Peran perpustakaan sekolah dalam mendukung pembelajaran kolaboratif
Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin
Abstrak
Pendahuluan. Perpustakaan sebagai pusat sumber daya intelektual dan informasi memiliki potensi untuk menjadi lingkungan pendidikan yang mendukung pembelajaran kolaboratif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaboratif. Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Lokasi penelitian adalah tiga perpustakaan sekolah menengah atas di Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu: Sekolah A, Sekolah B, dan Sekolah C. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis menggunakan model interaktif Miles and Huberman. Hasil dan Pembahasan. Perpustakaan sekolah sudah mendukung terlaksananya pembelajaran kolaboratif. Perpustakaan menyediakan area dan fasilitas bagi yang ingin mengerjakan tugas atau melakukan aktivitas bersama. Namun kuantitasnya masih terbatas sehingga tidak banyak yang bisa memanfaatkannya. Komputer yang tersedia sedikit dan bandwith internet sangat kecil sehingga tidak mencukupi untuk melayani kebutuhan warga sekolah. Space yang ada kurang lebih sama dengan ruangan kelas, sangat tidak memadai untuk melayani kebutuhan banyak orang. Kesimpulan dan Saran. Peran perpustakaan dalam penelitian ini belum maksimal dalam memfasilitasi dan mendukung pembelajaran kolaboratif di sekolah. Perpustakaan dapat membuat perencanaan untuk memenuhi hal ini secara bertahap terutama dalam hal penyiapan sarana prasarana yang mendukung.
Abstract
Introduction. Libraries, as centers of intellectual resources and information, have the potential to become environments that support collaborative learning. This research aims to describe the role of the school libraries in supporting collaborative learning. Data collection methods. This study was qualitative approach with a descriptive method. The research was conducted in three high school libraries in South Kalimantan Province, namely: School A, School B, and School C. Data collection was carried out through interviews, observations, and documentation. The collected data were subsequently analyzed using the interactive model by Miles and Huberman. Results and Discussion. School libraries currently contribute to collaborative learning by providing spaces and facilities for group work and activities. However, it showed the limited quantity of resources, including computers and internet bandwidth so no all students can leverage optimally. The space is equivalent to a classroom, however, it is inadequate for a larger audience. Conclusion and suggestions. The role of the school libraries in this research has not been optimal in facilitating and supporting collaborative learning in the schools. The library can make plans to address this gradually, particularly in terms of preparing supporting infrastructure.
Keywords:
library role
· educational environment
· collaborative learning
Introduction
A. PENDAHULUAN Perpustakaan meluncurkan program library 4.0 dalam menghadapi era disrupsi (industri 4.0), sebagai upaya untuk tetap eksis mengikuti perkembangan (Noh, 2015). Banyak kajian dan tulisan yang dibuat tentang hal ini, terutama mengenai konsep arah dan strategi yang perlu dilakukan perpustakaan dan pustakawan (Rodin, 2019; Sari, 2019), namun belum mengenai implementasi program library 4.0 ini di lapangan '(Mochammad et.al., 2020). Noh menyebutkan dalam penelitiannya (2015) bahwasanya library 4.0 meliputi tentang Intelligent, Makerspace, Context-Aware Technology, Open Source, Big Data, Cloud Service, Augmented Reality, State-of-the-art Display, dan Librarian 4.0. Setidaknya ada dua arah pengembangan perpustakaan saat ini, yaitu: pertama, melibatkan perkembangan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) yang sangat cepat, dan kedua menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk pemustaka melakukan aktivitas sosial kemanusiaannya (inklusi sosial). Salah satu kata kunci library 4.0 yang disebutkan adalah tentang makerspace, yaitu penyediaan ruang yang memfasilitasi orangorang untuk menuangkan kreativitasnya dalam membuat karya, baik itu sendiri maupun kolaboratif bersama orang lain. Awalnya makerspace adanya di tempat-tempat umum tidak di perpustakaan. Namun perkembangan selanjutnya makerspace ini menjadi tren di perpustakaan (Mursyid, 2016). Hartono (2016) menegaskan bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai sarana prasarana fisik dalam sebuah institusi pendidikan, tetapi juga memiliki peran yang lebih luas sebagai sumber belajar (learning resources) yang mendukung proses pembelajaran. Selain itu, perpustakaan dianggap sebagai pusat pengetahuan dan informasi (knowledge and information centre), yang menyediakan akses terhadap beragam informasi, referensi, dan literatur untuk memenuhi kebutuhan akademis dan riset. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku semata, melainkan menjadi inti dari ekosistem pendidikan yang berfokus pada penyediaan dan penyebaran pengetahuan. Peran ganda ini menunjukkan pentingnya perpustakaan sebagai elemen kritis dalam mendukung pendidikan holistik dan pengembangan pengetahuan di lingkungan institusi. Di dunia pendidikan saat ini –apalagi saat dan pasca pandemi COVID-19– orang-orang menyadari dengan difasilitasi oleh Internet of Things (IoT), Big Data, Cloud Computing dll sangat dimungkinkan pembelajaran secara kolaboratif. Orang-orang dapat mempelajari sesuatu secara bersama-sama, saling membantu dan saling mengisi kekurangan dengan menambahkan apa yang menjadi kelebihannya. Pembelajaran kolaboratif adalah pendekatan pembelajaran yang mengedepankan kerja sama antara siswa, guru, dan sumber daya pendukung lainnya dalam proses pembelajaran (Lestari & Kurnia, 2023). Pembelajaran kolaboratif bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam, meningkatkan keterampilan sosial, dan mempersiapkan siswa untuk bekerja dalam lingkungan yang memerlukan kerja sama. Belajar dengan berkolaborasi sebenarnya sesuai dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Dengan pembelajaran kolaborasi, siswa-siswa dapat berkomunikasi, melakukan hubungan interpersonal, dan berbagi tanggung jawab dalam mengerjakan sesuatu. Siswa tidak hanya mendapatkan hasil teoritis akan tetapi juga pengalaman bersosialisasi dengan orang lain yang akan menjadi bekal dalam hidup di masyarakat. Keterampilan kolaborasi sebagai salah satu dari keterampilan abad 21 yang dirumuskan UNESCO yang dikenal dengan sebutan 4C, diantaranya communication, critical thinking, creativity, dan collaboration (Mursid et.al., 2023). UNESCO menyebutkan bahwa “collaborative learning is a relationship among learners that fosters positive interdependence, individual accountability, and interpersonal skills“. Jadi pembelajaran kolaborasi merupakan suatu hubungan antar siswa yang menumbuhkan sikap saling ketergantungan secara positif, menunjukan sikap tanggung jawab setiap individu dan keterampilan komunikasi interpersonal. Perpustakaan merupakan salah satu entitas pendukung yang memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran kolaboratif. Perpustakaan memiliki peran kunci dalam menyediakan sumber daya, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, dan memberikan dukungan staf yang terampil (Artana, 2019). Perpustakaan juga dapat menyediakan akses sumber daya informasi dan berkolaborasi dengan masyarakat sebagai suatu gerakan literasi untuk meningkatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan masyarakat dalam mewujudkan lifelong learning society (Lusiana et.al., 2023). Perpustakaan sekolah mempunyai modal yang sangat kuat untuk menjadi fasilitas yang mendorong para siswa menerapkan pembelajaran kolaborasi. Perkembangan perpustakaan saat ini mendorong penggunaan TIK dalam pengelolaan dan pelayanannya serta penyediaan tempat untuk inklusi sosial dalam program library 4.0. Setiap perpustakaan berupaya untuk memfasilitasi warga sekolah untuk berkegiatan di perpustakaan terlihat dari tersedianya tempat yang dapat digunakan untuk rapat, mengerjakan tugas kelompok, diskusi dsb. Sebagaimana perpustakaan sekolah lainnya, di Perpustakaan Sekolah A tersedia meja baca, baik menggunakan kursi dan juga lesehan untuk kerja kelompok. Demikian pula di Sekolah B dan Sekolah C menyediakan fasilitas untuk kerja kelompok tersebut. Tidak cuma siswa yang menggunakannya, bahkan guru-guru juga memanfaatkan perpustakaan untuk melaksanakan rapat dalam menghadapi even-even tertentu. Sebagaimana pengamatan penulis, guru-guru Sekolah B mengadakan rapat persiapan pesantren Ramadhan di perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya dapat menyediakan tempat, akan tetapi dapat pula menyediakan bahan sumber belajar pada kegiatan Pesantren Ramadhan yang akan dilaksanakan. Meskipun perpustakaan sekolah sudah berupaya untuk memfasilitasi kerja kelompok atau pembelajaran kolaboratif, namun bila dibandingkan saat ini di mana jumlah warga sekolah dengan ketersediaan sarana perpustakaan sekolah tidak seimbang, sehingga dapat diasumsikan penggunaannya kemungkin-an besar tidak maksimal. Di sisi lain, perpustakaan sekolah tetap harus berusaha agar dapat mendukung kegiatan-kegiatan yang bersifat kolaboratif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Penelitian mengenai peran perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran sudah banyak dilakukan, di antaranya oleh Khasiati (2021) yang menjelaskan bahwa perpustakaan sekolah mendukung melalui koleksinya sebanyak 44% memenuhi kurikulum dan layanan peminjaman yang dilaksanakan secara terbuka. Di samping itu yang disorot oleh Khasiati adalah tentang ruangan sempit perpustakaan, tempat penyimpanan koleksi tidak teratur, penerangan ruangan yang kurang terang, ruang perpustakaan juga tidak mempunyai ventilasi udara, menambah suasana perpustakaan semakin gelap dan prasarana yang ada di perpustakaan yaitu 2 buah rak buku besar, 2 buah rak buku kecil, 5 buah kursi baca, 1 buah lemari, 1 buah rak majalah, 1 buah meja dan kursi untuk petugas perpustakaan yang kurang memadai dalam penyelenggaraan kegiatan perpustakaan. Selain itu, penelitian yang dilakukan Setiawan et.al. (2023) dan Iztihana & Arfa (2020) mengemukakan betapa pentingnya peran pengelola perpustakaan dalam mendukung pembelajaran di sekolah. Walaupun demikian, penelitian khusus mengenai peran perpustakaan sekolah dalam mendukung pembelajaran kolaboratif belum penulis temukan. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini memberikan gambaran secara lebih jelas bagaimana peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaboratif di perpustakaan sekolah, sehingga dapat diketahui sejauh mana peran perpustakaan dan hal-hal apa yang bisa ditingkatkan oleh pengelola perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaborasi. Melalui penelitian ini diharapkan dapat dipahami sejauh mana peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaboratif, serta dapat diidentifikasi aspek-aspek yang dapat ditingkatkan oleh pengelola perpustakaan. Hal ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai efektivitas perpustakaan sebagai mitra utama dalam mendukung kolaborasi pembelajaran. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Peran perpustakaan sekolah Perpustakaan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan formal tingkat sekolah. Fungsi utamanya adalah menyediakan akses terhadap berbagai sumber bacaan, referensi, dan literatur pendidikan yang dapat membantu pengembangan pengetahuan dan keterampilan siswa. Dengan adanya perpustakaan, siswa dapat mengakses informasi lebih lanjut di luar materi pembelajaran kelas, mengembangkan minat baca, serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan literasi (Syam et.al., 2021). Perpustakaan sekolah selain sebagai tempat penyimpanan buku dan sumber belajar, juga seringkali menjadi pusat kegiatan pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler. Berbagai kegiatan seperti lomba membaca, klub buku, dan diskusi literasi dapat diadakan di perpustakaan untuk meningkatkan minat baca siswa dan membentuk kebiasaan literasi yang baik. Sekolah juga dapat mengajarkan siswa tentang pentingnya etika menggunakan sumber informasi, penelitian, dan pengembangan pemahaman kritis terhadap berbagai topik melalui perpustakaan. Perpustakaan sekolah bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan literasi bagi seluruh komunitas sekolah. Guru dapat memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber referensi tambahan untuk menyusun materi pembelajaran yang lebih bervariasi dan menarik. Guru dapat merancang metode pengajaran yang inovatif dan menginspirasi siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran melalui penyediaan akses kepada berbagai buku, jurnal, dan materi pembelajaran lainnya. Perpustakaan sekolah menjadi tempat yang strategis untuk mengembangkan keterampilan literasi dan penelitian bagi siswa. Mereka juga dapat menemukan buku-buku yang sesuai dengan minat pribadi mereka, yang dapat membantu meningkatkan motivasi belajar. Siswa dapat mengasah keterampilan membaca dan pemahaman, serta membangun fondasi pengetahuan yang lebih luas melalui kegiatan membaca di perpustakaan. Perpustakaan juga sering menjadi tempat diskusi dan kolaborasi antara siswa, membuka peluang bagi mereka untuk saling belajar dan berkembang bersama. Perpustakaan sekolah memiliki peran sentral dalam memperkaya pengalaman belajar siswa dan mendukung pengajaran yang berkualitas di lingkungan pendidikan (Huda, 2020). 2. Pembelajaran kolaboratif di sekolah Pendekatan pembelajaran kolaboratif menjadi semakin penting dalam konteks pendidikan modern, di mana kolaborasi dianggap sebagai keterampilan kunci untuk berhasil dalam kehidupan bermasyarakat dan bekerja (Muhali, 2019). Pembelajaran kolaboratif bertujuan untuk mengembangkan kerja sama, komunikasi, dan pemecahan masalah bersama antara siswa, menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan terlibat. Pembelajaran kolaboratif merupakan sesuatu yang penting dapat dilihat dari berbagai manfaatnya. Pertama, metode ini membuka ruang bagi siswa untuk saling berinteraksi dan berbagi ide. Proses kolaboratif memungkinkan mereka melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, merangsang pemikiran kreatif, dan memperluas pemahaman mereka terhadap konsep tertentu. Pembelajaran kolaboratif juga mendukung pengembangan keterampilan sosial. Siswa belajar bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan efektif, mendengarkan perspektif orang lain, dan menghargai keragaman pendapat. Ini tidak hanya mempersiapkan mereka untuk kehidupan sosial di luar kelas, tetapi juga menciptakan atmosfer pembelajaran yang inklusif (Selvi et.al., 2023). Penerapan pembelajaran kolaboratif tidak terbatas pada satu mata pelajaran atau tingkat pendidikan tertentu. Sebaliknya, metode ini dapat diintegrasikan dalam berbagai konteks pembelajaran, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Misalnya, guru dapat mengorganisir proyek kolaboratif di mana siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas atau menciptakan produk bersama. Sarana prasarana yang mendukung pembelajaran kolaboratif memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif dan memadai. Pertama, fasilitas fisik seperti ruang kelas yang dirancang dengan konsep pembelajaran kolaboratif dapat memberikan suasana yang mendukung interaksi antar siswa. Desain ruang yang fleksibel, dengan perabotan yang dapat diatur ulang dan teknologi yang terintegrasi, memungkinkan siswa untuk bekerja dalam kelompok, berbagi ide, dan berkolaborasi secara lebih efektif. Selanjutnya, akses terhadap teknologi dan perangkat lunak yang mendukung kolaborasi menjadi sangat krusial. Ketersediaan komputer, tablet, atau perangkat lainnya yang terhubung ke internet memberikan akses kepada siswa untuk menggunakan aplikasi dan platform kolaboratif. Sarana ini memungkinkan mereka berkomunikasi secara daring, berbagi dokumen, dan bekerja sama dalam proyek bersama, menjadikan proses pembelajaran lebih dinamis dan terbuka terhadap keragaman metode pembelajaran (Nurlaeli, 2020). Sarana prasarana juga mencakup dukungan dari pihak sekolah atau institusi pendidikan, seperti pelatihan bagi guru untuk memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pembelajaran kolaboratif (Suyuti et.al., 2023). Fasilitas ini memberikan guru keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola dan memandu kegiatan kolaboratif dengan baik. Keseluruhan infrastruktur pembelajaran kolaboratif, baik dari segi fisik maupun teknologi, bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang memotivasi dan memungkinkan pengembangan keterampilan kolaboratif yang esensial bagi siswa di era modern. Hal yang sangat penting dalam pembelajaran kolaboratif saat ini adalah teknologi yang memainkan peran kunci dalam mendukung pembelajaran kolaboratif. Platform daring, aplikasi kolaboratif, dan alat berbasis teknologi lainnya memfasilitasi komunikasi antar siswa, memungkinkan mereka bekerja sama secara efisien (Damanik, 2023). Teknologi memungkinkan pembelajaran kolaboratif tanpa batas geografis. Siswa dari berbagai tempat dapat terlibat dalam proyek bersama, berbagi ide, dan belajar satu sama lain melalui platform daring. Ini menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih inklusif, menghubungkan siswa dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda. Teknologi ini membuat pembelajaran tidak lagi terbatas oleh ruang kelas fisik, melainkan menjadi pengalaman kolaboratif yang melibatkan siswa dari berbagai wilayah, membuka peluang untuk pertukaran pengetahuan yang lebih kaya dan mendalam. Teknologi juga memberikan sarana bagi guru untuk memonitor dan mengevaluasi kolaborasi di antara siswa dengan lebih efisien. Platform pembelajaran daring yang canggih sering kali dilengkapi dengan fitur analitik yang memungkinkan guru untuk melacak kemajuan individu, menganalisis tingkat partisipasi, dan memberikan umpan balik yang lebih tepat waktu. Guru dapat mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian tambahan, merancang intervensi yang sesuai, dan merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif melalui datadata tersebut. Oleh karena itu, teknologi tidak hanya memfasilitasi kolaborasi antar siswa, tetapi juga memberikan dukungan berharga bagi guru dalam membimbing dan memajukan pengalaman pembelajaran kolaboratif di dalam dan di luar kelas. Pentingnya evaluasi formatif dalam pembelajaran kolaboratif ini perlu ditekankan. Guru tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai pengamat yang memantau interaksi siswa, memberikan umpan balik, dan mendukung perkembangan mereka sebagai individu dan anggota tim (Hasja et.al., 2023).
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk lebih memahami secara mendalam tentang objek penelitian dalam konteks alamiah (Johan, 2018). Adapun metode deskriptif dipakai karena metode ini bertujuan untuk menjelaskan secara spesifik suatu kejadian atau keadaan yang terjadi di masyarakat yang dapat dijelaskan melalui angka dan atau kata-kata (Punaji, 2016). Penelitian ini bertujuan untuk: pertama, mengetahui bagaimana perpustakaan dapat memfasilitasi pembelajaran kolaboratif melalui penyediaan akses ke beragam sumber daya cetak maupun digital, kedua, mendeksripsikan bagaimana kolaborasi antara siswa, guru, dan perpustakaan dapat menciptakan lingkungan di mana berbagi pengetahuan, diskusi kelompok, dan proyek kolaboratif dapat berlangsung. Subyek pada penelitian ini warga sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, kepala perpustakaan, pustakawan atau petugas perpustakaan, tenaga kependidikan dan siswa yang menggunakan perpustakaan. Sedangkan objek penelitian adalah fokus pada penelitian ini, yaitu peran perpustakaan sekolah dalam mendukung pembelajaran kolaboratif. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan pada bulan Maret-Mei 2023 pada perpustakaan sekolah menengah atas di Provinsi Kalimantan Selatan. Kemudian untuk menentukan sampel digunakan teknik penarikan sampel berdasarkan wilayah (cluster sampling). Adapun perpustakaan sekolah yang diteliti adalah perpustakaan sekolah yang berada di Sekolah A, Sekolah B, dan Sekolah C. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilaksanakan secara non partisipan di mana penulis mengamati segala proses yang terjadi di perpustakaan sebagai orang luar dengan sedapat mungkin tidak mempengaruhi peristiwa yang terjadi. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur di mana penulis menyiapkan daftar pertanyaan dengan ditambah pertanyaan baru ketika penulis merasa ada hal lain yang perlu untuk ditanyakan. Dokumentasi juga diperlukan sebagai bukti yang meyakinkan untuk menggambarkan proses peristiwa dan kejadian di perpustakaan. Penulis juga melakukan triangulasi data untuk membuktikan keabsahan data yang disampaikan oleh pihak perpustakaan. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis data Miles and Huberman yang disebut sebagai model interaktif. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada model ini adalah: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi yang dilakukan secara interaktif –''(Miles et.al., 2018). Perspektif teori digunakan untuk memandu dalam memahami fenomena yang terjadi pada objek penelitian untuk mengurangi bias pendapat pribadi.
Result & Discussion
Letak perpustakaan Sekolah C berada di tengah sekolah dan bersebelahan dengan kelaskelas pembelajaran sehingga mudah diakses seluruh warga sekolah. Bagian dalam pada perpustakaan ini didesain dengan warna-warna menarik dan dipenuhi hasil kreativitas seperti aksesoris hasil kerajinan tangan (handycraft) yang dibuat oleh siswa dan pengelola perpustakaan. Suasana demikian diharapkan membuat pengunjung merasa betah dan nyaman berada di dalam perpustakaan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh kepala perpustakaan berikut ini: “karena kami ini kan suka seni.. kebetulan, jadi ruangan itu kami rancang sekira nyaman lah..kami rancang dulu, kami bagibagi tempatnya, mana untuk pembaca, mana untuk lesehan, artinya dengan tempat yang ada itu kami coba untuk supaya menarik perpustakaan tu. Jadi, imbah (setelah) kami susun, kami tata ruangannya itu supaya ruang baca, ruang kanakan (anak-anak) untuk belajar, ada meja komputer, ada yang handak (ingin) membaca buku fiksi. Walaupun dalam keadaan sederhana.” (G) Pihak perpustakaan dari awal sudah berupaya untuk membuat nyaman pengunjung. Ruangan dirancang dengan baik tata letaknya sehingga tersedia ruangan untuk membaca, untuk belajar kelompok dan lain-lain. Bagian dalam perpustakaan dihiasi dengan aksesoris dan dicat warna-warni untuk menghilangkan kesan membosankan. Perpustakaan Sekolah B berdiri sejak tahun 1959 dan mempunyai luas perpustakaan 135 m2 mendesain ruangannya dengan warna-warna beraneka ragam. Interior dan eksterior perpustakaan ditata dengan bagus. Rak-rak, lemari buku, meja, kursi disusun sedemikian rupa agar pengunjung merasa nyaman. Bagian depan perpustakaan dibuat teras literasi yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung perpustakaan untuk membaca, mengerjakan tugas ataupun berbincang-bincang saja. Hal serupa juga ditemui pada Perpustakaan Sekolah C. Walaupun tidak semarak seperti dua perpustakaan sebelumnya yang mengecat ruangan perpustakaan dengan bermacammacam warna, perpustakaan sekolah yang berdiri sejak tahun 1994 dan mempunyai luas 120 m2 ini berupaya untuk membuat pengunjung merasa nyaman beraktivitas di dalamnya. Salah satu keunggulan perpustakaan ini dibandingkan perpustakaan sebelumnya adalah letaknya yang berada di depan sekolah sehingga semua warga sekolah yang masuk dan keluar sekolah pasti melewatinya. Ketiga perpustakaan sekolah ini telah menyediakan tempat yang kondusif dan nyaman bagi warga sekolah untuk melaksanakan berbagai aktivitas seperti membaca, diskusi, mengerjakan tugas. Tempat yang nyaman ini merupakan prasyarat utama bagi pengguna untuk datang ke perpustakaan. Sakti dan Isyawati (2019) berpendapat bahwa perpustakaan juga dapat berperan dalam kegiatan komunitas sebagai wahana pemenuhan kebutuhan informasi, edukasi, realisasi diri, tempat berkumpul dan pengembangan serta peningkatan kualitas diri komunitas. Hal ini sejalan dengan statemen IFLA mengenai library as a place sebagai area publik merupakan “tempat ketiga”, di mana rumah dan keluarga adalah tempat pertama, tempat kerja adalah tempat kedua, dan tempat ketiganya adalah area publik yaitu tempat di mana orang dapat melakukan kegiatan kemasyarakatan dan berinteraksi sosial yang lebih luas dan kreatif –(Golten, 2019). Perpustakaan perlu menyediakan tempat yang representatif, menarik dan menimbulkan inspirasi serta membuat pemustaka menjadi betah dalam berkegiatan di perpustakaan. Pemustaka dapat melakukan berbagai macam aktivitas di perpustakaan yang mempunyai sumber informasi berbagai hal yang menunjang aktivitas mereka tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh pengelola perpustakaan di Sekolah C berikut ini: “perpusnya kalo bisa harus dengan kondisi yang nyaman, fasilitas kaya (seperti) kipas angin, pendingin ruangan, terus tempat duduk yang enak, dari segi..kalau dari segi penerangan harus terang”. (D) Berikut ini akan dipaparkan bagaimana peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaboratif yang menjadi temuan penelitian pada dua hal, yaitu: pertama, peran perpustakaan dalam memfasilitasi pembelajaran kolaboratif melalui penyediaan akses ke beragam sumber daya cetak maupun digital, kedua, peran perpustakaan dalam mendukung kolaborasi antara siswa, guru, dan perpustakaan dengan menciptakan lingkungan di mana berbagi pengetahuan, diskusi kelompok, dan proyek kolaboratif dapat berlangsung. 1. Peran perpustakaan dalam memfasilitasi pembelajaran kolaboratif melalui penyediaan akses ke beragam sumber daya cetak maupun digital Peran utama perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaboratif adalah menyediakan akses ke berbagai sumber daya yang relevan dengan materi pembelajaran. Perpustakaan memiliki koleksi buku, jurnal, majalah, dan sumber daya elektronik yang dapat membantu siswa dan guru dalam mencari informasi yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran kolaboratif. Sumber daya ini dapat berupa buku teks, artikel penelitian, atau materi pendukung lainnya yang dapat digunakan sebagai referensi dalam proyek kolaboratif atau diskusi kelompok. Perpustakaan dapat menyediakan akses ke sumber daya digital, seperti basis data online, e-book, dan jurnal elektronik. Ini memungkinkan siswa untuk mengakses informasi secara mudah dan cepat, memfasilitasi pertukaran ide dan kolaborasi dalam konteks pembelajaran. Perpustakaan membantu siswa dan guru untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang topik pembelajaran dan meningkatkan kualitas kerja sama dalam proyek kolaboratif dengan menyediakan sumber daya yang beragam dan relevan. Perpustakaan telah bergabung dengan jejaring perpustakaan lain secara digital melalui Indonesian One Search dan menyediakan akses ke perpustakaan digital seperti iPusnas, iKalsel, SIBI (Sistem Informasi Perbukuan Indonesia) yang dapat diakses pada https://buku.kemdikbud. go.id, dan lain-lain. Namun disayangkan tidak semua perpustakaan dalam penelitian ini memberikan materi literasi digital untuk dapat mengakses aplikasi-aplikasi digital tersebut. Padahal para pengelola perpustakaan tahu akan adanya aplikasiaplikasi tersebut, namun karena mereka menganggap bahwa aplikasi tersebut cukup mudah untuk diinstal dan digunakan maka mereka tidak merasa perlu untuk memberikan pelatihan literasi bagi para siswa. Perpustakaan memfasilitasi karyakarya tulis para guru, tenaga kependidikan dan siswa, misalnya Perpustakaan Sekolah A yang menjadikan hasil terbitan kumpulan cerpen, antologi puisi karya kepala perpustakaan dan komunitas puisi di Barito Kuala menjadi koleksi perpustakaan. Guruguru juga membuat dan meletakkan karya tulis mereka di perpustakaan, seperti buku ajar dan PTK. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh G berikut ini: “ada...ada hasil karya bubuhan (kelompok) kami yang ada di perpustakaan. Aku kan umpat (ikut) aruh budaya, jadi beberapa terbitan antologi kami andak (letakkan) di perpustakaan. Ini sebagai penghargaan bagi hasil kerja kami, supaya orang tahu. Mudah-mudahan yang melihat menjadi terinspirasi”. Demikian pula dilakukan di Perpustakaan Sekolah B, di mana perpustakaan menyimpan karya tulis para siswa berupa kliping-kliping tematik dan sejarah hidup siswa yang dikelola dengan baik. Karyakarya tulis ini bisa didigitalisasi dengan seizin penulis dan penerbitnya untuk dapat dibaca dan diakses di internet pada platform digital library. Diharapkan dengan dilakukan digitalisasi dan tersedia format elektronik, maka dapat menjadi inspirasi bagi yang ingin mengikuti jejak penulis ataupun mengajak untuk kolaborasi bagi penulis lain. Hal yang juga penting pada saat ini di perpustakaan adalah tersedianya fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari kita adalah mengakses informasi yang tersedia di internet. Hampir semua informasi yang kita butuhkan ada di internet. Perpustakaan, sebagai penyedia informasi harus menyediakan fasilitas internet di perpustakaan berikut perangkatnya. Komputer, baik berupa PC ataupun laptop maupun wifi merupakan fasilitas yang harus tersedia di perpustakaan di era digital ini. Ketersediaan perangkatnya juga harus cukup banyak untuk dapat dimanfaatkan bagi warga sekolah. Perpustakaan sekolah pada penelitian ini telah menyediakan perangkat komputer bagi warga sekolah, namun jumlahnya masih sedikit sekali. Sebenarnya ada laboratorium komputer di sekolah, namun pengelolaannya tidak di bawah pengelolaan perpustakaan. Padahal keduanya dapat digabungkan sehingga pengelolaan dan penggunaannya dapat terintegrasi. Komputer-komputer tersebut digunakan untuk pembelajaran dan penelusuran informasi yang berguna bagi para siswa dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Para siswa dapat berkolaborasi mengerjakan tugas secara berkelompok dengan menggunakan fasilitas komputer yang terhubung dengan internet. Hal ini sebagaimana disampaikan A berikut ini: “Kami ada baisian (punya) komputer, cuma jumlahnya sedikit. Handakae menukar (inginnya beli), tapi anggaran kami kecil han. Sebujurnya (sebenarnya) ada lab komputer di sekolah tapi lain kami yang mengelolanya, ada pengelola khusus, jadi kada (tidak) leluasa menggunakannya”. Bandwith internet di perpustakaan juga cukup kecil untuk menampung banyak orang yang memakainya pada saat bersamaan. Pemanfaatan internet di perpustakaan sangat tergantung pada kualitas jaringannya karena jika bandwith internet tidak besar maka penggunaannya tidak akan maksimal (Wibawanto, 2018). Fasilitas internet juga diperlukan untuk membuat konten multimedia, mengembangkan koleksi tematik yang sesuai dengan lokalitas pengguna, serta mempunyai gaya informal/kasual seperti yang terdapat pada sosial media, serta memberikan layanan komunikasi 24/7 kepada pemustaka. Layanan tersebut dapat berbentuk email, twitter, instagram sebagai media komunikasi (Oktavia, 2019). Semua perpustakaan mempunyai medsos berupa instagram dan facebook. Perpustakaan juga membuat video profil di platform Youtube. Hal ini dapat menjadi media promosi kegiatan-kegiatan dan program-program layanan yang disediakan perpustakaan. Warga sekolah yang menjadi pengguna terutama para siswa yang usianya merupakan Generasi Z (lahir 1995-2010) tentu banyak mengakses instagram, sedangkan para guru dan tenaga kependidikan yang sebagian besar terdiri dari generasi X (lahir 1966-1976) dan milenial (lahir 1977-1994) lebih suka facebook (Pua, 2022; Sulistyono, 2023). Dilihat dari banyaknya kiriman pada instagram ketiga perpustakaan ini hanya Perpustakaan Sekolah A yang aktif mengupdate kirimannya, sedangkan dua yang lain agak kurang aktif. Padahal dari segi pengikut instagram pada ketiganya cukup banyak yang follow, tidak hanya warga sekolah bahkan masyarakat lain juga mengikuti. Ini merupakan modal yang besar dalam melakukan promosi perpustakaan. Komunikasi antara pihak perpustakaan dengan penggunanya melalui media sosial merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Media sosial terutama dapat menjadi promosi perpustakaan sebagai kegiatan pemasaran perpustakaan (marketing) yang menjadi kunci untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan (Yenianti, 2019). Sekolah telah memberikan tugas-tugas kepada siswa berupa tugas kelompok yang berupa proyek kolaboratif, baik itu sesuai dengan mata pelajaran di kelas maupun ekstrakurikuler seperti pramuka dan kerohanian. Namun fasilitas komputer dan internet yang tersedia di perpustakaan masih terbatas. Fasilitasnya tersedia namun dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan orang banyak di sekolah. Hal ini sebagaimana diucapkan oleh siswa N berikut ini: “Kami ingin menggunakan fasilitas yang ada di perpustakaan kaya (seperti) komputer dan LCD tapi rasa ngalih (agak susah) pina baistilah banar (harus prosedural)”. Prosedur menjadi hambatan bagi para siswa dalam menggunakan komputer. Namun ketika didalami yang menjadi masalah sebenarnya jumlah yang sedikit sehingga membuat agak sulit menggunakannya karena pihak perpustakaan membuat pembatasan karena jumlah yang ada sedikit. Kendala ini sebenarnya dapat diatasi dengan berkoordinasi dengan laboratorium komputer yang menjadi tempat praktik penelusuran informasi. Dua unit ini bisa disatukan dalam satu manajemen karena perpustakaan tidak bisa dilepaskan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Penyatuan ini akan mengatasi hambatan (barrier) jumlah komputer. Bandwith internet juga perlu ditingkatkan untuk menjadikan perpustakaan tempat yang punya kelebihan daripada tempat lain dalam mengakses internet. Apabila ini dilakukan maka fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi dapat dioptimalkan. Selama ini yang menjadi pengetahuan umum wifi di perpustakaan gratis namun jaringannya lambat. 2. Peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaborasi dengan menciptakan lingkungan yang kondusif Peran lainnya yang dapat dilakukan perpustakaan dalam mendukung kolaborasi antara siswa, guru, dan perpustakaan dengan menciptakan lingkungan di mana berbagi pengetahuan, diskusi kelompok, dan proyek kolaboratif dapat berlangsung. Pendekatan ini bertujuan untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam, mengembangkan keterampilan sosial, serta mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan di dunia nyata yang seringkali membutuhkan kerja sama tim. Dalam konteks ini, perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam memfasilitasi dan mendukung efektivitas pembelajaran kolaboratif. Ketiga perpustakaan telah mengadaptasi tata letak dan fasilitasnya untuk memfasilitasi grup studi, ruang rapat, dan area yang cocok untuk kerja kelompok. Ini menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa untuk berdiskusi, berbagi ide, dan bekerja sama dalam proyek kolaboratif dengan lebih efektif. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh pustakawan ini: “pokoknya perpustakaan kami ini kada (tidak) pernah kosong, ada aja terus.. kalo kada gurunya, siswanya, ketuju banar (suka sekali) di perpustakaan nih... Ada jua guru, kadang-kadang beserta siswa tu umpat (izin) meminjam ruang yang di bagian belakang, yang tersembunyi sedikit (untuk mengerjakan tugas).” (G) Fasilitas belajar yang mendukung kolaborasi adalah aspek penting yang dipersembahkan oleh perpustakaan dalam konteks pembelajaran kolaboratif. Lingkungan belajar yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan kerja sama antar siswa dan guru dapat menjadi kunci keberhasilan dalam melaksanakan pendekatan pembelajaran ini. Berikut ini adalah apa yang dilakukan perpustakaan untuk membuat fasilitas belajar yang mendukung pembelajaran kolaborasi: a. Pembentukan Studi Kelompok Perpustakaan menyediakan ruang khusus atau area yang dapat digunakan untuk studi kelompok. Ruang ini dilengkapi dengan meja-meja, kursi dan fasilitas teknologi seperti komputer dan LCD untuk presentasi. Ruang studi kelompok ini membantu siswa untuk berkumpul bersama dan berdiskusi tentang topik pembelajaran, memecahkan masalah bersama, dan berkolaborasi dalam mengerjakan tugas atau proyek. Ruang studi kelompok dapat digunakan untuk mengadakan pertemuan kelompok yang terstruktur. Siswa dapat mengatur pertemuan rutin untuk membahas proyek, merencanakan tugas, atau memecahkan masalah bersama. Ruang ini memberikan tempat yang aman dan terorganisir untuk melaksanakan diskusidiskusi ini, yang merupakan aspek penting dalam pembelajaran kolaboratif. Apalagi berdasarkan kurikulum merdeka saat ini sangat menekankan pembelajaran kolaboratif. Ini sesuai dengan apa yang dipaparkan U berikut: “...mencari bahan untuk mengerjakan tugas, kan kurikulum merdeka ini teanu sedikit..banyak banar (sekali) tugasnya.” Selain penggunaan untuk tugas-tugas kelompok formal, ruang studi kelompok seringkali tersedia untuk penggunaan yang lebih fleksibel. Siswa dapat memanfaatkannya untuk sesi belajar terstruktur, diskusi informal, atau kolaborasi proyek sampingan. Ini menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi siswa untuk bekerja bersama dan berbagi pengetahuan. b. Penyediaan Ruang Rapat Ruang rapat dalam perpustakaan menjadi fasilitas tambahan yang memiliki peran khusus dalam mendukung pembelajaran kolaboratif. Ruang ini biasanya didesain untuk pertemuan yang lebih formal, presentasi, atau sesi kolaboratif yang memerlukan struktur lebih tinggi. Beberapa peralatan yang ada di ruang rapat perpustakaan adalah audiovisual yang meliputi proyektor, layar proyeksi, speaker. Ini memungkinkan siswa dan guru untuk menyampaikan presentasi dengan lebih efektif, memproyeksikan materi yang relevan, atau menayangkan video yang mendukung topik pembelajaran. Peralatan ini memberikan dimensi visual dan audio yang dapat memperkaya pengalaman pembelajaran kolaboratif. Ruang rapat dilengkapi dengan whiteboard atau papan tulis interaktif. Ini memungkinkan siswa dan guru untuk menggambar, menulis catatan, atau menguraikan ide dengan lebih jelas. Papan tulis dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam mengilustrasikan konsep, merumuskan gagasan bersama, atau mencatat langkah-langkah dalam proses kolaboratif. Selain peralatan audio-visual dan whiteboard, sebaiknya ruang rapat juga dapat menyediakan fasilitas presentasi lainnya seperti layar monitor besar, perangkat lunak presentasi, dan mikrofon. Semua ini membantu siswa dan guru untuk menyampaikan informasi dengan lebih profesional dan efektif dalam sesi kolaboratif yang lebih terstruktur. “...biasanya ruang rapat ini lesehan, di ruang baca jua, rapat guru, rapat siswa...banyak yang dibicarakan para guru, misalnya Pesantren Ramadhan, untuk siswa literasi, untuk baca AlQur'an. Kalau siswa biasanya OSIS menggunakan.. kalau inya handak acara apa kaitu.” (B) Ruang rapat cenderung digunakan untuk pertemuan yang lebih terstruktur, baik itu pertemuan kelompok studi, diskusi tim, atau presentasi proyek. Ini memberikan kerangka kerja yang jelas bagi siswa untuk menyusun agenda, merencanakan sesi, dan mengikuti urutan tugas yang lebih terorganisir. Hal ini dapat memudahkan guru untuk memfasilitasi diskusi atau presentasi dengan lebih baik. Diskusi dan kolaborasi yang lebih intensif dapat dilakukan di ruang rapat. Siswa dapat fokus pada topik pembelajaran, mendiskusikan pendapat, serta mengambil keputusan bersama dalam lingkungan yang terkendali dan mendukung. Ini membantu dalam pengembangan keterampilan kolaboratif yang lebih tinggi. c. Pengaturan Area yang Mendukung untuk Kerja Kelompok Pengaturan area yang mendukung untuk kerja kelompok di perpustakaan adalah fasilitas yang mendukung pembelajaran kolaboratif dengan cara yang lebih fleksibel dan santai. Fasilitas ini menciptakan suasana yang kondusif bagi siswa untuk berinteraksi dan berkolaborasi dalam suasana yang lebih informal namun tetap fokus. Fasilitas di perpustakaan dilengkapi dengan meja-meja yang nyaman dan dapat dipindah-pindahkan. Kenyamanan adalah faktor penting karena memungkinkan siswa untuk tetap pada kerja kelompok tanpa terganggu oleh ketidaknyamanan fisik. Lingkungan yang nyaman juga membantu siswa agar dapat menghabiskan waktu lebih lama dalam sesi kerja kelompok tanpa merasa lelah. Area ini biasanya terletak dekat dengan sumber daya informasi di perpustakaan, seperti rak buku dan komputer. Ini memungkinkan siswa dan guru untuk dengan mudah mengakses referensi dan sumber daya yang diperlukan untuk pekerjaan kelompok mereka. Kemudahan akses ini adalah aspek yang sangat penting dalam mendukung pembelajaran kolaboratif, sebagaimana disampaikan oleh D, guru SEKOLAH C berikut: “Begawi (bekerja melakukan tugas) di perpustakaan itu nyaman. Ruangannya santai kada (tidak) terlalu formal, mana dingin kada panas, buku parak (dekat) tinggal ambil. Itu pang jadi rajin menggawi tugas di perpustakaan, kondisinya tu nah.” Beberapa area kelompok ini dilengkapi dengan fasilitas teknologi, seperti akses internet nirkabel atau stop kontak untuk pengisian perangkat elektronik. Ini memungkinkan siswa untuk menggunakan perangkat mereka, mengakses sumber daya digital, atau berkomunikasi secara online selama sesi kerja kelompok. Teknologi adalah aspek penting dalam pembelajaran kolaboratif yang modern (Sunu, 2021). Keunggulan ruang di perpustakaan adalah suasana yang lebih santai dibandingkan ruang rapat formal. Warga sekolah dapat merasa lebih bebas untuk berbicara, berbagi ide, dan bekerja sama tanpa tekanan yang berlebihan. Meskipun suasana santai, fokus tetap terjaga sehingga kolaborasi berjalan efisien. Ruang perpustakaan yang informal juga menciptakan kesempatan untuk berkolaborasi yang tidak terencana. Siswa yang sedang bekerja sendiri dapat dengan mudah bergabung dengan kelompok studi yang sudah ada, mengikuti diskusi, atau memberikan kontribusi kecil pada proyek kelompok. Ini mempromosikan interaksi sosial dan berbagi pengetahuan secara alami. d. Pustakawan yang Kompeten dan Terampil Peran staf perpustakaan yang terampil dalam mendukung pembelajaran kolaboratif sangat penting dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan fasilitas perpustakaan (Naibaho, 2018). Mereka berperan sebagai fasilitator pengetahuan yang membantu siswa dan guru dalam berbagai aspek pembelajaran kolaboratif. Staf perpustakaan memiliki pemahaman mendalam tentang koleksi perpustakaan, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Mereka tahu bagaimana mengakses berbagai jenis sumber daya, termasuk buku, jurnal, basis data, dan sumber daya elektronik. Mereka dapat membantu siswa dan guru dalam menemukan sumber daya yang relevan dengan topik pembelajaran kolaboratif mereka dengan pengetahuan tersebut. Keterampilan pencarian informasi yang dimiliki oleh staf perpustakaan dapat dibagikan kepada siswa dengan memberikan pelatihan. Staf perpustakaan dapat membantu siswa untuk merumuskan pertanyaan penelitian, mengidentifikasi kata kunci yang efektif, dan menggunakan alat pencarian perpustakaan serta basis data. Ini sangat penting dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan penelusuran informasi yang efisien. Staf perpustakaan dapat memberikan rekomendasi tentang sumber daya yang paling sesuai untuk proyek atau tugas kolaboratif tertentu. Mereka membantu siswa dan guru dalam memilih buku, artikel, atau materi referensi yang relevan dengan topik yang mereka teliti. Ini membantu dalam menghindari pemborosan waktu dan memastikan bahwa sumber daya yang digunakan relevan dan berkualitas. “Kami (pihak perpustakaan) melajari (memberi pelajaran) siswa cara mencari bahan-bahan, kemana mencarinya, misalnya sumber-sumber elektronik nang kaya i-HSU, i-Kalsel, i-Pusnas.. itu kami lajari. Supaya buhannya (mereka) kawa (dapat) mencari saurang (sendiri) bahanbahan yang kadada (tidak ada) di perpustakaan”. (B) Staf perpustakaan yang terampil membantu siswa dan guru dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya perpustakaan, meningkatkan keterampilan penelusuran informasi, dan menggunakan teknologi dengan lebih efektif dalam konteks pembelajaran kolaboratif (IFLA School Libraries Section Standing Committee, 2015). Peran staf perpustakaan yang mendalam dalam mendukung kebutuhan pembelajaran ini menjadikannya mitra berharga dalam menjalankan pendekatan pembelajaran kolaboratif yang sukses. Pengembangan proyek kolaboratif antara perpustakaan dan guru adalah langkah yang sangat berarti dalam memaksimalkan manfaat dari sumber daya perpustakaan dalam konteks pembelajaran. Ini adalah kolaborasi yang dapat membawa banyak keuntungan, baik bagi siswa maupun staf perpustakaan. Pengelola perpustakaan bekerja sama dengan guru dalam pemilihan bahan bacaan yang sesuai untuk proyek kolaboratif. Mereka memiliki pemahaman yang mendalam tentang koleksi perpustakaan dan dapat membantu guru dalam menemukan buku, artikel, jurnal, atau materi referensi lainnya yang relevan dengan topik pembelajaran. Ini membantu siswa mendapatkan akses ke sumber daya berkualitas yang mendukung proyek mereka. Setelah proyek kolaborasi selesai, pengelola perpustakaan bekerja sama dengan guru dalam mengevaluasi hasil pembelajaran. Mereka dapat membantu dalam penilaian sumber daya yang digunakan oleh siswa, membantu dalam membantu dalam menilai kualitas referensi, dan menganalisis sejauh mana siswa berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Ini membantu guru dalam mengevaluasi efektivitas proyek dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran di masa mendatang. Semua itu dapat terlaksana dengan baik karena adanya kepemimpinan di sekolah yang mengkoordinir proses pembelajaran kolaboratif ini. Kepemimpinan di sekolah ini penting sebagaimana disebutkan oleh Setiawan et.al. (2023) bahwasanya kepala sekolah harus mendukung perpustakaan terutama dalam hal pembuatan kebijakan baik dalam penyediaan sarana prasarana dan anggaran agar kegiatan pembelajaran di perpustakaan dapat lebih ditingkatkan. Untuk itu koordinasi pihak perpustakaan dengan kepala sekolah harus terus dilakukan.
Conclusion
Kesimpulan penelitian ini perpustakaan sekolah telah melakukan upaya yang mendukung pembelajaran kolaboratif. Namun, terdapat beberapa kendala yang perlu diatasi untuk meningkatkan efektivitas peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran kolaboratif. Kendala tersebut meliputi keterbatasan ruang, fasilitas TIK, komputer, dan bandwith internet yang kurang memadai. Sekolah dapat memastikan bahwa sumber daya yang ada dapat digunakan secara lebih efisien dengan meningkatkan kapasitas perpustakaan. Lingkungan pendidikan yang terbatas anggarannya membuat perpustakaan dapat merencanakan secara bertahap untuk meningkatkan sarana prasarana yang dapat mendukung pembelajaran kolaboratif. Perpustakaan sekolah dapat berperan mendukung pembelajaran kolaboratif dengan menciptakan lingkungan yang dinamis, interaktif, dan berorientasi pada perkembangan keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk masa depan. Hal ini juga dapat memungkinkan pendidik untuk mengadopsi model pembelajaran yang lebih berfokus pada pembelajaran aktif dan berbasis kelompok/tim.