Social Class Representation in the Film Satria Dewa Gatotkaca
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Abstract
Social class representation in films plays a significant role in shaping public perceptions of societal hierarchies. Specific Background: The film Satria Dewa: Gatotkaca integrates cultural narratives of Pandawa and Kurawa, offering a rich medium for exploring class distinctions. Knowledge Gap: Despite the prevalence of social stratification themes in Indonesian cinema, limited studies have examined them through Roland Barthes’ semiotic framework. Aims: This study analyzes the representation of social class in Satria Dewa: Gatotkaca using a descriptive qualitative approach with Barthes’ semiotic theory. Results: Analysis identified four key aspects: lifestyle disparities, differences in attire, implicit social boundaries, and class identity shaped by royal lineage. Novelty: The study extends semiotic analysis to a contemporary Indonesian superhero film, linking visual and narrative signs to socio-cultural constructs of class. Implications: Findings provide insights for media scholars and filmmakers on how cinematic signs reinforce or challenge social stratification, highlighting the role of visual storytelling in cultural discourse.
Keywords:
Representation
· Roland Barthes
· Semiotic
· Social Class
· Film Analysis
Introduction
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian kompresi gambar dan video telah mengeksplorasi teknik baru untuk kompresi tinggi menggunakan pengkodean generasi berikutnya, memungkinkan representasi adegan audio-visual dengan objek yang lebih bermakna secara semantik [1]. Proses berpikir, yang melibatkan sensasi, berpikir, dan memori, adalah elemen penting dalam aktivitas kognitif manusia dan pengembangan pengetahuan [2]. Film, yang memiliki asal-usul dari pertunjukan beranggaran rendah tanpa penonton [3], kini memainkan peran signifikan dalam membentuk persepsi masyarakat tentang realitas. Film mampu menjangkau berbagai segmen sosial dan memengaruhi pandangan pemirsa melalui pesan yang disampaikan [4]. Selain itu, sinema dianggap sebagai karya fiksi yang merangsang refleksi dan membantu memahami realitas manusia [5]. Film "Satria Dewa: Gatotkaca" adalah salah satu contoh yang mengangkat isu sosial dalam ceritanya. Film Satria Dewa: Gatotkaca adalah sebuah karya seni yang menarik, karena mengangkat isu-isu sosial, politik, dan budaya dengan cara yang unik. Film ini memiliki berbagai fungsi dan tujuan, mulai dari berekspresi dan berkreasi, menyampaikan gagasan dan ide (sebagai seni),menghasilkan keuntungan dengan mengangkat tema tertentu (sebagai bisnis), serta menjadi alat komunikasi dan propaganda. Dalam prespektif [6], film dipandang sebagai medium ekspresi yang memiliki gaya penyajian khas yang mempengaruhi analisis terhadapnya. Metz memperkenalkan konsep semiotika dalam memahami bahasa film, termasuk penggunaan tanda-tanda untuk menciptakan makna dalam film. Selain itu, menurut [7], film dijelaskan sebagai sebuah karya seni yang melibatkan aspek formal seperti tampilan visual, sekaligus memiliki isi yang penting. Habitus, menurut Pierre Bourdieu, adalah serangkaian kecenderungan dan disposisi yang terinternalisasi dalam diri individu melalui interaksi dengan lingkungan sosial dan budaya. Habitus mencerminkan bagaimana struktur sosial membentuk pola perilaku, keyakinan, dan pandangan hidup seseorang. Dalam konteks kelas sosial, habitus memengaruhi cara individu memahami dunia, serta menentukan aspirasi dan pilihan yang dianggap mungkin atau layak dalam pendidikan, karier, dan kehidupan. Habitus memiliki sifat kreatif dan adaptif, memungkinkan individu mengambil langkah-langkah tertentu meskipun terbatas oleh latar belakang sosial mereka [8]. Salah satu penelitian terkait kelas sosial yang telah dilakukan oleh [9] adalah tentang kelas sosial bawah yang ditentukan oleh tingkat pendidikan, kelas sosial atas yang ditentukan oleh harta dan jabatan, pertentangan antara kelas buruh dan kelas kapitalis, dan jurang antara kelas-kelas sosial yang terlihat dari lokasi tempat tinggal. Penelitian tersebut menghasilkan empat kategori representasi kelas sosial, yaitu kelas sosial bawah berdasarkan pendidikan, kelas sosial atas berdasarkan harta dan jabatan, pertentangan antara kelas buruh dan kelas kapitalis, dan jurang antara kelas-kelas sosial berdasarkan lokasi tempat tinggal. Temuan-temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh pendidikan, harta, jabatan, pertentangan, dan jurang tempat tinggal. Penelitian ini memiliki objek penelitian yang berbeda dengan penelitian sebelumnya, yaitu film "Satria Dewa: Gatotkaca". Akan tetapi, penelitian ini sama dengan penelitian sebelumnya dalam hal membahas kelas sosial sebagai topik penelitian dan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes. Peneliti dalam penelitian ini mengikuti penelitian sebelumnya yang meneliti representasi kelas sosial dalam film, dan memilih metode semiotika sebagai cara ilmiah dalam komunikasi sosial untuk membuat dan mengerti makna dan pesan yang dikomunikasikan melalui "tanda". Tinjauan Pustaka A. Representasi Menurut Stuart Hall, terdapat dua teknik representasi utama. Pertama, representasi mental yang merupakan konsep-konsep atau gambaran-gambaran yang terbentuk dalam pikiran setiap individu. Representasi ini bersifat abstrak dan tidak berwujud. Kedua, bahasa memegang peranan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep-konsep abstrak yang ada di dalam pikiran individu perlu dikomunikasikan melalui bahasa agar ide-ide dan pemahaman tentang sesuatu dapat diterjemahkan ke dalam bentuk tanda atau simbol tertentu yang dapat dimengerti oleh orang lain[10]. Representasi memiliki peran penting dalam memahami bagaimana makna dibangun dan dikonstruksi dalam budaya. Representasi memberikan cara untuk menginterpretasikan suatu objek yang digambarkan. Representasi melibatkan penggunaan tanda-tanda, simbol, dan bahasa untuk merepresentasikan realitas sosial, ideologi, dan kekuasaan [11]. Melalui proses representasi, konstruksi sosial yang kompleks terjadi, di mana makna diberikan kepada objek, orang, atau fenomena dalam budaya. Teori-teori komunikasi juga diperkenalkan dalam buku ini, dengan penekanan pada peran representasi dalam proses komunikasi. Representasi berfungsi sebagai medium untuk mentransmisikan pesan dan mempengaruhi pemahaman serta interpretasi audiens. Selain itu, buku ini menjelaskan bahwa representasi adalah konstruksi sosial, yang berarti makna dan simbol yang digunakan dalam representasi bukanlah sesuatu yang inheren, tetapi dihasilkan dan dipahami dalam konteks budaya dan sosial tertentu. Film tidak lepas dari konsep dasar dramaturgi sosial dan menerapkannya dalam memahami interaksi sosial sehari-hari. [12] menjelaskan tentang "front stage" dan "back stage" dalam presentasi diri, di mana individu mengelola impresi dan memainkan peran tertentu tergantung pada konteks sosial. Dia juga menganalisis "impression management" dan strategi yang digunakan individu untuk mempengaruhi persepsi orang lain tentang diri mereka. Selain itu, Goffman memperkenalkan konsep "face work", yaitu upaya individu untuk mempertahankan citra diri dan menjaga harmoni dalam interaksi sosial. Goffman juga menerapkan teori peran dalam memahami bagaimana individu mengadopsi peran tertentu dalam interaksi sehari-hari, dan ia menjelaskan tentang "teams" dan bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain dalam kelompok sosial. Selain itu, Goffman menyoroti pentingnya tindakan simbolik, bahasa, dan tanda-tanda dalam interaksi sosial. Dalam konteks unsur film "Satria Dewa: Gatotkaca", konsep-konsep ini dapat diterapkan untuk memahami bagaimana karakter dalam film mempresentasikan diri, memainkan peran, dan menggunakan simbol dan bahasa dalam interaksi sosial mereka, menciptakan narasi yang kuat dan mendalam. B. Kelas Sosial Individu atau keluarga yang memiliki kesadaran akan posisi mereka dalam hierarki masyarakat dan posisi tersebut diakui oleh masyarakat secara luas disebut sebagai kelompok sosial. Ada dua jenis kelas dalam konteks ekonomi, menurut Max Weber [13]. Yang pertama terdiri dari kelas yang bergantung pada kemampuan individu dalam bidang ekonomi, dan yang kedua terdiri dari kelas yang memiliki tanah dan harta benda. Memahami ketidaksetaraan dan struktur sosial membutuhkan banyak konsep dasar. [14] memberikan penjelasan tentang berbagai teori kelas, termasuk interaksionisme simbolik, konflik, fungsionalisme, dan Marxisme. Selain itu, dibahas peran kelas dalam pembentukan identitas dan pengalaman sosial individu, serta perubahan sosial dan transformasi kelas dalam masyarakat modern. Bagaimana struktur sosial memengaruhi akses individu terhadap sumber daya dan kesempatan sosial dijelaskan oleh konsep "struktur kelas" [14]. Ini juga mencakup mobilitas sosial, perbedaan antara kelas sosial dalam hal preferensi budaya dan gaya hidup, dan peran kelas menengah dan kelas yang terabaikan dalam struktur sosial. Dengan mempelajari konsep-konsep ini, kita dapat memahami kompleksitas ketidaksetaraan sosial dan marginasi yang dihadapi oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Kita dapat menggunakan elemen-elemen dari film Satria Dewa: Gatotkaca untuk mengilustrasikan konsep-konsep ini dalam konteks yang lebih modern dan beragam. Menurut [15], model dua kelas adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan hubungan antara kelas sosial. Model ini terdiri dari kelas kapitalis, yang terdiri dari mereka yang menghasilkan uang, dan kelas pekerja, yang terdiri dari orangorang yang hidup dari pekerjaan mereka. Model ini mengandaikan koneksi antara dua entitas kelas disebabkan adanya pertentangan antara kepentingan kapitalis (pemilik) dan pekerja (pekerja). Kekuatan kelas tertentu selalu berkorelasi positif dengan kekuatan kelas lain. Menurut [15], kelas dominan adalah orang-orang yang memiliki kesempatan besar mempengaruhi keadaan hidup sendiri dan orang lain karena peran yang mereka miliki dalam lingkungan kerja dapat berlangsung. C. Semiotika Roland Barthes Teknik komunikasi yang mempelajari bagaimana masyarakat membuat pesan dan makna dalam sistem komunikasi disebut semiotika. "Simeon", yang berarti tanda, adalah asal kata semiotika. Ferdinand De Saussure (1857-1913) adalah salah satu ahli semiotika terkemuka. Penanda dan petanda, langue dan conditionality, diperkenalkan [16]. Saussure mengatakan tanda terdiri dari dua komponen: penanda dan petanda. Tanda (signifikan) adalah bentuk atau wujud fisik dari suatu tanda, seperti suara, gambar, huruf, karya seni, dan sebagainya. Konsep tentang arti karakter dikenal sebagai tanda. Tidak ada hubungan alami antara bentuk dan makna; sebaliknya, hubungan antara penanda dan petanda bersifat "dibuat" atau pilihan. Roland Barthes, salah satu pengikut Saussure, menggunakan pendekatan semiotik untuk menganalisis berbagai fenomena budaya. Dia yakin semua teks terdiri dari tanda-tanda dalam konteks masyarakat. Barthes membagi analisis teks menjadi pengalaman budaya dan pribadi. Dia membuatnya sebagai "urutan makna", yang terdiri dari denotasi (makna yang ada dalam kamus) dan implikasi (makna yang dihasilkan oleh pengalaman dan budaya seseorang)[17]. Roland Barthes menerapkan teori semiotika pada berbagai fenomena budaya dengan mempertahankan gagasan Saussure tentang semiotika dengan mengatakan bahwa tanda-tanda membentuk setiap teks dalam konteks sosial [18]. Teori Barthes menunjukkan bahwa tanda sangat penting dalam menghasilkan makna dan memberikan konteks. Ia membagi analisis teks menjadi pengalaman pribadi dan budaya, yang disebut urutan makna. Urutan makna terdiri dari denotasi, yang merupakan makna sebenarnya dalam kamus, dan implikasi, yang merupakan makna yang dihasilkan dari pengalaman budaya dan pribadi. Selain itu, objek dan tempat di mana orang berkomunikasi juga mempengaruhi sistem komunikasi yang ada. Menurut [19], lingkungan tempat komunikator berinteraksi adalah salah satu sistem yang sangat memengaruhi proses komunikasi. Roland Barthes menggunakan pendekatan semiotika untuk menyelidiki dan menganalisis berbagai fenomena budaya, termasuk teks-teks, dalam konteks sosial. Ia menunjukkan betapa pentingnya peran tanda dalam memberikan konteks dan menciptakan makna. Barthes membedakan ide Saussure antara denotasi sampai makna asli tanda dan konotasi sampai makna yang muncul dari pengalaman budaya dan personal. Pendekatan semiotika Barthes membantu kita memahami bagaimana pesan dan makna diciptakan, dikomunikasikan, dan ditafsirkan dalam konteks sosial yang lebih besar. D. FilmF ilm dan masyarakat memiliki hubungan yang dipahami secara linear di mana film selalu dapat memengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan pesan yang disampaikan melalui film tetapi tidak dengan penonton. Penonton tidak dapat memberikan umpan balik secara langsung kepada film [20]. Film adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari aspek-aspek artistik, teknis, dan budaya dalam produksi dan konsumsi film. Ini melibatkan analisis mendalam tentang bagaimana film dibuat, mengapa film memiliki pengaruh pada audiens, dan bagaimana film mencerminkan serta membentuk realitas sosial. Dalam teori film, terdapat perbedaan antara analisis formalis dan analisis strukturalis. Analisis formalis berfokus pada unsur-unsur formal dalam film, seperti sinematografi, penyutradaraan, dan pengeditan, untuk mengeksplorasi bagaimana teknik-teknik ini membentuk makna dalam film. Sementara itu, analisis strukturalis menyoroti struktur naratif dan pola-pola yang mendasari film, dengan memperhatikan hubungan antara bagian-bagian film dan keseluruhan cerita [21]. Film memiliki kemampuan untuk merepresentasikan dan membentuk realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Hal ini dapat diamati dari fakta bahwa film mampu menampilkan gambaran simbolis tentang realitas tersebut, yang sarat dengan konten dan pesan estetik [22]. Pengaruh yang ditimbulkan oleh film pada penonton dapat bervariasi, tergantung pada perspektif masing-masing penonton dan perbedaan dalam pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh mereka. Oleh karena itu, pemaknaan film oleh penonton dapat menghasilkan pesan yang bersifat positif atau negatif [22]. Film dipandang sebagai seni dan medium visual yang unik, yang menggabungkan unsur-unsur seperti gambar bergerak, suara, dan komposisi visual untuk menciptakan pengalaman estetis bagi penontonnya. Film eksperimental memainkan peran penting dalam perkembangan seni film, dengan menguji batas-batas konvensi film tradisional dan mengeksplorasi potensi artistik dan ekspresif yang lebih luas. Film juga dipahami sebagai medium temporal, di mana waktu menjadi elemen kunci dalam penggambaran cerita dan narasi. Berbagai cara digunakan untuk menggambarkan waktu dalam film, seperti penggunaan pemotongan, ritme editing, penggunaan narasi non-linear, dan penggunaan penanda temporal seperti montase atau perubahan music [23].
Method
Penelitian Metode penelitian pada naskah artikel menjelaskan paradigma penelitian, jenis penelitian, nama metode penelitian, subjek dan objek penelitian, waktu dan lokasi penelitian, instrumen penelitian, cara pengambilan sampel, pengumpulan data, dan teknik analisis data. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang representasi kelas sosial dalam film Satria Dewa: Gatotkaca. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk menganalisis konteks sosial, budaya, dan makna yang terkandung dalam film. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tanda-tanda serta makna yang terkait dengan representasi kelas sosial dalam film. Pendekatan semiotika memungkinkan peneliti untuk memahami bagaimana tanda-tanda visual, simbol, dan bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan tentang kelas sosial. Gambar 1. Presence of Mythical Signs [24] Secara spesifik dalam analisis semiotika Roland Barthes, terdapat penggunaan teori semiologis tentang keterkaitan antara elemen-elemen signifikan dan signifikan dari Saussure. Barthes menambahkan elemen penting, yaitu tanda-tanda mitos, yang menjadi perbedaan kunci dalam pendekatannya [24]. Dalam metode Barthes, analisis dilakukan dalam dua tahap: tahap pertama membahas objek secara langsung (tahap denotatif), sementara tahap kedua melibatkan penelusuran sistem tanda secara menyeluruh dari tahap sebelumnya (tahap konotatif). Pada tahap ini, makna pesan diungkapkan melalui penambahan mitos (tahap metabahasa), yang merupakan konsep Barthes yang menarik karena mitos dibangun dari rangkaian semiologis yang telah ada sebelumnya [24]. Dengan demikian, penelitian menggunakan pendekatan Barthes untuk menganalisis film Satria Dewa: Gatotkaca dengan membedah konotasi, denotasi, dan mitos yang terkandung di dalamnya. Dalam mengumpulkan data, teknik observasi terhadap film "Satria Dewa: Gatotkaca" digunakan untuk memperoleh informasi yang relevan dan mendalam. Peneliti menonton film tersebut secara teliti, memperhatikan detail-detail penting seperti alur cerita, dialog, karakterisasi, setting, dan simbolisme yang muncul sepanjang film. Adeganadegan yang signifikan direkam dan didokumentasikan melalui platform resmi Netflix untuk mempermudah analisis lebih lanjut. Selain itu, peneliti juga melakukan studi literatur dengan mengacu pada berbagai sumber terpercaya, termasuk buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, dan sumber-sumber online. Studi literatur ini bertujuan untuk memperkuat kerangka teoritis penelitian, memahami konteks sosial dan budaya yang lebih luas, serta membandingkan temuan observasi dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan. Kombinasi antara observasi langsung dan kajian literatur diharapkan dapat memberikan hasil analisis yang komprehensif dan akurat mengenai representasi kelas sosial dalam film tersebut. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling karena ingin mendapatkan informasi yang lebih detail karena metode ini lebih mengutamakan kedalaman data daripada tujuan representatif umum[25]. Penelitian ini berfokus pada adegan dan melihat bagaimana kelas sosial tercermin dalam film Satria Dewa: Gatotkaca. Satu adegan atau lebih digunakan sebagai sampel, dan kemudian dianalisis untuk menentukan kelas sosial dalam Satria Dewa: Gatotkaca. Data primer dan sekunder digunakan dalam studi ini. Menonton Film Satria Dewa: Gatotkaca Akan Mengajarkan Anda Banyak Hal Baru. Peneliti mencatat dengan mengambil gambar atau screenshot yang menunjukkan kelas sosial. Informasi sekunder dikumpulkan dari sumber. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan penonton film untuk melakukan observasi mendalam dan mendefinisikan objek-objek yang relevan. Setiap adegan yang berkaitan dengan representasi kelas sosial akan diidentifikasi, diubah sesuai kebutuhan, dan dimasukkan ke dalam kategori yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah pengkategorian, teori semiotika Roland Barthes akan diterapkan untuk menganalisis data, yang mencakup teori, kritik, dan penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian ini. Tujuan utama dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi tanda-tanda, menginterpretasikan makna, dan memahami bagaimana konstruksi kelas sosial direpresentasikan dan dikonstruksikan dalam film. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam mengenai hubungan antara representasi kelas sosial dalam media film dan realitas sosial yang ada.
Result & Discussion
Strategi Data yang digunakan dalam penelitian ini terkait dengan Representasi Kelas Sosial dalam film Satria Dewa: Gatotkaca adalah data primer. Data primer ini diperoleh peneliti langsung dari sumber data dengan menggunakan teknik observasi. Peneliti melakukan observasi dengan menonton film Satria Dewa: Gatotkaca secara cermat dan memilih adegan-adegan serta dialog-dialog yang merepresentasikan kelas sosial dalam film tersebut. Selanjutnya, untuk mendapatkan data berupa dokumentasi, peneliti merekam cuplikan-cuplikan adegan dan menangkap layar beberapa bagian film yang menggambarkan konstruksi kelas sosial. Data-data tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk analisis lebih lanjut dalam penelitian ini. Tabel 1. Analisis Representasi Kelas Sosial Bawah Dalam Film Satria Dewa: Gatotkaca.[26] Gambar Visual Adegan Verbal dan Non Verbal Waktu 1 Keluarga Yuda dengan Kondisi Kesulitan 15:40 2 Kondisi Keluarga Lain dengan Kondisi yang Lebih Baik 16:00 Dalam Gambar 1, kita melihat sebuah ruangan yang gelap dan sempit. Di dalamnya terdapat dua orang; satu orang berdiri sambil berbicara di telepon, tangannya menggenggam sehelai kain, sementara yang lainnya duduk dengan tubuh tertunduk, tampak tenggelam dalam kesedihan atau perenungan. Ruangan ini tampak seperti bagian dari rumah yang sederhana, dengan kursi kayu, rak yang penuh dengan barang-barang, dan dinding yang kasar. Pencahayaan yang minim menambah kesan suram dan berat, menciptakan suasana yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. Secara konotatif, adegan ini menyampaikan suasana melankolis dan beban emosional yang mendalam. Pakaian yang dikenakan oleh kedua orang dan ekspresi wajah mereka mencerminkan kondisi kehidupan yang kurang beruntung, diwarnai dengan kesusahan dan kelelahan. Ruangan yang sempit dan kurang pencahayaan menggambarkan situasi sosial yang sederhana atau bahkan berada di bawah standar, memperlihatkan mereka dalam keadaan kesulitan, baik secara emosional maupun ekonomi. Ini mengisyaratkan keberadaan di kelas sosial bawah, di mana keterbatasan dan tantangan menjadi bagian dari keseharian. Dari perspektif mitos, adegan ini dapat menciptakan pandangan bahwa kehidupan kelas sosial bawah selalu dipenuhi dengan kesulitan dan tekanan. Mereka tampak terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan beban hidup yang tak kunjung usai, dianggap sebagai kelompok yang tidak memiliki akses terhadap peluang yang lebih baik dan harus terus hidup dalam keterbatasan yang berulang. Gambar kedua menunjukkan kontras yang tajam. Di sebuah ruangan yang lebih luas dan terang, terdapat dua orang pria. Salah satu pria, yang mengenakan pakaian formal, duduk sambil membaca koran dengan sikap tenang dan percaya diri. Pria lainnya berdiri di sampingnya dengan gaya yang lebih kasual, namun tetap rapi. Ruangan ini tertata dengan rapi dan menunjukkan kemewahan, dilengkapi dengan detail arsitektur yang mencerminkan kemapanan serta furnitur yang menggambarkan selera tinggi. Secara konotatif, suasana di ruangan ini terasa formal, penuh dengan aura kekuasaan dan otoritas. Pria yang duduk sambil membaca koran tampak memegang posisi dominan, mungkin sebagai figur yang memiliki kekuasaan atau otoritas dalam lingkup sosial atau profesionalnya. Kehadiran mereka di ruangan mewah ini memperlihatkan gambaran kehidupan kelas sosial atas, yang memiliki akses ke pendidikan, kekayaan, dan status sosial tinggi. Ini mengisyaratkan kehidupan yang dikelilingi oleh kemewahan, kekuasaan, dan kendali atas sumber daya. Dalam mitos, adegan ini menggambarkan pandangan bahwa kelas sosial atas selalu memiliki kendali penuh atas kekayaan dan kekuasaan. Mereka sering kali dianggap sebagai kelompok yang beruntung, mampu mengatur dan mengontrol lingkungan mereka sesuai dengan keinginan, serta diidentikkan dengan kesuksesan dan keberhasilan. Namun, mitos ini juga dapat menyembunyikan sisi lain dari kehidupan mereka, di mana tantangan dan perjuangan yang mereka hadapi tidak selalu terlihat. Kedua adegan ini secara bersama-sama menyajikan dua dunia yang berbeda dan kontras dalam satu narasi sosial. Adegan pertama menggambarkan kehidupan kelas sosial bawah dengan segala keterbatasan dan kesulitan, menggambarkan bagaimana mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang penuh beban. Sementara itu, adegan kedua menampilkan kehidupan kelas sosial atas yang serba mewah dan penuh kekuasaan, yang tampaknya memiliki kontrol penuh atas sumber daya dan lingkungan mereka. Namun, di balik representasi ini, ada mitos yang mengakar: bahwa kelas sosial bawah selalu berada dalam kesulitan tanpa harapan, sedangkan kelas sosial atas selalu beruntung dan bebas dari tantangan hidup. Narasi ini mengajak penonton untuk merenungkan persepsi dan stereotip tentang kelas sosial, sekaligus mempertanyakan kompleksitas di balik citra-citra yang terlihat sederhana. Tabel 2. Analisis Representasi Kelas Sosial Bawah Dalam Film Satria Dewa: Gatotkaca.[26] Gambar Visual Adegan Verbal dan Non Verbal Waktu 3 Tokoh Utama dengan Kondisi Berbeda 17:15 4 Kondisi Pendidikan Tokoh lain 16:50 Gambar 3 menampilkan seorang pria dengan tas selempang yang berdiri di tengah kerumunan orang yang mengenakan toga wisuda berwarna ungu. Pria ini terlihat berbeda karena mengenakan pakaian kasual dengan motif bunga, sementara orang-orang di sekitarnya berpakaian formal dengan toga, menandakan suasana acara wisuda atau perayaan akademis yang penting. Secara konotatif, ada kontras yang mencolok antara pria yang mengenakan pakaian kasual dan mereka yang memakai toga wisuda. Perbedaan ini bisa menunjukkan adanya kesenjangan status sosial atau pendidikan. Pria tersebut tampak "out of place" atau merasa berbeda dari yang lain, yang mungkin menunjukkan bahwa dia berasal dari kelas sosial bawah yang berada di lingkungan yang didominasi oleh kelas menengah ke atas, terutama dalam konteks pendidikan tinggi. Hal ini juga bisa menjadi cerminan dari kesenjangan dalam akses pendidikan atau ketidaksetaraan sosial yang lebih luas. Mitos yang muncul di sini adalah pandangan bahwa keberhasilan akademis dan pencapaian pendidikan tinggi sering dianggap hanya dapat dicapai oleh mereka yang memiliki posisi sosial dan ekonomi yang lebih baik. Pria berpakaian kasual ini mungkin dipersepsikan sebagai seseorang yang berada di luar sistem tersebut, memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi sering kali tidak terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, menciptakan kesenjangan yang lebih besar. Gambar 4 menggambarkan sebuah acara kelulusan di mana beberapa orang mengenakan toga ungu dan topi wisuda. Tampak seorang pria yang mengenakan medali, didampingi oleh seorang pria yang lebih tua dan seorang wanita yang mungkin merupakan orang tua atau wali dari wisudawan. Acara ini berlangsung di dalam ruangan dengan pencahayaan yang cukup gelap, memberikan kesan formal namun intim. Secara konotatif, toga ungu dan topi wisuda menunjukkan kelulusan akademik, suatu pencapaian penting dalam pendidikan. Warna ungu melambangkan kemuliaan, kebijaksanaan, dan kedewasaan. Medali yang dikenakan oleh salah satu pria menunjukkan prestasi akademik, mungkin sebagai lulusan terbaik atau berprestasi di bidang tertentu. Kehadiran orang tua atau wali menegaskan dukungan keluarga terhadap pencapaian pendidikan dan kebanggaan terhadap kesuksesan anak mereka. Pria yang lebih tua dengan setelan formal mungkin menunjukkan status sosial atau profesi, sedangkan wanita yang mengenakan pakaian formal namun sederhana mencerminkan status sosial menengah ke atas. Mitos yang dapat muncul dari gambar ini adalah bahwa pendidikan tinggi dan keberhasilan akademik dianggap sebagai tanda kelas sosial yang lebih tinggi. Keberhasilan akademik sering dilihat sebagai hasil dari dukungan dan investasi keluarga dari kelas menengah ke atas. Toga dan medali menjadi simbol keberhasilan yang diakui oleh masyarakat, menciptakan hierarki sosial berdasarkan pencapaian pendidikan. Selain itu, ada mitos bahwa keberhasilan akademik anak merupakan pencapaian kolektif keluarga, yang menunjukkan bahwa keluarga yang mampu mendukung pendidikan anak akan mendapatkan penghargaan sosial yang lebih tinggi. Konsep "batas" telah menjadi perhatian utama dalam beberapa tahun terakhir dalam studi ilmu sosial, terutama terkait dengan hak-hak kelompok. Batasan sosial mencerminkan perbedaan yang konkret dalam akses dan distribusi yang tidak merata terhadap sumber daya (baik materi maupun non-materi) dan kesempatan sosial. Karl Marx sering menggambarkan proletariat sebagai lawan dari kelas kapitalis. Batasan simbolis dan sosial, yang dimulai dari tingkat intersubjektif, juga harus diakui dalam pengelompokan individu [24]. Dalam konteks film, batasan antara kelompok kaya dan miskin tidak hanya tercermin dari aspek-aspek seperti pakaian, kondisi ekonomi, atau tempat tinggal, tetapi juga melalui sinematografi dan komposisi visual yang secara sadar atau tidak sadar menandai pemisahan kelas. Garis vertikal dalam pengambilan gambar menjadi simbolis dari pembagian kelas antara kedua keluarga. Selain itu, dalam film "Satria Dewa: Gatotkaca", ketimpangan sosial dieksplorasi tidak hanya melalui aspek uang, perilaku, atau bahkan kata-kata "miskin" dan "kaya". Salah satu indikasi kelas sosial sebenarnya tercermin melalui kasta keturunan yang terkait dengan kerajaan, baik itu Kurawa maupun Pandawa. Representasi kelas sosial bawah yang didapatkan dari hasil temuan dalam film Satria Dewa: Gatotkaca adalah keadaan Yuda saat ini sangat mengenaskan bahwa Yuda akan segera di usir dari kontrakannya yang memang Yuda belum bisa membayar uang bulanan selama 3 bulan. Ini juga menunjukkan kondisi keluarga Yuda yang mana sudah di tinggal ayahnya pada saat kecil dan saat itu Yuda Bersama ibunya tinggal dirumah gubuk yang berletak di hutan belantara. Dengan munculnya kondisi keluarga Erlangga yang sangat bahagia dan rumahnya yang mewah dan asri, kondisi kelas sosial yang berbeda terlihat di masyarakat. Ada adegan dalam film Satria Dewa: Gatotkaca di mana Yuda digambarkan sebagai anak yatim yang tinggal di rumah gubuk tengah hutan bersama ibunya dan tidak lanjut kuliah dikarenakan permasalahan ekonomi yang dihadapinya. Memang, Yuda tidak lagi memiliki ayah dan ibu yang kurang sehat. Namun, pendidikan sangat penting untuk kehidupan karena akan membantu kita mendapatkan pekerjaan yang baik dan menyelesaikan masalah dengan lebih mudah [27]. Menurut hasil penelitian yang dilakukan [28] dalam karyanya yang berjudul "Kritik Terhadap Kapitalisme dalam Film Little Prince: Pendekatan Marxisme", tingkat pendidikan seseorang dapat mencerminkan kedudukannya dalam hierarki pekerjaan. Hal ini mencerminkan realitas dalam masyarakat kontemporer di mana individu yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sering kali dianggap memiliki posisi pekerjaan yang lebih rendah atau bahkan diabaikan sama sekali. Pandangan masyarakat bahwa mereka yang tidak bersekolah tidak akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik [28]. Karena Yuda termasuk dalam kelompok orang yang mengalami kemiskinan secara ekonomi, dapat disimpulkan bahwa Yuda berada di kelas sosial bawah pada Gambar ini. Menurut Soekanto (2013), kemiskinan adalah kondisi di mana individu tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sesuai dengan standar kehidupan yang berlaku dalam masyarakat, serta tidak dapat mengoptimalkan potensi fisik dan mentalnya untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Hal ini dapat dilihat pada kasus Yuda yang pada masa kecilnya mengalami kesulitan dalam memperoleh akses pendidikan yang memada. Tabel 3. Analisis Representasi Kelas Sosial Atas Dalam Film Satria Dewa: Gatotkaca.[26] Gambar Visual Adegan Verbal dan Non Verbal Waktu 5 Tokoh menerima tamu dirumah mewahnya 1:20:18 6 Tokoh lain di rumah mewahnya 2:02:12 Gambar 5 menunjukkan keluarga Agni dan Kurawa yang berkumpul di sekitar meja makan dalam suasana formal. Meja dihiasi dengan berbagai makanan dan lilin yang menyala, sementara ruangan tersebut dilengkapi dengan tirai merah dan lampu gantung antik yang menerangi meja, menciptakan suasana hangat namun tegang. Secara konotatif, susunan duduk di meja ini dapat merefleksikan hierarki atau struktur kekuasaan dalam keluarga atau kelompok tersebut. Orang yang duduk di posisi sentral dekat dengan lilin mungkin merupakan figur dengan otoritas atau peran penting dalam cerita. Lilin yang menyala melambangkan harapan dan kedamaian, namun juga bisa mencerminkan ritual dan tradisi keluarga yang sangat signifikan dalam narasi konflik besar seperti yang terjadi antara Pandawa dan Kurawa. Suasana ruangan yang gelap dengan tirai merah dapat dikaitkan dengan ketegangan, konflik, atau intrik yang sedang berlangsung, menggambarkan konflik internal dalam keluarga besar yang ditampilkan dalam cerita. Mitos yang dibangun dari gambar ini adalah konsep bahwa keluarga merupakan unit dasar kekuasaan, di mana keputusan yang dibuat dalam lingkup keluarga akan berdampak besar pada konflik eksternal. Hal ini mencerminkan dinamika kekuasaan dalam keluarga Pandawa atau Kurawa, di mana keputusan-keputusan penting diambil oleh mereka yang memiliki otoritas. Selain itu, gambar ini juga mencerminkan mitos bahwa keluarga dengan warisan dan tradisi panjang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kehormatan dan kekuasaan mereka, tanggung jawab yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam konteks konflik besar. Gambar 6 memperlihatkan salah satu pimpinan Kurawa yang mengenakan pakaian putih, berdiri menghadap sekelompok orang yang tampak menunduk atau memperlihatkan ekspresi serius. Lokasinya tampak berada di sebuah bangunan dengan banyak pilar, menciptakan kesan tempat yang terbuka namun tetap formal. Secara konotatif, pria yang mengenakan pakaian putih sering kali melambangkan kemurnian, kepemimpinan, atau kebenaran. Tokoh ini mungkin mewakili seorang pemimpin yang memiliki otoritas moral, yang sedang dihadapkan pada sebuah krisis atau keputusan penting. Sementara itu, orang-orang yang menunduk menunjukkan rasa hormat, ketundukan, atau bahkan penyesalan, menggambarkan dinamika konflik di mana pihak-pihak tertentu merasa bersalah atau berada di posisi lemah, mirip dengan Kurawa yang akhirnya kalah dalam konflik. Pilar-pilar yang terlihat melambangkan kekuatan dan stabilitas, namun dalam konteks ini, mereka juga dapat menunjukkan tradisi atau institusi yang sedang diuji oleh konflik yang terjadi. Mitos yang tercermin di sini adalah bahwa seorang pemimpin, seperti tokoh dalam Pandawa, harus menghadapi tantangan moral dan tanggung jawab besar, di mana keputusannya akan sangat mempengaruhi nasib banyak orang. Gambar ini juga mencerminkan mitos bahwa setiap konflik besar, khususnya dalam keluarga atau kelompok seperti Pandawa dan Kurawa, membutuhkan resolusi yang melibatkan pengorbanan, ketundukan, atau pengakuan akan kesalahan. Ini menggambarkan momen krisis di mana pilihan sulit harus dibuat untuk mencapai penyelesaian. Representasi kelas sosial atas dalam film Satria Dewa: Gatotkaca ditampilkan dengan adegan Keluarga Agni bersama keluarga Nathan sedang melakukan pertemuan. Tanda verbal yang ditampilkan adalah ketika ayah Nathan berkata “kita akan melakukan pengembangan kampus kita di Singapura”, kemudian tanda non verbal yang ditampilkan adalah kedua orang tua Nathan yang datang tersebut menggunakan busana jas rapi, interior rumah Agni yang terlihat mewah dan elegan, serta terdapat mobil mewah yang terpakir di depan rumah tersebut. Indikator yang menunjukkan identitas kelas sosial seseorang biasanya digunakan oleh golongan masyarakat. Identitas sosial, menurut Sarwono [29], terdiri dari pengetahuan seseorang tentang keanggotaan mereka dalam kelompok sosial dan makna nilai yang dipegang oleh anggota kelompok tersebut. Dalam film Gundala, atribut gaya adalah tanda pertama representasi kelas atas. Menurut [29], mode dalam kelas sosial dapat dilihat secara vertikal dan horizontal. Yang pertama menunjukkan kelas sosial mana seseorang berada. Yang kedua menunjukkan bagaimana seseorang melihat hubungan sosialnya. Kedua orang tua Nathan ditampilkan dalam Gambar tersebut mengenakan pakaian yang rapi dan bersih yang membuat mereka terlihat elit. Tanda berikutnya adalah keluarga Nathan dan Agni berkumpul di rumah Agni. Banyak lampu yang terang dan desain mewah gedung menunjukkan bahwa rumah itu eksklusif. Mobil mewah adalah tanda terakhir kekayaan. [30]menyatakan bahwa desain properti dan mode adalah salah satu contoh simbol eksklusifitas kelas atas. Rumah mewah merupakan simbol kekayaan yang hanya dimiliki oleh beberapa orang [30]. Rumah mewah dalam film Satria Dewa: Gatotkaca pada Gambar ini sangat luas dengan nuansa adat yang kental, membuatnya terlihat seperti kerajaan kecil. Rumah ini digunakan untuk menunjukkan kelas sosial atas. Didasarkan pada analisis sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kedua orang tua Nathan menunjukkan posisi mereka sebagai anggota kelas sosial atas. Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda yang muncul, seperti mode busana yang rapi dan bersih, desain rumah, dan mobil mewah yang mereka miliki. Ayah Nathan menggunakan kekayaan untuk menduduki kelas sosial atas. [31] memberikan penjelasan tentang bagaimana mereka dapat memanfaatkan kekuatan mereka untuk mengambil keputusan kebijakan. Di sini, kekuasaan menempatkan seseorang ke dalam kelas yang berbeda karena kekuatan itu dapat menentukan wewenang apa yang boleh dilakukan seseorang dan apa yang tidak boleh dilakukan [31].
Conclusion
Dari Terkait dengan representasi kelas sosial yang terdapat dalam film tersebut, berdasarkan analisis semiotik Roland Barthes, peneliti menemukan setidaknya empat aspek yang terkait dengan tanda-tanda yang ditemukan dalam adegan film tersebut, yaitu: Pertama, Gaya hidup yang berbeda, dimana karakter-karakter dari kelas yang berbeda menunjukkan gaya hidup dan kemudahan hidup yang berbeda pula. Kedua, perbedaan dalam busana yang dipakai oleh setiap kelas, dengan karakter-karakter dari kelas atas cenderung mengenakan pakaian yang lebih mewah dan modis daripada kelas bawah. Ketiga, adanya batasan kelas sosial yang tidak disadari, yang tercermin dalam interaksi antara karakter-karakter dari berbagai kelas dalam film ini. Keempat, identitas kelas yang dipengaruhi oleh Kasta Keturunan Kerajaan (Pandawa dan Kurawa), di mana asal-usul keturunan dan latar belakang keluarga dapat memengaruhi status sosial dan identitas kelas seseorang dalam masyarakat. Berdasarkan empat aspek tersebut, film Satria Dewa: Gatotkaca menunjukkan bahwa perbedaan kelas tidak hanya tercermin dalam kata-kata "kaya" dan "miskin" dalam dialog, tetapi juga dapat diperlihatkan melalui tanda-tanda yang bisa diinterpretasikan secara sosial oleh penonton, sebagaimana yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, film Satria Dewa: Gatotkaca secara efektif menggambarkan perbedaan kelas sosial dalam masyarakat dengan baik melalui berbagai elemen cerita, visual, dan karakter, menunjukkan kompleksitas dan dinamika perbedaan kelas dalam masyarakat.