PEMANFAATAN SLiMS DALAM SISTEM KATALOGISASI DI RUMAH BACA ANAK NAGARI DAERAH BUKITTINGGI
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Dampak teknologi dan internet menjadi latar belakang pendirian Rumah Baca Anak Nagari, sekaligus komponen penunjang manajemen pengetahuan di RBAN dalam pengolahan bahan pustaka. RBAN memanfaatkan SLiMS sebagai sistem pengolahan koleksi pada kegiatan katalogisasi dan temu balik informasi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana/esksistensi pemanfaatan aplikasi SLiMS dalam sistem katalogisasi di Rumah Baca Anak Nagari, dan bagaimana langkahlangkah pengoperasian sistem aplikasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menjelaskan pemanfaatan aplikasi SLiMS di RBAN ialah dengan menerapkan fitur bibliografi untuk kegiatan katalogisasi bahan pustaka, yang menghasilkan katalog dan label call number untuk memudahkan tenaga RBAN dalam pencarian bahan pustaka. Pengoperasian SLiMS pada menu bibliografi melalui sejumlah tahapan pengisian data deskripsi bibliografis dan Analisa subyek, berdasarkan standar pendeskripsian bibliografis ISBD dan skema klasifikasi DDC. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pemanfaatan aplikasi SLiMS di RBAN pada menu bibliografi berjalan cukup optimal, namun belum berjalan optimal pada menu lain seperti fitur keanggotaan dan sirkulasi.
Abstract
The impact of technology and internet became the background for the establishment of Rumah Baca Anak Nagari, as well as a component of knowledge management support at RBAN in processing library materials. RBAN used SLiMS as a processing collection system on cataloging and information retrieval activities. This study aims to determine the extent/existence the use of SLiMS application in cataloging system at Rumah Baca Anak Nagari, and the steps of how to operate those application system. This research uses descriptive qualitative research as its method. The findings describe the use of SLiMS application in RBAN is with applying the bibliography feature for the library materials cataloging activity, which produce catalogs and call number labels to facilitate RBAN staff in finding library materials. The operation of SLiMS on the bibliography menu goes through some stages of filling in bibliography descriptions and subject analysis, based on the ISBD bibliography description standard and the DDC classification scheme. It can be concluded that the use of the SLiMS application in RBAN on the bibliography menu runs quite optimally, but has not run optimally in another menu such as membership and circulation features.
Keywords:
Katalogisasi
· RBAN
· SLiMS
Introduction
Internet menjadi istilah tak asing dan telah umum didengar dalam kehidupan bermasyarakat. Varian-varian program yang dihasilkannya terus berkembang menjadikan dunia berada dalam genggaman teknologi. Segala aspek kehidupan dari seluruh lapisan masyarakat terpengaruh oleh dampak yang dibawa internet melalui teknologi, salah satunya pada aspek informasi di kalangan masyarakat. Mulai dari anak-anak sampai dewasa membutuhkan sejumlah informasi untuk berbagai tujuan: untuk memenuhi, menambah, serta mengasah pengetahuan dan keterampilan, atau untuk mengetahui sumber-sumber informasi yang mengarah pada cara, teknis, atau proses dalam melakukan sesuatu. Tidak hanya kebutuhan informasi guna memenuhi sesuatu seperti menyelesaikan tugas atau pekerjaan, internet juga melahirkan program yang dapat menunjang fungsi sosial seperti adanya media sosial chatting, dan fungsi hiburan seperti aplikasi game online dan konten-konten digital. Program-program tersebut di atas memberi dampak positif dengan kemudahan yang ditawarkan. Sosial media seperti aplikasi WhatsApp, Line, atau media terdahulunya seperti BBM, telah memfasilitasi komunikasi hubungan jarak jauh tanpa harus bertemu secara langsung. Hal ini tentu sangat baik, namun sewaktu-waktu juga dapat memberi dampak negatif dan menjadi boomerang bagi pengguna yang kurang selektif dan kritis terhadap pemanfaatan teknologi. Keberadaan dunia maya dapat menimbulkan sikap apatis ataupun individual karena kurangnya pertemuan secara langsung dan kebebasan yang membuat pengguna tenggelam kedalamnya. Begitu pula dengan programprogram bersifat hiburan yang jika tidak dibatasi, akan menimbulkan rasa kecanduan dan dapat menjerumuskan pada hal-hal negatif yang tidak diinginkan. Keseringan bermain game online terutama pada anak-anak akan menjadikan anak tersebut kurang bersosialisasi dengan teman sebayanya, sehingga jarang mengeksplor kehidupan nyata disekitarnya. Menanggapi dampak negatif teknologi, khususnya pada sosial masyarakat dan karakter individu, diperlukan suatu unit pengalihan yang dapat menarik perhatian dan lebih memberi dampak positif. Menurut (Huriyah, 2016) perpustakaan keluarga dapat menjadi alternatif untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal bermanfaat yang disediakan, seperti sarana yang menyediakan koleksi bacaan. Penyediaan bahan bacaan akan memenuhi kebutuhan informasi guna menyelesaikan masalah. Alternatif penghabisan waktu khususnya pada kesenangan anak-anak dan remaja bermain handphone, dapat dialihkan dengan kegiatan lebih bermanfaat seperti membaca. Salah satu unit yang dapat dibangun untuk penyediaan bahan bacaan pendukung ialah rumah baca. Dikutip dalam (Dharmawati, 2020), Salvia pada tahun 2014 menjelaskan pengertian taman baca masyarakat, yakni tempat penyediaan bahan bacaan dan penumbuhan minat baca yang dibuat oleh sekelompok lembaga seperti pemerintah, perorangan, atau swakelola dan swadaya masyarakat secara sengaja, yang ditujukan kepada masyarakat yang ada di sekitar taman baca masyarakat. Pengertian tersebut juga dapat diterapkan untuk menjelaskan definisi dari Rumah Baca. Kegiatan membaca tersebut menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan kesadaran terhadap hal yang dianggap tidak penting, sehingga dapat menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat guna memperbaiki atau meningkatkan taraf hidup masyarakat. Rumah baca juga dapat menjadi tempat masyarakat berkumpul dan saling bertukar pikiran melalui kegiatan yang ada sehingga terjalin sosialisasi. Dengan membaca pula karakter atau kepribadian seseorang akan terbentuk menjadi lebih baik, melalui perwujudan yang dilakukan manusia dalam membentuk tingkah lakunya, agar menjadi orang yang dikehendakinya dengan sejumlah kemampuan, perbuatan serta kebiasaan yang dimiliki, entah itu jasmani, rohani, emosional, mental maupun sosial (Fifqi, 2014). Keberadaan Rumah Baca Anak Nagari (RBAN) di daerah Bukittinggi memiliki sejarah pendirian, yang kurang lebih berlatarbelakang sama pada dampak negative teknologi yang telah diuraikan sebelumnya. Diambil dari situs web RBAN https://rban.or.id/, Rumah Baca Anak Nagari didirikan karena suatu keprihatinan pendiri dengan kondisi anak-anak dilingkungan sekitar rumah baca. Transformasi nilai-nilai di masyarakat terlebih bagi anak-anak yang menikmati hasil kemajuan teknologi, memberi dampak negatif bagi perkembangan sosial anak yang lebih senang bermain game di smartphone daripada melakukan aktifitas permainan fisik dengan temannya. Disamping keprihatinan tersebut, hal lain yang membuat pendiri RBAN, Sry Eka Handayani, M.Pd yang kerap dipanggil Bunda Sry, dalam mendirikan RBAN tersebut juga untuk mewujudkan keinginan anak laki-laki sulungnya diumur 4 tahun, yang mengimpikan keberadaan perpustakaan dirumahnya. Rumah Baca Anak Nagari memiliki sejumlah visi misi yang diwujudkan dengan perencanaan dan pembangunan berbagai program. Selain memotivasi tumbuh dan berkembangnya minat baca masyarakat, RBAN juga berperan sebagai lembaga pengembangan SDM melalui berbagai aktivitas layanan pendukung pengetahuan, keterampilan, dan sikap dengan komunikasi, interaksi, dan proses belajar bagi anggota dan warga setempat yang membutuhkan. Tidak hanya menyediakan sumber bacaan terkhusus anak-anak, RBAN memilki koleksi umum yang ditujukan bagi masyarakat setempat, seperti buku, majalah, koran, dan karya umum lainnya. Koleksi tersebut terus bertambah menempati rumah yang kian dipenuhi oleh sejumlah koleksi di rak-rak yang disediakan. Dengan jumlah koleksi saat ini dan yang akan terus bertambah di masa mendatang, koleksi-koleksi yang ada perlu diolah untuk mengurangi kesenjangan jumlah koleksi dengan luas bangunan yang dinilai semakin berkurang seiring pertambahan koleksi. Dari segi pengolahan bahan pustaka, koleksi yang ada di Rumah Baca Anak Nagari telah diolah secara konvensional dan sebagiannya mulai diolah secara digital. Pengolahan secara digital dilakukan dengan katalogisasi melalui aplikasi berbasis web open source yang bernama SLiMS (Senayan Library Management System). SLiMS merupakan perangkat lunak yang memanfaatkan bahasa pemograman PHP dan basis data MySQL, yang dirancang sesuai dengan standar pengelolaan koleksi perpustakaan, seperti ISBD sebagai standar pendeskripsian katalog yang sesuai aturan pengatalogan AngloAmerican Cataloging Rules, yang umum dipakai di seluruh dunia. Sejak RBAN memanfaatkan SLiMS setahun lebih yang lalu, sekitar 3000 dari sekitar 7000 koleksi diantaranya telah di input ke dalam aplikasi SLiMS tersebut. Dari hasil diskusi bersama ketua RBAN, Hasan, dikatakan bahwa proses penginstalan dan pengoperasian SLiMS dipelajari secara otodidak melalui media informasi seperti Youtube. Pustakawan yang mengoperasikan aplikasi tersebut diketahui hanya berjumlah satu orang, dan juga mempelajari secara otodidak fitur-fitur yang ada pada aplikasi, melalui Youtube dan pelatihan SLiMS yang belakangan diikuti dan diadakan oleh suatu Lembaga. Uniknya, saat wawancara dengan ketua RBAN, Hasan, berpendapat bahwa Rumah Baca Anak Nagari menjadi satusatunya rumah baca di daerah sekitar Bukittinggi atau bahkan Sumatera Barat, yang baru menerapkan teknologi SLiMS dalam kegiatan katalogisasi bahan pustakanya. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena beberapa alasan, yang dikemukakan oleh beliau utamanya ialah soal tujuan dari pemanfaatan rumah baca. RBAN selain memotivasi dan menggerakkan minat baca melalui berbagai kegiatan, ungkap Pak Hasan, juga melakukan pengolahan terhadap bahan koleksi yang dimilki, jadi tidak hanya semata menyediakan sumber bacaan yang bebas diedarkan. Namun memang dalam penerapannya tidak terlalu terpakut pada sistem sebagaimana lembaga besar seperti perpustakaan pusat, karena menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, SDM, serta pengguna rumah baca. Sementara rumah baca lainnya di sekitar daerah RBAN mendirikan rumah baca masih sebatas untuk meningkatakan minat baca, tanpa ada pengolahan terhadap buku yang tersedia (Dalam arti buku tidak diberi call number/label). Dari uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana/esksistensi pemanfaatan aplikasi SLiMS dalam sistem katalogisasi di Rumah Baca Anak Nagari, dan bagaimana langkahlangkah pengoperasian sistem aplikasi tersebut. Penelitian deskriptif kualitatif terdahulu yang dilakukan oleh Zainal Arifin, menerapkan aplikasi SLiMS pada SMP Batik Program Khusus Surakarta, guna mengoptimalkan perpustakaan sekolahnya dengan menyusun administrasi perpustakaan, mengklasifikasi buku, dan melakukan katalogisasi dan penempelan label pada buku. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi dan catat. Berdasarkan penelitian sebelumnya tersebut, penelitian kali ini berbeda mulai dari tempat atau lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, dan fokus penelitian. Sedangkan untuk jenis pendekatan samasama bersifat deskriptif kualitatif dan tema yang berbasis SLiMS. Penelitian sebelumnya mengumpulkan data melalui teknik observasi dan catat, sedangkan penelitian ini juga melakukan wawancara informal selain observasi. Penelitian sebelumnya lebih berfokus untuk mengoptimalkan perpustakaan sekolah dengan SLiMS, sedangkan penelitian ini lebih melihat pada bagaimana pemanfaatan SLiMS untuk katalogisasi di RBAN. Kebaruan penelitian ini dari sebelumnya ialah menyebutkan versi SLiMS yang diterapkan, dan menambah khasanah penelitian katalogisasi berbasis SLiMS untuk rumah baca yang masih jarang ditemukan. Satu penelitian terhadap SLiMS di rumah baca ditemukan, dengan bahasan strategi pengembangan Rumah Baca Asma Nadia Sumbang yang ditulis oleh Isnaini Nurisusilawati. Penelitian tersebut sama-sama bertopik SLiMS di rumah baca, namun perbedaannya penelitian tersebut termasuk dalam jurnal pengabdian masyarakat, metode penelitian yang berbeda, dan bahasan yang berfokus pada kegiatan penginstalan dan penggunaan SLiMS, serta kegiatan pendanaan mandiri lewat pengembangan usaha untuk operasional rumah baca tersebut. Tinjauan Pustaka International Standar Bibliographic Description (ISBD) Katalogisasi menerapkan segenap standar yang dijadikan pedoman dalam melakukan kegiatan pengolahan bahan pustaka. SLiMS sebagai aplikasi yang mempermudah kegiatan katalogisasi, berpedoman pada standar Anglo American Cataloguing Rules (AACR2) dalam pengolahan pustaka yang telah sesuai dengan standar ISBD. International Standard Bibliographic Description atau disingkat ISBD, merupakan aturan yang dijadikan pedoman untuk pembuatan data deskripsi bibliografis yang diatur oleh International Federation of Library Association and Institution (IFLA) Sedangkan untuk kegiatan deskripsi bibliografis sendiri adalah aktifitas pencatatan identitas fisik yang dimiliki suatu bahan pustaka, seperti pengarang, judul, penerbit, tempat terbit, nomor ISBN dsb. Kegiatan input data tersebut dilakukan sesuai dengan standar peraturan ISBD, dengan AACR2 (Anglo American Rules Cataloguing Rules Ed. rev 2) sebagai standar susunan entri-entri katalog (Muliyani, 2010). Pedoman ISBD mendeskripsikan 8 daerah deskripsi bibliografis, dimana salah satu software bernama SLiMS telah menjamin kesesuaian fitur bibliografi nya sesuai dengan standar daerah tersebut. Tiap daerah memiliki unsur dan dipisahkan dengan tanda baca atau simbol-simbol yang khas. Selain daerah pertama, setiap daerah yang lain akan diawali dengan tanda titik, spasi, garis (Himayah, 2012). Delapan daerah deskripsi bibliografis tersebut diantaranya diambil dari situs web www.perpusnas.go.id dijelaskan sebagai berikut. 1. Daerah Judul dan pernyataan tanggung jawab. Pada daerah ini pengatalog atau penginput data dapat mencantumkan judul koleksi, dan setelahnya dapat juga ditentukan GMD (General Material Designation) atau jenis bahan umum dari suatu sumber koleksi. Pernyataan tanggung jawab dapat diisi bila pada bagian isi terdapat data penting terkait orang atau badan dalam menciptakan isi sumber. 2. Daerah Edisi. Daerah ini diisi dengan mencantumkan pernyataan edisi dan penulisannya dapat disingkat sesuai ketentuan lembaga, seperti edisi menjadi ed. atau cetakan menjadi cet. Dsb. 3. Daerah khusus (diisi jika terdapat data khusus seperti peta, penomoran majalah dsb.) 4. Daerah Impresum atau yang mencakup Tempat terbit, penerbit, tahun terbit. Catatan untuk penulisan tahun, bila terdapat tahun lebih dari satu, maka gunakan tahun yang paling terakhir. 5. Daerah deskripsi fisik. Daerah ini dapat terdiri dari jumlah jilid/halaman, keterangan bahan mengandung ilustrasi atau tidak, serta ukuran bahan. Halaman dapat berupa angka arab dan romawi, atau angka arab saja, sedangkan untuk ukuran diisi dengan angka arab. 6. Daerah seri: Cantumkan pernyataan seri pada buku dengan judul berseri. 7. Daerah Catatan. Pada daerah ini pengatalog dapat mentumkan data yang dianggap penting. Misalkan koleksi yang diinput merupakan hasil terjemahan, maka perlu dicantumkan judul asli koleksi pada daerah catatan ini bila ada. Pada bagian ini juga dapat dituliskan abstrak dari isi suatu bahan pustaka. 8. Daerah nomor standard ISBN (International Standard Book Number). Pada daerah ini dapat diisi identitas yang biasa membedakan buku satu dengan lainnya, yakni apa yang biasa disebut sebagai nomor ISBN/ISSN. Konsep Data, Informasi, dan Pengetahuan Data adalah sesuatu yang belum memiliki makna. Data dapat bersumber dari suatu hasil langsung observasi terhadap peristiwa atau fakta kejadian dari fenomena di alam real. Bagi penerimanya, keberadaan suatu data saja belum bisa menjadi cukup bermanfaat atau berpengaruh besar, sehingga diperlukan suatu proses untuk mengolah data lebih lajut dan menghasilkan informasi karena sumber data merupakan sumber dari informasi. Jenis-jenis data dapat berupa format teks, figure, audio maupun video. Informasi dapat didefinisikan sebagai data yang telah memiliki makna. Informasi merupakan sesuatu yang memilki arti dan berguna bagi manusia, dan berasal dari hasil pengolahan lebih lanjut terhadap data. Sejalan dengan pendapat Leitel dan Davis dalam bukunya Accounting Information System, yang menjelaskan definisi informasi sebagai data yang diolah menjadi bentuk lebih berarti serta lebih berguna bagi seseorang yang mendapatkannya. Dari beberapa uraian tersebut, informasi dapat disimpulkan sebagai data yang telah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu. Beragam bentuk informasi diantaranya meliputi: informasi yang tersimpan dalam komputer, informasi yang ditransmisikan melalui jaringan, informasi tercetak pada kertas, informasi tersimpan dalam flashdisk, database, film, atau media penyimpanan lain, informasi melalui interaksi atau percakapan melalui telepon, email, dan metode-metode penyampaian informasi lainnya. Dari data dan informasi, selanjutnya akan dihasilkan tingkat yang lebih tinggi, yakni Pengetahuan. Definisi pengetahuan dapat diartikan sebagai suatu yang diambil dari proses belajar atau latihan, dari pengalaman masa lalu, atau kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki serta pemahaman atas keahlian/keterampilan yang dimiliki untuk kemudian dijadikan suatu untuk memahami dunia. Pengetahuan dapat berbeda atau berubah-ubah sesuai dengan penerimaan akan suatu informasi. Berdasarkan informasi yang sama, pengetahuan yang diterima seseorang bisa berbeda-beda dipengaruhi oleh pengalaman atau keahlian masing-masing. Dengan demikian, informasi dan data menjadi penunjang dan peningkatan pada kegiatan di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan teknologi. Perpustakaan lembaga pengelola pengetahuan Manajemen atau pengelolaan pengetahuan yang dilakukan organisasi satu dengan yang lainnya dapat berbeda, tergantung cara organisasi memandang informasi dan data untuk menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan. Keseharian kegiatan di perpustakaan sejatinya menjadi lembaga yang melakukan manajemen pengetahuan secara rutin. Manajemen pengetahuan dalam perpustakaan dapat berbentuk proses mengoleksi, mengorganisasikan, mengklasifikasi, dan menyebarkan informasi. Manajemen pengetahuan terdiri dari tiga konsep utama yaitu orang, tempat, dan konten dimana manusia menjadi komponen lebih penting dan tempat yang dapat terganti oleh teknologi informasi. Semakin seorang pustakawan ahli dan memiliki spesialis di bidangnya, manajemen pengetahuan perpustakaan akan berjalan lebih baik. Dengan adanya subjek spesialis, kategorisasi/klasifikasi terhadap bahan pustaka akan berjalan dengan baik. Beberapa contoh penerapan manajemen pengetahuan di perpustakaan seperti kegiatan bedah buku, sharing dan digitalisasi. Konsep Analisa Subyek Secara garis besar, katalogisasi terbagi kedalam dua bentuk kegiatan, pengatalogan deskriptif dan pengindeksan subyek. Katalog deskriptif meliputi pembuatan deskripsi bibliografi sesuai pedoman ISBD, AACR atau RDA. Sementara pengindeksan subyek meliputi kegiatan analisis suyek untuk menentukan notasi klasifikasi yang berpedoman pada skema atau bagan klasifikasi seperti DDC atau UDC, alat thesaurus, dan daftar tajuk. Kedua kegiatan tersebut akan menghasilkan daftar bibliografi ringkas dari suatu bahan pustaka dalam bentuk katalog yang mempermudah proses penelusuran informasi. Tiga hal mendasar yang perlu dikenali pengindeks dalam menentukan subjek suatu koleksi pustaka ialah jenis konsep dan jenis subyek, serta urutan sitasi. Suatu bahan pustaka memiliki beberapa konsep yang dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu a. Disiplin Ilmu, digunakan sebagai istilah untuk mendeskripsikan satu bidang atau cabang ilmu pengetahuan pada suatu pustaka, b. Fenomena merupakan topik yang menjadi objek kajian atau bahasan dari suatu disiplin ilmu, dan c. Bentuk, yang merupakan istilah untuk menunjukkan cara atau bagaimana penyajian dari suatu subjek. Subyek digolongkan menjadi beberapa jenis: suyek dasar, subyek sederhana, subyek majemuk, dan subyek kompleks.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Istilah atau kata kualitatif mengisyaratkan atau menekankan pada proses atau makna yang dan bukan pada pengukuran dari sisi kuantitas, jumlah, intensitas, atau frekuensinya (Denzim & Lincoln, 2009). (Sugiyono, 2015)menyatakan penelitian kualitatif disebut juga dengan penelitian interprestasi, yakni penelitian yang menekankan interprestasi data yang ada di lapangan (sumber data). Daripada sekedar kuantitas atau angka, penelitian kualitatif lebih berupa pengumpulan data yang bersifat kalimat, gambar, atau katakata bermakna yang lebih menekankan pada pemahaman yang lebih nyata. Dalam metodologi penelitian ilmiah dikenal tingkatan penelitian, salah satunya merupakan penelitian deskriptif yang popular digunakan dalam penelitian kualitatif. Peneliti dalam mendukung penyajian datanya akan menganalisis dan menghasilkan data dalam bentuk kalimat rinci yang lengkap dan mendalam, dari hasil penggambaran situasi yang terjadi sebenarnya. Dari uraian di atas, definisi metode dengan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif atau deskriptif kualitatif, diambil dari pandangan (Mahsun, 2019), merupakan jenis penelitian yang menggunakan data berupa kata-kata, tanpa ada rumus atau perhitungan. Deskriptif kualitatif adalah istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk suatu kajian yang bersifat deskriptif (Kim et al., 2016). Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan maksud untuk menggambarkan sejauh mana Rumah baca Anak Nagari memanfaatkan aplikasi SLiMS terutama dalam kegiatan katalogisai, dan bagaimana proses pengoperasian aplikasi tersebut di RBAN. Sebagaimana dijelaskan oleh (Kim et al., 2016), bahwa deskriptif kualitatif memfokuskan pada jawaban-jawaban atas pertanyaan penelitian terkait bagaimana suatu peristiwa atau pengalaman terjadi, dan pendalaman kajian pada peristiwa yang muncul untuk menemukan polapola. Alasan lain juga karena karakteristik dari masalah yang diteliti memerlukan metode kualitatif, yang memahami seseuatu di balik peristiwa atau fenomena yang belum terungkap. Penelitian dilaksanakan selama beberapa waktu, berkisar di tanggal 15 November hingga 6 Desember tahun 2021, pada Rumah Baca Anak Nagari, yang berlokasi di Jl. Kusuma Bakti No.12 Simpang Taman Ujung By Pass, Pakoan, Jorong Aro Kandikir, Gadut, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Subjek yang menjadi sumber informasi penelitian ini, merupakan sejumlah informan yang tergabung dalam struktur organisasi RBAN pada situs web https://rban.or.id/struktur/, yang terdiri dari Vania Gusvarina selaku wakil sekretaris sekaligus pustakawan di bidang penginputan data bibliografi pada aplikasi SLiMS, Hasan Achari selaku ketua, dan Sry Eka Handayani selaku Founder dari RBAN. Subjek tersebut didasarkan pada internal sampling yang memilih sumber untuk mewakili informasi dan tidak terlalu ditentukan oleh jumlah sumber datanya, serta dengan teknik yang bersifat purposive sehingga pemilihan subjek didasarkan pada sumber informasi penting berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Objek yang dikaji pada penelitian ini ialah pemanfaatan dan pengoperasian aplikasi SLiMS di Rumah Baca Anak Nagari. Umumnya data pada penelitian kualitatif meliputi kata, ungkapan, kalimat serta tindakan, dan bukan seperti data pada penelitian kuantitatif yang berupa angkaangka statistik. Data utama dalam penelitian kualitatif merupakan tindakan atau katakata yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan, atau wawncara terhadap subjek. Data yang diperoleh melalui penelitian ini dapat berupa dokumen atau hasil diskusi dengan narasumber atau informan, peristiwa, aktivitas atau fenomena, tempat dan benda atau objek seperti rekaman atau gambar. Sebagaimana hal tersebut, penelitian ini bersumber dari data primer seperti informasi dari narasumber, data berupa dokumen atau gambar dari hasil aktivitas pengatalogan menggunakan SLiMS, serta dari sumber sekunder yang tidak diambil di lapangan secara langsung, seperti informasi melalui laman website dan akun Instagram lembaga, serta jurnal pendukung. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data interaktif melalui wawancara mendalam dan observasi berperan. Wawancara mendalam dilakukan dengan suasana lebih leluasa atau tidak tertutup, longgar atau tidak terlalu berpaku pada struktur dan dalam suasana informal. Pertanyaan disampaikan secara informal mengenai suatu kenyataan dari fenomena yang terjadi, dan opini sehingga informan dapat mengemukakan pendapatnya. Teknik pengumpulan data melalui observasi dapat dilakukan secara langsung dengan mengambil peran atau tidak, dan atau tidak langsung. Observasi berperan dapat dilakukan dengan peneliti terjun langsung baik sebagai anggota lembaga atau kelompok masyarakat yang diteliti, secara formal maupun informal guna mengenali dan menggali informasi terkait perilaku ataupun kondisi lingkungan tempat penelitian. Dalam hal ini peneliti berperan serta sebagai pengamat tidak lengkap, dengan kata lain observer tidak membaur menjadi anggota dalam arti yang sebenarnya, sehingga dapat digali informasi yang bersifat rahasia namun tetap dibatasi oleh subjek dan objek yang diteliti. Informasi dari data yang terkumpul kemudian dicatat sesegera mungkin setelah pengumpulan usai untuk membantu dalam analisis data dan penarikan kesimpulan. Untuk menganalisis data-data yang telah dikumpulkan, penulis berpegang pada teori menurut Miles & Huberman (2004), yang membagi tiga jenis kegiatan dalam menganalisis data yakni reduksi data, display data, dan conclusions. Reduksi data berarti merangkum atau meringkas, memilih dan memilah hal-hal inti, memberi fokus pada hal-hal yang dianggap penting, mencari tema dan pola serta membuang yang dianggap tidak perlu. Penulis akan mendapati gambaran yang lebih jelas dari sebelumnya akan suatu hal, dan memepermudah untuk menganalisis keperluan data selanjutnya jika masih diperlukan. Penyajian data (data display) pada penelitian ini diuraikan dan disajikan secara naratif/deskriptif. Sesuai dengan pendapat Miles & Huberman (1994), menjelaskan: “the most frequen from of display data for qualitative research data in past has been narrative tex”. Artinya yang paling sering digunakan dalam menyajikan data penelitian kualitatif bersifat naratif. Penyajian data bertujuan untuk mempermudah dan memahami tentang suatu hal yang terjadi. Bila hipotesis yang diberikan selalu didukung oleh data yang ada dilapangan maka akan menjadi suatu grounded teori yang dikonstruksi secara induktif, berdasarkan data data yang ditemukan dilapangan dan diuji melalui pengumpulan data secara terus menerus.”
Result & Discussion
Pemanfaatan SLiMS dalam Kegiatan Katalogisasi di Rumah Baca Anak Nagari Rumah Baca Anak Nagari, atau yang kerap disebut dengan RBAN, MERUPAKAN lembaga yang mengelola pengetahuan. Saat ini RBAN memiliki kurang lebih sekitar 7000 koleksi yang dikategorikan berdasarkan skema klasifikasi Dewey Desimal Classification (DDC). Skema DDC tersebut adalah bagan klasifikasi persepuluhan untuk membagi semua bidang ilmu pengetahuan menjadi beberapa bagian. Di awal akan terdapat 10 kelas utama, yang masingmasing kelas dibagi menjadi 10 divisi, dan masing-masing divisi dibagi lagi menjadi 10 seksi. Dengan demikian DDC memiliki 10 kelas utama, 100 divisi, dan 1000 seksi. Selain itu juga ditambah dengan beberapat tabel atau notasi tambahan yang menjelaskan suatu keterangan tertentu. Pembagian ke dalam 10 kelas utama, mengindikasikan jenis-jenis koleksi di RBAN mencakup 10 bidang ilmu pengetahuan yang secara garis besar dibagi mulai dari koleksi karya-karya umum, filsafat, agama, ilmu sosial, bahasa, ilmu pengetahuan alam/murni, ilmu pengetahuan terapan/teknologi, seni; olahraga; hiburan, kesusasteraan, biografi; geografi; dan sejarah. Kegiatan pengolahan bahan pustaka dilakukan di RBAN mulai dari proses buku masuk, inventarisasi, katalogisasi, klasifikasi/penomoran buku, pelabelan, sampai pada koleksi tersebut dapat digunakan oleh user Rumah Baca Anak Nagari. RBAN dalam mengolah bahan pustakanya, mulai beranjak dari sistem manual/konvensional, menjadi sistem digital. Sistem komputerisasi terhadap bahan pustaka di Rumah Baca Anak Nagari menggunakan software Senayan Library Management System (SLiMS) sebagai salah satu aplikasi pengolahan bahan pustaka secara digital. Kegiatan pengolahan tersebut diantaranya katalogisasi yang didalamnya juga mencakup proses inventarisasi/pencatatan bibliografi buku, klasifikasi/penomoran buku sesuai subyek, dan pelabelan buku. Total kurang lebih sebanyak 3000 buku telah dioalah dan diklasifikasi sejak RBAN menerapkan SLiMS, dari sekitar 7000 koleksi yang tersedia saat ini. Proses katalogisasi dengan aplikasi SLiMS tersebut menghasilakan katalog online dalam fitur yang disebut sebagai OPAC (Online Public Access Catalog). Namun, RBAN tidak menghubungkan OPAC tersebut dalam sistem internet agar dapat diakses oleh seluruh pengguna, melainkan hanya digunakan dalam lingkup staff/pustakawan RBAN dalam melakukan temu balik informasi sesuai request atau kebutuhan pengguna. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa SLiMS dimanfaatkan untuk kegiatan katalogisasi bahan pustaka di RBAN, yang menghasilkan katalog dan call number untuk memudahkan tenaga RBAN dalam pencarian bahan pustaka. Penerapan OPAC dalam temu balik informasi dilakukan dalam lingkup RBAN oleh tenaga rumah baca, dan belum dipergunakan untuk akses publik karena keterbatasan perangkat juga SDM, dan mengingat RBAN masih dalam tahap peralihan sehingga belum semua data bibliografi koleksi di input dan diolah menggunakan SLiMS. Pemanfaatan aplikasi SLiMS di RBAN belum mengoptimalkan pada fitur keanggotaan, peminjaman, dan pengembalian, namun dimanfaatkan pada fitur input data bibliografi agar buku terolah sesuai subyek dan memiliki label pada punggung buku sehingga memudahkan dan mempercepat dalam pencarian kembali informasi. Ketua dari lembaga RBAN mengaku pemanfaatan SLiMS di RBAN sejauh ini memiliki dampak positif yang memudahkan pekerjaan pustakawan dalam mengolah buku, dan melakukan temu balik informasi. Sebelumnya pencatatan terhadap deskripsi bibliografi koleksi dilakukan secara manual pada buku, begitu juga pada proses pembuatan label. Sejak penggunaan SLiMS, inventarisasi buku dilakukan pada menu bibliografi SLiMS dan label yang terbuat secara otomastis sehingga mempersingkat waktu dalam pengerjaan pengolahan bahan pustaka. Dalam sehari, seorang staff yang melakukan input data bibliografi dapat mengolah sekitar 30 lebih buku menggunakan SLiMS, berbeda dengan saat mengolah secara konvensional yang memakan waktu lebih lama dan jumlah buku terolah lebih sedikit. Pengoperasian SLiMS di Rumah Baca Anak Nagari SLiMS banyak diterapkan oleh lembaga dalam otomatisasi pengolahan bahan pustaka skala kecil hingga skala besar. SLiMS sebagai aplikasi perangkat lunak penunjang manajemen pengetahuan perpustakaan dalam menghasilkan katalog online, sudah terjamin sesuai dengan standar yang dibutuhkan pustakawan dalam dunia kerja, yakni standar pendeskripsian katalog berdasarkan ISBD, AACR2 dan RDA. SLiMS dengan banyak versinya, mulai dari dari SLiMS 3.14 (Seulanga), SLiMS 3.14 (Matoa), SLiMS 5 (Meranti), SLiMS 7 (Cendana), SLiMS 8 (Akasia) dan SLiMS 9 (Bulian) selalu mengalami peningkatan dari tiap versinya hingga SLiMS versi terbaru saat ini. Dengan melakukan pengembangan maka program akan menjadi lebih stabil dan memiliki program-program terbaru. Tenaga di Rumah Baca Anak Nagari melakukan penginstalan dan pengoperasian aplikasi SLiMS secara otodidak melalui pembelajaran yang didapat dari konten informasi di youtube, juga dari berbagai pelatihan terkait aplikasi SLiMS yang diikuti. Saat ini RBAN menggunakan kelanjutan dari versi SLiMS 7 Cendana, yakni SLiMS 8 Akasia. Lima tahun sejak diluncurkan SLiMS 8 Akasia di tahun 2015, SLiMS merilis versi terbaru pada tahun 2020, SLiMS 9 Bulian. SLiMS telah membawa beberapa perubahan dan perbaikan pada SLiMS versi 9 Bulian dan update yang terus dilakukan, mulai dari rilis 9.1.1, rilis 9.2.0, rilis 9.2.2, rilis 9.3.0, rilis 9.4.0, rilis 9.4.1, hingga yang paling terbaru saat ini ialah rilis SLiMS versi 9.4.2 Bulian. Beberapa perubahan pada SLiMS 9.4.2 Bulian diambil dari web https://SLiMS.web.id/web/news/rilis9.4.2/ : 1. Perbaikan yang dilakukan pada laman OPAC pada tampilan informasi lampiran berkas 2. Pembuatan kelompok pengguna di laman admin dengan penggunaan Opsi tombol yang baru disediakan 3. Perubahan pada Laporan Denda bagian Detail catatan denda 4. Dan lain-lain. (Admin, 2021) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, RBAN memanfaatkan SLiMS untuk sistem katalogisasi, untuk itu peneliti mencoba menginput langsung beberapa buku di Rumah Baca Anak Nagari menggunakan SLiMS versi 9.4.2, melalui menu atau fitur bibliografi, dengan tampilan sebagai berikut. Gambar 1 Daerah Deskripsi Bibliografis SLiMS: Input Data Sumber: Screenshot menu tambah bibliografi pada aplikasi SLiMS 9 Bulian Portabel Pada menu bibliografi, klik tambah bibliografi untuk melakukan input data buku baru. Gambar di atas merupakan tampilan awal laman input data bibliografi. Terdapat sejumlah data yang harus dilengkapi, dimana data tersebut telah dirancang sesuai dengan standar pendeskripsian bibliografi berdasarkan ISBD dan AACR2 atau RDA. Seperti yang diketahui sebelumnya, terdapat delapan daerah deskripsi bibliografi: Daerah judul dan pernyataan tanggung jawab, daerah edisi, daerah khusus, daerah impresum, daerah deskripsi fisik, daerah seri, daerah catatan, serta daerah nomor standar seperti ISBN/ISSN. Pada gambar 1, data judul dapat diisi dengan huruf awal kapital dan huruf kecil pada huruf selanjutnya (kecuali untuk nama tempat dan orang). Untuk menambah pengarang, penyunting, penerjemah, dsb. dapat dilakukan dengan mengklik bagian tambah data pengarang. Penulisan nama pengarang luar negeri ditulis terbalik, sedangkan penulisan nama pengarang Indonesia dapat ditulis seperti aslinya ataupun terbalik, tergantung peraturan penulisan nama pengarang Indonesia. Bagian pernyataan tanggung jawab dapat diisi bila tersedia. Bagian edisi dapat ditulis dengan disingkat, seperti cetakan menjadi cet. edisi menjadi ed. dsb. Info detail spesifik dapat diisi jika tersedia. Gambar 2 Daerah Deskripsi Bibliografis SLiMS: Input Data Sumber: Screenshot menu tambah bibliografi pada aplikasi SLiMS 9 Bulian Portabel Data GMD dan tipe isi dapat diisi text bila yang diinput merupakan koleksi buku. Tipe media dan tipe pembawa dapat diisi belum ditentukan. Kala terbit diisi jika koleksi merupakan terbitan berseri/berkala. Nomor standar ISBN/ISSN, penerbit, tahun terbit, dan tempat terbit diisi sesuai yang tertera pada buku dan jika tidak tersedia dapat dikosongkan. Gambar 3 Daerah Deskripsi Bibliografis SLiMS: Input Data Sumber: Screenshot menu tambah bibliografi pada aplikasi SLiMS 9 Bulian Portabel Penulisan daerah deskripsi fisik seperti contoh di atas, halaman romawi dan arab dipisah dengan tanda koma, halaman dengan ilustrasi dipisah dengan tanda titik dua (jika koleksi mengandung ilustrasi) dan sebelum deskripsi ukuran buku dipisah dengan tanda titik koma. Judul seri dapat dikosongkan jika koleksi bukan terbitan berseri. Penomoran klasifikasi di Rumah Baca Anak Nagari berpedoman pada skema klasifikasi DDC. Dari penjelasan informan, kegiatan Analisa subyek untuk menentukan nomor klasifikasi biasanya dimulai dengan mencari data buku pada OPAC perpustakaan nasional. Jika buku yang ada di RBAN tidak tersedia di perpusnas, maka pustakawan RBAN akan menganalisa subyek dari judul atau isi koleksi. Jika koleksi sulit untuk ditentukan subueknya, maka RBAN akan menetukan berdasarkan notasi dasar DDC dari penomoran dasar atau kelas utama 000-900. Nomor panggil (call number) disusun berdasarkan nomor klasifikasi, tiga huruf nama awal pengarang yang ditulis kapital, dan satu huruf pertama judul koleksi yang ditulis huruf kecil. Untuk menambahkan subjek, dapat dilakukan dengan mengklik bagian tambah subjek. Gambar 4 Daerah Deskripsi Bibliografis SLiMS: Input Data Sumber: Screenshot menu tambah bibliografi pada aplikasi SLiMS 9 Bulian Portabel Penginput data dapat menentukan bahasa dari isi koleksi. Abstrak dapat diisi sesuai koleksi dan catatan dapat diisi missal terkait judul asli buku jika buku tersebut merupakan buku terjemahan. Cover buku dapat ditambah dengan cara copy link gambar, atau upload hasil scan dari buku asli. Lampiran dapat ditambahkan jika ada. Gambar 5 Daerah Deskripsi Bibliografis SLiMS: Input Data Sumber: Screenshot menu tambah bibliografi pada aplikasi SLiMS 9 Bulian Portabel Pustakawan dapat merelasikan / mengintegrasikan suatu koleksi dengan koleksi lain yang memiliki hubungan dengan mengklik bagian tambah relasi. Misalnya buku dengan penulis yang sama. Hasil relasi akan ditampilkan pada laman penelusuran OPAC. Selanjutnya penginput dapat menyimpan hasil input bibliografi, dan dapat disunting sewaktuwaktu jika diperlukan. Setelah input data bibliografi selesai, selanjutnya dapat melakukan cetak label pada menu pencetakan label.
Conclusion
Esensi aplikasi SLiMS di Rumah Baca Anak Nagari dimanfaatkan sebagai sistem katalogisasi dan temu balik informasi yang dilakukan oleh staff atau pustakawan RBAN pada fitur bibliografi, dan belum mengoptimalkan pemanfaatan pada fitur aplikasi SLiMS lainnya seperti keanggotaan dan sirkulasi. Pemanfaatan aplikasi SLiMS di Rumah Baca Anak Nagari dalam memudahkan kegiatan katalogisasi bahan pustaka sudah berjalan cukup optimal. Proses pengolahan dilakukan sampai pada tahap pelabelan buku. SLiMS yang digunakan RBAN saat ini merupakan versi SLiMS 8 Akasia. Pengoperasian SLiMS pada menu bibliografi melalui tahapan pengisian sejumlah data deskripsi bibliografis dan Analisa subyek, berdasarkan standar pendeskripsian bibliografis ISBD dan skema klasifikasi DDC.