Kembali
16
1
2024 Pabukon: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 1 ISSN PBK

Pengelolaan Koleksi Berdasarkan Standarisasi Museum yang Baik dan Benar

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Sebuah museum dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik jika sudah sesuai dengan standar museum yang ada. Di antara standar tersebut dalam sebuah museum harus terdapat seorang register, kurator, konservator, preparator, dan edukator untuk mengelola koleksi yang ada di dalam museum. Dengan adanya kelima aspek tersebut pengelolaan koleksi di sebuah museum dapat dilakukan secara baik mulai dari registrasi, inventaris, klasifikasi, penataan, perawatan, hingga pemberian edukasi tentang sebuah koleksi pada pengunjung. Museum Pendidikan Nasional sendiri terhitung sudah memiliki kualitas yang baik karena sudah sesuai standar dengan memiliki kelima aspek tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pengelolaan koleksi di Museum Pendidikan Nasional sudah sesuai dengan standar yang ada dan bagaimana proses dalam pengelolaan koleksinya itu sendiri dengan penanggung jawab yang sudah ada di setiap bidangnya. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang disertai dengan studi lapangan, studi pustaka, dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Museum Pendidikan Nasional telah memiliki kualitas yang baik karena kelima aspek yang menjadi standar museum sudah ada dan proses pengelolaannya pun masih dilakukan secara manual walaupun sudah mulai dilakukan digitalisasi.

Abstract

A museum can be said to have good quality if it complies with existing museum standards. Among these standards, a museum must have a registrar, curator, conservator, preparator and educator to manage the collections in the museum. With these five aspects, collection management in a museum can be carried out properly, starting from registration, inventory, classification, arrangement, maintenance, to providing education about a collection to visitors. The National Education Museum itself is considered to have good quality because it meets standards by having these five aspects. This research was conducted to find out whether the collection management at the National Education Museum is in accordance with existing standards and what the process is for managing the collection itself with the people in charge in each field. The research method used is a qualitative method accompanied by field studies, literature studies and semi-structured interviews. The results of this research show that the National Education Museum has good quality because the five aspects that are museum standards already exist and the management process is still carried out manually even though digitization has begun.
Keywords: Collection · Museum · Education · Management

Introduction

Museum Pendidikan Nasional atau MPN merupakan museum yang bersifat khusus dengan menyajikan koleksi peninggalan para pejuang Bandung Utara dan peninggalan masa lalu tentang pendidikan guna menunjang sarana pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Latar belakang pembangunan Museum Pendidikan Nasional sendiri merupakan salah satu bentuk tanggung jawab UPI sebagai perguruan tinggi yang memiliki kepedulian pada kelestarian warisan sejarah budaya bangsa khususnya di bidang Pendidikan. Museum ini diresmikan bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2015. Sebagaimana telah diketahui menurut Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015 tentang museum, museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat (administor, 2019) Koleksi yang ada di Museum Pendidikan Nasional terbagi pada empat lantai, yang mana di setiap lantainya berisikan tema yang berbeda dengan lantai lainnya. Di antaranya terdapat ruang audio visual dan ruang pendidikan zaman klasik di lantai pertama, ruang perkembangan pendidikan Indonesia di lantai dua, ruang sejarah pendidikan guru dan sejarah guru di lantai tiga, serta ruang sejarah perjalanan UPI di lantai empat. Seperti yang dijelaskan oleh Ibu Meisa Fitriani yang merupakan staf pengadministrasian umum, di ruangan-ruangan tersebut diisi dengan koleksi yang memiliki beberapa bentuk, di antaranya diorama, artefak, replika, buku, dan lukisan yang berhubungan dengan Sejarah Pendidikan di Indonesia. Sebuah museum sendiri harus memiliki lima komponen penting di dalamnya, yaitu register atau petugas teknis yang melakukan kegiatan pencatatan dan pendokumentasian koleksi, kurator atau petugas teknis yang bertanggung jawab dalam pengelolaan koleksi museum, konservator atau petugas teknis yang melakukan kegiatan pemeliharaan dan perawatan koleksi, preparator atau petugas teknis yang melakukan kegiatan perancangan dan penataan di museum, dan edukator atau petugas teknis yang melakukan kegiatan edukasi dan penyampaian informasi koleksi. Dengan adanya kelima komponen tersebut barulah sebuah museum dapat dikatakan berkualitas karena memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mengelola museum. Setelah melakukan penelusuran literatur, ditemukan sejumlah penelitian terdahulu yang sesuai dengan topik penelitian ini. Salah satunya ialah penelitian yang dilakukan oleh Herdina dan Fariz dengan judul, “Pengelolaan Koleksi Museum Wayang Kekayon Sebagai Ruang Pelestarian Seni Budaya” pada (2022). Teknik dalam pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara semiterstruktur dan observasi lapangan, dengan tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana Museum Wayang Kekayon mengelola koleksinya sebagai bentuk pelestarian budaya serta warisan budaya yang ada. Selain itu adapun penelitian yang dilakukan oleh Abima dengan judul, “Penyimpanan Koleksi Museum Dalam Rangka Kegiatan Preservasi Di Museum Pos Bandung” pada (2023). Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pun merupakan observasi serta kajian literatur, dengan tujuan mengetahui apa itu preservasi, konservasi, dan restorasi, serta bagaimana terjadinya kegiatan tersebut. Pentingnya pengelolaan pada koleksi museum tidak dapat disangkal lagi. Koleksi yang merupakan sebuah objek untuk penyampaian informasi haruslah memiliki tampilan yang menarik dan terjaga agar pengunjung menaruh minat pada pengetahuan yang akan didapatkan dari koleksi-koleksi tersebut. Karena itulah pengklasifikasian, registrasi dan inventaris, serta pemeliharaan koleksi harus diperhatikan agar koleksi yang ada memiliki kualitas yang baik dan sesuai dengan standar yang ada. Oleh karena itu, pengelolaan koleksi museum yang efektif merupakan aspek yang penting sebagai upaya meningkatkan kualitas sebuah museum agar dapat menjadi ruang publik yang dapat memberikan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Method

Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi lapangan, studi pustaka, dan wawancara semi-terstruktur. Menurut Darmalaksana (2020) dalam jurnal Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan, studi pustaka dan studi lapangan merupakan suatu kegiatan menghimpun sumber kepustakaan, baik primer maupun sekunder. Studi lapangan sendiri dilakukan untuk lebih mengenal bagaimana keadaan dan kondisi Museum Pendidikan Nasional sebagai museum Pendidikan. Wawancara semi terstruktur dilakukan dengan tujuan memberikan peluang kemungkinan pertanyaan baru muncul karena jawaban yang diberikan oleh narasumber sehingga selama sesi berlangsung penggalian informasi dapat dilakukan lebih mendalam (Frey, 2022). Objek penelitian ini adalah Museum Pendidikan Nasional yang beralamatkan di Jl. Setiabudhi No. 229, Kel. Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40154. Dengan pelaksanaan penelitian pada tanggal 28 Mei 2024 dan 11 Juni 2024. Adapun alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu daftar pertanyaan, mewawancarai narasumber, perekaman suara, serta dokumentasi berupa foto. Penelitian dimulai dengan pengumpulan data dan penganalisisan data yang dilakukan dengan melakukan wawancara bersama narasumber, yaitu Ibu Meisa Fitriani, S.Par. yang merupakan staf pengadministrasian umum di Museum Pendidikan Nasional dan Bapak H. Moch. Eryk Kamsori, S.Pd. yang merupakan seorang kurator koleksi di Museum Pendidikan Nasional. Data yang didapat dari wawancara nantinya akan dianalisis dengan teori-teori yang didapat dari penelitian sebelumnya.

Result & Discussion

Registrasi dan Investasi Koleksi Museum Pendidikan Nasional Koleksi yang ada di Museum Pendidikan Nasional terdiri dari 20% koleksi asli yang didapatkan dengan cara hibah maupun beli dan 80% koleksi replika yang dibuat sendiri dengan melakukan kolaborasi Bersama mahasiswa Fakultas Seni UPI. Koleksi asli sendiri kebanyakan berupa senjata yang dihibahkan oleh keluarga untuk disimpan di Museum, sedangkan koleksi asli yang dibeli berupa tulisan pada bambu lontar yang dibeli dari sebuah keluarga di Indramayu. Untuk koleksi replika di antaranya adalah replika manusia prasejarah, patung-patung baik itu dewa, ataupun manusia, dan miniatur bangunanan. Dalam awal penanganan koleksi yang resmi masuk ke dalam museum dilakukan yang namanya registrasi. Registrasi merupakan suatu kegiatan pencatatan tentang koleksi museum yang sangat diperlukan untuk penelitian lebih lanjut karena merupakan sumber informasi awal dari benda koleksi tersebut (Suroso, 1994). Kegiatan registrasi dilakukan oleh register dengan pencatatan pada buku besar atau buku registrasi koleksi yang berformatkan nomor registrasi, nomor inventaris, nama koleksi umum maupun khusus, uraian singkat mengenai koleksi, tempat pembuatan koleksi, tempat perolehan koleksi, cara perolehan koleksi, ukuran koleksi, tanggal/tahun masuk koleksi, harga koleksi jika dibeli, dan keterangan koleksi sebagaimana format yang sudah ditentukan pada buku Pedoman Buku Registrasi, Buku Induk Inventaris dan Buku Inventaris Koleksi Museum di Indonesia. Gambar 1. Buku Registrasi Koleksi Museum Pendidikan Nasional. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Seperti yang diketahui pencatatan registrasi dilakukan secara manual dengan pengisian nomor registrasi yang dilakukan secara urut masuknya koleksi ke museum. Dan apabila koleksi tersebut merupakan satu perangkat/set/konteks maka penulisan nomor registrasi di belakang nomor urut masuknya koleksi tersebut kemudian diberi tanda jumlah benda dalam satu perangkat/set/konteks. Selanjutnya ada kegiatan pencatatan inventaris yang mana terdiri pada pencatatan di buku induk inventaris koleksi dan buku inventaris koleksi. Kegiatan ini dilakukan oleh koordinator koleksi untuk mengetahui jenis dan jumlah koleksi museum, memudahkan pemanfaatan koleksi untuk penelitian dan penyebarluasan informasi, sebagai bahan pertimbangan untuk pengadaan koleksi lebih lanjut, dan untuk mempermudah pelacakan bila terjadi kehilangan koleksi (Suroso, 1994). Isi dari buku induk inventaris koleksi memiliki format yang sama dengan buku registrasi, yang membedakan adalah pada format buku inventaris koleksi terdapat kolom harga sedangkan dalam buku induk inventaris koleksi maupun buku inventaris koleksi tidak terdapat kolom harga. Selain itu buku inventaris koleksi memiliki format tambahan berupa nomor inventaris, dan kode sub jenis koleksi di awal formatnya. Selebihnya format dari buku inventaris koleksi sama dengan format buku registrasi. Pengisian nomor inventaris sendiri ditulis dengan nomor yang diperoleh dari bagian koleksi. Gambar 2. Isi Buku Registrasi Koleksi Museum Pendidikan Nasional. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Setelah pencatatan selesai semua koleksi harus diberikan nomor yang sama dengan nomor koleksi yang tertera pada buku induk inventaris. Penomoran dilakukan dengan nomor yang dituliskan pada koleksi terdiri dari dua unsur yaitu kode jenis dan nomor urut koleksi tersebut daman jenis koleksinya. Dan jika suatu koleksi merupakan satu perangkat/set/konteks, kama untuk pemberian nomor masing-masing koleksi harus tetap menunjukan berasa dari satu perangkat/set/konteks. Dari semua data tentang koleksi yang sudah ada, nantinya akan disimpan sebagai arsip atau database museum yang berbentuk konvensional barulah nantinya database akan diubah menjadi digitalisasi setelah semua data konvensionalnya lengkap. Penyimpanan database dalam bentuk digitalisasi sendiri baru dilakukan oleh Museum Pendidikan Nasional sejak tahun 2022 oleh karena itu pengalihan database dari konvensional menjadi digitalisasi sendiri masih dalam tahap proses. Di masa yang sudah memasuki segalanya menjadi digitalisasi ini membuat museum harus melakukan terobosan terbaru untuk mendigitalisasikan semua data, baik itu data registrasi maupun inventaris, sehingga tidak tertinggal oleh zaman. Kegiatan digitalisasi pada arsip pun dapat menghasilkan keefisien dan efektifnya produktivitas museum dalam kegiatan registrasi serta inventarisasi di museum. Selain itu melakukan digitalisasi pada data pun mempermudah register dalam melakukan pekerjaannya baik dalam meng-input data maupun mencari kembali data jika dibutuhkan. Bisa dikatakan peng-input-an data menjadi digitalisasi dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada dokumen karena jika masih dilakukan secara manual nantinya lambat-laun buku besar yang digunakan akan mulai mengalami kerusakan, baik secara alami atau kerusakan karena ketidak sengajaan. Penyimpanan dokumen arsip dalam bentuk digital akan mengurangi resiko kerusakan yang terjadi pada arsip fisik (Indrayani, 2021). Sehingga adanya data registrasi dan inventaris berbentuk fisik maupun digitalisasi ini diharapkan mampu menjadi cara untuk mencegah terjadinya kerusakan atau kehilangan data baik dari yang berbentuk fisik maupun sebaliknya. Klasifikasi dan Penataan Koleksi Museum Pendidikan Nasional Museum Pendidikan Nasional merupakan museum khusus karena mempunyai koleksi penunjang satu cabang keilmuan saja, yaitu mengenai perkembangan kehidupan manusia di Indonesia khususnya dalam ranah pendidikan. Pengkasifikasian koleksi yang ada di Museum Pendidikan Nasional ini sendiri berdasarkan pada tematik dan kronologisnya. Klasifikasi berdasarkan tematik berarti penggolongan koleksi berdasarkan temanya, sedangkan klasifikasi berdasarkan kronologis berarti penggolongan koleksi berdasarkan urutan waktunya. Pengklasifikasian koleksi berdasarkan kronologisnya di Museum Pendidikan Nasional ini diawali dengan masa prasejarah, lalu masuknya Hindu-Budha, masuknya Islam, masuknya Kristen, masa kolonialisme, masa pergerakan, masa kemerdekaan, masa orde baru, dan yang terakhir masa reformasi. Ke depannya akan ada pengklasifikasian baru mengenai UPI kampus masa depan yang berisikan tentang planetarium dan perkembangan mutakhir yang ada, namun sayangnya untuk saat ini pengklasifikasian itu masih dilakukan sehingga pengunjung belum bisa memasuki ruangan yang menyajikan koleksi-koleksi yang terkait. Koleksi-koleksi yang ada di Museum Pendidikan Nasional disebarkan pada empat lantai berdasarkan temanya. Di lantai pertama terdapat koleksi mengenai pendidikan pada masa prasejarah, pendidikan klasik, pendidikan berbasis agama dan pendidikan kolonial. Koleksi yang dipajang disini menceritakan tentang pertumbuhan manusia sejak masa prasejarah hingga masa Sejarah yang dimulai dari koleksi manusia prasejarah, lalu ada arca, miniatur masjid dan gereja, replika alat yang digunakan untuk penyebaran agama, media kegiatan pembelajaran, hingga alat tulis pada masa itu. Gambar 3. Masa masuknya ajaran Hindu-Budha di Indonesia. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Lalu di lantai dua terdapat koleksi mengenai pendidikan zaman kolonial, pendidikan zaman pergerakan nasional, pendidikan zaman pendudukan Jepang, dan pendidikan di masa yang akan datang. Sistem pendidikan pada masa kolonial dan kedudukan Jepang memiliki sistem pendidikan yang bertujuan untuk mendukung kepentingan mereka sendiri, dengan penekanan pada Pendidikan elit pribumi yang hanya mencakup beberapa orang (Anwariyah, 2023). Sedangkan pendidikan pada zaman pergerakan nasional ditandai dengan pendirian Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara yang berperan dalam meningkatkan kualitas mutu Pendidikan SDM bagi generasi bangsa Indonesia (Anisa, 2023). Selain itu di lantai ini pun terdapat koleksi seragam sekolah dari Tingkat SD sampai SMA dari masa ke masanya. Lalu ada pula koleksi ijazah dan rapor dari masa ke masa serta diorama kelas SD sampai SMA dan diorama kelas perguruan tinggi Pendidikan guru yang memperlihatkan bagaimana suasana belajar di dalam kelas dan di luar kelas pada masa itu. Gambar 4. Kondisi kegiatan belajar mengajar pada masa kolonialisme. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Dilanjut pada lantai tiga terdapat koleksi mengenai permainan-permainan tradisional, seperti congklak, egrang, dan otok-otok kapal. Lalu ada alat musik tradisional khas Jawa Barat, seperti angklung dan calung, serta tokoh kesenian sunda. Selain itu ada pula area sejarah Isola dan lontar kabuyutan Indramayu, serta dokumen lainnya. Lontar sendiri merupakan sebuah daun siwalan atau tal yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan (Disbud, 2018). Lontar merupakan kebudayaan Bali yang kemudian diadaptasi oleh daerah-daerah lainnya termasuk Indramayu. Isi dari lontar Indramayu sendiri bermacam-macam, contohnya lontar Legok Indramayu yang berisikan mengenai catatan kependudukan dan aktivitas keseharian di daerah pertanian Wewengkon Suramerta yang ditulis dengan aksara bahasa Jawa dan Arab secara berdampingan. Gambar 5. Lontar Legok Indramayu. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Dan yang terakhir di lantai empat terdapat koleksi mengenai sejarah UPI yang lebih mendetail serta miniatur dari kawasan UPI itu sendiri. di sisi lainnya pun terdapat koleksi senjata-senjata peninggalan pada pejuang terdahulu berupa senjata api, pedang, helm, dan lain sebagainya. Senjata-senjata yang terpajang di sini pun merupakan senjata asli yang masih bisa digunakan dan kebanyakan merupakan hasil hibah dari keluarga maupun peninggalan yang tersimpan di Gedung Isola. Gambar 6. Koleksi senjata di Museum Pendidikan Nasional. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Dalam pengklasifikasian dan penataan koleksi ini kurator dan preparator bekerja sama untuk menata koleksi dengan sebaik mungkin sehingga pengunjung dapat dengan mudah memahami isi dari koleksi yang dipajang. Penataan koleksi berdasarkan tematik dan kronologis membuat koleksi seakan-akan bercerita dengan alur waktu yang maju membuat pengunjung tidak harus ambil pusing mengenai urut waktu yang benar dari koleksi-koleksi yang dipajang, sehingga nantinya tidak akan terjadi miss information antara edukator, yang nantinya akan menjadi pemandu pengunjung dan memberikan penjelasan mengenai koleksi, dengan pengunjung mengenai urut waktu koleksi. Perawatan Koleksi Museum Pendidikan Nasional Setiap koleksi yang ada di museum pasti membutuhkan yang namanya perawatan secara berkala untuk menjaga kebersihan dan kelayakan suatu koleksi sebagai sumber edukasi bagi para pengunjungnya. Tugas perawatan sendiri merupakan tugas dari seorang konservator yang mana nantinya saat proses perawatan konservator akan dibantu oleh office boy atau OB dalam melakukan perawatan koleksi khususnya dalam pembersihan koleksi. Di Museum Pendidikan Nasional sendiri perawatan koleksi yang ada dilakukan secara kontinu dan bersamaan untuk setiap koleksinya. Namun jika memang diperlukan perawatan secara spontan pun akan dilakukan, contohnya untuk koleksi yang dianggap sudah mulai berdebu ataupun koleksi yang rusak maka nantinya akan dibenarkan tanpa harus menunggu waktu perawatan yang sudah ditentukan. Selain itu koleksi yang rusak atau sudah usang pun nantinya akan dipertimbangkan oleh konservator untuk memutuskan apakah koleksi tersebut akan ditangani dengan tindakan mengganti koleksi, atau konsolidasi dan enkapsulasi dengan catatan nantinya tidak ada pengurangan makna pada isi koleksi. Di dalam setiap pembatas kaca terdapat beberapa kantung yang berisikan pengawet untuk menjaga keawetan koleksi yang ada di dalam pembatas kaca. Pengawet-pengawet itu pun selain disimpan di dalam pembatas kaca juga digunakan secara langsung pada beberapa koleksi untuk mengawetkannya. Contohnya manuskrip-manuskrip yang dirasa akan mudah rusak jika tidak menggunakan pengawet, maka akan dilapisi cairan pengawet agar manuskrip tidak mudah rusak selama dipajang. Selain itu temperatur kelembaban dan suhu, serta cahaya pun dijaga agar tidak merusak koleksi yang ada. Dalam proses pengawetan koleksi konservator harus mengetahui jenis dari bahan koleksi tersebut terlebih dahulu. Jenis bahan koleksi museum dapat digolongkan dalam tiga kelompok besar, yaitu koleksi organik, koleksi anorganik, dan koleksi campuran. Hal ini harus diketahui karena setiap koleksi memiliki penanganan yang berbeda-beda sehingga konservator harus tau bagaimana cara penanganan koleksi dari jenis bahan-bahan tertentu. Untuk penanganan koleksi yang memiliki jenis bahan organik seperti kertas, konservator akan melakukan observasi tentang faktor yang mengakibatkan kerusakan pada koleksi sehingga nantinya konservator dapat menentukan apa yang harus dilakukan untuk tindak lanjut penanganan koleksi. Untuk koleksi yang masih dapat ditangani maka akan dilakukan tindakan konsolidasi dan enkapsulasi. Seperti yang dikatakan oleh Pak Raafi, selaku konservator Museum Pendidikan Nasional, dalam sebuah artikel yang dirilis oleh Museum Pendidikan Nasional UPI (Hakim, 2021), ada beberapa alat dan bahan yang digunakan untuk konsolidasi dan enkapsulasi. Alat-alat yang digunakan di antaranya, gelas kimia, magnetic stirrer, mikroskop digital, RH meter digital, digital moisture, PH indicator, dan neraca digital. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan di antaranya, alcohol, aquades, gohsenol, kertas tisu (pengganti japanese tissue paper). Gambar 7. Bahan kimia untuk perawatan koleksi. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Pada koleksi yang berbahan anorganik terdapat beberapa teknik konservasi yang menyesuaikan dengan jenis penyakit atau bentuk kerusakan yang terjadi pada koleksi. Jenis penyakit atau bentuk kerusakan pada koleksi anorganik pun terbagi menjadi tiga golongan, yaitu penyakit biologis (seperti bakteri, fungi, algae, lichens, dan lumut), penyakit kimiawi (seperti karat oksidasi, karat khalorida, karat karbonat, karat sulfida, kristal garam, dan sebagainya), dan kerusakan fisik (seperti retak, pengelokopan, lapuk/rapuh, pecah, patah, gopal, terkikis, dan sebagainya) (Kemendikbud, 1993). Teknik konservasi sendiri dibedakan menjadi dua langkah, yaitu langkah preventif dan langkah kuratif. langkah preventif dilakukan untuk mencegah laju kerusakan pada koleksi museum. Beberapa kerusakan yang mungkin terjadi pada koleksi museum sehingga harus dilakukan preventif, yaitu kerusakan baru, semakin parahnya kerusakan, dan terjadinya percepatan proses kerusakan. Sedangkan langkah kuratif dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada suatu koleksi, serta memperbaiki kerusakan yang terjadi pada koleksi. Penyebab kerusakan yang sering terjadi sehingga mengharuskan dilakukannya kuratif, yaitu debu, kotoran, polutan, noda, deposit, patina, kristal garam, retak, pengelokopan, keropos, terkikis, pecah, patah, dan gopal. Terdapat beberapa hal yang meliputi kegiatan preventif, di antaranya pemeliharaan koleksi atau pengendalian mikroklimatik, pengawetan koleksi, dan reproduksi koleksi. Pertama, dalam pemeliharaan koleksi terdapat kegiatan pengendalian terhadap kelembaban udara menggunakan dehumidifier yang digunakan untuk mengurangi kelembaban udara di dalam museum. Sedangkan alat pemantau kelembaban udara atau hygrometer digunakan agar kelembaban udara tetap berada di kisaran antara 40% - 60% RH. Lalu kegiatan pengendalian terhadap suhu udara pun dilakukan menggunakan air conditioner agar suhu udara tetap berada pada kisaran antara 20°C - 24°C pada termometer. Dan yang terakhir pengaturan terhadap pencahayaan dilakukan untuk penerangan di dalam museum sendiri serta menghindari terjadinya kerusakan pada koleksi. Sumber cahaya yang digunakan untuk penerangan museum pun menggunakan cahaya alami dan cahaya buatan atau lampu. Selain itu ada beberapa unsur cahaya yang dapat merusak koleksi, yaitu radiasi ultraviolet dan intensitas cahaya. Kedua, proses pengawetan koleksi dilakukan untuk memberikan sifat awet pada suatu koleksi. Ada beberapa cara pengawetan dapat dilakukan, yaitu dengan memberikan bahan kimia pengawet, bahan germisida, bahan repellent, bahan inhibitor, bahan stabilisator, bahan penopang, bahan pengisi, dan bahan penguat pada suatu koleksi. Selain itu proses coating pun dapat dilakukan dengan menggunakan bahan pelindung atau pelapis, baik dengan bahan sintetis atau bahan natural pada suatu koleksi. Dan yang terakhir adalah kegiatan reproduksi koleksi yang bertujuan untuk menghindari kehancuran, kerusakan total, atau pencurian terhadap koleksi. Gambar 8. Termometer pengatur suhu ruangan. Sumber: Dokumentasi studi lapangan Sedangkan dalam kegiatan kuratif terdapat dua proses, yaitu perawatan koleksi dan restorasi koleksi. Pada perawatan koleksi, jika terdapat debu pada koleksi maka akan dilakukan pembersihan secara mekanik, kimiawi (menggunakan desaltifikasi), ataupun menggunakan alat perlengkapan di laboratorium serta bahan kemikalia yang direkomendasikan. Sedangkan pada proses restorasi koleksi jika terdapat retak, rapuh atau semacamnya pada koleksi, makan akan dilakukan rekonstruksi, penguatan, pengisian, penambalan, pewarnaan, ataupun konsolidasi sesuai kebutuhan koleksi. Jika kegiatan perawatan koleksi ini dilakukan secara baik dan benar, maka semua koleksi yang ada akan awet dan memiliki kondisi yang baik serta bagus sehingga pengunjung dapat menikmati koleksi dengan nyaman tanpa rasa risi, baik itu karena keadaan koleksi yang mungkin rusak maupun kotor, atau keadaan museum yang kurang nyaman karena kotor maupun tidak rapi.

Conclusion

Museum Pendidikan Nasional merupakan museum yang sudah tergolong pada museum berkualitas baik. Hal ini dikarenakan museum ini memiliki lima aspek penting dalam museum, yaitu register, kurator, konservator, preparator, dan edukator yang akan mengelola museum dari segala aspek sesuai tanggung jawab mereka. Walaupun dalam penyimpanan database baru dilakukan digitalisasi dan pencatatan registrasi serta inventaris masih dilakukan secara manual, semua kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai standar yang ada sehingga tidak ada satupun koleksi yang tidak terdata saat masuk secara resmi. Dalam pengklasifikasian dan penataan koleksi pun sudah baik dan rapi sehingga pengunjung yang datang dapat menikmati koleksi dengan mudah karena sudah tersusun sesuai dengan tema dan kurun waktu terjadinya peristiwa yang koleksi tampilkan. Selain itu keterangan pada koleksi yang menggunakan dua bahasa pun mempermudah pengunjung yang mungkin saja kurang mengerti dengan bahasa Inggris sehingga dapat memahami dengan membaca keterangan berbahasa Indonesia maupun sebaliknya. Dari perawatan koleksi pun dirasa sudah baik karena telah dilakukan secara kontinu juga spontan untuk beberapa koleksi yang dirasa harus mendapatkan perawatan saat itu juga. Perawatan dalam kebersihan koleksi maupun keawetan koleksi yang sudah sesuai standar pun menjadi nilai lebih yang ada di Museum Pendidikan Nasional. Diharapkan ke depannya akan ada lebih banyak lagi staf ahli, seperti register, kurator, konservator, preparator, dan edukator agar dapat mempermudah dalam kegiatan mengelola koleksi yang ada di museum. Selain itu nantinya tenaga ahli pun dapat saling bertukar pikiran untuk mengelola koleksi baik itu dalam segi registrasi dan inventaris, pengklasifikasian, penataan, maupun perawatan koleksi yang dirasa akan sangat membantu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.