Representasi Demokrasi Informasi Sebagai Strategi Pengembangan Perpustakaan Dalam Ekosistem Digita
Universitas Bung Karno Blitar
Abstrak
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi antara lain perubahan pada segala aspek kehidupan masyarakat. Perubahan perilaku masyarakat dalam mendapatkan informasi serta semakin tinggi tuntutan kebutuhan informasi juga sangat bervariasi. Peran lembaga informasi termasuk perpustakaan dalam mengembangkan kualitas layanan perpustakaan sebagai tuntutan kebutuhan informasi yang tidak dapat terhindarkan. Dalam dinamikanya perpustakaan tidak saja membangun kualitasnya dalam layanan konvensional dengan mengandalkan kepemilikan koleksi dan koleksi tercetaknya, namun perpustakaan harus mengalami metamorfosa membangun layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi ke dalam era informasi. Dalam makalah ini mencoba mengkaji dengan memaparkan bagaimana modernisasi perpustakaan dalam membangun aksesibilitas informasi dalam ekosistem digital.Dalam ekosistem digital perpustakaan menjadikan sentral dalam berbagai perubahan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menuntut layanan informasi yang cepat, tepat, mudah dan murah serta nyaman tanpa harus datang langsung perpustakaan dapat mengakses informasi. Berbagai factor penting dalam pengembangan perpustakaan digital yang perlu diperhatikan dalam pembahasan diatas adalah faktor manajemen perpustakaan digital itu sendiri. Implementasi demokrasi informasi sebagai bentuk perpustakaan perguruan tinggi dalam membangun keterbukaan informasi (open access) melalui pendekatan sistem informasi, kebutuhan informasi dan teknologi informasi maupun budaya. Keberhasilan sebuah pembagunan perpustakaan digital tidak hanya pada masalah implementasi teknologi informasi saja namun juga dari berbagai pendekatan demokrasi informasi dalam upaya membangun aksesibilitas informasi.Representasi demokrasi informasi perpustakaan dalam ekosistem digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Malang antara lain (1) Penguatan dalam keterbukaan informasi dengan mengembangkan open access, (2) Modernitas teknologi dan aksesibilitas informasi ((3) Pengembangan layanan perpustakaan berbasis budaya Indonesia dan Humanisme. Dalam hal ini tugas perpustakaan adalah menghimpun, mengorganisasi, melestarikan dan mendiseminasikan koleksi beraneka ragam budaya Indonesia, membangun modernitas teknologi dan aksesibilitas informasi serta membangun jaringan kerjasama perpustakaan digital baik pada lingkup nasional dan internasional.
Keywords:
perpustakaan
· demokrasi informasi
· ekosistem digital
· aksesibilitas informasi
Introduction
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi antara lain ditandai dengan perubahan pada segala aspek kehidupan masyarakat. Perubahan perilaku masyarakat dalam mendapatkan informasi serta semakin tinggi tuntutan kebutuhan informasi juga sangat bervariasi. Peran lembaga informasi termasuk perpustakaan dalam mengembangkan kualitas layanan perpustakaan sebagai tuntutan kebutuhan informasi yang tidak dapat terhindarkan. Dalam dinamikanya perpustakaan tidak saja membangun kualitasnya dalam layanan konvensional dengan mengandalkan kepemilikan koleksi dan koleksi tercetaknya, namun perpustakaan harus mengalami metamorfosa membangun layanan perpustakaan secara terbuka berbasis teknologi informasi.Transformasi perpustakaan dalam era informasi yang ditandai dengan adanya perubahan peran dan fungsi perpustakaan seiring dengan pandangan Ranganathan bahwa perpustakaan merupakan organisasi yang tumbuh “growing organism”. Perpustakaan yang tumbuh dan berkembang yang mampu beradaptasi dalam perkembangan zaman. Kemajuan iptek dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut mengharuskan perpustakaan digital sebagai lembaga demokratis dalam membangun aksesibilitas informasi tersebut sebagai upaya pemenuhan dalam tuntutan dan kebutuhan masyarakat dalam menjawab tantangan zaman. Kondisi tersebut juga berimbas dalam membangun layanan perpustakaan yang dapat diakses secara menyeluruh dan terbuka (open access)..Heterogenitas sumber informasi dan variasi informasi yang beragam pada perpustakaan bahwa berbagai jenis karya tulis, karya cetak, karya rekam dan karya digital dan kompleksitas layanan perpustakaan digital mengharuskan aksesibilitas informasi perpustakaan digital yang semakin canggih dan profesional. Kecanggihan aksesibilitas informasi merupakan faktor kunci dalam mencari sumber informasi yang memungkinkan koleksi dapat ditemukan dengan cepat, mudah dan akurat. Perpustakaan digital dengan berbagai inovasinya telah merambah pada segala aspek kehidupan masyarakat, bukan saja untuk kebutuhan mencari informasi di lingkungan pendidikan tinggi saja namun sudah merambah kepada seluruh lapisan masyarakat. Calhoun menjelaskan bahwa hadirnya era informasi sebagai wujud dalam emergensi informasi dalam membangun dunia baru dalam keterbukaan informasi (open access).Kehadiran perpustakaan digital sebagai perubahan mendasar dalam kegiatan penghimpunan, penyimpanan, organisasi informasi, pelestarian dan desiminasi informasi dalam format digital (Calhoun, 2014). Gambaran perbandingan perpustakaan digital dapat dilihat dalam tabel berikut ini :Tabel 1.1Ringkasan Implementasi Pengembangan Perpustakaan DigitalPada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang Jawa TimurNo.Aspek Implemen-tasiUniversitas Brawijaya (UB)Universitas Negeri Malang (UM)Universitas Islam Negeri (UIN)Malang1.SoftwareInlis Lite Versi 3Berbasis IndomarcWebsite www.digilib,ub,ac,idSipadu Berbasis LokalWebsite : www.lib.um.ac.idE-Print dan Slims Berbasis dublin coreWebsite www.digilib.uin.ac.id2.Hardwarekomputer, server, jaringan dan komputer client baik di dalam perpustakaan maupun di terraz dan Gazebo.komputer, server, jaringan dan komputer client di Perpustakaan maupun di Terrazkomputer, server, jaringan dan Komputer client di Perpustakaan.3.DatabaseGazebo, BKG Corner, Sampurna CornerCafé Pustaka disertai Wifi/hotspotE-Thesis dan Arabic Corner dan Sudan Corner, BI Corner.4.FasilitasBrawijaya Knowledge Gerden dan Instituational Repository (IR)Mobile libraryMuatan Lokal (MULOC), Café Pustaka disertai Wifi/hotspotE-Thesis, Arabic Corner , Sudan Corner dan Instituational Repository (IR), bookdropSumber : Sintesa Peneliti Berdasarkan tabel perbandingan diatas bahwa implementasi perpustakaan digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Malang Jawa Timur sebagai berikut : pertama, Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya (UB) Sistem informasi Inlis-Lite v.3, dengan database perpustakaan digital Brawijaya Knowledge Garden (BKG) serta pengembangan akses layanan digital pada Gazebo dan Terraz Digital. Kedua, pengembangan perpustakaan digital pada Perpustakaan Universitas Malang (UM) dengan sistem informasi Sipadu berbasis metadata local serta memiliki koleksi digitaldengan database Mulok serta pengembangan akses pada Café Pustaka. Dan ketiga, profil pengembangan perpustakaan digital pada Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dengan mengimplementasikan sistem informasi Slims berbasis metadata dublin core dengan database E-These dan didukung Corner Pustaka. Ketersediaan koleksi, infrastruktur teknologi, sistem informasi perpustakaan digital belum menjamin dalam upaya membangun aksesibilitas informasi. Berbagai variasi dalam pengembangan perpustakaan digital menunjukan kebebasan cara membangun kebebasan akses informasi mulai sistem database, sistem informasi dan kebijakan akses yang dilakukan oleh setiap melaksanakan pengembangan perpustakaan dalam ekosistem digital.Representasi demokrasi informasi tersebut memungkinkan kehadiran kembali peran perpustakaan untuk membuka akses seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi berbasis nilai-nilai budaya dan legalitas informasi (Hartono, 2019). Sejumlah faktor yang menunjukan aksesibilitas informasi perpustakaan belum optimal yang disebabkan masalah kebijakan akses, keterbukaan akses informasi (open access) dan bahkan masalah sejarah masa lalu. Kondisi tersebut tentu belum semuanya benar perlu upaya menghadirkan kembali peran perpustakaan untuk mengembangkan demokrasi informasi perpustakaan dalam ekosistem digital. Demokrasi informasi memungkinkan upaya untuk menghimpun koleksi secara beragam, mengorganisasi secara profesional, dan membangun layanan secara bervariasi dan koleksi dapat diakses secara terbuka dengan memperhatikan kebutuhan dan minat seluruh pengguna yang beragam. Bertolak pemikiran diatas masalah representasi demokrasi informasi dalam pengembangan perpustakaan menjadi permasalahan dalam pengembangan layanan perpustakaan berbasis keterbukaan informasi (open access) pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Malan
Discussion
Representasi Demokrasi Informasi dalam Pengembangan Perpustakaan dalam Ekosistem DigitalRepresentasi perpustakaan yang dikembangkan dalam membangun demokrasi informasi dalam pengembangan perpustakaan dalam ekosistem digital adalah sebagai berikut. 1. Keterbukaan Informasi (Open Access)Keterbukaan informasi (open access)merupakan trend dan isu internasional dibidang perpustakaan yang memungkinkan perpustakaan dalam menyediakan informasi, mengembangkan koleksi yang beragam dan mengembangkan layanan perpustakaan yang bervariasi secara terbuka. Representasi perpustakaan dalam membangun demokrasi informasi menunjukan adanya upaya pemerintah dalam mengembangkan layanan perpustakaan secara terbuka dan memberikan kebebasan mendapatkan informasi. Keberhasilan demokrasi informasi ini masyarakat dapat akses informasi tanpa batas dan tanpa membedakan ras, suku, golongan, kemampuan, status sosial dan gender. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan demokrasi informasi berbasis koleksi digital yang dapat diakses secara online.Masyarakat yang majemuk (plural) dimana penduduk dari pelbagai latar belakang etnik, suku, bangsa dan agama berkumpul dan hidup bersama akan menimbulkan tantangan-tantangan tersendiri yang perlu dijawab oleh masyarakat perkotaan dengan mengembangkan sifat-sifat yang cocok dengan keadaan. Sifat-sifat yang cocok dengan keadaan masyarakat inilah yang dimaksud dengan masyarakat madani-multikultural dan tentu saja melibatkan sikap-sikap tertentu yang menjadi tuntutan masyarakat multikultural. Sikap-sikap tersebut antara lain meliputi inklusivisme, humanisme/egalitarianisme, toleransi, dan demokrasi.Demokrasi informasi dapat ditunjukan dalam keanekaragaman koleksi yang dihimpun perpustakaan. Secara garis besar, Pendit (2009) menyebutkan bahwa sumber daya informasi digital yang sangat beragam dapat dibagi berdasarkan sifat media, sumber informasi, dan sekaligus isinya, yang antara lain terdiri dari: (a) Bahan dan sumber daya full text, termasuk e-journal, koleksi digital yang bersifat terbuka (open access), e-books, e-newspapers, tesis, dan disertasi digital., (b) Sumber daya metadata, termasuk perangkat lunak digital berbentuk katalog, indeks dan abstrak, atau sumber daya yang menyediakan informasi tentang informasi lainnya (literatur sekunder), (c) Bahan-bahan multimedia digital, (d) Aneka situs di internet. 2. Modernitas Teknologi Informasi Dalam membangun demokrasi informasi peran perpustakaan dituntut membangun infrastruktur teknologi informasi baik hardware, software maupun jaringan informasi (networks) yang memungkinkan masyarakat mengakses dengan cepat, tepat, mudah dan akurat. Modernitas teknologi informasi dalam mengembangkan layanan perpustakaan dapat dilihat dalam penyediaan infrastruktur teknologi informasi, hardware, software, sistem, jaringan (networks) dan teknologi informasi perpustakaan. Modernitas dalam pengembangan perpustakaan menempatkan nilai multikultural sebagai potensi strategis dalam pengembangan perpustakaan digital dalam upaya membangun aksesibilitas informasi. Secara umum unsur-unsur budaya juga mempengaruhi kinerja dan keberhasilan perpustakaan dalam merealisasikan tugas, fungsi dan tujuan perpustakaan. Representasi budaya dan teknologi informasi dalam pengembangan perpustakaan digital sangat menentukan dalam meningkatkan kinerja dan aksesibilitas informasi bagi masyarakat.Infrastruktur teknologi dalam pengembangan perpustakaan digital yang dapat mendasari untuk membangun aksesibilitas informasi pada pengembangan perpustakaan digital. Nilai budaya teknologi dalam membangun keberagaman, keadilan, kerjasama, toleransi dan etika mampu mendukung dalam implementasi teknologi informasi dalam membangun aksesibilitas informasi melalui pengembangan infrastruktur teknologi informasi, sistem temu balik informasi, organisasi metadata, jaringan internet dan membangun berbagi sumber daya informasi (resource sharring)3. Mengimplementasikan Hukum/Legalitas Informasi dalam Aksesibilitas InformasiDalam demokrasi informasi aspek legalitas informasi menjadikan faktor yang sangat strategis bagi perpustakaan dalam ekosistem digital. Jangan sampai kemudahan akses informasi menjadikan dan keterbukaan informasi dicederai oleh etika informasi, pelanggaran hak cipta, plagiarism bahwa kejahatan informasi (cybercrime). Kehadiran demokrasi informasi bagi lembaga perpustakaan mengharuskan kebebasan mencari dan mendapatkan informasi bukan bebas nilai namun juga informasi yang bertanggung jawab.Konsep aksesibilitas adalah derajat kemudahan dicapai oleh orang, terhadap suatu objek, pelayanan maupun lingkungan. Dalam konsep aksesibilitas informasi menyangkut empat dimensi yaitu aksesibilitas inti, aksesibilitas informasi, kehadalan sistem dan kemudahan memahami bahasa kontrol. Konsep tersebut tidak berhenti hanya sampai pada tersedianya koleksi digital yang melimpah, akan tetapi hal ini dapat terwujud apabila pemustaka dapat mengakses koleksi yang disediakan dengan utuh dan nyaman. Dengan demikian, dapat digaris bawahi bahwa aksesibilitas koleksi digital merupakan usaha untuk dapat memberikan kemudahan pemustaka untuk mendapatkan informasi digital secara penuh, utuh, mudah, cepat dan dapat dipertanggungjawabkan.Dalam pengembangan layanan perpustakaan tidak bisa keluar kenyataan adanya etika informasi dalam mendapatkan informasi. Penguatan legalitas informasi memberikan batasan untuk mendapatkan informasi yang benar dan bertanggung jawab. Legalitas informasi sangat ditentukan adanya etika informasi, hak cipta, plagiarisme dan kejahatan informasi (cybercrime). Plagiarisme dalam perpustakaan memang erat kaitannya dalam dunia tulis menulis. Maka tidak heran jika isu ini menjadi salah satu penghambat dalam pembangunan perpustakaan digital. Beberapa pimpinan suatu lembaga berpendapat bahwa pembangunan perpustakaan digital dapat menyuburkan praktek plagiarisme. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, pustakawan perlu berpartisipasi dalam rangka mencegah terjadinya plagiarisme. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan kepada pemustaka tentang bagaimana cara mengutip tulisan dengan benar. 4. Membangun Layanan Perpustakaan perpustakaan Berbasis HumanismeDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “humanisme” adalah aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik. Dalam membahas teori humanisme diperlukan orientasi hidup yang universal. Di antara orientasi hidup yang universal ini merupakan titik orientasi bagi pengembangan perpustakaan digital berbasis multikultural yang unsurnya menyangkut nilai kemanusiaan, kebersamaan dan kedamaian. Dalam Aloni (1999) menjelaskan bahwa orientasi kemanusiaan (humanity) dipahami sebagai nilai yang menempatkan peningkatan pengembangan manusia, keberadaanya dan martabatnya sebagai pemikiran dan tindakan manusia yang tertinggi. Sebagai manusia bermartabat, Nibrod Aloni menyebut adanya 3 (tiga) prinsip dalam kemanusiaan yaitu (a) otonomi, rasional dan penghargaan untuk semua orang, (b) kesetaraan dan kebersamaan, serta (c) komitmen untuk membantu semua orang dalam pengembangan potensinya. Jika prinsip pertama bersifat filosofis, sementara prinsip kedua bersifat sosio-politis, maka prinsip ketiga bersifat pedagogis.Dalam konteks pengembangan perpustakaan digital bahwa nilai humanisme merupakan nilai Islam yang sangat mempengaruhi keberhasilan tugas, fungsi dan tujuan perpustakaan digital antara lain dalam (a) memahami keanekaragaman budaya manusia melalui penyediaan infrastruktur baik gedung, fasilitas teknologi informasi perpustakaan digital, (b) memahami sistem temu balik informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang beraneka ragam, (c) komitmen dalam mengembangkan sistem metadata yang tepat bagi masyarakat yang beragam, (d) mengembangkan sistem informasi dan teknologi informasi dengan lancar guna membangun interoperabilitas antara perpustakaan, (e) menyediakan sistem internet yang memadai dalam berbagi sumber daya perpustakaan digital. 5. Membangun Jaringan Kerjasama Perpustakaan DigitalDalam membangun demokrasi informasi berkaitan erat dengan kerjasama perpustakaan, karena dengan mengembangkan jaringan kerjasama perpustakaan akan mendapatkan akses yang lebih luas dan memperkaya informasi yang dihasilkan. Kerjasama dan jaringan informasi perpustakaan memungkinkan aksesibilitas informasi semakin meningkat bagi masyarakat luas. Kegiatan kerjasama perpustakaan digital akan dapat membangun kebutuhan masyarakat informasi yang beragam, jasa layanan informasi yang bervariasi dan mengembangkan ketersediaan informasi yang bervariasi.Kerjasama perpustakaan merupakan kegiatan yang dilakukan dua perpustakaan atau lebih dalam mencapai tujuan bersama. Kerjasama perpustakaan digital dapat dilakukan dengan kerjasama pengembangan sumber daya digital, kerjasama jasa informasi digital dan pengembangan pemanfaatan sumber daya manusia. Nilai multikultural yang dapat mendasari pengembangan kerjasama antar perpustakaan dalam upaya mencapai kebutuhan informasi bersama. Dalam memahami multikultural bisa dijadikan sebagai salah satu sarana bangsa Indonesia dalam mengelola keberagaman dengan baik sehingga tercipta generasi –generasi unggul yang memiliki sense dalam menghadapi perubahan nilai-nilai akibat perubahan global. Gambaran Representasi Pengembangan Perpustakaan dapat digambarkan dalam ringkasan tabel sebagai berikut :Tabel 1.2Ringkasan Representasi Demokrasi Informasi pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di MalangAspek/SubjekPerguruan TinggiUBUMUINDemo-krasiDemokrasi dengan membangun Brawijaya Knowledge Garden (BKG) yang dapatdiakses terbuka (open access)melalui Aplikasi Inlis Lite v.3, Demokrasi dalam mengembang-kan koleksi muatan local (MULOK) yang bisa diakses secara terbuka melalui aplikasi Sipadu.Demokrasi dalam melestarikan local conten (LOCO) yang dapat diakses terbuka pada aplikasi E-PrintHumanis-meHumanisme membangun fasilitas gazebo digitalHumanisme mengembang-kan café pustakaHumanisme mendayagu-nakan Corner PustakaKeadilanKeadilan memportali-sasi dalam sebuah navigasi kejahatan informasi (cybercrime)Keadilan melalui mensosialisasi undang-undang hak ciptaKeadilan mengimplemen-tasikan aplikasi plagiarisasi (plagiarism Checkher)Kebersa-maanKebersamaan membangun jaringan informasi digital (networks)Kebersamaan mengembang-kan kerjasama perpustakaan digital (library cooperations)Kebersamaan mendayaguna-kan upaya dalam berbagi sumber daya koleksi digital (resource sha-ring)ToleransiToleransi da-lam mengem-bangkan layanan berbasis teknologi informasiToleransi melalui dengan menghargai pengguna kebutuhan informasi Toleransi dengan membangun kesadaran mela-lui regulasi akses terbuka secara tertulis
Conclusion
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:1. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi antara lain ditandai perubahan prilaku masyarakat dalam mendapatkan informasi serta semakin tinggi tuntutan kebutuhan informasi yang sangat bervariasi. Kondisi ini memiliki arti penting bagi lembaga informasi termasuk perpustakaan dalam mengembangkan kualitas layanan perpustakaan.2. Berbagai perubahan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi menuntut layanan informasi yang cepat, tepat, mudah dan murah serta nyaman tanpa harus datang langsung perpustakaan dapat mengakses informasi. Berbagai faktor penting dalam pengembangan perpustakaan digital yang perlu diperhatikan dalam pembahasan diatas adalah faktor manajemen perpustakaan digital itu sendiri. Komponen manajemen perpustakaan digital perlu dikembangkan adalah membangun demokrasi informasi, modernitas teknologi, mengembangkan layanan informasi berbasis humanisme.3. Dalam upaya optimalisasi manajemen perpustakaan dalam membangun akses teknologi informasi perlu strategi atau langkah-langkah strategis sebagai bentuk konkrit dari berbagai dimensi antara lain dengan strategi rancang bangun, pengembangan koleksi, manajemen, pendekatan teknologi informasi, hukum dan kultural/budaya. Keberhasilan sebuah pembangunan perpustakaan dari berbagai pendekatan baik demokrasi informasi, modernitas teknologi informasi, penegakan hukum legalitas informasi, membangun kerjasama dan jaringan informasi digital tersebut diharapkan mampu memodernisasikan perpustakaan Indonesia