Analisis Semiotik Sajak Bulang Cahaya
Universitas Lancang Kuning
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menggali makna tanda yang terdapat dalam sajak Bulang Cahayakarya Rida K Liamsi. Untuk menggali makna itu, pendekatan analisis semiotik Roland Barthes digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sajak ini berisi tanda-tanda bersumber dari kosa kata Melayu lama. Sajak ini juga berisi simbol-simbol yang berkaitan dengan kehidupan orang Melayu. Penggunaan kata-kata Melayu lama dan simbol Melayu memperkuat setting Melayu dalam sajak ini. Analisis makna menunjukkan bahwa seseorang merasakan kedukaan sangat mendalam ketika cintanya harus berakhir, tetapi ia terus merasakan kerinduan dengan kekasihnya yang telah pergi. Mitos cinta yang terdapat dalam pusinya adalah orang tahu bahwa putus cinta itu menyakitkan tetapi orang tetap saja jatuh cinta.
Abstract
This study aimed to explore the meaning of singns in Rida K Liams’s Bulang Cahaya. The study is cunducted from the perspective semiotic approach suggested by Roland Barthes. The result of the study indicates that the poem cointains some signs derived from the old Malay words. The poem also contains some symbols related to the life of Malay people. The uses of old Malay words and Malays symbols strengthen the Malay setting in this poem. The the analysis of signs indicates that one feels very deep sorrow when he end his love but he keeps longing her love. The myth of love implied in this poem is “one knows breakup is painful, but he still wants to fall in love.
Keywords:
sajak
· semiotik
· cinta