Kembali
16
1
2022 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 11 · 1 ISSN 2302-3511

Perilaku Pemustaka Dalam Pemanfaatan Perpustakaan UIN Sunan Ampel Di Masa New Normal

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Abstract

New normal is a transition from pandemic to normal. This transition period certainly has an impact on the behavior of users in using the library, due to the culture of using digital media in meeting information needs during the pandemic. The condition that occurred in the UIN Sunan Ampel library was no exception. This study aims to determine the level of visits and borrowing as well as user behavior during the new normal period. Based on the results of research using descriptive qualitative methods with a sample of one hundred respondents, it shows a tendency that the frequency of visits is once a week with a duration of one hour. The need for a visit is to complete lecture assignments and read collections. In terms of discipline and user compliance with rules and regulations, it is still relatively high, namely, by always carrying and scanning KTM when entering. The collection services that are most in demand are General and Reference. Meanwhile, in terms of procedures for browsing collections, the majority of users choose to go straight to the shelves.
Keywords: User Behavior · New Normal · Library Utilization

Introduction

Setelah hampir dua tahun melakukan pembelajaran secara daring karena terjadinya pandemi covid-19 mulai pertengahan Maret 2020 sampai dengan pertengahan Februari 2022, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel kembali memberlakukan tatap muka mulai 28 Februari 2022 sebagai model pembelajaran, sesuai dengan Surat Edaran Rektor Nomor 342 Tahun 2022. Meski hanya berlaku untuk mahasiswa semester dua dan empat, namun kehidupan kampus perlahan mulai terlihat “normal”. Ruang perkuliahan kembali dibuka, tempat parkir terlihat penuh dengan kendaraan, dan tak terkecuali perpustakaan yang kembali ramai dengan adanya kunjungan pemustaka. Perpustakaan memberikan layanan tatap muka sebagaimana sebelum pandemi melanda, yakni peminjaman, pengembalian, dan baca di tempat sejak tanggal 3 November 2021 atau sebelum kebijakan perkuliahan tatap muka diberlakukan (https://www.instagram.com/perpustakaanuinsa). Meskipun layanan ini berlaku dengan ketentuan, seperti jumlah maksimal kuota kunjungan pemustaka maksimal sebanyak 150 orang setiap hari, penerapan protokol kesehatan, sudah melakukan vaksin kedua, membawa Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), dan instalasai aplikasi PeduliLindungi untuk keperluan scan QR code. Melalui tatap muka, pelayanan perpustakaan menjadi lebih optimal bagi para pemustaka dengan berbagai latar belakang kebutuhan informasi seperti untuk menambah pengetahuan, penyelesaian tugas pendidikan maupun pekerjaan, dan keperluan rekreasi atau hiburan (Fadhilah,2014:105. Bisa dikatakan selain kebutuhan informasi, perilaku pemustaka yang berkunjung di perpustakaan adalah pemanfaatan koleksi dan fasilitas yang tersedia, sekaligus bimbingan prosedur pemanfaatannya (Suhaila,2017:89). Perilaku pemustaka merupakan respon individu permustaka dalam pemanfaatan perpustakaan baik layanan, koleksi, maupun sarana prasarana (Buwana,2020:192). Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh sebelumnya (Syamaun,2019:87). Dengan belajar dan proses berfikir, pengalaman yang ada akan membuat perilaku seseorang semakin baik dan berkembang (Arifin,2017:55). Pengalaman pemustaka ini identik dengan pengetahuan tentang penelusuran koleksi dan pemanfaatan perpustakaan, baik yang diperoleh secara mandiri maupun melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh perpustakaan. Perilaku pemustaka selama masa new normal akan diukur berdasarkan beberapa indikator, seperti frekuensi kunjungan dalam seminggu, durasi kunjungan, keperluan kunjungan, ketertiban ketika melakukan kunjungan, layanan atau koleksi favorit, dan kebiasaan dalam penelusuran koleksi. Selama masa pandemi, update informasi mahasiswa bisa diperoleh melalui akses website dan media sosial seperti instagram, youtube, maupun facebook. Sementara untuk koleksi digital, perpustakaan menyediakannya melalui portal http://digilib.uinsby.ac.id dan aplikasi e-library UINSA Kubuku yang dapat dimamfaatkan gratis dan fulltext. Koleksi digital ini sengaja disediakan sebagai pengganti koleksi cetak oleh perpustakaan dalam upaya pemenuhan sumber informasi sesuai kebutuhan pemustaka di masa pandemi, dikarenakan layanan tatap muka ditiadakan (Lestari,2021:26). Budaya pemenuhan kebutuhan referensi melalui media online yang selama masa pandemi dilakukan pemustaka dalam penyelesaian tugas akademik, akan sedikit berbeda dibandingkan ketika menggunakan sumber informasi berbasis cetak, baik dari segi penelusuran maupun pemanfaatan koleksi di rak. Jika sebelumnya hanya dengan duduk di depan komputer mereka sudah dapat menelusur, memilih, dan mendapatkan (unduh) koleksi, kini mereka dituntut lebih cermat dalam menentukan koleksi yang dibutuhkan karena model pemanfaatan setiap layanan/koleksi berbeda. Beberapa koleksi bisa dipinjam pulang, sebagian lainnya hanya bisa dibaca dan foto copy. Hal ini dikarenakan, Perpustakaan UIN Sunan Ampel menerapkan tiga model layanan, yakni terbuka, tertutup, dan campuran. Dengan “sedikit” pengetahuan yang dimiliki, pemustaka diharuskan mampu menyesuaikan diri dengan segala macam peraturan dan prosedur pemanfaatan koleksi dan layanan yang berlaku di perpustakaan. Salah satu penelitian sebelumnya yang dapat ditemukan terkait layanan perpustakaan di masa new normal adalah Perubahan dan Problematika Perpustakaan Menghadapi Normal Baru karya Jazimatul Husna yang memberikan gambaran pentingnya kesiapan perpustakaan dalam menyongsong layanan di masa new normal seperti betapa budaya literasi informasi di masa pandemi Covid-19 telah mengalami pergeseran dari konvensionel menuju digital. Perpustakaan memiliki keharusan untuk menyediakan koleksi digital dalam bentuk repositori dan optimalisasi self service seperti Drob Book dan layanan berbasis aplikasi. Penelitian ini memiliki perspektif dari sudut pengelolaan perpustakaan, bukan perilaku pemustakanya. Dengan demikian, menjadi penting untuk dilakukan kajian secara lebih mendalam tentang perilaku pemustaka dalam pemenuhan kebutuhan informasi di masa new normal, sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk mempersiapkan diri bagi perpustakaan dalam menyambut dimulainya kembali perkuliahan tatap muka sekaligus evaluasi program kegiatan dalam upaya peningkatan pelayanan.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu kajian dilakukan secara mendalam dan apa adanya terhadap peristiwa yang terjadi melalui observasi, interview, dan dokumentasi guna memperoleh data tulisan dan lisan sebanyak mungkin dari subyek (Noor,2012:34). Penelitian dilakukan dengan menggunakan tehnik pengumpulan data melalui pengamatan dan penyebaran kuesioner tentang perilaku pemustaka pemustaka dalam pemenuhan kebutuhan informasi di masa new normal yang dilakukan mulai tanggal 14 sampai dengan 17 Maret 2022 atau dua minggu setelah diberlakukan kembali perkuliahan tatap muka di UIN Sunan Ampel. Pengamatan dilakukan pada perilaku pemustaka selama di perpustakaan dan rekap database pada software otomasi SLiMS terkait data pengunjung dan peminjaman. Instrument kuesioner dapat diakses melalui tautan https://bit.ly/perluapa_diperpus. Adapun populasi dalam penelitian ini berjumlah 4.200 orang berdasarkan jumlah total pengunjung perpustakaan selama sepuluh hari efektif/kerja terhitung mulai tanggal 1 sampai 15 Maret 2022. Dengan demikian, sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100 pemustaka sesuai rumus slovin. Sampel menggunakan tehnik probability sampling design dengan pemahaman bahwa seluruh pemustaka memiliki pengalaman yang sama sehingga masing-masing berkesempatan untuk menjadi responden (Bungin,2015:108). Data yang telah terkumpul selanjutnya dilakukan analisis menggunakan reduction data, data display, dan conclusion drawing/verification. Reduction data adalah proses merangkum, memilah, dan memilih data sesuai dengan fokus penelitian untuk mencari tema dan pola. Selanjutnya yaitu menyajikan data atau data display tentang jumlah pengunjung/peminjam dan kuesioner dengan menggunakan diangram dan narasi agar lebih mudah untuk dipahami. Terakhir adalah melakukan penarikan kesimpulan atau conclusion drawing berupa deskripsi atau narasi berdasarkan data yang ada untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni perilaku pemustaka dalam pemanfaatan perpustakaan di masa new normal (Sugiyono,2009:247-252).

Result & Discussion

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemustaka dalam pemanfaatan perpustakaan pada awal pemberlakuan layanan tatap muka di Perpustakaan UIN Sunan Ampel. Sebagaimana yang diketahui bersama, pandemi Covid-19 yang berlangsung selama hampir dua tahun, telah menciptakan budaya baru dalam berliterasi bagi pemustaka. Selama masa pandemi, banyak inovasi yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan, baik dari segi sarana prasarana, layanan, maupun koleksi. Dibutuhkan proses adaptasi perilaku dalam pemanfaatan semua resources yang tersedia. Pengunjung dan Peminjaman Perpustakaan di Masa New Normal Data penelitian dikumpulkan menggunakan dua tehnik yakni observasi dan kuesioner. Berikut ini merupakan data pengunjung dan peminjaman koleksi pada tanggal 1 sd. 15 Maret 2022 beradasarkan jumlah orang dan eksemplar yang diperoleh melalui observasi pada database otomasi perpustakaan. Gambar 1. Rekap Pengunjung dan Peminjam Pertanggal 1-15 Maret 2022 Berdasarkan data di atas, untuk periode 1-15 Maret 2022 terlihat bahwa jumlah total pengunjung dan peminjaman koleksi di perpustakaan sebanyak 4.293 orang dan 1.313 eksemplar. Jika diambil rata-rata, maka ditemukan 430 kunjungan pemustaka dan 131 eksemplar pinjaman setiap harinya. Jumlah kunjungan harian di masa new normal ini berselisih jauh jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan sebelum adanya pandemi yang berkisar antara 1.000 hingga 1.500 orang setiap harinya. Kondisi ini dapat dimaklumi karena beberapa alasan, yakni pertama karena memang hanya semester tertentu saja yang diwajibkan untuk melakukan perkuliahan tatap muka, sehingga kuantitas mahasiswa yang berada di kampus sangat terbatas. Kedua, budaya pemenuhan kebutuhan informasi secara online yang dianggap masih bisa diandalkan dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi. Adapun prosedur kunjungan di perpustakaan adalah mewajibkan setiap pemustaka melakukan scan Kartu Tanda Mahasiswa yang sekaligus berfungsi sebagai kartu anggota pada komputer kehadiran setiap kali berkunjung di perpustakaan. Selanjutnya, berbekal KTM pemustaka dapat memanfaatkan seluruh layanan dan koleksi yang tersedia di perpustakaan, seperti Administrasi, Sirkulasi, Ruang Baca, Musholla, kamar kecil, Café dan Foto Copy, Cankru AN Zone, Repository, Smart Room, ruang baca, dan Layanan Koleksi (Umum, Referensi, Tandon dan Serial, Khusus atau tugas akhir, ZoneKU, dan Corner) Perilaku Pemustaka dalam Pemanfaatan Perpustakaan di Masa New Normal Data perilaku pemustaka dalam pemanfaatan perpustakaan di masa new normal diperoleh dari teknik kuesioner yang diberikan kepada 100 orang responden ketika melakukan pemanfaatan perpustakaan mulai tanggal 14 hingga 17 Maret 2022. Penyebaran dilakukan melalui pembagian selebaran berisi tautan kuesioner kepada para pemustaka yang sedang melakukan pemanfaatan perpustakaan di setiap layanan, seperti ruang baca koleksi Tandon dan Serial, ruang baca Koleksi Umum, ruang baca Koleksi Referensi, ruang baca Koleksi Corner, Cangkru “AN Zone, Zone KU, hingga ruang Lobby. Kuesioner terdiri dari enam pertanyaan yang merupakan indikator perilaku para pemustaka dalam pemenuhan kebutuhan informasi di masa new normal, yakni frekuensi kunjungan dalam seminggu, durasi/lama waktu kunjungan di perpustakaan, keperluan kunjungan di perpustakaan, prosedur kunjungan di perpustakaan, layanan atau koleksi yang paling sering dikunjungi, dan kebiasaan dalam penelusuran koleksi. Kuesioner dapat diakses melalui tautan https://bit.ly/perluapa_diperpus. 1. Frekuensi Kunjungan Pemustaka dalam Seminggu Berikut ini adalah rekapitulasi data frekuensi kunjungan yang dilakukan pemustaka dalam seminggu: Gambar 2. Rekapitulasi Frekuensi Kunjungan dalam Seminggu Berdasarkan data di atas, lebih dari separo responden atau 58 orang memiliki frekuensi kunjungan seminggu sekali di perpustakaan. Hal ini mengindikasikan bahwa pemustaka masih dalam tahap adaptasi dengan pelaksanaan perkuliahan secara luring. Mahasiswa lebih mengutamakan kesibukan di fakultas, seperti permasalahan akadermik, ruang perkuliahan, maupun interaksi dengan rekan satu kosma. Disamping itu, budaya pemanfaatan koleksi digital juga sangat berpengaruh terhadap perilaku pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka. Kunjungan fisik di perpustakaan dilakukan pemustaka sebagai pilihan ketika tidak lagi ditemukan referensi secara online di internet. 2. Durasi/Lama Waktu Kunjungan Pemustaka di Perpustakaan Data hasil kuesioner tentang durasi atau lama waktu kunjungan pemustaka di perpustakaan pada masa new normal adalah sebagai berikut: Gambar 3. Rekapitulasi Durasi Kunjungan Dapat dilihat pada data di atas, bahwa mayoritas pemustaka memiliki durasi dalam pemanfaatan perpustakaan selama satu jam (38), dua jam (27), dan lebih dari dua jam (22). Jam ramai atau puncak kunjungan perpustakaan dimulai berkisar antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Pada jam-jam tersebut, sebagian besar mahasiswa memang sedang dalam peralihan jam perkuliahan. Sehingga bisa dikatakan bahwa melakukan kunjungan ke perpustakaan merupakan salah satu pilihan disamping sarapan pagi di kantin, mengurus administratif perkuliahan di fakultas, dan menyelesaikan keperluan lainnya. 3. Keperluan Kunjungan Pemustaka di Perpustakaan Jumlah total dari jawaban untuk pertanyaan keperluan kunjungan pemustaka di perpustakaan dimungkinkan lebih dari seratus karena setiap responden boleh memilih lebih dari satu pilihan jawaban. Gambar 4. Rekapitulasi Keperluan Kunjungan Jawaban tertinggi untuk pertanyaan keperluan kunjungan di perpustakaan adalah menyelesaikan tugas kuliah (70) dan membaca koleksi (53). Para pemustaka menyatakan bahwa, perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk digunakan dalam penyelesaian tugas akademik, seperti tugas akhir, makalah, maupun karya ilmiah. Selain ruangan berhawa sejuk karena AC, juga dalam keadaan bersih, rapi, penataan ruang bagus, desain interior menarik, dan koleksi yang melimpah. Kondisi inilah yang membuat para pemustaka tertarik untuk menggunakan fasilitas dan sarana prasarana perpustakaan dalam penyelesaian tugas kuliah. Data yang ada selaras dengan tingkat peminjaman yang masing tergolong rendah. 4. Prosedur Kunjungan di Perpustakaan Di bawah ini adalah data hasil kuesioner tentang prosedur kunjungan di perpustakaan oleh pemustaka selama masa new normal: Gambar 5. Rekapitulasi Prosedur Kunjungan Perimbangan jawaban responden cukup mencolok, yakni 64 responden melakukan scan barcode yang tertera pada Karu Tanda Mahasiswa (KTM) dan 36 lainnya yang mengetikkan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) di komputer absensi. Dapat dimaklumi belum tertibnya prosedur pemanfaatan perpustakaan yang seharusnya menggunakan KTM sebagai syarat masuk perpustakaan, karena adanya beberapa alasan. Pertama, pemustaka semester 2 dan 4 memang belum memiliki KTM karena belum tersedia di Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Rektorat. Mereka hanya bisa memanfatkan file KTM format pdf atau schreenshot aplikasi Sinau yang tersimpan dalam gawai masing-masing sebagai syarat masuk yang harus ditunjukkan dan diketik secara mandiri di komputer kehadiran. Sementara responden dengan scan KTM sebagian besar berasal dari mahasiswa yang sedang proses penyelesaian tugas akhir. 5. Layanan atau Koleksi yang Paling Sering Dikunjungi Pemustaka Masing-masing responden diberikan keleluasaan untuk memilih lebih dari satu jawaban pada pertanyaan layanan atau koleksi favorit yang paling sering dikunjungi. Dengan demikian, jumlah total jawaban dimungkinkan lebih dari seratus. Gambar 6. Rekapitulasi Layanan Favorit Ketika Kunjungan Layanan paling favorit bagi pemustaka dalam melakukan kunjungan adalah koleksi Umum (80) dan koleksi Referensi (58). Sangat dimaklumi jika para pemustaka seringkali mengunjungi Koleksi Umum sebagai sarana pemenuhan kebutuhan informasi karena koleksi ini satu-satunya yang bisa dipinjam bawa pulang. Sementara Koleksi referensi, menjadi tempat yang paling diminati pemustaka kedua karena ruang koleksi dan ruang baca yang sangat reperesentatif dan kondusif meski menampung banyak pemustaka. Koleksi Umum dan Referensi memiliki ruang baca yang paling luas dibanding koleksi lainnya. 6. Kebiasaan Pemustaka dalam Penelusuran Koleksi Berikut ini adalah data hasil kuesioner untuk pertanyaan kebiasaan pemustaka dalam melakukan penelusuran koleksi: Gambar 7. Rekapitulasi Kebiasaan Pemustaka dalam Penelusuran Koleksi Perpustakaan menyediakan katalog online melalui website http://catalog.uinsby.ac.id sebagai sarana penelusuran koleksi dengan menampilkan ketersediaan judul dan eksemplar koleksi beserta lokasi keberadaanya di rak. Dengan pemanfaatan katalog online akan memudahkan pemustaka dalam menemukan koleksi yang dibutuhkan. Di masa new normal ini atau dua minggu sejak pemberlakuan perkuliahan tatap muka, pemustaka memiliki kecenderungan untuk menemukan koleksi yang diinginkan langsung di rak tanpa terlebih dahulu menggunakan katalog online (50). Kondisi ini terjadi karena minimnya pengetahuan pemustaka, terutama semester 2 dan 4 tentang adanya katalog online dan prosedur pemanfaatannya. Mayoritas mereka adalah first visitor perpustakaan yang tidak memiliki bekal pengetahuan tentang perpustakaan.

Conclusion

Mayoritas perilaku pemustaka dalam pemanfaatan perpustakaan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan informasi di masa new normal atau dua minggu setelah diberlakukannya perkuliahan tatap muka adalah melakukan kunjungan seminggu sekali dengan durasi selama satu jam. Adapun keperluannya untuk menyelesaikan tugas perkuliahan dan membaca koleksi yang tersedia. Untuk prosedur kunjungan, dilakukan pemustaka melalui scan KTM pada komputer kehadiran. Sedangkan layanan favorit bagi pemustaka yakni Layanan Koleksi Umum dan Referensi. Dan untuk penelusuran koleksi, pemustaka masih cenderung untuk langsung menuju ke rak dibanding menggunakan katalog. Saran atau masukan yang bisa peneliti berikan adalah perlunya perpustakaan menyelenggarakan kegiatan literasi informasi dasar atau user education bagi pemustaka di awal pelaksanaan kegiatan perkuliahan tatap muka seperti pada masa new normal ini. Dengan demikian para pemustaka memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mampu memanfaatkan perpustakaan secara optimal sebagai salah satu sarana pendukung kelancaran proses pendidikan. Dikarenakan pengalaman yang diperoleh secara luring akan sangat berbeda dibanding daring dalam segi interaksi yang lebih intensif antara pengelola perpustakaan dengan pemustaka.