Siapkah Perpustakaan·lndonesia· " Menerapkan Teknologi Informasi
Institut Pertanian Bogor; Institut Pertanian Bogor
Introduction
Sampai pada akhir. Pembangunan , , Jangka Panjang tahap J (PJP J) terjadi perkembangan yang· sangat pesat di dunia 'i1mu pengetahuan dan' teknologi. Kemajuan IPTEKini ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi dan 'komputer, terutama sekali pada dasawarsa 90an. Perkembangan' ini sangat berpengaruh terhadap aspekkehidupan manusia ,tak terkecuali di perpustakaan. Kemajuan ini membawa ·pula perubahan pada layanan' 'perpustakaan. Program otomasi perpustakaan mulai menjadi trend perkembangan perpustakaandi Indonesia. Hal ini memang sesuaidengan tuntutan pemakai misalnya: .' 1.' Tuntutan terhadap jumlah dan mutu pelayaan perpustakaan yang semakin meningkat. 2. Tuntutan terhadap penggunaan koleksi bersama. 3. Tuntutan untuk mengefektifkan SOM 4. Tuntutan terhadap efisiensi Waktu. 5. Tuntutan terhadap' keragamaninfonnasi yang dibutuhkan ' 6: Tuntutan akan ketepatan layanan informasi. Namun sejak pertengahan 1997 dimana terjadi krisis ekonomi dan moneter, perkembangan ini agak terhambat khususnya di perpustakaan. Hal ini' karena pengembangan perpustakaanbelum menjadi priOritas utama didalam program pemerintah ataupun swasta. Beberapa perpustakaan tidak lagi memilikidana cukup untuk memelihara perangkat keras dan perangkat lunak mereka. Anggaran perpustakaan dipotong antara 20 sampai 40 persen. Tanpa dipotongpun sebenamya, ariggaran perpustakaan sudah sangat minim. Keadaan, ini dibenarkan oleh pemyataan pemerintah melalui Mendikbud, bahwa anggaran pemerintah untuk pengadaan buku (baca:· anggaran perpustakaan) masih sangat terbatas (Djojonegoro, 1997). Pemerintah sampai saat ini masih dibantu oleh Bank Dunia untuk pengi3daan buku. Oleh karena itu Mendikbud menyarankan agar perpustakaan mengupayakan dana sendiri, misalnya BP3 atau' usaha lain tanpa harus menunggu dana dari pemerintah (Suara Pembaruan, Selasa 18-031997). Saat ini krisis moneter dan' ekonomi melanda 'Indonesia semakin parah. Untuk periode Januari sampai Juli 1998 saja laju infiasi sudah mencapai 59,1 %, sementara tahun 1997 mencapai 66 % (Republika, Sabtu 8 Agustus 1998). Keadaan 1m memaksa beberapa' perpustakaan mengurangi aktifitasnya seperti antara lain memotong dana pembelian buku, mengurangi judul' jumal yang dilanggan, mempersingkat jam layanan, menunda" atau menghentikan program automasi perplJstakaan, terutama bila program automasi tersebut sangat tergantung kepada vendorasing. Dalam kondisi yang demikian siapkah perpustakaan kita memasuki'era millenium ketiga? Ini merupakan' > pertanyaan yang mendasar. Mengapa? Sebab begitu banyak pengelola perpustakaan yang seakan berldmba u~tul<, r;neJ11ll~pjl~I)., s)~t~rri, ,automasi dengan mai<:sud' ,,' mempersiapkan elin' memasuki era millenium ke tiga. Namun demikiankebanyakan' dari mereka tidak mempertimbangkan kemampuan dasar;.l'rIere~; Seke9?f unitJl< rnengetahui secara4mullJ, garnbara" " kondil';i dasar dan penerapan TI 'di perpu'stakSan Indonesia, baru-baru ini Tim Automasi UPT Perpustakaan IPB melakukan survei ringkas dengan jumlah responden keeil (karena keterbatasan dana). Kuesioner sebariyak' 100 lembar dikirim kepada sejumlah perplistak~al1 di seluruh ,Indonesia secara acak. Meskipun dijanjikan akan diberi informasi tentang nasi! survei ini bagi mereka yang mengembalikan kuesioner, tingkat pengembaliannya hanya 61 persen. Mari kita Iihat kondisi perpustakaan pada umumnya di Indonesia. Meskipun gamparan ini hanya diperoleh dari jawaban kuisQner;sejumlah :,' .61 r:espoQden (dari 100 kuisonec yang disebar). Tujuan dari survei ini adalah !,intuk_ melihat kondisj,: perpustakaan terutamq dalam hal kesiapan perangkat keras (harpware),perangkat lunak (software) dan perarigkat SDM (brainware). Perangkat Keras Dari 61 responden yang mengirim kembali kuesioner temyata sebagian besar(95 %) menyatakan memiliki perangkat keras komputer. Jumlah pemilikan tersebut bervariasi antara 1- 5 unit (37;7 %), 6-10 unit (21,3 %), 1020 unit (21,3 %), danbahkan ada yang memiliki lebih dari 20 unit (14,7 %). Lebih dari dua pertiga responden (73,8 %) mengatakan bahwa komputemya dilengkapi dengan CD-ROM,drive. Jumla/T CD-ROM drive yang dimiliki bervariasi antara 1 buah (17 %), 2 buat! (9,8 %), 3 buah (21,3 %), dan lebih dari 3 buah (14,7 %). , ,.Lebih dari, setengah ,responden (54 %) rnenYatakanbat!wa komputer mereka sudah terhub!Jng dalam jaringan dengan sistem lokal area network (LAN), sedangkan selebihnya (46 %) be1um, terhubung satu sama lain atau masih standalone. Perangkat Lunak Semua perpustakaan responden menyatakan bahwa pada umumnya komputer yang mereka miliki terutama digunakan sebagai peflgolah kata pada administrasi. Namun selain perigolah kata 'rnereka juga rnengggunakan komputer untul< rnenge101a infolii'lasf yang ada di perpustakaannya. Untt/k mengelola informasi aUill (lOl<Q~rL$ebagian besar menggunakan perang~tlur:!ak CDSIISIS (59 %), diikuti oleh Dynix (11.5 .%j. Sebagian keeil menggunakan VfLS dan Bibliofile (masing-masing 4,9 %). Ada juga perpustakaan yang menggunakan dBase (3,3%), dan Foxpro, NCI-Bookrnan,A1is, UIUS, Sis:'lndap; MS-Access, Caspia (masing-masing 1 %). Namun pengamatan lapangan menunjukkan bahwa pada semua perpustakaan 'yan~ rnenyatakan menggunakan Dynix sebemanya tidak menggunakannya untuk pengguna, namun hanya pemah diinstal dan tidak digunakan lagi, keeuali UPT Perpustakaan Universitas Jember yangs edang sibuk memasukkan data ke sistem Dynix. 'Sebagian, . :besar perpustakaan menggunakan _ perangkat lunak tersebut untuk pencetakSn kartu katalog. -dan 'bilbliografi (78,8%), penelusuran melalui petugas (52,5 %)j penelusufall oleh pengguna sendiri (45;2 %). Belum banyak perpustakaan, yang menggunakan perangkat lunak tersebut untuk kontrol peminjaman atau sirkulast' (29,5 %). Sebagian. perpustakaan menyatakan sudah mengguna~n perangkat lunak tersebut secara terpadu, yaitu, pengolahan dan pelayanan menjadi satu. sistem .. :(4Z,6 %), sedangkan lainnya menyatqkan masih rnenggunakannya secara sendiri-sendiri seperti pengoJahan saja, peminjaman saja dan lain-lain (44,3 %). Sebagian perpustakaan tidak menjawab (13,1 %). Sumberdaya Manusia Ditinjau dari segi , kesiapan untuk menerima teknologi nampaknya kondisi sumberdaya rnanusia di ,perpustakaan eukup memprihatinkan. Padahal SOM ini rnerupakan faktor . utama dalam pengembangan ' perpustakaan, khususnya dalam menerima teknologi informasi. Dari total pegawai di 64 perpuStakaan (sebanyak 2444 orang pustakawan dan stat perpustakaan), hanya 933 orang (38,2 %) yang bisa mengoperasikan komputer, dan sebagian keeil saja yang betulbetul menguasai komputer (207 orang atau 8,5 %). Bahkan, introduksi komputer ke perpustakaan akan banyak menemui kendala teknis karena perpustakaan akan sangat tergantung kepada penyedia jasa komputer (suplier) yang berkaitan dengan pera,ngk~t keras. Staf perpustakaan pada umHmnya tidak mengerti perangkat keras dan lunak komputer. Hanya sebagian keeU saja, yang < mengaku b.i~a melakukan perbaikanperbaikan keeil komputer. (0,86 %). Hal ini mungkin disebabkan karena' sangat , sedikit orang yang mempunyai latar belakailg pendidikan komputer yang mau bekerja di perpustakaan yaitu hanya 17 orang dari 2444 orang (0,7 %). Siapkah Perpustakaan Indonesia Menerima TI Teknologi informasi telah menjadi f~~ol1;lena baru, di akhir 8Qad ke-20. Ke'hadirannya 'di perpustakaan"sepertinya merupakansuatukeharusan dan tidak dapat ditawar .. tawarlagi. . Namun siapkah kita . rnenerimanya? Dari hasil survey di atas ", nampaknya, kita belum siap. Kita harus ,,' .t;nelakukan I~mgkah-Iangkah antisipatit untuk . . memperSiapkan diri dalam menerima kehadiran teknologi informasi tersebut. Program-prog~m pel~tihan yang berkaitan • dengan teknologi.· intormasi harus diperbanyak dan dapat diikuti oleh sebanyakbcinyaknya "stat perpustakaan. Program pelatlhan terSebut harus diikuti 'dengan pengadaan perangkat', keras dan perangkat h.lnak yang sesuai dengan kebutuhan. Adu CerdikAntara Programmer dan Insinyur ' Seorang programmeL dan seorang Insinyur duduk berdampingan dalam sebuah penerbangan. Si Programmer 1'lertanya pada Insinyur, apakah ia ingin bersantai sedikit dengan memainkan sebuah permainan yang menarik. Si Insinyur ingin, istirahat, sehingga ditolaknya tawaran itu dengan sopan, lalu membalikkan badannya dan menedbauntuk tidur. Si Programer mendesak dan menjelaskan bahwa itu benar-benar permainan yang mudah, "Saya akan menanyakan sebuah teka-teki, jika Anda tidak dapat menjawabnya, harus membayar saya Rp. 10.000,-. Tetapi jikasaya tak dapat menjawab teka-tekiAnda, saya akan membayar Anda Rp.10.000". Lagi-Iagi si Insinyur dengan sopan menolak dan kembali memenjamkan matanya; Meskipundemikian si Programer memaksa-dan berkata, "Baiklah taruhannya diubah, jika Anda tak bisa menjawab, bayar saya Rp. 10.000,- dan jika saya tak dapat menjawab pertanyaan Anda, saya akan membayar Anda limakali lipat, jadi Rp. 50.000,-. Barulah si Insinyur tertarik dan setuju dengan tawaran itu. Mula-mula si Programmer menanyakan teka-tekinya, "Berapa jarak dari bumi ke bulan?". Si Insinyur tak berkata sepatahpJJn, hanya menyodorkan uang Rp 10.000,-kepada programmer. Sekarang giliran si Insinyur bertariya kepada Programmer, "Benaa apakah yang naik ke bukit dengan 3 kaki dan turun ke bawah dengan 4 kaki?". Si Programmer melihat ke silnsinyur dengan wajah penuh teka-teki, lalu mengeluarkan komputer laptopnya, meneari ke seluruh rujukan yang dimilikinya. Setelah kira-kira satu jam, si Programmer menyerahkan uang Rp50.000,- kepada si Insinyur. Si Insinyur dengan sopannya menerima Rp.50.000,- lalu membalikkan badannya dan kembali tidur. Si Programmer. dengan sedikit kesal bertanya, "Jadi, apa jawaban dari pertanyaanmu?". Tanpa berkata sepatahpun, si Insinyur menyerahkan Rp.10.000,- kepada Programmer,lalu membalikkan badannya dan kembali tidur. (Ternyata lebih cerdik Insinyur ya .... )