Kembali
16
1
2009 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1 · 1 ISSN 2502-4108

MEWUJUDKAN PERPUSTAKAAN IDEAL MENUJU PADA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DIPERGURUAN TINGGI

N/A

Abstract

Spirit and reverberation to enhance significant library role for educational institution recently becomes more perceptible because our country nowadays is left behind by other neighboring countries in this matter. The agenda to reform education keeps on and the improvement of library based education is discoursed continually. The ideal library encompasses many prerequisites that must be fulfilled to enhance education quality. The perfect enhancement of ideal, education quality at higher education has to prefer the existence of representative and dynamical library in accordance with the demand and development of time. This concise essay endeavors to arouse a new spirit for the realm of education to improve the education quality by improving library services quality.
Keywords: Perpustakaan ideal · Layanan Perpustakaan

Introduction

Sejarah telah mencatat bahwa masa kejayaan Islam selalu tidak lepas dari dunia ilmu pengetahuan pada waktu itu. Lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusd, Ibnu Khaldun maupun ilmuwan lain dalam berbagai bidang ilmu menunjukkan berkembangnya ilmu pengetahuan serta dukungan kekuasaan pada perkembangan sains dan teknologi saat itu. Satu halyang harus tidak boleh dilupakan bahwa dalam setiap kurun kekuasaan maka perpustakaan mendapat tempat yang terhormat. Puluhan bahkan ratusan ribu judul buku memadati perpustakaan, demikian pula para pelajar dengan tekun membaca berbagai macam buku. Sehingga menjadi suatu bukti bahwa perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sudah menjadi tradisi ummat Islam pada waktu itu. Menjadi pertanyaan bagi kita sekarang ini, apakah buku ataupun perpustakaan tetap menjadi sumber atau rujukan umat? Sementara pada saat yang sama dunia ilmu pengetahuan tidak lagi berada pada genggarian umat Islam. Harus kita akui bahwa unia barat sekarang jauh lebih menguasai sains dan teknologi yang sekaligus juga menguasai dunia politik maupun ekonorni. Hal ini membuktikan bahwa penguasaan sains yang ditopang oleh adanya sumber ilmu pengetahuan yaitu buku dan perpustakaan, merupakan kunci penguasaan dunia. Persoalanriya adalah sejauh manakah umat Islam ataupun kita segenap sivitas akademika di perguruan tinggi yang senantiasa bangga dengan dunia pendidikan memahami dan kemudian berupaya untuk menjadikan buku dan perpustakaan sebagai sumber rujukan?. Perpustakaan pada umumnya sebagai tempat tumpukan buku yang siap dibaca oleh siapa saja yang berkunjung ke perpustakaan Para pengunjung perpustakaan datang langsung memilih buku yang dikehendald, dan membacanya. Begitulah gambaran sese rang jika membayangkan sebuah perpustakaan. Sebenarnya, :egiatan seseorang datang dan membaca di perpustakaan meru pakan peristiwa transfer informasi antara pembaca dan koleksi (is! koleksi). Melalui isi koleksi, para pembaca atau penikmat kolek:i telah mendapatkan ‘kelebihankelebihan’ informasi yang dapa! ditransfer dalam bentuk kemasan sesuai yang dikehendaki. Kelebihan-kelebihan tersebut dapat berupa informasi tertulis (dapat berupa karya tulis), informasi lisan (tukar pikiran dengan seseorang), pengayaan pengetahuan (aktualisasi diri), hiburan (ker ikmatan/kesenangan/hobi), dan yang pasti setiap pembaca mempunyai tujuan atas bacaan yang dinikmati. Dalam kehidupan kampus (Perguruan Tinggi), perpustakaan dianggap sebagai jantungnya universitas. Jadi, apabila sebuah universitas tidak punya perpustakaan, universitas tersebut dianggap mati. Kenyataannya tidak demikian, hal ini dikarenakan peran perpustakaan perguruan tinggi hanya sebagai penunjang dalam melaksanakan tri darma perguruan tinggi. Sebagaimana disebutkan dalam buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi, bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat'. Oleh karena itu, istilah jantung universitas dirasakan kurang pas dengan tugas yang diemban. Mungkin lebih pasjika diumpamakan sebagai kaki tangan universitas. Pada kenyataannya, ada informasi bahwa seorang mahasiswa bisa lulus tanpa harus ke perpustakaan. Melalui perkembangan teknologi informasi sekarang, maka jalan mendapatkan berbagai informasi bagi para pemakai informasi jadi begitu lancar dan mudah. Tidak mengherankan pesatnya perkembangan teknologi informasi menyebabkan kecilnya peran perpustakaan universitas bagi sivitas akademikanya, sehingga perpustakaan di perguruan tinggi harus berbasis IT (Information Tehnology) agar para penggunanya bisa mendapatkan berbagai macam referensi secara mudah dan akurat. Tulisan berikut akan mencoba mengulas bagaimana profil perpustakaan yang ideal, sehingga ia bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkan oleh suatu perguruan tinggi. B. ! 2 Pengertian, Peran Dan Fungsi Perpustakaan Di Perguruan Tinggi Pengertian perpustakaan di sini, maksudnya perpustakaan yang ada di suatu perguruan tinggi, universitas, institut, dan perguruan tinggi sejenis dalam rangka pelaksanaan tri darma perguruan tinggi. Peran perpustakaan yaitu segala fungsi perpustakaan perguruan tinggi sebagaimana yang disebutkan dalam buku pedoman perpustakaan untuk perguruan tinggi. Adapun tugas (kewajiban) yang harus dilakukan perpustakaan perguruan tinggi adalah mengembangkan koleksi, mengolah dan merawat bahan perpustakaan, memberi layanan, serta melaksanakan administrasi perpustakaan.? Dalam buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi disebutkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Dalam rangka menunjang kegiatan tri darma tersebut, maka perpustakaan diberi beberapa fungsi di antaranya; fungsi edukasi, sumber informasi, penunjang riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi informasi Demikian luasnya fungsi perpustakaan bagi para pemakainya (sivitas akademik.). Pada kenyataannya, tugas dan fungsi tersebut di atas belum dapat dilakukan dengan optimal oleh pihak perpustakaan. Hal ini diarenakan berbagai kendala yang terkadang sulit dipecahkan misalnya dalam pemenuhan kebutuhan sumberdaya manusia dan sarana dalam pelaksanaan tugas. Adanya aturan-aturan panjang dalam rangka pengadaan sumberdaya manusia atau peralatan perpustakaan. Selain itu, perbandingan antara pemakai y ang dilayani dengan petugas yang ada belum sesuai. Petugas den;an kualifikasi pendidikan selain ilmu perpustakaan, kadan; kurang pas ditempatkan di perpustakaan, atau mutasi petugas yang tidak berkenaan dengan peran perpustakaan. Akibainya, peranan sebagai pelayan perpustakaan dijalankan deng an asal-asalan, karena kurangnya penghayatan atau pemahamar tentang perpustakaan. Akhirnya pelayanan yang diberikan kurang ikhlas atau sabar. Padahal, peran petugas (dalam hal ini pustakawan) sangat menentukan berfungsi tidaknya sebuah perpustakaan. Asumsi kita, apabila pengguna perpustakaan mau menggunakan perpustakaan lebih dari sekali, maka dapat diartikan bahwa perpustakaan berfungsi dalam menjalankan tugasnya, dan per gguna paham peran perpustakaan untuk kepentingannya. Perpustakaan perguruar tinggi juga sering disebut sebagai perpustakaan khusus. Hal ini dikarenakan perpustakaan perguruan tinggi pada umumnya khusus melayani sivitas akademika masing-masing. D) samping itu, koleksi yang dimiliki perpustakaan perguruan tinggi pun khusus untuk konsumsi mahasiswa maupun dosen. Bila dibandingkan dengan pepustakaan umum, maka perpustakaan perguruan tinggi memiliki kelebihan berupa hasil-hasil karya para sivitas akademik. Pada hakekatnya perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi adalah suatu unit kerja yang merupakan bagian intregral di suatu lembaga perguruan tinggi induknya. Unit perpustakaan bersama-sama dengan unit kerja lainnya bertugas untuk membantu perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan Tri Dharma, yaitu kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penyelenggaraan perpustakaan dilingkungan perguruan tinggi bertujuan untuk mendukung, memperlancar dan mempertinggi kualitas pelaksanaan program kegiatan perguruan tinggi melalui pelayanan informasi yang meliputi lima aspek, yaitu pengumpulan informasi, pelestarian informasi, pengolahan informasi, pemanfaatan informasi dan penyebaran informasi.* Sejalan dengan Tri Dharma perguruan tinggi, maka peran dan fungsi perpustakaan perguruan tinggi, yaitu [1] Perpustakaan sebagai pendukung keberhasilan pendidikan. Perpustakaan mengusahakan tersedianya fasilitas untuk keperluan belajar dan mengajar di perguruan tinggi, tersedianya bahan pustaka untuk keperluan penelitian para dosen, mahasiswa serta pimpinan perguruan tinggi. [2] Perpustakaan menjadi penghubung antara bahan pustaka yang berupa informasi dengan para pemakai jasa perpustakaan, memberitahu para pemakai jasa perpustakaan mengenai tersedianya informasi kegiatan bagaimana menggunakan perpustakaan. [3] Perpustakaan sebagai tempat riset atau penelitian. Hal ini dimungkinkan karena dalam perpustakaan terdapat berbagai tulisan, data hasil penemuan dan pemikiran para ahli. Berbagai informasi ini dapat dipakai para mahasiswa dan dosen untuk dasar dalam mencari fakta-fakta menuju penemuanpenemuan baru. [4] Perpustakaan menyediakan bahan rekreasi bagi pembaca. Misalnya, novel majalah hiburan yang kita sediakan di perpustakaan, agar dapat memberikan sedikit hiburan kepada para mahasiswa dan dosen yang mungkin jenuh mencari informasi dalam sepanjang hari, jenuh dengan beratnya pelajaran atau tugastugas baik yang rutin maupun temporer. Nikmatnya membaca novel kadang-kadang kita abaikan, seolah-olah membuang waktu saja, padahal dari sana kita memperoleh pengalaman yang direka dan ditata oleh penulis dengan cermat dan hati-hati. [5] Perpustakaan menyediakan fasilitas ruang baca yang enak dan perabot perpustakaan yang nyaman, sehingga bagi siapa saja yang berada di perpustakaan merasakan enak dan terdorong untuk melakukan pekerjaan membaca atau ingin mengetahui bahan apa saja yang diminati terdapat di perpustakaan. Sebuah perpustakaan dapat berperan dan berfungsi bagi pemakainya dengan beberapa syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut meliputi; adanya koleksi, sistem atau aturan yang digunakan, ruangan/ tempat berlangsungnya kegiatan, ada petugas atau pustakawan, dan pemakai, sert: mitra kerja®. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan t:ntu memerlukan semacam wadah agar dapat melakukan kegiatar tersebut sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh penyelenggara kegiatan. Dalam hal ini, perpustakaan bertujuan memenuhi kebutuhan informasi bagi pemakainya, kemudian petugas menerjemihkan kemasan informasi dalam bentuk wakil koleksi (katalog koleksi) sehingga pengguna perpustakaan dapat menggunakan informasi yang dibutuhkan. C. ® Perpustakaan Ideal Di Perguruan Tinggi Dengan semakin berkembangnya dunia pendidikan seiring berkembangnya sains, maka mestinya keberadaan buku di perpustakaan perguruan tinggi bisa memenuhi kebutuhan para penggunanya untuk pengembangan sains dan pendidikan. Perpustakaan modern bukan lagi sekedar tempat menyimpan buku, tetapi merupakan tempat yang ny«man bagi para pengunjungnya. Sehingga para mahasiswa menjadi “nyaman” ketika berada di dalamnya dan selalu menimbu [kan sikap kecanduan yang positif untuk memenuhi kehausan akan sumber ilmu dan sumber informasi. Untuk itu keberadaa 1 perpustakaan di perguruan tinggi harus mengacu pada pengertia:1 perpustakaan yaitu sebagai fungsi edukasi, sumber informasi, penunjang riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi infcrmasi, sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustaka, dan sebagai pengakomodir hasil budaya. Disamping itu perpustakaan di perguruan tinggi seharusnya juga berfungsi secara umum, yaitu sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional. Mewujudkan perpustakaan seperti itu bukanlah hal yang mudah dan seketika, tetapi merupakan kerja yang panjang dan tersistem serta kontinyu dan meliputi berbagai aspek yang harus diperhatikan. Untuk mewujudkan perpustakaan yang ideal, ada beberapa aspek yang harus dikelola dengan sungguh-sungguh yaitu meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. Sumber Daya Manusia Pengelolaan perpustakaan sangat bergantung kepada pengelola yang memahami fungsi keberadaan perpustakaan. Sehingga setiap perpustakaan harus dikelola oleh para pustakawan yang handal dan terlatih dan bukan sekedar penunggu perpustakaan. Sumber Daya Informasi (Koleksi) Isi perpustakaan yang lengkap serta mengikuti trend dan kebutuhan pengguna merupakan suatu keharusan. Setiap pengguna akan yakin bahwa dia akan mendapatkan “apa yang dicari atau dibutuhkan” Anggaran Untuk memenuhi kebutuhan sebuah perpustakaan yang ideal maka jer basuki mawa beya pasti sudah dipahami, sehingga adanya alokasi anggaran yang memadai, baik yang bersumber dari lembaga ataupun dari pengguna harus secara rutin terpenuhi. Sistem Layanan Kenyamanan pengguna perpustakaan banyak ditentukan oleh adanya sistem layanan yang memadai serta cepat sesuai kebutuhan. Sistem ini bisa diupayakan secara manual maupun penggunaan sistem komputerisasi yang cepat dan akurat. Demikian pula keberadaan sistem instrumen layanan menjadi hal yang harus akrab pagi pengguna, dalam hal ini para mahasiswa. Program-Program Pada perkembangan sekarang ini, perpustakaan bukan lagi sekedar tempat menyimpan buku dan membaca, tetapi harus lebih sebagai tempat sumber informasi. Untuk itu pengelola perpustakaan herus mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan yang relreatif dan edukatif, seperti talk show, bedah buku, quiz nmaupun kegiatan lain yang akan mampu meningkatkan ketertarikan para pengguna (mahasiswa) pada perpustakaan. 6. Fasilitas Peralatan meliputi mej, kursi, serta keberadaan ruangan yang nyaman, tenang, bersih, sirkulasi udara yang baik akan menjadikan pengunjung dan pengguna krasan di perpustakaan. Begitu pula fasilitas ‘ain yang akan sangat mendukung hal tersebut harus senantiasa perlu diupayakan. Selain aspek di atas maka yang tidak kalah penting adalah perlunya peningkatan peran para pemangku kepentingan, meliputi: a. b. c. Pemerintah Selaku penyelenggara negara yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas pendidikan, maka pemerintah (melalui Dinas Pendidikan) perlu memberikan atau mengalokasikan anggaran secara memadai terhadap upaya pengembangan perpustakaan sekolah. Pimpinan Perguruan Tinggi (Rektor) Pimpinan Perguruan tinggi (Rektor) selaku person yang menahkodai Perguruan tinggi harus mampu mengembangkan dan inemimpin upaya pemberdayaan perpustakaan pergurvan tinggi dengan mengatur dan mengalokasikan angga: an secara memadai, serta memposisikan perpustakaan scbagai tempat yang terhormat. Pustakawan Sebagai sebuah perpustakaan, tentu saja syarat utama buku-buku yarg dikumpulkan harus mencapai kuantitas yang tergolong besar. Untuk itu, proses kelanjutan daripengumpulan buku-buku adalah pengatalogisasian. Buku-buku tersebut didata, dikelompokkan dan diberi nomor berdasarkan kriteria-kriteria tertentu seperti subyek, penulis, judul biku, tahun penerbitan, dan sebagainya. Hal ini akan menipermudah pemilik perpustakaan atau siapa pun yang hendak mencari buku. Oleh karena itu, butuh sumber daya manusia tersendiri untuk mengatasinya. Bahkan bagi Dady P. Rachmananta, tidak sembarang orang dapat mengelola perpustakaan. Selain membutuhkan kemampuan untuk memahami bahasa Inggris, sebaiknya tenaga perpustakaan yang profesional menguasai ilmu pengetahuan tentang perpustakaan atau kepustakaan. Untuk menjadi tenaga perpustakaan, harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya mempunyai latar belakang ilmu kepustakaan minimal D3, menguasai bahasa Inggris, dan tahu teknologi informasi. Prof. DR. Mochtar Buchori, mengamini apa yang dikatakan Dady. Ahli perencanaan pendidikan ini berasumsi bahwa seorang tenaga yang dipekerjakan di perpustakaan mempunyai tugas untuk menjaga ilmu pengetahuan dari apa yang disampaikan dari sebuah buku, bukan menjaga buku dari tangan-tangan jahil. Dalam sistem pendidikan yang dewasa dan sehat, pustakawan tidak diperlakukan sebagai penjaga buku. Mereka adalah penjaga pengetahuan dan kearifan. Walaupun sedemikian pentingnya skill tertentu untuk seorang pustakawaan, mungkin terjadi pertumbuhan perpustakaan tidak mengarah ke arah yang positif. Pasalnya, dengan adanya kelangkaan minat masyarakat akan pekerjaan sebagai pustakawan, tenaga perpustakaan semakin sulit untuk dicari, alias diwariskan. Padahal keberadaan perpustakaan masih dianggap penting oleh sebagian besar orang yang sudah melek pengetahuan. Bahkan menurut Putu Laxman Pendit, pustakawan seharusnya dapat ‘miskin-baca’ maka pustakawan sebagai sosok profesional memiliki kesempatan yang amat luas untuk memikirkan kembali posisi sosial mereka, sehingga bayangan bahwa pustakawan adalah sosok netral yang berlindung di balik prosedur teknis, akan digantikan oleh citra sosok yang lebih proaktif dan reaktif terhadap perkembangan masyarakatnya yang dalam hal ini sivitas akademika. Pustakawan sebagai pengelola perpustakaan tentu saja harus mampu menjadi ujung tombak yang secara persis mengetahui fungsi perpustakaan dan harus mampu menjadikan perpustaka:n sebagai tempat ‘jujugan’ para mahasiswa. d. D. Wali mahasiswa Orang tua para mahasiswa yang mempunyai tanggung jawab terhadap putra-putrinya tentunya harus menyadari dan bersedi: memberikan dukungan setiap upaya pengembangan perpustakaan. baik dari segi saranaprasarana maupun peng »mbangan fasilitasserta program perpustakaan di pergurtan tinggi.

Conclusion

Berpijak dari paparan d: atas, penulis berharap mampu memberikan motivasi baru dalam meningkatkan mutu pendidikan yang selalu memikirkan pening| atan mutu layanan perpustakaan, karena memahami arti dan peran penting perpustakaan yang semakin menjadi kebutuhan bukan hanya tuntutan.