Kembali
16
1
2020 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 16 · 2 ISSN 2477-0361

Penerbitan buku ilmiah daring berbasis open monograph press (OMP)

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Abstrak

Pendahuluan. Open Monograph Press (OMP) menarik untuk dikaji karena potensinya yang masih belum tergali dalam mendukung penerbit ilmiah di Indonesia, baik oleh penerbit perguruan tinggi maupun litbang. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya akses informasi dan belum tersosialisasikannya best practice dalam penggunaan OMP oleh penerbit ilmiah yang telah mengimplementasikan OMP dalam penerbitan buku ilmiah. Metode penelitian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang dimulai dengan elaborasi proses bisnis penerbitan buku ilmiah di LIPI Press. Penulis mengamati bagaimana sistem penerbitan daring berbasis OMP dapat mengakomodasi proses bisnis penerbitan buku LIPI Press. Data primer dalam kajian ini berupa dokumentasi tampilan laman dari sistem penerbitan buku ilmiah daring berbasis OMP milik LIPI Press. Data analisis. Analisis data menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Hasil dan Pembahasan. OMP dapat mengakomodasi semua peran dan proses yang ada dalam penerbitan ilmiah; OMP mampu mengakomodasi kebutuhan penerbit akan situs web katalog. Metadata OMP dapat terindeks oleh Google Scholar; dan OMP dapat menjadi terobosan pergerakan buku ilmiah agar dapat diakses oleh sebanyak mungkin audiens. Kesimpulan dan Saran. OMP perlu menjadi standar bagi penerbitan buku ilmiah terutama penerbit perguruan tinggi dan litbang.

Abstract

Introduction. There has been limited discussion on Open Monograph Press (OMP) although its potential is recognized to support academic publications in Indonesia. This is due to the lack of access to information and dissemination of OMP by academic publishers that have implemented OMP in their publication process. Data Collection Method. This paper used a qualitative approach by starting the elaboration publication process in Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Press. This paper examined how OMP-based online publishing system is able to accommodate book publishing process in LIPI Press. Primary data in this study was collected through records of the user interface of the online page of LIPI Press which uses OMP. Data Analysis. The data was analyzed by using a descriptive-analytic approach. Results and Discussions. OMP is useful not only to accommodate all roles and processes of scientific publication but also to accommodate the publisher's need for a catalog website. OMP metadata can be indexed by Google Scholar and can be a helpful tool for product distribution. Conclusion. OMP is suggested to become a standard in publication process.
Keywords: open monograph press · omp · scientific publication

Introduction

A. PENDAHULUAN Daya saing suatu bangsa dapat diukur dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan salah satu indikatornya tecermin dari jumlah publikasi ilmiah, baik nasional maupun internasional serta produk-produk inovasi yang dihasilkan. Oleh karenanya, tidak heran apabila dalam lima tahun terakhir, Indonesia melalui Kemenristekdikti (sekarang Kemenristek/ BRIN) terus berupaya meningkatkan daya saing bangsa melalui strategi peningkatan jumlah publikasi ilmiah (Kemendikbud, 2012; Kemenristek/BRIN, 2018). Peningkatan jumlah publikasi ilmiah tentu berdampak pada penerbit ilmiah yang menaungi proses penerbitan ilmiah. Khusus untuk penerbitan ilmiah berupa pengelolaan jurnal, melalui akreditasi jurnal oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang kemudian dilanjutkan oleh Kemenristekdikti melalui Akreditasi Jurnal Nasional (Arjuna) berdasar Permen Ristekdikti No. 9 Tahun 2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah telah memberikan standar dan membentuk sebuah ekosistem yang mapan untuk pengelola jurnal yang berkualitas, baik di perguruan tinggi maupun di lembaga litbang (Kemenristekdikti, 2018). Namun demikian, nasib berbeda bagi penerbit ilmiah yang mengakomodasi penerbitan buku, monografi, atau bunga rampai. Dikutip dari Perka LIPI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pedoman Akreditasi Penerbit Ilmiah pada bagian latar belakang menyatakan bahwa saat ini, banyak usaha penerbitan ilmiah yang digunakan untuk menerbitkan hasil penelitian, tetapi tidak memiliki standar baku, baik persyaratan administrasi maupun kualitas substansi dan penerbitannya (LIPI, 2016). Beberapa institusi litbang membentuk lembaga penerbitan sendiri hanya dengan mencantumkan kata “press” pada unit yang sebelumnya memiliki tugas cetak mencetak. Padahal untuk memenuhi kelayakan terbit, fokus utama penerbit ilmiah terletak pada penyuntingan substansi. Hal inilah yang membedakan penerbit ilmiah dengan penerbit umum, yang biasanya menerbitkan buku-buku populer untuk segmen pasar yang lebih luas (Helmi, Safitri, et al., 2019). Oleh karena itu, penerbit ilmiah yang mengelola buku ilmiah, baik monografi maupun bunga rampai, perlu meniru strategi meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal ilmiah di Indonesia di mana salah satu upaya percepatan yang dilakukan Kemenristekdikti adalah dengan menekankan penggunaan jurnal elektronik berbasis Open Journal System (OJS) (Kemenristek/BRIN, 2017). Penggunaan OJS selain menunjang akuntabilitas penyaringan naskah, kelayakan pengelolaan, dan ketepatan waktu penerbitan jurnal ilmiah, juga mempunyai urgensi pada sisi diseminasi yang lebih luas dan indeksasi secara daring yang berujung pada sitasi atau sitiran terhadap suatu artikel jurnal. Terlebih pada awal dekade ini euforia pemeringkatan Webometrics dan mesin pengindeks Google Scholar muncul dan menjadi perhatian dari kalangan akademisi. Melalui kemajuan teknologi informasi, baik peringkat Webometrics maupun angka sitasi Google Scholar mendadak menjadi nilai prestise tersendiri terutama bagi akademisi, perguruan tinggi, dan litbang. Webometrics sendiri cukup prestisius karena merupakan pemeringkatan akademik terbesar. Sejak tahun 2004, setiap 6 bulan, Cybermetrics Lab, selaku lembaga yang merilis Webometrics melakukan penilaian secara independen, objektif, bebas, dan terbuka (Rahardja et al., 2017). Webometrics menyediakan informasi yang handal, multidimensi, terbarukan, dan berguna tentang kinerja ilmiah dari seluruh dunia berbasis web beserta dampak yang dihasilkan. Empat indikator yang menjadi penilaian Webometrics (Bahtiar, 2017), yakni (1) Size (S), merupakan jumlah halaman web yang terindeks oleh mesin pencari; (2) Visibility (V), merupakan total link yang diterima atau backlink yang dimiliki oleh halaman repositori institusi; (3) Rich file (R), merupakan jumlah dari tipe atau format yang dimilki oleh repositori institusi, meliputi Portable Document Format (.pdf), Adobe Postscript File (.ps), Document (.doc), dan PowerPoint (.ppt); dan (4) Scholar (Sc), yaitu jumlah publikasi ilmiah dari repositori institusi yang terindeks oleh Google Scholar. Google Scholar sendiri merupakan layanan dari Google yang memungkinkan pengguna untuk mencari referensi pendidikan dan penelitian ilmiah dalam berbagai format yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan menyediakan informasi ilmiah dari berbagai disiplin ilmu (Istiana, 2016). Google Scholar memanen metadata dari situs open access penerbitan jurnal, laman repositori universitas, situs berbagi dokumen, atau situs-situs lain yang memiliki kandungan rich file ilmiah. Rich file bisa berupa buku, artikel jurnal, skripsi, tesis, disertasi, makalah prosiding, presentasi, atau hasil penelitian yang tidak diterbitkan. Science and Technology Index (Sinta) yang diinisiasi oleh Kemenristekdikti pada 2016 juga menggunakan indeksasi dari Google Scholar (Kemenristek/BRIN, 2020). Berdasarkan paparan tersebut penggunaan sistem penerbitan daring berbasis teknologi informasi, seperti halnya OJS, untuk pengelolaan penerbitan buku ilmiah menjadi sangat relevan saat ini. Public Knowledge Project (PKP), sebagai pengembang OJS, juga telah mengembangkan sistem yang hampir sama untuk mengakomodasi penerbitan buku, baik monografi maupun bunga rampai yang lebih kompleks, bernama Open Monograph Press (OMP) (Adema & Schmidt, 2010). OMP menarik untuk dikaji karena potensinya yang masih belum tergali dalam mendukung penerbit ilmiah di Indonesia, baik oleh penerbit perguruan tinggi maupun penerbit litbang. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya akses informasi dan belum tersosialisasikannya best practice dalam penggunaan OMP oleh penerbit ilmiah yang telah mengimplementasikan OMP dalam penerbitan buku ilmiah. Berdasarkan paparan tersebut, tulisan ini mengkaji penggunaan OMP pada sebuah penerbit ilmiah dalam menunjang proses bisnis penerbitan buku ilmiah dari awal proses verifikasi (submission) hingga tahap produksi kemudian dampak dari hasil terbitan pada indeksasi Google Scholar. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses penerbitan ilmiah daring berbasis OMP dalam mengakomodasi proses penerbitan buku ilmiah yang menekankan pada penelaahan aspek substansi dan peranan OMP dalam menunjang indeks serta sitasi dari mesin pengindeks Google Scholar. Manfaat dari tulisan ini adalah memberikan gambaran tentang penerbitan ilmiah daring berbasis OMP baik kelebihan maupun kendala yang mungkin dihadapi dalam implementasi. Diharapkan melalui tulisan ini, OMP menjadi sistem yang familiar untuk digunakan oleh penerbit ilmiah khususnya penerbit perguruan tinggi dan litbang, seperti halnya OJS yang saat ini menjadi rekomendasi aplikasi jurnal elektronik yang sesuai dengan standar penerbitan jurnal. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Penerbitan Ilmiah Secara keseluruhan proses penerbitan ilmiah hampir sama dengan penerbitan umum atau konvensional yang mencakup rangkaian kegiatan copyediting, proofreading, tata letak & desain halaman, distribusi (Zlodi, 2018), yang bertujuan untuk menambah nilai suatu naskah/artikel sehingga menjadi terbitan (baik tercetak maupun elektronik) yang layak bagi pembaca sasaran. Perbedaan atau kekhususan yang mendasar dari penerbitan ilmiah menurut Perka LIPI Nomor 17 Tahun 2016 adalah pada proses yang menekankan pada aspek penyuntingan substansi melalui penilaian dan penelaahan naskah untuk menghasilkan terbitan karya tulis ilmiah sesuai dengan kaidah yang ditetapkan (LIPI, 2016). Penekanan pada aspek penyuntingan substansi menuntut penerbitan ilmiah memiliki proses bisnis penelaahan substansi sehingga muncul kekhususan penerbit ilmiah yang melaksanakan proses penerbitan ilmiah. Penerbit ilmiah dalam Perka LIPI Nomor 17 Tahun 2016 didefinisikan sebagai organisasi atau badan hukum yang memiliki tugas dan fungsi utama melaksanakan penerbitan ilmiah untuk mengomunikasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, dalam pelaksanaan penerbitan menekankan pada proses penelaahan dan penyuntingan substansi untuk menghasilkan terbitan/karya tulis ilmiah sesuai dengan kaidah yang ditetapkan (LIPI, 2016). Kaidah tersebut antara lain kode etika publikasi ilmiah yang bersumber pada Committee on Publication Ethics (COPE) yang pada prinsipnya menjunjung tiga nilai etik dalam publikasi, antara lain (1) Kenetralan, yakni bebas dari pertentangan kepentingan dalam pengelolaan publikasi; 2) Keadilan, yakni memberikan hak kepengarangan kepada yang berhak sebagai pengarang; dan (3) Kejujuran, yakni bebas dari duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme dalam publikasi. Kualitas publikasi ilmiah seperti itu dapat dicapai apabila penerbit ilmiah memiliki dewan editor dan panduan terstandar dalam proses penelaahan dan penilaian naskah. Keberadaan dewan editor dan adanya panduan penelaahan dan penilaian merupakan kunci bagi penerbit ilmiah. 2. OMP OMP adalah platform sumber terbuka untuk mengelola alur kerja editorial dari monografi, manuskrip, buku elektronik (ebook), dan karya ilmiah lainnya (Thiagarajan, 2013). OMP adalah platform perangkat lunak sumber terbuka untuk mengelola alur kerja editorial yang diperlukan untuk meninjau monografi, bunga rampai, dan edisi akademik melalui tinjauan internal dan eksternal, pengeditan, pembuatan katalog, produksi dan publikasi. (Ruiz-Vanoye et al., 2015). OMP juga dapat berfungsi sebagai situs web penerbit dengan fitur katalog, distribusi, dan kemampuan mengorganisasi penjualan (Gillis, 2017; Popkova, 2014). Dikutip dari pengantar OMP pada laman resmi pkp.sfu.ac.id (PKP, 2020), sistem OMP mencakup proses penerbitan dan manajemen buku yang dapat dioperasikan oleh pengelola penerbitan secara fleksibel yang dapat diunduh secara gratis dan diinstal pada sebagian besar peladen web. OMP dirancang secara efisien untuk mengurangi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk tugas-tugas substansial dan manajerial yang terkait dengan penerbitan buku sekaligus meningkatkan proses pencatatan dan efisiensi proses editorial. OMP dibangun untuk meningkatkan kualitas penerbitan ilmiah dan publik melalui sejumlah inovasi yang mencakup alur kerja yang jelas dan intuitif untuk setiap aspek pengiriman naskah, penelaahan, pengeditan, dan proses produksi. OMP bersama dengan OJS yakni sistem manajemen publikasi jurnal; Open Conference Systems (OCS) untuk mengelola konferensi; dan Open Harvester System untuk pengambilan metadata; merupakan empat aplikasi terpisah namun memungkinkan untuk saling terkait sebagai akses terbuka (open access) (MacGregor et al., 2014). Keempatnya merupakan rangkaian perangkat lunak yang dikembangkan oleh Public Knowledge Project (PKP) (Jung, 2018). PKP adalah prakarsa penelitian nirlaba yang berfokus pada (1) pentingnya membuat hasil penelitian yang didanai oleh publik dapat tersedia secara bebas melalui kebijakan akses terbuka dan (2) pengembangan strategi untuk mewujudkan poin pertama, termasuk di dalamnya pengembangan perangkat lunak yang mengakomodasi kegiatan tersebut. PKP merupakan hasil dari kerja sama kemitraan antara Fakultas Pendidikan Universitas British Columbia, Pusat Studi Penerbitan Kanada Universitas Simon Fraser, Universitas Pittsburgh, Dewan Perpustakaan Universitas Ontario, Perpustakaan Digital California, dan Sekolah Pendidikan Universitas Stanford. PKP berusaha untuk meningkatkan kualitas penelitian akademik dan publik melalui pengembangan lingkungan daring yang inovatif. Pengiriman naskah melalui OMP terbagi menjadi empat langkah proses setelah mengunggah manuskrip. Langkah tersebut antara lain telaah internal yang dapat diikuti oleh telaah eksternal. Setelah tahap tinjauan, naskah (jika diterima) memasuki tahap editorial, di mana copyeditor ditugaskan dan salinannya diperiksa oleh penulis. Setelah tahap editorial, pengajuan manuskrip memasuki tahap produksi. Pada tahap ini keseluruhan informasi submisi, termasuk metadata, kontributor, bab, dan sebagainya, dapat ditinjau dan diselesaikan. (Müller & Haspelmath, 2013) OMP memiliki fitur yang mampu mengakomodasi proses bisnis penerbitan, antara lain (1) Menangani penerbitan bunga rampai, dengan author yang berbeda untuk setiap bab; (2) Melibatkan peran editor, penulis, penelaah, desainer, pengindeks, penerjemah dan peran-peran lainnya dalam produksi buku; (3) Mengakomodasi naskah yang perlu melalui penelaahan internal dan eksternal lebih dari sekali; (4) Memanfaatkan ONIX, yakni standar industri untuk persyaratan metadata terperinci bagi penjual buku ritel daring, semisal Amazon; (5) Membuat pustaka dokumen untuk pengiriman, rekaman kontrak, izin, dan dokumen lainnya; (6) Mengelola keluku sampul buku dalam katalog dan fitur lain katalog seperti rilisan terbaru dan sorotan; serta (7) Mengakomodasi fitur pencarian buku dan kategorisasi buku dalam katalog.

Method

1. Subjek Kajian Subjek kajian dibatasi pada proses penerbitan ilmiah Balai Media dan Reproduksi LIPI (LIPI Press). LIPI Press merupakan layanan penerbitan korporat LIPI yang memiliki kapasitas dalam (1) memproses dan mengelola bahan-bahan informasi dan pengetahuan menjadi produk-produk terbitan (tercetak ataupun elektronik) yang diperlukan oleh masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya (termasuk komunitas ilmiah), (2) menyediakan wadah atau media promosi yang sesuai sehingga produk informasi dan pengetahuan yang dihasilkannya dapat diakses oleh pemangku kepentingan (dalam bentuk tercetak atau elektronik), serta (3) menjamin kualitas produk terbitan ilmiah agar sesuai dengan standar terbitan ilmiah yang ditentukan. (Helmi, Safitri, et al., 2019) Penerbitan ilmiah LIPI Press dipilih karena merupakan penerbit ilmiah yang telah mapan dan menjadi tujuan studi banding penerbitan ilmiah lembaga/kementerian lain di Indonesia. LIPI Press juga telah menjalin kerja sama dengan penerbit Springer dalam penerbitan internasional beberapa buku terbitan LIPI Press. Proses penerbitan ilmiah LIPI Press juga mengantarkan 6 buku terbitan LIPI Press di antara 20 buku hasil penelitian yang mendapat insentif dari Kemenristekdikti pada 2019. LIPI Press juga telah memiliki sistem penerbitan ilmiah daring yang berbasis OMP dan telah diimplementasikan dengan alamat eservice.lipipress.lipi.go.id. 2. Konseptualisasi Penelitian Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang berpijak pada proses bisnis penerbitan ilmiah LIPI Press dan mengaplikasikan proses bisnis tersebut dengan tahapan penerbitan daring berbasis OMP. Alur proses bisnis penerbitan ilmiah LIPI Press terdiri dari tujuh tahapan, yakni verifikasi naskah, review, copyediting, layout dan desain, proofread, modify hasil proof, dan cetak buku/ebook seperti terlihat pada Gambar 1. Sementara itu, tahapan penerbitan OMP secara default terdiri dari submission, internal review, external review, copyediting, dan production seperti tertuang pada Gambar 2. 3. Pengumpulan Data Pengumpulan data primer dalam kajian ini didapat melalui pendokumentasian berupa screen capture tampilan pada laman sistem penerbitan ilmiah daring berbasis OMP LIPI Press. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif untuk menjelaskan setiap tahapan OMP dan roles yang berperan mengikuti alur proses bisnis penerbitan ilmiah LIPI Press.

Result & Discussion

1. Berbagai Peran Penerbitan Ilmiah yang Diakomodasi dalam OMP Penerbitan ilmiah memiliki sejumlah peran (role) yang wajib ada dalam membentuk ekosistem penjaminan substansi terbitan ilmiah. Sejumlah peran tersebut terkadang memiliki sebutan yang berlainan antarpenerbit. LIPI Press dalam Pedoman Penerbitan Buku LIPI Press menyebutkan beberapa peran dalam proses bisnis penerbitan ilmiah. Peran tersebut walaupun terkadang memiliki sebutan yang berbeda sejatinya mengakomodasi fungsi peran yang telah ada secara lebih universal sehingga semuanya sudah ada dalam sistem OMP dan praktis dapat diakomodasi (Gambar 3). Peran pengelola yang ada di LIPI Press dibentuk melalui surat tugas atau surat keputusan untuk melaksanakan atau mengelola tiap tahapan proses bisnis penerbitan ilmiah LIPI Press. Peran pengelola tersebut disebut editor, yang terdiri dari dewan editor, copy editor, editor visual, dan proofreader (Helmi, Safitri, et al., 2019). Selain peran editor, juga disebutkan peran penelaah (reviewer) yang bertanggung jawab pada proses penelaahan. Kesemua peran yang ada di LIPI Press tersebut selanjutnya dikomparasi dengan role default OMP (Gambar 3) untuk diketahui perbedaan maupun persamaannya sebagai berikut. a. Dewan Editor (DE) merupakan pakar atau ahli yang memiliki pengetahuan atau kepakaran dalam bidang tertentu yang bertugas mempertimbangkan kelayakan naskah dari sisi substansi. Perbedaan dengan penelaah (reviewer) adalah dewan editor ditetapkan oleh surat SK Kepala LIPI tentang Pembentukan Dewan Editor LIPI Press sehingga bersifat tetap dan menjadi bagian dari pengelola penerbitan ilmiah. Pada sistem OMP, peran dewan editor mirip dengan internal reviewer yang juga mempertimbangkan dan menilai naskah dari sisi substansi serta berasal dari internal pengelola penerbitan ilmiah. Role internal reviewer secara default telah tersedia dan menjadi bagian utama dalam proses bisnis penerbitan di OMP pada bagian internal review. b. Copyeditor memiliki tugas utama melakukan copyediting dengan memperhatikan struktur penulisan yang meliputi aspek-aspek, antara lain (1) keterbacaan, ejaan, diksi; (2) konsistensi; (3) kebahasaan; (4) kejelahan dan gaya bahasa; (5) ketelitian data dan fakta; (6) legalitas dan kesopanan; dan (7) ketepatan rincian produksi. Selain itu, copyeditor juga memeriksa dan menyiapkan naskah sesuai dengan persyaratan dan kelengkapan untuk diproses lebih lanjut. Pada sistem OMP juga memiliki peran copy editor dengan hak akses yang hampir sama dengan tugas pada versi LIPI Press. Namun perbedaan secara default, role copyeditor pada poin 'ketepatan rincian produksi' di mana hak akses tersebut lebih dikhususkan pada role designer, layout editor, dan proofreader yang memang bertanggung jawab pada proses produksi (production). c. Editor Visual memiliki peran sebagai penyunting dan penata letak isi serta sampul buku. Editor visual bertanggung jawab terhadap efektivitas dan kualitas tampilan visual terbitan berdasarkan prinsip serta elemen desain komunikasi visual. Editor visual bertugas menata tampilan dari format naskah menjadi buku dan memeriksa serta memperbaiki naskah hasil koreksi proofreader. Ruang lingkup kerja editor visual meliputi penataan isi, perancangan isi, dan sampul. Pada sistem OMP, peran editor visual secara default terbagi menjadi role designer yang bertanggung jawab pada pengerjaan sampul dan layout editor yang bertanggung jawab pada perancangan sekaligus penataan isi. Namun keduanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan karena memiliki permission level yang sama, misal disatukan menjadi peran editor visual. d. Proofreader memiliki peran memeriksa dan memberi koreksi setelah naskah didesain guna memastikan kesesuaian hasil desain dan menghindari kesalahan pengetikan, pemenggalan kata serta keakuratan penyusunan penempatan ilustrasi (gambar dan tabel). Proses proofreading di LIPI Press juga dilakukan oleh personil bagian copyeditor. Copyeditor dan proofreader bertugas membuat dan melengkapi kelengkapan naskah, seperti pengantar penerbit dan blurb. Pada sistem OMP, role proofreader telah tersedia secara default dengan hak akses pada proses produksi. Melalui hak akses ini, proofreader dapat mengakses naskah yang tata letaknya telah dikerjakan oleh layout editor. e. Penelaah adalah orang yang ditunjuk berdasarkan kepakarannya untuk melakukan tugas menelaah dan menyunting substansi naskah yang akan diterbitkan sesuai dengan kaidah dan ketentuan penelahaan yang telah ditetapkan oleh penerbit. (Helmi, Mahelingga, et al., 2019). Pada sistem OMP, penelaah secara default telah tersedia dengan sebutan external reviewer, dengan asumsi penelaah versi LIPI Press berbeda dengan dewan editor. Role external reviewer bertanggung jawab pada tahapan proses external review yang menjadi tahapan utama dalam proses penerbitan sistem OMP. Selain peran yang disebutkan di atas, OMP juga mengakomodasi peran lain seperti tertuang pada Gambar 3. Di antaranya yang memiliki peran penting dalam proses penerbitan antara lain: a. Press Manager/Press Editor memiliki hak akses sebagai administrator dalam sistem OMP sehingga mampu mengakses seluruh proses penerbitan dan masuk sebagai (login as) akun lain yang memiliki level berada di bawah press manager atau press editor. Role ini mempunyai kewenangan penting dalam proses penerbitan, antara lain (1) Menerima notifikasi submisi naskah dari author pertama kali dan (2) Menunjuk section editor sebagai penanggung jawab dan verifikator naskah. Selain dalam proses penerbitan, role ini juga memiliki kewenangan dalam mengubah pengaturan sistem OMP, beberapa yang berkaitan dengan penerbitan ilmiah di antaranya (1) Menambah role dan akun pengelola karena semua akun pengelola OMP (selain author) hanya bisa dibuat oleh level press manager/press editor; (2) Menentukan pengaturan proses penerbitan (workflow), seperti jenis komponen yang bisa diunggah, author guidelines, review guidelines dan submission preparation checklist; dan (3) Pengaturan lain yang bersifat administrator, seperti tampilan situs web, tools, dan statistics. b. Section Editor adalah role dengan level di bawah press manager/press editor yang memiliki hak akses atau kewenangan pada semua tahapan penerbitan, sesuai dengan naskah yang ditugaskan oleh press manager/press editor. c. Author adalah penulis naskah atau pengguna layanan penerbitan. Role ini dapat dibuat siapa saja dengan melakukan register pada situs OMP. d. Volume Editor adalah author yang mengunggah naskah bunga rampai sebagai editor. Role ini bisa dipilih oleh author saat akan mengunggah dan memilih antara naskah monografi atau bunga rampai. e. Chapter Author adalah penulis naskah bab/artikel bunga rampai yang bisa ditambahkan oleh volume editor ketika melengkapi metadata unggahan naskah bunga rampai. Secara keseluruhan, hampir semua peran yang ada dalam penerbitan ilmiah—yang penyebutannya sering kali berbeda antara penerbitan yang satu dengan yang lain—dapat diakomodasi oleh sistem OMP. Hal tersebut karena sistem OMP bersifat open source sehingga bisa dikelola dan diubah permission level sesuai dengan keinginan atau kebutuhan pengelola penerbitan. Sebagai contoh, LIPI Press tidak menggunakan role indexer yang secara default ada di OMP dan bisa menambah role dewan editor apabila fungsi internal reviewer dirasa berbeda. 2. Penerbitan Ilmiah Berbasis OMP Proses bisnis penerbitan ilmiah LIPI Press secara keseluruhan terbagi menjadi tujuh tahapan, yakni verifikasi naskah, review, copyediting, layout dan desain, proofread, modify hasil proof, dan cetak buku/e-book (Gambar 1). Tahapan tersebut merupakan proses bisnis yang berlaku setelah LIPI Press mendapatkan naskah dari author. Untuk lebih memperjelas proses penerbitan ilmiah sistem OMP (Gambar 2), maka tahapan dimulai dari proses unggah oleh author. Proses unggah author dan tujuh tahapan proses bisnis penerbitan LIPI Press dapat diakomodasi sistem OMP dengan rincian sebagai berikut. a. Unggah Naskah Tahapan unggah naskah melalui sistem OMP diawali dengan registrasi author melalui laman situs web e-service.lipipress.lipi.go.id dengan mengeklik register, maka calon author akan dibawa pada laman eservice.lipipress.lipi.go.id/press/user/register untuk mengisi data registrasi berupa nama, afiliasi, negara, password, dan email untuk notifikasi. Selanjutnya author akan dibawa ke sistem OMP untuk akun author dengan fitur standar seperti edit profil dapat dilakukan sendiri oleh author. Unggah naskah dapat dilakukan melalui fitur new submission untuk dibawa ke laman pengunggahan. Laman pengunggahan terdiri dari lima tahap, yakni (1) Prepare berisi pilihan jenis terbitan (monografi atau bunga rampai) dan persetujuan ketentuan serta hak cipta; (2) Upload Submission untuk mengunggah naskah sesuai dengan sistematika yang ditetapkan oleh penerbit; (3) Catalog untuk menginput metadata naskah berupa judul, data author atau kontributor, kata kunci, dan daftar pustaka, metadata ini penting, di antaranya untuk keperluan korespondensi dan indeksasi Google Scholar; (4) Confirmation berisi konfirmasi terhadap unggahan naskah; dan Next Steps untuk melihat progres naskah. Konfirmasi oleh author menandakan proses unggah naskah telah selesai dan berlanjut ke proses selanjutnya yang dilakukan oleh pengelola penerbitan yaitu verifikasi naskah. b. Verifikasi Naskah Verifikasi naskah merupakan tahapan saat naskah kali pertama masuk ke LIPI Press dengan memeriksa kelengkapan dan memastikan format naskah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. (Helmi, Safitri, et al., 2019) Meski demikian, verifikasi naskah di LIPI Press dilakukan oleh penanggung jawab naskah yang harus ditunjuk terlebih dahulu oleh Kepala Seksi Penyiapan Bahan dan Produksi (KaSie PBP) LIPI Press. Oleh karena itu, sistem OMP secara default tidak memunculkan submission ke semua role yang ada melainkan hanya pada level permission setingkat press manager atau press editor. KaSie PBP LIPI Press pada sistem OMP diakomodasi melalui role press editor. Press editor menerima submission dari author kemudian menunjuk section editor yang akan bertugas sebagai verifikator sekaligus penanggung jawab naskah. Proses penunjukkan section manager dengan mengeklik tombol assign editor pada bagian unassigned. Selanjutnya akan muncul jendela assign editor untuk memilih section editor yang akan menjadi penanggung jawab sekaligus verifikator naskah. Untuk memudahkan memilih user, bisa menggunakan fitur search dan pilih section editor. Pada kasus tertentu, press editor juga bisa menjadi penanggung jawab naskah dan verifikator sehingga pada sistem OMP, press editor juga bisa menunjuk dirinya sendiri untuk menjadi penanggung jawab naskah. Pada jendela assign editor juga terdapat opsi apakah penanggung jawab bisa mengambil keputusan sendiri atas naskah atau harus dengan persetujuan atasan. Tahap selanjutnya, section editor yang ditunjuk akan menerima penugasan sebagai penanggung jawab naskah/verifikator pada bagian my queue. Setelah mengeklik tanda panah ke bawah (v) maka akan muncul tombol view submission. Klik pada view submission akan memunculkan laman submission naskah yang berisi tahapan penerbitan yang akan dilalui. Pada laman tahapan penerbitan, section editor bisa mengunduh (download) naskah dan memeriksa apakah sudah sesuai dengan sistematika atau guideline penerbitan. Apabila belum memenuhi kriteria maka section editor bisa menolak naskah (decline submission) dan mengembalikan ke author. Section editor bisa memberikan masukan terkait hal apa saja yang perlu ditambahkan kepada author melalui kolom diskusi (add discussion). Namun apabila naskah sudah memenuhi kriteria, maka naskah bisa lanjut ke proses review (send to internal review atau send to external review). c. Review Dalam ketentuan umum Pedoman Penerbitan Buku LIPI Press, proses penelaahan atau review dilaksanakan LIPI Press dengan berkoordinasi dengan dewan editor (DE) dalam menetapkan pendistribusian naskah kepada penelaah. Berdasarkan pertimbangan bidang kepakaran dan profesionalisme, penelaah dapat ditetapkan dari DE atau di luar anggota DE. Proses penelaahan umumnya dilakukan secara tertutup (blind review). (Helmi, Safitri, et al., 2019) Pada sistem OMP, proses review secara default terdiri dari internal review dan external review. Meski ada secara default tapi keduanya bersifat opsional, bisa melewati keduanya, salah satu, atau bahkan tidak di-review dan langsung menuju proses copyediting. Karena sifatnya opsional maka internal review bisa mengakomodasi reviewer dari anggota DE dan external review adalah reviewer yang ditetapkan oleh DE (di luar anggota DE). Apabila membutuhkan pertimbangan DE, maka section editor mengirim naskah ke internal review. Section editor bisa mengunggah naskah yang telah diedit nama author untuk proses double blind review melalui fitur upload/select files. Section editor bisa memasukkan nama internal reviewer atau DE yang dianggap memiliki kepakaran sesuai dengan bidang keilmuan naskah (add reviewer). Pada jendela add reviewer, section editor bisa menambah internal reviewer dengan menggunakan fitur search. Section editor juga bisa membuat akun reviewer baru apabila orang yang bertindak sebagai internal reviewer belum memiliki akun di OMP (create new reviewer). Section editor juga bisa menjadikan akun pengelola yang telah ada sebagai internal reviewer (enroll existing user). Pada jendela ini juga terdapat opsi double blind, blind, dan open dalam mengirimkan naskah ke internal reviewer. Selanjutnya yang berperan adalah internal reviewer yang mendapat notifikasi naskah pada laman my queue yang akan mengantarkan pada laman review naskah. Internal reviewer bisa menerima (accept) atau menolak (decline) permohonan review naskah. Apabila menerima (accept review) maka internal reviewer akan di bawa ke laman guidelines yang berisi panduan review atau panduan penerbitan sebagai acuan dalam melakukan penelaahan. Proses selanjutnya internal review akan diarahkan pada laman download & review untuk melihat dan mengunduh naskah. Internal reviewer juga bisa mengunggah naskah hasil review, memberikan catatan, dan diskusi melalui laman ini. Setelah mengunggah hasil review dan mungkin memberi catatan maka internal reviewer bisa submit review untuk menyelesaikan tahapan review. Tahapan naskah kemudian kembali ke section editor yang menerima naskah hasil review, section editor bisa mengunduh dan menerima (confirm) hasil review melalui fitur read review/review details. Apabila internal reviewer mensyaratkan revisi naskah maka section editor bisa mengembalikan naskah ke author melalui request revision. Namun apabila internal reviewer mensyaratkan naskah untuk ditelaah pakar dari luar (external reviewer) maka naskah bisa dikirim melalui send external reviewer. Proses external review kurang lebih sama dengan proses internal review. Perbedaan yang paling mencolok adalah pada saat penentuan external reviewer (add review), yakni dapat menambahkan database akun author yang telah ada untuk menjadi external reviewer. Untuk penerbitan ilmiah yang mensyaratkan lebih dari satu penelaah, bisa menambahkan dua atau lebih penelaah melalui jendela add review. Proses review oleh external reviewer sama dengan proses review oleh internal reviewer. Proses penerimaan naskah hasil external review juga sama dengan internal review. Apabila hasil external review perlu revisi dari author maka naskah section editor bisa meminta request revisions. Apabila naskah dinyatakan diterima oleh reviewer maka naskah bisa langsung menuju proses copyedit melalui accept submission. d. Copyediting Copyediting adalah tahapan perbaikan naskah pada aspek keterbacaan dan kejelasan, baik dari segi kalimat, paragraf, ejaan, diksi, tanda baca, dan penulisan kutipan dan daftar pustaka. (Helmi, Safitri, et al., 2019) Pada sistem OMP tahapan ini bisa dikerjakan oleh role copyeditor atau yang mempunyai permission level di atasnya. Section editor selanjutnya akan dibawa ke laman copyediting. Section editor dapat menambahkan naskah melalui upload/select files. Section editor dapat menugaskan proses copyedit melalui assign untuk dibawa ke jendela assign participant dan memilih akun yang akan menangani proses copyedit. Selanjutnya proses akan berlanjut pada akun yang menerima tugas copyedit. Copyeditor akan menerima penugasan di my queue, selanjutnya akan dibawa ke proses penerbitan naskah pada bagian copyediting. Melalui laman ini, copyeditor bisa mengunduh naskah yang ditugaskan, berdiskusi, atau mengunggah naskah hasil copyedit melalui uploas/select file. Hasil yang diunggah oleh copyeditor secara otomatis akan muncul di laman milik section editor. Section editor dapat berdiskusi atau apabila dirasa sudah cukup baik, bisa melanjutkan ke proses produksi (send to production). e. Layout dan Desain Proses layout dan desain (visual editing) merupakan tahapan dalam merancang tampilan naskah buku, baik isi maupun sampul secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek estetika yang meliputi efektivitas penggunaan huruf dan warna, jelas tidaknya tata letak gambar dan tabel, serta kualitas bahan dan hasil cetakan (finishing) (Helmi, Safitri, et al., 2019). Secara keseluruhan, proses layout dan desain atau production dalam sistem OMP hampir sama dengan proses copyediting dalam hal penunjukkan personil. Tampilan personil yang menerima tugas layout dan desain juga sama dengan tampilan copyeditor. Perbedaan sedikit pada proses mengunggah naskah hasil layout atau desain sampul adalah melalui fitur upload file sehingga menambah arsip dalam production ready files. f. Proofread Proofread merupakan proses koreksi yang dilakukan setelah tahap visual editing. Upaya ini dilakukan untuk mengoreksi kesalahan pengetikan, pemenggalan kata, serta keakuratan penyusunan dan penempatan gambar ataupun tabel (Helmi, Safitri, et al., 2019). Secara default sistem OMP tidak memiliki tahapan proofread tersendiri, namun tahapan tersebut menyatu dalam tahapan production dengan tahapan penunjukkan akun dan pengerjaan proofread hampir sama dengan tahapan layout dan desain. g. Modify Hasil Proof Proses modify hasil proof merupakan tahapan perbaikan naskah oleh editor visual berdasarkan proofread dari copyedit atau proofread dari author. Setelah melalui tahapan tersebut, barulah naskah diberikan ISBN, baik tercetak maupun elektronik (e-book) (Helmi, Safitri, et al., 2019). Secara default sistem OMP tidak memiliki tahapan modify hasil proofread tersendiri, namun tahapan tersebut menyatu dalam tahapan production dengan tahapan penunjukkan akun dan pengerjaan modify hasil proofread hampir sama dengan tahapan layout dan desain. h. Cetak Buku/e-Book Proses cetak buku/e-book merupakan tahapan terakhir dari alur proses bisnis penerbitan ilmiah. Pada tahapan ini, sistem OMP mengakomodasi proses penerbitan e-book melalui fitur catalog yang memungkinkan ebook tampil secara publik di situs OMP. Section editor sebagai penanggung jawab naskah dapat menerbitkan untuk publik e-book melalui fitur add publication format dan memilih di antara naskah yang tersedia di production ready files. Hal ini memungkinkan penerbit dapat menambahkan beragam proses lainnya seperti proofread atau modify hasil proofread berulang kali sebelum menerbitkan suatu naskah. Apabila naskah sudah siap terbit maka proses penerbitan e-book bisa dilakukan melalui add publication format sehingga muncul jendela baru untuk pengisian metadata. Pada jendela edit metadata sebaiknya diisi dengan nama download pdf karena nama tersebut akan tampil sebagai tautan unduhan publik sehingga mudah untuk diketahui publik. Setelah itu akan muncul opsi tambahan pada fitur publication format. Selanjutnya section editor bisa memilih naskah e-book yang siap terbit melalui select files sehingga muncul jendela yang menampilkan naskah yang tersedia di production ready files. Proses selanjutnya adalah mengatur konfirmasi dan ketersediaan melalui checklist di samping kanan publication format ke status approved dan available. Pada fitur open access terdapat jendela baru dengan opsi, antara lain (1) Open access yakni membuka naskah full access ke publik dan bisa diunduh; (2) Direct sales memungkinkan komersialisasi naskah agar dapat diakses; dan (3) Not available apabila naskah ditutup untuk publik. Pilihan tersebut dapat disesuaikan dengan kebijakan penerbit ilmiah, seperti penerbit yang fokus pada penjualan buku cetak fisik dapat memilih not available. Selanjutnya section editor dapat menambah e-book yang telah terbit ke dalam fitur catalog OMP melalui add entry agar buku masuk ke sistem katalog. Section editor dapat mengedit atau menambahkan metadata melalui fitur entry pada e-book. Semakin lengkap metadata akan semakin memudahkan pencarian dalam mesin pengindeks Google Scholar. Section editor juga dapat menambahkan sampul naskah untuk keperluan keluku katalog pada pengaturan catalog setelah mengakses entry dan mengatur agar dapat terakses oleh publik. Dengan ditambahkannya e-book ke catalog maka secara otomatis e-book telah terbit di katalog situs web OMP yang dapat diakses oleh publik. 3. Kelebihan dan Kekurangan OMP Berdasarkan paparan di atas dapat dikatakan bahwa sistem OMP memiliki beberapa kelebihan. Pertama dapat mengakomodasi semua peran dan proses yang ada dalam penerbitan ilmiah. Hal tersebut karena sistem OMP bersifat open source sehingga mudah untuk dimodifikasi sesuai dengan keinginan atau kebutuhan pengelola penerbitan dalam menghasilkan konten ilmiah akses terbuka dan membagikannya (Raju & Nyahodza, 2017). Kedua, sistem OMP mampu mengakomodasi kebutuhan penerbit akan situs web katalog atau digital library sebagai hasil dari publikasi ilmiah berupa e-book (Gambar 4). Pengaturan tampilan sistem katalog bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan pengelola misalnya berfungsi sebagai alat promosi dari penjualan buku cetak fisik. OMP juga dapat dikembangkan untuk merender buku yang sudah jadi ke dalam tiga format yakni HTML, PDF dan EPUB, hosting, distribusi dan manajemen metadata, serta mengatur transaksi keuangan solusi hybrid 'freemium' atau printon-demand (POD) (Hacker, 2014). Ketiga, metadata yang diinput oleh author saat mengunggah naskah ke sistem OMP menjadi metadata yang dapat terindeks oleh Google Scholar. Hal tersebut menjadikan hasil terbitan ilmiah melalui sistem OMP dapat muncul pada Google Scholar sehingga dapat terdiseminasi secara lebih luas dan berpotensi untuk disitasi. Sebagai contoh, terlihat pada buku Usada: Traditional Balinese Medicinal Plants yang telah terbit melalui sistem OMP pada 20 Maret 2020 (Gambar 5) telah terindeks pada sistem Google Scholar pada 10 April 2020 (Gambar 6). Tim dari PKP sendiri berupaya untuk mengurangi risiko peningkatan publikasi di Google Scholar, dengan meningkatkan kualitas pengindeksan, antara lain kemungkinan bekerja sama dengan Google Scholar untuk meningkatkan akurasi dalam menemukan hasil pencarian dalam hal identifikasi dan penilaian topik, sumber (peer-review) serta ukuran kualitas terbitan yang bisa dinilai dari jumlah kutipan (Willinsky, 2009). Keempat, OMP dapat menjadi terobosan pergerakan buku ilmiah ke lingkungan akses terbuka sehingga konten dapat diakses oleh sebanyak mungkin audiens. Konten berbasis terbuka terutama untuk informasi ilmiah yang didanai oleh pajak (pemerintah), namun hal tersebut perlu dukungan dan komitmen dari berbagai pihak. (Raju, 2017). Akses yang lebih luas tentunya akan berdampak pada indeks dan sitasi yang menjadi pengakuan global atas daya saing ilmiah nasional. Namun demikian, sistem OMP masih memiliki beberapa kekurangan walau tidak mendasar. Pertama meski versi beta OMP telah rilis sejak 17 September 2012, namun perkembangan pengguna OMP di Indonesia tidak sepesat OJS. Hal tersebut dapat dilihat dari diskusi-diskusi daring atau tulisan terkait OMP, baik artikel ilmiah maupun blog yang jarang ditemukan di Indonesia berbanding jauh dengan OJS sehingga cukup sulit menemukan plugin OMP untuk tema atau pengaturan bahasa Indonesia serta tutorial yang berkaitan dengan kendala sistem OMP. Ketertinggalan OMP sangatlah wajar mengingat kebutuhan terhadap penerbitan jurnal sangat tinggi di Indonesia sehingga penggunaan OJS menjadi masif yang menciptakan banyak ruang diskusi, pelatihan, tulisan, dan kajian ilmiah serta tutorial beserta plugin yang mendukung pengembangan OJS. Kedua OMP sendiri juga membutuhkan ruang kolaboratif untuk melakukan penelaahan editorial atau komentar dan revisi dari penulis serta copyediting profesional yang mengurangi ketergantungan pada software pengolah kata sehingga turut mengurangi potensi kesalahan, berkas rusak, atau kebingungan versi (Fruin, 2019).

Conclusion

Sistem OMP mampu mengakomodasi penerbitan ilmiah yang mungkin memiliki proses bisnis yang berbeda antara masingmasing penerbit. Sistem OMP berbentuk open source sehingga mudah untuk dimodifikasi sesuai dengan keinginan atau kebutuhan pengelola penerbitan ilmiah dari proses unggah naskah hingga terbit e-book pada situs web OMP. Kelebihan sistem OMP dalam mengakomodasi indeks Google Scholar, seperti halnya sistem OJS pada penerbitan jurnal, perlu menjadi standar bagi penerbitan ilmiah, terutama penerbit perguruan tinggi dan litbang. Hal ini karena karya tulis ilmiah yang terindeks dan lebih lanjut tersitasi sudah menjadi kebutuhan penting bagi pelaku ilmiah. Terlebih dengan digunakannya mesin pengindeks seperti Google Scholar sebagai indikator pemeringkatan dalam Webometrics atau Sinta tentu semakin membuat urgensi penggunaan sistem OMP yang mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut. Diharapkan melalui standardisasi OMP bagi penerbitan ilmiah dapat memacu percepatan penerbitan ilmiah yang lebih efektif dan efisien sehingga berujung pada meningkatnya publikasi ilmiah nasional.