Kembali
16
1
2024 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 20 · 1 ISSN 2477-0361

Upaya guru memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo

Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Abstrak

Pendahuluan. Penelitian ini untuk mengetahui upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam memanfaatkan salah satu sarana dan prasarana sekolah yaitu perpustakaan sebagai sumber belajar di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo dengan menggunakan pendekatan dari Association for Education Communication Technology (AECT). Metode Penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode dalam pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi Data Analisis. Data diperoleh dengan melakukan wawancara kepada narasumber, kemudian data ditranskripkan untuk dianalisis. Hasil dan Pembahasan. Upaya guru untuk memanfaatkan Perpustakaan Sekolah sebagai sumber belajar ditunjukkan dengan upaya guru dalam meningkatkan kualitas dirinya dalam menyerap informasi dari pepustakaan dan menganalisanya sebagai bahan referensi mengajar, meningkatkan intensitas kunjungan ke perpustakaan, meningkatkan koleksi/jumlah buku dan memanfaatkan fasilitas di perpustakaan yang telah ada dengan sebaik-baiknya. Kesimpulan dan Saran. Perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo belum maksimal dimanfaatkan sebagai sumber belajar pada setiap pelajaran. Perpustakaan ini seharusnya meningkatkan jumlah koleksi buku-buku, sarana pendukung, dan dikelola sesuai dengan standar perpustakaan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat diperluas, sehingga tidak terbatas pada guru Pendidikan Agama Islam saja tetapi pada guru mata pelajaran lainnya.

Abstract

Introduction. The aim of the paper is to understand the efforts of Islamic education teachers in utilizing the library as one of the school's facilities and infrastructure, at State Elementary School of Tosanan Ponorogo by using the approach of the Association for Education Communication Technology (AECT). Data Collection Methods. This was a qualitative descriptive with by observations and, structured interviews. Data Analysis. The interview data was transcribed for analysis. Results and Discussion. The efforts showing by teacher's to utilize the school library as a learning resource are shown by improving their quality. These Include how to absorb information from the library as teaching, to increase the intensity of visits to the library, to increase the collection/number of books and to make the best use of the existing library facilities. Conclusions and Recommendations. The library at State Elementary School of Tosanan Ponorogo has not been maximally utilized as a learning resource in every lesson. This library should increase the number of books, support facilities for users and manage library base on standards. For further research it is hoped that it can be expanded, so that it is not limited to Islamic religious education teachers but to teachers of other subjects.
Keywords: teacher's efforts · school library · learning resources · teacher quality · teaching reference

Introduction

A. PENDAHULUAN Kegiatan belajar dan mengajar yang merupakan interaksi antara seorang guru dan siswa merupakan komponen terpenting dalam sebuah proses pendidikan (Nasriani, 2022). Ini mengindikasikan bahwa keberhasilan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tergantung kepada bagaimana kegiatan pembelajaran itu dirancang sedemikian rupa dan dijalankan secara profesional (Warif, 2019). Dalam sebuah kegiatan belajar dan mengajar yang di selenggarakan secara tatap muka maupun dalam jaringan selalu melibatkan keaktifan peserta didik dan pendidik, maka Guru sebagai tenaga pendidik dituntut untuk merancang sebuah perencanaan pembelajaran yang sistematis dan berkesinambungan dan para peserta didik sebagai subyek belajar dapat menikmati proses pembelajaran yang diciptakan oleh pendidik. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang sampai dengan saat ini sangat berpengaruh pada segala aspek kehidupan manusia, beberapa diantaranya yang terkait dengan pendidikan adalah perkembangan model pembelajaran, fasilitas pembelajaran, metode pembelajaran dan lain sebagainya (Suryadi, 2015). Semakin maju dan berkembangnya berbagai aspek pendidikan dan pembelajaran saat ini dapat memudahkan unutk mencapai tujuan pendidikan. Berbagai jenis pedoman dan peraturan yang ada pada saat ini menegaskan bahwa suatu proses pendidikan harus mampu membentuk karakter individu yang mandiri dan terampil dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam hal ini ini pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar (Suwartini, 2017). Pendidikan Agama Islam merupakan suatu usaha kepada para peserta didik supaya suatu saat nanti setelah selesai dari pendidikan dapat memahami, menghayati makna dan ajaran agama Islam secara keseluruhan (Samrin, 2015). M e n g a m a l k a n a j a r a n a g a m a s e r t a menjadikannya sebagai pedoman dalam hidupnya akan berdampak pada kehidupan yang mendatangkan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat (Jafri, 2021). Untuk mencapai hasil yang maksimal, diperlukan proses kegiatan belajar dan mengajar dengan memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Dalam observasi yang telah kami lakukan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo menemukan kendala dalam hal menggunakan manfaat perpustakaan. Adapun kendalanya adalah pertama, perpustakaan hanya digunakan untuk memajang atau memamerkan koleksi buku-buku saja, itu pun penataannya dalam kondisi yang belum benar-benar tertata dengan baik sesuai dengan manajemen perpustakaan. Seharusnya hal seperti ini bisa dikelola dengan baik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar pada semua mata pelajaran utamanya Pendidikan Agama Islam. Kedua, Perpustakaan sekolah jarang sekali dikunjungi oleh para siswa, padahal buku-buku koleksi di perpustakaan sekolah cukup memadai meskipun perawatannya masih kurang. Ketiga, rata-rata kunjungan dari para siswa berdasarkan arahan dari guru dan belum merupakan suatu kesadaran akan pentingnya untuk membaca. Keempat, perpustakaan sekolah ini jarang sekali dibuka untuk melayani para peserta didik dikarenakan tenaga pengelolanya bukan tenaga khusus pustakawan akan tetapi diambilkan dari salah satu guru kelas. Dengan kesibukan guru tersebut menjadi tenaga pengajar untuk mengelola perpustakaan berdampak pada pengelolaan perpustakaan yang dapat tidak maksimal dam akibatnya ruang perpustakaan kurang nyaman, kurangnya kunjungan untuk pemanfaatan perpustakaan dan koleksi sekolah. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan upaya guru untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa masih banyak kendala yang ditemui antara lain perpustakaan sekolah belum secara maksimal dimanfaatkan dikarenakan jumlah koleksi buku di perpustakaan sekolah sangat terbatas, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan dalam proses belajar, minimnya manajemen sumber daya yang mengelola perpustakaan sekolah (Umari, 2021). Buku yang ada tidak ditata dengan sebaik-baiknya, sehinga siswa mengalami kesulitan dalam mencari buku yang dibutuhkan (Febriani, 2014). Kurangnya fasilitas pendukung sehingga siswa kurang menarik untuk mengunjungi perpustakaan sekolah (Fauzi et al., 2022). Berdasarkan hasil beberapa penelitian sebelumnya yang membedakan dari penelitian sebelumnya adalah berfokus pada upaya guru pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Hasil penelitian ini dapat digunakan kepala sekolah sebagai dasar kebijakan mengembangkan perpustakaan, supaya dapat berpengaruh pada peningkatan angka partisipasi guru dan peserta didik untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah. Selanjutnya juga berdampak kepada peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar, dapat mendorong sekolah supaya lebih maju dan berkembang, sehingga dapat membantu pemerintah untuk tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Undangundang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (Bagyoastuti et al., 2016). B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Guru/Pendidik Istilah guru/pendidik dapat juga diartikan dalam tiga bahasa besar di dunia yaitu dalam bahasa Jawa, Arab, dan Inggris yang makna tersebut juga menjelaskan sesuai dengan istilahnya. Menurut pemahaman bahasa dalam budaya Jawa istilah guru itu di pahami sebagai digugu lan ditiru yang mempunyai makna bahwa seorang guru atau pendidik itu harus selalu dapat ditiru dan dicontoh (Egok, 2019). Pengertian lain menurut bahasa Arab seorang guru sering di sebut sebagai mu'alim, artinya orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang berbagai hal yang diajarkan kepada murid, sedangkan dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai teacher yang mempunyai makna sederhana yaitu a person occupation is teaching other” yang memiliki makna bahwa seseorang yang berlatar belakang pekerjaan mengajar orang lain (Sugiarti, 2018). Seorang guru/pendidik merupakan semua orang yang mempunyai wewenang dan tanggungjawab untuk melakukan kegiatan pendidikan bagi para peserta didik untuk membimbing dan membinanya, sehingga menjadi manusia baik secara individual maupun sosial baik itu di rumah, di luar lingkungan rumah, di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah (Jamin, 2018). Seorang guru atau tenaga pendidik itu merupakan seseorang yang memiliki jabatan atau profesi, yang untuk keperluan itu memerlukan keahlian khusus yang tidak semua orang memiliki, dengan kata lain bahwa profesi ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang yang tidak memiliki keahlian sebagai seorang guru atau pendidik (Bergmark et al., 2018). Menjadi seorang guru atau tenaga pendidik yang profesional memerlukan syarat-syarat yang telah ditentukan. Syarat-syarat tersebut diantaranya memiliki pengetahuan tentang segala hal terutama pada bidang pendidikan, dalam proses belajar mengajar menguasai ilmu pengetahuan yang akan diajarkannya, serta bersedia dilakukan pembinaan untuk pengembangan diri (Nurhidah & Musa, 2016). Salah satunya melalui suatu proses pendidikan profesi guru atau pra jabatan yang dilaksanakan oleh lembaga tertentu yang ditunjuk resmi oleh pemerintah. Berdasarkan penjelasan maka dapat dikatakan bahwa guru atau tenaga pendidik adalah orang yang telah mempunyai kemampuan khusus yang digunakan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain atau peserta didik. Selain itu juga mempunyai tanggungjawab atas proses pendidikan orang lain atau peserta didik baik dikelas ataupun diluar kelas, baik disekolah maupun diluar sekolah. Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam menunjang keberhasilan kegiatan belajar dan mengajar di kelas (Rohmawati, 2015). Supaya keberhasilan dalam setiap kegiatan belajar mengajar terus dapat ditingkatkan kualitasnya maka seorang guru harus berusaha semakimal mungkin, dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar di sekolah yang salah satunya adalah dengan memfaatkan perpustakaan sekolah. Seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dengan berkreasi, berinovasi dan mendesain kegiatan pembelajarannya di luar kelas yang berbeda dari hari-hari biasanya memanfaatkan Perpustakaan Sekolah (Musbahaeri, 2019) Tugas, wewenang dan fungsi seorang guru atau tenaga pendidik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dan saling melengkapi satu dengan lainnya, akan tetapi tugas, wewenang dan fungsi tersebut terkadang masih disamakan dengan peran. Berdasarkan UndangUndang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka peran guru adalah sebagai seorang pendidik, pengajar, pembimbing, pengajaran, pelatih, penilai dan pengevaluasi dari para peserta didik. Berdasarkan keenam peran fungsi dan wewenang yang telah tercantum dalam undang-undang tersebut maka secara umum seorang guru memiliki peran yang sangat strategis untuk dapat membentuk generasi yang sesuai dengan tujuan khusus pendidikan nasional dan tujuan umum berupa tujuan bangsa Indonesia. Selain hal tersebut yang juga bisa diberikan oleh seorang guru dalam hal lainnya adalah memberikan kontribusi dalam membentuk generasi yang literate yang disampaikan lewat kemampuan dan fungsi tersebut. 2. Pendidikan Agama Islam Sebagaimana yang telah tercantum di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dapat dipahami bahwa pendidikan agama merupakan pendidikan yang bisa membentuk kepada setiap diri peserta didik/siswa supaya mempunyai sikap, kepribadian kemandirian dan mempunyai keterampilan untuk selalu mengamalkan perintah ajaran agama dalam kegiatan seharihari, melalui semua mata pelajaran/perkuliahan yang ada pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan Agama Islam merupakan sebuah usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk memberikan arahan dan asuhan kepada peserta didik/siswa yang bertujuan untuk memahami ajaran agama Islam semuanya (kaffah). Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk menyiapkan para peserta didik/siswa untuk mengenal menghayati, mengimani, memahami, bertaqwa, berakhlaq mulia sehingga bisa mengamalkan ajaran agama Islam sesuai dengan kitab suci Al-Qur'an dan Hadist (Jasuri, 2015). Selain itu sebagaimana yang terdapat di dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang terdapat pada pasal 37 ayat (1) menyebutkan bahwa pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk setiap diri peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlaq mulia. Pengertian Pendidikan Agama Islam berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 211 Tahun 2011 disebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran Agama Islam, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan. Untuk memperkuat dan mendukung Keputusan Menteri Agama tersebut agar bisa terealisasi maka pemerintah juga mengembangkan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari upaya memperdalam Standar Nasional pendidikan yang ditetapkan BSNP. Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta berakhlaq mulai di dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Menciptakan sebuah kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang tenteram, aman damai, adil, dan sejahtera juga sangat diperlukan peran dan fungsi Pendidikan Agama Islam (Anwar, 2016) . Peran lainnya adalah membimbing setiap insan manusia untuk menurut sesuai bimbingan wahyu dari Allah SWT dan contoh nabi Muhammad SAW, sehingga terbentuk kompetensi sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan peran tersebuh diharapkan dapat menumbuhkan semangat untuk terus belajar, berlatih dan beraktualisasi dengan segala potensi yang dimiliki dirinya sendiri. Untuk menjadi profil yang telah digambarkan oleh Allah SWT sebagai sosok ulil albab, yaitu yang dalam bahasa keseharian kita pahami sebagai manusia muslim paripurna, yaitu manusia yang beriman, berilmu dan memiliki semangat beramal sholeh sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Mengingat pentingnya pendidikan Agama harus ditanamkan sejak usia dini, kanak-kanak, remaja bahkan sampai dewasa atau dalam istilah lain disebut dengan pendidikan sepanjang hayat (long live education. Dari penjelasan tersebut mempunyai pengertian bahwa proses sebuah pendidikan itu adalah sepanjang hidup baik secara langsung maupun tidak lagsung. 3. Sumber Belajar Sumber belajar dapat diartikan sebagai cara menyajikan dan menyimpan sebuah informasi yang diwujudkan dalam bentuk media yang dapat dipergunakan oleh para peserta didik untuk membantu memahami sebuah pelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan (Majid, 2020). Media atau sumber belajar tersebut dapat berupa cetakan, video, format perangkat lunak atau model sumber belajar lainnya yang dapat diambil manfaatnya oleh guru/tenaga pendidik dan peserta didik guna menunjang kegiatan belajar dan mengajar. Sumber belajar adalah segala hal yang meliputi semua sumber, baik dalam bentuk datadata seseorang atau benda yang dapat dimanfaatkan oleh para peserta didik dan guru untuk membantu memahami pelajaran sekolah. Dengan demikian secara umum dapat disimpulkan bahwa sumber belajar adalah semua sebuah tempat atau lingkungan sekitar yang berupa benda dan juga orang yang mengandung informasi yang dapat dipergunakan peserta didik untuk membantu memahami suatu pelajaran. Sumber belajar yang ada pada semua mata pelajaran di sekolah berkedudukan sangat penting dalam memperlancar kegiatan pembelajaran, sehingga diharapkan sekolah menyediakan atau menambah koleksi buku atau sumber lainnya yang berkaitan dengan pendidikan Agama Islam (Elihami & Syahid, 2018). Menurut Association for Education Communication Technology (AECT) dalam bukunya yang berjudul ”the definition of education technology” mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6 macam, yaitu: bahan (material/software), alat (device), pesan (message), orang (people), lingkungan (setting) dan teknik (technique). Pesan merupakan sebuah kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh seseorang guru yang pesannya dapat ditangkap oleh peserta didik, antara lain: ide, data fakta, nilai dan ajaran (Sanjaya, 2015) . Implementasi dari pengertian ini adalah melalui pesan ini siswa dapat memahami mata pelajaran di sekolah dengan sebaik-baiknya. Orang adalah seseorang atau manusia yang mempunyai peran dalam sebuah kegiatan belajar mengajar sebagai penyajian pesan, pencari, penyimpan, pengolahan dan memberikan contoh. Selanjutnya yang bisa menyampaikan melalui sumber belajar adalah orang yang dapat atau sering kita sebut sebagai guru, dosen, tutor, pustakawan, laboran, instruktur, widyaswara, pelatih olahraga, tenaga ahli, peneliti dan lain sebagainya dan termasuk salah satunya para peserta didik itu sendiri. 4. Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah Kata pemanfaatan diambil dari kata “manfaat” dengan makna yang dapat diterjemahkan sebagai semua hal yang menuju kepada pemakaian/penggunaan atau dengan kata lain memperoleh segala sesuatu hal yang memberikan manfaat dan dapat digunakan secara tidak langsung ataupun secara langsung (Setiawan, 2019). Kata pemanfaatan juga dapat diartikan bahwa manfaat merupakan suatu harapan sama yang mempunyai arti dengan explore yaitu semata-mata menunjukkan suatu kegiatan yang menerima. Kemudian kata pemanfaatan ini jika dihubungkan dengan program penelitian ini dapat diartikan menggunakan atau memakai sesuatu yang berguna dalam hal ini adalah perpustakaan sekolah, yang secara umum dapat dimanfaatkan sebagai proses kegiatan belajar dan mengajar di sekolah untuk menyampaikan pesan atau informasi dari tenaga pendidik/guru kepada para peserta didik. Dengan diambilnya manfaat dari perpustakaan sekolah diharapkan juga para peserta didik mau untuk membaca loleksi buku umum maupun yang terkait dengan mata pelajaran agama Islam, sehingga para siswa dapat tahu wawasan dan informasi yang baru baik yang terkait dengan pelajaran sekolah maupun wawasan dan ilmu pengetahuan yang lainnya (Dennis, 2016) . Pengertian dari perpustakaan atau library yaitu ruangan atau bagian dari sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan berbagai koleksi buku bacaan antara lain buku, majalah, kitab atau terbitan lainnya biasanya dikoleksi sesuai dengan tatanan dan susunan sehingga dapat dipergunakan oleh para pembaca dan juga tidak diperjual belikan. Pengertian definitif yang dimaksud dengan perpustakaan sekolah adalah sebuah perpustakaan yang berkedudukan di sebuah lembaga pendidikan yang merupakan bagian integral dari sekolah yang dapat digunakan sebagai sumber belajar yang mempunyai tujuan akhir yaitu dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah tersebut (Fadhli et al., 2021). Pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar sangat penting dalam proses belajar dan mengajar (Iyok, 2021). Keberadaan perpustakaan sekolah terutama di sekolah negeri merupakan usaha dari pihak pemerintah dan sekolah untuk terus berupaya memelihara dan meningkatkan efesiensi dan efektivitas proses kegiatan belajar dan mengajar di sekolah yang dilaksanakan di luar kelas yang terorganisir secara baik dan sistematis (Eskha, 2018). Nurlidiawati (2014) menjelaskan bahwa perpustakaan merupakan bagian sistem resmi yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat terutama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan keberadaan perpustakaan juga seiring dengan kemajuan peradaban masyarakat itu sendiri. Menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa perpustakaan merupakan sebuah institusi pengelola karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi. Bagi para pemustaka semua lembaga pendidikan di berbagai jenjang pendidikan baik sekolah ataupun madrasah di dalam mengelola sebuah perpustakaan yang ideal sudah ada standarisasi pedoman atau petunjuk teknisnya yaitu merujuk kepada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perpustakaan merupakan jenis sumber belajar di sekolah yang dirancang dan didesain secara khusus agar dapat dipergunakan sebagai bahan penunjang belajar, sebagai wadah dari berbagai macam sumber disiplin ilmu pengetahuan (Mangnga, 2015). Perpustakaan merupakan satu badan/lembaga/unit yang di bentuk oleh kepala sekolah yang bertujuan untuk mengelola berbagai macam jenis bahan pustaka baik dalam bentuk buku-buku atapun bukan berupa buku (non book material) yang dikelola tersistematis dengan pedoman pengelolaan tertentu, sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan sumber informasi bagi siapa saja yang menggunakannya baik siswa maupun tenaga pendidik (Audah, 2020) Perpustakaan juga dapat dipergunakan sebagai media untuk memajukan kehidupan dalam bidang pendidikan dengan kegiatan-kegiatan yang mencerdaskan bagi para peserta didik. Kondisi perpustakaan saat ini berbeda dengan perpustakaan 20 tahun yang lalu, di mana saat sekarang ini perpustakaan juga berkembang sesuai dengan perkembagan zaman yaitu koleksi berupa rekaman dan digital. Koleksi perpustakaan yang berupa buku-buku dan rekaman digital harus ditata dengan rapi di rak atau tempat lainnya yang sudah ditentukan di dalam ruangan tersebut selanjutnya diharapkan menjadi daya tarik para siswa untuk mengunjunginya untuk memanfaatkan perpustakaan. Dalam belajar berdasarkan sumber memiliki identitas tertentu antara lain; dapat memanfaatkan dengan maksimal segala sumber informasi sebagai sumber kegiatan belajar mengajar dan juga mempertimbangkan sumber-sumber lain yang tersedia di sekitarnya ( Djamaluddin & Wardana, 2019) . Guru/pendidik terus memberikan pengertian kepada para peserta didik bahwa banyak hal jenis-jenis sumber informasi yang dapat di pergunakan untuk belajar. Jumlah banyak sedikitnya atau sering tidaknya pengunjung baik yang dilakukan oleh guru atau siswa ke perpustakaan dapat dijadikan satu indikator tercapainya pemanfaatan perpustakaan sekolah, selain itu juga dapat dilihat dari frekuensi kunjungan tersebut dengan jumlah buku yang telah dibaca (Handayani, 2022). Terdapat alasan-alasan yang mendorong tingginya kunjungan ke perpustakaan sekolah antara lain adanya kebutuhan mencari literatur atau referensi yang berhubungan dengan pelajaran sekolah, adanya perintah atau tugas, rekreasi dan keinginan yang kuat untuk mencari informasi ilmu pengetahuan (Nursahputri, 2015). Koleksi yang harus ada di perpustakaan sekolah antara lain : buku, koleksi referensi, sumber geografi, jenis serial (terbitan berkala), bahan mikro (ebook) dan bahan pandang (Kalsum, 2016). Dari jenis koleksi di perpustakaan tersebut yang harus ada dan jumlahnya paling besar adalah buku. Buku merupakan jenis koleksi yang paling banyak dikoleksi oleh sebuah perpustakaan baik dalam bentuk book manual atau e-book (Afrizal, 2019). Buku marupakan karya tulis dan/atau karya gambar yang diterbitkan berupa cetakan berjilid atau berupa publikasi elektronik yang diterbitkan secara tidak berkala yang menjelaskan tentang suatu informasi tertentu secara tertulis. Jumlah isi bukunya minimal 49 halaman (tidak termasuk halaman sampul) dan diterbitkan oleh lembaga penerbit, serta terdapat pengarangnya atau penulisnya yang akan bertanggungjawab terhadap isi kandungan dalam buku tersebut (Nabawi, et al., 2022). Beberapa jenis buku antara lain 1). Buku teks (buku wajib), yaitu buku yang dikeluarkan oleh pemerintah yang wajib digunakan di sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan, 2). Buku penunjang, merupakan buku hasil pengayaan yang telah mendapat rekomendasi dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan setempat untuk digunakan di sekolah-sekolah, 3). Buku fiksi dan buku bergambar, buku ini bertujuan untuk merangsang ingin tau dan mengembangkan imajinasi para peserta didik dan 4). Buku populer (buku umum) merupakan buku yang isinya tentang ilmu pengetahuan umum atau populer (Syam et al., 2021. Guru berusaha membuat para peserta didik untuk selalu aktif dalam setiap proses pembelajaran dan berkeinginan kuat untuk merubah siswa pasif menjadi siswa yang aktif. Guru senantiasa berusaha untuk memotivasi para siswa dengan memberikan alternativ media atau sumber belajar yang selama ini belum pernah diterapkan yang terdiri dari metode kerja, cara berkomunikasi sehingga para siswa dapat memahami apa yang di sampaikan oleh guru meskipun dengan hal-hal yang sama dengan cara yang sama pula. Seorang guru memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk belajar sesuai dengan kesanggupannya dan juga tidak ada pemaksaan dalam proses belajarnya. Seorang guru dapat memanfaatkan waktunya secara flexible dalam menggunakan waktu untuk belajar di ruang tersebut dan seorang guru juga harus berusaha untuk membangun kepercayaan diri para seserta didik untuk memahami bahwa pendidikan atau proses belajar itu dilakukan sepanjang hayat (Mukmin, 2018) . Seperti yang dicantumkan pada gambar 1, untuk memaksimalkan pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), upaya yang dilakukan guru adalah dengan meningkatkan: keterampilan memanfaatkan perpustakaan, frekuensi/intensitas kunjungan, koleksi jenis buku yang dapat dimanfaatkan dan fasilitas perpustakaan sekolah.

Method

Metode penelitian yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan cara mengeksplorasi semua masalah yang ditemukan dan selanjutnya mengembangkan ke dalam pemahaman terperinci terhadap fenomena dalam situasi sosial tertentu. Penggalian data terjun langsung ke lokasi penelitian yang bertujuan untuk mempelajari situasi dengan cara mengamati, membaca, mencatat, memahami, bertanya, dan menggali sumber yang sangat berkaitan dengan fenomena yang ada dilapangan. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus (Hardani, et al., 2020). Peneliti memilih jenis ini karena mempunyai karakteristik tertentu dengan menekankan pada inquiri empiris, yaitu peneliti melakukan penyelidikan terhadap fenomenafenomena yang terjadi di dalam konteks kehidupan yang sebenarnya, pada saat batasbatas antara fenomena-fenomena dan konteks tidak tampak tegas. Penelitian ini mengangkat keunikan peran guru Pendidikan Agama Islam memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar, sehingga memilih Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo sebagai subyek penelitian. Sedangkan obyek penelitian adalah perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo. Peneliti melakukan pemilihan informan secara sengaja, yang kemudian didasarkan kepada lokasi penelitian dan orang yang terlibat langsung dalam objek penelitian. Penelitian ini mendiskripsikan peran dan layanan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo. Informan yang bertindak sebagai sampel adalah kepala sekolah selaku pimpinan tertinggi di sekolah, pustakawan yang merupakan pengelola perpustakaan, dan guru pendidikan agama Islam. Orang-orang tersebut dipilih karena mengetahui dan terlibat langsung dalam layanan interaktif pada obyek penelitian (di perpustakaan) dan juga dinilai dapat untuk memberikan informasi yang sebenar-benarnya. Pustakawan sekolah melakukan penelusuran informasi yang dibutuhkan peneliti, guru merupakan partner peneliti yang memahami kebutuhan akan bahan bacaan yang dibutuhkan siswa di dalam kegiatan pembelajaran, dan siswa merupakan objek yang memanfaatkan layanan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo. Pengambilan data untuk penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22-31 Agustus 2022, sedangkan teknik pengumpulan data dengan cara observasi mencakup pengamatan kegiatan interaktif yang dilakukan oleh pustakawan dan guru. Pendekatan wawancara menggunakan one-one interview. Proses pengumpulan data yang dilakukan oleh tim peneliti adalah dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan kepada seorang informan satu per satu yang telah ditentukan dan mencatat atau merekam jawabannya. Uji validitas menggunakan triangulasi untuk mengecek validasi kebenaran data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu. Triangulasi yang dilakukan di dalam penelitian ini menggunakan jenis triangulasi sumber, waktu dan teknis analisis data. Teknik dalam memulai penelitian kualitatif dengan pengumpulan data yang selanjutnya dikelola dengan baik menggunakan data teks hasil transkrip wawancara, atau data gambar seperti foto (Alfansur & Mariyani, 2020). Data yang diperoleh kemudian direduksi dalam bentuk ringkasan materi supaya dapat mudah dipahami, sehingga proses terakhir adalah dengan menyajikan data dalam bentuk tabel, bagan atau pembahasan berupa uraian diskriptif metode atau cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada bagian ini juga disampaikan data dalam bentuk diagram alir penelitian untuk memudahkan pemahaman, yang selanjutnya akan dikerjakan selama kurun waktu tertentu yang diusulkan, kemudian juga pada bagan penelitian ini harus dibuat secara menyeluruh tidak terpotong-potong dengan alur penahapan yang jelas. Semua tahapan yang dilakukan ini untuk mencapai luaran beserta indikator capaian yang telah ditargetkan. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah yang digunakan oleh seorang tenaga pendidik/guru di sekolah seharusnya mampu meningkatkan usaha untuk memanfaatkannya secara maksimal, sehingga dapat meningkatkan hasil proses belajar dan mengajar di sekolah. Untuk mempermudah memahami kerangka penelitian akan disajikan diagram alur pemanfaatan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo sebagai sumber belajar pada setiap mata pelajaran di sekolah seperti gambar 2.

Result & Discussion

Peran Perpustakaan sebagai Sumber Belajar Keberadaan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo juga tidak bisa lepas dari sejarah berdirinya dan sekolah. Perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo sampai dengan saat ini terus mengalami perkembangan baik dari dari fasilitas fisik bangunan sekolah seperti ruang kelas, perkantoran maupun gedung perpustakaan yang sudah sangat representatif. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan 1, menyebutkan bahwa : “SDN Tosanan adalah salah satu sekolah dasar negeri di Kecamatan Kauman. Sekolah ini berdiri pada tahun 1982. Salah satu fasilitas yang ada di Sekolah Dasar Negeri Tosanan dengan bentuk bangunan paling terbarui yaitu ruang perpustakaan. Perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan ini mulai dibangun kurang lebih pada tahun 2000-an. Perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan sejak dibangun sudah direnovasi sekali pada awal tahun 2019 dan selesai dibangun pada tahun 2020.” - , Yanto, 2022 . Perpustakaan sekolah merupakan sebuah institusi pengelola karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, hal ini sesuai dengan perannya perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo berdasarkan hasil wawancara dengan informan 2, bahwa: “Perpustakaan digunakan sebagai tempat untuk membaca buku, menyimpan arsip buku paket pelajaran siswa, tempat menyimpan buku-buku bacaan dengan berbagai jenis seperti fiksi, non-fiksi, ensiklopedia, dll. Perrpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan pernah mendapat hibah buku terakhir pada tahun 2015 oleh dinas perpustakaan dan pengarsipan kabupaten Ponorogo.” - Nur, 2022 Setiap satuan pendidikan dapat menyiapkan segala sarana dan prasarana yang ada untuk mendukung sebuah layanan lembaga pendidikan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan potensi seluruh peserta didik baik dari sisi fisik, kecerdasan, intektual, sosial, ekonomi, emosional dan kejiwannya salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Hal ini juga telah dilakukan oleh Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo, terus berupaya untuk meningkatkan fasiltas atau sarana dan prasarana perpustakaan sekolah terutama koleksi bukubuku sebagaimana hasil wawancara dengan informan 2 berikut: “Sampai saat ini jumlah buku di ruang perpustakaan Sekolah Dasar Negeri Tosanan kurang lebih berjumlah 5000 buku dengan kurang lebih sejumlah 4000 buku adalah buku baru.” – Nur, 2022 Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah Supaya guru dapat meningkatkan semangat para peserta didik dan harapannya bisa berpengaruh untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI, maka upaya yang harus dilakukan Guru PAI adalah sebagai berikut : a. Meningkatkan keterampilan menyerap informasi dan menganalisanya Perpustakaan merupakan sebuah tempat disediakan khusus oleh sekolah dengan dilengkapi berbagai sarana pendukung sebagai tempat untuk menyimpan koleksi buku yang disusun dengan metode tertentu, sehingga dapat mempermudah peserta didik atau tenaga pendidik untuk membaca, meminjam, mempelajari buku sehingga dapat dijadikan sumber belajar, sumber rujukan atau referensi untuk meningkatkan ilmu pengetahuan bagi yang memerlukannya. Hal ini sudah sesuai dengan yang telah dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo, berdasarkan hasil wawancara dengan informan 1 berikut ini : “Pengembangan dan monitoring perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan terus dilakukan oleh pihak sekolah. Perpustakaan ini juga digunakan sebagai salah satu sumber belajar siswa dan dimanfaatkan guru sebagai salah satu sumber dalam menyampaikan pelajaran. Salah satu guru yang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar adalah guru mata pelajaran PAI.” – Yono, 2022 b. Intensitas kunjungan Terdapat alasan-alasan yang mendorong tingginya kunjungan ke perpustakaan sekolah antara lain adanya kebutuhan mencari literatur atau referensi yang berhubungan dengan pelajaran sekolah, adanya perintah atau tugas, rekreasi dan keinginan yang kuat untuk mencari informasi ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan hal tersebut maka upaya untuk meningkatkan intensitas kunjungan ke perpustakaan sudah diupayakan, sebagimana hasil wawancara dengan informan 1, sebagai berikut : “Kepala sekolah menyarankan kepada guru pengampu pelajaran untuk sering mengajak siswa ke perpustakaan untuk membaca buku yang mendukung pembelajaran agar perpustakaan bisa digunakan sebagai sumber belajar bagi siswa.” Yono, 2022 Dari hal-hal yang telah disampaikan di atas baik dari para ahli maupun dari sekolah, dapat disimpulkan bahwa kunjungan ke perpsutakaan merupakan wujud nyata dari fungsi pemanfaatan perpustakaan sekolah yaitu sebagai penyedia bahan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. c. Jenis buku dan pemanfaatannya Kondisi koleksi buku yang ada di Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo dapat dijelaskan sebagaimana wawancara dengan informan 2 sebagai berikut : ”Namun sayangnya jumlah buku penunjang pembelajaran di perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan masih kurang utamanya untuk buku PAI/Agama. Hal ini karena dominasi jenis buku yang ada di perpustakaan adalah buku cerita fiksi. Hal ini menjadi salah satu hal yang disorot oleh kepala sekolah di Sekolah Dasar Negeri Tosanan dimana ia berharap perpustakaan dapat dijadikan sebagai pusat untuk meningkatkan semangat membaca siswa dan meningkatkan literasi siswa.” - Nur, 2022 Dengan semakin banyaknya buku koleksi yang ada di perpustakaan, keberadaan penyusun buku atau yang sekarang disebut sebagai seorang pustakawan perlu untuk di perhatikan. Kebijakan strategis baik dari Dinas Pendidikan setempat ataupun dari kepala sekolah sangat ditunggu terkait dengan pengembangan Sumber Daya Manusia terutama dari sisi pendidikan, kesejahteraan dan tenaga khusus yang ditugasi untuk mengelolanya. Jika hal ini sudah terselesaikan, maka akan mempermudah proses pencarian buku yang ada di perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian penyusunan koleksi buku tertata dengan rapi, dan dapat terlihat indah sehingga dapat menimbulkan kesan nyaman dan pada akhirnya buku-buku koleksi akan terawat dan terjaga keawetannya. Idealnya sebuah perpustakaan sekolah minimal dapat dikelola sebagaimana penjelasan tersebut di atas. Jika teori dan penjelasan tersebut kita sesuaikan dengan kondisi yang ada di perpustakaan Sekolah Dasar Negeri Tosanan Ponorogo maka masih banyak hal yang harus diperbaiki. Adapun suasana saat ini di perpustakaan dapat dilihat dalam hasil wawancara dengan informan 1 sebagai berikut: “Hal lain yang menjadi kekurangan dari perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan ini yaitu tidak adanya pengelola perpustakaan sehingga perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan belum terkelola dengan baik. Sampai saat ini, perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Tosanan dikelola oleh guru kelas secara bergantian. Ini menjadi salah satu keprihatinan karena fasilitas dan koleksi buku yang ada di perpustakaan Sekolah Dasar Negeri Tosanan sudah memadai namun tidak bisa digunakan dengan maksimal oleh siswa karena tidak adanya pengelola perpustakaan.” - Yono, 2022 d. Fasilitas dan pemanfaatannya Para peserta didik dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah secara tidak langsung akan mendidik mereka secara mandiri untuk mencari ilmu pengetahuan melalui bahan kepustakaan yang ada yaitu buku-buku. Selain itu juga memberikan pemahaman bahwa guru bukanlah menjadi satu satunya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang diperlukan. Hal yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri Tosanan berdasarkan hasil wawancara dengan informan 2 berikut : “Hal ini karena jika sumber belajar yang digunakan siswa tidak hanya buku paket saja tentu akan menambah wawasan ilmu bagi siswa. Untuk kedepannya, berharap pemerintah dapat melihat bagaimana kondisi perpustakaan yang ada di sekolah dasar karena hampir dari seluruh Sekolah Dasar tidak memiliki pengelola perpustakaan sehingga perpustakaan tidak bisa digunakan secara maksimal oleh guru ataupun siswa sebagai sumber belajar.” – Nur, 2022 Untuk memaksimalkan manfaat perpustakaan sebagai sumber belajar, semua yang terlibat dalam proses belajar mengajar di sekolah baik itu peserta didik, guru, pustakawan sekolah di tuntut untuk bersama-sama menciptakan suasana belajar yang dapat merancang minat baca peserta didik. Adapun bentuk kegiatannya antara lain : menyediakan buku-buku bacaan yang menarik, memberikan dukungan kepada siswa untuk menguasai materi pelajaran, serta melatih peserta didik untuk mengunjungi perpustakaan untuk dapat menelusuri bahan kepustakaan (bukubuku) dan membacanya secara efektif. Dari penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa seorang guru terutama Guru Pendidikan Agama Islam, agar dapat memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar yang dapat berdampak pada keberhasilan pembelajaran adalah dengan meningkatkan kegemaran/keterampilan peserta didik untuk gemar membaca. Menelusuri dan menyerap informasi dengan meningkatkan intensitas kunjungan ke perpustakaan, mengembangkan minat dan penguasaan terhadap suatu ilmu pengetahuan serta merangsang peserta didik untuk meningkatkan rasa ingin tahunya dan memupuk kepercayaan diri dan kemadirian dalam belajar siswa. Penelitian yang pernah dilakukan yang berjudul “Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar Bahasa Indonesia di SD Negeri Krandon 1 Tegal”. Hasil dari penelitian ini bahwa perpustakaan di SD Negeri Krandon 1 Tegal sangat baik dalam menunjang pembelajaran Bahasa Indonesia, dari segi sarana dan prasarana sudah memenuhi standar perpustakaan hanya ada beberapa sarana yang kurang lengkap (Mulyati, Sari, Asriyani, Ridlo, & Saputri, 2020). Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Lia Yuliana yang berjudul “Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah oleh Guru pada Masa Pembelajaran Daring” menunjukkan bahwa pada aspek pemanfaatan sarana perpustakaan, guru menggunakan koleksi perpustakaan sebagai sumber informasi utama, pendukung dan rekreatif. Selain itu guru juga memanfaatkan bahan ajar lain dan alat peraga yang dimiliki perpustakaan untuk mendukung proses pembelajaran daring. Sedangkan layanan sirkulasi dan layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi layanan yang paling banyak dimanfaatkan oleh guru saat pembelajaran daring (Yuliana & Nurhasanah, 2021) Hasil penelitian lainnya yang berjudul “ Analisis Pemanfaatan Perpustakaan sebagai Sarana Menumbuhkan Minat Baca Siswa di SDN Gemarang 7” menunjukkan bahwa upaya pemanfaatan perpustakaan sebagai sarana minat baca di SD Negeri Gemarang 7 sudah berjalan dengan baik, walapun masih terdapat beberapa faktor yang menghambat kurangya minat membaca siswa, dari faktor siswanya sendiri dan dari faktor lingkungan, keluarga. Untuk faktor siswa, kurangya motivasi siswa untuk minat baca sedangkan dari faktor lingkungan pengaruh dari teman, dan kurangnya motivasi dari keluarga di rumah. Namun pihak sekolah selalu berupaya untuk menumbuhkan minat baca siswa agar selalu menjadi kebiasaan positif dan terbawa sampai dewasa nanti (Bakti, Susanto, & Supriyanto, 2022).

Conclusion

Upaya guru Pendidikan Agama Islam memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar adalah dengan meningkatkan keterampilan guru dalam menyerap informasi, selanjutnya menganalisanya dan itu merupakan salah satu bagian dari keberhasilan dalam memanfaatkan perpustakan sekolah. Untuk mendukung hal tersebut perpustakaan sekolah juga menyediakan buku bahan yang tercetak ataupun media lainnya sebagai bahan informasi, sehingga perpustakaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh para siswa dan guru di Sekolah, sesuai dengan kebutuhannya terutama untuk memenuhi tugas sekolah. Kemudian upaya guru lainnya adalah dengan meningkatkan intensitas kunjungan ke perpustakan sekolah secara berkala dengan terjadwal atau ada tugas kunjungan yang dilakukan oleh siswa ke perpustakaan dan ini juga merupakan indikator dari keberhasilan perpustakaan sebagai sumber belajar. Upaya guru selanjutnya dengan meningkatkan pemanfaatan perpustakaan dengan menambah jumlah koleksi buku seperti buku teks, buku penunjang, buku jenis fiksi, buku cerita bergambar terutama buku-buku yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam (PAI) sesuai dengan kebutuhan. Jika diibaratkan sebuah warung maka, buku merupakan menu utama yang tersaji di perpustakaan sekolah, yang selalu dicari untuk dibaca dan atau dipinjam. Upaya yang terakhir yang dilakukan oleh guru adalah meningkatkan fasilitas sarana prasarana perpustakaan yang memadai serta dukungan sumber daya manusia (SDM) khusus sebagai pengelolaan perpustakaan sekolah yang berkoordinasi dengan pengelola perpustakaan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan tidak terbatas pada guru Pendidikan Agama Islam saja tetapi pada guru mata pelajaran lain, metode penelitian, memperbanyak studi literatur, informan, dan ketelitiannya dalam memperolah data-data yang dibutuhkan.