Peningkatan Minat Baca Generasi Z Melalui Kegiatan Biblioterapi di Nagari Padang Lua dan Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
Generation Z's interest in reading is still relatively low when compared to the use of gadgets in their lives. The purpose of this study was to determine the impact of bibliotherapy activities as a medium for solving generation Z problems which later were expected to increase their reading interest in books. This type of research is descriptive qualitative by interviewing five (5) informants from Generation Z in Nagari Padang Lua and Ladang Laweh, Banuhampu District, Agam Regency. From the results of the study, it was stated that there was a positive influence from bibliotherapy activities where those who were busy with their respective gadgets now tend to choose to finish reading the books that have been provided by the research team and discuss the problems they face. The hope is that the love for books can be maintained so that it can become a habit and even the reading culture of Generation Z in Nagari Padang Lua and Ladang Laweh, Banuhampu District, Agam Regency.
Keywords:
bibliotherapy
· reading interest
· Z generation
Introduction
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki minat baca rendah. Hal ini disimpulkan dari hasil riset "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, yang menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca (Devega, 2017). Hal ini sangat berbanding terbalik dengan hasil riset digital marketing Emarketer yang memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika (Rahmayeni, 2015). Padahal dengan fakta kedua ini, kita bisa mengambil peluang untuk menumbuhkan minat baca karena banyaknya informasi baik informasi ilmiah maunpun non ilmiah yang bisa diakses dengan cepat dan mudah melalui gadget. Minat baca adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu dan keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Minat bukan bawaan dari lahir, melainkan dapat dipengaruhi bakat. Minat harus dimulai dari usia dini agar tumbuh dan terasa sehingga menjadi kebiasaan (Iraniswati, 2013). Namun untuk membangun minat baca sejak dini tersebut tidaklah mudah, butuh niat dan usaha yang kuat agar bisa konsisten untuk melakukannya secara terus menerus sehingga menjadi kebiasaan dan budaya. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca adalah dengan biblioterapi. Biblioterapi secara etimologis berasal dari dua kata yaitu biblion atau bibtio dan therapeia, "terapi". Selanjutnya biblio diartikan sebagai buku/bahan bacaan, sedangkan terapi diartikan dengan penyembuhan. Biblioterapi merupakan penggunaan buku atau literatur untuk meningkatkan ekspresi perasaan, koping, pemecahan masalah atau wawasan. Biblioterapi juga dimaknai sebagai upaya penyembuhan lewat buku. Bahan bacaan berfungsi untuk mengalihkan orientasi dan memberikan pandangan-pandangan yang positif sehingga menggugah kesadaran penderita untuk bangkit menata hidupnya (Suparyo, 2010). Jadi secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa biblioterapi ini merupakan terapi kejiwaan menggunakan media bahan bacaan (buku). Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan wali nagari di Nagari Padang Lua dan Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, kondisi generasi Z pada masa pandemi lebih cenderung menggunakan gadget untuk bermain dan bersosial media dibanding untuk mencari informasi terkait tugas sekolahnya. Selain itu minat baca juga masi tergolong rendah yang mana dilihat dari jumlah buku yang dimiliki dirumah dan jumlah peminjaman buku di perpustakaan. Padahal untuk lingkungan sekolah perpustakaan mempunyai andil yang besar dalam menjalankan perannya sebagai sumber dan penyedia layanan informasi bagi warga sekolahnya. Sasaran dalam penelitian ini adalah generasi Z yang dalam hal ini difokuskan pada remaja yang berumur 13-17 tahun di mana pada masa ini mereka mengalami ketidakseimbangan emosional dan ketidakstabilan dalam banyak hal sehingga pola-pola hubungan sosial mulai berubah. Pada masa ini mereka juga cenderung melakuka pencarian jati diri karena mereka merasa statusnya tidak jelas (Teressa, 2002). Disamping situasi tersebut, generasi ini juga merupakan generasi yang sangat dekat dengan gadget sehingga banyak sedikitnya akan mempengaruhi proses belajar mereka di sekolah. Berdasarkan fakta inilah, perpustakaan diharapkan memegang peran penting dalam menunjang pembelajaran mereka khususnya meningkatkan minat baca melalui layanan biblioterapi (terapi menggunakan buku-buku).
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan deskriptif. Menurut Arikunto (2013), pendekatan ini hanya menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Pendekatan deskriptif mencoba mencari deskripsi yang tepat dan cukup dari semua aktivitas, objek, proses, dan manusia. Dalam pendekatan deskriptif kualitatif data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata dan gambar bukan angka-angka (Moleong, 2010). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran biblioterapi dalam meningkatkan minat baca generasi Z yang dilakukan dengan cara mencari informasi tentang gejala yang ada, merencanakan, mengumpulkan data sebagai bahan membuat laporan. Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang generasi Z yang ada di Nagari Padang Lua dan Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Secara keseluruhan teknik analisis data yang dilakukan diawali dengan pengumpulan data dengan cara kajian dokumen dan wawancara, reduksi data dan memilah informasi sesuai dengan tujuan penelitian, serta pengambilan kesimpulan. Adapun untuk validasi data peneliti menggunakan cara trianggulasi. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan triangulasi waktu (Sugiyono, 2013). Dengan menggunakan teknik ini, diharapkan menghasilkan data yang valid dan dapat berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan.
Result & Discussion
Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati/gairah untuk membaca. Definisi ini sejalan dengan pendapat Darmono yang menyatakan bahwa minat baca merupakan kecenderungan jiwa yang menggerakkan seseorang untuk membaca. Minat baca tumbuh dari dalam diri individu, sehingga dibutuhkan kesadaran dari masing-masing individu tersebut. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terkait minat baca generasi Z di Nagari Padang Lua dan Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam ditemukan bahwa minat baca generasi Z nya masih tergolong rendah yang dibuktikan dengan minimnya jumlah buku yang ada di rumah dan perpustakaan yang tidak dimanfaatkan secara optimal baik perpustakaan yang ada di sekolah maupun nagari. Dengan fenomena tersebut tim peneliti menawarkan kegiatan biblioterapi untuk menyentuh ranah psikologis mereka sehingga kegiatan ini diharapkan mendekatkan mereka dengan buku. Generasi Z merupakan generasi yang rentan mengalami perubahan karena mereka masih dalam proses pencarian jati diri. Hal ini seolah didukung juga dengan kebiasaan mereka yang dekat sekali dengan gadget sehingga butuh media untuk mengalihkan kebiasaan tersebut. Kegiatan biblioterapi yang dilakukan oleh peneliti dimulai dari wawancara terkait dengan permasalahan yang dihadapi baik masalah remaja atau masalah tentang pembelajaran di sekolah. Dari 5 informan yang diteliti dapat disimpulkan bahwa masalah utama yang dihadapi mereka adalah ketergantungan dengan gadget. Ketergantungan ini semakin parah semenjak Indonesia dilanda pandemi yang mana mengharuskan mereka menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di sini perlu adanya figure yang memotivasi selain orangtua dan guru di sekolah untuk memicu minat baca dan mendekatkan mereka dengan buku. Setelah mengetahui permasalahan utama dari generasi Z, peneliti melakukan kegiatan penyeleksian terhadap buku-buku yang bisa memotivasi mereka untuk belajar dan ditemukannlah 20 judul buku dengan tema secara umum adalah motivasi dalam belajar, kiat-kiat menjadi pribadi sukses, enterpreneurship dan menjadikan kebiasaan bersosial media menjadi peluang untuk mencari penghasilan. Adapun pelaksanaanya 1 informan akan ditugaskan menyelesaikan 3 eksemplar buku untuk dibaca dalam kurun waktu 1minggu/ buku. Untuk pelaksanaanya tim peneliti menceritakan garis besar isi buku dengan cara mengemas cerita semenarik mungkin. Kemudian peneliti memberikan ruang kepada informan tersebut untuk membaca dan bercerita sehingga muncul diskusi terkait dengan masalah yang mereka hadapi. Setelah adanya feedback dari informan, barulah peneliti mengetahui seberapa besar buku tersebut berperan dalam mengantisipasi permasalahan yang dihadapinya. Dari 5 informan yang diteliti, 3 orang sepakat menyatakan bahwa buku tersebut membantu mereka dalam menumbuhkan motivasi belajar sedangkan 2 informan menyatakan belum termotivasi sepenuhnya namun ia menyatakan tertarik untuk tetap menyelesaikan membaca 3 eksemplar buku yang telah dipilih dari tahap awal pelaksanaan biblioterapi. Adapun untuk menumbuhkan minat baca, setelah mengamati dan melaksanakan kegiatan biblioterapi ini selama kurang lebih tiga minggu, terlihat kelima informan tersebut senang dan enjoy menjalaninya. Hal ini dibuktikan dari antusias informan bertanya dan menceritakan permasalahannya yang terpecahkan dengan membaca buku-buku yang telah disediakan oleh tim peneliti. Dalam pelaksanaan kegiatan biblioterapi ini, peneliti juga mengamati intensitas penggunaan gadget yang mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh fokus mereka yang sudah teralihkan pada buku-buku yang memang harus mereka selesaikan untuk dibaca sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Setelah menyelesaikan membaca dan berdiskusi tentang 3 judul buku, mereka pun berinisiatif untuk bergantian membaca dan berdiskusi terkait dengan 17 judul buku lainnya. Hal ini membuktikan bahwa biblioterapi berpengaruh positif terhadap perubahan perilaku nya yang semula sibuk dengan gadget masing-masing sekarang sibuk dengan membaca buku-buku motivasi sehingga minat baca dan minat belajar dapat ditingkatkan dengan baik.
Conclusion
Hasil dari penelitian ini adalah informan merasa termotivasi untuk membaca buku-buku yang sudah disediakan oleh tim peneliti. Biblioterapi merupakan program membaca terarah yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman pembaca dengan dirinya sendiri dan untuk memperluas cakrawala serta memberikan beranekaragam pengalaman emosionalnya. Bacaan-bacaan seperti itu biasanya diarahkan secara umum oleh terapis namun dalam hal ini diarahkan oleh tim peneliti yang berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan dan ilmu psikologi. Kegiatan biblioterapi ini dilakukan di lantai 3 ruangan seminar kantor wali nagari padang lua. Informasi yang diperoleh dari kegiatan membaca menjadi masukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh informan. Saat membaca, pembaca menginterpretasi jalan pikiran penulis, menerjemahkan simbol dan huruf ke dalam kata dan kalimat yang memiliki makna tertentu, seperti rasa haru dan simpati. Perasaan ini dapat menyelesaikan masalahnya dan mendorong sesorang untuk berperilaku lebih positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan biblioterapi ini dapat meningkatkan minat baca informan karena mereka menjadi lebih tertarik untuk membaca buku walaupun dengan subjek tertentu saja. Harapannya kesukaan terhadap buku bisa tetap dipertahankan sehingga bisa menjadikan kebiasaan bahkan budaya baca generasi Z di Nagari Padang Lua dan Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.