ANALISIS INFORMASI PENERBITAN DAN TOPIK POPULER TERBITAN BERKALA ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI DI INDONESIA
Universitas Gadjah Mada; Universitas Gadjah Mada; Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia memiliki kebijakan penerbitan dan topik pembahasan yang beragam, sebagaimana yang terlihat informasinya di website terbitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) identitas terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia yang dapat diakses secara online; (2) informasi penerbitan pada website terbitan berkala tersebut; dan (3) topik populer terbitan berkala tersebut. Data penelitian menggunakan data kualitatif, yang bersumber dari penelusuran informasi di database SINTA Kemenristekdikti, ISSN LIPI, dan website terbitan. Penentuan topik populer terbitan ini menggunakan aplikasi daring Voyant Tools. Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat 61 terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia yang dapat diakses secara online, yang sebagian besar merupakan terbitan dari perguruan tinggi dan belum terakreditasi secara nasional (hanya sekitar 27 jurnal sudah terakreditasi); (2) sebagian besar terbitan sudah menginformasikan kebijakan penerbitannya melalui website terbitan, namun informasinya perlu diperbaiki dan di-update secara berkala; (3) topik terpopuler terbitan yaitu tentang “perpustakaan”. Selain membahas topik populer tersebut, terbitan berkala ilmu perpustakaan di Indonesia juga membahas topik lainnya, seperti ilmu informasi, manajemen, kearsipan, data, literasi, layanan digital, publikasi, pustakawan, koleksi, dokumentasi, teknologi informasi dan komunikasi, dan sebagainya.
Abstract
Library and information science periodicals in Indonesia have a variety of publishing policies and topics of discussion, as the information showed on the publication’s website. This study aims to determine: (1) the identity of the library and information science periodicals in Indonesia which can be accessed online; (2) the publishing information on those periodicals website; and (3) the popular topics of those periodicals. The research data used qualitative data, which was sourced from information searching in the SINTA Database of the Ministry of Research, Technology and Higher Education, ISSN LIPI, and the website of library and information science periodicals in Indonesia The determination of the popular topics of this publication using the online application Voyant Tools. The results showed: (1) there are 61 periodicals of library and information science in Indonesia that can be accessed online, most of which are publications from universities and have not been nationally accredited (only about 27 periodicals have been accredited); (2) most publications have informed their publishing policies through websites, but the information needs to be corrected and updated regularly; (3) the most popular topic was the "library". Apart from discussing these popular topic, the periodicals also discuss other topics, such as information science, management, archiving, data, literacy, digital services, publications, librarians, collections, documentation, information and communication technology, etc.
Keywords:
penerbitan
· terbitan berkala
· ilmu perpustakaan dan informasi
· topik penelitian
· Voyant Tools
Introduction
A. Latar Belakang Dunia penerbitaan saat ini mulai menjadi perhatian pemerintah. Hal tersebut terlihat dari maraknya penerbitan dalam berbagai macam terbitan (buku, jurnal, prosiding, lapora penelitian, dsb.) dari berbagai penerbit, baik penerbit komersial maupun non-komersial. Penerbit komersial banyak menerbitkan buku-buku best-seller dalam berbagai bidang keilmuan, baik terbitan populer maupun ilmiah. Penerbit komersial menerapkan kebijakan royalti (bagi hasil dengan penulis) berdasarkan keuntungan penjualan dari terbitan yang dihasilkan. Berbeda dengan penerbit non-komersial, seperti di lembaga pendidikan dan penelitian, sistem royalti tidak menjadi tujuan utama penerbitan, tetapi pada aksesibilitas konten terbitan untuk sitasi dan peningkatan faktor dampak (impact-factor) terhadap kemajuan iptek. Koleksi terbitan pada penerbit nonkomersial lebih banyak koleksi lembaga (localcontent) seperti jurnal, prosiding, laporan penelitian, dan dokumen lembaga, biasanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan informasi komunitasnya. Misalnya, terbitan di perguruan tinggi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sivitas akademiknya, seperti mahasiswa dan dosen. Selain masalah royalti, kebijakan penerbitan dari lembaga penerbit komersial dan non-komersial juga berbeda. Kebijakan pada penerbit komersial fokus pada profit dan kualitas format terbitan (tampilan dan popularitas penulis), sedangkan pada penerbit non-komersial pada lebih fokus pada subtansi dan kualitas keilmuan dari setiap terbitan. Kebijakan penerbitan setiap penerbit berbedabeda, termasuk pada terbitan berkala (periodical). Terbitan berkala merupakan sumber informasi dan pengetahuan sangat penting bagi masyarakat yang berkecimpung baik dalam kegiatan bisnis maupun ilmu pengetahuan. Menurut dokumen SNI 19-19501990, terbitan berkala merupakan terbitan yang diterbitkan dalam beberapa bagian (nomor) yang berurutan dengan perwajahan dan judul sama – biasanya terbit menurut jadwal yang sudah ditetapkan. Pada kajian ini terbitan berkala yang dibahas adalah terbitan majalah dan jurnal. Dua terbitan tersebut memiliki kesamaan dalam hal redaksional dan kemutakhiran isu. Hal yang membedakan adalah pada sistem review naskahnya, artikel pada majalah tidak melalui review sedangkan artikel jurnal melalui review oleh mitra bestari (reviewer). Tujuan review artikel untuk menjamin kualitas isi naskah berdasarkan kaidah keilmuan yang berlaku, yakni menjaga keaslian, kebaruan, kemanfaatan, dan berdampak pada pengembangan iptek yang dikaji. Di era digital ini, perkembangan terbitan berkala (majalah dan jurnal) di Indonesia sangat pesat, khususnya di lingkungan perguruan tinggi, dan selebihnya diterbitkan oleh lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) dan organisasi profesi. Termasuk terbitan berkala bidang ilmu perpustakaan dan informasi (library and information science) banyak diterbitkan oleh perguruan tinggi, dan keberadaannya kini mengalami perkembangan yang sangat pesat, yakni diterbitkan secara elektronik (ejournal) dan dapat diakses secara terbuka (open access). Hal tersebut terlihat dari sejumlah terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia yang dapat diakses secara online dan terbuka (sekitar 61 terbitan), baik yang diterbitkan dengan aplikasi standar penerbitan jurnal (seperti Open Journal System/OJS) maupun menggunakan website lembaga. Selain itu, berbagai terbitan tersebut juga menyediakan metadata lengkap, mulai dari daftar bibliografi terbitan (judul, penulis, abstrak, kata kunci, penerbit) hingga akses artikel lengkap (fulltext) secara gratis. Perkembangan format penerbitan (dari cetak ke digital) juga berdampak pada meluasnya ruang lingkup penerbitan (focus and scope) terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia. Ilmu tersebut masuk kategori ilmu umum. Sebagaimana yang tercantum dalam pedoman Dewey Decimal Classification (DDC) – disebutkan bahwa ilmu perpustakaan dan informasi masuk kategori karya umum, dengan nomor klasifikasi 020-029. Sebagai kategori ilmu atau karya umum, lingkup pembahasan ilmu perpustakaan dan informasi mencakup kajian perpustakaan, ilmu informasi, terbitan berseri, riset kepustakawanan, profesi pustakawan, profesi arsiparis, hubungan perpustakaan-kearsipaninformasi, preservasi dokumen, dokumentasi, literasi informasi, dan ilmu umum lain yang belum terdefinisi. Apabila dikaitkan dengan revolusi industri 4.0 lingkup pembahasannya mengacu pada konsep perpustakaan 4.0 (library 4.0) yang lebih kompleks membahas tentang preservasi digital, semantic-web, ontologi informasi, mobile-library, pengarsipan digital, kecerdasan buatan, komputasi awan, metadata, database, makerspace, big data, augmented reality, dan analisis website. Perkembangan lingkup pembahasan tersebut juga berdampak pada variasinya topik penelitian dan kebaruan isu yang tercantum pada setiap artikel terbitan berkala ilmu perpustakaan di Indonesia, baik terbitan yang sudah terakreditasi maupun terbitan yang belum terakreditasi. Berdasarkan hasil penelusuran informasi di database SINTA Kemenristekdikti diketahui ada sekitar 27 terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi yang sudah terakreditasi sehingga masuk kategori terbitan jurnal, dan selebihnya masuk kategori majalah (34 terbitan), karena informasinya bersifat populer atau semiilmiah. Sebagian besar lingkup pembahasannya bervariasi tergantung pada topik-topik populer yang menjadi prioritas penerbitan. Topik populer ini untuk mengetahui kecenderungan topik penelitian dan tren keilmuan kajian ilmu perpustakaan dan informasi di masa mendatang. Tren keilmuan bersifat dinamis, tergantung pada materi pendidikan yang diajarkan di berbagai sekolah dan universitas. Perkembangan iptek dalam pendidikan menyebabkan meningkatkanya jumlah penulis dan peneliti dalam bidang ilmu tertentu. Salah satu untuk melihat tren bidang ilmu adalah dari frekuensi penulis yang sering mempublikasikan hasil risetnya, dan hal tersebut dapat dilihat dari 15 tahun yang lalu (Pérez, 1996). Namun, dari keseluruhan terbitan tersebut belum semuanya menggunakan platform OJS untuk penerbitannya, belum konsisten susunan tim redaksi dan sistematika artikelnya, dan belum melalui proses review naskah yang mengacu pada etika publikasi ilmiah. Berdasarkan permasalahan tersebut, dapat dikatakan bahwa terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia (meskipun sudah menggunakan OJS dalam penerbitannya) masih ada yang masuk ketegori terbitan jurnal dan majalah. Berdasarkan hasil penelitian Liu & Yang (2019) pada terbitan jurnal ilmu perpustakaan dan informasi yang terindeks di Web of Science (62 jurnal) terlihat sangat jarang sehingga impact-factor terbitan belum terlalu signifikan pada pengembangan iptek di masyarakat. Topik penelitian jurnal bidang perpustakaan dan informasi masih bersifat multidisiplin keilmuan – dianggap belum fokus pada pengembangan keilmuan bidang kepustakawanan sehingga perlu ada parameter yang jelas dalam pengembangan topik-topik populer bidang ilmu ini. Dari jurnal ilmu perpustakaan dan informasi yang diteliti diketahui bahwa topik populer ilmu perpustakaan dan informasi sangat kompleksi, seperti social media, data, web, information retrieval, information literacy, students, evaluation, collaboration, knowledge management, user studies, information management, digital libraries, dan government. Dari sejumlah topik tersebut, topik yang populer dalam kajian ilmu perpustakaan dan informasi adalah social media. Penelitian ini memfokuskan pada analisis kelengkapan informasi penerbitan dan topik populer artikel pada terbitan berkala bidang perpustakaan dan informasi di Indonesia, dilakukan analisis secara deskriptif setiap website terbitan yang dapat diakses secara online. B. Batasan Penelitian Dalam pembahasan ini, ada beberapa hal yang menjadi batasan peneliti dalam menjelaskan hasil penelitiannya, di antaranya sebagai berikut. 1) Terbitan berkala yang dianalisis hanya terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi yang dapat diakses secara online, sedangkan terbitan tercetak (offline) tidak menjadi bahan pembahasan. Lingkup penerbitan ilmu perpustakaan dan informasi mengacu pada dokumen DDC yang secara eksplisit membahas tentang cakupan rumpun ilmu in, yaitu ilmu perpustakaan, ilmu informasi, ilmu dokumentasi, dan ilmu kearsipan. Terbitan berkala online ini dapat menggunakan platform OJS atau website lembaga. 2) Ketika data terbitan (sejumlah 61 terbitan) diperoleh, kemudian dilakukan identifikasi terhadap kelengkapan informasi penerbitan yang tercantum di website dan dibedakan berdasarkan status akreditasi terbitan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan mendasar kebijakan penerbitan yang muncul pada website terbitan berkala bidang perpustakaan dan informasi di Indonesia. 3) Informasi penerbitan yang dianalisis bersifat umum, yang dapat diakses secara online melalui website terbitan tanpa harus melakukan registrasi dan login. Informasi penerbitan ini mencakup: instansi penerbit, ISSN, link website, status akreditasi, kontak redaksi, petunjuk penulisan naskah, template naskah, kebijakan legal-formal, biaya penerbitan, frekuensi terbit, cek plagiarisme, reference manager, database pengindeks, statistik akses, tim editorial, link DOI, dan etika publikasi. Sedangkan, informasi yang menyangkut kualitas penerbitan artikel seperti: gaya penulisan naskah, proses review naskah, sebaran penulis, kualifikasi editor dan reviewer, kemutakhiran data/sumber referensi, sitasi, dan impact-factor, tidak menjadi bahan analisis penelitian. 4) Analisis topik populer terbitan berkala mengacu pada daftar istilah pada lingkup penerbitan (focus and scope), serta kata kunci yang sering diakses dan muncul pada beranda website terbitan. Analisis topik populer ini menggunakan perangkat aplikasi Voyant Tools. Pada penelitian ini, tidak membahas hubungan kata kunci (co-words) dan produktivitas penulis (co-authorsip) karena keterbatasan waktu penelitian. Sistem kerja aplikasi Voyant Tools dalam menganalisis setiap istilah yaitu memunculkan kata yang paling sering digunakan pada terbitan dengan visualisasi huruf-kata yang besar. Pada kajian ini, istilah-kata yang sering muncul menjadi indikasi bahwa kata tersebut menjadi topik populer terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia. C. Permasalahan Penelitian Secara prinsip, pengelolaan terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia dikelola secara profesional, yang mengacu pada ketentuan pengelolaan jurnal nasional. Hal tersebut terlihat dari keseragaman aplikasi jurnal yang digunakan, yakni sama-sama menggunakan platform OJS. Namun, dalam pengelolaan terbitan online, pengelola terbitan (jurnal) belum memiliki identitas keredaksian yang lengkap dan beragamnya informasi kebijakan yang di-update pada website jurnal sehingga berdampak ketidaklengkapan informasi kebijakan penerbitan dan bervariasinya topik pembahasan yang tercantum pada website jurnal. Permasalahan lainnya adalah konten informasi penerbitan pada website jurnal masih standar dari platform OJS (berbahasa Inggris) dan ruang lingkup penerbitan jurnal masih kosong, sehingga dapat membingungkan penulis ketika akan submit artikel ke terbitan yang dituju. Adanya kebijakan yang berbeda-beda dari setiap pengelola terbitan berdampak pada beragamnya topik pembahasan jurnal, yang sebenarnya hakikat dari topik pembahasannya adalah sama, yakni fokus membahas pengembangan ilmu perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini membahas tentang: (1) bagaimana kelengkapan identitas terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia yang dapat diakses secara online; (2) bagaimana kelengkapan informasi penerbitan pada website terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia; (3) topik apa saja yang dibahas dalam artikel terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia berdasarkan informasi pada ruang lingkup penerbitan. II. TINJAUAN LITERATUR Terbitan Berkala Terbitan berkala adalah suatu publikasi dalam banyak media, yang diterbitkan dari berbagai bagian, biasanya disertai dengan pernomoran dan kronologi penerbitan, diterbitkan secara berkala dengan kebijakan tertentu. Terbitan berkala mencakup periodicals, newspapers, annuals (reports, yearbooks, directories, etc.), the journal, series, memoirs, proceedings, transactions etc. (Suwahyono, Purnomowati, & Ginting, 2014). Menurut SNI ISO 215:2014, terbitan berkala serupa dengan terbitan berseri (serial), yaitu terbitan yang pada umumnya menyajikan satu atau lebih bidang terkhusus dan ditujukan untuk memberikan informasi umum atau ilmiah atau teknis. Ciri-ciri terbitan berkala di antaranya: (1) terbit secara teratur dan kontinu berdasarkan waktu yang ditetapkan; (2) memiliki International Standard Serial Number (ISSN); (3) memiliki tim redaksi (editor/reviewer), khusus untuk terbitan ilmiah harus memiliki reviewer; (4) memiliki struktur penomoran terbitan yang jelas (nomor/edisi, volume, bulan, dan/atau tahun); (5) disusun dengan format dan gaya penulisan tertentu; (6) mengandung informasi mutakhir berdasarkan ruang lingkup penerbitannya; (7) jumlah halaman setiap artikel tidak terlalu panjang (tidak melebihi artikel publikasi buku); (8) dan ketentuan lain yang mencadi ciri khusus terbitan berkala. Penerbitan terbitan berkala di Indonesia dapat mengacu pada dokumen SNI 19-1950-1990 tentang Terbitan Berkala; SNI ISO 215:2014 tentang Dokumentasi – Penyajian Artikel pada Terbitan Berkala dan Berseri Lainnya; SNI ISO 18: 2015 tentang Dokumentasi – Daftar Isi Terbitan Berkala; dan Pedoman Penampilan Majalah Ilmiah di Indonesia terbitan PDII-LIPI Tahun 2014. Terbitan berkala yang banyak diterbitkan di Indonesia adalah majalah dan jurnal. Perbedaan terbitan tersebut dapat dilihat dari isi informasinya. Dilihat dari isinya, majalah berisi artikel opini, iklan, dan dokumentasi kegiatan terbaru, sedangkan jurnal berisi artikel ilmiah hasil kajian dan penelitian. Jurnal seringkali disebut juga sebagai majalah ilmiah, yang berisi informasi mutakhir untuk penyerbarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi ke masyarakat, khususnya di kalangan akademisi dan peneliti. Majalah ilmiah mudah dideskripsikan jika sistematika penampilannya telah mengikuti peraturan yang berlaku dan konsisten dalam penerbitannya. Dengan demikian, akan dicapai ketertiban dan kemudahan dalam proses pengolahan, penyusunan, penyebaran, dan pemanfaatan terbitan (Suwahyono et al., 2014). Jurnal sebagai salah satu terbitan berkala ilmiah, yang harus bersifat ilmiah artinya memuat artikel yang secara nyata mengandung data dan informasi yang memajukan pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni (Lukman, Istadi, & Wiryawan, 2020). Ilmu Perpustakaan dan Informasi Priyanto (2018) mengatakan bahwa ilmu perpustakaan terkait erat dengan ilmu informasi, bahkan pada ilmu perpustakaan juga menjadi jurusan, bagian, konsentrasi, atau minat dari ilmu informasi. Namun di Amerika, ilmu perpustakaan semakin melebur menjadi sains informasi. Hal tersebut juga berdampak di Indonesia, di mana ilmu informasi akan berkembang seperti ilmu perpustakaan, salah satunya terlihat dari banyaknya para pendidik ilmu perpustakaan yang berlatar belakang pendidikan ilmu informasi. Adopsi kata “informasi” dalam ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia berorientasi pada aspek penerapan teknologi komputer di kegiatan-kegiatan perpustakaan (Pendit, 2018). Kajian ilmu informasi terkait dengan praktisi informasi di domain tertentu, apakah ahli dalam bidang dokumentasi dan informasi yang berbentuk cetak atau digital. Sejarah informasi memiliki subdisiplin yang berlainan seperti sejarah komputasi, sejarah perpustakaan, sejarah arsip, sejarah kajian informasi, sejarah budaya cetak, serta sejarah teknologi komunikasi dan komunikasi (SulistyoBasuki, 2018). Dalam perkembangannya ilmu perpustakaan dan informasi sangat fokus membahas kajian dokumentasi dan kearsipan. Dalam ilmu tersebut senantiasa berhubungan dengan bibliografi, pengindeksan, katalogisasi, dan perekaman dokumen dan arsip. Buckland (2014) mengatakan bahwa dokumentasi terkait dengan akses ke berbagai bukti dokumen yang tidak hanya berupa catatan, tetapi juga mencakup bidang komunikasi, dokumentasi, informasi, dan pengetahuan yang kompleks. Alasan lain yang menegaskan bahwa ilmu perpustakaan dan informasi terkait dengan ilmu dokumentasi dan kearsipan ada pada saat penyusunan kurikulum ilmu tersebut. Purwono (2014) menjelaskan bahwa landasan yang dapat dipakai sebagai penyusunan kurikulum Ilmu Perpustakaan dan Informasi meliputi tiga kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi keterampilan (skill): katalogisasi, klasifikasi, entri data dan otomasi, pelabelan dan shelving, penanganan arsip dan dokumentasi pembuatan perangkat layanan, pembuatan media promosi; (2) kompetensi manajerial: analisis pemustaka, kajian pemustaka, pembuatan program akuisisi, pembuatan progran pengolahan koleksi terkomputasi, pemilihan sistem klasifikasi, program penataan arsip dan dokumentasi, perancangan sistem layanan, perancangan kegiatan pemasaran dan promosi; (3) kompetensi keilmuan: teori informasi dan kepustakawanan, etika dan profesionalisme penanganan informasi dan perpustakaan, arsip dan dokumentasi bagi kehidupan masyarakat. Dokumentasi juga erat dengan literatur perpustakaan dan ilmu informasi khususnya dalam hal pencarian dokumen dan informasi. Lingkup Penerbitan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Terbitan ilmu perpustakaan dan informasi merupakan publikasi tertulis yang membahas tentang ilmu tersebut berdasarkan ruang lingkup kebijakannya, baik dipublikasikan dalam format tercetak maupun digital. Lingkup penerbitan terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia, pengelola terbitan dapat mengacu pada bidang kepakaran dari rumpun ilmu tersebut. Sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Kepala LIPI Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemilihan Bidang Kepakaran Peneliti, dijelaskan bahwa bidang kepakaran Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Library and Information Studies) mencakup ilmu perpustakaan, ilmu informasi, dan ilmu dokumentasi. Ilmu perpustakaan mencakup filsafat perpustakaan, manajemen perpustakaan, pengembangan perpustakaan, dan ilmu perpustakaan yang belum ditetapkan. Ilmu informasi mencakup filsafat ilmu informasi, manajemen informasi, pengembangan informasi, dan ilmu informasi yang belum ditetapkan. Ilmu dokumentasi mencakup filsafat ilmu dokumentasi, proses dokumentasi, pengembangan dokumentasi, dan ilmu dokumentasi yang belum ditetapkan (LIPI, 2016). Namun dalam praktiknya, ruang lingkup penerbitannya ada yang meluas ke ilmu sosial dan humaniora dan ada yang bersifat spesifik. Lingkup penerbitan yang bersifat spesifik biasanya penerbit menetapkan topik tematik yang menjadi ciri khas lembaga penerbit. Misalnya terbitan yang diterbitkan oleh perguruan tinggi lebih banyak membahas tentang “perpustakaan dan pustakawan akademik”; terbitan di lembaga litbang lebih banyak membahas tentang “layanan informasi riset dan pengelolaan data di perpustakaan”; dan terbitan di organisasi profesi lebih banyak membahas tentang “pengembangan kompetensi pustakawan dan literasi informasi”. Menurut Buckland (2017), dalam praktik keilmuan, publikasi bidang perpustakaan terkait erat dengan kajian akses informasi dan bibliografi literatur, dokumen, dan arsip yang dikaji menurut perspektif peneliti masing-masing. Voyant Tools Voyant Tools merupakan sistem aplikasi analisis teks berbasis web. Tujuan aplikasi ini untuk memfasilitasi pembaca (dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum) dalam analisis data berupa daftar kata/istilah dalah dokumen yang diunggah ke Voyant Tools. Data visualisasi disajikan secara detail dan komprehensif, dalam bentuk teks dan grafik (lingkaran dan diagram) yang saling terkoneksi. Aplikasi Voyant Tools dapat dilihat pada Gambar 1. GAMBAR 1. APLIKASI VOYANT TOOLS (Sumber: https://voyant-tools.org) Pada Voyant Tools (Gambar 1) ada dua mode untuk melihat tren hasil visualisasi data, yaitu: (1) Corpus: menunjukkan frekuensi istilah dalam setiap kata yang tercantum dalam dokumen. Metode kerja Corpus dengan sistem Drill-Down, yaitu dengan meng-klik dua kali pada item (kata) untuk menelusuri ke level dokumen; (2) Documentation: ketika data Corpus teranalisis, di bagian bawah akan muncul frekuensi istilah untuk setiap segmen dalam dokumen (secara otomatis) berdasarkan banyaknya istilah yang muncul dalam Corpus. Dasboard beranda Voyant Tools terdiri dari yaitu: (1) Cirrus: semacam pengindeks kata secara online yang menunjukkan istilah yang paling sering muncul/digunakan; (2) Reader: tampilan ke dalam corpus (istilah dalam dokumen) yang mengambil segmen teks ketika di-input; (3) Trends: grafik distribusi yang menunjukkan istilah-istilah di seluruh korpus; (4) Summary: perangkat yang memberikan gambaran sederhana dan tekstual dari korpus terkini; (5) Contexts: konkordansi yang menunjukkan setiap kemunculan kata kunci dengan sedikit konteks sekitarnya (Dickerson, 2014). Setiap kata/istilah yang terdapat pada dokumen/artikel direkap dan dianalisis berdasarkan fungsi dan kode analitik sistem Voyant Tools. Voyant Tools mampu menginformasikan frekuensi dan istilah populer (kata yang sering muncul). Informasi ini menjadi bahan visualisasi data untuk menjelaskan topik populer dan tren keilmuan. Tren merupakan visualisasi data yang mewakili frekuensi istilah di seluruh isi dokumen melalui mode/tampilan corpus atau pada seluruh segmen isi dokumen, tergantung pada mode yang digunakan. Selain frekuensi kata, Voyant Tools dapat memvisualisasikan data berupa grafik warna dalam bentuk chart dan lingkaran yang disertai dengan kata yang mewakilinya. Kata-kata dalam grafik warna dapat di-klik untuk memunculkan jumlah frekuensi kata dalam dokumen. Dokumentasi mengenai Voyant Tools dapat diakses di https://voyant-tools.org/docs/#!/guide/about.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripkan dan menganalisis data penelitian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan peneliti dalam analisis data kualitatif, yaitu: (1) natural setting (latar alamiah); (2) pengungkapan makna dari sudut pandang subjek penelitian; (3) holistik dan tidak dapat diisolasi sehingga terlepas dari konteksnya; (4) peneliti sebagai instrumen utama untuk mengungkapkan makna yang terikat nilai dan konteks, dsb (Firman, 2018). Data penelitian ini bersumber dari kegiatan penelusuran informasi secara online pada database SINTA Kemenristekdikti (http://sinta.ristekbrin.go.id/journals), ISSN LIPI (http://issn.lipi.go.id/), dan website terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia. Penelusuran informasi pada website terbitan dilakukan pada tanggal 1 – 10 Juli 2020. 1) Penelusuran informasi pada Database SINTA Kemenristekdikti bertujuan untuk mengetahui daftar terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi yang sudah masuk ketegori “jurnal” terakreditasi nasional. 2) Penelusuran informasi pada Database ISSN LIPI bertujuan untuk mengetahui identitas terbitan yang mencakup nama terbitan, penerbit, nomor ISSN, dan website terbitan. Ketika terbitan sudah tercantum di Database ISSN LIPI berarti masuk kategori terbitan berkala yang legal-formalnya diakui secara nasional. 3) Penelusuran informasi pada website terbitan bertujuan untuk mengetahui platfrom penerbitan, kelengkapan informasi penerbitan, dan topik populer terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia. Untuk mempermudah mengingat nama terbitan, peneliti menyusun nama terbitan secara alphabet (Tabel 1 di lampiran). Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis secara deduksi-induksi, dari pernyataan yang bersifat umum ke khusus. Analisis data penelitian dilakukan secara sistematis berdasarkan pokok bahasan, yakni mengenai kelengkapan informasi penerbitan dan topik populer pada terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia. Kegiatan analisis data penelitian ini dilakukan dengan tahapan: 1) Mengelompokkan data terbitan ke dalam tabel, yang berisi data tentang informasi kelengkapan penerbitan (instansi penerbit, ISSN, link-website, status akreditasi, kontak redaksi, petunjuk penulisan naskah, template naskah, kebijakan legal-formal, biaya penerbitan, frekuensi terbit, cek plagiarisme, reference manager, database pengindeks, statistik akses, tim editorial, link DOI, dan etika publikasi), dan topik populer hasil identifikasi daftar istilah yang menjadi lingkup penerbitan di website terbitan. 2) Menganalisis data secara kumulatif berdasarkan pokok bahasan, dengan memberikan contoh terbitan yang dianggap belum menginformasikan hal-hal yang menjadi kebijakan penerbitannya. Hal ini bertujuan untuk memberikan masukan perbaikan bagi penerbit untuk segera melengkapi informasi kebijakan penerbitan pada website terbitan. 3) Mereduksi data, pada terbitan yang tidak mencantumkan informasi lingkup penerbitan di website terbitan dan mencantumkan istilah yang bukan sebagai kata kunci, seperti kata depan dan kata sambung. Daftar istilah yang terseleksi menjadi kata kunci menjadi bahan analisis di aplikasi Voyant Tools (https://voyant-tools.org/). 4) Hasil reduksi data kemudian dijabarkan dan dianalisis secara deskriptif menggunakan tabel dan pernyataan berdasarkan literatur terkait dan pengetahuan peneliti pada bagian hasil dan pembahasan penelitian. Hasil analisis data pada bagian hasil dan pembahasan menjadi dasar penyusunan kesimpulan dan rekomendasi penelitian.
Discussion
A. Identitas Terbitan Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Berdasarkan hasil penelusuran informasi pada database SINTA Kemenristekdikti, ISSN LIPI, dan website terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia diketahui ada sekitar 61 terbitan (Tabel 1 di lampiran). Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar terbitan berkala diterbitkan oleh perguruan tinggi, sedangkan terbitan lainnya diterbitkan dari Institusi Kementerian-Lembaga (K/L), organisasi profesi, dan dinas perpustakaan dan arsip daerah (Kolom II pada Tabel 1). Sebagian besar terbitan juga sudah memiliki ISSN untuk terbitan online (Kolom IV pada Tabel 1), dan khusus untuk terbitan yang hanya memiliki ISSN untuk terbitan tercetak (Kolom III pada Tabel 1) sebaiknya segera mendaftarkan ISSN untuk terbitan online agar diakui sebagai terbitan berkala online. Dilihat berdasarkan platfrom penerbitannya, sebagian besar terbitan sudah menggunakan aplikasi OJS (Kolom V pada Tabel 1). Salah satu ciri terbitan menggunakan platfrom OJS adalah menggunakan inisial terbitan sebagai alamat website, baik itu nama akronim, singkatan, maupun inisial terbitan. Beberapa terbitan yang belum menggunakan OJS dapat dilihat pada terbitan MAJALAH LIBRISYIANA: Informasi Terdepan Perpustakaan Unsyiah; PALIMPSEST: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan; TAWIT PUSTAKA: Jurnal Perpustakaan dan Informasi Ilmiah, dan WIPA: Wahana Informasi Perpustakaan UAJY. Untuk terbitan yang menggunakan OJS kemungkinan besar manajemen penerbitannya akan mengacu pada penerbitan jurnal, yakni memfokuskan artikelnya berasal dari kajian ilmiah dan/atau hasil penelitian. Beberapa terbitan yang belum menggunakan OJS diharapkan dapat segera menggunakan platfrom tersebut agar dapat mengikuti standar penerbitan jurnal elektronik (e-journal). Penamaan terbitan, ISSN online, dan link website terbitan berkala ini menjadi persyaratan utama dalam pengajuan akreditasi jurnal nasional oleh Kemenristekdikti melalui database ARJUNA (http://arjuna.ristekbrin.go.id). B. Informasi Penerbitan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Berdasarkan hasil penelusuran informasi pada website terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi diketahui bahwa sebagian besar terbitan telah menginformasikan penerbitannya di website masing-masing. Dari 61 terbitan diketahui 20 terbitan yang belum menginformasikan penerbitannya di website, diantaranya: ACARYA PUSTAKA: Jurnal Ilmiah Perpustakaan dan Informasi; Jurnal GEMA Pustakawan; Jurnal Ilmu Perpustakaan (JIPER); Jurnal Imam Bonjol: Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan; Jurnal Perpustakaan dan Informasi (JAPRI); Jurnal Pustaka Budaya; Jurnal Pustaka Nusantara dan Budaya; LIBRIA: Library of UIN ArRaniry; MADIKA: Media Informasi dan Komunikasi Diklat Kepustakawanan; MAJALAH LIBRISYIANA: Informasi Terdepan Perpustakaan Unsyiah; MAKTABATUNA: Jurnal Kajian Kepustakawanan; PALIMPSEST: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan; PUSTABIBLIA: Journal of Library and Information Science; PUSTAHA: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi; PUSTAKA KARYA: Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi; PUSTAKA: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya; TAWIT PUSTAKA: Jurnal Perpustakaan dan Informasi Ilmiah; TIBANNDARU: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi;WIPA: Wahana Informasi Perpustakaan UAJY. Ada beberapa hal yang menyebabkan terbitan tersebut belum menginformasikan kebijakan penerbitannya di website, diantaranya: (1) belum menggunakan platfrom OJS untuk penerbitannya sehingga masih menginduk pada website lembaga; (2) terbitan masih baru menggunakan OJS sehingga pengelola belum melengkapi kebijakan penerbitan pada website; (3) pimpinan lembaga belum menunjuk tim redaksi yang secara khusus bertugas meng-update konten dan informasi kebijakan penerbitan pada website terbitan; (4) server website terbitan belum stabil sehingga jaringan internet sering mati. Dari hasil identifikasi juga terlihat beberapa terbitan yang sudah terakreditasi oleh Kemenristekdikti sehingga mendapat ketegori terbitan jurnal ilmiah (Tabel 1). TABEL 1. DAFTAR TERBITAN BERKALA YANG TERAKREDITASI No Nama Terbitan Berkala Peringkat Akreditasi 1 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi S2 2 Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan S2 3 KHIZANAH AL-HIKMAH: Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan S2 4 BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi S2 5 EDULIB: Journal of Library and Information Science S3 6 KHAZANAH: Jurnal Pengembangan Kearsipan S3 7 LENTERA PUSTAKA: Jurnal Kajian Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan S3 8 PARADIGMA: Jurnal Kajian Budaya S3 9 PUSTAKALOKA: Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan S3 10 Record and Library Journal S3 11 ANUVA: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi S4 12 BIBLIOTECH: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi S4 13 DIPLOMATIKA: Jurnal Kearsipan Terapan S4 14 IQRA': Jurnal Perpustakaan dan Informasi S4 15 JIPI (Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi) S4 16 Journal of Documentation and Information Science S4 17 JUMANTARA: Jurnal Manuskrip Nusantara S4 18 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan S4 19 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan S4 20 PUBLIS (Publication Library and Information Science) S4 21 PUSTABIBLIA: Journal of Library and Information Science S4 22 TIK ILMEU: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi S4 23 BIBLIOTIKA: Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi S5 24 Jurnal IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia) S5 25 Media Pustakawan S5 26 SHAUT AL-MAKTABAH: Jurnal Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi S5 27 AL MAKTABAH: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan S6 Tabel 1 menunjukkan ada pemeringkatan akreditasi jurnal nasional dari kategori SINTA 2 (S2) hingga SINTA 6 (S6). Pada S2 terdapat ada 4 jurnal, S2 terdapat 6 jurnal, S4 terdapat 12 jurnal, S5 terdapat 4 jurnal, dan S6 terdapat 1 jurnal. Pemeringkatan jurnal pada Database SINTA Kemenristekdikti mengacu pada hasil evaluasi dan penilaian akreditasi jurnal nasional pada database ARJUNA (http://arjuna.ristekdikti.go.id/) dengan mengacu pada 8 (delapan) aspek penilaian, yaitu: (1) penamaan jurnal ilmiah; (2) kelembagaan penerbit; (3) penyuntingan dan manajemen jurnal; (4) substansi artikel; (5) gaya penulisan; (6) penampilan; (7) keberkalaan; dan (8) penyebarluasan. Agar peringkat jurnal ilmu perpustakaan dan informasi dapat dapat tinggi (maksimal S1 atau S2) pada Database SINTA, pengelola jurnal harus memperhatikan standar minimal penerbitan jurnal sebagaimana yang tercantum dalam Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah, yaitu: a) memuat artikel yang secara nyata memajukan iptek dan seni berdasarkan hasil penelitian, perekayasaan, dan/atau telaahan yang mengandung temuan dan/atau pemikiran yang orisinil serta tidak plagiat; b) memiliki dewan penyunting jurnal berkualifikasi sesuai dengan bidang ilmu yang mewakili bidang iptek dan seni; c) melibatkan mitra bestari/reviewer berkualifikasi sesuai dengan bidang keilmuan jurnal dari berbagai perguruan tinggi, balitbang, industri, baik dari dalam maupun luar negeri, dan mampu bekerja secara objektif; d) menggunakan Bahasa Indonesia dan/atau bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa; e) menjaga konsistensi gaya penulisan dan format penampilan terbitan; f) dikelola dan diterbitkan secara elektronik (ejournal) melalui jaringan internet; g) terbit sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan; h) memiliki nomor seri standar internasional secara elektronik (Electronic International Standard Serial Number/E-ISSN) dan pengenal objek digital (Digital Object Identifier/DOI). Berdasarkan Tabel 1 dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut. 1) Kontak redaksi jurnal, seperti nomor telepon/handphone, email, dan alamat penerbit, sudah diinformasikan secara lengkap. 2) Petunjuk penulisan naskah bagi penulis, sudah diinformasikan secara jelas bahkan disertai dengan template naskah. Hanya ada dua jurnal yang belum menginformasikan template penulisan naskahnya secara lengkap, yaitu BIBLIOTECH: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi; dan Media Pustakawan – sehingga penulis harus menghubungi tim redaksi ketika akan menulis naskah di jurnal tersebut, baik melalui email maupun nomor telepon. 3) Kebijakan legal-formal seperti kebijakan akses, hak cipta, lisensi, dan privasi, sudah diinformasikan secara jelas. Kebijakan akses mengatur tentang izin akses bagi pembaca, penulis, dan pengakses konten artikel, baik akses terbuka (open access) maupun akses tertutup (close access). Hak cipta terkait hak moral, hak publikasi, dan hak eksklusif yang melekat pada penulis, penerbit, dan pihak lain yang berkepentingan dalam penerbitan jurnal. Lisensi terkait pernyataan perizinan akses informasi pada terbitan jurnal, biasanya menggunakan lisensi Creative Commons (http://creativecommons.com). Privasi terkait perlindungan diri dan nama baik jika terjadi konflik kepentingan dalam penerbitan jurnal, baik perlindungan privasi penulis, editor, reviewer, maupun penerbit. Beberapa jurnal yang belum mencantumkan lisensi Creative Commons, yaitu IQRA': Jurnal Perpustakaan dan Informasi dan Journal of Documentation and Information Science. Untuk itu, pengelola terbitan harus segera mencantumkan logo Creative Commons pada website terbitan agar dalam pemanfaatan konten digital pada jurnal menjadi legal dan terbebas dari pelanggaran hak cipta. 4) Sebagian besar terbitan tidak memungut biaya penerbitan artikel (free on charge). Hanya ada dua jurnal yang menarik biaya penerbitan artikel kepada penulis, yaitu Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan Record and Library Journal, hal tersebut diperbolehkan selama untuk peningkatan kualitas penerbitan jurnal dan meningkatkan kinerja pengelola jurnal secara kesinambungan. 5) Frekuensi terbitan jurnal dalam setahun ratarata antara 2 – 4 kali terbit. Persyaratan akreditasi jurnal menyaratkan minimal 2 kali terbit setahun dengan minimal 5 judul artikel per-isu terbitan. Untuk jurnal yang memiliki frekuensi terbitan lebih dari 2 kali setahun, seperti PARADIGMA: Jurnal Kajian Budaya; ANUVA: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi; Media Pustakawan; Record and Library Journal biasanya memiliki persediaan naskah yang cukup banyak dan memiliki jaringan yang luas dengan penulis potensial sehingga memungkinkan naskah akan cukup untuk memenuhi setiap isu terbitan. 6) Sebagian besar terbitan menggunakan aplikasi cek plagiarisme untuk mengecek keaslian naskah penulis. Aplikasi cek plagiarisme yang paling banyak digunakan adalah Turnitin, kemudian diikuti oleh aplikasi SmalSeotools, Plagiarisma, dan PlagScan. Beberapa terbitan yang belum menginformasikan aplikasi cek plagiarisme, diharapkan dapat segera memasang dan menggunakan aplikasi ini untuk mengecek keaslian naskah yang di-submit oleh penulis. 7) Sebagian besar terbitan menggunakan aplikasi reference manager untuk penulisan kutipan dan daftar pustaka naskah bagi penulis. Aplikasi reference manager yang paling banyak digunakan adalah Mendeley, kemudian diikuti oleh aplikasi Zotero dan Endnote. Ada beberapa jurnal yang belum mempersyaratkan penulisan naskah dengan aplikasi reference manager, yaitu AL MAKTABAH: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan; BIBLIOTECH : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi; Media Pustakawan; PARADIGMA: Jurnal Kajian Budaya; PUBLIS (Publication Library and Information Science); PUSTABIBLIA: Journal of Library and Information Science. 8) Seluruh terbitan sudah terindeks di database pengindeks bereputasi nasional dan global (internasional). Database pengindeks nasional yang digunakan antara lain: SINTA, Garuda, ISJD, Indonesia One Search, Moraref, dan RIN Dataverse. Sementara itu, database pengindeks global yang digunakan antara lain: Google Scholar, DOAJ, BASE, EBSCO, ESJI, EZ3, Academic Microsoft, PKP Index, Academic Resource Index, WorldCat, AeroPub, Sherpa/RoMEO, CiteFactor, Citeulike, Copac, Core, CrossRef, Dimensions, Academia, Issuu, Journal TOCs, LoopID, Mendeley, NDSL, OAI, OpenAIRE, OrcidID, ROAD, Scientific and Technical Information Portal, dan pengindeks universitas internasional (Harvad Library, Boston University, Florida Institute of Technology, Gent University Library, Libraries-Leiden University, Princeton University, Search Oxford Library Online, Universitas Oxford, Universität LeipzigGermany, University of Saskatchewan Library, dsb.). Dari sejumlah database pengindeks nasional dan global tersebut, diketahui bahwa database SINTA, Garuda, Google Scholar, DOAJ, dan PKP Index hampir dimiliki oleh semua terbitan. 9) Sebagian besar terbitan sudah dipasang aplikasi penghitung statistik akses pada website terbitan. Apalikasi penghitung statistik yang paling banyak digunakan yaitu Statcounter, Flagcounter, dan Histats – aplikasi tersebut bersifat open source yang dapat langsung diinstal secara online pada website terbitan. Untuk terbitan yang belum memasang aplikasi ini diharapkan dapat segera meng-instal dan meng-update-nya agar dapat memantau jumlah pengakses konten jurnal dalam kurun waktu tertentu, baik pengakses dari pengunjung umum (public visitors) maupun pengunjung unik (unique visitors). 10) Sebagian besar terbitan telah menginformasikan tim editorial (editor & reviewer) di website terbitan. Setiap terbitan memiliki susunan redaksi yang berbeda-beda, tergantung pada kebijakan pengelola jurnal masing-masing. Hal tersebut tidak mempengaruhi penilaian akreditasi selama setiap orang yang terlibat di dalamnya bekerja sesuai dengan peran redaksionalnya dan tersebar dari berbagai institusi. Setiap nama orang yang tercantum diperkenankan menggunakan gelar akademik dan asal istitusi, selama dalam penulisannya konsisten. Susunan tim editor dan reviewer pada website terbitan dibuat terpisah (link menu berbeda), karena keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda. Secara umum, sebagian besar terbitan memiliki susunan editorial sebagai berikut: Editor in Chief (Pemimpin Redaksi); Editorial Boards (Dewan Editor); Associate Editors (Editor Asosiasi); Managing Editor/Journal Manager; Assisten Editors (Section Editor/Content Editor, Copy Editor, Layout Editor/Disain Grafis, Language Editor, Technical Editor, Proofreader), Site Administrator/ IT Support, dan Secretariat (sekretaris redaksi). 11) Sebagian besar terbitan nomor unik pengindetifikasi objek digital yang bersifat unik, yakni dengan mencantum Digital Object Identifier (DOI) untuk setiap artikel yang telah diterbitkan. Untuk memastikan nomor DOI aktif atau tidak, manajer jurnal sebaiknya memastikan setiap link DOI pada setiap artikel, jika aktif maka kembali ke metadata artikel jurnal, namun jika tidak aktif maka diminta registrasi ke crossref – untuk aktivasi link DOI. Bagi terbitan yang DOI-nya masih bermasalah, sebaiknya segera mengecek langganan DOI ke Crossref atau menghubungi adminitrator tim Relawan Jurnal Indonesia (RJI) untuk langganan DOI dan instalasi DOI ke website terbitan. 12) Sebagian besar terbitan telah mencantumkan pernyataan etika publikasi ilmiah pada website terbitan. Etika publikasi ini mengatur tentang tanggung jawab setiap pihak yang terlibat dalam penerbitan jurnal, baik penulis, editor, reviewer, maupun pengelola jurnal. Untuk terbitan yang belum menginformasikan etika publikasi ilmiah ini diharapkan dapat segera melengkapinya untuk mencegah terjadinya tindakan malpraktik publikasi dan pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiasi. Informasi penerbitan pada terbitan yang sudah dan belum terakreditasi tentunya berbeda. Terbitan ilmu perpustakaan dan informasi yang belum terakreditasi, informasi penerbitannya masih standar (default) dari sistem OJS, dan jika terbitan menggunakan website lembaga akan sangat jarang menginformasikanya karena tidak ada space khusus pada website untuk menginformasikan kebijakan penerbitan. Ketidaklengkapan dan ketiadaan informasi penerbitan pada terbitan berkala yang belum terakreditasi, dapat dilihat pada hasil analisis informasi sebagai berikut. 1) Sebagian besar terbitan belum menyediakan informasi kontak redaksi secara lengkap, baik email, nomor telepon, maupun alamat penerbit. Untuk terbitan yang belum melengkapi kontak redaksi, sebaiknya segera melengkapinya agar pengakses website dapat mengetahui kontak layanan redaksi yang responsif. 2) Sebagian besar terbitan belum melengkapi petunjuk penulisan naskahnya dengan template naskah untuk penulis. Template naskah ini sangat penting bagi penulis untuk mempercepat penyusunan konten tulisan dalam naskah (bab dan sub-bab, gambar, tabel, grafik, dsb.) dan mengetahui gaya penulisan naskah (font, spasi text, margin halaman, sitasi, daftar pustaka). 3) Sebagian besar terbitan belum menginformasikan kebijakan legal-formal penerbitan, seperti kebijakan akses, hak cipta, lisensi, dan privasi. Untuk terbitan yang belum menginformasikan kebijakan legal-formal di website sebaiknya segera menginformasikannya ke publik agar setiap informasi dan artikel lengkap yang diakses orang lain terhindar dari pelanggaran hak cipta. 4) Sebagian besar terbitan belum menginformasikan biaya penerbitannya secara jelas, apakah gratis atau berbayar. Sebaiknya hal tersebut segera diinformasikan penerbit agar diketahui secara jelas oleh penulis. 5) Sebagian besar terbitan memiliki frekuensi terbit 2 kali dalam setahun, seperti halnya dengan jurnal yang sudah terakreditasi. Namun beberapa terbitan yang belum terakreditasi masih ada yang terbit 1 kali dalam setahun, bahkan lebih dari 2 kali dalam setahun (4 – 6 kali setahun). Ketidakteraturan frekuensi terbitan ini disebabkan karena penerbit masih fokus pada kuantitas artikel dan belum memiliki target artikel secara jelas dalam setiap isu terbitan – sehingga dalam proses penerbitannya sangat tergantung pada kebijakan sepihak dari pemimpin redaksi. 6) Sebagian besar terbitan belum menginformasikan aplikasi cek plagiarisme, reference manager, penghitung statistik terbitan, dan nomor DOI setiap artikel di website terbitan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: (1) sebagian besar artikel bukan karya ilmiah (hasil kajian/penelitian); (2) pimpinan lembaga belum menunjuk tim khusus untuk mengurusi hal tersebut; (3) tujuan penerbitan untuk memenuhi output kinerja lembaga secara administratif (bukan kualitas); (4) biaya langganan DOI untuk penerbitan belum tersedia. Terkait hal tersebut, pengelola terbitan dapat memanfaatkan aplikasi cek plagiarisme dan reference manager yang gratis di internet (online). Pengelola terbitan dapat memasang aplikasi cek plagiarisme gratis dan online, seperti Smallseotools dan Plagiarisma, dan aplikasi reference manager, seperti Mendeley dan Zotero. Sementara itu, untuk langganan DOI dapat melanggan sendiri atau berkoordinasi dengan lembaga induknya untuk pemanfataannya. Khusus terbitan yang belum menginformasikan aplikasi penghitung statistik terbitan secara online, seperti ACARYA PUSTAKA: Jurnal Ilmiah Perpustakaan dan Informasi; EDULIBINFO: Journal of Library and Information Science; JPUA: Jurnal Perpustakaan Universitas Airlangga; JUPITER (Jurnal Perpustakaan Informasi dan Komputer); Jurnal GEMA Pustakawan; Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan; Jurnal Ilmu Perpustakaan (JIPER); Jurnal Imam Bonjol: Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan; Jurnal PARI; Jurnal Perpustakaan dan Informasi (JAPRI); Jurnal Pustaka Nusantara dan Budaya; Jurnal Pustakawan Indonesia; MAJALAH LIBRISYIANA: Informasi Terdepan Perpustakaan Unsyiah; MAKTABATUNA: Jurnal Kajian Kepustakawanan; PALIMPSEST: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan; PUSTAHA: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi; PUSTAKA: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya; TADWIN: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi; TAWIT PUSTAKA: Jurnal Perpustakaan dan Informasi Ilmiah; WIPA: Wahana Informasi Perpustakaan UAJY, sebaiknya segera memasang aplikasi tersebut pada website terbitan, agar frekuensi pengakses konten terbitan dapat dipantau secara berkala. Pengelola terbitan dapat memasang aplikasi penghitung statistik online yang gratis, seperti Stat Counter, Flag Counter, dan Super Counters. 7) Sebagian besar terbitan sudah terindeks di berbagai database pengindeks nasional dan global bereputasi, seperti halnya dengan jurnal yang sudah terakreditasi. Namun, perlu diupdate identitas terbitan pada setiap database pengindeks agar sesuai dengan identitas terbitan yang terbaru. 8) Sebagian besar terbitan belum mencantumkan tim editorial (editor dan reviewer) secara lengkap. Selain itu, untuk terbitan yang sudah mencatumkan tim editorial secara lengkap belum memisahkan link menu tim editor dan reviewer, serta belum menyusun tim editorial berdasarkan jabatan redaksional. Jabatan redaksional yang dimaksud adalah jabatan tim editorial yang mengacu pada peran dan tugas redaksional sebagaimana yang tercantum pada jurnal yang sudah terakreditasi. Untuk terbitan yang belum terakreditasi, sebagian besar masih menggunakan jabatan administrasi dalam tim editorialnya, seperti Penanggung Jawab, Ketua Dewan Editor, Ketua Redaksi Pelaksana, Sekretaris, Staf Editor, dan/atau Penyunting Pelaksana. 9) Sebagian besar terbitan belum menginformasikan etika publikasi ilmiah sebagaimana pada jurnal yang sudah terakreditasi. Beberapa terbitan yang belum menginformasikannya, seperti Jurnal Perpustakaan dan Informasi (JAPRI); Jurnal Pustaka Nusantara dan Budaya; MAJALAH LIBRISYIANA: Informasi Terdepan Perpustakaan Unsyiah; PALIMPSEST: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan; PUSTAKA: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya; TAWIT PUSTAKA: Jurnal Perpustakaan dan Informasi Ilmiah; WIPA: Wahana Informasi Perpustakaan UAJY; PUSTAKA KARYA: Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi; LIBRIA: Library of UIN Ar-Raniry; EDULIBINFO: Journal of Library and Information Science; FIHRIS; JPUA: Jurnal Perpustakaan Universitas Airlangga; Jurnal Ilmu Perpustakaan (JIPER); Jurnal Imam Bonjol: Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan; Jurnal PARI; Jurnal Pustakawan Indonesia; PUSTAHA: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, sebaiknya segera melengkapi dan meng-update informasi etika publikasi ilmiah pada website-nya masing-masing. C. Topik Populer Terbitan Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Ruang lingkup dan topik pembahasan terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia juga bersifat multi-disiplin, sebagaimana yang dikatakan Liu & Yang (2019) terhadap topik-topik penelitian pada jurnal ilmu perpustakaan dan informasi yang terindeks di Web of Science. Topik penelitian dapat diprediksi oleh pengelola terbitan berdasarkan praktik ilmiah pada kegiatan pustakawan dan perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi secara global. Misalnya topik penelitian pada lingkup kepustakawanan sekolah (school librarianship), topik populernya lebih banyak membahas literasi informasi (information literacy) dan kemampuan pembelajaran (learning ability) yang terkait dengan pemanfataan teknologi digital (Joo & Cahill, 2018). Topik literasi informasi tersebut membahas tentang pencarian informasi (information-seeking) dan komunikasi ilmiah (scientific communication) yang berkembang sejak tahun 1985 – yang saat ini menjadi dasar perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi secara global (Tuomaala et al, 2014). Berdasarkan hal tersebut, peneliti melakukan analisis terhadap daftar kata/istilah yang muncul pada ruang lingkup penerbitan di website terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia. Hasil analisis dari 61 terbitan (Tabel 1 di lampiran) diketahui bahwa terbitan tersebut tidak hanya membahas topik ilmu perpustakaan, informasi, dan dokumentasi, tetapi juga ilmu kearsipan. Bahkan, dari sejumlah terbitan tersebut ada beberapa terbitan yang mencantumkan kata “arsip” dan “kearsipan” untuk nama terbitannya, seperti Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan; KHIZANAH ALHIKMAH: Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan; LENTERA PUSTAKA: Jurnal Kajian Ilmu Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan; SHAUT AL-MAKTABAH: Jurnal Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi. Kemudian, pada terbitan berkala ilmu kearsipan pun membahas tentang ilmu perpustakaan, informasi, dan/atau dokumentasi, sebagaimana yang terlihat pada informasi lingkup penerbitan Archiva Journal; DIPLOMATIKA: Jurnal Kearsipan Terapan; Jurnal Kearsipan; KHAZANAH: Jurnal Pengembangan Kearsipan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu perpustakaan dan informasi memiliki hubungan erat dengan ilmu kearsipan. Apalagi di era digital ini, ilmu tersebut sama-sama membahas objek digital, terutama dalam hal preservasinya menggunakan sistem repositori. Perbedaannya terletak pada penyebutan “objek yang dikelolanya”. Sudarsono (2016) mengatakan bahwa lembaga perpustakaan dan arsip mempunyai kesamaan fungsi, yakni sama-sama mengelola koleksi. Perbedaannya terletak pada penyebutan objek yang dikelola, perpustakaan mengelola koleksi pustaka/buku dan lembaga arsip mengelola arsip. Sedangkan lembaga dokumentasi memiliki objek yang lebih luas, mencakup koleksi artefak, herbarium (spesimen tanaman), dan dokumen lain yang belum tercakup pada koleksi lembaga perpustakaan dan arsip. Keterkaitan ilmu perpustakaan dan informasi dengan ilmu kearsipan ini mengakibatkan bertambahnya daftar istilah dan topik kajian pada terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia. Berdasarkan hasil reduksi dan analisis data pada daftar istilah diketahui ada sekitar 108 kata kunci yang menjadi topik penulisan artikel terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia (Tabel 2). TABEL 2. DAFTAR ISTILAH KATA KUNCI PENERBITAN No Istilah (Kata Kunci) Frek. No Istilah (Kata Kunci) Frek. 1 Library 251 55 Metadata 2 2 Information 191 56 Organization 2 3 Management 58 57 Reference 2 4 Archive 57 58 SDG’s 2 5 Data 38 59 Story-Telling 2 6 Literacy 34 60 User 2 7 Digital 30 61 Webotherapy 2 8 Publication 27 62 Women 2 9 Services 27 63 Linguistic 2 10 Librarian 24 64 Poverty 2 11 Collection 23 65 Algorithm 1 12 Documentation 22 66 Altmetrics 1 13 Technology 21 67 Anthropology 1 14 KnowledgeManagement 19 68 Archeology 1 15 Bibliometric 18 69 Assets 1 16 Communication 15 70 ContentAnalysis 1 17 Records 14 71 ContingencyPlan 1 18 Research 12 72 Cybermetrics 1 19 Media 11 73 Depository 1 20 Repository 11 74 DisasterRecovery 1 21 Infometrics 10 75 Discipline 1 22 Cultural 9 76 Eccentricity 1 23 University 9 77 E-Commerce 1 24 Internet 8 78 Effect-Visit 1 25 Manuscript 8 79 Fiction 1 26 Museum 7 80 File-Format 1 27 Open-Access 7 81 Follower 1 28 Preservation 6 82 ForestryDivision 1 29 Reading 6 83 Gallery 1 30 Scientometrics 6 84 GovernmentAgency 1 31 Social-Media 6 85 Heroic 1 32 Computer 5 86 Hipwee 1 33 Database 5 87 HousingTechnology 1 34 Indonesia 5 88 HumanResources 1 35 Book 4 89 Inclussion 1 36 Citation-Analysis 4 90 Incubation 1 37 Webometrics 4 91 Industry-4.0 1 38 School 4 92 ISO 1 39 Archivist 3 93 Leadership 1 40 Filology 3 94 Marketing 1 41 Inovation 3 95 MOOC 1 42 Scientific 3 96 Multimedia 1 43 Space 3 97 Nationality 1 44 Welfare 3 98 NaturalDisasters 1 45 Cloud-Computing 2 99 Net-Generation 1 46 Codicology 2 100 Notation 1 47 Copyright 2 101 Philosopy 1 48 Education 2 102 Presentation 1 49 Evaluation 2 103 Public-Relation 1 50 Film 2 104 RevolusiIndustry 1 51 History 2 105 Statistics 1 52 Image 2 106 Student 1 53 LearningAchievement 2 107 Subscription 1 54 Management 2 108 Web 1 Sumber: Informasi Ruang Lingkup Penerbitan pada Website Terbitan Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Indonesia (Data Penulis, 2020) Kata kunci “library” atau “perpustakaan” menjadi kata terpopuler terbitan karena sebagian besar penulis artikel berprofesi sebagai pustakawan atau pengelola perpustakaan. Bagi penulis, pembahasan tentang perpustakaan dan aktivitas yang ada didalamnya masih dianggap hal yang menarik untuk dikaji dan dipublikasikan melalui jurnal. Hal tersebut menjadi tantangan para akademisi ilmu perpustakaan dan informasi dan pustakawan di Indonesia untuk mulai menulis artikel di luar bahasan “perpustakaan”, seperti pengelolaan informasi, manajemen informasi, data, dan rekaman di luar institusi perpustakaan. Dengan menulis selain “perpustakaan”, wawasan dan pengetahuan penulis akan berkembang dan lebih kritis terhadap isu-isu kontemporer dalam bidang kepustakawanan. Daftar istilah (Tabel 2) kemudian di-input ke aplikasi Voyan-Tools untuk mengetahui topik populer. Hasil analisis data istilah tersebut (Tabel 2) menunjukkan bahwa kata “library” menjadi topik populer dalam pembahasan terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia (Gambar 2). GAMBAR 2. TOPIK POPOLER DAN TREN PENELITIAN (Sumber: https://voyant-tools.org) Gambar 2 menujukkan bahwa kajian tentang “ilmu perpustakaan” menjadi tren topik penelitian para penulis bidang ilmu tersebut. Kajian ilmu tersebut kemudian diikuti oleh topik “information”, “management”, “archive”, “data”, “literacy”, dan seterusnya. Menurut analisis data Voyant Tools, semakin banyak istilah/kata yang muncul dalam publikasi yang diteliti maka menjadi topik populer dan tren penelitian. Mengacu Gambar 2, visualisasi data dengan Voyant Tools digambarkan sebagai berikut (Gambar 3 dan Gambar 4). GAMBAR 3. VISUALISASI DATA TOPIK POPULER DENGAN DASHBOARD CIRRUS – VOYANT TOOLS (Sumber: https://voyant-tools.org) Gambar 3 menunjukkan bahwa topik “library”, “information”, “management”, “archive”, “data”, “documentation”, “Publication”, “collection”, “librarian” menjadi topik populer dalam terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi. Namun, yang menjadi trend-center penulisan artikel tetap topik “library”, sebagaimana terlihat pada visualisasi data Links Voyant Tools berikut ini (Gambar 4). GAMBAR 4. VISUALISASI DATA MODEL DATA LINKS – VOYANT TOOLS Dari topik terpopuler “library” diketahui hal-hal yang dibahas, antara lain: library services, collection management, librarian, library empowerment, library innovation, digital library, library learning, library otomation, kind of libraries, library system, library measurement, library programs, library resources, library function, library building, library analytic, library standardization, library tools. Sementara itu, topik populer berikutnya seperti “information”, “documentation”, dan “archive”, bahasannya sebagai berikut 1) Topik “information” membahas tentang: information literacy, information management, information resources, information retrieval, information need, information behaviour, information organization, information media, information dissemination, information environments, information ethics, information health, information industry, information professional, information repackaging, information society, information system, dan information technology. 2) Topik “documentation” membahas tentang: document management, preservation, publication, record management, data, asset management, mutimedia, dan document format. 3) Topik “archive” membahas tentang: archive management, archive services, archivist, digital archive, archive regulation, kind of archives, archive storage, dan history archive. Kata “library” (Gambar 4) tetap menjadi “topik utama” dalam pembahasan artikel jurnal. Isu tentang “library” bagi penulis dapat dikaitkan dengan topik bahasan yang lain, khususnya topik yang terkait dengan “literacy” atau literasi informasi – yang sangat melekat dengan program literasi informasi di perpustakaan.
Conclusion
Terbitan berkala menjadi salah satu identitas perkembangan iptek, termasuk dalam ilmu perpustakaan dan informasi. Di Indonesia, penerbitan terbitan ilmu perpustakaan dan informasi sudah cukup pesat terlihat dari maraknya penerbitan online menggunakan platform OJS dan meningkatnya kualitas terbitan menjadi jurnal terakreditasi nasional (sekitar 27 terbitan). Terbitan ini sudah menjadi kebutuhan para pustakawan, akademisi, peneliti, dan praktisi bidang kepustakawanan untuk pengembangan keilmuan dan kepakarannya. Dalam pengelolaannya, penerbit, penulis, editor, dan reviewer bekerja secara profesional untuk peningkatan kuantitas dan kualitas terbitan secara kesinambungan. Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: (1) sebagian besar terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia (sejumlah 61 terbitan) diterbitkan oleh perguruan tinggi, sudah memiliki ISSN online, menggunakan platfrom standar penerbitan jurnal (OJS), dan terkait dengan ilmu kearsipan; (2) sebagian besar terbitan, baik yang terakreditasi maupun belum terakreditasi, sudah menginformasikan kebijakan penerbitannya melalui website terbitan, baik yang terkait dengan instansi penerbit, ISSN, link website, status akreditasi, kontak redaksi, petunjuk penulisan naskah, template naskah, kebijakan legal-formal, biaya penerbitan, frekuensi terbit, cek plagiarisme, reference manager, database pengindeks, statistik akses, tim editorial, link DOI, maupun etika publikasi. Meskipun demikian, pengelola terbitan perlu meng-update dan melengkapi informasi penerbitannya pada website terbitan secara berkala dengan mengikuti perkembangan terbaru dunia penerbitan terbitan berkala, apakah mengacu pada pedoman akreditasi jurnal atau pedoman lainnya; (3) topik populer terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia masih fokus pada pembahasan “library” yang merepresentasikan bahwa “perpustakaan masih sebagai objek yang paling diminati penulis dalam konteks yang berbeda-beda”, dan topik “information” kemungkinan besar akan menjadi topik populer pada kajian bidang kepustakawaan di masa mendatang. Peneliti menyarankan khusus bagi terbitan yang belum menggunakan OJS untuk segera mengaplikasikannya dan melengkapi informasi kebijakan penerbitannya berdasarkan ketentuan akreditasi jurnal nasional. Hal tersebut dilakukan agar kuantitas dan kualitas terbitan berkala ilmu perpustakaan dan informasi dapat setara dengan terbitan bidang ilmu lain yang sudah terakreditasi nasional.