RANCANGAN KEGIATAN LITERASI INFORMASI DI SMA NEGERI 1 PADANG
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
Based on the results of research that has been done, the literacy activities at SMAN1 Padang are in accordance with the activities in the Master Design Movement of the School Literacy Movement, then it can be concluded as follows. First the design of information literacy activities at SMAN 1 Padang, namely: (1) reading activity 15 minutes before learning, i.e. making a literacy journal for students; (2) reading award, namely literacy ambassador. (3) Literacy corner, holding a reading corner in the park. (4) reading books by utilizing the role of the library, holding user guidance. (5) procurement of libraries as a source of literacy, making literacy bulletin boards. Second, constraints in the utilization of information literacy at SMAN 1 Padang, namely: limited implementation time in reading activities 15 minutes before learning, lack of placement of reading corners and completeness of reading collections in the literacy corner, lack of implementing reading award activities. Third, efforts to overcome obstacles in information literacy activities at SMAN 1 Padang, namely: increasing the implementation time of reading activities 15 minutes before learning, increasing collection and placement of reading corners in the school environment, continuing reading reading activities and adding prizes to students.
Keywords:
design
· literacy
Introduction
Belakangan ini kegiatan pembelajaran di sekolah sering kali dihadapkan pada kendala berupa kesulitan siswa dalam memahami materi belajar. Hal ini terjadi karena budaya membaca, menulis, dan berbahasa lainnya yang minim. Semestinya kegiatankegiatan yang dapat memacu minat siswa dalam membaca, menulis, dan berbahasa lainnya dapat ditingkatkan guna menciptakan kebiasaan bagi siswa yang nantinya dapat berguna dalam proses belajar mengajar. Kemendikbud selaku pengelola dan penyelenggara pendidikan, baik itu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Pendidikan Menengah Atas (SMA) sebenarnya telah berupaya menciptakan berbagai rangkaian kegiatan maupun rangkaian dalam pembelajaran untuk memacu minat siswa dalam membaca, menulis, dan berbahasa lainnya guna meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar. Salah satu kegiatan yang baru-baru ini digalakkan Kemendikbud adalah literasi. Literasi merupakan suatu keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap siswa. Siswa harus memiliki kemampuan literasi yang baik yaitu kemampuan berbahasa, memperoleh informasi, mengelola dan mengevaluasi informasi, maupun memecahkan masalah. Kemampuan ini merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena dengan adanya kegiatan ini, maka siswa memiliki kesadaran akan pentingnya rangkaian kegiatan tersebut, serta dapat menciptakan daya serap yang lebih tinggi. Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi, siswa mampu memperoleh informasi yang lebih banyak sehingga siswa dapat menghasilkan sebuah karya yang baik dan hasil belajar yang memuaskan. Informasi merupakan sebuah data yang sudah di proses yang berguna bagi masyarakat dalam menambah pengetahuan. Pelajar harus mampu mendapatkan informasi yang ia butuhkan, informasi yang didapatkan harus jelas dan juga mampu menguasainya. Bagi pelajar, untuk mendapatkan informasi ia bisa mencari buku di perpustakaan yang sudah disediakan koleksi-koleksi yang dibutuhkan oleh pelajar di sekolah, namun pelajar terkadang lebih sering mencari informasi melalui internet dengan menggunakan gawai. Muhammad (2015) mengatakan bahwa literasi dapat dimaknai sebagai kemampuan membaca, menulis, memandang, dan merancang suatu hal dengan disertai kemampuan berpikir kritis yang menyebabkan seseorang dapat berkomunikasi dengan efektif dan efisien sehingga menciptakan makna terhadap dunianya. Adapun Saepudin (2016) tradisi literasi merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Menurut Sri (2015) literasi informasi adalah seperangkat keterampilan untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan, baik itu untuk kepentingan akademis ataupun pribadi, termasuk lingkup tempat kerja, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber, serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efektif dan efisien. Jadi, berdasarkan dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa literasi informasi merupakan suatu kemampuan seseorang dalam mencari, merumuskan masalah, mengoleksi, mengevaluasi atau menginterpertasikan, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi dari berbagai sumber secara efektif. Yudistira (2017) mengatakan bahwa literasi informasi mempunyai tujuan untuk membantu seseorang dalam memenuhi kebutuhan informasinya baik untuk kehidupan pribadi (pendidikan, kesehatan, pekerjaan) maupun lingkup masyarakat. Adapun Made (2017) mengatakan bahwa tujuan khusus dari gerakan literasi sekolah adalah menumbuhkembangkan budaya literasi disekolah, meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak, agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, serta menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagi strategi membaca. Jadi, dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari literasi informasi adalah agar dapat mengembangkan pengetahuan dalam pembelajaran dan meningkatkan prestasi, serta membantu siswa agar lebih berpikir kritis dengan mewadahi beragam koleksi yang tersedia di perpustakaan. Suherli (2017) mengatakan dalam perkembangan saat ini konsep literasi dihubungkan dengan berbagai kehidupan manusia, sehingga muncul terminologi literasi sains, literasi teknologi, literasi sosial, literasi politik, literasi bisnis, literasi tindak negative, dan sebagainya. Mukti (2017) mengatakan berbagai kegiatan literasi, yaitu morning motivation, pojok baca, dan pengadaan perpustakaan sebagai sumber literasi. Keberadaan kegiatan literasi merupakan bagian integral dari pendidikan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, pengembangan program literasi sekolah perlu mendapatkan perhatian khusus agar dapat dioptimalkan oleh seluruh warga sekolah. Menurut Arieni (2017) Model the Big6 Skills, berasal dari Amerika Serikat. Sebuah model yang banyak digunakan di sekolah. Model the Big 6 dikembangkan oleh Michael B.Eisenberg and Robert E. Berkowitz. Model literasi The Big6 Skills memiliki enam keterampilan antara lain: merumuskan masalah dan mengidentifikasi informasi, mengatur strategi pencarian informasi, menentukan lokasi sumber informasi, mengorganisasikan informasi yang berguna, menggabungkan dan menyusun informasi yang telah diperoleh, mengevaluasi informasi dengan menilai produk akhir yang dihasilkan dan menilai proses penyelesaian yang telah dilakukan. Menurut Alias (2015) perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber innformasi oleh setiap pemakainya. Adapun menurut Rahmah (2018) perpustakaan merupakan suatu lembaga layanan masyarakat dalam bidang ilmu pengetahuan. Mulyadi (2014) mengatakan bahwa perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggung jawabnya kepada kepala sekolah yang melayani aktivitas akademik sekolah yang bersangkutan. Muhammad (2016) mengatakan perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang berada di lingkungan sekolah yang sebagai bagian integral dari sekolah, merupakan komponen utama pendidikan di sekolah, yang diharapkan dapat menunjang agar proses pendidikan dapat berlangsung lancar dan berhasil baik. Jadi, dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sekolah adalah suatu lembaga atau instansi yang berada di lingkungan sekolah yang bertujuan untuk melayani, mengembangkan, dan menyajikan banyak informasi dan pengetahuan baik dari buku maupun non buku, guna memenuhi kebutuhan pemakai yang dikelola oleh suatu lembaga pendidikan sekolah. Muhammad (2016) mengatakan tujuan didirikannya perpustakaan sekolah tidak terlepas dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah secara keseluruhan, yaitu untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik (siswa atau murid), serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah.
Method
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Padang. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan makalah tugas akhir ini adalah menggunakan penelitian deskriptif.
Discussion
1. Rancangan Kegiatan Literasi Informasi di SMA Negeri 1 Padang Pada bab ini akan dideskripsikan bentuk-bentuk rancangan literasi informasi yang dilaksanakan di SMAN 1 Padang. Dalam kegiatan literasi informasi di sekolah, sudah menggunakan media elektronik seperti search angine (google) untuk mencari informasi di internet dan buku yang tersedia di perpustakaan. Namun, siswa masih jarang untuk mencari informasi di perpustakaan. Sementara itu, menjadi seorang guru yang di katakan melek informasi atau literat harus bisa memperkenalkan kegiatan literasi untuk meningkatkan pembelajaran siswa dikelas dan berusaha mengajak siswa dalam mencari tugas atau informasi di berbagai banyak sumber media cetak seperti buku, jurnal, majalah agar lebih memperbanyak pengetahuannya terhadap informasi yang dimiliki dan juga dapat menyaring informasi yang terbaik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa tersebut. Dengan adanya kegiatan literasi di sekolah maka dalam hal ini dapat membantu melakukan penumbuhan gemar membaca, menulis, memahami informasi dalam pengembangan belajar siswa dan membangun karakter siswa. Maka kegiatan literasi sangat penting untuk pembelajaran siswa di sekolah. Hasil dari wawancara peneliti dengan siswa di SMAN 1 Padang, menunjukkan bahwa selain mampu menggali informasi, siswa juga sudah mampu merumuskan masalah sebelum mencari informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Dalam penggunaan informasi, siswa SMAN 1 Padang sudah mengetahui etika dalam mencantumkan sumber informasi yang di peroleh. Kemampuan siswa dalam mengetahui sumber informasi yang di dapat itu relevan yaitu dengan membaca terlebih dahulu isi informasi dan membandingkan hasil analisa dengan sumber informasi yang diperoleh siswa. Dalam proses penggabungan, siswa mampu menggabungkan informasi dengan tema masalah yang akan dibahas berdasarkan korelasi dalam informasi yang didapat. Siswa melakukan perbandingan dan menganalisa informasi guna mengembangkan informasi. Dari hasil wawancara dengan guru dan siswa dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi siswa sudah bagus, namun kurangnya guru dan pustakawan dalam menerapkan literasi informasi untuk kebutuhan siswa dalam belajar. Rancangan kegiatan literasi informasi di SMAN 1 Padang, setelah dilakukan observasi dan wawancara dengan guru SMAN 1 Padang ada 5 bentuk rancangan yang sudah ada, berikut ini dijelaskan: a. Aktivitas Membaca 15 Menit sebelum Pembelajaran Kegiatan membaca 15 menit ini merupakan salah satu bentuk pengembangan literasi yang dilaksanakan di SMAN 1 Padang untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Kegiatan ini juga salah satu bentuk dari morning motivation yang terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran seluruh siswa. Sebagaimana maksud literasi yang diungkapkan oleh ibu Dra. Nelakaswati melalui wawancara pada 17 juli yang menjelaskan bahwa “Literasi adalah kemampuan siswa dalam membaca dan menyimpulkan apa yang siswa baca, kemampuan dalam memahami apa yang siswa baca dan siswa mengambil manfaat dari apa yang dibaca.” Kegiatan ini dilaksanakan pada saat sebelum jam pelajaran dimulai atau lain waktu berdasarkan kesepakatan sekolah. Wakil kurikulum dan guru kelas bekerja sama dengan staf perpustakaan dalam kegiatan ini, agar meminjamkan buku kepada setiap siswa yaitu buku non fiksi. Kegiatan ini di pandu oleh guru kelas dan dilaksanakan di dalam ruang kelas. Seluruh siswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini berupa cerita inspiratif yang tercipta sebagai wujud motivasi positif kepada siswa di setiap pagi. Dari hasil pengamatan, pada kegiatan 15 menit membaca ini, pihak sekolah memberikan waktu kepada siswa untuk melakukan literasi dari waktu yang telah ditetapkan yang dilaksanakan setiap pagi di dalam kelas yang di pandu oleh guru mata pelajaran bahasa indonesia. Siswa kelas X, XI, XII wajib mengikuti kegiatan membaca lima belas menit, kemudian buku yang digunakan oleh siswa yaitu buku non pelajaran yang dibawa oleh siswa dari rumah atau buku dari perpustakaan. Hal senada dikatakan oleh ibu Dra. Nelakaswati melalui wawancara pada 7 juli 2019 selaku guru mata pelajaran bahasa jerman dan kepala Perpustakaan SMAN 1 Padang yang menjelaskan “Setiap siswa harus membaca buku di kelas, kemudian di rangkum, waktunya diadakan sekitar 5 menit pada setiap pagi. masing-masing siswa wajib mengikuti kegiatan tersebut dari kelas X, XI, dan XII. Buku yang digunakan siswa untuk membaca yaitu buku non pelajaran dan siswa harus membawa buku dari rumah atau meminjam buku yang ada di perpustakaan.” Dalam kegiatan ini, seharusnya siswa diberi waktu lebih untuk melaksanakan kegiatan membaca. Untuk itu guru sebaiknya menambah waktu untuk melaksanakan kegiatan membaca ini sekitar 30 menit, karena dalam kegiatan ini tidak hanya membaca, tetapi juga ada kegiatan lainnya dalam menunjang kegiatan membaca tersebut seperti meresume, menyampaikan dan siswa harus menanggapi hasil dari yang dibaca pada buku tersebut. Dari wawancara tersebut, maka masih ditemui kekurangan dari membaca 15 menit di SMAN 1 Padang, sehingga sebaiknya perlu diterapkan penggunaan jurnal literasi untuk siswa SMAN 1 Padang dalam menunjang kegiatan membaca 15 menit tersebut. Tujuan adanya jurnal literasi yaitu untuk merekam jejak hasil dari bacaan siswa. Siswa wajib mengisi jurnal literasi untuk menandai sampai manakah terakhir siswa membaca buku tersebut dan guru bisa memandu masing-masing siswa dengan memeriksa jurnal literasi sampai manakah siswa membaca buku tersebut. b. Reading Award Reading award atau penghargaan kepada pembaca. Program ini diadakan karena melihat siswa yang lebih sering memanfaatkan internet untuk mencari informasi dari pada berkunjung ke perpustakaan. Kegiatan ini bertujuan untuk merangsang minat siswa agar lebih rajin membaca dan berkunjung ke perpustakaan untuk mencari informasi melalui buku yang telah disediakan oleh perpustakaan. Siswa tersebut dipilih berdasarkan daftar peminjaman buku dan daftar kunjungan perpustakaan. Kegiatan ini berlangsung ketika peneliti sedang melaksanakan magang dari tanggal 7 februari sampai 7 maret. Namun, setelah peneliti selesai melaksanakan magang kegiatan tersebut tidak berlanjut. Seperti yang disampaikan oleh ibu Dra.Nelakaswati melalui wawancara pada 17 juli 2019 terhadap pelaksanaan kegiatan ini yang menjelaskan bahwa “kegiatan reading award setelah mahasiswa prodi Informasi Perpustakaan dan Kearsipan magang di Perpustakaan SMAN 1 Padang, kegiatan ini belum berlanjut untuk dilaksanakan, kendalanya yaitu karena siswa sudah memasuki ujian naik kelas, sibuk mengembalikan buku dan siswa juga sibuk untuk mempersiapkan ujian naik kelas jadi kegiatan ini belum lanjut terlaksana.” Adapun solusi untuk mendukung kegiatan reading award di Perpustakaan SMAN 1 Padang, maka peneliti merancang kegiatan sebagai penunjang reading award yaitu dari kegiatan yang sudah dilaksanakan di SMKN 1 Sidoarjo seperti Duta Literasi. Duta literasi merupakan salah satu program yang berkaitan dengan penumbuhan karakter siswa dalam membaca. Dengan diadakannya program ini, akan menjadi salah satu program yang alternatif dalam memotivasi siswa untuk berliterasi dan menjadikan siswa terpilih yang bertugas untuk mengembangkan program literasi yang terdapat di sekolah. Dalam pemilihan literasi, sekolah bekerjasama dengan perpustakaan dan juga OSIS. Adapun tahap yang dilakukan oleh SMKN 1 Sidoarjo dalam pemilihan seleksi duta literasi yaitu seluruh siswa diperbolehkan untuk mendaftarkan diri sebagai calon duta literasi dengan kriteria yang telah ditentukan oleh sekolah, yaitu siswa yang telah lebih dari 40x berkunjung ke perpustakaan, siswa lebih dari 20x meminjam buku yang tersedia di perpustakaan sekolah, dan diadakannya tes wawancara terkait dengan isu literasi dengan juri guru bahasa indonesia, kepala perpustakaan dan waka kurikulum. Duta literasi di SMKN 1 Sidoarjo, terbagi menjadi dua lingkup yaitu untuk sekolah dan kelas. Jadi berdasarkan program diatas maka kegiatan ini dapat diterapkan di SMAN 1 Padang. Hal ini didukung oleh minat baca siswa di SMAN 1 Padang yang telah cukup baik, SMAN 1 Padang juga merupakan sekolah favorite dan perpustakaannya juga mendukung dan dengan adanya kegiatan ini maka juga bisa mengajak siswa lain untuk meningkatkan minat kunjung keperpustakaan untuk membaca. Dalam program duta literasi ini, sangat mampu untuk menarik minat siswa karena dapat memberikan siswa yang bergabung didalam fasilitas yang berhubungan dengan perpustakaan. Berdasarkan penjelasan diatas, alangkah baiknya program ini harus dilaksanakan lebih semaksimal mungkin oleh pihak sekolah dan pustakawan agar membantu siswa dalam meningkatkan minatnya untuk berkunjung ke perpustakaan, dan memanfaatkan peran perpustakaan untuk menelusuri informasi dalam pembelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatan ini diharapkan agar keluarga besar SMAN 1 Padang, khususnya bagi siswa agar dapat menyadari bahwa pentingnya membaca buku dan menjadikan buku tersebut sebagai sarana dalam meningkatkan wawasan dan juga dapat membudayakan minat seluruh siswa untuk membaca buku. c. Pojok Literasi Pojok literasi merupakan suatu program kegiatan yang berupaya untuk meningkatkan minat baca siswa dan memenuhi kebutuhan sumber literasi di sekolah. Pojok literasi ini memiliki rak yang terbuat dari kayu atau bahan lainnya dan menyediakan beberapa koleksi buku yang bisa digunakan oleh para siswa baik fiksi maupun non fiksi. Dari hasil pengamatan, kegiatan ini sesuai dengan Kemendikbud (2016) yaitu pojok literasi harus dibangun di setiap kelas, pojok literasi yang ada di SMAN 1 Padang dibangun di setiap kelas dan juga di area sekolah yang berada di depan ruangan Tata Usaha, di depan ruang Kepala Sekolah, dan di lantai 2. Penjelasan lain yang diungkapkan oleh ibu Efriza Syuib A.Md melalui wawancara pada 21 juni 2019 yang menjelaskan bahwa “pojok literasi sudah diterapkan di SMAN 1 Padang namun, pojok literasi ini belum terlaksana dengan baik dan masih kurangnya buku untuk pojok literasi karena sekolah lebih memfokuskan kelengkapan buku untuk di perpustakaan dari pada pojok literasi.” Dengan perbandingan yang telah dilakukan, maka hutan baca seperti di SMAN 4 Magelang belum bisa diterapkan di SMAN 1 Padang, disebabkan terbatas atau kurangnya lokasi untuk pembuatan hutan baca sekolah tersebut. Namun, untuk penambahan pojok baca di taman bisa diterapkan, melihat lokasi pada saat peneliti di lapangan terdapat beberapa tempat duduk yang berbentuk jamur yang berada di taman bisa dipergunakan untuk pondok baca. Untuk mendukung adanya kegiatan pojok literasi yang lebih kreatif, sebaiknya pihak sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap serta menyediakan bukubuku yang berupa fiksi maupun non fiksi dan berbagai karya siswa yang bernilai seni dan juga merawat pojok literasi agar terjaga kelestariannya. Kegiatan literasi ini sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam literasi. Kegiatan ini juga sangat bermanfaat karena siswa diarahkan untuk menjadi produktif dalam hal membaca dan dalam kegiatan pembelajaran. d. Membaca Buku dengan Memanfaatkan Peran Perpustakaan Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan proses membaca, meningkatkan kemampuan pemahaman bahan bacaan yang efektif dan mengembangkan kemampuan membaca secara efektif. Perpustakaan sekolah mengadakan kegiatan penunjang literasi informasi untuk para siswa. Kemudian, keterampilan ini siswa terapkan saat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru melalui tugas yang sesuai mata pelajaran yang bersangkutan. Di perpustakaan SMAN 1 Padang, guru mengajak siswa ke perpustakaan dengan cara memberi tugas sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan. Kemudian siswa di perbolehkan untuk meminjam buku untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran dan siswa tidak mendapatkan arahan dari pustakawan. Hasil wawancara dengan ibu Efriza Syuib melalui wawancara pada 17 juli 2019 menjelaskan bahwa “guru mata pelajaran yang bersangkutan mengajak siswa untuk datang keperpustakaan dengan memberikan tugas yang harus dikerjakan di perpustakaan.” Jadi, berdasarkan wawancara tersebut guru berperan penting dalam memanfaatkan peran perpustakaan sebagai penunjang pembelajaran dan kegiatan ini di SMAN 1 Padang sudah sesuai dengan langkah yang ada di Kemendikbud. Salah satu kegiatan untuk menunjang kegiatan di perpustakaan yaitu mengadakan kunjungan pemakai. Salah satu cara yang dilakukan untuk pendidikan pemakai di perpustakaan yaitu melalui pengenalan perpustakaan atau orientasi perpustakaan. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun ajaran baru yang diberikan kepada siswa baru memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Dalam acara kunjungan pemakai yang berbentuk orientasi perpustakaan, sebelumnya pustakawan harus memperkenalkan titik lokasi keberadaan perpustakaan. Pertama, Pustakawan menginformasikan kepada siswa baru bahwa ruang perpustakaan terletak pada lantai 3 di depan ruangan labor komputer. Kedua, pustakawan melakukan pengenalan sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan, diantaranya pengenalan katalog, alat penelusuran lainnya seperti komputer, televisi, musik, layanan peminjaman dan sebagainya. Ketiga, pustakawan harus melakukan pengenalan macam-macam sumber bacaan termasuk juga bahan-bahan rujukan dasar yang tersedia di perputakaan dan pengorganisasian koleksi. Keempat, pustakawan memperkenalkan kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti prosedur untuk menjadi anggota perpustakaan, jam layanan perpustakaan, peraturan yang harus di patuhi, kemudian pengenalan staf dari tiap bagian layanan di perpustakaan. e. Pengadaan Perpustakaan sebagai Sumber Literasi Perpustakaan mampu membentuk literasi siswa dalam pembelajaran. Perpustakaan memiliki tujuan untuk menumbuh kembangkan minat siswa dalam membaca dan menulis, perpustakaan juga mampu memperkenalkan teknologi informasi dan membantu siswa untuk membiasakan percaya diri dalam melakukan pengaksesan informasi secara mandiri serta menumbuhkan minat bakat dalam akademik. Dari pengamatan peneliti, program yang dilakukan di perpustakaan SMAN 1 Padang sangat kurang. Seperti mengadakan reading reward, program ini hanya terlaksana ketika peneliti masih magang di Perpustakaan SMAN 1 Padang selama sebulan. Namun, setelah peneliti sudah berakhir magang disana, pihak perpustakaan tidak melanjutkan terlaksananya program tersebut. Adapun kegiatan yang lain dalam penunjang pengadaan perpustakaan sebagai sumber literasi seperti sumbangan wajib. Sumbangan wajib ini merupakan salah satu bentuk upaya perpustakaan dalam pemenuhan sumber literasi di perpustakaan. Kegiatan ini merupakan penerimaan buku dari siswa kelas XII pada setiap tahunnya. Buku yang disumbangkan ke perpustakaan tentu buku yang sesuai dengan standar yang ditentukan oleh perpustakaan. Buku yang didapat dari sumbangan tersebut sangat dimanfaatkan oleh siswa sesuai dengan kebutuhan informasi siswa dalam belajar. Program ini dilaksanakan setiap tahun ketika siswa kelas XII sudah lulus, masing-masing siswa wajib menyumbangkan satu buku novel baru untuk perpustakaan. Adapun kegiatan lainnya dalam menunjang kegiatan di perpustakaan yaitu mading literasi. Mading disebut juga dengan majalah dinding. Program ini berisi informasi mengenai kegiatan dari perpustakaan yang bertemakan tentang literasi bertujuan untuk mengundang keingintahuan siswa terhadap informasi yang tersedia. Di Perpustakaan SMAN 1 Padang, sudah tersedia satu mading, namun mading tersebut kurang dimanfaatkan oleh siswa yang berkunjung ke perpustakaan, dikarenakan pustakawan tidak memanfaakan mading dengan sepenuhnya. Staf perpustakaan harus bekerjasama dalam mengelola mading yang tersedia dengan penyusunan tertentu. Dalam penyusunan mading, harus sangat diperhatikan dengat baik dan cermat supaya memiliki hasil yang informatif dan dapat menarik minat siswa. Berdasarkan program literasi sekolah yang ada, belum sepenuhnya tahapan yang ada di sekolah dilakukan sesuai dengan panduan yang ditentukan oleh Kemendikbud. Sebaiknya, pustakawan dan pihak sekolah lainnya harus terlibat dalam seluruh aktivitas program literasi yang disediakan agar literasi yang terbentuk untuk siswa semakin bagus. 1. Kendala dalam Pemanfaatan Literasi Informasi di SMA Negeri 1 Padang Berikut ini terdapat 3 kendala dalam kegiatan literasi informasi di sekolah, yaitu: a. Keterbatasan Waktu Pelaksanaan Membaca 15 Menit sebelum Pembelajaran Dalam pelaksanaan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran ini, waktu yang digunakan guru untuk kegiatan ini sangat singkat dan hanya dilaksanakan pada setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai. Hal ini belum mewujudkan antusias siswa dalam mengikuti kegiatan membaca 15 menit. b. Kurangnya Penempatan Pojok Baca dan Kelengkapan Koleksi Bacaan pada Pojok Literasi Jumlah koleksi yang tersedia di sekolah untuk siswa masih kurang, terutama koleksi yang berada di pojok literasi. Koleksi bacaan yang tersedia di pojok literasi masih sangat kurang beragam dan keberadaan pojok literasi di SMAN 1 Padang juga perlu ditambah, serta keadaannya yang kurang terawat dan tidak dijaga dengan baik. Dengan kurangnya koleksi bacaan di pojok literasi tersebut membuat siswa malas dan kurang berminat untuk mengunjungi pojok literasi. Sangat jarang terlihat siswa yang menghampiri pojok literasi saat jam istirahat, kemudian kepedulian guru terhadap pojok literasi ini juga sangat kurang. c. Kurangnya Penerapan Kegiatan Reading Award Kegiatan reading award di perpustakaan SMAN 1 Padang tidak berlanjut setelah peneliti selesai magang di SMAN 1 Padang. Kendala yang ada pada kegiatan ini dikarenakan pustakawan belum menerapkan kegiatan ini dengan baik. Kemudian penghargaan yang diberikan untuk siswa masih minim, untuk memotivasi siswa dalam mengikuti kegiatan ini masih belum terbentuk. 2. Upaya dalam Mengatasi Kendala pada Kegiatan Literasi Informasi di Perpustakaan SMA Negeri 1 Padang Dari hasil observasi dan wawancara ada 3 upaya dalam mengatasi kendala dalam kegiatan literasi informasi di SMAN 1 Padang, akan dijelaskan sebagai berikut: a. Menambah Waktu Pelaksanaan pada Kegiatan Membaca 15 Menit sebelum Pembelajaran Selain melaksanakan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran di pagi hari, guru harus menambah waktu untuk pelaksanakan kegiatan tersebut. Setelah membaca di pagi hari kemudian diberi waktu jeda, dan ada tambahan waktu pelaksanaannya seperti jam masuk pembelajaran pada siang hari, maka guru harus melanjutkan kegiatan membaca tersebut pada saat pembelajaran di siang hari. Hal ini akan membantu untuk mengantusias siswa agar lebih semangat lagi untuk belajar ketika siswa sudah merasa bosan ataupun ngantuk pada saat jam belajar di siang hari. b. Menambah Koleksi dan Penempatan Pojok Baca di Area Lingkungan Sekolah Warga sekolah harus lebih peduli dan membudayakan literasi dengan baik. Salah satunya ketersediaan pojok literasi atau pojok baca di sekolah. Pihak sekolah harus menambah tata letak pojok baca selain di setiap kelas, sebaiknya pihak sekolah harus membuat pojok baca diarea taman, kantin, tempat olah raga dan mesjid dan sebagainya. Pojok baca yang perlu ditambah seperti ditaman bisa memanfaatkan tempat duduk jamur yang tersedia sebagai pojok baca, kemudian membentuk pojok baca di kantin yang bisa dinamakan dengan sebutan cafe literasi atau kantin literasi, dan untuk siswa yang sedang berolahraga, pihak sekolah bisa membentuk pojok baca di Gor sekolah. Pihak sekolah juga harus lebih memperhatikan pojok literasi dan merawat agar terjaga kelestariannya serta harus menambah koleksi bacaan yang beragam pada pojok literasi sebagai penunjang belajar siswa dalam pembelajaran. Hal tersebut akan lebih mempermudah dan mendorong minat siswa untuk membaca dan memanfaatkan program tersebut dalam aktivitas kesehariannya serta juga untuk mempermudah mencari dan mendapatkan informasi. c. Melanjutkan Kegiatan Reading Award dan Menambah Hadiah untuk Siswa Pustakawan harus melanjutkan kegiatan reading reward untuk menarik siswa agar lebih serinng berkunjung ke perpustakaan dan memotivasi siswa untuk banyak membaca dan mencari informasi di perpustakaan. Pustakawan juga harus menyedia hadiah atau penghargaan yang lebih bagus dari sebelumnya, seperti memberi voucher belanja di toko buku, pemberian laptop, novel atau buku ensiklopedia atau hadiah yang lainnya. Hal ini akan membantu pustakawan dalam membangun literasi siswa di perpustakaan.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, kegiatan literasi di SMAN 1 Padang sudah sesuai dengan bentuk kegiatan yang ada di Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama rancangan kegiatan literasi informasi di SMAN 1 Padang, yaitu: (1) aktivitas membaca 15 menit sebelum pembelajaran, membuat jurnal literasi untuk siswa; (2) reading award, mengadakan duta literasi. (3) pojok literasi, mengadakan pojok baca di taman. (4) membaca buku dengan memanfaatkan peran perpustakaan, mengadakan bimbingan pemakai. (5) pengadaan perpustakaan sebagai sumber literasi, pembuatan mading literasi. Kedua, kendala dalam pemanfaatan literasi informasi di SMAN 1 Padang yaitu: (1) keterbatasan waktu pelaksanaan pada kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran; (2) kurangnya penempatan pojok baca dan kelengkapan koleksi bacaan pada pojok literasi; (3) kurangnya menerapkan kegiatan reading award. Ketiga, upaya dalam mengatasi kendala pada kegiatan literasi informasi di SMAN 1 Padang yaitu: (1) menambah waktu pelaksanaan pada kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran; (2) menambah koleksi dan penempatan pojok baca di area lingkungan sekolah; (3) melanjutkan kegiatan reading award dan menambah hadiah untuk siswa. Pihak sekolah disarankan untuk dapat meningkatkan lagi kegiatan literasi yang sudah ada dalam bentuk yang lebih kreatif. Perlu adanya kegiatan lanjut dari reading award yang harus dilaksanakan oleh pustakawan dan perlu adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan pustakawan untuk pengembangan kelengkapan perpustakaan. Pihak sekolah perlu menambah koleksi bacaan yang harus disediakan untuk pojok literasi dan juga lebih memperhatikan pojok literasi agar lebih menjaga buku-buku. Diharapkan Tugas Akhir ini menjadi pedoman untuk SMAN 1 Padang dalam mengembangkan kegiatan literasi.