Kembali
16
1
2017 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 13 · 2 ISSN 2477-0361

Kerja Sama Studi Bidang Lingkungan: Potret Indonesia di Terbitan Berkala Ilmiah ScienceDirect

Universitas Indonesia

Abstrak

Problem lingkungan nasional mencetuskan solidaritas untuk membangun kolaborasi riset berkelanjutan. Sebagai bentuk penyelesaian, penyebarluasan hasil-hasil risetnya seperti yang terpublikasi pada jurnal internasional ScienceDirect, menjadi alasan perlunya kajian ini dilakukan. Untuk menganalisis indikator tertentu dari tren risetnya sejak 2006-2015 digunakan bibliometrik. Tujuannya untuk menginvestigasi kekuatan, pertumbuhan, dan karakter kolaborasi, termasuk kolaborator Indonesia menurut geografisnya. Hasilnya, jumlah kolaborasi terkait lingkungan nasional mencapai 90% dari 338 produk yang diperoleh. Evolusinya berfluktuasi namun cenderung naik dengan pertumbuhan rata-rata 36.07%. Indonesia mendominasi jumlah kooperasi dan sepertiga lebihnya dihasilkan dari koalisi antar negara. Kuatnya pengaruh Indonesia disebabkan peran 41 institusi nasional dan empat diantaranya amat menonjol yaitu IPB, UNDIP, UGM, serta UI. Menurut wilayah geografisnya, kontributor produktif bermukim di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan ketiganya termasuk zona kompeten dalam mengendalikan kolaborasi internasional. Kolega nasional berjumlah 28 negara dan mayoritas kolaborator teraktif, tidak asing lagi dalam mendukung riset Indonesia. Melihat hal tersebut, isu-isu lingkungan lokal potensial dijadikan aset kerja sama dengan para kolaborator, khususnya yang berlokasi di Asia. Dari hasil kajian ini periset nasional diharapkan terdorong membangun kemitraan untuk menaikan jumlah publikasi di jurnal internasional sekaligus menyelesaikan persoalan lingkungan dalam negerinya.

Abstract

The national environmental problems stimulate solidarity to build sustainable research collaborations. Theresearch published in international journal ScienceDirect, are ideas of this study. To analyze certain indicators of environmental research trends since 2006-2015, bibliometric was used. The aims of this study are to investigate the strengths, growth, and character of collaborations, including Indonesian collaborators by geographic areas. The results show that of 338 products, the national environmental-related collaborations reached 90%. . Evolution fluctuates, however, ittends to rise with an average growth of 36.07%. Indonesia dominates the cooperations and more that one-third is generated from coalitions between countries. Strong influence of Indonesia is due to role of 41 national institutions and four of them are very prominent namely IPB, UNDIP, UGM, and UI. According to its geographical area, productive contributors reside in West Java, Jakarta, Central Java, and all three are considered as a competent zone in participating in international collaborations. National patnersare 28 countries and majority of most active collaborators are familiar to Indonesia researchs. Seeing this, local environmental issues potentially serve as asset of cooperation with collaborators, especially those located in Asia. From this study results, national researchers are encouraged to build partnerships to increase publications in international journals as well as solve their domestic environmental problems.
Keywords: Environmental science · Growth rate · Bibliometric · International collaboration

Introduction

A. PENDAHULUAN Persoalan ilmiah pada bidang lingkungan banyak mencetuskan aksi solidaritas di kalangan peneliti. Mereka menyadari, penanganan isu lingkungan bukanlah kegiatan simpel dan menjadi komitmen satu pihak semata. Penanganan isu demikian bahkan bisa melibatkan banyak periset, afiliasi atau negara. Indonesia sendiri termasuknegara rentan akan kasus lingkungan. Resiko ini muncul karena Indonesia menjadi negara berkembang dengan jumlah serta kepadatan penduduk yang tinggi (Dragos et al, 2013:186). Terangkatnya isu lingkungan sesungguhnya sudah disikapi para periset nasional dengan berbagai inovasinya. Nguyen et al. (2011:115) mengungkap bahwa Indonesia memiliki jumlah rekaman publikasi ilmiah yang kuat di bidang lingkungan. Publikasi demikian tentu dapat diproduksi secara singular, namuna kan tumbuh kuat jika pengerjaannya dilakukan berkoalisi. Dengan koperasi maka seluruh pihak memikul beban yang tidak absolut. Cukup disayangkan jika masih ada saja periset yang mau menanggung risiko mutlak. Para peneliti memiliki tuntutan agar pengkonstruksian suatu ide harus terproses cepat tanpa mengabaikan kualitas. Respons semestinya yakni jika mereka mampu menyalurkan produk riset lingkungan pada terbitan berkala ilmiah, terutama yang terakreditasi. Hal tersebut cukup relevan karena jurnal menjadi sarana komunikasi ilmiah utama dalam meningkatkan kuantitas dan mutu hasil penelitian (Maryono et al., 2012: Natakusumah, 2014:15). Hingga sekarang, hasil-hasil riset yang termuat di jurnal berkelas cenderung di produksi secara bersekutu. Bahkan terkadang dalam model persekutuan global. Komunitas negara Islam adalah contohnya, dimana mayoritas semua karyanya termasuk ilmu lingkungan berciri kolaborasi internasional di atas 50% (Sarwar et al., 2015:1073). Kolaborasi ilmiah tentu dapat menyuburkan pertumbuhan pengetahuan lebih dominan. Terlebih jika terbentuk dalam struktur bilateral ataupun multilateral. Namun dari fakta yang bisa dijumpai, cara kolaborasi masih saja belum dipertimbangkan oleh sebagian ilmuwan. Kooperasi riset pada taraf yang rendah bisa mengancam laju pengetahuan ilmu lingkungan. Untuk meningkatkannya perlu upaya gigih dan berkesinambungan namun tidak menyepelekan prinsip selektivitas. Kerja sama antar negara yang sudah terjalin cukup disayangkan jika peneliti tidak mampu mengoptimalkannya. Melihat komunitas negara G-20, Indonesia memiliki sejarah berperan aktif di kolaborasi ilmiah internasional (Mindeli et al., 2015:62). Indonesia juga pernah menyelesaikan seluruh riset konsorsium bertajuk karbondioksida hingga termuat pada publikasi bertaraf Scopus (Karimi et al, 2015:367). Sepertinya kooperasi bukanlah hal baru bagi Indonesia dan keaktifan tersebut tentu berdampak bagi reputasi nasional sekaligus sahabat kolaborasinya. Citra Indonesia akan bisa dipertahankan, bahkan naik jika perisetnya sukses memonopoli jurnal berkelas. Salah satunya terdapat di ScienceDirect dan bila belum membidiknya, mungkin cukup sulit menaikan popularitas Indonesia. Menurut cakupannya, sains lingkungan turut diorganisasikan jurnal ilmiah ScienceDirect. Nama Elsevier yang terbilang masyhur merupakan asosiasi induknya, sehingga tidak heran jika kontennya juga tenar di kalangan periset. Jurnal ScienceDirect umumnya juga terindeks Scopus dan Thomson Reuters sehingga institusi nasional gemar melanggannya. Misalnya di afiliasi riset pertanian, penggunaannya lebih besar dari pada jurnal digital lainnya (Rufaidah et al., 2012:22). Demikian juga di LIPI untuk memenuhi kebutuhan peneliti dan sivitasnya (Rahayu, 2013:30). Bahkan sejak 2010-2012, LIPI terbanyak mengunduh jika dibandingkan 9 lembaga lain hingga 115.504 artikel (Nashihuddin et al., 2013:6). Namun ada baiknya juga Indonesia mensejajarkan posisi. Bukan hanya konsumen semata namun juga sebagai produsen. Melalui konsorsium, label tersebut berpeluang cepat terwujud, termasuk persoalan lingkungan domestik yang juga teratasi. Menurut alasan di atas maka kooperasi ilmiah yang mengusung topik lingkungan Indonesia menjadi sumber evaluasi. Melalui kaidah bibliometrik, artikel jurnal ScienceDirect sesuai topik tersebut dikaji dengan tujuan: (1) mendeteksi kekuatan serta evolusi konsorsium, (2) mengenali ciri konsorsium riset yang terbagi dalam kelompok negara dan instansi, termasuk area propinsi di Indonesia (3) mengidentifikasi strata kemunculan mitra Indonesia sesuai lokasi geografisnya. Melihat misinya, studi ini mendorong agar periset lokal membangun koalisi guna meningkatkan publikasi hasil riset di jurnal internasional. Isu lingkungan nasional tidak hanya menjadi sumber perkara yang dapat memicu aksi solidaritas. Namun turut menjadi berkah untuk menaikan posisi Indonesia di kancah luas, bila hasil-hasil riset tersebut bisa terpublikasi di jurnal internasional. B. TINJAUAN PUSTAKA Kolaborasi saintifik mengukir sejarah dalam menjamin keberlangsungan ilmu pengetahuan. Hingga kini praktik kolaborasi di eksploitasi terus menerus karena berhasil membawa kemajuan bagi dunia sains. Meningkatkan produktivitas riset termasuk motivasi penting para pihak untuk berkolaborasi (Youtie et al., 2014:958) dan hal ini bisa berdampak terhadap pertumbuhan sains. Kolaborasi didefinisikan sebagai proses berkembang dimana dua atau lebih entitas sosial, secara timbal balik aktif terlibat di kegiatan untuk meraih setidaknya satu tujuan bersama (Bedwell et al., 2012:130). Jenisnya dalam atau luar sekolah, intra-disiplin atau interdisiplin, publik-swasta, serta domestik atau internasional (Abramo et al., 2013:444). Untuk mengenali tipe kolaborasi maka kepengarangan menjadi aspek utama yang bisa dianalisis melalui metode bibliometrik. Banyak praktik kolaborasi saintifik di masa lalu yang terungkap karena peran bibliometrik. Menurut Oxford English Dictionary yang dikutip kembali oleh Battisti et al. (2012:353), Wilson (2012:121) dan Salini (2016:131), bibliometrik merupakan cabang dari ilmu perpustakaan yang menerapkan analisis matematika serta statistik bibliografi, buku, artikel, atau publikasi lainnya. Peran pustakawan turut menentukan evolusi bibliometrik karena sejak tahun 1990-an termasuk pemain kunci dan sudah menjadi bagian pada saat diskusinya dimulai (Roemer et al., 2015:30). Di periode yang sama pertumbuhan kooperasi ilmiah juga telah mencapai kurang lebih 90% dan sekitar 95-99% artikel di jurnal prestise atau inti adalah hasil kolaborasi (Beaver, 2013:48). Kiat kolaborasi hingga kini terus menjadi tradisi pengkomunikasian dalam sains. Literatur yang sudah dipublikasikan merupakan sumber sains untuk dilakukan pengukuran kolaborasi. Di kajian terdahulu, pengungkapannya dapat melalui perhitungan tingkat dan indeks kolaborasi yang terbagi menurut strata penulis, afiliasi, serta negara. Di topik lingkungan, sejauh ini dua indikator yang mengekspos ketiga kategori terdapat pada kajian Gazni et al. (2012:326). Sedangkan terhadap subjek berkaitan seperti kesehatan, terekspos di kajian Yu et al. (2013:633). Pengukuran dua indikator kolaborasi yang secara terpadu mengulas ketiga level tersebut seperti menjadi kelaziman bila diarahkan kepada publikasi internasional.

Method

Kajian ini memakai data bibliografi bersumber jurnal ilmiah yang terdapat di ScienceDirect (http://www.sciencedirect.com). Sampel diambil pada Oktober 2016 melalui teknik penelusuran sebagaimana Tabel 1. Data kemudian dimigrasikan ke dalam Ms-Excel 2010, dan secara khusus software tersebut digunakan untuk tujuan analisis (Kolle et al., 2016:84; Wei et al., 2016:977; Hoppen et al., 2016:123; Guo et al., 2016:329). Termasuk untuk perhitungan angka statistik, pemrosesan data, dan grafik (Terekhov, 2017:1220; Chen et al., 2015:13). Fakta ini menunjukan bahwa MsExcel termasuk salah satu piranti lunak relevan bagi keperluan studi bibliometrik. Di studi ini, tiga norma perhitungan bibliometrik dipakai untuk mengukur kinerja. Pertama, straight counting yang merujuk kepada afiliasi penulis pertama dengan ciri simbol atau numerik awal. Kemudian afiliasi lokal khususnya perguruan tinggi maupun negara donatur diseragamkan penyebutannya dengan merujuk identitas Indonesia. Lalu standardisasi untuk ekspansi geografis afiliasi menurut benua menggunakan kode area dari divisi statistik PBB (United Nations, 2011). Untuk hal tersebut pengukurannya berbasis frekuensi kemunculan merujuk normafull counting. Sementara itu perluasan zona domestik mengacu data wilayah administrasi pemerintahan dalam negeri (Kemendagri, 2015). Sedangkan metode fractional counting sendiri dipergunakan untuk mengukur indeks kolaborasi. Ketiga metode bibliometrik demikian secara lazim dapat menjadi pedoman untuk menentukan kinerja dalam suatu kolaborasi ilmiah. Unsur kepengarangan menjadi konsentrasi indikator kolaborasi. Menurut jumlahnya, jenis konsorsium dapat diketahui baik penulis, institusi, dan negara. Institusi atau negara yang disebut berulang dalam satu artikel maka dihitung sekali (Niu et al., 2014:1225). Sementara itu formula yang dirujuk untuk menganalisis indikator kolaborasi dan pertumbuhannya adalah: 1. Kekuatan dan Pertumbuhan Konsorsium Sejak berakhirnya dekade tunggal yaitu 2006-2015, ditemukan 338 produk riset lingkungan tentang Indonesia. Dari jumlah tersebut kajian memetakannya menurut tingkat (DC) dan indeks kolaborasi (CI) yang terbagi menurut ilmuwan, institusi, serta negara (Gambar 1). Secara umum tingkat kolaborasi ketiganya mendapati hasil masing-masing 90%, 58%, dan 47%. Terkait level internasional, tingkat kolaborasinya jauh melewati atas hasil studi Yang et al. (2017:4357) yaitu 19.90%. Demikian juga Du et al. (2015:107) sebesar 28.65%, Zhi et al. (2012:23) yaitu 17%, Li et al. (2015:161) yakni 22.3%, Zhang et al. (2012:26) senilai 29%, serta Wang et al. (2014:484; 2013:3; 2012:304) masing-masing 22.0%, 23%, 18.3%. Meskipun dalam subjek sejenis, terlihat derajatnya dapat berlainan. Bisa diasumsikan bahwa isu lingkungan lokal cukup mempengaruhi solidaritas sejumlah negara untuk mewujudkan kolaborasi riset Tabel 1. Teknik Pengumpulan Sampel di ScienceDirect

Result & Discussion

Ekspos mengenai kolaborasi riset topik lingkungan yang terjadi di wilayah nasional terbagi dalam tiga bahasan. Ulasan tentang kekuatan dan evolusi kolaborasi menjadi substansi pertama yang dilanjutkan dengan bahasan karakteristik studinya. Terakhir tentang mitra kolaborasi yang berdampingan dengan peneliti Indonesia dalam melaksanakan riset lingkungan. internasional. Sementara itu ketiga indeks kolaborasi yang didapatkan masing-masing sebesar 4.06, 2.02, dan 1.59. Untuk peneliti dan institusi telah memperlihatkan rerata multipel. Sementara itu untuk kategori negara, nisbah konsorsiumnya mengindikasikan penyertaan kurang dari dua. Meskipun demikian, indeks yang didapatkan melampaui dari hasil penelitian sejenis Zheng et al. (2017:16;2016:57;2015:867) yaitu sebesar 1.2. Demikian juga kajian bibliografi energi ramah lingkungan yang diekspos Liu et al. (2014:515) dengan capaian tertinggi 1.24. Penyelesaian persoalan ilmiah yang setidaknya melibatkan dua negara nampaknya belum dipertimbangan bagi sebagian pihak. Meskipun hal demikian sudah menjadi praktik umum diberbagai disiplin ilmu. Namun melihat peristiwa yang terjadi di Indonesia, bisa dikatakan praktik penanganan isu-isu lingkungan dalam negeri mampu melahirkan struktur kekuatan negara lebih intensif. Berkaitan hasil Gambar 2, tingkat pertumbuhan kolaborasi riset mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Dengan tren eksponensial (R2=0.8284), selama satu dekade pertumbuhan negatifnya hanya terjadi dalam tiga periode yang berbeda. Sementara itu pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan hasil 162%. Adapun rata-rata pertumbuhan kolaborasi riset yang ditemukan mencapai 36.07% (325%/9 tahun). Naik turunnya kapasitas konsorsium studi suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu kemungkinan bisa dipengaruhi beban pekerjaan yang akan diselesaikan. Hal tersebut cukup realistis dan bila merujuk opini Rahman et al. (2017:277) maka setidaknya ada 14 kegiatan yang dikerjakan agar peneliti bisa mempublikasikan hasil risetnya. Besar kecilnya daya periset akan ada imbasnya terhadap tempo penyelesaian. Sehingga kian besar formasinya, beban riset lingkungan berpeluang cepat terselesaikan dan tumbuh dengan progresif. 2. Karakteristik Kooperasi Studi Selama sepuluh tahun terdapat 24 negara yang melakukan kolaborasi riset berkaitan isuisu lingkungan nasional (Tabel 2). Indonesia mendemonstrasikan keunggulan dengan menghasilkan 35.74% produk riset, diikuti Jepang dan Jerman. Sedangkan dalam hal konsorsium internasional peringkat Indonesia mendapati hasil 35.00%. Melihat hal tersebut, tidak selamanya suatu negara berhasil merekrut mitra lain untuk bersekutu meskipun menguasai jumlah produk kolaborasi. Di studi sebelumnya hal serupa pernah terjadi dimana Amerika Serikat yang sering merajai, namun peringkatkolaborasi internasionalnya di luar sepuluh besar (Zhuang et al., 2015:750; Liao et al., 2014:1209; Niu et al., 2014:969; Fu et al., 2013:761; Huang et al., 2012:71; Sun et al., 2012:16). Menyatukan kepentingan dalam skala universal sepertinya bukan hal sederhana. Namun sebagai negara berdaulat Indonesia tentu bisa mengesampingkan pelibatan asing Gambar 1. Tingkat dan Indeks Kolaborasi Penelitian Lingkungan Gambar 2. Tingkat Pertumbuhan Kooperasi Riset Lingkungan dan mengorganisasikan institusinya untuk secara bersama menangani isu-isu lingkungan nasional. Dari hasil Tabel 2 terlihat juga bahwa riset kolaborasi internasional banyak berkembang di negara-negara maju. Sementara itu pada lingkup ASEAN, tidak seluruhnya berkontribusi dalam konsorsium internasional kecuali Thailand, Malaysia, Singapura, maupun Myanmar. Sepertinya kekompakan ASEAN untuk bersama-sama mengatasi persoalan lingkungan di Indonesia belum cukup terlihat. Aksi kekompakannya justru pernah terlihat dengan negara di Uni Eropa. Bahkan porsi kolaborasinya menempati posisi ketiga dari tujuh bidang riset lain yaitu 20% (Hassan et al, 2012:1040). Penting diketahui, kebersamaan ASEAN termasuk cara jitu untuk bersaing dengan negara maju, terutama dalam mengejar ketertinggalan kapasitas publikasi. Melihat hal tersebut, Indonesia harus membangun komunitas ilmiah lebih baik, tangguh dan berkesinambungan. Sementara itu Tabel 3 menampilkan institusi yang berperan esensial dalam kolaborasi riset lingkungan di Indonesia. Dari 150 lembaga riset, keterwakilan dalam negeri berjumlah 27.33% (41/150) dan sisanya berasal dari kolega asing. Tiga perguruan tinggi asal Indonesia menangani jumlah kolaborasi riset seimbang namun berlainan nisbah kolaborasinya. Berkaitan konsorsium internasional, Institut Pertanian Bogor mendapati hasil 27.27%. Disusul Universitas Diponegoro 18.18% serta Universitas Gadjah Mada (UGM) 14.29%. Sebelumnya Lakitan et al. (2012:235) mencatat diantara tiga perguruan tinggi produktif, UGM lebih berpengalaman dalam memimpin koalisi riset sejak 2001-2011, terutama dengan afiliasi asing. Kepiawaian dalam mengelola riset universal sebaiknya terus ditonjolkan kepada negara luar. Sehingga UGM serta institusi nasional kapabel lainnya bisa dipercaya untuk menangani problem lingkungan di negara sahabat. Kemudian Tabel 3 mengekspos tentang zona nasional yang mengendalikan kolaborasi riset lingkungan di Indonesia. Dari hasil pengelompokan 109 produk kolaborasi, kajian ini mendapati 15 propinsi lokal yang mengatur posisinya sebagai pengendali riset domestik dan internasional. Tiga provinsi produktif adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah dengan hasil masing-masing 26.61%, 23.85%, serta 14.68%. Ketiganya juga menunjukan performa sebagai provinsi terbaik dalam mengendalikan kolaborasi internasional dan berlokasi di pulau Jawa. Sebelumnya Mulyanto (2016:88) menyatakan bahwa umumnya afiliasi riset di pulau tersebut lebih produktif dibandingkan wilayah lain. Terlebih populasi institusi pendidikan tingginya lebih besar daripada zona lain (Moeliodihardjo et al., 2012:309). Berbekal pengalaman sebelumnya, afiliasi nasional yang berlokasi di pulau lain perlu juga menampilkan performanya. Terutama dalam mengangkat isu-isu lingkungan di wilayahnya dan merekrut negara sahabat untuk berkolaborasi. 3. Kolaborator Riset Indonesia Sebagai negara yang berposisi esensial, Indonesia telah menggandeng 28 mitra riset untuk berkolaborasi. Jumlah tersebut diperoleh menurut produk kolaborasi riset yang mencantumkan afiliasi domestik, baik berperan sebagai pengendali ataupun pendamping. Tabel 4 menunjukkan bahwa Jepang merupakan kolaborator paling intensif mendukung riset lingkungan di Indonesia dengan capaian 36.24%. Disusul kemudian oleh Australia sebesar 10.82% dan Belanda 10.82%. Dari tahun 2006-2015 kajian ini mendapati bahwa rasio kolaborator mencapai 2.8 (28 negara/10 tahun). Untuk topik riset energi ramah lingkungan, rerata tersebut cukup melampaui hasil kajian Montoya et al. (2014:178) yang melaporkan 104 negara kolaborator Spanyol sejak 1957-2012. Peluang hadirnya kolega baru tentu bisa terealisasi jika peneliti nasional berkomunikasi intensif, terutama dengan negara tetangga atau yang tergabung dalam asosiasi ilmiah internasional. Sementara itu mayoritas negara dengan kemunculan di atas sepuluh merupakan kolaborator yang tidak asing bagi institusi nasional. Peran kolaborator tersebut tidak hanya berkaitan dengan riset lingkungan saja. Melainkan juga seluruh bidang riset yang ada dan diselenggarakan oleh 50 institusi Indonesia (Lukman et al., 2016:20). Menariknya kehadiran Indonesia ternyata termasuk diperhitungkan negara lain sebagai kompanyon riset inti. Semisal Malaysia yang memasukan Indonesia dalam kategori sepuluh besar selama tiga tahun terakhir lebih atau sejak 2008 hingga Oktober 2011 (Cheng et al., 2013:665). Hal ini membuktikan bahwa posisi Indonesia terbilang strategis untuk mendukung riset berskala internasional di negara tetangga. Dalam riset yang berkaitan dengan lingkungan, bukan kali ini saja Indonesia dilihat sebagai mitra strategis negara lain. Semisal Malaysia yang menyatakan kembali bahwa Indonesia masuk lima besar dalam membantu riset energi ramah lingkungannya (Abrizah et Tabel 2. Skema Persekutuan Negara pada Riset Topik Lingkungan Negara Donatur Koalisi (K) Riset (%) (K) Nasional (% dari TP) (K) Internasional (% dari TP) Indonesia 109 (35.74) 67 (55.83) 42 (35.00) Jepang 48 (15.74) 13 (24.07) 35 (64.81) Jerman 30 (9.84) 16 (48.48) 14 (42.42) Australia 25 (8.20) 11 (39.29) 14 (50.00) Belanda 18 (5.90) 11 (57.89) 7 (36.84) Amerika Serikat 16 (5.25) 6 (31.58) 10 (52.63) Thailand 9 (2.95) 5 (55.56) 4 (44.44) Kanada 7 (2.30) 2 (28.57) 5 (71.43) Inggris 5 (1.64) 3 (30.00) 2 (20.00) Malaysia 5 (1.64) 2 (40.00) 3 (60.00) Austria 4 (1.31) 1 (25.00) 3 (75.00) Perancis 4 (1.31) 0 (0.00) 4 (100.00) 12 Negara Donatur Lainnya 25 (8.20) 8 (30.77) 17 (65.38) Sumber: Data primer yang diolah, 2016. TP (Total produk riset masing-masing negara) Tabel 3. Karakteristik Kooperasi Institusi pada Kajian Bidang Lingkungan Lembaga Riset (n=150) Geografis (K) Nasional % dari JP (K) Internasional % dari JP University of Gottingen Jerman 8 53.33 6 40.00 Institut Pertanian Bogor Indonesia 8 72.73 3 27.27 Universitas Diponegoro Indonesia 9 81.82 2 18.18 Universitas Gadjah Mada Indonesia 9 64.29 2 14.29 Universitas Indonesia Indonesia 9 81.82 1 9.09 Kyoto University Jepang 0 0.00 9 90.00 Center for International Forestry Research Indonesia 6 66.67 3 33.33 Wageningen University Belanda 6 66.67 3 33.33 Ehime University Jepang 1 14.29 6 85.71 Australian National University Australia 2 28.57 4 57.14 Leibniz Center for Tropical Marine Ecology Jerman 3 50.00 3 50.00 Asian Institute of Technology Thailand 3 60.00 2 40.00 Institut Teknologi Bandung Indonesia 3 42.86 2 28.57 World Agroforestry Centre Indonesia 4 80.00 1 20.00 136 Lembaga Riset Lainnya 74 35.07 113 53.55 Sumber: Data primer yang diolah, 2016.JP (Jumlah hasil riset masing-masing institusi); Kolaborasi (K) Gambar 3. Distribusi Perserikatan per Propinsi Nasional pada Riset Lingkungan al., 2012:1468). Lalu di urutan ketiga untuk riset bioteknologi skop ASEAN (Payumo et al., 2015:1053). Sedangkan pada skala yang lebih luas yakni Asia, Indonesia termasuk kolaborator riset negara-negara Arab yang juga tercantum dalam urutan tiga besar (Sweileh et al., 2014:6). Peran kolaborator nasional tidak hanya membantu posisi Indonesia dalam meningkatkan jumlah publikasi internasional jika dikaitkan dengan metode perhitungan full counting. Namun hal terpenting lainnya yaitu problem saintifik lingkungan dalam negeri turut teratasi. Kemudian kajian ini mendapati identitas lima benua setelah dilakukan pemetaan geografis kolaborator riset Indonesia. Lokasi bermukimnya para kompanyon mayoritas banyak ditemukan di Asia hingga 189 kemunculan (44.47%). Diikuti selanjutnya dari Eropa 28.71% serta Oseania bernilai 13.88%. Posisi Asia dalam konsorsium ilmiah internasional hingga kini memang layak diperhitungkan. Jejaknya di sejumlah kajian bibliometrik lingkungan selalu paling dekat dengan sang juara Eropa (Liu et al., 2016:757; Mao et al., 2015:1826; Wu et al., 2015:1220; Ji et al., 2014:1930; Niu et al., 2014:517; Xu et al., 2013:86; Wang et al., 2014:857;2013:39; Zhuang et al., 2013:210). Sepertinya Asia akan selalu menjadi kekuatan penyeimbang Eropa dan Indonesia bisa berbuat andil didalamnya. Untuk itu peneliti nasional semaksimal mungkin menjadikan isu lingkungan sebagai aset kerja sama. Tujuannya antara lain untukmenaikan kapasitas publikasi internasional sekaligus menyelesaikan permasalahan lingkungan dalam negerinya Tabel 4. Kolega Indonesia pada Penelitian Bidang Lingkungan Mitra Kolaborasi FKP (%) Mitra Kolaborasi FKP (%) Jepang 154 (36.24) Selandia Baru 3 (0.71) Australia 54 (12.71) Austria 2 (0.47) Belanda 46 (10.82) Cina 2 (0.47) Jerman 38 (8.94) Kenya 2 (0.47) Amerika Serikat 36 (8.47) Papua Nugini 2 (0.47) Kanada 15 (3.53) Philipina 2 (0.47) Perancis 15 (3.53) Swiss 2 (0.47) Belgia 12 (2.82) Denmark 1 (0.24) Malaysia 11 (2.59) Myanmar 1 (0.24) Singapura 6 (1.41) Norwegia 1 (0.24) Thailand 5 (1.18) Peru 1 (0.24) Korea Selatan 4 (0.94) Spanyol 1 (0.24) Taiwan 4 (0.94) Swedia 1 (0.24) Inggris 3 (0.71) Uganda 1 (0.24) Sumber: Data primer yang diolah, 2016. FKP (Frekuensi kemunculan peneliti) Gambar 4. Mitra Konsorsium Indonesia di Studi Lingkungan Menurut Level Benua.

Conclusion

Kebersamaan untuk mengatasi persoalan lingkungan di Indonesia sudah banyak dilakukan dalam satu dekade terakhir. Hal ini sesuai dengan 90% atau mayoritas dari 338 hasil riset yang telah dipublikasikan di ScienceDirect. Dalam skala internasional, tingkat kolaborasinya bahkan mengungguli sejumlah riset lingkungan yang pernah direalisasikan. Evolusi kooperasi riset juga berfluktuasi namun trennya selalu meningkat dengan rasio pertumbuhan 36.07%. Sumbangsih Indonesia cukup menentukan pertumbuhannya karena mendapatkan 35.74% dari jumlah produk riset yang dikolaborasikan. Menurut capaian yang diperoleh, sepertiga lebihnya merupakan hasil dari kolaborasi internasional. Keberhasilan Indonesia dalam menempati posisi teratas juga tidak lepas dari kontribusi 41 institusi nasional dan empat diantaranya terbilang menonjol yakni IPB, UNDIP, UGM, serta UI. Berdasarkan zona geografisnya, kontributor nasional produktif banyak bermukim di sejumlah provinsi pulau Jawa. Diantaranya Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan ketiganya termasuk kompeten dalam mengendalikan konsorsium internasional. Kolega yang direkrut institusi nasional mencapai 28 negara dan mayoritas kolaborator dengan kemunculan di atas sepuluh kali sudah tidak asing lagi dalam menyokong sejumlah riset Indonesia. Umumnya para kolaborator yang mendukung pengentasan persoalan lingkungan nasional berlokasi di Asia. Melihat hal tersebut periset nasional seoptimal mungkin menjadikan isu lingkungan sebagai aset kerja sama dengan negara-negara di Asia, sekaligus untuk menaikan publikasi internasionalnya.