan, mengubah esensi pembelajaran dari dwelling eksistentsial menjadi konsumsi informasi instrumental. Implikasi teoritis menunjukkan perlunya transformasi fundamental terhadap literasi digital dalam pendidikan tinggi. Literasi digital tidak dapat lagi dipahami sekadar sebagai kompetensi teknis atau bahkan kemampuan evaluasi kritis, melainkan harus dikembangkan sebagai praktik filosofis yang melibatkan refleksi mendalam tentang relasi antara manusia, teknologi, dan kebenaran. Harapan mahasiswa terhadap pengembangan teknologi yang lebih canggih, sebanyak 72% menunjukkan bahwa mereka telah sepenuhnya terinternalisasi dalam logika standing reserve, di mana pengetahuan dipahami sebagai referensi yang harus diakses dan dioptimalkan secara efisien. Kontribusi utama penelitian ini adalah pemahaman bahwa era digital tidak hanya mengubah cara akses informasi, tetapi secara fundamental mengubah konsepsi “informasi”, “pengetahuan”, dan “pembelajaran” itu sendiri. Tantangan ke depan adalah mengembangkan pendekatan pendidikan yang memanfaatkan potensi transformatif teknologi digital sembari mempertahankan dimensi humanistik dan eksistensial fundamental dalam proses pembelajaran dan kontruksi pengetahuan.