Kembali
16
1
2021 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan Vol 9 · 1 ISSN 2477-5320

Transformasi Perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang Menuju Perpustakaan Riset di Era Big Data

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang bertransformasi menuju perpustakaan riset di era big data serta kendala-kendala yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif studi kasus, dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi sebagai instrumen pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi sudah dilakukan oleh perpustakaan baik dari segi fisik maupun non-fisik. Transformasi fisik dapat dilihat dengan dibangunnya gedung perpustakaan yang baru di Rafah Tower dan di kampus B Jakabaring. Namun penelitian ini hanya fokus pada perpustakaan Rafah Tower di kampus A Sudirman, dimana perpustakaan sekarang beroperasi. Karena perpustakaan kampus B Jakabaring masih dalam tahap penyelesaian. Transfromasi non-fisik adanya penambahan jam dan jenis layanan serta penambahan akses ke sumbersumber elektronik. Adapun kendala yang dihadapi yaitu kurangnya fasilitas yang dimiliki serta SDM yang kurang memadai baik dari kuantitas maupun kualitas. Untuk menjadi perpustakaan riset masih memerlukan banyak usaha dan waktu yang panjang untuk mengoptimalkan apa yang sudah diperbuat saat ini.

Abstract

The purpose of this research is to understand how the library of UIN Raden Fatah Palembang is transforming into a research library in the era of big data and the obstacles it faces. This research uses a descriptive qualitative case study approach, using observation, interviews and documentation as data collection instruments. The results of this study indicate that the transformation has been carried out by the library both physically and non-physically. Physical transformation can be seen with the construction of a new library building at Rafah Tower and on campus B in Jakabaring. However, this research only focuses on the Rafah Tower library on campus A Sudirman, where the library is currently operating. Because the Jakabaring campus B library is still in the completion stage. Non-physical transformation includes additional hours and types of services as well as additional access to electronic sources. As for the obstacles faced, namely the lack of facilities owned and inadequate human resources both in quantity and quality. To become a research library still requires a lot of effort and time to optimize what is being done at this time.
Keywords: change · alteration · shift · digital · library

Introduction

Perpustakaan menjadi salah satu sarana terpenting dalam setiap program pendidikan, pengajaran dan penelitian bagi setiap lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Untuk menjadi salah satu sarana terpenting di perguruan tinggi, perpustakaan perguruan tinggi harus dapat menjalankan fungsi utamanya menyediakan fasilitas untuk studi dan penelitian bagi sivitas akademika perguruan tinggi induknya serta bertugas melayani kebutuhan informasi dan riset para mahasiswa, dosen dan staf di perguruan tinggi tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman yang tidak lepas dari teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari, dimana informasi bisa didapatkan dengan begitu mudah. Perpustakaan harus mengikuti perkembagan yang terjadi ini agar tidak ditinggalkan oleh penggunanya, salah satu caranya dengan melakukan transformasi. Di perpustakaan transformasi harus dilakukan menurut Stuert & Moran, karena ada perubahan penting yang harus menjadi perhatian yaitu sumber daya (resources), layanan (services) dan pemustaka (user). Sumber daya berhubungan dengan content yang disediakan perpustakaan, yang dulu hanya tersedia dalam satu media (tercetak), saat ini dalam berbagai media (digital) dan bisa diakses tanpa batasan tempat dan waktu. Perubahan berikutnya adalah layanan (services), perpustakaan sekarang bukan hanya tempat menyimpan, meminjam dan mengembalikan buku tetapi dituntut untuk dapat menyediakan akses informasi dan sharing sumber daya yang dimiliki serta mampu memberikan pelayanan yang bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan pengguna selama 24 jam. Perubahan penting beikutnya yang harus menjadi perhatian adalah pemustaka (users). Pemustaka di perguruan tinggi adalah anak-anak muda yang rata-rata berumur belasan tahun atau sekarang dikenal dengan anak mellenial yang dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas atau akrab dengan teknologi.1 Seiring dengan kemajuan di bidang teknologi dan informasi, perpustakaan perguruan tinggi menghadapi beberapa tantangan, tantangan tersebut bisa dilihat dari perspektif makro yaitu masyarakat luas dan persepektif mikro yaitu keadaan dalam perpustakaan itu sendiri. Dari persepektif mikro tantangan tersebut adalah menerapkan filosofi “mahasiswa yang utama”. Perguruan tinggi ada untuk melayani mahasiswa, mahasiswa harus dapat merasakan bahwa banyak orang di sekitarnya yang peduli terhadap keberhasilan mereka. Perpustakaan dapat memainkan perannya dan menjadikan sebagai tantangan untuk dapat melayani kebutuhan informasi mahasiswa. Dari perspektif makro tantangannya adalah tidak mengabaikan pentingnya agenda publik. Jika perguruan tinggi dapat menunjukkan tugasnya relevan dengan minat publik, maka perpustakaanpun harus dapat memainkan perannya yang lebih besar untuk mendukungnya. Perpustakaan dalam hal ini dapat memainkan peran yang lebih besar, diantaranya adalah mendukung penelitian yang dilakukan oleh lembaga induknya. Karya-karya sivitas akademika dipublikasikan ke masyarakat luas dan sebaliknya akademiisi memperoleh umpan balik untuk meningkatkan kualitas dan mengembangkan secara terus menerus bidang yang ditekuni. Dengan bantuan teknologi karya-karya ini bisa dipublikasikan secara elektronik atau digital.2 Bila kita mengacu ke perpustakaan perguruan tinggi yang ada di belahan dunia lain, perpustakaan perguruan tinggi selalu identik dengan riset atau penelitian. Salah saru yang bergerak di bidang riset adalah “Association of Research Library (ARL”) yaitu sebuah organisasi yang beranggotakan perpustakaan dan arsip di universitas negeri dan swasta besar, lembaga pemerintah federal dan lembaga publik besar di Kanada dan AS. Selanjutnya “Association of College and Research Library (ACRL)”. Kedua asosiasi yang beranggotakan perpustakaan perguruan tinggi ini bergerak di ranah riset. Ini menggarisbawahi bahwa peran perpustakaan perpustakaan perguruan tinggi tidak bisa dilepaskan dari penelitian dan kecendekiawanan. Begitupun di Indonesia, dalam berbagai pertemuan Kasi Penelitian dan HaKI Direktorat PTKI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI selalu berpesan kepada pengelola perpustakaan PTKI bahwa Perpustakaan riset harus menjadi distingsi PTKI dalam rangka Indonesia sebagai destinasi studi Islam di dunia. Riset perpustakaan diperlukan sebagaimana riset pada bidang keilmuan lainnya, setara dengan pengembangan program studi. Jika perpustakaan PTKI sudah menjadi/mengarah perpustakaan riset yang dimaksud, maka jalan lempang untuk destinasi studi Islam dunia. Dengan alasan inilah perpustakaan perguruan tinggi tidak seharusnya diselenggarakan sebagai tempat penyimpanan koleksi yang dilengkapi dengan ruang baca semata, tetapi sebagai suatu instrumen pendidikan yang dinamis dan terdapat atmosfer akademik di perpustakaan. Perpustakaan dituntut untuk terus berkembang mengikuti perkembangan lembaga induknya. Demikian pula halnya dengan Universtias Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang yang telah berubah status dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 129 tahun 2014. Dalam keputusan presiden tersebut disebutkan bahwa pertimbangan perubahan status tersebut adalah untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta proses integrasi ilmu agama Islam dengan ilmu lain serta mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perubahan status ini tentu juga berdampak terhadap perpustakaan, karena perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian integral dari perguruan tinggi tersebut. Untuk melaksanakan tujuan itu peran perpustakaan sebagai tempat yang menyediakan informasi dan peran pustakawan sebagai pengelola informasi dituntut untuk selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman. Untuk menghadapi perubahan status tersebut dan perkembangan revolusi industri 4.0 atau big data menuju perpustakaan riset diperlukan penelitian yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang dalam bertransformasi menuju perpustakaan riset di era big data serta untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi.

Discussion

1. Transformasi Pengertian transformasi dalam dilihat dalam “A Complete Dictionary of English-Indonesia”, transformasi adalah perubahan atau perbaikan bentuk sesuatu.3 Makna transformasi secara umum adalah modifikasi atau perubahan di dalam bentuk atau struktur sesuatu. Yang jelas, istilah transformasi merupakan sebuah ide yang kaya secara konseptual, sehingga tidak mengejutkan kalau ia diaplikasikan luas di berbagai wilayah spesifik.4 Begitu juga dalam “Webster’ World University Dictionary” disebutkan bahwa transformasi adalah “A complete change, as of apperearance or personality (transformasi adalah perubahan total baik perubahan bentuk ataupun pribadi)” 5 Dari beberapa pengertian di atas, semuanya menunjukkan pengertian yang sama bahwa transformasi adalah perubahan baik bentuk fisik maupun non fisik, baik sifat maupun fungsinya, semuanya berubah untuk menuju keadaan yang lebih baik lagi, bisa dilakukan oleh individu atau kelompok maupun organisasi untuk menuju kondisi yang diinginkan baik dengan dukungan kekuatan dinamika internal maupun eksternal. Terkait dengan transformasi atau perubahan, Stueart mendignosis dua jenis perubahan yang meluas di perpustakaan dan organisasi layanan informasi yaitu unplanned change dan planned change. Perubahan pertama “unplanned change”, atau perubahan yang tidak direncanakan, kemungkinan besar menjadi bencana yang menimbulkan situasi yang memaksa organisasi untuk bereaksi. Perubahan yang tidak direncanakan ini biasanya terjadi sewaktu tekanan untuk perubahan berada di luar kendali atau kadang-kadang organisasi itu terpaksa melakukan perubahan karena tekanan dari luar yang menyebabkan perubahan itu bereaksi. Kekuatan negatif, seperti pengelolaan yang buruk dan kurangnya visi ke depan dapat menyebabkan kerusakan organisasi. 6 Perubahan kedua “planned change” atau perubahan yang direncanakan mendorong semua untuk membawa pembaharuan atau komitmen ulang pada bagian organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Upaya perubahan ini yang paling sukses karena perubahan ini datang dari dalam sebagai upaya yang diperhitungkan oleh orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut yang telah mengenali kebutuhan. Perbedaan antara perubahan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan ialah perubahan yang direncanakan menjadi proaktif pada waktu yang tepat sedangkan yang tidak direncanakan menjadi reaktif. Perubahan proaktif mengenali kebutuhan untuk perubahan, dengan cerdik terungkap dalam analisis SWOT yang mempertimbangkan kekuatan dan tekanan dalam organisasi serta kesempatan dan ancaman yang ada di lingkungan eksternal. Transformasi di perpustakaan juga tidak bisa dilepaskan dari teori Shiyali Ramamrita (SR) Ranganathan (1892-1972) yang dikenal dengan “the five laws of library science”, teori tersebut dibuat tahun 1932 dan relevan sampai sekarang dan banyak pustakawan dari seluruh dunia menerima hukum ini sebagai dasar filosofi mereka. Lima hukum ilmu perpustakaan tersebut adalah “Books are for use, Every reader his or her book, Every book its reader, Save the time of the reader, The library must be a growing organism”7 Hukum yang pertama “books are for use”, ini menjadi dasar bagi layanan perpustakaan. Dr. Ranganathan mengamati bahwa bukubuku sering dirantai untuk mencegah pemindahannya dan bahwa penekanannya adalah pada penyimpanan dan pelestarian daripada penggunaan. Dia tidak menolak anggapan bahwa pelestarian dan penyimpanan itu penting, tetapi dia menegaskan bahwa tujuan dari kegiatan tersebut haruslah untuk mempromosikan penggunaan. Tanpa akses pengguna ke materi, sedikit sekali nilai atau tidak bermanfaat bagi orang lain. Dengan menekankan penggunaan, Dr. Ranganathan memfokuskan kembali perhatian pada masalahmasalah yang terkait dengan akses, seperti lokasi perpustakaan, kebijakan pinjaman, jam dan hari operasional, kualitas staf, furnitur perpustakaan dan pengatur suhu. Hukum pertama ilmu perpustakaan, “books are for use”, menekankan bahwa buku itu untuk digunakan bukan untuk disimpan. Hukum kedua dari ilmu perpustakaan, “Every reader his or her book” berarti bahwa pustakawan harus melayani koleksi yang luas dari pelanggan, memperoleh literatur untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, dan menahan diri untuk tidak menilai apa yang dipilih oleh pelanggan tertentu untuk dibaca. Pustakawan harus menghargai bahwa setiap orang berbeda dan setiap orang memiliki selera yang berbeda mengenai buku yang mereka pilih. Hukum ketiga ilmu perpustakaan, “every book is its reader” berarti semua buku memiliki tempat di perpustakaan, meskipun hanya sebagian kecil orang yang mungkin memilih untuk membacanya. Hukum keempat dalam ilmu perpustakaan, “save time of the reader”, berarti bahwa semua pelanggan harus dapat dengan mudah menemukan materi yang mereka inginkan dengan cepat dan efisien. Hukum kelima dalam ilmu perpustakaan, “the library must be a growing organism” artinya perpustakaan harus menjadi lembaga dinamis yang tidak pernah statis dalam pandangannya. Buku, metode, dan fisik perpustakaan harus diperbarui seiring waktu. Hukum perpustakaan ini terus dikembangkan para ahli perpustakaan di dunia, tahun 1998 Michael Gorman, presiden American Library Association (ALA) pada waktu itu, merekomendasikan undangundang selain lima undang-undang Ranganathan, yang dikenal dengan “Five new laws of librarianship” yaitu: “Libraries serve humanity, Respect all forms by which knowledge is communicated, Use technology intelligently to enhance service, Protect free access to knowledge, Honor the past and create the future”. Menurutnya perpustakaan dapat merangkul teknologi canggih sambil tetap mempertahankan peran mereka sebagai repositori yang berorientasi layanan dari semua format informasi dan pengetahuan yang terorganisir. 8 . Selanjutnya tahun 2004, Alireza Noruzi merekomendasikan penerapan hukum Ranganathan ke Web, yang dikenal dengan ” The five laws of the web” yaitu: “Web resources are for use, Every user has his or her web resource, Every web resource its user, Save the time of the user, The Web is a growing organism”. Lima Hukum Web membantu mengidentifikasi Web sebagai inspirasi yang kuat untuk perubahan teknologi, pendidikan dan sosial. Jadi, hanya dengan memahami kebutuhan pengguna dan karakteristik yang dapat dibuat oleh webmaster dan perancang mesin telusur untuk membantu pengguna memenuhi kebutuhan informasi mereka. Menghemat waktu pengguna dengan menyediakan kenyamanan mekanisme akses adalah perhatian utama dari Web. 9 . Tahun 2008, Carol Simpson mengembangkan hukum Ranganathan untuk mencerminkan kekayaan media. “Media are for use, Every patron his information, Every medium its user, Save the time of the patron, The library is a growing organism”. Media tidak menggantikan buku. Perpustakaan tumbuh untuk mencakup pengetahuan yang diperluas. Sebagai media baru yang muncul, perpustakaan harus selalu berkembang 10 Selanjutnya pada tahun 2016, Dr. Achala Munigal merekomendasikan hukum Ranganathan sebagai pengenalan dan penerapan alat sosial di perpustakaan: “Social Media is for use – increasingly in libraries by librarians,Every user his or her Social Tool. Every Social Tool its user, Save time of user by providing information he or she seeks using the social tool he or she is familiar with, Social Media is a growing organism, with various tools and apps being introduced every day. Libraries are not brick and stone anymore. They serve members and non-members alike in terms of non-traditional library service, irrespective of space and time.” Media Sosial semakin banyak digunakan oleh pustakawan di perpustakaan Hemat waktu pengguna dengan memberikan informasi yang dia cari menggunakan alat sosial yang dia kenal. Media Sosial adalah organisme yang berkembang, dengan berbagai alat dan aplikasi diperkenalkan setiap hari. Mereka melayani anggota dan non-anggota dalam hal layanan perpustakaan non-tradisional, terlepas dari ruang dan waktu. 11 Lima hukum Ranganthan ini, telah memberikan panduan yang kuat untuk generasi pustakawan. Sebagai kerangka kerja untuk mengevaluasi program perpustakaan, kebijakan dan strategi. Faktanya, berbagai upaya untuk menerapkan lima hukum tersebut pada trend yang lebih baru di layanan informasi, terutama materi elektronik dan Web. Online Computer Library Center (OCLC) menerapkan hukum Ranganathan pada lingkungan saat ini menunjukkan dalam istilah yang cukup gamblang, beralih dari era kelangkaan konten ke salah satu dari kelimpahan dan keragaman yang luar biasa, yang disumbangkan oleh banyak orang saluran dan kontributor, perubahan tersebut dapat dilihat di tabel di bawah ini: Tabel 1. Lima Hukum Ranganathan: Original vs Konsep Baru Ranganathan’s Original Conception New Conceptions in the Current Environment First Law Books are use E-books are for reading Netflix is for watching. Blackboard is for studying Second Law Every person his or her book. Every listener her iTunes. Every artist his Photoshop. Every student her EasyBib. Third Law Every book its reader. Every blog its reader. Every Google Map, its traveler. Every digital repository its researcher. Fourth Law Save the time of the reader. Save the time of the listener. Save the time of the traveler. Save the time of the researcher. Fifth Law A library is a growing organism. Menariknya, hukum kelima “perpustakaan adalah organisme yang tumbuh” tidak berubah dari aslinya. Tentu saja perpustakaan berkembang. Bagaimana tidak tumbuh ketika lingkungan informasi telah berkembang luar biasa untuk semua orang, bukan hanya perpustakaan? Dari perpustakaan yang menyimpan buku dan pustakawan yang membantu menemukan konten lokal dan fisik, sekarang perpustakaan harus memberikan akses tidak hanya ke konten yang diproduksi secara eksternal tetapi juga konten yang diproduksi di dalam komunitas akademik. Pustakawan harus bisa membawa konten yang tersedia di berbagai dunia dan membawa konten tersebut kembali ke komunitasnya dan membuat konten di komunitas akademik yang tersedia untuk dunia. Saat ini konten begitu melimpah, bukan lagi bicara tentang kelangkaan tetapi lebih lanjut tentang pilihan, kemampuan menemukan dan kemampuan berbagi. Di dunia di mana informasi menjadi semakin melimpah dalam berbagai format, revolusi digital dan Web telah mengubah keseimbangan hubungan dengan komunitas akademis, sumber daya dan layanan, menuntut perpustakaan untuk terus bertransformasi. Sesuai dengan hukum perpustakaan ini bahwa perpustakaan sebagai sebuah institusi yang dinamis harus mengikuti perkembangan zaman karena content yang dikelola perpustakaan terus berkembang dan harus bisa memenuhi kebutuhan penggunanya. 2. Perpustakaan Perguruan Tinggi Dasar pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia mengacu pada UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan dan satndar yang dikeluarkan oleh perpustakaan nasional yaitu Standar Nasional Perpustakaan (SNP) 010 : 2011 khusus untuk perpustakaan perguruan tinggi. Dalam satndar ini deisebutkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi harus bisa memfasilitasi proses belajar mengajar dan berperan untuk menciptakan iklim/ atmosfer akademik. Iklim/atmosfer akademik yang dimaksud adalah suatu lingkungan yang kondusif bagi civitas akademika untuk mendukung proses pembelajaran sehingga mereka dapat berpikir rasional serta mampu mendorong pengembangan diri seoptimal mungkin. Standar berikutnya yang bisa digunakan dalam pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi adalah “Standards for Libraries in Higher Education” yang dikeluarkan oleh “Association of College & Research Libraries (ACRL)”. Standar ini dirancang untuk memandu perpustakaan akademik dalam memajukan dan mempertahankan peran mereka sebagai mitra dalam mendidik siswa, mencapai misi lembaga, dan memposisikan perpustakaan sebagai pemimpin dalam penilaian dan perbaikan berkelanjutan di perguruan tinggi. Dalam standar ini terdapat sembilan prinsip dan indikator kinerja yang berlaku untuk semua jenis perpustakaan akademik, yaitu: 1. Institutional Effectiveness Perpustakaan mendefinisikan, mengembangkan, dan mengukur hasil yang berkontribusi pada efektivitas kelembagaan dan menerapkan temuan untuk tujuan perbaikan berkelanjutan.2. Professional Values Perpustakaan mengedepankan nilai-nilai profesional dari kebebasan intelektual, nilai dan hak kekayaan intelektual, privasi dan kerahasiaan pengguna, kolaborasi, dan layanan yang berpusat pada pengguna. 3. Educational Role Perpustakaan bermitra dalam misi pendidikan lembaga untuk mengembangkan dan mendukung pelajar melek informasi yang dapat menemukan, mengakses, dan menggunakan informasi secara efektif untuk keberhasilan akademis, penelitian, dan pembelajaran seumur hidup. 4. Discovery Perpustakaan memungkinkan pengguna untuk menemukan informasi dalam semua format melalui penggunaan teknologi dan organisasi pengetahuan yang efektif. 5. Collections Perpustakaan menyediakan akses ke koleksi yang cukup dalam kualitas, kedalaman, keragaman, format, dan mata uang untuk mendukung misi penelitian dan pengajaran lembaga. 6. Space Perpustakaan adalah intelektual bersama di mana pengguna berinteraksi dengan ide-ide baik dalam lingkungan fisik maupun virtual untuk memperluas pembelajaran dan memfasilitasi penciptaan pengetahuan baru. 7. Management/Administration/Leadership: Pemimpin perpustakaan terlibat dalam pengambilan keputusan internal dan kampus untuk menginformasikan alokasi sumber daya untuk memenuhi misi perpustakaan secara efektif dan efisien. 8. Personnel Perpustakaan menyediakan jumlah dan kualitas personel yang cukup untuk memastikan keunggulan dan berfungsi dengan sukses dalam lingkungan yang berkelanjutan 9. External Relations Perpustakaan melibatkan kampus dan komunitas yang lebih luas melalui berbagai strategi untuk mengadvokasi, mendidik, dan mempromosikan nilainya.12 Ini mengisyaratkan bahwa mengumpulkan, mengelola, menyediakan dan menyebarluaskan informasi yang sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika di perguruan tinggi menjadi tugas dan kewajiban perpustakaan. Selain itu hal sangat penting pula adalah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti pimpinan perguruan tinggi, pengajar, pustakawan, peneliti dan mahasiswa secara efektif supaya koleksi dan fasilitas yang dimiliki dapat dimemenuhi kebutuhan mereka. Transformasi di perpustakaan perguruan tinggi menurut Diao Ai Lien, harus dilakukan terutama dari segi fungsi dan fasilitas seperti ICT dan gedung perpustakaan.13 Perubahan fungsi perpustakaan dapat dilihat di tabel berikut: Tabel 2. Transformasi Fungsi Perpustakaan Sebelum Internet Sesudah Internet “Memberikan multi-entry service atau pelayanan yang terpisah untuk pengadaan, pengolahan, transaksi peminjaman, referensi, dsb.” “Menyediakan one-stop service: multifunctional librarians serving multi-tasking customers “Mengumpulkan informasi dan pengetahuan (umumnya tercetak) secara local” “Mengkoleksi dan menyediakan akses ke informasi dan pengetahuan serta sumbersumbernya yang tersebar di seluruh dunia, dalam multi-format (termasuk tacit)” “Menjaga koleksi dan akses informasi dan pengetahuan” “Menambah nilai pada informasi dan pengetahuan (adding value)” “Melayani individu atau kelompok tanpa melihat potensi hubungannya dengan individu atau kelompok lain” “Melayani individu atau kelompok sebagai anggota jaringan” “Memberikan pelayanan di tempat (on site) dan sebatas jam pelayanan” “Memberikan pelayanan online 24 jam” “Manajemen informasi: memberikan pelayanan sebatas akses informasi dan pengetahuan” “Manajemen pengetahuan: memberikan pelayanan bervariasi dan dinamis meliputi seluruh siklus pengetahuan (mulai dari penciptaan, perekaman dan publikasi, penyebaran, penggunaan, dan penciptaan kembali, pengetahuan)” “Memberikan pendidikan pemakai sebatas mengenai pemanfaatan perpustakaan (library skills and literacy)” “Meningkatkan information skills and literacy sedemikian rupa sehingga pengguna dapat memanfaatkan ICT untuk mengakses dan memanfaatkan informasi secara kritis; serta merekam, mempublikasi atau share, pengetahuan dengan efisien”. Dari tabel di atas dapat dilihat, dengan adanya internet pekerjaan teknis perpustakaan seperti pengadaan, pengolahan, sirkulasi dapat dilakukan dengan satu komputer dengan prosedur dan jangka waktu yang relatif singkat dibandingkan jika dikerjakan secara manual. Informasi dan pengetahuan disajikan dalam berbagai format serta menyediakan akses ke berbagai sumber tersebut. Untuk menambah nilai informasi, dapat dilakukan dengan cara menyediakan portal ke sumber-sumber yang sudah diseleksi perpustakaan. Perpustakaan dapat juga menyediakan fasilitas untuk membantu individu dapat terhubung dengan jaringan untuk sharing pengetahuan. Selanjutnya perubahan yang perlu dilakukan perpustakan untuk mendukung fungsi-fungsi baru tersebut adalah dengan mengembangkan fasilitas seperti Information and Communications Technology (ICT) dan gedung perpustakaan. ICT di perpustakaan perguruan tinggi digunakan untuk mewujudkan penyelenggraan dan pengelolaan serta meningkatkan kinerja perpustakaan dan keperluan pemustaka. Pentingnya pengelolaan perpustakaan menggunakan ICT dalam struktur organisasi perpustakaan yang terdapat dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Perpustakaan, selain layanan teknis dan layanan pemustaka juga terdapat bagian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Salah satu pemanfaatan TIK di perpustakaan yaitu perpustakaan digital. Transformasi beikutnya adalah gedung perpustakaan, walaupun di era digital seperti sekarang ini, ruang-ruang di perpustakaan tetap dibutuhkan untuk training information skill, peralatan digitalisasi, peralatan komputer untuk one-stop service, ruang pertemuan, ruang pengembangan bahan multimedia yang dibutuhkan pengguna dan ruang-ruang untuk menggunakan komputer pribadi, dsb. Karena itu gedung perpustakaan masih tetap dibutuhkan dan perlu dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna, bukan hanya tempat menyimpan koleksi tetapi lebih sebagai tempat bersosialiasi dan learning space. Seperti yang sudah dijelaskan dalam Standards for Libraries in Higher Education di atas, bahwa space atau ruangan menjadi salah satu prinsip dan indikator kinerja di perpustakaan perguruan tinggi, space digunakan para intelektual untuk berinteraksi baik dalam lingkungan fisik maupun virtual untuk memperluas pembelajaran dan memfasilitasi penciptaan pengetahuan baru.Di era big data saat ini, terjadi perubahan perilaku pencarian informasi dari yang tercetak ke digital. Untuk itu perpustakaan dituntut terus melakukan transformasi menghadapi perubahan perilaku dan format informasi yang dibuthkan pemustaka. Untuk itu kompetensi pustakawan sebagai pengelola informasi khususnya data digital, diperlukan dalam menghadapi era big data. Kompetensi pustakawan di era big data antara lain: 1. Memiliki keahlian dalam bidang tertentu (spesialis subjek) dan dapat menjalankan aplikasi pengolah big data untuk melakukan analisis data sesuai dengan subjek tertentu. 2. Memiliki kemampuan manajemen institutional repository, pengolahan data referensi, dan publikasi data 3. Memiliki wawasan dan pengalaman dalam pengembangan literasi digital, untuk membantu penelusuran dan penggunaan konten data digital 4. Mampu mempromosikan manajemen data, analisis data, penggunaan data serta layanan perpustakaan digital. Era big data memerlukan perubahan dalam pemikiran manajemen perpustakaan, misalnya dari manajemen sumberdaya ke manajemen data 14 Selain kompetensi tersebut di atas, Patra (2017) dalam Nashihuddin menambahkan bahwa pustakawan juga harus aktif dalam organisasi profesi agar: (a) lebih peka terhadap isu-isu kepustakawanan secara global; dan (b) mampu mendefinisikan ulang peran profesi dalam pengembangan karir dan kompetensi pustakawan.15 3. Perpustakaan Riset Menjadi perpustakaan riset adalah salah satu dari fungsi perpustakaan perguruan tinggi yaitu fungsi penelitian (riset). Untuk menjalankan fungsi ini kebutuhan bahan-bahan primer dan sekunder sebagai rujukan untuk penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan harus disiapkan oleh perpustakaan. Sumber-sumber informasi untuk mendukung penelitian mutlak dimiliki karena tugas perguruan tinggi adalah menghasilkan karya-karya penelitian yang dapat diaplikasikan untuk kepentingan pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang. 16 Selain itu pondasi penting dalam mewujudkan visi riset perguruan tinggi adalah peran aktif semua sivitas akademika, anggaran yang cukup, fasilitasdan infrastruktur yang mendukung kegiatan riset serta kerjasama dan kemitraan. Perpustakaan dan pustakawan adalah bagian terpenting dalam kegiatan riset di perguruan tinggi.17 Seiring dengan perkembangan pendidikan dan riset, peran perpustakaan juga semakin penting. Peran perpustakaan di era teknologi informasi berubah menjadi : “tempat mengakses internet dan komputer, tempat menyimpan buku-buku langka, tempat layanan jasa informasi, tempat pendigitalisasian manuskript, tempat layanan jasa peminjaman antar perpustakaan”. Perubahan peran ini juga berdampak pada pustakawan, paradigma lama bahwa pustakawan tugasnya hanya menjaga koleksi juga ikut berubah.18 Untuk menjadi perpustakaan riset berkaitan erat dengan peran perpustakaan seperti yang terdapat dalam Standards for Libraries in Higher Educatio yaitu Educational Role. Untuk dapat menjalankan perannnya ini, indikator yang harus dipenuhi oleh perpustakaan perguruan tinggi adalah: (1) Staf perpustakaan berkolaborasi dengan fakultas dan lainnya tentang cara menggabungkan koleksi dan layanan perpustakaan ke dalam kurikulum yang efektif. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: a. Fakultas meminta masukan dari pustakawan tentang penggunaan sumber daya perpustakaan dalam pengembangan mata kuliah dan tugas. b. Siswa menggunakan koleksi perpustakaan untuk kebutuhan informasi kurikuler dan ko-kurikuler. c. Fakultas meminta mahasiswa untuk menggunakan berbagai sumber dari database perpustakaan (2) Tenaga perpustakaan bekerja sama dengan fakultas untuk menanamkan hasil belajar literasi informasi ke dalam kurikulum, mata kuliah, dan tugas. a. Fakultas mengupayakan masukan dari pustakawan dalam mengembangkan hasil belajar literasi informasi untuk mata kuliah dan tugasnya. b. Fakultas memperkenalkan, memperkuat, dan merancangkan pembelajaran hasil belajar literasi informasi. c. Fakultas membutuhkan demonstrasi yang semakin canggih dari hasil belajar literasi informasi saat mahasiswa melanjutkan ke wisuda.d. Fakultas mencari masukan dari pustakawan dalam mengevaluasi efektivitas kurikulum program untuk mengajar keterampilan literasi informasi. e. Siswa menunjukkan kemahiran dalam mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi. (3) Model personel perpustakaan praktik pedagogis terbaik untuk pengajaran di kelas, desain tutorial online, dan praktik pendidikan lainnya. a. Pustakawan merancang dan mengelola sesi instruksi literasi informasi yang menggabungkan teknik pembelajaran langsung dan aktif. b. Fakultas meminta nasihat dari pustakawan tentang praktik pedagogis. c. Mahasiswa dan fakultas menunjukkan bahwa tutorial perpustakaan dirancang dengan baik dan sumber pengajaran yang efektif. (4) Personel perpustakaan memberikan instruksi yang sesuai dan tepat waktu dalam berbagai konteks dan menggunakan berbagai platform pembelajaran dan pedagogi. (5) Tenaga perpustakaan berkolaborasi dengan mitra kampus untuk memberikan kesempatan bagi pengembangan profesional fakultas. (6) Perpustakaan memiliki infrastruktur TI untuk mengikuti perkembangan. 4. Big Data Definisi Big Data menurut McKinsey Global (2011) adalah data yang memiliki skala (volume), distribusi (velocity), keragaman (variety) yang sangat besar, dan atau abadi, sehingga membutuhkan penggunaan arsitektur teknikal dan metode analitik yang inovatif untuk mendapatkan wawasan yang dapat memberikan nilai bisnis baru (informasi yang bermakna).19 Big Data adalah data yang memiliki volume besar sehingga tidak dapat diproses menggunakan alat tradisional biasa dan harus menggunakan cara dan alat baru untuk mendapatkan nilai dari data tersebut. Big Data dapat mengatasi tantangan yang terkait dengan menemukan informasi pada saat yang tepat saat ini. 20 Big data di perpustakaan dijelaskan oleh Ali adalah hasil dari proses terjadinya informasi, yang bermula dari peristiwa yang kemudian menjadi informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan hingga dijadikan bahan dalam mengambil keputusan (wisdom). Big data bisa diperoleh dari berbagai peristiwa di sekitar kita seperti data cuaca, jumlah pengunjung, jenis kelamin, hobi dan sebagainya. Data tersebut dikategorikan sebagai big data bila memenuhi kriteria 3V yaitu volume, velocity, variety. Perpustakaan sebagai sebuah institusi yang mengelola informasi tidak lepas dari perkembangan teknologi, berawal dari penerapan katalog kartu menjadi katalog online (OPAC). Teknologi informasi yang diaplikasikan di perpustakaan serta pusat dokumentasi dan informasi, dapat dibagi menjadi 4 bidang utama yaitu Library housekeeping (perawatan/perpustakaan), Information retrieval (temu kembali informasi/penelusuran informasi), General purpose software (perangkat lunak untuk berbagai macam keperluan), library networking (jaringan kerjasama perpustakaan). Perkembangan teknologi yang begitu pesat yang menghasilkan begitu banyak data, memberi kesempatan pada pekerja informasi (pustakawan) untuk bekerja dengan banyak satuan data dalam satu set data perusahaan dan bukan hanya dari internet.21 Data sangat dibutuhkan karena tren penelitian saat ini adalah penelitian berbasis data sehingga memberikan kesempatan kepada perpustakaan untuk bekerjasama dengan lembaga lain untuk mengisi kesenjangan layanan. Fungsi perpustakaan, sebagai pusat informasi, harus dapat diwujudkan dengan mengadaptasi dan mengakomodasi pertumbuhan data, sumber daya, dan menyediakan data. Manajemen data sebagai bagian dari proses layanan iniformasi sangat dibutuhkan perpustakaan. 5. Hasil dan Pembahasan Transformasi atau perubahan yang terjadi di perpustakaan tentunya tidak terlepas oleh perubahan yang terjadi di lembaga induknya. Transformasi IAIN Raden Fatah menjadi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang tentunya juga membawa perubahan pada perpustakaan. Perubahan bentuk kelembagaan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang tidak hanya fokus pada ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga ilmu-ilmu alam, sosial, humaniora serta teknologi. Transformasi IAIN menjadi UIN Raden Fatah bukanlah sebuah pilhan melainkan sebuah keharusan. Beberapa justifikasi yang menjadi dasar transformasi adalah (1) adanya keharusan agar IAIN Raden Fatah mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia pendidikan tinggi. (2) adanya keharusan merespons tuntutan dan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) kebutuhan peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) di era globalisasi. Transformasi di lembaga induknya tentu berdampak pula bagi perpustakaan sebagai bagian integral dari perguruan tinngi tersebut. Transformasi yang dilakukan perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang dapat dilihat dari segi fisik dan non-fisik. Dari segi fisik, dibangunnya gedung perpustakaan yang baru di kampus A Sudirman dan kempus B Jakabaring. Saat ini perpustakaan menempati gedung baru yang dikenal dengan “Perpustakaan Rafah Tower” di kampus A Sudirman, sedangkan perpustakaan di kampus B Jakabaring pembangunannya sudah selesai tetapi belum ditempati karena sedang pemasangan peralatan-peralatan yang dibutuhkan. Untuk menuju perpustakaan riset di era big data, perpustakaan UIN Raden Fatah berusaha untuk terus memberikan layanan terbaik kepada pemustaka, salah satu caranya dengan memaksimalkan fasilitas yang ada di perpustakaan. Perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna menjadi prioritas utama dalam melakukan perubahan. Pengguna perpustakaan perguruan tinggi sebagian besar adalah mahasiswa, mereka membutuhkan tempat yang nyaman untuk belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliah. Untuk itu dibutuhkan perpustakaan yang bisa mendukung proses belajar mengajar sehingga mereka bisa lulus tepat waktu. Selanjutnya fasilitas yang dimiliki perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dan menuju perpustakaan riset sebagai berikut: Air Conditioner (AC), Jaringan internet (wi-fi), Komputer penelusuran Online Public Access Catalogue (OPAC), Ruang baca, Akses Internet, Loker, Security Gate, Entry Gate. Transformasi berikutnya adalah transformasi non-fisik yaitu penambahan jam layanan di hari libur dan penambahan jenis layanan, seperti: 1. Layanan Online Public Access Catalogue (OPAC) Layanan ini disediakan untuk mengakses koleksi perpustakaan baik yang ada di perpustakaan pusat maupun di perpustakan fakultas. Untuk memaksimalkan layanan ini perpustakaan menyediakan komputer yang dikhususkan untuk menelusur koleksi perpustakaan. Didalam OPAC tersebut tidak hanya data buku tapi juga ada artikel jurnal yang bisa di download secara fulltext. Untuk mengakses koleksi di perpustakaan pusat, dengan alamat: http://slims.radenfatah.ac.id/. Koleksi perpustakaan pusat dan fakultas di lingkungan UIN Raen Fatah Palembang, dapat dilakukan melalui katalog bersama dengan alamat: http://slims.radenfatah.ac.id/katalogbersama/ 2. Layanan Sirkulasi Terotomasi Layanan ini dapat terlaksana karena sudah menggunakan software otomasi perpustakaan (Senayan Library Management Syistem-SliMS) berbasis web. Layanan ini sangat tergantung dengan jaringan internet yang stabil, bila jaringan internet terganggu layanan sirkulasi tidak dapat dilakukan. Selain itu layanan ini juga didukung dengan penambahan komputer dan barcode reader, sehingga peminjaman dan pengembalian dapat dilakukan dengan menscan kartu anggota dan barcode buku yang akan dipinjam. Menurut jenis pekerjaannya pelayanan sirkulasi antara lain meliputi pembuatan kartu anggota perpustakaan, peminjaman, perpanjangan dan pengembalian, dengan penjelasan sebagai berikut : 3. Layanan Smart Card Library Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang otomatis harus menjadi anggota perpustakaan. Mulai tahun 2018 perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang tidak lagi mencetak Kartu Anggota Perpustakaan (KTA) karena sudah terintegrasi dengan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Nomor anggota perpustakaan sama dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM). Ketika mereka pertama kali meminjam koleksi, staf sirkulai tinggal mengaktifkan keanggottan mereka. Orientasi perpustakaan menjadi syarat untuk pengaktifan keanggotaan. Layanan ini dapat terlaksana berkat kerjasama dengan Bank Sumsel Babel yang menerbitkan kartu tersebut. 4. Layanan Bebas Pustaka Online Layanan ini diberikan kepada mahasiswa yang sudah menyelesaikan tugas akhir, sebagai syarat untuk mengambil ijazah. Layanan ini dapat dilakukan secara online tanpa harus datang ke perpustakaan. Layanan ini sudah terintegrasi dengan Sistem Akademik Mahasiswa. 5. Layanan Jurnal Elektronik Junal elektronik yang dilanggan perpustakaan adalah Emerald dan EBSCO. Jurnal ini bisa diakses di dalam kampus tanpa membutuhkan username dan password. Akses luar kampus baru menggunakan username dan password. Username dan password dibagikan kepada sivitas akademika ketika melakukan pelatihan dan sosialisasi juga disebarkan melalui grup WhatsApp. 6. Layanan Perpustakaan Digital Untuk koleksi ebook, perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang mempunyai aplikasi yang diberi nama e-library Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Aplikasi ini bisa didownload di komputer, laptop ataupun handphone masing-masing melalui Playstore ataupun Google Play. 7. Layanan Institutional Repository Layanan ini diberikan kepada pencari informasi yang ingin mendapatkan data skripsi, tesis dan hasil penelitian, dan lain-lain karya sivitas akademika UIN Raden Fatah melalui internet dengan alamat http://repository.radenfatah.ac.id. Layanan ini dapat terlaksana karena sistem tersebut dirancang oleh Tim Pusat Teknologi dan Pangkalan Data (PUSTPD), dan perpustakan menyediakan server dan mengelola content sebagai pelaksana dalam input datanya. 8. Layanan Pendidikan Pemakai (user education) Kegiatan pendidikan pemakai (User Education) bagi mahasiswa baru menjadi sesuatu yang urgen guna memberikan pemahaman yang komprehensif akan pentingnya perpustakaan sebagai sumber belajar dengan melakukan kegiatan pembinaan, memberikan bimbingan dan keterampilan teknis dalam hal menelusur, menggunakan dan memberdayakan perpustakaan secara optimal. Pemanfaatan dan pendayagunaan perpustakaan secara tepat dan benar akan sangat berpengaruh pada suasana akademis yang terbangun di perguruan tinggi tersebut. Untuk mewujudkan hal tersebut perpustakaan setiap tahun melakukan kegiatan user education untuk mahasiswa baru dan menerima permintaan dari pemustaka baik perorangan ataupun kelompok. Sumber daya manusia adalah kendala utama di perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang. Dari segi kuantitas, kebutuhan SDM di

Conclusion

Transformasi perpustakaan UIN Raden Fatah terjadi karena adanya perubahan status dari IAIN menjadi UIN. Transformasi yang terjadi dibagi menjadi dua yaitu transformasi fisik dan non-fisik. Transformasi fisik terjadi lebih cepat dan bisa dilihat secara langsung perubahannya sedangkan transformasi non-fisik memerlukan waktu yang lebih lama. Transformasi fisik yang terjadi bisa dilihat dengan dibangunnya gedung perpustakaan yang baru di kampus B Jakabaring dan perpustakaan Rafah Tower di kampus A Sudirman. Gedung perpustakaan di kampus B Jakabaring ini dibangun dengan fasilitas yang dapat mendukung fungsi perpustakaan. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan dan meminjamkan koleksi tetapi juga sebagai sarana berkumpul dan learning common bagi sivitas akademika bertemu sehingga mereka dapat berinteraksi dan berbagi ilmu pengetahuan dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu yang mereka miliki, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan riset di UIN Raden Fatah. Adapun transformasi non-fisik yang terjadi dari segi layanan dengan menambah jam layanan pada hari libur dan penambahan akses ke sumber-sumber elektronik seperti langganan ejurnal dan adanya perpustakaan digital (e-Library Perpustakaan UIN Raden Fatah) serta tersedianya Institutional Repository. Transformasi non fisik memerlukan waktu yang lama misalnya untuk membina hubungan antara pustakawan dan pemustaka dibutuhkan keterikatan antara satu denga lainnya dengan cara membangun komunikasi dan kepercapayaan antara kedua belah pihak sehingga keberadaan pustakawan dihargai oleh pemustaka. Kendala yang dihadapi dalam melakukan transformasi adalah adanya kelemahan dari segi fasilitas yang dimiliki, perlunya pengelolaan yang lebih optimal agar fasilitas yang ada dapat terkelola dengan baik. Untuk menjadi perpustakaan riset banyak yang harus dipersiapkan terutama dari segi SDM baik dari kuantitas ataupun kualitas. Kurangnya jumlah SDM menyebabkan kurangnya layanan yang diberikan seperti belum adanya layanan referensi serta meningkatnya beban kerja pekerjaan teknis seperti shelving dan pengolahan bahan pustaka. Selanjutnya, belum terpenuhinya SDM berdasarkan kualifikasi pendidikan serta kurang dihargainya profesi pustakawan oleh pemustaka sehingga performa yang diberikan belum optimal karena kurangnya kepercayaan pemustaka kepada pustakawan. Perpustakaan sudah melakukan perubahan untuk mendukung lembaga induknya akan tetapi masih memerlukan banyak usaha dan waktu yang panjang untuk mengoptimalkan apa yang sudah diperbuat saat ini