Meningkatkan literasi informasi penulisan karya ilmiah mahasiswa melalui pelatihan zotero
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Pendahuluan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelatihan zotero di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, bagaimana kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah mahasiswa, dan peran pelatihan zotero terhadap kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah mahasiswa. Metode penelitian. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif dengan objek yaitu mahasiswa program studi Magister Ilmu Pemerintahan. Pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Data analisis. Analisis data dilakukan dengan cara menguji keabsahan data dengan teknik triangulasi sumber kemudian dilakukan pengkategorian berdasarkan teori yang digunakan. Hasil dan Pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan zotero oleh perpustakaan UMY dapat diterima baik oleh mahasiswa. Materi yang diberikan berupa penjelasan konsep zotero, instalasi aplikasi zotero, dan pemanfaatan aplikasi zotero. Pelatihan ini berpengaruh dalam meningkatkan keterampilan literasi penulisan karya ilmiah. Kesimpulan. Kemampuan literasi informasi mahasiswa program studi Magister Ilmu Pemerintahan yang semula masih terbatas, kini semakin meningkat dengan adanya pelatihan zotero. kemampuan tersebut meliputi cara mengidentifikasi kebutuhan informasi, mengakses informasi, mengevaluasi informasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak serta efektif.
Abstract
Introduction. The purpose of this study is to examine a zotero training conducted by Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Library, information literacy skills, and the role of the zotero training on the literacy skills in students' academic writing. Data Collection Method. The data collection method used was a descriptive qualitative with observation and interviews. The participants were students study of Master of Government Affairs and Administration program at UMY. Data Analysis. Data analysis was performed by validating the collected data which were then categorized based on the theory. Results and Discussions. The results showed that students received the zotero training well. The material provided in the training including the explanation of the Zotero concept, installation of the Zotero application, and utilization of the Zotero application were well understood. Conclusion. The ability of information literacy of students of Master of Government Affairs and Administration, which was initially limited, increases by the Zotero training involvement. These capabilities include how to identify information needs, access information, evaluate information, and use information effectively.
Keywords:
information literacy
· zotero
· zotero training
· academic writing
Introduction
A. PENDAHULUAN Keterampilan berliterasi informasi sangat penting dimiliki oleh setiap orang, mengingat keberadaan informasi di era ini sangat pesat dan beragam. Kehadiran teknologi ikut berperan dalam peningkatan jumlah informasi yang ada. Meledaknya informasi yang ada membuat seseorang harus kritis dan selektif dalam memilih informasi yang dibutuhkan. Maka dari itu kemampuan literasi informasi seseorang sangat dibutuhkan. Literasi informasi merupakan perangkat kemampuan yang dimiliki individu untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, mengakses informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi informasi dan sumber yang digunakan, serta menggunakan informasi secara efektif (ALA, 2015). Keterampilan literasi informasi dibutuhkan oleh semua kalangan, tidak hanya dosen dan guru, namun mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum juga memerlukan. Kualitas informasi yang dicari dan dihasilkan seseorang bergantung pada kemampuan literasi informasi yang dimiliki (Hisle & Webb, 2017). Dalam ranah akademik, terutama mahasiswa perlu memiliki keterampilan ini untuk pembelajaran dan pengerjaan tugas. Mahasiswa dituntut untuk kritis dalam menulis karya ilmiah, agar tidak terjebak dalam praktik plagiarisme yang merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, mahasiswa memerlukan kemampuan literasi informasi agar kualitas tulisan yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan. Literasi informasi penulisan karya ilmiah dapat dimaknai sebagai seperangkat keterampilan literasi informasi yang diperlukan dalam membuat karya ilmiah, mulai dari mengidentifikasi masalah dan topik yang ditulis, menelusuri dan menemukan informasi yang dibutuhkan berdasarkan sumber informasi yang terpercaya, mengevaluasi informasi yang sudah ditemukan, mengorganisir serta memanfaatkan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam penulisan karya ilmiah. Kemampuan literasi seseorang pada dasarnya dapat dilatih dan dibiasakan. Dalam lingkup perguruan tinggi, kemampuan literasi mahasiswa selain menjadi tanggung jawab individu, dukungan dari lembaga juga sangat diperlukan. Perpustakaan selain sebagai penyedia informasi juga memiliki peran perpustakaan untuk memberikan pelatihan dan bimbingan literasi informasi. Bimbingan literasi bagi pemustaka merupakan salah satu bentuk layanan perpustakaan yang diberikan untuk mempermudah pemanfaatan informasi dan sumber informasi baik di perpustakaan maupun di luar perpustakaan. Selain itu layanan ini juga memberikan bekal kepada pemustaka agar mampu belajar secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber infomasi yang ada (Istiana, 2014). Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ikut berperan dalam peningkatan literasi informasi bagi civitas akademikanya, terutama mahasiswa. Perpustakaan UMY telah memberikan bimbingan literasi dalam bentuk pelatihan di kelas. Program literasi informasi yang dilakukan oleh Perpustakaan UMY terbagi dalam beberapa sesi yang salah satunya berupa pelatihan zotero. Aplikasi Zotero sebagai salah satu reference tools yang berfungsi untuk mempermudah seseorang mengorganisir informasi dan mempermudah dalam melakukan pengutipan serta pembuatan daftar bibliografi. Menurut Ray & Ramesh (2017) zotero merupakan perangkat lunak bibliografi yang memiliki kemampuan mengimpor kutipan, mengatur bibliografi, dan memformat referensi untuk publikasi. Tujuan pengajaran zotero di perpustakaan UMY yaitu untuk membekali pemustaka dalam mengelola informasi dan memanfaatkan informasi, terutama dalam penulisan karya tulis ilmiah. Program studi Magister Ilmu Pemerintahan (MIP) merupakan salah satu program studi yang menjalin kerjasama dengan perpustakaan dalam pengajaran literasi informasi. Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tentang bagaimana pelatihan zotero di Perpustakaan UMY, bagaimana kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah, dan bagaimana peran pelatihan zotero terhadap kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan (MIP). B. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Baskoro (2011) membahas tentang “Pengaruh program pelatihan literasi informasi terhadap proses, hasil, sikap dan motivasi mahasiswa dalam penulisan karya tulis”. Penelitian ini berfokus pada pengaruh dari pelatihan literasi informasi ke mahasiswa keperawatan di Perpustakaan UPH Karawaci. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa program literasi informasi secara efektif berhasil meningkatkan kualitas dari proses penulisan, hasil penulisan, sikap positif mahasiswa terhadap penulisan, pelatihan dan penerapan pelatihan. Penelitian berikutnya yaitu dari Fernandez (2012) dengan judul “Library Values that Interface with Technology: Public Service Information Professionals, Zotero, and Open Source Software Decision Making”. Penelitian tersebut berfokus mengkaji tentang management reference zotero dan diperbandingkan dengan beberapa management reference seperti mendeley dan endnote. Hasil dari kajian tersebut bahwa “Zotero sheds light on the importance of library values in public service information professionals decision making”. Beberapa penelitian sebelumnya belum spesifik membahas tentang pelatihan zotero. Namun ada beberapa unsur yang menjadi acuan untuk penelitian ini antara lain: pelatihan literasi informasi, pengetahuan tentang aplikasi zotero, dampak pelatihan terhadap karya tulis ilmiah. Literasi Informasi Informasi merupakan sumber utama untuk menambah wawasan serta lebih mendalami bidang tertentu. Kehidupan masyarakat erat sekali dengan informasi bahkan informasi menjadi kebutuhan tersendiri. Keberadaan informasi di era ini semakin banyak dan mudah sekali di peroleh. Beragam media berlombalomba menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Informasi-informasi yang beredar dibuat atas dasar perspektif dari masingmasing media, untuk itu sebagai pengguna atau pembaca masyarakat diharapkan lebih selektif. Kemampuan literasi seseorang sangat dibutuhkan, karena tidak semua informasi yang beredar tersebut valid, reliabel, dan kredibel untuk dimanfaatkan. Literasi informasi merupakan sebuah keterampilan dalam memanfaatkan informasi. Ketika seseorang dihadapkan dengan kebutuhan informasi dan sumber informasi yang beragam, kemampuan untuk memilah dan menyeleksi informasi sangat dibutuhkan. Kemampuan membaca dan menulis tersebut dapat menjadi faktor utama untuk memperoleh informasi maupun pengetahuan. Selanjutnya Rachmawati, et al. (2018) dalam artikelnya menyebutkan bahwa literasi informasi adalah kemampuan untuk mengakses informasi dengan menggunakan teknologi agar mendapatkan informasi yang valid atau benar. Perspektif ini menjelaskan bahwa literasi informasi sebagai sebuah keterampilan mengakses informasi dengan teknologi yang tepat guna menemukan informasi yang benar dan sesuai. Konsep literasi informasi sangat beragam, hal ini pada dasarnya melekat pada bidangnya masing-masing. Konsep literasi informasi menurut America Library Association (ALA, 2015), dimaknai sebagai “recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectively the needed information.” Perspektif tersebut menjelaskan bahwa literasi informasi sebagai kemampuan untuk mengenali kebutuhan informasi, kemampuan untuk menentukan lokasi dan mengakses, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara efektif. Konsep tersebut dijabarkan sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi kebutuhan informasi. Kemampuan ini dilandasi pada kesadaran akan keterbatasan pengetahuan diri dan meyakini bahwa banyak sumber informasi yang dapat menjadi pengetahuan baru untuk memecahkan permasalahan. Sebelum mengakses informasi, seseorang perlu menentukan fokus yaitu apa saja informasi yang dicari dan dibutuhkan, agar tidak melebar jauh. 2. Mengakses informasi yang dibutuhkan. Sebelum mengakses informasi, seseorang dapat menentukan terlebih dahulu lokasi dari sumber informasi yang akan dicari. Selain itu dibutuhkan keterampilan untuk mengakses sumber-sumber informasi baik cetak maupun non-cetak atau daring. Seseorang dapat menggunakan strategi penelusuran informasi yang tepat agar kualitas informasi yang diakses sesuai dengan yang diharapkan atau dicari. 3. Mengevaluasi informasi dan sumber yang digunakan. Informasi-informasi yang telah diperoleh sebelum digunakan perlu dilakukan evaluasi baik terhadap sumbernya maupun konten informasinya sendiri. Penyaring informasi dapat didasarkan pada segi relevansi, kredibilitas, kemutakhiran, akurasi, kelengkapan, dan dampak dari informasi tersebut. 4. Menggunakan informasi secara efektif. Kemampuan ini berkaitan dengan bagaimana mengorganisir dan mengolah informasi yang telah didapatkan kemudian digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Penggunaan informasi juga didasarkan pada etika penggunaan informasi. Hal ini dilakukan untuk menghormati pemilik informasi tersebut. Etika penggunaan informasi diantaranya dengan menggunakan kutipan dan menyebutkan sumber rujukan ketika menggunakan informasi dalam bentuk tulisan. Konsep ALA tersebut dipertegas oleh pendapat Septiyantono (2015), yang menjelaskan bahwa literasi informasi sebagai keterampilan dan keahlian dalam mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, menyusun, menciptakan, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi. Kemampuan literasi informasi seseorang akan menentukan kualitas informasi yang akan digunakan dan juga informasi yang dihasilkan. Literasi Penulisan Karya ilmiah Karya ilmiah merupakan sebuah karya tulis yang ditulis dengan cara ilmiah dan metode ilmiah yang baik dan dituangkan dalam sebuah media ilmiah (Solihat & Johan, 2014). Pada prosesnya, pembuatan karya ilmiah memerlukan sumber informasi demi menunjang kualitas tulisan. Seseorang perlu menerapkan keterampilan berliterasi informasi dalam setiap langkah pembuatan karya ilmiah. Selain penentuan sumber informasi, literasi perlu diterapkan sejek awal penulisan, seperti dalam penentuan kebutuhan informasi, akses informasinya, evaluasi informasi, sampai pada penggunaan informasi sebagai sumber penulisan karya. Kemampuan literasi seseorang juga akan berpengaruh pada kualitas penulisan karya ilmiah yang dihasilkan. Dalam penulisan karya ilmiah sangat dibutuhkan kemampuan dalam menentukan kebutuhan informasi, mengakses informasi, mengevaluasi informasi dan juga memanfaatkan informasi (Cahyadi, 2018). Kemampuan literasi seseorang beragam, salah satu langkah untuk mengembangkan kemampuan literasi yaitu mengikuti pelatihan literasi informasi. Baskoro (2011) menyatakan bahwa pelatihan literasi informasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan proses dan hasil penulisan karya ilmiah. Hal ini dapat digarisbawahi bahwa kemampuan literasi dapat mempengaruhi hasil dan kualitas penulisan karya ilmiah. Pelatihan Zotero Zotero adalah salah satu aplikasi reference manager yang berfungsi untuk mengumpulkan, mengelola, dan mengutip sumber referensi saat menulis (Grolimund, 2012). Aplikasi zotero dapat menjadi alat membantu untuk mempermudah penggunanya dalam menyusun karya ilmiah. Tujuan dari manajemen referensi untuk menyimpan, mengatur dan memformat referensi dalam sebuah teks karya ilmiah dan memudahkan bagi peneliti untuk melacak literatur ilmiah yang sudah didapatkan, kemudian membaca dan menggunakannya dalam penulisan bibliografi karya ilmiah (Wicaksono & Nurpratama, 2017). Zotero dapat menjadi tren masyarakat dalam menggunakan teknologi dan para profesional dengan pelatihan khusus (Fernandez, 2012). Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan aplikasi zotero akan menjadi gaya baru dapat memanfaatkan teknologi pada penulisan karya ilmiah yang dibantu dengan mengikuti pelatihan aplikasi zotero. Pelatihan aplikasi zotero dapat membantu pesertanya memahami aplikasi ini. Selain itu peserta juga diharapkan dapat mengaplikasikannya untuk mengorganisir informasi yang diperoleh. Hal ini diperkuat oleh Anjali dan Istiqomah (2020) yang mengungkapkan bahwa pelatihan zotero merupakan salah satu bentuk upaya untuk membantu mahasiswa dalam pembuatan karya ilmiah, tugas kuliah, submit ke jurnal bereputasi, dan menyelesaikan tesis atau tugas akhir.
Method
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penggunaan metode ini bertujuan untuk menggali secara mendalam permasalahan yang diangkat. Fokus dalam penelitian ini yaitu pada pelatihan zotero terhadap mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan UMY. Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan UMY yang beralamat di Jl. Brawijaya, Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Lokasi ini dipilih karena Perpustakaan UMY telah menerapkan pelatihan zotero sejak tahun 2017 secara rutin. Selain itu, pelatihan zotero di Perpustakaan UMY belum pernah diteliti, terutama terkait dengan kemampuan literasi informasi kepenulisan karya ilmiah. Informan dalam penelitian ini yaitu mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan, karena program studi ini sering melakukan kerjasama dengan perpustakaan terkait dengan peningkatan literasi informasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian diawali dengan mengobservasi proses pelatihan zotero di kelas. Penulis juga mengamati beberapa kali pelatihan zotero di kelas-kelas yang lain. Beberapa hal yang di observasi oleh peneliti yaitu materi yang disampaikan pustakawan ke mahasiswa dan respon mahasiswa dalam mengikuti pelatihan. Wawancara dilakukan untuk menggali secara mendalam permasalahan yang diangkat. Tujuan wawancara ini untuk mengetahui dan menganalisis peran pelatihan zotero dalam meningkatkan kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah mahasiswa. Teknik sampling dalam proses wawancara yang digunakan dengan teknik purposive sampling. Alasan menggunakan teknik purposive sampling adalah penulis ingin mendapatkan data wawancara secara natural tanpa ada kedekatan khusus dengan informan. Wawancara ini dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun berdasarkan instrumen penelitian yang diberikan kepada pustakawan dan mahasiswa MIP. Panduan wawancara kepada pustakawan mengarah pada bagaimana pelatihan zotero yang ada di UMY, sedangkan untuk mahasiswa mengarah pada kemempuan literasi informasi penulisan karya ilmiah yang meliputi bagaimana mengidentifikasi informasi, bagaimana mengakses dan menemukan informasi, bagaimana mengevaluasi informasi, bagaimana memanfaatkan informasi untuk penulisan karya ilmiah. Terdapat 2 pustakawan yang menjadi informan dalam penelitian ini dan 10 mahasiswa MIP yang pernah mengikuti pelatihan zotero dengan durasi ± 20 menit. Selanjutnya dokumentasi dilakukan untuk dengan menganalisis beberapa dokumen yang relevan. Dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian dilakukan uji keabsahan data untuk memperoleh data yang benar-benar valid dan reliabel. Uji keabsahan data yang dilakukan yaitu menggunakan teknik triangulasi sumber, yaitu dengan cara mengecek kembali dan membandingkan informasi yang telah diperoleh dari beberapa sumber data. Setelah dilakukan uji keabsahan data kemudian mencatat beberapa konsep yang terkait dengan rumusan masalah yang diambil kemudian membuat analisis. Analisis data dilakukan dengan mengkategorikan berdasarkan dua data. Pengkategorian pertama didasarkan pada pola pelatihan zotero berdasarkan tutorial dari perpustakaan UMY. Pengkategorian kedua didasarkan pada teori ALA (2015), yang dilihat dari kemampuan mengidentifikasi kebutuhan informasi, mengakses informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi informasi dan sumber yang digunakan, serta menggunakan informasi secara efektif. Pola-pola dari hasil pengkategorian kemudian dideskripsikan, dianalisis, dan diintepretasikan sehingga menghasilkan sebuah temuan penelitian berkaitan dengan peran pelatihan zotero dalam meningkatkan kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah.
Result & Discussion
Pelatihan Zotero di Perpustakaan UMY Perpustakaan UMY telah melakukan pelatihan literasi informasi kepada pemustakanya sejak tahun 2016. Sasaran dari pelatihan ini yaitu pemustaka UMY baik dosen maupun mahasiswa, karena pada dasarnya layanan yang ada diperpustakaan diperuntukkan bagi semua mahasiswa. Program studi MIP merupakan salah satu program studi di UMY yang telah melakukan kerjasama dengan perpustakaan untuk memberikan pengajaran literasi bagi mahasiswanya sejak tahun 2017. Adanya layanan ini diharapkan dapat mempermudah pemustaka dalam memanfaatkan sumber daya di perpustakaan maupun yang ada pada sumber-sumber informasi lain. Istiana (2014) menjelaskan bahwa layanan bimbingan diperpustakaan dikelompokkan dalam layanan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan. Layanan tersebut memberikan jasa pelatihan kepada pemustaka agar lebih terampil dalam memanfaatkan sumber informasi yang disediakan oleh perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya sebagai penyedia informasi saja namun juga sebagai memberikan bimbingan dalam pemanfaatannya. Program literasi informasi dilakukan dalam 3 sesi. Materi pada sesi pertama yaitu tentang akses jurnal/informasi. Sesi kedua yaitu tentang teknik kepenulisan dan memanfaatkan fasilitas Microsoft word. Sesi ketiga yaitu tentang penggunaan aplikasi zotero. Masing-masing sesi dilakukan kurang lebih 2 jam. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan dari wawancara yang dilakukan kepada salah satu pustakawan yang mengatakan bahwa: ”LI ng kene wis 2 tahun kepungkur mas, nah pelaksanaane dibagi dalam telung sesi sing masing-masing kurang luwih durasine 2 jam. Telung sesi mau isine, terkait karo akses informasi, trus teknik kepenulisan karo pemanfaatan informasi, trus sesi ketelu pelatihan zotero” (A.Q., personal communication, Oktober 1, 2019). Materi yang disajikan dalam pelatihan zotero dimulai dengan penjelasan tentang fungsi, kegunaan, kelebihan, dan kekurangan dari aplikasi zotero. Aplikasi zotero sendiri merupakan perangkat lunak bibliografi yang memiliki kemampuan mengimpor kutipan, mengatur bibliografi, dan memformat referensi untuk publikasi (Ray & Ramesh, 2017). Fungsi zotero yaitu mempermudah pengguna dalam mengelola referensi dan memunculkan referensi ke dalam kutipan. Kelebihan zotero sebagai penyimpanan RSS (Rich Site Summary), aplikasi open source, dan jarang terjadi troubel pada aplikasi ini. Sedangkan kekurangan zotero penyimpanan awan hanya 300 Mb. Setelah penjelasan singkat tentang aplikasi zotero, selanjutnya diberikan pelatihan teknis tentang instalasi sampai pada bagaimana penggunaan zotero. Hal ini sesuai hasil kutipan wawancara berikut: “Bar iku tak kon nginstal, trus tak ajari cara Setting zotero, bar kuwi njuk ndaftar akun zotero sisan nglebokne referensi via offline karo online bar kuwi cara nyimpen RSS ning database jurnal bar kuwi njut gawe folder ning zotero. sek terakhir tak ajari cara ngutip karo munculke daftar pustaka nganggo microsoft word sek wis ono plugin zotero” (M.F., personal communication, Oktober 1, 2019). Pelatihan zotero kepada mahasiswa berlangsung sekitar 2 jam. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan materi yang diberikan pada pelatihan zotero sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan. Langkah selanjutnya setelah diberikan penjelasan tentang zotero, mahasiswa diberikan pelatihan tentang menginstal aplikasi zotero terlebih dahulu. Sambil menunggu proses instal selesai, mahasiswa diminta untuk membuat akun zotero di tautan zotero.org. Pembuatan akun zotero bertujuan untuk mem-backup data yang tersimpan ke database cloud zotero. Setelah instalasi selesai, mahasiswa diarahkan untuk membuat “folder backup zotero” di fitur pengaturan. Ini bertujuan untuk mem-backup data yang tersimpan ke dalam mode offline. Setelah itu, mahasiswa diminta untuk login akun zotero pada aplikasi untuk singkronisasi data di aplikasi dan penyimpanan awan. Setelah proses pengaturan selesai, mahasiswa diberikan arahan tentang cara memasukkan koleksi referensi ke dalam zotero. Cara memasukkan koleksi referensi ada 2 cara, pertama dengan cara offline dan yang kedua dengan cara online. Cara pertama dengan memasukkan file referensi yang pernah di unduh ke dalam zotero atau metadatanya saja (berlaku untuk referensi yang tidak tersedia file). Cara kedua dengan mengunduh koleksi referensi lewat database jurnal atau website ilmiah, sebelum menggunakan cara tersebut mahasiswa diarahkan untuk memasang “plugin zotero” ke web browser. Setelah proses pemasangan selesai, mahasiswa dapat mengunduh referensi dengan menyentuh ikon “plugin zotero”. Secara otomatis, referensi yang dimaksud akan terunduh ke dalam aplikasi zotero. Selain cara mengunduh referensi dengan zotero, terdapat fitur untuk menyimpan RSS dari jurnal yang ingin diikuti. Menyimpan tautan RSS sendiri bertujuan agar disaat mahasiswa tertarik dengan jurnal-jurnal tertentu, mahasiswa dapat mengetahui artikel terbaru dari jurnal tersebut dari aplikasi zotero. Mahasiswa juga diberikan cara untuk membuat folder ke dalam aplikasi zotero. Setelah itu, mahasiswa diajarkan cara mengkutip referensi di microsoft word. Langkah mengkutip referensi dengan zotero yaitu dengan menggunakan fitur “add citation”. Setelah proses pengkutipan selesai, langkah selanjutkan memunculkan daftar pustaka dengan menggunakan fitur “add bibliography”. Selama proses pelatihan berlangsung, mahasiswa dipersilahkan untuk bertanya kepada pustakawan apabila terdapat permasalahan atau ketidakjelasan. Pustakawan juga menawarkan diri kepada mahasiswa, apabila setelah pelatihan mereka ada pertanyaan atau sesuatu yang tidak mereka ketahui. Hal ini dilakukan agar mahasiswa benar-benar dapat memanfaatkan aplikasi ini sehingga membantu dalam proses penulisan. Secara sederhana mahasiswa diajarkan tentang bagaimana memperlakukan informasi dengan baik. Mulai dari bagaimana melakukan pengutipan yang sistematis dan mencantumkan daftar pustaka dari apa yang telah dikutip. Proses pelatihan zotero dapat digambarkan dalam bentuk pola berdasarkan materi yang diajarkan oleh pustakawan kepada mahasiswa. Pola pelatihan zotero terdiri dari 6 bagian, yaitu: 1. Pengantar, merupakan dasar sebelum menggunakan aplikasi zotero. Mahasiswa akan diberikan gambaran tentang aplikasi zotero, cara penggunaan, dan manfaat dalam menggunakan aplikasi zotero untuk penulisan karya ilmiah. 2. Instal & Setting, mahasiswa akan diarahkan untuk menginstal aplikasi zotero dan plugin zotero yang ada di web browser serta mensetting aplikasi zotero sebelum digunakan. Hal ini bertujuan agar mahasiswa tidak kesulitan dalam memanfaatkan aplikasi zotero setelahnya. 3. Integrasi Online, merupakan pemanfaatan fasilitas zotero untuk mem-backup koleksi ke website zotero. Mahasiswa diarahkan untuk membuat akun zotero agar dapat memanfaatkan fasilitas tersebut. 4. Manajemen koleksi, materi ini berisi tentang cara memasukkan referensi secara daring dan luring. Selain memasukkan referensi, mahasiswa juga diajarkan dalam mengelola referensi yang masuk ke dalam aplikasi zotero. 5. Memasang RSS dari jurnal, fasilitas ini berfungsi untuk mengetahui publikasi terbaru dari jurnal yang ingin diikuti mahasiswa tanpa harus membuka website jurnalnya terlebih dahulu. 6. Membuat sitasi dan daftar pustaka, mahasiswa akan diajarkan cara mensitasi sumber rujukan ke dalam tulisan dan memilih gaya sitasi yang ingin digunakan. Pelatihan ini tentunya dapat mempermudah mahasiswa dalam membuat karya, terutama karya ilmiah. Aplikasi ini sangat fleksibel dan mudah digunakan bagi siapapun. Hal ini sesuai dengan pendapat Fernandez (2012) yang mengatakan bahwa zotero dapat digunakan oleh profesional, peneliti, atau akademisi dalam memenuhi kebutuhan informasi. Pengetahuan tentang aplikasi zotero dapat meningkatkan kemampuan literasi informasi serta membuat lebih efisien dalam membuat karya ilmiah. Literasi Informasi Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa Kemampuan literasi informasi setiap orang beragam, hal ini dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman mereka. Kemampuan literasi informasi dalam bidang kepenulisan karya ilmiah meliputi: bagaimana cara mengidentifikasi kebutuhan informasi dalam penulisan karya ilmiah, mengakses informasi yang sesuai dengan kebutuhan, mengevaluasi informasi dan sumber informasi yang akan digunakan, serta menggunakan informasi secara efektif dalam menulis karya ilmiah. Di era ini banyak sekali informasi yang beredar diberbagai media baik cetak maupun non cetak, untuk bisa memperoleh informasi yang sesuai kebutuhan dan berkualitas diperlukan kemampuan berliterasi. Terlebih pada information society yang memperlakukan informasi sebagai aset (Lien et al., 2010). Ketika informasi dipandang sebagai aset maka kualitas dalam penelusuran, evaluasi, dan pemanfaatan informasi harus diperhatikan. Kualitas informasi yang dicari dan digunakan dalam penulisan karya ilmiah akan berpengaruh pada karya ilmiah yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Cahyadi (2018) yang menjelaskan bahwa dalam penulisan karya ilmiah sangat dibutuhkan kemampuan dalam menentukan kebutuhan informasi, mengakses informasi, mengevaluasi informasi dan juga memanfaatkan informasi. Kemampuan literasi informasi mahasiswa Program studi MIP dilihat dari bagaimana mereka mengidentifikasi kebutuhan informasi, mengakses informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi informasi dan sumber yang digunakan, serta menggunakan informasi secara efektif. Hal ini sesuai dengan konsep literasi informasi yang dijabarkan oleh ALA (2015). Mahasiswa program studi MIP sebelumnya pernah dibekali bimbingan literasi informasi oleh perpustakaan. kemampuan literasi informasi mahasiswa dalam menulis karya ilmiah, tercermin dalam beberapa wawancara sebagai berikut. Dalam mengidentifikasi kebutuhan informasi, beberapa mahasiswa sudah tahu informasi apa saja yang akan dicari sebelum melakukan penelusuran. Hal ini sesuai dengan kutipan wawancara dengan pemustaka bahwa ”ya tahu mas, jadi sebelum aku cari informasi di internet dan dibuku aku baca dulu tugasku atau kalau pas nulis ya rumusan masalahnya, trus aku baru mencarinnya ben hasil penelusurane lebih cepet mas” (G.N.E., personal communication, Oktober 2, 2019). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengidentifikasian kebutuhan informasi dapat mempermudah mahasiswa menelusur informasi yang dibutuhkan. Selain itu adanya pengidentifikasian informasi semakin mempercepat pencarian dan penemuan informasi yang dibutuhkan. Proses pengidentifikasian informasi mulai dilakukan secara selektif yaitu dari informasi yang akan di-download untuk dibaca terlebih dahulu abstraknya agar isi dari informasi tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan. Karena jika hanya judulnya saja yang dibaca, isi dari informasi belum mewakili. Hal ini sesuai dengan hasil kutipan wawancara pemustaka “kemarin sih saran dari mbaknya itu kalau mau download pdf, jangan asal download. Tapi dibaca dulu abstraknya bisa pas sama kemauanku” (S.P., personal communication, Oktober 2, 2019). Kemampuan dalam mengakses informasi mahasiswa di era ini juga semakin melebar. Akses informasi yang dilakukan tidak hanya terpaku pada buku-buku teks namun juga merambah pada informasi online. Informasi online sangat beragam dan tidak semua valid, hal ini membutuhkan keterampilan literasi informasi agar akses informasi lebih pada informasi-informasi yang terpercaya. Beberapa mahasiswa lebih menyukai akses informasi online atau elektronik dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Hal ini dianggap lebih praktis dan mudah. Beberapa mahasiswa mulai selektif juga dalam mengakses informasi secara online. Hasil ini sesuai dengan kutipan wawancara pemustaka “saya dulu tu hanya taunya google cendikia mas, eh ternyata banyak juga sampe perpusnas juga punya database jurnal banyak” (F.R., personal communication, Oktober 2, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa sudah semakin kritis dalam mengakses informasi, tidak asal mencari di google namun mulai memanfaatkan database-database tertentu yang mendukung ditemukannya informasi yang diperlukan. Sebelum mengikut pelatihan, mahasiswa tersebut hanya mengetahui salah satu sumber informasi saja. Setelah mengikuti pelatihan memberikan dampak kepada mahasiswa yaitu berbagai tautan yang diakses. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan pemustaka bahwa “sebelum mengikuti pelatihan saya taunya cuma beberapa sumber terpercaya saja kayak google cendekia tadi, yang lain biasa saya ketik di google. Tapi berkat pelatihan saya jadi tau beberapa tautan buat ngakses informasi.” (S.P., personal communication, Oktober 2, 2019). Setelah informasi berhasil diakses dan ditemukan langkah selanjutnya melakukan evaluasi terhadap informasi tersebut. Terkait dengan hal ini, mahasiswa masih menggunakan cara-cara sederhana untuk mengevaluasi informasi yang ditemukan. Secara sederhana mahasiswa mulai menggunakan informasiinformasi dari sumber terpercaya, seperti google scholar, database jurnal, dan ebook. Untuk evaluasi informasi secara mendalam belum dilakukan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bahwa “evaluasi informasi yg saya lakukan ya pake sumber-sumber terpercaya yg ada di google kayak jurnal google cendekia” (S.P., personal communication, Oktober 2, 2019). Berdasarkan hasil penelitian, secara umum mahasiswa program studi MIP sudah memiliki kemampuan berliterasi informasi terutama dalam penulisan karya ilmiah. Namun kemampuan yang dimiliki masih sederhana pada batas-batas tertentu. Secara lebih rinci kemampuan literasi mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah tercermin dalam penjelasan berikut. Dalam mengidentifikasi informasi mahasiswa sudah biasa melakukannya, yaitu dengan menentukan inti dari permasalahan yang diangkat atau merumuskan permasalahan, sehingga pencarian informasi menjadi lebih efektif. Selanjutnya dalam mengakses dan menelusur informasi mahasiswa lebih menyukai informasi dalam bentuk elektronik atau online, karena dianggap lebih praktis dan fleksibel. Dalam mengidentifikasi Informasi yang dibutuhkan menggunakan cara dengan membaca judul dan abstrak, setelah itu menyimpan informasi yang dikehendaki. Penelusuran informasi yang dilakukan masih secara sederhana yaitu dengan menggunakan kata kunci saja, belum menerapkan strategi penelusuran seperti boolean operator, penggunaan wild card, maupun truncation. Penggunaan strategi penelusuran perlu digunakan agar pencarian informasi lebih efektif dan efisien (Lien et al., 2010). Evaluasi terhadap informasi dilakukan masih menggunakan cara sederhana dengan menggunakan informasi dari sumber terpercaya yaitu google scholar, database jurnal dan ebook selanjutnya mengecek relevansi antara judul dan abstrak dari informasi tersebut. Evaluasi terhadap relevansi informasi dilakukan dengan kroscek judul dengan abstrak, untuk evaluasi informasi secara mendalam lain belum dilakukan seperti penilaian kredibilitas, pemanfaatan, dan kemutahiran sumber. Kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis dan mendalam dapat menentukan kualitas informasi yang dihasilkan nantinya serta dapat membandingkan pengetahuan-pengetahuan yang ada (Septiyantono, 2015). Tahap terakhir dalam mengakses informasi yaitu memanfaatkan informasi. Dari kebutuhan infomasi yang sudah dicari, mengakses dan mengevaluasi beberapa informasi yang diperlukan. Selanjutnya memanfaatkan informasi dengan cara membuat kutipan dan daftar bibliografi sebagai bentuk rasa hormat terhadap penulis asli. Mahasiswa MIP secara umum sudah dapat melakukan pengutipan, namun ada beberapa yang masih bingung. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara berikut “bisa sih cuma masih bingung penulisannya yang bener kayak apa” (F.R., personal communication, Oktober 2, 2019). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa penulisan yang dilakukan oleh mahasiswa kebanyakan dalam bentuk kutipan langsung. Kutipan langsung yang dilakukan sesuai dengan pengetahuan mereka dan belum sesuai dengan pedoman pengutipan. Misalnya penggunaan tanda kutip untuk penulisan langsung belum dilakukan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara berikut “buat kutipan sesuai prosedur ribet mas, aku nyonto yang dibuku-buku aja” (G.N.E., personal communication, Oktober 2, 2019). Mahasiswa lebih memahami tentang bagaimana melakukan pengutipan secara langsung. Kalau pembuatan kutipan secara tidak langsung dengan cara membuat parafrase mereka belum mengetahui. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara berikut “Kalau buat kutipan tidak langsung aku bingung mas, piye merangkaine. Ojo maneh sek nganggo parafrase dewe tambah bingung aq“ (F.R., personal communication, Oktober 2, 2019). Penulisan daftar rujukan atau bibliografi sudah dilakukan oleh mahasiswa. Karena dalam perkuliahan sering ditekankan oleh pengajarnya untuk selalu menyertakan sumber ketika membuat kutipan. Hanya saja untuk gaya sitasi mereka belum tahu banyak, mereka hanya membuat berdasarkan pengalaman mereka dalam membuat daftar rujukan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara berikut “biasanya tak cantumin mas di paling bawah, Cuma ya gak pake gaya. Aku menyesuaiin kayak di yang dikasih dosen“ (F.R., personal communication, Oktober 2, 2019). Secara keseluruhan mahasiswa MIP sudah mulai memiliki kemampuan dasar literasi informasi, terutama dalam penulisan karya ilmiah. Kemampuan tersebut yaitu cara mengidentifikasi informasi, mengakses informasi, mengevaluasi informasi dan memanfaatkan informasi. Hanya saya kemampuan literasi informasi mereka masih terbatas dan sederhana sehingga perlu dilatih dan dibimbing agar semakin meningkat. Peran Pelatihan Zotero terhadap Kemampuan Literasi Informasi Mahasiswa Perpustakaan selain sebagai sumber informasi, juga memiliki tugas untuk menyebarkan informasi, terutama informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka (Istiqomah & Ernaningsih, 2018). Pengetahuan literasi informasi pustakawan dapat diajarkan kepada pemustakanya agar mempermudah mereka dalam memanfaatkan informasi. Perpustakaan dan pustakawan juga memiliki turut berperan dalam penggunaan informasi secara efektif baik informasi diperpustakaan maupun informasi di luar perpustakaan (Septiyantono, 2015). Pelatihan zotero yang dilakukan oleh perpustakaan UMY merupakan bagian dari program literasi informasi. Program Literasi informasi di perpustakaan UMY dikelompokkan dalam beberapa tahap, yang tujuannya untuk membantu civitas akademika dalam memanfaatkan informasi dan sumber informasi secara bijak. Program literasi informasi berupa pelatihan zotero sangat bermanfaat bagi mahasiswa terutama mahasiswa program studi MIP. Pelatihan tersebut dapat mempermudah mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, terutama pembuatan karya ilmiah. Setelah mengikuti pelatihan zotero mahasiswa MIP memiliki beberapa kompetensi dalam berliterasi informasi. Materi pelatihan zotero secara keseluruhan dapat diterima dengan baik oleh mahasiswa, namun ada beberapa materi yang belum terserap yaitu teknik menyimpan tautan RSS ke dalam aplikasi zotero. Berdasarkan hasil penelitian, dengan adanya pelatihan zotero kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah mahasiswa Program studi MIP semakin meningkat. Mulai dari kemampuan mengidentifikasi kebutuhan informasi mahasiswa semakin kritis. Dalam menelusur informasi yang sebelumnya hanya mengetahui google scholar, mahasiswa mengetahui tautan seperti database jurnal yang dilanggan UMY, open access jurnal, database jurnal yang dilanggan perpustakaan nasional. Selain itu mahasiswa mampu mengenal dan menerapkan beberapa strategi penelusuran informasi sepertti penggunaan boolean operator dan lain-lain. Hasil penelusuran semakin luas dengan memanfaatkan beragam sumber informasi. Dalam memanfaatkan informasi mahasiswa mulai mengetahui cara pengutipan langsung dan pengutipan tidak langsung sesuai prosedur. Menggunakan aplikasi zotero dalam mengkutip sumber referensi dan membuat daftar pustaka dengan plugin zotero yang telah terpasang di Microsoft word. Mahasiswa dapat mengetahui gaya sitasi yang akan digunakan ke dalam tulisan sesuai prosedur. Sebelum mengikuti pelatihan mahasiswa sebagai besar mahasiswa mengetahui google scholar sebagai tautan referensi ilmiah. Setelah mengikuti pelatihan mahasiswa dapat mengetahui tautan selain google scholar terutama seperti database jurnal yang dilanggan UMY, open access jurnal, database jurnal yang dilanggan perpustakaan nasional. Mahasiswa juga dapat memahami cara menelusuri informasi yang cepat dan akurat yaitu dengan menggunakan operator boolean. Dari materi yang dapat diserap dengan baik, mahasiswa juga mempraktikan materi yang telah diajarkan. Dalam memanfaatkan informasi, mahasiswa hanya menggunakan kutipan langsung yang belum sesuai dengan prosedur pengutipan yang baik. Beberapa mahasiswa belum mengetahui gaya sitasi yang digunakan dalam kepenulisan, dalam membuat daftar pustaka masih menggunakan cara manual sesuai pemahaman masing-masing personal. Setelah mengikuti pelatihan, mahasiswa mendapat efek yang lebih dalam memanfaatkan informasi. Mahasiswa mulai mengetahui cara pengutipan yang sesuai prosedur. Menggunakan aplikasi zotero dalam mengkutip sumber referensi dan membuat daftar pustaka dengan plugin zotero yang telah terpasang di Microsoft word. Mahasiswa dapat mengetahui gaya sitasi yang akan digunakan ke dalam tulisan sesuai prosedur. Berdasarkan dari wawancara mahasiswa mengatakan bahwa “kalau kita masukin sumber referensi seenggaknya kita udah berusaha menghindari plagiat mas” (G.N.E., personal communication, Oktober 2, 2019). Selain dapat mempraktikkan, mahasiswa juga memahami bahwa dengan mencantumkan referensi ke dalam tulisan dapat mengurangi potensi plagiat. Beberapa respon mahasiswa terkait pelatihan zotero bahwa “pelatihan ini bantu banget mas, karena mempermudah saya pas lagi nulis ilmiah atau cuma sekedar opini” (P.A., personal communication, Oktober 2, 2019). Dari beberapa materi yang disampaikan ada beberapa mahasiswa yang merasa masih kebingungan dalam menggunakan fitur RSS dari tautan jurnal. Mahasiswa belum memahami cara langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyimpan RSS dari tautan jurnal. Hal ini sesuai dengan kutipan wawancara berikut ”saya masih ruming mas alias bingung nggunain RSS apalagi nek di tautan sama jurnal” (G.N.E., personal communication, Oktober 2, 2019). Terkait penggunaan RSS ini akan menjadi masukan bagi perpustakaan agar kedepannya dapat dijelaskan lebih mendalam. Berdasarkan hasil penelitian, secara keseluruhan pelatihan zotero dapat meningkatkan kemampuan literasi informasi mahasiswa dalam kepenulisan ilmiah dan mempermudah mahasiswa dalam menyelesaikan karya ilmiahnya. Secara keseluruhan, adanya pelatihan zotero dirasa sangat membantu mahasiswa program studi MIP, terutama dalam hal penulisan. Aplikasi ini dapat digunakan untuk kutipan, mengatur bibliografi, dan memformat referensi untuk publikasi (Ray & Ramesh, 2017). Kemampuan literasi informasi penulisan karya ilmiah mahasiswa program studi MIP juga meningkat, mulai dari mengidentifikasi informasi, mengakses informasi, mengevaluasi informasi, bahkan memanfaatkan informasi.
Conclusion
Pelatihan zotero oleh Perpustakaan UMY merupakan bagian dari program literasi informasi. Materi yang diberikan dalam pelatihan zotero bagi mahasiswa Program studi MIP meliputi penjelasan tentang konsep zotero, instalasi aplikasi zotero, dan pemanfaatan aplikasi zotero. Pelatihan zotero yang diberikan sangat bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam mengelola informasi. Kemampuan literasi informasi mahasiswa Program studi MIP yang semula masih terbatas, kini semakin meningkat dengan adanya pelatihan zotero. Kemampuan tersebut mulai dari mengidentifikasi kebutuhan informasi, mengakses informasi, mengevaluasi informasi dan sumber dan memanfaatkan informasi secara bijak dan efektif.